You are on page 1of 13

?

SIAPA YANG MASUK SURGA

HTTPS://WWW.BINBAZ.ORG.SA/NOOR/3194

- - :
!! :
. !
-
- ) : ! :
( -
-
- -


:
- - .

- -
- -
: :

:


:

:

Ada Orang yang Tidak Mau Masuk Surga, Siapa Dia?

Oleh: Badrul Tamam


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada
Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Lumrahnya setiap orang ingin masuk surga. Bahkan bisa jadi seorang penjahat saat ditanya, "maukah kamu masuk
surga," maka jawabannya juga mau. Namun Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan ada orang yang
tidak mau masuk surga.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,




"Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Wahai Rasulullah,
siapakah orang yang enggan masuk surga itu?' beliau menjawab, "Siapa yang mentaatiku ia masuk surga dan siapa
yang mendurhakaiku suggu ia telah enggan masuk surga." (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya, dari hadits Abu
Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)
Maknanya, setiap umat beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam kita termasuk di dalamnya- yang menaati beliau dan
mengikuti jalan hidupnya pasti akan masuk surga. Sedangkan siapa yang tidak mau mengikuti beliau sungguh ia
orang yang enggan masuk surga. Hal ini karena surga ada jalannya dan memiliki sebab-sebab yang harus
diusahakan. Siapa yang menempuh jalannya dan mengusahakan sebabnya maka ia akan sampai kepada surga.
Jalan dan sebab tersebut adalah mengikuti jalan hidup Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan menaati beliau.
Orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah orang yang mentauhidkan Allah, istiqamah di
atas syariat yang beliau bawa, mendirikan shalat, menunaikan zakat, bepuasa Ramadhan, birrul walidain, menjauhi
larangan-larangan Allah berupa zina, minum minuman memabukkan, dan selainnya; maka orang seperti ini akan
masuk surga. Kenapa, karena ia telah mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Adapun orang yang tidak
bersedia mengikuti jalan hidup Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan tidak mau mentaatinya serta tidak mau
tunduk kepada ajaran yang beliau bawa maka orang ini telah menolak atau enggan masuk surga. Artinya, orang ini
telah enggan masuk surga dengan amal-amal buruknya. Inilah makna hadits yang dijelaskan Syaikh Ibnu
Bazz rahimahullah.

. . . orang yang tidak bersedia mengikuti jalan hidup Rasulullah Shallallahu


'Alaihi Wasallam dan tidak mau mentaatinya serta tidak mau tunduk kepada
ajaran yang beliau bawa maka orang ini telah menolak atau enggan masuk
surga . . .
Orang yang Akan Masuk Surga

Menaati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan mengikuti jalan hidupnya akan menghantarkan seseorang
kepada jannah Allah Ta'ala. Karena siapa yang mentaati beliau pasti ia mentaati Allah Ta'ala. Sebabnya, karena
beliau hanya menyampaikan wahyu dari Allah dan bukan dari hawa nafsunya sendiri. Maka Allah firmankan,



"Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah." (QS. Al-Nisa': 80
Kita temukan dalam banyak ayat, orang-orang yang akan masuk ke jannah. Yaitu orang yang menyerahkan diri
kepada Allah untuk tunduk patuh kepada-Nya dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Semua ini merupakan inti dari dakwah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,




"Dan siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang beriman, maka mereka
itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun." (QS. Al-Nisa': 124)




"Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan
beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab." (QS. Ghaafir: 40)



"Kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya
(dirugikan) sedikit pun." (QS. Maryam: 60)




"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni
surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Ahqaaf: 13-14),
ayat-ayat serupa masih sangat banyak.
Maka siapa yang mau tunduk ibadah kepada Allah semata, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya
maka mereka itulah yang benar-benar menaati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sehingga mereka akan
menjadi penghuni surga. Semoga Allah memasukkan kita semua dalam bagian ini. Wallahu Ta'ala A'lam.
[PurWD/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2013/02/11/23168/ada-orang-yang-tidak-mau-masuk-

surga-siapa-dia/;#sthash.gBwA6LiF.IeBd0DpG.dpuf

SIAPA YANG MASUK SURGA?

SYARAH HADITS(( SETIAP UMMATKU AKAN MASUK SURGA, KECUALI ORANG-ORANG


YANG ENGGAN MEMASUKINYA))
! ! :
:
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu anhu , bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,;
Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk
memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut
wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga,
barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga

!
Tolong jelaskan kepada kami makna hadits tersebut?? Jazaakumullah khairaa.

) :
( : !
Hadits ini hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya,
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu , dari Nabi
shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk
memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut
wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga,
barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga





Makna hadits ini , bahwasanya umat beliau yang mentaati dan mengikuti petunjuk
beliau akan masuk surga. Barangsiapa yang tidak mengikutinya berarti dia enggan
masuk surga. Barangsiapa yang mengikuti Rasul
shallallahu alaihi wa sallam dan mentauhidkan Allah serta istiqomah dalam syariat
Allah serta menunaikan shalat, menunanaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan,
berbakti kepada kedua orangtua, menjaga dari perkara yang Allah haramkan seperti
perbuatan zina, meminum minuman yang memabukkan, dan perkara haram lainnya,
maka akan masuk ke dalam surga. Karena orang tersebut telah mengikuti Rasul
shallallahu alaihi wa sallam. Adapun orang yang enggan dan tidak mau mentaati
syariat maka maknanya orang tersebut enggan untuk masuk surga. Orang tersebut
telah mencegah dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan amal keburukan yang dia
lakukan. Inilah yang dimaksud makna hadits di atas.

Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati syariat Allah, serta mengikuti Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam dalam setiap syariat yang beliau bawa. Beliau adalah
Rasulullah yang hak, penutup para Nabi alaihis shalatu wa salaam .

:
Allah Taala telah berfirman tentang Nabi-Nya,


Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
menyayangimu dan mengampuni dosa-dosamu. (QS. Ali Imran :31)

- .
Mengikuti Rasulullah adalah di antara sebab timbulnya rasa cinta Allah kepada hamba-
Nya dan juga sebab datangnya ampunan, serta sebab masuknya hamba ke dalam
surga.



Adapun bermaksiat kepada beliau dan menyelisihi beliau merupakan sebab kemurkaan
Allah dan sebab terjerumusnya seseorang ke dalam neraka. Barangsiapa melakukan
yang demikian itu, dia enggan untuk masuk ke dalam surga. Barangsiapa yang menolak
untuk mentaati rasul
shallallahu alaihi wa sallam maka dia telah enggan untuk masuk surga.



Wajib bagi setiap muslim, bahkan bagi seluruh penduduk bumi, baik laki-laki maupun
perempuan, baik jin maupun manusia, seluruhnya wajib mentaati syariat Nabi
shallallahu alaihi wa sallam , mengikuti beliau, melaksanakan perintah beliau, dan
menjahui seluruh apa yang beliau larang. Ini merupakan sebab masuknya seseorang ke
dalam surga.

:
Allah Jalla wa Alaa berfirman,
Barangsiapa yang mentaati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah (QS. An
Nisa: 80)

Dan berfirman Allah subhanahu wataala; Katakanlah: Taat kepada Allah dan taatlah
kepada Rasul. dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah
apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata
apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu
mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan
(amanat Allah) dengan sejelas-jelasnya (QS. An Nur: 54)

:

Dan berfirman Allah subhanahu wataala; Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku
adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan
bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan
mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang
beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah
dia, supaya kamu mendapat petunjuk (Al Araf: 158)

:

Dalam ayat sebelumnya Allah Taala berfirman;
Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan
mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah
orang-orang yang beruntung. (QS. Al Araf: 57)

:
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat
keras hukumannya (QS. Al Hasyr:7)


.
Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Maka wajib bagi setiap orang yang
mau berpikir dan bagi setiap muslim untuk mentauhidkan Alah dan komitmen di atas
ajaran agama Islam, mentatai rasul shallallahu alaihi wa sallam, serta mentaati
perintah beliau, menjauhi apa yang beliau larang. Itu semua merupakan sebab masuk
ke dalam surga dan jalan menuju surga. Adapun barangsiapa menolak untuk
melakukkannya maka orang tersebut telah enggan untuk masuk surga.

Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan


Orang Yang Enggan Masuk Surga
Rasulullah bersabda: "Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang
yang enggan untuk memasukinya"

Soal :

Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu
anhu , bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

: ! !

Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk
memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut
wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga,
barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga

Tolong terangkan kepada kami makna hadits tersebut. Jazaakumullah khair.

Jawab :

Hadits ini hadits yang shahih, diriwaytakan oleh Imam Bukhari dalam kitab
shahihnya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk
memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut
wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga,
barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga (H.R
Bukhari)
Makna hadits ini bahwasanya umat beliau yang mentaati dan mengikuti petunjuk
beliau akan masuk surga. Barangsiapa yang tidak mengikutinya berarti dia enggan
masuk surga. Barangsiapa yang mengikuti Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan
mentauhidkan Allah serta istiqomah dalam syariat Allah serta menunaikan shalat,
menunanaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, berbakti kepada kedua
orangtua, menjaga dari perkara yang Allah haramkan seperti perbuatan zina,
meminum minuman yang memabukkan, dan perkara haram lainnya, maka akan
masuk ke dalam surga. Karena orang tersebut telah mengikuti Rasulshallallahu
alaihi wa sallam. Adapun orang yang enggan dan tidak mau mentaati syariat maka
maknanya orang tersebut enggan untuk masuk surga. Orang tersebut telah mencegah
dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan amal keburukan yang dia lakukan. Inilah
yang dimaksud makna hadits di atas.

Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati syariat Allah, serta mengikuti Nabi
Muhammadshallallahu alaihi wa sallam dalam setiap syariat yang beliau bawa.
Beliau adalah Rasulullah yang hak, penutup para Nabi alaihis shalatu wa salaam.
Allah Taala telah berfirman tentang Nabi-Nya,

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
menyayangimu dan mengampuni dosa-dosamu. (QS. Ali Imran :31)

Mencintai Rasulullah adalah di antara sebab timbulnya rasa cinta Allah kepada
hamba-Nya dan juga sebab datangnya ampunan, serta sebab masuknya hamba ke
dalam surga. Adapun bermaksiat kepada beliau dan menyelisihi beliau merupakan
sebab kemurkaan Allah dan sebab terjerumusnya seseorang ke dalam neraka.
Barangsiapa melakukan yang demikian itu, dia enggan untuk masuk ke dalam surga.
Barangsiapa yang menolak untuk mentaati rasulshallallahu alaihi wa sallam maka
dia telah enggan untuk masuk surga.

Wajib bagi setiap muslim, bahkan bagi seluruh penduduk bumi, baik laki-laki maupun
perempuan, baik jin maupun manusia, seluruhnya wajib mentaati syariat
Nabi shallallahu alaihi wa sallam, mengikuti beliau, melaksanakan perintah beliau,
dan menjahui seluruh apa yang beliau larang. Ini merupakan sebab masuknya
seseorang ke dalam surga. Allah Taalaberfirman,


Barangsiapa yang mentaati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah (QS. An
Nisa: 80)

Katakanlah: Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. dan jika kamu berpaling
maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya,
dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu.
Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain
kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan sejelas-
jelasnya (QS. An Nur: 54)

Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu


semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah
kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan
kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu
mendapat petunjuk(Al Araf: 158)

Dalam ayat sebelumnya Allah Taala berfirman

Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan


mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah
orang-orang yang beruntung. (QS. Al Araf: 57)

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
amat keras hukumannya (QS. Al Hasyr:7)

Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Maka wajib bagi setiap orang
yang mau berpikir dan bagi setiap muslim untuk mentauhidkan Alah dan komitmen di
atas ajaran agama Islam, mentatai rasul shallallahu alaihi wa sallam, serta mentaati
perintah beliau, menjauhi apa yang beliau larang. Itu semua merupakan sebab masuk
ke dalam surga dan jalan menuju surga. Adapun barangsiapa menolak untuk
melakukkannya maka orang tersebut telah enggan untuk masuk surga.

Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan.

Allah Tidak Butuh Ibadah Kita

Walaupun Allah memerintahkan kita untuk beribadah, memberitakan bahwa tujuan kita diciptakan adalah
untuk beribadah kepada-Nya, namun bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita. Tidak ada manfaat
yang Allah ambil dari kita dengan ibadah itu dan Allah pun tidak menginginkannya. Allah Mahakaya,
Mahasempurna dan Mahakuasa.

Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir [35]: 15)

Semua manfaat ibadah yang kita lakukan itu akan kembali kepada kita. Karena manusia adalah makhluk
lemah, miskin dan tak sempurna.

Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri
dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. (QS. An-
Naml [27]: 40)

Begitu pun, jika seluruh manusia kufur kepada Allah, tidak beribadah kepada-Nya, menelantarkan
perintah-perintah-Nya dan melanggar larangan-larangan-Nya, maka hal itu tidak membahayakan Allah
sama sekali. Akan tetapi kemadaratannya akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari
Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk
kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu
mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu. (QS. Yunus [10]:
108)


Dan Musa berkata: Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari
(nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim [14]: 8)

Allah subhaanahu wa taaala pun berfirman dalam hadis qudsi:

Wahai hamba-hamba-Ku, andai orang-orang terdahulu kalian dan paling akhir, manusia dan jin,
seluruhnya berhati orang yang paling takwa diantara kalian, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku
sedikit pun.

Wahai hamba-hamba-Ku, andai orang-orang terdahulu kalian dan paling akhir, manusia dan jin,
seluruhnya berhati orang yang paling jahat diantara kalian, hal itu pun tidak akan pernah mengurangi
sedikit pun dari kerajaan-Ku. (HR Muslim no. 2577)

Abu Khalid Riyadh, Al Batha

Sangat Butuh pada Allah

Di saat kesulitan melanda, di saat hati telah merasa putus asa, yang diharap hanyalah pertolongan Allah.
Hamba hanyalah seorang yang fakir. Sedangkan Allah adalah Al Ghoniy, Yang Maha Kaya, yang tidak butuh
pada segala sesuatu. Bahkan Allah-lah tempat bergantung seluruh makhluk.
Allah Taala berfirman,



Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir: 15)
Dalam ayat yang mulia ini, Allah Taala menerangkan bahwa Dia itu Maha Kaya, tidak butuh sama sekali pada
selain Dia. Bahkan seluruh makhluklah yang sangat butuh pada-Nya. Seluruh makhluk-lah yang merendahkan
diri di hadapan-Nya.[1]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan
dalam diam mereka sekali pun. Secara dzat, Allah sungguh tidak butuh pada mereka. Oleh karena itu, Allah
katakan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji, yaitu Allah-lah yang bersendirian, tidak butuh pada
makhluk-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah sungguh Maha Terpuji pada apa yang Dia perbuat dan
katakan, juga pada apa yang Dia takdirkan dan syariatkan.[2]
Seluruh makhluk sungguh sangat butuh pada Allah dalam berbagai hal.
Makhluk masih bisa terus hidup, itu karena karunia Allah.

Anggota badan mereka begitu kuat untuk menjalani aktivitas, itu pun karena pemberian Allah.

Mereka bisa mendapatkan makanan, rizki, nikmat lahir dan batin, itu pun karena kebaikan yang Allah beri.

Mereka bisa selamat dari berbagai musibah, kesulitan dan kesengsaraan, itu pun karena Allah yang menghilangkan itu semua.

Allah-lah yang memberikan mereka petunjuk dengan berbagai hal sehingga mereka pun bisa selamat.
Jadi, makhluk amatlah butuh pada Allah dalam penghambaan kepada-Nya, cinta kepada-Nya, ibadah kepada-
Nya, dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Seandainya mereka tidak melakukan penghambaan semacam ini,
niscaya mereka akan hancur, serta ruh, hati, dan kondisi mereka pun akan binasa. [3]
Di antara bentuk ghina Allah (tidak butuh pada makluk-Nya) adalah Allah tidak butuh pada ketaatan yang
dilakukan oleh orang yang taat. Tidak memudhorotkan Allah sama sekali jika hamba berbuat maksiat. Jika
seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini beriman, tidak akan menambah kerajaan-Nya sedikit pun juga.
Begitu pula jika seluruh makhluk yang ada di muka bumi kafir, tidak pula mengurangi kerajaan-Nya sedikit
pun.
Allah Taala berfirman,

Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendir. Dan
barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia. (QS. An Naml: 40)


Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Al
Ankabut: 6)


Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji. (QS. At Taghobun: 6)


Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka
Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim: 8)
Dalam hadits qudsi, Allah Taala berfirman,


Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan
jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah
kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian
manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan
mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. (HR. Muslim no. 2577)
Di antara bentuk ghina Allah (tidak butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah Allah tidak butuh pada infak
dari orang yang berinfak dan begitu pula Allah tidak mendapatkan bahaya jika ada orang yang pelit.
Allah Taala berfirman,


Dan siapa yang kikir, sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha
Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang butuh (kepada-Nya). (QS. Muhammad: 38)
Di antara bentuk ghina Allah (tidak butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah terbebasnya Allah dari
berbagai aib dan kekurangan. Barangsiapa yang menetapkan sifat tidak sempurna bagi Allah, maka itu berarti
telah mencacati sifat ghina Allah. Allah Taala berfirman,



Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: Allah mempuyai anak. Maha suci Allah; Dia-lah yang
Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. (QS. Yunus: 68)
Tidak ada yang sebanding dengan Allah dan tidak pula yang jadi tandingan bagi-Nya. Itulah
bentuk ghina Allah yang lain. Lantas bagaimana seseorang menyamakan makhluk yang fakir dengan Allah.
Bagaimana mungkin Allah yang ghoni Yang Maha Kaya disamakan dengan hamba. Allah Taala berfirman,




Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera
Maryam. Katakanlah: Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika
Dia hendak membinasakan Al masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada
di bumi kesemuanya?. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya;
Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Maidah:
17)
Di antara bentuk ghina Allah (tidak butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah hamba-Nya amat butuh
berdoa pada-Nya setiap saat. Allah pun berjanji untuk mengabulkannya. Allah pun memerintahkan hamba-Nya
untuk beribadah dan Allah janji akan memberikan ganjaran.
Barangsiapa yang mengetahui Allah memiliki sifat ghina (tidak butuh pada segala sesuatu selain Dia) , maka ia
akan mengenali dirinya yang fakir dan benar-benar butuh pada Allah. Jika hamba telah mengetahui bahwa ia
sangat fakir dan sangat butuh pada Allah, itu adalah tanda bahagia untuknya di dunia dan akhirat.[4]
Moga pelajaran ini bermanfaat dan membuahkan penyejuk hati bagi pembaca sekalian.
Wallahu waliyyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 22 Jumadal Ula 1432 H (25/04/2011)


www.rumaysho.com

[1] Tafsir Al Quran Al Azhim, 11/316.


[2] Idem
[3] Faedah dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 687.
[4] Disarikan dari Fiqh Al Asmail Husna, Abdurrozaq bin Abdil Muhsin Al Badr, hal. 217-220.

Sumber : https://rumaysho.com/1701-sangat-butuh-pada-allah.html