Nama : Puteri Aulia Rahmah

NIM : 131424020
Kelas : 3A – TKPB
Mata Kuliah : Pengolahan Limbah Cair
Dosen : Ir. Endang Kusumawati, M.T.

KLASIFIKASI LIMBAH CAIR DI INDUSTRI FARMASI
Dalam industri farmasi, proses dan kegiatan yang dilakukan sangat beragam, tergantung dari produk
yang dihasilkan. Masing-masing industri farmasi tersebut menghasilkan limbah yang berlainan
dengan karakteristik yang berlainan pula. Limbah industri farmasi dapat berupa senyawa kimia toksik
maupun non toksik, baik dalam bentuk padat, cair, maupun uap. Namun kebanyakan limbah industri
farmasi digolongkan sebagai limbah berbahaya dan beracun serta membutuhkan pengolahan lebih
lanjut untuk menghindari resiko pencemaran lingkungan.
Karakteristik limbah industri ini perlu diketahui untuk menentukan pengolahan apa yang dapat
dilakukan untuk jenis-jenis limbah tersebut. Limbah-limbah yang dihasilkan oleh industri farmasi
memiliki komposisi dan jumlah yang sangat kompleks. Hal ini dapat dilihat dari beragamnya reaksi
kimia yang dilakukan dan banyaknya pemurnian yang terlibat dalam proses pembuatan suatu obat
atau lainnya.
Untuk karakteristik limbah industri farmasi tergantung dari jenis industri farmasi tersebut. Berikut
ini beberapa jenis industri farmasi berikut karakteristik limbah industrinya.
1. Industri Farmasi manufaktur
Industri farmasi manufaktur meliputi:
a. Industri Farmasi Sintesis Kimia
Limbahnya mengandung:
- Senyawa organik dan anorganik yang toksik, kandungan BOD dan COD tinggi;
- Senyawa asam, basa, garam dan katalis (logam Serat, sianida, d.l.l.);
- Pelarut organik yang digunakan dalam pe-murnian;
- Deterjen yang digunakan dalam pencucian alat-alat.
b. Industri Farmasi Ekstraksi Bahan Alam Limbah bahan padat tinggi (ampas)
- Kadar BOD dan COD bisa rendah, tetapi kandungan pelarut organiknya tinggi;
- Ampas bahan alam yang digunakan;
- Pelarut-pelarut;
- Uap pelarut;
- Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan serta tumpahan.
c. Industri Farmasi Fermentasi
- Nilai BOD dan COD limbah tinggi;
- Medium fermentasi;
- Sel dan misel dalam bentuk padat;
- Pelarut organik untuk ekstraksi;
- Senyawa kimia dan pelarut pada pemurnian/kristalisasi;
- Air limbah, berupa air pencucian bahan dan peralatan serta tumpahan.

2. Industri farmasi formulasi

. Mengandung sisa pencucian. yang disebutkan pada Pasal 3 Ayat (1) point mm. karakteristik limbah yang terbentuk terlihat pada tabel berikut. Produk yang gagal dan terbuang. Limbah relatif sama dengan limbah domestik/rumah tangga. . Peralatan berisi desinfektan. . Mengandung antibiotik. Debu (pencampuran dan pencetakan tablet). . . salah satunya berupa sediaan farmasi yang karakteristik limbahnya sebagai berikut: . Karakteristik limbah farmasi secara lebih rinci terlihat jika dibandingkan dengan karakteristik limbah domestik seperti pada tabel di bawah ini. Bahan sterilisasi dan detergen. . Bahan kemasan yang tidak terpakai. Baku mutu limbah cair untuk jenis indsutri farmasi semdiri diatur dalam Peraturan Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Limbah Cair dalam Kegiatan Industri. . Memiliki nilai BOD yang tinggi. Buangan dari laboratorium. . Karakteristik limbah industri farmasi formulasi secara umum meliputi: . Didalam industri farmasi formulasi. . Khusus untuk industri farmasi formulasi yang menghasilkan antibiotik. . Kategori industri farmasi formulasi mencakup proses pencampuran dan pembuatan senyawa. Tumpahan bahan-bahan. Air buangan dari pencucian alat dan sterilisasi. dan bahan kimia lainnya. . dan dijelaskan lebih lanjut pada lampiran XXXIX bahwa seluruh jenis kegiatan industri farmasi wajib memenuhi Baku Mutu Limbah Cair sebagaimana tersebut dalam Lampiran XXXIX. mencakup berbagai kegiatan. . Memiliki kandungan padatan yang tinggi.

Salah satu industri farmasi yang menerapkan pengolahan limbah cair adalah PT. Rata-rata Kuantitas Air Limbah di PT. Bio Farma. Limbah cair yang dihasilkan dialirkan pada IPAL 1 yang digunakan sebagai tempat pengolahan limbah sisa produk berbasis virus (vaksi polio dan campak). dan limbah yang berasal dari toilet. laboratorium. Bio Farma . Tabel 1. Sedangkan pada IPAL 2 digunakan untuk limbah cair yang merupakan sisa produksi produk berbasis bakteri seperti vaksin anti tetanus dan anti sera bisa ular.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah.k.k. . FTSL ITB. 2011. Dian Christy d. Bandung: Program Studi Teknik Lingkungan. 2014.DAFTAR PUSTAKA Dyestiana. Tugas Pengelolaan Limbah Industri: Pengolahan Limbah Industri Farmasi Formulasi. Kementrian Lingkungan Hidup.

Priambodo. Depok: Departemen Teknik Kimia. Bio Farma (Persero). Aziz dan Harnadiemas R.html] Diakses tanggal 6 Maret 2016. Laporan Kerja Praktik: Gambaran Sistem Manajemen Lingkungan dan K3 PT. FT UI.F. .tips/documents/laporan-kp-bandung. [http://dokumen. 2012.