REPOSISI ORGANISASI PROFESI PUSTAKAWAN PASCA UU NOMOR 43 TAHUN 20071

Oleh : Blasius Sudarsono Pustakawan Utama PDII-LIPI PENDAHULUAN Penulis diminta membahas reposisi organisasi profesi pustakawan setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (UU 43, 2007). Meski bukan yang pertama, namun UU ini menjadi produk hukum lebih lengkap tentang perpustakaan, dibanding dengan peraturan-perundangan sebelumnya. Peraturan terkait dengan perpustakan yang terlebih dahulu terbit adalah: Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 1961 (UU PRPS 20, 1961) yang mengatur tugas dan lapangan pekerjaan perpustakaan dan dokumentasi di lingkungan kantor pemerintah. Selanjutnya adalah Undang-Undang Nomor 4 tentang serah simpan karya cetak dan rekam (UU 4, 1990). Dengan terbitnya UU 43, 2007 dua peraturan perundangan tersebut tidak dicabut, sehingga tetap berlaku. Namun dapat diduga tidak banyak lagi pihak yang menyadari akan keberadaan dua peraturan terdahulu itu. Makna reposisi dalam bahasan ini lebih penulis artikan sebagai konsekuensi organisasi profesi pustakawan sehubungan dengan ketentuan UU 43, 2007 yang mengaturnya. Dengan kata lain tindakan atau langkah apa yang harus dilakukan organisasi pustakawan agar mematuhi aturan yang diamanatkan oleh UU 43, 2007. Amanat UU ini tentang organisasi profesi pustakawan terdapat pada Bab VIII Bagian ketiga, Pasal 34 sampai dengan Pasal 37. Untuk lebih memaknai aturan tersebut, ada baiknya tidak hanya menyimak bagian yang mengatur tentang organisasi profesi saja, Bagian pertama dan kedua dalam Bab VIII itu perlu juga disimak karena mengatur tentang Tenaga Perpustakaan dan Pendidikannya. Oleh sebab itu guna memfasilitasi pembaca, kutipan Bab VIII seluruhnya dimuat dalam tulisan ini. Di Indonesia, menurut Basyral Hamidi Harahap (1998), sejarah organisasi perpustakaan atau pustakawan telah dimulai sejak 1916 dengan dibentuknya Vereeniging tot Bevordering van het Bibliothekwezen. Namun organisasi ini tidak berlanjut karena tokohtokohnya kembali ke Belanda pada masa 1920-an. Selanjutnya atas inisiatif A.G.W. Dunningham, diadakan pertemuan pegawai-pegawai perpustakaan di Indonesia pada Bulan Mei 1953. Pertemuan ini yang menghasilkan pembentukan Asosiasi Perpustakaan Indonesia (API) pada 4 Juli 1953. Sayang belum ditemukan informasi kelanjutan dari API ini. Setahun berikutnya pada Bulan Maret 1954, diadakan lagi Konperensi Perpustakaan Seluruh Indonesia yang membentuk Perhimpunan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia (PAPSI). Ditetapkan hari lahir PAPSI adalah 25 Maret 1954. PAPSI adalah kelanjutan dari API.
1

Disampaikan pada Rapat Koordinasi Kerjasama Pengembangan Jabatan Fungsional Pustakawan Dengan Instansi Terkait. Jakarta, 23-24 November 2009.

Jika disimak atas dua kejadian pada tahun 1953 dan 1954 telah muncul dua perkumpulan atau asosiasi. Yang pertama adalah perkumpulan perpustakaan (API) dan yang kedua adalah perkumpulan ahli perpustakaan (PAPSI). Kini ada Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) yang merupakan perkumpulan pustakawan, serta berbagai forum seperti Forum Perpustakaan Umum, Forum Perpustakaan Sekolah, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Forum Perpustakaan Khusus yang semua terkahir ini adalah perkumpulan lembaga perpustakaan. Terlihat bahwa dikotomi antara organisasi yang berpusat pada pribadi dan organsasi yang berpusat pada lembaga telah terjadi sejak awal pembangunan perpustakaan di Indonesia pasca kemerdekaan. Kondisi ini merupakan salah satu faktor dalam upaya reposisi organissi profesi pustakawan yang perlu dipertimbangkan. KEBERADAAN ORGANISASI PUSTAKAWAN Pada perkembangan selanjutnya PAPSI berubah menjadi PAPADI dan terakhir manjadi APADI pada 15 Juli 1962. Para pustakawan yang bekerja pada perpustakaan khusus ternyata juga mendirikan perkumpulan yang dinamai Himpunan Perpustakaan Chusus Indonesia (HPCI) pada Tahun 1969. Di Yogyakarta muncul juga perkumpulan pustakawan dengan nama Himpunan Pustakawan Daerah Istimewa Yogyakarta (HPDIY). Akhirnya tiga organisasi tersebut bersepakat menyatukan diri menjadi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) pada 6 Juli 1973. Sejak itulah IPI menjadi satu-satunya organisasi pustakawan di Indonesia. Namun kembali berulang lahirnya berbagai forum perpustakaan seperti : Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPTI), Forum Perpustakaan Khusus (FPK), Forum Perpustakaan Sekolah (FPS), dan Forum Perpustakaan Umum (FPU). Kelahiran berbagai forum perpustakaan tersebut justru difasilitasi oleh Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Sebelumnya memang sudah lahir terlebih dahulu Klub Perpustakaan Indonesia (KPI). Lahirnya organisasi pustakawan di luar IPI ternyata tidak dapat ditolak. Salah satu alasan mengapa muncul upaya mendirikan organisasi di luar IPI adalah karena ketidak puasan atas kinerja IPI. Bahkan nama organisasi tersebut tidak lagi menggunakan nama pustakawan seperti : Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI), Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) serta Asosiasi Tenaga Perpustakaan Seluruh Indonesia (ATPUSI). Adanya berbagai organisasi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia memang hal yang sewajarnya. Keberagaman bukan sesuatu yang tidak baik. Justru keberagaman menjadi kekuatan pustakawan di Indonesia (Sudarsono, 2009). Namun keberagaman ini idealnya harus berdiri atas satu platform yaitu kepustakawan Indonesia. Landasan ini diwujudkan antara lain dengan : standar nasional perpustakaan yang di dalamnya mengatur tentang kompetensi pustakawan Indonesia, sertifikasi pustakawan, akreditasi lembaga pendidikan pustakawan, dan tidak boleh dilupakan adalah etika pustakawan Indonesia. Semua pokok ini diatur secara umum dalam UU 43, 2007. Berikut adalah kutipan penuh dari Bab VIII yang mengatur tentang, Tenaga Perpustakaan, Pendidikan, dan Organisasi Profesi. UU 43, 20O7 BAB VIII :

Tenaga Perpustakaan, Pendidikan, dan Organisasi Profesi

KETENTUAN Pasal 29 (1) Tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan (2) Pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional peprustakaan (3) Tugas tenaga teknis perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dirangkap oleh pustakawan sesuai dengan kondisi perpustakaan yang bersangkutan. (4) Ketentuan mengenai tugas, tanggung jawab, pengangkatan, pembinaan, promosi, pemindahan tugas, dan pemberhentian tenaga perpustakaan yang berstatus pegawai negeri sipil dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Ketentuan mengenai tugas, tanggung jawab, pengangkatan, pembinaan, promosi, pemindahan tugas, dan pemberhentian tenaga perpustakaan yang berstatus nonpegawai negeri sipil dilakukan sesuai dengan perturan yang ditetapkan oleh penyelenggara perpustakaan yang bersangkutan. Pasal 30 Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum Pemerintah, perpustakaan umum kabupaten/kota dan perpustakaan perguruan tinggi dipimpin oleh pustakawan atau oleh tenaga ahli dalam bidang perpustakaan. Pasal 31 Tenaga perpustakan berhak atas: a. penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial b. pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas, dan c. kesempatan menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas perpustakaan untuk menunjang pelaksanaan tugas. Pasal 32 Tenaga perpustakaan berkewajiban: a. memberikan layanan prima terhadap pemustaka b. menciptakan suasana perpustakaan yang

PENJELASAN

Ayat (1) Yang dimaksud dengan tenaga teknis perpustakaan adalah tenaga non-pustakawan yang secara teknis mendukung pelaksanaan fungsi perpustakaan, misalnya tenaga teknis komputer, tenaga teknis audio-visual, dan tenaga teknis ketatausahaan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Yang dimaskud dengan peraturan perundang-undangan adalah Undang-Unadang tentang Kepegawaian Ayat (5) Cukup jelas

Pasal 30 Yang dimaksud tenaga ahli di bindag perpustakaan adalah seseornag yang memilki kapabilitas, integritas, dan kompetensi di bidang perpustakaan. Pasal 31 Cukup jelas

Pasal 32 Cukup jelas

c.

kondusif; dan memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuaidengan tugas dan tanggung jawabnya Pasal 33 Cukup jelas

Pasal 33 (1) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan tenaga perpustakaan merupakan tanggung jawab penyelenggara perpustakaan (2) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pendidikan formal dan/atau nonformal. (3) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui kerjasama Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum provinsi, dan/atau perpustakaan umum kabupaten/kota dengan organisasi profesi, atau lembaga pendidikan dan pelatihan. Pasal 34 (1) Pustakawan membentuk organisasi profesi (2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan dan memberi perlindungan profesi kepada pustakawan (3) Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi (4) Pembinaan dan pengembangan organisasi profesi pustakawan difasilitasi oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Pasal 35 Organisasi profesi pustkawan mempunyai kewenangan: a. menetapkan dan melaksanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga; b. menetapkan dan menegakkan kode etik; c. memberi perlindungan hukum kepada pustakawan; dan d. menjalin kerja sama dengan asosiasi pustakawan pada tingkat daerah, nasional, dan internasional. Pasal 36

Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan memajukan profesi meliputi peningkatan kompetensi, karier, dan wawasan kepustakawanan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas

Pasal 35 Cukup jelas

Pasal 36 Cukup jelas

(1) Kode etik sebagaimana dimaksud dalam
pasal 35 huruf b berupa norma atau aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pustakawan untuk menjaga kehormatan, martabat, citra, dan profesionalitas. (2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) memuat secara spesifik sanksi pelanggaran kode etik dan mekanisme penegakan kode etik. Pasal 37 Cukup jelas Pasal 37 (1) Penegakan kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) dilaksanakan oleh Majelis Kehormatan Pustakawan yang dibentuk oleh oerganisasi profesi. (2) Ketentuan lebih lajut mengenai organisasi profesi pustakawan diatur dalam anggaran dasar dan angaran rumah tangga.

PEMBAHASAN
UU 43, 2007 mengamanatkan bahwa pustakawan membentuk organisasi profesi. Tentu yang dimaksud dalam amanat ini adalah pustakawan yang memenuhi kriteria seperti diatur oleh UU 43, 2007. Batasan tentang pustakawan yang dianut UU 43, 2007 adalah seseorang yang memiliki kompetensi dalam bidang perpustakaan yang diperloleh melalui pendidikan dan pelatihan serta bertugas mengelola atau menyelenggarakan perpustakaan. Dua faktor utama adalah pendidikan dan masih aktif bekerja di perpustakaan. Dengan sendirinya organisasi yang memakai kata pustakawan dalam namanya (seperti IPI) harus hanya menerima anggota pustakawan yang memenuhi batasan UU 43, 2007. Kenyataannya anggota IPI tidak semuanya memenuhi kriteria pustakawan sesuai UU 43, 2007. Penulis selaku anggota Dewan Pembina IPI telah menyampaikan beberapa masukan kepada Pengurus Pusat akan konsekuensi yang dihadapi IPI setelah lahirnya UU 43, 2007. Dua terakhir adalah pada HUT ke 35 dan HUT ke 36 IPI. Berarti IPI harus tegas dalam penerimaan anggota, hanya terbatas bagi yang telah memenuhi persyaratan kompetensi dan tugas seperti dimaksud oleh UU No. 43 Tahun 2007. Keadaan sekarang masih banyak anggota yang belum memenuhi persyaratan UU, baik persyaratan kompetensi maupun persyaratan tugas. Lalu akan diapakan status keanggotaan mereka? Apakah akan dibuat keanggotaan luar biasa? Jika ya tentu harus ada revisi Anggaran Dasar IPI yang memenuhi ketentuan UU. Di sisi lain jika IPI akan mempertahankan keanggotaan seperti sekarang ini tanpa mentaati persyaratan kompetensi dan tugas, muncul pertanyaan apakah nama IPI harus diganti dengan nama baru yaitu Ikatan Tenaga Perpustakaan Indonesia (ITPI)? Dalam masalah ini perlu disimak Pasal 29 Ayat 1: Tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan. Selanjutnya dalam penjelasan tertulis: Yang dimaksud dengan tenaga teknis perpustakaan adalah tenaga non-pustakawan yang secara teknis mendukung pelaksanaan fungsi perpustakaan, misalnya, tenaga teknis komputer, tenaga teknis audiovisual, dan tenaga teknis ketatausahaan. Permasalahan di atas baru bersumber hanya dari definisi pustakawan. Masih ada pasal dan ayat dalam UU yang memungkinkan munculnya permasalahan. Coba kita lihat Pasal 34 Ayat 1: Pustakawan membentuk organisasi profesi. Ayat ini dianggap sudah jelas

seperti tertulis dalam penjelasan UU. Namun muncul pertanyaan sehubungan dengan ayat ini: apakah organisasi profesi pustakawan akan hanya berwadah tunggal? Kenyataannya, kini di samping IPI ada berbagai organisasi pustakawan di Indonesia. Bagaimana sikap IPI dalam hal ini? Bagaimana juga sikap organisasi di luar IPI menanggapi hal ini? Adakah kemauan mereka bergabung menjadi satu wadah? Ayat 2 menyebut bahwa organisasi profesi itu berfungsi untuk memajukan dan memberi perlindungan profesi kepada pustakawan. Sedang dalam penjelasan ditulis: yang dimaskud dengan memajukan profesi meliputi peningkatan kompetensi, karier, dan wawasan kepustakawanan. Sayang bahwa UU tidak menerangkan apa yang dimaksud dengan terminologi kepustakawanan. Apakah batasan kepustakawanan akan menganut ketentuan yang ditetapkan Menpan dalam Jabatan Fungsional Pustakawan? Selanjutnya pada ayat 3 dari pasal 34 menyebut: Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi. Dari ayat inipun muncul pertanyaan apakah ini suatu kewajiban pustakawan atau ketentuan yang tidak mengikat? Menyangkut organisasi profesi pustakawan seperti yang diatur oleh UU, yang perlu juga diberikan catatan adalah Pasal 35 huruf b: Organisasi profesi pustakawan mempunyai kewenangan menetapkan dan menegakkan kode etik pustakawan. Pasal 36 Ayat 1 menyebut: Kode etik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b berupa norma atau aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pustakawan untuk menjaga kehormatan, martabat, citra, dan profesionalitas. Karena kode etik harus dipatuhi oleh setiap pustakawan maka idealnya hanya ada satu kode etik pustakawan yang berlaku di Indonesia. Padahal sekarang ada lebih dari satu organisasi profesi pustakawan di Indonesia. Menurut UU organisasi tersebut dapat menetapkan kode etik masing-masing. Jika masing-masing mengembangkan kode etiknya sendiri-sendiri, lalu apakah akan benar? Nampaknya berbagai organisasi profesi pustakawan yang ada harus membentuk federasi guna menyepakati terbentuknya hanya satu Kode Etik Pustakawan Indonesia (KEPI). Kembali pertanyaan: ”Bagaimana IPI dan organisasi lainnya menyikapi hal ini?” Begitu banyak pertanyaan lain akan menyusul jika benar-benar menyadari akan perubahan yang telah dan akan terus terjadi. IPI sebagai organisasi pustakawan yang tertua di Indonesia perlu mengikuti perkembangan, baik yang terjadi dalam lingkup nasional maupun internasional. Semua perkembangan tersebut harus dipertimbangkan untuk menjaga dan mengembangkan eksistensi IPI. Tentu saja organisasi non IPI tentu juga sudah bersiap dan mungkin lebih siap dibanding dengan IPI. Dapat saja dipertanyakan bagaimana kemauan organisasi non IPI dalam berbagi pengetahuan dengan IPI? Lebih lanjut ketentuan mengenai keberadaan dan peran pustakawan adalah sebagai salah satu tenaga perpustakaan. Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) menyatakan bahwa: (1) Tenaga perpustakaan terdiri atas pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan (2) Pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional perpustakaan.

Ketentuan di atas menjadi pangkal bagi kemungkinan IPI untuk mengubah namanya. Jika mempertahankan nama ikatan pustakawan maka anggota ikatan ini harus memenuhi kriteria seorang pustakawan menurut UU No 43 Th. 2007 yaitu memiliki pendidikan dan masih aktif bekerja sebagai pustakawan. Dengan kata lain anggota IPI harus terbatas hanya pada pustakawan aktif! Jika diinginkan keanggotaan tidak terbatas hanya pada pustakawan, maka IPI dapat saja mengubah namanya menjadi Ikatan Tenaga Perpustakaan Indonesia (ITPI). Menjadi kenyataan bahwa tidak lama berselang telah lahir Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) yang disponsori oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas). Namun organisasi tenaga perpustakaan tidak disebut dalam UU No. 43 Th 2007. Hanya pustakawan yang disebut membentuk organisasi profesi. Hal ini diatur dalam Pasal 34 ayat (1) sampai ayat (3): (1) Pustakawan membentuk organisasi profesi. (2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan dan memberi perlindungan profesi kepada pustakawan. (3) Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi. Muncul pertanyaan jika demikian apakah ATPUSI bukan organisasi profesi? Jika jawab atas pertanyaan itu ya, maka pertanyaan bagi IPI adalah apakah ke depan IPI tetap akan menjadi organisasi profesi? Jika jawabnya adalah ya, maka mau tidak mau IPI harus membatasi dirinya hanya beranggotakan pustakawan aktif! Anggota inipun nantinya harus memenuhi kriteria standar kompetensi pustakawan sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan. Meski sekarang Standar Nasional Perpustakaan masih dalam rangka penyusunan Peraturan Pemerintah (PP), namun rancangan yang ada sudah mensyaratkan pustakawan memiliki minimal kesarjanaan (S1) di bidang perpustakaan. Kenyataannya juga telah lahir Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII). Bagaimana keberadaan dan posisi ISIPII di mata IPI? Menurut penulis ISIPII bukanlah organisasi profesi, melainkan lebih sebagai organisasi ilmiah. Syarat keanggotaan sebagai sarjana (minimal S1 bidang perpustakaan) tidak mengharuskan yang bersangkutan sedang bekerja sebagai pustakawan aktif. Sekali lagi merupakan pertanyaan mendasar bagi IPI apakah akan mengubah kriteria keanggotaan hanya pada pustakawan berijasah minimal S1 bidang perpustakaan atau tenaga ahli di bidang perpustakaan dan aktif bekerja sebagai pustakawan sehingga IPI benar-benar menjadi organisasi profesi pustakawan sesuai aturan UU Perpustakaan? Ataukah IPI akan tetap menerima siapa saja sebagai anggotanya seperti sekarang? Jika terakhir ini yang dipilih seyogyanya IPI berubah menjadi ATPI. Terlepas dari keputusan nanti, apakah IPI akan berusaha menjadi organisasi profesi pustakawan menurut UU Perpustakaan atau sekedar organisasi tenaga perpustakaan, permasalahan besar yang harus dicari jawabnya adalah menyangkut profesionalisme dan etika pustakawan. Seperti telah diatur UU, profesionalisme pustakawan harus memenuhi standar nasional perpustakaan yang sekarang sedang dalam tahap perumusan PP-nya.

Penetapan standar nasional perpustakaan menjadi kewenangan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Tentu saja Perpusnas akan selalu meminta masukan dari organisasi profesi pustakawan yang ada. Padahal hingga sekarang tidak hanya IPI yang meng-claim dirinya sebagai organisasi profesi pustakawan. Haruslah ada kesepakatan dari semua organisasi yang menamakan dirinya sebagai organisasi profesi pustakawan. Demikian pula dengan masalah etika pustakawan. Idealnya hanya ada satu kode etika yang berlaku bagi seluruh pribadi yang menyebut dirinya pustakawan. USULAN SEBAGAI PENUTUP Hal terpenting yang harus dicermati sebagai konsekuensi lahirnya UU 43, 2007 adalah : • Perlu hanya ada satu kriteria menyangkut kompetensi dasar yang harus dipenuhi oleh seluruh pustakawan yang berpraktik di Indonesia. Kesepakatan akan satu kriteria kompetensi ini tentu harus dicapai oleh beragam organisasi profesi pustakawan yang ada di Indonesia. Bagi pustakawan yang telah memenuhi kriteria kompetensi dasar perlu diberikan sertifikat. Dalam hal sertifikasi ini berbagai organisasi pustakawan yang ada menyepakati pihak mana yang berwenang memberikan sertifikat. Selain kompetensi, hal yang amat penting adalah masalah etika. Bagaimana bunyi etika pustakawan Indonesia? Hendaknya juga hanya ada satu etika bagi seluruh pustakawan Indonesia. Kembali peru kesepakatan semua organisasi pustakawan yang sekarang ada. Selain organisasi pustakawan, jelas diperlukan juga organisasi perpustakaan. Organisasi ini telah muncuk dengan adanya berbagai forum perpustakaan. Dalam hal ini perlu dibuat mekanisme yang jelas antara organisasi pustakaan dan organisasi perpustakaan. Idealnya perlu adanya satu organisasi yang menjadi wadah dari berbagai organisasi pustakawan dan organisasi perpustakaan. Organisasi semacam federasi menjadi bentuk yang ideal. Nampaknya roda akan berputar kembali pada era 1953 seperti telah dibentuknya API. Nampaknya sejarah akan berulang bahwa saat ini dipelukan himpunan atau asosiasi perpustakaan dan pustakawan yang mampu menampung keberagaman semua jenis organisasi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia. Semangat federasi perlu diusulkan kembali.

Tentang konsep federasi ini perlu penulis kutipkan lagi sepenggal epilog yang ditulis oelh Basyral Hamidi Harahap dalam bukunya yang terbit pada tahun 1998, dalam rangka konggres IPI yang ke delapan (8):

... Para pemikir yang meletakkan dasar-dasar kepustakawnan Indonesia pada awal tahun lima puluhan, sudah mencanangkan perlunya organisasi pustakawan yang berbentuk federasi, yaitu federasi dari berbagai jenis perpustakaan. Setelah hampir setengah abad, hal itu belum menjadi kenyataan walaupun tokoh-tokoh pustakawan Indonesia sudah mendessak realisasi federasi organisasi federasi pustakawan itu, seperti dilakukan oleh Tjandra Mualim pertengahan tujuh puluhan, dan secara lebih mendasar diulangi oleh Blasius Sudarsono tahun sembilan puluhan. Penyusun buku ini mengimbau kepada dirinyasendiri dan kepada rekan-rekan pustakawan agar merenungkan hal-hal tersebut di atas, untuk kemudian segera membenahi diri agar mampu menghadapi perubahan zaman yang amat pesat pada milenium ketiga ...

*************************************************************
Jakarta, 23 November 2009 BS.

BACAAN
INDONESIA [Undang-undang, dsb] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 2007. 46 Hal. HARAHAP, Basyral Hamidy Kiprah pustakawan : seperempat abad Ikatan Pustakawan Indonesia 1973 – 1998 / oleh Basyral Hamidi Harahap, J.N.B. Tairas, dan Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia 1995 – 1998. Jakarta : Pengurus Besar IPI, 1998. SUDARSONO, Blasius Mengapa harus beragam. Dalam Pustakawan, cinta, dan teknologi. Jakarta : Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), 2009. SUDARSONO, Blasius

Setelah Usia 35 Tahun Ikatan Pustakawan Indonesia. Dalam Pustakawan, cinta, dan teknologi. Jakarta : Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), 2009. SUDARSONO, Blasius Ulang Tahun Ke 36 Ikatan Pustakawan Indonesia. Dalam Pustakawan, cinta, dan teknologi.Jakarta : Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), 2009.