LAPORAN PRAKTIKUM

PELATIHAN METALURGI FISIK

“UJI IMPACT”

Disusun oleh :
Nanang Azi Mubarok (1510631150077)
Rieval Ade Putra (1510631150085)
Rizky Jimmy A (1510631150090)
Satria Wahyu (1510631150092)
Sri Bintang (1510631150096)
Sugeng Riyadi (1510631150097)
Sugih Laksana P (1510631150098)
Wisnu Widiyasto A (1510631150105)
Yasa Alamsyah (1510631150106)
Dodi Yudiantoro (1510631150112)

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
KARAWANG
2017

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi dari masa ke masa semakin maju, kemajuan
teknologi sangat membantu manusia dan memberikan kemudahan dalam
melakukan segala sesuatunya. Berbagai bidang kehidupan manusia sangat
bergantung pada teknologi seperti transportasi, komunikasi, bangunan dan
peralatan elektronik rumah tangga. Suatu teknologi akan berfungsi dengan baik
dan maksimal apabila terbuat dari bahan atau material yang baik pula. Produk-
produk elektronik, alat transportasi dan bahan bangunan akan memiliki fungsi
baik apabila bahan penyusunnya merupakan bahan dengan sifat mekanik yang
baik.

Salah satu sifat mekanik material adalah keuletannya, tingkat keuletan
material menentukan fungsinya ketika digunakan. Tingkat kegetasan material
terpengaruh oleh beberapa hal, seperti beban kejut, tekikan, suhu dan lain-lain.
Untuk mengetahui keuletan daripada suatu material perlu dilakukan suatu
pengujian bahan. Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui keuletan material
adalah pengujian impak. Pengujian dilakukan pada beberapa sampel atau
spesimen dari suatu jenis material. Pengujian impak dapat dilakukan dengan dua
metode yaitu dengan metode charpy dan metode izzod. Metode charpy banyak
dilakukan di Amerika Serikat, sedangkan metode izzod banyak dilakukan di
Eropa. Dengan mengetahui sifat suatu material melalui pengujian, maka dapat
meminimalisir resiko kegagalan fungsi dari produk yang diciptakan dari material
tersebut. Keuletan material dapat diketahui apabila terjadi perpatahan. Ada dua
golongan patahan yaitu patah getas danpatah ulet. Maka daripada itu, praktikum
pengujian impak ini sangat diperlukan oleh mahasiswa agar mengetahui cara
melakukan pengujian keuletan material dan mengetahui cara melakukan
perhitungan tingkat keuletan material.

B. Tujuan

Untuk memahami nilai harga impak (HI). Untuk mengetahui hal-hal yang mempengaruhi tingkat kegetasan dan keuletan suatu material. energi impak dan sifat perpatahan berdasarkan patahan melalui pengujian impak. Mengerti tentang grafik hasil pengujian impak. . keuletan atau kegetasan dan ketangguhan bahan. 2.Adapun tujuan dari melakuakn praktikum uji impact adalah sebagai berikut : 1. 5. Untuk memahami pengujian impak dengan metode charpy. Untuk mengetahui sifat-sifat material yang berpangaruh terhadap beban impak seperti kekuatan. 3. 4.

TINJAUAN PUSTAKA A. 2013) (Gambar 2. dapat dihitung kerja tumbukan yang diterima W. dapat dilakukan suatu pengujian yang dinamakan dengan uji impak. Dengan pengujian impak dapat diketahui perbedaan sifat benda yang tidak teramati dalam uji tarik. yakni kerja karena . Pengujian impak menggunakan batang spesimen bertakik yang sudah distandarisasi. Pada proses tumbukan. Dasar Teori Untuk menentukan sifat perpatahan suatu logam. (Anrinal.1 Ilustrasi pengujian impak) Dasar pengujian impak ini adalah penyerapan energi potensial dari pendulum beban yang berayun dari suatu ketinggian tertentu dan menumbuk benda uji sehingga benda uji mengalami deformasi atau patahan. keuletan maupun kegetasannya. Berbagai jenis pengujian impak batang bertakik telah digunakan untuk menentukan kecenderungan benda untuk bersifat getas. II.

1) Keterangan: A = Penampang patah W = Kerja tumbukan WS = Besaran yang mengontrol karakteristik bahan kerja. tingkat dimana energi diserap dengan nyata dapat mempengaruhi sifat material dan ukuran ketangguhan yang berbeda mungkin didapat dari beban impak. 1. Walaupun demikian. . Sifat material yang berhubungan dengan kerja yang dibutuhkan untuk menyebabkan patahan dinamakan ketangguhan dan tergantung pada tipe pembebanan. B.perubahan bentuk dari benda uji sampai mencapai munculnya kepatahan. Metode Pengujian Impact Secara umum benda uji impak dikelompokkan ke dalam dua golongan sampel standar yaitu : batang uji Charpy banyak digunakan di Amerika Serikat dan batang uji Izzod yang lazim digunakan di Inggris dan Eropa.25 mm dan kedalaman 2 mm. dengan jari-jari dasar 0. Kekuatan tumbukan dimana. Metode Charpy Benda uji Charpy memiliki luas penampang lintang bujur sangkar (10 x 10 mm) dengan panjang 55 mm2 dan memiliki takik (notch) berbentuk V dengan sudut 45 o. pendulum diarahkan pada bagian belakang takik dari batang uji. Pada pengujian kegetasan bahan dengan cara impact charpy. W WS = A (2.

Menghasilkan tegangan uniform di sepanjang penampang. Hanya dapat dipasang pada posisi horizontal. 5. Waktu pengujian lebih singkat. (Gambar 2. Spesimen dapat bergeser dari tumpuannya karena tidak dicekam. namun sekarang mulai jarang digunakan. .2 Peletakan spesimen metoda charpy) Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode charpy adalah : a) Kelebihan : 1. Benda uji izzod mempunyai penampang lintang bujur sangkar atau lingkaran dan bertakik v didekat ujung yang dijepit. 2. pukulan pendulum diarahkan pada jarak 22 mm dari penjepit dan takikannya menghadap pada pendulum. 4. 2. Pengerjaannya lebih mudah dipahami dan dilakukan. Metode Izzod Benda uji izzod lazim digunakan di Inggris. 2. Harga alat lebih murah. Pada pengujian impak cara izzod. b) Kekurangan : 1. 3. 4. 3. Hasil pengujian kurang dapat atau tepat dimanfaatkan dalam perancangan karena level tegangan yang diberikan tidak rata. Hasil pengujian lebih akurat. Pengujian hanya dapat dilakukan pada specimen yang kecil.

Waktu yang digunakan cukup banyak karena prosedur pengujiannya yang banyak. 4. Proses pengerjaan pengujiannya lebih sukar. . mulai dari menjepit benda kerja sampai tahap pengujian. Dapat menggunakan spesimen dengan ukuran yang lebih besar. Biaya pengujian yang lebih mahal dan Hasil perpatahan yang kurang baik. 5. 2. 3. Memerlukan mesin uji yang berkapasitas 10. Pengerjaan benda uji pada impact charpy dan izod dikerjakan habis pada semua permukaan. sehingga hasil yang diperoleh kurang baik.000 ton. Tumbukan tepat pada takikan karena benda kerja dicekam dan spesimen tidak mudah bergeser karena dicekam pada salah satu ujungnya. (Gambar 2. 2. Pembebanan yang dilakukan hanya pada satu ujungnya. Takikan dibuat dengan mesin fris atau alat notch khusus takik.3 Peletakan spesimen metoda izzod) Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode izood adalah : a) Kelebihan 1. b) Kerugian : 1.

Dalam pembebanan statis dapat juga terjadi laju deformasi yang tinggi kalau bahan diberi takikan. tipe dan bentuk konstruksi mesin uji bentur beraneka ragam. dimana pendulum mengayun bebas. C. Patah getas menjadi permasalahan penting pada baja dan besi. yang memungkinkan peningkatan laju regangan beberapa kali lipat.maka akan mengayun sampai kedudukan posisi akhir 4 pada ketinggian h2 yang juga hampir sama dengan tinggi semula (h1). maka akan semakin besar deformasi yang terkonsentrasikan pada takikan. Benda uji takikan berbentuk V yang mempunyai keadaan takikan 2 mm banyak dipakai. skala akan menunjukkan usaha lebih dari 0. Pengujian impact dipergunakan untuk menentukan kualitas bahan. Semakin tajam takikan. Pada mesin uji yang baik.4 Mesin uji impak metode charpy) Apabila pendulum dengan berat G dan pada kedudukan h1 dilepaskan. yaitu mulai dari jenis konvensional sampai dengan sistem digital yang lebih maju. (Ismail.05 kilogram meter (kg m) pada saat pendulum mencapai kedudukan 4 [5]. Apabila . Mesin Uji Impact Mesin uji impact adalah mesin uji untuk mengetahui harga impak suatu beban yang diakibatkan oleh gaya kejut pada bahan uji tersebut. 2012) (Gambar 2.

3) Keterangan : W1 = Usaha yang dilakukan (kg m) G = Berat pendulum (kg) h1 = Jarak awal antara pendulum dengan benda uji (m) λ = Jarak lengan pengayun (m) cos λ = Sudut posisi awal pendulum Sedangkan sisa usaha setelah mematahkan benda uji dapat diketahui melalui rumus sebagai berikut : W2 = G × h2 (kg m) W2 = G × λ(1 .cos α) (kg m) (2.4) Keterangan : W2 = Sisa usaha setelah mematahkan benda uji (kg m) G = Berat pendulum (kg) h2 = Jarak akhir antara pendulum dengan benda uji (m) λ = Jarak lengan pengayun (m) cos β = Sudut posisi akhir pendulum Besarnya usaha yang diperlukan untuk memukul patah benda uji dapat diketahui melalui rumus sebagai berikut : . maka pendulum akan memukul batang uji dan selanjutnya pendulum akan mengayun sampai kedudukan 3 pada ketinggian h2.cos β) (kg m) (2. Usaha yang dilakukan pendulum waktu memukul benda uji atau usaha yang diserap benda uji sampai patah dapat diketahui melalui rumus sebagai berikut: W1 = G × h1 (kg m) (2.2) W1 = G × λ(1 .batang uji dipasang pada kedudukannya dan pendulum dilepaskan.

cos λ) (kg m) 2.W2 (kg m) W = G × λ(cos β .5) Keterangan : W = Usaha yang diperlukan untuk mematahkan benda uji (kg m) W1 = Usaha yang dilakukan (kg m) W2 = Sisa usaha setelah mematahkan benda uji (kg m) G = Berat pendulum (kg) λ = Jarak lengan pengayun (m) cos λ = Sudut posisi awal pendulum cos β = Sudut posisi akhir pendulum . W = W1 .

Saat beban dinaikkan pada ketinggian tertentu. Bentuk kegagalan itu tergantung pada jenis materialnya. karena energi yang diserap penyangga tidak terlalu besar sehingga tidak banyak mempengaruhi harga impak. lalu dibuat suatu kurva yang menghubungkan antara temperatur dan energi yang diserapnya. Praktikum ini menggunakan spesimen Charpy dengan takikan V. Temperatur transisi ditentukan dengan banyak cara. Harga Impak (HI) didapat dengan rumus : E HI = A (2. yaitu temperatur dimana permukaan patahan 50% getas dan 50% ulet. beban memiliki enegi potensial. FTP adalah temperatur dimana suatu patahan dari ulet sempurna menjadi getas. maka dilihat bentuk patahan dan energi yang diserap oleh spesimen. Dengan membuat variasi perubahan temperatur. Kedua memperhatikan nilai FTP (Fracture Transiton Plastic) dan NDT (Nil Ductile Temperature). Jangkauan temperatur antara FTP dan NDT inilah yang disebut dengan temperatur transisi. Selain mendapat kurva energi yang diserap-temperatur. Sedang NDT adalah temperatur saat tidak ada lagi deformasi plastis lagi yang terjadi sehingga suatu material langsung mengalami patah getas. dari praktikum ini juga bisa mendapat Harga Impak. Prinsip pengujian impak ini adalah menghitung energi yang diberikan beban dan menghitung energi yang diserap oleh spesimen. (Gambar 2.5 Prinsip dasar mesin uji impak) Pengujian yang dilakukan dengan metode Charpy akan menghasilkan harga impak yang lebih valid dibandingkan bila dilakukan dengan metode Izod. kemudian saat menumbuk spesimen energi kinetik mencapai maksimum. Pertama FATT (Fracture Appearance Transition Temperature).6) . pengujian ini juga dapat menentukan nilai temperatur transisi. Energi yang diserap spesimen akan menyebabkan spesimen mengalami kegagalan. apakah patah getas atau patah ulet. Temperatur transisi adalah jangkauan temperatur dimana suatu material mengalami perubahan jenis patahan dari ulet menjadi getas. Selain harga impak.

Perpatahan granular/kristalin. Ditandai dengan permukaan patahan berserat yang berbentuk dimpel yang menyerap cahaya dan berpenampilan buram. Perpatahan campuran (berserat dan granular). yaitu: 1. Merupakan kombinasi dua jenis perpatahan di atas. yang melibatkan mekanisme pergeseran bidang-bidang kristal di dalam bahan (logam) yang ulet (ductile). Vibrasi atom inilah yang . yang dihasilkan oleh mekanisme pembelahan (cleavage) pada butir-butir dari bahan (logam) yang rapuh (brittle). 3. Perpatahan Impak Secara umum sebagai mana analisis perpatahan pada benda hasil uji tarik maka perpatahan impak digolongkan menjadi tiga jenis. Ditandai dengan permukaan patahan yang datar yang mampu memberikan daya pantul cahaya yang tinggi (mengkilat). Pada pengujian dengan temperatur yang berbeda- beda maka akan terlihat bahwa pada temperatur tinggi material akan bersifat ulet (ductile) sedangkan padat temperatur rendah material akan bersifat rapuh atau getas (brittle). 2. Informasi lain yang dapat dihasilkan dari pengujian impak adalah temperatur transisi bahan. Perpatahan berserat (fibrous fracture). Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan pada temperatur yang berbeda dimana pada temperatur kamar vibrasi itu berada dalam kondisi kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila temperatur dinaikkan (ingatlah bahwa energi panas merupakan suatu driving force terhadap pergerakan partikel atom bahan). Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisip perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-beda.Keterangan : HI = Harga impak ( joule/mm2 ) E = Energi impak ( joule ) A = Luas penampang ( mm2 ) D.

6 Efek temperatur terhadap ketangguhan impak material) E. (Zuchry. Sebaliknya pada temperatur di bawah nol derajat Celcius. Patah Getas Merupakan fenomena patah pada material yang diawali terjadinya retakan secara cepat dibandingkan patah ulet tanpa deformasi plastis terlebih .berperan sebagai suatu penghalang (obstacle) terhadap pergerakan dislokasi pada saat terjadi deformasi kejut/impak dari luar. vibrasi atom relatif sedikit sehingga pada saat bahan dideformasi pergerakan dislokasi menjadi lebih sangat mudah dan benda uji menjadi lebih mudah dipatahkan dengan energi yang relatif lebih rendah. Dengan semakin tinggi vibrasi itu maka pergerakan dislokasi mejadi relatif sulit sehingga dibutuhkan energi yang lebih besar untuk mematahkan benda uji. Patah Getas dan Patah Ulet Secara umum perpatahan dapat digolongkan menjadi dua golongan umum yaitu : 1. 2012) (Gambar 2.

Dalam kehidupan nyata. karena terjadi tanpa disadari begitu saja. Patah Ulet Patah ulet merupakan patah yang diakibatkan oleh beban statis yang diberikan pada material. b) Terjadi secara tiba-tiba tanpa ada deformasi plastis terlebih dahulu sehingga tidak tampak gejala-gejala material tersebut akan patah. dan berwarna kelabu. Patah ulet ini ditandai dengan penyerapan energi disertai adanya deformasi plastis yang cukup besar di sekitar patahan. Biasanya patah getas terjadi pada material berstruktur martensit. Ciri-cirinya : a) Ada reduksi luas penampang patahan. c) Tempo terjadinya patah lebih cepat. berkilat dan memantulkan cahaya. . akibat adanya tegangan multiaksial. Selain itu komposisi material juga mempengaruhi jenis patahan yang dihasilkan. peristiwa patah getas dinilai lebih berbahaya dari pada patah ulet. 2. dahulu dan dalam waktu yang singkat. Biasanya patah ulet terjadi pada material berstruktur bainit yang merupakan baja dengan kandungan karbon rendah. akibat tegangan uniaksia. atau material yang memiliki komposisi karbon yang sangat tinggi sehingga sangat kuat namun rapuh. Ciri-cirinya: a) Permukaannya terlihat berbentuk granular. jadi bukan karena pengaruh beban saja. jika beban dihilangkan maka penjalaran retakakan berhenti. sehingga permukaan patahan nampak kasar. berserabut (fibrous). d) Bidang patahan relatif tegak lurus terhadap tegangan tarik. e) Tidak ada reduksi luas penampang patahan.

b) Tempo terjadinya patah lebih lama. tergantung pada beban. Hal ini disebabkan karena distribusi tegangan hanya terkonsentrasi pada satu titik saja. (Dani. berserat. Penyebab ketangguhan bahan adalah pencampuran antara satu bahan dengan bahan lainnya. Bentuk takikan Bentuk takikan amat berpengaruh pada ketangguahan suatu material. Misalnya baja di campur karbon akan lebih tangguh dibandingkan dengan baja murni. c) Pertumbuhan retak lambat. Ketangguhan Bahan Ketangguhan suatu bahan adalah kemampuan suatu bahan material untuk menyerap energi pada daerah plastis atau ketahanan bahan terhadap beban tumbukan atau kejutan. menyerap cahaya. 2010) 1. Takikan dibagi menjadi beberapa macam antara lain adalah sebagai berikut : a) Takikan segitiga Memiliki energi impak yang paling kecil. d) Permukaan patahannya terdapat garis-garis benang serabut (fibrosa). Ada beberapa jenis takikan berdasarkan kategori masing-masing. 2012) F. dan penampilannya buram. b) Takikan segi empat . sehingga paling mudah patah. karena adanya perbedaan distribusi dan konsentrasi tegangan pada masing-masing takikan tersebut yang mengakibatkan energi impak yang dimilikinya berbeda-beda pula. (Duta. yaitu pada ujung takikan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi ketangguhan bahan adalah. Berikut ini adalah urutan energi impak yang dimiliki oleh suatu bahan berdasarkan bentuk takikannya.

tergantung pada cara pengusiaannya 5. sesuai dengan ukuran besarnya. demikinanpun sebaliknya. 4. dan demikianpun sebaliknya. Namun temperatur memiliki batas tertentu dimana ketangguhan akan berkurang dengan sendirinya. Hal ini diakibatkan karena suatu material akan lebih mudah patah apabila dibebani oleh gaya yang sangat besar. Efek komposisi ukuran butir Ukuran butir berpengaruh pada kerapuhan. Transisi ulet rapuh Hal ini dapat ditentukan dengan berbagai cara. Memiliki energi yang lebih besar pada takikan segitiga karena tegangan terdistribusi pada dua titik pada sudutnya. maka energi impak semakin kecil yang dibutuhkan untuk mematahkan spesimen. dengan temperatur yang lebih rendah. sehingga tidak mudah patah. Beban Semakin besar beban yang diberikan . Perlakuan panas dan perpatahan . Semakin halus ukuran butir maka bahan tersebut akan semakin rapuh sedangkan bila ukurannya besar maka bahan akan ulet. c) Takikan Setengah lingkaran Memiliki energi impak yang terbesar karena distribusitegangan tersebar pada setiap sisinya. 2. maka ketangguhannya semakin tinggi dalam menerima beban secara tiba-tiba. 3. Temperatur Semakin tinggi temperatur dari spesimen. misalnya kondisi struktur yang susah ditentukan oleh sistem tegangan yang bekerja pada benda uji yang bervariasi. 6.

Seperti diperlihatkan dalam grafik tegangan-regangan terdapat yang namanya batas luluh (yield strength). Mengenai tentang struktur mikro.000 psi sedangkan plastisnya > 52. dimana untuk setiap material memiliki karakteristik yang berbeda-beda. pada saat di deformasi elastis tidak ada perubahan perubahan mikro begitu juga ketika deformasi elastis itu hilang. . Perlakuan panas umumnya dilakukan untuk mengetahui atau mengamati besar-besar butir benda uji dan untuk menghaluskan butir. Pengerasan kerja dan pengerjaan radiasi Pengerasan kerja terjadi yang ditimbulkan oleh adanya deformasi plastis yang kecil pada temperatur ruang yang melampaui batas atau tidak luluh dan melepaskan sejumlah dislokasi serta adanya pengukuran keuletan pada temperatur rendah. contohnya saja pada waktu kita maelakukan uji tarik. G. pada saat material yang kita uji ditarik maka aka ada perubahan panjang pada material itu tetapi material itu akan kembali pada bentuk semula apabila gaya tarik dihilangkan. Deformasi elastis adalah perubahan bentuk material yang di beri gaya tarik atau tekan sehingga dapat berubah bentuk dan bila energi tarik atau tekan dihilang kan benda tersebut akan kembali ke bentuk semula. Sedangkan pada deformasi plastis material yang sudah di beri gaya tarik hingga mengalami perubahan panjang atau bentuk tidak akan kembali pada bentuk semula setelah gaya tarik dihilangkan.000 psi.000 psi yang artinya karakter elastis pada material tersebut adalah < 52. misalnya saja pada pipa jenis API 5L X 52 di mana yield strength (SMYS) adalah 52. untuk deformasi elastis itu berada dibawah batas luluh sedangkan untuk deformasi plastis berada/melewati batas luluh suatu material. 7. Deformasi Plastis dan Elastis Suatu material dapat bertahan dari energi tekan dikarenakan energi tekan tidak melebihi energi material itu.

Pembentukan butir butir baru terbutlah yang menyebabkan terjadinya perubahan struktur mikro. serta faktor-faktor yang mempengaruhi sifat material tersebut perlu diketahui dan diperhatikan. hal ini disebabkan ketika masih didaerah elastis. akan mengalami suatu beban kejutan dalam operasinya. kemudian adanya pembentukan ukuran butir yang baru (biasanya ukuran butir menjadi lebih kecil dan gepeng karena deformasi plastis akibat tekanan). sehingga menghambat pergerakkan dari dislokasi. Bandul yang mempunyai ketinggian tertentu berayun dan memukul spesimen. Maka dari itu ketahanan suatu material terhadap beban mendadak. Pengujian ini berguna untuk melihat efek-efek yang ditimbulkan oleh adanya takikan. disebut sebagai daerah plastic yang tidak akan kembali kebentuk semula. Alasannya karena sudah terjadi perubahan. sedangkan di daerah elastic tidak terjadi perubahan secara drastis. Ketika kita deformasi elastis maka pegas akan berusaha melawan Fe yang kita tarik. dislokasi sudah memotong batas butir. Sebagai inisiasinya adalah sudah putusnya ikatan antara Fe. Impact test bisa diartikan sebagai suatu tes yang mengukur kemampuan suatu bahan dalam menerima beban tumbuk yang diukur dengan besarnya energi yang diperlukan untuk mematahkan spesimen dengan ayunan. Kegunaan Dilakukanya Uji Impek Pada Sepesimen Beberapa peralatan pada otomotif dan transmisi serta bagian-bagian pada kereta api. bentuk takikan. Berkurangnya energi . (Anrinal. Untuk deformasi plastis struktur mikro sudah berubah.Secara sederhana deformasi elastis itu dapat kita gambarkan dengan dua buah atom Fe yang diikat dengan sebuah pegas. nah ujung dari titik proporsional ini disebut sebagai yield point. Biasanya daerah elastik itu dibatasi oleh garis proporsional antara tegangan san tegangan. 2013) H. sedangkan ketika sudah memasuki daerah plastik. dan faktor-faktor lainnya. Setelah keluar dari daerah ini. temperatur. logam dapat menahan beban yg diberikan yg disebabkan oleh bertemunya dengan batas butir dengan dislokasi.

potensial dari bandul sebelum dan sesudah memukul benda uji merupakan energi yang diserap oleh spesimen. 2013) . (Anrinal.

Mengangkat batang pendulum pada posisi yang diinginkan dengan menggunakan batang dari baja pada arm level dan meletakkan socket screw pada holder hingga terkunci. Alat Pembuat Not 4. Jangka Sorong 3. . 3. III. Mesin Uji Impact (Impact Tester) 2. Dicatat besar beban impak yang terbaca dari dial indicator. Menyiapkan spesimen uji impak sesuai dengan standar jiss. Mengatur dial indikator jarum penunjuk energi. Meletakkan spesimen pada landasan uji dan letakan spesimen sesuai dengan takikan pas ditengah. Spesimen B. Prosedur Kerja Adapun prosedur percobaan yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. METODOLOGI PRAKTIKUM A. 4. 6. 5. Menarik lengan holder ke atas unntuk melepaskan socket screw sehingga batang pendulum jatuh dan menabrak spesimen. 2. Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : 1.

Pada spesimen yang dipraktekan patahan yang terjadi pada spesimen terlihat lebih ule. tergantung dari hasil sudut awal pendulum dan energi yang diserap telah diketahui seperti pada tabel di lampiran laporan ini. Dari pengujian uji impak yang telah dilakukan maka didapat jenis atau klasifikasi patahan. dengan Ketebalan (t) = 8mm2. HASIL DAN PEMBAHASAN A. sedangkan. Spesimen tidak terlihat patah melainkan melengkung. Lebar (w) = 10mm2. Hal ini dikarenakan semakin tinggi suhu spesimen membuat spesimen memiliki sifat yang lebih ulet. Radius takikan spesimen = 0. . Pembahasan Setelah melaksanakan praktikum pengujian uji impak.m. Luas Penampang = 80mm2 . Hasil (Terlampir) B. Namun pada percobaan impak ini sebaiknya dilakukan pengukuran takikan pada spesimen dengan mikroskop untuk mengetahui pengaruh ukuran takikan terhadap harga impak. praktikan dapat mengetahui cara mencari nilai dari energi impak pada setiap spesimen yang diuji. Setelah mendapatkan hasil data perhitungan mencari luas permukaan (A). Pada praktikum uji impact ini menggunakan baja karbon rendah. Hasilnya dapat dilihat pada tabel hasil praktikum di atas dengan hasil pengukuran spesimen dan nilai energi yang diserap. Kemudian setelah melakukan pengujian sebaiknya dilakukan pengukuran menggunakan mikroskop sehingga dapat diamati perbedaan ukuran patahan dari masing-masing spesimen. Satuan energi yang diserap dalam bentuk satuan (E)/kgf. Kedalam takikan = 2mm. maka kita dapat mengetahui berapa besar sudut akhir pendulum. IV.25 o dan Sudut takikan = 45o. jenis patahan yang didapat pada pengujian impak kali ini adalah patahan ulet.

4. kedua metode pada pengujian impak dilakukan. Sebaiknya saat praktikum di laboratorium. B. . dan semakin tinggi temperatur maka material akan semakin ulet. 3. Impact Test adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk menguji ketangguhan suatu specimen terhadap pemberian beban secara tiba-tiba melalui tumbukan. dapat disimpulkan bahwa perpatahan akan semakin mudah terjadi pada takikan bersudut. Kersimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut : 1. Energi impak yang terbesar terdapat pada takikan setengah lingkaran dan terendah pada takikan segitiga. agar kita dapat melihat perbedaannya dengan jelas. Semakin rendah harga impak maka jenis perpatahan yang terjadi akan semakin getas. V. Praktikan harus lebih teliti pada saat pengamatan jarum pada alat uji imp act supaya data yang dihasilkan lebihakurat 2. Saran Adapun saran yang diberikan setelah praktikum adalah sebagai berikut : 1. Pembuatan takikan pada spesimen harus simetris agar hasil yang diperoleh lebih akurat 3. Jadi. 2. Salah satu hal yang mempengaruhi impak adalah temperatur. KESIMPULAN DAN SARAN A. Semakin rendah temperatur suatu material maka akan semakin getas material tersebut.

2012.academica.id/ dutak/ 2011/12/29/patah-getas-patah-ulet-ductile-to-brittle- tension/. 2010.academia.ub. [Online].edu/2719429/Mekanika_Teknik..ac.id/38886/1/Alat_Uji_Impak_Charpy. [Online]. Duta. 2012. Tersedia : http://eprints. (Di akses pada tanggal 24 Februari 2017).edu/8960096/laporan_praktikum_uji_tarik_dan _uji_impact_jurusan_pendidikan_teknik_mesin. [Online]. [Online]. Tersedia : http://blog. “Laporan Praktikum Uji Tarik dan Uji Impak”.ac.pdf. 2012 “Mekanika Teknik” Universitas Tadulako. Tersedia : http://www.undip.com/ category/materi-teknik. “Uji impak”. 2011. (Diakses pada tanggal 24 Februari 2017) Ismail.wordpress. (Diakses pada tanggal 24 Februari 2017) Ramdan. (Diakses pada tanggal 24 Februari 2017) Zuchry M. DAFTAR PUSTAKA Dani. “Patah Getas. [Online]. (Diakses pada tanggal 24 Februari 2017) . Patah Ulet & to Brittle Tension”. Tersedia : https://www. “Rancang Bangun Mesin Uji Impak Charpy”. Palu. Tersedia : http://danidwikw.