BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Batubara merupakan sumber daya yang ketersediaannya lebih melimpah jika
dibandingkan dengan minyak bumi dan gas alam. Meskipun cadangannya tidak terdapat
secara merata di setiap negara, batubara lebih banyak digunakan. World Coal Association
(WCA) memperkirakan cadangan batubara dunia pada tahun 2011 mencapai 861 triliun
Ton of Oil Equivalent (TOE) yang tesebar di hampir 70 negara dengan cadangan terbesar
terdapat di Amerika Serikat, Rusia, Cina dan India. Batubara memiliki peran yang sangat
penting tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai bahan baku industri kimia
berbasis karbon. Beberapa industri kimia yang memanfaatkan batubara dan hasil samping
pengolahan batubara sebagai bahan baku utamanya antara lain industri pupuk, industri
baja, industri semen, industri polimer dan industri farmasi. Pada masa yang akan datang,
perkembangan teknologi pengolahan batubara diharapkan akan memberikan kontribusi
yang lebih baik pada peradaban manusia mengingat keterbatasan cadangan minyak bumi
dan gas alam. World Energy Council (WEC) pada tahun 2013 memperkirakan cadangan
minyak bumi dunia hanya cukup untuk 56 tahun ke depan, sedangkan untuk gas alam
hanya cukup untuk 55,6 tahun ke depan.

1.2 Rumusan Masalah

Indonesia memiliki cadangan sumber daya batubara yang potensial. Data
Pusat Sumber Daya Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral jumlah
batubara di Indonesia pada tahun 2011 adalah sebesar 105.184,77 juta ton. Dari total
produksi batubara tersebut, sebagian besar dialokasikan untuk memenuhi permintaan luar
negeri, yaitu rata-rata 72,11%, dan sisanya 27,89% untuk memenuhi permintaan dalam
negeri. Hingga saat ini sebagian besar pemanfaatan batubara di Indonesia masih sebagai
penghasil energi dan hanya sebagian kecil untuk menghasilkan bahan baku industri
kimia. Oleh karena itu, pengembangan teknologi pirolisis dan produk kimia hasil
pirolisis yang ramah lingkungan dan sesuai dengan karakteristik batubara Indonesia
menjadi sangat diperlukan.

Pirolisis Teknologi pengolahan batubara yang telah dikembangkan dan dimanfaatkan secara komersial diantaranya adalah pembakaran. obatobatan. . Pirolisis batubara pada dasarnya adalah proses pemanasan batubara dengan suhu meningkat dengan tanpa adanya atau sedikit udara atau reagen lainnya yang tidak memungkinkan terjadinya reaksi gasifikasi. besi. tetapi juga gas yang dihasilkan. Char adalah produk hasil pirolisis batubara yang berbentuk padat. fosfor. Tar hasil pirolisis batubara juga merupakan sumber senyawa benzen dan turunannya yang sangat penting seperti naftalen yang merupakan bahan dasar industri polimer seperti plastik. Tar dapat digunakan sebagai bahan baku industri kimia seperti karet sintesis. elektroda karbon dan beberapa industri lainnya. gasifikasi. Kokas metalurgi pada dasarnya adalah char hasil pirolisis batubara jenis bituminus pada suhu rendah (773-973 K) dan waktu tinggal fase uap lama. dan likuifaksi. non- condensable gases yang disebut dengan gas dan padatan mikrokristalin yang disebut dengan char. Produk hasil pirolisis batubara tidak hanya menghasilkan energi yang bersih tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri kimia. Pirolisis batubara bituminus akan menghasilkan hasil char dan tar yang tinggi dengan hasil gas yang rendah.1. Selama proses pirolisis terjadi. batubara akan terdekomposisi dan menghasilkan condensable gases yang disebut dengan tar. kalsium karbida. Produk pirolisis batubara yang berpotensi besar sebagai bahan baku industri kimia adalah char dan tar. akan menghasilkan syngas yang merupakan bahan baku industri petrokimia. pelarut. BAB II. Selanjutnya apabila kokas ini digasifikasi. TEKNOLOGI DAN PRODUK TURUNANNYA 1. Tar adalah produk hasil pirolisis batubara yang berbentuk cair. pirolisis. Sejumlah proses baru terus dikembangkan untuk menghasilkan tidak hanya hasil char dan tar yang optimum. Batubara bituminus merupakan jenis batubara dengan kualitas baik yang tergolong ke dalam jenis coking coal/metallurgical coal yang apabila dipirolisis akan menghasilkan char yang memiliki struktur kohern yang sering disebut dengan kokas metalurgi. Proses pembuatan kokas dengan metode pirolisis seperti ini disebut dengan karbonisasi. polimer. grafit dan coating. Pirolisis batubara merupakan salah satu proses penting pada teknologi konversi batubara. KONVERSI BATUBARA. Kokas metalurgi digunakan sebagai bahan bakar dan agen pereduksi dalam produksi baja.

Rumus sederhananya: Batubara + H2O + O2 à H2 + CO Adapun Teknologi Penggasan Batubara adalah suatu bentuk peningkatan energi yang terkandung di dalam batubara melalui suatu konversi dari fase padat menjadi fase gas dengan menggunakan proses degradasi termal material-material organik pada temperatur tinggi di dalam pembakaran yang tidak sempurna. 1. baik gas inert atau gas pereaksi dengan tujuan tertentu. Penambahan katalisator Ca(OH)2 pada proses pirolisis juga diharapkan akan menurunkan kandungan sulfur pada produk hasil pirolisis. dan konversi tinggi berarti volume gasifier yang diperlukan lebih kecil. Pirolisis dengan penambahan gas pereaksi seperti H2 akan meningkatkan kemungkinan terjadinya reaksi sekunder pada char dan menghasilkan gas dengan komposisi utama metana dan etana.2 Gasifikasi Batubara(Coal Gasification) Penggasan Batubara (Gasifikasi) merupakan proses konversi materi organik (batubara. Dalam pirolisis juga dikenal model Three Lumps. Proses pirolisis juga dapat dilakukan dengan penambahan gas. Penambahan katalisator pada proses pirolisis akan meningkatkan reaktivitas char yang akan sangat berpengaruh pada efisiensi gasifier. Aplikasi dari model-model tersebut memungkinkan untuk mendapatkan nilai parameter-parameter kinetika pirolisis. Proses ini berlangsung di . Pada Gasifier jenis fluidized-bed. Penambahan gas inert seperti N2 pada proses pirolisis akan meningkatkan porositas pada char sehingga char yang dihasilkan lebih reaktif. sirkulasi yang diperlukan untuk mencapai konversi tinggi menjadi lebih sedikit. menyatakan bahwa suatu bahan padat akan terurai menjadi 3 produk yaitu padat. telah dilakukan beberapa modifikasi pada proses karbonisasi dengan tujuan tertentu. Model Three Lumps diantaranya diajukan oleh Thurner dan Mann (1981) juga Shen (2007). biomass atau natural gas) biasanya padat menjadi CO dan H2 (synthesis gases) dengan bantuan uap air dan oksigen pada tekanan atmosfer atau tinggi. Meskipun demikian. reaktivitas char yang tinggi berarti konversi karbon sebelum meninggalkan bed tinggi. Salah satunya dengan menambahkan katalisator Ca(OH)2 pada pirolisis batubara bituminus Australian Newlands untuk menghasilkan char yang selanjutnya akan dijadikan bahan baku pada proses gasifikasi. cair dan gas berdasarkan reaksi paralel orde satu.

Semakin tinggi temperatur pemanasan akan mampu mempercepat proses difusi dari kadar air yang terkandung di dalam biomass sehingga proses drying akan berlangsung lebih cepat. hidrogen (H2 ) dan methan (CH4 ). Ke dalam gasifier ini nantinya akan dimasukkan bahan bakar batubara untuk dibakar di dalam reaktor (ruang bakar) secara tidak sempurna. Udara yang memasuki gasifier sering direlasikan sebagai equivalent ratio (ER) yang besarannya dipengaruhi oleh udara dan stoichiometri bahan bakar. proses gasifikasi merupakan proses pembakaran parsial bahan baku padat. Uap air dan karbon dioksida hasil pembakaran direduksi menjadi gas yang dapat terbakar (flammable ). tidak boleh terlalu banyak karena menyebabkan pembakaran namun juga tidak terlalu sedikit karena akan berpotensi untuk mematikan nyala api gasifier . yang terjadi pada reaktor menghasilkan energi panas yang cukup besar dan menyebar ke seluruh bagian reaktor. yaitu karbon monoksida (CO). Di dalam gasifier inilah terjadi suatu proses pemanasan sampai temperatur reaksi tertentu dan selanjutnya bahan bakar tersebut melalui proses pembakaran dengan bereaksi terhadap oksigen untuk kemudian dihasilkan gas mampu bakar dan sisa hasil pembakaran lainnya. yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik. Disamping itu kecepatan gerak media pengering turut mempengaruhi proses drying yang terjad . atau O 2 . Dengan kata lain. Gas-gas ini dapat dipakai sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk berbagai keperluan seperti menggerakkan mesin pembakaran dalam (diesel atau bensin). Kadar air pada biomass dihilangkan melalui proses konveksi karena pada reaktor terjadi pemanasan dan udara yang bergerak memiliki humidity yang relatif rendah sehingga dapat mengeluarkan kandungan air biomass. Gasifying agent adalah gas yang dimasukkan ke dalam gasifier agar proses gasifikasi berjalan dengan semestinya. Temperatur pada zona ini berkisar antara 300 0 C. Dalam memasok udara proses gasifikasi memerlukan kapasitas tertentu.dalam suatu alat yang disebut gasifier . Gasifying agent dapat berupa udara. Tahapan dalam Penggasan Batubara (Gasifikasi) a) Drying Proses drying dilakukan untuk mengurangi kadar air (moisture ) yang terkandung di dalam biomass bahkan sebisa mungkin kandungan air tersebut hilang. melibatkan reaksi antara oksigen dengan bahan bakar padat. steam . Keseluruhan proses gasifikasi terjadi di dalam reaktor gasifikasi yang dikenal dengan nama gasifier. Reaksi oksidasi.

3 MJ/kgmol) . water-gas shift reaction. Di antaranya adalah Bourdouar reaction . Ini berlangsung pada suhu yang lebih besar dari 300 0 C Dry Feedstock + Heat ——–> Char + Volatiles c) Gasification atau Reduction Ini adalah zona utama gasifier dimana kita mendapatkan produk atau Syngas. dalam keadaan tidak adanya oksidator secara total atau dengan pasokan yang terbatas yang tidak mengizinkan gasifikasi ke tingkat yang cukup. molekul hidrokarbon kompleks batubara terurai menjadi molekul yang lebih simple dan relatif lebih kecil seperti gas. dan char. dan CO methanation yang merupakan proses penting terbentuknya senyawa- senyawa yang berguna untuk menghasilkan flammable gas.Main Feedstock + Heat ——–> Dry Feedstock + H2O b) Pirolisis Pirolisis adalah dekomposisi thermo kimia dari batubara menjadi berbagai produk yang bermanfaat.9 MJ/kgmol) ü Steam-carbon reaction : C + H2O ——–> CO + H2 (-122. steam-carbon reaction . Proses reduksi adalah reaksi penyerapan panas (endoterm). cairan.6 MJ/kgmol) ü Water-gas shift reaction CO + H2 O ——-> CO 2 + H2 (+42. Selama pirolisis . Berikut adalah reaksi kimia yang terjadi pada zona tersebut: ü Boudouard reaction C + O2 ——-> 2CO (-164. Pada proses ini terjadi beberapa reaksi kimia. seperti hydrogen dan karbon monoksida. Ini adalah salah satu beberapa langkah reaksi atau zona diamati dalam gasifier. yang mana temperatur keluar dari gas yang dihasilkan harus diperhatikan. Proses ini terjadi pada kisaran temperatur 400 sampai 900 0 C.

1.3 Pencairan Batubara (Coal Liquefaction) Pencairan Batubara (Coal liquefaction ) adalah pengubah batubara padat menjadi bahan bakar cair. nilai investasi. kemudian apakah prosesnya ramah lingkungan sehubungan dengan emisi gas buang.9 MJ/kgmol) d) Oksidasi (Combustion) Proses oksidasi adalah proses yang menghasilkan panas (eksoterm) yang memanaskan lapisan karbon di bawah.Tropsch. karena ini akan mempengaruhi nilai intensif menyangkut tema tentang lingkungan. Akibatnya. Pada temperatur setinggi ini pada gasifier updraft. Secara garis besar ada empat kelompok metode proses pencairan batubara yakni : a. Pencairan Batubara (Coal liquefaction ) terminologi yang dipakai secara umum mencakup pemrosesan batubara menjadi BBM sintetik (synthetic fuel). Metode batubara ini disebut sintesis Fisher. Kraking thermal batubara untuk memperoleh produk – produk gas dan cair (pirolisa) b. yang solid dikonversi ke dalam cairan dengan membuatnya bereaksi dengan hidrogen pada suhu tinggi dan tekanan tinggi.100 sampai 1. umumnya 1. Secara intuitif aspek yang penting dalam pengolahan batubara menjadi bahan bakar minyak sintetik pada akhir proses pencairan adalah efisiensi proses yang mencakup keseimbangan energi dan masa. c. Sintesa produk – produk cair yang diperoleh dari gas buatan yang diperoleh dari gasifikasi batubara. batubara cair dapat digunakan dalam hampir semua sektor pasar produk minyak bumi yang hadir. Jika batubara. ü Methanation C + 2H2 ———–> CH4 (+75 MJ/kgmol) CO + 3H2 ———> CH4 + H2O ( -205. Hidroginasi solvent donor – H (ekstraksi) d.2/2006 yang mengatur tentang proses pencairan batubara. Undang-Undang No. Hidroginasi langsung dengan menggunakan hydrogen dalam bentuk gas. Proses ini terjadi pada temperatur yang relatif tinggi.500 0 C. akan memecah substansi tar sehingga kandungan tar yang dihasilkan lebih rendah. .

b) Hidroginasi Langsung . Sebelum proses ini dilakukan arang sebagian dibakar dengan oksigin.Energy- Development) batubara yang dihancurkan dalam lapisan – lapisan mengambang.Pencairan Batubara (Coal liquefaction ) secara garis besar diatas dapat dibedakan menjadi Proses pencairan batubara secara langsung (Direct Coal Liquefaction-DCL) yakni Hidroginasi langsung dengan menggunakan hydrogen dalam bentuk gas dan Hidroginasi solvent donor – H (ekstraksi). Proses ini telah mencapai rasio konversi 70% batubara (berat kering) menjadi sintetik cair a) Pirolisa Batubara Pirolisa merupakan cara pencairan batubara yang paling sederhana yang telah dikenal satu abad yang lalu. Melalui gasifikasi terlebih dahulu yakni (Indirect Coal Liquefaction-ICL) yakni Sintesa produk – produk cair yang diperoleh dari gas buatan yang diperoleh dari gasifikasi batubara. Prinsip dasar dari DCL adalah meng-introduksi-an gas hydrogen kedalam struktur batubara agar rasio perbandingan antara C/H menjadi kecil sehingga terbentuk senyawa-senyawa hidrokarbon rantai pendek berbentuk cair. Proses ini dikenal dengan Bergius Process. baru mengalami perkembangan lanjutan setelah perang dunia kedua. Dalam proses ini batubara mengalami kraking untuk menghasilkan gas.Tropsch. Sasaran utama pencairan ini adalah mendapatkan jenis bahan bakar yang lebih mulia dan tidak menganggu kelestarian lingkungan dalam proses COED (Char – Oil. Metode batubara ini disebut sintesis Fisher. DCL adalah proses hydro-craacking dengan bantuan katalisator. minyak dan kokas dengan mempergunakan batubara. Dengan demikian pada asasnya metode ini bukan merupakan proses pencairan yang sebenarnya. dikembangkan cukup banyak oleh negara Jerman dalam menyediakan bahan bakar pesawat terbang. Metode Pencairan Batubara 1) Pencairan batubara metode langsung (DCL) Pencairan batubara metode langsung atau dikenal dengan Direct Coal Liquefaction-DCL. yang merupakan sumber panas yang diperlukan untuk proses pirolisa ini.

Suhu yang diperlukan untuk konversi ini adalah sekitar 400 o C. Kemudian mengalami hidroginasi katalitik di bawah tekanan yang tinggi (beberapa ratus bar) dan suhu yang tinggi (400 – 500 O C). Suatu variant dengan hidroginasi lebih lanjut menghasilkan suatu produk cair. Prinsip dasar dari proses ini adalah meng-introduksi-an gas hydrogen kedalam struktur batubara agar rasio perbandingan antara C/H menjadi kecil sehingga terbentuk senyawa-senyawa hidrokarbon rantai pendek berbentuk cair. dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk pusat listrik tenaga uap. batubara mula-mula digiling. akan tetapi mempunyai bentuk cair hanya pada suhu anatar 150 - 200oC. Proses ini telah mencapai rasio konversi 70% batubara (berat kering) menjadi sintetik cair. c) Hidroginasi solvent donor – H (Ekstraksi Batubara) Ekstraksi batubara dilakukan dengan bantuan solvent (bahan pelarut) donor- H. .H. dan menghasilkan suatu produk yang dinamakan SRC (Solvent Refined Coal). yang dikenal dengan SRC. Usaha untuk lebih mencairkan bahan bakar ini dilakukan antara lain di Pittsburgh (USA). Suatu proyek dari Department Of Energy. mempergunakan katalisator untuk memeprcepat proses. yang juga bertindak sebagai minyak sluri bagi batubara yang dihancurkan. Pada proses ini menghasilkan suatu produk cair. Produk yang diperoleh adalah bebas abu dan mempunyai kandungan sulfur yang rendah. dengan kadar sulfur yang rendah. Kemudian batubara ini dicampurkan dengan minyak bakar dihasilkan oleh panas itu sendiri. di Baytown. yang dapat dipakai sebagai minyak bakar. yang menyerupai minyak. Mempergunakan batubara yang mengandung banyak belerang. Hidroginasi Langsung merupakan pencairan batubara metode langsung atau dikenal dengan Direct Coal Liquefaction-DCL pada proses ini menggunakan proses hydro-craacking dengan bantuan katalisator dimana dalam proses ini mempergunakan gas hidrogin. untuk dipakai sebagai sejenis bahan padat yang bebas abu dan bebas belerang serta dapat digiling. Hidroginasi Langsung atau yang sering disebut dengan Proses Bergius – Pier di Jerman Barat. Proyek ini mempunyai kapasitas 250 ton sehari. atau Proses Syanthol (Bureau of Mines) di USA dan Proses H – Coal (Department of Energy) juga di USA. dan tekanan yang dipakai antar 20 sampai 100 bar. Texas. Untuk mendapatkan jenis – jenis minyak lain yang lebihsegar dapat dipakai teknologi penyulingan biasa.

oleh South African Coal. tekanan 26 bar. Pabrik pencairan batubara Sasol kini merupakan pabrik pencairan batubara terbesar di dunia. dengan proyek “Bottrop” yang diperkirakan akan mula berproduksi dalam tahun 1987. Sintesa Fischer – Tropch berlandaskan reaksi kimia berikut : CO + 2H 2 → (CH 2 -) + H2 O 2CO + H2 → (CH 2 -) + CO 2 Pengembangan proses pertama mempergunakan sintesa bertahap dengan mempergunakan katalis dalam sebuah reactor dengan sandaran (fixed bed) tetap pada tekanan yang dinaikkan (proses ARGE) . perusahaan Ruhrkohle AG dan VEBA OEL di Jerman Barat kembali mengembangkan proses pencairan batubara.2) Proses pencairan batubara dengan metode tidak langsung (Indirect Coal Liquefaction-ICL) a) Fisher Tropsch Process Fisher Tropsch adalah sintesis CO/H2 menjadi produk hidrokarbon atau disebut senyawa hidrokarbon sintetik/ sintetik oil. Misalnya dalam tahun 1974. Pada proses ARGE dipakai suhu 230 o C.5 juta ton setahun. Setelah adanya kenaikan – kenaikan deras dari harga minyak sejak tahun 1974. yang dilandaskan pada prinsip Bergius – Pier. pencairan batubara kembali mendapatkan perhatian besar negara – negara industry. adalah di Afrika Selatan. dan rasio H 2 : CO sebesar 1 : 7.an di negeri tersebut. karena tidak dapat bersaing harga minyak bumi yang rendh pada tahun 50 – an. yang memberihkan hasil lebih tinggi. Pabrik yang dibangun di luar Jerman. .an dengan Sembilan pabrik yang dibangun di akhir tahun 30. Metode pencairan batubara ini jga dikembangkan di Jerman ditahun 20. Pabrik tersebut kini diperbesar hingga mencapai kapasitas 1. Kesembilan pabrik ini tidak bekerja lagi. Oil and Gas Corporation (Sasol) di Sasolburg dan bekerja sejak tahun 1955 dengan produksi 240 ribu ton setahun.

BAB III KESIMPULAN Adapun simpulan yang didapatkan berdasarkan tujuan sebagai berikut: Berikut pengkonversi batubara meliputi : a. Penggasan Batubara (Gasifikasi) c. Pencairan Batubara (Likuifikasi) . Pirolisis b.

Yohanes.esdm. Jakarta:UI-Press Parno.com/proses-pengolahan-batubara/ . Diakses melalui .org . Bayangan Hitam Batubara.. Dunia Tambang. Simon. Blackwell Scientific Publications. (2014.wordpress. New York: Mr Graw Hill Konversi Batubara. Solid State Physics. Pada tanggal 24 Februari 2017. .greenpeace.biz/sain-teknologi/ilmu-dan- teknologi-terapan/proses-gasifikasikonversi-batubara-menjadi-gas/ . 10 Januari). Surya. (2011. (2011. Kittle.co. Diakses melalaui http://ardra. (2012. Pada tanggal 24 Februari 2017. 1964. Pada tanggal 24 Februari 2017. 1989. Energi (Cetakan Kedua) . Kadir. Pembakaran Batubara . Pada tanggal 24 Februari 2017. 28 Juni). 21 Mei). Diakses melalui http://www. Sudirman.id . Diakses melalui http://bataviase. Diakses melalui http://scientificindonesia. DAFTAR PUSTAKA Basuki. 2002. Fisika Energi.go. C.tekmira. Abdul. http://www. Bina Sumber Daya MIPA Ward. Malang: PT.id/HasilLitbang/?p=580 . 1984. J. 15 desember). Batubara dan Pengolahannya. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta Samosir. 2012. Fisika Itu Mudah (Edisi Kedua). Coal Geology and Coal Technology. Rudi.R. Pada tanggal 30 Maret 2016 Hartono.