You are on page 1of 8

PAPER DINAMIKA HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT-DAERAH

HUBUNGAN PENGAWASAN DALAM


PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA
(Studi Kasus di Desa Munjul - Kecamatan Solear - Kabupaten Tangerang)

Paper ini disusun guna memenuhi tugas


Mata Kuliah Dinamika Hubungan Pemerintah Pusat-Daerah

Oleh
Yudho Hadi Prasetyo
NIM. 135030507111014

ILMU ADMINISTRASI PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
A. Latar Belakang
Indonesia terdiri atas 34 propinsi yang tersebar di berbagai wilayah kepulauan.
Pada setiap propinsi terdapat kabupaten/kota dengan jumlah yang bervariasi. Serta setiap
kabupaten/kota tersebut memiliki desa yang jumlahnya juga bervariasi. Dari adanya
tingkatan kewilayahan tersebut, maka pemerintah memiliki kewajiban untuk melakukan
pengaturan sesuai dengan tugas di tingkat administratif masing-masing, baik di tingkat
propinsi, kabupaten/kota maupun desa, salah satunya adalah bidang keuangan. Berkiblat
pada peraturan terbaru yang membahas desa yakni UU No. 6/2014 tentang Desa, di
dalamnya mengatur tentang segala hal yang berkaitan dengan desa, mulai dari
pembentukan, kewenangan hingga keuangan dan usaha desa. Dari sisi keuangan,
disebutkan dalam peraturan perudangan tersebut bahwa sumber pendapatan desa terdapat
tujuh aspek, salah satunya adalah Alokasi Dana Desa (ADD) 1. Dana tersebut merupakan
bagian dari dana perimbangan yang diterima oleh kabupaten/kota. Dengan adanya ADD
tersebut, diharapkan mampu memberikan stimulus kepada desa untuk meningkatkan
pembangunan terutama yang ada di tingkat desa.
Jika diamati, desa merupakan tingkat pemerintahan paling dasar dari hirarki
pemerintahan. Optimisme pemerintah untuk membangun desa yang mandiri secara
berkelanjutan terus dilaksanakan melalui beberapa program. Salah satunya yaitu dengan
mengucurkan sejumlah dana, salah satunya adalah ADD yang bersumber dari APBD
kabupaten/kota. Secara teori, hal itu sangat baik untuk diterapkan dan dilanjutkan.
Namun, hal itu tidak serta merta bisa terlaksana di lapangan. Mengingat kemampuan desa
yang bervariasi, dalam hal ini adalah sumber daya manusia. Sehingga, dengan adanya
sumber pendapatan desa yang dikelola secara mandiri oleh desa sekaligus membawa
dampak yang baik untuk desa itu sendiri. Masih sering ditemui berbagai masalah tentang
pengelolaan keuangan desa, terutama permasalahan prosedur dan administratif2. Jika
terdapat kesalahan pada prosedur dan administratif maka tidak bisa masalah tersebut
langsung disimpulkan sebagai masalah yang disengaja yang akhirnya berurusan dengan
hukum, karena kemungkianan besar hal itu dipicu karena masih lemahnya pemahaman,
pembinaan maupun pengawasan oleh pihak yang terkait.
Desa Munjul, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang merupakan salah satu
desa yang mendapat sekaligus menggunakan ADD dari dana perimbangan yang dimiliki
oleh Kabupaten Tangerang. Cairnya ADD merupakan keharusan bagi Pemerintah
Kabupaten Tangerang, karena hal itu sudah sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku guna pembangunan desa khususnya Desa Munjul. Akan tetapi, hal itu tidak serta
merta berdampak pada pembangunan desa yang diharapkan, justru menuai masalah di
dalamnya. ADD tahun 2014 yang diterima oleh Desa Munjul sebesar 70% menuai
masalah hingga pada tingkat kabupaten. Sesuai dengan sumber berita, bahwa masalah
tersebut dipicu oleh lemahnya pengawasan dari pihak Pemerintah Kecamatan Solear
selaku kepanjangan tangan dari Pemerintah Kabupaten Tangerang3. Pada kasus ini,
terdapat konflik di antara pihak Kepala Desa Munjul dengan Pemerintah Kecamatan
Solear. Terkesan bahwa pihak kecamatan tidak mendukung adanya pencairan ADD untuk

1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pasal 72 Ayat (1).

2 Siko Dian Sigit Wiyanto, Agar Dana Desa Terkawal, Sekretariat Jenderal
Kementerian Keuangan RI, 2014, h. 2.

3 http://warta7news.com (pengawasan kecamatan masih lemah, pemicu


penyalahgunaan ADD di Desa Munjul).
Desa Munjul. Hal itu terbukti bahwa pihak Kecamatan Solear tidak tanggap dengan
adanya pencairan ADD di desa tersebut. Selain itu, tidak bisa pihak Kecamatan Solear
semata-mata menyalahkan Kepala Desa Munjul, karena secara prosedur camat tidak
memiliki hak penuh dalam pencairan ADD.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana realisasi pengawasan pengelolaan Alokasi Dana Desa di Desa Munjul?

C. Deskripsi Kasus
Untuk mewujudkan sekaligus meningkatkan kemandirian suatu daerah terutama
desa, pemerintah memiliki suatu program bantuan keuangan yaitu melalui Alokasi Dana
Desa (ADD). Dana tersebut merupakan dana perimbangan dari pemerintah pusat yang
disalurkan melalui pemerintah kabupaten/kota. Desa Munjul, Kecamatan Solear
Kabupaten Tangerang merupakan salah satu desa yang menerima dana ADD. Namun,
dengan diterimanya dana tersebut tidak serta merta membawa dampak yang positif bagi
desa tersebut. Justru menimbulkan suatu permasalahan dalam pengelolaannya, terutama
dalam hal pengawasan. Permasalahan tersebut dipicu dari lemahnya pengawasan
penggunaan dana ADD oleh Pemerintah Kecamatan Solear. Dalam hal ini, Pemerintah
Kecamatan kurang maksimal dalam mengawal pelaksanaan program yang ada di Desa
Munjul tersebut.
Lemahnya pengawasan tersebut terindikasi dari ketidaktahuan Camat Solear
terhadap pencairan dana ADD. Pada tahun sebelumnya, pencairan dana ADD harus
melalui rekomendasi dari Camat Solear, tetapi pada tahun 2015 Camat Solear terkesan
telah kecolongan, yakni dana ADD telah cair dan diterima oleh Kepala Desa Munjul
melalui bank, padahal belum mendapat rekomendasi dari Camat Solear. Hal tersebut
menunjukkan bahwa Pemerintah Kecamatan tidak melakukan pengawalan dengan baik
tentang penggunaan dana ADD oleh desa yang bersangkutan.
Di dalam sebuah informasi disampaikan bahwa setiap kali Pemerintah
Kecamatan Solear melakukan pemantauan ke desa, dapat dilihat beberapa kegiatan yang
dilakukan oleh warga setempat. Namun, tidak diketahui dengan jelas termasuk dalam
kegiatan apa hal tersebut. Peran Camat Solear dalam hal pengawalan bantuan keuangan
di desa yang meliputi pengajuan dana, pencairan, pelaksanaan kegiatan maupun
pelaporan masih relatif lemah. Dalam hal ini, informasi dari sumber yang tersedia
mengungkapkan bahwa peran kecamatan masih dalam tahap fasilitator. Dengan kata lain,
kecamatan hanya berwenang memantau dan meberikan fasilitas kepada desa.
Pada dasarnya camat berperan untuk memberikan arahan tentang mekanisme
dan tata cara pencairan dana serta pembuatan laporan pertanggungjawaban. Selain itu,
camat juga memiliki peran untuk memberikan rekomendasi dalam setiap pengajuan
pencairan dana ADD, tetapi rekomendasi tersebut hanya untuk meyakinkan pihak bank
yang bersangkutan terhadap kesiapan desa dalam melaksanakan program yang sesuai
dengan APBDes. Telah diungkapkan pula oleh sumber bahwa bantuan keuangan desa
termasuk ADD hanya bisa dicairkan oleh kepala desa dan bendahara desa.
Terlepas dari persoalan pencairan dana, terdapat persoalan lain yaitu mengenai
penggunaan dana untuk pembangunan fisik di desa, seperti rehab kantor Desa Munjul
yang tidak sesuai dengan harapan. Pasalnya dengan dana yang cukup besar tetapi terlihat
hanya sedikit pembangunan yang dilakukan. Hal itu pula yang membuat warga menyesal
dan curiga terhadap Kepala Desa Munjul. Bahkan dari informasi sumber mengatakan
bahwa ada kemungkinan hal itu merupakan permainan antara kepala desa dengan pihak
bank. Persoalan penyimpangan dana tersebut disebabkan dari turunnya dana ADD
sebesar tujuh puluh persen, tetapi realisasi di lapangan dana tersebut tidak digunakan
sepenuhnya dan tidak dilaporkan secara transparan, sehingga menimbulkan pertanyaan
sekaligus kecurigaan warga setempat terhadap Kepala Desa Munjul.
Dengan adanya persoalan tersebut, pihak Kecamatan Solear mengatakan bahwa
mereka juga bingung menghadapinya. Hal itu disebabkan oleh belum adanya
rekomendasi dari Camat Solear tetapi dana ADD bisa cair dan bisa dipergunakan.
D. Teori
1. Teori Pengawasan
Menurut Henry Fayol, pengawasan mencakup upaya memeriksa apakah semua
terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan, berdasarkan suatu perintah instruksi
yang dikeluarkan, dan prinsip yang dianut dengan melaksanakannya bertujuan
secara timbal balik untuk melaksanakan perbaikan bila terdapat kekeliruan atau
penyimpangan sebelum menjadi lebih buruk dan sulit diperbaiki.
Secara umum, pengawasan dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menemukan dan
mengoreksi penyimpangan penting dalam hasil yang dicapai dari aktivitas yang
direncanakan. Tujuannya untuk mencegah sedini mungkin terjadinya
penyimpangan, pemborosan, penyelewengan, hambatan, kesalahan dan kegagalan
dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi.
2. Alokasi Dana Desa
Alokasi Dana Desa yang kemudian disingkat ADD merupakan anggaran
keuangan yang diberikan kepada pemerintah desa. Dana tersebut bersumber dari dana
bagi hasil pajak daerah serta dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang
diterima oleh kabupaten/kota. Dalam UU No. 6/2014 tentang Desa disebutkan bahwa
ADD merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota. Selain
itu, disebutkan pula bahwa besaran ADD adalah sebesar 10% dari dana perimbangan
yang diterima kabupaten/kota dalam APBD kabupaten/kota setelah dikurangi Dana
Alokasi Khusus (DAK)4. Penggunaan ADD ditetapkan sebesar 30% untuk belanja
aparatur dan operasional desa dan sebesar 70% untuk belanja pemberdayaan
masyarakat.
3. Mekanisme Pengawasan ADD
Dalam pelaksanaanya, ADD harus diawasi dengan baik agar tidak terjadi
penyimpangan dalam penggunaannya, baik penyimpangan yang disebabkan oleh
kesengajaan maupun ketidaksengajaan. Mekanisme pengawasan ADD telah ditetapkan
melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 37/2007 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Desa, BAB X Pembinaan dan Pengawasan, Pasal 24 s/d 26.
Pasal 24
(1) Pemerintah Provinsi wajib mengkoordinir pemberian dan penyaluran Alokasi Dana
Desa dari Kabupaten/Kota kepada Desa;
(2) Pemerintah Kabupaten/Kota dan Camat wajib membina dan mengawasi pelaksa-
naan pengelolaan keuangan desa.
Pasal 25
Pembinaan dan pengawasan pemerintah kabupaten/kota (pasal 24) meliputi:
a. Memberikan pedoman dan bimbingan pelaksanaan ADD;
b. Memberikan bimbingan dan pelatihan dan penyelenggaraan keuangan desa yang
mencakup perencanaan dan penyusunan APBDesa, pelaksanaan dan pertanggung-
jawaban APBDesa;
c. Membina dan mengawasi pengelolaan keuangan desa dan pendayagunaan aset
desa;
d. Memberikan pedoman dan bimbingan pelaksanaan adminsitrasi keuangan desa.

4 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pasal 72 Ayat (4).


Pasal 26
Pembinaan dan pengawasan Camat (pasal 24) meliputi:
a. Memfasilitasi administrasi keuangan desa;
b. Memfasilitasi pengelolaan keuangan desa dan pendayagunaan aset desa;
c. Memfasilitasi pelaksanaan ADD;
d. Memfasilitasi penyelenggaraan keuangan desa yang mencakup perencanaan, dan
penyusunan APBDesa, pelaksanaan dan pertanggung-jawaban APBDesa.

E. Analisis
Pada tahun 2014, pemerintah beroptimis untuk membangun desa yang mandiri.
Mengingat bahwa di Indonesia terdapat banyak desa yang memiliki potensi, sehingga
pemerintah berasumsi bahwa desa mampu mengembangkan pembangunannya melalui
potensi yang dimiliki oleh masing-masing desa tersebut. Selain itu, desa dapat dimaknai
sebagai elemen pemerintahan yang paling dasar dan paling dekat dengan masyarakat 5.
Sehingga, pemerintah mendesain pembangunan nasional dimulai dari titik paling dasar
yaitu desa. Segala upaya telah dicanangkan oleh pemerintah, mulai dari pembinaan desa,
pemberdayaan masyarakat desa, hingga bantuan-bantuan berupa uang untuk pengelolaan
masing-masing desa itu sendiri. Sesuai dengan amanat UU No. 6/2014, bahwa desa
berhak mengelola tujuh sumber pendapatan desa, salah satunya adalah Alokasi Dana
Desa (ADD), yaitu merupakan dana perimbangan pusat daerah yang dikelola oleh
kabupaten. Anggaran tersebut tentu saja digunakan untuk pembangunan desa. Oleh
karena itu, terdapat mekanisme yang harus diperhatikan mulai dari penyususnan hingga
pengawasan danpertanggungjawaban serta evaluasi. Dikarenakan ADD merupakan dana
dari kabupaten/kota, maka sangat rawan penggunaannya terutama oleh pemerintah desa
selaku penerima dan pengguna. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengawasan yang
baik. Selain itu, diperlukan juga pendamping yang bertugas mendampingi pemerintah
desa dalam mempergunakan dana tersebut. Hal itu dikarenakan masih sering terjadi
kesalahan yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang pengelolaan ADD, baik
penyaluran maupun penggunaannya oleh pemerintah desa.
Begitu pula salah satu desa di Kabupaten Tangerang, yaitu Desa Munjul,
Kecamatan Solear. Desa Munjul merupakan salah satu desa penerima sekaligus pengguna
ADD yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Akan tetapi, penerimaan
ADD tersebut bukan berarti tanpa masalah, terutama pada prosedur pencairan dana. Pada
informasi yang didapat, pemicu masalahnya yaitu masih lemahnya pengawasan
pemerintah kecamatan dalam mengawal pelaksanaan ADD di lapangan. Hal itu
terindikasi bahwa pencairan alokasi dana desa oleh Kepala Desa Munjul tidak melalui
mekanisme yang telah ditentukan. Selain itu, terjadinya ketidaktahuan pihak kecamatan
tentang pencairan dana ADD ke Desa Munjul. Terlepas dari pencairan yang dilakukan
oleh kepala desa, hal itu telah menunjukkan bahwa pihak kecamatan sangat lemah dari
sisi pengawasan. Walaupun pihak kecamatan beralasan bahwa dana tersebut tidak dapat
cair apabila tanpa disertai rekomendasi dari camat. Namun, realitanya dana tersebut dapat
cair. Sekaipun pihak kecamatan mengalihkan hal itu karena adanya kerjasama dengan
pihak bank, namun hal itu sulit dibuktikan, karena segala urusan keuangan bank pasti
terdokumentasi dan sulit untuk dipermainkan. Apalagi urusan yang menyangkut urusan
dalam skala desa.
Jika merujuk pada Permendagri No. 37/2007, Pasal 26, disebutkan bahwa camat
memiliki peran untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan ADD

5 Deddy Supriady Bratakusumah, Otonomi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah,


PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004, h. 40.
oleh pemerintah desa, di antaranya:
a. Memfasilitasi administrasi keuangan desa;
b. Memfasilitasi pengelolaan keuangan desa dan pendayagunaan aset desa;
c. Memfasilitasi pelaksanaan ADD;
d. Memfasilitasi penyelenggaraan keuangan desa yang mencakup perencanaan, dan
penyusunan APBDesa, pelaksanaan dan pertanggungjawaban APBDesa.
Dari ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peran camat terhadap pengelolaan
ADD adalah sebagai fasilitator, artinya membantu desa dalam pengelolaan dana ADD,
mulai dari pencairan, penggunaan, hingga pertanggungjawabannya. Namun, di
Kecamatan Solear, pihak kecamatan terkesan tidak memberikan fasilitas-fasilitas
tersebut. Bahkan dari sumber yang diperoleh bahwa kecamatan terkesan kecolongan. Hal
itu tidak dapat dipandang pada satu sisi, tetapi juga dari sisi yang lain.
Di satu sisi, pihak Kecamatan Solear menyalahkan pihak desa karena prosedur
pencairan dana ADD tanpa melalui rekomendasi Camat Solear, Dadang Nugraha. Padahal
di tahun sebelumnya, pencairan dana ADD harus melalui rekomendasi dari camat
sebelum dana itu diambil oleh pihak desa terutama kepala desa. Akan tetapi pada tahun
tersebut, dana ADD dapat diambil oleh kepala desa tanpa adanya rekomendasi dari
camat. Di sisi lain, desa tanggap terhadap adanya dana ADD tersebut, sehingga secara
langsung dilakukan pencairan tanpa adanya rekomendasi dari camat. Hal itu bisa saja
disebabkan oleh lambatnya kinerja pemerintah kecamatan, sehingga desa terlalu lama
menunggu adanya pencairan dana ADD. Seharusnya, pihak kecamatan lebih tanggap
dengan pencaitan dana tersebut, tanpa menunggu laporan dari desa, karena telah
disebutkan dalam Permendagri tersebut bahwa kecamatan berperan memberikan fasilitas
kepada desa6. Hal itu tidak dapat dipungkiri, karena yang sering terjadi bahwa ketika
ingin mengajukan rekomendasi camat, maka terkesan dipersulit dan pada akhirnya dana
tersebut tidak cair kepada desa yang membutuhkan tersebut.
Lebih rancu lagi ketika pihak Kecamatan Solear mengalihkan perhatian ke
pembagunan fisik di Desa Munjul. Dana ADD yang telah diterima oleh Pemerintah Desa
Munjul digunakan untuk membangunan sarana prasarana dan infrastruktur di Desa
Munjul, misalnya kegiatan rehab kantor desa yang tidak sesuai dengan anggaran yang
digunakan. Akan tetapi, hal itu justru menjadi sebuah indikator bahwa masih sangat
lemahnya pengawasan oleh Pemerintah Kecamatan Solear, karena tidak mampu dalam
hal memfasilitasi desa dalam pengelolaan ADD. Dalam hal ini, desa bukan hanya
dimaknai sebagai kepala desa beserta perangkatnya, tetapi secara keseluruhan, baik
pemerintah desa maupun masyarakat desa. Jika pembinaan dan pengawasan yang
dilakukan oleh camat berjalan dengan baik, maka tidak mungkin istilah pemerintah
kecamatan kecolongan tersebut muncul. Pada dasarnya, Pemerintah Kecamatan Solear
memang telah kecolongan, tetapi tidak murni kecolongan, karena kelalaian pemerintah
kecamatan dalam memberikan pembinaan dan pengawasan.
Melihat hal tersebut, maka Pemerintah Kecamatan Solear harus lebih
meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan desa
khususnya pengelolaan dana ADD. Hal tersebut bukan berarti memberikan ruang gerak
yang sempit kepada desa, serta bukan berarti mencari celah kesalahan kepala desa, tetapi
lebih kepada pengarahan dan pembinaan tentang tata cara pengelolaan dana tersebut.
Karena sebagian besar kesalahan kepala desa ataupun perangkat desa melakukan
kesalahan tanpa disengaja, misalnya salah dalam hal prosedur/mekanisme dan sistem
administrasinya. Oleh karena itu, khususnya camat harus mampu melaksanakan

6 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman


Pengelolaan Keuangan Desa, Pasal 26.
ketentuan yang telah ditetapkan pada Permendagri No. 37/2007 terutama Pasal 26 tentang
macam-macam bentuk pembinaan dan pengawasan yang secara normatif dilakukan oleh
camat untuk masing-masing desa. Karena tidak bisa hanya melihat dari satu sisi desa saja,
tetapi mekanisme pengawasan juga perlu diperhatikan. Hal itu menjadi indikator sejauh
mana pemerintah kecamatan memfasilitasi desa dalam pengelolaan dana ADD dalam
bentuk suatu pengawasan.
Pada dasarnya, pengawasan yang paling penting adalah pengawasan yang
dilakukan oleh masyarakat desa itu sendiri 7, misalnya masyarakat Desa Munjul. Akan
tetapi, terkadang masyarakat skeptis terhadap permasalahan yang berhubungan dengan
keuangan desa. Masyarakat terlalu sering dihadapkan dengan sesuatu yang instan, tanpa
mengetahui bagaimana mekanisme atau alur proses pengelolaannya.

F. Kesimpulan
Pengawasan pengelolaan di Desa Munjul masih sangat lemah. Pemerintah
Kecamatan Solear terkesan telah kecolongan dalam pencairan dana ADD oleh
Pemerintah Desa Munjul. Akan tetapi tidak bisa hal itu dilihat dari satu sisi, karena tidak
sepenuhnya hal itu kesalahan pihak desa. Pemerintah Kecamatan Solear juga terkesan
lambat serta tidak tanggap dalam menanggapi pencairan dana ADD. Sangat menjadi ironi
ketika pihak kecamatan tidak mengetahui pencairan dana ke desa tersebut. Oleh karena
itu, perlu ditingkatkan tentang pengawasan oleh Pemerintah Kecamatan Solear dalam
pengelolaan dana ADD. Bukan berarti bahwa pengawasan tersebut akan membatasi ruang
gerak kepala desa ataupun perangkat desa dalam mengelola dana ADD, tetapi
memberikan arahan bagaimana mekanisme yang benar tentang pengelolaan dana
tersebut. Sehingga tujuannya adalah untuk meminimalisir terjadinya kesalahan, baik
kesalahn prosedur maupun administrasi.

G. Daftar Pustaka
Buku
Bratakusumah, Deddy Supriady. 2004. Otonomi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Wiyanto, Siko Dian Sigit. 2014. Agar Dana Desa Terkawal. Jakarta: Sekretariat Jenderal
Kementerian Keuangan RI.
Peraturan Perundang-Undangan
Peraturan Bupati Tangerang No. 103/2014 tentang Tata Cara Pemberian Alokasi Dana
Desa, Bagian dari Hasil Pajak dan Retribusi Daerah Kepada Desa, dan
Bantuan Keuangan yang Bersumber dari APBD kepada Desa.
Peraturan Menteri Dalam Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Website
http://warta7news.com/p.php?i=988
(Diakses pada tanggal 20 Mei 2016)
http://www.academia.edu/11365850/Teori_Pengawasan
(Diakses pada tanggal 20 Mei 2016)
https://tesisdisertasi.blogspot.co.id/2010/10/konsep-pengawasan.html

7 Deddy Supriady Bratakusumah, Otonomi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah,


PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004, h. 55.
(Diakses pada tanggal 20 Mei 2016)
http://ymayowan.lecture.ub.ac.id/2013/11/kajian-pelayanan-administrasi-desa-berbasis-
aplikasi-it-dalam-menunjang-kinerja-pemerintahan-desa/
(Diakses pada tanggal 1 Juni 2016)