You are on page 1of 22

TUGAS

BIOLOGI PERIKANAN
SEKSUALITAS IKAN

Disusun oleh :
Sona Yudha Diliana
230110130217
Perikanan C

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Biologi Perikanan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari
keadaan ikan yaitu sejak individu ikan tersebut menetas (hadir kealam) kemudian
makan, tumbuh, bermain, bereproduksi dan akhirnya mengalami kematian secara
alami atau oleh karna factor lain. Biologi Perikanan ini merupakan pengetahuan
dasar ketika mendalami pengetahuan Dinamika Populasi ikan, Pengembangan
spesies ikan dan upaya pelestarian spesies ikan yang akan mengalami kepunahan
di perairan laminya (Penuntun Praktikum Biologi Perikanan).
Pengetahuan mengenai seksulaitas pada ikan penting untuk diketahui
sebelum kita mempelajari mengenai reproduksinya lebih lanjut. Pada prinsipnya,
seksualitas pada ikan terdiri atas ikan jantan dan ikan betina. Ikan jantan adalah
ikan yang mempunyai organ penghasil sperma, sedangkan ikan betina adalah ikan
yang mempunyai organ penghasil telur. Namun pada kenyataan di alam, ada ikan
yang bersifat hermaprodit atau berkelamin ganda dan juga ada ikan yang tidak
jelas jenis kelaminnya atau gonokhorisme. Oleh sebab itu, perlu pengetahuan
yang lebih jelas mengenai seksualitas ikan ini.

1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini antara lain :
1. Menjelaskan dan memahami seksualitas pada ikan jantan dan betina
2. Menjelaskan dan membedakan macam-macam hermaproditisme pada ikan
3. Membedakan sifat seksual primer dan sekunder pada ikan
4. Menganalisis peranan mempelajari seksualitas dalam bidang perikanan

1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah dapat memahami konsep
mengenai seksualitas pada ikan, hermaproditisme dan sifat seksual ikan serta
peranannya dalam biologi perikanan itu sendiri dan juga kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Seksualitas Ikan

2
3

Seksualitas ikan perlu diketahui karena dapat digunakan untuk


membedakan antara ikan jantan dengan ikan betina. Ikan jantan adalah ikan yang
dapat menghasilkan spermatozoa, sedangkan ikan betina adalah ikan yang dapat
menghasilkan sel telur atau ovum. Ikan jantan dapat dibedakan dari ikan betina
dengan melihat ciri-ciri seksual primer dan sekunder. Ciri seksual primer adalah
organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-ciri
seksual sekunder adalah dengan melihat warna tubuh (sexual dichromastism),
morfologi dan bentuk tubuh (sexual dimorphism) yang digunakan untuk
membedakan jenis kelamin pada ikan. Testis beserta salurannya merupakan ciri
seksual primer ikan jantan, sedangkan ovari beserta salurannya merupakan ciri
seksual primer ikan betina. Nisbah ikan jantan dan ikan betina diperkirakan
mendekati 1:1, berarti jumlah ikan jantan yang tertangkap relatif sama banyaknya
dengan jumlah ikan betina yang tertangkap. Pada umumnya ikan jantan
mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina
(Jayadi, 2011).

Gambar 1. Alat
Reproduksi Ikan (a)
Betina; (b) Jantan

2.1.1 Seksualitas Ikan Jantan


4

Gambar 2: Organ
Reproduksi Pada Ikan jantan

Ikan jantan alat reproduksinya terdiri atas :



sepasang testis, yang menghasilkan sel kelamin jantan (sperma) berbentuk
bulat telur. Testis sebelah kanan lebih tinggi bila dibandingkan dengan
testis sebelah kiri.

epididimis,

vas deferens (saluran sperma yang keluar dari testis)

ginjal,

saluran kencing

kloaka
Testis adalah organ reproduksi jantan yang terdapat berpasangan dan
terletak di bawah tulang belakang. Testis ikan berbentuk seperti kantong dengan
lipatan-lipatan, serta dilapisi dengan suatu lapisan sel spermatogenik
(spermatosit). Sepasang testis pada jantan tersebut akan mulai membesar pada
saat terjadi perkawinan, dan sperma jantan bergerak melalui vas deferens menuju
celah/ lubang urogenital. Testis berjumlah sepasang, digantungkan pada dinding
tengah rongga abdomen oleh mesorsium. Bentuknya oval dengan permukaan yang
kasar. Kebanyakan testisnya panjang dan seringkali berlobus. Saluran reproduksi,
pada Elasmoranchi beberapa tubulus mesonefrus bagian anterior akan menjadi
duktus aferen dan menghubungkan testis dengan mesonefrus, yang disebut dutus
deferen. Bahian posterior duktus aferen berdilatasi membentuk vesikula
seminalis, lalu dari sini akan terbentuk kantung sperma. Dutus deferen akan
5

bermuara di kloaka. Pada Teleostei saluran dari sistem ekskresi dan sistem
reproduksi menuju kloaka secara terpisah.

2.1.2 Seksualitas Ikan Betina

Gambar 3. Organ Reproduksi Pada Ikan Betina

a. Ovarium pada Elasmoranchi padat, tapi kurang kompak, terletak pada anterior
rongga abdomen. Pada saat dewasa yang berkembang hanya ovarium kanan.
Pada Teleostei tipe ovariumnya sirkular dan berjumlah sepasang.
b. Saluran reproduksi Elasmoranchi berjumlah sepasang, bagian anteriornya
berfusi yang memiliki satu ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre.
Oviduk sempit pada bagian anterior dan posteriornya. Pelebaran selanjutnya
pada uterus yang bermuara di kloaka. Pada Teleostei punya oviduk pendek dan
berhubungan langsung dengan ovarium. Pada bagian posterior bersatu dan
bermuara pada satu lubang. Teleostei tidak memiliki kloaka. (Buku SH II,
diktat Asistensi Anatomi Hewan, Zoologi).
c. Ovary pada ikan terdiri dari banyak telur. Setiap jenis ikan memiliki ukuran
telur sendiri, ada yang besar dan ada yang kecil. Ukuran telur akan
menentukan jumlah telur yang dimiliki oleh seekor induk. Ikan yang memiliki
ukuran telur besar contohnya ikan Nila dan Arwana, akan memiliki jumlah
telur yang lebih sedikit dibanding dengan ikan yang ukuran telurnya kecil
6

seperti ikan Cupang dan Mas. Hal ini disebabkan oleh kapasitas yang dimiliki
si induk untuk menampung telur. Ukuran telur ikan banyak ditentukan oleh
ukuran kuning telurnya. Makin besar kuning telur makin besar pula peluang
embrio untuk bertahan hidup.

Gambar 4. Perbandingan Ovary dan Testis pada Ikan

2.2 Sifat Seksual pada Ikan


2.2.1 Sifat Seksual Primer
Sifat seksual primer pada ikan di tandai dengan adanya organ yang secara
langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya
pada ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Ciri seksual
primer yaitu alat/organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi
Contoh:
Testes dan salurannya pada ikan jantan
Ovarium dan salurannya pada ikan betina

Gambar 5. Organ Reproduksi Ikan


jantan dan betina
2.2.2 Sifat Seksualitas
Sekunder
7

Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk
membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat
morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas,
maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme. Namun, apabila satu spesies ikan
dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu
bersifat seksual dikromatisme.
1. Dimorfisme seksual
Ikan salmon (Oncorhynchus goburscha) jantan mempunyai punggung
meninggi dan rahang seperti kait dibandingkan dengan betina. Ikan lamadang
(Coryphaena hippurus) jantan bagian atas kepalanya melengkuh seperti kubah
dan posisi sirip dorsal lebih kedepan dibandingkan dengan sirip dorsal ikan betina.
Genus sebastes (S. Melanops, S. Flavidus, and S. Serranoides) jantan memiliki
mata yang lebih besar dan jari jari sirip pektoral yang lebih panjang dari pada
mata dan sirip pektoral betina (Echeverria, 1986).

Gambar 6. Perbedaan Rahang pada Ikan salmon jantan dan betina sebagai salah satu
Dimorfisme Seksual
(Sumber : http://www.pac.dfo-mpo.gc.ca/fm-gp/rec/images/species/Salmon/cohofresh.jpg)

Sirip sering menunjukkan ciri seksual sekunder. Sirip ekor bagian bawah
yang memanjang terdapat pada ikan jantan cingir putri (Xiphophorus helleri).
Ujung sirip dorsal seperti ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis) jantan
memanjang melewati pangkal ekornya, sedangkan yang betina tidak melewatinya.
Ikan laut dalam Photocorynus spiniceps jantan bersifat parasit pada ikan betina.
8

Ikan jantan tidak memiliki saluran pencernaan karena sifatnya yang parasit. Ikan
jantan menempel pada kulit ikan betina menggunakan mulutnya. Ikan jantan
semata-mata hanya berfungsi dalam reproduksi.

Gambar 7. Perbedaan
Sirip dorsal pada ikan sepat (Trichopodus trichopterus) sebagai contoh perbedaan
dimorfisme seksual
(Sumber : http://taxo4254.wikispaces.com/3+Spot+Gourami+%28Trichopodus+Trichopterus%29)

Pada Ceratias sp. Yang juga menghuni laut dalam, ukuran ikan jantan jauh
lebih kecil dari pada ikan betina. Sebegitu kecilnya sehingga ukuran ikan jantan
masih lebih kecil dari pada ovarium ikan betina yang sudah matang. Beberapa
organ tambahan pada pemijahan dapat digunakan sebagai ciri seksual.
Gonopodium terdapat pada ikan seribu (Poecilia reticulata) jantan dan ikan
Gambussia jantan. Gonopodium merupakan modifikasi dari sirip anal.

Gambar 8. Perbedaan gonopodium pada ikan Guppy jantan dan Betina sebagai contoh
perbedaan dimorfisme seksual
(Sumber : http://3.bp.blogspot.com/_KvvX0EVmNu0/S3bG7Xtl3SI/AAAAAAAABl8/
NFhDxrr1l60/s400/gonopodium.PNG)
9

Pada beberapa anggota Elasmobranchii sirip ventral bermodifikasi


menjadi miksopterigium (klasper) yang berfungsi sebagai penyalur sperma yang
membantu menjamin keberhasilan fertilisasi internal. Selain itu ikan jantan
mempunyai gigi yang lebih tajam atau lebih panjang daripada betina yang
berfungsi untuk mencengkram betina selama kopulasi, sebaliknya ikan betina
mempunyai kulit yang lebih tebal. Pada Chimaera jantan berkembang suatu organ
klasper di bagian atas kepalanya yang dinamakan tenakulum. Ovipositor yang
berfungsi sebagai alat penyalur telur ditemukan misalnya pada ikan Rhodeus
amarus dan Careproctus betina.
2. Dikromatisme seksual
Warna pada ikan sering merupakan ciri pengenalan seksual. Secara umum
boleh dikatakan bahwa ikan jantan mempunyai warna yang lebih cemerlang
daripada ikan betina. Bagi ikan jantan warna berfungsi untuk menarik perhatian
ikan betina. Variasi warna yang menakjubkan di temukan pada banyak spesies
siklid jantan pada berbagai danau di Afrika (Kodric-Brown, 1998).
Pada ikan orange spotted sunfish (Lepomis humilis) jantan terdapat bintik
jingga yang lebih terang dan lebih banyak di bandingkan dengan ikan betina.
Pinggiran belakang sirip ekor ikan mujair (Oreochromis mossambicus) jantan
berwarna merah.

Gambar 9. Perbedaan warna tubuh dan sirip ekor pada ikan mujair (kiri) dan orange spot
pada Lepomis humilis sebagai contoh dikromatisme seksual
(sumber : http://www.banyudadi.com/wp-content/uploads/2015/02/Ikan-mujair-jantan-
dan-betina.jpg dan
http://www.fishwisepro.com/pics/JPG/TN/TN030600F000368W000001.jpg)
10

Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih
menarik dari pada ikan betina. Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibagi
menjadi dua yaitu :
a. Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara, hanya muncul pada waktu
musim pemijahan saja. Misalnya ovipositor, ikan Rhodeus amarus yaitu alat
yang dipakai untuk menyalurkan telur ke bivalvia, adanya semacam jerawat di
atas kepalanya pada waktu musim pemijahan. Banyaknya jerawat dengan
susunan yang khas pada spesies tertentu bisa dipakai untuk tanda menentukan
spesies, contohnya ikan Nocomis biguttatus dan Semotilus atromaculatus
jantan.

Gambar 10. Alat penyalur telur ke bivalvia pada ikan Rhodeus amarus
(sumber : http://www.hlasek.com/foto/rhodeus_sericeus_hd2471.jpg )
b. Sifat seksual sekunder yang bersifat permanent atau tetap, yaitu tanda ini tetap
ada sebelum, selama dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda bulatan
hitam pada ekor ikan Amia calva jantan, gonopodium pada Gambusia affinis,
clasper pada golongan ikan Elasmobranchia, warna yang lebih menyala pada
ikan Lebistes, Beta dan ikan-ikan karang, ikan Photocornycus yang berparasit
pada ikan betinanya dan sebagainya.

Gambar 11. Tanda Hitam pada ekor ikan Amia calva


(sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/42/Amia_calva_1908.jpg)
11

Ciri seksual sekunder terdiri dari 2 jenis:


1. Tidak berhubungan dengan kegiatan reproduksi
Contoh:
Bentuk tubuh (betina lebih besar).
Buncak pemijahan pada ikan jantan minnow (Osmerus).
Sirip ekor lebih panjang pada jantan cinggir putri (Xiphophorus
helleri).
Warna tubuh lebih cemerlang pada jantan, misal pada (Lepomis humilis).
2. Alat bantu pemijahan
Contoh:
Gonopodium pada jantan ikan seribu (Lebistes reticulatus).
Modifikasi sirip dada heteorchir pada jantan Xenodexia untuk
memegang gonopodium pada kedudukannya sehingga memudahkan
masuk ke oviduct betina.
Sirip perut yang termodifikasi menjadi myxopterygium (clasper)
pada Elasmobranchii jantan menjamin fertilisasi internal.
Tenaculum (semacam clasper yang terdapat pada bagian atas
kepala) pada ikan Chimera jantan.
Ovipositor pada ikan Rhodes amarus dan Careproctus betina.

Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja.
Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi
tanda seksual sekunder menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan
sesuatu perubahan. Sebaliknya tanda bulatan hitan pada ikan Amia betina akan
muncul pada bagian ekornya seperti ikan Amia jantan, bila ovariumnya
dihilangkan. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari hormon yang dikeluarkan
oleh testis mempunyai peranan pada tanda seksual sekunder, sedangkan tanda
hitam pada ikan Amia menunjukkan bahwa hormon yang dikeluarkan oleh ikan
betina menjadi penghalang timbulnya tanda bulatan hitam.

2.3 Hermaproditisme pada Ikan


2.3.1 Pengertian Hermaprodit pada Ikan
12

Jika dibandingkan dengan vertebrata yang hidup di darat, tipe seksualitas


ikan sangat beraneka ragam, terdiri atas hermaprodit, uniseksual dan biseksual
(Price,1984 dalam Kordi, 2010).
Hermaprodit (hermaphrodite) adalah sifat seksual ikan yang membawa
jaringan jantan dan betina dalam tubuhnya atau menghasilkan sprematozoa dan
ovum secara bersamaan. Spesies yang demikian disebut juga hermaprodit normal.
Ikan dikatakan hermaprodit, apabila gonad ikan mempunyai jaringan jantan dan
betina. Jika seluruhnya atau hampir seluruh individu tersebut mempunyai jaringan
ovarium dan testis, maka spesies tersebut adalah hermaprodit. Berdasarkan
perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat
menentukan jenis hermaproditismenya.
Berdasarkan sifat perubahannya, hermaprodit dibagi menjadi 3, yaitu
hermaprodit sinkroni, hermaprodit protogini, dan hermaprodit protandri.

2.3.2 Hermaprodit sinkroni/simultaneous


13

Hermaprodit sinkroni adalah sifat pematangan sel kelamin jantan dan


betina pada waktu yang sama. Dalam gonad individu terdapat sel kelamin betina
dan sel kelamin
jantan yang dapat masak
bersama-sama dan siap
untuk dikeluarkan.
Ikan hermaprodit
jenis ini ada yang dapat
mengadakan pembuahan
sendiri dengan mengeluarkan telur terlebih dahulu kemudian dibuahi oleh sperma
dari individu yang sama, ada juga yang tidak dapat mengadakan pembuahan
sendiri. Ikan ini dalam satu kali pemijahan dapat berlaku sebagai jantan dengan
mengeluarkan sperma untuk membuahi telur dari ikan yang lain, dapat pula
berlaku sebagai betina dengan mengeluarkan telur yang akan dibuahi sperma dari
individu lain. Di alam atau akuarium yang berisi dua ekor atau lebih ikan ini,
dapat menjadi pasangan untuk berpijah. Ikan yang berfase betina mempunyai
tanda warna yang bergaris vertikal, sesudah berpijah hilang warnanya dan berubah
menjadi ikan jantan. Contoh ikan hermaprodit sinkroni yaitu ikan-ikan dari Famili
Serranidae. Ikan yang tidak mengadakan pembuahan sendiri, dalam satu kali
pemijahan ia dapat berlaku sebagai ikan jantan dan dapat pula sebagai ikan betina.
Contoh Serranus cabrilla dan Hepatus hepatus.

Gambar 12. Ikan Serranus cabrilla sebagai contoh ikan Hermaprodit sinkroni
(sumber : http://www.ictioterm.es/especies/ilustraciones/L/Serranus_cabrilla_I_L.jpg)
14

2.3.3 Hermaprodit protandri


Hermaprodit protandri adalah perubahan kelamin dari jantan menjadi
betina. Ikan ini mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase
jantan ke fase betina. Ketika ikan masih muda gonadnya mempunyai daerah
ovarium dan daerah testis, tetapi jaringan testis mengisi sebagian besar gonad
pada bagian lateroventral. Setelah jaringan testisnya berfungsi dan dapat
mengeluarkan sperma, terjadi masa transisi yaitu ovariumnya membesar dan testis
mengkerut. Pada ikan yang sudah tua, testis sudah tereduksi sekali sehingga
sebagian besar dari gonad diisi oleh jaringan ovarium yang berfungsi, sehingga
ikan berubah menjadi fase betina.

Gambar 13. Penampang melintang hermaprodit protandri (Yamamoto, 1969)


Keterangan : A= fase jantan, B= fase transisi, C= fase betina
Contoh ikan yang termasuk Hermaprodit Protandri adalah ikan kakap
putih (Lates calcariver) dimana kakap jantan akan mengalami perubahan kelamin
menjadi betina, yang terjadi pada berat 2-4 kg. Hasil penelitian menunjukkan,
proporsi jantan menurun seiring bertambahnya berat badan. Pada berat badan 2,4
kg terjadi peningkatan jumlah betina dari jantan dewasa setelah mengalami
perubahan kelamin (secondary female). Ukuran biologi minimal induk jantan
yang matang adalah 1,4 kg dan panjang 45 cm dan induk betina adalah 1,5 kg dan
panjang 47 cm. Pengamatan ini juga menunjukkan bahwa perubahan kelamin
kakap putih dari jantan menjadi betina berlangsung selang waktu antara umur 21-
157 hari, dimana perubahan ini banyak dijumpai pada ikan berukuran 2,0 3,0
kg. Dari hasil ini dapat diasumsikan bahwa pada ukuran tersebut kakap putih
15

mengalami masa transisi (intersex) atau masa perubahan kelamin (Mayunar dan
Ahmad,1994 dalam Kordi, 2010).

Gambar 14. Ikan Lates calcariver sebagai contoh ikan Hermaprodit protandri
(sumber : http://s367.photobucket.com/user/ence_2008/media/Barramundi1.jpg.html)

2.3.4 Hermaprodit protogini


Hermaprodit protogini adalah sifat perubahan kelamin dari betina menjadi
jantan. Keadaan yang sebaliknya dengan hermaprodit protandri. Pada beberapa
ikan yang termasuk golongan ini sering terjadi sesudah satu kali pemijahan,
jaringan ovariumnya mengkerut kemudian jaringan testisnya berkembang.
Ikan-ikan dari famili Serranidae dan famili Labridae tergolong
hermaprodit protogini. Ikan Kerapu (Cromileptes, Epinephelus, Pletropomus) dan
ikan napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan ikan yang bersifat hermaprodit
protogini. Perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh
ukuran, umur dan spesiesnya. Pada kerapu lumpur (Epinephelus suillus/
Epinephelus tauvina) transisi dari betina ke jantan terjadi setelah ikan mencapai
ukuran panjang badan 660-720 mm. Testes mulai matang pada ukuran 740 mm
atau berat 11 kg. Transformasi dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang
cukup lama dan dalam kondisi alami.
Salah satu spesies ikan di Indonesia yang sudah dikenal termasuk ke
dalam golongan hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah (Monopterus albus).
Ikan ini memulai siklus reproduksinya sebagai ikan betina yang berfungsi,
kemudian berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi. Urutan daur hidupnya
yaitu : masa juvenile yang hermaprodit, masa betina yang berfungsi, masa intersek
dan masa terakhir masa jantan yang berfungsi.
16

Gambar 15. Ikan Monopterus albus sebagai contoh ikan Hermaprodit protogini
(sumber : http://www.fishesofaustralia.net.au/Images/Image/MonopterusAlbusJillRuse.jpg)

Hermaprodit protandri dan hermaprodit protogini sering disebut


hermaprodit beriring. Pada waktu ikan itu masih muda mempunyai gonad yang
berorganisasi dua macam seks, dimana terdapat jaringan testes dan ovarium yang
belum berkembang dengan baik. Proses suksesi kelamin dari satu populasi
hermaprodit protandri atau protogini terjadi pada individu yang berbeda baik
menurut ukuran atau umur, tetapi merupakan suatu proses yang beriring. Pada
ikan Gobi didapatkan setelah suksesi itu satu proses yang kembali kepada keadaan
fase yang pertama.

2.4 Gonokhorisme pada Ikan


Gonokhorisme adalah kondisi seksual ganda, dimana pada ikan tahap
juvenil gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan atau betina
(Effendi, 1979).
Sifat gonokhorisme pada ikan terbagi dua, yaitu ada yang berdiferensiasi
dan ada yang tidak berdiferensiasi. Pada spesies pertama, gonad yang berbeda
langsung berdiferensiasi menjadi testis dan ovarium. Pada spesies kedua, gonad
yang tidak berbeda mula-mula berkembang menjadi gonad yang menyerupai
ovarium dan kemudian lebih kurang setengahnya menjadi jantan dan setengahnya
yang lain menjadi betina (Effendi, 1979).
17

Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda yaitu pada ikan bertahap


juvenil gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan atau
betinanya. Gonad tersebut kemudian berkembang menjadi semacam ovarium,
setelah itu setengah dari individu ikanikan itu gonadnya menjadi ovarium
(menjadi ikan betina) dan setengahnya lagi menjadi testis (menjadi ikan jantan).
Gonokhoris yang demikian dinamakan gonokhoris yang tidak berdiferensiasi:,
yaitu keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi interseks yang spontan. Misalnya
Anguilla anguilla dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak
berdiferensiasi. Ikan gonokhorisme yang berdiferensiasi sejak dari mudanya
sudah ada perbedaan antara jantan dan betina yang sifatnya tetap sejak dari kecil
sampai dewasa, sehingga tidak terdapat spesies yang interseks (Rahardjo dkk,
2011).

Gambar 16. Ikan Anguilla anguilla sebagai contoh ikan Gonokhorisme


(sumber : http://www.spp.gr/fish_biodiversity/EN/eBook.data/images/fish/anguilla_anguilla.jpg)

2.5 Uniseksual pada Ikan


Fenomena uniseksualitas (berkelamin tunggal) ini merupakan sifat
sejumlah ikan. Pembentukan keturunan uniseksualitas ini disebut sebagai
parthenogenesis (parthenos, perawan, dan genesis, kejadian) yang mencakup dua
bentuk yaitu ginogenesis dan hibridogenesis.
Contoh yang tepat yang mengenai fenomena ini adalah kelompok ikan
Molly mexico dari famili poeciliidae (Moyle & Cech, 2004). Molly amazon
(Poecillia formosa) merupakan ikan yang ditemukan pertama kali sebagai spesies
yang hanya berkelamin betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa molly
amazon bertindak sebagai parasit seksual terhadap dua spesies lain dari genus
18

yang sama, yakni P. Mexicanna dan P. Latipinna. Sperma dari jantan dua jenis
ikan inang tersebut diperlukan untuk mengaktifkan perkembangan telur-telur
P.formosa, tetapi penyatuan kromosom jantan dan betina tidak terjadi, sehingga
terbentuk betina yang secara genetik seragam. Proses terbentuknya keturunan
hanya berkelamin betina tersebut dinamakn ginogenesis. Betina ginogenetik
biasanya triploid dan menghasilkan telur yang juga 3n (Helfman et al., 1997).

Gambar 17. Ikan Poecillia formosa sebagai contoh ikan Uniseksual


(sumber : http://www.stetson.edu/artsci/biology/media/amb/molly.jpg)

Pada poeciliopsis sebagian besar individu berkelamin betina dihasilkan


melalui hibridogenesis (schultz, 1989 in Moyle & Cech, 2004). Dalam peristiwa
ini perkawinan antara betina poeciliopsis dengan jantan dari spesies lain
menyebabkan terjadinya pembuahan telur-telur dan menghasilkan keturunan yang
betul-betul hibridis. Tetapi selama oogenesis pada hibrid betina, kromosom yang
diberikan oleh si jantan dibuang pada proses miosis, sehingga hanya gen betina
yang diturunkan ke generasi berikutnya. Hasilnya adalah galur yang mengabdikan
diri sendiri (self perpetuating strain) dari ikan betina. Betina hibridogenetik
adalah diploid dan menghasilkan telur yang haploid. Contohnya spesies hibrida
antara lain Poeciliopsis monacha betina dengan P. Lucida, P. Occidentalis, P.
Latidens, dan P. Viriosa jantan. Ikan jantan empat spesies tersebut menjadi
pendonor sperma dalam perkawinan (Helfman et al., 1997). Spesies uniseksual
berhasil terus eksis, tersebar dan sering lebih melimpah dari pada spesies
induknya. Menurut Moyle & Cech (2004), hal ini disebabkan oleh kombinasi
beberapa faktor ;
19

a. Heterosis (kekuatan hibrida) yang diperlihatkan oleh hibrida-hibrida tersebut


(misal : ukuran lebih besar, laju sintasan lebih tinggi),
b. Potensi reproduksi populasi yang semua betina meningkat, dan
c. Kemampuan spesies untuk beradaptasi dengan aspek tertentu, suatu
lingkungan, sehingga tumbuh pesat di dalam lingkungan setempat yang sangat
khas.
Lebih jauh mereka menyatakan bahwa spesies uniseksual mempunyai dua
masalah yang harus diatasi. Masalah tersebut ialah:
a. Keragaman genetik yang rendah karena ketiadaan rekombinasi genetik untuk
reproduksi.
b. Ketergantungan terus menerus ikan uniseksual kepada ikan jantan biseksual
dalam reproduksi
Masalah pertama dapat diperkecil oleh kenyataan bahwa spesies
uniseksualitas jelas telah muncul berulang-ulang, sehingga tiap spesies mewakili
banyak klon (clone) yang berbeda. Masing-masing klon mempunyai asal-usul
yang berbeda dan persyaratan ekologis yang berbeda pula. Ketika individu dari
dua klon muncul bersama, mereka dapat memisahkan diri secara ekologis yang
satu dari yang lainnya (tercermin dalam pembentukan gigi dan tingkah laku
mencari makan), seperti halnya dari induk spesies biseksual (Balsano et al., 1989
in Moyle & Cech, 2004).
Masalah kedua terjadi karena spesies uniseksualitas tidak mampu
menyingkirkan ikan biseksual dalam interaksi persaingan dengan mereka. Sebagai
tambahan, sangat nyata terjadi tekanan seleksi yang kuat pada spesies inang dalam
mengembangkan mekanisme agar tidak memboroskan upaya reproduktif kepada
ikan uniseksualitas yang parasit. Jantan spesies biseksual harus memilih betina
yang cocok, tetapi ia juga bebas kawin dengan betina uniseksual. Sperma bukan
merupakan sumber daya terbatas bagi betina yang bersaing, setidak-tidaknya pada
ikan (Balsano et al., 1989 in Moyle & Cech, 2004).

2.5 Peranan atau manfaat mempelajari seksualitas ikan dalam bidang


perikanan
20

Dengan mempelajari materi tentang seksualitas ikan dalam mata kuliah


biologi perikanan ini, maka kita mendapatkan pengetahuan dasar untuk biologi
reproduksi ikan yang akan menjadi salah satu ilmu yang sangat penting dimiliki
dalam kegiatan perikanan terutama dalam budidaya perikanan (akuakultur).
Dalam budidaya perikanan, melakukan fertilisasi pada ikan itu dilakukan
untuk mendapatkan benih yang akan dikultur, dengan demikian maka seksualitas
ini amat penting untuk dipelajari guna mengetahui karakteristik ikan terutama
dalam penetuan jenis kelamin ikan. Dari ciri seksual primer dan sekunder yang
dipelajari maka kita dapat dengan mudah menentukan jenis kelamin dari ikan
yang diidentifikasi untuk dipijahkan.

BAB III
KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa seksualitas pada ikan terdiri dari dua jenis
kelamin yaitu jantan dan betina. Ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ
penghasil sperma dan ikan betina ialah ikan mempunyai organ penghasil telur.
Satu individu ikan dikatakan hermaprodit apabila didalam tubuhnya terdapat
jaringan ovarium (penentu individu betina) dan jaringan testes (penentu individu
jantan). Hermaprodit Sinkroni adalah apabila didalam gonad individu terdapat sel
sex betina dan sel sex jantan yang masak secara bersamaan. Hermaprodit
Protandri adalah ikan yang didalam tubuhnya mempunyai gonad yang
mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Hermaprodit
Protogini adalah ikan yang didalam tubuhnya mempunyai gonad yang
mengadakan proses diferensiasi dai fase betina ke fase jantan. Gonokhorisme
adalah kondisi seksual berganda dimana pada ikan fasen juvenil gonadnya tidak
mempunyai jaringan yang jelas status jantan dan betinanya. Sifat seksual primer
pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan
21

dengan proses reproduksi, yakni ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan
testes dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Sifat seksual sekunder pada ikan
ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan
betina

DAFTAR PUSTAKA

Agus, E. 2011. Sistem Reproduksi. Universitas Borneo. Tarakan.


Afiesh, R. 2014. Ikan Lele (Clarias Sp). Jurusan Biologi. Fakultas Matematika
Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Andalas. Padang.
Asep, Thea. 2009. Seksualitas Ikan. melalui :
http://ismantaraaquaculture.wordpress.com/2009/03/23/seksualitas-ikan/
diakses pada 19 Februari 2015
Effendie, I. M, 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara
Jayadi, M. H. 2011. Aspek Biologi Reproduksi Ikan Pari (Dasyatis Kuhlii Mller
& Henle, 1841) yang Didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan Paotere
Makassar. [SKRIPSI] Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan. Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Kordi, M. Ghufran H. 2010. Pembenihan ikan laut ekonomis secara buatan.
Yogyakarta : Lily Publisher.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Fresh
Water Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions Limited,
Jakarta.
Mayunar, S.Diani dan B. Slamet. 1991. Fekunditas, derajat pembuahan dan
derajat penetasan telur ikan Kerapu Macan, Epinephelus fuscoguttatus.
Jurnal penelitian Budidaya Pantai.
Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Second
Edition. Prentice Hall, New Jersey.
Radit, 2008. Reproduksi Ikan. Melalui :
http://shareaquaria.wordpress.com/2008/09/21/reproduksi-ikan/ diakses
pada 19 Februari 2015
22

Reinthal, P & J. Stegen. 2005. Ichthyology. Melalui :


http://eebweb.arizona.edu/courses/ecol482_582/Lecture120056.pdf diakses
pada 19 Februari 2015
Yudha, Indra Gumay. 2009. Reproduksi. Fakultas Pertanian. Universitas
Lampung. Bandar Lampung