MAKALAH

TRAUMA TAJAM
Disusun oleh:

ASRIKA ANI SIREGAR ( 7111080034)
YOLA SRI ANDIKA ( 7111080182)

Pembimbing :

dr. REINHARD J.D HUTAHEAN, Sp.F, SH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN FORENSIK
RSUD dr. DJASAMEN SARAGIH
PEMATANG SIANTAR
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat karuniaNya
sehingga penulis menyelesaikan penulisan makalah ini. Adapun tujuan penulis makalah
forensik yang berjudul ”TRAUMA TAJAM” ini adalah untuk memenuhi tugas Kepanitaraan
Klinik Senior di Bagian Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK. UISU
RSUD DR. DJASAMEN SARAGIH PEMATANG SIANTAR.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing kami
Dr. REINHARD J.D HUTAHAEAN, Sp.F, SH yang telah banyak membantu memberikan
bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini.
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Pematangsiantar, Juli 2016
Penulis,

PENULIS

1

.................................................................................... 16 G........................... Pendahuluan ............................................................. i DAFTAR ISI . 14 F........................................................................................... 1 A............. Kesimpulan .... 12 E.................. Dasar Traumalogi...................... ii TRAUMA TAJAM ................................................................................................................................................................................................................................. Definisi Dan Karakteristik Morfologi Ciri Chop .................................. 16 LUKA TRAUMA TAJAM......................................... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ..................................................................................................... Chop Mark Kriteria Untuk Analisis ................................................................................................ 1 C......................... 1 B...................... 22 2 .................. Hal – Hal Dalam Luka Irisan Dan Tusukan ............... 10 D....... Metodologi ...................................... 17 DAFTAR PUSTAKA ...............................................

Definisi Pengertian tarumatologi (injury) dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis. H. bukan dalam. Dalam makalah ini juga akan dibahas mengenai jenis – jenis luka yang di timbulkan oleh trauma tajam. agen electromagnet. Aplikasinya dalam pelayanan Kedokteran Forensik adalah untuk membuat keterangan suatu tindak kekerasan yang terjadi pada seseorang. tiba – tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecedraan. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Luka insisi Luka insisi disebabkan gerakan menyayat dengan benda tajam seperti pisau atau silet. pemotong. asfiksia dan trauma emboli. Karakteristik luka ini yang membedakan dengan laserasi adalah tepinya yang rata. Agen penyebab trauma dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara. dan keadaan jaringan yang terkena. Tipe lukanya akan dibahas di bawah ini : a. Panjang dan kedalaman luka dipengaruhi oleh gerakan benda tajam. kekuatannya. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontunuitas dari jaringan. kapak. skar atau hambatan dalam fungsi organ. 1 . Artinya orang yang sehat. aksi suhu. serta bahan – bahan yang dapat mengakibatkan trauma tajam. perdarahan. Dalam prakteknya sering kali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh suatu jenis penyebab. 2. antara lain akibat kekuatan mekanik. Dan dalam pembahasan makalah ini akan dipaparkan mengenai trauma yang diakibatkan oleh benda tajam. B. pemecah es. Tipe – tipe jenis luka tajam Benda tajam seperti pisau. dan bayonet menyebabkan luka yang dapa dikenali oleh pemeriksa. TRAUMA TAJAM A. DASAR TRAUMATOLOGI 1. ketajaman. PENDAHULUAN Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang sering dijumpai dalam kasus forensic. Karena gerakan dari benda tajam tersebut. sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma. luka biasanya panjang. Hasil dari trauma atau kecelakaan adalah luka.

Jika luka irisan mengenai tulang. adalah bertujuan untuk menganalisa pola pergoresan mikroskopis dari pisau daging pada tulang. Jaringan elastis dermis. bagian kulit yang lebih dalam. Studi awal ini. Dan kalau pisau dapat ditarik dari dalam luka itu dengan hati – hati dan perlahan – lahan sekali menurut arah tegak yang sama dengan arah tegak aktu menusukkan nya. Jika tusukan terjadi tegak lurus garis tersebut. Luka – luka pada tempat ini menyebabkan banyak keluar darah atau hanya memasuki urat darah dan dapat mengakibatkan kematian. Tapi disamping itu walaupun dangkal dapat menimbulkan bahaya maut. Penampakan luar luka tusuk tidak sepenuhnya tergantung dari bentuk senjata. Benda bermata tajam. maka kedua sudutnya tajam. jika luka irisan itu mengenai tempat – tempat dari pada tubuh didalam mana terdapat urat – urat darah yang letaknya dangkal. maka salah satu sudut akan tajam. maka lukanya akan lebar dan pendek. Bila pisau yang digunakan bermata satu. mempunyai efek yang sesuai dengan bentuk senjata. urat – urat darah. maka barulah kita dapat membuat luka yang lebarnya tetap sama dengan lebar mata pisau belati tadi. luka yang terjadi sempit dan panjang. Tetapi pada umumnya tidak mempunyai cukup kekutan untuk membuat luka irisan yang dalam di dalam tulang. Luka tusukkan itu disebabkan karena suartu perbuatan dorongan dengan pisau kejurusan ujung pisau sendiri dan sesudah itu ada daya penarikan kembali dari pisau kejurusan pegangan nya. sedangkan sisi lainnya tumpul atau hancur. lebih diperpanjang (diwakili oleh seperseratus pemotongan). seperti parang. Harus dipahami bahwa jaringan elastis terbentuk dari garis lengkung pada seluruh area tubuh. menggunakan siklus berturut-turut yang dapat mempengaruhi fisik dan morfologi mikroskopis alat. luka pada pergelangan tangan . Sebagai contoh untuk hal ini. Dalam pekerjaan pertama ialah menusuk dengan tegak akan menimbulkan luka yang lebarnya sama dengan lebar mata pisau. Jika pisau bermata dua. dan lain –lain. juga dengan tepi yang rata dan ujung yang tajam. luka pada lipatan siku. b. Itu adalah untuk menghasilkan informasi tentang pengaruh penggunaan pada tanda tersendiri untuk 2 . Sedangkan bila tusukan terjadi paralel dengan garis tersebut. otot. maka pada umumnya kita melihat luka irisan yang dangkal. ialah misalnya luka pada leher. Luka tusuk Luka tusuk disebabkan oleh benda tajam dengan posisi menusuk atau korban yang terjatuh di atas benda tajam. luka pada lipatan paha. Luka irisan ini dapat mengiris kulit.

Panjang saluran luka dapat mengindikasikan panjang minimun dari senjata yang digunakan. maupun keduanya. seperti yang dari tempurung kepala tengah Bodo Pleistosen. sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian superfisial. e) Tusukan diputar saat masuk. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk. dapat ditemukan kontusio minimal pada luka tusuk tersebut. Hal ini dapat diindikasikan adanya pukulan. hewan dan alam.berputar. Arkeologis yang relevan mungkin adalah aplikasi teknik baru dan informasi untuk pemeriksaan kembali tanda potongan tetap di kerangka. informasi mikroskopis dapat mengungkapkan lebih lanjut tentang karakteristik dari pelaku dan alat spesifik dianggap menimbulkan trauma (Merbs 1989:183). keluar. sehingga saluran luka menjadi lebih luas. dan kemudian ditusukkan kembali melalui saluran yang berbeda. Luka luar yang terlihat juga lebih luas dibandingkan dengan lebar senjata yang digunakan. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai dengan gambaran biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan yang lebih dalam maupun pada organ. yang kemudian dikeluarkan sebagian. c) Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain. Beberapa pola luka yang dapat ditemukan : a) Tusukan masuk. b) Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut. jelas memberikan kontribusi sebagai bukti dalam penyelidikan. Jika senjata digunakan dengan kekuatan tambahan. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan mempengaruhi. Posisi membungkuk. Dalam hal ini.memotong alat tertentu. d) Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai landasan. Harus diingat bahwa posisi tubuh korban saat ditusuk berbeda dengan pada saatautopsy. hal tersebut dapat menyebabkan lukanya menjadi tidak begitu khas. Jika catatan arkeologi ini ditujukan untuk memberikan informasi tentang perkembangan kemanusiaan. modus dan penyebab kematian Tanda individualistis. Dalam konteks forensik. maka penting akan pemahaman tentang sifat bentrokan antara manusia dengan manusia. Sehingga luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata yang digunakan. Sudut luka berbentuk ireguler dan besar. alat pemeriksaan ini penting untuk memahami cara. salah satunya adalah reaksi korban saat ditusuk atau saat pisau keluar. dan mengangkat tangan dapat 3 . sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor.

dan bahkan sternum. Sehingga dapat dicocokkan. Pisau yang ditusukkan pada dinding dada dengan kekuatan tertentu akan mengenai tulang rawan dada. Ketebalan tulang tengkorak dapat dikalahkan dengan menggunakan instrumen yang lebih berat. jika dilakukan dengan tekanan. Kerusakan tulang yang hebat tidak pernah disebabkan oleh pisau biasa. Luka Bacok Luka bacok dihasilkan dari gerakkan merobek atau membacok dengan menggunakan instrument yang sedikit tajam dan relatif berat seperti kapak. umumnya didekat kaki-kaki luka bacok. yang disebabkan oleh hapusan bilah yang pipih. Luka alami yang disebabkan oleh senjata jenis tersebut bervariasi tergantung pada ketajaman dan berat senjata. Sisi pipih bilah bisa meninggalkan cekungan pada salah satu sisi patahan. c. Juga perlu dicatat kemungkinan diakukannya pemelintiran setelah terjadi bacokan dan dalam upaya melepaskan senjata. ujung pisau yang tertancap pada tulang dengan pasangannya(5). sementara sisi yang lain dapat tajam atau menipis. 4 . Berat senjata penting untuk menilai kemampuannya memotong hingga tulang di bawah luka yang dibuatnya. atau parang.Pemeriksayangsudahberpengalamanbiasanyaraguraguuntukmenentukanjen issenjatayangdigunakan. Pernah dilaporkan bahwa parang dapat membuat seluruh gigi lepas. Pada instrumen pembacok yang diarahkan pada kepala. penipisan terjadi pada tempat dimana bacokan dibuat. tulang iga.Poin lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya kompresi dari beberapa anggota tubuh pada saat penusukan. Karakteristik senjata paling baik dilihat melalui trauma pada tulang. sudut besatan bilah terkadang dapat dinilai dari bentuk patahan tulang tengkorak. dapat mengakibatkan pergeseran tulang. kapak kecil. Biasanya senjata yang tidak begitu kuat dapat rusak atau patah pada ujungnya yang akan tertancap pada tulang. Makin tajam instrument makin tajam pula tepi luka. Abrasi lanjutan dapat ditemukan pada jenis luka tersebut pada sisi diseberang tempat penipisan. Sebagaimana luka lecet yang dibuat oleh instrument tajam yang lebih kecil. Gerakan tersebut. Manipulasi tubuh untuk memperlihatkan posisi saat ditusuk sulit atau bahkan tidak mungkin mengingat berat dan adanya kaku mayat. Terkadang bayonet dan pisau besar juga digunakan untuk tujuan ini. disebabkan oleh senjata yang lebih pendek dibandingkan apa yang didapatkan pada saat autopsi.

Bentuk lainnya antara lain luka tusuk dangkal didekat luka tusuk dalam dan mematikan. Senjata bermata satu seringkali menyebabkan salah satu kaki luka bersudut tajam dan yang satunya tumpul. Luka percobaan tersebut seringkali terletak paralel dan terletak dekat dengan luka dalam di daerah pergelangan tangan atau leher. umumnya pada leher atau sekitar leher. boleh saja berpikir bahwa luka lecet dapat ditemukan. luka bacok superfisial di kepala dapat terjadi sebelum ayunan yang keras dan menyebabkan kehilangan kesadaran dan/atau kematian. disebabkan oleh penyerang pada kasus pembunuhan. ”tanda percobaan” adalah insisi dangkal. Terdapat 2 tipe luka oleh karena instrumen yang tajam dikenal dengan baik dan memiliki ciri yang dapat dikenali dari aksi korban. Bagaimanapun juga. Beberapa individu yang menggunakan senjata tajam untuk bunuh diri dapat membuka sedikit bagian pakaiannya sehingga tidak akan ditemukan robekan tembus pada pakaian. Luka jenis ini dapat ditemukan di jari-jari. Jika pisau bermata dua atau sejata sejenis digunakan. Beberapa catatan sebaiknya dibuat mengenai kerusakan yang tertutupi oleh instrumen tajam yang dipakai sebagai sejata untuk menusuk. Pemeriksaan tersebut menjadi sangat penting nilainya apabila luka tusuk diperlebar oleh dokter bedah untuk tujuan menilai luka secara lebih akurat untuk kepentingan medikolegal. dapat menunjukkan bahwa kematian disebabkan masalah internal. contohnya dengan menggenggam bilah dari instrumen tajam. menjadi tanda perlawanan. Luka lecet multipel di lengan bawah dapat pula. Meskipun jarang sekali dilaporkan. tepi pemotongan yang tajam menyebabkan sudut tajam atau robekan dengan kaki-kaki bersudut akut. luka tusuk atau luka bacok yang dibuat sebelum luka yang fatal oleh individu yang berencana bunuh diri. Pemeriksaan ini juga penting untuk menilai apakah senjata benar-benar menembus pakaian hingga kelapisan dibawahnya. namun tampil seperti luka 5 . padahal luka terdapat pada area yang tertutupi pakaian. Jelas bahwa ”tanda percobaan” merupakan ciri khas bunuh diri dan ”tanda perlawanan” menunjukkan pembunuhan. Pemeriksaan pakaian korban penusukan dapat memeberi perkiraan ciri-ciri senjata yang digunakan. dan lengan bawah (jarang ditempat lain) dari korban sebagaimana ia berusaha melindungi dirinya dari ayunan senjata. Bentuk lain dari luka oleh karena instrumen yang tajam adalah ”luka perlawanan”. Tidak adanya kerusakan pada pakaian yang dipakai oleh korban. meskipun jarang. tangan.

seperti parang. f) Mencari benda asing : pecahan kaca. Studi awal ini. Misalnya luka mengenai kulit dinding perut. Garis aksis adalah garis hayal yang mendatar melalui umbilikus atau papilla mammae atau ujung skapula. Interpretasi dari tanda perlawanan dan percobaan yang tampak sebaiknya disimpulkan setelah pemeriksaan yang lengkap dan seksama. c) Menentukan lokasi luka. Sebelum panjang luka kita ukur. e) Menentukan sifat / ciri-ciri luka. tepi luka dan dasar luka. bunuh diri.(5) Ukuran luka kita tentukan dengan mengukur panjang luka dan kedalaman luka. Itu adalah untuk menghasilkan informasi tentang pengaruh penggunaan pada tanda tersendiri untuk memotong alat tertentu. g) Menentukan intravitalitas luka. kita mesti merapatkan luka korban terlebih dahulu. alat pemeriksaan ini penting untuk memahami cara. b) Menghitung jumlah luka. Ada 9 hal yang penting kita periksa. c) Terpotong tidaknya rambut pada luka korban. lebih diperpanjang (diwakili oleh seperseratus pemotongan). Lokasi luka kita tentukan berdasarkan garis aksis dan garis ordinat. yaitu: a) Memotret korban. Garis ordinat adalah garis hayal yang melalui sternum atau vertebra. adalah bertujuan untuk menganalisa pola pergoresan mikroskopis dari pisau daging pada tulang. catat & laporkan pada kasus trauma (kecederaan).percobaan. Benda bermata tajam. modus 6 . h) Memperkirakan luka sebagai penyebab kematian korban atau bukan. d) Ada tidaknya memar atau lecet di sekitar luka. e) Ada tidaknya sesuatu yang keluar dari luka. atau kecelakaan. menggunakan siklus berturut-turut yang dapat mempengaruhi fisik dan morfologi mikroskopis alat. Ada 5 hal yang penting kita periksa untuk menggambarkan sifat-sifat atau ciri- ciri luka si korban.(3) Dalam konteks forensik. d) Mengukur luka.yaitu(5) : a) Sudut luka. Kita harus menyebutkan alat tubuh apa saja yang dilalui luka tersebut saat kita melakukan pengukuran kedalaman luka korban. b) Ada tidaknya jembatan jaringan. i) Memperkirakan cara terjadinya luka apakah kasus pembunuhan. otot perut dan jaringan hati sejauh 5 cm. ujung pisau yang patah.

Cedera oleh instrumen bermata tajam tercermin dalam proporsi tinggi kasus pembunuhan yang melibatkan dicatat menusuk dan memotong luka. awal untuk aplikasi hari ini menandai alat yang sesuai dalam proses hukum.pioneer on the technique. Balthazard ." De Rechter dikenal untuk meletakkan sebagainya aplikasi probabilitas statistik untuk memperkuat keabsahan bukti pergoresan (Thomas 1964:164). Karena penulis bermasalah dari pencapaian dalam penelitian ini. Arkeologis yang relevan mungkin adalah aplikasi teknik baru dan informasi untuk pemeriksaan kembali tanda potongan tetap di kerangka. Balthazard . seperti kayu dan tulang (et al Svensson). Tanda individualistis. dilaporkan oleh Thomas (1964:163) yang dapat dihubungkan ke kriminalis. pada tahun 1913. sebuah proporsi tinggi kematian trauma tajam mencakup barang rumah tangga biasa. Symes dan rekan (1998:389) melaporkan bahwa tayangan tersebut sangat berharga untuk memberikan informasi mengenai variabel seperti sudut dan arah serangan. Temuan tanda-tanda baik di media umum. seperti yang dari tempurung kepala tengah Bodo Pleistosen. maka penting akan pemahaman tentang sifat bentrokan antara manusia dengan manusia. Secara signifikan. mulai dari obeng sampai kapak. akan menguntungkan praktisi di bidang ini. Dalam hal ini. Pergoresan pencocokan dipraktekkan oleh kriminalis dalam yang disebut "balistik forensik" lapangan ke titik pengakuan dalam tahun pasca perang dunia pertama dari Brussel (Thomas 1964:163). 1981:212. Sifat umum dari tanda alat juga mungkin mengizinkan kesimpulan pada tangan pelaku (Olsen dan Shipman 1994:382).(3) Akar pencocokan pergoresan. kekuatan aplikasi dan jenis alat. orang-orang yang tertarik dapat mencoba penguraian dari mereka sendiri "De Rechter 1929 '. informasi mikroskopis dapat mengungkapkan lebih lanjut tentang karakteristik dari pelaku dan alat spesifik dianggap menimbulkan trauma (Merbs 1989:183). hewan dan alam (Merbs 1989:181). RA Reiss telah menjadi orang pertama yang mempekerjakan teknik untuk patah tulang tengkorak pada tahun 1916. Dari jumlah tersebut kriminalis. V.dan penyebab kematian. jelas memberikan kontribusi sebagai bukti dalam penyelidikan. di bagian referensi makalah ini. 7 . in 1913.pelopor pada teknik. Seperti dilaporkan oleh Adelson (1974:319). Jika catatan arkeologi ini ditujukan untuk memberikan informasi tentang perkembangan kemanusiaan. Tapi De Rechter dan Mage dikatakan menjadi orang pertama yang dipublikasikan untuk aplikasi dalam kasus yang dikenal sebagai "kasus Beernem.

Menambah pengetahuan saat ini akan menjadi metode dan sarana di mana prosedur medis prasejarah dilakukan. benar-benar menghasilkan perbedaan dalam pola individualistis striae. Barry Alexander. Tanda alat dalam kasus ini dikutip oleh Merbs (1989:176) sebagai bukti jelas disengaja. Untuk menggambarkan ini. Frayer dan Bridgens 1985. Maples 1986. Spitz (1993:287) register kapak.. hasil dari sebuah studi yang dilakukan oleh VfL menunjukkan bahwa dua pisau. menerima tubuh karena jatuh. disebut-sebut sebagai salah satu cara utama pemotongan yang bijaksana. menopang sebuah pukulan sekunder (ke kepala). misalnya dalam menafsirkan amputasi mentah. Meskipun sedikit yang telah diteliti pada tanda yang terdapat pada pisau cincang. adalah bahwa tanda individual pada alat spesifik dalam kasus dimana data yang cukup melampaui kategorisasi tingkat kelas. Menegaskan bahwa alat ini. Stewart 1979. Trauma tajam dinyatakan oleh Hunter dan rekan (1996:130-132) sebagai tanda cukup umum di kepala karena tempurung kepala adalah target umum. Asumsi yang mendasarinya. Houck 1986. model dan manufaktur. Sebagai contoh. tanda alat pemeriksa untuk Laboratorium Forensik Vancouver (VfL). Merbs 1989. ada kasus amputasi sugestif dari arkeologi. Sauer 1998. golok dan parang daging sebagai termasuk dalam kategori ini. Dia menyatakan (di pers. seperti yang dari sidik jari. pada kenyataannya tidak menunjukkan keunikan. Syms 1998)Untuk hasil hubungan antara berkas dan perlakuan dari tanda pemotongan ditujukan untuk menambahkan informasi ke temuan sebelumnya dengan cara yang berguna untuk investigasi forensik. Signifikan terhadap keabsahan teknik pencocokan striae akan menjadi alat verifikasi yang bermata tajam masing-masing memiliki pola striae yang unik. 1988. Sauer 1984. Shipman dan Olsen. alat yang sama digolongkan lainnya) adalah unik dalam konstruksi. 8 . Amputasi mentah. dari tipe yang sama persis. yang dipilih satu demi satu dalam sebuah jalur perakitan di pabrik produksi pisau. Dibuktikan kematian sensasional oleh penderitaan kasus pemenggalan kepala. adalah relevansi karena mereka biasanya telah dan masih dilakukan dengan memotong instrumen (Olsen dan Shipman 1994:386). kadang-kadang disertai atrofi (Merbs 1989:181). mungkin oleh pelaku kekerasan. banyak penelitian telah dihasilkan antara lainnya cedera benda tajam (Brothwell 1965. Ini dibuktikan dalam korban dengan cara enkapsulasi kortikal di rongga medula tulang panjang dengan tanda-tanda osteoporosis. diketahui bahwa otak terbungkus tengkorak adalah zona rentan.Untuk memperjelas. PHKA) bahwa setiap pisau (atau barangkali.

jantung. maka tak tergoyahkan bukti biasanya pada tulang. Reichs 1988) hati-hati penguji untuk kerapuhan dan karenanya perlu penanganan hati-hati. 9 . batang anterior dikutip oleh Adelson (1974) sebagai wilayah yang paling umum dari serangan jenis trauma. perimortem dan postmortem penanganan tubuh (Reichs 1998). terutama di dekat atau pada sendi. mikroskop digunakan sebagai dasar analisis dalam studi pencocokan striae pada tanda memotong. tentu saja. Namun. Dalam studi panjang di dekade gaya trauma tajam. arti dari pemotongan postmortem adalah bahwa instrumen memotong biasanya digunakan. dinyatakan oleh Stewart (1979:34-5) yang menandai memotong jarang dihindari. Jenis luka di tulang akan memberikan informasi yang luas pada antemortem. 72% adalah terletak di daerah tersebut. menjadi salah satu yang paling penting (Adelson 1974:340-2). Reichs (1988:361) menunjukkan. Mengingat. Reichs 1998:357- 358). Analisis morfologi kotor tanda dapat membedakan kelas alat sementara pada pemeriksaan mikroskopis (Houck 1986. untuk menentukan dan menetapkan karakteristik tanda memotong sebelum pergi secara mendalam dengan metodologi mereplikasi dan menganalisis tanda-tanda. dalam sebuah studi 227 Insisi mematikan diselidiki oleh Cuyahoga County Pemeriksa Kantor. Dalam pemeriksaan oleh Nichsihara dan Noguchi (1980:413). Setelah laporan oleh Ornstad dan rekan (1986) yang didukung temuan Adelson. Sekali lagi. Adelson (1974:340). penggunaan mikroskop elektron scanning (SEM) menunjukkan orientasi penetrasi dengan cara mengidentifikasi arah striae paralel. di Swedia. Dengan menggunakan informasi di atas. hasil kembali menunjukkan kejadian tertinggi sebagai mereka yang berada di depan dan atas dada. Dalam kasus terakhir. melaporkan bahwa. Adelson merasionalisasi kecenderungan ini-bagian tertentu dengan menjelaskan bahwa penyerang adalah alami atau sengaja cenderung bertujuan serangan di (atau dekat) daerah penting. pelaku dapat menunjukkan pemahaman anatomi manusia atau pengalaman masa lalu dalam amputasi. Pertama. Leher dan daerah subsclavical adalah kedua daerah yang di frekuensi. di atas penulis lain (Maples 1986. karena mereka terlihat melewati siklus digunakan. Dalam kasus pemotongan. tampaknya tepat untuk tujuan klarifikasi.

(A) (Pandangan) profil lengkap memotong menandai dibuat tegak lurus terhadap 10 . dan perbedaan kelengkungan dari berbagai trauma bagian wajah dan tengkorak semua berperan dalam menentukan penampilan dan karakter luka-luka. Arah dan sudut pukulan itu. dan tulang (Stahl 1977:153). Bentukan dapat menyertai tanda-tanda. Adelson (1974:376). Pemeriksaan patologis akan menghasilkan luka-luka saraf penting. bentuk dan kedalaman. Artinya. sebagaimana dimaksud dalam de Gruchy (1999:11). DEFINISI DAN KARAKTERISTIK MORFOLOGI CIRI CHOP Adelson (1974:335) mendefinisikan memotong luka seperti yang dihasilkan oleh "instrument bermata tajam dari golok-pedang-jenis kapak. elastisitas akan cenderung untuk menutup luka kortikal sehingga. kurang teratur di pinggiran dan permukaan potong lurik. tetapi luka yang lebih tipis dibandingkan kapak. dibandingkan dengan kekuatan luka tajam." Menurut Stahl (1977:151).” Pada analisis morfologi kotor. memotong kerangka tanda di layar biasanya tetap terbuang kortikal. otot. Wastage dihasilkan oleh transfer energi besar dari lengan penyerang untuk alat. sebagian dari kapak yang sebenarnya melukai. Selanjutnya. permukaan putus berdampingan mengekspos perbedaan karena sudut dampak dan karakteristik mengeluarkan pisau pisau yang relatif lebih berat ke dalam tulang. mungkin diharapkan bahwa pisau itu akan lebih mungkin menghasilkan luka yang lebih luas daripada parang. korteks dikompresi ke samping. pembuluh darah. Maples (1986:223-224). 376. Stahl 1977:151). Juga. orang-orang dari kategori memotong instrumen umumnya akan lebih luas. Adelson (1974:335) menegaskan(3):“Robekan jaringan lunak yang luas dan trauma tulang yang dapat menyebabkan atau lengkap subtotal amputasi anggota terluka. sebuah memotong tanda dicirikan oleh ukuran. dapat dilihat bahwa lebar tanda dalam tulang tidak terlepas dari lebar pisau (Brothwell 1981:119). dalam bentuk chatters. "ketika senjata seperti parang dengan tepi tajam.juga menyatakan bahwa kedalaman adalah tergantung co- varian dengan kekuatan dan kekerasan media penahan. Perbandingan dari kiri dan kanan luka di tulang rusuk permukaan. dan lebih dalam (Reichs 1998:358. taji atau spalls pecah (Adelson 1974. Karena itu. Ketika senjata ditarik. Reichs 1998:359).C. lalu ke komponen kerangka melalui gerakan memotong kuat (Adelson 1974:376). ukuran lebar kerusakan tulang sering kurang dari ketebalan pisau .

Stahl 1977:153. Lebar meningkat dan tepi kasar dengan sesekali memancar patahan kecil dijelaskan oleh berbagai penulis sebagai resultan dari kekasaran relatif dan alat-alat berat. adalah perbedaan dalam kecenderungan mereka untuk cluster dekat atau pada patah tulang bukan menciptakan karakteristik lurus. Karena insisi murni tidak accomplishable karena kurangnya ketajaman dan tepi melebar. Frayer dan Bridgens (1985:235) telah memperhatikan bahwa perbedaan postmortem terlambat dapat dicatat yang membedakannya dari luka yang dibuat antimortem atau perimortem atau segera setelah korban meninggal. penulis telah menemukan bahwa permukaan memotong ke kiri paling sering menjabat sebagai tepi. 1994. Menghancurkan atau rekah lebih menonjol di akhir cedera tulang postmortem karena lebih kering. Serupa di morfologi kotor. tanda memotong menjadi lebih sulit untuk membedakan dari alat lain menghasilkan kekuatan trauma tajam. maka mungkin bingung dengan memotong luka.hasilnya adalah kombinasi dari pemadatan. mempromosikan identifikasi pada kategorisasi kedua alat individu. memang dibedakan dari dan kebetulan sebab- sebab alamiah (Fisher dan Rose 1984. Melalui replikasi.(B) melihat tanda unggul memotong dirotasi 90 derajat. lebih bersifat rapuh tulang (Frayer & Bridgens 1985:235). dan incisement di permukaan tulang internal. yang luka-luka yang dihasilkan oleh baling-baling kerajinan laut (Adelson 1974:335). Studi-studi lain juga menemukan bahwa budaya memotong luka yang diderita. Hal ini biasanya dibantu oleh mikro dari striae. Dampak yang dihasilkan adalah salah satu sisi yang berlawanan dengan halus menjadi kasar. Olsen dan Shipman 1988. 11 . ukuran dan kedalaman. kategorisasi kelas dapat dipahami oleh pemeriksaan morfologi kotor. dan Shipman dan Rose 1984. dari dua kategori tanda bermata tajam. abrasi halus dan irisan (di mana bagian paling tajam dari pisau potong tulang. dengan demikian. seperti yang dijelaskan oleh Sauer (1998:323). Ini adalah pernyataan hanya ditemui kesamaan. 1988). seperti bentuk umum. berbentuk silang atau bagian-V-direncanakan disarticulation datar. Ada juga akan menjadi tidak adanya luka dan jaggedness sekitar tepi. Kasus hewan pengerat menggerogoti. 1998:359 Reichs dan Spitz 1993:287). Implikasinya akan pengucilan oleh eliminasi. di bidang penetrasi) (1974:323 Adelson . Brothwell 1981:119. Svensson (1981:212) menyatakan bahwa.sumbu panjang tulang rusuk. permukaan halus dihubungi sedangkan sebelah kanan adalah tipe kasar. Namun diberi potongan soliter. (Diagram diadaptasi dari de Gruchy 1999:11 dan Maples 1986:224).

Sauer (1998:325) mencatat bahwa tulang segar. Pemotongan gergaji memiliki polishing umum dan "fixed-radius kelengkungan mungkin". seperti yang ditemui di sekitar saat kematian. seperti terlihat pada mayat. Tapi. Akhirnya. Reichs 1998:358). dan menunjukkan sedikit wastage (Reichs 1998:380. Band gergaji listrik meninggalkan garis lurus teratur sementara gergaji listrik yang melingkar meninggalkan melengkung dan gergaji tangan . seperti yang dinyatakan oleh Maples (1986:222). cenderung meninggalkan puing-puing cat. kurangnya spesimen segar dan kemampuan untuk memutuskan ini di setengah (untuk pemeriksaan langsung dari permukaan benda kerja) dicegah pemasukan tersebut. Houck (1986:413) menyimpulkan bahwa. dengan eksperimen. Jadi. berisi lebih cair. seperti yang belum. Spitz (1993:287) menyatakan bahwa tulang yang baik untuk mempertahankan tanda akurat alat karena keseimbangan antara kekakuan dengan elastisitas. Pola striae cincang dicirikan oleh arah seragam dampak dan tidak teratur spasi paralel striae (Maples 1986:222. Untuk lebih gaya simulasi trauma tajam.multi-directional striae karena bolak-balik gerakan menggunakan manual. lemak. Hacksaws. Pork kembali tulang rusuk. Penelitian oleh Houck (1986:421) dan Dunlop (1978:163) memverifikasi bahwa banyak kesamaan yang ditemukan antara komponen organik dan anorganik dan proporsi dalam tulang hewan mamalia dan tulang manusia. 12 . Symes 1998:405). Perbedaan dapat dibuat antara permukaan yang ditandai melihat pola. METODOLOGI Meskipun tulang di dekat sendi ekstremitas akan ideal digunakan untuk mensimulasikan tanda pemotongan yang dibuat di amputasi mentah. rusuk babi dapat dianggap representasi yang memadai dari choppings ditemukan pada spesimen manusia. kosta segar digunakan dengan daging masih menempel. ia mencatat bahwa gergaji adalah sama dengan band gergaji kecuali untuk peningkatan produksi mantan wastage (Maples 1986:222). dan serat kolagen yang mencegah dari menjadi rapuh dan mudah pecah. sebagai gantinya diperoleh sebagai sarana untuk memperoleh tanda memotong berturut-turut. morfologi tandai memotong tidak dapat direplikasi memadai untuk memenuhi karakterisasi mikroskopik oleh proses lain dari yang dihasilkan dengan mengimplementasikan pemotongan. keseragaman dalam jarak antara striae (karena keteraturan jarak antara gigi pada pisau). D.

60. alat individual umumnya akan tidak digunakan lebih dari seratus kali untuk memotong bahan lebih keras daripada tulang segar (bahkan dalam kasus amputasi mentah) dari waktu pembuatan awal diselidiki memotong dengan penempatan dan merebut instrumen. satu meskipun agak sewenang- wenang. mungkin merusak tanda identifikasi untuk alat tertentu. Artinya. jarak antara rincian (nilai) lebih besar daripada jika diadakan di sebuah sudut lancip atau tumpul. sisi terbuka untuk. mencerminkan penulis keyakinan bahwa. Penulis berusaha untuk mengendalikan tingkat sudut 75-90 chop (dari sisi kiri) dengan sumbu panjang tulang. 40. dampak itu dilakukan dengan cara gerakan memotong. 20. Mencacah diproduksi oleh outstretching satu tangan untuk menyerang tulang rusuk sambil berdiri sekitar tiga puluh sentimeter dari tulang rusuk sampel.41 cm X pada ketebalan maksimum). tanda silang antara plastik dan bahan lilin. Berdasarkan sebutan judgementally berada di bekas memotong 1-10. Jika pisau diadakan di sudut kanan ke arah gerakan. tulang rusuk ditempatkan dengan punggung eksterior. Yang keseratus. dalam konteks forensik. 90.5 cm X pisau pada ketinggian maksimum 0. Pak" Dip. ukuran standar (18. cukup akan mencerminkan penggunaan luas. Alasan untuk menginginkan kontrol adalah kemudahan analisis perbandingan antara "dip-pak" tayangan dan yang dihasilkan pada permukaan tulang. Kontrol yang lebih ketat itu terlalu sulit untuk mengakomodasi diberikan teknologi yang tersedia. 15. 80. 70. apakah itu yang dari pisau atau golok. Sebuah daging pisau tajam kasar. untuk memastikan bahwa dampak semua jatuh dalam kisaran yang ditentukan. Masing-masing tulang rusuk segmentally terisolasi dan ditempatkan. 30. maka jarak ini dari lima sentimeter pusat bagian dipilih dari tepi pisau itu. Marks ke titik ini. 13 . (C) kidal. Dengan tulang rusuk pertama di tempat. mirip dengan posisi anatomis yang benar tulang rusuk dalam tubuh manusia penetrasi. digunakan di seluruh suksesi seratus daging komparatif. (B) kidal. digunakan sebagai kontrol untuk analisis komparatif dari tayangan setelah setiap ditunjuk memotong. 50. (A) arah pemotongan. Plastisin berfungsi untuk menstabilkan tulang rusuk masing-masing dan tidak langsung pada rekah mencegah dampak. Tampilan nilai juga berbeda jika pisau dipegang oleh orang kidal.2 cm panjang 9. Variasi moderat dalam cara menandai dibuat. dan 100. Noda di kedua sisi pisau itu diperiksa setelah masing-masing memotong.

Daging jatuh di luar rentang yang ditentukan itu kembali mencoba sampai hasil yang diinginkan tercapai. 14 . Terapan kekuatan telah berusaha untuk konsisten: yaitu. Selain itu. semua kekuatan penulis ini diberikan untuk setiap pemotongan untuk memastikan pemutusan lengkap dari tulang rusuk masing-masing. daerah lima sentimeter dianggap cukup ditargetkan diberikan penulis keterampilan dan akurasi. Bagian ini target pisau itu dinilai cukup memadai untuk menampung lebar penuh dari semua rusuk dengan fleksibilitas menit seharusnya akan memotong siku atau off-terpusat.

adalah di luar batas dari penelitian ini. Hal ini dinyatakan sebagai berikut: kecocokan antara yang pertama dan salah satu dari daging selanjutnya akan diterima jika 75% (perkiraan menghakimi untuk pertandingan yang baik) dari 24 ditunjuk mencirikan striae (lihat gambar 3) dari awal dapat memotong ditempatkan. F. Gambar fotografi kontinuitas mungkin dalam karakteristik striae dan "pertandingan" antara orang-orang dan terakhir memotong pertama menandai dapat menunjukkan secara kualitatif dengan melihat angka-angka 3 dan 4. Alasannya. Padahal.E. 15 . perlu dinyatakan sebagai berpotensi bermasalah karena sifatnya subjektif. yang sangat berpotensi dipersulit (lebih sehingga dalam penelitian ini) oleh kurangnya pengalaman di bagian pemeriksa. dapat ditampilkan murni menggunakan dokumentasi visual untuk mendukung data kualitatif. CHOP MARK KRITERIA UNTUK ANALISIS Pemeriksaan tanda Chop akan fokus pada potongan rusuk kiri masing-masing. tanpa distorsi utama linear umum morfologi striae adalah dari tanda berikutnya. analisis kuantitatif lebih disukai (karena akan tampak lebih ilmiah dan yang dapat disangkal). Bias kualitatif. Tapi karena sifat awal laporan ini. Salah satu upaya untuk membangun pedoman yang wajar di sini adalah untuk membentuk hipotesis menggunakan proporsi statistik.gores dan tebas yang terjadi pada korban hidup ataupun pada korban yang mengalami mutilasi post mortem. ANALISA ANTROPOLOGI DAN PATOLOGI MENGENAI TRAUMA TAJAM DALAMOTOPSI Pisau adalah senjata yang umum digunakan dan menyebabkan luka tusuk. Dugaan desain pisau yang dipakai saat dilakukan evaluasi jarang memperkecil gambaran akan perkiraan senjata yang digunakan Masalah yang sering dihadapi dalam analisa forensik yaitu :  kesukaran-kesukaran yang sering timbul dalam menginterpretasi batas luka sampai kulit. Hal ini diingatkan oleh Davis (1958. Hasil akan dibahas dalam bagian berikutnya. semua upaya harus dilakukan untuk memaksimalkan pemulihan dari data kualitatif dari tulang. bahwa karena saat ini terdapat kekurangan (lengkap dan layak) metode kuantitatif untuk individualistis alat beringsut untuk ditandai. ditunjukkan pada Gambar 1a dan 1b. dalam Houck 1986:414). dengan tidak langsung melihat bahwa sisi yang sama dari "kesan dip-pak".

 kurangnya pemeriksaan yang cermat pada seluruh jaringan berkaitan dengan hal-hal kuno yang bersifat retoris di mana dikhawatirkan akan tidak terlihatnya karakteristik yang bermakna.  asumsi-asumsi kuno bahwa jejas luka potong merusak kejadian sebenarnya. Luka-luka potong pada tulang akibat pisau gerigi juga dapat meninggalkan jejas pisau yang mengikuti alurnya. Setiap gigi pada pisau tersebut dapat bekerja bersama-sama ataupun terpisah. Ini adalah persyaratan yang dapat ditambahkan dan dilakukan untuk pembuktian hokum. suatu karakteristik yang menghasilkan pengukuran gerigi per inci dari pisau tersebut. Kulit. Kala ahli antropologi kerap menekankan untuk membatasi diri dalam pemeriksaan tulang dan kelainan pada kulit. dapat menunjang analisa trauma tajam jika diobservasi secara konservatif. Kartilago kosta pada analisa jejas alat telah terbukti berguna sewaktu luka tusuk di mana terekam karakteristik tepi potong dari pisau yang biasanya tidak berubah walaupun senjata ditarik kembali dari luka Kala pisau dapat dan menghasilkan karakterisktik yang dapat diukur yang akan membantu dalam mengenali dugaan akan alat. Luka iris sampai tulang berpotensi menunjukkan informasi yang akurat namun membutuhkan bermacam-macam teknik dibandingkan pada jaringan lunak. atau sebuah bekas luka potong di mana pada ujungnya terdapat puncak potongan ke dalam beberapa luka potong atau seperti jejak anak ayam. Beberapa kasus akan menunjukkan bahwa pisau mata satu dapat diidentifikasi sebagaimana dengan karakteristik. jaringan lain dapat memberikan gambaran bentuk karakteristik senjata. Pada studi kasus akan menunjukkan keberhasilan dan kegagalan dalam menganalisa. sebuah kepentingan ditempatkan untuk mengidentifikasi kelas senjata tajam dihadapkan pada tipe senjatanya.  masalah umum dalam memahami dan mengenali multiplikasi desain pisau. suatu jaringan yang sulit untuk dianalisa. di mana kartilago bersifat fleksibel namun materi yang keras namun rapuh dapat merekam karakteristik dengan akurat tepi potongan dari senjata. sisi kanan lawan gerigi sisi kiri dan besar-kecilnya gerigi dapat diidentifikasi dari luka tusuk pada kartilago. seperti sebuah luka potong dengan hasil gerigi pisau tampak bekas dilakukan pemotongan secara paralel. Organ-organ dalam umumnya berisikan bukti- bukti pasti akan bentuk senjata dan ukuran. Contoh-contoh seperti ini akan menjelaskan bagaimana desain tertentu pada mekanisme pisau bergerigi pada benda keras. 16 . Studi kasus dan teori-teori akan menjelaskan interpretasi yang potensial tentang bekas luka tajam pada tulang.

17 .

18 . tetapi di Negeri kita selain bunuh diri. karena si korban membela diri. 1.A Keer 1946) Bunuh diri luka pada betis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontunuitas dari jaringan. pergelangan tangan. Luka – luka itu terjadi sewaktu ia menangkis serangan – serangan dengan pisau dan di namakan luka – luka tangkisan ( afweerwonden ).A Keer 1946) 2. Misalnya saja pada pergelangan kaki. H. perut. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Bunuh diri seorang laki – laki dengan lehernya di iris dan pada lehernya di iris dan pada badan nya terdapat 440 luka – luka irisan (di kutip dari buku Forensic Medicine by Douglas J. seseorang bunuh diri pada umumnya selalu akan mengiris di mana saja yang ia mengira ada urat – urat darah atau tempat yang berbahaya ( di kutip dari buku Forensic Medicine by Douglas J. HAL – HAL DALAM LUKA IRISAN DAN TUSUKAN Luka irisan leher disebabkan karena bunuh diri atau oleh karena suatu pembunuhan.G. Artinya orang yang sehat. Di Eropa umumnya luka irisan leher ini disebabkan karena bunuh diri. Luka Irisan Leher Karena Bunuh Diri Masalah dalam irisan leher karena bunuh diri ini umumnya selain irisan leher. Aplikasinya dalam pelayanan Kedokteran Forensik adalah untuk membuat keterangan suatu tindak kekerasan yang terjadi pada seseorang. KESIMPULAN Pengertian tarumatologi ( injury ) dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis. Luka Irisan Leher Karena Pembunuhan Umum nya dalam hal ini juga terdapat luka – luka lainnya. dangkal dan sejajar dan luka – luka pada bagian dari tubuh lainnya. tiba – tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecedraan. Apakah luka irisan pada leher karena membunuh diri dapat dibedakan dari irisan leher karena disebabkan pembunuhan. terdapat juga banyak luka – luka irisan lain nya pada leher yang kecil – kecil. hal ini disebabkan karena terjadi pada suatu pembunuhan. dan lain sebagainya yang disebabkan karena percobaan bunuh diri.

Tipe – tipe jeni luka tajam terdiri dari 3 hal. luka tusuk. 19 . yaitu luka insisi. dan luka bacok dengan berbagai tipe dan cirri masing – masing.

Bentuk luka 5. Terjadinya intravital/post mortal 20 . LUKA TRAUMA TAJAM Luka benda tajakm merupakan putusnya atau rusaknya kontinuitas jaringan karena trauma akibat alat/senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing. Luka yang disebabkan oleh benda yang berujung runjing dan bermata tajam dibagi menurut beberapa kategori: 1. Bentuk luka Tidak teratur Teratur h. Pada kematian yang disebabkan oleh benda tajam. Sekitar Luka Ada luka lecet Tak ada luka lain atau memar Cara mendeskripsi luka tajam hendaknya ditentukan : 1. tetapi pada umumnya karena suatu peristiwa pembunuhan atau peristiwa bunuh diri. Jumlah luka 4. Luka akibat benda tajam pada umumnya mudah dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda tumpul dan dari luka tembakan senjata api. Dasar Luka Tidak teratur Teratur l. Lokalisasi : a. Luka tusuk (stab wound) 2. walaupun tetap harus dipikirkan kemungkinan karena suatu kecelakaan. Tepi Luka Tidak rata Rata i. Absis 2. Benda asing 6. Ukuran 3. Luka Bacok (Chop wounds) Ciri-ciri luka benda tajam sering dibandingkan dengan luka benda tumpul: Trauma Tumpul Tajam g. Rambut Tidak terpotong Terpotong k. Jembatan Ada Tidak ada Jaringan j. Luka Iris (Incised wounds) 3. Kordinat b.

pada luka tusuk .  Bagian dari senjata tajam bermata satu. keris. sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya. Luka tusuk (Stab wounds) Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Untuk luka tusuk di perut tidak dapat diambil kesimpulan panjang senjatanya karena perut sangat elastis. Contoh: belati. clurit. apakah berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Jika luka tusuk terjadi saat kulit sedang dalam kondisi meregang. Dalam luka : · Ukuran minimal dari panjang senjata 3. 21 . Karakteristik dari luka tusuk: · Tepi luka rata · Dalam luka lebih besar dari panjang luka · Sudut luka tajam · Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam · Sering ada memar / echymosis di sekitarnya Identifikasi senjata pada luka tusuk: 1. Tampak celah terbuka pada ujung atas luka dan bentuk seperti huruf V pada ujung bawah luka ( Dikutip dari kepustakaan forensic path 2nd ed).Selain itu.  Luka tusuk oleh senjata tajam bermata satu. Cara kejadian luka:kecelakaan/bunuhdiri/pembunuhan a.7. Untuk luka tusuk pada bagian dada stabil 4. Bentuk luka tusukan di kulit ditentukan tidak hanya oleh bentuk dari pisau. Luka tersebut menyebabkan kematian/tidak 8. kikir. tanduk kerbau. bayonet. (Dikutip dari kepustakaan forensic path 2 nd ed). namun luka akan tampak pendek ketika kulit dalam kondisi mengendur. Panjang Luka : · ukuran maksimal dari lebar senjata 2. tetapi juga ditentukan oleh sifat dari kulit. akan menghasilkan luka yang panjang.

otot. juga di Lokalisasi pada daerah tubuh yang mudah daerah tubuh yang tak mungkin dicapai dicapai tubuh korban (dada. Karakteristik luka iris : o Pinggir luka rata o Sudut luka tajam o Rambut ikut terpoton o Jembatan jaringan ( -) o Biasanya mengenai kulit.  Luka yang tidak teratur disebabkan oleh luka tusuk oleh pisau. penampakan luka seperti disebabkan oleh pisau yang diputar atau gerakan korban untuk melepas pisau tersebut. sehingga tidak ikut terkoyak Ditemukan “Luka Tusuk Percobaan” Tidak ditemukan “Luka Tusuk Percobaan” 2. Cara menentukan luka tusuk disebabkan oleh pembunuhan atau bunuh diri: Pembunuhan Bunuh Diri Lokalisasi di sembarang tempat. tidak sampai tulang 22 . perut) tangan korban Jumlah luka dapat satu/lebih Jumlah luka yang mematikan biasanya satu Didapatkan tanda perlawanan dari korban Tidak ditemukan “Luka Tangkisan” yang menyebabkan luka tangkisan Pakaian ikut terkoyak Bila pada daerah yang ada pakaian. Luka Iris ( Incised wounds) Luka iris adalah luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit. pembuluh darah. maka pakaian disingkirkan lebih dahulu.

kecuali kalau fisik dicapai korban sendiri: korban jauh lebih lemah dari pelaku .Lekuk siku. ( Dikutip dari kepustakaan forensic path 2nd ed). melintang. Dengan demikian. ( Dikutip dari kepustakaan forensic path 2nd ed) 3. atau miring ke arah serat yang elastis di kulit (garis Langer). Perluasan dari luka dan bentuk tersebut bergantung pada paralel. Luka Bacok ( Chop Wounds) 23 .  luka tangkisan/perlawanan pada telapak tangan menandakan upaya untuk memegang sebuah pisau.  Luka iris pada wajah disebabkan oleh pisau cukur. dengan margin yang bersih.Perbedaan antara luka iris pada pembunuhan dan bunuh diri: Pembunuhan Bunuh Diri Sebenarnya sukar membunuh seseorang Lokalisasi luka pada daerah tubuh yang dapat dengan irisan. lekuk lutut keadaan/dibuat tidak berdaya .Leher . juga pada Ditemukan “Luka Iris Percobaan” daerah tubuh yang tidak mungkin dicapai tangan korban sendiri Ditemukan “ Luka tangkisan”/ tanda Tidak ditemukan “Luka Tangkisan” perlawanan Pakaian ikut koyak akibat senjata tajam Pakaian disingkirkan dahulu/tidak ikut robek tersebut  Luka iris yang menimbulkan luka yang mengerut pada kulit disebabkan oleh pisau yang ditoreh di permukaan kulit dari ujung ke ujung yang satu. garis paralel dari luka iris ke arah serat kontraktil celahnya kurang dari satu dibuat di sudut kanan atau miring ke arah serat karena serat akan menarik dan memisahkan tepi kulit. Tampak pinggir luka yang tajam. Tepi dari luka iris cenderung memisahkan atau membuat celah pada permukaan.Pelipatan paha Luka di sembarang tempat.Pergelangan tangan atau korban dalam .( Dikutip dari kepustakaan forensic path 2nd ed).

abrasi 24 . clurit. dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan . Luka biasanya besar . dengan fraktur comminuted mendasari atau terdapat alur yang dalam pada tulang. Pinggir luka rata . Kehadiran luka iris yang terdapat pada kulit. Sudut luka tajam . Contoh : pedang. kapak. Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar. Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang. Adalah luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. menunjukkan bahwa disebabkan oleh senjata yang bersifat membacok. baling-baling kapal. Karakteristik pada luka bacok: .

Mas Soetedjo Mertodidjojo Prof: Buku Penuntun Ilmu Dokter Kehakiman. http://cintalestari. http://widyazepam.blogspot.com 2. Surabya.htm) 5. http://www.freewebs.com/forensik/artikel-forensik.com/search?q=traumatologi 3.ca/archaeology/museum/papers/list.html 4. (http://www. DAFTAR PUSTAKA 1.wordpress. 1953 25 .klinikindonesia.com/detektif_conan/antropolgipatologitraumat.sfu. http://www.php 6.