BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap individu selalu mempunyai sifat yang berbeda satu dengan yang
lainnya. Sifat tersebut menjadi ciri khas bagi seseorang. Dengan sifat tersebut
maka kita dapat mengetahui bagaimana sifat seseorang tersebut. Sama halnya
dengan manusia organisasi juga mempunyai sifat-sifat tertentu. Dan melalui sifat-
sifat tersebut kita juga dapat mengetahui bagaimana karakter dari organisasi
tersebut. Sifat tersebut kita kenal dengan budaya organisasi atau organization
culture. Sebagaimana budaya-budaya yang dimiliki oleh setiap suku bangsa yang
memiliki sistem nilai dan norma dalam mengatur masing-masing anggotanya dari
suku bangsa tersebut maupun orang yang berasal dari suku lain, dengan demikian
dapat dikatakan bahwa suatu organisasi juga memiliki budaya yang mengatur
bagaimana anggota-anggotanya untuk bertindak. Budaya memberikan identitas
bagi para anggota organisasi dan membangkitkan komitmen terhadap keyakinan
dan nilai yang lebih besar dari dirinya sendiri. Meskipun ide-ide ini telah menjadi
bagian budaya itu sendiri yang bisa datang di manapun organisasi itu berada.
Dalam suatu organisasi budaya berfungsi untuk menghubungkan para anggota
sehingga mereka tahu bagaimana berinteraksi satu sama lain.

Budaya organisasi merupakan suatu pola dari asumsi-asumsi dasar yang
ditemukan, diciptakan atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dengan
maksud agar organisasi bisa mengatasi, menanggulangi permasalahan yang timbul
akibat adaptasi eksternal dan integritas internal yang sudah berjalan dengan cukup
baik. Sehingga perlu diajarkan dan diterapkan kepada anggota-anggota baru
sebagai cara yang benar untuk memahami, memikirkan dan merasakan berteman
dengan mereka tersebut (Scain dalam Loko, 2004:30).

Pada dasarnya setiap individu yang tergabung didalam sebuah organisasi
memiliki budaya yang berbeda, disebabkan mereka memiliki latar belakang
budaya yang berbeda, namun semua perbedaan itu akan dilebur menjadi satu di

apabila salah satu dari sub sistem tersebut rusak. Oleh karena itu penelitian ini memberikan pemahaman terhadap mahasiswa ilmu administrasi bisnis tentang penerapan budaya organisasi pada perusahaan agrobisnis Tarutama Nusantara. maka akan mempengaruhi kepada sub-sub sistem yang lain. Hal ini sangat terkait dengan budaya organisasi yang diterapkan pada perusahaan tersebut. Untuk menjadikan sistem tersebut berjalan dengan semestinya maka individu-individu yang ada didalamnyalah yang berkewajiban untuk mengaturnya. karena kinerja adalah pencapain yang baik dalam hal prestasi. Sehingga perusahaan tersebut memiliki keunggulan bersaing dibandingkan dengan perusahaan yang juga bergerak dibidang agrobisnis di Kota Jember.dalam sebuah budaya yaitu budaya organisasi. Dengan adanya sifat saling memiliki dan peduli oleh pegawai dalam suatu organisasi maka kita dapat melihat dan menilai kinerja pegawai pada sebuah organisasi. tetapi dalam proses tersebut tidak tertutup kemungkinan ada individu yang bisa menerima dan juga yang tidak bisa menerimanya. Organisasi merupakan suatu sistem yang mana satu sama lainnya saling mempengaruhi. . Tarutama Nusantara merupakan perusahaan yang bergerak dibidang agrobisnis dengan SDM yang memiliki kompeten mengelola organisasi dengan baik. Dalam hal tersebut akan menimbulkan konflik atau persaingan budaya dalam organisasi untuk menjadi sebuah budaya yang dianggap lebih sesuai pada organisasi tersebut. Hal ini tentu akan mengakibatkan ketidaknyamanan pegawai dalam sebuah organisasi yang pada akhirnya akan bepengaruh terhadap kedisiplinan dan kinerja pegawai. yang berarti selama anggota atau individunya masih suka dan melaksanakan tanggung jawab sebagaimana mestinya maka organisasi tersebut akan berjalan dengan baik. yang mungkin bertentangan dengan budaya yang dimilikinya. Semakin besar kinerja pegawai kepada organisasinya maka semakin banyak hal yang akan mampu dilakukan oleh organisasi dan sebaliknya. untuk menjadi sebuah kelompok yang bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi sebagaimana yang telah disepakati bersama sebelumnya.

BAB II.2 Rumusan Masalah Bagaimana Penerapan Budaya Organisasi pada Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara? 1.3 Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah: Untuk mengetahui penerapan budaya kerja organisasi yang sesuai dengan norma- norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku anggota atau pegawai organisasi pada Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara.1. 1.4 Manfaat Penelitian Sebagai bahan kajian yang dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada matakuliah perilaku organisasi. TINJAUAN PUSTAKA . serta dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir melalui penulisan proyek ini.

1 Pengertian budaya organisasi Menurut Stoner (dalam Lako. Orientasi tim Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim. Perhatian perincian Sejauh mana para karyawan diharapkan memperliahtkan presisi atau kecermatan. Budaya organisasi mengacu kesuatu sistem magna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain. Menurut Davis (dalam Lako. bukannya individu-ndividu. d. dan perhatian kepada perincian.2. dijiwai dan dipraktekan oleh organisasi sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi. c. Kemantapan Sejauh mana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo sebagai kontras dari pertumbuhan. norma perilaku dan harapan-harapan yang disumbangkan oelh anggota organisasi. b. Orientasi orang Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang didalam organisasi itu. 2004: 29) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dipahami. Inovasi dan pengmabilan resiko Sejauh mana karyawan untuk inovatif dan mengambil resiko. a. 2004: 29) mendefenisikan budaya organisasi sebagai suatu cognititiveframework yang meliputi sikap. Kegaresifan Sejauh mana oarang-orang itu agresif dan kompetitif dan bukannya santai- santai. g. Sistem magna bersama ini bila diamati dengan seksama merupakan seperangkat karakteristrik utama berikut yang bersama-sama menangkap hakikat dari suatu budaya organisasi. nilai-nilai. e. . bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil itu. f. analisis. Orientasi Sejauh mana manajemen berfokus pada hasil.

dan yang serupa. tidak dengan apakah mereka menyukai budaya itu atau tidak. Kepuasaan kerja berhubungan dengan bagaimana perasaan karyawan merasa menyangkut harapan organisasi itu. Setiap karakteristik ini berlangsung pada suatu kontinue dari rendah ketinggi. Gambaran ini mejadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengeani orgnaisaisi itu. Riset mengenai budaya organisasi telah berupaya mengukur bagaimana karyawan memandang organisasinya. Sebaliknya. Apakah organisasi itu mendorong kerja tim? Apakah organisasi itu mengimbali inovasi? Apakah melumpuhkan prakarsa. maka dengan menilai organisasi itu kepada tujuh karakteristik. bagaimana urusan diselesaikan didalamnya dan cara para anggota diharapkan berperilaku.2 Organisasi Mempunyai Budaya yang Seragam Budaya organisasi menyatakan suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu. kepuasaan kerja adalah evaluatif. hendaknya diingat bahwa istilah budaya organisasi adalah deskrptif. akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. 2. Budaya organisasi berhubungan dengan bagaimana karyawan mempersepsikan karakteristik dari budaya suatu organisasi. Meskipun tidak diragukan kedua istilah ini mempunyai karakteristik yang tumpang tindih. Ini dijadikan eksplisit bila kita mendefinisikan budaya sebagai suatu sistem dari makna bersama. Artinya. Ini penting karna hal ini memperbedakan konsep ini dari konsep kepuasan kerja. praktik imbalan. Oleh karena itu kita kana mengharapkan bahwa individu-individu dengan latar belakang yang berlainan atau pada tingkat-tingkat yang berlainan dalam organisasi itu akan cenderung memberikan budaya organisasi dalam istilah-istilah yang serupa. budaya itu merupakan suatu istilah deskriptif. kepuasan kerja berupaya mengukur respon afektif terhadap lingkungan kerja. .

budaya (subkultur) cenderung berkembang dalam organisai besar untuk mencerminka masalah. Jika organisasi-organisasi tidak mempunyai budaya dominan dan tersusun hanya dari sangat banyak anak budaya. Nilai inti pada hakikatnya dipertahankan tetapi dimodifikasi untuk mencerminkan situasi yang jelas terbedakan dari unit yang terpisah itu. kita mengacu pada budaya dominannya.3 Budaya Kuat Lawan Budaya Lemah Menurut Vijay Sathe dalam Tika (2006:108) budaya organisasi yang kuat adalah budaya organisasi yang ideal di mana kekuatan budaya mempengaruhi intensitas perilaku. 2. Kebanyakan organisasi besar mempunyai suatu budaya yang dominan dan sejumlah anak budaya. Disamping faktor kepemimpinan ada dua faktor besar yang ikut menentukan kekuatan budaya organisasi yaitu kebersamaan dan intensitas. Tetapi pengakuan bahwa budaya organisasi mempunyai sifat-sifat bersama tidaklah berarti bahwa tidak ada anak budaya (subkultur) di dalam setiap budaya yang ada. Tetapi kita tidak dapat mengabaikan realitas bahwa banyak organisasi juga mempunyai anak budaya yang dapat mempengaruhi perilaku anggota-anggotanya. atau rambu-rambu departemen dan pemisahan geografis. Adalah aspek “makna bersama” dari budaya yang membuatnya sebagai peranti yang ampuh untuk memandi dan membentuk perilaku itu. Adalah pandangan makro mengenai budaya inilah yang memberi kepada organisasi itu kepribadiannya yang jelas terbedakan. Ini akan mencakup nilai inti dari budaya dominan plus nilai-nilai tambahan yang unik bagi anggota-anggota departemen. Suatu budaya yang dominan mengungkapkan nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh mayoritas anggota organisasi itu. Bila kita bicara mengenai budaya suatu organisasi. situasi. Kebersamaan dapat ditunjukan dengan besarnya derajat kesamaan yang dimiliki . Anak. nilai budaya organisasi sebagai suatu variabel independen akan sangat berkutang karena tidak akan ada penafsiran yang seragam atas apa yang menggambarkan perilaku yang tepat dan tidak tepat.

Apabila hal ini terjadi maka tugas-tugas tidak akan dapat dilakukan dengan baik. den komitmen organisasi. Budaya kuat mempunyai dampak yang lebih besar pada perilaku karyawan dan lebih langsung dikaitkan pada pengurangan tingkat keluarnya karyawan. kesetiaan kepada kelompok melebihi kesetiaan kepada organisasi dan anggota organisasi tidak segan-segan mengorbankan kepentingan organisasi untuk kepentingan kelompok atau kepentingan sendiri.4 Budaya vs Formalisasi . Selain itu dalam organisasi yang lemah mudah terbentuk kelompok-kelompok yang bertentangan satu sama lain. Suatu budaya kuat akan mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku anggotanya-anggotanya karena tingginya tingkat kebersamaan (sharedness) dan intensitas menciptakan suatu iklim internal dari kendali perilaku yang tinggi.oleh para anggota organisasi tentang nilai-nilai inti. Sedangkan intensitas adalah derajat komitmen para anggota organisasi terhadap nilai-nilai inti. Suatu hasil spesifik dari suatu budaya yang kuat seharusnya adalah menurunnya tingkat keluarnya karyawan. kesetiaan. Selanjutnya kualitas ini mengurangi kecendrungan karyawan untuk meninggalkan organisasi itu. Hal ini terlihat dari kurangnya motivasi atau semangat kerja.timbul kecurigaan-kecurigaan. Makin banyak anggota yang menerima nilai-nilai inti dan makin besar komitmen mereka pada nilai-nilai itu. nilai inti organisasi itu dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas. Budaya organisasi yang lemah adalah budaya organisasi yang kurang didukung secara luas oleh para anggotanya dan sangat dipaksakan serta memberi pengaruh negatif pada organisasi karena akan memberi arah yang salah kepada para pegawainya. makin kuat budaya tersebut. Suatu budaya yang kuat memperlihatkan kesepakatan yang tinggi di kalangan anggota mengenai apa yang dipertahankan oleh organisasi itu. Dalam suatu budaya kuat. komunikasi kurang lancar dan lunturnya loyalitas serta kesetiaan kepada organisasi 2.. Kebulatan maksud semacam itu membina kekohesifan.

hendaknya kita menyadari bahwa suatu budaya yang kuat dapat berindak sebagai suatu pengganti untuk formalisasi. makin kurang manajemen itu perlu memperhatikan penggembangan aturan dan pengaturan formal untuk memandu perilaku karyawan. ketertiban. Dalam pengertian ini. Formalisasi tinggi dalam suatu organisasi menciptakan kemampuan untuk diramal (precditability). Suatu budaya yang kuat mencapai tujuan akhir yang sama tanpa perlu dokumentasi tertulis. Suatu budaya organisasi yang kuat meningkatkan konsistensi perilaku. Panduan tersebut akan diinternalkan dalam diri para karyawan ketika mereka menerima budaya organisasi itu. Formalisai dan budaya sebagai dua jalan yang berlainan ke tujuan yang sama.1 Jenis Penelitian . Makin kuat budaya suatu organisasi. dan konsistensi. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.

(Sugiono. dan perbedaan budaya organisasi dengan budaya eksternal. 3. budaya kuat dalam organisasi. Untuk menjawab pertanyaan penelitian. 3. Informan kunci adalah informan yang . Dalam penelitian ini. dan informan pendukung. 2004:35). penulis menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk menguraikan bagaimana penerapan budaya organisasi pada Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara. Metode deskriptif memusatkan perhatian pada masalah-masalah atau fenomena-fenomena yang ada pada saat penelitian dilakukan atau masalah yang bersifat aktual. kemudian menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki diiringi dengan interpretasi rasional yang akurat. karakteristik budaya organisasi. internalisasi budaya organisai. core value. budaya dominan. maka penelitian akan difokuskan pada penerapan budaya organisasi. akurat dan terpercaya baik berupa pernyataan. keterangan atau data-data yang dapat membantu dalam memenuhi persoalan/permasalahan tersebut. Berdasarkan definisi tersebut maka impelementasi budaya organisasi akan dibatasi pada. penulis memilih menggunakan informan kunci (key informan). Di dalam melakukan penelitian. nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingah laku bagi anggota-anggotanya untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrsi internal. Budaya organisasi adalah seperangkat asumsi atau sistem keyakinan.2 Fokus Penelitian Objek penelitian ini adalah Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara yang terdiri dari unsur pimpinan dan staf. Dengan demikian penelitian ini akan menggambarkan fakta-fakta dan menjelaskan keadaan dari objek penelitian berdasarkan fakta-fakta sebagaimana adanya dan mencoba menganalisa untuk memberi kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dilapangan.3 Informan Informan adalah seseorang yang benar-benar mengetahui suatu persoalan atau permasalahan tertentu yang darinya dapat diperoleh informasi yang jelas. budaya organisasi dan formalisasinya.

yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Data primer yaitu. data dan informasi.5 Teknik Analisa Data Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa data kualitatif. Teknik analisa data kualitatif menyajikan data kualitatiif yang dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data kualitatif seperti keterangan dari informan dan hasil dokumentasi. data yang langsung diperoleh dari lapangan. 3. Data dan informasi yang bersifat kualitatif tersebut selanjutnya diinterpretasikan oleh peneliti sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara menelaah sejumlah buku. b) Wawancara.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam penulisan ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan: 1. sesuai dengan indikator-indikator model yang digunakan. dan dokumen/arsip yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. 2. karya ilmiah. Data sekunder yaitu. pemimpin perusahaan. yang diperoleh melalui: a) Observasi. sedangkan yang menjadi informan pendukung adalah staff manajemen suber daya manusia. 3. Teknik analisa data kualitatif adalah teknik analisa yang didasarkan atas kemampuan nalar penulis dalam menginterpretasikan fakta. sedangkan informan pendukung adalah informasi yang ditentukan dengan dasar pertimbangan mengetahui dan berhubungan dengan permasalahan saja.mengetahui secara mendalam permasalahan yang sedang diteliti. Atas dasar pertimbangan maka dalam penelitian ini yang menjadi key informan adalah. yaitu mendapatkan data dengan cara mewawancarai informan kunci dan informan pendukung. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk memperoleh data dan informasi serta untuk menganalisis data dan informasi yang telah diperoleh adalah sebagai berikut: .

Sehingga dengan demikian peneliti dapat melihat bagaimana perbandingan anatara teori dengan keadaan dilapangan. yaitu penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisa kualitatif.a. Setelah menguraikan fakta yang ada dilapangan berdasarkan data dan informasi tersebut. Penyajian dan analisis data ini dilakukan dengan menguraikan masing-masing indikator-indikator penelitian berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dilapangan baik melalui hasil wawancara atau observasi maupun dari data-data sekunder. b. . berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. e. Disamping itu peneliti juga mengumpulkan data sekunder berupa dokumen-dokumen yang berhubungan dengan objek penelitian. observasi. setelah data informasi tersebut dikelompokam. maka peneliti kemudian menentukan metode penelitian yang akan digunakan. setelah data dan informasi yang dibutuhkan terkumpul. serta melakukan pengamatan terhadap kondisi dan situasi dilokasi penelitian untuk melengkapi data yang dibutuhkan. peneliti kemudian menyimpulkan bagaimana sesungguhnya penerapan budaya organisasi pada Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara dengan berpatokan kepada indikator-indikator dari model implementasi yang digunakan. c. sesuai dengan teknik pengumpulan data yang telah ditetapkan sebelumnya. d. setelah itu. maka peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan yang benar-benar mengetahui bagaimana penerapan budaya organisasi pada Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara. untuk memperoleh data yang diperlukan. dan data sekunder) dengan teori-teori yang berhubungan dengan indikator tersebut. peneliti kemudian menganalisisnya dengan membandingkan keadaan lapangan (dari hasil wawancara. peneliti kemudian melakukan penyajian data dan analisis data. peneliti kemudian memilah-milah data dan informasi tersebut kedalam indikator-indikator penelitian yang telah ditentukan sebelumnya.