You are on page 1of 5

REFLEKSI KASUS

PEMBERIAN ASI YANG TIDAK EKSKLUSIF


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
Bagian Stase Komprehensif
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pembimbing:
dr. Fatima

Disusun Oleh:
Suci Eria (20100310019)

SMF BAGIAN STASE KOMPREHENSIF RSI KENDAL


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016
Refleksi Kasus

1. Rangkuman Pengalaman
Identitas Pasien
Nama : Ny. A
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 30 tahun
Alamat : Sempu 1/4 Limpung
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Status Perkawinan : Menikah

Saat mengikuti kegiatan posyandu balita yang diadakan di Balai Desa


Sidomukti pada tanggal 26 Mei 2016, saya melakukan survei kepada beberapa ibu
tentang ASI eksklusif. Dari hasil survei singkat tersebut, saya menemukan sejumlah
ibu memiliki pengetahuan yang kurang tentang ASI eksklusif. Salah satunya, Ny. A
yang sedang hamil dengan riwayat paritas G3P2A0. Ny. A memiliki pengetahuan
yang kurang terkait dengan ASI Eksklusif. Ny. A menjelaskan bahwa ASI Eklusif
adalah pemberian ASI sampai dengan usia bayi berumur 2 tahun. Selain
pengetahuan, sikap Ny. A dalam penerapan pemberian ASI Eklusif juga kurang tepat.
Dari riwayat kedua anak yang terdahulu didapatkan informasi bahwa anak pertama
hanya mendapat ASI sampai usia 4 bulan, sedangkan anak kedua mendapat ASI
sampai usia 5 bulan, kemudian bayi sudah diberikan MPASI dan terkadang
pemberian ASI digantikan dengan susu formula. Sedangkan, pengertian ASI ekslusif
sendiri adalah pemberian ASI saja sampai usia bayi 6 bulan. Pengetahuan dan sikap
yang kurang tepat ini dilatarbelakangi pengaruh budaya setempat yang masih
beberapa berasumsi bahwa semakin cepat anak diberi makanan tambahan maka akan
membuat semakin cepat tumbuh dan kembangnya.

2. Perasaan terhadap Pengalaman


Saya merasa sedih karena menemukan sejumlah ibu yang masih memiliki
pemahaman yang kurang tepat bahkan tidak mengerti tentang ASI eksklusif,
sedangkan ASI eksklusif merupakan hal yang sangat penting yang harus mereka
berikan kepada bayi mereka. Selain itu, saya menemukan beberapa ibu yang telah
memiliki pemahaman yang benar tentang ASI eksklusif namun masih belum
bersungguh-sungguh dalam penerapannya. Saya juga kasihan dengan nasib bayi-bayi
yang tidak mendapat ASI eksklusif yang berarti mereka telah kehilangan kesempatan
untuk mendapatkan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembangnya serta kehilangan
kesempatan unuk menjalin ikatan batin dengan ibunya.

3. Evaluasi
Meskipun sejumlah ibu di desa Sidomukti masih memiliki pemahaman yang
kurang tepat tentang ASI eksklusif, namun sebagian besar ibu sudah memiliki
pemahaman yang cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan terutama
bidan dan puskesmas sudah sangat membantu ibu-ibu dalam memberi pemahaman
tentang ASI eksklusif. Di sisi lain, masalah ini tentunya menjadi tolak ukur bagi
pemberi pelayanan kesehatan untuk lebih giat lagi tidak hanya dalam memberikan
penyuluhan kepada warganya tentang manfaat ASI eksklusif, tetapi juga memberikan
motivasi/dorongan agar program ASI eksklusif dapat diterapkan secara tepat dan
sungguh-sungguh.

4. Analisis/pembahasan
Perundang-undangan mengenai ASI di Indonesia sudah disahkan. Sekarang
setiap ibu yang mempunyai bayi berkewajiban memberikan ASI eksklusif. Peraturan
ini tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan. Dalam UU kesehatan ini, bayi berhak untuk mendapat ASI
eksklusif yang dijelaskan pada pasal 128 ayat 1 yang berbunyi, setiap bayi berhak
mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali
atas indikasi medis.
Dengan UU ini, setiap anak yang baru dilahirkan dalam kondisi normal (bayi
sehat dan ibu sehat, tidak mengalami gangguan pada ASI) berhak untuk mendapatkan
ASI secara ekslusif. Tidak hanya tugas seorang ibu tetapi peran serta keluarga,
pemerintah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi dengan penyediaan waktu dan
fasilitas khusus seperi ruang khusus laktasi.
Terkait dengan pasal 128 ini, UU kemudian menetapkan sanksi yang termuat
dalam pasal 200, yakni setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program
pemberian air susu ibu eksklusif sebagai mana dimaksud dalam pasal 128 yat (2)
dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Lanjutan pasal tersebut pada pasal 201
dinyatakan bahwa tindak pidana dilakukan oleh korporasi, selain tindak pidana dan
dikenakan denda. Pidana yang dikenakan dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana
denda pada pasal 200. Itu artinya denda bagi korporasi yang melanggar pasal 200
adalah paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Dalam pasal 201
ayat (2) disebutkan juga bahwa selain tindak pidana dan denda, korporasi dapat
dijatuhi pidana tuntutan berupa: a. Pencabutan izin usaha; dan/atau b. Pencabutan
status badan hukum.
Dalam Islam, sudah jelas bahwa pentingnya dan anjuran pemberian ASI pada
bayi. Banyak ayat Al Quran terkait masalah pemberian ASI dan hukum-hukum yang
terkait dengannya. Diantaranya adalah apa yang disebutkan pada firman Allah taala:






Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi
makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maruf. Seseorang tidak dibebani
melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita
kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun
berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun)
dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas
keduanya. (Al-Baqarah : 233]
Di dalam ayat di atas dianjurkan agar para ibu menyusui bayi mereka selama
dua tahun penuh, walaupun demikian hukumnya bukan wajib. Ayat tersebut juga
menjelaskan bahwa bayi dapat dicarikan susu ibu lain apabila sang ibu berhalangan
atau meninggal, agar tetap dapat manfaat dari air susu ibu.

5. Kesimpulan
Program ASI eksklusif telah diatur dalam perundang-undangan Republik
Indonesia dan merupakan hal yang dianjurkan dalam Islam. Terdapat sejumlah warga
desa Sidomukti yang belum paham betul tentang ASI ekslusif. Oleh karena itu
pemerintah setempat beserta tenaga kesehatan perlu menambah program kerja dalam
rangka meningkatkan pengetahuan dan penerapan ASI eksklusif di lingkup desa
Sidomukti.

6. Referensi
- Departemen Kesehatan RI. 2005. Petunjuk Pelaksanaan Peningkatan ASI
Eksklusif. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan.