You are on page 1of 28

APPENDISITIS

DEFINISI
Peradangan Appendix Vermiformis akibat dari penyumbatan/obstruksi lumen (80%) dan infeksi
hematogen.

ANAMNESIS
Keluhan utama Appendisitis
1. Sakit perut: tahap awal terjadi hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi sehingga nyeri visceral
dirasakan diseluruh perut (epigastrium dan region umbilical), tahap lanjut nyeri somatic dirasakan
di kuadran kanan bawah (mc Burney)
2. Anorexia, mual, muntah (aktivitas Vagus)
3. Obstipasi (susah BAB)
4. Febris (respon infeksi akut)

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis:
1. Tampak kesakitan, memgang perut kanan bawah
2. Demam
3. Flexi ringan articulatio coxae dextra
Status Lokalis:
1. Nyeri tekan di titik mc Burney (+)
2. Defans muscular (+) respon mm. rectus abdominis
3. Rovsing sign (+) penekanan kontra mc Burney dan didorong ke kanan maka nyeri akan
terasa di perut kanan bawah
4. Psoas sign (+)
a. Cara aktif : Pasien terlentang, tungkai kanan lurus dan ditahan oleh pemeriksa,
kemudian pasien disuruh aktif meflexikan articulatio coxae kanan akan terasa nyeri
di perut kanan bawah
b. Cara pasif : Pasien miring kiri, paha kanan dihiperekstensikan oleh pemeriksa akan
terasa nyeri di perut kanan bawah
5. Obturator sign (+) dengan gerakan flexi dan endorotasi articulatio coxae pada posisi
supine akan menimbulkan nyeri
KRITERIA DIAGNOSIS
1. Nyeri khas di area mc Burney dapat disertai defans muskular
2. Nyeri Alih (refered pain)
3. Demam disertai keluhan GIT
4. Nyeri tekan di titik Mc Burney, rovsing sign, obturator sign dan psoas sign
5. Nyeri tekan (+) colok dubur nyeri jam 09.00-11.00
6. Leukositosis dg shift to left (neutrofil segmen >75%)

DIAGNOSIS BANDING
1. KET
2. Adnexitis
3. kolitis
4. Torsio kista ovarii

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Darah Perifer lengkap
2. USG abdomen bila perlu

TERAPI
1. Appendektomi segera: Appendisitis akut
2. Appendektomi Elektif: Appendisitis kronis
3. Periapendikuler abses: insisi, drainase
4. Periapendikuler infiltrat: pertama dirawat konservatif, medikamentosa yang adekuat, bila
masa mengecil ukuran < 3 cm atau menghilang dilakukan apendiktomi
5. Appendisitis perforata disertai tanda-tanda peritonitis lokal: Dilakukan apendektomi dengan
insisi para median
6. Bila ditemukan tanda-tanda peritonitis umum dilakukan laparatomi dengan insisi median

EDUKASI
1. Edukasi adanya kemungkinan perforasi Peritonitis
2. Edukasi mengenai tindakan yang akan dilakukan dengan risiko komplikasi (perdarahan,
adhesi, infeksi)
3. Edukasi perawatan pasca operasi
PROGNOSIS
Ad bonam bila dilakukan operasi segera

STRIKTURA URETRA

DEFINISI
Penyempitan lumen uretra karena kelainan congenital atau dapatan yang menyebabkan obstruksi urin

ANAMNESIS
1. Pancaran urin melemah
2. Pancaran urin bercabang
3. Frekuensiuria
4. Disuria sampai Hematuria

PEMERIKSAAN FISIK
Status Lokalis :
Buli-buli teraba tegang (penuh)

KRITERIA DIAGNOSIS
1. Riwayat saat miksi urin keluar bercabang, melemah bahkan sulit saat pertama kali keluar bila
oklusi total
2. Pada kasus trauma : riwayat Straddle injury, fraktur pelvis, post pemasangan kateter, post
operasi TURP
3. Pada kasus infeksi : urethritis gonorhoe

DIAGNOSIS BANDING
1. Ruptur Urethra
2. Batu urethra

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urethrocystografi

TERAPI
1. Dilatasi : businasi
2. Uretrotomi interna : Pisau otis (parsial) atau PisauSachse (Total)
3. Uretrotomi eksterna : Anastomose

EDUKASI
Edukasi mengenai diagnosis dan tindakan yang akan dilakukan

PROGNOSIS
Dubia
ILEUS

DEFINISI
Keadaan dimana penderita mengalami gangguan passage atau jalannya makanan dalam usus oleh
karena suatu sebab.

ANAMNESIS
1. Perut Kembung
2. Tidak bisa BAB
3. Tidak bisa Flatus
4. Muntah Nyeri perut intermitten
5. Keluhan lain seperti benjolan di lipat paha (hernia Inkarserata)
6. BAB lender dengan darah biasanya pada anak (Invaginasi)

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Lemah, dehidrasi, kadang sampai gelisah
Gambaran usus distensi (Darm Countur)
Tympani seluruh bagian perut terutama subdiafragma
Gambaran peristaltic usus ( Darm Seifung)
Peristaltic bisa terdengar kuat (obstruksi) namun bisa tidak terdengar sama sekali (paralitik)
Borborygmi (seperti suara air dalam botol yang dikocok atau suara deburan ombak di pantai)
Metallic sound bila ileus obstruksi

KRITERIA DIAGNOSIS
Keluhan meteorismus, muntah pada beberapa kasus
Metallic sound
Borborygmi
Abdomen 3 posisi menunjukan gambaran (air fluid level) dan ladder symptom

DIAGNOSIS BANDING
Meteorismus
Ileus Obstruktif
Ileus Paralitik
Obstipasi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Perifer lengkap dengan hemogram shift to left
Kimia Darah : amylase meningkat, elektrolit turun
Urinalisa : Ketonuria
Rontgen : Abdomen 3 posisi

TERAPI
Ileus Paralitik : Konservatif terapi
1. Pasang NGT
2. Rehidrasi, koreksi elektrolit
3. Antibiotik yang adekuat
4. Obat Spasmodik
Ileus Obstruksi: Operasi laparotomi bila dekompresi gagal
EDUKASI
Edukasi mengenai keadaan penyakit dan rencana tindak lanjut
Edukasi perawatan pasca operasi

PROGNOSIS
Dubia

KANKER PAYUDARA

DEFINISI
Keganasan yang berasal dari terminal duct-lobular unit

ANAMNESIS
1) Keluhan di payudara dan ketiak
a. Benjolan di payudara yang makin lama makin membesar
b. Rasa sakit berhubungan dengan menstruasi
c. Cairsn putting berdarah atau tidak
d. Putting retraksi, meninggi atau melipat
e. Perubahan kulit payudara, borok atau ulserasi
f. Benjolan atau nyeri di ketiak dan bengkak di lengan
2) Riwayat sebelumnya
a. Biopsi atau operasi payudara atau tempat lain
b. Pemakaian obat, hormone termasuk pil serta lama pemakaian
3) Riwayat reproduksi
a. Umur menstruasi pertama
b. Frekuensi mentruasi, lama, teratur dan tidaknya
c. Jumlah kehamilan, jumlah anak dan abortus
d. Riwayat menyusui dan lamanya
4) Riwayat keluarga
a. Sehubungan dengan riwayat kanker lain
b. Hubungan keluarga yang mengalami kanker menurut silsilah keluarga
5) Keluhan yang berhubungan dengan metastase
a. Sakit tulang, sakit punggung
b. Batuk, sesak nafas, kelainan umum

PEMERIKSAAN FISIK
1. Inspeksi
Ukuran, kesimetrisan mammae, perubahan warna kulit, ulserasi, kulit berlekuk, edema,
deformitas dan retraksi mammae
Pembengkakan limfonodi aksiler
2. Palpasi
Perabaan limfonodi supraklavikuler dan aksiler
Perabaan adanya massa di area mammae dan aksiler
Melalui inspeksi dan palpasi ini diharapkan dapat dinilai :
Massa tumor : ukuran, lokasi, bentuk, konsistensi, terfiksir atau tidak ke kulit atayu dinding
dada
Perubahan kulit : kemerahan, edema, peau dorange, dimpling, nedul satelit, ulserasi
Status kelenjar getah bening : jumlah, lokasi, ukuran, terfiksir atau tidak
Tnda metastase : sakit menelan, sakit tulang, efusi pleura, kelainan saraf

KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis benjolan di payudara disertai perubahan kulit mammae yang khas dan riwayat keluarga
dengan keluhan serupa, pada pemeriksaan di dapatkan adanya benjolan terfiksir dan pembesaran
lomfonodi aksiler atau supraklavikuler
Diagnosis ditegakan dengan pemeriksaan xrays (Mammografi, USG mammae ataupun CT scan
mammae dan biopsy FNAB)

DIAGNOSIS BANDING
Tumor jinsk mammae
Tumor philodes
Displasia mammae
Sarkoma jaringan lunak
Limfoma maligna ekstra nodi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Biopsi
2) Mammografi atau USG mammae
3) FNAB, Pemeriksaan patologi spesimen operasi
4) Staging
a. T: klinis, imaging patologi (jenis histologi, derajat diferensiasi)
b. N: klinis, imaging, biopsi sentinal node
c. M: klinis, imaging (X-foto thoraks, USG abdomen, bone scan, CT-Scan, MRI)

TERAPI
1) Stadium dini
a. Operasi
i. Radikal mastektomi modifikasi
ii. Breast conserving treatment
b. Adjuvant terapi kemoterapi 6 siklus (CMF = Cyclofosfamid, metrotrexate,
fluorouracil), terapi hormonal hanya bila limfonodi aksiler membesar
2) Stadium lanjut
a. Stadium IIIB
Kemoterapi 3-4 siklus bila memungkinkan di operasi mastektomi radikal modifikasi
Kalo tidak mungkin operasi : radiasi (lokoregional), kemoterapi 12 siklus
(CAF/CEF), hormonal tergantung reseptor estrogen
b. Stadium IV
i. Premenoupouse: ooferektomi bilateral, respon (+) tunggu relaps kemudian
berikan tamoxipen, bila (-) CMF/CAF
ii. 1-2 th menoupouse : diperiksa efek estrogen, bila (+) sesuai no 1, bila (-)
sesuai no 3
iii. Post menoupouse : Obat hormonal additive apabila gagal kemoterapi
(kemoterapi jika keadaan umum memungkinkan)

EDUKASI
Edukasi mengenai keadaan penyakit dan tindakan yang akan di tempuh
Edukasi perawatan pasca operasi, kemoterapi maupun radiasi

PROGNOSIS
Dubia ad malam

HEMORROID

DEFINISI
Benjolan di anus yang terjadi akibat defek gaya mekanik yang disebabkan oleh proses mengejan yang
mengakibatkan vassa darah melebar diikuti penambahan jaringan sekitar vassa sehingga lama
kelamaan benjolan dapat keluar anus

ANAMNESIS
1. Benjolan di anus
2. BAB kadang berdarah (darah segar), menetes di akhir defekasi
3. Nyeri (hemorrhoid dengan trombosis)
4. Riwayat Konstipasi berulang

PEMERIKSAAN FISIK
1. Benjolan terlihat di anus bila hemoroid grade 3-4
2. Rectal touch : Mukosa teraba kesan menebal, bercak darah pada sarung tangan bisa ada atau
tidak

KRITERIA DIAGNOSIS
1. Buang air besar berdarah segar tanpa nyeri/lendir
2. Darah tidak bercampur dengan faeces atau darah menetes
3. Tonjolan yang besar dari anus bila b.a.b masuk sendiri atau dimasukkan secara manual
4. Pemeriksaan colok dubur tidak ada kelainan

DIAGNOSIS BANDING
Perdarahan : Ca Colorectal, diverticulitis, colitis ulserativa, polip ani
Benjolan : Ca Anorectal, prolap recti

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Anoskopi
Darah perifer lengkap untuk mencari komplikasi dari hemorrhoid kronik (Anemia)

TERAPI
Stadium 1 & II tanpa atau dengan perdarahan: rawat jalan, medikamentosa, pengaturan diet,
skleroterapi
Stadium III & IV: MRS, igasi ruber band, operasi hemoroidektomi

EDUKASI
Edukasi mengenai penyakit dan rencana terapi
Edukasi perubahan pola hidup
Edukasi pasca operasi

PROGNOSIS
Dubia ad bonam

TUMOR JINAK PAYUDARA


DEFINISI
Tumor jinak yang berasal dari parenchyma, stroma, areola dan papilla mamma, tetapi tidak dari kulit
mammae.
Di klinik untuk praktisnya dimasukkan pula dalam tumor jinak mamma.

ANAMNESIS
1. Benjolan di payudara
2. Nyeri pada beberapa kasus
3. Benjolan tidak melekat dengan jaringan dasar

PEMERIKSAAN FISIK
Teraba benjolan kistik, batas tegas, mobile, nyeri pada beberapa kasus

KRITERIA DIAGNOSIS
1. Benjolan payudara pada wanita muda. Batas tegas, kenyal, permukaan rata, tidak melekat
pada dasar / otot dan kulit.
2. Discharge (+) (pada papilloma)

DIAGNOSIS BANDING
1. Fibroadenoma mammae
2. Kista payudara
3. Papilloma payudara
4. Keganasan payudara (pada wanita lebih 40 tahun)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Darah perifer lengkap, faal hemostasis untuk persiapan operasi
2. USG Mammae
3. Mammografi

TERAPI
Pembedahan pengangkatan tumor
Prosedur : Biopsi Eksisional
Extirpasi
EDUKASI
Edukasi pasca Operasi
PROGNOSIS
Dubia ad bonam
LUKA BAKAR

DEFINISI
Kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air
panas, bahan kimia, listrik dan radiasi

ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK
KRITERIA DIAGNOSIS
1) Luka bakar merupakan kerusakan pada jaringan karena pengaruh suhu (baik panas maupun
dingin) atau dari penyerapan energi fisik dan dari kontak dengan bahan-bahan kimia. Setiap penyebab
mempunyai gambaran klinis yang khusus dan menejemen pengelolaanya
2) Pembagian derajat luka bakar :
a) Derajat I : Hanya mengenai cairan epidermis luar, tampak hiperemi dan eritema
b) Derajat II : Mengenai lapisan epidermis yang lebih dalam dan sebagian dermis disertai lepuh,
edema jaringan dan basah
c) Derajat III : Mengenai semua lapisan epidermis dan dermis, biasanya tampak luka kering dengan
vena koogulasi pada permukaan kulit.
Tanda dan gejala klinik : nyeri, cemas dehidrasi
DIAGNOSIS BANDING
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Laboratorium : DL, UL, RFT, elektrolit, protein darah
2) Mikrobiologi : kultur dan tes kepekaan kuman
3) Radiologi : Foto polos toraks AP
4) Jantung : EKG
TERAPI
1) Non Bedah :
a) Tindakan darurat ABC, retutilasi jantung, paru, otak
b) Koreksi elektrolit dengan rymus Rule of nine dan koreksi hiperaktif
c) Perawatan terhadap jantung, paru, ginjal, hati
d) Terapi suportif seperti nutrisi, protein
e) Antibiotika, analgetika, antidiuretika
Pertolongan pertama bisa diberikan air dingin (waktunya singkat).
EDUKASI
PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad banam / malam
Ad fumgsionam : dubia ad banam / malam
BENIGN PROSTAT HYPERPLASI

DEFINISI
Pertumbuhan berlenih stromal dan epitel prostat karena multifaktorial dan endokrin

ANAMNESIS
1) Gejala obstruktif: hesitancy, pancaran melemah, perasaan tidak lampias, double voiding (dua kali
BAK dalam 2 jam), mengejan, dribbling
2) Gejala iritatif: urgency, frequency, nocturia
3) Riwayat disuria, BAK pasir/keruh, riwayat diabetes melitus, riwayat trauma pada penis, BAK
bercabang, riwayat nyeri di tempat lain (Ca prostat)

PEMERIKSAAN FISIK
1) Inpeksi buli buli: ada atau tidaknya penonjolan perut didaerah suprapubik (buli buli penuh
atau kosong ).
2) Palpasi buli buli: Tekanan didaerah suprapubik menimbulkan rangsangan ingin kencing bila
buli buli berisi atau penuh terasa massa yang kontraktif dan Ballotement.
3) Perkusi : buli buli yang penuh berisi urin memberi suara redup.
4) Rectal: IVP, dengan foto buli buli pre dan post miksi AP dan Oblique

KRITERIA DIAGNOSIS
1) Retensi urin menahun
2) Adanya gejala prostatisme
3) Tanda-tanda rest urin
4) Tanda-tanda UTI
5) Rectal Touche : prostat kesan membesar

DIAGNOSIS BANDING
Prostatitis
Ca Prostat
Striktura urethra
Neurogenic bladder

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium : darah lengkap, urine lengkap, kultur urin, S. creatinin, BUN
2. Radiologi : IVP (filling defect), dengan foto buli buli pre dan post miksi AP dan Oblique
3. Sistogram
4. Urethro cystoscopy
TERAPI
1) Tanpa keluhan progresif : konservatif
2) Operatif : Prostatektomi
3) Terapi: Alfablocker & anti androgen, Propil gentamicyn ( aminoglikoside ), Cefalosporin ( kultur
steril ) atau sesuai kultur kuman.

EDUKASI
Perdarahan, ekstravasasi urin, striktur uretra

PROGNOSIS
Dubia ad bonam / malam

CEDERA KRANIO SEREBRAL

DEFINISI
Cedera Kranoi serebral adalah serangkaian kejadian patopfisiologik yang terjadi setelah trauma
kepala yang dapat melibatkan kulit kepala, tulang dan jaringan otak atau kombinasinya.

ANAMNESIS
Riwayat Trauma
Hal hal yang perlu ditanyakan :
1. Sebab sebab trauma, estimisi berat ringannya benturan
2. Adanya kelainan neurologik awal seperti : kejang, kehilangan kesadaran, kelemahan motorik,
gangguan bicara
3. Derajat ketidak sadaran
4. Amnesia retrograde anterograd
5. Nyeri kepala, muntah, mual

PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda tanda vital : Tekanan darah, pola pernapasan, nadi, suhu
2. Tingkat kesadaran : dinilai dengan Glasgow Coma Scale
3. Cedera luar yang terlihat :
a. Cedera pada kulit kepala
b. Perdarahan dari hidung, mulut, telinga
c. Hematoma periorbital dan retroarikuler
4. Tanda tanda neurologik fokal :
a. Ukuran pupil dan reaksi cahaya
b. Gerakan mata
c. Pola aktivitas motorik
d. Fungsi batang otak
e. Refleks tendon
f. Sistem sensorik dan serebeler perlu diperiksa jika pasien sadar.

KRITERIA DIAGNOSIS
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diperkuat dengan hasil pencitraan radiologis

DIAGNOSIS BANDING
1. Hematom subgaleal
2. EDH
3. SDH
4. Perdarahan Subarahnoid spontan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratoriumdarah rutin : HB, hematokrit, lekosit, trombosit, elektrolit, ureum, keratin,
glukosa, golongan darah, analisa gas darah bila perlu.
2. Foto kepala : AP, Lateral, Towne
3. Foto Servical bila ada tanda tanda fraktur servical
4. CT Scan

TERAPI
Terapi Umum
1. Pada penderita dengan kesadaran baik, tanpa deficit neurologik, cukup dilakukan
observasi dan terapi simtomatik.
2. Pada penderita yang tidak sadar dengan atau tanpa deficit neurologik dapat dilakukan
tindakan tindakan sebagai berikut :
Dilakukan tindakan resusitasi A B C
1. Airway : jalan napas
Membebaskan jalan napas dari sumbnatan lendir, muntahan, benda asing
Bila perlu dipasang pipa endotrakheal
2. Breathing pernapasan
Bila pola pernapasanterganggu dilakukan nafas buatan atau ventilasi dengan respirator
3. Circulation : peredaran darah
Mengatasi hipovelemik syok
Infus dengan cairan kristaloid : Ringer Laktat atau NaCL 0,9 %, D5 1/4 Salin
Infus dengan cairan koloid
Transfusi darah

4. Mengendalikan peninggian tekanan intracranial :


Mannitol 0,5 1 gr /kg BB, diberikan dalam waktu 20 menit, diulang tiap 4 6 jam.
Furosemid 1 2 mg /kg BB
Hiperventilasi, dengan mempertahankan PaCO2, 25 30 mmHg.
Koreksi gangguan elektrolit, asam basa
Antikovulsan bila perlu
Antibiotik profilaksi
Nutrisi

5. Pembedahan
Tergantung jenisnya lesi :
a. Koreksi impresi fraktur, pada fraktur yang menekan
b. Pada hematoma intracranial ( epidural, subdural, intra cerebral ) :
c. Pada perdarahan intraventrikuler dilakukan kraniectomi diikuti dengan drainase
ventrikel eksternal.
d. Pada kontusio dan laserasi otak yang luas dapat dilakukan reseksi
6. Komplikasi
Trauma
1. Perdarahan intracnial :
Epidural
Subdural
Subarahnoid
Intraserebral
Intraventrikuler

EDUKASI
Edukasi mengenai keadaan trauma, rencana tindakan dan perawatan

PROGNOSIS
Dubia: Tergantung dari jenisnya lesi, lokasi, umur dan cepat lambatnya dilakukan tindakan.

STRUMA

DEFINISI
Pembesaran dari kelenjar tiroid yang bersifat jinak

ANAMNESIS
Umumya tidak khas, pasien datang dengan keluhan-keluhan palpitasi, sesak, cepat lelah, sering
berkeringat banyak, nafsu makan meningkat, Berat badan naik-turun, emosi labil dan pada beberapa
kasus mengeluh pembesaran leher bagian depan yang biasanya ikut bergerak saat menelan.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Inspeksi : Terlihat benjolan di leher depan tepat dibawah jakun (Adams Apple)
2. Palpasi : Kepala agak menunduk (relaksasi m. Sternocleidomastoideus), dengan kedua tangan
dari belakang pasien, deskripsi tumor (ukuran, bentuk, konsistensi, batas, nyeri, ikut bergerak
saat menelan), pembesaran kgb

KRITERIA DIAGNOSIS
1. Benjolan di leher bagian depan (trigonum colli anterior), yang ikut bergerak ke atas bila
penderita menelan.
1) Struma non toksik
a) Penderita eutiroid, tenang, tidak ada gejala hipertiroid (lihat struma toksik)
Struma uninodosa: bila terdapat satu nodus dalam satu lobus
Stuma multinodusa: bila terdapat dua atau lebih nodus dalam satu atau kedua
lobus
2) Struma toksik (hipertiroid)
a) Struma umumnya difus tetapi dapat pula nodosa
Terdapat gejala-gejala hipertiroid
o Penderita gelisah, gemetar, nadi cepat, badan tambah kurus, jantung
berdebar, sering keringatan, sulit tidur, diare.
o Tanda pada mata: mata melotot (exophtalmus), tanda stellwag (mata jarang
berkedip), tanda Von Graefe (jika melihat ke bawah kelopak mata atas tidak
mengikuti gerakan bola mata), Tanda mobius (sukar melakukan dan
mempertahankan konvergensi mata), tanda Joffroy (tidak dapat mengerutkan
dahi), tanda Rosenbach (tremor kelopak mata jika mata ditutup), tanda
Dalrymple (spasmepalpebra superior sampai sklera terlihat)
Tidak terdapat gejala hipotiroid: malas, mudah capek, ngantuk, tambah gemuk,
obstipasi, mata sembab, kulit kering.
3) Tiroiditis
a) Struma granulomatos (de Quervain): melekat dengan jaringan di sekitarnya,
konsistensi padat.
b) Struma Hashimoto: konsistensi padat keras, menimbulkan tekanan pada trakea.
c) Struma Riedel: konsistensi keras seperti kayu (Ligneus), menimbulkan tekanan pada
trakea atau esofagus
DIAGNOSIS BANDING
1. Ca Tiroid
2. Tumor jinak tiroid

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium: T3, T4, TSH
2. Radiologi: USG leher, X-foto leher, X-foto thoraks, Tiroid scan (atas indikasi)
3. Patologi: FNA, pemeriksaan PA spesimen operasi

TERAPI
1. Konservatif
Medikamentosa : PTU 3x100mg
Thiroxine 0,2mg/hari
Ekstrak tiroid 20-30 mg/dl (Struma difusa non toksik)
Lugol solution 5-10 mg 3xsehari dilanjutkan PTU 100-200 mg
3xsehari, Bed rest (Struma toksik)
2. Bedah (tergantung proses patologis)
a. Struma toksika: tiroidektomi subtotal
b. Struma uninodosa: lobektomi subtotal
c. Struma multinodosa: lobektomi/tiroidektomi subtotal (tegantung jumlah lobus yang
terkena)
d. Tiroiditis kronis: ismektomi
EDUKASI
Edukasi mengenai perdarahan, infeksi, dan suplementasi hormon tiroid seumur hidup

PROGNOSIS
Dubia

DISLOKASI

DEFINISI
Hubungan tulang pembentuk sendi terpisah komplit

ANAMNESIS
1. Deformitas
2. Nyeri tekan
3. Keterbatasan gerak

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan mengantisipasi komplikasi neurovaskuler, fraktur dan trauma pada orang lain
Pemeriksaan stabilitas sendi : tes stress drower, aphrehension dan lain lain

KRITERIA DIAGNOSIS
Pemeriksaan foto rontgen proyeksi AP dan lateral ( minimal ), proyeksi stress.

DIAGNOSIS BANDING
Subluksasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rontgen Proyeksi Ap/Lat

TERAPI
Reposisi
Imobilisasi
Hindari komplikasi neurovascular
Hasil reposisi perlu dikontrol dengan pemeriksaan radiologist
Konsultasi pada ahli lain bila ada indikasi
Elektif
Jika reposisi tertutup gagal, misalnya karena interposisi otot, dislokasi lama, dislokasi dengan
fraktur maka dilakukan reposisi terbuka oleh dokter Ahli Ortopedi.
Rehabilitasi
Latihan latihan agar tidak terjadi atropi otot atau kekakuan sendi.
EDUKASI
Edukasi tentang keadaan penyakit, rencana tindakan medis dan rehabilitasi

PROGNOSIS
Dubia ad bonam

FRAKTUR TERBUKA

DEFINISI
Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar atau ruangan di tubuh penderita yang
tidak strel
Catatan
Fraktur terbuka mempunyai potensi untuk terjadi infeksi
Klasifikasi
1. Tipe I
Luka kecil yang pada umumnya akibat tusukan fragmen tulang kerusakan jaringan lunak sedikit
fraktur tidak kominutif dan luka bersih.
2. Tipe II
Lebar luka lebih 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit dan fraktur tidak kominutif.
3. Tipe III
1. Kerusakkan jaringan lunak hebat, fraktur masih terbungkus jaringan lunak
2. Periosteum terlepas
3. Kerusakan vascular yang memerlukan repair agar vialitas bagian distal baik.
4. Trauma hight velocity di golongkan derajat III B atau III C

ANAMNESIS
Trauma sebagai penyebab atau bila tanpa trauma umumnya akibat kelainan tulang tersebut sehingga
digolongkan fraktur patologis.

PEMERIKSAAN FISIK
Deformitas ( angulasi ke medial, lateral, anterior, posterior atau kombinasi ).
Perpendekan
Luka, dapat dengan bone expoxe
Tenderness ( sakit tekan ) krepitasi atau gerakan luar biasa ( abnormal )
Gerakan sendi di sekitar terbatas ok. Kesakitan
Pemeriksaan vascular ( capillary refill test )
Pemeriksaan anggota tubuh lain : kepala, torak, abdomen dan traktus urinarius pada trauma
multiple.
Test refill bag. Distal negative pada III C
Untuk fraktur yang sebelumnya telah diberikan imobilisasi ( splint )
KRITERIA DIAGNOSIS
Klinis luka tampak terbuka, deformitas, krepitasi dan didukung hasil foto X-ray

DIAGNOSIS BANDING
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin HMT ( Hematokrit ) ( prediksi sok hipovelemik )
Rontgen (x-ray)

TERAPI
Pertolongan Pertama :
1. Resusitasi bila ada sok hipovelemik, gangguan napas / denjut jantung.
2. Memasang bidai
3. Luka ditutup dengan kasa sterile sesudah kultur ( I )
4. Perdarahan dihentikan dengan bebat menekan. Fraktur femur dapat kehilangan darah 1 sampai
1,5 lt. Faktur pelvis + 3 liter.
5. Pemeriksaan golongan darah
6. Memasang set infuse / tranfusi
7. Memberikan antibiotika : Zinacef 750 mg. Gentamisin 80 mg ( untuk tipe III )
8. ATS hati hati ?

Pertolongan berikutnya adalah mengirim penderita ke bagian radiology setelah penderita stabil.
Deridement dan irigasi :
1. Pada luka dibikin kultur dan test sensitivas
2. Pembersihan luka dengan cairan fisiologis 9 10 lt dengan menyemprotkan
3. Jaringan mati atau fragmen tulang kecil yang mati maupun benda asing dibuang
4. Pembuluh darah vital untuk bagian distal yang terputus lakukan repair
5. Saraf yang terputus direpair pada derajat I / II atau delayed repair derajat III dengan memberikan
tanda pada ujung ujung saraf tersebut.
6. Reposisi fragmen fraktur
7. Luka yang sudang dibersihkan tersebut dikerjakan kultur dan tes sensitivitas II.
8. Kulit dijahit pada derajat I / II atau biarkan derajat III
9. Memasang fiksasi ekstern ( gip diberi window )
10. Tipe III C : amputasi dini ? limb salvage.
Perawatan
1. Tiap hari luka dibersihkan dan tutup dengan sterilisasi yang ketat.
2. Antibiotika suntikan zinacep 750 pagi & sore
3. Bila hasil kultur dan tes sensitevitas tes I & II tidak cocok dengan antibiotika yang diberikan
maka harus menggantinya sesuai dengan hasil tersebut.
4. Luka dengan pus lakukan kultur dan tes sensitivitas III
5. Bila antiboitikanya tidak cocok dengan hasil kultur dan tes sensitivitas III maka pemberian
antibiotika diganti dengan hasil tersebut.
6. Pemeriksaan lab, rutin terutama melihat leukosit, KED dan hemo
7. Fisioterapi
8. Pada hari 7 10 penderita rawat jalan

EDUKASI
Edukasi mengenai keadaan trauma, rencana tindakan dan perawatan

PROGNOSIS
Dubia

CHOLELITHIASIS

DEFINISI
Cholelithiasis adalah terdapatnya batu didalam kandung empedu dan / atau di dalam saluran empedu.

ANAMNESIS
Sebagian penderita batu empedu ( 10 % ) tanpa gejala, dan gejala gejala yang dapat timbul berupa :
1. Nyeri
Nyeri kolik di daerah epigastrium dan hipokhondrium kanan, kadang juga terasa di bahu kanan.
Nyeri timbul karena rangsangan makanan berlemak. Nyeri sering dirasakan sebagai rasa tidak
enak di epigastrium ( samara samara )
2. Febris
Timbul bila terjadi peradangan dan sering disertai menggigil
PEMERIKSAAN FISIK
1. Ikterus
Terjadi bila batu penyumbat saluran empedu utama ( duktus hepatikus kommunis atau duktus
kholedokus ).
2. Murphys sign positip
Ini bila terjadi cholecititis akut. Nyeri pada penekanan hipochondrium kanan, terutama waktu
inspirasi.

KRITERIA DIAGNOSIS
Kriteria 4F : Female, Fat, Fourty, Fertile (Tanda chlesistitis)
Murphy Sign (+)
USG Abdomen menunjukan adanya gbr. batu empedu

DIAGNOSIS BANDING
a. Gastritis
b. Ulkus peptikum
c. Pansretitis ( diagnosis banding untuk ikterus obstruksi selain karena batu )
d. Cholangio carcinoma
e. Carsinoma kaput pancreas

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Billirubin darah meninggi terutama billrubin direk
b. Alkali fostase meninggi
c. Adanya billirubin dalam urine
d. Feses acholik
e. USG : ultrasonografi
f. Cholesytografi oral

TERAPI
a. Batu di kandung empedu : cholesistektomi
b. Batu di saluran empedu utama dengan atau tanpa batu di kandung empedu : cholesistektomi +
choledocholithectomi. Antibiotika yang digunakan bila ada cholecititis atau cholangitis :
- Ampicillin 3 x 1 gram per hari i.v
- Gentamisin 2 x 80 gram per hari i.v atau
- Cefalosporin 3 x 1 gram per hari i.v
EDUKASI
Edukasi mengenai keadaan trauma, rencana tindakan dan perawatan

PROGNOSIS
Dubia ad bonam

KARSINOMA KOLON & REKTUM

DEFINISI
Karsinoma kolon & rectum adalah tumor ganas epiteliel pada kolom dan rectum.

ANAMNESIS
Gejala yang timbul berhubungan dengan lokasi tumor, di kolon kanan, kolon kiri atau rectum.
Kolon Kanan Kolon kiri Rektum
Tipe Fungating Anuler Infiltratif
Polipoid Konstricting / Polipoid
Ulseratif Stenosis Ulseratif

Teraba massa Sering Jarang Dengan RT


Dispepsia Sering Jarang Jarang
Perubahan kebiasaan
BAB Diare Konstipasi yang Tenesmus
Progresif

Ileus obstruksi Jarang Sering Jarang


Darah feses Okult Okult / gross Gross
K U menurun awal lambat Lambat

PEMERIKSAAN FISIK
a. Fisik : tumor abdomen untuk kolon kanan
b. Gejala ileus obstruksi untuk stadium lanjut
c. Colok dubur : teraba tumor pada karsinoma rekti letak rendah atau tengah.

KRITERIA DIAGNOSIS

DIAGNOSIS BANDING
a. Tuberkuloma
b. Amuboma
c. Hemorrhoid
d. Polip / poliposis kolon & rectum

PEMERIKSAAN PENUNJANG

TERAPI
Bila tidak ada obstruksi : disiapkan untuk operasi elektif / definitive.
Bila ada obstruksi : operasi darurat :
Untuk kolon kanan :
dapat langsung operatif definitive
dapat diversi dulu, kemudian disiapkan untuk elektif / definitive
Untuk kolon kiri : diversi dulu, kemudian disiapkan untuk elektif / definitive.

Jenis Operasi
Tumor kolon kanan
Kuratif : hemi kolektomi kanan
Paliatif : pintasan ileotransversostomi
Tumor kolon transversum
Kuratif : reseksi kolon transversum
Paliatif : cekostomi
Tumor kolon desendens
Kuratif : hemikolektomi kiri
Paliatif : transversokolektomi
Tumor sigmoid
Kuratif : reseksi sigmoid
Paliatif : transversokolostomi
Tumot / korsinoma rectum
Kuratif :
Diatas 12 cm ari anus :
reseksi anterior antara 6 12 cm dari anus : reseksi anterior bawah
reseksi abdomino anal dan perineal
Kurang dari 6 cm dari anus :
reseksi abdomino anal
reseksi abdomino parineal
Paliatif : sigmoidostomi

Pra Bedah
Untuk operasi elektif karsinoma kolon & rectum disiapkan dengan preperasi kolon yang berupa :
a. Diet residu rendah 5 hari sebelum operasi
b. Sterilisasi usus dengan :
1) Neomisin 3 x 1 gram, 3 hari sebelum operasi
2) Kanamisin 4 x 500 mg, 3 hari sebelum operasi
c. Lavemen setiap hari, 3 hari sebelum operasi
d. Antibiotika pasca bedah
1) Ampicillin 3 x 1 gram
2) Gentamisin 2 x 80 mg
3) Metronidazol 3 x 500 mg

EDUKASI
Edukasi Mengenai keadaan penyakut, rencana tindakan dan perawatan pasca operasi dan kemoterapi

PROGNOSIS
Dubia ad Malam

STUMA NODOSA NON TOKSIK

DEFINISI

ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIK
KRITERIA DIAGNOSIS
DIAGNOSIS BANDING
PEMERIKSAAN PENUNJANG
TERAPI
EDUKASI
PROGNOSIS