a.

Definisi

Cedera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis
pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan ( accelerasi – decelerasi ) yang merupakan
perubahan bentuk. Dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan
penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai
akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

Prinsip – prinsip pada trauma kepala:

Ø Tulang tengkorak sebagai pelindung jaringan otak, mempunyai daya elatisitas untuk mengatasi
adanya pukulan.

Ø Bila daya/toleransi elastisitas terlampau akan terjadi fraktur

Ø Berat/ringannya cedera tergantung pada:

1. Lokasi yang terpengaruh:

· Cedera kulit

· Cedera jaringan tulang

· Cedera jaringan otak

2. Keadaan kepala saat terjadi benturan

Ø Masalah utama adalah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial ( TIK )

Ø TIK dipertahankan oleh 3 komponen:

1. Volume darah / pembuluh darah ( ± 75 – 150 ml )

2. Volume jaringan otak ( ± 1200 – 1400 ml )

3. Volume LCS ( ± 75 – 150 ml )

Masalah yang timbul dari trauma kepala:

b. Tipe Trauma Kepala

Tipe/macam-macam trauma kepala antara lain:

Trauma kepala terbuka
Kerusakan otak dpat terjadi bila tulang tengkorak mauk ke dalam jaringan otak dan melukai:

pusing. istirahat cukup. b Kontosio . muntah.Ø Merobek durameter ® LCS merembes Ø Saraf otak Ø Jaringan otak Gejala fraktur basis: Ø Battle sign Ø Hemotympanum Ø Periorbital echymosis Ø Rhinorrhoe Ø Orthorrhoe Ø Brill hematom Trauma kepala tertutup a Komosio · Cidera kepala ringan. · Disfungsi neurologis sementara dan dapat pulih kembali. · Hilang kesadaran sementara. aktivitas sesuai. · Setelah pulang ® kontrol. · Tanpa kerusakan otak permanen. · MRS kurang 48 jam ® kontrol 24 jam pertama. · Tidak ada gejala sisa. · Istirahat mutlak ® setelah keluhan hilang coba mobiliasi brtahap. · Muncul gejala nyeri kepala. · Disorientasi sementara. diet cukup. · Tidak ada terapi khusus. kurang dari 10 – 20 menit. duduk ® berdiri ® pulang. observasi tanda-tanda vital.

bingung. . serebrasi. · Gejala : . · Biasanya pecah vena ® akut. .PTIK meningkat . konvulsi. kantuk. reflek patologik positif. d. lumpuh. pupil dan isokor. reflek pupil lambat.Gejala TIK meningkat. · Kategori talk and die. dekortisasi. .Sakit kepala.Gangguan kesadaran lebih lama .Gejala 24 – 48 jam . reflek patologik positif. subakut. nyeri kepala hebat. · Sumber: pecahnya pembuluh darah meningen dan sinus venosus · Gejala: manifestasinya adanya desak ruang Penurunan kesadaran ringan saat kejadian ® periode Lucid (beberapa menit – beberapa jam ) ® penurunan kesadaran hebat ® koma. · Lokasi terering temporal dan frontal.Kelainan neurologik positif.Amnesia retrograd lebih nyata c Hematom epidural · Perdarahan antara tulang tengkorak dan durameter. kronis.Sering brhubungan dengan cidera otak dan medulla oblongata. · Akut : . reflek melambat. Hematom subdural · Perdarahan antara durameter dan archnoid. . · Perdarahan kecil lokal/difusi ® gangguan lokal ® perdarahan.· Ada memar otak.

· Sub akut Berkembang 7 – 10 hari. . 2 minggu 3-4 bulan .Gejala sakit kepala. Sistem Metabolisme Trauma kepala → cenderung terjadi retensi Na. · Kronis : . 2. kontosio agak berat.Perdarahan kecil-kecil terkumpul pelan dan meluas.Ringan. letargi. 3. e Hematom Intrakranial · Perdarahan intraserebral ± 25 cc atau lebih · Selalu diikuti oleh kontosio · Penyebab: Fraktur depresi. Takikardia.3 Patofisiologi Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan Oksigen dan Glukosa dapat terpenuhi. tekanan vaskuler. air. gerakan akselerasi – deselerasi mendadak. edema local. disfgia. adanya gejala TIK meningkat ® kesadaran menurun. Kebutuhan . Karena adanya kompresi langsung pada batang otak → gejala pernapasan abnormal : Chyne stokes Hiperventilasi Apneu 2. adanya bekuan darah. Dalam kedaan stress fisiologis. karena akan menimbulkan koma. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis → terjadi penurunan kontraktilitas ventrikel → curah jantung menurun → meningkatklan thanan ventrikel kiri → edema paru. jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Herniasi ancaman nyata. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen. dan hilangnya sejumlah Nitrogen. Perubahan saraf otonom pada fungsi ventrikel : Disritmia. edema paru. penetrasi peluru. kejang. kacau mental. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %. Sistem Kardiovaskuler Trauma kepala → perubahn fungsi jantung : kontraksi. Fibrilasi.

Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. seperti: · Hipotensi sistemik · Hipoksia · Hiperkapnea · Udema otak . takikardia. Cedera kepala sekunder Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala. Cedera kepala primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acclerasi-decelerasi otak) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler. fibrilasi atrium dan ventrikel. Pada saat otak mengalami hipoksia. dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia. Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua: 1. hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob.glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh. tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Pada kontusio berat. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik. sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala – gejala permulaan disfungsi cerebral. Dalam keadaan normal cerebal blood flow (CBF) adalah 50–60 ml/menit/100gr jaringan otak. Pada cedera primer dapat terjadi: · Gegar kepala ringan · Memar otak · Laserasi 2. yang merupakan 15 % dari cardiac output.

Papil edema 4. frekuensi. nadi. bradikardia 7. Keadaan umum : Lemah. Jika klien sadar ® sakit kepala berat 2. tensi. 2. gelisah. Perubahan tipe kesadaran 6. batuk produktif. gerakan cuping hidung. Body of system a.4 Gejala klinis 1. Kesadaran makin menurun 5. irama. Suhu tubuh yng sulit dikendalikan. taktil fremitus raba sama antara kanan dan kiri dinding dada . terdengar suara nafas tambahan bentuk dada.5 Penatalaksanaan Observasi dan pemeriksaan fisik 1.· Komplikai pernapasan · Infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain 2. Pernafasan ( B1 : Breathing ) Hidung : Kebersihan Dada : Bentuk simetris kanan kiri. GCS 3. nafas dangkal. Tekanan darah menurun. TTV : Suhu. Anisokor 8. Inspeksi : Inspirasi dan ekspirasi pernafasan. retraksi otot bantu pernafasan. ronchi di seluruh lapangan paru. Muntah proyektil 3. irama pernafasan. batuk Palpasi : Pergerakan asimetris kanan dan kiri. cenderung untuk tidur 2. RR.

Perkusi : Adanya suara-suara sonor pada kedua paru. Perkusi : Nyeri pada perkusi pada daerah ginjal. gerakan bola mata mampu mengikuti perintah. abdomen normal tidak ada kelainan. kembung ada suara pekak pada daerah hepar. suara ronchi dan weezing. warna urine. Palpasi : Hepar tidak teraba. terdapat afasia. keluhan nyeri. tekanan darah. suara redup pada batas paru dan hepar. buang air besar perhari. terdapat diare. Palpasi : Frekuensi nadi/HR. . bendungan vena jugularis. Leher : Tampak pada daerah leher tidak terdapat pembesaran pada leher. berkeringat Perkusi : Suara pekak Auskultasi : Irama reguler. gangguan pencernaan ada. wajah tampak mioring ke sisi kanan Mata : Konjungtiva tidak anemis. pemeriksaan genitalia eksternal. Perkusi : Suara timpani pada abdomen. Pencernaan-eliminasi alvi ( B5 : Bowel ) Inspeksi : Mulut dan tenggorokan tampak kering. anoreksia. e. perfusi dingin. Perkemihan-eliminasi urine ( B4 : Bledder ) Inspeksi : Jumlah urine. Kardiovaskuler ( B2 : Bleeding ) Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan kiri. Palpasi : Pembesaran kelenjar inguinalis. jamur. tidak tampak perbesaran vena jugularis. bibir tampak kering. lesi dan keganasan. b. suhu. kebersihan penumpukan ludah dan lendir. Auskultasi : Terdengar adanya suara vesikuler di kedua lapisan paru. Mulut : Kesulitan menelan. gangguan perkemihan tidak ada. denyut jantung pada ictus cordis 1 cm lateral medial ( 5 ) Pulsasi jantung tampak. Persyarafan ( B3 : Brain ) Kesadaran. tidak ada nyeri tekan. sklera tidak icteric. sistole/murmur. tidak terdapat kaku kuduk. kembung kadang-kadang. GCS Kepala : Bentuk ovale. nyeri tekan. ginjal tidak teraba. ulkus. oedema c. d.. pupil isokor.

seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. turgor baik. . Pemeriksaan Diagnostik: CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik. kesulitan menelan. Abdomen : Tidak terdapat asites. Pola eliminasi. warna urine dengan kejernihan. X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur). reflek. Aspek sosial/interaksi. tidak terdapat luka dekubitus. Aspek psikologis. dan cuci rambut/minggu. Pola aktivitas sehari-hari Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat. Ketergantungan. pada eliminasi alvi. aktivitas sehari-hari bekerja Pola hubungan dan peran. riwayat peminum alkohol. merasa terasing.Auskultasi : Peristaltik lebih cepat. minum perhari. Pola tata nilai dan kepercayaan. BB. droop foot. kebiasaan mandi/hari. kebiasaan sehari-hari tidur dengan suasana tenang Pola aktivitas dan latihan. fragmen tulang. senang ngobrol dan berkumpul. Pola nutrisi dan metabolisme. Kulit : Warna kulit. makan teratur.dan sedikit stres. trauma. dijalankan setiap saat. Pola persepsi dan konsep diri. ketergantungan terhadap orang lain terutama keluarga. disorientasi. turgor menurun. melakukan kebiasaan bekerja terlalu keras. adnya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh. gosok gigi/hari. Rektum : Rectal to see f. diet khusus. Pola seksual dan reproduksi Pola mekanisme/pola penanggulangan stres dan koping. Pola sensori dan kognitif. mengukui kegiatan agama. teman kerja. BAK dengan jumlah urine. pergeseran jaringan otak. maupun masyarakat disekitar tempat tinggal. kooperatif dengan sesamanya. Aspek spiritual. cemas akan penyakit. pemenuhan kebutuhan spiritualnya. peristaltik ususnormal. kelemahan otot pada ekstrimitas atas dan bawah. tinggi badan. warna feses dan khas. Personal higiene. kebiasaan merokok. menentukan ukuran ventrikuler. postur tubuh. olah raga. kesibukan. perubahan struktur garis (perdarahan / edema). Pola tidur dan istirahat. Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral. keluhan tentang penyakit. hubungan antar keluarga. mampu melihat dan mendengar serta meraba. BAB dengan jumlah feses. Tulang-otot-integumen ( B6 : Bone ) Kemapuan pergerakan sendi : Kesakitan pada kaki saat gerak pasif. relative tidak ada gangguan buang air. akral kulit. hubungan dengan orang lain dan keluarga. ajaran agama. perdarahan.

Kekurangan nutrisi. Kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah. tidak mengenal informasi. 6. prognosis. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan transmisi dan/atau integrasi (trauma atau defisit neurologis). menelan. . Pengaturan fungsi secara optimal/mengembalikan ke fungsi normal. 4. rencana pengobatan. Prioritas perawatan: 1. 8. DIAGNOSA KEPERAWATAN: 1. misal: tirah baring. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi atau kognitif. Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan. disritmia jantung) 2. Pemberian informasi tentang proses penyakit.Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Penurunan kekuatan/tahanan. Status hipermetabolik. Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial. Obstruksi trakeobronkhial. konflik psikologis. Kurang mengingat/keterbatasan kognitif. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat kesadaran). Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS) 7. 5. Ketidak pastian tentang hasil/harapan. 3. edema cerebral. Penurunan kerja silia. Kerusakan persepsi atau kognitif. imobilisasi. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis. 9. penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia. prosedur invasif. dan rehabilitasi. stasis cairan tubuh. Memaksimalkan perfusi/fungsi otak 2. 4. kulit rusak. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan jaringan trauma. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan transisi dan krisis situasional. Mencegah komplikasi 3. Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). Terapi pembatasan /kewaspadaan keamanan. Mendukung proses pemulihan koping klien/keluarga 5. hematoma).

steroid. 2. sedatif. 9. edema cerebral. 5. Tujuan: · mempertahankan pola pernapasan efektif. analgetik. muntah. nadi. Turunkan stimulasi eksternal dan berikan kenyamanan. seperti lingkungan yang tenang. frekuensi nafas. Tinggikan kepala pasien 15-45 derajad sesuai indikasi/yang dapat ditoleransi. hematoma). mengejan. suhu. antipiretik. antikonvulsan. Berikan obat sesuai indikasi. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. 4. Kriteria hasil: Tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK Rencana Tindakan : 1. 11. 2) Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). disritmia jantung) Tujuan: Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan. kesamaan antara kiri dan kanan. Evaluasi keadaan pupil. turgor kulit dan membran mukosa. Obstruksi trakeobronkhial. Kerusakan persepsi atau kognitif. Kriteria evaluasi: . 7. Pantau tanda-tanda vital: TD. Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk. ukuran. penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia. 3. 6. Batasi pemberian cairan sesuai indikasi.RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN 1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi. 10. 8. reaksi terhadap cahaya. Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar GCS. dan fungsi motorik/sensorik. kognisi. misal: diuretik. Tentukan faktor-faktor yg menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK. Pantau intake dan out put.

Pantau frekuensi. wheezing. 9. GDA dalam batas normal Rencana tindakan : 1. pertahankan tehnik cuci tangan yang baik. Rencana tindakan : 1. Lakukan rontgen thoraks ulang. Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan.· bebas sianosis. Kekurangan nutrisi. 4. posisi miirng sesuai indikasi. bebas tanda-tanda infeksi. Pantau analisa gas darah. stasis cairan tubuh. jangan lebih dari 10-15 detik. Penurunan kerja silia. kulit rusak. prosedur invasif. Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS) Tujuan: Mempertahankan normotermia. Catat ketidakteraturan pernapasan. Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif bila pasien sadar. 7. Pasang jalan napas sesuai indikasi. Berikan oksigenasi. Catat karakter. Kriteria evaluasi: Mencapai penyembuhan luka tepat waktu. tekanan oksimetri 8. Lakukan fisioterapi dada jika ada indikasi. Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). kedalaman pernapasan. 2. Auskultasi suara napas. krekel. daerah yang terpasang alat invasi. 5. Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati. 6. 3) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan jaringan trauma. catat karakteristik dari drainase dan adanya inflamasi. 10. Berikan perawatan aseptik dan antiseptik. 2. 3. Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya. warna dan kekeruhan dari sekret. perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara tambahan yang tidak normal misal: ronkhi. . Pantau dan catat kompetensi reflek gag/menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi jalan napas sendiri. irama.

Terapi pembatasan /kewaspadaan keamanan. 5. 4. Dorong masukan jumlah kecil dan sering dari cairan jernih (misal :teh encer. R/ pemandangan yang tidak menyenagkan atau bau yang tidak sedap merangsang pusat muntah. Pantau suhu tubuh secara teratur. catat adanya demam. 4. latihan pengeluaran sekret paru secara terus menerus. Observasi karakteristik sputum. Singkirkan pemandangan yang tidak menyenagkan dan bau yang tidak sedap dari lingkungan klien. air jahe. 3. Dorong klien untuk berbaring dalam posisi terlentang dengan bantalan penghangat diatas abdomen. Berikan antibiotik sesuai indikasi 4) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi atau kognitif. diaforesis dan perubahan fungsi mental (penurunan kesadaran). Anjurkan untuk melakukan napas dalam. 2. Tujuan :Klien merasa nyaman. air) 30-60 ml tiap ½ -2 jam. buah) Kafein . imobilisasi. R/ cairan dalam jumlah yang kecil cairan tidak akan terdesak area gastrik dan dengan demikian tidak memperberat gejala. Kriteria hasil : Klien akan melaporkan peningkatan kekuatan/ tahanan dan menyebutkan makanan yang harus dihindari. agar- agar.3. menggigil. Penurunan kekuatan/tahanan. Rencana tindakan : 1. misal: tirah baring. susu. Instruksikan klien untuk menghindari hal ini : Cairan yang panas dan dingin Makanan yang mengandung serat dan lemak (misal. R/ tindakan ini meningkatkan relaksasi otot GI dan mengurangi tenaga selama perawatan dan saat klien lemah.

lemak juga merangsang peristaltik dan kafein merangsang motilitas usus. 5. cairan panas merangsang peristaltik. Kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah. 2. Lindungi area perianal dari iritasi R/ sering BAB dengan penigkatan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal. Tujuan : · Intake nutrisi meningkat. keadaan klien lemah dan banyak mengeluarkan keringat). Membantu memberikan vitamin dan mineral sesuai program. · Membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi diberikan per oral. Membantu keluarga dalam memberikan asupan makanan peroral dan menyarankan klien untuk menghindari makanan yang berpantangan dengan penyakitnya. · Keluarga mampu menyebutkan pantangan yang tidak boleh dimakan. . klien kurang makan makanan yang bergizi. 5) Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat kesadaran). Kolaborasi dengan tim gizi tentang pemberian mekanan yang sesuai dengan program diet (rendah garam dan rendah lemak). Kaji faktor penyebab perubahan nutrisi (klien tidak nafsu makan. Kolaborasi dengan Tim dokter dalam pemberian Transfusi Infus RD 5% 1500 cc/24 jam dan NaCl.R/ Cairan yang dingin merangsang kram abdomen. Status hipermetabolik. menelan. Klien diberikan rentang skala (1-10). 3. · Berat badan stabil. Mengkaji keadaan nutrisi untuk mengetahui intake nutrisi klien. Kriteria hasil : Klien dapat mengatakan kondisinya sudah mulai membaik dan tidak lemas lagi. 1. 5. · Keseimbangan cairan dan elektrolit. · Torgor kulit dan membran mukosa membaik. 4. 6. yaitu makan rendah garam dan rendah lemak.

askep trauma kepala 5 responses. askep cedera kepala berat. Irul May 12. Trauma Kapitis. Juned Jul 23. 2011 at 12:06:01 #4 Thank’s . askep trauma capitis. trauma capitis. tambahin rasionalnyaaaaaaaa 3. widy Mar 30. Tpi slebihnya bgus bnget. 2011 at 14:28:54 #3 Iya nih msih krang rasionalnyaaa. askep trauma kapitis. 2011 at 10:36:36 #1 like itt 2. Wanna say something? 1. askep cedera kepala ringan. widy Mar 30.Incoming search terms: askep cedera kepala. 2011 at 10:37:21 #2 bagguuuzzzzzzzzzz…………. askep cidera kepala ringan. 4. askep cidera kepala.

panduan asuhan keperawatan askep PanduanKeperawatan.. . " Terlahir Dari Hati untuk Bekerja Dengan Hati" buscador de mexico artikel buscador de mexico buscador de mexico Buscador De Mexico Buscador De Mexico Artikel Buscador De Mexico .implementasi.... Panduan Keperawatan berisi materi . sheny Jul 28.com adalah sebuah situs/blog yang menyediakan informasi mengenai ilmu yang berhubungan dengan ilmu .sedetik. pengobatan penyakit jantung rematik pjr taman botani Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada katup jantung yang bisa berupa . Related Source : askep asuhan keperawatan cedera kepala trauma capitis Asuhan Keperawatan Cedera Kepala (Trauma Capitis) ..intervensi ama soapnya dhong You must be logged in to post a comment. http://www... anaholistic'07nersunhasilmiki "Menjadi Ners Adalah Panggilan Hidupku. 5...net/articles/buscador-de-mexico-buscador-de-mexico-artikel-buscador-de- mexico. 2011 at 13:46:36 #5 emmm okelahhhhh tp tambahahin dhong rasionalx. PanduanKeperawatan....com adalah sebuah situs/blog yang menyediakan informasi mengenai ilmu yang berhubungan dengan ilmu keperawatan.html ...