You are on page 1of 7

1.

Alat Bantu Penangkapan (Rumpon, Lampu dan Umpan)

Alat bantu penagnkapan rumpon adalah alatyang lazim digunakan diberbagai negara alat ini
digunakan oleh masyarakat pesisir Teluk Mandar. Alat ini diunakan dengan prinsip
menangkapikan dengan menghanyut ditengah laut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini penggunaan rumpon sebagai alat bantu
penangkapan ikan semakin banyak digunakan oleh para pelaku utama penangkapan ikan
(nelayan) maupun pelaku usaha bidang penangkapan ikan. Hal tersebut dikarenakan rumpon
memberikan manfaat yang cukup nyata dalam upaya peningkatan hasil tangkapan ikan.
Disamping itu rumpon juga dapat membantu dalam penangkapan ikan dengan menggunakan
berbagai alat tangkap ikan, baik alat tangkap ikan yang aktif (seperti purse seine) maupun alat
tangkap pasif (pancing, dan lain lain).

Dengan semakin meningkat dan berkembangnya pemasangan dan pemanfaatan rumpon


sebagai alat bantu penangkapan ikan, maka untuk menghindari kerusakan pola ruaya (migrasi)
ikan, serta melindungi kelestarian sumber daya ikan, maka Menteri Kelautan dan Perikanan
telah mengeluarkan Keputusan Menteri Nomor : KEP.30/MEN/2004 tanggal 24 Juli 2004
tentang Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon. Disamping itu penjelasan tentang rumpon juga
tertuang pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor : PER.02/MEN/2011 tanggal
31 Januari 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan, Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat
Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia,
khususnya Bab IV Pasal 18, 19 dan 20.

Beberapa hal pokok yang dapat dijelaskan tentang pemasangan dan pemanfaatan rumpon
tersebut adalah sebagaimana uraian berikut.
Beberapa Pengertian
1. Alat bantu penangkapan ikan terdiri dari rumpon dan lampu.
2. Rumpon adalah alat bantu pengumpul ikan yang berupa benda atau struktur yang dirancang
atau dibuat dari bahan alami atau buatan yang ditempatkan secara tetap atau sementara pada
perairan laut.
3. Rumpon merupakan alat bantu untuk mengumpulkan ikan dengan menggunakan berbagai
bentuk dan jenis pemikat/atraktor dari benda padat yang berfungsi untuk memikat ikan agar
berkumpul.
4. Lampu merupakan alat bantu untuk mengumpulkan ikan dengan menggunakan
pemikat/atraktor berupa lampu atau cahaya yang berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul.
Lampu tersebut terdiri dari lampu listrik dan lampu non listrik.

5. Umpan merupakan alat bantu yang diletakkan di dalam bubu yang akan dioperasikan.
Umpan yang dibuat disesuaikan dengan jenis ikan ataupun udang yg menjadi tujuan
penangkapan..
6. Izin Pemasangan Rumpon adalah izin tertulis yang harus dimiliki oleh setiap orang atau
perusahaan perikanan untuk memasang rumpon, sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan
dan/atau produksi perikanan.

Jenis-jenis rumpon
Rumpon terdiri dari rumpon hanyut dan rumpon menetap.
1). Rumpon hanyut adalah rumpon yang ditempatkan tidak menetap, tidak dilengkapi dengan
jangkar dan hanyut mengikuti arah arus.
2). Rumpon menetap, adalah rumpon yang ditempatkan secara menetap dengan menggunakan
jangkar dan/atau pemberat, yang terdiri dari :
(1). Rumpon permukaan, merupakan rumpon menetap yang dilengkapi dengan atraktor yang
ditempatkan di kolom permukaan perairan untuk mengumpulkan ikan pelagis.
(2). Rumpon dasar, merupakan rumpon menetap yang dilengkapi dengan atraktor yang
ditempatkan di dasar perairan untuk mengumpulkan ikan demersal.

Wilayah Pemasangan Rumpon dan Perizinannya

Rumpon dapat dipasang diwilayah :


1). Perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut terendah
;
2). Perairan diatas 4 mil laut sampai dengan 12 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut
terendah ;
3). Perairan diatas 12 mil laut dari Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia.
Pemasangan rumpon tersebut baik oleh perorangan maupun perusahaan berbadan hukum wajib
memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat yang berwenang. Pengajuan izin tersebut ditujukan
kepada :
a. Bupati/Walikota atau Pejabat yang bertanggung jawab di bidang perikanan, untuk
pemasangan rumpon di wilayah perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil laut ;
b. Gubernur atau Pejabat yang bertanggung jawab di bidang perikanan, untuk pemasangan
rumpon di wilayah perairan diatas 4 mil laut sampai dengan 12 mil laut ;
c. Direktur Jenderal (Perikanan Tangkap) atau Pejabat yang ditunjuk, untuk pemasangan
rumpon di wilayah perairan diatas 12 mil laut dan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia ;

Permohonan Pemasangan Rumpon

1). Permohonan pemasangan rumpon kepada Bupati/Walikota atau Pejabat yang ditunjuk yang
bertanggung jawab di bidang perikanan, wajib dilengkapi dengan persyaratan sekurang-
kurangnya :
a. Foto copy KTP, bagi perorangan dan/atau penanggung jawab perusahaan ;
b. Foto copy IUP, bagi perusahaan perikanan ;
c. Rencana pemasangan, meliputi :
- waktu pemasangan,
- lokasi (koordinat) pemasangan,
- jumlah dan bahan rumpon.

2). Permohonan pemasangan rumpon kepada Gubernur atau Pejabat yang ditunjuk yang
bertanggung jawab di bidang perikanan, wajib dilengkapi dengan persyaratan sekurang-
kurangnya :
a. Foto copy KTP, bagi perorangan dan/atau penanggung jawab perusahaan ;
b. Foto copy IUP, bagi perusahaan perikanan ;
c. Foto copy NPWP, bagi perusahaan perikanan ;
d. Rencana pemasangan, meliputi :
- waktu pemasangan,
- lokasi (koordinat) pemasangan,
- jumlah dan bahan rumpon, dan
- rencana pemanfaatan.

3). Permohonan pemasangan rumpon kepada Direktur Jenderal (Perikanan Tangkap) wajib
dilengkapi dengan persyaratan sekurang-kurangnya :
a. Foto copy KTP, bagi perorangan dan/atau penanggung jawab perusahaan ;
b. Foto copy IUP, bagi perusahaan perikanan ;
c. Foto copy NPWP, bagi perusahaan perikanan ;
d. Gambar rancang bangun ;
e. Rencana pemasangan, meliputi :
- waktu pemasangan,
- lokasi (koordinat) pemasangan,
- jumlah dan bahan rumpon, dan
- rencana pemanfaatan.

Pemberlakuan perizinan dan lainnya


- Izin pemasangan rumpon tersebut berlaku selama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang
oleh pemberi izin untuk jangka waktu yang sama. Rumpon yang tidak dimanfaatkan lagi atau
izinnya tidak diperpanjang, pemilik rumpon wajib membongkar dan mengangkat rumpon
tersebut.
- Instansi pemerintah, lembaga penelitian, dan/atau perguruan tinggi yang akan memasang
rumpon wajib memberitahukan pemasangan rumpon kepada Direktur Jenderal (Perikanan
Tangkap), Gubernur atau, Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangan masing-masing.
- Pemberian izin pemasangan rumpon wajib mempertimbangkan daya dukung sumberdaya
ikan dan lingkungannya serta aspek sosial budaya masyarakat setempat.

Syarat Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon

Pemasangan rumpon yang dilakukan oleh perorangan atau perusahaan perikanan harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. tidak mengganggu alur pelayaran ;
b. jarak antara rumpon yang satu dengan rumpon yang lain tidak kurang dari 10 mil laut ;
c. tidak dipasang dengan cara pemasangan yang mengakibatkan efek pagar (zig-zag).

Selanjutnya tentang pemanfaatan rumpon diatur sebagai berikut :


- Pemanfaatan rumpon hanya boleh dilakukan oleh perusahaan perikanan ;
- Pemanfaatan rumpon yang bukan miliknya hanya dapat dilakukan atas dasar persetujuan
pemilik rumpon ;
- Rumpon yang dipasang oleh instansi pemerintah, lembaga penelitian dan/atau perguruan
tinggi hanya boleh dimanfaatkan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ;
- Nelayan yang memanfaatkan rumpon yang dipasang oleh pemerintah atau lembaga lain
non pemerintah wajib membongkar apabila tidak dimanfaatkan lagi.

Pelaporan, Pembinaan, Pengawasan, dan Sanksi


- Untuk pengendalian pengelolaan sumberdaya perikanan, Gubernur, Bupati/Walikota
wajib menyampaikan laporan jumlah, lokasi rumpon, dan izin pemasangan rumpon yang
diterbitkan, kepada Direktur Jenderal (Perikanan Tangkap) ;
- Orang atau perusahaan perikanan yang memperoleh izin pemasangan rumpon wajib
menyampaikan laporan pemanfaatan rumpon setiap 6 (enam) ulan sekali kepada pemberi izin ;
- Menteri, Gubernur, dan/atau Bupati/Walikota melakukan pembinaan kepada pemilik
rumpon sesuai dengan kewenangannya di wilayah masing-masing baik secara bersama-sama
maupun sendiri-sendiri ;
- Pengawasan atas ketentuan-ketentuan tentang rumpon dikoordinasikan oleh Direktur
Jenderal yang bertanggung jawab di bidang pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan
(dalam hal ini adalah Dirjen Pengendalian Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan) ;
- Pemasangan rumpon yang tidak sesuai dengan ketentuan dikenakan sanksi pembongkaran
rumpon ;
- Selain sanksi pembongkaran rumpon, perusahaan perikanan yang memanfaatkan rumpon
dan tidak menyampaikan laporan pemanfaatan juga dikenai sanksi administratif, yaitu :
pembekuan Izin Usaha Perikanan (IUP) atau Pencabutan Surat Penangkapan Ikan (SPI).

Dengan memahami berbagai ketentuan tentang rumpon sebagai alat bantu pengumpul ikan,
diharapkan pelaku utama dan pelaku usaha, baik perorangan atau perusahaan, akan lebih cermat
dan bijaksana dalam pemasangan rumpon. Sehingga rumpon yang dipasang dapat memberikan
hasil yang optimal bagi pelakunya, dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
khususnya pelaku utama penangkapan ikan (nelayan), maupun pelaku usaha bidang
penangkapan ikan. Disamping itu semoga kelestarian sumberdaya perikanan tetap terjaga dengan
baik. Semoga. = (Pran, 10/05/2011)

2. Hasil Tangkap Bubu


A. Hasil tangkap utama dari alat tangkap
Bubu Dasar (Ground Fish Pots). Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya
terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp),
Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp),
kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp),
Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.
Bubu Apung (Floating Fish Pots). Hasil tangkapan bubu apung adalah jenis-jenis
ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dll.
Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots). Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan
torani, ikan terbang (flying fish).
B. Hasil tangkap sampingan dari alat tangkap bubu
Contoh pada hasil penelitian bubu yang dioperasikan oleh nelayan di perairan
Kepulauan Seribu per trip menangkap ikan dengan kisaran 4-9 ekor Hasil tangkapan
yang paling dominan adalah ikan dari Famili Pomacentridae yang merupakan hasil
tangkapan sampingan dengan jumlah hasil tangkapan sebanyak 201 ekor atau 30,78%
dari total hasil tangkapan. Proporsi hasil tangkapan sampingan relatif lebih banyak
dibanding hasil tangkapan utama dengan proporsi 58% dibanding 42%.
Daftar Pustaka

Keputusan Menteri Nomor : KEP.30/MEN/2004 tanggal 24 Juli 2004 tentang Pemasangan dan
Pemanfaatan Rumpon.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor : PER.02/MEN/2011 tanggal 31 Januari


2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan, Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia

Muhammad Ridwan Alimuddin. 2005. Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar
mengarungi Gelombang Perubahan Zaman. Jakarta: KPG (Keperpustakaan Populer Gramedia).

(http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/96-artikel/artikel-penangkapan-ikan/118-
penggunangan-dan-pemanfaatan-rumpon-sebagai-alat-bantu-penangkapan-ikan) diakses pada 8
Oktober 2016 (8:35 WIB)

Dahri Iskandar. 2011. ANALISIS HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN BUBU YANG

DIOPERASIKAN DI PERAIRAN KARANG KEPULAUAN SERIBU. IPB: Jurnal Saintek Perikanan. Vol.
6, No. 2, 2011, 31 37.