Nama : Remilla Sapta Nada

NRP : 23-2014-020
Kelas : A
Tugas Resume Fotogrametri II

1. Geometri Foto Udara

Sifat dasar dari sebuah foto udara adalah bahwa setiap bayangan diatas foto
sesuai dengan titik tunggal dari obyek yang difoto. Hubungan geometrik muncul
antara posisi spasial relatif dari bayangan dua dimensi di atas foto dan posisi yang
sebenarnya dalam tiga dimensi dari obyek. (Suyudi, Bambang dan Subroto, Tullus.
2014)

Foto udara tegak adalah foto udara yang dibuat dari pesawat terbang dengan
arah sumbu optik kamera tegak lurus atau mendekati tegak lurus. Idealnya sumbu
optik kamera kalaupun mengalami kemiringan tidak lebih dari 1º. Hanya saja dalam
kenyataan pekerjaan pemotretan banyak mengalami gangguan (getaran pesawat dan
dorongan angin) menyebabkan terjadinya perubahan posisi pesawat, bagian depan
pesawat terdorong ke atas dan mengalami pergeseran ke arah sumbu Y sehingga foto
udara yang benar-benar vertical tidak dapat diperoleh. Oleh karena itu masih terdapat
toleransi terhadap kemiringan/kesendengan sumbu optic ini sampai dengan 3º, lebih
dari angka ini foto udara dianggap sebagai foto udara condong (tilted photograph).
Khusus untuk foto udara condong terdapat teknik dan formula untuk pengukuran
tersendiri, yang berbeda dari formula yang digunakan pada foto udara tegak. (Hadi,
Bambang Syaeful. 2007)

1

Kenampakan dua dimensional foto udara tegak di atas medan datar Foto condong atau foto miring (oblique photograph). Sudut ini umumnya sebesar 100 atau lebih besar. Gambar 1. foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai citra tegak. Unsur geometrik dasar foto udara vertikal Gambar 2. jika sudut kemiringannya masih berkisar antara 1–40. (Utomo. 2 . 2015) (1) Foto agak condong (low oblique photograph). Namun. Citra condong dapat dibedakan lagi menjadi dua. yaitu jika cakra wala tidak tergambar pada citra. Eddy. yaitu sebagai berikut. yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi.

tiang listrik.  Overlap dan Sidelap.  Foto udara miring. adanya variasi tinggi terbang dan pergerakan rotasi dari pesawat menyebabkan variasi bentuk objek. sumbu optik kamera membentuk sudut terhadap arah gaya berat (tidak boleh lebih dari 3o). 3 . Gambar 3 . hal tersebut dapat diakibatkan beberapa faktor:  Pergerakan wahana. besaran overlap dan sidelap (60% untuk overlap dan 30% untuk sidelap) menyebabkan paralaks pada foto. dsb. Posisi sumbu kamera sangat miring dan gambaran bujur sangkar pada bidang foto udara yang tampakadanya horizon Geometri foto udara pada dasarnya tidak akan selalu berada pada kondisi yang ideal (tegak sempurna).  Pergeseran relief. variasi tinggi permukaan tanah menyebabkan bentuk radial dari objek-objek yang tinggi ekstrim seperti gedung tinggi. Posisi sumbu kamera miring dan gambaran bujursangkar pada bidang foto udara terlihat seperti trapezium Gambar 4 . (2) Foto sangat condong (high oblique photograph). yaitu jika pada foto tampak cakrawalanya.

Karakteristik dari foto udara yang menggunakan proyeksi perspektif ini adalah mempunyai skala yang tidak seragam dan geometri obyek yang paling teliti pada daerah yang terletak di sekitar pusat proyeksi. Restitusi adalah suatu proses mengembalikan posisi foto udara pada keadaan pada saat pemotretan dengan proses orientasi (dalam. maka untuk membuat peta dengan skala dan geometri yang benar. dan absolut).1 Sistem Proyeksi Sentral Proyeksi sentral adalah suatu poyeksi dimana sinar – sinar proyeksi melalui suatu titik O (pusat perspektif) yang berada di titik tak terhingga. Oleh karena foto udara mempunyai skala yang bervariasi. Contoh Foto udara tegak terlihat baying dan badan bangunan 2. Untuk keperluan restitusi foto tunggal atau foto stereo diperlukan titik kontrol yang dikeahui 4 . relatif. Contoh Foto udara miring Gambar 5.  Crab & Drift. Sistem Proyeksi 2. pengaruh angin yang mendorong badan pesawat menyebabkan penyimpangan pemotretan dari rencana jalur terbang membuat variasi posisi dan bisa menimbulkan gap. foto udara tersebut harus diproses terlebih dahulu dengan proses restitusi. Pada keadaan tersebut sinar – sinar membentuk objek secara geometris dengan benar dan dapat dipakai untuk membuat peta dengan cara restitusi tungggal (rektifikasi) atau dengan restitusi stereo (orthofoto). Gambar 6.

Peta adalah gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu. Kesegarisan (Collinearity) dan Kesebidangan (Coplanarity) 3. koordinatnya pada sistem foto dan sistem referensi. Titik kontrol ersebut diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan dan proses triangulasi udara. Karakteristik dari proyeksi ini mempunyai skala yang seragam. Disebut skala rata-rata karena sifat proyeksi pada foto udara adalah perspektif (sentral) yang berpusat pada titik utama (principal point). Dengan demikian skala pada masing – masing titik tidak sama kecuali apabila foto tersebut benar-benar tegak dan keadaan tanah sangat datar. Skala foto udara berbeda dengan skala pada peta.2 Proyeksi Orthogonal Proyeksi juga dapat digunakan untuk memahami dan mengetahui sifat – sifat geometris suatu foto udara. Proyeksi orthogonal merupakan suatu proyeksi 3D dimana sinar-sinar proyeksinya tegak lurus pada sebuah bidang α.rata ditentukan oleh tinggi terbang dan tinggi permukaan bumi serta besar fokus kamera. Sifat dari proyeksi pada peta adalah orthogonal. Besarnya skala rata. Gambar 7. Proyeksi Foto Udara 3. Pada foto udara dikenal skala foto. yaitu skala rata-rata dari foto udara.1 Kesegarisan (Collinearitiy) 5 . 2.

termasuk juga principal distance (c). c). sehingga memberikan ketelitian pengukuran yang tidak baik. Kamera fotogrametri tidak mempunyai lensa yang sempurna. meliputi distorsi radial dan distorsi tangensial. K2. (Prastian. K3. b2) Distorsi lensa dapat menyebabkan bergesernya titik pada foto dari posisi yang sebenarnya. Pada Software Austalis. titik foto dan titik obyek di tanah terletak pada satu garis dalam ruang. koefisien distorsi lensa (K1. serta titik pusat fidusial foto. namun tidak mempengaruhi kualitas ketajaman citra yang dihasilkan. Kalibrasi kamera dilakukan untuk menentukan parameter distorsi. Ilustrasi kondisi kesegarisan 3. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkalibrasian kamera utnuk dapat menentukan besarnya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. serta parameter-parameter lensa lainnya. Andi Heri. Kondisi ini dinamakan kondisi kolinearitas. Dalam fotogrametri syarat fundamental yang banyak digunakan adalah syarat kesegarisan berkas sinar (collinearity condition) yaitu suatu kondisi dimana titik pusat proyeksi. sehingga proses perekaman yang dilakukan akan memiliki kesalahan. Distorsi lensa dapat dibagi menjadi distorsi radial dan distorsi tangensial. model kalibrasi terdiri dari element interior orientasi (xo.2 Kesebidangan (Coplanarity) 6 . P1 and P2) serta koefisen untuk perbedaan penyekalaan dan ketidak ortogonal antara sumbu X dan Y (b1. yo. 2013) Gambar 8.

Disebut skala rata-rata. a2 dan A seluruhnya terletak pada satu bidang. a1. kecuali bila foto udara tersebut benar-benar tegak dan keadaan permukaan tanah sangat datar. Skala foto udara berbeda dengan skala peta pada umumnya. Oleh karena foto udara mempunyai skala yang bervariasi. berpusat pada titik utama (principal point). Syarat kesebidangan adalah syarat bahwa kedua titik pusat eksposur dari sepasang foto stereo.1 Skala Foto Udara Pada foto udara dikenal skala foto. Ilustrasi Kondisi Kesebidangan 4. Besarnya skala rata-rata ditentukan oleh tinggi terbang dan tinggi permukaan bumi serta besar focus kamera. Sifat proyeksi pada peta adalah orthogonal. sebarang titik obyek di tanah dan titik tersebut pada kedua foto terletak pada satu bidang. Peta adalah gambaran / presentasi dari permukaan bumi dengan skala tertentu. foto udara tersebut harus 7 . maka untuk membuat peta dengan skala dan geometri yang benar. Skala Foto Udara dan Pandangan Stereo 4. 2004) Gambar 9. titik L1. L2. Dengan demikian skala di masing-masing titik tidak akan sama. (Booby. karena sifat proyeksi pada foto udara adalah perspektif (sentral). yaitu skala rata-rata dari foto udara.

Titik-titik kontrol tersebut diperoleh sebagai hasil pengukuran di lapangan dan proses triangulasi udara. Pengertian restitusi adalah mengembalikan posisi foto udara pada keadaan seperti pada saat pemotretan dengan proses orientasi (orientasi dalam. disebut sebagai proses restitusi foto udara. Untuk keperluan restitusi foto tersebut (tunggal maupun stereo) diperlukan titik-titik kontrol yang diketahui koordinatnya pada sistem foto dan sistem referensi. Foto udara pada permukaan bumi permukaan bumi yang tidak datar 8 . Pada keadaan tersebut sinar-sinar yang membentuk objek secara geometris telah benar dan dapat dipakai untuk membuat peta dengan cara restitusi tunggal (rektifikasi) ataupun dengan cara restitusi stereo (orthofoto). absolut). Gambar 10 . relatif. diproses terlebih dahulu. Hubungan foto udara dengan Gambar 11 .

9 . Dengan penglihatan binokuler bila mata difokuskan ke titik tertentu maka sumbu optic dua mata memusat pada titik yang memotong sebuah sudut yang disebut sudut paralaktik. Kemampuan mata untuk dapat membedakan jarak suatu obyek berkisar pada jarak 2 cm sampai deangan 50 meter. Pergeseran Relief pada Foto Vertikal 4. Selebihnya dari jarak itu orang tidak dapat melihat kesan keruangan atau tak ubahnya seperti melihat secara monoskopik. Cara memandang seperti ini akan memberikan kesan kedalaman atau keruangan. Gambar 12 . Ini berarti bahwa cara kerja fotogrametri untuk menentukan tinggi obyek dan variasi medan berdasar persepsi kedalaman dengan membandingkan sudut paralaktik dapat mencapai ketelitian yang tinggi.2 Pemandangan Stereoskopik/ Pandangan Stereo Pemandangan stereoskopik hanya dapat dilakukan dengan pengamatan menggunakan dua mata secara bersamaan. Semakin dekat obyeksemakin besar sudut paralaktikdan sebaliknya. Kemampuan mata manusia untuk mendeteksi kedalamanan ternyata hebat sekali yaitu mampu mengenali perubahan sudut paralaktik sekitar 3” busur bahkan beberapa orang mampu membedakan perubahan sekitar 1”.

2.1 Stereoskop Stereoskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat pasangan foto udara secara stereoskopik atau tiga dimensional. Stereoskop lensa atau saku.4. a. Bambang dan Subroto. dua cermin pengamat dan dua cermin tepi dan biasanya dilengkapi juga dengan paralaks bar/ tongkat paralaks/stereometer. Paralaks y kecil hanya akan mempengaruhi tegangan mata dan apabila besar maka tidak dapat dibentuk model tiga dimensi. Cara kerja semua stereoskop pada dasarnya sama. Pengamatan stereoskopik yang tepat dan baik harus memenuhi beberapa syarat yaitu basis mata. Sepasang foto yang diorientasikan secara tepat untuk pengamatan stereoskopik dapat dilihat sebagaimana gambar berikut. garis penghubung pusat lensa dan jalur terbang harus saling sejajar. Stereoskop ini berukuran kecil dapat dimasukkan saku dan hanya terdiri dari dua lensa yang berjarak sebesar basis mata. Beberapa keuntungan stereoskop ini adalah bahwa foto udara tidak saling menutup dan dapat diamat seluruh model. Terdiri dari dua lensa. Gambar 13 . (Suyudi. b. Sepasang fototerorientasi dengan baik Apabila tidak terpenuhi syarat di atas maka akan terjadi paralaks y (py). Jenis stereoskop terbagi atas . 2014) 10 . Setereoskop cermin. Tullus.

bila tinggi terbang di atas datum H. maka p terletak di p’pada bidang datum. Bambang dan Subroto. Ketinggian suatu titik terhadap datum ( h ) bertambah besar. Arah pergeseran ini radial menjauhi pusat foto karena titik P terletak di atas bidang datum. Sebaliknya untuk titik Q yang terletak di bawah bidang datum bayangannya adalah q sehingga pergeseran reliefnya q’q yang arahnya radial menuju pusat foto. Pergeseran Relief pada Foto Vertikal 11 . 2014) Sebagai contoh pergeseran relief p’p = Δr. Pada gambar berikut dijelaskan titik P adalah sebuah titik di terrain. (Suyudi.5. c. dan bayangannya pada bidang negatifadalah p. r adalah jarak dari pusat foto ke bayangan yang tampak p. Bayangan yang terbentuk dari titik p’ ini di bidang film adalah p’. Tullus. Padahal kenyataannya P terletak pada ketinggian h. Tinggi terbang semakin rendah. Pergeseran Relief Pergeseran relief adalah pergeseran posisi bayangan dari suatu titik di atas foto yang disebabkan oleh ketinggian obyek tersebut diatas bidang datum. Jarak radial ( r ) dari titik nadir (pusat foto vertikal) bertambah besar.maka pergeseran relief : Δr = ( h/H )/ r Berdasarkan rumus di atas pergeseran relief akan bertambah besar jika : a. Gambar 14 . Apabila titik P tersebut tidak mempunyai perbedaan tinggi (h=0) terhadap datum. Pergeseran posisi p’p disebut pergeseran relief. b.

(2) analitik. Hasilnya lebih bersifat optik mekanik dan elektro optik yang menghasilkan gambaran rona foto berkesinambungan dimana gambar pada foto yang mengalami kemiringan telah diubah menjadi lokasi yang telah direktifikasi. Disamping itu foto-foto udara dapat sedikit diperkecil atau diperbesasar untuk membetulkan dari perubahan-perubahan kecil dalam ketinggian terbang antara tempat-tempat pengambilan foto dan dari elevasi-elevasi daratan rata-rata yang berbeda. Rektifikasi dan Orthofoto 6. yakni titik yang dapat diidentifikasi secara khusus sehingga lokasinya pada foto dapat diukur. yakni : (1) grafik. sehingga sangat mungkin berbeda dari skala aslinya (Wolf. (Suyudi. Tullus. yakni skala rata-ratanya dapat diubah menjadi skala yang dikehendaki. (3) optik mekanik. Kelebihan dari dua cara ini adalah produknya dapat digunakan untuk membuat peta foto dan mozaik. Cara pertama dan kedua memiliki kelemahan karena hanya dapat diterapkan pada titik-titik individual tertentu. Pada masing-masing metode tersebut. (4) elektro optik. 2014) 12 .1 Rektifikasi Rektifikasi dilakukan dengan menciptakan kembali kemiringan nisbi antara negatif film yang mengalami kemiringan dengan kertas pencetak. foto yang direktifikasi dapat disesuaikan skalanya. Langkah ini akan menghasilkan foto-foto yang diimbangkan (rationed prints) yang mempunyai skala rata-rata yang kurang lebih sama untuk suatu seri foto- foto. Rektifikasi dapat dilakukan dengan salah satu dari empat cara.6. 1993). Bambang dan Subroto. Foto hasil rektifikasi dengan metode ini tidak seluruhnya berupa foto karena fotonya tidak seluruhnya tersusun oleh gambar foto. Cara ini jauh lebih murah daripada raktifikasi.

Ia juga ditakrifkan sebagai fotograf yang menunjukkan imej objek dalamkedudukan ortografi sebenar. Contoh dari Orthofoto Gambar 16. (Leo.2 Orthofoto Ortofoto adalah fotograf rupa bumi yang telah direktifikasikan dengan jitu mengandungi semua paramuka-paramuka yang lazim tergambardi fotoudara. 2013) Contoh ortofoto: ‘Transmission line’ adalah bengkok di atas fotoudara tetapi ianya adalah lurus di atas ortofoto. Pedro.(Les. Dalilah Dila. 2011) Gambar 15. (Leo. Ortofoto adalah fotograf yang menunjukkan imej objek dalam kedudukan ortografi sebenar dan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan peta ATAU Salinan fotografi dari foto udara (berunjuran perspektif) di mana anjakan imej akibat dari kesan kesengetan kamera (foto) dan kesan relif rupabumi telah dihapuskan. 2011) 6. Dihasilkan dengan menghilangkan kesengetan foto dan skala berbeza dari satu titik ke titik yang lain disebabkan oleh anjakan paramuka iaitu kesan rupabumi yang tidak rata. Perbedaan pandangan Orthografik dan prespectif 13 . Dalilah Dila.

Bambang dan Subroto. Bambang Syaeful.2 Fotogrametri Interpretatif Fotogrametri interpretatif terutama mempelajari pengenalan dan identifikasi objek serta menilai arti pentingnya objek tersebut melalui suatu analisa sistematik dan cermat. elevasi. dan bentuk objek). luas. 2007) Pengolahan citra fotografik amupun non fotografik ( radar. pertanian. Fotogrametri interpretatif meliputi cabang ilmu interpretasi foto udara dan penginderaan jauh. Pemanfaatan fotogrametri metric yang paling banyak digunakan adalah untuk menyusun peta planimetrik dan peta topografi. keteknikan. satellite imagery. 2014) Penentuan geometri dan posisi obyek melalui pengukuran/ pengamatan. Bambang dan Subroto. sudut. disamping untuk pemetaan geologi. dan volume dari hasil proses fotogrametris. luas. (Suyudi. ukuran. dan lain-lain. kehutanan. 2014) 8. Fotogrametri Non-foto 9. Tullus. (Hadi. sudut. Model Foto (Orientasi Dalam.7. Tullus. volume. Fotogrametri Metrik dan Interpretatif 7. Berkas sinar yang berpasangan tersebut disimulasikan dengan memproyeksikan pasangan foto 14 . Relatif dan Absolut) 9. 2007) 7. (Hadi.1 Fotogrametri Metrik Fotogrametri Metrik mempelajari pengukuran cermat berdasarkan foto dan sumber informasi lain yang pada umumnya digunakan untuk menentukan lokasi relatif titik-titik (sehingga dapat diperoleh ukuran jarak. baik jarak. dan lain-lain) guna pembentukan basis data bagi keperluan rekayasa tertentu. pertanahan. Bambang Syaeful.1 Orientasi Dalam Orentasi dalam pada hakekatnya adalah merekonstruksi berkas sinar dari foto udara seperti pada saat foto tersebut diambil oleh kamera. (Suyudi.

sehingga ketepatan mata terarahkan. (Suyudi. Bila perpotongan tiap berkas sinar pada model terpenuhi. atau yang dikenal 6 titik von Gruber. kemudian dengan “zoom” atau perbesaran arah letak bacaan dapat ditepatkan (dengan salah satu mata). selanjutnya dengan bantuan pengimpitan mata yang lain akan mampu berimpit di titik baca A. 15 . Ghulam Arfi. Tullus. Pada salah satu posisi titik A (tanda fidusial) dapat diarahkan dengan cara pembacaan titik apung (floating mark) secara kasar. Agar pelaksanaan pengaturan berkas sinar terpenuhi. positifnya menggunakan proyektor. (Ghifari. 2014) Gambar 17.2 Orientasi Relatif Tujuan orientasi relative adalah membetulkan posisi perpotongan tiap berkas sinar pada permukaan model selalu pada masing-masing titik sekutunya. diperlukan syarat 6 (enam) titik standar pada model. Bambang dan Subroto. atau tiap titik pada model merupakan perpotongan kedua arah berkas sinar dari pasangan foto kiri dan kanan ( dari stereogram ). Proses penempatan perpotongan berkas sinar dengan dasar teori menghilangkan / meniadakan paralaks pada ke-6 titik von Gruber tersebut. 2014) Cara penempatan sepasang foto (stereogram) tetap dengan metode standar pada plotter analog. Proyektor yang digunakan diset sesuai dengan karakteristik kamera yang dipakai dalam pemotretan. Penempatan tanda silang pada posisi ke-empat titik fidusial tersebut lewat panduan software. maka model akan nampak dalam posisi sebenarnya dalam keruangan atau tiga-demensi (akan mewujudkan model topografi). yalah penempatan letak 4 fiducial marks pada tempatnya. Ilustrasi Orientasi Dalam 9.

dalam hal ini floating mark atau tanda baca digerakkan lewat kursornya. satu persatu. Kalau titik tersebut memakai tanda (pre-mark) maka penemoatan akan lebih cepat dan mudah 16 . Kalau masih terlalu besar kesalahan akhir. Untuk meniadakan paralaks dengan menu program pula. Kemudian px (paralaks arah-x) dihilangkan dengan “footdisk” Bila 6 titik yang mewakili seluruh model tersebut (titik von Gruber) telah dihilangkan paralaks masing-masing.3 Orientasi Absolut Proses pembentukan model-stereo dilaksanakan dengan bantuan 4 titik ikat atau minor control points yang diketahui koordinatnya ( lihat table di atas ). Mula-mula dihilangkan secara kasar dengan track ball agar py = 0 b. dilakukan entry data koordinat terlebih dahulu seusai proses orientasi relative. Selain model belum memiliki skala yang benar. perlu di cek hasil akhirnta lewat residu error yang ditetapkan (misalnya sampai kesalahan 4 mikron saja). Tullus. Pada dasarnya pembuatan model tiga demensi atau mewujudkan model stereo. operator akan dipermudah lewat perangkat bantu : a. Perlu dua tindakan lanjut seperti pada cara analog (scaling and leveling). Tinggal penghalusan penempatan secara hati-hati dengan floating mark di impitkan pada posisi titik ikat. maka posisi penempatan secara kasar telah mendekati. proses di atas perlu diulang lagi. Karena entry data 4 titik ikat telah dilakukan. 2014) Gambar 18. (Suyudi. Bambang dan Subroto. belum bisa dimulai pengukuran/ penggambaran ( ploting detail ) karena skala model belum terkoreksi. Operator tinggal penempatan kursor pada layer monitor sesuai perintah menu yang ada. Sebelum mulai tahap orientasi absolute. Ilustrasi Orientasi Relatif 9. dengan panduan menu software yang ada dalam proses orientasi. juga belum dikembalikan kepada datum yang benar.

Bila masih akan diperbaiki bisa diulang tiap langkahnya. Kualitas penempatan tergantung bagaimana operator mampu membaca secara tepat (dapat dibantu dengan fasilitas pembesaran/ zooming ).mencarinya. dapat dikatakan cukup. Pada dasarnya setiap penempatan posisi titik ikat akan sama artinya dengan pembetulan skala model dan pembetulan elevasi datum (seperti layaknya dalam tahap scaling dan leveling bila dilakukan pada plotter analog). Setiap langkah orientasi selalu dapat dikontrol kualitas dan ketelitiannya. Ilustrasi dari semua orientasi foto 17 . Gambar 19. maka bila telah dipenuhi toleransinya.