Jurnal Psikologi Udayana Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Udayana

2014, Vol. 1, No. 2, 227-240 ISSN: 2354-5607

Pengaruh Ngulat Tipat Taluh terhadap Keterampilan Motorik Halus
Anak Usia 6-7 Tahun

Made Padma Dewi Bajirani dan L.K. Pande Ary Susilawati
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
bajirani@gmail.com

Abstrak

Keterampilan motorik halus merupakan keterampilan yang sangat penting diperlukan dalam perkembangan anak.
Pelatihan dan pengembangan terhadap keterampilan motorik halus juga mulai dikembangkan. Namun masih sedikit
sekali ditemukan pengembangan terhadap keterampilan motorik halus anak melalui media kebudayaan yang
disesuaikan dengan daerahnya masing-masing. Dalam kebudayaan Bali, salah satu media yang dapat digunakan adalah
ngulat tipat taluh. Maka berdasarkan permasalahan di atas, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh ngulat tipat khususnya tipat taluh terhadap keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan one-group pre-test post-test design dengan
jumlah subyek sebanyak 49 orang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui pengukuran variabel
keterampilan motorik halus sebanyak dua kali yaitu pada saat pre-test dan post-test. Alat ukur yang digunakan berupa
maze yang terdiri dari 8 buah aitem maze. Setelah melakukan uji validitas dan reliabilitas, maka setiap aitem maze
dikatakan valid dengan nilai rix bergerak pada rentangan 0,298 sampai dengan 0,712 dengan nilai koefisien reliabilitas
Alpha Cronbach (α) sebesar 0,812. Berdasarkan hasil uji statistik T-test paired yang dilakukan, nilai signifikansi (2-
tailed) ≤ 0,025 (α= 0,025) yaitu 0,00 dan nilai t hitung pada penelitian ini adalah 6,603 lebih besar dari t table 1,677.
Maka dapat diambil keputusan bahwa hipotesa alternatif (Ha) diterima yaitu terdapat pengaruh ngulat tipat taluh
terhadap keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun.

Kata kunci : Ngulat tipat taluh, keterampilan motorik halus, anak usia 6-7 tahun.

Abstract

Fine motor skills are very important skills that needed in child development and it require training and skills to be
developed. However, there are only few of fine motor skills development which based on culture and uses
traditional activities to be the tool to improve the child’s fine motor skills. In Balinese culture, one of activities
which can be used to develop fine motor skill is ngulat tipat taluh. Based on this problem, the aim of this study was to
determine the effect of ngulat tipat taluh to fine motor skills in children aged
6-7 years.

This study used an experimental method with one-group pre-test post-test design with 49 people as subject. Data in this
study was collected by measuring fine motor skills variable in pre-test and post-test. The measurement is using mazes
that consist of 8 items, and after the validity and reliability test each items was valid with rix in range 0.298 to 0.712
and alpha cronbach reliability coefficient (α) is 0.812. Based on the results of the statistical paired T-test, the value of
significance (2-tailed) 0.00 ≤ 0.025 (α = 0.025) and the t value in this study was 6.603 greater than t table (1.677).
Based on statistical analysis, it can be concluded that the alternative hypothesis (Ha) can be accepted and there was
significant influence ngulat tipat taluh to fine motor skills in 6-7 years old children.

Keywords: Ngulat tipat taluh, fine motor skills, children aged 6-7 years.

227

kestabilan dan kekuatan melalui aktivitas- Santrock. Penelitian masing-masing dan saling terintegrasi maupun mempengaruhi lainnya juga menyatakan bahwa diperkirakan sekitar 12% satu sama lain (Soetjiningsih. anak mengalami transisi dari usianya juga akan memunculkan stres dan rasa frustrasi pada taman kanak-kanak menuju sekolah dasar (Hartingsveld. kekhawatiran orangtua pada anak sehingga memunculkan memasang tali sepatu dan kancing baju. 2012). 2012). Pada usia ini. Ketiga aspek perkembangan yaitu mengalami kesulitan dalam koordinasi motorik pada anak fisk. Santrock. Oleh karena yang berbeda khususnya di Indonesia. 1995). Menurut Ratih (dalam Munawwaroh. perkembangan Kepercayaan diri yang dimiliki oleh anak inilah yang kognitif. D. 2012). K. koordinasi antara mata dan tangan. 2012). anak yang akan berdampak langsung pada performa di sekolah Groot. 1994). 2002. 2007. tekanan dalam bentuk paksaan pada anak (Anna. Hartingsveld. Kurangnya perhatian khusus dan stimulus yang 2002) yang melibatkan kesiapan perkembangan aspek fisik. P. Salah satu penyebab stres pada adalah ketidaksiapan pengambilan keputusan (Hughes. A. ketiga aspek perkembangan ini harus mendapatkan anak mulai memasuki sekolah dasar dimana untuk memasuki perhatian dan stimulasi yang memadai agar dapat berkembang sekolah dasar anak diwajibkan untuk bisa membaca. 2012). Olds. perkembangan motorik pada anak.4% sampai dengan 4% anak usia 6-9 tahun aspek perkembangan saja. 2008). & Sanden. 2002). lain perkembangan teknologi dan kemajuan zaman yang 2010b. Keterampilan anak dengan segala tuntutan inipun akan memicu terjadinya motorik halus pada anak dapat diobservasi melalui pergerakan stres pada anak yang semakin diperkuat lagi akibat tangan dan jari-jari seperti dalam kegiatan memakai baju. 2009. Pada setiap tahapan perkembangan anak aktivitas yang melibatkan keterampilan tangan di dalamnya terdapat beberapa aspek perkembangan yang bertumbuh (Hurlock. Di sisi menggambar maupun menulis (Hughes. & Fieldman. P. di dalamnya fase perkembangan anak-anak (Hughes. Sesungguhnya impilikasi dalam optimalisasi dan Sugden yang dilakukan di Singapura pada tahun 1996 perkembangan anak tidak hanya berpegang pada salah satu terdapat sekitar 1. tercatat Namun Soetjiningsih (2012) mengemukakan bahwa terdapat peningkatan jumlah anak yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar orang tua dan juga dalam merencanakan dan memunculkan respon terhadap sekolah masih sangat menekankan pada perkembangan aspek keterampilan motorik termasuk di dalamnya gangguan kognitif dan cenderung melupakan aspek perkembangan keterampilan motorik halus. SUSILAWATI LATAR BELAKANG melibatkan 2 (dua) komponen utama yaitu eye-hand coordination atau koordinasi mata dengan tangan. kepekaan anak usia sekolah dan sebagian besar diantaranya mengalami motorik. Hal ini menjadikan atau fine motor yang merupakan bagian dari perkembangan banyak anak yang memerlukan kesiapan pada setiap aspek fisik anak.emosianal anak memiliki peranannya usia sekolah (Nelson & Jaskiewicz. kognitif dan sosio. Padahal anak-anak usia sekolah perkembangan aspek tersebut di kemudian hari melainkan menghabiskan sekitar 60-70% waktunya di sekolah. 2011) dengan tuntutan dan tanggung dan kemampuan sosial (McHale & Cermak dalam Feder & jawab yang berbeda dan lebih besar dibandingkan dengan usia Majnemer. serta finger Setiap individu akan mengalami perkembangan dexterity atau ketangkasan jari-jemari (Virginia School Health sehingga menjadi seorang pribadi yang ada saat ini. Olds. Seperti halnya pada usia (Bredecamp & Copple dalam Isbell. dan perkembangan sosio. Selain itu 6 atau 7 tahun yang tercakup dalam middle childhood. secara optimal tidak terkecuali perkembangan motorik halus dan menghitung (Munawwaroh. & Sanden. memiliki karakteristik yang peranan yang penting yang selanjutnya akan membangun berbeda sesuai dengan tahapan usianya masing-masing rasa percaya diri ketika anak mampu menyelesaikan tugas- (Papalia. Salah satunya adalah anak dituntut untuk mampu 2011). kognitif dan sosio-emosional yang matang sesuai akan menjadikan meningkatnya resiko akan gangguan dengan tahapan perkembangan anak. anak dampak daripada kegagalan anak dalam mencapai mulai memasuki pendidikan formal sesungguhnya yaitu keterampilan dasar motorik halus sesuai dengan tahapan sekolah dasar. BAJIRANI DAN L. keakuratan. 2002). kesabaran serta stres. menggunting.emosional (Papalia. Pada sisi juga menghambat perkembangan aspek lainnya. meliputi perkembangan fisik atau biologis. Aarts. Keterampilan motorik halus memiliki kembang secara kompleks. 2012). perkembangan untuk memenuhi tuntutan saat memasuki Keterampilan motorik halus atau fine motor skills sekolah dasar. Keterampilan motorik halus 228 . Groot. menulis. Aspek-aspek tersebut tugas menulis maupun menggambar yang diberikan. Aarts. Sampai saat ini. M. Isbell. Selain itu keterampilan motorik halus dapat perkembangan manusia ini terdiri dari beberapa fase termasuk ditingkatkan melalui 4 (empat) aspek yaitu kecepatan. berarti pada keterampilan motorik halus saat masa anak-anak. Santrock. Proses Guidelines. Hambatan yang terjadi anak mengalami kesulitan pada area keterampilan motorik pada salah satu aspek tidak akan hanya berdampak pada halus (NCBTP. pada usia 6 atau 7 tahun itu. 2010a). 2002). 2002. Berdasarkan penelitian Wright lainnya. kemudian akan mempengaruhi kemampuan sosialnya & Fieldman. memenuhi kompetensi secara akademis dan sosial (Hughes. 2008). sebelumnya. merupakan salah satu bagian dari perkembangan motorik anak sekitar 60% dari kliennya yang melakukan konseling adalah yang melibatkan perkembangan otot-otot halus.

Berikut adalah definisi operasional melatih konsentrasi seseorang. dampu. 2007). 1956. 2007). Salah dan post-test pada satu kelompok (one-group pre. menggunakan keterampilan tangannya (Laoakka. Ngulat tipat taluh dalam perlakuan 229 . Ngulat tipat juga memiliki manfaat untuk variabel tergantung. Maka dari bagaimana nantinya perkembangan anak dalam mengikuti itu tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh ngulat proses belajar mengajar di sekolahnya dengan sekian banyak tipat taluh terhadap keterampilan motorik halus anak usia 6-7 kompetensi yang harus dipenuhi. 1. Sebelum menghasilkan tipat. Hal ini tentu saja akan ngulat tipat taluh sebagai salah satu bentuk pengaplikasian berdampak besar tehadap keterampilan motorik halus anak kebudayaan Bali untuk melatih. Proses motorik halus maupun kasar (Kantha. Menurut Budiari juga mencerminkan banyaknya kegiatan yang dilakukan (2012). Tingkat kerumitan berdasarkan fungsinya yang terdapat dalam penelitian ini anyaman pada ngulat tipat juga memberikan manfaat bagi yaitu ngulat tipat taluh sebagai variabel bebas dan pembuatnya maupun penikmatnya seperti melatih jari-jemari Keterampilan motorik halus pada anak usia 6-7 tahun sebagai (Budiari. serta halus menjadikan banyaknya pengembangan yang dilakukan melihat bagaimana pengaruh ngulat tipat taluh terhadap untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun. penelitian ini adalah terdapat pengaruh ngulat tipat taluh lompat tali.test post-test satu budaya Bali yang dapat dijumpai dalam kehidupan design). Berdasarkan uraian di atas peneliti menggunakan Karnjanangkura. galasin. seseorang akan terfokus untuk menganyam janur sehingga mencapai bentuk ketupat yang diharapkan (Budiari. mengetahui seberapa besar pengaruh ngulat tipat taluh Melihat pentingnya peranan keterampilan motorik terhadap keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun.5 cm. Pelatihan dan pengembangan terhadap keterampilan motorik halus diharapkan dapat METODE disesuaikan dengan budaya setempat sehingga nantinya anak mengetahui dan sekaligus belajar akan tugas dan Berdasarkan tujuan penelitian ini. Ngulat tipat memiliki tingkatan kerumitan yang berbeda-beda Adapun identifikasi variabel-variabel penelitian tergantung pada jenis ketupat yang dibuat. mengasah dan serta performa anak ketika memasuki sekolah dasar dan mengembangkan keterampilan motorik halus. pembuatan ketupat ini hanya memerlukan 4 tahapan yang 2012). seperti mengembangkan ngulat tipat taluh terhadap aspek kecepatan dan kestabilan kemampuan motorik halus dan kasar pada anak (Suhamah pada keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun. kini mepet atau merapatkan (Raras. & Suwapeat. salah satu jenisnya adalah tipat taluh (ketupat berbentuk telur yang dibuat dengan menggunakan 1 lembar berbentuk telur). congkak dan bekel (Puspayanti. Bali dengan rancangan pre. 2010a). 2010). Kehidupan anak-anak pra sekolah maupun telah terdiri dari proses membuat lingkaran. Boonchai. tidak memiliki proses yang jarang melakukan kegiatan yang melibatkan keterampilan rumit dan menggunakan bahan yang sederhana. 2012. Rancangan ini mencakup satu kelompok yang masyarakat sehari-hari adalah tipat. & Krairach. 2009). maka terdapat kewajibannya di masa perkembangan yang lebih matang hipotesis mayor dan minor dalam penelitian yang menjadi (McHale & Cermak dalam Feder & Majnemer. lentengan. tahun. 2009). (Creswell. karena saat membuat ketupat beberapa variabel dalam penelitian ini. jenis ketupat ini biasa diajarkan pada anak-anak usia dengan bantuan mesin dan anak kurang aktif dalam awal sekolah dasar. Anandakusuma. motorik halus (Isbell. dalam Puspayanti. Kebudayaan Hindu di Bali sendiri memiliki berbagai jenis ketupat yang sering digunakan dalam kehidupan Ngulat tipat taluh adalah proses pembuatan ketupat sehari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif Seperti halnya daerah lain di seluruh Indonesia. 2009).hari. maka sebelumnya terdapat proses membuat ketupat atau yang biasa disebut sebagai Variabel dan definisi operasional ngulat tipat (Kusuma. Tipat (ketupat) merupakan diobservasi pada tahap pre-test yang kemudian dilanjutkan salah satu makanan yang masih ada dan sering digunakan dengan tritmen atau perlakuan dan diakhiri dengan post-test dalam upacara keagamaan di Bali (Kusumawardhani. cutik. terhadap aspek keakuratan dan kekuatan pada keterampilan Permainan tradisional juga memiliki manfaat yang sama motorik halus anak usia 6-7 tahun dan terdapat pengaruh baiknya dengan permainan adaptasi. Tipat taluh merupakan jenis ketupat yang janur (daun pohon kelapa yang masih muda) dengan panjang 90 cm dan lebar 2. Sedangkan hipotesis minor dalam sekolah seperti petak umpet. 2012). Definisi Operasional Ngulat Tipat Taluh Karda 2003).experimental yaitu rancangan pre-test memiliki beragam budaya dan permainan tradisional. PENGARUH NGULAT TIPAT TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK sangat pesat menjadikan anak-anak pada masa kini sangat mudah untuk dibuat. 2010). menganyam hingga sekolah khususnya di daerah industri atau berkembang. 1986). asumsi dalam penelitian ini diantaranya adalah terdapat Permainan tradisional yang mengangkat budaya-budaya lokal pengaruh ngulat tipat taluh terhadap keterampilan motorik juga mulai dicanangkan kembali dan masuk dalam kurikulum halus anak usia 6-7 tahun.

Anak memiliki usia kronologis di atas atau sama yang ada. yang berseberangan kemudian ujung janur kedua dimasukkan Seluruh subyek dalam penelitian ini ditentukan ke lubang yang berseberangan lainnya. ujung janur pertama dimasukkan ke lubang perlakuan pelatihan ngulat tipat taluh. P. Usia kronologis akan terhitung mulai dari tanggal maze dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. 2006. pemilihan sampel modeling atau menirukan diawal perlakuan hingga subyek tahap pertama dilakukan untuk memilih himpunan yang lebih mampu mengerjakannya sendiri di akhir perlakuan. perlakuan halus dapat dilihat pada tabel berikut: sebanyak 4 kali pertemuan. dimasukkan setengah kedalam lingkaran kedua. Berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Subyek melakukan izin keluar pada saat pemberian dimasukkan. Myers & Hansen.hand coordination) dan Alat ukur ketangkasan jari-jari (finger dexterity). Susilawati terdiri dari 4 tahapan yaitu: 1. Subyek tidak mengikuti keseluruhan rangkaian blue-print maze untuk mengukur keterampilan motorik pelaksanaan penelitian yang terdiri dari pre-test. Bersedia menjadi subyek penelitian dengan Masing-masing faktor juga mengukur 4 aspek mengisi inform concent yang diwakili oleh sekolah selaku keterampilan motorik halus. Penelitian kelahiran anak hingga tanggal dilakukannya post-test ini menggunakan 8 (delapan) buah gambar maze 2 dimensi terhadap keterampilan motorik halus. Berdasarkan beberapa klasifikasi jenis maze a. Keterampilan halus pada anak usia 6-7 tahun. 2011). bertahap selama 4 hari pertemuan dengan proses Sugiyono. Zigegler.5 tahun (90 maze yang ditinjau dari jalur lintasannya untuk membentuk bulan). keakuratan. M. 2. Bali yang dilaksanakan pada bulan gerakannya secara halus yang melibatkan tangan. kecepatan. Peneliti juga mengadaptasi cara pengukuran nantinya akan dilakukan secara individual dan diberikan 2 dan skoring pada bagian sub test maze yang salah satunya (dua) kali yakni pre-test dan post-test dengan alat ukur yang digunakan untuk mengukur koordinasi visual motorik serta sama. 2012b). Pengukuran ini Martzog (2008). K. terukur melalui aspek maze dengan tujuan untuk mengukur keterampilan motorik kecepatan. Pada penelitian ini. Keterampilan motorik halus ini akan diukur berdasarkan 2 c. dimulai pada kriteria inklusi pada subyek yang digunakan dalam titik awal (start) hingga sampai pada titik akhir (finish) penelitian ini antara lain: (Rabani. yang memiliki tingkat kesulitan termudah hingga tersulit. dan error (kesalahan) dalam menyelesaikannya. Subyek tidak hadir pada salah satu rangkaian berbentuk lingkaran. Beberapa jalan-jalan bercabang dan sulit untuk dinavigasi. lengan yang memiliki 2 komponen di dalamnya yaitu koordinasi mata dan tangan (eye. 2006. Keempat tahapan di atas diberikan secara sampling (Kerlinger. Keterampilan Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah motorik halus dalam penelitian ini. Penelitian ini motorik halus pada anak usia 6-7 tahun dalam penelitian ini mengadaptasi cara pengukuran dan sistem skoring terhadap akan diukur menggunakan alat ukur keterampilan motorik keterampilan motorik halus pada beberapa penelitian halus berbentuk maze dengan menghitung jumlah waktu dan sebelumnya yaitu penelitian dari Stoeger. d. Adapun gambaran umum atau a. Denpasar.) ulatan yang sudah berdasarkan metode pengambilan sampel yaitu cluster jadi kemudian dirapatkan dengan cara menarik sisi-sisinya sampling yang merupakan bagian dari probability hingga rapat.) selanjutnya lingkaran yang satu pelaksanaan pengambilan data penelitian. kecil yaitu sekolah dasar yang dipilih secara acak. kestabilan dan kekuatan yang nantinya Sedangkan beberapa kriteria eksklusi pada subyek akan terukur melalui indikator waktu dalam satuan second yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: atau detik dan jumlah error. dan Februari sampai dengan bulan Maret 2013. 230 . dan tahap kedua menentukan sampel pada sekolah tersebut yang 2.) membuat 2 buah lipatan b. kestabilan dan kekuatan. 4. Berdomisili di Bali. Definisi Operasional Keterampilan motorik halus pada memiliki kriteria inklusi secara acak pula. D. jari-jari. b. Bajirani dan L. Maze adalah salah satu jenis tour-puzzle atau puzzle Subyek dalam penelitian ini berjumlah 49 orang yang 2 dimensi yang menuntut pemainnya menelusuri melalui memiliki kriteria inklusi dalam penelitian ini. dan post-test. ketepatan dan kecepatan kerja pada tes psikologis yaitu WPPSI (Wechsler Preschool and Primary Scale of Respoanden Intelligence). Empat aspek tersebut adalah institusi pendidikan. keakuratan. P. 3. faktor yakni eye-hand coordination dan finger dexterity. anak usia 6-7 tahun Tempat penelitian Keterampilan motorik halus pada anak usia 6-7 tahun Penelitian ini dilakukan pada SD Negeri 2 adalah kemampuan anak usia 6-7 tahun dalam mengatur Panjer. peneliti melakukan kombinasi terhadap ketiga tipe dengan 6 tahun (72 bulan) dan tidak lebih dari 7.) setelah c. A.

Setelah data skor mentah ditransformasikan menjadi Metode pengumpulan data Z score. maupun post-test menjadi skor standar yaitu Z score. peneliti melakukan transformasi linier pada penelitian ini yaitu rancangan pre.812. dimana 1 orang subyek akan data dapat diolah sesuai dengan tujuan penelitian ini. dengan cara melakukan pengukuran terhadap variabel Hal ini dilakukan pada kedua data yang diperoleh baik pada tergantung penelitian yaitu keterampilan motorik halus. maka hasil ini dilakukan melalui teknik komputasi one-sampel perlakuan dapat diketahui lebih akurat.05. adanya perlakuan dan pengukuran kedua akan dilakukan pada Sebelum melakukan analisis uji beda T-test paired. 231 . Pengukuran minimum pada pre-test dan post-test ditambah 1 (Z score pertama akan dilakukan pada saat pre-test atau sebelum minimum + 1) (Azwar. Tahapan diarahkan dan didampingi oleh 1 orang tester/ administrator. Paired-Sample T-test adalah uji komparasi yang mencakup Selanjutnya. dimana dapat Kolmogorov-Smirnov Test dalam program SPSS version 17. data pre-test maupun post-test. Selanjutnya. peneliti melakukan uji beda pada dua pengukuran pada subjek yang sama (sampel bepasangan) data penelitian untuk menjawab hipotesis mayor penelitian terhadap suatu pengaruh atau perlakuan tertentu dengan ini. tersebut antara lain: Berdasakan hasil uji coba alat ukur. Uji asumsi kedua adalah uji (SPSS) version 17. mulai dari pre-test. peneliti melakukan beberapa tahapan sehingga individual atau one-to-one test. Uji hipotesis penelitian akan dilakukan dengan melakukan teknik komputasi Statistical Package for Social Sciences (SPSS) version 17. ketika nilai signifikansi lebih dari atau sama dengan 0.349 dan p=0. maze dalam penelitian ini 1. for windows. Variabel tergantung yaitu keterampilan motorik teknik komputasi uji beda yaitu Paired T-Test one sample halus anak usia 6-7 tahun pada pre-test memiliki nilai p= pada program Statistical Package for Social Sciences 0. Sedangkan statistik inferensial adalah teknik statistik Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun pada saat pre- yang kemudian diberlakukan untuk populasi secara test dan post-test berdistribusi normal dengan nilai signifikansi random. 2011). Teknik Analisis Data Secara garis besar penelitian ini menggunaklan 2 jenis analisis statistik yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. HASIL PENELITIAN Pengerjaan maze sebagai alat ukur performa Sebelum dilakukannya komputasi data hasil keterampilan motorik halus ini akan dilakukan secara penelitian. Pengumpulan data dilaksanakan sesuai dengan desain 3. Hal ini dikarenakan penelitian ini hanya sebelum melakukan uji beda yakni uji normalitas dan uji menggunakan 1 kelompok eksperimen dengan subyek yang homogenitas Penelitian ini menggunkan Paired-Sample sama pada setiap tahapan penelitian. peneliti melakukan penjumlahan terhadap Z score Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan error dan Z score waktu masing. Statistik deskriptif hanya digunakan untuk mendeskripsikan data sampel dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil.test dan post-test pada satu masing-masing skor individu dengan menambahkan nilai kelompok (one-group pre-test post-test design).05.720 pada post-test.masing subyek penelitian. saat post-test atau setelah adanya perlakuan ngulat tipat taluh terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi yang meliputi uji pada subyek penelitian yang sama. Hasil pengujian apakah terdapat pengaruh ngulat tipat melihat selisih pada rata-rata (Riduwan & Sunarto. PENGARUH NGULAT TIPAT TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK Trihendradi. homogenitas.0 for windows (Trihendradi. Sehingga dengan adanya normalitas dan uji homogenitas. Pengujian dilakukan dengan menggunakan di atas 0.0 dibandingkan dengan keadaan sebelum perlakuan (Sugiyono. 2. 2011).712 masing-masing subyek penelitian yang diperoleh saat pre-test dan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach (α) sebesar 0. 2010a). 2010. Peneliti melakukan transformasi skor mentah (raw score) dinyatakan valid dan reliabel dengan rentang koefisien terhadap jumlah error dan waktu dalam pengerjaan maze korelasi aitem-total (rix) antara 0. T-test untuk pengujian hipotesis penelitian dengan alasan pemberian perlakuan hingga post-test.298 sampai dengan 0. Dapat dikatakan bahwa varian skor pada Sebelum dilakukannya analisis uji beda pada hasil penelitian kelompok eksperimen memiliki varian yang sama atau ini maka terdapat 2 (dua) jenis asumsi yang harus dipenuhi homogen. Uji normalitas pada penelitian pre-test sebelum diberikannya perlakuan. Sebaran data akan dikatakan bedistribusi normal 2012).0 for windows.

tergolong ke dalam kategori memiliki keterampilan motorik skor maksimum adalah 7. dalam penelitian ini menyatakan bahwa semakin tinggi skor Sedangkan tabel 4 menggambarkan korelasi maze yang diperoleh subyek penelitian maka semakin buruk atau hubungan antar variabel penelitian yaitu keterampilan keterampilan motorik halus yang dimiliki.42% (R2=0. Karena berdasarkan sistem skoring yang digunakan tahun. Nilai t hitung pada hasil pengujian lebih besar daripada t tabel dimana nilai t tabel untuk df (N-1) = 48 adalah 1. mean (μ) sebesar 2. Sedangkan jika motorik halus anak usia 6-7 tahun dimana adanya korelasi semakin rendah skor maze yang diperoleh maka semakin baik yang signifikan karena nilai signifikansi memiliki nilai di keterampilan motorik halus yang dimiliki subyek penelitian. Bajirani dan L.484). 23 orang dalam kategori sedang (46. tinggi. Sistem kategorisasi yang digunakan adalah kategorisasi jenjang dalam satuan kontinum.9%).1%.025). Dengan kata lain terdapat pengaruh ngulat tipat yaitu sangat rendah. hasil yang terlihat adalah adanya hubungan dengan keterampilan motorik halus bergerak dari rentangan sangat koefisien korelasi sebesar 0. motorik halus sangat baik. Sedangkan pada post-test terlihat adanya peningkatan keterampilan Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan sebagai motorik halus dimana tidak adanya subyek penelitian yang skor normatif maka ditemukan skor minimum adalah 1.00 (p<0. D. hasil pengujian juga memperoleh nilai t hitung sebesar 6. buruk. A. persentase 4. kategorisasi skor Tabel 3 menggambarkan selisih mean yang bernilai maze adalah sebagai berikut: positif menunjukkan bahwa skor post-test memiliki nilai mean yang lebih rendah dibandingkan dengan pre-test. Susilawati taluh terhadap keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Maka berdasarkan rumus di atas. dan halus yang sangat buruk. menunjukkan bahwa variabel ngulat tipat taluh dapat Berikut ini adalah frekuensi sebaran data berdasarkan menjelaskan atau mempengaruhi keterampilan motorik rentangan kategorisasi yang telah dibuat. bawah 0. dimana kategorisasi (2012b).87. baik. Kategorisasi dilakukan untuk mengelompokkan subyek ke dalam Tabel di atas menjelaskan bahwa dalam penelitian ini kategori-kategori terpisah secara berjenjang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan ngulat tipat Kategorisasi skor maze memiliki 5 (lima) rentangan taluh. Dengan kata lain setelah adanya standar deviasi (σ) adalah 1. Dengan demikian menurut perlakuan ngulat tipat taluh pada subyek penelitian terjadi Azwar (2012) kategori normatif skala pengukuran peningkatan keterampilan motorik halus yang cukup baik pada keterampilan motorik halus adalah sebagai berikut: 232 . dan sangat taluh terhadap keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tinggi. M. Selain itu.4% orang subyek berada dalam kategori keterampilan motorik halus yang sangat buruk.5%) dan 11 orang atau sekitar 22.2342). P. rendah.603 dengan signifikansi sebesar 0.484 (r=0. dan sangat buruk.00. Kontinum terdiri tidak ada subyek yang memiliki kategorisasi keterampilan dari 5 jenjang yang bergerak dari sangat buruk ke sangat baik. K.05). 13 orang dengan kategori buruk (26. sedang.05 (p<0.677.11. sedang. Hal ini baik. halus sebesar 23. Berdasarkan pedoman interpretasi Maka kategorisasi antara skor maze dan keterampilan motorik terhadap koefisien korelasi yang dikemukakan oleh Sugiyono halus berbanding terbalik. Pada pre-test hanya terdapat 2 orang subyek teoritis atau populasi yang diambil dari skor uji coba alat ukur yang memiliki keterampilan motorik halus baik dengan keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun.283. pada kondisi sebelum maupun Peneliti menggunakan kategorisasi normatif berdasarkan skor setelah perlakuan. P. Peneliti selanjutnya melakukan pengkategorisasian pada hasil penelitian tersebut baik pada data pre-test maupun post-test terhadap performa keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun.

namun tidak sampai mengubah kategori keterampilan motorik halus subyek penelitian yang dibedakan keterampilan motorik halus mereka.01-7. Sebagian besar subyek penelitian mengalami penurunan nilai/ Peneliti juga melakukan pengkategorisasian skor maze. hasil pengkategorisasian keterampilan motorik halus subyek Peningkatan keterampilan motorik halus dapat menurut usianya.0-7.00 tahun dan 10 orang pada rentang usia 7. 6 orang pada keterampilan motorik halus juga dikategorisasikan keterampilan motorik halus sedang dan 1 orang dalam berdasarkan usia subyek penelitian guna memperkaya hasil kategori baik. Dapat disimpulkan bahwa tabel 9 menggambarkan adanya peningkatan keterampilan motorik halus terjadi pada setiap kelompok usia pada rentangan 6-7.6%.01-7. Sedangkan pada post-test terlihat bahwa subyek laki-laki mengalami peningkatan keterampilan motorik halus.7.5 tahun setelah adanya perlakuan ngulat tipat taluh. Peningkatan juga terjadi dan 233 . Peningkatan yang buruk dengan selisih skor 0.0 tahun memiliki keterampilan motorik halus sedang yaitu sebanyak 9 orang dan masing-masing terdapat 1 orang dalam kategori keterampilan motorik halus buruk dan sangat buruk.51-7. PENGARUH NGULAT TIPAT TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK subyek penelitian. pada kategori keterampilan motorik halus sangat buruk. 3 orang pada kategori buruk.6. 16 orang pada rentang usia 6.00 tahun terdapat 5 orang subyek perempuan yang berada kategori keteampilan motorik halus sangat buruk. Pada rentang usia 6.00.5 sangat buruk. Peningkatan keterampilan motorik halus pada subyek penelitian dapat dilihat pada grafik di bawah ini: Berdasarkan data keseluruhan. 4 orang dalam tahun.5 tahun analisa data penelitian. dan 7. Pada pengukuran pre-test sebagian besar subyek berjenis kelamin laki-laki dengan rentang usia 6.51-7.01-7.5 tahun. keterampilan motorik halus buruk dan 1 orang memiliki Peningkatan juga dialami oleh subyek perempuan dimana keterampilan motorik halus sedang. baik pada rentangan usia 6. 6.00 tahun maupun 7. Tetapi terdapat berdasarkan jenis kelamin subyek.01.5 tahun terdapat 4 orang memiliki berada dalam kategori keterampilan motorik halus baik. dimana setelah Saat pre-test pada kelompok subyek perempuan adanya perlakuan ngulat tipat taluh terdapat 7 orang subyek berusia 6.0 tahun. 4 Hasil penelitian pengaruh ngulat tipat taluh terhadap orang pada keterampilan motorik halus buruk. Adapun hasil kategorisasi keterampilan terdapat 2 orang pada kategori keterampilan motorik halus motorik halus dibedakan menjadi 3 kelompok yakni usia 6-6.5 tahun. sangat pesat terlihat pada subyek laki-laki. Pada kondisi post-test tidak satu orang subyek yang mengalami peningkatan skor maze diterdapat subyek yang tergolong ke dalam kategori dari kategori keterampilan motorik halus sedang menjadi keterampilan motorik halus sangat buruk.50 tahun.01-7.00.51- tidak terdapat satu orang subyek pun yang berada dalam 7.51-7. dibandingkan pada saat sebelum dan sesudah perlakuan dimana terjadi peningkatan menjadi 4 orang subyek perempuan yang memiliki kategori keterampilan motorik halus baik yang sebelumnya hanya terdapat 1 orang subyek perempuan dalam kelompok usia 7.1% menjadi 28.6.5 tahun.5 tahun. dimana setelah adanya perlakuan tidak ada lagi subyek yang berada pada kategori keterampilan motorik halus yang sangat buruk dan peningkatan yang pesat pada kategori keterampilan motorik halus yang baik dari hanya 4.5 tahun terdapat 3 orang subyek dalam ketegori keterampilan motorik halus sangat buruk dan sedang serta 1 orang subyek dalam kategori buruk. Sedangkan pada rentangan usia 7.51-7. Berikut adalah kategori sedang dan 1 orang pada kategori baik. pada subyek berjenis kelamin perempuan tersebar dalam 3 kategorisasi usia dimana 5 orang pada rentang usia 6. Sedangkan pada rentang usia 7.43.

error atau kesalahan pada maze saat pre-test dan post-test Hasil tersebut menggambarkan bahwa terdapat memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0. Hal ini juga memiliki arti rendah dibandingkan jumlah error pada saat pre-test. memberikan penelitian adalah sebagai berikut: manfaat kepuasan bagi pembuatnya. Sesuai dengan hasil pengkategorian. Hasil perlakuan ngulat tipat taluh.603 lebih besar dari t tabel untuk df (N-1) = 48 aspek keakuratan dan kekuatan pada variabel keterampilan adalah 1.067 (p>0. terdapat perbedaan nilai rata-rata sebelum Tabel 10 menjelaskan bahwa adanya perbedaan nilai perlakuan dengan nilai rata-rata setelah perlakuan ngulat tipat rata-rata pada indikator error atau tingkat kesalahan pada saat taluh. keterampilan motorik halus. Susilawati tersebar pada kelompok-kelompok usia yang ada meskipun mengerjakan maze pada saat post-test memiliki nilai yang tidak ada 1 subyek pun yang mengalami peningkatan lebih rendah dibandingkan dengan pada saat pre-test. D. Hal ini dapat terlihat dari taraf statistik untuk melihat ada tidaknya perbedaan nilai rata-rata signifikansi sebesar pada saat sebelum dan sesudah diberikan perlakuan ngulat 0. Pernyataan lainnya juga dinyatakan oleh Karda (2003). tipat taluh berdasarkan aspek dan indikator keterampilan motorik halus.484 (lihat tabel 4) dan p=0. K.26531 yang bernilai positif menunjukkan bahwa jumlah ngulat tipat taluh terhadap keterampilan motorik halus anak error pada saat post-test memiliki nilai rata-rata yang lebih usia 6-7 tahun secara signifikan. P. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan ngulat tipat taluh pada anak usia 6-7 tahun dengan pelatihan ngulat tipat taluh memberikan sumbangan efektif melihat selisih mean dan pengkategorisasian yang telah sebesar 8.677. Adapun hasil analisis data manfaat untuk melatih konsentrasi seseorang. terdapat perbedaan nilai rata-rata kelompok eksperimen antara Selain itu. Dengan kata lain. M.088.025 (α= 0. Hasil uji beda berdasarkan analisis juga menunjukkan nilai t hitung pada penelitian ini indikator error atau tingkat kesalahan ini menunjuk kepada adalah 6.42%. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji beda diperoleh nilai mengerjakan maze antara sebelum dan setelah adanya signifikansi (2-tailed) ≤ 0. Indikator waktu pada maze menunjuk kepada aspek motorik halus sedang. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya korelasi yang Nilai t hitung pada hasil pengujian lebih besar daripada t tabel signifikan antara perlakuan yang diberikan dengan hasil dimana nilai t tabel untuk df (N-1) pengukuran yang sedang dimana terdapat pengaruh ngulat = 48 adalah 1. Bajirani dan L. ngulat tipat dapat melatih konsentrasi atau fokus dan Pada tabel 10 menjelaskan bahwa jumlah waktu yang ingatan seseorang. hasil pengujian juga memperoleh nilai t hitung sebelum dan sesudah adanya perlakuan ngulat tipat taluh. A.00. tipat taluh yang sedang terhadap keterampilan motorik halus dengan koefisien korelasi sebesar 0.00 (p<0. 13. Koefisien ini juga dapat menjelaskan bahwa variabel ngulat tipat taluh dapat menjelaskan atau mempengaruhi Sedangkan pada tabel 21 terlihat bahwa indikator keterampilan motorik halus anak sebesar 23.058 walaupun skor rerata antara pre dan post- indikator time atau waktu yang diperlukan saat mengerjakan test tetap berada pada rentangan kategori keterampilan maze. Sesuai dengan definisi 234 . sebesar 5. Namun menjadi kategori keterampilan motorik halus sangat baik. berdasarkan hasil analisis uji beda di atas menunjukkan bahwa Analisis data selanjutnya yang dilakukan pada tidak adanya perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata penelitian ini adalah melakukan kembali uji beda untuk jumlah waktu pada saat sebelum maupun setelah adanya menjawab hipotesis minor penelitian ini. Selain memiliki fungsi untuk meningkatkan diperlukan pada saat pengerjaan maze pada saat pre-test keterampilan jari-jari yang menjadi salah satu dan post-test memiliki selisih nilai rata-rata yaitu komponen dalam keterampilan motoric halus.164 dengan signifikansi sebesar 0. dan dapat melatih keterampilan jari-jari karena tingkat kerumitan dari tipat itu sendiri.025) yaitu 0. Hasil analisis perlakuan ngulat tipat taluh. terjadi penurunan skor maze setelah adanya perlakuan atau Analisis selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti menandakan adanya peningkatan keterampilan motorik halus adalah melakukan uji beda terhadap nilai rata-rata berdasarkan dengan selisih 1. P. waktu yang diperlukan untuk konsentrasi juga diperlukan dalam pengembangan keterampilan motorik halus. maka ditemukan hasil sebagai berikut: PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN Hasil analisis uji beda yang telah dilakukan menunjukkan.98673.025). Hal ini dapat dilihat dari selisih mean sebesar hipotesa alternatif (Ha) di terima yaitu terdapat pengaruh 5.297 atau koefisien peningkatan keterampilan motorik halus setelah adanya determinasi (R2) sebesar 0.8% terhadap aspek kekuatan dan keakuratan pada dilakukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan Budiari kecepatan dan kestabilan pada variabel keterampilan motorik (2012) yang menyatakan bahwa ngulat tipat memiliki halus saat pre-test dan post-test.025).677 (lihat tabel 3) sehingga dapat diputusan bahwa motorik halus.00.

Menurut Hurlock (1995) sebagai suatu latihan keterampilan motorik halus untuk anak terdapat aspek. kehati. fokus dan rentang memori pada masing-masing subyek Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya penelitian dalam menerima instruksi proses ngulat tipat taluh. dapat dikembangkan yaitu kecepatan. Anak-anak usia ini akan mulai mempelajari diperhatikan dalam penelitian ini. Pengaruh ngulat tipat taluh Pada usia anak-anak madya/ pertengahan. gizi. Berdasarkan analogi yang motorik halus anak juga dipengaruhi oleh budaya seseorang dilakukan. 2002. Olds & Fieldman.jari dan lengan yang keterampilan-keterampilan motorik baru melalui kesempatan memerlukan konsentrasi. ketangkasan jari/ tangan yang juga merupakan salah satu perkembangan otot dan tulang. kesulitan Santrock.42%. aktivitas motorik halus. anak mengenai keterampilan motorik halus menurut Santrock masih sering mengerjakan suatu hal secara teburu-buru dengan (2007). Pengetahuan pada anak tidak dihasilkan dari adanya kontrol terhadap beberapa faktor yang mempengaruhi dalam individu itu sendiri melainkan lebih dibangun melalui keterampilan motorik halus seperti status gizi dan frekuensi interaksi dengan orang lain dan benda budayanya. perkembangan keterampilan motorik halus melibatkan melihat kuantitas yang dihasilkan. anak secara sebesar 23. dan kebutuhan akan fungsi tipat selain secara sosial budaya. Ngulat tipat taluh dapat dikatakan koordinasi otot tubuh satu sama lain. Dengan kata lain. ngulat tipat taluh memiliki pondasi-pondasi dasar dan bergantung pada stimulus yang diberikan (Hughes. Maka dapat dikatakan subyek penelitian yang kontrol terhadap subyek penelitian ketika berada diluar tinggal di Bali akan jauh lebih mudah memahami instruksi dan kondisi eksperimen. Vygotsky (dalam Santrock. dan bervariasinya tingkat konsentrasi atau mengenal benda yang menjadi kebudayaannya sendiri. 2002) yang aspek kecepatan dan kestablilan lebih ditekankan pada waktu menyatakan bahwa perkembangan keterampilan motorik halus yang dapat tercermin dalam komponen finger dexterity atau sangat dipengaruhi oleh dukungan maupun lingkungan. 2009). Kurang kognitif anak.42% terhadap keterampilan motorik halus juga formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan menyatakan bahwa masih terdapat beberapa hal yang perlu kebudayaannya. 2012). dan adanya rasa ingin proses yang aktif untuk membangun keterampilannya menonjol dibandingkan dengan teman. pengaruh yang signifikan ngulat tipat taluh terhadap Peningkatan keterampilan motorik halus yang tidak begitu keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun dengan besar setelah adanya perlakuan. Pada tahap ini anak belum dapat individu yang tepat sesuai dengan tahapannya untuk membayangkan sesuatu yang sangat abstrak dan masih mengembangkan keterampilannya secara optimal diperlukannya modeling ketika menyelesaikan suatu (Soetjiningsih. Proses pemberian Teori perkembangan lainnya yang medukung hasil perlakuan yang singkat dan jenis tipat yang memiliki tingkat penelitian ini adalah adalah teori kognitif sosial-budaya kerumitan rendah memungkinkan terjadinya hubungan Vygotsky. PENGARUH NGULAT TIPAT TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK keterampilan motorik halus yang dikemukakan oleh Papalia. kemungkinan diakibatkan hubungan yang sedang dan memiliki pengaruh sebesar karena efek jenuh dari subyek penelitian serta beberapa 23. Hal ini memiliki arti bahwa ngulat tipat taluh karakteristik anak usia awal sekolah dasar. Jika ditinjau berdasarkan teori perkembangan kognitif tubuh anak dan lingkungannya. dalam pengembangan keterampilan motorik halus pada anak 235 . oleh waktu pemberian perlakuan yang singkat. Analisis yang menunjukkan adanya hasil signifikan dan kekuatan. Maka banyak faktor yang bisa Piaget. kontrol. Pada aspek kekuatan dan keakuratan sangat namun dengan korelasi rendah ini juga serupa dengan diperlukan konsentrasi atau fokus yang baik. anak usia 6-7 tahun tergolong ke dalam tahapan mempengaruhi keterampilan motorik halus anak dimana praoperasional (preoperational stage) yang mencakup usia 2-7 keterampilan motorik halus juga merupakan sebuah hasil tahun dan peralihan menuju tahap operasional konkret kematangan (maturation) dan proses belajar. keakuratan. jari. 2012). menunjukkan bahwa ada pengaruh yang positif terhadap Ngulat tipat taluh merupakan salah satu kebudayaan keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun yang di Bali yang dapat dikatakan sebagai suatu latihan didukung dengan adanya pernyataan bahwa perkembangan keterampilan motorik halus.aspek dalam keterampilan motorik halus yang yang merupakan salah satu kebudayaan di Bali. kestabilan. (concrete operational stage) yang mencakup usia 7-11 tahun diperlukan kesempatan belajar dan pemberian latihan pada (Santrock. fungsi religius dan tugas-tugas tertentu pada tangan yang tentunya akan fungsi estetis. 2007). Sedangkan pada pernyataan Kugler dan Turney (dalam Hughes.temanya (Wood. seorang anak mendapatkan melibatkan kemampuan tangan. Hal ini bisa dipengaruhi dan mengenal kebudayaan mereka sendiri (Hughes. Selain itu hasil yang signifikan permasalahan. Menurut Adolph dan Berger Santrock (2007) yaitu keterampilan motorik yang (dalam Soetjiningsih. Berdasarkan teori memiliki rentang konsentrasi yang tidak begitu lama. Karakteristik memiliki pengaruh yang cukup/ sedang terhadap keterampilan tersebut antara lain anak usia awal sekolah dasar masih motorik halus anak usia 6-7 tahun. meningkatkan keterampilan motorik halus. 2002). sehingga mencapai tujuan dalam batas yang ditentukan oleh 1997).hatian dan berlatih dari lingkungannya. 2002. 2007) menekankan pengaruh yang sedang antara ngulat tipat taluh dengan pada pentingnya interaksi sosial budaya dalam perkembangan keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun.

postur yang baik dan menggunakan kemampuan motorik halus. Susilawati di setiap tahapannya. Kedua. Hasil rentang usia 6. P. Kemampuan ini dapat sangat buruk. Pondasi kelima. 2012). Jika dibandingkan dengan rentang usia 6. Hughes (2002) juga Ketika membuat ketupat pada tahap pertama yaitu membuat 2 menyatakan ketika anak memasuki usia sekitar 7 tahun maka buah lingkaran anak menggunakan tangan kanan untuk yang terjadi adalah peningkatan keterampilan motorik halus menggenggam janur dan tangan kiri dalam posisi khususnya pada atribut eye-hand coordination dan finger menggenggam. sesuai dengan tahapan pembuatan tipat dan hasil yang Perbedaan hasil penelitian ini dengan teori diharapkan yaitu tipat taluh. seimbang memiliki arti dimana kegiatan motorik halus akan Kategorisasi juga dilakukan berdasarkan usia lebih mudah dilakukan ketika duduk dengan kaki menyentuh subyek penelitian yang berusia dengan rentangan 6. hanya terdiri dari 4 tahapan sehingga sesuai dengan anak awal dan beberapa produk kesenian Bali lainnya hampir semuanya sekolah dasar (Budiari.5 memiliki keterampilan motorik halus telapak tangan naik dan turun. Pada anak-anak tengah (Hughes.51-7. Berbeda halnya mengenai keterampilan motorik halus yang juga menyatakan dengan kelompok usia 6. D.00-6.50 tahun yang memiliki kategori kelamin laki-laki. Hal ini terlihat dari nilai pre-test yang lebih baik dan peningkatan yang pesat pada data hasil penelitian dimana tidak terdapat subyek pada post-test. Pengelompokan dilakukan menjadi melakukan kegiatan ngulat tipat taluh. 2007).51-7.00 tahun dan kelompok usia bahwa keterampilan motorik halus anak perempuan cenderung 7. Pada proses ngulat tipat taluh semua akibat efek jenuh dari subyek penelitian pada saat proses rangkaian tahapannya melibatkan kedua tangan. dexterity. anak perempuan Setelah adanya perlakuan ngulat tipat hasil penelitian 236 .5 tahun. Hasil ini didukung dengan hasil penelitian keterampilan motorik halus sangat buruk.01-7. P. dimana terakhir adalah eye-hand coordination atau koordinasi mata. yang menjadi memiliki keterampilan motorik halus dengan Pondasi pertama yaitu kesiapan perkembangan menitik ketegori baik setelah adanya perlakuan. 2002.5 tahun dimana terdapat 5 orang dan 2 orang yang lebih baik dan melebihi anak laki-laki (Hughes. laki-laki. 2002) dan akhir (Santrock. setiap tahapan proses ngulat tipat terdapat aktivitas yang Perkembangan keterampilan motorik halus anak usia ini telah menunjang kekuatan bahu seperti kondisi pada saat subyek mengalami peningkatan dari usia sebelumnya. kekuatan bahu perkembangan anak usia 6-7 tahun tergolong ke dalam masa akan mendukung fungsi tangan anak menjadi lebih baik. sekalipun hal ini juga terjadi pada subyek berjenis kelompok usia 6. Menurut Hughes (2002). Menurut Isbell (2010a). 2002).50 tahun. A. Ketika anak sampai dengan 7.86%) dengan harus mampu memutar lengan bawah yang menjadikan rentang usia 7. Pondasi ini juga terdapat dalam proses ngulat tipat.00-6. Berdasarkan teori dengan posisi duduk. Hal ini bisa saja beratkan pada program penunjang yang disesuaikan dengan dipengaruhi oleh kebudayaan seperti yang kemukakan oleh kemampuan anak pada fase perkembangannya. dan koordinasi mata-tangan. mulai dari tahap 1 sampai dengan 4. Peningkatan yang juga pesat terlihat pada subyek mengenggam. 3 orang subyek laki-laki (42. perkembangan yang telah dikemukakan di atas juga terjadi Perbedaan perkembangan keterampilan motorik halus pada kelompok subyek berjenis kelamin perempuan pada juga terlihat pada subyek dengan jenis kelamin berbeda. K. beberapa lebih baik dalam melakukan aktivitas yang memerlukan pondasi dasar dalam pengembangan keterampilan ketelitian dan kecermatan dibandingkan dengan anak laki-laki motoric halus antara lain kesiapan perkembangan. kemampuan kasar.01-7. dan C. menahan lingkaran awal.00 hanya terdapat 1 orang dari 11 orang laki-laki (9. Ngulat Vygotsky (dalam Santrock. B.51-7.09%). berlangsung secara serentak yang menjadikan beberapa dimana terlihat ketika subyek menganyam tipat mereka subyek penelitian harus menunggu giliran untuk mengerjakan memerlukan koordinasi antara mata dan tangan sehingga maze. Pondasi pengumpulan data baik pre-test dan post-test. Santrock. Pondasi keempat yaitu kemampuan menggenggam. M. pengerjaan maze pada masing-masing subyek tidak tangan. Hasil lainnya yang terlihat adalah adanya penurunan Pondasi keenam adalah penggunaan kedua tangan dalam keterampilan motorik halus pada salah 1 subyek laki-laki pada artian penggunaan kedua tangan untuk menyelesaikan rentang usia 6. Namun yang terjadi dalam penelitian ini adalah pada kontrol lengan bawah dan pergelangan tangan dimana anak skor pre-test. setiap tahapannya. tahapan usianya (Hughes. mereka melakukannya 3 kelompok yaitu kelompok A. 2007). 2007).50 tahun dimana kelompok ini memiliki penelitian menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan keterampilan motorik halus yang lebih baik dibandingkan motorik halus di dominasi oleh subyek perempuan dengan dengan rentang usia 6. Bajirani dan L. memiliki kategori keterampilan motorik halus sangat buruk. merentangkan janur yang akan digunakan untuk membuat Perkembangannya akan semakin meningkat sesuai dengan tipat. yang biasanya lebih baik dalam keterampilan motorik postur yang baik dan seimbang. Hal ini kemungkinan terjadi aktivitas motorik halus.0 tahun. ogoh-ogoh. Beberapa aktivitas anak tipat taluh memiliki tahapan pengerjaan yang mudah yang laki-laki di Bali seperti membuat layang-layang.51- ditingkatkan melalui ngulat tipat taluh yang tercermin dalam 7. kekuatan bahu. Pondasi dasar ketiga. dimana terjadi peningkatan sebanyak 7 orang subyek penggunaan kedua tangan.0 tahun lantai serta posisi punggung yang tegak. kontrol lengan bawah dan pergelangan tangan.

2012).00 (p<0. namun pada hasil mempertimbangkan pengembangan aspek perkembangan anak korelasi sampel berpasangan berdasarkan indikator waktu yang disesuaikan dengan tahapan usia anak. Kedua hasil penelitian mengenai hipotesis minor Hasil analisis dari penelitian ini juga menyatakan pada penelitian yang berkaitan dengan aspek pada bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata keterampilan motorik halus dapat dijelaskan melalui beberapa sebelum dan sesudah adanya perlakuan ngulat tipat taluh pada teori mengenai perkembangan gerak dan belajar gerak. kekuatan. Pada tahap ini.067 (p>0. 1995). PENGARUH NGULAT TIPAT TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK menunjukkan adanya peningkatan keterampilan motorik halus maze. Hal ini berkaitan dengan bahwa tahapan pre-operational dimana pada usia ini anak belum keterampilan motorik halus merupakan suatu mampu melakukan pemecahan masalah atau problem solving keterampilan yang berkembang secara bersinergi antara dengan baik. maka anak akan melanjutkan pola sikap 237 .05) menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya yang akan berdampak dengan sumbangan efektif sebesar 60. Karena indikator error atau gerak yang menyatakan bahwa adanya pengaruh sosial atau kesalahan saat mengerjakan maze mengacu kepada aspek lingkungan terhadap perkembangannya. Meskipun pada hasil uji beda menunjukkan seorang anak kedepannya.8% perkembangan gerak. anak usia 6-7 tahun perlakuan yang belum terlihat efektif karena penelitian yang tergolong ke dalam masa sekolah dasar juga sering kali dilakukan dalam kurun waktu yang cukup singkat. Saat kekuatan dan juga hasil yang tidak berpengaruh signifikan ngulat tipat. Pada lebih lanjut bahwa. Hal ini bisa disebabkan karena efek pemberian perempuan. Terutama seseorang.677 dengan nilai motorik halus dapat dijelaskan melalui teori perkembangan signifikansi 0. sangat diperlukannya koordinasi antara mata dan namun memiliki korelasi yang tinggi sangat berkaitan dengan tangan sehingga dapat mengasilkan bentuk ketupat yang teori mengenai latihan motorik dan keterampilan. Maka dapat diambil bahwa keterampilan motorik halus merupakan aspek keputusan bahwa tidak ada pengaruh ngulat tipat taluh perkembangan yang sangat penting selain perkembangan terhadap aspek kecepatan dan kestabilan pada keterampilan aspek kognitif yang akan memberikan peran dalam kehidupan motorik halus. 2000). Menurut Susanto (2011).025). 60.06%. Namun hasil analisis menunjukkan bahwa pelatihan yang terus menerus dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan kaitan antara perkembangan setiap aspeknya. Pada komponen eye-hand coordination akan lebih Ma'mun dan Saputra (2000). Hal ini antara ngulat tipat taluh dengan beberapa aspek keterampilan sejalan dengan kajian mengenai ngulat tipat taluh yang motorik halus yang cukup baik. memiliki dampak yang penting terhadap keterampilan gerak Namun pada hasil uji beda yang dilakukan untuk seseorang. disebut sebagai masa pendidikan dan latihan panca indera. menjawab hipotesis minor kedua menunjukkan hasil dimana Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dinyatakan taraf signifikansi sebesar 0. pengaruh ngulat tipat taluh terhadap aspek kekuaan dan Selain itu menurut teori perkembangan Piaget dan keakuratan hanya memiliki sumbangan efektif sebesar 8. Hal ini terlihat dari hasil uji beda dimana nilai t hitung terhadap aspek keakuratan dan kekuatan pada keterampilan lebih besar dari t tabel yaitu 5. mulai dari keakuratan.00 (p<0.164 > 1. keterampilan gerak akan dapat terlihat dari aspek keakuratan dan kekuatan pada keterampilan diperoleh dan dikuasai ketika adanya pembelajaran dan motorik halus. Menurut diharapkan. Ada baiknya untuk tidak adanya perbedaan yang signifikan. Terutama pada yang menjadi indikator aspek kecepatan dan kestabilan pada anak usia 6-7 tahun yang tergolong dalam usia awal sekolah keterampilan motorik halus. Melihat tingkat korelasi pada keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun. menjadi suatu konteks budaya dikaitkan dengan 7 pondasai dasar dalam pengembangan yang memiliki pengaruh terhadap aspek perkembangan gerak keterampilan motorik halus dari Isbel (2010a). menunjukkan hasil yang dasar. problem solving dan kestabilan (Hurlock. namun tidak diperoleh hasil yang signifikan pada Jika anak mengalami keberhasilan perbedaan jumlah waktu yang diperlukan untuk mengerjakan yang memuncak.06%. Dapat dijelaskan pada perkembangan aspek lainnya (Soetjiningsih. Selain itu hasil sumbangan efektif yang rendah mengacu pada pondasi dasar ke tujuh yaitu eye-hand namun memiliki pengaruh terhadap aspek keakuratan dan coordination atau koordinasi antara mata dan tangan.025). dimana kompetensi mereka sangat diperlukan dalam siginifikan dengan nilai signifikansi yaitu 0. kecepatan kognitif dengan perkembangan gerak. Salah satu bentuk kekuatan dan keakuratan pada keterampilan motorik halus pengaruh sosial yang mungkin dialami adalah budaya sebagai maka dapat diambil keputusan bahwa hipotesis alternatif suatu kebiasaan dalam konteks keluarga dan diluar keluarga minor pertama dapat diterima dimana terdapat pengaruh yang dapat memberikan warna dalam keterampilan motorik ngulat tipat taluh terhadap aspek keakuratan dan kekuatan seseorang (Ma'mun & Saputra. ngulat tipat taluh memiliki nilai korelasi usia ini anak berada dalam fase fase kerja keras versus rasa yang tinggi sehingga dapat menjelaskan aspek kecepatan dan inferior (industry versus inferiority). Hasil indikator error atau kesalahan yang dibuat saat mengarjakan yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan maze. baik sebelum dan setelah adanya perlakuan ngulat tipat anak usia 6-7 tahun pada kelompok laki-laki maupun taluh. secara kestabilan pada keterampilan motorik halus sebesar inisiatif anak akan berhubungan dengan pengalaman baru. anak usia 6-7 tahun tercakup dalam atau terbilang rendah.

dari 223X Issue 53 . Columbia Pike: Gryphon House.id/books?id=Ry6jQgn6QmYC&pg=PA3 238 .Mengajarkan. Namun tidak terdapat pengaruh ngulat tipat taluh secara young children. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.co. Dasar-dasar psikometri.2007. A. pendekatan kualitatif. T.google. and intervention. Santrock. Kayumas Agung. Karnjanangkura. Diambil pada 20 Oktober 2012 Creswell. tidak ada satupun subyek penelitian yang memiliki keterampilan Hurlock.. K.03895. Perlukah Mengajarkan Calistung di Usia Children. (2002). Thomson motorik halus sangat buruk yang lebih banyak dibandingkan Learning. S. signifikan terhadap aspek kecepatan dan kestabilan pada variabel keterampilan motorik halus yang terukur melalui Isbell. T. develop the fine motor skills your child need for school. Margo J.di. (2012.Calistung. Kusuma. motorik halus anak usia 6-7 tahun sebesar 23.Motor Skills Development in Pre-School Anna. S.com /read/2012/06/13/1359517/Perlukah. Oktober 15).x/pdf. Yogyakarta: Pustaka age-group of child growth. Companies. Asumsi-asumsi dalam inferensi statistika. S. Steven W.00312.1111/j.42 %.). aspek keakuratan dan kekuatan pada variabel keterampilan Jakarta: Erlangga. Usaha Penerbitan Bali Mas. 49: 312–317. Mightyf fine motor fun: Fun games to indikator waktu pada maze.) Terdapat pengaruh ngulat tipat taluh terhadap Hurlock. Juli). tipat taluh. W. meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun Standardized tests of handwriting readiness: a systematic review dimana variabel ngulat tipat taluh menjelaskan keterampilan of the literature. Filsafat dan simbolisme ketupat sebuah kajian Dini estetik. Maria W.x/pdf. Van Der. 3rd edition. Azwar. (2004). I Made (2003). (2000.) Developmental medicine and child neurology. Susilawati ketekunannya (Hughes. Developmental psychology: a life-span motorik halus sangat buruk setelah adanya perlakuan ngulat approach. Metode penelitian. mengerjakan maze saat post-test lebih rendah dibandingkan dengan saat pre-test. & Majnemer. Christy. Denpasar: Azwar. the social science Pelajar. Sri Reshi (1986). memungkinkan munculnya perasaan development. 2.. 10 Oktober 2012 dari Sesuai dengan pemaparan hasil penelitian di atas http://onlinelibrary. Yogyakarta. P. Everyday play: Fine motor activities for 8. Demikian halnya pada saat post-test. [Electronic inferior atau merasa tidak kompeten dan tidak produktif version]. 2007). United States of America: Sage publication. DAFTAR PUSTAKA Kantha. Yogyakarta: Pustaka pelajar. I Gusti A. Van. Developmental Medicine & Child Neurology 2007. Paving pathways: Child and adolescent pada saat pre-test terdapat subyek yang memiliki keterampilan development. Handwriting dalam kompetensinya. Annette. (2012). saat post-test. (2006).) 8749. Karda. S. N.. Laoakka. Columbia Pike: Gryphon House.M. (1980). M. http://books. Isan cfgildren folk toys: application and development for appropriate Azwar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Bajirani dan L. Budiari. P. M.wiley. Indonesia. Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.8%. (2007). (eds. Diambil pada 10 Oktober 2012 dari Terdapat perbedaan nilai rata-rata antara pre-test dan post-test. New York: McGraw-Hill. 2002.kompas. 4 (2) . Penyusunan skala psikologi.. J. Juni 13). Groot. P. (2010a). terdapat pengaruh ngulat tipat taluh terhadap keterampilan motorik halus anak usia 6-7 tahun secara signifikan. [Electronic version] Journal compilation.com: http://edukasi. jilid 1. Azwar. (2012). penelitian menunjukkan variabel ngulat tipat taluh dapat Pauline.2010. (M. K. Namun dapat dijelaskan lebih jauh bahwa Hughes. De. M. N. Kompas. Anandakusuma. Mudra (3) 13. Bajirani. 203-206. Asas-asas penelitian behavioral. Diambil pada (Hughes. (2010b). 5-14. N. competency. Imelda.G. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.1469- dimana nilai kesalahan dan waktu yang diperlukan untuk 8749. Interviewer) psychology. P. Lee. Isan Folk Game Conservation for Fine. Katya P. & Krairach. 36-49. Kamus bahasa Bali . (2005). L. F. Boonchai. (2011). Perkembangan anak. D.. J. Encyclopedia of school (2012. & Sanden. S. N. Graha Pengajaran : CV. jilid 1 edisi keenam. (2010). http://onlinelibrary. Christy.com/doi/10. (2009).) Hasil Hartingsveld. (2010b). Bali- Kerlinger. 2002). Aarts. Azwar.[Electronic version]. 4.1111/j. dari kuantitatif dan mixed. (1995). Diambil pada 15 Juni 2013. E. United States of America: Wadsworth.com/doi/10. D. Laurel. & Suwapeat.Usia. American Journal of Scientific Research. (2010a). Medwel Journals. 506-515. Reseach design. Indonesia-Bali. B. E. S. 3. ISSN 1450- Dini?.. Namun ketika anak gagal Fender. motorik halus yang terukur melalui indikator error atau kesalahan pada maze dengan sumbangan efektif sebesar Isbell.1469- maka dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 1.wiley. Kamus bahasa bali-indonesia. Inc..

Jakarta: Denpasar: Upada Sastra. [Electronic version] Diambil pada 4 Oktober Setyani.go. & Feldman.. Perkembangan anak. Life-span development: Perkembangan masa hidup.com/sites/dl/free/0070909695/12022 0/ santrock_edpsych_ch02. (1999). C. E.. Langkah mudah melakukan analisis statistik pada 7 Oktober 2012 dari menggunkaan SPSS 19. Human development.doe. Achmad Chusairi. http://emedicine. news/2012/03/20/079391570/Komnas-Anak-PAUD-Bikin.. New York: McGraw-Hill. 24 Januari).. (2008).. Jakarta: Erlangga. S. 5 Juli). &id= 1666 Suryabrata. Kompas.denpasarkota.itb. dari (2010). North Coach Beginning Teacher Program. Perkembangan anak sejak Ngoerah. Bandung: Makalah IF2091 Struktur Diskrit. (2009). & Saputra. North Coach Beginning Teacher Program (2008). (2007). (2011. /05_fine_motor_skills. Early periodic screening. (2011). Mari membuat ketupat. L. Jakarta: Kencana. Experimental psychology (6th Oktober 2012 dari ed. http://perempuan. (2) . Inc. Wood.kompas. R.stei. John. [Electronic version]. D. I. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. John. Balita Stres.com/article/915251. dari Surayin. H.).. Jakarta: Erlangga. W. Psychology Science Human development (11th ed. Surabaya: Pāramitha.ncbtp. S. dari Tempo. (2002). Bandung: Alfabeta. Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Kota Sugiyono. C. L. Olds. Papalia. Developmental psychology: Childhood and adolescence http://www.) (Juda Damanik. Statistika untuk kewanitaan [Electronic version].munir/Matdis/2011- fine+motor+skill+steven+W. Edisi ke sebelas Jilid I. jilid I (5th ed. 20 Maret). P. Maze Algorithms.Masuk. I Gusti Ayu Oka Arwati (1998). C.doe. Perkembangan gerak dan Jawa-Bali.co/read/ Santrock.).virginia. H. Metodologi Penelitian... (1994). PENGARUH NGULAT TIPAT TERHADAP KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK 36&dq= http://informatika.id/instansi/?cid==YzN&s=i_berita Yadnya. A. D.medscape. M.org/pdf_documents/para/handouts/aug_2009 (4th ed). Theresia (2009.pdf Soetjiningsih. Algoritma prim sebagai maze generation /www.Motorik. W. & Fieldmean. Bahan dan bentuk sesajen: Seri II upakara http://www.virginia.. (2006). Diambil pada 7 Oktober 2012 dari overview#aw2aab6b2b3 http://female.com/read/2012/06/04/16223170/Bermain. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method). Denpasar: Upada Sastra . Stoeger. & Jaskiewicz.co: http://www. (2012). Prenada Medoa Group. (2000). E. A. Mainan Tradisional Masuk Sekolah [Electronic version]. Bantu. Puspayanti. Diambil pada 10 Juni 2013. W. underachievers in primary school. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 32-65 Diambil pada 10 Myers.. Fungsi dan cara membuat tipat versi Ma'mun.pdf ntQaM6oG4Cw& ved=0CCoQ6AEwAA Raras. A. Sugiyono. Nelson. Komnas Anak: PAUD Bikin Anak Trans.org/labyrnth.ac. Online Learning Centre. M. & Wiloughby. 4 Juni). Diambil pada 12 Grafindo Persada. (2012). David R.com Diambil Trihendradi. (2012a). (2011). pertumbuihan sampai dengan kanak-kanak akhir. Volume 50. Ruth D. dari Motor Skills Disorder : Kemampuan Motorik Anak [Electronic version].mcgrawhill. (2012. Olds.. Sally W. Diambil pada November 2012. (2012. & Martzog.. Deficits in fine motor skill as an important factor in the identification of gifted Papalia. Y.com/read/xml/2009/04/29/15020052/ Mainan.gov/support/ algorithm. A. J. Ahmad. Santrock. 134-146 . (2009). Denpasar mendominasi lomba Bandung: Alfabeta. 29 April).Anak. Perkembangan anak usia dini: Pengantar dalam berbagai aspeknya.Kemampuan.Sekolah Virginia School Health Guidelines. http://highered.. (2008). Kompas. Diane E. United State of America: Thomson Wadsworth. Diambil pada 3 Januari 2013 dari c_screening. Denpasar. & Hansen. Rangsang. Niken Tambang (2007).htm Susanto. United States: Nelson education. Santrock. Diambil pada 3 Desember 2012. (2011).astrolog. Diambil pada 10 Oktober 2012 penelitian. medscape reference.id/~rinaldi. Educational Anak-Balita-Stres Psychology: Physical and cognitive development [Electronic version]. T..com. Jakarta: PT Raja Pullen. Shaffer.kompas. J. Quarterly. belajar gerak. health_medical/virginia_school_health_guidelines/early_periodi [Electronic version].&hl=id&sa=X&ei=fceRUaXYOI3 2012/Makalah2011/Makalah-IF2091-2011-064. S. Christina Andhika. Munawwaroh.pdf 239 .pdf. Kipp. (2012. dari Rabani.).tempo. Bermain Bantu Rangsang 2012. New York: McGraw Hill Companies. Januari 2013 dari Labyrinth: http://www. Yogyakarta: ANDI.Tradisiona l.gov: http://www. K. (2000). (2012b). Zigegler.

Yardsticks: Children in the classroom age 4-14. (2004). (1997). P. Journal for the Education of the Gifted: Vol. L. K. Ziegler. Northeast: Northeast Foundation for Children. A. No. New York: Continuum International Publishing Group. a resource for parents & teacher. P. Woodfield. 240 . (2010). How fine motor skills influence the assessment of high abilities and underachievement in math. Physical development in the early years. A. D. Susilawati Wood. 2 195-219. 34. C. M. Bajirani dan L.