You are on page 1of 10

HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH

DAERAH PADA BIDANG PELAYANAN UMUM

Paper ini disusun guna memenuhi tugas


Matakuliah Dinamika Hubungan Pemerintah Pusat-Daerah

Oleh
Amirotul M
NIM. ---------------

ILMU ADMINISTRASI PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017

A. Latar Belakang
Berdasarkan Pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, desentralisasi adalah penyerahan Urusan Pemerintahan oleh
Pemerintah Pusat kepada daerah otonom berdasarkan Asas Otonomi. Aktivitas fungsional
yang perlu didesentralisasikan yakni menyangkut keseluruhan fungsi kecuali aktivitas
yang penting bagi kesatuan nasional. Fungsi yang dikecualikan tersebut adalah
pertahanan, moneter, yudisial, agama dan hubungan luar negeri. Pemerintah daerah dalam
menjalankan segala urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan pemerintah pusat,
hubungan tersebut diantaranya meliputi1:
1. Hubungan Wewenang;
2. Keuangan;
3. Pelayanan Umum;
4. Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Lainnya.
Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia menggambarkan hubungan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam anatomi urusan sebagai berikut2:
Bagan 1. Paparan Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah
Urusan Pemerintahan

CONCURRENT
ABSOLUT (Urusan bersama Pusat, Provinsi, dan
(Mutlak Pemerintah Pusat) Kabupaten/Kota)

PILIHAN /OPTINAL WAJIB/OBLIGATORY


1. Pertahanan (Sektor Unggulan) (Pelayanan Dasar)
2. Keamanan
3. Moneter dan Contoh: Contoh:
Fiskal Nasional Pertanian, Pendidikan,
Perdagangan, Kesehatan,
4. Yustisi
Pariwisata, Lingkungan Hidup,
5. Politik Luar dsb.
Negeri Kelautan, dsb.
6. Agama Standar
Pelayanan
Minimal (SPM)

Sumber: Made Suwandi (2007).

Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam bidang pelayanan


umum secara vertikal meliputi:
a. kewenangan, tanggung jawab, dan penentuan standar pelayanan minimal;
b. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan
daerah; dan

1 Ahmadni, Hubungan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, 2016,


h.6.

2 Made Suwandi, Pokok-pokok Pikiran: Konsepsi Dasar Otonomi Daerah Indonesia


(Dalam Upaya Mewujudkan Pemerintahan Daerah yang Demokratis dan Efisien,
2007.

2
c. fasilitasi pelaksanaan kerja sama antar pemerintahan daerah dalam
penyelenggaraan pelayanan umum.

Standar Pelayanan Minimal dianggap sebagai tindakan yang logis bagi


Pemerintah Daerah karena beberapa alasan. Pertama, didasarkan pada kemampuan
daerahnya masing-masing, maka sulit bagi Pemerintah Daerah untuk melaksanakan
semua kewenangan/fungsi yang ada. Keterbatasan dana, sumberdaya aparatur,
kelengkapan, dan faktor lainnya membuat Pemerintah Daerah harus mampu menentukan
jenis-jenis pelayanan yang minimal harus disediakan bagi masyarakat. Kedua, dengan
munculnya SPM memungkinkan bagi Pemerintah Daerah untuk melakukan kegiatannya
secara lebih terukur. Ketiga, dengan SPM yang disertai tolok ukur pencapaian kinerja
yang logis dan riil akan memudahkan bagi masyarakat untuk memantau kinerja
aparatnya, sebagai salah satu unsur terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
Penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM) memiliki beberapa tahapan,
yang terurai dalam bagan alir seperti berikut:
Bagan 2. Teknik Penyusunan Standar Pelayanan Minimal

Kebutuhan Masyarakat pada Jenis-Jenis Pelayanan tertentu

Identifikasi
Identifikasi Kewenangan Daerah Kemampuan Daerah
SPM + Indikator Pencapaian Kerja

Output Output
Long List Short List
Sumber: Kushandayani.

Identifikasi kewenangan daerah merupakan kegiatan pemerintah daerah, sebagai


konsekwensi kewenangan wajib dari Pusat kepada kabupaten/kota sebagaimana
diamanatkan dalam pasal 11 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah. Pemerintah Daerah harus mengidentifikasi kewenangan/fungsi
mereka sendiri, dan sekaligus melakukan negosiasi dengan pihak Propinsi untuk
menentukan fungsi-fungsi mana yang lebih tepat dilaksanakan oleh Propinsi dan mana
yang kemungkinan terjadi tumpang tindih dengan pihak propinsi. Hasil akhir berupa
daftar kewenangan/fungsi yang cakupannya lengkap.
Hasil lengkap tersebut dikomunikasikan dengan stakeholders daerah
kabupaten/kota bersangkutan, disertai dengan pengukuran terhadap kemampuan daerah
(kemampuan sumberdaya aparatur, kemampuan ekonomi daerah, kemampuan teknologi,
dsb.) dalam menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan yang ada. Berdasarkan
pertimbangan yang matang tersebut akan muncul short list kewenangan/fungsi daerah
kabupaten/kota bersangkutan, yang benar-benar bisa dilaksanakan.
Short-list kewenangan/fungsi tersebut secara logis tentu tidak bisa
diselenggarakan secara menyeluruh pada waktu bersamaan. Oleh sebab itu, didasarkan
pada kriteria seperti: pengukuran kebutuhan masyarakat akan pelayanan-pelayanan
mendasar, terukur, terus menerus, dan berorientasi pada output yang dirasakan

3
masyarakat, serta mungkin untuk dikerjakan, maka disusunlah standar pelayanan
minimal. Hasil akhir dari tahapan-tahapan tersebut adalah munculnya daftar
kewenangan/fungsi yang menjadi dasar bagi terselenggaranya SPM disertai dengan tolok
ukur pencapaian kinerja. Tolok ukur tersebut bisa memuat indikator-indikator seperti:
1. Input (masukan)
Bagaimana tingkatan atau besaran sumber-sumber yang digunakan, seperti
sumberdaya manusia, dana, material, waktu, teknologi, dan sebagainya.
2. Output (keluaran)
Bagaimana bentuk produk yang dihasilkan langsung oleh kebijakan atau
program berdasarkan masukan (input) yang digariskan.
3. Outcome (hasil)
Bagaimana tingkat pencapaian kinerja yang diharapkan terwujud
berdasarkan keluaran (output) kebijakan atau program yang sudah
dilaksanakan.
4. Benefit (manfaat)
Bagaimana tingkat kemanfaatan yang dapat dirasakan sebagai nilai tambah
bagi masyarakat maupun pemerintah daerah
5. Impact (dampak)
Bagaimana dampaknya terhadap kondisi makro yang ingin dicapai
berdasarkan manfaat yang dihasilkan.

B. Tokoh-Tokoh
Harold F. Alderfer (1964:176) dalam Peta Konsep Desentralisasi dan
Pemerintahan Daerah mengungkapkan bahwa terdapat dua prinsip umum dalam
membedakan bagaimana pemerintah pusat mengalokasikan kekuasaannya ke bawah.
Pertama, dalam bentuk dekonsentrasi yang semata-mata menyusun unit administrasi atau
field stations, baik itu tunggal ataupun ada dalam hierarki, baik itu terpisah maupun
tergabung, dengan perintah mengenai apa yang seharusnya mereka kerjakan atau
bagaimana mengerjakannya. Tidak ada kebijakan yang dibuat ditingkat lokal serta tidak
ada keputusan fundamental yang diambil. Badan-badan pusat memiliki semua kekuasaan
dalam dirinya, sementara pejabat lokal merupakan bawahan sepenuhnya dan mereka
hanya menjalankan perintah. Kedua, dalam bentuk desentralisasi dimana unit-unit lokal
ditetapkan dengan kekuasaan tertentu atas bidang tugas tertentu. Mereka dapat
menjalankan penilaian, inisiatif dan pemerintahannya sendiri3.
Conyers (1983:102) membagi jenis desentralisasi4:
Devolusi, yang menunjuk pada kewenangan politik yang ditetapkan secara legal dan
dipilih secara lokal.
Dekonsentrasi yang menunjuk pada kewenangan administratif yang diberikan pada
perwakilan badan-badan pemerintah pusat.
Rondinelli (dalam Meenakshisundaram 1999:55-56) membagi jenis
desentralisasi menjadi5:
Dekonsentrasi: penyerahan sejumlah kewenangan atau tanggung jawab administrasi

3 Khairul Muluk, Peta Konsep Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah, 2009,


h.11.

4 Ibid.

5 Ibid.

4
kepada tingkatan yang lebih rendah dalam kementerian atau badan pemerintah,
Delegasi: perpindahan tanggungjawab fungsi-fungsi tertentu kepada organisasi di
luar struktur birokrasi reguler dan hanya secara tidak langsung dikontrol oleh
pemerintah pusat,
Devolusi: pembentukan dan penguatan unit-unit pemerintahan sub-nasional dengan
aktivitas yang secara substansial berada di luar kontrol pemerintah pusat,
Privatisasi: memberikan semua tanggung jawab atas fungsi-fungsi kepada organisasi
non pemerintah atau perusahaan swasta yang independen dari pemerintah.

Rondinelli, McCullough, & Johnson (1989) sendiri bahkan mengungkapkan


bahwa bentuk desentralisasi ada lima macam, yakni privatization, deregulation of private
service provision, devolution to local government, delegation to public enterprises or
publicly regulated priuate enterprises, dan deconcentration of central government
bureaucracy.
Pengerian d.esentralisasi tersebut menyerupai jenis desentralisasi yang
diungkapkan oleh Cohen & Peterson (1999) yang terbagi dalam deconcentration,
devolution, dan delegation (yang mencakup pula privatization). Jika semula privatisasi
berdiri sendiri, kini Cohen dan Peterson justru memasukkannya sebagai bagian dari
delegasi. Pembedaan ini didasarkan pada enam pendekatan, yakni: pembedaan berdasar
asal mula sejarah, berdasarkan hierarki dan fungsi, berdasarkan masalah yang diatasi dan
nilai dari para investigatornya, berdasar pola struktur dan fungsi administrasi, berdasar
pada pengalaman negara tertenru, dan yang terakhir berdasar pada berbagai tuiuan
politik, spasial, pasar, dan lain-lain.
Hoessein (2001b) mengungkapkan bahwa devolution dalam khazanah Inggris
tersebut merupakan padanan kata political decentralization dalam pustaka Amerika
Serikat dan staatskundige decentralisatie dalam pustaka Belanda. Sementara
deconcentration dalam khazanah Inggris merupakan padanan dari administrative
decentralization dalam pustaka Amerika Serikat dan ambtelyke atau administratieve
decentralisatie dalam khazanah Belanda.

C. Inti Teori
Standar Pelayanan Minimal dibentuk untuk menjamin terpenuhi hak dan
kebutuhan dasar setiap warga negara yang harus disediakan oleh pemerintah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan
dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal mengatur lebih lanjut jaminan pemerataan
akses dan mutu layanan serta pemberlakuan standar layanan kepada Pemerintah Daerah.
Pasal yang menjelaskan definisi tentang SPM diuraikan pada pasal 1 ayat 6, yaitu6:

Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan


tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah
yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.

Sedangkan pada ayat 8 tentang definisi pelayanan dasar disebutkan sebagai


berikut7:

6 Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan


Penerapan Standar Pelayanan Minimal, Pasal 1 ayat 6

7 Ibid, Pasal 1 ayat 8.

5
Pelayanan Dasar adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi dan
pemerintahan.

Selanjutnya pada pasal 3 peraturan tersebut menetapkan 5 (lima) prinsip SPM


8
yaitu :

1. SPM disusun sebagai alat Pemerintah dan Pemerintahan Daerah untuk


menjamin akses dan mutu pelayanan dasar kepada masyarakat secara merata
dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib;
2. SPM ditetapkan oleh Pemerintah dan diberlakukan untuk seluruh
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
3. Penerapan SPM oleh Pemerintahan Daerah merupakan bagian dari
penyelenggaraan pelayanan dasar nasional;
4. SPM bersifat sederhana, konkrit, mudah diukur, terbuka, terjangkau, dan
dapat dipertanggungjawabkan serta mempunyai batas waktu pencapaian; dan
5. SPM disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan, prioritas dan kemampuan
keuangan nasional dan daerah serta kemampuan kelembagaan dan personil
daerah dalam bidang yang bersangkutan.

Dari uraian pasal SPM tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa:

SPM adalah pelayanan dasar yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah dan
menjadi hak masyarakat.
SPM dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan urusan wajib pemerintahan.
SPM ditetapkan oleh Pemerintah dan berlaku untuk Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota.

SPM adalah salah satu alat pengendali supaya pelayanan dasar menjadi prioritas
oleh pemerintah daerah. Kebijakan ini mulai dicetuskan seiring dengan dikeluarkannya
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang
mengakomodasi pemilihan kepala daerah, yang kemudian direvisi dengan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014. Peraturan lain terkait dengan SPM adalah Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan SPM dan PP No
38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan. Penyusunan Standar Pelayanan
Minimal ini dilakukan oleh 13 kementerian. Untuk mengakomodasi perubahan pada
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, tahun 2016 sudah mulai di susun RPP yang
menjadi dasar di dalam pelaksanaan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun
implementasi SPM itu sendiri.
SPM merupakan standar minimal pelayanan publik yang harus disediakan oleh
pemerintah daerah kepada masyarakat. Hadirnya SPM ini menjadi sebuah jaminan
adanya pelayanan minimal yang berhak diperoleh masyarakat dari pemerintah. Terjamin
kuantitas dan kualitas minimal dari suatu pelayanan publik yang dapat dinikmati oleh
masyarakat, sehingga diharapkan akan terjadi pemerataan pelayanan publik dan
menghindari kesenjangan pelayanan antar daerah, khususnya di Indonesia bagian Timur.
Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) memiliki nilai yang sangat
strategis, baik bagi pemerintah daerah maupun bagi masyarakat sebagai konsumen.
Keberadaan SPM dapat dijadikan acuan kualitas dan kuantitas suatu pelayanan publik.
Penerapan SPM yang dilakukan oleh setiap kepala daerah dan menjadi tolak ukur kinerja
8 Ibid, Pasal 3.

6
pemerintah daerah terhadap peningkatan mutu dan jenis pelayanan kepada masyarakat.
Sedangkan bagi masyarakat, hak mereka untuk terlayani melalui Standar Pelayanan
Minimal (SPM) yang wajib dipenuhi oleh pemerintah daerah.
Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan memenuhi hak konstitusi
masyarakat, keberhasilan dari implementasi standar pelayanan minimal (SPM) di setiap
daerah menjadi tolak ukur dan integrasi kepemimpinan kepala daerah dalam
melaksanakan dan menjalankan prioritas alokasi anggaran yang tepat. Dengan kata lain,
setiap kepala daerah diminta untuk berhati-hati dalam menggunakan anggaran yang ada
yang mengacu kepada urusan wajib yang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah,
yaitu Standar Pelayanan Minimal (SPM) kepada masyarakatnya.

Penerapan SPM di daerah tentunya berangkat dari azas kemanfaatannya.

Pertama; memberikan jaminan kepada masyarakat akan mendapatkan


pelayanan publik dari pemerintah daerah sehingga akan meningkatkan
kepercayaan masyarakat.
Kedua; dengan ditetapkannya SPM akan dapat ditentukan jumlah anggaran
yang dibutuhkan untuk menyediakan suatu pelayanan publik.
Ketiga; menjadi dasar dalam menentukan anggaran berbasis kinerja.
Keempat; masyarakat dapat berperan aktif dan mengukur sejauh mana
pemerintah daerah memenuhi kewajibannya dalam menyediakan pelayanan
kepada masyarakat, sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas pemerintah
daerah kepada masyarakat.
Kelima; sebagai alat ukur bagi kepala daerah dalam melakukan penilaian
kinerja yang telah dilaksanakan oleh unit kerja penyedia suatu pelayanan.
Keenam; sebagai tolok ukur untuk mengukur tingkat keberhasilan
pemerintah daerah dalam pelayanan publik.
Ketujuh; menjadi dasar bagi pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh
institusi pengawasan.

Pelayanan yang bermutu atau berkualitas tentunya yang berbasis masyarakat,


melibatkan peran aktif masyarakat dan dapat terus diperbaiki. Setiap kepala satuan kerja
perangkat daerah (SKPD) sebagai eksekutor sangat diharapkan memiliki pengetahuan
dan pemahaman serta dapat menjamin pelayanan dasar yang diterima masyarakat telah
memenuhi kriteria. Apalagi penerapan SPM merupakan salah satu kebijakan prioritas
nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang perlu
mendapat perhatian dan tindak lanjut oleh pemerintah daerah.

D. Kritik
Pelayanan publik tidak lain sebuah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan
bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Dalam
melaksanakan pelayanan tersebut pemerintah membentuk Organisasi Penyelenggara.
Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga
independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik,
dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik.

7
Penyelenggara dan seluruh bagian organisasi penyelenggara bertanggung jawab atas
ketidakmampuan, pelanggaran, dan kegagalan penyelenggaraan pelayanan9.
Persoalan tidak maksimalnya pelayanan publik yang terjadi di Indonesia terjadi
akibat tumpang tindihnya banyak peraturan, Ada kecenderungan setiap
kementerian/lembaga memiliki aturan-aturan sendiri. Dan dalam pembuatannya kurang
koordinasi diantara kementerian/lembaga lain, sehingga peraturan perundang-undangan
tersebut seringkali bertabrakan antarsektor dengan peraturan perundang-undangan yang
lebih tinggi, dan tentunya ini menyulitkan pelayanan dan membingungkan apartur itu
sendiri.
Di dalam prakteknya masyarakat melihat prosedur pelayanan publik terlalu
kaku, berbelit-belit, adanya biaya siluman dan memakan waktu yang lama, tidak ada
SOP/tidak dijalankan. Apalagi ykonsistensi pemerintah terhadap sebuah aturan seringkali
lemah, dan banyak kebijakan yang cepat berubah. Di beberapa tempat juga masih
ditemukan penempatan pegawai yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip the right
men in the right place. Akibatnya banyak aparatur yang tidak bisa bekerja sesuai
tuntutan instansi tempatnya bekerja.
Guna mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance) dan
meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan terutama di bidang peningkatan
kualitas publik. Maka yang pertama kali harus di lakukan adalah penyempurnaan,
sinkronisasi, penyederhanaan persyaratan dan konsistensi pelaksanaan peraturan
perundang-undangan di bidang pelayanan publik. Mulai dari peraturan perundang-
undangan tertinggi di lingkungan pemerintah pusat sampai ke pemerintah terendah.
Sinkronisasi dan penyederhanaan peraturan sangat mempercepat pelayanan terhadap
public, apalagi dengan kemajuan dunia tekekomunikasi dan internet. Proses adaptasi dan
inovasi menggunakan pendekatan teknologi sudah sangat di harapkan oleh masyarakat di
era digitalisasi. Selain itu polapola lama penyelenggaraan pemerintahan yang dianggap
tidak sesuai lagi bagi tatanan masyarakat saatnya berubah dan mengikuti perkembangan
zaman.
Konsekuensi perubahan rezim saat ini tentunya menuntut perubahan,
sebagaimana diketahui, fungsi utama pemerintah daerah adalah penyediaan pelayanan
publik bagi masyarakat daerah bersangkutan. Oleh sebab itu optimalisasi pelayanan
publik yang efisien dan efektif menjadi perhatian utama pemerintah daerah agar dapat
menyajikan pelayanan publik yang prima bagi masyarakat. Terutama mengenai
implementasi dari Standar Pelayanan Minimum (SPM). SPM merupakan salah satu cara
yang ditempuh untuk mendorong pemerintah daerah melakukan pelayanan publik yang
tepat bagi masyarakat, dan sekaligus mendorong masyarakat untuk melakukan kontrol
terhadap kinerja pemerintah di bidang pelayanan publik. SPM akan mendorong
pemerintah daerah melakukan yang terbaik dalam melaksanakan tugas fungsinya dalam
rangka mewujudkan pelayanan publik secara optimal. Sehingga masyarakat di daerah
mampu naik kelas menjadi masyarakat sejahtera dan produktif.
Masyarakat tentu saja sudah sangat menunggu bagaimana implementasi dari UU
No 25 Tahun 2009 (Undang-Undang Pelayanan Publik) dapat diselenggarakan dengan
baik, dan tentunya di dalam UU ini juga masyarakat dapat melakukan pengaduan
sebagaimana di atur pada Pasal 36 UU No 25 Tahun 2009, jika pertama; penyelenggara
yang tidak melaksanakan kewajiban dan/ atau melanggar larangan; dan kedua; pelaksana
yang memberi pelayanan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan. Melalui
akuntabilitas publik, pemerintah akan dipantau dan dievaluasi kinerjanya oleh

9 Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri,


Jendela Pembangunan Daerah, 2016, h.11.

8
masyarakat, dan tentunya pemerintah mulai serius membenahi pelayanan publik jika
tidak, masyarakat dapat menuntut haknya dan ganti rugi kepada pemerintah.
Sejalan dengan pandangan tersebut, kedepan ada beberapa prasyarat dalam
mengimplementasikan SPM tersebut yaitu:
1) memperjelas tugas dan tanggungjawab masing-masing tingkatan
pemerintahan mengacu pada PP Nomor 38 Tahun 2007 karena saat ini
masih ada beberapa urusan Pemerintah Daerah yang masih dkerjakan oleh
Pemerintah;
2) peningkatan peran dan fungsi Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah
(DPOD) dalam melakukan upaya peningkatan kemampuan daerah dalam
memenuhi Penerapan Standar Pelayanan Minimal; serta
3) pengembangan instrumen monitoring dan evaluasi Penerapan Standar
Pelayanan Minimal Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota.

E. Kesimpulan
Pelaksanaan desentralisasi dan penyelenggaraan otonomi dari Pemerintah Pusat
ke Pemerintah Daerah merupakan upaya nyata yang ditujukan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat melalui pemberian pelayanan umum yang lebih baik.
Pelayanan publik atau pelayanan umum adalah segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam
bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab
dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah dan di lingkungan Badan
Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Kualitas layanan bukan hanya mengacu pada kualitas produk,
tetapi juga menekankan pada proses penyelenggaraan atau pendistribusian layanan itu
sendiri hingga ke tangan masyarakat sebagai konsumer, terutama dari segi keadilan.
Aspek keadilan dalam perspektif pemerintahan untuk pelayanan publik adalah hal yang
sangat penting. Sehingga aspekaspek ketepatan, ketepatan, kemudahan, dapat menjadi
alat untuk mengukur kualitas layanan. Hal ini berarti, pemerintah melalui aparat birokrasi
dalam memberikan layanan kepada masyarakat harus memperhatikan aspek kecepatan,
ketepatan, kemudahan, dan terutama keadilan.
Aparatur pemerintah daerah sangat dituntut bukan saja siap secara profesional
tetapi juga siap secara akademik dan moral. Tanpa daya dukung ini, pembangunan
apapun termasuk pelayanan publik dan siapapun pelaksananya tetap tidak memiliki
signifikasi jika dihadapkan dengan tuntutan masyarakat yang mendesak untuk dipenuhi.
Sudah menjadi kewajiban bagi Pemerintah Daerah untuk menyediakan pelayanan yang
prima kepada masyarakat. Dengan menerapkan Standar Pelayanan Minimal, harapan
masyarakat untuk mendapatkan suatu standar pelayanan dasar yang sama, di lokasi
manapun mereka tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan segera
terwujud.
Pemerintah daerah juga dituntut untuk membenahi infrastrukturnya yang
berkenaan dengan pelaksanaan teknis, prosedur, sistem dan mekanisme kerja antara
perangkat pemerintah daerah dengan pemerintah dibawahnya yakni kecamatan, kelurahan
atau desa. Semangat reformasi dan otonomi daerah yang demikian dahsyat dan menyebar
di seluruh segmen masyarakat saat ini, kiranya merupakan momentum yang tepat untuk
melaksanakan gagasan-gagasan pembangunan dan peningkatan kualitas pelayanan publik
dikalangan para pengambil kebijakan. Dengan diwujudkannya Standar Pelayanan
Minimal, diharapkan akan meningkatkan kualitas pelayanan publik secara signifikan.
SPM akan menjadi entry point atas kurang memuaskannya aspek pelayanan publik
selama ini. Selanjutnya, agar penyediaan pelayanan kepada masyarakat mampu

9
memenuhi ukuran kelayakan minimal, maka pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat
oleh Pemerintah Daerah harus berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang
telah diatur di dalam PP Nomor 65 Tahun 2006 maupun peraturan perundang-undangan
lainnya.

F. Daftar Pustaka
Buku
Muluk, Khairul. 2009. Peta Konsep Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Surabaya:
ITS Press.
Suwandi, Made. 2007. Pokok-pokok Pikiran: Konsepsi Dasar Otonomi Daerah Indonesia
(Dalam Upaya Mewujudkan Pemerintahan Daerah yang Demokratis dan
Efisien). Jakarta: Ditjen Otda Depdagri.
Jurnal
Ahmadni. 2016. Hubungan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Belitung:
Bupati Kabupaten Belitung Timur.
Kushandajani. Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Peningkatan Pelayanan Publik di
Era Otonomi Daerah. Universitas Diponegoro.
Roudo, Mohammad, Asep Saepuddin. 2008. Meningkatkan Pelayanan Publik Melalui
Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM): Konsep,
Urgensi, dan Tantangan. Semarang: Badan Perencanaan dan Pembangunan
Daerah.
Peraturan Perundang-Undangan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Propinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan
Penerapan Standar Pelayanan Minimal.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

10