1

FORM HASIL KEGIATAN HOME VISIT
LAPORAN HOME VISIT DOKTER KELUARGA
Berkas Pembinaan Keluarga
Puskesmas Barengkrajan No. RM : 0010278

Tanggal kunjungan pertama kali 6 Agustus 2016
Nama pembimbing : Gembong Nuswanto, dr., M.Sc.
Nama pembina keluarga :-
Nama DM Pembina : Ufuk Steven W, S.Ked
Tabel 1. CATATAN KONSULTASI PEMBIMBING (diisi setiap kali selesai satu
periode pembinaan )
Tanggal Tingkat Paraf Paraf Keterangan
Pemahaman Pembimbing

LAPORAN HOME VISIT DOKTER KELUARGA

2

Berkas Pembinaan Keluarga
Puskesmas Barengkrajan No.RM : 0010278

Tanggal kunjungan pertama kali : 6 Agustus 2016

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA
Nama Kepala Keluarga : Tn.TK
Alamat lengkap : Dsn. Sidorangu RT 011 / RW 05, Desa Watugolong,
Kecamatan Krian Kab. Sidoarjo

Bentuk Keluarga : Nuclear Family

No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien Ket
dalam Puskesmas
(tahun)
keluarga (Y/T)

1 Tn. TK Kepala L 42 S.Pd Guru T
keluarga SMP
(Ayah pasien)
2 Ny. D Ibu Pasien P 31 SMA Ibu Rumah T
Tangga
3 An. A pasien L 9 SD Pelajar Y Bells Palsy

4 An. R Adik Pasien P 1,5 - - T

Tabel 2. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah

Sumber : Keterangan Keluarga

BAB I

PENDAHULUAN

3

A. Latar Belakang

Bell’s palsy merupakan paralisis saraf fasial unilateral akut yang
penyebabnya belum diketahui. Kasus ini dilaporkan pertama kali pada 1798 yang
kemudian dideskripsikan pertama kali oleh Sir Charles Bell pada tahun 1821.1

Bell’s palsy merupakan bentuk paralisis pada wajah yang paling umum
dan melibatkan nervus fasialis. Nervus fasialis adalah nervus kranial ketujuh yang
mempersarafi otot – otot ekspresi wajah, 2/3 bagian ventral dorsum lidah serta
sekresi beberapa kelenjar.2

Insidensi Bell’s palsy adalah 23 kasus per 100.000 orang tiap tahunnya dan
dapat menyerang segala usia. Tidak ada perbedaan baik itu pria maupun wanita.
Bell’s palsy dapat menyerang segala usia. Usia yang menjadi puncak insidensi
adalah usia 40 tahun. Orang dengan diabetes serta wanita hamil pada trimester
ketiga memiliki resiko Bell’s palsy yang lebih tinggi. 3 Insiden Bell’s palsy di
Indonesia sulit untuk ditentukan. Data yang dikumpulkan dari 4 rumah sakit di
Indonesia didapatkan frekuensi Bell’s palsy sebesar 19,55% dari seluruh kasus
neuropati dan terbanyak pada usia 21 - 30 tahun.4

Etiologi Bell’s palsy secara pasti belum diketahui atau idiopatik. Namun
terdapat beberapa dugaan penyabab Bell’s palsy seperti infeksi virus, iskemik
saraf, reaksi autoimun, trauma dan kongenital.5,6,7 Terdapat pula laporan kasus
yang menyatakan pasien Bell’s palsy mengalami paralisis setelah menjalani
prosedur kedokteran gigi. Beberapa teori mengemukakan kemungkinan penyebab
terjadinya Bell’s palsy akibat tindakan kedokteran gigi dapat disebabkan oleh
komplikasi pasca penyuntikan anetesi lokal pencabutan gigi, infeksi, operasi
glandula parotis, eksisi tumor atau kista, prosedur preprostetik, dan operasi
TMJ.5,8,9

Gambaran klinis Bell’s palsy yang paling sering dijumpai alis mata turun,
tidak dapat menutup mata, lipatan nasolabial tidak tampak, dan mulut tertarik ke

4

sisi yang sehat. Gambaran klinisnya terkadang dianggap sebagai suatu serangan
stroke atau gambaran tumor yang menyebabkan separuh tubuh lumpuh atau
tampilan distorsi wajah yang akan bersifat permanen. 7 Bell’s palsy bersifat akut,
memiliki onset 1 atau 2 hari. Perjalanan penyakit biasanya progresif, dan
mencapai paralisis maksimal dalam 1 hingga 3 minggu.10

Bell’s palsy memberikan dampak yang besar bagi pasien. Paralisis yang
dialami pasien Bell’s palsy mengakibatkan kesulitan dalam menggerakkan otot
wajah hingga mengakibatkan wajah pasien terlihat asimetris. Keadaan wajah yang
terlihat asimetris menyebabkan pasien menjadi kurang percaya diri.

Selain mengalami paralisis pada sebagian wajah, pasien Bell’s palsy juga
dapat mengalami manifestasi pada rongga mulutnya. Pada bagian wajah yang
terkena, sudut mulut terlihat turun sehingga terjadi drooling. Pasien Bell’s palsy
yang mengalami pengurangan produksi saliva akan mengeluhkan xerostomia.
Hilangnya persepsi pengecapan pada lidah juga dapat dialami oleh pasien.6,11

Pasien dengan Bell’s palsy memiliki keterbatasan yang dapat menyulitkan
pasien dalam menjaga kesehatan rongga mulut dan juga kesulitan untuk
menjalankan prosedur perawatan gigi. Paralisis pada sebagian wajah
menyebabkan dibutuhkan modifikasi dalam pelaksanaan prosedur. Sebagai dokter
gigi diperlukan pengetahuan terhadap Bell’s palsy sehingga penanganan pasien
dengan Bell’s palsy dapat dilakukan dengan baik sehingga tidak menambah rasa
tidak nyaman pada pasien. Pengetahuan terhadap yang baik terhadap Bell’s palsy
dapat mengurangi kemungkinan melakukan tindakan-tindakan yang dapat
menimbulkan ketidaknyamanan bahkan tindakan yang dianggap membahayakan
atau memperparah keadaan pasien.

Pada kasus kali ini, dijumpai seorang pasien yaitu An.A berusia 9 tahun.
Pasien datang dengan keluhan kesulitan minum air. Air selalu jatuh dari bibir
bagian kanan. Sudah sejak 4 hari yang lalu. Sebelumnya pasien mengeluhkan

Sehingga nantinya dapat ditemukan masalah- masalah yang ada disekitar pasien serta penyelesaian dari masalah tersebut. Alis kanan tidak dapat dinaikkan. Tujuan Umum . B. Tujuan Penulisan a. penulis memutuskan untuk mengambil kasus ini sebagai laporan home visite agar dapat mengetahui kondisi lingkungan serta keluarga pasien lebih dalam. Apakah terdapat pengaruh faktor herediter terhadap penyakit Bells Palsy yang diderita oleh pasien? C. Rumusan Masalah a. Dengan adanya kasus tersebut. Bagaimana hubungan pengaruh faktor perilaku terhadap penyakit Bells Palsy yang diderita oleh pasien? b.. pasien didiagnosa Bell’s palsy dextra tipe perifer. Berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan di puskesmas Barengkrajan. Kelopak mata sebelah kanan tidak bisa menutup sempurna. Bagaimana hubungan antara pelayanan kesehatan terhadap penyakit Bells Palsy yang diderita oleh pasien? c. Tidak ada kelemahan pada anggota badan lainnya. Bagaimana hubungan lingkungan terhadap penyakit Bells Palsy yang diderita oleh pasien? d. 5 kepalanya pusing dan tidak bisa belajar disekolah sejak 1 minggu yang lalu.

Pelayanan kesehatan  Memudahkan pelayanan kesehatan dalam mewujudkan program pelayanan dalam fokus layanan primer  Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang terintegrasi dengan pendekatan secara komunitas  Sebagai masukan dalam bahan penyuluhan mengenai bahaya Bell’s palsy yang ada dimasyarakat. Tujuan Khusus 1. Manfaat Penulisan 1. Identifikasi faktor sosial ekonomi pasien Bells Palsy melalui SCREEM 4. Identifikasi faktor pelayanan kesehatan terhadap pasien Bells Palsy 6. Identifikasi perilaku pasien Bells Palsy terkait penyakitnya 7.social ekonomi dan lain-lain) pasien terkait dengan penyakit Bells Palsy. b. D. Puskesmas . Identifikasi kehidupan pasien Bells Palsy dalam keluarga melalui APGAR 3. Identifikasi faktor keturunan pasien Bells Palsy melalui Genogram 5. Identifikasi faktor lingkungan (fisik. pelayanan kesehatan. dan lingkungan pasien terhadap penyakit yang diderita oleh pasien. Identifikasi pasien sesuai dengan yang ditetapkan puskesmas 2. 3. Pasien dan keluarga  Dapat meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dan keluarganya  Dapat meningkatkan kebutuhan dan tuntutan kesehatan pada pasien  Dapat meningkatkan kepuasan pasien untuk mendapat pelayanan semaksimal mungkin  Memberikan penjelasan kepada pasien agar memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan Bell’s palsy  Mencari faktor penyebab terjadinya Bell’s palsy pada pasien  Edukasi perilaku yang tepat untuk membantu proses penyembuhan pasien  Meningkatkan kepatuhan meminum obat pada pasien 2. 6 Mengetahui pengaruh faktor kehidupan sosial dan ekonomi.

7  Sebagai masukan dan informasi di program kesehatan P2TM dalam rangka menangani kasus Bell’s palsy  Memberikan masukan kepada puskesmas untuk membuat SOP standart untuk penanganan penyakit Bell’s palsy secara komprehensif  Sebagai masukan kepada puskesmas untuk membuat pelayanan rehabilitasi medik sederhana (termasuk untuk Bell’s palsy) .

Pasien sempat mencret 1 kali saat di sekolah. tidak ada kesulitan menelan. Saat menutup mata. setelah itu tidak pernah mencret lagi. kelopak mata sebelah kanan tidak dapat menutup dengan sempurna . Identitas Pasien a. pasien merasa tidak bisa senyum yang sama antara kanan dan kiri. Saat minum air. Tanggal Pemeriksaan Puskesmas : 2 Agustus 2016 j. 4 hari yang lalu. Pekerjaan : Pelajar e. Pendidikan : SD f. 6 BAB II HASIL KUNJUNGAN A. Tidak ada . Keluhan Utama Sulit Untuk Minum Air b. Umur : 9 Tahun c. Sekarang masih terasa pusing sedikit. Riwayat Penyakit Sekarang (Heteroanamnesis)  Menurut ibu pasien.A b. Sidorangu RT 011 / RW 05. Alamat : Dsn. Pasien tidak mampu bersiul. Anamnesis a. Jenis kelamin : Laki-laki d. An. selalu keluar dari mulut sebelah kanan. pasien tidak bisa mencucu. Nama : An. Agama : Islam g. Tanggal Home Visit : 6 Agustus 2016 10 Agustus 2016 15 Agustus 2016 2.A mengeluh kepalanya terasa pusing dan merasa bingung tidak bisa belajar saat disekolah sejak 1 minggu yang lalu. Suku : Jawa i. Sidoarjo h. Status Pasien 1. Desa Watugolong. Kecamatan Krian Kab. pasien tiba- tiba saat minum mengaku kesulitan. pasien tidak bisa mengangkat alis kanan.

e. Riwayat kehamilan: Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Baik saat menonton tv. Tidak ada mual ataupun muntah. Riwayat Kebiasaan Riwayat kebersihan badan : Pasien mandi 2 kali sehari. BAK dan BAB Normal. d. bermain game maupun saat tidur. 7 kelemahan pada anggota badan lainnya. Berat Badan Lahir 4000gr/lahir operasi/RS Bakti Husada. . Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan seperti pasien. Imunisasi Lengkap. Riwayat trauma (-). Karena jalan lahir tidak mau terbuka Riwayat Imunisasi: Menurut Ibu pasien. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah mengalami kelemahan pada wajah sebelumnya. Suka memakai kipas angin diarahkan kewajah dan badan. tidak mau belajar. Riwayat olah raga : Tidak pernah olahraga Riwayat pengisian waktu luang : Suka bermain game dari Gadget dari pagi hingga sore hari. c.

8 °C (aksillar) Tensi : 110/80 mmHg (posisi duduk) . tempe. status gizi cukup b. Riwayat Pengobatan Pasien baru pertama kali ke puskesmas Barengkrajan untuk berobat. Pasien tinggal bersama kedua orang tua. 8 f. Dari Puskesmas Barengkrajan.bersebelahan dengan keluarga pasien yang lain. Keadaan Umum : Baik.3. dan adiknya. GCS E4V5M6. g. adapun buah yang lebih sering dikonsumsi seperti pisang . Disebelah rumah pasien. isi dan tegangan cukup Pernafasan : 19 x/menit Suhu : 36. Yaitu Nenek dan saudara dari Ibu pasien. reguler. lauk pauk seperti tahu. Kesan status gizi saat ini cukup. ikan. Riwayat Gizi Pasien sehari-hari rutin makan 3 kali sehari porsi cukup dengan nasi. kerupuk dan sayuran seperti sayur bayam. Pada saat bayi. Kesadaran Composmentis. dan daging. Ibu pasien bekerja sebagai Ibu rumah Tangga.000. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien anak ke pertama anak dari dua bersaudara. Sedangkan Ayah pasien bekerja sebagai Guru SMP dengan pendapatan kurang lebih Rp. h. Ayah pasien pulang kerumah 1 minggu 1 kali karena mengajar diluar kota. Pasien jarang mengkonsumsi buah. pasien dirujuk dokter spesialis saaraf ke Rumah sakit Swasta dekat Puskesmas 3. pasien juga diberikan ASI eksklusif oleh ibunya selama 1 tahun pertama. Tanda Vital dan Status Gizi -Tanda Vital Nadi : 87 x/menit.000 per bulan. Pemeriksaan Fisik a.

sianosis (-) d. pembesaran kelenjar limfe (-). tepi lidah hiperemis (-). sklera ikterik(-/-). kelainan mimik wajah/bell’s palsy (+) e. Leher : JVP tidak meningkat. Mata : Conjuctiva anemis (-/-). rambut tidak mudah dicabut. pendengaran berkurang (-). Kulit Warna : kecoklatan. keadaan cuping telinga dalam batas normal Tenggorokan : Tonsil membesar (-). pembesaran kelenjar tiroid (-). atrofi m. nodula (-). lidah kotor (-).temporalis (-). deformitas hidung (-). makula (-). 9 -Status gizi BB : 63 kg TB : 157 cm IMT : 25. hiperpigmentasi (-). tremor (-) h. radang/conjuctivitis/uveitis (-/-/-) f.5 Status Gizi Berlebih c. reflek kornea (+/+). Mulut : Bibir pucat (-). epistaksis (-). retraksi interkostal (-). retraksi subkostal (-) Cor :I : ictus cordis tak tampak P : ictus cordis teraba di anterior axila line sinistra ICS P : tidak dilakukan pemeriksaan . tidak ada luka. sekret (-). Kepala : bentuk normal. Telinga : Nyeri tekan mastoid (-). bibir kering (-). sadle nose (-) g. papula (-). pharing hiperemis (-) i. trakea ditengah. pupil (isokor 3mm/3mm). Thoraks Simetris/. warna kelopak (coklat kehitaman). lesi pada kulit (-) j. ikterik (-). Hidung : Nafas cuping hidung (-). sekret (-). papil lidah atrofi (-). Lensa keruh (-/-).

. afasia (-) . 10 A: SI SII tunggal. E4V5M6 .Pembicaraan : disartria (-). ronki (-/-) k. lordosis (-) P: nyeri tekan (-) P: Nyeri ketok Columna Vertebralis (-) m. - n. Pemeriksaan neurologik: 1. bising (-) Pulmo: Statis (depan dan belakang) I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri P : fremitus raba kiri sama dengan kanan P : sonor pada seluruh lapang paru A: suara dasar vesikuler (+/+). fullmoon face (-). whezing (-/-). venektasi (-) P :supel. Kesan Umum . Sistem genetalia : dalam batas normal o. intensitas normal. Abdomen I :dinding perut tampak membesar.Kepala : bentuk normal. Pemeriksaan Meningen: . Ekstremitas Akral hangat : + + + + Oedem : .Kesadaran : Composmentis. Sistem columna vertebralis I : deformitas (-). hepar dan lien tak teraba P :timpani seluruh lapang perut A :bising usus (+) normal l. regular. . simetris. nyeri tekan (-). skoliosis (-). monoton (-). - .Wajah : Myopati (+). Asimetris (+) 2. kiphosis (-).

tungkai (-/-) c.Rasa nyeri tekan Normal Normal 5. Refleks Fisiologis Kanan Kiri kanan Kiri Kornea + + Biseps ++ ++ Berbangkit . triseps ++ ++ Laring . brudzinski III (-). .Tonus otot a. brudzinski I (-). 11 kaku kuduk (-). tremor saat bergerak (-). kernig sign (-). chorea (-). Rigid : lengan (-/-). myoklonus (-). KPR ++ ++ Masseter . brudzinski II (-). tungkai (-/-) b. kontraktur (-). .Rasa suhu panas/ Normal Normal dingin . athetose (-). ballismus (-) 4.Rasa raba ringan Normal Normal Rasa proprioceptik . Hipotonus : lengan (-/-).Rasa tekan Normal Normal . Pemeriksaan Sensorik Rasa eksteroceptik Dekstra Sinistra .Rasa nyeri superficial Normal Normal .Gerakan Involunter: tremor saat istirahat (-). Pemeriksaan Motorik . Pemeriksaan Refleks a. . APR ++ ++ . konsistensi lunak . Spastik : lengan (-/-). tungkai (-/-) .Palpasi otot : nyeri 5 5(-).Kekuatan otot : 5 5 . brudzinski IV (-) 3.

- Oppenheim . . - Klonus . - 6. . 12 Dinding Bulbokavernosu perut s + + . . - Gordon . Cremaster . - . - paha Klonos kaki . - Tromner Chaddoks . - Schaeffer . - b. - -atas + + -bawah + + -tengah . bell’s sign (+) Sudut mulut Menurun Simetris Meringis (-) (+) Lipatan Mendatar Simetris . Pemeriksaan Nervus Cranialis VII Nervus VII Dextra Sinistra Dextra Sinistra Waktu diam Waktu gerak Kerutan dahi Simetris Simetris Mengangka (-) (+) t alis Tinggi alis Menurun Simetris Menutup (-) (+) mata lagoftalmus (+). Babinski . Sfingter . . Refleks Patologis Lengan Kanan Kiri Tungkai Kanan Kiri Hofmann.

Pemeriksaaan Fungsi Otonom .Berdiri & -gerakan Tidak ada Tidak ada berjalan spontan -tremor Tidak ada Tidak ada -atetosis Tidak ada Tidak ada -mioklonik Tidak ada Tidak ada -khorea Tidak ada Tidak ada c.Badan -Respirasi Simetris kiri dan kanan -duduk Simetris Simetris b.Ekstremitas Superior Inferior Kanan Kiri Kanan Kiri -gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif -kekuatan 555 555 555 555 -tropi Eutropi Eutropi Eutropi Eutropi -tonus Eutonus Eutonus Eutonus Eutonus 8. 13 nasolabial Pengecapan normal 2/3 depan lidah Hyperakusis (-) (-) Sekresi air Tde Tde mata 7. Pemeriksaan Fungsi Motorik Kanan Kiri a.

Diagnosis Biologis: Paralisis Nervus Fasialis Dextra Tiper Perifer b. Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang 5. mata kanan tidak dapat menutup sempurna. Fungsi Luhur Kesadaran Tanda demensia -reaksi bicara : baik -refleks Glabella : - -reaksi intelek : baik -refleks Snout :- -reaksi emosi : baik -refleks mengisap :- -refleks memegang :- -refleks Palmomental : - 4. Alis kanan tidak bias diangkat. Prognosis Quo ad vitam : bonam Quo ad sanam : bonam Quo ad functionam: bonam 7. 14 -miksi : baik -defekasi : baik -sekresi keringat : baik 9. Pusing kepala sudah berkurang. Terapi  Istirahat  Prednisone 3x5 mg  Neurodex 3x1 tab  Fisioterapi 8. Compos Mentis . Tindak Lanjut (Follow up) Tanggal 10 Agustus 2016 S: Pasien mengatakan masih tetap sulit untuk minum air. Patient Centered Diagnosis a. Diagnosis sosial ekonomi dan budaya: 1)Kondisi Lingkungan dan Rumah yang kurang bersih 2)Rendahnya Pengetahutan Tentang Penyakit 6. Air masih tumpah dari mulut bagian kanan. O: Keadaan Umum : Baik.

Edukasi tentang Kebersihan Rumah . A merasa puas dengan kebersamaan dan waktu yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya. A merasa hubungan kasih saying dan interaksinya dengan ayah dan ibu baik RESOLVE An. 15 Tensi: 110/70mmHg. APGAR SCORE ADAPTATION Dalam menghadapi masalah selama ini pasien selalu mendapatkan dukungan dan nasehat dari keluarganya dan petugas kesehatan. ia harus bersabar mendengarkan petunjuk dari dokter.Prednisone3x5mg Tab (tapering off) – Neurodex 1x1 Tab B. GROWTH An. Penderita dan keluarga yakin penyakitnya bias sembuh total bila ia mematuhi aturan pengobatan sampai sakitnya benar-benar sembuh.A sadar bahwa penyakitnya dapat disembuhkan. Suhu Aksila: 36. Pasien akhirnya mau untuk masuk sekolah. Orang Tua pasien selalu memberikan motivasi dan dukungan pada pasien terutama juka pasien sakit dan harus mendapat pengobatan segera secara teratur. AFFECTION An. RR 17x/m. . namun orang tua pasien meyakinkan bahwa ia bisa sembuh dan tidak apa-apa. Nadi 78x/menit.Hindari Penyebab (kipas angin tidak arahkan secar langsung ke wajah) Medikamentosa . PARTNERSHIP Orang tua pasien mendukung dalam upaya pengobatan sehingga merasa penyakitnya nukan halangan untuk melakukan aktivitas.7oc A: Paralisis Nervus Fascialis Dextra Tipe Perifer P: Non Medikamentosa . dan meminum obat yang diberikan secara teratur. Meskipun pasien sempat merasa malu dengan teman sekolahnya.

perhatian dll R Saya puas dengan carakeluarga saya  dansaya membagi waktu bersama-sama Total poin = 10 Kesimpulan Fungsi keluarga dalam mengahadapi penyakit yang diderita An. Identifikasi Masalah Sosial Ekonomi Melalui Komponen SRCEEM . C.A berjalan dengan baik sehingga membantu dalam kesembuhan.H terhadap keluarga Jarang/tidak selalu kadang A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi  masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan  saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerimadan mendukung keinginan saya  untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan  merespon emosi saya seperti kemarahan. 16 Sering/ Kadang- APGAR An.

hal ini Agama menawarkan - dapat dilihat dari penderita dan keluarganya menjalankan pengalaman spiritual yang baik sholat selalu 5 waktu untuk ketenangan individu yang tidak didapatkan dari yang lain Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah ke atas. Edukasi Pendidikan anggota keluarga kurang memadai. banyak tradisi budaya yang masih diikuti. sunatan. Mampu membiayai + pelayanan kesehatan yang lebih baik.A tidak ada masalah dalam hal perekonomian keluarga. koran terbatas. Keterangan  Ekonomi (-) artinya keluarga An. untuk _ kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi. 17 SUMBER PATHOLOGY KET Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga - dengan saudara partisipasi mereka dalam masyarakat cukup meskipun banyak keterbatasan. Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik. Menggunakan bahasa jawa. Tingkat - pendidikan dan pengetahuan keluarganya masih rendah. hal ini dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam - keluarga maupun di lingkungan. Penerapan agama baik. Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki fasilitas pendidikan seperti buku-buku. Sering mengikuti acara yang bersifat hajatan. Hal ini dapat dilihat dari pemenuhan kebutuhan . Medical Pelayanan kesehatan puskesmas memberikan perhatian khusus terhadap kasus penderita. dapat memenuhi kebutuhan sekunder.dll. dan hal ini mudah dijangkau karena biayanya murah dan letaknya dekat. Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga ini biasanya menggunakan Puskesmas ataupun bidan desa. tata krama dan kesopanan Religius Pemahaman agama cukup.

karena sampai saat ini an. edukasi. karena masih tetap menjalankan perintah Nya dengan keadaan yang ada sekarang itu membantu / mempengaruhi ketentraman batin karena penderita dekat dengan Tuhan terutama dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada. Keluarga tidak memiliki kartu jaminan kesehatan sehingga penderita harus mengeluarkan biaya setiap kali kunjungan fasilitas pelayanan kesehatan. 18 sehari-hari yang terpenuhi dan dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tertiernya.M masih bersekolah  Sosial (-) artinya An.A tidak ada masalah dalam bidang agama. religious. Kesimpulan: Pasien dan keluarga tidak memiliki masalah dalam fungsi ekonomi. Genogram Nama Kepala Keluarga : Tn.  Kultural (-) An. Pasien dan keluarganya hanya memiliki masalah fungsi patologis dalam hal pelayanan kesehatan.TK . D. A masih mampu mengikuti kegiatan-kegiatan di sekitar lingkungannya. A tidak memiliki kartu jaminan kesehatan sehingga penderita harus mengeluarkan biaya tiap kali kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan.  Medical (+) An. komunikasi tentang penyakit bells palsy. Juga kurangnya edukasi. A tidak menghadapi permasalahan dalam bidang pendidikan. social maupun kultural.A mampu bersosialisasi dengan keluarga dan tetangga serta merasa dipedulikan oleh keluarga dan tetangganya.  Edukasi (-) artinya An.  Religius (-) artinya An.

Jarak puskesmas tidak jauh dari tempat tinggal pasien (jarak ± 3 km). Jika libur. Faktor Pelayanan Kesehatan Ibu pasien mengatakan untuk masalah kesehatan. Menurut ibu pasien. keluarga tidak Gambar memiliki kartu jaminan3. Desa Watugolong. Sidoarjo Bentuk Keluarga : Nuclear Family Keterangan Genogram: Warna merah: tinggal satu rumah E.1 Genogram kesehatan. istirahat. Pasien selalu menggunakan kipas angina diarahkan kewajah. Faktor Perilaku Pasien adalah seorang laki-laki yang tinggal bersama ayah dan ibunya. rumah pasien belum pernah mendapat penjelasan tentang penyakit ini sebelumnya. pasien bisa bermain gadget dari pagi hingga sore hari. Baik pada saat bermain game. 19 Alamat lengkap : Dsn. akses menuju pelayanan kesehatan juga mudah. sehingga setiap kali sakit pasien selalu berobat ke puskesmas. Kecamatan Krian Kab. Pendidikan terakhir ayahnya adalah sarjana pendidikan sedangkan ibu pasien pendidikan terakhir adalah SMA. keluarga Posisi rumah pasienTn. menonton tv. Pasien sendiri memiliki kebiasaan bermain game gadget hampir setiap hari. pasien . Sidorangu RT 011 / RW 05. Jika tidak. Sekarang ini pasien adalah seorang pelajar kelas 4 SD. Ayah pasien adalah seorang guru SMP dan ibunya adalah ibu rumah tangga. tidakTK terlalu jauh dari puskesmas. F. maupun saat tidur.

dicampur menjadi satu dan beberapa ada yang berserakan ditempat lain. 20 akan marah-marah. Sumber air yang digunakan sehari-hari adalah air sumuh yang tidak sehat. Dibagian depan rumah terdapat bahan bangunan yang diletakkan di halaman rumah dan didepan rumah. ditutup saat sudah magrib atau malam hari. sprei diganti 2 bulan sekali. sehingga wajah khususnya sebelah kanan sering terpapar oleh angin. Kain gorden diganti 1 tahun sekali. biasanya hanya di sapu seadanya pada pagi hari dan jarang dipel. Kendaraan bermotor diparkir didalam ruang tamu. dan terkadang dipanaskan didalam rumah. Keluarga ini memiliki kebiasaan kebersihan yang buruk. Mereka jarang membersihkan rumah. Fasilitas sanitasi dasar yang dimiliki tempat tinggal pasien tidak lengkap. Pintu rumah bagian depan selalu dibuka. Lingkungan sekitar rumah bersih. Peralatan masak dan alat makan. G. Keluarga pasien hanya memiliki 1 tempat sampah yang diletakkan di depan rumah dan dibuang 2 hari sekali.yang tidak ada ventilasi dan ditumpuk dengan berbagai macam barang. Banyak pakaian kotor digantung sembarangan dan tidak rapi. Tempat tidur jarang dirapikan setelah bangun. Warna air kecoklatan dan . Terdapat 1 ruangan sebagai gudang. tidak ada kotoran berserakan. Banyak ditumpuk begitu saja. Faktor Lingkungan Pasien betempat tingal di desa Sidorangu dengan lingkungan sekitarnya yang padat penduduk.

Seluruh salurang pembuangan jamban di daerah sekitar. Terdapat jendela dibagian depan rumah. Gambaran keadaan rumah pasien dapat dilihat sebagai berikut: Pasien tinggal dirumah yang berukuran 4x 12 m2 berdempetan dengan rumah tetangganya. Identifikasi Masalah Berdasarkan Teori Blum 1. Sinar dapat masuk kedalam rumah. Perabotan rumah banyak. Lingkungan 1)Tidak adanya ketersediaan Air bersih 2)Saluran Jamban yang dialirkan kesungai 3)Pengetahuan yang kurang tentang penyakit Bells Palsy b. Pelayanan Kesehatan . Terdiri dari 3 kamar tidur. dan ruang menonton tv. langsungdibuang melalui pipa dan dibuang ke sungai didekat desa. Ventilasi dan penerangan bagian depan rumah dan bagian ruang tamu cukup baik. Dinding rumah terbentuk dari batu bata yang sudah dicat. ruang tamu. Setiap kamar tidak ada ventilasi sama sekali disetiap kamar. Kebersihan jamban tidak terurus. tidak dibersihkan. Banyak piring dan barang lain tidak pada tempatnya.Perilaku 1) Kipas angin diarahkan langsung ke wajah 2) Jarang Membersihkan Rumah 3) Parkir motor didalam Rumah 4) Kurang Memperhatikan Personal Hygiene c. Lantai didalam rumah terbentuk dari keramik. Faktor Resiko a. Pasien menggunakan air yang berasal dari sumur yang letaknya < 10 meter dari jamban. 21 agak keruh. H. Ruang tamu pasien juga digunakan sebagai tempat parkir sepeda motor. 1 kamar mandi. Masalah: Bells Palsy 2. Bagian depan rumah berhadapan langsung dengan jalan gang diantara tetangga.sedangkan dibelakang rumah lantai terbentuk dari plestrean semen. Sinar matahari tidak dapat masuk kedalam kamar. Dibagian depan rumah dan dibagian halaman rumah terdapat bahan bangunan (pasir dan batu bata). menumpuk.

Jarang Membersihkan Rumah KESEHATAN .Parkir Motor Di Dalam Rumah . 22 1) Kurangnya Penyuluhan Mengenai Bells Palsy DIAGRAM PERMASALAHAN KESEHATAN PASIEN (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan berbagai factor resiko yang ada dalam kehidupan pasien) FAKTOR KETURUNAN - FAKTOR LINGKUNGAN FAKTOR PERILAKU .Kurang Personal Hygiene FAKTOR PELAYANAN KESEHATAN Kurangnya penyuluhan mengenai Bells Palsy .Saluran Jamban Dialirkan ke sunga .Tidak adanya Ketersediaan Air Bers .Kipas Angin diarahkan Ke Wajah DERAJAT .Pengetahuan yang kurang tentang penyakit .

dapat terjadi gangguan komplit yang menyebabkan paralisis semua otot ekspresi wajah.1 Masalah Aktif : Bells Palsy Bell’s palsy merupakan kelemahan wajah dengan tipe lower motor neuron yang disebabkan oleh keterlibatan saraf fasialis idiopatik di luar sistem saraf pusat. Sindrom ini pertama sekali dideskripsikan pada tahun 1821 oleh seorang anatomis dan dokter bedah bernama Sir Charles Bell (Lowis Handoko. mata dapat terasa berair karena aliran air mata ke sakus lakrimalis yang dibantu muskulus orbikularis okuli terganggu. Burgess et al mengidentifikasi genom virus herpes simpleks (HSV) di ganglion genikulatum seorang pria yang meninggal enam minggu setelah mengalami Bell’s palsy (Lowis Handoko. manifestasi klinis Bell’s palsy dapat berbeda. Selain itu. Terdapat lima teori yang kemungkinan menyebabkan terjadinya Bell’s palsy. tanpa adanya penyakit neurologik lainnya. Bila lesi foramen stylomastoid. 2012). 21 BAB III PEMBAHASAN 3. Insidens sindrom ini sekitar 23 kasus per 100 000 orang setiap tahun. Oleh karena itu. Saat menutup kelopak mata. perlu diketahui mengenai Bell’s palsy oleh dokter pelayanan primer agar tata laksana yang tepat dapat diberikan tanpa melupakan diagnosis banding yang mungkin didapatkan (Lowis Handoko. Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang tersimpan antara gigi dan pipi akibat . dan imunologi. Berdasarkan letak lesi. 2012). herediter. Teori virus lebih banyak dibahas sebagai etiologi penyakit ini. 2012). virus. yaitu iskemik vaskular. kedua mata melakukan rotasi ke atas (Bell’s phenomenon). bakteri. Manifestasi klinisnya terkadang dianggap sebagai suatu serangan stroke atau gambaran tumor yang menyebabkan separuh tubuh lumpuh atau tampilan distorsi wajah yang akan bersifat permanen.

Rehabilitasi fasial secara komprehensif yang dilakukan dalam empat . Selain itu. 2012). atau tarsorafi lateral (penjahitan bagian lateral kelopak mata atasdan bawah). namun tindakan ini kadang dilakukan pada kasus yang berat dalam 14 hari onset. pelumas (saat tidur). Lesi di kanalis fasialis (di atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di bawah ganglion genikulatum) akan menunjuk semua gejala seperti lesi di foramen stylomastoid ditambah pengecapan menghilang pada dua per tiga anterior lidah pada sisi yang sama. Bila lesi terdapat di saraf yang menuju ke muskulus stapedius dapat terjadi hiperakusis (sensitivitas nyeri terhadap suara keras). penjahitan kelopak mata atas. a) Terapi Non-farmakologis Kornea mata memiliki risiko mengering dan terpapar benda asing. Penyelesaian: Peran dokter umum sebagai lini terdepan pelayanan primer berupa identifikasi dini dan merujuk ke spesialis saraf (jika tersedia) apabila terdapat kelainan lain pada pemeriksaan neurologis yang mengarah pada penyakit yang menjadi diagnosis banding Bell’s palsy. 2012). Tidak terdapat bukti adanya efektivitas dekompresi melalui pembedahan saraf fasialis. proteksinya dapat dilakukan dengan penggunaan air mata buatan (artificial tears). 2012). dokter umum dapat menentukan terapi selanjutnya setelah menyingkirkan diagnosis banding lain. Terapi yang diberikan dokter umum dapat berupa kombinasi non-farmakologis dan farmakologis seperti dijelaskan di bawah ini (Lowis Handoko. kaca mata. 22 gangguan gerakan wajah dan air liur keluar dari sudut mulut (Lowis Handoko. lesi pada ganglion genikulatum akan menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya salivasi serta dapat melibatkan saraf kedelapan (Lowis Handoko. Masase dari otot yang lemah dapat dikerjakan secara halus dengan mengangkat wajah ke atas dan membuat gerakan melingkar. plester mata. Jika tidak tersedia.

Rehabilitasi fasial meliputi edukasi.Dosis pemberian prednison (maksimal 40-60 mg/hari) dan prednisolon (maksimal 70 mg) adalah 1 mg per kg per hari peroral selama enam hari diikuti empat hari tappering off. Penelitian retrospektif Hato et al mengindikasikan bahwa hasil yang lebih baik didapatkan pada pasien yang diterapi dengan asiklovir/valasiklovir dan prednisolon dibandingkan yang hanya diterapi dengan prednisolon. beberapa percobaan kecil menunjukkan bahwa penggunaan asiklovir tunggal tidak lebih efektif dibandingkan kortikosteroid. hipertensi. dan relaksasi. harus dipertimbangkan untuk optimalisasi hasil pengobatan. Namun. Penggunaan steroid dapat mengurangi kemungkinan paralisis permanen dari pembengkakan pada saraf di kanalis fasialis yang sempit. Steroid. pelatihan neuro-muskular. Terdapat empat kategori terapi yang dirancang sesuai dengan keparahan penyakit. diketahui pula bahwa 95% pasien sembuh dengan pengobatan prednison dan valasiklovir tanpa terapi fisik. Namun. diabetes. terutama prednisolon yang dimulai dalam 72 jam dari onset. fasilitasi. 23 bulan setelah onset terbukti memperbaiki fungsi pasien dengan paralisis fasialis. b) Terapi farmakologis Inflamasi dan edema saraf fasialis merupakan penyebab paling mungkin dalam patogenesis Bell’s palsy. dan Cushing syndrome. yaitu kategori inisiasi. dan program pelatihan di rumah. Efek toksik dan hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan steroid jangka panjang (lebih dari 2 minggu) berupa retensi cairan. . meditasi relaksasi. kontrol gerakan. masase. ulkus peptikum. Ditemukannya genom virus di sekitar saraf ketujuh menyebabkan preparat antivirus digunakan dalam penanganan Bell’s palsy. osteoporosis. supresi kekebalan tubuh (rentan terhadapinfeksi).

Efek samping jarang ditemukan pada penggunaan preparat antivirus. dan edukasi di bidang penyakit Bell’s palsy d) Upaya peningkatan dalam hal kepatuhan pengobatan 3.2 Faktor Resiko . 24 Axelsson et aljuga menemukan bahwa terapi dengan valasiklovir dan prednison memiliki hasil yang lebih baik. Data-data ini mendukung kombinasi terapi antiviral dan steroid pada 48-72 jam pertama setelah onset. hasil analisis Cochrane 2009 pada 1987 pasien dan Quant et al dengan 1145 pasien menunjukkan tidakadanya keuntungan signifikan penggunaan antiviral dibandingkan plasebo dalam hal angka penyembuhan inkomplit dan tidak adanya keuntungan yang lebih baik dengan penggunaan kortikosteroid ditambah antivirus dibandingkan kortikosteroid saja. diare. namun kadang dapat ditemukan keluhan berupa adalah mual. b) Upaya peningkatan kegiatan terapi fisik untuk wajah yang terkena c) Upaya peningkatan komunikasi.Namun. Sedangkan dosis pemberian valasiklovir (kadar dalam darah 3-5 kali lebih tinggi) untuk dewasa adalah 1 000-3 000 mg per hari secara oral dibagi 2-3 kali selama lima hari. Upaya penanggulangan bells palsy: a) Upaya perubahan perilaku dengan tidak mengarahkan angin yang terus menerus pada wajah dengan cara merubah posisi tidur. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan keuntungan penggunaan terapi kombinasi. Dosis pemberian asiklovir untuk usia >2 tahun adalah 80 mg per kg per hari melalui oral dibagi dalam empat kali pemberian selama 10 hari. informasi. dan sakit kepala. Sementara untuk dewasa diberikan dengan dosis oral 2000-4000 mg per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 7-10 hari. de Almeida et al menemukan bahwa kombinasi antivirus dan kortikosteroid berhubungan dengan penurunan risiko batas signifikan yang lebih besar dibandingkan kortikosteroid saja.

berikut adalah faktor resiko yang terjadi pada kasus ini: 1. 25 Berdasarkan hasil kunjungan yang telah dilakukan dan dianilasa menggunakan konsep H. Tenda Tensi 3 4 5 5 12 Keterangan : P : Prioritas jalan keluar (MxIxV/C) M : Magnitude.1 Prioritas Kegiatan Efisiens No Efektifitas Hasil Masalah i . besarnya masalah yang bisa diatasi apabila solusi ini dilaksanakan(turunnya prevalensi dan besarnya masalah lain) I : Implementasi.L Blum. Prioritas Kegiatan Berdasarkan masalah yang ada pada kasus ini. biaya yanga diperlukan . kelanggengan selesainya masalah V : Vulnerability. berikut adalah prioritas kegiatan yang telah disusun untuk mengatasi masalah yang ada pasa kasus ini: Tabel 4. sensitifnya dalam mengatasi masalah C : Cost. 4 4 3 3 16 Bell’s Palsy 2. M I V C P Penyuluhan Hipertensi dan 1.

37 Ha 1. ri selasa meter edukasi bahaya kali rumah-rumah posbindu.7 Target 3.32 3. 26 3.14 3. minggu 2. Konsumsi 1 entukan Tim ader k kader ebulan 2 smas a puskesmas ri selasa 2.24 3. Mempromosika puskesmas.21 Ha 1. kedua dan 3. Kegiata Pelaksanaan Pelaksanaan n 3.11 Tenag 3.18 S 1. memberikan dan ketiga mas materi mengenai bahaya hipertensi dan bell’s palsy 3.35 Posya 3.27 puske 3.17 K Terbentu 3. Memilih kader3.25 K Terbentu 3.10 Loka3.8 V3. tan asaran olume Kegiatan si a dwal Pelaksanaan. Konsumsi hipertensi dan 2. Spyghmomano 3 sanaan ader na program ebulan 2 kunjungan ke ndu. Alat tulis puskes kali khusunya minggu 3. Laptop posbindu.22 3.13 Kebutuhan No. Melatih kader 3. Proyektor posyandu.26 S 1.19 puske 3.12 Ja3.36 Kader3.5 Kegia3.3 Gant’s Chart 3.6 S 3.30 3.28 Kader3.31 Pelak3.29 Ha 1. Alat tulis bell’s palsy n lewat rumah warga. laptop mas program pertama P2TM dan ketiga 3. Alat tulis puskes 2.4 3. keempat 4. Melakukan 3. dll .20 Tenag3.9 Rincian 3.23 Penyu 3. Proyektor dan program edukasi kali hipertensi dan minggu 3. Laptop 2 sunan ader k rencana ebulan 2 tentang edukasi smas yang terpilih ri selasa 2.33 k Terlaksa3. balai desa 5. Konsumsi tenaga bell’s palsy pertama 4.34 S 1.16 3.15 Pemb3.

Melakukan 6. mengajarkan cara konsumsi obat anti- hipertensi dan bell’s palsy . Microphone pengukuran tekanan darah secara berkala 4. mengajarkan cara pola gaya hidup sehat 5. 27 3.

42 tentang hipertensi dan bell’s palsy 3.39 Evalu 3.38 3. Pengumpulan 3.40 K1.45 Ha 1. Mencari permanen kendala dalam akibat bell’s melaksanakan palsy program 2. Alat tulis kecacatan 2.Penurunan 3.43 Puske 3. Proyektor urgensi/ sekali hipertensi dan puskesmas minggu ke 3.44 Kader3. Laptop emergensi dan bell’s palsy empat 4.Meningkatkan edukasi pengetahuan masyarakat 3. Konsumsi 4 asi ader angka HT ebulan laporan kasus smas dan tenaga ri jumat 2. 28 3.masyarakat dapat menerapkan dlm kehidupan sehari-hari 3.41 S 1.46 .

HIL sinistra repponible. diit tinggi serat.48 PENUTUP 3. S (84 tahun) menderita Hipertensi stage 2. 3.2 Saran 1. 29 .1 Kesimpulan 1.50 Pola gaya hidup sehat khususnya diet rendah garam dan olah raga teratur. dan susp. Segi Sosial :  Pasien merasa tidak percaya diri dengan masyarakat disekitarnya 4. pemeriksaan ekg di puskesmas. merubah posisi tidur. Segi fisik :  Posisi ventilasi yang tidak sesuai 4. Decomp cordis 2.51 Edukasi penderita dan keluarga mengenai bahaya hipertensi dan Bell’s palsy oleh petugas kesehatan atau dokter yang menangani. Untuk masalah medis (Hipertensi dan Bell’s palsy) dilakukan langkah- langkah :  Preventif : 3.  Promotif : 3.49 4. Segi Biologis :  Tn. mengurangi angkat-angkat yang berat. Bell’s palsy dextra.47 BAB IV 3. keluarga mendukung untuk penyembuhan penyakit tersebut  Beban pikiran penderita akan penyakitnya mempengaruhi hasil pengobatan  Pasien mengalami gangguan percaya diri akibat penampilannya 3. Segi Psikologis :  Hubungan antara anggota keluarga terjalin cukup akrab  Pengetahuan akan gizi dalam hal ini konsumsi garam masih kurang  Tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat-obatan hipertensi sebelumnya tidak baik. Katarak imatur OD.

56 .54 Mengembalikan kepercayaan diri pasien sehingga pasien bisa sembuh. konsumsi obat antihipertensi secara rutin  Rehabilitatif: 3. Menjalani terapi rehabilitasi medik 3.52  Kuratif : 3.53 Saat ini penderita memasukipengobatan rawat jalan. 30 3.55 3.

Lamongan. The Seventh Joint National Committee on Prevention Detection Evaluation andTreatment of High Blood Pressure diunduh tanggal 1 April 2016. J Indon Med Assoc. (Hal. 2010. detection. Maula N. Hipertensi dalam InfoDATIN. Diagnosis dan Tata Laksana di Pelayanan Primer. evaluation and treatment of high blood pressure VII. Januari 2012. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia dalam Majalah Kedokteran Indonesia Volume 59.58 3.60 Joint National Commitee on the prevention.57 DAFTAR PUSTAKA 3. Pengaruh Pemberian Teh Rosella Terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi Pada Lansia di Desa Windu Kecamatan Karangbinangun. Ekowati et Tuminah Sulistyowati. Jakarta: InternaPublishing FKUI.63 Rahajeng.61 Lowis. 2009.. 580-587).66 . Kabupaten Lamongan.65 Yogiantoro. 2009. 31 3. Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V.59 3. Gaharu. 2014. 1079-1085). Jakarta : Kementrian RI 3. 3. 3. 3.64 Suhadak.62 Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 3. Volum: 62. 3. Mohammad. BPPM Stikes Muhammadiyah Lamongan. Bell’s Palsy. 2003. Nomor: 1. Handoko. Jakarta: DEPKES RI (Hal.

73 3. Foto Bersama Keluarga Pasien 3.69 3.70 Gambar 2.72 3. Foto3.67 Lampiran 1: Foto Kunjungan Rumah 3.74 . 32 3.71 Halaman Depan Rumah Pasien 3.68 Gambar 1.

75 Lampiran 2: Foto Kunjungan Rumah 3. 33 3. Foto Ruang Televisi .77 Gambar 3.79 Gambar4.80 Gambar 4.78 3. Foto Kamar Pasien 3. Foto Ruang Tamu Rumah Pasien 3.76 3.

84 Gambar 5.87 3.81 Lampiran 3: Foto Kunjungan Rumah Pasien 3.89 3.82 3.92 .86 Gambar 6. 34 3.83 3.91 3.88 Gambar 6.90 3.85 3. Foto Ruang Tengah Rumah Pasien 3. Foto Kamar Mandi 3. Gudang Rumah 3.

102 3. 35 3.94 Lampiran 4: Foto Kunjungan Rumah Pasien 3. Kamar Mandi Dan Sumur Belakang Rumah 3.98 3.96 3.97 Gambar 7.100 3.104 3.105 3.93 3.106 . Dapur 3.103 3.101 Gambar 8.95 3.99 3.

112 Gambar 9.116 3.107 3.113 3.126 3.122 3.120 3.110 3.130 3.109 Lampiran 5: Foto Kunjungan Rumah Pasien 3.124 3.108 3.128 3.117 3. 36 3.123 3.119 3.111 3. Lingkungan sekitar Rumah 3.115 3.129 3.127 3.114 3.121 3.125 3.118 3.131 .

137 3.136 Lampiran 6 : Denah Rumah Pasien 3.138 WC DAPUR KAMAR MANDI KAMAR 4 TANGGA RUANG TV KAMAR 3 KAMAR 2 KAMAR 1 RUANG TAMU .132 3.134 3.133 3.135 3. 37 3.