BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemeriksaan kehamilan dengan rutin merupakan suatu hal yang
penting dilakukan oleh ibu yang sedang hamil agar mereka dapat
mejalankan kehamilannya dengan normal dan janin yang dikandungnya
dalam keadaan baik. Maka dari itu perlunya pengawasan dan pendidikan
yang diberikan oleh seorang petugas kesehatan kepada ibu hamil. Di
dalam pemeriksaan kehamilan petugas kesehatan mengarahkan dan
memberikan informasi tentang hal-hal yang harus dilakukan seorang ibu
hamil agar janin nya tetap sehat dan terjadi kelahiran normal bagi bayi.
Dengan memberikan asuhan antenatal care yang baik akan menjadi salah
satu tiang penyangga dalam safe motherhood dalam usaha menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu.
Kematian ibu merupakan masalah besar bagi negara berkembang. Ini
berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan masih
memerlukan perbaikan kesehatan yang bersifat menyeluruh dan lebih
bermutu.Resiko yang timbul dalam kehamilan ini bersifat dinamis, karena
ibu hamil yang pada mulanya normal secara tiba-tiba dapat menjadi
berisiko tinggi.
Dalam pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan
serangkai pemeriksaan laboratorium untuk mencegah hal-hal buruk yang
bisa mengancam janin. Diantaranya pemeriksaan Hb, protein dan glukosa
urine. Hal ini bertujuan untuk skrining/mendeteksi jika terdapat kelainan
yang perlu dilakukan pengobatan atau tindakan lebih lanjut.
Pemeriksaan laboratorium pada kehamilan merupakan tindakan
antisipatif guna mengetahui sejak dini risiko yang mungkin muncul dan
mengganggu perkembangan janin.
Pemeriksaan laboratorium kehamilan juga sangat penting dan
bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya risiko gangguan kesehatan pada

1

BAB II PEMBAHASAN 2 . pengalaman dan dapat mengaplikasikannya di lapangan dalam memberikan asuhan pada masa kehamilan. ibu hamil yang dapat berakibat buruk pada janin. Manfaat 1. 3. b. Tujuan 1. Tujuan Khusus a. maka penulis merumuskan masalah “ Bagaimana Cara Pemeriksaan Protein dan Glukosa Urin pada Ibu Hamil ?” C. D. Tujuan Umum Memahami Cara Pemeriksaan Protein dan Glukosa Urine pada Ibu Hamil 2. Bagi Penulis Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan masukan atau informasi untuk menambah pengetahuan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas. 2. B. Bagi Lahan Praktek Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan bacaan dan masukan terhadap tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dan selalu menjaga mutu pelayanan. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat sebagai tambahan sumber kepustakaan dan perbandingan dalam pembelajaran Asuhan Kebidanan pada Kehamilan. Memahami tentang cara pemeriksaan glukosa urine pada ibu hamil. Memahami tentang cara pemeriksaan protein urine pada ibu hamil. Apa saja yang dapat diketahui dari pemeriksaan panel awal kehamilan.

Biasanya. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi. Lebih dari 10 mg/dl didefinisikan sebagai proteinuria. hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal dan diekskresikan ke dalam urin. dituangkan dalam berbagai sifatnya saat bereaksi dengan air. Sifat-sifat protein beraneka ragam. Preeklampsia umumnya muncul pada pertengahan umur kehamilan. Protein Urine Dalam Kehamilan Preeklampsia atau sering juga disebut toksemia adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil. dan materi organik.H. Protein sangat penting sebagai sumber asam amino yang digunakan untuk membangun struktur tubuh.A. Pengertian Protein dan urine Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur C. Adanya protein dalam urine disebut proteinuria. Wanita hamil dengan preeklampsia juga akan mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine. Selain itu protein juga bisa digunakan sebagai sumber energi bila terjadi defisiensi energi dari karbohidrat dan/atau lemak. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Pemeriksaan Protein Urin 1.O dan N . meskipun pada beberapa kasus ada yang ditemukan pada 3 . beberapa reagen dengan pemanasan serta beberapa perlakuan lainnya. 2. Normal ekskresi protein biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl urin. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea). garam terlarut.

gizi buruk. Kebanyakan cara rutin untuk menyatakan adanya protein dalam urin berdasarkan kepada timbulnya kekeruhan. Pemeriksaan Protein urine Pemeriksaan terhadap protein termasuk pemeriksaan rutin. Persiapan alat dan bahan 1) Status pasien 2) Alat tulis 3) Bengkok 4) Sabun cair untuk cuci tangan 5) Handuk lecil pribadi 6) Wastafel 7) Satu buah tabung reaksi 8) Tempat tabung reaksi 4 . Karena padatnya atau kasarnya kekeruhan itu menjadi satu ukuran untuk jumlah protein yang ada. Tujuan Pemeriksaan Protein Urine Untuk mengetahui kadar protein dalam urin dan juga untuk mengetahui apakah pasien mengalami eklamsi. kegemukan dan gangguan aliran darah ke rahim. Alat Dan Bahan a. boleh terus dipakai. dan apabila kekeruhan tidak dapat dihilangkan maka bisa dilakukukan penjernihan atau penyaringan pada urine sehingga urin yang digunakan untuk pemeriksaan adalah urin yang benar-benar jernih. awal masa kehamilan. 3. 4. Penyebab pasti dari kelainan ini masih belum diketahui. maka menggunakan urin yang jernih betul menjadi syarat yang penting terhadap protein. namun beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklampsia dan eklampsia. 5. Jika urine yang akan diperiksa jernih. Faktor faktor tersebut antara lain.

Memberitahu ibu hasil pemeriksaan n. Memperhatikan kejernihan urine e. Bila urin keruh disaring dengan kertas penyaring f. Bila urin yang dipanaskan keruh tanbahkan 4 tetes asam asetat 6% dan bila kekeruhan hilang maka menunjukkan hasil yang negatif k. Membereskan peralatan 5 . Menyapa ibu dengan ramah dan sopan b. Menyiapkan dan memeriksa kelengkapan alat b. Menyalakan lampu spirtus h. Berlaku sopan dalam melakukan pemeriksaan c. Mencuci tangan c. Memanaskan tabung sampai mendidih berjarak 2-3 cm membentuk sudut 45 derajat i. Arahkan tabung yang dipanaskan ketempat yang kosong j. Memakai handscoon d. Jika urin tetap keruh maka panaskan sekali lagi dan bandingkan hasilnya l. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan d. 9) Penjepit tabung reaksi 10) Lampu spirtus 11) Corong 12) Kertas saring 13) Korek api 14) Pipet 15) Urin dalam bengkok 16) Spuit 5 cc 17) Spuit 10 cc 18) Larutan asam sulfat salisilat 20% 19) Larutan asam asetat 5% 20) Sikat tabung reaksi 21) Sabun detergen 22) Spon pencuci 23) Kain lap 24) Celemek 6. Prosedur Pelaksanaan Pemeriksaan Protein Urine a. Memposisikan ibu dengan nyaman selama pemeriksaan 7. masing + 2ml salah satu tabung sebagai bahan pembanding pemeriksaan g. Mengisi kedua tabung dengan urin. Bila setelah diapanaskan urin tetap keruh maka hasilnya positif dan baca hasil pemeriksaan m. Persiapan Pasien Persiapan pasien dalam melakukan pemeriksaan protein urine a. Pasien diminta untk BAK dan ditampung dalam botol yang sudah disediakan e.

01-0.05%) (++) : Kekeruhan mudah dilihat & nampak butir-butir dalam kekeruhan tersebut (0.5%) 6 . Cara Menilai Hasil Cara penilain ini berlaku untuk pemeriksaan dengan asam asetat (-) : Tidak ada kekeruhan (+) : Kekeruhan ringan tanpa butir-butir (0.2%) (+++) : Urin jelas keruh dan kekeruhan berkeping-keping (0.5%) (++++) : Sangat keruh dan bergumpal/memadat (>0.2-0.05-0.o. Mencuci tangan 8.

Wastafel g. Tujuan Untuk menentukan adanya glukose dalam urin secara semi kuantitatif 3. Urin dalam bengkok n. Spuit 5 cc 7 . 2. Pemeriksaan Glukosa Urin 1. gejala glukouria itu akan terjadi jika kadar glukosa darah melebihi nilai ambang ginjal . Bengkok d. Penjepit tabung reaksi j. Tempat tabung reaksi i. Ambang ginjal terhadap pengeluaran zat glukosa dengan urin. Pengertian Glukosa Urine Adanya glukosa dalam urine disebut glukosuria. ambang ginjal terhadap pengeluaran zat glukosa pada kebanyakan orang bertubuh sehat adalah 180 mg% . Korek api l. Lampu spristus k.B. Alat dan Bahan Yang Digunakan a. Prinsip Pemeriksaan Gukosa dapat mereduksi kupri dalam reagen benedict dalam larutan alkalis sehingga terjadi perubahan warna. Pipet m. dengan melihat warna yang terjadi dapat di perkirakan kadar glukosa dalam urin 4. Sabun cair untuk cuci tangan e. ambang ginjal tersebut dapat meninggi atau merendah. Handuk lecil pribadi f. Status pasien b. peristiwa yang juga terdapat pada penyakit diabetes. Satu buah tabung reaksi h. Alat tulis c. Kadar zat glukosa di dalam urin b. pada hakekatnya glukosa itu di atur oleh 2 faktor yaitu : a.

h. Bila urin keruh disaring dengan kertas penyaring f. Sikat tabung reaksi r. Baca hasil pemeriksaan l. masing 2cc salah satu tabung sebagai bahan pembanding pemeriksaan g. Arahkan tabung yang dipanaskan ketempat yang kosong k. o. Sabun detergen s. Mencuci tangan c. Mengisi kedua tabung dengan benedict. Spuit 10 cc p. Prosedur Pelaksanaan pemeriksaan Urine a. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan m. Memakai handscoon d. Kain lap u. Memanaskan tabung sampai mendidih berjarak 2-3 cm membentuk sudut 45 derajat hingga mendidih j. Tetesi Urine 4 tetes. Celemek 5. Menyalakan lampu spirtus i. Memperhatikan kejernihan urine e. Spon pencuci t. Membereskan peralatan n. Cara Membaca Hasil Pemeriksaan Negatif (-) : warna tetap biru atau sedikit kehijauan Positif 1(+) : warna hijau kekuningan Positif 2(++) : warna kuning kehijauan dan keruh Positif 3(+++) : warna jingga dan keruh Positif 4(++++) : warna merah dan keruh 8 . Laritan asam sulfat salisilat 20% q. Menyiapkan dan memeriksa kelengkapan alat b. Mencuci tangan 6.

B. Jika urine yang akan diperiksa jernih. Karena padatnya atau kasarnya kekeruhan itu menjadi satu ukuran untuk jumlah protein yang ada. Kebanyakan cara rutin untuk menyatakan adanya protein dalam urin berdasarkan kepada timbulnya kekeruhan. maka menggunakan urin yang jernih betul menjadi syarat yang penting terhadap protein. dan apabila kekeruhan tidak dapat dihilangkan maka bisa dilakukukan penjernihan atau penyaringan pada urine sehingga urin yang digunakan untuk pemeriksaan adalah urin yang benar-benar jernih. Kesimpulan Pemeriksaan terhadap protein termasuk pemeriksaan rutin. BAB III PENUTUP A. boleh terus dipakai. Pemeriksaan laboratorium mutlak harus dilakukan mengingat salah satu manfaatnya adalah untuk mendeteksi adanya penyakit yang menyertai kehamilan. Saran Dengan adanya makalah ini diharapkan petugas kesehatan khususnya bidan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan pada masa kehamilan. 9 .

Jakarta: Salemba Medika. Ika dan Saryono. Biologi Reproduksi dalam Kebidanan. DAFTAR PUSTAKA Dewi. Yogyakarta: Nuha Medika. Tri Sunarsih. 2010. Mochtar. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Yuni dkk. Jakarta : Trans Info Media. Pearce. 2011. 10 . E. Sinopsis Obstetri. 2010. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Kusmiati. Jakarta: EGC Pantika. 2009. Perawatan Ibu Hamil. Vivian Nani Lia. Jakarta : Gramedia. 1998. Yogyakarta : Fitramaya Maryunani. Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan. (2009). Anik. Rustam.

2005. Ai dkk. 2011. Ilmu Kebidanan. https://iissumiyati.Prawirohardjo.com/2016/03/12/perubahan-anatomi-fisiologi-ibu- hamil-trimester-iii-dan-iii/ 11 . Bina Pustaka. 2009. Denise. Jakarta : PT. Asuhan Kebidanan 1(kehamilan). Tiran. Sarwono. Jakarta : Trans Info Media. Jakarta : EGC Yeyeh. Kamus Saku Bidan.wordpress.