You are on page 1of 37

ALAT- ALAT PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi

Tugas Mata Kuliah Pengantar pendidikan

Di Susun Oleh:
Miftachul Ngulum (932105810)
M Ulfi bakhtiar (932105310)
Masyadi (932114810)

Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2010

BAB I
PENDAHULUAN

Sesuai dengan tujuan nasional yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 di
sebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.Oleh
kerena itu kita sebagai calon-calon pendidik harus belajar bagaimana mewujudkan tujuan
nasional tersebut agar nantinya tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik.
Tujuan pendidikan dapat terwujud apabila semua komponen/faktor pendidikan
semuanya telah ada.Faktor-faktor pendidikan ada lima yaitu:(1).Tujuan pendidikan (2).Pendidik
(3).Anak didik (4).Lingkungan (5).Alat pendidikan.Dan yang akan di bahas dalam makalah ini
adalah faktor pendidikan yang nomor lima yaitu Alat Pendidikan.
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi-kondisi yang
memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan
diri sebagai perbuatan atau situasi ,dengan perbuatan dan situasi mana,di cita-citakan dengan
tegas,untuk mencapai tujuan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Perbedaan Alat Pendidikan dan Faktor pendidikan


1.Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai
perbuatan atau situasi ,dengan perbuatan dan situasi mana di cita-citakan dengan tegas untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Atau dapat di katakan alat pendidikan adalah kalau denganya pendidik melakukan
pekerjaan mendidik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah di tentukan
Pendidikan dalam menggunakan Alat pendidikan sudah di tentukan adanya cita-cita yang
ingin di capai ,dan sudah pula ada tujuan tertentu untuk mempengaruhi anak didik.Misalnya
madrasah,gereja dan sebagainya merupakan alat pendidikan untuk keagamaan .Karena dalam
kemadrasahan atau kegerejaan tadi secara formil di berikan pendidikan keagamaan.
Jadi sesuatu hal itu apakah merupakan komponen/faktor pendidikan atau alat
pendidikan ,tergantung situasi atau tujuan yang ingin di capai.
Perlu di ketahui bahwa alat pendidikan ialah sesuatu tindakan atau perbuatan atau situasi
atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.[1]
Adapun pembagian alat pendidikan menurut Drs. Suwarno dapat di bedakan dari
bermacam-macam segi sebagai berikut:

1. Alat pendidikan positif dan negatif


a) Positif yaitu ditunjukkan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik misalnya: contoh yang baik
pembiasaan ,perintah pujian,ganjaran.
b) Negatif jika tujuannya menjaga supaya anak didik jangan mengerjakan sesuatu yang buruk
misalnya:larangan,celaan,peringatan,ancaman,hukuman.

2. Alat pendidikan preventif dan korektif

a) Preventif jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik misalnya
contoh: pembiasaan perintah,pujian ganjaran.
b) Korektif jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau berbuat
sesuatu yang buruk misalnya:celaan,ancaman,hukuman.

3. Alat pendidikan yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.

a) Yang menyenangkan yaitu menimbulkan perasaan senang pada anak-anak


misalnya:ganjaran,pujian.
b) Yang tidak menyenangkan maksudnya yang menimbulkan perasaan tidak senang pada anak-
anak misalnya hukuman dan celaan.
Drs.Madyo Ekosusilo membagi alat pendidikan menjadi 2 (dua) jenis yaitu:
1. Alat pendidikan yang bersifat materiil yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang
nyata.
2. Alat pendidikan yang bersifat non materiil yaitu alat-alat yang tidak bersifat kebendaan melainkan
segala macam keadaan atau kondisi ,tindakan dan perbuatan yang diadakan atau dilakukan
dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksanakan pendidikan.[2]
Drs.Amir Dain Indrakusuma menyatakan:
mengenai alat-alat pendidikan,kita dapat membedakan alat-alat pendidikan ke dalam dua
golongan,yaitu:
a) alat pendidikan preventif
b) alat pendidikan represif[3]
Dari pendapat mengenai alat-alat pendidikan secara garis besar ada dua,dengan
istilah positif-negatif,materiil-non materiil dan preventif korektif/represif.
Alat pendidikan yang bersifat positif mengarah kepada agar anak didik mengerjakan hal-
hal baik ,sedang alat-alat pendidikan yang bersifat negatif mengarah agar anak didik tidak
mengerjakan hal-hal yang buruk.
Alat-alat pendidikan yang bersifat materiil berupa benda-benda nyata yang dapat dilihat
dengan indra mata dan dapat di raba dengan indra kulit,sedang alat-alat pendidikan yang bersifat
non materiil tidak berupa benda-benda dan oleh karenanya tidak dapat dilihat dengan mata dan
diraba dengan kulit tetapi dapat di dengar dengan indra telinga dan dapat dirasakan dengan
pengertian/pemahaman dan perasaan.
Alat-alat pendidikan preventif ialah alat-alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu
untuk mencegah masuknya pengaruh-pengaruh buruk dari luar ke dalam diri si anak didik.
Pada dasarnya anak lahir dalam keadaan bersih tidak ada dosa bersama
kelahiranya,belum ada pengalaman,dan belum tahu apa-apa.Akan menjadi anak baik atau tidak
sangat terpengaruh kepada yang mempengaruhinya.
Kewajiban pendidik adalah mendidik anak didik menjadi anak yang baik dan
mencegah/membentengi anak didik dari masuknya pengaruh-pengaruh yang buruk kedalam
dirinya.
Jenis alat-alat pendidikan preventif yang abstrak seperti tata tertib,anjuran,larangan
perintah,disiplin dan semisalnya.
Alat pendidikan Represif dan Korektif atau kuratif.Represif artinya bersifat
menindas,korektif artinya bersifat memperbaiki, kuratif artinya bersifat penyembuhan.
Hal-hal yang ditindas represif adalah sifat-sifat negatif pada anak didik,seperti sifat
malas,murung,minder dan sebagainya.
Hal-hal yang diperbaiki (korektif) adalah pembuatan-pembuatan jelek yang sudah
menjadi kebiasaan diperbuat anak didik,seperti suka berkelahi,suka bertengkar, suka mengambil
barang milik orang lain,suka menghina,suka mengejek,suka menganggu dan sebagainya.
Hal-hal yang disembuhkan (kuratif) adalah penyakit-penyakit jiwa yang terdapat di
dalam diri anak didik seperti iri,dengki,sombong dan sebagainya.
Kewajiban pendidik dalam hal ini adalah mengikis sifat-sifat negatif,kebiasaan-kebiasaan
buruk dan penyakit penyakit jiwa yang ada pada diri anak.
2.Faktor pendidikan
Fator pendidikan adalah hal yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik,atau
dapat dikatakan bahwa faktor pendidikan memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik.
Faktor pendidikan sering juga di kenal dengan nama komponen pendidikan dan da lima
komponen atau faktor pendidikan,yaitu:
a) tujuan pendidikan
b) pendidik
c) anak didik
d) lingkungan
e) alat pendidikan

B.Penggunaan alat pendidikan


Di dalam menggunakan alat pendidikan ,seharusnya sudah di tegaskan tujuan apa yang
akan di capai,tetapi juga harus selalu di ingat,bagi para pendidik,hendaknya berusaha
menghindarkan tindakan yang bersifat memaksa bagi anak didik.
Penggunaan alat itu di pengaruhi oleh pribadi si pemainya,karena itu pribadi si pemakai
harus berusaha menyesuaikan diri dengan tujuan yang dikandung oleh alat itu.
Pengguaan alat mempunyai hubungan yang erat dengan sifat kepribadian si pemakai,dan
hubungan erat dengan sifat kepribadian si pemakai ini merupakan sifat khas dari alat pendidik,di
bandingkan dengan alat yang lain.Misalnya,pribadi yang mengabaikan cita keagamaan tidak
akan berhasil di dalam mendidik keagamaan,walaupun alat-alat yang di gunakan cukup
tersedia,baik dan sempurna.
Di dalam memilih alat-alat pendidikan yang akan di gunakan perlu di ingat atau
diperhatikan hal-hal berikut:
1. Tujuan apakah yang ingin di capai dengan alat itu
2. Siapakah yang akan menggunakan alat itu
3. Alat-alat manakah yang dapat tersedia dan dapat di gunakan
4. Terhadap siapakah alat itu di gunakan
Masih perlu kita tanyakan ,apakah di dalam menggunakan alat pendidikan itu akan
menimbulkan pengaruh pula dalam lapangan lain yang tidak menjadi tujuan utama dari
penggunaan alat itu dan apakah alat yang di gunakan itu sudah dapat untuk mencapai tujuan itu
atau belum atau mungkin masih perlu di bandingkan dengan yang lain.
Selain dari hal itu ,perlu kita perhatikan bagaimanakah reaksi anak-anak didik terhadap
penggunaan alat pendidikan itu jangan sampai reaksi anak didik hanya sekedar reaksi terhadap
suatu rangsangan belaka,tetapi kita inginkan agar dengan penggunaan alat pendidikan itu anak
didik mengalami perubahan karenanya perubahan yang tidak hanya bersifat mekanis
belaka,tetapi benar-benar merupakan pencerminan dari pribadi anak didik.
Dalam masalah terhadap siapakah alat itu digunakan maka perlu di ingat bagaimanakah
kondisi anak yang menerimanya,apakah anak didik itu berkelainan dan bagaimanakah
kelainanya,berapa umur anak didik itu bagaimanakah watak atau kebiasaanya dan situasi disaat
itu dan lain-lain.
Sedangkan mengenai alat-alat apakah yang tersedia dan dapat di gunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan,perlu kembali kita kaji bahwa tujuan pendidikan adalah
membimbing anak untuk mencapai kedewasaan,kedewasaan ini dapat di capai dalam pergaulan
antara anak dengan orang dewasa saja,dan pergaulan ini merupakan alat pendidikan yang
utama.Jadi dapat ditegaskan bahwa alt penddikan yang utama untuk mencapai tujuan dalam
lapangan pendidikan adalah pergaulan,terutama pergaulan antara anak dengan orang dewasa.
Dalam pemakaian alat-alat pendidikan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a) Tujuan pendidikan
b) Jenis alat pendidikan
c) Pendidik yang memakai alat pendidikan
d) Anak didik yang dikenai lat pendidikan
Meskipun tujuan pendidikan itu adalah sesuatu yang baik namun apa bentuk atau jenis
dari tujuan itu adalah bermacam-macam,sesuai bidang studi atau tingkatanya.
Pendidik sebagai pemakai alat pendidikan pun juga berbeda-beda keahlian dan
orientasinya meskipun dalam bidang studi yang sama,lebih-lebih dalam bidang studi yang
berbeda,maka tentunya alat yang dipakai juga berbeda.Pendidik tidak boleh memaksakan diri
menggunakan alat yang bukan ahlinya yang tidak cocok.
Anak didik sebagai pihak yang dikenai perbuatan mendidik adalah pihak yang pertama-
tama diperhatikan dalam menimbang-nimbang penggunaan alat-alat pendidikan,adapun hal-hal
yang perlu dipertimbangkan tentang anak didik adalah segi:
a) Jenis kelamin
b) Usia
c) Bakat
d) Perkembangan
e) Alam sekitar/lingkungan tempat tinggalnya.

C.Jenis-jenis alat pendidikan


1.Alat pendidikan pendahuluan
Adalah alat pendidikan yang diterapkan/digunakan bagi anak didik yang telah mengerti
akan arti kewibawaan ,dan terdiri dari:
a) Keteraturan,berarti berlangsung pada waktu,tempat dan dengan cara yang sama.
b) Kebersihan,berarti menanamkan kebiasaan bagi anak didik agar tetap bersih dan rapi.
c) Ketenangan,artinya menanamkan kebiasaan bagi anak didik untuk ikut menjaga keharmonisan
keluarga,sehingga dapat hidup dengan tenang.
d) Pembiasaan.artinya memberi kesempatan kepada anak akan kesibukan dalam lapangan indra dan
motorik,dan kesempatan untuk bergaul dengan sesamanya.
2.Alat pendidikan yang sebenarnya
2. Memberi perlindungan:perlindungan ini dapat bersifat perlindungan terhadap
kejasmanian dan kerohanian.Tujuan melakukan perlindungan ini,untuk menghalangi si anak
berbuat sesuatu yang baik langsung maupun tidak langsung akan merugikan anak didik.Alat
pendidikanya dalam memberikan perlindungan ini dapat berupa: memberi kesempatan untuk
mengalami sesuatu,melarang atau menganjurkan untuk berbuat sesuatu,membiasakan atau
menciptakan keteraturan pada anak didik.
3. Verstandhouding:mengerti,yang dimaksudkan adalah agar anak dapat mengerti
tingkah laku orang tuanya.Alat pendidikan dalam hal ini berwujud .Contoh:memperlihatkan
contoh,menyuruh anak didik agar meniru apa yang dilihatnya,memberitahukan sesuatu kepada
anak didik,melarang terhadap perbuatan yang tidak baik.
4. Kesamaan arah dalam berbuat dan berfikir:Dalam hal ini,alat pendidikan
Bercorak meragakan sesuatu .Dengan alat pendidikan yang berupa percakapan ini anak didik
memperoleh penjelasan,pemberitahuan,gambaran,akan sesuatu keadaan dan selanjutnya kita
libatkan anak didik dengan atau dalam kehidupan orang dewasa,dengan memberi tanggung
jawab kepada anak didik dengan tujuan agar anak didik berusaha menyesuaikan diri dengan
orang dewasa,dan timbul keinginan pada anak didik agar mau menyesuaikan diri dengan
peraturan peraturan dan berusaha menempati janji.

5. Merasa hidup bersama/merasa ada perpaduan:Apabila pendidik dan anak didik


berada dalam pergaulan maka ini berarti bahwa mereka itu merasa hidup bersama,mereka ada
perpaduan.Dalam merasa hidup bersama ini ,timbul rasa saling mempercayai,cinta-
mencintai,kesemuanya ini di wujudkan oleh pendidik dalam pergaulan itu.
6. Pembentukan kemauan:bahwa dengan pembentukan kemauan ini dapat
membentuk agar anak didik mempunyai kesanggupan untuk berbuat kesusilaan atas keputusan
kemauan sendiri,bertanggung jawab sendiri.[4]
D.Hukuman sebagai alat pendidikan
a.Hukuman
Hukuman adalah suatu perbuatan dimana kita secara sadar dan sengaja menjatuhkan
nestapa kepada orang lain ,yang baik dari segi kejasmanian maupun dari segi kerohanian orang
lain itu mempunyai kelemahan bila di bandingkan dengan diri kita,dan oleh karena itu maka kita
mempunyai tanggung jawab untuk membimbingnya dan melindunginya.
Tujuan apakah yang terkandung dalam kita memberikan hukuman kepada anak didik itu?
1. Hukuman di berikan aleh karena adanya pelanggaran.
2. Hukuman di berikan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran.
3. Hukuman dikatakan berhasil bilamana dapat membangkitkan perasaan bertobat atau menyesali
akan perbuatanya.

b. Hukuman sebagai alat pendidikan


Hukuman adalah tindakan yang di jatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja
sehingga menimbulkan nestapa anak itu akan menjadi sadar akan perbuatanya dan berjanji di
dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.[5]
Di bidang pendidikan hukuman berfungsi sebagai alat pendidikan oleh karenanya:
1. Hukuman di adakan karena ada pelanggaran ,adanya kesalahan yang diperbuat.
2. Hukuman diadakan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran.
Kita cenderung untuk mencegah perbuatan anak yang membahayakan terhadap diri si
anak dan menimbulkan kesusahan bagi dirinya dan bagi keluarganya serta merepotkan bagi
pendidiknya.
Berikut ini beberapa teori hukuman:
1. Teori menjerakan:Teori ini di terapkan dengan tujuan agar si pelanggar sesudah menjalani
hukuman merasa jera (kapok) tidak mau di kenai hukuman semacam itu lagi maka lalu tidak mau
melakukan kesalahan lagi.
2. Teori menakut-nakuti:Teori ini di terapkan dengan tujuan agar si pelanggar merasa takut
mengulangi pelanggaran..Bentuk-bentuk menakuti biasanya dengan ancaman dan ada kalanya
ancaman yang di barengi dengan tindakan.
3. Teori pembalasan(balas dendam):Teori ini biasanya doiterapkan kepada si anak pernah
mengecewakan seperti si anak pernah mengejek atau menjatuhkan harga diri guru di sekolah atau
pada pandangan masyarakat dan sebagainya.Teori balas dendam ini tidaklah bersifat paedagogis.
4. Teori ganti rugi:Teori ini diterapkan karena si pelanggar merugikan.Contoh:
dalam bermain-main si anak memecahkan jendela,dll.
5. Teori perbaikan :teori ini diterapkan agar si anak mau memperbaiki kesalahanya ,di mulai dari
panggilan,di beri pengertian,di nasehati sehingga timbul kesadaran untuk tidak mengulangi
perbuatan salah itu ,baik saat ada si pendidik maupun di luar setahu pendidik.

Hukuman di bidang pendidikan harus mendasarkan kepada teori-teori hukuman yang


bersifat paedagogis,yang tidak menjurus pada kepada tindakan yang sewenang-
wenang.Dijatuhkan hukuman di bidang pendidikan yang karena ada kesalahan adalah agar yang
berbuat salah/si pelanggar menjadi sadar dan tidak lagi berbuat kesalahan yang sama ,serupa atau
yang berbeda.
1.Penderitaan si terhukum
Adanya penderitaan bagi si pelanggar adalah wajar namun sangatlah tercela dan tidak di
benarkan bagi hukuman yang tidak bersifat mendidik,lebih-lebih pada hukuman yang
menyebabkan kerusakan dan keutuhan jasmani dan rohani anak didik.
Hukuman sebagai alat pendidikan ,meskipun mengakibatkan penderitaan bagi si
terhukum ,namun dapat juga menjadi alat motivasi,alat pendorong untuk mempergiat aktivitas
belajar murid.
2.Beberapa petunjuk pengetrapan hukuman
Untuk menghindari adanya tindakan kesewenang-wenang dari pihak yang mengetrapan
hukuman terhadap anak didik,berikut ini beberapa petunjuk dalam mengetrapkan hukuman:
a) Pengetrapan hukuman di sesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan.
b) Pengetrapan hukuman di sesuaikan dengan jenis,usia dan sifat anak.
c) Pengetrapan hukuman di mulai dari yang ringan.
d) Jangan lekas mengetrapkan hukuman sebelum diketahui sebab musababnya,karena mungkin
penyebabnya terletak pada situasi atau pada peraturan atau pada pendidik.
e) Jangan mengetrapkan hukuman dalam keadaan marah,emosi,atau sentiment.
f) Jangan sering mengetrapkan hukuman.
g) Sedapat mungkin jangan mempergunakan hukuman badan,melainkan pilihlah hukuman yang
bernilai pedagogis.
h) Perhitungkan akibat-akibat yang mungkin timbul dari hukuman itu.
i) Berilah bimbingan kepada si terhukum agar menginsyafi atas kesalahanya.
j) peliharalah hubungan kasih sayang antara pendidik dengan yang mengetrapkan hukum dengan
anak didik yang di kenai hukuman.

c.Jenis-jenis hukuman
1. Hukuman membalas dendam:orang yang merasa tidak senang karena anak berbuat salah anak
lalu di hukum.
2. Hukuman badan:hukuman ini memberi akibat yang merugikan anak ,karena bahkan dapat
menimbulkan gangguan kesehatan bagi si anak.
3. Hukuman jeruk manis:menurut tokoh yang mengemukakan teori hukuman ini jan ligthart,anak
yang nakal tidak perlu di hukum,tetapi di dekati atau diambil hatinya.
4. Hukuman alam:dikemukakan oleh J.J. Rousseau dari aliran naturalisme berpendapat kalau ada
anak yang nakal jangan di hukum,biarlah kapok dengan sendirinya.
E.Kewibawaan sebagai alat pendidikan
Di dalam proses pendidikan kewibawaan adalah syarat yang harus ada pada pendidik
dan karena kewibawaan itu di gunakan oleh pendidik di dalam proses pendidikan untuk
membawa anak didik kepada kedewasaan,maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan.
Langeveld menyatakan bahwa pendidikan yang sungguh-sungguh baru dapat di berikan
setelah anak itu mengenal akan kewibawaan,kira-kira anak berumur tiga tahun.Sebelum umur
tiga tahun anak seperti di beri semacam paksaan.
Yang dimaksud dengan kewibawaan dalam pendidikan (opveodings gozag) di sini adalah
pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh atau anjuran yang datang dari
orang lain.
Gezag berasal kata zeggen yang berarti berkata.Siapa yang
Perkataanya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain ,berarti
mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang lain. ALAT- ALAT
PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi

Tugas Mata Kuliah Pengantar pendidikan

Di Susun Oleh:
Miftachul Ngulum (932105810)
M Ulfi bakhtiar (932105310)
Masyadi (932114810)

Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Sesuai dengan tujuan nasional yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 di
sebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.Oleh
kerena itu kita sebagai calon-calon pendidik harus belajar bagaimana mewujudkan tujuan
nasional tersebut agar nantinya tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik.
Tujuan pendidikan dapat terwujud apabila semua komponen/faktor pendidikan
semuanya telah ada.Faktor-faktor pendidikan ada lima yaitu:(1).Tujuan pendidikan (2).Pendidik
(3).Anak didik (4).Lingkungan (5).Alat pendidikan.Dan yang akan di bahas dalam makalah ini
adalah faktor pendidikan yang nomor lima yaitu Alat Pendidikan.
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi-kondisi yang
memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan
diri sebagai perbuatan atau situasi ,dengan perbuatan dan situasi mana,di cita-citakan dengan
tegas,untuk mencapai tujuan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Perbedaan Alat Pendidikan dan Faktor pendidikan


1.Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai
perbuatan atau situasi ,dengan perbuatan dan situasi mana di cita-citakan dengan tegas untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Atau dapat di katakan alat pendidikan adalah kalau denganya pendidik melakukan
pekerjaan mendidik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah di tentukan
Pendidikan dalam menggunakan Alat pendidikan sudah di tentukan adanya cita-cita yang
ingin di capai ,dan sudah pula ada tujuan tertentu untuk mempengaruhi anak didik.Misalnya
madrasah,gereja dan sebagainya merupakan alat pendidikan untuk keagamaan .Karena dalam
kemadrasahan atau kegerejaan tadi secara formil di berikan pendidikan keagamaan.
Jadi sesuatu hal itu apakah merupakan komponen/faktor pendidikan atau alat
pendidikan ,tergantung situasi atau tujuan yang ingin di capai.
Perlu di ketahui bahwa alat pendidikan ialah sesuatu tindakan atau perbuatan atau situasi
atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.[1]
Adapun pembagian alat pendidikan menurut Drs. Suwarno dapat di bedakan dari
bermacam-macam segi sebagai berikut:

1. Alat pendidikan positif dan negatif

a) Positif yaitu ditunjukkan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik misalnya: contoh yang baik
pembiasaan ,perintah pujian,ganjaran.
b) Negatif jika tujuannya menjaga supaya anak didik jangan mengerjakan sesuatu yang buruk
misalnya:larangan,celaan,peringatan,ancaman,hukuman.

2. Alat pendidikan preventif dan korektif

a) Preventif jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik misalnya
contoh: pembiasaan perintah,pujian ganjaran.
b) Korektif jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau berbuat
sesuatu yang buruk misalnya:celaan,ancaman,hukuman.

3. Alat pendidikan yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.

a) Yang menyenangkan yaitu menimbulkan perasaan senang pada anak-anak


misalnya:ganjaran,pujian.
b) Yang tidak menyenangkan maksudnya yang menimbulkan perasaan tidak senang pada anak-
anak misalnya hukuman dan celaan.
Drs.Madyo Ekosusilo membagi alat pendidikan menjadi 2 (dua) jenis yaitu:
1. Alat pendidikan yang bersifat materiil yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang
nyata.
2. Alat pendidikan yang bersifat non materiil yaitu alat-alat yang tidak bersifat kebendaan melainkan
segala macam keadaan atau kondisi ,tindakan dan perbuatan yang diadakan atau dilakukan
dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksanakan pendidikan.[2]
Drs.Amir Dain Indrakusuma menyatakan:
mengenai alat-alat pendidikan,kita dapat membedakan alat-alat pendidikan ke dalam dua
golongan,yaitu:
a) alat pendidikan preventif
b) alat pendidikan represif[3]
Dari pendapat mengenai alat-alat pendidikan secara garis besar ada dua,dengan
istilah positif-negatif,materiil-non materiil dan preventif korektif/represif.
Alat pendidikan yang bersifat positif mengarah kepada agar anak didik mengerjakan hal-
hal baik ,sedang alat-alat pendidikan yang bersifat negatif mengarah agar anak didik tidak
mengerjakan hal-hal yang buruk.
Alat-alat pendidikan yang bersifat materiil berupa benda-benda nyata yang dapat dilihat
dengan indra mata dan dapat di raba dengan indra kulit,sedang alat-alat pendidikan yang bersifat
non materiil tidak berupa benda-benda dan oleh karenanya tidak dapat dilihat dengan mata dan
diraba dengan kulit tetapi dapat di dengar dengan indra telinga dan dapat dirasakan dengan
pengertian/pemahaman dan perasaan.
Alat-alat pendidikan preventif ialah alat-alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu
untuk mencegah masuknya pengaruh-pengaruh buruk dari luar ke dalam diri si anak didik.
Pada dasarnya anak lahir dalam keadaan bersih tidak ada dosa bersama
kelahiranya,belum ada pengalaman,dan belum tahu apa-apa.Akan menjadi anak baik atau tidak
sangat terpengaruh kepada yang mempengaruhinya.
Kewajiban pendidik adalah mendidik anak didik menjadi anak yang baik dan
mencegah/membentengi anak didik dari masuknya pengaruh-pengaruh yang buruk kedalam
dirinya.
Jenis alat-alat pendidikan preventif yang abstrak seperti tata tertib,anjuran,larangan
perintah,disiplin dan semisalnya.
Alat pendidikan Represif dan Korektif atau kuratif.Represif artinya bersifat
menindas,korektif artinya bersifat memperbaiki, kuratif artinya bersifat penyembuhan.
Hal-hal yang ditindas represif adalah sifat-sifat negatif pada anak didik,seperti sifat
malas,murung,minder dan sebagainya.
Hal-hal yang diperbaiki (korektif) adalah pembuatan-pembuatan jelek yang sudah
menjadi kebiasaan diperbuat anak didik,seperti suka berkelahi,suka bertengkar, suka mengambil
barang milik orang lain,suka menghina,suka mengejek,suka menganggu dan sebagainya.
Hal-hal yang disembuhkan (kuratif) adalah penyakit-penyakit jiwa yang terdapat di
dalam diri anak didik seperti iri,dengki,sombong dan sebagainya.
Kewajiban pendidik dalam hal ini adalah mengikis sifat-sifat negatif,kebiasaan-kebiasaan
buruk dan penyakit penyakit jiwa yang ada pada diri anak.
2.Faktor pendidikan
Fator pendidikan adalah hal yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik,atau
dapat dikatakan bahwa faktor pendidikan memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik.
Faktor pendidikan sering juga di kenal dengan nama komponen pendidikan dan da lima
komponen atau faktor pendidikan,yaitu:
a) tujuan pendidikan
b) pendidik
c) anak didik
d) lingkungan
e) alat pendidikan

B.Penggunaan alat pendidikan


Di dalam menggunakan alat pendidikan ,seharusnya sudah di tegaskan tujuan apa yang
akan di capai,tetapi juga harus selalu di ingat,bagi para pendidik,hendaknya berusaha
menghindarkan tindakan yang bersifat memaksa bagi anak didik.
Penggunaan alat itu di pengaruhi oleh pribadi si pemainya,karena itu pribadi si pemakai
harus berusaha menyesuaikan diri dengan tujuan yang dikandung oleh alat itu.
Pengguaan alat mempunyai hubungan yang erat dengan sifat kepribadian si pemakai,dan
hubungan erat dengan sifat kepribadian si pemakai ini merupakan sifat khas dari alat pendidik,di
bandingkan dengan alat yang lain.Misalnya,pribadi yang mengabaikan cita keagamaan tidak
akan berhasil di dalam mendidik keagamaan,walaupun alat-alat yang di gunakan cukup
tersedia,baik dan sempurna.
Di dalam memilih alat-alat pendidikan yang akan di gunakan perlu di ingat atau
diperhatikan hal-hal berikut:
1. Tujuan apakah yang ingin di capai dengan alat itu
2. Siapakah yang akan menggunakan alat itu
3. Alat-alat manakah yang dapat tersedia dan dapat di gunakan
4. Terhadap siapakah alat itu di gunakan
Masih perlu kita tanyakan ,apakah di dalam menggunakan alat pendidikan itu akan
menimbulkan pengaruh pula dalam lapangan lain yang tidak menjadi tujuan utama dari
penggunaan alat itu dan apakah alat yang di gunakan itu sudah dapat untuk mencapai tujuan itu
atau belum atau mungkin masih perlu di bandingkan dengan yang lain.
Selain dari hal itu ,perlu kita perhatikan bagaimanakah reaksi anak-anak didik terhadap
penggunaan alat pendidikan itu jangan sampai reaksi anak didik hanya sekedar reaksi terhadap
suatu rangsangan belaka,tetapi kita inginkan agar dengan penggunaan alat pendidikan itu anak
didik mengalami perubahan karenanya perubahan yang tidak hanya bersifat mekanis
belaka,tetapi benar-benar merupakan pencerminan dari pribadi anak didik.
Dalam masalah terhadap siapakah alat itu digunakan maka perlu di ingat bagaimanakah
kondisi anak yang menerimanya,apakah anak didik itu berkelainan dan bagaimanakah
kelainanya,berapa umur anak didik itu bagaimanakah watak atau kebiasaanya dan situasi disaat
itu dan lain-lain.
Sedangkan mengenai alat-alat apakah yang tersedia dan dapat di gunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan,perlu kembali kita kaji bahwa tujuan pendidikan adalah
membimbing anak untuk mencapai kedewasaan,kedewasaan ini dapat di capai dalam pergaulan
antara anak dengan orang dewasa saja,dan pergaulan ini merupakan alat pendidikan yang
utama.Jadi dapat ditegaskan bahwa alt penddikan yang utama untuk mencapai tujuan dalam
lapangan pendidikan adalah pergaulan,terutama pergaulan antara anak dengan orang dewasa.
Dalam pemakaian alat-alat pendidikan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a) Tujuan pendidikan
b) Jenis alat pendidikan
c) Pendidik yang memakai alat pendidikan
d) Anak didik yang dikenai lat pendidikan
Meskipun tujuan pendidikan itu adalah sesuatu yang baik namun apa bentuk atau jenis
dari tujuan itu adalah bermacam-macam,sesuai bidang studi atau tingkatanya.
Pendidik sebagai pemakai alat pendidikan pun juga berbeda-beda keahlian dan
orientasinya meskipun dalam bidang studi yang sama,lebih-lebih dalam bidang studi yang
berbeda,maka tentunya alat yang dipakai juga berbeda.Pendidik tidak boleh memaksakan diri
menggunakan alat yang bukan ahlinya yang tidak cocok.
Anak didik sebagai pihak yang dikenai perbuatan mendidik adalah pihak yang pertama-
tama diperhatikan dalam menimbang-nimbang penggunaan alat-alat pendidikan,adapun hal-hal
yang perlu dipertimbangkan tentang anak didik adalah segi:
a) Jenis kelamin
b) Usia
c) Bakat
d) Perkembangan
e) Alam sekitar/lingkungan tempat tinggalnya.

C.Jenis-jenis alat pendidikan


1.Alat pendidikan pendahuluan
Adalah alat pendidikan yang diterapkan/digunakan bagi anak didik yang telah mengerti
akan arti kewibawaan ,dan terdiri dari:
a) Keteraturan,berarti berlangsung pada waktu,tempat dan dengan cara yang sama.
b) Kebersihan,berarti menanamkan kebiasaan bagi anak didik agar tetap bersih dan rapi.
c) Ketenangan,artinya menanamkan kebiasaan bagi anak didik untuk ikut menjaga keharmonisan
keluarga,sehingga dapat hidup dengan tenang.
d) Pembiasaan.artinya memberi kesempatan kepada anak akan kesibukan dalam lapangan indra dan
motorik,dan kesempatan untuk bergaul dengan sesamanya.
2.Alat pendidikan yang sebenarnya
2. Memberi perlindungan:perlindungan ini dapat bersifat perlindungan terhadap
kejasmanian dan kerohanian.Tujuan melakukan perlindungan ini,untuk menghalangi si anak
berbuat sesuatu yang baik langsung maupun tidak langsung akan merugikan anak didik.Alat
pendidikanya dalam memberikan perlindungan ini dapat berupa: memberi kesempatan untuk
mengalami sesuatu,melarang atau menganjurkan untuk berbuat sesuatu,membiasakan atau
menciptakan keteraturan pada anak didik.
3. Verstandhouding:mengerti,yang dimaksudkan adalah agar anak dapat mengerti
tingkah laku orang tuanya.Alat pendidikan dalam hal ini berwujud .Contoh:memperlihatkan
contoh,menyuruh anak didik agar meniru apa yang dilihatnya,memberitahukan sesuatu kepada
anak didik,melarang terhadap perbuatan yang tidak baik.
4. Kesamaan arah dalam berbuat dan berfikir:Dalam hal ini,alat pendidikan
Bercorak meragakan sesuatu .Dengan alat pendidikan yang berupa percakapan ini anak didik
memperoleh penjelasan,pemberitahuan,gambaran,akan sesuatu keadaan dan selanjutnya kita
libatkan anak didik dengan atau dalam kehidupan orang dewasa,dengan memberi tanggung
jawab kepada anak didik dengan tujuan agar anak didik berusaha menyesuaikan diri dengan
orang dewasa,dan timbul keinginan pada anak didik agar mau menyesuaikan diri dengan
peraturan peraturan dan berusaha menempati janji.

5. Merasa hidup bersama/merasa ada perpaduan:Apabila pendidik dan anak didik


berada dalam pergaulan maka ini berarti bahwa mereka itu merasa hidup bersama,mereka ada
perpaduan.Dalam merasa hidup bersama ini ,timbul rasa saling mempercayai,cinta-
mencintai,kesemuanya ini di wujudkan oleh pendidik dalam pergaulan itu.
6. Pembentukan kemauan:bahwa dengan pembentukan kemauan ini dapat
membentuk agar anak didik mempunyai kesanggupan untuk berbuat kesusilaan atas keputusan
kemauan sendiri,bertanggung jawab sendiri.[4]
D.Hukuman sebagai alat pendidikan
a.Hukuman
Hukuman adalah suatu perbuatan dimana kita secara sadar dan sengaja menjatuhkan
nestapa kepada orang lain ,yang baik dari segi kejasmanian maupun dari segi kerohanian orang
lain itu mempunyai kelemahan bila di bandingkan dengan diri kita,dan oleh karena itu maka kita
mempunyai tanggung jawab untuk membimbingnya dan melindunginya.
Tujuan apakah yang terkandung dalam kita memberikan hukuman kepada anak didik itu?
1. Hukuman di berikan aleh karena adanya pelanggaran.
2. Hukuman di berikan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran.
3. Hukuman dikatakan berhasil bilamana dapat membangkitkan perasaan bertobat atau menyesali
akan perbuatanya.

b. Hukuman sebagai alat pendidikan


Hukuman adalah tindakan yang di jatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja
sehingga menimbulkan nestapa anak itu akan menjadi sadar akan perbuatanya dan berjanji di
dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.[5]
Di bidang pendidikan hukuman berfungsi sebagai alat pendidikan oleh karenanya:
1. Hukuman di adakan karena ada pelanggaran ,adanya kesalahan yang diperbuat.
2. Hukuman diadakan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran.
Kita cenderung untuk mencegah perbuatan anak yang membahayakan terhadap diri si
anak dan menimbulkan kesusahan bagi dirinya dan bagi keluarganya serta merepotkan bagi
pendidiknya.
Berikut ini beberapa teori hukuman:
1. Teori menjerakan:Teori ini di terapkan dengan tujuan agar si pelanggar sesudah menjalani
hukuman merasa jera (kapok) tidak mau di kenai hukuman semacam itu lagi maka lalu tidak mau
melakukan kesalahan lagi.
2. Teori menakut-nakuti:Teori ini di terapkan dengan tujuan agar si pelanggar merasa takut
mengulangi pelanggaran..Bentuk-bentuk menakuti biasanya dengan ancaman dan ada kalanya
ancaman yang di barengi dengan tindakan.
3. Teori pembalasan(balas dendam):Teori ini biasanya doiterapkan kepada si anak pernah
mengecewakan seperti si anak pernah mengejek atau menjatuhkan harga diri guru di sekolah atau
pada pandangan masyarakat dan sebagainya.Teori balas dendam ini tidaklah bersifat paedagogis.
4. Teori ganti rugi:Teori ini diterapkan karena si pelanggar merugikan.Contoh:
dalam bermain-main si anak memecahkan jendela,dll.
5. Teori perbaikan :teori ini diterapkan agar si anak mau memperbaiki kesalahanya ,di mulai dari
panggilan,di beri pengertian,di nasehati sehingga timbul kesadaran untuk tidak mengulangi
perbuatan salah itu ,baik saat ada si pendidik maupun di luar setahu pendidik.

Hukuman di bidang pendidikan harus mendasarkan kepada teori-teori hukuman yang


bersifat paedagogis,yang tidak menjurus pada kepada tindakan yang sewenang-
wenang.Dijatuhkan hukuman di bidang pendidikan yang karena ada kesalahan adalah agar yang
berbuat salah/si pelanggar menjadi sadar dan tidak lagi berbuat kesalahan yang sama ,serupa atau
yang berbeda.
1.Penderitaan si terhukum
Adanya penderitaan bagi si pelanggar adalah wajar namun sangatlah tercela dan tidak di
benarkan bagi hukuman yang tidak bersifat mendidik,lebih-lebih pada hukuman yang
menyebabkan kerusakan dan keutuhan jasmani dan rohani anak didik.
Hukuman sebagai alat pendidikan ,meskipun mengakibatkan penderitaan bagi si
terhukum ,namun dapat juga menjadi alat motivasi,alat pendorong untuk mempergiat aktivitas
belajar murid.
2.Beberapa petunjuk pengetrapan hukuman
Untuk menghindari adanya tindakan kesewenang-wenang dari pihak yang mengetrapan
hukuman terhadap anak didik,berikut ini beberapa petunjuk dalam mengetrapkan hukuman:
a) Pengetrapan hukuman di sesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan.
b) Pengetrapan hukuman di sesuaikan dengan jenis,usia dan sifat anak.
c) Pengetrapan hukuman di mulai dari yang ringan.
d) Jangan lekas mengetrapkan hukuman sebelum diketahui sebab musababnya,karena mungkin
penyebabnya terletak pada situasi atau pada peraturan atau pada pendidik.
e) Jangan mengetrapkan hukuman dalam keadaan marah,emosi,atau sentiment.
f) Jangan sering mengetrapkan hukuman.
g) Sedapat mungkin jangan mempergunakan hukuman badan,melainkan pilihlah hukuman yang
bernilai pedagogis.
h) Perhitungkan akibat-akibat yang mungkin timbul dari hukuman itu.
i) Berilah bimbingan kepada si terhukum agar menginsyafi atas kesalahanya.
j) peliharalah hubungan kasih sayang antara pendidik dengan yang mengetrapkan hukum dengan
anak didik yang di kenai hukuman.

c.Jenis-jenis hukuman
1. Hukuman membalas dendam:orang yang merasa tidak senang karena anak berbuat salah anak
lalu di hukum.
2. Hukuman badan:hukuman ini memberi akibat yang merugikan anak ,karena bahkan dapat
menimbulkan gangguan kesehatan bagi si anak.
3. Hukuman jeruk manis:menurut tokoh yang mengemukakan teori hukuman ini jan ligthart,anak
yang nakal tidak perlu di hukum,tetapi di dekati atau diambil hatinya.
4. Hukuman alam:dikemukakan oleh J.J. Rousseau dari aliran naturalisme berpendapat kalau ada
anak yang nakal jangan di hukum,biarlah kapok dengan sendirinya.
E.Kewibawaan sebagai alat pendidikan
Di dalam proses pendidikan kewibawaan adalah syarat yang harus ada pada pendidik
dan karena kewibawaan itu di gunakan oleh pendidik di dalam proses pendidikan untuk
membawa anak didik kepada kedewasaan,maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan.
Langeveld menyatakan bahwa pendidikan yang sungguh-sungguh baru dapat di berikan
setelah anak itu mengenal akan kewibawaan,kira-kira anak berumur tiga tahun.Sebelum umur
tiga tahun anak seperti di beri semacam paksaan.
Yang dimaksud dengan kewibawaan dalam pendidikan (opveodings gozag) di sini adalah
pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh atau anjuran yang datang dari
orang lain.[6]
Gezag berasal kata zeggen yang berarti berkata.Siapa yang Perkataanya mempunyai
kekuatan mengikat terhadap orang lain ,berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap
orang lain.[7]
Di dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal ada dua macam kewibawaan yaitu:
1. Kewibawaan pemimpin/kepala:kewibawaan ini adalah karena jabatan atau kekuasaan.Contohnya
seperti: kewibawaan pemimpin organisasi,dll.
2. Kewibawaan keistimewaan:seperti kewibawaan seseorang yang mempunyai kelebihan atau
keunggulan d bidang tertentu.

Diantara kelebihan yang dapat menimbulkan kewibawaan seseorang adalah:


a) Kelebihan di bidang ilmu pengetahuan,baik umum maupun agama.
b) Kelebihan di bidang pengalaman,baik pengalaman hidup maupun pekerjaan.
c) Kelebihan di bidang kepribadian ,baik di bidang akhlak maupun sosial.
d) Kelebihan di bidang harta baik harta tetap maupun harta berpindah.
e) Kelebihan di bidang keturunan yang mewarisi kharisma leluhurnya.
Tingkat pengakuan terhadap kewibawaan ada dua tingkat,yaitu:
1. Pengakuan kewibawaan yang pasif
Seperti anak mengikuti anjuran pada saat ada si pengajar.Anak memandang norma-norma yang
di sampaikan menyatu dengan yang menyampaikan.Norma-norma itu di anggap berlaku apabila
pribadi yangmenyampaikan norma itu ada dan bila pribadi yang menyampaikan tidak ada maka
norma itu di anggap sudah tidak lagi berlaku.

2. Pengakuan kewibawaan aktif


Seperti anak mengikuti anjuran si penganjur karena kesadaran ,baik ada si penganjur atau karena
kesadaran,baik ada si penganjur atau tidak ,anak memandang bahwa norma itu baik untuk di
taati.
Menggunakan kewibawaan:
Seorang pendidik harus berusaha timbulnya kewibawaan yang aktif pada diri anak karena
kewibawaan yang aktif inilah yang merupakan kewibawaan yang sebenarnya,sedang
kewibawaan yang pasif adalah kwewibawaan yang semu.
Sesudah ada pengakuan kewibawaan dari si anak terhadap pendidik ,maka kewajiban si
pendidik adalah menggunakan kewibawaan itu untuk membawa anak didik kearah cita-cita
pendidikan.
Kewajiban selanjutnya bagi pendidik yang mempunyai wibawa adalah pengakuan
kewibawaan si anak didik terhadap pendidik tersebut.
Adapun dalam menggunakan kewibawaan perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Dalam menggunakan kewibawaan ,hendaklah di dasarkan atas perkembangan anak didik.
2. Pengetrapan pendidikan hendaknya di dasarkan rasa cinta kasih sayang kepada anak didik.
3. Hendaknya kewibawaan di gunakan untuk kepentingan anak didik.
4. Hendaknya kewibawaan di gunakan dalam suasana pergaulan antara pendidik dengan anak didik
,karena dengan pergaulan maka proses pendidikan bisa berjalan lancar.

BAB III
PENUTUP
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai
perbuatan atau situasi ,dengan perbuatan dan situasi mana,di cita-citakan dengan tegas,untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Di dalam menggunakan alat pendidikan ,seharusnya sudah di tegaskan tujuan apa yang
akan di capai,tetapi juga harus selalu di ingat,bagi para pendidik,hendaknya berusaha
menghindarkan tindakan yang bersifat memaksa bagi anak didik.
Jenis-jenis Alat pendidikan ada Dua yaitu:

1. Alat pendidikan pendahuluan Adalah alat pendidikan yang diterapkan/digunakan bagi


anak didik yang telah mengerti akan arti kewibawaan.

2. .Alat pendidikan yang sebenarnya.

Hukuman di bidang pendidikan harus mendasarkan kepada teori-teori hukuman yang


bersifat paedagogis,yang tidak menjurus pada kepada tindakan yang sewenang-
wenang.Dijatuhkan hukuman di bidang pendidikan yang karena ada kesalahan adalah agar yang
berbuat salah/si pelanggar menjadi sadar dan tidak lagi berbuat kesalahan yang sama ,serupa atau
yang berbeda.
Di dalam proses pendidikan kewibawaan adalah syarat yang harus ada pada pendidik dan
karena kewibawaan itu di gunakan oleh pendidik di dalam proses pendidikan untuk membawa
anak didik kepada kedewasaan,maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

Imam Barmadip,sutari.Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis.Fak.pendidikan (FIP) IKIP.


Yogyakarta.1984.
Ekosusilo,Madyo.Dasar-dasar Pendidikan.Semarang:Effhar Publishing.1985.
Daien Indrakusuma,Amir.Pengantar ilmu pendidikan.Surabaya:Usaha nasional.1973.
Purwanto,M.Ngalim.Ilmu Pendidikan.Bandung:CV Remaja karya.1985.
Di dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal ada dua macam kewibawaan yaitu:
1. Kewibawaan pemimpin/kepala:kewibawaan ini adalah karena jabatan atau kekuasaan.Contohnya
seperti: kewibawaan pemimpin organisasi,dll.
2. Kewibawaan keistimewaan:seperti kewibawaan seseorang yang mempunyai kelebihan atau
keunggulan d bidang tertentu.

Diantara kelebihan yang dapat menimbulkan kewibawaan seseorang adalah:


a) Kelebihan di bidang ilmu pengetahuan,baik umum maupun agama.
b) Kelebihan di bidang pengalaman,baik pengalaman hidup maupun pekerjaan.
c) Kelebihan di bidang kepribadian ,baik di bidang akhlak maupun sosial.
d) Kelebihan di bidang harta baik harta tetap maupun harta berpindah.
e) Kelebihan di bidang keturunan yang mewarisi kharisma leluhurnya.

Tingkat pengakuan terhadap kewibawaan ada dua tingkat,yaitu:


1. Pengakuan kewibawaan yang pasif
Seperti anak mengikuti anjuran pada saat ada si pengajar.Anak memandang norma-norma yang
di sampaikan menyatu dengan yang menyampaikan.Norma-norma itu di anggap berlaku apabila
pribadi yangmenyampaikan norma itu ada dan bila pribadi yang menyampaikan tidak ada maka
norma itu di anggap sudah tidak lagi berlaku.

2. Pengakuan kewibawaan aktif


Seperti anak mengikuti anjuran si penganjur karena kesadaran ,baik ada si penganjur atau karena
kesadaran,baik ada si penganjur atau tidak ,anak memandang bahwa norma itu baik untuk di
taati.
Menggunakan kewibawaan:
Seorang pendidik harus berusaha timbulnya kewibawaan yang aktif pada diri anak karena
kewibawaan yang aktif inilah yang merupakan kewibawaan yang sebenarnya,sedang
kewibawaan yang pasif adalah kwewibawaan yang semu.
Sesudah ada pengakuan kewibawaan dari si anak terhadap pendidik ,maka kewajiban si
pendidik adalah menggunakan kewibawaan itu untuk membawa anak didik kearah cita-cita
pendidikan.
Kewajiban selanjutnya bagi pendidik yang mempunyai wibawa adalah pengakuan
kewibawaan si anak didik terhadap pendidik tersebut.
Adapun dalam menggunakan kewibawaan perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Dalam menggunakan kewibawaan ,hendaklah di dasarkan atas perkembangan anak didik.
2. Pengetrapan pendidikan hendaknya di dasarkan rasa cinta kasih sayang kepada anak didik.
3. Hendaknya kewibawaan di gunakan untuk kepentingan anak didik.
4. Hendaknya kewibawaan di gunakan dalam suasana pergaulan antara pendidik dengan anak didik
,karena dengan pergaulan maka proses pendidikan bisa berjalan lancar.

BAB III
PENUTUP
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai
perbuatan atau situasi ,dengan perbuatan dan situasi mana,di cita-citakan dengan tegas,untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Di dalam menggunakan alat pendidikan ,seharusnya sudah di tegaskan tujuan apa yang
akan di capai,tetapi juga harus selalu di ingat,bagi para pendidik,hendaknya berusaha
menghindarkan tindakan yang bersifat memaksa bagi anak didik.
Jenis-jenis Alat pendidikan ada Dua yaitu:

1. Alat pendidikan pendahuluan Adalah alat pendidikan yang diterapkan/digunakan bagi


anak didik yang telah mengerti akan arti kewibawaan.

2. .Alat pendidikan yang sebenarnya.

Hukuman di bidang pendidikan harus mendasarkan kepada teori-teori hukuman yang


bersifat paedagogis,yang tidak menjurus pada kepada tindakan yang sewenang-
wenang.Dijatuhkan hukuman di bidang pendidikan yang karena ada kesalahan adalah agar yang
berbuat salah/si pelanggar menjadi sadar dan tidak lagi berbuat kesalahan yang sama ,serupa atau
yang berbeda.
Di dalam proses pendidikan kewibawaan adalah syarat yang harus ada pada pendidik dan
karena kewibawaan itu di gunakan oleh pendidik di dalam proses pendidikan untuk membawa
anak didik kepada kedewasaan,maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

Imam Barmadip,sutari.Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis.Fak.pendidikan (FIP) IKIP.


Yogyakarta.1984.
Ekosusilo,Madyo.Dasar-dasar Pendidikan.Semarang:Effhar Publishing.1985.
Daien Indrakusuma,Amir.Pengantar ilmu pendidikan.Surabaya:Usaha nasional.1973.
Purwanto,M.Ngalim.Ilmu Pendidikan.Bandung:CV Remaja karya.1985.
Makalah Alat Pendidikan

ALAT-ALAT PENDIDIKAN

A. PENDAHULUAN

Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan


terencana untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan sesorang, yang mana hasil dari
pendidikan itu sendiri dijadikan sebagai bekal dalam hidup dan kehidupan baik secara individu
maupun sosial bermasyarakat.
Berangkat dari hal itu, suatu pendidikan dapat berlangsung dengan baik perlu adanya
sarana maupun prasarana yang menunjang baik itu pendidikan yang bersifat formal maupun non
formal. Dalam setiap situasi pendidikan yang tengah berlangsung diperlukan alat-alat
pendidikan. Alat pendidikan merupakan faktor pendidikan yang sengaja dibuat dan digunakan
demi pencapaian tujuan pendidikan tertentu.

B. PERMASALAHAN
1. Apakah yang dimaksud dengan alat pendidikan ?
2. Bagaimanakah pembagian alat pendidikan ?
3. Bagaimanakah pengguanaan alat pendidikan ?
4. Apa sajakah jenis-jenis alat pendidikan ?

C. PEMBAHASAN
1. Pengertian Alat Pendidikan
Alat Pendidikan adalah sesuatu yang membantu terlaksananya pendidikan di dalam
mencapai tujuannya baik berupa benda atau bukan benda. Alat pendidikan mempunyai
pengertian yang sangat luas sekali, oleh sebab itu dalam membicarakan alat-alat pendidikan
perlu diadakan pembagian-pembagian, sebab ada yang menganggap bahwa alat pendidikan
adalah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai
satu tujuan pendidikan.[1]
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja membuat kondisi-kondisi yang memungkinkan
terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai
perbuatan atau situasi, dengan perbuatan dan situasi mana, dicita-citakan dengan tegas, untuk
mencapai tujuan pendidikan.[2]
Di dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis yang diterbitkan
oleh Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP, Jogjakarta pada tahun 1984 pada halaman 96, Dr.
Sutari Imam Barnadib mengemukakan bahwa Alat Pendidikan adalah suatu tindakan atau
perbuatan atau situasi benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan.
Menurut Langeveld (1971), Alat pendidikan adalah suatu perbuatan atau situasi yang
dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.[3]
Dengan demikian, alat pendidikan adalah tindakan atau perbuatan atau situasi yang dengan
sengaja diadakan untuk membantu terlaksananya suatu proses pendidikan guna mencapai suatu
tujuan pendidikan baik itu berupa benda atau bukan benda.
2. Pembagian Alat Pendidikan
a. Menurut Sifatnya Alat Pendidikan dibagi dalam dua yaitu :
1) Alat Pendidikan Preventif

[1]

[2]

[3]
Alat pendidikan yang bersifat pencegahan, yaitu untuk menjaga agar hal-hal yang dapat
mengganggu atau menghambat kelancaran proses pendidikan bisa dihindarkan.[4]
Adapun yang termasuk di dalam alat pendidikan preventif adalah ;
a) Tata Tertib,
Yaitu beberapa peraturan yang harus ditaati dalam situasi atau dalam suatu tata kehidupan
tertentu.
b) Anjuran dan Perintah,
Anjuran adalah ajakan atau saran untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna. Perintah
adalah anjuran yang keras untuk melakukan yang baik dan berguna.
c) Larangan,
Yaitu ajakan atau saran untuk tidak melakukan hal-hal yang kurang baik dan merugikan.
Biasanya larangan ini disertai dengan ancaman-ancaman.
d) Paksaan,
Yaitu perintah dengan kekerasan terhadap anak untuk melakukan sesuatu yang baik
danbermanfaat.
e) Disiplin,
Yaitu suatu sikap mental yang dengan kesadaran dan keinsafannya mematuhi perintah-perintah
atau larangan yang ada terhadap suatu hal, karena benar-benar tahu tentang pentingnya perintah
atau larangan tersebut.
2) Alat Pendidikan Repressif
Alat pendidikan repressif disebut juga alat pendidikan kuratif atau korektif. alat pendidikan
ini berfungsi dimana pada suatu ketika terjadi pelanggaran tata tertib, maka alat tersebut penting
untuk menyadarkan kembali kepada hal-hal yang baik, benar dan tertib.[5]

Yang termasuk ke dalam alat pendidikan repressif antara lain:


a) Pemberitahuan,

[4]

[5]
Yaitu pemberitahuan kepada anak terhadap sesuatu hal yang kurang baik dan mengganggu
jalanya proses penddikan.
b) Teguran,
Yaitu pemberitahuan yang diberikan kepada anak yang sudah mengetahui atau sudah dapat
diketahui atau sudah mengetahui atau sudah dapat diketahui anak itu melakukan pelanggaran.
c) Peringatan,
Diberikan kepada anak yang sudah berkali-kali melakukan pelanggaran, dimana sebelumnya
udah diberi teguran-teguran. Biasanya peringatan ini juga disertai ancaman-ancaman.
d) Hukuman,
Yaitu suatu tindakan yang paling akhir terhadap adanya pelanggaran-pelanggaran yang sudah
berkali-kali dilakukan setelah diberitahukan, ditegur, dan diperingati.
Hukuman dapat berarti sebagai akibat suatu pelanggaran, atau bias juga sebagai titik tolak agar
tidak terjadi pelanggaran.
e) Ganjaran,
Yaitu alat pendidikan repressif yang bersifat menyenangka, ganjaran diberikan kepada anak yang
mempunyai prestasi-prestasi tertentu dalam pendidikan, memiliki kerajinan tertentu dan tingkah
laku yang baik sehingga dapat dijadikan contoh tauladan bagi teman-temannya. Ganjaran dapat
dibedakan menjadi beberapa macam anatara lain; pujian, penghormatan, hadiah dan tanda
penghargaan.
b. Alat Pendidikan dilihat dari bentuknya;
1) Berbentuk benda (materiil).
2) Berbentuk non benda (non materiil).
Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Drs. Madyo Ekosusilo yang membagi
alat pendidikan menjadi dua, yaitu;
1) Alat Pendidikan yang bersifat materiil, yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang
nyata.
1) Alat pendidikan yang bersifat non materiil, yaitu alat-alat pendidikan yang tidak bersifat
kebendaan melainkan segala macam keadaan atau kondisi, tindakan dan perbuatan yang
diadakan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksankan pendidikan.[6]
c. Alat pendidikan dilihat dari pelaksanaannya;
[6]
1) Alat pendidikan langsung (direct).
Alat pendidikan langsung adalah suatu alat pendidikan yang disampaikan atau diberikan
secara langsung kepada peserta didik.
2) Alat pendidikan tidak langsung (inderect).
Alat pendidikan tidak langsung berarti suatu alat pendidikan yang diberikan atau
disampaikan secara tidak langsung melalui perantara.
H. Zahara Idris dan H. Lisma Jamal membedakan Alat pendidikan sebagai berikut :
a. Alat pendidikan yang bersifat rohaniah (normatif), berfungsi preventif (pencegahan) dan represif
(reaksi setelah ada perbuatan). Keduanya dapat bersifat positif dan negatif.
Alat pendidikan normatif yang preventif dan positif, yakni keteladanan, anjuran, ajakan, suruhan,
pengarahan, dan pembiasaan. Misalnya; isyarat tanda setuju (anggukan), kata-kata setuju,
memberi dukungan, kata-kata puas, memberi pujian dan hadiah.
Sedangkan yang bersifat negatif adalah contoh untuk dijauhi, peraturan yang memberi larangan,
dan pengawasan. Misalnya; isyarat tanda tidak setuju, kata-kata tidak setuju, teguran, kecaman,
ancaman dan hukuman.[7]
b. Alat Pendidikan yang bersifat kebendaan, disebut juga sebagai sarana pendidikan atau sarana
belajar mengajar, ataupun alat pengajaran. Alat pendidikan sebagai alat pengajaran
diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Berdasarkan pemakaiannya, dibedakan atas alat individual, misalnya; buku pelajaran, dan alat
pengajaran klasikal lainnya seperti papan tulis dan peta.
2) Berdasarkan sifat keperagaan atau pengalaman, dibedakan atas alat pengajaran atau peraga
langsung (bedanya sendiri atau keadaan/ peristiwa yang nyata) dan alat-alat pengajaran tidak
langsung, misalnya; model dan gambar.
3) Berdasarkan cara penyampaian pesan atau pengajaran, dibedakan atas alat atau media cetak,
misalnya; buku pelajaran, dan media elektronik (kaset dan film) dan alat media lainnya (wayang
dan boneka).
4) Berdasarkan fungsinya dalam proses belajar, terdiri dari :
a) Alat untuk peragaan seperti gambar-gambar.
b) Alat untuk memberi pengertian seperti alat untuk percobaan fisika (mikroskop dan tabung kaca).
c) Alat untuk latihan seperti buku kerja dan alat olahraga.
[7]
d) Alat untuk ekspresi seperti alat musik dan gambar untuk membuat karangan.
e) Alat untuk belajar sendiri seperti modul dan computer.[8]
Adapun pembagian alat pendidikan menurut Drs. Suwarno dapat dibedakan dari
bermacam-macam segi sebagai berikut :
a. Alat Pendidikan Positif dan yang Negatif.
1) Postif Yaitu ditunjukkan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik, misalnya; contoh yang baik,
pembiasaan, perintah pujian, ganjaran (imbalan).
2) Negatif, jika tujuannya menjaga supaya anak didik jangan mengerjakan sesuatu yang buruk,
misalnya larangan celaan, peringatan, ancaman, hukuman.
b. Alat Pendidikan Prefentif dan Korektif.
1) Preventif, jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik, misalnya;
pembiasaan perintah, pujian, ganjaran.
2) Korektif, Jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau berbuat
sesuatu yang buruk, misalnya; celaan, ancaman, hukuman.
c. Alat Pendidikan yang Menyenangkan dan tidak menyenangkan.
1) Yang menyenangkan yaitu menimbulkan perasaan senang pada anak-anak.
2) Yang tidak menyenangkan, maksudnya yang menimbulkan perasaan tidak senang pada anak-
anak.[9]
3. Penggunaan Alat Pendidikan
Di dalam menggunakan alat pendidikan, seharusnya sudah ditegaskan tujuan apa yang
ingin dicapai, tetapi juga harus selalu diingat, bagi para pendidik hendaknya berusaha
menghindarkan tindakan yang bersifat memaksa bagi peserta didik. Disinilah seorang pendidik
dituntut untuk menggunakan keterampilannya dalam memilih dan menggunakan alat pendidikan
yang akan digunakan dalam mendidik.
Dalam pengakaian alat pendidikan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a. Tujuan pendidikan.
b. Jenis alat pendidikan.
c. Pendidik yang memakai alat pendidikan.

[8]

[9]
d. Anak didik yang dikenai alat pendidikan.[10]
Tidak hanya itu, karena banyak sekali factor-faktor yang harus diperhitungkan oleh para
pendidik dalam hubungannya dengan pemakaian alat-alat pendidikan, yaitu :
a. Faktor pendidik sebagai subjek pendidikan.
Yaitu kemampuan dan keterampilan seorang pendidik dalam mengguanakn alat pendidikan.
b. Faktor anak didik.
Yaitu kondisi dan situasi anak didik dalam menerima pendidikan, seperti; perkembangan
jiwanya, cara berfikirnya dan sebagainya.
c. Faktor kemampuan.
Dimana kemampua material sekolah maupun lembaga pendidikan juga menentukan pemakaian
alat pendidikan.
d. Faktor tempat.
Yaitu dimana lokasi sekolah, juga menentukan dalam pemakaian alat pendidikan.
Pendidik sebagai pemakai alat pendidikan juga berbeda-beda keahlian dan orientasinya,
meskipun dalam bidang studi yang sama, lebih-lebih dalam bidang studi yang berbeda, maka
tentunya alat yang dipakai juga berbeda.
Adapun hal-hal yang perlu dipertimbangkan tentang anak didik adalah dari segi jenis
kelamin, usia, bakat, perkembangan dan kondisi alam sekitar.
Jadi dalam penggunaan alat pendidkan, seorang pendidik harus mampu
mempertimbangkan pemakaian alat yang benar dan sesuai kebutuhan. Selain itu seorang
pendidik juga harus memiliki kewibawaan dalam melaksanakan tugasnya karena kewibawaan
seorang pendidik adalah suatu alat pendidikan yang dapat membawa anak didik kepada
kedewasaan. Dengan kewibawaan itu seorang anak dapat menghargai dan patuh kepada
pendidik.

4. Jenis-jenis Alat Pendidikan.


a. Alat pendidikan pendahuluan.
Alat pendidikan pendahuluan adalah alat pendidkan yang diterapkan atau digunakan bagi
anak didik yang telah mengerti dan menginsafi akan arti kewibawaan.[11]
Alat pendidikan pendahuluan ini terdiri dari :
[10]
1) Keteraturan, berarti berlangsung pada waktu, tempat dan dengan cara yang sama atau tetap.
2) Kebersihan, berarti menanamkan kebiasaan bagi anak didik agar tetap bersih dan rapi.
3) Ketenangan, artinya menanamkan kebiasaan bagi anak didik untuk ikut menjaga keharmonisan
keluarga, sehingga dapat hidup dengan tenang.
4) Pembiasaan, artinya memberi kesempatan kepada anak akan kesibukan dalam lapangan indra
dan motorik, dan kesempatan untuk bergaul dengan sesamanya.
b. Alat pendidikan yang sebenarnya.
Alat pendidikan yang sebenarnya ini, secara logis dapat dibedakan menjadi lima macam,
antara lain :
a. Memberi perlindungan.
Perlindungan ini dapat bersifat perlindungan terhadap anak dan dapat bersifat kejasmanian
maupun kerohanian.
b. Verstaandhouding (agar mengerti).
Yaitu agar anak dapat mengerti tingkah laku orang tuanya. Orang tua memberikan contoh
bersikap, dengan maksud agar di mengerti oleh anak apa maksud dari sikap itu, dan anak dapat
meniru atau mencontoh sikap orang tuanya.
c. Kesamaan arah dalam berbuat dan berfikir.
Dalam hal ini alat pendidikan bercorak memeragakan suatu contoh, seperti dalam
verstaandhouding, hanya dalam kesamaan arah dalam berbuat dan berfikir ini, disertai dengan
penjelasan atau dialog.
d. Merasa hidup bersama, merasa ada perpaduan.
Apabila pendidik dan anak didik berada dalam pergaulan, maka ini berarti bahwa mereka itu
merasa hidup bersama, merasa ada perpaduan. Hal ini merupakan corak atau bentuk azasi,
bentuk pokok dari penghidupan bersama.
e. Pembentukan kemauan.
Dalam hubungan merasa hidup bersama ini, pendidik mengantarkan anak didik memasuki
kedewasaan melualui beberapa pengalaman-pengalaman. Melalui pengalaman itu anak memiliki
keinginan atau kemauan untuk menjadi bisa.

D. KESIMPULAN
[11]
1. Alat pendidikan adalah tindakan atau perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk
membantu terlaksananya suatu proses pendidikan guna mencapai suatu tujuan pendidikan baik
itu berupa benda atau bukan benda.
2. Alat Pendidikan dapat di bagi ke dalam beberapa bagian :
a. Menurut Sifatnya Alat Pendidikan dibagi dalam dua yaitu :
1) Alat Pendidikan Preventif
2) Alat Pendidikan Repressif
b. Alat Pendidikan dilihat dari bentuknya;
1) Berbentuk benda (materiil).
2) Berbentuk non benda (non ateriil).
c. Alat pendidikan dilihat dari pelaksanaannya;
1) Alat pendidikan langsung (direct).
2) Alat pendidikan tidak langsung (inderect).
3. Dalam penggunaan alat pendidkan, seorang pendidik harus mampu mempertimbangkan
pemakaian alat yang benar dan sesuai kebutuhan. Selain itu seorang pendidik juga harus
memiliki kewibawaan dalam melaksanakan tugasnya karena kewibawaan seorang pendidik
adalah suatu alat pendidikan yang dapat membawa anak didik kepada kedewasaan. Dengan
kewibawaan itu seorang anak dapat menghargai dan patuh kepada pendidik.
4. Jenis-jenis al;at pendidikan adalah :
a. Alat Pendidikan Pendahuluan, antara lain :
1) Keteraturan.
2) Kebersihan.
3) Ketenangan.
4) Pembiasaan.
b. Alat Pendidikan Yang Sebenarnya, antara lain :
1) Memberi perlindungan.
2) Verstandhouding (agar mengerti), atau memberi contoh sikap.
3) Kesamaan arah dalam berbuat dan berfikir.
4) Merasa hidup bersama, merasa ada perpaduan.
5) Pembentukan kemauan.
DAFTAR PUSTAKA

H.M. Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional, 1982.

H. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001.

H. Zahara Idris dan H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia, 1992.