BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Amoniak merupakan salah satu senyawa penting yang banyak digunakan dalam
industri kimia sebagai bahan baku dan produk. Amoniak (NH 3) adalah gas basa tidak
bewarna, lebih ringan dari udara dan memiliki aroma tajam dan unik. Di alam amoniak
terbentuk pada saat zat-zat organik yang mengandung nitrogen membusuk, oleh sebab
itu sedikit terdapat dalam udara. Bahan baku yang digunakan untuk sintesa amoniak
yaitu gas alam, udara dan steam (uap air).
Teknologi sintesis ammonia dari bahan baku hidrogen dan nitrogen yang pertama
kali adalah proses Haber-Bosch. Sintesis amoniak pada PT Pupuk Sriwijaya Palembang
dilakukan pada Ammonia Converter (105-D). Dalam proses pembuatan amoniak dari
hidrogen dan nitrogen ditentukan oleh beberapa kondisi operasi seperti temperatur,
tekanan dan perbandingan molar antara H2 dan N2 dalam gas umpan.
Di pabrik Amoniak, proses yang paling menentukan adalah sintesis amoniak dari
gas H2 dan gas N2 yang terjadi di dalam ammonia converter (105-D) dengan bantuan
katalis promoted iron. Pada ammonia converter terjadi reaksi sebagai berikut :
N2 + 3H 2NH3 +Q
Katalis promoted iron berpotensi mengalami deaktivasi yang dapat menyebabkan
terjadinya penurunan jumlah konversi amoniak. Deaktivasi katalis dapat terjadi akibat
tersumbatnya pori-pori dari katalis atau telah habisnya life-time dari katalis.
Reaksi di atas berlangsung pada temperatur sekitar 400-500 oC dan tekanan 140-
150 kg/cm2. Apabila ditinjau dari segi keseimbangan termodinamika, reaksi ini akan
berlangsung baik pada temperatur yang relatif rendah dan tekanan yang tinggi. Akan
tetapi bila ditinjau dari segi kinetika reaksi kimianya, temperatur yang rendah justru
akan memperlambat terjadinya reaksi. Oleh sebab itu, perlu ditekankan kondisi operasi
yang optimum untuk memperoleh hasil amoniak sesuai dengan yang diharapkan. Untuk
mengontrol temperatur dalam konverter dilakukan penambahan umpan dengan sistem
quench pada setiap selang antar bed agar diperoleh konversi yang maksimal.
Konversi yang dicapai dalam Ammonia converter hanya sekitar 15%. Untuk
meningkatkan jumlah produk amoniak maka digunakan sistem pereaksian kembali yang
sering disebut sebagai synthesis loop atau syn-loop. Didalam sistem looping untuk
menjaga agar tidak terjadi akumulasi gas inert di dalam ammonia converter yang justru
1

Pupuk Sriwidjaja. Terlebih untuk alat yang sudah beroperasi selama bertahun.1 Tujuan Tujuan tugas khusus ini adalah untuk mengevaluasi kinerja Ammonia Converter (105-D) dengan membandingkan konversi NH3. neraca panas. Tidak semua alat bekerja dengan kondisi perancangan yang diinginkan. Katalis pada Ammonia Converter (105-D) setelah sekian lama dipakai akan mengalami deaktivasi yang menyebabkan hilangnya keaktifan katalis tersebut. dan grafik hubungan konversi reaksi tiap bed dengan perubahan suhu. 1. Hal ini akan mempengaruhi laju terbentuknya konversi NH 3.3 Pengumpulan Data Data yang digunakan untuk perhitungan evaluasi kinerja Ammonia Converter (105-D) ini merupakan dari data log sheet harian pada tanggal 25 Juli 2016. Oleh karena itu kinerja dari Ammonia Converter (105-D) perlu dievaluasi karena tujuannya untuk mengkonversi Syngas (N2 dan H2) menjadi NH3. Hasil akhir dari pelaksanaan tugas khusus ini berupa nilai konversi NH 3.1. 1. neraca massa pada tiap bed. konversi NH3. dan persentase loss energy. dan hasil analisa laboratorium di unit produksi ammonia plant PUSRI-IV di PT. maka akan terjadi penurunan kemampuan atau kinerja alat tersebut. Pupuk Sriwidjaja.akan menurunkan konversi di dalam ammonia converter.2 Ruang Lngkup Ruang lingkup tugas khusus untuk mengevaluasi kinerja alat Ammonia Converter (105-D) ini adalah melakukan perhitungan neraca massa Synloop. maka sebagian gas proses harus dibuang atau di-purge. dan persentase loss energy antara data design dengan data aktual pada ammonia plant PUSRI-IV di PT. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2 . 1. Kinerja dari Ammonia Converter (105-D) dapat dilihat dari konversi NH3 dan effisiensi energi panas.tahun.

Converter lainnya beroperasi pada tekanan kira-kira 1000 atm untuk versi Mont Cenis. Semua converter dirancang untuk mengikuti salah satu dari dua pendekatan umum. Kemudian Carl Bosch yang memimpin Badishe Anilud Soda Fabric (BASF) bekerja sama dengan Fritz Haber pada tahun 1913 untuk memproduksi amoniak. Beberapa dekade kemudian setelah sistem energy recovery dengan sistem turbine centrifugal compressor dikembangkan dan dintegrasikan dengan syn-loop. Menggunakan katalis besi dengan penambahan Al2O3. dengan mereaksikan gas nitrogen dan gas hidrogen yang diperoleh dari batubara yang direaksikan dengan uap (steam).2. sedangkan nitrogen diperoleh dengan distilasi udara cair.L. Sehingga akhirnya sintesis amoniak tersebut dikenal dengan proses Haber-Bosch.1 Jenis-jenis Ammonia Converter Pada tahun 1789 seseorang yang bernama C. Sintesis amoniak ditemukan oleh Fritz Haber dilakukan pada tekanan tinggi dengan penggunaan katalis yang sesuai. Sedangkan converter tipe quench ditawarkan 3 . Saat ini setelah peralatan untuk energy recovery dan penerapannya sudah semakin baik dibandingkan sebelumnya. Barthelot menemukan senyawa amoniak yang tersusun atas nitrogen dan hidrogen. MgO. Hidrogen murni yang digunakan didapatkan dengan jalan elektrolisis air. Setelah synthesis loop dikembangkan tekanan operasi yang ekonomis adalah sekitar 4500-5200 psig atau 300-380 atm. tekanan operasi yang paling ekonomis adalah sekitar 4500-5000 psig. yaitu mendapatkan profil temperatur terbaik yang mungkin untuk perpindahan panas dengan gas yang bereaksi dan quench dari gas-gas tersebut dengan sintesis segar Heat exchanged converter diproduksi oleh Tennesse Valley Authority (TVA) di Amerika dan oleh Montecatini Edison. Proses sintesis yang dilakukan berjalan pada tekanan sekitar 150-350 atm dan suhu 550 oC. CaO dan K2O sebagai promotor. tekanan operasi menjadi lebih rendah yaitu sekitar 2000-2100 psig atau 130-240 atm. tetapi cara ini dinilai kurang efektif dan membutuhkan banyak biaya sampai akhirnya Fritz Haber dari Jerman (1904-1909) menemukan cara sintesis amoniak dengan proses lain yang lebih ekonomis. dengan persamaan reaksinya adalah: N2 (g) + 3H2(g) 2NH3(g) Synthesis converter yang dibuat oleh Haber-Bosch mula-mula dirancang untuk beroperasi pada tekanan sekitar 200 atm.

Converter ini telah berdiri di lebih dari 100 pabrik amoniak. 3 Fauser-Montecatini dan Osw-Uhde Converter dikembangkan oleh Osterreichische Stickstoffwerke (OSW) dan Frederick Uhde. 8 Horizontal Converter dirancang juga oleh Kellog untuk kapasitas pabrik sekitar 1700 ton/hari. 7 Pullman-Kellog Vertical Converter mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan converter sejenis. menyatakan bahwa ia telah menyempurnakan converter dengan dua buah shell converter yang beroperasi secara seri. ICI dan BASF. 6 Topsoe Converter. BASF telah dikembangkan oleh Chemico. 2. 2 NEC-TVA Converter adalah jenis converter dengan aliran counter current. Haldor Topsoe Co. Humprey and Glasgow. dan sedikitnya sebuah converter jenis ini telah dioperasikan. Chemico. Topsoe. Haldor. Pola aliran ini sebenarnya banyak mempunyai kesamaan dengan converter-converter yang lain. F Braun Co. telah menyempurnakan pola aliran yang lain pada converter. desain converter ini menunjukkan bahwa pola aliran dalam converter dapat diatur untuk memberikan jumlah yang bervariasi pada perpindahan panas pada saat gas-gas reaktan melewati bed- bed katalis secara kontinyu.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi di Ammonia Converter 4 . C. 9 Braun Converter. Foster-Wheeler. 4 Chemico Cocurrent Converter. Beberapa converter di atas antara lain : 1 TVA Counter-Current Converter yang dirancang oleh TVA ini merupakan counter-current converter. ICI. Uhde.oleh Pullman-Kellog. Imperial Chemical Industries (ICI) dan BASF. 5 Quench Converter oleh Chemico. Kedua shell tersebut identik dan hanya berbeda ukurannya.

sedangkan untuk sistem sintesa yang memberikan konversi dekat dengan kesetimbangan kenaikan temperatur akan menuju pada konversi yang lebih rendah. kenaikan akan menuju konversi yang lebih tinggi. Karena reaksi sintesa eksotermis. Efisiensi selalu berubah sebanding dengan temperatur jika perubahan aktivitas katalis tidak diperhitungkan.1 Pengaruh quenching pada garis operasi konversi amoniak 5 . Kondisi yang mempengaruhi reaksi di converter yaitu : Temperatur Sebagai akibat dari perubahan temperatur terhadap reaksi sintesa amoniak adalah dua kali lipat karena mempengaruhi derajat kesetimbangan maupun kecepatan reaksi. Gas yang tidak terkonversi dikembalikan ke reaktor untuk mendapatkan produksi maksimal. Efisiensi konversi didefinisikan sebagai perbandingan persentase NH3 sebenarnya di dalam gas yang keluar dari converter dengan persentase NH3 yang mungkin secara teoritis pada kondisi tersebut. kadar ammonia dalam gas keluar reaktor kira-kira 15-16% mol. Gambar 2. Hal ini berarti bahwa pada kondisi jauh dari kesetimbangan. kenaikan temperatur akan menurunkan derajat kesetimbangan dari ammonia dan pada waktu yang sama mempercepat reaksi. Reaksi sintesa amoniak yang dibantu katalis dapat dituliskan sebagai berikut : N2 + 3H2 2NH3 + Q Titik kesetimbangan dari reaksi ini sedemikian rupa bahwa pada kondisi operasi yang diusulkan.

karena itu konversi akan bertambah baik pada tekanan yang lebih tinggi. Kenaikan produksi ammonia disebabkan karena lebih banyak gas yang masuk ke dearah reaksi mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada tendensi pengurangan produksi disebabkan karena reaksi yang kurang sempurna (residence time yang rendah). Dengan menambah sirkulasi temperatur di katalis pada bed akan turun disebabkan oleh turunnnya konversi per pass.0. Space velocity Jika jumlah gas proses semakin bertambah (space velocity yang lebih besar dalam converter) reaksi sintesa mempunyai waktu yang lebih sedikit untuk berlangsung dan menghasilkan kadar amoniak (pada gas keluar converter) yang tidak setinggi dibandingkan apabila gas mengalir. tidak termasuk recycle) yang menuju ke seksi sintesa harus mempunyai perbandingan H2 terhadap N2 kira-kira 3. Perbandingan H2 dan N2 Gas sintesa yang segar (make up.0 : 1. Gas – gas inert Pengeluaran gas-gas inert secara kontinyu harus dijaga melaui pipa header yang masuk ke kompresor recycle dikirim ke sistem purge gas.0 : 1.0. Sirkulasi maksimum dicapai jika MIC-34 tertutup rapat. melalui katalis lebih lambat.kondisi lainnya yang tetap) akan memberikan kenaikan produksi. Karena itu pada keadaan normal atau pengurangan operasi. tekanan akan turun disebabkan karena total produksi amoniak bertambah. Pada saat yang bersamaan kecepatan reaksi dipercepat oleh kenaikan tekanan. Sirkulasi ditambah dengan menutup MIC-34. derajat kesetimbangan amoniak akan naik apabila tekanan naik. Aliran purge gas diperlukan untuk mengontrol konsentrasi CH4 dan gas-gas inert lainnya agar tidak menjadi tinggi di 6 . Akan tetapi pengurangan dari hasil jauh lebih sedikit dari kenaikan space velocity. Metode yang biasa untuk merubah space velocity yaitu dengan mengubah jumlah gas recycle (sirkulasi). Tekanan Karena sintesa amoniak disertai dengan berkurangnya volume (penurunan jumlah molekul). kenaikan jumlah gas masuk converter (pada kondisi . Hal ini demikian karena pembentukan amoniak berasal dari H2 dan N2 dengan perbandingan 3.

Untuk katalis Fe berpromotor yang umum 7 . Penambahan dari gas umpan ke daerah sintesa biasanya didapat dengan menaikkan rate produksi di daerah pembuatan gas sintesa. rate gas sintesa ditentukan oleh permintaan produksi.2 Pengaruh kondisi operasi terhadap kesetimbangan NH3 Jenis katalis yang digunakan memiliki pengaruh terhadap laju reaksi. Untuk katalis dengan active material yang sama. Aktivitas dan selektivitas katalis mempengaruhi laju reaksi dan juga besarnya konversi yang bisa dicapai.daerah sintesa karena akan mengakibatkan penurunan konversi. kenaikan tekanan dan mengurangi kapasitas produksi. Gambar 2. promoter memiliki pengaruh terhadap aktivitas dan selektivitas katalis. Dibawah kondisi operasi normal. Kecepatan gas sintesa Dengan hanya menaikkan kecepatan gas sintesa yang segar (make up) menghasilkan amoniak yang lebih banyak dan mengakibatkan hal-hal tersebut di bawah ini terhadap kondisis-kondisi di atas: Tekanan sistem alarm naik Temperatur katalis bed akan naik Kadar gas inert akan naik Perbandingan gas H2 dan N2 akan berubah Sebaliknya pengurangan gas sintesa akan memberikan efek yang berlawanan.

35% K2O + 0. Tabel 2.60 0. Berikut adalah pola aliran gas pada Ammonia Converter. Jika temperatur mendekati kesetimbangan maka NH3 akan terurai menjadi reaktan kembali.51% SiO2 4.00 0.82 13.75% SiO2 5.digunakan pada reaktor sintesis amonia.88 7.02 9.90 2.76% ZrO2 5. 8 .96% K2O + 2. Gas umpan yang yang masuk pada bagian atas konverter. Gas hasil reaksi keluar dari bed 3.72 0.57% K2O + 0.63 0.01% Al2O3 5.1 Pengaruh jenis promotor pada katalis Fe %amoniak Jenis Promotor P = 30 atm P = 100 atm 1.33 10. Hal ini bertujuan agar konversi yang diharapkan dapat tercapai dengan optimal. Ruang antar bed dipakai untuk media pencampuran gas hasi reaksi dalam bed denga gas umpan pendingin (quench) dan interchanger yang berupa alat penukar panas yang digunakan untuk mendinginkan gas hasil reaksi secara tiba-tiba agar kondisinya menjauhi temperatur kesetimbangan dan jjug untuk menurunkan kadar NH3 dalam aliran.3 Prinsip Kerja Ammonia Converter Reaktor yang digunakan untuk melangsungkan pembentukan ammonia yaitu reaktor fixed bed.84% Al2O3 5. beberapa promotor katalis yang bisa dipakai.67 7. mengalir ke bagian bawah konverter dan masuk ke dalam bed 1. yang merupakan suatu bejana bertekanan yang berisi katalis promoted iron yang ditempatkan dalam basket yang dirancang khusus dan terbagi menjadi 3 bagian bed katalis. beserta pengaruhnya terhadap reaksi ditunjukan oleh Tabel 4.1.49 0.61% ZrO2 4.43 12.

4 Gas keluaran bed 1 menggalir melaui ruang antar bed 1 dan bagian atas be 2. Fluida pendingin interchanger merupakan umpan segar yang sebelumnya telah dipanaskan di bottom exchanger.3 Pola aliran dalam ammonia converter 1 Sejumlah gas umpan masuk dari bagian bawah converter melewati baggian shell ke bagian atas converter lalu masuk ke intercooler kemudian ke bed 1. Disini. dilakukan injeksi quench gas umpan dingin untuk mengurangi temperatur dan kandungan gas ammonia. didinginkan dengan sebuah interchanger. 6 Gas keluaran bed 2. tetapi tidak terlalu tinggi seperti pada bed 1. 5 Campuran gas keluar bed 1 ditambah quench masuk ke bed 2. Gambar 2. 3 Setelah proses pemanasan. 2 Gas umpan dipananskan dengan cara dicampur dengan effluent panas dari intercooler hingga mencapai temperatur yang diperlukan pada bed 1. gas mengalir kebawah secara aksial ke bed katalis 1 yang diikuti oleh kenaikan temperatur yang sangat cepat dari panas reaksi ammonia. Terjadi reaksi di bed 2 diikuti dengan kenaikan temperatur. 9 . sebelum masuk bed 3.

26 156207.409.12 H2 2.23 8076.68 Total 25464.585 x100% 5576.45 115033.4 Data dan Hasil Perhitungan A.06 12337.38 N2 bereaksi Konversi Reaksi N2= x100% N2 mula 1.38 x100% 16.576.92 32276.52 N2 28.013 5576.36% Konversi Reaksi H2= H2 bereaksi x100% H2 mula 4.61 3413.33% NH3 out .82 58140.92 32276.84 Ar 39.77 4106.031 474. Gas keluaran bed 3 merupakan prduk yang terdiri dari ammonia.016 16746.746. Neraca Massa Desain BM Inlet Outlet Komponen (kg/kmol) mol (kmol) massa (kg) mol (kmol) massa (kg) CH4 16.79 x100% 5.63 260156.56 26.469.56 33761. 7 Setelah didinginkan.NH3 in Yield NH3 = x100% N2 In 2939. 2.95 807.26 26.64 29834.40 807.72% NH3 out .26 52.20 NH3 17.585 x100% 10 . hidrogen dan nitrogen yang tidak bereaksi berserta gas inert. gas masuk ke bde 3 dan terjadi reaksi diikuti dengan kenaikan temperatur.07 24871. Gas keluaran bed 3 didinginkan di top exchanger dengan fluida pendingin yang berupa gas umpan segar.88 260156.043 1859.66 29834.38 22524.53 1859.NH3 in Yield NH3 = x100% H2 In 2939.

85 10666. Neraca Massa Aktual BM Inlet Outlet Komponen (kg/kmol) mol (kmol) massa (kg) mol (kmol) massa (kg) 11202.016 0 8 11195.3 390.29 16111.2 CH4 16.8 31824.33 22569.56 17. 4 38% Q Out Efisiensi Panas = x 100% Q In total 227566409. 4 62% C.1 H2 2.23 15785.2 N2 28. 16746.013 5699.02 68 4405.89 1 Ar 39. 2 x 100% 369556194. 2 x 100% 369556194.38 11 .26 3 664. Neraca Energi Desain Q in Q out Q KJ/hr KJ/hr masuk 98467666 27108852 reaksi 9 22756640 keluar 9 14198978 loss 5 36955619 36955619 Total 4 4 % Q Loss = Q Loss x 100% Q In total 141989785. 123422.043 698.78 159646.95 403.55% B.97 15619.

NH3 in Yield NH3 = x100% H2 In 2730.48 x100% 15785.NH3 in Yield NH3 = x100% N2 In 2730.08% NH3 out . 226594.59 7810.9 226594. Neraca Energi Aktual Q in Q out Q KJ/hr KJ/hr 106288443.80 29.71 x100% 5699.30% D.12 23044.69% H2 bereaksi Konversi Reaksi H2 = x100% H2 mula 4590.80 17.31 54317. 1 NH3 17.02 22. masuk 9 12 .031 458.02 47.71 x100% 15785.13 x100% 5699.33 3189.92% NH3 out .7 Total 7 73 19846.35 3 N2 bereaksi Konversi Reaksi N2 = x100% N2 mula 1293.

Konversi N2 yang didapatkan secara aktual lebih kecil dibandingkan konversi ammonia yang didapatkan secara desain. Temperatur berpengaruh pada proses pembentukan NH3 yang merupakan reaksi kesetimbangan. maka reaksi sistem akan menurunkan temperatur.59 x 100% 232201674. dan laju alir. semakin cepat umpan mengalir ke dalam reaktor semakin sedikit waktu kontak. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi proses yang terjadi di Ammonia Converter tersebut.69%. tetapi semakin meningkatkan produk ammonia yang dihasilkan. reaksi 4 21526915 keluar 1 16932523.3 93% 2. loss 6 232201674.5 Pembahasan Dari perhitungan didapat konversi N2 secara desain sebesar 26. Karena suhu aktual lebih 13 . akibatnya memperkecil konversi.3 7% Q Out Efisiensi Panas = x 100% Q In total 215269150. temperatur. kesetimbangan akan bergeser ke pihak yang menyerap kalor (reaktan). Jika suhu atau temperatur suatu sistem keseimbangan dinaikkan. Sebaliknya jika suhu diturunkan maka keseimbangan akan bergeser ke pihak reaksi eksoterm (pembentukan produk). 125913230. Laju alir menentukan waktu kontak gas dengan katalis.7 x 100% 232201674. 23220167 Total 3 4 Q Loss % Q Loss = x 100% Q In total 16932523.36 % dan konversi aktual sebesar 22. gas inert dan kondisi operasi yang berupa tekanan. Faktor – faktor tersebut antara lain rasio N 2 dan H2.

Dari perbandingan kedua data tersebut. maka konversi yang dihasilkan lebih kecil dari konversi desain. dengan reaksi kesetimbangan akan bergeser kearah yang jumlah koeefisiennya lebih kecil (NH3).00 dan pada data aktual sebesar 2.2 kg/cm2 dan pada data aktual sebesar 130 kg/cm 2. BAB III PENUTUP 14 . Nilai ini masih berada dalam batas normal dan tidak terlalu jauh pada batas rasio yaitu antara 2. Jika tekanan suatu sistem keseimbangan dinaikkan maka sistem akan bereaksi dengan mengurangi tekanan.00 : 1.tinggi dari suhu desain maka keseimbangan bergeser ke pembentukan reaktan (N 2 dan H2). Dan sebaliknya jika tekanan diturunkan maka sistem bereaksi menambah tekanan dengan cara menambah jumlah molekul dan reaksi akan bergeser ke arah yang koefisiennya lebh besar.7.5-3. nilai tekanan yang digunakan saat ini tidak jauh dari data desain sehingga tekanan kondisi saat ini masih bisa dioperasikan. Sintesis ammonia juga dipengaruhi oleh rasio H2/N2. Tekanan data desain sebesar 131. Tekanan pada sistem juga memperngaruhi reaksi kesetimbangan ammonia.00. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh rasio H2/N2 pada data desain sebesar 3.

1977. Ammonia Converter (105 D) di Ammonia Plant Pusri IV dinyatakan masih dalam keadaan baik.3. PT. 1977. Pupuk Sriwidjaja. Palembang 15 . J.Inc. Smith. Tim Persiapan Operasi Ammonia Plant Pusri-IV. & Don Green. PT. Robert H. United States of America : McGraw-Hill. 1980. Palembang Tim Persiapan Operasi Utility Plant Pusri-IV. Pupuk Sriwidjaja. 4 Dengan nilai effisiensi konversi NH3 sebesar 81% dan effisiensi energi panas sebesar 93%. “Operating Instruction Manual”. Palembang Tim Persiapan Operasi Urea Plant Pusri-IV. M. Abbott.1 Kesimpulan Berdasarkan evaluasi kinerja Ammonia Converter (105 D) pada tugas khusus ini dapat disimpulkan bahwa: 1 Effisiensi konversi NH3 yang diperoleh dari perhitungan perbandingan aktual dan desain adalah sebesar 81%` 2 Effisiensi energi panas yang diperoleh dari perhitungan data aktual adalah sebesar 93%. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamic Sixth Edition. antara lain:  Temperatur dan tekanan operasi  Kondisi katalis  Laju alir umpan  Rasio N2/H2  Komposisi ammonia dalam umpan. New York : McGrawHill Book Company.. C. Van Ness and M. H. “Standard Operating Procedure”. Pupuk Sriwidjaja. PT.2 Saran Untuk mendapatkan produksi ammonia yang maksimal sebaiknya dilakukan perawatan atau penggantian peralatan pabrik sehingga dapat memungkinkan untuk pengoperasian pabrik sesuai dengan kondisi operasi desainnya. 3. 1984. 3 Besarnya konversi NH3 pada Ammonia Converter dipengaruhi oleh beberapa faktor. DAFTAR PUSTAKA Perry. M. Perry’s Chemial Engineers Handbook. 1977. “Operating Instruction Manual”.

16 .

17 .