You are on page 1of 10

PEMERINTAH KABUPATEN BULUNGAN

BLUD RSD Dr. H. SOEMARNO SOSROATMODJO


Jln CendrawasihTelp (0552) 21118 Fax(0552) 22667TanjungSelorKodePos 77212
KALIMANTAN UTARA
Web: rsudtanjungselor.com E-Mail: bludrsdtanjungselor@gmail.com

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


Dr.H.SOEMARNO SOSROATMODJO TANJUNG SELOR
NOMOR : 445/284/RSD-I/I /2017

TENTANG

KEBIJAKAN PELAYANAN RUMAH SAKIT

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.H.SOEMARNO SOSROATMODJO


TANJUNG SELOR KABUPATEN BULUNGAN

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Umum
Dr.H.Soemarno Sosroatmodjo, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan yang bermutu tinggi;

b. bahwa agar pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.H.Soemarno


Sosroatmodjo Tanjung Selor dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya
Peraturan Direktur tentang Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit Umum
Daerah Dr.H.Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor sebagai landasan
bagi penyelenggaraan seluruh pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah
Dr.H.Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan b,
perlu ditetapkan dengan Peraturan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah
Dr.H.Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor.

Mengingat : 1. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;


2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit;
3. Peraturan Menteri Kesehatan No 1438/ Menkes/ PER/IX/2010 tentang Standar
Pelayanan Kedokteran;
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Bulungan Nomor 24 Tahun 2009 tentang standar pelayanan
minimal RSUD dr.H.Soemarno Sosroatmodjo

6. Peraturan Bupati Kabupaten Bulungan No.11 Tahun 2010 tentang Pola tata kelola (PPK
BLUD) pada Rumah Sakit Umum Daerah dr.H.Soemarno Sosroatmodjo

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

PERTAMA : Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr.H.Soemarno


Sosroatmodjo Tanjung Selor tentang Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit
Umum Daerah Dr.H.Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor;
KEDUA : Kebijakan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Dr.H.Soemarno
Sosroatmodjo Tanjung Selor sebagaimana tercantum dalam Lampiran
Keputusan ini.
KETIGA : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan Rumah Sakit Umum
Daerah Dr.H.Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor dilaksanakan oleh
Kepala Bidang Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Dr.H.Soemarno
Sosroatmodjo Tanjung Selor.

-2-

KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila di kemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : Tanjung Selor


Pada tanggal : 3 Januari 2017

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


DR.H.SOEMARNO SOSROATMODJO TANJUNG
SELOR KABUPATEN BULUNGAN

dr. H.SURYATAN,M.Sc.SpS
PEMBINA Tk.I / IVb
NIP. 19660408 200012 1 007
LAMPIRAN I KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH DR.H.SOEMARNO SOSROATMODJO
TANJUNG SELOR KABUPATEN BULUNGAN
NOMOR :
TANGGAL :

KEBIJAKAN PELAYANAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.H.SOEMARNO SOSROATMODJO
TANJUNG SELOR

1.Pelayanan Yang Seragam


Rumah Sakit dr.H.Soemarno Sosroatmodjo dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan menerapkan prinsip nondiskriminatif yaitu pelayanan yang seragam tanpa
membedakan status sosio-ekonomi, budaya, agama dan waktu pelayanan
Asuhan pasien dan pengobatan diberikan oleh praktisi yang kompeten dan memadai,
tidak tergantung waktu tertentu
Penentuan alokasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pasien didasarkan atas
ketepatan mengenali kondisi pasien
Tingkat asuhan yang diberikan kepada pasien, sama di seluruh rumah sakit
Pasien dengan kebutuhan asuhan keperawatan yang sama menerima asuhan keperawatan
yang setingkat di seluruh rumah sakit.

2.Asuhan pasien meliputi Pelayanan kedokteran dan keperawatan yang diberikan


mengacu pada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) SPM dan SPO sesuai
dengan perundang undangan yang berlaku.

3. Asuhan pasien diberikan dengan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan asuhan


Proses asuhan pasien bersifat dinamis dan melibatkan banyak praktisi pelayanan
kesehatan dan dapat melibatkan berbagai unit kerja dan pelayanan.
Asuhan kepada pasien direncanakan dan ditulis di rekam medis
Asuhan untuk setiap pasien direncanakan oleh dokter penanggung jawab pelayanan
(DPJP), perawat dan pemberi pelayanan kesehatan lain dalam waktu 24 jam sesudah
pasien masuk rawat inap
Rencana asuhan pasien harus bersifat individu dan berdasarkan data asesmen awal pasien
Rencana asuhan dicatat dalam rekam medis dalam bentuk kemajuan terukur pencapaian
sasaran
Kemajuan yang diantisipasi dicatat atau direvisi sesuai kebutuhan , berdasarkan hasil
asesmen ulang atas pasien oleh praktisi pelayanan kesehatan
Rencana asuhan untuk tiap pasien di review dan di verifikasi oleh DPJP dengan mencatat
kemajuannya
Asuhan yang diberikan kepada setiap pasien dicatat dalam rekam medis pasien oleh
pemberi pelayanan
4.Mereka yang diijinkan memberikan perintah/order menuliskan perintah ini dalam
rekam medis pasien di lokasi yang seragam
Perintah harus tertulis bila diperlukan dan mengikuti pedoman rekam medis rumah sakit.
Permintaan pemeriksaan diagnostic imaging dan laboratorium klinis harus disertai
indikasi klinis/rasional apabila memerlukan ekspertise.
Hanya mereka yang diijinkan boleh menuliskan perintah, sesuai dengan pedoman rekam
medis rumah sakit
Perintah berada di lokasi tertentu yang seragam di rekam medis pasien

5. Pasien dan keluarga diberi tahu tentang hasil asuhan dan pengobatan termasuk
kejadian yang tidak diharapkan (KTD)

6. Pelayanan Instalasi :
Pelayanan Instalasi Gawat Darurat, Rawat Inap, Laboratorium dan Radiologi
dilaksanakan dalam 24 jam. Pelayanan Rawat Jalan sesuai dengan jadwal praktik dokter.
Setiap pasien yang datang berobat ke Instalasi Rawat Jalan dan Gawat Darurat, mendapat
pelayanan kesehatan sesuai dengan standar prosedur rumah sakit dan standar pelayanan
medis.
Setiap pasien di semua instalasi , mendapatkan pelayanan medis, keperawatan dan
penunjang yang sama dan seragam, tanpa membedakan suku, agama, bahasa, kemampun
ekonomi pasien, waktu pelayanan, alokasi sumber daya kebutuhan pasien
Pelayanan yang seragam tersebut, dituangkan dalam pedoman pelayanan medis ,
pedoman pelayanan keperawatan dan pedoman pelayanan penunjang yang seragam, bagi
setiap pasien yang mendapatkan pelayanan rawat jalan maupun rawat inap di RS.
Pelayanan Kamar Operasi dilaksanakan dalam jam kerja, dan dilanjutkan dengan sistem
on call.
Pelayanan harus selalu berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.
Seluruh staf RS harus bekerja sesuai dengan standar profesi, pedoman/panduan dan
standar prosedur opersional yang berlaku, serta sesuai dengan etika profesi, etika RS dan
etiket RS yang berlaku.
Seluruh staf RS dalam melaksanakan pekerjaannya wajib selalu sesuai dengan ketentuan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3), termasuk dalam penggunaan alat
pelindung diri (APD).

8.Skrining dan triase :


Skrining dilakukan pada kontak pertama untuk menetapkan apakah pasien dapat dilayani
oleh RS.
Skrining dilaksanakan melalui kriteria triase, visual atau pengamatan, pemeriksaan fisik,
psikologik, laboratorium klinik atau diagnostik imajing sebelumnya.
Kebutuhan darurat, mendesak, atau segera diidentifikasi dengan proses triase berbasis
bukti untuk memprioritaskan pasien dengan kebutuhan emergensi.
9.Identifikasi :
Setiap pasien yang masuk rawat inap harus dipasangkan gelang identitas pasien.
Pasien selalu diidentifikasi sebelum pemberian obat, sebelum transfusi darah atau produk
darah lainnya, sebelum pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan
laboratorium klinis, sebelum pemeriksaan radiologi, serta sebelum dilakukan tindakan.
10.Transfer/ perpindahan di dalam rumah sakit :
Transfer dilaksanakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Pasien yang ditransfer harus dilakukan stabilisasi terlebih dahulu sebelum dipindahkan.

11.Transfer keluar rumah sakit / rujukan :


Pasien yang dirujuk harus dilakukan stabilisasi terlebih dahulu sebelum dirujuk.
Rujukan ke rumah sakit ditujukan kepada individu secara spesifik.
Pasien dirujuk berdasarkan atas kondisi kesehatan dan kebutuhan akan pelayanan
berkelanjutan.
Pada saat proses rujukan, petugas medis yang mendampingi pasien bertanggung jawab
selama proses rujukan.
Obat - obatan dan peralatan yang dibutuhkan selama transportasi harus sudah tersedia
selama proses rujukan.
Proses rujukan didokumentasikan di dalam rekam medis pasien.

12.Penundaan pelayanan :
Memperhatikan kebutuhan klinis pasien pada waktu menunggu atau penundaan untuk
pelayanan diagnostik dan pengobatan
Memberikan informasi apabila akan terjadi penundaan pelayanan atau pengobatan
Memberi informasi alasan penundaan atau menunggu dan memberikan informasi tentang
alternatif yang tersedia sesuai dengan keperluan klinik mereka.

13.Pemulangan pasien :
DPJP yang bertanggung jawab atas pelayanan pasien tersebut, harus menentukan
kesiapan pasien untuk dipulangkan.
Keluarga pasien dilibatkan dalam perencanaan proses pemulangan yang terbaik atau
sesuai kebutuhan pasien.
Rencana pemulangan pasien meliputi kebutuhan pelayanan penunjang dan kelanjutan
pelayanan medis.
Identifikasi organisasi dan individu penyedia pelayanan kesehatan di lingkungannya yang
sangat berhubungan dengan pelayanan yang ada di rumah sakit serta populasi pasien.
Resume pasien pulang dibuat oleh DPJP sebelum pasien pulang.
Resume berisi pula instruksi untuk tindak lanjut.
Salinan resume pasien pulang didokumentasikan dalam rekam medis.
Salinan resume pasien pulang diberikan kepada praktisi kesehatan perujuk.

14.Transportasi :
Transportasi milik rumah sakit, harus sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku
berkenaan dengan pengoperasian, kondisi dan pemeliharaan
Transportasi disediakan atau diatur sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien
Semua kendaraan yang dipergunakan untuk transportasi, baik kontrak maupun milik
rumah sakit, dilengkapi dengan peralatan yang memadai, perbekalan dan medikamentosa
sesuai dengan kebutuhan pasien yang dibawa.

15.Hak pasien dan keluarga :


Menghormati kebutuhan privasi pasien.
Melindungi barang milik pasien dari pencurian atau kehilangan.
Melindungi dari kekerasan fisik.
Anak-anak, individu yang cacat, lanjut usia dan lainnya yang berisiko mendapatkan
perlindungan yang layak.
Membantu mencari second opinion dan kompromi dalam pelayanan didalam maupun
diluar rumah sakit.
Pernyataan persetujuan (lnformed Consent) dari pasien didapat melalui suatu proses yang
ditetapkan rumah sakit dan dilaksanakan oleh staf yang terlatih, dalam bahasa yang
dipahami pasien.
Informed consent diperoleh sebelum operasi, anestesi, penggunaan darah atau produk
darah dan tindakan serta pengobatan lain yang berisiko tinggi.

16.Penolakan pelayanan dan pengobatan :


Memberitahukan hak pasien dan keluarga untuk menolak atau tidak melanjutkan
pengobatan.
Memberitahukan tentang konsekuensi, tanggung jawab berkaitan dengan keputusan
tersebut dan tersedianya alternatif pelayanan dan pengobatan.
Memberitahukan pasien dan keluarganya tentang Menghormati keinginan dan pilihan
pasien untuk menolak pelayanan resusitasi atau memberhentikan pengobatan bantuan
hidup dasar ( Do Not Resuscitate )
Setiap tindakan medis yang tidak mendapat persetujuan dari pasien dan keluarga
termasuk resusitasi hanya akan dilaksanakan apabila telah mendapat persetujuan dari
pasien atau keluarga.

17.Pelayanan pasien tahap terminal :


Mendukung hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang penuh hormat dan kasih
sayang pada akhir kehidupannya
Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek
pelayanan pada tahap akhir kehidupan
Semua staf harus menyadari kebutuhan unik pasien pada akhir kehidupannya yaitu
meliputi pemberian pengobatan yang sesuai dengan gejala dan keimginan pasien dan
keluarga pengobatan terhadap gejala primer dan sekunder, manajemen nyeri,
Petugas memberi respon terhadap aspek psikologis, sosial, emosional, agama,spiritual
dan budaya dari pasien dan keluarganya serta keterlibatannya dalam keputusan
pelayanan.

18.Asesmen pasien :
Asesmen pasien terdiri dari:
o Pengumpulan Informasi yaitu Anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan lain /
penunjang, dsb
o Analisis informasi : menghasilkan kesimpulan a.l. masalah, kondisi, diagnosis,
untuk mengidentifikasi kebutuhan pelayanan pasienmenyusun rencana
pelayanan / care plan, untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pasien
o Menentukan rencana pelayanan / tindakan (pemberian asuhan pada pasien)
Pencatatan asesmen pasien dengan metode SOAP.
PPA mendorong dan mendukung pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam asuhan
dan pengambilan keputusan/pilihan mereka.
Setiap prosedur tindakan,PPA wajib memberikan edukasi dan informasi secara lisan dan
tertulis dalam suatu formulir mengenai tindakan yang akan dilakukan hingga kejadian
yang tidak diharapkan (KTD) pada saat melakukan atau setelah melakukan tindakan.
Profesional Pemberi Asuhan (PPA) adalah mereka yang secara langsung memberikan
asuhan kepada pasien, a.l. dokter, perawat, bidan, ahli gizi, apoteker, fisioterapis.
Semua pasien yang dilayani rumah sakit harus diidentifikasi kebutuhan pelayanannya
melalui suatu proses asesmen yang baku.
Asesmen awal setiap pasien meliputi evaluasi faktor fisik, psikologis, sosial dan
ekonomi, termasuk pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan
Hanya mereka yang kompeten sesuai perizinan, undang-undang dan peraturan yang
berlaku dan sertifikasi dapat melakukan asesmen
Asesmen awal medis dilaksanakan dalam 24 jam pertama sejak rawat inap atau lebih
dini/cepat sesuai kondisi pasien atau kebijakan rumah sakit.
Asesmen awal medis yang dilakukan sebelum pasien di rawat inap, atau sebelum
tindakan pada rawat jalan di rumah sakit, tidak boleh lebih dari 30 hari, atau riwayat
medis telah diperbaharui dan pemeriksaan fisik telah diulangi.
Untuk asesmen kurang dari 30 hari, setiap perubahan kondisi pasien yang signifikan,
sejak asesmen dicatat dalam rekam medis pasien pada saat masuk rawat inap
Asesmen awal termasuk menentukan kebutuhan rencana pemulangan pasien (discharge)
PPA melaksanakan asuhan secara terintegrasi.Pencatatan oleh PPA dilakukan pada
lembar Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT)
Semua pasien dilakukan asesmen ulang pada interval tertentu atas dasar kondisi dan
pengobatan untuk menetapkan respons terhadap pengobatan dan untuk merencanakan
pengobatan atau untuk pemulangan pasien.
Data dan informasi asesmen pasien dianalisis dan diintegrasikan.

19.Manajemen obat :
Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara
klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja di area
tersebut, bila diperkenankan kebijakan.
Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien diberi label yang jelas dan
disimpan dengan cara yang membatasi akses (restrict access).

20.Manajemen nutrisi :
Pasien di skrining untuk status gizi.
Respon pasien terhadap terapi gizi dimonitor.
Makanan disiapkan dan disimpan dengan cara mengurangi risiko kontaminasi dan
pembusukan.
Produk nutrisi enteral disimpan sesuai rekomendasi pabrik.
Distribusi makanan secara tepat waktu, dan memenuhi permintaan khusus.

21.Manajemen nyeri:
Semua pasien rawat inap dan rawat jalan di skrining untuk rasa sakit dan dilakukan
asesmen apabila ada rasa nyerinya.
Pasien rawat Jalan yang mengalami nyeri harus segera mendapatkan pelayanan
pengelolaan nyeri di Instalasi Gawat Darurat apabila diperlukan.
Pasien dibantu dalam pengelolaan rasa nyeri secara efektif.
Pengelolaan nyeri dilakukan sesuai pedoman dan prosedur.
Komunikasi dengan dan mendidik pasien dan keluarga tentang pengelolaan nyeri dan
gejala dalam konteks pribadi, budaya dan kepercayaan agama masing-masing.

22.Surgical Safety Checklist :


Rumah Sakit menggunakan suatu tanda yang segera dikenali untuk identifikasi lokasi
operasi dan melibatkan pasien dalam proses penandaan / pemberian tanda.
Rumah Sakit menggunakan Surgical Safety checklist untuk melakukan verifikasi
praoperasi tepat-lokasi, tepat-prosedur, dan tepat-pasien dan semua dokumen serta
peralatan yang diperlukan tersedia, tepat/benar, dan fungsional.
Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat/mendokumentasikan prosedur
sebelum insisi / time-out tepat sebelum dimulainya suatu prosedur / tindakan
pembedahan.

23.Hand hygiene :
Setiap Petugas dan unsur terkait yang berada dilingkungan rumah sakit harus bisa
melaksanakan hand hygiene dengan baik dan benar.
Setiap petugas dan unsur terkait yang berada dilingkungan rumah sakit, harus
melaksanakan program hand hygiene yang telah ditetapkan rumah sakit.

24.Risiko jatuh :
Setiap pasien rawat inap dan gawat darurat harus mendapat asesmen awal risiko pasien
jatuh dan dilakukan asesmen ulang terhadap pasien, bila diindikasikan terjadi perubahan
kondisi atau pengobatan.
Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil
asesmen dianggap berisiko.
Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik tentang keberhasilan pengurangan cedera
akibat jatuh maupun dampak yang berkaitan secara tidak disengaja.
25.Komunikasi efektif :
Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan dituliskan secara
lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.
Perintah lisan dan melalui telpon atau hasil pemeriksaan secara lengkap dibacakan
kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.
Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi perintah atau
hasil pemeriksaan tersebut.

26.Manajemen di instalasi :
Semua petugas instalasi wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penyediaan tenaga di setiap instalasi harus mengacu kepada pola ketenagaan.
Setiaap Instalasi wajib melaksanakan koordinasi dan evaluasi dalam rapat rutin bulanan
minimal satu bulan sekali.
Setiap Instalasi wajib membuat laporan setiap bulan dan diserahkan kepada bidang terkait
sesuai dengan struktur organisasi rumah sakit.
Peralatan di instalasi harus selalu dilakukan pemeliharaan dan kaliberasi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku, untuk menjamin semua sediaan farmasi tetap dalam kondisi yang
baik.
Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

27.Pelayanan Pasien resiko tinggi


Yang tergolong pasien resiko tinggi adalah kelompok pasien anak-anak, usia lanjut,
pasien dengan keterbatasan atau cacat.
Pelayanan Resiko tinggi meliputi:
Kasus emergensi
Kasus resusitasi
Penanganan,pemberian dan penggunaan darah
Kasus pasien koma atau yang memerlukan alat bantu hidup
Kasus pasien yang memerlukan restrain
Perawatan penyakit menular dan immune-suppressed
Rumah Sakit tidak melayani dialysis,dan kemoterapi
Pelayanan dengan resiko tinggi sesuai dengan SPO yang berlaku
Pelayanan Emergensi bagi pasien yang datang ke Triase Gawat Darurat dengan kategori
Emergent danUrgent akan diberikan pelayanan emergensi sesuai kondisi pasien dan
setiap kegawatdaruratan henti nafas dan atau henti jantung pada pasien dalam asuhan
akan dilakukan Tindakan Resutisasi, kecuali pada pasien Do Not Resucitate (DNR).
DNR adalah perintah jangan lakukan resusitasi ditulis atas permintaan pasien atau
keluarga pasien dan diputuskan melalui konsultasi pada dokter yang berwenang.
Pelayanan Tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi pasien-pasien ancaman gangguan
nafas dan sirkulasi dilakukan oleh petugas kesehatan (dokter atau perawat)..
Asuhan pasien yang menggunakan peralatan bantu hidup dasar atau yang koma
a. Identifikasi kebutuhan pasien dengan peralatan bantuan hidup dasar atau yang koma
dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten, seperti Dokter Penanggung Jawab
Pasien ( DPJP ), Kepala Ruangan, Perawat dan Bidan yang sudah terlatih,
Pelayanan pasien dalam keadaan koma dan akan dipasang alat bantu. Pelayanan
dilakukan di tempat yang tersedia monitor dan perlengkapan lainnya serta obat-obat
resusitasi sesuai syarat ruang Rawat Intensif dan High Care Unit.

b. Bila Rumah Sakit tidak mampu melakukan asuhan pasien agar diberitahukan
kepada keluarga pasien dan dirujuk ke tempat yang mampu melakukan asuhan
pasien tersebut.
Pelayanan pada setiap pemberian darah atau produk darah dilakukan sesuai indikasi
yang dijamin kualitas dan keamanannya wajib dilakukan proses yang sebelumnya
informed consent dan dikerjakan sesuai dengan prosedur
Asuhan pasien dengan penyakit menular dan mereka yang daya tahannya diturunkan
Identifikasi kebutuhan asuhan pasien dan resiko penularan akibat dari penyakit atau
akibat obat obatan yang diberikan,
Bila fasilitas tidak memungkinkan untuk melakukan asuhan pasien tersebut agar
diberitahukan kepada pasien dan keluarga untuk dirujuk ke tempat dengan fasilitas
yang sesuai kebutuhan

Asuhan pasien usia lanjut, mereka yang cacat, anak-anak dan populasi yang berisiko
disiksa
Identifikasi pasien dengan risiko disiksa, seperti pasien lanjut usia, cacat tubuh, cacat
mental dan anak-anak
Pelayanan pasien usia lanjut melibatkan multidisiplin ilmu dan tersedia dalam suatu
tim asuhan
Mengarahkan penggunaan alat penghalang (restraint) dan asuhan pasien yang diberi
penghalang
Identifikasi penggunaan alat penghalang dilakukan pada pasien yang tidak mengerti
asuhan yang diberikan, seperti pasien anak dan geriatri, pasien gelisah dan kesadaran
menurun.
Asuhan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.

Ditetapkan di : Tanjung Selor


Pada tanggal : 3 Januari 2017

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


DR.H.SOEMARNO SOSROATMODJO TANJUNG
SELOR KABUPATEN BULUNGAN

dr. H.SURYATAN,M.Sc.SpS
PEMBINA Tk.I /IV b
NIP. 19660408 200012 1 007