You are on page 1of 28

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material 1
Modul F Uji Impak
Oleh :
Nama : M. Fariz Akram
NIM : 13714006
Kelompok :3
Anggota (NIM) : 1. Anissa Isnaini (13714004)
2. M. Fariz Akram (13714006)
3. Abdul Mahfuzh (13714021)
4. Huda Diwang A. (13714033)
5. Fairuz Surya A. (13714042)
Tanggal Praktikum : 4 April 2016
Tanggal Penyerahan Laporan : 8 April 2016
Nama Asisten (NIM) : Adri Adhika (13712019)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material
Program Studi Teknik material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Uji impak dilakukan dengan menumbukkan beban ke spesimen, dapat dilihat
uji impak adalah salah satu metode pengujian material dengan adanya pembebanan
yang cepat. Uji impak digunakan untuk mendapatkan harga impak dan temperatur
transisi dari suatu material.
Pada awalnya uji impak dilakukan akibat adanya fenomena perubahan sifat
material dari material ulet menjadi material getas pada kapal – kapal ketika musim
dingin. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan sifat tersebut,
yaitu :
1. Triaxial state of stress
2. Temperature
3. High strain rate

Selain dari faktor – faktor diatas, masih ada lagi faktor yang mempengaruhi
material ulet untuk mengalami patah getas, seperti ukuran butir, struktur Kristal,
kandungan karbon, dan proses pengerjaan.

1.2 Tujuan Praktikum
1. Menentukan Harga Impak dari spesimen
2. Menentukan temperature transisi dari spesimen

BAB II

TEORI DASAR

Terdapat dua metode uji impak dengan notch. digunakan suatu notch atau takikan pada spesimen. dan penyerapan energy. penempatan spesimen.2. Kedua metode tersebut sudah diatur dalam ASTM E23 – 12C. letak takikan pada metode charpy berada ditengah – tengah spesimen dan pada metode izod tidak ditengah. metode izod Dapat dilihat dari kedua gambar diatas. metode charpy Gambar . Pada uji impak. Gambar – 2. Perbedaan dari dua metode tersebut adalah letak takikan.1. .2. yaitu metode charpy dan izod.

bila tidak ada takikan ketika diuji impak spesimen akan gagal tetapi retakannya akan menjalar tidak terkontrol. Peletakan spesimen pada metode Charpy dan Izod Perbedaan lain dari kedua metode tersebut adalah. ketika pada metode charpy energi akan terserap sepenuhnya oleh spesimen.3. Sedangkan pada metode izod. Kegunaan dari takikan pada uji impak ini adalah sebagai titik konsentrasi tegangan. . Pada puncak takikan akan ada triaxial state of stress.2. pada metode charpy spesimen diposisikan horizontal dan beban akan menumbuk sisi lain dari sisi yang sudah diberi takikan. Sedangkan pada metode izod spesimen diposisikan vertikal. bagian bawah dijepit oleh penjepit dan beban akan menumbuk sisi spesimen yang diberi takikan. penjepit spesimen pun juga akan ikut menyerap energi. Peletakan spesimen pun juga berbeda. Gambar .

Gambar triaxial state of stress Triaxial stress atau tegangan tiga sumbu akan muncul walaupun hanya mendapat beban dari satu sumbu. . Sedangkan ketika atom – atom diberi temperatur rendah akan cenderung diam. Ketika atom – atom diberi temperature tinggi.3 ketika salah satu dari kubus berpindah akibat dari adanya gaya luar maka yang lain akan mendapat aksi dan memberikan reaksi. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya patah getas pada material ulet adalah temperatur rendah. ketika diberi energy akan diserap dan mencegah terjadinya gagal. atom – atom tersebut akan bervibrasi yang artinya akan mudah untuk menyerap energi. Fenomena ini terjadi akibat adanya aksi reaksi dari potongan .4. Gambar – 2.potangan kubus di Gambar – 2. ketika diberi energi atom – atom tersebut akan kesulitan menyerap energi tersebut dan akan terjadi gagal.

NDT dan FATT.1. atom – atom dalam spesimen pun belum sempat mengalami dislokasi sehingga tidak terjadinya deformasi elastis dan langsung mengalami kegagalan. Grafik pengaruh suhu Faktor lainnya adalah strain rate yang tinggi. Kurva DBTT membandingkan besarnya Harga Impak dengan Temperatur. Setelah melakukan pengujian impak. Dari kurva DBTT akan didapatkan tiga hal. Grafik – 2. FATT (Fracture Appearance Transition Temperature) adalah dimana saat 50% patah ulet dan 50% patah getas. data diplot dikurva DBTT (Ductile to Brittle Temperature Transition). NDT (Nil Ductile Temperature) adalah dimana patahan yang terjadi 100% getas. yaitu FTP. . Ketika spesimen diberi strain rate yang tinggi. FTP (Fracture Transition Plastic) adalah dimana patahan yang terjadi 100% ulet.

sedangkan FCC tidak dapat mengalami fenomena ini. Grafik DBTT Selain dari tiga faktor utama penyebab terjadinya patah getas pada material ulet. Grafik – 2. .2. terdapat beberapa faktor lain. FCC memiliki bidang slip yang banyak sehingga ketika temperatur rendah pun diberi beban impak atom – atom masih bisa bergerak dan tidak mengalami patah getas. salah satunya adalah struktur kristal dari sampel. Patah getas terjadi ketika patahannya membelah butir bukan seperti patah ulet yang patahannya mengikuti batas butir. Hanya struktur kristal BCC saja yang dapat mengalami fenomena ini. BCC memiliki bidang slip yang sedikit karenya ketika pada temperatur rendah dan diberi beban impak atom – atom tidak sempat bergerak dan langsung mengalami kegagalan (patah getas).

Ketika spesimen memiliki kandungan karbon yang tinggi.3.4. Grafik – 2. Grafik – 2. maka material tersebut akan semakin getas dan harga impaknya mengecil. Dengan penambahan karbon temperatur transisi juga membesar. Grafik FCC dan BCC pada pengaruh suhu Faktor lainnya adalah kandungan karbon yang ada pada spesimen. Grafik pengaruh kandungan karbon .

pengaruh grain size terhadap temperatur transisi Faktor lainnya adalah arah butir spesimen terhadap arah pembebanan. Ketika arah pembebanan sejajar dengan arah butir spesimen maka Harga Impak akan lebih kecil dibandingkan dengan Harga Impak ketika arah pembebanan tegak lurus dengan arah butir spesimen. yaitu : . Semakin besar grain size.butir spesimen. Ketika arah pembebanan tegak lurus dengan arah butir spesimen.2.5. ada pula beberapa metode lainnya untuk menguji impak dengan spesimen yang berukuran lebih besar dengan ketebalan minimum 25 mm. Grafik . semakin besan grain size material akan semakin ulet. membutuhkan energi yang lebih untuk memecah butir . Selain dari 2 metode izod dan charpy yang sudah dijelaskan diatas. semakin tinggi pula temperatur transisinya. Grain size.

6.5. Explosion – crack starter test Gambar – 2. Pengujian Impak metode explosion crack starter  Drop weight test (DWT) Gambar – 2. Pengujian impak DWT .

7. Dynamic tear test (DT) Gambar – 2. Pengujian impak DT  Robertson crack – arrest test .

Gambar – 2. Pengujian impak Robertson Crack .8.Arrest .

2.92 8. BAB III DATA PERCOBAAN 3. Data percobaan spesimen alumunium Alumuniu Panjan Temp Energi Lebar Tebal h m g 1 40 19 62.91 9. Alumunium 1 .54 9.5 8.5 9.89 9.94 8.84 7.13 Tabel – 3.02 9.33 2 80 88 63.53 9.63 8.2 4 -40 5 61.77 9.18 9.9 8. Data percobaan spesimen baja Baja Temp Energi Panjang Lebar Tebal h 1 40 86 61.29 9.27 Gambar – 3.91 9.9 9.53 8.32 3 27.53 8.4 13 63.9 9.1.25 5 -20 5 62.64 5 -20 10 62 9.93 9.19 9.42 4 -40 23 62.08 2 80 50 62.1 Data Tabel – 3.92 8.5 9.94 3 27.41 9.1.94 8.9 9.52 9.4 44 61.18 9.

Alumunium 2 Gambar – 3.2. Alumunium 3 Gambar – 3.4. Alumunium 4 .3.Gambar – 3.

Gambar – 3. Baja 2 . Baja 1 Gambar – 3.6.5.7. Alumunium 5 Gambar – 3.

3. 8.Gambar – 3.10. Baja 3 Gambar – 3. Baja 4 Gambar . Baja 5 .9.

32 82.92 8.9 9.94 8.41 9.573 0.2 Pengolahan Data Energi HI = Luas Patahan A = Lebar spesimen × h Tabel – 3.5 9.92 8.24700 1 40 19 62.18 9.568 0. Hasil pengolahan data spesimen baja Panjan Baja Temp Energi Lebar Tebal h A HI g 1.54 9.91 9.13 3 9 .4 44 61.12728 5 -20 10 62 9.921 0.19 9.06115 4 -40 5 61.3.04284 1 40 86 61.2 81.89 9. Hasil pengolahan data spesimen alumunium Alumuniu Panjan Temp Energi Lebar Tebal h A HI m g 76.52 9.25 5 6 80.467 1 1.42 79.9 9.06205 5 -20 5 62.53 8.06837 2 80 88 63.18 9.757 0.64454 2 80 50 62.9 9.16252 82.9 8.02 9.91 9.94 8.29 9.339 0.93 9.64 2 2 0.53 9.33 82.63 8.94 8 8 3 27.5 9.3.54200 3 27.08 6 5 77.18 5 81.368 6 0.27 78.27933 4 -40 23 62.4.84 7.53 8.99 0.4 13 63.77 9.565 3 Tabel – 3.5 8.

Grafik Kurva HI terhadap Temperatur Baja dan Alumuium .8 HI (MPa) 0. Kurva HI .4 0.2 0 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 Temperatur (oC) Baja Alumunium Grafik – 3.Temperatur Baja & Alumunium 1.6 0.2 1 0.1.

2 0 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 Temperatur (oC) Baja Alumunium Grafik – 4. kurva HI – Temperatur Baja dan Alumunium Dapat dilihat pada grafik diatas.2 1 0. Alumunium memiliki struktur kristal FCC.6 0. terdapat kemiringan yang cukup tajam pada grafik perbandingan HI terhadap temperature yang menandakan adanya temperatur transisi.Temperatur Baja & Alumunium 1. Baja memiliki temperature transisi akibat baja memiliki struktur kristal BCC.4 0. dimana FCC tidak mengalami fenomena patah getas pada material ulet. Kurva HI . BAB IV ANALISIS DATA Dari hasil pengolahan data didapatkan kurva perbandingan Harga Impak terhadap temperatur dari baja dan alumunium.8 HI (MPa) 0. Baja memiliki temperature transisi dari -20oC sampai 40oC.1. Pada material yang memiliki struktur kristal FCC tidak mengalami fonemena tersebut akibat pada FCC terdapat banyak bidang slip untuk atom berpindah sehingga dapat terjadinya deformasi plastis yang menyebabkan pada Alumunium akan mengalami patah ulet saat diberi beban impak. Sedangkan untuk alumunium dapat dilihat tidak memiliki temperature transisi. .

1 dibandingkan dengan Grafik – 4. material pun akan semakin ulet.2 dapat disimpulakn bahwa spesimen yang digunakan adalah baja dengan kandungan karbon rendah akibat memiliki kemiringan yang cukup tajam. Maka dapat disimpulkan bahwa spesimen bersifat ulet. untuk memecahkan es juga akan menyerap energi sehingga energi yang terserap dibaca lebih dari yang seharusnya.2. Dengan semakin rendahnya kandungan karbon. Ketika melakukan pengujian impak. Kemungkinan lain juga karena ketika diuji suhu . yang diberi perlakuan didinginkan hingga temperature -20oC ketika setelah pengujian menghasilkan energy yang terserap sebesar 10J. Sedangkan ketika spesimen alumunium 5. dihasilkan energi yang terserap sebesar 23J. spesimen diberi perlakuan didinginkan hingga temperatur -40oC. Seharusnya secara teori. suhu yang lebih rendah akan membutuhkan energi yang lebih sedikit. Grafik – 4. Kejanggalan ini terjadi karena ketika spesimen di uji masih terbalut dengan es – es akibat proses pendinginan yang telah dikerjakan. Grafik pengaruh kandungan karbon Ketika Grafik – 4. Pada spesimen alumunium 4. tetapi pada percobaan uji impak pada tanggal 4 April 2016 tidak sesuai dengan teori.

6) dan baja 2 (gambar 3. ketika temperatur dinaikkan maka material akan lebih ulet.tidak benar 40oC karena ketika keluar dari es.6. dan 3.7) spesimen dipanaskan.5 (berisi gambar spesimen alumunium) terjadi patah ulet. Pada baja 3 (gambar 3. Pada baja 4 (gambar 9) dan baja 5 (gambar 10) spesimen didinginkan dan mengalami patah getas akibat ketika temperatur diturunkan akan menghasilkan fenomena patah getas pada material ulet.7. Ketika pada material baja 1 (gambar 3. Pada spesimen baja gambar 3. temperature spesimen akan naik dengan sangat cepat sehingga temperatur sudah naik melebihi -20oC. 3. disimpulkan bahwa dari gambar 3. Karena alumunium memiliki struktur kristal FCC yang tidak mengalami fenomena patah getas pada material ulet.1 sampai gambar 3.8) spesimen pada temperatur kamar.8 mengalami patah ulet. spesimen mengalami patah ulet karena spesimen memiliki kadar karbon yang rendah. . Setelah menganalisa hasil patahan spesimen.

Kesimpulan  Harga Impak dari spesimen Baja Alumunium Temp HI Temp HI 0.061 0.247 40 40 841 005 1.4 005 52 1. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1.042 0.644 80 80 376 548  Temperatur transisi dari baja adalah -20oC sampai 40oC.4 27.542 0. Proses pemanasan spesimen kalau bisa dilakukan lebih dahulu dibandingkan pengujiannya agar ketika pengujian impak spesimen sudah siap di uji.068 0.062 0.162 27.279 -40 -40 156 332 0. . Sedangkan Alumunium tidak memiliki temperatur transisi 2. Saran Kalau masih ada ruangan lain yang masih kosong tolong usahakan dipisah dari kelompok lain agar lebih kondusif.127 -20 -20 059 283 0.

E.html Dibuka tanggal 5 April 2016 jam 1. Materials and Science Engineering An Introduction. UK : Mc Graw- Hill Book Co. G.co. p.id/2011/01/impact-testing-uji-impak. New York : John Wiley & Sons. 250-254 Dieter. 6th edition. Inc. 1998. DAFTAR PUSTAKA Callister.blogspot. 471-479 http://dedekpajrikoto. Mechanical Metallurgy.p. SI Metric Edition. William D.13 . 2003.

Tugas Setelah Praktikum 1.8 HI (MPa) 0.4 0.5 0.2 1 0.6 0.3 0.2 0 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 Temperatur (oC) Kurva HI terhadap Temperatur Alumunium 0. Buatlah kurva yang menghubungkan antara temperatur dengan energy yang diserap oleh spesimen. baik alumunium dan baja secara digital! Jawaban : Kurva HI terhadap Temperatur Baja 1.2 0.6 0.1 0 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 Temperature (oC) . LAMPIRAN A.4 HI 0.7 0.

Tentukan temperature transisi dari kedua material tersebut! Apakah kegunaan dari temperature transisi suatu material? Jelaskan dengan baik dan tepat! Jawaban :  Temperatur transisi dari baja adalah -20oC sampai 40oC sedangkan alumunium tidak memiliki temperatur transisi  Kegunaan temperatur transisi untuk mengetahui pada temperatur berapa material akan berubah dari ulet menjadi getas.7.8) spesimen pada temperatur kamar.1 sampai gambar 3. Pada baja 3 (gambar 3. spesimen mengalami patah ulet karena spesimen memiliki kadar karbon yang rendah. 3. dan 3.6. .5 (berisi gambar spesimen alumunium) terjadi patah ulet. Buatlah analisis mengenai bentuk permukaan patahan untuk semua spesimen Jawaban : Setelah menganalisa hasil patahan spesimen.8 mengalami patah ulet. ketika temperatur dinaikkan maka material akan lebih ulet.2. hal ini lah yang dibutuhkan dalam perancangan pembuatan barang 3. Pada baja 4 (gambar 9) dan baja 5 (gambar 10) spesimen didinginkan dan mengalami patah getas akibat ketika temperatur diturunkan akan menghasilkan fenomena patah getas pada material ulet. Pada spesimen baja gambar 3.6) dan baja 2 (gambar 3. Karena alumunium memiliki struktur kristal FCC yang tidak mengalami fenomena patah getas pada material ulet. disimpulkan bahwa dari gambar 3.7) spesimen dipanaskan. Ketika pada material baja 1 (gambar 3.

Pengujian impak DWT .B. Tugas Tambahan 1.5. Pengujian Impak metode explosion crack starter  Drop weight test (DWT) Gambar – 2.6. Jelaskan metode pengujian impak selain metode charpy dan izod! Jawaban :  Explosion – crack starter test Gambar – 2.

Pengujian impak DT  Robertson crack – arrest test . Dynamic tear test (DT) Gambar – 2.7.

Pengujian impak Robertson Crack . Jelaskan FCC dan BCC! Jawaban : Hanya struktur kristal BCC saja yang dapat mengalami fenomena ini. FCC memiliki bidang slip yang banyak sehingga ketika temperatur rendah pun diberi beban impak atom – atom masih bisa bergerak dan tidak mengalami patah getas. sedangkan FCC tidak dapat mengalami fenomena ini. Apa yang dimaksud dengan temperature transisi? Jawaban : Range temperatur dimana suatu material mengalami perubahan jenis patahan 3. . BCC memiliki bidang slip yang sedikit karenya ketika pada temperatur rendah dan diberi beban impak atom – atom tidak sempat bergerak dan langsung mengalami kegagalan (patah getas). Patah getas terjadi ketika patahannya membelah butir bukan seperti patah ulet yang patahannya mengikuti batas butir.Arrest 2. Gambar – 2.8.