Artikel Riset Jurnal

naan JamuKefarmasian Indonesia
pada.....(Retno Gitawati, dkk)
Vol.5 No.1-Feb. 2015:41-48
p-ISSN: 2085-675X
e-ISSN: 2354-8770

Penggunaan Jamu pada Pasien Hiperlipidemia Berdasarkan Data
Rekam Medik, di Beberapa Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

The Use of Jamu in Patients with Hyperlipidemia Based on Data from the Medical
Record, in Some Health Care Facilities, in Indonesia

Retno Gitawati*, Lucie Widowati, Frans Suharyanto

Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Indonesia
*E-mail: retnogitawati@gmail.com

Diterima: 12 Desember 2014 Direvisi: 5 Januari 2015 Disetujui: 30 Januari 2015

Abstrak
Hiperlipidemia adalah kelainan yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar lipid darah, umumnya tidak
menunjukkan gejala klinis spesifik. Penatalaksanaan hiperlipidemia melalui modifikasi perilaku/gaya hidup dan
penggunaan obat antidislipidemia konvensional. Selain itu, juga berkembang pengobatan menggunakan obat
bahan alam (jamu) yang dilakukan oleh dokter praktik jamu. Penelitian ini merupakan bagian dari studi registri
jamu berbasis website, bertujuan mengetahui gambaran penggunaan/pemberian jamu oleh dokter praktik jamu
kepada pasien dengan keluhan hiperlipidemia. Desain penelitian potong lintang, deskriptif, dengan sampel data
rekam medik pasien jamu yang berobat pada 80 dokter praktik jamu di beberapa fasilitas pelayanan kesehatan
yang termasuk dalam jejaring pelayanan kesehatan tradisional, di 7 provinsi di Indonesia. Hasil penelitian
menggambarkan karakteristik dari 97 pasien hiperlipidemia mayoritas perempuan (60,8%), usia 48-58 tahun
(46,4%), sebagian besar hanya mendapatkan pengobatan jamu saja (62,9%) selama 7-14 hari, dan selebihnya
kombinasi dengan obat konvensional dan/atau pelayanan kesehatan tradisional lainnya. Jenis jamu terbanyak
diberikan adalah jamu kemasan pabrik dalam bentuk sediaan kapsul (55,7%), dengan kandungan simplisia
utama daun jati belanda (Guazumae folium) dan daun kemuning (Murrayae folium). Kejadian tidak diinginkan
(KTD) terjadi pada 4 kasus, yaitu diare dan diuresis.
Kata kunci: Hiperlipidemia; Jamu; Daun jati belanda; Daun kemuning

Abstract
Hyperlipidemias are disorders which are manifested by elevation of blood lipid, such as total cholesterol and/or
triglyceride above the normal level. Hyperlipidemia management is done by lifestyle modification (high-fiber
diet, exercises) as well as using antidyslipidemias. On the other hand, non-conventional or traditional treatment
of hyperlipidemias using herbals (jamu) is becoming ubiquitous, performed by jamu practitioner clinician
(dokter praktik jamu). This study is a part of a web-site Jamu Registry Study, which is intended to figure herbal
(jamu) dispensed by jamu practitioner clinician for hyperlipidemic patients. A descriptive, cross-sectional
design is applied, using medical record data of ‘jamu’ patients from some health facilities, in 7 provinces in
Indonesia. Results showed, out of 97 hyperlipidemic patients were mostly female (60.8%), aged 48-58 years
(46.4%); most of them (62.9%) were treated merely with jamu for 1 – 2 weeks, and the rests were treated with
jamu in combination with conventional and/or other alternative medication. The most jamu used were branded
herbal capsules (55.7%) containing of Guazumae folium and Murrayae folium. Adverse events were reported in
four cases i.e. diarrhea and diuresis.
Keywords: Hyperlipidemia; Jamu; Guazumae folium; Murrayae folium

41

praktik jamu dengan pemberian obat dimana HDL rendah.9 Dewasa ini obat anti- Dislipidemia merupakan salah satu hiperlipidemia yang popular digunakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit terutama adalah penghambat enzim hiroksi jantung koroner (PJK). beberapa kasus ditandai dengan mun. tinggi rendahnya nilai lipoprotein dan di dalam masyarakat juga berkembang serum lipid. di daerah mata. (2) hiperlipidemia. Data di Indonesia menunjukkan kolesterol total abnormal pada penduduk METODE usia ≥ 15 tahun sebesar 35. rumah apabila penanganan non-medikamentosa sakit. kepada pasien dengan keluhan dan atau daerah muskuloskeletal (misalnya di diagnosa dislipidemia/hiperlipidemia yang siku lengan). dan HDL-kolesterol rendah atau gejala/penyakit yang ditangani oleh dokter normal. (4) HDL-kolesterol rendah.5(1):41-48 PENDAHULUAN yang dapat menurunkan kadar lipid darah menjadi normal. dimana LDL. 2015. klinik dianggap tidak memadai. yang termasuk dalam jejaring pela- obat antidislipidemia/antihiperlipidemia 42 . dan klinik (khusus) kasus hiperlipidemia diperlukan pemberian jamu.9% penduduk studi registri jamu berbasis website yang usia ≥ 15 tahun dengan kadar LDL tinggi dilakukan pada tahun 2014. klinik dokter praktik bersama. Dislipidemia hiperlipidemia juga digunakan obat-obat adalah kondisi dimana kadar lipid darah di golongan fibrat dengan mekanisme kerja luar batas kadar normal. TC dan trigliserida (TG) tinggi. penyakit dislipidemia/hiperlipidemia.Jurnal Kefarmasian Indonesia. pelayanan kesehatan (fasyankes). selain itu sebagai anti perempuan pasca menopause. yaitu deposit lemak mengetahui gambaran penggunaan dan berupa benjolan atau nodul berwarna pemberian jamu oleh dokter praktik jamu kekuningan pada kulit. dimana VLDL. TC normal. (3) (2010) mengungkapkan bahwa penyakit hipertrigliseridemia.6 berobat di fasyankes.10 dapat dibagi atas 4 klasifikasi berdasarkan Selain penggunaan obat konvensional. yang kan gejala klinis yang spesifik. yakni (1) hiperkolesterolemia.4. hiperlipidemia. trigliserida borderline tinggi sebesar 13%.2 dan di dunia metil-glutaril ko-enzim A reduktase prevalensinya cenderung meningkat (HMG-CoA reductase inhibitor) yakni terutama di kalangan usia lanjut dan obat golongan statin. Namun (fasyankes) seperti puskesmas.8.1. Tujuan penelitian ini adalah untuk culnya xanthoma. TG dislipidemia merupakan salah satu dari 10 tinggi. 3 2013 dan 2014 telah dikembangkan rekam Hiperlipidemia ditandai dengan medik untuk pasien-pasein yang berobat terjadinya peningkatan kadar lipid darah jamu di berbagai tempat fasilitas (lemak atau senyawa sejenis lemak). dekriptif. lain mencakup rekam medik untuk gejala/ Hiperlipidemia umumnya tidak menunjuk. antara utamanya kolesterol dan trigliserida.6. penggunaan obat bahan alam dan obat dimana LDL dan kolesterol total (TC) tradisional (jamu) untuk mengatasi tinggi.5.12 Desain atau sangat tinggi. dan TG tradisional jamu/ramuan11 Pada tahun normal atau tinggi. namun merupakan bagian dari registri jamu di hiperlipidemia berat dan kronis pada fasilitas pelayanan kesehatan.9 %. Penelitian sebelumnya VLDL. pada beberapa dokter praktik mandiri. Penelitian ini merupakan bagian dari dan didapatkan sebesar 15. hiperlipidemia dilakukan terutama melalui menggunakan data sekunder registri jamu. Dislipidemia yang berbeda.7 Penatalaksanaan penelitian adalah potong-lintang. modifikasi perilaku/gaya hidup antara lain yaitu data rekam medik pasien yang dengan menerapkan pola makan (diet) berobat jamu pada 80 dokter praktik jamu rendah lemak dan melakukan aktivitas di beberapa fasilitas pelayanan kesehatan fisik (olah raga) yang cukup.

d. di beberapa jarak waktu antara kunjungan awal sampai kabupaten/kota yang tersebar di 7 provinsi dengan kunjungan ke-dua (follow-up) (Banten. nyeri otot (hiperlipidemia). Kriteria inklusi sampel adalah rekam Tidak diketahui alasan mengapa tidak medik dari pasien jamu yang didiagnosis semua pasien melakukan kunjungan ulang.6%) yang dialami pasien (36. hiperlipidemia.14.12 Populasi penelitian adalah bahwa umumnya terapi jamu hiper- rekam medik pasien yang berobat jamu lipidemia diberikan oleh dokter jamu (selanjutnya disebut pasien jamu) dengan untuk jangka waktu 1–4 minggu. berdasarkan keluhan subyektif yang Kementerian Kesehatan RI. (Tabel 1).7%) dislipidemia kunjungan ulang (follow-up). terbanyak adalah 7–14 hari. keluhan efek samping klinik khusus jamu (39.1%) (Tabel 2). juga LB.16 Pada penelitian ini. dislipidemia lebih tinggi pada perempuan diagnosis emik (keluhan) pasien jamu. hal ini Bali. dibandingkan laki-laki. sesuai dengan beberapa hasil penelitian Data dianalisis dan disajikan secara lain yang mengungkapkan prevalensi deskriptif. Pada diperoleh 97 pasien (10. (39.5%).02. tercatat pasien memuat data pasien baik kunjungan awal hiperlipidemia yang berobat jamu ke maupun kunjungan ulangan (follow-up) fasilitas pelayanan kesehatan terbanyak pada periode April s.13Jumlah jumlah sampel total adalah seluruh rekam pasien kunjungan ulang tersebut semakin medik pasien jamu rawat jalan pada bulan berkurang lagi pada kunjungan ke-tiga (8 April sampai dengan bulan Oktober tahun pasien) dan ke-empat (hanya 2 pasien). Pada mandiri dokter (38. utamanya pada jenis pelayanan kesehatan tradisional wanita pasca menopause usia paruh (kestrad) yang diberikan. nyeri otot belakang leher Dari 908 rekam medik (RM) pasien merupakan keluhan subyektif (emik) yang jamu pada kunjungan awal yang terkumpul terbanyak dikeluhkan oleh pasien jamu selama 7 bulan (April s. studi ini tidak dianalisis keberhasilan Penentuan penyakit (diagnosis) pada pengobatan hiperlipidemia dengan jamu. rekam medik tersebut Dari data rekam medik.. meliputi karakteristik pasien. komposisi jamu baya. Dari data 97 pasien belakang leher masih merupakan keluhan hiperlipidemia tersebut. berpendidikan datanya tidak lengkap dan data rekam menengah (50..1%) yang telah melakukan pasien jamu. Jawa Tengah. Oktober 2014. kunjungan ulang (follow-up) kedua dengan 43 . tercatat hanya 35 subyektif terbanyak (28..d. Hasil ini medik pasien non-hiperlipidemia. Jawa Barat. DKI.15 Pasien jamu terbanyak berobat ke yang diberikan.. 2014. Sumatera Selatan dan Sulawesi kemungkinan berkaitan dengan temuan Selatan.118/2014 dari Komisi dilakukan penegakan diagnosis dengan Etik Penelitian Kesehatan Badan pendekatan emik (diagnosis emik). perempuan (60. yakni Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.4%).01/5. naan Jamu pada.8%). (Tabel 3). Oktober).2%) pada kunjungan awal. berusia paruh baya Kriteria eksklusi adalah rekam medik yang 48–58 tahun (46. dkk) yanan kesehatan tradisional. pasien-pasien yang berobat secara Penelitian ini telah mendapatkan tradisional ini selain ditegakkan secara persetujuan etik dengan nomor konvensional menggunakan ICD-10.2%) dan praktik yang terekam pada rekam medik. dirasakan dari sudut pandang pasien secara etik-rasional (diagnosis etik) HASIL DAN PEMBAHASAN mengarah pada hiperlipidemia.(Retno Gitawati.2/ KE.

6 Pendidikan: Tamat SD (%) 5.3 Diperiksa kolesterol total (%). Angka ini termasuk dalam adanya hiperlipidemia secara konvensional kategori kadar kolesterol total abnormal sebaiknya dilakukan dengan pemeriksaan tinggi (≥ 240 mg/dL) yang menunjukkan kadar lipid darah secara berkala.3 Pekerjaan: Pegawai swasta.1 Puskesmas (%) 18.5) *Profil lipid: kolesterol total.6 Rumah Sakit (%) 4.4 ≥ 59 tahun (%) 18.5(1):41-48 Tabel 1 .6 (216.2 (247.7 ± 5.5 Tamat Perguruan Tinggi (%) 44. sementara HDL diperiksa kadar lipid darah.1 37 – 47 tahun (%) 30.7 Tidak bekerja (%) 17. Semua parameter lipid darah pasien yang lakukan dengan pemeriksaan profil lipid diperiksa (trigliserid dan LDL) juga darah antara lain kolesterol total.2 Praktek mandiri.2 ± 25. petani. Dari data dimana trigliserid rata-rata >150 mg/dL rekam medik.8 Umur: 15 – 25 tahun (%) 2.3%) mg/dL (Tabel 2). rerata (mg/dL) 74. rerata(mg/dL) 17.1) Diperiksa trigliserid (%). tidak semua pasien jamu dan LDL >100 mg/dL. rerata (mg/dL) 20. rerata (mg/dL) 16. terutama kolesterol total (74. 44 .2%) dengan nya tidak menunjukkan gejala klinis yang rerata kadar kolesterol total 248. LDL. 2015.5 (46. Proporsi pasien hiperlipidemia menurut jenis fasyankes yang dikunjungi dan dilakukannya pemeriksaan profil lipid darah (N=97) Jenis fasyankes: Klinik jamu (%) 39. tercatat diperiksakan profil lipid darah. Karakteristik pasien hiperlipidemia (N=97) Jenis Kelamin: Laki-laki (%) 39.4 Tentara/Polisi/PNS (%) 24.5 Lainnya *(%) 11.9 ± 14. wiraswasta (%) 46.9 48 – 58 tahun (%) 46.2 Perempuan (%) 60. Praktek bersama (%) 38.SLTA (%) 50.5 mg/dL spesifik sehingga untuk memastikan (Tabel 2).3 *Lainnya: pensiunan.5 (167. mengarah kepada kondisi hiperlipidemia.17 penegakan diagnosis hiperlipidemia di.1) Diperiksa LDL (%).1 26 – 36 tahun (%) 2.0 ± 3. buruh.2 Tamat SLTP .Jurnal Kefarmasian Indonesia. Untuk adanya gejala hiperkolesterolemia. LDL dan HDL. HDL Penderita hiperlipidemia pada umum.1 Diperiksa profil lipid* (%) 75. namun hanya sedikit saja di atas nilai normal ≥ 40 sebagian besar pasien jamu (75.1) Diperiksa HDL (%). nelayan Tabel 2 . trigliserida. trigliserid.

. pitavastatin) dan gemfibrosil. rosela 11 11.jati belanda.jati belanda. sebagian pasien lainnya juga ada yang pravastatin. tempuyung. sirih.Daun jati belanda (Guazumae folium) 63 64. jati cina. kunyit. Tidak ada jamu berbentuk serbuk seperti Sementara itu. Jenis simplisia tanaman obat dan komposisi jamu terbanyak yang diberikan pada pasien hiperlipidemia (N=97) Ikhwal N % Jenis simplisia tanaman obat (tunggal maupun dalam kombinasi dengan simplisia lain): . Selain terapi jamu. tempuyung.(Retno Gitawati.9 . kemuning.9%) hanya diberi jamu yankestrad lainnya yang diberikan adalah saja. kelembak 3 3. jati cina.2 . kelembak. kemuning.kacang kedele.4 . dkk) Pasien jamu yang berobat di fasyankes komplementer (Gambar 1).jati belanda.3 .3 . bekam (5 pasien) dan akupresur (2 pasien). kortikosteroid dan vitamin.jati belanda. jati cina.2 . kemuning 7 7.. temulawak. menerima jenis pelayanan kestrad lainnya AINS.Daun tempuyung (Sonchi folium) 22 22. Persentase pasien hiperlipidemia menurut jenis pelayanan kestrad dan jenis jamu yang diberikan (N=97) Tabel 4. obat konvensional yang yang beredar bebas di pasaran diberikan diberikan antara lain adalah obat anti pada pasien. meniran 6 6.. kelembak 3 3. meniran 10 10. naan Jamu pada. akar kelembak.. kunyit. daun kelor 6 6. jamu kemasan pabrik berbentuk kapsul.3 Komposisi jamu terbanyak: . Jenis sebagian besar (62. dengan jenis jamu terbanyak berupa akupunktur (11 pasien). atau pengobatan konvensional secara Gambar 1.Daun kemuning (Murrayae folium) 45 46.1 .jati belanda.Bunga rosella (Hibisci flos) 11 11. pada dislipidemia golongan statin (simvastatin.7 .1 45 . kemuning. pijat (6 pasien). temulawak.2 . sirih.jati belanda.

karena memerlukan dapat memperbaiki profil lipid darah pada pembuktian dan penelitian lebih lanjut. terutama jika digunakan jangka lemak. letih.24 Selain itu. 2015.29 belanda dalam eksperimen telah terbukti dapat menghambat aktivitas enzim lipase KESIMPULAN pankreas. Pasien ramuan yang terdiri dari daun jati belanda. diduga karena kandungan belanda antara lain adalah diare karena tanin dan musilago dalam daun jati iritasi lambung. kemuning. namun tidak dapat diketahui apakah beberapa studi eksperimental laboratorium KTD ini berhubungan dengan bahan jamu menunjukkan pemberian daun jati belanda yang digunakan. lesu 0 1 Diuresis 1 0 *obat anti-dislipidemia konvensional Daun jati belanda (Guazumae folium) Kejadian tidak diinginkan (KTD) yang dan daun kemuning (Murrayae folium) dialami oleh pasien jamu pada penggunaan adalah jenis simplisia tanaman obat.19 dan diare. yang paling sering diberikan kunjungan ulang.26.25 Seperti halnya daun jati belanda.Jurnal Kefarmasian Indonesia. sirih. (Tabel 5).28. Kejadian tidak diinginkan (KTD) setelah terapi pada pasien hiperlipidemia berdasarkan data RM (N= 35) Jumlah pasien dengan terapi: KTD Jamu (n) Jamu + Konvensional* (n) Mengalami KTD 3 1 Jenis KTD: Diare 2 1 Mual 0 1 Muntah 0 1 Lemas.18. yang mengalami KTD adalah pasien yang jati cina. baik jamu hiper-lipidemia relatif kecil. sehingga hidrolisis trigliserida menjadi monogliserida dan asam lemak Dari data rekam medik registri jamu yang bisa diabsorpsi usus akan terhambat tercatat perempuan berusia paruh-baya pula. dilaporkan KTD dialami dokter praktik jamu kepada pasien oleh 4 pasien (4/35 atau 11. ekstrak daun jati panjang. terutama terkait dengan penggunaan daun jati trigliserida. dan subyektif paling sering dikeluhkan pasien eksperimental menunjukkan adanya efek jamu. dan menjadi salah satu diagnosis menurunkan lipid darah. tradisional juga digunakan antara lain Nyeri belakang leher merupakan keluhan untuk mengatasi kegemukan.4%) . diuresis dan kerusakan Belanda yang dapat mengurangi absorpsi ginjal.5(1):41-48 Tabel 5. sebagian hiperlipidemia (Tabel 4). belanda digunakan untuk menurunkan Jenis KTD yang dilaporkan terutama berat badan pada kegemukan.20-23 Mekanisme Literatur menyebutkan efek samping penurunan lipid darah. Dari tunggal ataupun ramuan bersama simplisia sejumlah 35 pasien yang melakukan lainnya. dan bunga rosela. keadaan dislipidemia. akar menerima terapi Jamu (3 pasien) dan kelembak. pasien yang menerima terapi Jamu plus Secara tradisional rebusan daun jati obat konvensional (1 pasien).27 emik yang dapat digunakan pada pelaya- 46 . tempuyung. sedangkan besar pasien (30 pasien) tidak mengalami komposisi tersering diberikan adalah KTD dan 1 pasien tidak ada data. (48-58 tahun) merupakan kelompok yang daun kemuning (Murrayae folium) secara rentan untuk mengalami hiperlipidemia.

Dislipidemia pada kelompok usia 2. dari: http://www. NCEP-ATP III Guidelines. Paediatric Medical Association. Sebagian besar pasien jamu Kementerian Kesehatan RI. Rumawas YSP 4. Minneapolis: School of Public Health. Academic of Medicine. 2012. Research. the 4th meresepkan jamu untuk pasien penderita Edition of clinical practice guidelines penyakit degenerativ di 12 propinsi. Jurnal Heart Assosiation of Malaysia and Kesehatan Masyarakat. ilmiah. Diunduh 27 Januari 2015 dari: http://mlearning. Astuti Y. Siswanto. Marinelli A. Treatment Panel III). Evaluasi praktik dokter yang 3. Badan Penelitian dan Pengembangan 18. pabrik berbentuk kapsul. Nutritional status of disorder. 10. Putrajaya: Minitry of Health. 2005. dkk) nan kesehatan tradisional untuk hiper.24(2):95-102. Antihyperlipidemic drugs. Story M. Yalcinkaya U. Jakarta Pusat.cn/G2S/eWebEditor/uploadfile/2012 0529102107199. Pellacani A. 2005.61 yang mengalami KTD.gov. naan Jamu pada. 7th ed. Choosing drug sebagian kecil pasien yang melakukan therapy for patients with hyperlipidemia. Oztop F.moh. Ellya RD.15(2): 203–11. Dallari D. pada 9. update & Penelitian Kesehatan. Available sisi utama adalah daun jati belanda dan from http://www. Gilchrest AB. Kesehatan. Stang J. Gitawati R. kunjungan ulang.13. 2011. of the National Cholesterol Education 6. Xanthoma of the terobosan untuk mendapatkan bukti calcaneus associated with hyper. British Journal of praktik penggunaan jamu oleh dokter di Nutrition.epi. Guidelines for mayoritas merupakan jamu kemasan adolescent nutrition services [Internet]. Sijani P. Siswoyo documents/Hyperlipidemia-1. Sadik F. Utju R dan Edhiwan http://www. 47 . 15.106(1):6-14. and treatment of Xanthoma of bone: First sign of high blood cholesterol in adults (Adult hyperlipidemia type IIB: A case report. May 2001. dengan kompo. Wolff K. diuresis. berupa diare dan (11):3371-82. Widowati L. Jilid 1. 12. University of Minnesota. 2008:1272-81. National Heart. Purwadianto A. Buku 1. In: Fitzpatrick TB. 2001. Medical general medicine. Jointly published with National lanjut di Lembang Bandung. Xanthomatoses and lipoprotein dan Lukito W. Bertoni F. 2000. Purwantyastuti. Hyperlipidemia. Buletin Penelitian Sistem lipoproteinemia. et al. Delima. Siswoyo cholesterol: from physiology to H. Badan Deerfiled:W-F Professional Associates. 16. Executive Clinical Orthopaedics and Related Summary. 2013. review. New York: Journal Indones. Lesi C. 2003. melakukan kunjungan ulang. Media Litbangkes. Lecerf JM. Journal of the American Kesehatan. Saintifikasi jamu sebagai upaya 5.410:274-7. editors. wfprofessional. McGraw-Hill.95 17. 2011 [cited 2015 Jan 27]. tercatat hanya 4 pasien American Family Physician.pdf H.shtm... 2013 Jan [cited 2015 Jan 27] Diunduh Kementerian Kesehatan RI. Indonesia tahun 2013. Pokok-pokok hasil Riskesdas terjemahan Badan Litbang Kehutanan. Third report (6):602-4. Buletin 2. Program (NCEP): Expert panel on Valeriani L. Jamu registri. Jakarta: lipidemia.1(1):39-53. 2012.pdf 1. Gambaran cardiovascular risk. 2014.edu/let/pubs/ daun kemuning. Penelitian dan Pengembagan Kesehatan. 2014. Available from 14. enam provinsi di Indonesia.my/attachments/663 P.(Retno Gitawati.zju. [internet]. and Blood Institute. Kamso S. according to body mass index (study in Leffell JD (editors). evaluation. Tidak semua pasien jamu adol_book.com/ 13. 1987. Widowati L.. Paller SA. NIH.14:97-100. Siswanto. 7. 2005. Dietary 11. de Lorgeril M. Tumbuhan berguna.pdf. Lung.601-2. detection. Management of dyslipidemia 2011. Widowati L. Dermatology in four Indonesian big cities). Lacivita CL. 8. hyperlipidemics elderly in Indonesia Goldsmith AL.40(3):109-22. Delima. Volume 35 No 1 [internet]. Heyne K..umn. White LE. DAFTAR RUJUKAN edu. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan. diberi pengobatan hanya jamu saja. Safeer RS.

Royhan Rozqie. FMIPA. 23. Pramono S. Prahastuti S. Tumbuhan Obat Indonesia. ulmifolia. terhadap penurunan kadar kolesterol LDL 22. pada tikus putih jantan [Skripsi]. The effect of jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk. 6(2):14-5. Pengaruh ekstrak daun jati antioksidan dan antitrigliserida ekstrak belanda (Guazuma ulmifolia Lamk. ilmu Hayati dan Fisik.) berpotensi badan. L) terhadap kadar trigliserida 28. Program Studi Kedokteran. putih strain Wistar. Rosdiana. Sawitri R. 2000. 2014. Maulina Diah. 2015. Rahardjo SS.1(2):74-6. 2005. daun jati belanda serta terhadap bobot badan kelinci yang diberi kombinasinya. 24. 2003. Fakultas Taksonomi koleksi tanaman obat kebun Farmasi. Pengaruh pemberian serum mencit jantan (Mus musculus) kombinasi ekstrak etanol daun jati galur Swiss Webster yang diberi asupan belanda (Guazuma ulmifolia. tanaman obat Citeureup: Guazuma Surakarta. Jurnal Gradien.) sebagai obat novergicus akibat pemberian ekstrak alternatif untuk hiperlipidemia: kajian in etanol daun jati belanda (Guazuma vivo dan in vitro [Tesis]. Paembonan IL. Tropical Medicine Journal. 27. Hidayat M. Woro Pengaruh lendir daun jati belanda Rukmi P. Institut ulmifolia Lamk). 2008. Jakarta. Patricia TH. 2012. Ekstrak daun jati belanda Aktifitas lipase pancreas Rattus (GuazumaUlmifolia Lamk. Pramono S. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. 2(1):57-65. 2012. Yonathan KA. sabdarifa. Rachmadina. Bogor. Kristiani EBE. L) dan tinggi kolesterol [Tesis]. 2001 [Skripsi].16(2):89-94. Pengaruh ekstrak daun 21.) Kimia. Efek serbuk daun Institut Pertanian Bogor. Universitas Setia Budi.38(1):15-23. 2005. Andriani Y. 26. Sugiyanto. Aktivitas 48 .5(1):41-48 19.) tunggal kedelai. Nurwati S. Biokimia.Jurnal Kefarmasian Indonesia. Jurnal Penelitian UMJ. Jurusan kemuning (Murraya paniculata L. 2001. 2010. Ekstrak air daun jati belanda kemuning terhadap penurunan berat (Guazuma ulmifolia Lamk. menurunkan kadar lipid darah pada tikus 16(3):15-29. 29. Universitas kelopak bunga rosella (Hibiscus Kristen Maranatha. 20. Warta on histopathology of rat’s kidney. Bogor. 25. Ngatijan. Berkala Ilmu Pertanian Bogor. 2014.) terhadap (Guazuma ulmifolia Lamk) leaves extract bobot badan tikus putih betina. Soeng S. Bionatura-Jurnal Ilmu- pakan berlemak.