You are on page 1of 21

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sumberdaya Batubara

Menurut standar nasional Indonesia (SNI 5015 : 2011) yang dimaksud dengan endapan
batubara (coal deposit) adalah endapan yang mengandung hasil akumulasi material organic
yang berasal dari bekas tumbuhan yang telah melalui proses penggambutan dan
pembatubaraan, litifikasi untuk membentuk lapisan batubara. Material tersebut telah
mengalami kompaksi, ubahan kimia dan proses metamorfosis oleh peningkatan panas dan
tekanan selama periode geologis. Bahan bahan organic yang terkandung dalam lapisan
batubara tersebut, termasuk kandungan lengas bawaan lebih dari 70%.

Sumber daya batubara (Coal Resources) adalah bagian dari endapan batubara yang
diharapkan dapat dimanfaatkan. Sumber daya batu bara ini dibagi dalam kelas-kelas sumber
daya berdasarkan tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi
geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi. Sumberdaya ini
dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian kelayakan dinyatakan
layak.

Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah
diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan
dinyatakan layak untuk ditambang.

2.2 Klasifikasi sumber daya dan cadangan batubara

Klasifikasi sumberdaya batubara merupakan pengelompokan batubara yang didasarkan atas
tingkat keyakinan geologi dan kelayakan ekonomi, sehingga pada akhirnya diperoleh kelas-
kelas sumberdaya batubara sebagai berikut.

 Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)
Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian
dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-
syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau.

Sejumlah kelas sumber daya yang belum ditemukan yang sama dengan cadangan
batubara yg diharapkan mungkin ada di daerah atau wilayah batubara yang sama
dibawah kondisi geologi atau perluasan dari sumberdaya batubara tereka. Pada
umumnya, sumberdaya berada pada daerah dimana titik-titik sampling dan
pengukuran serat bukti untuk ketebalan dan keberadaan batubara diambil dari distant
outcrops, pertambangan, lubang-lubang galian, serta sumur-sumur. Jika eksplorasi
menyatakan bahwa kebenaran dari hipotesis sumberdaya dan mengungkapkan
informasi yg cukup tentang kualitasnya, jumlah serta rank, maka mereka akan di
klasifikasikan kembali sebagai sumber daya teridentifikasi (identified resources).

 Sumber Daya Batubara Tereka (inferred Coal Resource)

Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau
bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi
syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi.
Titik pengamatan mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga penilaian dari sumber
daya tidak dapat diandalkan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi
ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan
sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 1,2 km – 4,8 km. termasuk
antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan
ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm atau lebih.

 Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource)

Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau
bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi
syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan.
Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk melakukan penafsiran secara
relistik dari ketebalan, kualitas, kedalaman, dan jumlah insitu batubara dan dengan
alasan sumber daya yang ditafsir tidak akan mempunyai variasi yang cukup besar jika
eksplorasi yang lebih detail dilakukan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari
proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran
dan sampling berdasarkan bukti gteologi dalam daerah antara 0,4 km – 1,2 km.

Gambar 1. kedalaman. 1996) . yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat– syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam radius 0. rank. dan jumlah batubara insitu. sib bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih.  Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced) Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah peyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan. Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk diandalkan untuk melakukan penafsiran ketebalan batubara. sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup.4 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih. Termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih. kualitas.1 Hubungan antara sumberdaya dan cadangan (Australian Code for ReportingIdentified Resources and Reserves. lignit dengan ketebalan 150 cm. lignit dengan ketebalan 150 cm.

pada tahapan ini diharapkan telah dapat dikuantifikasi jumlah batubara yang realistis dan layak yang dapat diperoleh melalui penambangan dengan metoda & sistem penambangan yang dipilih sesuai dengan model sumberdaya yang telah diketahui. Beberapa pengertian/definisi dasar yang berhubungan dengan evaluasi cadangan batubara (diadopsi dari : geological survey circular 891. 1983) adalah :  Coal (batubara) : suatu batuan yang dapat terbakar yang tersusun lebih dari 50% berat (lebih dari 70% volume) material karbonan (carbonaceous). termasuk inherent moisture yang terbentuk material (bagian) tumbuhan yang telah mengalami kompaksi. Secara umum. perubahan fisik- kimia oleh panas & tekanan dalam skala waktu geologi.  Impure coal (coaly) : suatu batubara (coal) yang mengandung lebih dari 33% berat abu dan dapat diasosiasikan sebagai parting dalam suatu lapisan (seam) batubara. . Pada tahapan ini mulai diterapkan (diidentifikasikan) batasan-batasan teknis maupun ekonomis yang dapat menjadi pembatas dari model sumberdaya batubara yang telah diterapkan (dimodelkan) sebelumnya.  Bone coal (bone) : impure coal yang mengandung banyak lempung atau material-material detrital berukuran halus dan kadang-kadang dikonotasikan dengan istilah silty coal atau shally coal atausandy coal. aspek-aspek penting yang akan diuraikan & dipelajari adalah sebagai berikut :  Penentuan & pemilihan pit potensial  Konsep nisbah kupas (stripping ratio)  Faktor-faktor pembatas dan losses  Metode-metode perhitungan cadangan batubara  Konsep optimasi jumlah cadangan tertambang.  Recoverable coal : batubara yang dapat/bisa diekstrak dari suatu lapisan batubara pada saat penambangan.3 Aspek-Aspek Dalam Evaluasi Cadangan Evaluasi cadangan batubara ini merupakan pekerjaan (tahap) lanjutan dari hasil Pemodelan Sumberdaya Batubara. 2.  High sulfur coal : batubara yang mengandung lebih dari 3% sulfur dalam basis as-received. Selain itu. Term “Recoverable” ini biasanya dikombinasikan dengan sumberdaya (resources) bukan dengan cadangan (reserve).  Coal bed (seam) : seluruh lapisan (batubara dan parting) yang terdapat diantara batas roof (atap) dan floor (lantai).  High ash coal : batubara yang mengandung lebih dari 15% abu dalam basis as-received.

. serta evaluasi cadangan. Pengukuran tebal dilakukan pada daerah yang diketahui mengalami erosi bidang pada roof/floor lapisan batubara. Suatu penentuan ketebalan batubara belum dapat dikatakan komplit (valid) jika : a. Pengukuran tebal dilakukan pada suatu singkapan batubara yang lapuk (tidak segar). Konsep dalam pengkorelasian batubara. c. serta kebijakan pemerintah yang diterapkan. dengan telah mempertimbangkan faktor lingkungan. Tingkat ketelitian (detil) dalam mengidentifikasikan struktur geologi.  biaya (cost) penambangan. Untuk ketebalan.Derajat kelayakan ekonomis suatu pembukaan tambang batubara dipengaruhi oleh :  ketebalan lapisan batubara & overburden. .Jarak antar titik informasi. b. e. Pengukuran tebal dilakukan dengan cara membuat channel pada suatu lapisan batubara.  rank dan kualitas batubara. penyebaran lapisan batubara. c. beberapa catatan khusus yang perlu diperhatikan adalah : .  serta perkiraan (target) keuntungan.  perkiraan harga jual batubara.Tingkat keyakinan geologi terhadap model sumberdaya yang dikonstruksi : a. hukum & perundang-undangan serta peraturan yang berlaku (legalitas).  Mineable coal : kapasitas (jumlah) cadangan batubara yang dapat ditambang (tertambang) pada kondisi teknologi penambangan sekarang. Pengukuran tebal dilakukan pada titik bor yang tidak menembus dengan baik roof & floor lapisan batubara. d. Pengukuran tebal dilakukan pada singkapan dimana batuan disekitarnya memperlihatkan gejala slumping. . namun diketahui lapisan tersebut telah mengalami perubahan letak (perpindahan) atau pada bongkah. b.

untuk mengetahui pola kemenerusan lapisan batubara. pola sebaran & kemenerusan lapisan batubara. Secara umum. 2. . . Penentuan pit potensial ini diperlukan untuk dapat memperkirakan/memprediksi suatu areal sumberdaya batubara yang potensial untuk nantinya akan dikembangkan menjadi suatu lokasi pit penambangan. Peta iso-overburden secara umum (gamblang) dapat menggambarkan (merefleksikan) kondisi sebaran batubara terhadap variasi topografi pada areal tertentu.4 Penentuan dan Pemilihan Pit Penentuan & pemilihan pit potensial merupakan sebagai langkah awal dalam melakukan evaluasi cadangan batubara. Peta iso-ketebalan : untuk mengetahui variasi ketebalan dari batubara. Peta geologi lokal : untuk mengetahui variasi litologi. Stripping Ratio (SR) didefinisikan sebagai “Perbandingan jumlah volume tanah penutup yang harus dipindahkan untuk . Langkah awal yang dilakukan untuk penentuan pit potensial ini adalah membuat (mengkonstruksi) peta iso-overburden. Nilai kontur pada peta iso- overburden merupakan refleksi dari ketebalan overburden. Data-data awal yang diperlukan merupakan data-data yang diperoleh/dihasilkan pada saat melakukan model sumberdaya. Peta topografi : untuk mengetahui (melihat) variasi topografi (terutama daerah tinggian – lembah). sehingga jika disyaratkan ketebalan minimum yang akan dihitung.5 Konsep Nisbah Kupas (Stripping Ratio) Ketebalan lapisan batubara dan ketebalan tanah penutup (overburden) merupakan faktor utama yang mengontrol kelayakan suatu pembukaan tambang batubara. serta pola struktur geologi. Peta elevasi top (atap / roof) batubara . yaitu dengan cara melakukan overlay antara peta struktur roof (elevasi top) batubara dengan peta topografi. maka peta ini dapat digunakan sebagai faktor pembatas. 2. yaitu . Pengetahuan jumlah (kuantitas) batubara dan jumlah batuan penutup yang harus dipindahkan untuk mendapatkan perunit batubara sesuai dengan metoda penambangan merupakan konsep dasar dari Nisbah Kupas (Stripping Ratio). .

Tonase batubara dengan ketebalan overburden 30 – 60 m. c.5 m dengan kedalaman maksimum 300 m. . Untuk batubara antrasit & bituminous : ketebalan minimum adalah 70 cm dengan kedalaman maksimum 300 m. Untuk lignit : ketebalan minimum adalah 1. Recovery factor : suatu angka yang menyatakan perolehan batubara yang dapat ditambang (dengan metoda stip mining. ada beberapa konsep mendasar yang dapat dipahami. Kedalaman maksimum ini telah memasukkan pertimbangan jika penambangan diteruskan dengan metoda penambangan bawah tanah. Tonase batubara dengan ketebalan overburden 60 – 150 m. atau underground mining) terhadap jumlah cadangan yang telah diperhitungkan sebelumnya. mendapatkan satu ton batubara”. Ketebalan batubara minimum yang dapat diperhitungkan sebagai cadangan : . Dalam pemodelan sumberdaya. adalah : .Faktor rank. b. nilai kalori. . faktor ini dapat direfleksikan sebagai dasar untuk perhitungan (penaksiran) jumlah cadangan batubara. kualitas. dan harga jual menjadi sangat penting dalam perumusan nilai Stripping Ratio. .5 m dengan kedalaman maksimum 150 m. . Untuk batubara sub-bituminous : ketebalan minimum adalah 1.. antara lain : a. adalah : . Beberapa parameter ekonomi yang diperlukan untuk penentuan stripping ratio yang masih ekonomis (Break Even Stripping Ratio). Tonase batubara dengan ketebalan overburden 0 – 30 m. Interval ketebalan overburden yang disarankan untuk pelaporan perhitungan cadangan. Batubara dengan harga jual yang tinggi akan memberikan Nisbah Kupas yang lebih baik daripada batubara dengan harga jual yang rendah. 1983. Dalam Geological Survei Circular 891. auger mining.

Maksimum kandungan abu. . Maksimum stripping ratio. Batasan alamiah – geografis. 2. Beberapa faktor losses adalah : . maupun pada saat pengkorelasian lapisan batubara. bahwa tidak mungkin akan diperoleh cadangan tertambang 100% dari cadangan insitu. maka ada 2 (dua) faktor utama yang harus dikuantifikasi. Faktor-faktor pembatas suatu cadangan . . .6 Faktor-Faktor Pembatas Dalam Penentuan Cadangan Tertambang Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. parting. yaitu Faktor Pembatas Cadangan dan Faktor Losses. yaitu sesuai dengan standar pasar yang akan dimasuki. Faktor Losses Yaitu faktor-faktor kehilangan cadangan akibat tingkat keyakinan geologi maupun akibat teknis penambangan. hal ini akan berhubungan dengan teknologi penambangan dan nilai stripping ratio. yaitu kalau diperkirakan akan dilakukan proses pencucian. hal ini berhubungan dengan teknik penambangan & stripping ratio. dll. seperti adanya sungai besar. . Geological Losses. Maksimum kemiringan lapisan batubara. b. Minimum ketebalan lapisan batubara. atau adanya suatu areal tertentu yang tidak mungkin dipindahkan. Batasan alamiah – geologi. . . seperti adanya sesar. intrusi. maksimum ketebalan tanah penutup. yaitu berhubungan dengan batasanbatasan geologi. daerah konservasi alam. yaitu faktor kehilangan akibat adanya variasi ketebalan. . Minimum (%) yield proses untuk mendapatkan batubara bersih. Maksimum kandungan sulfur. dimana akan terjadi dilution sepanjang tahap penambangan. atau adanya jalan negara. . yaitu sesuai dengan standar pasar yang akan dimasuki. a. Sebelum mulai menghitung suatu nilai cadangan tertambang. hal ini berhubungan dengan nilai stripping ratio. yaitu berhubungan dengan batasanbatasan alam yang harus diperhatikan. hal ini berhubungan dengan nilai atau tingkat kelayakan penambangan.

dan jika ketebalan lapisan adalah 5 m maka Mining Losses = 4%.Namun dapat juga dengan memperhatikan pola variasi ketebalan batubara.. yaitu faktor kehilangan (recovey/yield) akibat diterapkannya metoda pencucian batubara atau kehilangan pada proses lanjut di Stockpile. atau standard error b. seperti faktor alat. sedangkan untuk tambang bawah tanah digunakan mining losses sebesar 40-50% yaitu (metoda Long Wall mempunyai Recovery 60-70%. Jika ketebalan lapisan hanya 1 m. maka Mining Losses = 20%. Mining Losses Secara umum. metoda Room & Pillar mempunyai Recovery 50-60%). Sedangkan faktor- faktor losses diterapkan pada saat proses perhitungan cadangan. sedangkan jika ketebalan lapisan adalah 2 m maka Mining Losses = 10%. kadang-kadang juga digunakan pendekatan ketebalan lapisan yang akan ditinggalkan. a. yaitu 10 cm pada roof & 10 cm pada floor. Mining Losses. sangat tergantung pada hasil uji ketercucian (washability test). . dimana harga perolehan (yield) ditentukan dari hasil uji tersebut. langsung diambil nilai umum yaitu 5 .10%. yaitu faktor kehilangan akibat teknis penambangan.. faktor safety. Parameter statistik yang dapat digunakan adalah : . Dalam penerapannya. Berikut akan diuraikan contoh cara pengkuantifikasian faktor losses tersebut.Processing Losses (yield). untuk auger mining digunakan mining losses sebesar 60-70% (atau Recovery 30-40% sesuai dengan spesifikasi perlatannya). Geological Losses . Untuk metoda Strip Mining (open pit). koefisien variasi. dan dapat dikuantifikasi besar nilai losses tersebut. . untuk metoda Strip Mining digunakan mining losses sebesar 10%. yaitu dengan bantuan analisis statistik. faktor- faktor pembatas tersebut akan menjadi Pit Limit dalam panambangan. dll. Faktor-faktor pembatas pada umumnya sudah cukup jelas. . . Processing Losses.Biasanya untuk kemudahan. standard deviasi..

2. perhitungan cadangan dengan menggunakan metoda penampang ini adalah mengkuantifikasikan cadangan pada suatu areal dengan membuat penampang- penampang yang representatif dan dapat mewakili model endapan pada daerah tersebut. Jika penampang tunggal tersebut merupakan penampang korelasi lubang bor. Volume batubara & overburden dapat diketahui dengan mengalikan luas terhadap jarak pengaruh penampang tersebut. Untuk tujuan praktis. atau 3 (tiga) penampang. atau juga dengan rangkaian banyak penampang: a. Dengan menggunakan 1 (satu) penampang Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa 1 penampang mempunyai daerah pengaruh hanya terhadap penampang yang dihitung saja. . Perhitungan volume tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan 1 (satu) penampang. Volume = (A x d1) + (A x d2) dimana : A = luas overburden d1 = jarak pengaruh penampang ke arah 1 d2 = jarak pengaruh penampang ke arah 2 Volume yang dihitung merupakan volume pada areal pengaruh penampang tersebut.7 Perhitungan Cadangan Batubara Batubara merupakan endapan dengan tingkat homogenitas yang tinggi. Pada masing-masing penampang akan diperoleh (diketahui) luas batubara dan luas overburden.  Perhitungan Cadangan Dengan Metode Penampang Pada prinsipnya. atau 2 (dua) penampang. maka akan merefleksikan suatu bentuk poligon dengan jarak pengaruh penampang sesuai dengan daerah pengaruh titik bor (poligon) tersebut. maka untuk perhitungan cadangan dapat diterapkan metoda konvensional (klasik) dengan tingkat ketelitian yang cukup baik. metoda penampang dapat diterapkan untuk perhitungan jumlah cadangan tertambang.

 Metode USGS 1984 Data yang digunakan dalam penghitungan hanya berupa data singkapan. dimana A1 dan A2 adalah luasan penampang 1 & 2. b. Dengan menggunakan 3 (tiga) penampang Metoda 3 (tiga) penampang ini digunakan jika diketahui adanya variasi (kontras) pada areal di antara 2 (dua) penampang. dan d adalah jarak antar penampang. maka metode yang digunakan untuk penghitungan sumber daya daerah penelitian adalah metode Circular (USGS) (Gambar 2. c. Jika tidak terlalu berbeda. Yang perlu diperhatikan adalah variasi (perbedaan) dimensi antara kedua penampang tersebut. Untuk menghitungnya digunakan rumus prismoida dimana A1 & A3 adalah luas penampang 1 & 3. Dengan menggunakan 2 (dua) penampang Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa volume dihitung pada areal di antara 2 penampang tersebut. A2 adalah luas penampang antara. maka perlu ditambahkan penampang antara untuk mereduksi kesalahan.6) . tetapi jika perbedaannya terlalu besar maka digunakan rumus obelisk. maka dapat digunakan rumus mean area & rumus kerucut terpancung.

Kemiringan 00 – 100 Perhitungan Tonase dilakukan langsung dengan menggunakan rumus Tonnase = ketebalan batubara x berat jenis batubara x area batubara 2. maka perhitungan dilakukan secara terpisah. feet. Bila lapisan batubara memiliki kemiringan yang berbeda-beda. Gambar 2.2 Aturan Penghitungan Sumberdaya Batubara dengan Metode Circular (USGS) (Woodet al. cm atau meter B = berat batubara per stuan volume yang sesuai atau metric ton. 1983) Penghitungan sumber daya batubara menurut USGS dapat dihitung dengan rumus Tonnase batubara = A x B x C. Kemiringan 100 – 300 Untuk kemiringan 100 – 300. C = area batubara dalam acre atau hektar Kemiringan lapisan batubara juga memberikan pengaruh dalam perhitungan sumber daya batubara. 1. 3. Kemiringan > 300 . dimana: A = bobot ketebalan rata-rata batubara dalam inci.. tonase batubara harus dibagi dengan nilai cosinus kemiringan lapisan batubara.

lebar mineflor. . Untuk kemiringan > 300. pembuatan peta kualitas batubara (kalori. processing recovery. selanjutnya didapatkan tonase dari batubara dengan mengkalikan volume dengan berat jenis batubara. geogicall loose. yang diperoleh dari rata-rata (mean) luas area dikalikan dengan jarak penampang. perhitungan cadangan yang meliputi : pembuatan sayatan. dan processeding recovery. pembuatan iso struktur top dan bottom batubara. data kualitas batubara. geologi lokal. Metode mean area ini terdiri dari beberapa langkah yang harus dilakukan. Perhitungan volume batubara dan overburden menggunakan metode mean area. peta geologi daerah penelitian skala 1 : 100000. mining recovery. sulfur dan ash). pembuatan penampang. perhitungan tonase serta striping ratio. mining recovery. tonase batubara dikali dengan nilai cosinus kemiringan lapisan batubara. Pembuatan garis sayatan dan penampang sayatan menggunakan bantuan software autocad land development dimana jarak tiap penampang 20 m. striping ratio. pembuatan cropline. Sehingga diperoleh nilai dari Striping ratio yaitu perbandingan antara volume overburden dengan cadangan batubara. penentuan kedudukan batubara. Sedangkan data sekunder berupa : peta topografi skala 1 : 4000.  Metode Mean Area Metode ini memerlukan data primer berupa: data titik bor.overallslope. faktor geologi. yaitu dengan mencari volume dari batubara. meliputi: pembuatan penampang log bor.

..3 Penampang menggunakan metode Mean Area  Metode Cross Section Masih sering dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari perhitungan..........4 Sketsa topografi metode isoline ...... Hasil perhitungan secara manual ini dapat dipakai sebagai alat pembanding untuk mengecek hasil perhitungan yang lebih canggih dengan menggunakan komputer. Rumus prismoida : V = (S1 + 4M + S2) L . Gambar 2......... 6 Keterangan : S1.. Gambar 2...S2 = Luas penampang ujung M = Luas penampang tengah L = Jarak antara S1 dan S2 V = Volume  Metode Isoline (Metode Kontur) Metoda ini dipakai untuk digunakan pada endapan batubara dimana ketebalan dan kadar mengecil dari tengah ke tepi endapan..............

Totok Darijanto. kemudian mempergunakan prosedur-prosedur yang umum dikenal. Bila kondisi mineralisasi tidak teratur maka akan muncul masalah. dan keseluruhan variable acak dalam daerah yang dianalisis tersebut akan membentuk suatu fungsi acak dengan menggunakan model struktural variogram atau kovariogram (Dr.  Metode Krigging Kriging yaitu suatu teknik perhitungan untuk estimasi atau simulasi dari suatu variabel terregional (regionalized variable) yang memakai pendekatan bahwa data yang dianalisis dianggap sebagai suatu realisasi dari suatu variabel acak (random variable). Hal ini dapat dijelaskan melalui contoh berikut ini (Seimahura. kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. Rukmana Nugraha Adhi. Volume dapat dihitung dengan cara menghitung luas daerah yang terdapat di dalam batas kontur.G Krige yang telah banyak memikirkan hal tersebut sejak tahun 50an. (Dr. go = kadar minimum dari batubara g = interval kadar yang konstan antara dua kontur Ao = luas endapan dengan kadar go dan lebih tinggi A1 = luas endapan batubara dengan kadar go + g dan lebih tinggi A2 = luas endapan batubara dengan kadar go + 2g dan lebih tinggi. Ir. dst. Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan . 1998). kemudian mengadakan weighting dari masing-masing luas daerah dengan contour grade. Secara sederhana. Kriging adalah penaksiran geostatistik linier tak bias yang paling bagus untuk mengestimasi kadar blok karena menghasilkan varians estimasi minimum ’ BLUE (Best Linier Unbiased Estimator). Ir. Kadar rata-rata dapat dihitung dengan cara membuat peta kontur. 2003). Kriging diambil dari nama seorang pakar geostatistik dari Afrika Selatan yaitu D. 1998).

Perubahan kimiawi dan fisika . Hal ini sangat bermanfaat jika dilakukan pada penentuan cadangan- cadangan yang mineable dengan kadar-kadar di atas cut off grade. utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan.8 PROSES TERBENTUKNYA BARUBARA Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Perhitungan dengan metoda kriging ini kadang-kadang terlalu kompleks untuk suatu komoditi tertentu. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon. hidrogen dan oksigen. Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran. Proses awalnya gambut berubah menjadi lignite (batu bara muda) atau ‘brown coal (batu bara coklat)’ – Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. yang disebut sebagai ‘maturitas organik’. Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) – dikenal sebagai zaman batu bara pertama – yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti : C 137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit. 2. Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan. Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi conto di sekitar blok serta model variogramnya. kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan. dalam penaksiran. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun. Dibandingkan dengan batu bara jenis lainnya. Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi contoh di sekitar blok serta model variogramnya. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar. Secara sederhana. batu bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batu bara ‘sub-bitumen’. terbentuk dari endapan organik.

Dalam kondisi yang tepat. c. tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut. penigkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit. yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa. clan metana (CH4). Pembusukan. Pengendapan.terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk ‘bitumen’ atau ‘antrasit’. kimia. proses pembentukan batu bara dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Tahap Diagenetik atau Biokimia. yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (C02).9 PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. b. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair. maupun geologi. d. dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Geotektonik. misalnya rawa-rawa. karbonmonoksida (CO). Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika. Secara lebih rinci. b. Selain itu gaya . Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air. yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit. Secara ringkas ada 2 tahap proses pembatubaraan yang terjadi yakni: a. dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan patahan. 2. Dekomposisi. dan pati. Tahap Malihan atau Geokimia. Oleh karena itu. batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. protoplasma.

pembakaran batu gamping. Erosi. panas dan waktu. dan industri semen b. dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Dengan adanya tektonik setting tertentu. batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas : Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini. proses pembuatan elektroda listrik. dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus. e. dan untuk pembuatan briket tanpa asap. berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.10 JENIS – JENIS BATUBARA Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan. Biasanya digunakan untuk proses sintering bijih mineral. Gambut. Bituminus mengandung 68-86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. pembakaran umum seperti pada industri bata atau genteng. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma. banyak digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air. 2. maka zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat. . batubara metalurgi (metallurgical coal atau coking coal) digunakan untuk keperluan industri besi dan baja serta industri kimia. yang akan mengubah batubara low grade menjadi high grade. Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya. mengandung antara 86%-98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%. yaitu : a. batubara ketel uap atau batubara termal atau yang disebut steam coal. dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik. Dan batubara ini masih dibedakan menjadi dua.

2. merupakan turunan dari alga. dari Zaman Silur hingga Devon Tengah. jantan dan betina dalam satu bunga. Angiospermae. Sangat sedikit endapan batubara dari perioda ini. Proses dekomposisi. yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan topografi tertentu. secara umum. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. semisal pinus.12 FAKTOR-FAKTOR DALAM PEMBENTUKAN BATUBARA Faktor-Faktor dalam pembentukan batubara sangat berpengaruh terhadap bentuk maupun kualitas dari lapisan batubara. sisa tumbuhan yang terendapkan akan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia. biji terbungkus dalam buah. yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu. b. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan batubara adalah : a. Sedikit endapan batubara dari perioda ini.11 MATERI PEMBENTUK BATUBARA Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Material dasar. umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Pteridofita. berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.2. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia. Dalam proses ini. dari Zaman Kapur Atas hingga kini. India dan Afrika. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut: a. buah yang menutupi biji. Jenis tumbuhan modern. kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Gimnospermae. mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari batubara yang terbentuk. yakni proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk batubara menjadi batubara. Silofita. Alga. kurang dapat terawetkan. kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji. Tumbuhan heteroseksual. .

Teori In-situ : Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan dimana batubara tersebut terbentuk. langsung tenggelam ke dalam rawa tersebut. Struktur dari lapisan batubara tersebut. sehingga pohon-pohon di hutan tersebut pada saat mati dan roboh. mempunyai ciri-ciri lapisan batubara tipis. dan sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami pembusukan secara sempurna. maka proses dekomposisi yang terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang tinggi. yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan batubara dari : e. g. . banyak lapisannya (multiple seam). Umur geologi. yakni bentuk cekungan stabil. Batubara yang terbentuk sesuai dengan teori in-situ biasanya terjadi di hutan basah dan berawa. d. Teori Drift : Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan yang bukan di tempat dimana batubara tersebut terbentuk. banyak pengotor (kandungan abu cenderung tinggi). yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan batubara yang dihasilkan. dan akhirnya menjadi fosil tumbuhan yang membentuk sedimen organik. f. Posisi geotektonik. tidak menerus (splitting). Untuk material yang diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang. Batubara yang terbentuk sesuai dengan teori drift biasanya terjadi di delta-delta. Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batubara yang terbentuk. yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. b.c. Intrusi magma.13 TEORI BERDASARKAN TEMPAT TERBENTUKNYA a. 2. atau patahan. lipatan.

Agus 2005 Perhitungan ITB Bandung sumberdaya dan cadangan Balfas M. Ir. Totok 2003 Penaksiran ITB Bandung Darjianto Sumberdaya Mineral Dr. Eksplorasi Tambang UNMUL Samarinda Dahlan . 1998 Geostatistik UGM Yogyakarta Rukmana Nugraha Adhi 1996 Australian Code Australia for ReportingIdentifie d Resources and Reserves Colin R Ward 1984 Coal geology and coal technology sukandarrumid 1995 Batubara UGM Yogyakarta i dan gambut Standar 2011 Pedoman Badan Nasional sumberday Standarisas Indonesia a dan i Nasional cadangan Haris W. Ir.Nama Penulis Tahun Judul Jurnal Penerbit Kota Dr.