Notes from the heart of Sumatera: Jambi, Riau and South Sumatera

Catatan Dari Pusat Sumatera: Jambi, Riau Dan Sumatera Selatan

Biofuel; A Trap
Biofuel; Sebuah Jebakan

Penyusun :
Koesnadi Wirasaputa
Rukaiyah Rofiq
Riko Kurniawan
Lestari Kadariah
Anwar Sadat

Lay out : Gun
Alih bahasa : Aditya Warman
i

DAFTAR ISI

CONTENT

KATA PENGANTAR ............... ii
Preface

Pendahuluan ............... iv
Introduction

Bagian I Biofuel; apa, kenapa dan siapa? ............... 1
Part I Biofuel: what, why and who?

Bagian II Potret buram industri biofuel di Sumatera ............... 11
Part II Biofuel doom in Sumatera

Bagian III Biofuel; Setelah mewariskan konflik, bencana dan ............... 32
kemiskinan, kini pangan jadi sasaran
Part III Biofuel: After creating conflicts, disasters and poverty, now
threatening crops

Bagian IV Inisiatif Solidaritas Rakyat:Jalan keluar dari krisis iklim ............... 46
dan energy
Part IV People Solidarity Initiative: A way out of climate and energy
crisis

Bagian V Kesimpulan dan Rekomendasi ............... 53
Part V Conclusion and Recommendations

Referensi ............... 64
Reference

Biofuel; a Trap
ii

KATA PENGANTAR PREFACE

Lembar publikasi ini lahir dari sebuah catatan-catatan Kecil This publication sheet comes as a result of small yet
namun penting yang ditemukan pada proses studi lapangan important notes observed during the field studies on the
tentang dampak-dampak projek biofuel di Sumatera, dengan impacts of biofuel in Sumatera. The study areas covers
wilayah studi meliputi Propinsi Jambi dengan konsentrasi three provinces of Sumatera with different focal areas,
studi di Kabupaten Batanghari, propinsi Riau dengan namely the province of Jambi with Batanghari District as
konsentrasi di Kabupaten Siak, dan Sumatera Selatan. the focal area, the province of Riau with Siak Dsitrict as
Begitu banyak peristiwa dan data-data yang ditemukan the focal area, and the province of South Sumatera. So
pada proses studi lapangan ini. Misalnya saja temuan many events and data were found during the studies.
mengejutkan tentang kondisi sesungguhnya yang terjadi Some examples include a startling finding that the biofuel
dilapangan, bahwa proyek biofeul yang banyak menjanjikan project, which claims to bring prosperity to communities,
segala bentuk kesejahteraan bagi rakyat, jawaban terhadap and to be the answer to climate change, energy crisis and
perubahan iklim, krisis energy, dan kemiskinan justru poverty, turns out to cause new conflicts, new poverty
yang terjadi adalah lahirnya konflik baru, kemiskinan and loss of community’s crops. It is this situation that has
dan hilangnya bahan pangan bagi rakyat, situasi ini yang driven Yayasan SETARA, supported by Sumatera-based
kemudian mendorong Yayasan SETARA dengan bantuan networks such as Perkumpulan Elang in Riau, and Walhi
jaringan Sumatera seperti Perkumpulan Elang di Riau, dan South Sumatera, to publish the results of the studies in
Walhi Sumatera Selatan, menerbitkan lembar publikasi the form of this simple publication sheet This publication is
sederhana yang diambil dari cuplikan laporan studi di proyek intended to give a most comprehensive picture as possible
Biofuel di Sumatera, untuk membagi informasi pada pihak of what has been really happening in the rural areas. This
luas tentang fakta-fakta yang ditemukan. Dengan harapan publication sheet, however, is not meant to represent the
mampu memberikan gambaran secara utuh walau belum overall impacts of the biofuel project in Sumatera, but
sempurna tentang apa yang sesungguhnya terjadi dikampung expects to give a picture in a simple way of the actual
dengan kehadiran projek biofuel. Lembar informasi ini tidak phenomenon behind the glittering face of the biofuel project
bermaksud untuk mewakili dampak secara keseluruhan dari in Sumatera in particular and in Indonesia in general.
projek Biofuel di Sumatera, tapi berharap mampu mampu
menggambarkan secara sederhana dan tentang fenomena The writing of this simple publication sheet started with
yang terjadi dibalik gemerlap projek Biofuel, khususnya di the analysis of the results of the field studies in Sumatera.
Sumatra dan di Indonesia secara umum. The draft has been refined based on data dan information
gathered from the field. All this work cannot be separated
Penulisan lembar publikasi sederhana ini dimulai dengan from sincere contribution from all parties, including the
membaca hasil-hasil studi lapangan biofuel di Sumatera, local communities, who have provided an illustration of
dan kemudian kembali melakukan penyempurnaan and much information on the impacts of the biofuel project
atas beberapa data dan informasi dari lapangan. Dan in Sumatera in simple but representational language.
penyempurnaan lembar publikasi ini tidak terlepas dari Thanks are expressed to the indigenous Suku Anak dalam
dukungan banyak pihak, terutama pihak masyarakat in Batanghari District, Jambi Province; the communities of
yang telah banyak memberikan informasi dilapangan Dosan and Bunga Raya in Siak District; and the community
dan menggambarkan situasi dilapangan dengan bahasa of Talang Nangka, Rambai in South Sumatera.

Biofuel; Sebuah Jebakan
iii

sederhana, namun mampu mewakili dampak dari projek Thanks are also expressed to friends who have given
Biofuel di Sumatera. Dan kami mengucapkan terima kasih much contribution to the content, to those in Perkumpulan
atas bantuan dari masyarakat Suku Anak Dalam Kabupaten Elang, Yayasan SETARA, Walhi South Sumatera, as well
Batanghari propinsi Jambi, masyarakat Dosan dan Bunga as those in Sawit Watch. Gratitude is also expressed to
Raya, Kabupaten Siak, dan masyarakat Talang Nangka, Gun, who has spent much time layouting this sheet, and to
Rambai di Sumatera Selatan. Aditya, who has helped with the translation. Special thank
is expressed to Misereor, whose support has made the
Terima kasih juga disampaikan kepada kawan-kawan publication available for the public.
yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap isi dari
lembar informasi ini, baik kawan-kawan di Perkumpulan Jambi, 14 September 2009
Elang, Yayasan SETARA, Walhi Sumsel , dan tak lupa
juga pada kawan-kawan di Sawit Watch. Terima kasih kami The authors
sampaikan kepada Gun yang telah banyak membantu .
dalam mendekorasi lembar informasi ini, dan kepada Aditya
yang telah banya membantu dalam proses pengalih bahasa.
Dan kepada Misereor yang telah memberikan dukungan
sehingga lembar publikasi ini hadir ditengah kita semua.

Jambi, 14 September 2009

penyusun

Biofuel; a Trap
iv

PENDAHULUAN INTRODUCTION

Lembar publikasi sederhana ini adalah hasil kerjasama This simple publication sheet contains information on the
antara yayasan SETARA Jambi, Perkumpulan Elang Riau biofuel industry in Sumatera resulting from a collaborative
dan Walhi Sumatera Selatan dan Sawit Watch dengan work of SETARA Jambi, Perkumpulan Elang Riau, and Walhi
dukungan pendanaan dari Misereor. Yang memuat catatan- South Sumatera, with financial support from Misereor.
catatan sederhana tentang dampak proyek industri biofuel
di Sumatera. Since 2005 SETARA Jambi has been working to suppress
the rate of large-scale oil palm plantation expansion in Jambi,
Sejak tahun 2005 Yayasan SETARA Jambi telah berkerja which was initially designed to meet the needs of the food
untuk menekan laju ekspansi perkebunan kelapa sawit industry. While 2005 saw a decrease in the expansion of oil
skala besar di Jambi yang awalnya diperuntukkan bagi palm plantations, palm plantations flourished again in 2006
pemenuhan industri makanan. Sepanjang tahun tersebut with the issue of Presidential Instruction Number 1 of 2006
terjadi penurunan ekspansi perkebunan kelapa sawit, on the provision and utilisation of biofuels as an alternative
tapi kemudian meningkat kembali ketika masuk periode energy. SETARA, along with partners in Sumatera, thought
tahun 2006, dimana pada tahun tersebut secara nasional that this would be worsening the already poor condition.
pemerintah mengeluarkan instruksi Presiden nomor 1 tahun With climate change issues and the world’s energy crisis
2006 tentang penyediaan dan penggunaan Biofuel sebagai attached to it, biofuel projects would surely make oil palm a
energy alternatif. Yayasan SETARA bersama dengan promising commodity.
mitra di Sumatera kemudian menganggap bahwa situasi
ini akan memperparah kondisi buruk yang sudah tercipta The situation drove SETARA to start collecting information
sebelumnya. Dengan dilekatkannya issu perubahan iklim, from various sources on what biofuel was and how it
dan krisis energy dunia, tentu projek biofuel ini akan terus was working in the world and in Indonesia, particularly
menjadikan perkebunan kelapa sawit sebagai komoditas with regard to its promise to save the increasingly hotter
paling menjanjikan. world. The initial information gathered was followed by
a preliminary field study to verify the validity of the latest
Berangkat dari situasi ini, Yayasan SETARA memulai developments of biofuel industry in Indonesia. The results of
mengumpulkan informasi dari berbagai sumber tentang the study provided SETARA Jambi and its networks in three
apa dan bagaimana Biofuel bekerja di dunia dan Indonesia, provinces, which are being targeted as development sites of
terutama terkait dengan janjinya bagi keselamatan dunia biofuel industry, namely Jambi, South Sumetera and Riau,
yang kian memanas. Hasil dari pengumpulan informasi awal with convincing data on and a fairly clear picture of and the
di lanjutkan dengan sebuah studi lapang secara awal untuk most recent information on what biofuel is and how biofuel
memastikan kebenaran dari situasi akhir yang berkembang is worsening the existing impacts. The study also found out
atas industry biofuel di Indonesia. Hasil penelusuran that biofuel projects not only add the concentration of CO2 in
ini, meyakinkan Yayasan SETARA Jambi, bersama the atmosphere from conversion of forests and peatland into
dengan jaringannya di tiga Propinsi yang menjadi target oil palm plantations, but also cause new disasters for human
pembangunan industri biofuel di Sumatera, yaitu Jambi, beings, namely the shrinking of community’s cropland,
Sumatera Selatan dan Riau. Hasilnya cukup memberikan which means that more and more community’s land – the
gambaran dan informasi terbaru apa dan bagaimana biofuel source of their food – has been being replaced by energy
bekerja untuk memperparah dampak yang telah ada, dan plantations for machines.
bahkan ditemukan bahwa projek biofuel ini bukan saja
menambah konsentrasi CO2 di atmosphere akibat konversi
hutan dan lahan gambut untuk dijadikan kebun sawit,
tapi juga menimbulkan bencana baru bagi manusia, yaitu
semakin menurunnya kuantitas lahan pangan masyarakat,
dan artinya lahan yang menjadi sumber pangan bagi energy
rakyat telah igantikan dengan kebun energy bagi mesin.

Biofuel; Sebuah Jebakan
v

Ketika dunia dalam jebakan krisis energy When the world falls into a trap of energy
dan krisis iklim. crisis and climate change

Meroketnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kini The soaring of fossil fuel price to 100 USD/barrel as of
menembus angka US$ 100/barel per bulan Oktober 2007, October 2007, the neverending war in the Middle-East,
ditambah dengan gejolak perang di Timur Tengah yang tak the declining fossil fuel deposits – said to last for only two
pernah berhenti, serta cadangan BBM yang hanya mencukupi decades, exacerbated by the worsening global climate from
untuk dua decade kedepan. Kondisi ini di perparah dengan use of fossil fuels and coals have driven many countries,
semakin memburuknya iklim global akibat pengunaan including Indonesia, to seriously think about finding
energi BBM yang bersumber dari fosil, batu bara semakin alternative fuels, which are surely prospective.
mendorong berbagai belahan dunia termasuk Indonesia
untuk berfikir serius mencari bahan bakar alternative yang The alternative fuels are expected to address all of the
tentunya memiliki masa depan cerah. above issues. As a matter of fact, alternative energies were
first developed in the 1970s, and became a global program
Bahan bakar alternative ini diharapkan mampu menjawab when fuel prices soared. The program was then diminishing
seluruh persoalan diatas. Sebenarnya pengembangan in the 1990s as fuel prices went back to normal. But, the
energi alternative sudah dimulai sejak 1970-an, dan telah world is now being aware again of the importance of using
menjadi program global ketika harga BBM melonjak naik. renewable energy as the climate crisis caused by use of
Program energi alternative ini kemudian menghilang fossil fuels is calling for more concern.
ditahun 1990-an seiring kembalinya harga BBM ke harga
nomal. Tapi kini semua pihak kembali disadarkan tentang Using renewable energies sourced from bio materials
pentingnya penggunaan energi terbarukan, ketika krisis is actually a wise step; not only are they environmentally
iklim yang diakibatkan oleh penggunaan energi fosil semakin friendly, their development can provide new jobs in rural
mengkhawatirkan. areas. According to the government of Indonesia, the biofuel
project, which is intended to become a means of providing
Penggunaan energi terbarukan (renewable) yang alternative energy sourced from oil-producing plants, will
bersumber dari bahan baku nabati sebenarnya adalah create 3-5 million jobs (the Kompas, 13 March 2007). In line
tindakan bijaksana, selain ramah lingkungan, juga dapat with this tendency, it is then understandable if the Indonesian
membuka lapangan kerja baru di pedesaan. Menurut government enthusiastically plans and carries out various
Pemerintah Indonesia saja projek biofuel yang menjadi programs to gradually increase the production of CPO- and
andalan penyediaan anergy alternative yang bersumber dari jatropha oil-based biofuel. The target is meant to meet not
tanaman yang menghasilkan minyak ini akan menciptakan only the global demands but also the domestic consumption,
lapangan kerja 3-5 juta lapangan kerja (kompas, 13 maret which tends to increase. While at domestic level, use of
2007). Sejalan dengan kecendrungan ini maka tak salah fossil fuels stands up to 65 million kilolitres or equivalent to
jika pemerintah Indonesia gencar merencanakan dan 64 billion litres/year (transportation sector accounting for
melaksanakan berbagai program untuk secara bertahap 48%, industry 19%, households 18% and electricity 15%),at
meningkatkan produski biofuel dengan bahan baku CPO global level, demand for solar and fossil energy reaches
sawit dan minyak jarak. Tidak hanya untuk memenuhi 2.487 million tonnes/year. It is thus not wrong to say that
konsumsi global akan kebutuhan minyak dari BBN, tapi the depedence on fossil fuels is quite high. This means that
konsumsi domestik juga tak bisa dikatakan kecil. Jika dalam alternative energies as the replacement of fossil fuels have
skala domestik penggunaan energi dari bahan bakar minyak a bright future.
bumi mencapai 65 juta kiloliter atau sama dengan 64 miliar
liter/tahun dengan rincian sektor transportasi menyerap
48%, industri 19%, rumah tangga 18% dan kelistrikan 15%
pertahun, maka untuk konsumsi global, permintaan energi
solar dan minyak tanah dunia mencapai 2,487 juta ton/
tahun. Maka tak salah jika dikatakan bahwa ketergantungan
pada energy minyak bumi sungguh tinggi. Artinya masa
depan energy alternative akan cerah sebagai pengganti
minyak bumi fossil.

Biofuel; a Trap
vi

Energy bagi dunia VS sumber energy Energy for the world VS energy sources of
masyarakat lokal local communities

Dari semua rancangan Pemerintah dan kebutuhan dunia Of all the government’s plans and the world’s needs for
tentang energy terbarukan, maka, ada cerita lapangan renewable energy, there are stories from the field telling
menunjukan krisis BBM di dunia, tidak menunjukan krisis a fuel crisis throughout the world. Despite this, no signs
BBM di tingkat masyarakat adat di Jambi yaitu masyarakat of such a crisis are observed among the indigenous Suku
Suku Anak Dalam (SAD) atau biasa di sebut dengan Anak Dalam (SAD) – commonly referred to as the Kubu,
panggilan suku Kubu di Desa Tana Menang, Pinang Tinggi in Tana Merang in Tana Menang village, Pinang Tinggi and
dan Padang Salak Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, Pinang Salak in Batanghari District, Jambi Province. These
tidak pernah membayangkan sedikitpun memiliki kendaraan people have never imagined to own personal vehicles that
pribadi dengan bahan bakar yang terbuat dari minyak nabati run on biofuels/biodiesel. Finding food is hard enough for
atau lebih dikenal dan popular biofeul/biodiesel. Untuk these people, let alone a car at a price impossible for them
mencari bahan makanan saja sudah sulit bagi orang kubu, to pay. The Kubu cannot even afford to enjoy margarine-
apalagi bermimpi memiliki kendaraan roda empat yang spread bread like most city people do. Bread, margarine,
harganya tidak terjangkau. Orang kubu pun tidak pernah and cosmetics are things that can only dream of. The Kubu
memiliki kemampuan untuk mengkonsumsi roti yang di are used to cassava, which has been a staple food for
diberi margarine (mentega) seperti orang kota kebanyakan. generations. In order to get this staple food, the Kubu have
Bahan pangan roti, mentega, kosmetik hanya menjadi to deal with one oil palm industry, which belongs to a group
bayangan dan mimpi di siang bolong belaka, karena, Orang strongly desires to become the world’s palm oil and biofuel
Kubu terbiasa dengan bahan pangan ubi kayu (singkong) producer.
yang sejak dulu menjadi bahan makanan pokok secara
turun temurun. Untuk mendapakan bahan makanan pokok The company, which has a noble mission to bring welfare
ini pun Orang kubu harus berurusan dengan salah salah to the community, has in reality swept away the Kubu’s
satu industri perkebunan kelapa sawit yang dan secara cropland, leaving none for them. All the Kubu’s land has been
kebetulan pula perusahaan ini adalah milik salah satu group incoporated to the company’s HGU (Business Use Permit).
yang berambisi menjadi penghasil minyak sawit dan juga This is a course in life the Kubu have never imagined, where
penghasil biofuel di dunia. they have to be struck with long-term famine.

Kehadiran perusahaan yang memiliki missi mulia untuk A different story is told from Tana Menang,Jambi, and
kesejahtraan masyarakat ini ternyata telah membuat lahan another from Riau, to be precise in Siak District. In July
pertanian untuk bahan pangan orang Kubu tidak ada lagi 2009, the community was shocked when the Regent of
yang tersisa, semua wilayah kehidupannya sudah masuk Siak and his administration cut down their oil-palm trees in
kedalam Hak Guna Usaha (HGU). Sungguh satu perjalanan Bung Raya village, Bunga Raya sub-district, Siak District,
hidup yang tidak di impikan, bila suatu saat Orang Kubu Riau province. This was a bold policy in the era of oil palm
menerima bencana kelaparan jangka panjang. expansion in the last five years in Riau. The trees were cut
down as the community grew them on the riceland already
Lain cerita di Tana Menang Jambi, lain pula cerita di designated as the rice bank for the district and the province.
Riau, tepatnya di Kabupaten Siak, pada bulan Juli 2009, However, the question is, will Bunga Raya sub-district still
berita mengejutkan, ketika Bupati Siak beserta jajarannya provide enough food for the people of Riau in the future,
melakukan penebangan pohon kelapa sawit di lahan warga when the onslaught of oil palm plantations is increasing?
Desa Bung Raya, Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Because, on the other hand, the provincial government has,
Siak, Provinsi Riau. Ini sebuah kebijakan yang sangat in fact, allocated its area to be one of the suppliers of raw
berani, di era perluasan kebun kelapa sawit 5 tahun terakhir material for biofuel industry. This means that in the future
di Provinsi Riau. Penebangan pohon sawit ini dilakukan, there will be a struggle for land in Riau, one for the sake of
karena masyarakat menanam sawit di lahan persawahan food, the other for biofuel.
yang telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai lumbung
padi Kabupaten Siak dan Provinsi Riau. Tapi pertanyaannya Even though the impacts on the community and the
adalah, apakah, Kecamatan Bunga Raya akan tetap environment are quite serious, the government is still
menyediakan pangan yang cukup bagi masyarakat ambitiously pursuing this project and provided legal
Riau kedepan, ketika gempuran ekspansi perkebunan umbrellas for the interest of this fuel-for-machine project.
kelapa sawit semakin meningkat? sebab disisi lain, justru Several policies have been issued to support alternative
Pemerintah Provinsi Riau, telah mencanangkan wilayahnya energy projects. They include Government Regulation

Biofuel; Sebuah Jebakan
vii

menjadi salah satu pemasok kebutuhan bahan baku No. 5 of 2007 on national energy policies, Presidential
untuk Industri Biofeul atau Biodiesel sebagai yang terbuat Instruction No. 1 of 2006 on supply and utilisation of biofuel
dari bahan baku kelapa sawit. Artinya kedepan akan ada as alternative energy, Presidential Decree No 10 of 2006
pertarungan perebutan lahan diRiau, kepentingan pangan on the forming of a national biofuel development team in an
atau kepentingan biofuel. effort to accelarate the project. The issues of such policies
– indicating the government’ seriousness in the sector –
Walaupun dampak yang diterima masyarakat dan mean that a large amount of money is to be disbursed in
keselamatan lingkungan di daerah cukup serius. Pemerintah such projects (cynically refered to as ‘wet projects’, i.e. the
tetap berambisi pada proyek ini dengan cara menyediakan ones involving a lot of money). Eventually, at a certain time,
payung hukum bagi kepentingan proyek memberi makan palm oil does not end up only in supermarkets or cosmetic
mesin. Sehingga sudah dilakukan oleh pemerintah counters but also in fuel plants.
mengeluarkan beberapa kebijakan guna mendukung proyek
energy alternatif. Ada Peraturan Pemerintah No. 5 tahun SETARA and its partners, publish this information sheet to
2007 tentang kebijakan enegeri nasional, Intruksi presiden provide a real picture and awareness raising for the public
No 1 tahun 2006 tentang supply dan pemanfaatan biofuel and the stakeholders that biofuel industry – one of the
sebagai energi alternatif, Keputusan Presiden No. 10 tahun solutions to renewable energies, has in fact brought about
2006 tentang pembentukan tim nasional pembangunan long-term impacts and disasters such as food insecurity,
Biofuel guna mempercepat proyek ini. Kebijakan-kebijakan poverty, unemployment and increasing degradation of local
ini, betapa seriusnya sehingga, proyek ini membuktikan environments. The publication is also intended to convey
sangat berlimpah dana atau bisa disebut proyek “basah”. that biofuel projects have replaced local communities’ land
Tetapi, pada akhirnya, pada masa tertentu produk minyak and energy sources with energy plantations for developed
kelapa sawit tidak lagi melulu berakhir di dipusat perbelanjaan countries. Biofuel can indeed clean the climates of developed
makanan, dan alat kosmetik, tapi berakhir di pengilangan countries, but we should know that all these processes and
bahan bakar untuk mesin-mesin di SPBU. activities to produce this climate cleaner have produce even
more waste and climate degradation..
SETARA dan mitra kerjanya, menerbitkan lembar informasi
tentang biofeul ini bertujuan untuk memberikan gambaran All these stories are written in a simple way in this simple
nyata dan proses penyadaran bagi masyarakat dan para publication sheet to provide a picture showing the poor
pihak, bahwa, industry biofuel yang merupakan salah conditions of biofuel projects in Sumatera. Samples of which
satu solusi alternative penggunaan energy terbarukan, the stories are composed are gathered from areas controlled
ternyata membawa dampak dan bencana jangka panjang by companies and groups committed to supporting biofuel
pada persoalan pangan, kemiskinan, pengangguran projects in Riau, Jambi and South Sumatera, and are not
baru dan semakin rusaknya lingkungan hidup lokal, dan meant by any means to give a bad name to the companies
ingin menyampaikan bahwa projek biofuel juga telah but rather to present small examples of the suffering of the
menggantikan lahan dan sumber energy masyarakat lokal communities living around the projects: loss of access to
untuk kemudian ditukar menjadi kebun energy bagi negara- land, shifting in their livelihoods from farmers to plantation
negara maju. Biofuel memang mampu membersihkan iklim workers, and even the loss of their food sources – the
negara-negara maju, tapi ketahuilah bahwa semua proses source of their energy.
dan aktifitas untuk menghasilkan pembersih iklim tersebut,
telah meninggalkan kotoran dan kerusakan iklim yang lebih This information sheet is divided into five main parts. The
besar. first part provides an illustration of what biofuel is, who
needs it and who is behind this project. The second part
Semua rangkaian cerita ini dituangkan secara sederhana elaborates problems found in the field as a result of biofuel
dalam lembar publikasi sederhana ini untuk memberikan projects in Jambi,Riau and South Sumatera. The third part
gambaran dan menyampaikan kondisi buruk atas proyek describes the impacts of biofuel expansion: deteriorating
biofuel di Sumatera. Dengan mengambil sampel diwilayah food conditions, increasing price, distribution of poverty and
kuasa perusahaan dan group yang berkomitmen untuk famine, impediments to the Millenium Development Goals,
mendukung projek biofuel di Riau, Jambi dan Sumatera conversion of more agricultural land into oil palm plantations,
Selatan. Bukan berniat untuk memperburuk citra perusahaan as well as government policies that fail to protect its people
tersebut tapi ini untuk memberikan contoh kecil betapa from pressure from countries in need of biofuel, particularly
sengsaranya –hilangnya akses tehadap lahan, berubahnya the USA and the European Union. The fourth part talks
mata pencaharian mereka dari bertani menjadi buruh about teh people’s initiatives and solidarity in dealing with
kebun, dan bahkan hilangnya sumber pangan sebagai the Indonesian biofuel industry, particularly in Jambi, South

Biofuel; a Trap
viii

sumber energy mereka-- penduduk disekitar perusahaan- Sumatera and Riau as the study areas. And the fifth part
perusahaan besar tersebut yang juga ikut mengamini projek contains conclusions and recommendations as well as a
gemerlap Biofuel ini. joint action framework to deal with the Indonesian biofuel
industry that promises welfare, but creates new tragedies to
Semua ruang lingkup lembar informasi ini akan di bagi living creatures on earth.
menjadi Lima bagian utama, yaitu: bagian pertama; buku
ini akan memberikan gambaran tentang; Apa itu biofuel? , Hopefully, this simple information sheet is beneficial
kebutuhan siapa dan siapa dibalik projek ini? Bagian kedua: to the readers, particularly the affected communities,
akan mengupas tentang problem-problem yang ditemukan environmentalists, local and national government institutions
ditingkat lapangan akibat kehadiran projek biofuel di so that they can understand and learn from experience
Jambi, Riau dan Sumatera Selatan. Bagian ketiga pada that biofuel industry delivers no benefits to the Indonesian
bagian ini akan menceritakan tentang dampak ekspansi people; rather, it creates much degradation to Indonesia’s
Biofeul terdahap kondisi pangan rakyat, kenaikan harga, environment.
pemerataan kemiskinan dan kelaparan, menghambat
pencapaian milineium (MDGs), perluasan konversi
pertanian local menjadi sawit, serta kebijakan pemerintah
yang tidak melindungi rakyat atas tekanan Negara-negara
yang memerlukan biofeul terutama Amerika dan Uni Eropa,
bagian keempat; adalah akan menceritakan tentang inisiatif
dan solidaritas rakyat dalam menghadapi industry biofeul
di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera sebagai
wilayah studi kasus di Jambi, Sumatera Selatan dan Riau.
Dan bagian kelima: dalam buku ini memuat kesimpulan
dan Rekomendasi serta kerangka aksi bersama untuk
menghadapi industry biofeul di Indonesia yang menjanjikan
kesejahteraan, tetapi membawa malapetaka baru bagi
mahluk hidup di bumi.

Semoga lembar informasi sederhana dapat bermanfaat
bagi pembaca, khususnya masyarakat korban, para pegiat
lingkungan, instansi pemerintah baik lokal maupun nasional
agar dapat memahami dan belajar dari pengalaman, bahwa
industri biofuel tidak memberikan manfaat bagi rakyat
indonesia, tetapi sebaliknya meninggalkan beban baru baru
rusaknya bumi Indonesia.

Biofuel; Sebuah Jebakan
1

BAGIAN I PART I

BIOFUEL; APA, KENAPA BIOFUEL: WHAT, WHY
DAN SIAPA? AND WHO?

“kami dak tau apo itu biofuel, kami cuma Cuma tau “we don’t know what biofuel is, we just know
kalau kelapa sawit itu untuk dibuat minyak goreng that oil palm can be processed into cooking oil
dan mentega, tapi kami jugo dak banyak pake and margarine, but we don’t use palm cooking
minyak goreng sawit karena sangat mahal, kami dak oil because it’s very expensive, we can’t afford
biso beli. Nah apalagi mau beli biofuel, mau pake to buy it. What would we buy biofuel for? We
untuk apo? Kami dak ado mobil” ungkapan dari salah don’t have cars.” Statement by a member of
satu warga Suku Anak Dalam di Tanah Menang the Suku Anak Dalam indigenous people in
propinsi Jambi. Tanah Menang, Jambi province.

1.1. Apa Itu Biofuel ? 1.1. What is biofuel?

Tak hanya warga Suku Anak dalam Tanah Menang yang The Suku Anak Dalam indigenous people in Tanah Menang
kebingungan ketika ditanya tentang biofuel, warga desa is not the only one who are confused when asked about
Bunga Raya di Riau dan warga desa Tanlang Nangka dan biofuel. The communities of Bunga Raya in Riau and of
Rambai di Sumatera Selatan juga mengaku tidak mengerti. Tanlang Nangka and Rambai in South Sumatera also admit
Lalu bagaimana biofuel ini bisa melibatkan mereka di they know nothing about it. Then how could biofuel engage
pedesaan? these rural people?

Biofuel berasal dari kata Bio dan Fuel, yang didefinisikan Biofuel is derived from the words bio and fuel, and is defined
sebagai bahan bakar yang sumbernya berasal dari proses- as fuel originating from renewable biological processes.
proses biologi (terbarui). Bahan bakar ini dapat diambil dari These fuels can be obtained from plants, animals or remnants
tetumbuhan, hewan, ataupun sisa-sisa hasil pertanian. Saat of agricultural products. Currently, we can find biofuel in
ini, kita dapat menemukan biofuel dalam bentuk padatan, cair solid, liquid and gaseous forms produced directly from
dan gas yang dihasilkan dari material organik baik langsung organic materials of plants or indirectly through industrial,
dari tanaman ataupun secara tidak langsung dari proses commercial, or domestic processes. Many experts call it
industrial (pabrik), komersial, domestik atau sisa-sisa hasil agrofuel (fuel originating from plants), but in this information
pertanian. Banyak pakar menyebutnya sebagai Agrofuel sheet we use the term biofuel. Biofuel produces two kinds of
(bahan bakar yang berasal dari tetumbuhan), tapi dalam fuel, biodiesel and bioethanol. Biodiesel is biofuel extracted
lembar informasi ini kita akan pakai istilah biofuel. Biofuel from oil-producing plants such as oil palm, soy, sunflowers
akan menghasilkan 2 jenis bahan bakar, yaitu biodiesel dan and many others, while, bioethanol is produced from plants
bioethanol. Biodiesel merupakan biofuel yang dihasilkan containing fibre and high levels of glucose such as corn,
dari tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan minyak seperti sugar cane, cassavas, etc. Biodiesel will replace solar while
kelapa sawit, jarak, kedele/soya, bunga matahari dan bioethanol will replace diesel. Biofuel offers possibilities
banyak lagi, sementara bioethanol dihasilkan dari tumbuhan to produce energy without increasing carbon levels in the
yang mengandung serat dan gula tinggi seperti jagung, tebu, atmosphere as various plants used to produce biofuel
singkong dll). Biodiesel akan menggantikan solar sementara reduce carbon dioxide in the atmosphere, unlike fossil fuels
bioethanol akan menggantikan bensin. Biofuel menawarkan that return the carbon saved under soil surfaces for millions
kemungkinan memproduksi energi tanpa meningkatkan of years to the air. Therefore, biofuel is more carbon neutral
kadar karbon di atmosfir karena berbagai tanaman yang in nature and does not greatly increase greenhouse gas

Biofuel; a Trap
2

digunakan untuk memproduksi biofuel mengurangi kadar concentration to the atmosphere (even though there is doubt
karbondioksida di atmosfir, tidak seperti bahan bakar fosil whether this benefit can be realized in practice). Biofuel can
yang mengembalikan karbon yang tersimpan di bawah also reduce dependence on fossil fuels and increase energy
permukaan tanah selama jutaan tahun ke udara. Dengan security.
begitu biofuel lebih bersifat carbon neutral dan sedikit
meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca (GRK) di Biofuel as part of the renewable energy concept was
atmosfir (meski timbul keraguan apakah keuntungan ini introduced in the 1970s as part of an effort to move beyond
bisa dicapai di dalam prakteknya). Penggunaan biofuel the development of nuclear and fossil fuels. The most
mengurangi pula ketergantungan pada minyak bumi serta common definition is a source of energy which can be
meningkatkan keamanan energi. replenished quickly by nature, i.e. a sustainable process.
According to this definition, nuclear and fossil fuels do not
Biofuel bagian dari konsep energi terbaharukan belong to renewable energies.
diperkenalkan pada 1970-an sebagai bagian dari usaha
mencoba bergerak melewati pengembangan bahan One of the products of biofuels is biodiesel, the most
bakar nuklir dan fosil. Definisi paling umum adalah sumber common one in Europe. It is produced from oil or fat using
energi yang dapat dengan cepat diisi kembali oleh alam, transsesterification and is a liquid with a composition similar
proses berkelanjutan. Di bawah definisi ini, bahan bakar to mineral diesels. Biodiesel is the sole candidate closest to
nuklir dan fosil tidak termasuk ke dalamnya. replacing fossil fuels as the main source of transportation
energy in the world, as it is a renewable fuel that can replace
Salah satu produk biofeul adalah biodiesel merupakan diesel petrol in engines at present and can be carried and
biofuel yang paling umum di Eropa. Di produksi dari sold using current infrastructure. Use and production of
minyak atau lemak menggunakan transesterifikasi dan biodiesel are increasing quickly, particularly in Europe, the
merupakan cairan yang komposisinya mirip dengan diesel United States and Asia, even though it constitutes a small
mineral. Biodiesel merupakan calon tunggal yang paling portion of sales in the market. The growth of petrol stations
dekat untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai contributes to provision of more biodiesels to consumers and
sumber energi transportasi utama dunia, karena ia merupakan also growth in the number of biodiesel-burning vehicles.
bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel
petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual Biodiesel can be used in all diesel engines if mixed with
dengan menggunakan infrastruktur sekarang ini. Penggunaan mineral diesel. In several producer countries, there are
dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat, terutama guarantees given for 100% use of biodiesel. Most vehicle
di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, meskipun dalam pasar manufacturers limit their recommendations for 15% use
masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar. of biodiesel, which is mixed with mineral diesel. In most
Pertumbuhan Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum European countries, a mix of 5% biodiesel is widely used
(SPBU) membuat semakin banyaknya penyediaan biodiesel and is available at many petrol stations. In USA, more than
kepada konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan yang 80% of commercial trucks and public buses run on diesel. As
menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar. a result, biodiesel use in America has risen rapidly, from 25
million gallons per year in 2004 to 78 million gallons in early
Biodiesel dapat digunakan di setiap mesin diesel kalau 2005. At the end of 2006, biodiesel production is estimated
dicampur dengan diesel mineral. Di beberapa negara to increase four times, to 1 billion gallons.
produsen memberikan garansi untuk penggunaan 100%
biodiesel. Kebanyakan produsen kendaraan membatasi
rekomendasi mereka untuk penggunaan biodiesel sebanyak
15% yang dicampur dengan diesel mineral. Di kebanyakan
negara Eropa, campuran biodiesel 5% banyak digunakan
luas dan tersedia di banyak stasiun bahan bakar. Di AS,
lebih dari 80% truk komersial dan bis kota beroperasi
menggunakan diesel. Oleh karena itu penggunaan biodiesel
AS bertumbuh cepat dari sekitar 25 juta galon per tahun
pada 2004 menjadi 78 juta galon pada awal 2005. Pada
akhir 2006, produksi biodiesel diperkirakan meningkat
empat kali lipat menjadi 1 milyar galon.

Biofuel; Sebuah Jebakan
3

1.2. Biofuel; untuk siapa? 1.2. Biofuel; for who?

Dari jawaban masyarakat sekitar perusahaan yang Undoubtedly, the communities living around companies
berkomitmen akan memproduksi biofuel sudah dipastikan committed to producing biofuel do not know the answer to
tidak mengetahuinya. Kemudian, apakah mereka this. Furthermore, do they need biofuel to run their day-to-
membutuhkan biofuel dalam menjalankan kehidupan day activities? Of course, no definite answer can be given
sehariannya? Tentunya tidak pernah terjawab dengan pasti, as rural people do not use much fuel, be it fossil- or plant-
karena penduduk di pedesaan, tidak banyak menggunakan based fuel. What they do know to fulfil their energy needs is
bahan kabar minyak, baik yang diproduksi hasil ekploitasi to use firewood to cook, they still use oil from coconut and
minyak bumi maupun produksi dari bahan tumbuhan. Yang candlenuts or some other plants to light their lamps, This
mereka ketahui dalam pemenuhan kebutuhan energy experience apparently illustrates use of energy from local
adalah, memasak menggunakan kayu bakar, menghidupkan resources. If so, then what is really happening in biofuel
lampu masih juga menggunakan minyak terbuat dari kelapa, industry in Indonesia and the world?
buah kemiri bahkan dari tumbuhan lain yang diproduksi
sendiri. Pengalaman ini rupanya memberikan ilustrasi Meanwhile, in other parts of the world, many countries see
pada penggunaan energy tumbuhan berbasis ketersediaan rapid development; centres of commerce and industry grow
sumberdaya local. Lalu, apa yang sebenarnya sedang from year to year. The production of four wheeled vehicles
terjadi dengan industry biofuel di Indonesia dan dunia. increases in proportion to economic growth in rich countries
and developing countries. Thus, these conditions drive
Sementara di belahan dunia lain, perkembangan increasing use of fossil fuels. This situation requires supply
pembangunan di banyak Negara sangat pesat, pusat-pusat of petrol fuel, particularly diesel or solar to turn the wheels
perdagangan dan industry tumbuh dari tahun ketahun. of development. In the 20th century, fuel crisis started to be
Produksi kendaraan bermotor roda empat terus meningkat tangible, oil supplies were declining and the destruction of
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di Negara-negara the planet from emissions was continuing. This destruction
kaya dan Negara-negara berkembang. Sehingga, kondisi has caused global impacts on the world’s climate change.
ini memacu penggunaan bahan bakar minyak (BBM)
terus meningkat setiap tahunnya. Situasi ini membutuhkan Biofuel is not only to meet global demands for plant-based
pasokan bahan kabar minyak, khususnya minyak diesel fuel. Domestic consumption is also quite significant. While
atau solar untuk menjalankan roda pembangunan. Era abad at domestic level, use of fossil fuels stands up to 65 million
20, krisis bahan bakar minyak mulai terasa, persediaan kilolitres or equivalent to 64 billion litres/year (transportation
minyak menipis, dan kerusakan planet bumi akibat emisi sector accounting for 48%, industry 19%, households 18%
terus berjalan setiap tahun. Perusakan ini mengakibatkan and electricity 15%),at global level, demand for solar and
dampak global pada perubahan ikilim dunia. fossil energy reaches 2.487 million tonnes/year. It is thus
not wrong to say that the dependence on fossil fuels is
Biofuel, tidak hanya untuk memenuhi konsumsi global akan quite high. This means that the there is a bright future for
kebutuhan minyak Bahan Bakar Nabati (BBN), tapi konsumsi alternative energies to replace fossil fuels
domestik juga tak bisa dikatakan kecil. Jika dalam skala
domestic penggunaan energi dari bahan baker minyak bumi This situation gives a breath of fresh air to Indonesian
mencapai 65 juta kiloliter atau setara 64 miliar liter/tahun government policies, which continue to drive CPO production
dengan rincian sektor transportasi menyerap 48%, industri from oil palm plantations. In 2006, CPO production reached
19%, rumah tangga 18% dan kelistrikan 15% pertahun, 15.9 million tonnes, and was estimated to reach 17.1 million
maka untuk konsumesi global, permintaan energi solar dan tonnes in 20071. Production continues to increase from
minyak tanah dunia mencapai 2,487 juta ton/tahun. Maka year to year viewed from the government’s efforts to expand
tak salah jika dikatakan bahwa ketergantungan pada energy oil palm plantations. In addition to CPO price reaching U$
minyak bumi sungguh tinggi. Artinya masa depan energy 800-900 per ton, the need for raw materials for biofuel
alternative akan cerah sebagai pengganti minyak bumi production is also a factor driving such expansion. Finally,
fosil. we find the answer, i.e the need for biofuel of the fuel-greedy
developed countries. Biofuel is chosen as the mandated
Situasi ini memberikan angin segar atas kebijakan by a worldwide commitment to save the planet. However,
pemerintah Indonesia yang terus menerus menggenjot will biofuel projects actually save the earth or rather, the
produksi CPO dari perkebunan kelapa sawit. Pada opposite will happen? Alternatively, is this merely to satisfy
tahun 2006 produksi CPO mencapai 15,9 juta ton, dan the lifestyle of rich countries, which are still unsatisfied with
diperkirakan ditahun 2007 produksi mencapai 17,1 juta ton1. controlling livelihood sources in developing countries such
Produksi ini terus meningkat setiap tahunnya, jika dilihat as Indonesia? This haunts the thoughts of all energy and

Biofuel; a Trap
4

dari pemerintah terus menggalakkan perluasan (ekspansi) environmental activists throughout at both domestic and
perkebunan kelapa sawit. Selain karena harga minyak global level.
mentah CPO mencapai U$ 800-900 per ton, kebutuhan
bahan baku untuk bahan bakar biofuel juga menjadi
faktor terus digalakkannya komoditas ini. Akhirnya, sudah
ditemukan jawabannya, bahwa kebutuhan biofuel untuk
Negara-negara maju yang sangat rakus terhadap konsumsi
bahan bakar. Pilihan biofuel karena mandatoris dari sebuah
komitment dunia dalam menyelamakan bumi. Tetapi, apakah
proyek biofuel sebenarnya akan menyelamatkan bumi atau
malah sebaliknya? Atau ini hanya sebuah kebutuhan gaya
hidup Negara-negara kaya yang masih tetap tidak puas atas
penguasaan sumber-sumber kehidupan di Negara-negara
berkembang seperti Indonesia. Hal inilah yang banyak
menghantui pikiran semua kalangan pegiat lingkungan dan
energy di dunia maupun di dalam negeri Indonesia.

PERATURAN PRESIDEN No. 5 Tahun 2006
SASARAN ENERGI MIX 2025

Energi (Primer) Mix saat ini
PLTMH 0,1 % Panas Bumi Tenaga Air
PLTA 1,9 % 1,32% 3,11%
Panas Bumi 1,1
Gas Bumi
%
28,57%

Gas Bumi 20,6
%

Minyak Bumi
Minyak 51,66%
Batubara
Bumi 41,7 %
15,35%
Batubara 34,6
%

Energi Mix Tahun 2025 OP Energi Mix Tahun 2025
PE TIM (sesuai Perpres No. 5/2006
(Skenario BaU) NG AL
E I
E N LO L SA S I
ER A
GI AN
Minyak bumi; 20% Bahan Bakar Nabati (Biofuel), 5 %

Gas Bumi; 30% Panas Bumi, 5 %
EBT; 17%
Biomasa, Nuklir, air, Surya, Angin, 5 %
Batu bara yang di cairkan (Coal
Batubara; 33%
Liqueefaction) 2 %

Biofuel; Sebuah Jebakan
5

1.3. Biofuel ingin menjawab krisis energy 1.3. Biofuel aims to address energy and
dan krisis iklim climate crisis

Penggunaan biofuel bukan saja dilatar belakangi atas Biofuel use is not driven only by a mere fuel need, it is more
kebutuhan bahan bakar semata, tetapi lebih jauh untuk to satisfy investors to continue controlling livelihood sources
memuaskan para investasi untuk terus menguasai sumber- in other parts of the world. Even if it is driven by the soaring
sumber kehidupan rakyat di belahan dunia lain. Kalau pun price of oil on the world markets, the condition has forced
di landasi harga minyak bumi dipasar dunia yang terus rich countries in need of fossil fuel supply to turn their eyes
membumbung tinggi, Kondisi ini menjadi peluang yang to alternative fuels. It is believed that the fuel price is not
memaksa Negara kaya atas kepentingan pasokan bahan the only thrust, but the depleting supplies as well as global
bakar minyak bumi untuk mengalihkan perhatiannya pada warming issue have also driven rich countries to use biofuel.
bahan bakar alternatif. Pilihan ini di yakini, tidak hanya pada Investing in fossil fuels is no longer an interesting option.
harga bahan bakar, tapi persediaan yang mulai menipis They have shifted their main objectives to investing in plant-
serta issu pemanasan global menjadi pemicu berubahnya based oils, considering that rich countries need a great deal
negara-negara kaya untuk menggunakan bahan bakar of fossil fuels supply to turn their development wheel.
Nabati. Investasi pada ladang minyak bumi tidak lagi menjadi
pilihan yang menarik. Memindahkan pada sasaran utama It is a given that the choice of biofuels will bring significant
pada investasi ladang-ladang minyak nabati dari tumbuhan. impacts; it can even trigger the World War III. The conditions
Mengingat kebutuhan bahan bakar minyak Negara kaya represent a new chapter in the 21th century in which
sangat besar untuk memasok dan menggerakan roda countries struggle for control over biofuel. For example,
pembangunan negaranya. America, with a population constituting merely 4% of the
world’s population, needs around 35% of the world’s energy
Sudah dapat dipastikan, bahwa pilihan ladang minyak nabati resources. This means that each citizen consumes eight
akan memberikan dampak yang cukup serius, bahkan dapat times more energy than citizens of developing countries such
memicu terjadinya perang dunia ke III. Kondisi merupakan as Indonesia. Conversely, Middle-East countries, Indonesia,
babak baru abad 21, antar Negara untuk memperebutkan Venezuela are countries that have an extraordinary amount
ladang minyak nabati. Sebagai contoh, Amerika Serikat yang of energy resources, yet do not consume energy in the same
hanya memiliki populasi penduduk sekitar 4 persen populasi way as people in rich countries do
dunia membutuhkan 35 persen dari total sumberdaya
energy dunia. Artinya tiap warga AS menghabiskan energy One can calculate the energy needs of rich countries.
delapan kali lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk With high-energy consumption supplied by developing
negara berkembang, contohnya Indonesia. Sebaliknya, countries, the need is in reverse proportion to the energy
Negara-negara Timur Tengah, Indonesia, Venezuela adalah reserves available. To make up for this lack of energy, the
termasuk Negara yang memiliki kekayaan sumberdaya option is then to seek new places or new energy sources
energy yang luar biasa jumlahnya, tetapi tidak banyak in other parts of the world, namely developing countries
mengkosumsi energy seperti konsumsinya penduduk such as Indonesia. The move to use bio-energy does not
negara kaya. stem from the basic problems in developing countries, but
from development models of rich countries, which tend to
Sudah bisa di hitung kebutuhan energy bagi Negara cause degradation to the global climate and environment.
kaya. Dengan tingkat konsumsi energy yang tinggi dari The mandate of climate change to shift from fossil energy to
pasokan Negara berkembang, ini akan berbanding terbalik renewable energy is therefore critical.
dengan cadangan energy yang tersedia. Untuk menutupi
kekuarangan energy ini, kemudian pilihannya mencari The use of renewable energy by developed countries is vital
tempat-tempat baru atau ladang energy baru di belahan to address the fuel crisis in the future. To satisfy this need,
Negara lainnya, yaitu Negara berkembang seperti Indonesia. the choice falls upon bio-energy or plant-based energy. Rich
Perpindahan penggunaan energy nabati ini bukan datangnya countries use global warming issues to mask their objective
dari persoalan pokok Negara berkembang, tetapi model of maintaining their lifestyle as industrial countries. It is
pembangunan di Negara kaya yang memiliki kecendrungan an opportunity for rich countries such as America to race
membawa dampak pada kerusakan lingkungan dan ahead to try and to promote this energy. America has taken
iklim global, maka, mandat isu perubahan iklim menjadi quick measures by subsidising companies developing
sangat penting untuk beralihnya penggunaan energy yang Biofuel industry such as Cargill and Monsanto. These two
bersumber dari minyak bumi di alihkan kepada energy yang companies produce foodstuffs, and they will convert their soy
dapat diperbaharui. plantations into corn plantations and shift their production.
Should this production shift occur, then it will bring impacts

Biofuel; a Trap
6

Penggunaan energy terbarukan atau dapat diperbaharui on the world food situation and prices of staple foods will
bagi Negara-negara maju menjadi penting untuk secepatnya go up. This situation has made many countries interested
di dorong dalam menjawab krisis bahan bakar masa depan. in investing in biofuel industry. Thus, developing Asian
Untuk memenuhi kebutuhan ini, pilihannya jatuh pada energy countries with highly abundant natural resources such as
bio atau energy yang bersumber dari tanaman. Dengan Indonesia become the target of investment of countries such
maksud tidak mengganggu gaya hidup sebagai negara as the European Union and America2.
industri, negara-negara kaya menjadikan issu pemanasan
global sebagai topengnya. Peluang dan kesempatan bagi The most tangible impact felt by poor people all over the
negara kaya seperti Amerika Serikat berlomba-lomba untuk world from the bioenergy industry programme is threat of
mendorong energy ini. Amerika Serikat mengambil langkah hunger. And since this programme started, foodstuffs such
cepat, dengan mengeluarkan kebijakan tentang subsidi as wheat, milk, cooking oil, soy, sugar and oil-based food
bagi perusahaan yang membangun industry Agrofuel, products have experienced a surge in price from year
diantaranya; perusahaan besar Cargill dan Monsanto. Cargill to year. Until early 2008, the condition illustrates that the
dan Mosanto sebuah perusahaan yang memperoduksi ramifications of converting food crops into energy fuel, and
bahan makanan, akan pengalihan produksinya dari conversion of agricultural land, forests and peatland have
perkebunan kacang kedele menjadi ladang perkebunan caused a worrying condition. Not only does it cause hunger,
jagung. Bila situasi pengalihan produk ini dilakukan, maka but it has triggered global warming and increased poverty.
berdampak pada situasi pangan rakyat di dunia dan
harga-harga kebutuhan pokok akan meningkat. Situasi ini It is a given that the threat of global destruction will be
menjadi ketertarikan banyak Negara untuk berinvestasi worsening in the future. This is a serious problem of a
industry biofeul, sehingga, Negara-negara berkembang di solution that is in direct contradiction to the Kyoto Protocol,
Asia termasuk Indonesia menjadi pilihan investasi, dimana, which mandates several carbon emitting countries to
kekayaan alam yang subur dan bentang lahan yang cukup reduce GHGs during 2008-2012 to the average 5.3% of
luas bagi investasi Negara-negara kaya seperti Uni Eropa the emission level in 1990. Reduced emissions cannot
dan Amerika serikat2. will not be achieved in the light of developed countries’
interest, which is not to reduce their carbon emissions but
Dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat miskin to actually increase GHG levels from forest clearing, peat
seluruh dunia adalah karena program industry bioenergy ini,
masyarakat miskin diseluruh dunia menghadapi ancaman
serius dari bencana kelaparan, dan sejak program ini
digulirkan, harga bahan makanan seperti gandum, susu,
minyak goreng, kedele, gula dan bahan makanan yang
berbahan dasar minyak mengalami peningkatan harga
dari tahun ketahun. Hingga awal tahun 2008, kondisi
seperti ini menggambarkan bahwa akibat konversi bahan
baku makanan menjadi bahan bakar energy, dan konversi
lahan pertanian, hutan, lahan gambut telah membuat dunia
dalam kondisi yang sangat menghawatirkan. Tidak hanya
menyebabkan kelaparan, tapi telah memicu pemanasan
global dan meningkatnya kemiskinan.

Sudah dapat dipastikan, ancaman perusakan bumi semakin
parah dimasa mendatang. Ini persoalan serius dari solusi
yang bertentangan dengan kesepakatan Protocol Kyoto.
Sebagaimana telah memandatkan beberapa negara
penghasil emisi karbon, untuk mengurangi Gas Rumah
Kaca (GRK) hingga rata-rata 5,2 persen dari tingkat
emisi tahun 1990 pada periode tahun 2008-2012. Situasi
pengurangan emisi ini tidak akan tercapai, bila melihat
kepentingan negera-negar maju, bukan untuk mengurangi
emisi karbonnya, tapi justru menigkatkan GRK, karena
pembabatan hutan, konversi gambut, pembakaran lahan,
mengalihan fungsi lahan yang menyumbang emisi terbesar.
Tak hanya itu, aktifitas untuk memproduksi biofuel tak

Biofuel; Sebuah Jebakan
7

jarang menggunakan cara-cara yang justru memperparah conversion, land burning and land use conversion, which
konsentrasi GRK diatmosfer. are all contributing the largest levels of emission. In addition
to that, biofuel production frequently uses methods that in
Amerika sebagai contoh, warganya dalam setahun fact increase GHG concentrations in the atmosphere.
menghabiskan sekitar 530 miliar liter bahan bakar minyak
dan 19 miliar liter bahan bakar ethanol. Dan hasilnya? AS Americans, for example, use 530 billion litres of fossil fuels
menjadi pemasok gas rumah kaca (GRK) tertinggi di dunia, and 19 billion litres of ethanol. And what is the result? America
mencapai empat hingga lima kali emisi rata-rata dunia. GRK is the largest producer of GHG in the world, producing up to
inilah penyebab utama pemanasan global dan perubahan five times the average world emissions. GHGs are the main
iklim. cause of global warming and climate change.

Tabel 1: Daftar Negara Emiter Karbon CO2 (ton per kapita)
List of CO2 Carbon-Emitting Countries (tonnes per capita)

NO NEGARA Tahun 1990 Tahun 2004 NO NEGARA Tahun 1990 Tahun 2004
1 Amerika 19,3 20,6 9 Mesir 1,5 2,3
2 Kanada 15,0 20,0 10 Brasil 1,4 1,8
3 Australia 16,3 16,2 11 Indonesia 1,2 1,7
4 Rusia 13,4 (1992) 10,6 12 Vietnam 0,3 1,2
5 Inggris 10,0 9,8 13 India 0,8 1,2
6 Malaysia 3,0 7,5 14 Nigeria 0,5 0,9
7 Prancis 6,4 6,0 15 Bangladesh 0,1 0,3
8 Cina 2,1 3,8 16 Ethopia 0,1 0,1

Source: 2004 Kyoto Protocol publication

Perubahan iklim disebabkan dari kegagalan pembangunan Climate change is caused by a failure in the development
yang dilakukan oleh negara-negara maju dan berdampak in developed countries and adversely affect developing
pada negara berkembang. Pembangunan yang berwatak countries. Capitalist development, which tends to suck
kapitalisme cendrung menghisap akan melakukan dry livelihood sources of the people thus reducing the
praktek menggusur sumber-sumber kehidupan rakyat functions of nature, represents one of the failures of global
sehingga menurunkan fungsi alam, merupakan salah satu development. Under the Kyoto Protocol, industrial countries
bentuk gagalnya pembangunan global. Sampai hari ini, should reduce GHG emissions by around 5.2 percent during
berdasarkan protokol kyoto, negara industri seharusnya 2008-2012 compared to the emission level in 1990, but in
mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 5,2 persen pada the last decade, their CO2 emissions did not significantly
2008-2012 dibandingkan dengan tingkat emisi pada 1990, decrease but rose instead. Large contributions of C02 come
tapi, dalam satu decade saja, emisi karbon dioksida (CO2) from America (20.6 tonnes per capita), Canada (20.0),
mereka tak banyak turun, malah meningkat. Sumbangan Australia (16.2), Russia (10.6), England (9.8), Malaysia
besar karbon dioksida (CO2) dari negara Amerika serikat (7.5), France (6.4), and several other countries emitted less
(20,6 ton perkapita), Kanada (20,0), Asutralia (16,2), than 4 tonnes of C02 per capita. If realistically compared, the
Rusia (10,6), Inggris (9,8), Malaysia (7,5), Prancis (6,4), largest producers of emission turned out to be developed
selebihnya beberapa negara menghasilkan CO2 dibawah 4 countries like America and European countries.
ton perkapita. Bila di bandingkan sesungguhnya, penghasil
emisi terbesar adalah negara-negara maju di dunia seperti
Amerika Serikat dan Eropa.

Biofuel; a Trap
8

Program pengembangan dan penggunaan biofuel di beberapa negara
Biofuel development and use programmes in several countries

Negara/
Program Yang Dijalankan Programme Implemented
Country
• Pada tahun 2012 ditargetkan menghasilkan sekitar America • Targeting tp produce 7.5 billion gallons of ethanol by
7,5 miliar gallon ethanol 2012
• Pengembangan Ethanol berbasis jagung • Developing corn-based ethanol
• Memperlakukan proteksi tariff sebesar 2.5% plus • Imposing a protection tariff of 2.5% plus 54 cents
54 cents per gallon per gallon
• Insentif pajak sebesar $0,01 per gallon • Imposing a tax incentive of $0,01 per gallon
• 80% produksi biodiesel berasal dari kedele • Targeting 80% of biofuel production coming from soy
• Mengeluarkan Renewable Fuel Standard • Issuing Renewable Fuel Standard
• Mensyaratkan campuran ethanol 25% dalam Brazil • Imposing 25% ethanol content in gasoline
gasoline
• Memperlakukan proteksi berupa tarif sebesar 20% • Imposing a protection tariff of 20%
• Kebijakan pajak khusus bagi industri ethanol • Imposing special tax policies to the ethanol industry
• Pengembangan ethanol berbasis jagung China • Developing corn-based ethanol
• Memberlakukan E-10 (campuran 10% ethanol) di • Imposing an E-10 (10% ethanol content) in five
5 propinsi provinces
• Pengembangan ethanol berbasis gula India • Developing sugar based ethanol
• 5% ethanol dalam seluruh gasoline • Imposing 5% ethanol in all gasoline
• Kebijakan membeli biodiesel • Imposing biodiesel purchasing policies
• Pemberlakukan tarif impor sebesar 186% • Imposing an import tariff of 186%
• Penggunaan biofuel 2% (2005) dan 5,75% (2010) Eupean • Imposing a 2% (2005) and 5.75% (2010) use of
dari total kebutuhan energy Union biofuel of the total energy needs
• Pegenaan tarif impor sebesar $87 cent per gallon • Imposing a tariff of $87 cent per gallon
• Pengembangan ethanol berbasis gula Argentina • Developing sugar based ethanol
• Memberlakukan E-5 selama 5 tahun • Imposing E-5 for five years
• Pengembangan ethanol berbasis gula Columbia • Developing sugar based ethanol
• Memberlakukan E-10 di 10 kota besar • Imposing E-10 in 10 major cities
• Pengembangan ethanol berbasis gula Venezuela • Developing sugar based ethanol
• Memberlakukan E-10 secara bertahap diwilayah • Imposing E-10 gradually throughout Venezuela
seluruh Venezuela
• Tujuan jangka panjang adalah menggantikan Japan • Targeting to replace 20% of oil needs with biofuel or
sekitar 20% kebutuhan minyak dengan biofuel atau liquid natural gas (LNG) in the long term
liquid natural gas (LNG)
• Sebanyak 45% gasoline menjadi E-10 pada tahun Canada • Targeting up to 45% gasoline to be E-10 in 2010
2010
• Pengenaan tarif impor sebesar $19 cents per • Imposing a tariff import of 19 cents per gallon
gallon
• Memberlakukan E-5 di seluruh negara Sweden • Imposing E-5 nationwide
• Memberlakukan E-10 pada tahun 2007 di seluruh Thailand • Imposing E-10 throughout Thailand by 2007
Thailand
• Pemanfaatan biofuel sebesar 2% energy mix pada Indonesia • Targetting 2% of biofuel use during 2005-2010, 3%
tahun 2005-2010, 3% energy mix pada tahun 2011- energy mix during 2011-2015, and 5% energy mix
2015, dan 5% energy mix pada tahun 2016-2025 during 2016-2025
Sumber: Sunarsip, dalam Belajar dari Pengembangan biofuel negara lain. Investor Daily, 28 Maret 2007

Biofuel; Sebuah Jebakan
9

Sudah jelas, pemenuhan kebutuhan bahan baku CPO untuk It is clear that as CPO supplies for biofuel are increasing,
biofeul menjadi meningkat, maka perluasan perkebunan oil palm plantations are expanding annually. Directly,
kelapa sawit terus terjadi setiap tahunnya. Secara langsung biofuel projects have displaced communities out of their
proyek biofeul dengan perluasan perkebunan kelapa sawit land, prevented poor communities from practicing their
telah mengusir masyarakat dari lahannya, telah membuat subsistence farming, and forced poor communities to adapt
masyarakat miskin tidak bisa bertani subsisten lagi, telah to nutritional needs. Then, whose interests does the issue
membuat masyarakat miskin beradaptasi mengubah of energy needs serve? Why does it have to sacrifice the
kebutuhan gizi. Maka persoalan pokok kebutuhan energy welfare of Indonesian people?
ini kepentingan siapa ? Sehingga harus mengorbankan
kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Pemain dibalik industri Biofuel Players behind the biofuel industry

Investor in Indonesian Biofuel Sectors3 Investors in the Indonesian biofuel sector3

INVESTORS INVESTMENT, ETC.
PT Bank Negara 2006, BNI disbursed Rp 3.35 trillion credit to 50 debtors for biofuel
Indonesia Tbk (BNI) development, with a total land of 411,000 ha. As for 2007, the bank is
to allocate 50% of its planned corporate credit of Rp 10 trillion to the
agribusiness sector, starting with Rp 1.2 trillion credit to six companies to
develop plantations in East Java, East Sumba and Lampung.4 BNI has also
signed MoU with the six companies, which are Sampoerna Agro, Sungai Budi
Group, Rekayasa Group, Sinarmas Group, Musimas Group, and Bio Energi
Indonesia.5

Bank Republik Indonesia In 2006, BRI allocated Rp 4 trillion (US$ 439 million) for agribusiness sector,
(BRI) including biofuel plantation development6. It projects to disburse a total credit
of Rp 12 trillion for smallholders and Rp 11 trillion for factory development by
2010.7
Bank Mandiri To support the government program in revitalizing the agriculture sector and
biofuel sector development, Bank Mandiri provided a total credit of Rp 11.08
trillion in 2006.8 The bank has signed MoU with four companies, namely Sinar
Mas Group, Incassi Raya, Permata Sawit, and Satria Group, with a total credit
value of US$ 432 million, or Rp 3.9 trillion.9

Bank Bukopin 2006, Bank Bukopin provided Rp 1 trillion for the agriculture, including biofuel,
development.10
Bank Daerah Sumatra Bank Daerah Sumatera Barat offers a total credit of Rp 980 billion for the
Barat agriculture, including biofuel, development.11
Bank Daerah Sumatra Bank Daerah Sumatera Utara offers a total credit of Rp 500 billion for the
Utara agriculture, including biofuel, development.12
Kreditanstalt für The German development bank has exspressed its commitment to invest Rp 2
Wiederaufbau (KfW) trillion in biofuel development projects in Indonesia.13
Japan Bank for JBIC has expressed its commitment to provide unlimited credit for biofuel
International Cooperation development in Indonesia, with a semi-commercial loan interest of 12%.14
(JBIC)
China National Offshore Incooperation with Sinarmas Group, CNOOC and Hong Kong Energi develop
Oil Corporation (CNOOC) 8-year-term biofuel projects worth US$ 5.5 billion in Papua and Kalimantan.15
and Hong Kong Energi The projects require 1 million hectares of land.

Biofuel; a Trap
10

Chinese Government Chinese and Indonesian governments, in July 2005, signed MoU on Malindo
project, which is part of North Kalimantan (to Malaysian border) regional
development and includes developments of large scale infrastructure network
and a 1,800,000-hectares plantation along the Indonesia-Malaysia border.16
Genting Biofuel, a Genting Biofuel invests US$ 3 billion in biofuel development in Jayapura.
Malaysian company, in
partnership with Merauke
District Government and
PT Pembangkitan Jawa
Bali (PT PJB)
REI Harizon The biofuel company is to invest US$ 500 million (Rp 4.55 trillion) to support
biofuel development in Indonesia.17
The United States USAID provides a three-year investment of US$ 13.75 million for equipment
Agency for International and technical facilitation in the agribusiness sector, especially in cocoa,
Development coffee, high yielding horticulture (fruit and vegetable), fishery, spices, animal
(USAID), through its husbandry and biofuel.18
Agribusiness Market
and Support Activities
(AMARTA) programme,
in partnership with
Development Alternatifs
Inc.
Other international investors are19:

- Mitsubishi, Itochu, Mitsui (Japanese)
- PT Platinum Energi Biofuel (US)
- Greenergi Pvt Ltd (Indian)
- EN3 Co Ltd (South Korean)
- Petrobras (Brazilian)

Biofuel; Sebuah Jebakan
11

BAGIAN II PART II

POTRET BURAM BIOFUEL DOOM IN
INDUSTRI BIOFUEL DI SUMATERA
SUMATERA (A Note from the Field)
(Sebuah Catatan Dari Lapangan)

Bisakah dikatakan biofuel menjanjikan energy altenatif, Can biofuel be said to bring an alternative energy
jika pada aktiftasuntuk memproduksinya(hulu hingga hilir) when the entire production processes eliminate
justru menghilangkan lahan pangan sebagai sumber energy cropland, the source of communities’ energy? Can
masyarakat? Bisakah dikatakan projek biofuel (hulu hingga it be said to bring prosperity through provision of
hilir) menjanjikan kesejahteraan melalui ketersediaan
job opportunities when it displaces communities’
tenaga kerja, ketika aktiftasnya (hulu dan hilir) justru
menggusur lahan-lahan produktif milik masyarakat? Dan
productive land? Is it appropriate to say that
layakkah dikatakan bahwa biofuel akan menjawab persoalan biofuel is the answer to global warming when it
pemanasan global, ketika aktifitasnya (hulu dan hilir) justru removes peat forests – our carbon bank, strips
membongkar gambut sebagai bank karbon, menggunduli off forests – our carbon sinks, emits carbon from
hutan sebagai penyerap karbon, melepas karbon dengan forest burning and burns fossil fuel?
membakar hutan dan membakar bahan bakar dari fossil?

Dari banyak mitos yang dilahirkan oleh banyak pihak tentang There are a substantial number of myths about biofuel: about
biofuel. Tentang kemampuannya menjawab persoalan its ability to serve as an answer to global warming caused
pemananasan global akibat terus meningkatnya GRK by the increasing green house gases (GSGs) from human
akibat aktifitas manusia, semakin menipisnya persediaan activities, to the depleting fossil fuels, and to poverty. This
minyak fossil diperut bumi, dan persoalan kemiskinan. Studi study case will extensively elaborate the facts behind the
kasus ini akan mengupas panjang tentang fakta dibalik myths. The studies cover a considerable length of time and
mitos tersebut. Informasi dari lapangan ini, bukan dilakukan hence provide continuous information as the areas analysed
dalam waktu singkat, tapi adalah informasi yang terus were the project site of Yayasan SETARA, Perkumpulan
berkesinambungan, dikarenakan lokasi yang menjadi areal Elang as well as Walhi South Sumatera region.
untuk studi lapangan adalah lokasi yang menjadi lokasi
dampingan dari yayasan SETARA, Perkumpulan Elang dan
juga Walhi Sumatera Selatan.

Gambar grafik
Figure:

Lokasi industri biofuel
didaratan Sumatera/
Hot spots of
biofuel industry
in mainland
Sumatera1

Biofuel; a Trap
12

2.1. Biofuel di Jambi; menikam jantung 2.1. Biofuel in Jambi; piercing the heart of
Sumatera Sumatera

Secara geografis propinsi Jambi terletak pada pantai timur Geographically, the province of Jambi is located in the
pulau Sumatera berhadapan dengan laut Cina Selatan eastern coast of Sumatera Island, next to the South China
dan Lautan Pasific, pada alur lalu lintas Internasional dan Sea and stretches to the western edge of the island and
Regional. Luas wilayah Jambi + 53.435,72 Km2, terdiri lies in the regional and international route. It encompasses
dari luas daratan 51.000 Km2, luas lautan 425,5 Km2 +53,435.72 km2, comprising 51,000 km2 of land and 425.5
dan panjang pantai 185 Km. Batas-batas wilayah Jambi; km2 of sea, with the coastline along 185 km. It borders on
sebelah Utara dengan Propinsi Riau, sebelah selatan the province of Riau in the north, the province of South
dengan Propinsi Sumatera Selatan, sebelah Barat dengan Sumatera in the south, the province of West Sumatera
Propinsi Sumatera Barat dan sebelah Timur dengan Laut in the west and the South China Sea in the east. It lies
Cina Selatan. Propinsi Jambi termasuk dalam kawasan within the Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle
segi tiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapore (IMS- (IMS-GT). It takes ±5 hours in jetfoil to get to Singapore
GT). Jarak tempuh Jambi ke Singapura jalur laut melalui from Jambi via Batam. With +5,100,000 hectares (ha) of
Batam dengan menggunakan kapal cepat (jet-foil) ± 5 jam. forest, it contains rich natural resources: oil, minerals, forest
Dengan luas + 5.100.000 hektar, kekayaan sumberdaya products, plantations and agriculture. It also harbors social
alam yang dimliki Jambi, sangat luar biasa, mulai dari sumber diversity, with the Suku Anak Dalam indigenous people
minyak bumi, pertambangan, hasil hutan, perkebunan dan spreading in some of the province. Encompassing 5.1
pertanian. Selain itu keragaman sosial yang cukup tinggi, million has of land, it is home to 2,683,099 people according
dengan hadirnya suku anak dalam yang tersebar di beberapa to the 2006 National Census, comprising 1,365,132 men
wilayah Jambi. Dengan luas wilayah 5,1 juta hektar, jumlah and 1,317,967 women. Administratively, it is made up of 9
penduduk jambi hasil sensus ekonomi Nasional tahun 2006 districts (kabupaten), 1 city, 103 sub-districts (kecamatan)
sebanyak 2.683.099 jiwa terdiri dari 1.365.132 jiwa laki- and 128 villages (kelurahan) and 1,214 hamlets.
laki dan 1.317.967 jiwa perempuan. Secara administrasi
Jambi memiliki 9 Kabupaten, 1 Kota, 103 Kecamatan dan The province has become one of the main targets of palm
1.214 Desa dan 128 Kelurahan. investors investing in biofuel industry. Based on the 2007
SETARA’s data, large investors investing in palm plantations
Provinsi ini menjadi salah satu target utama investor include Sinar Mas, Raja garuda Mas, the Astra Group, the
perkebunan kelapa sawit yang akan berinvestasi di industry Bakrie Group, the Minamas Group and the Wilmar Group.
biofuel. Berdasarkan data SETARA tahun 2007, investor Nearly all large company groups are turning their eyes
besar yang menanamkan uang di provinsi Jambi bergerakdi to biofuel business in the province as it promises a huge
sector perkebunan kelapa sawit adalah Sinar Mas, Raja fortune.
garuda Mas, Astra Group, Bakri Group, Minamas Groups
dan Wilmar Groups. Hampir semua perusahaan yang The data show that oil palm plantations were flourishing
memiliki Groups besar mengincar bisnis Biofeul di Jambi. from year to year. They grew significantly up to 2006, from
Terbilang bisnis yang menjanjikan masa depan untuk 365,304 Ha in 2004 to 403,467 ha in 2005. In 2006, they grew
meraup keuntungan yang sangat besar. to 422,888 Ha, an increase of 4.81%. Up to 2008 the total
area of oil palm plantations in the heart of Sumatera fetched
Lihat saja, dari tahun ketahun pertumbuhan perkebunan 450,000 Ha2, which means an increase of 40,000-60,000
kelapa sawit di propinsi Jambi bisa dikatakan sangat Ha per year. The commodity expected to be an alternative
dinamis, dimana setiap tahun mengalami peningkatan energy for the future was capable to bring enormous
jumlah areal. Hingga tahun 2006 perkebunan kelapa sawit foreign currency for the province. While the 2004 export
telah mengalami pertumbuhan yang sangat significant, totalled 4,350,000 kg or equal to US$1,457,000, the 2005
dari 365.304 Ha ditahun 2004 meningkat menjadi 403.467 export rose to 97,858,360 kg or equal to US$43,417,070.
ha, tahun 2005, dan ditahun 2006 kembali mengalami In 2006 it, however, dropped to 93,000,000 kg or equal to
peningkatan mencapai 422.888 Ha atau naik mencapai US$31,750,000. Despite this, the provincial government still
4,81%, hingga tahun 2008 luas perkebunan kelapa sawit opened much room for the sector to grow. It targeted to open
dipropinsi yang terletak tepat di jantung Sumatera ini a total 588,441 ha of oil palm plantations with the estimated
mencapai 450.000 Ha2. artinya terjadi penambahan areal annual productivity standing up to 2,854,103 ton3.
perkebunan sekitar 40.000-60.000 Ha/tahun Komoditas
menjadi tumpuan energi alternatif masa depan, mampu The oil palm ‘fever’ infected not only the provincial government
menghasilkan devisa yang tinggi bagi provinsi Jambi. Jika but also the districts’. Forests and agricultural land had been
pada tahun 2004 volume ekspor yang mencapai 4.350.000 converted to oil palm plantations. The district of Tanjung

Biofuel; Sebuah Jebakan
13

kg dengan nilai 1.457.000 US$, maka volume ekspor Jabung Timur, for example, had set out to plant oil palms
tahun 2005 meningkat menjadi 97.858.360 kg dengan nilai on agricultural land considered to be no longer productive4.
43.417.070 US$. Tapi terjadi penurunan volume eksport The ‘palm-isation’ in Jambi started in 2000 although oil
ditahun berikutnya yakni tahun 2006 yang volumenya hanya palm plantations had existed in 1986, totalling only 6,000
mencapai 93.000.000 kg dengan nilai juga menurun yaitu Ha. The expansion began in line with the transmigration
31.750.000 US$. Tapi walaupun terjadi penurunan nilai project. In addition to rubber, oil palms require mobilisation
ekpor tidaklah mempengaruhi rencana pemerintah untuk of labour and farmers. It was then that the ‘palm-isation’ was
tetap memberikan ruang lebar bagi pertumbuhan sektor incorporated into the poverty alleviation programme and the
ini. Sehingga pemerintah Jambi menargetkan luas areal equally-distributed development programme set out by the
perkebunan 588.441 hektar dengan prediksi produktifitas New Order Regime.
mencapai 2.854.103 ton CPO/tahun3.
It is a pity, however, that the provincial future plan of
Demam sawit tak hanya menjangkiti pemerintah propinsi plantation sector has never been actualised in the blueprint
Jambi saja, tapi telah menulari kabupaten-kabupaten yang of oil palm plantation development work plan. It is therefore
ada dipropinsi Jambi, dari menebang hutan menjadi kebun no surprise that the sector has been developed in violation
sawit hingga menyulap padi dan sawah-sawah menjadi of the provincial spatial planning (RTRW), let alone the
pohon sawit. Misalnya saja, Kabupaten Tanjung Jabung environmental and social principles. Hence, the sector has
Timur akan menanam kelapa sawit disawah-sawah yang given greater contribution to the social and environmental
dianggap tidak produktif lagi4.Program sawitisasi di Jambi conflicts in Jambi.
dimulai tahun 2000, walau sebenarnya kebun kelapa sawit
telah ada ditahun 1986 dimana pada tahun ini luasnya hanya
mencapai 6000 Ha saja. Masuknya projek pengembangan The provincial oil palm plantation development plan is to
perkebunan kelapa sawit mengikuti perkembangan be based on the Strategic Plan of Agricultural Department,
transmigrasi. Selain pohon karet, kelapa sawit menjadi the Regional Development Programme (Propeda) and
komoditas yang membutuhkan mobilisasi tenaga kerja dan the 2001-2005 Provincial Strategic Plan. The goals are to
petani, yang kemudian program sawinisasi di masukan be achieved through two programmemes: agribusiness
kedalam program pengentasan kemiskinan dan program development programmeme, and food sustenance and
pemerataan pembangunan yang diusung oleh Orde Baru. security development programmeme. But, is true that oil palm
plantations help to achieve food sustenance and security in
Tapi sangat disayangkan bahwa rencana masa depan the province? Or are they the cause of the disappearance
perkebunan dipropinsi Jambi tidak pernah dituangkan of communities’ cropland and rice fields, which have long
dalam cetak biru (blueprint) rencana kerja pembangunan served as their sources of food?
perkebunan kelapa sawit, sehingga tak mengherankan jika
dalam perkembangannya tidak pernah mengikuti kaedah-
kaedah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) apalagi
kaedah-kaedah lingkungan dan sosial. Sehingga sector ini
memberikan sumbangan lebih besar atas terjadinya konflik
sosial dan lingkungan di Jambi.

77.530 Ha 68.504 Ha 14.663 Ha
205.982 tons 181.294 ton 13.254 tons
PETA

LUAS PERKEBUNAN
KELAPA SAWIT DAN
PRODUKSI

DI PROPINSI JAMBI

TAHUN 20055

THE SIZE AND TH 101.116 Ha
EPRODUCTION 192.481 tons
OF OIL PALM
PLANTATIONS IN
63.878 Ha
JAMBI PROVINCE IN
20055
146.046 tons
40.493 Ha 37.283 Ha
124.728 tons 72.810 tons

Biofuel; a Trap
14

Rencana perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi adalah 2.1.1. Hotspots of biofuel industry projects in
meletakkan RENSTRA Departemen Pertanian, Program Jambi province
Pembangunan Daerah (propeda) dan RENSTRA provinsi
tahun 2001-2005 sebagai landasan pengembangan. Biofuel or popularly known now as Agrofuel is the oil or the
Dengan sasaran yang telah ditetapkan dilaksanakan melalui energy produced from oil-bearing plants - oil palm, soybean,
dua program yakni program pengembangan agribisnis sunflower, castor-oil plant, etc., from which biodiesel is
dan program pengembangan ketahanan dan keamanan produced – and from fibrous, tuberous and sugary plants
pangan. Tapi benarkah kehadiran perkebunan kelapa sawit - corns, sugarcane, cassava, etc., from which bioethanol is
telah membantu terlaksananya ketahanan pangan propinsi produced. It is these two products that are to replace fossil
Jambi? Ataukan justru menjadi penyebab hilangnya kebun fuel and coal. Biodiesel is to replace solar, and bioethanol
dan sawah yang selama ini sebagai sumber pangan is to replace gasoline. So, future automobiles will no longer
masyarakat berganti perkebunan kelapa sawit? be fossil fuel-combustion engines but biofuel-combustion
engines.
2.1.1. Hotspots proyek industri biofuel di
propinsi Jambi At national level, the programme was officially launched
when the president issued Presidential Instruction No. 1 Year
Biofuel atau kini lebih dikenal dengan Agrofuel adalah 2006 on supply and use of biofuel as an alternative energy,
minyak atau energi yang diproduksi dari tumbuh-tumbuhan and Presidential Decree No. 10 Year 2006 on the forming
yang mengandung kadar minyak (minyak sawit, kedele, of the national team for biofuel development acceleration.
bunga matahari, buah jarak dll) yang akan menghasilkan All the following programmes have since been to support
biodiesel dan tumbuhan yang berserat dan berpati serta the programme. Examples include the National Agrarian
mengandung gula tinggi (jagung, tebu, singkong dll) yang Reform Programme (PPAN), which reserves 8 million ha
akan menghasilkan bioethanol. Kedua produk inilah yang of land, and the Community’s Plantation Forest-based
kelak akan menggantikan penggunaan minyak yang Land Revitalisation Programme, which reserves 9 million
berasal dari perut bumi/fossil dan batu bara. Jika biodiesel ha of land. For the plantation revitalisation programme,
diharapkan mampu menggantikan solar, maka bioethanol the government reserves 2 million ha of land and for the
diharapkan akan mampu menggantikan bensin. Jadi cukup biofuel programme, it reserves 5 million ha of land. All the
sudah, bahwa nantinya kendaraan bermotor tidak lagi programmes are integrated with the government’s financial
mengepulkan asap dari pembakaran minyak bumi, tapi dari or banking policies. All the associated credits granted will give
pembakaran minyak tumbuhan. priority to oil palm plantations supporting the government’s
biofuel programmes.
Secara nasional, program ini telah resmi bergema di
Indonesia sejak presiden mengeluarkan instruksi presiden
Lokasi yang menjadi target projek Biofuel/
No 1 tahun 2006 tentang suply dan pemanfaatan biofuel Biofuel’s targeted location6
sebagai energi alternatif, dan Keputusan Presiden No. 10
tahun 2006 tentang pembentukan tim nasional percepatan
pembangunan Biofuel. Dan sejak saat itu seluruh program
yang ditelurkan oleh pemerintah, adalah untuk mendukung
program ini. Ada program PPAN/Program Pembaharuan
Agraria Nasional yang menyediakan lahan seluas 8 Juta
Ha, dan program Rehabilitasi Lahan dengan konsep
Hutan Tanaman Rakyat seluas 9 juta Ha, untuk program
revitalisasi perkebunan telah disiapkan lahan seluas 2 juta
Ha, dan sedangkan untuk program Bahan Bakar Nabati
sendiri telah mengalokasikan lahan seluas 5 Juta Ha, dan
keseluruhan program pemerintah ini terintegrasi dengan
kebijakan-kebijakan finansial atau perbankan. Dimana
model kredit yang akan dikucurkan nantinya memiliki syarat
bahwa pembangunan kebun kelapa sawit untuk mendukung
program pemerintah tentang BBN akan menjadi prioritas
pendanaan.

Biofuel; Sebuah Jebakan
15

Sudah bisa di pastikan, atas kebijakan pemerintah daerah It is clear that regional regulations, which refer to the national
yang mengacu pada strategis pembangunan Nasional , development strategy, will give priority to oil palm. Since the
menjadikan komoditas kelapa sawit menjadi utama. Sejak launching of the national biofuel programme, the Jambi
program BBN secara nasional di luncurkan, pemerintah provincial government immediately said that Jambi was the
propinsi Jambi lansung menyatakan, bahwa Jambi paling province most prepared to such a programme, and that it
siap dengan program pemerintah tersebut. Dimana planned to open up to 1 million ha of oil palm plantations
direncanakan Jambi akan membangun kebun mencapai to supply cooking oil companies and biofuel producers.
1 juta Ha yang akan mensuplay bagi perusahaan minyak Among the many oil palm companies, two are working hard
goreng dan juga pabrik yang akan memproduksi biofuel. to develop the biofuel industry, namely:
Diantara banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit, ada
2 perusahaan yang sedang bekerja keras untuk membangun Bakrie Groups
industry biofuel, diantaranya:
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (PT.BSP Tbk) and PT
Perusahaan Bakri Groups Rekayasa Industri forms a joint venture biodiesel company
named PT Bakrie Rekin Bio-Energy, slated to produce
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (PT.BSP Tbk) dan 60,000 – 100,000 tons of biodiesel annually. The US$25-
PT Rekayasa Industri membentuk perusahaan patungan million company is owned by PT BSP and Rekayasa
membangun pabrik biodiesel dengan bendera perusahaan Industri, which hold 70% and 30% of shares respectively.
baru PT Bakrie Rekin Bio-Energy. Pabrik yang direncanakan The company sets a target of exporting 70% of the 100,000
berkapasitas 60.000 ton s/d 100.000 ton biodiesel per tahun. tons of biofuel produced by its Batam-based plant. In October
Pabrik yang dibangun dengan investasi bernilai sekitar 25 2008 it started its first production of 15,000 tons up to the
juta dollar AS, komposisi kepemilikan saham perusahaan end of 2008. In 2009 the maximum capacity will be reached
patungan itu, 70% dimiliki PT BSP dan 30% oleh Rekayasa with most of the production sold on the domestic market.
Industri. Perusahaan ini menargetkan ekspor 70% dari 100
ribu ton biofuel yang akan dihasilkan pabriknya berlokasi The joint venture company attempts to produce biodiesel
di Batam. Pada Oktober 2008 perusahaan ini akan mulai not only from oil palms but also jatropha. PT Rekayasa
produksi perdana sekitar 15 ribu ton sampai akhir 2008 dan Industri is sure the company will not have any technological
pada 2009 baru mencapai kapasitas maksimal 100 ribu obstacles. The only obstacle is the availability of continuous
ton per tahun. Hasil produksi akan diutamakan ke pasar supply. However, it is convinced that the problem will be
domestik. solved through cooperation with Bakrie.

Perusahaan patungan ini berupaya memproduksi biodiesel In the meantime, the Bakrie Group had started operating in
bukan hanya dengan bahan baku minyak kelapa sawit tetapi Jambi after obtaining a permit in 1991 and HGU certificate
juga pohon jarak. Rekayasa Industri yakin tidak mendapatkan (use permit) in 1995 for its subsidiary PT. Agrowiyana
kendala dari sisi teknologi. Satu-satunya hambatan adalah located in Tebing Tinggi Tungkal Ulu, Tanjung Jabung Barat
ketersediaan pasokan bahan baku. Melalui kerja sama district. According to its annual report, the company had
dengan Bakrie kendala tersebut mampu diatasi. set up a total 17,147 Ha of oil palm plantations, comprising
9,356 Ha of nucleus plantations and 7,701 Ha of smallholder
Sementara, perusahaan Group Bakri di wilayah Jambi telah (plasma) plantations. In addition to the already producing
beroperasi sejak memperoleh izin lokasi ditahun 1991 dan plantations, the company was setting up another 1,500 Ha of
memperoleh sertifikat HGU ditahun 1995 dengan bendera plantations and had had a 17,000-ha land bank, which was
perusahaan PT. Agrowiyana yang berlokasi diwilayah surely reserved for oil palm plantations. While the existing
Tebing Tinggi Tungkal Ulu Kabupaten Tanjung Jabung oil palm plantations were producing food raw materials, the
Barat. Menurut laporan tahunan group ini, lahan perkebunan land being processed was sure to supply the biofuel plants,
yang beroperasi di Jambi yang sudah eksisting mencapai which were slated to operate in 2008.
17.147 Ha dengan rincian 9.356 Ha adalah perkebunan inti,
dan selebihnya adalah perkebunan plasma atau sekitan It seems that the Bakrie Group is doing its best to keep
7.701 Ha. Selain memiliki areal perkebunan yang sudah up with other players. When the CPO price rose on the
berproduksi group ini juga memiliki lahan seluas 1.500 Ha international market, and the demand kept soaring, the
yang sedang dalam pembangunan kebun, dan memiliki land Group’s subsidiary Bakrie Sumatera Plantation would keep
bank mencapai 17.000 Ha yang tentunya juga disiapkan expanding its plantations to 200,000 ha in 2011. (Currently, it
untuk mendukung pembangunan perkebunan kelapa sawit. controls 87,415 ha of plantations, including those of oil palm
Jika lahan yang sudah ada adalah untuk suplay bahan baku and rubber). For a start, BSP would extend the plantations
pangan, maka lahan-lahan yang dalam proses pembangunan to 50.000 ha7. This 50,000 ha plantation would be managed

Biofuel; a Trap
16

baru tentunya akan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan
bahan baku biofuel yang direncanakan tahun 2008 ini sudah
siap berproduksi.

Sepertinya Bakri group tak mau kalah dengan pemain minyak
sawit lainnya, ketika hagra CPO terus meningkat dipasar
dunia, dan terus meningkatnya kebutuhan dipasar dunia
akan bahan baku pangan dan biofuel, Bakri Group dibawah
holding Bakri Sumatera Plantation akan terus memperluas
perkebunan hingga mencapai 200.000 Ha ditahun 2011
(saat ini luas perkebunan mencapai 87.415 Ha, termasuk
kebun sawit dan karet). Untuk memulainya, dalam tiga tahun
ini BSP akan menambah perkebunan seluas 50.000 Ha7.
Lahan seluas 50.000 Ha tersebut akan digarap oleh Indo
Green International, perusahaan patungan Bakri Sumatera
Plantations dan sejumlah investor asing, penambahan alahn
tersebut diperkirakan akan menelan biaya sekitar 260 juta
dollar AS, dari jumlah tersebut sekitar 31% akan disediakan
oleh BSP dan selebihnya sekitar 69% akan disediakan oleh
konsorsium investor asing.

Selain PT Agrowiyana, ada perusahaan lokal yang mereka
beli dipertengahan tahun 2007, dan perusahaan yang
beroperasi di kabupaten Muaro Jambi ini berada dibawah
managemen Bakri Sumatera Plantation/BSP, nama
perusahaan tersebut adalah PT Sumberpratama Nusa
Pertiwi (PT NSP) yang tidak hanya memiliki kebun tapi juga
memiliki pabrik pengolahan CPO. PT NSP yang sebelumnya
adalah dimiliki oleh perusahaan lokal ini, beroperasi diatas
lahan bergambut, sehingga menurut informasi Humas PT
Agrowiyana, hampir setiap tahun kebun sawit yang luasnya
mencapai 8000 Ha untuk kebun inti dan 1.600 Ha untuk
by Indo Green International, a joint venture company of
plasma selalu terendam banjir jika musim hujan tiba, dan
Bakrie Sumatera Plantations and a number of investors.
selalu terbakar jika musim kering tiba. Potensi kerugian yang
The expansion was estimated to cost 260 million US dollars,
besar jugalah yang mendorong perusahaan ini memakai
31% of which would be provided by BSP and the rest by a
skema kemitraan denga pola 80:20, untuk menutup kerugian
consortium of foreign investors.
yang dialami oleh perusahaan.
In addition to PT Agrowiyana, the Group bought a local
Group Bakri, perusahaan milik keluarga Bakri ini memang company, PT Sumberpratama Nusa Pertiwi (PT NSP), in
serius terjun dalam bisnis biofuel. Terbukti telah membangun
mid-2007. The company located in Muaro Jambi district was
perkebunan yang akan dijadikannya kebun energy.
kemampunannya membaca peluang, selama kurun waktu managed by Bakrie Sumatera Plantation/BSP and had both
1 tahun (2006-2007), group ini mampu melakukan ekspansi plantations and CPO processing plants. The formerly local-
disektor perkebunan, dalam setahun saja perusahaan ini owned plantations comprised 8,000 ha of nucleus and 1,600
telah menambah perusahaan perkebunannya dari hanya ha of smallholder (plasma) plantations. According to the
berjumlah 4 unit ditahun 2006 menjadi 8 unit ditahun 20078. tak Public Relations of PT Agrowiyana, the plantations were set
hanya keseriusannya untuk mengembangkan perkebunan up on peatland so they were always flooded during the wet
kelapa sawit sebagai bahan baku pangan, group yang season and burned during the dry season. This potential risk
pernah digawangi oleh Aburizal Bakri ini juga melirik energy drove the company to adopt a 80:20 partnership scheme to
terbarukan sebagai rencana dimasa depannya. Tak ayal cover the loss.
Bakri Sumatera plantation sebagai holding company untuk
sektor perkebunan mendirikan PT Bakri Rekin Bioenery
The Bakrie Group, owned by the Bakrie family, was very
dipertengahan tahun 20079. Untuk mengembangkan usaha
disektor energy terbarukan, group yang juga menekuni serious about its biofuel business. It had set up what would
sektor telekomunikasi ini, telah menyiapkan lahan seluas be energy plantations, and skilfully discerned business
25.000 Ha di propinsi Jambi, dari luas tersebut sekitar opportunities. Within only a year (2006-2007), the Group
15.000 Ha akan dibangun di Kecamatan Koto VII dan Koto was able to expand its plantations rapidly, from 4 units in

Biofuel; Sebuah Jebakan
17

Ilir Kabupaten Tebo dan sisanya seluas 10.000 Ha akan 2006 to 8 in 20078. The company, once headed by Aburizal
dibangun di Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun, Bakrie, was serious about the development. Not only did
dengan nilai investasi mencapai Rp 675 miliar10. Tak cukup it developed oil palm plantations to supply food, but it also
hanya membangun kebun sebagai lahan suply bahanbaku, aimed to develop renewable energy in the future. Therefore,
group ini juga telah merencanakan akan membangun pabrik Bakrie Sumatera plantation as the holding company of the
biofuel di Batam dengan kapasitas terpasang mencapai plantation sector established PT Bakri Rekin Bioenery in mid-
100.000 tons di Batam11.
20079. To develop renewable energy, the Group, which is
also involved in telecommunication business, has prepared
25,000-ha land in the province. Of these, 15 thousand has
will be set up in Koto VII sub-district and Koto Ilir sub-district,
Tebo district, and another 10,000 has in Limun sub-district,
Sarolangun district, with the investment amonting to Rp. 675
billions10. Not only that, the Group will also set up a biofuel
plant in Batam with the installed capacity fetching 100.000
tons11.

Box 2: Box 2:

Siapa akan menyusul Bakrie? Who would follow Bakrie?

Selain Bakri Group yang sudah merencanakan Besides the Bakrie Group, which had seriously
serius menekuni projek bahan bakar nabati dari learned about palm biofuel projects particularly
minyak sawit khususnya di propinsi Jambi, secara in Jambi, there were several big groups
interested in the sector, such as the Singapore-
luas ada beberapa group besar yang juga tak mau
based Wilmar Group, which announced last
kalah, misalnya saja Wilmar Group yang berbasis year that it would partner with Archer Daniels
di Singapura ini akan menggandeng Archer Daniels Midland/ADM. The company would set up
Midland/ADM yang telah diumumkan tahun lalu, a biofuel plant in Riau province under the
dan perusahaan ini direncanakan akan membangun name of Wilmar Bioenergy
20
slated to produce
pabrik biofuel di propinsi Riau dengan nama Wilmar 350,000 tons/year . The Wilmar Group owns 1
Bioenergy yang20 akan memproduksi biofuel sebanyak subsidiary operating in Jambi province with the
350.000 ton/th . Wilmar Group memiliki 1 buah anak total plantations reaching 20,000 Ha.
perusahaan yang juga beroperasi di propinsi Jambi
dengan luas konsesi perkebunan mencapai 20.000 Not wanting to lose to the two groups, Astra
Agro Lestari would set up 2 biofuel plants, 1
Ha.
in Riau and the other in Central Kalimantan,
involving an investment of US$14 millions. All
Tak mau kalah dengan dua pemain diatas, tak the groups surely involved foreign investors to
tanggung-tanggung Astra Agro lestari akan finance their projects.
membangun 2 pabrik Biofuel sekaligus, 1 unit di Riau
dan 1 unit di Kalimantan Tengah dengan nilai US$ 14
juta. Tentunya para group ini akan mengikutsertakan
investor luar negeri untuk membiayai projek ini.

Biofuel; a Trap
18

2.1.2. Biofuel dan penurunan kuantitas dan 2.1.2. Biofuel and the declining size and quality of
kualitas lahan pangan di Jambi agricultural land in Jambi

Jika dari tahun ketahun pertumbuhan areal perkebunan As oil palm plantations is increasing in size, agricultural land
kelapa sawit terus meningkat, maka luas persawahan terus is shrinking. Farmers are reluctant to keep growing rice due
menyusut. Tak hanya karena terus menurunnya minat to the unfriendly climate and the low price of the commodity.
petani padi untuk terus bersawah karena ketersediaan However, the main drive is the government’s discriminating
iklim yang baik, tapi juga dikarenakan harga beras yang policies on these two sectors. While privileges are given
tidak menjanjikan. Dan yang paling penting adalah dalam to the plantation sector (access to capital, market and
skala kebijakan, terjadi ketidak intergasian antara kebijakan infrastructure), there are no infrastructure building and soft
pertanian dan perkebunan. Jika ekspektasi terhadap sektor loans avaialble for the agricultural sector. It is no surprise
perkebunan demikian baik, dari pembukaan akses terhadap that more local farmers are leaving their subsistence farming
kredit, pasar hingga infrastruktur, tidak demikian dengan in favour of industrialised agriculture.
ekspektasi terhadap sektor pertanian (baca; pangan). Tak
ada kredit yang ”lunak” tak ada pembangunan infrastruktur The chart below clearly shows the increase in plantation areas
yang baik, dan bahkan tidak ada fasilitas kredit ”lunak” bagi and the decrease in agricultural land, one of communities’
para petani pangan. Tak mengherankan jika kemudian yang crop production areas.
terjadi adalah perubahan model pertanian masyarakat lokal,
dari pertanian subsisten ke pertanian industrialis.

Bagan dibawah jelas menggambarkan bahwa terjadi
peningkatan luas perkebunan, dan terjadi penurunan luas
persawahan sebagai salah satu contoh areal produksi
pangan masyarakat.

Grafik perbandingan
luas sawah dan luas
kebun sawit12

Size comparison of
agricultural and oil
palm plantation areas12

Dalam kasus lain, diberbagai kabupaten propinsi Jambi In another case, there has been massive conversion of
terjadi pengalihan besar-besaran areal persawahan menjadi agricultural land into oil palm plantations in many districts.
perkebunan kelapa sawit. Seperti Kabupaten Tanjung Jabung In the coastal district of Tanjung Jabung Timur, for example,
Timur yang berada dipesisir, hampir 70% sawah tadah 70% of rain-dependent rice farmlands and cropland have
hujan dan sawah ladang kini telah berganti kebun sawit13. been converted into oil palm plantations13. The shrinking
Akibat semakin menyempitnya lahan pertanian pangan di agricultural land will surely pose a food insecurity threat to
propinsi Jambi tentu menjadi tantangan dimana akan terjadi the province. To make things worse, plantation policies are
kerawanan pangan di propinsi Jambi. Celakanya lagi bahwa not focused on food security, let alone food sovereignty.
arah kebijakan perkebunan tidak menyentuh persoalan
ketahanan pangan apalagi kedaulatan pangan. While the first two cases show that the shrinking agricultural
land is caused by the shifting from traditional to industrialised
Jika kasus diatas menggambarkan bahwa masyarakat agricultural practices due to the uncompetitive price of rice
beralih dari petani pangan padi menjadi petani pangan and discriminating policies on agriculture, many other cases
minyak yang disebabkan makin tidak kompetitifnya harga show that it is caused by conversion to oil palm plantations.

Biofuel; Sebuah Jebakan
19

pangan padi dibanding pangan minyak, dan perlakuan Our researches reveal that nearly 50% of what is now oil palm
kebijakan terhadap pertanian pangan minyak lebih baik plantation was once productive agricultural land14. It is not
dibanding pertanian pangan minyak. Maka dalam banyak surprising that the prevalent conflicts between communities
kasus lainnya, penurunan lahan areal peranian pangan and companies are related not only to customary land but
padi adalah dampak dari pengalihan fungsi lahan peranian also to forced conversion.
pangan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Pada
penelitian yang kami lakukan bahwa hampir 50% areal If conversion to fulfil food need in European countries
yang kini menjadi HGU perkebunan kelapa sawit skala has contributed to the shrinking of local agricultural land,
besar awalnya adalah pertanian produktif yang ditanami cropland will even get shrunk with the expansion of biofuel.
padi ladang14. Tak mengherankan jika konflik yang tercipta And communities, who have turned into food-for-human
antara masyarakat dengan perusahaan adalah didominasi farmers, will also serve as food-for-industry farmers. Only
tidak hanya persoalan tanah adat, tapi juga persoalan when forests are gone, rice is insufficient and people get
pengalihan fungsi lahan pertanian pangan milik masyarakat hungry, do we realise that we cannot drink CPO.
yang dipaksakan.

Jika hanya untuk menanam bahan ”pangan” untuk manusia
diberbagai negara-negara Eropa dengan mengubah lahan-
lahan pangan lokal saja telah menyumbang terjadinya
penurunan areal pertanian masyarakat lokal, apalagi jika
ditambah dengan projek Biofuel. Dan tentunya masyarakat-
masyarakat yang kini sudah beralih fungsi menjadi petani
”pangan untuk manusia” akan berganda perannya sebagai
petani ”pangan mesin”. dan ketika hutan sudah hilang, ketika
padi sudah rawan, dan ketika perus mulai lapar, maka saat
itu kita akan sadar bahwa kita tidak bisa minum CPO.

2.1.3. Biofuel dan perubahan pola konsumsi gizi 2.1.3. Biofuel and changes in nutrition
masyarakat miskin di Jambi consumption pattern among the poor in
Jambi
Menjelang penutup tahun 2007, tidak hanya harga minyak
bumi yang membumbung, tapi juga harga minyak goreng By late-2007, not only the price of oil but also that of palm
yang berasal dari kelapa sawit. Hingga pembuka tahun cooking oil were rising. Up to early 2008 the price of cooking
2008 harga minyak goreng tidak bergerak turun seperti oil on the domestic market was not dropping as predicted
yang diprediksi oleh banyak pihak ketika kebijakan tentang by some despite government’s policy on 10% export tax
kenaikan pajak Eksport CPO yang mencapai 10%. Contoh hike. Non-branded cooking oil was sold at Rp10,000 per
saja harga minyak goreng curah kini mencapai Rp 10.000 kg15; in Bantul, Jogjakarta, the price was even higher, up to
perkg15, sedangkan di Bantul Jogjakarta harga minyak Rp10,300 per kg.
goreng mencapai Rp10.300 perkg.

Grafik :
Harga Minyak Goreng Curah Propinsi Jambi Tahun 2006-2007
Harga minyak goreng
di propinsi Jambi/
Fluctuating cooking oil price 8205 7873 8484 8330 8067 8133
in Jambi province 18 7253 7579
6481 6305 6442
5839
5252 5187 5019 5360 2006
4770 4697 4684 4553 4565 4620 4613
2007
i
ei

li
i

et

r
ril

s

r
r

er
n
i
ar

be
ar

Ju

be
be
tu
Ju
M
Ap
ar

ob
nu

ru

us

m

m
em
M

kt
b
Ja

Sumber : BPS Propinsi Jambi
pe

se
Ag
Fe

O
pt

No

De
Se

Biofuel; a Trap
20

Minyak goreng tidak hanya mengalami kenaikan harga, Not only did cooking oil increase in price, it was also hardly
tapi juga menghilang dari pasaran. Tak ayal inilah yang found on the market, causing anxiety in the society. The hike
membuat masyarakat semakin kelimpungan. Kenaikan was caused not only by the rising of the world’s oil price,
harga minyak goreng ini tidak saja dipicu oleh menjulangnya which stood at US$100 per barrel, but also by some least-
harga minyak bumi yang kini mencapai US$100 perbarel, to-be-analysed factors. The factors below place biofuel as
tapi ada beberapa factor lain yang juga berpengaruh, yang the key contributors leading to conflicts, food insecurity and
sebetulnya banyak pihak yang tidak menjadikan factor ini
forced adaptation to potential malnutrition, namely17 :
sebagai sesuatu yang harus dianalisis. Dan beberapa factor
dibawah ini menempatkan biofuel sebagai factor kunci tidak
1. Palm producers, including those in Jambi, preferred
hanya bagi persoalan konflik, kerawanan pangan, tapi juga
pemaksaan kepada masyarakat untuk bisa beradaptasi selling their CPO onto international market due to
terhadap potensi kerawanan gizi. Beberapa factor tersebut higher price. Throughout 2006 the export of CPO from
adalah17 : the province stood at 93 million kg or equal to US$31.75
millions18. This means that export was the main focus
1. Para pengusaha kelapa sawit lebih tertarik untuk of palm companies to make a fortune. The high price
mengekspor bahan baku CPO kepasar international, ini of CPO on the international market was driven by the
dikarenakan harga lebih tinggi dibanding pasar dalam global need for converting fossil fuel to biofuel. There
negeri. Tak terkecuali perusahaan-perusahaan yang was a huge demand for CPO from many European
beroperasi dipropinsi Jambi, selama tahun 2006 saja countries, supply and demand law applied: higher
volume eksport CPO Jambi mencapai 93 juta Kg atau demand and less supply, higher price.
setara dengan 31,75 juta US$18. Artinya pengusaha-
pengusaha kelapa sawit terus menjadikan pasar ekspor
sebagai focus utamanya dalam meraih keuntungan.
tingginya harga CPO dipasar international adalah
akibat kebutuhan pasar international untuk segera
mengkonversi bahan bakar fossil ke bahan bakar
nabati. Tak ayal kemudian banyak Negara terutama
Eropa memperebutkan bahan baku dari CPO ini.
Hokum pasar kemudian bermain, bahan baku langka,
harga meningkat.

3,756.28
4,095.66
3,441.77

2,454.60 10,989.15
2,092.40
10,376.19

1,080.90 8,661.60
1,087.27
6,333.70 6,386.40
4,903.21
4,110.00

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*

Volume (ribu ton) Nilai (juta dollar AS)

Source: BPS/Central Statistics Agency21

Biofuel; Sebuah Jebakan
21

2. penimbunan yang dilakukan oleh oknum, yang 2. Some domestic businessmen took an advantage from
ingin meraih keuntungan dari naiknya harga minyak the situation; they stockpiled CPO, creating scarcity of
kelapa sawit. Selalu terjadi, penimbunan bahan baku the commodity that pushed the price higher and then
akan mengikuti kenaikan harga. Penimbunan akan sold it at the best price. Stockpiling a given commodity
mengakibatkan langkanya bahan baku dipasaran. is understandably related to the increasing demand.
Penimbunan ini juga terkait erat dengan kebutuhan 3. Stockpiling was also done by foreign traders. The
bahan baku biofuel dipasar international, assumption was confirmed by the high volume of
3. penimbunan yang dilakukan oleh pengumpul di national export; soaring from 9.6 million tons in 2005
luar negeri. Prediksi ini diperkuat dengan tingginya to 11.5 tons in 2006. In fact, supplies from producer
volume eksport secara nasional, jika ditahun 2005 countries like Malaysia, Indonesia and PNG had been
volume ekport hanya 9,6 juta ton maka ditahun 2006 sufficient enough to meet the international demand.
volumenya meningkat menjadi 11,5 juta ton. padahal 4. The government’s persistent attempts to promote biofuel
kebutuhan pasar luar negeri selama ini tercukupi dari without considering the supply side. No anticipating
suply CPO dari berbagai negara produsen seperti measures were in place when food and biofuel
Malaisia, Indonesia dan PNG. producers were struggling for supply. Ever since biofuel
4. kecendrungan pemerintah yang terus menggulirkan was promoted as a renewable and environmentally-
issu penggunaan Bakar Nabati, salah satunya adalah friendly energy that can reduce greenhouse gases, the
biofuel (bahan bakar nabati dari bahan baku kelapa government has seemingly found a new toy to play with
sawit) tanpa melihat kesesuaian suplay sehingga tidak as Indonesia contains rich and abundant resources
ada antisipasi terjadinya perebutan bahan baku bagi adaptive to oil palm plantations, the biofuel’s main raw
kepentingan bahan makanan dan bahan baku BBN. material. Accordingly, the government issued various
Sejak issu penggunaan energi biofuel sebagai energi policies to accelerate oil palm plantations to supply
terbarukan dan sebagai energi ramah lingkungan yang biofuel sector, such as Presidential Instruction No. 1
dapat mengurangi Gas Rumah Kaca/GRK, pemerintah Year 2006.
Indonesia seperti menemukan mainan baru. Ini 5. Nearly 90% of the biofuel plants to operate in Indonesia
dikarenakan Indonesia memiliki wilayah dan sumber were to produce CPO for food so the policies would
daya alam yang kaya dan adaftip dengan perkebunan threaten cooking oil security.
kelapa sawit sebagai bahan baku utama biofuel.
Tak heran jika kemudian pemerintah mengeluarkan
berbagai kebijakan tentang percepatan pembangunan
perkebunan untuk bahan baku biofuel, seperti INPRES
nomor 1 tahun 2006.
5. hampir 90% pabrik biofuel yang akan beroperasi di
Indonesia adalah para producer CPO sebagai bahan
makanan, dan tentunya realitas ini akan mengancam
ketahanan bahan baku minyak goreng.

Biofuel; a Trap
22

2.2. Biofuel di Riau; proyek membongkar 2.2. Biofuel in Riau: Peatland-replacing
gambut Projects

Kawasan industri biofuel di Riau adalah; Kawasan Biofuel industrial areas in Riau are Kawasan industri
industri Dumai, Kawasan Industri Tenayang (Kodya Dumai, Kawasan Industri Tenayang (Pekanbaru City),
Pekanbaru), Kawasan Industri Buton (Kabupaten Kawasan Industri Buton (Siak District), Kawasan
Siak), Kawasan Industri Pulau kijang (Indragiri Hilir), Industri Pulau kijang (Indragiri Hilir), equipped with
dilengkapi sarana pelabuhan sungai dan pesisir laut. ports in the rivers and the coasts. Biofuel expansion
Berpraktek memperburuk iklim global untuk ekspansi is worsening global climate.
biofeul.

Propinsi Riau terletak di pesisir Timur pulau Sumatra, secara The province of Riau is located in the eastern coast of
georafis sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka mainland Sumatra. Geographically, it borders on Malaka
dan Propinsi Sumatera Utara; sebelah selatan berbatasan Bay and the province of North Sumatera in the north, the
dengan Propinsi Jambi dan Propinsi Sumatera Barat; provinces of Jambi and West Sumatera in the south, the
sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Kepulauan Riau province of Riau and Malaka Bay in the east, and the
dan Selat Malaka; sebelah barat berbatasan dengan Propinsi provinces of West Sumatera and North Sumatera in the
Sumatera Barat dan Propinsi Sumatera Utara. Propinsi Riau west. It stretches along the Bukit Barisan mountains to
terhampar dari lereng Bukit Barisan sampai dengan Selat Malaka Bay, from 010 05’ 00’’ to 02025’00’’ North longitude
Malaka, terletak antara 010 05’ 00’’ Lintang Selatan sampai and from 100o00’00’’ to 105005’00’’ East latitude. It is made
02025’00’’ Lintang Utara atau antara 100o00’00’’ Bujur Timur up of 9 districts (Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri
sampai 105005’00’’ Bujur Timur. Daerah Propinsi Riau terdiri Hilir, Pelalawan, Siak, Kampar, Rokan Hulu, Bengkalis and
dari 9 kabupaten (Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri Rokan Hilir) and 2 cities (Kota Pekanbaru, the provincial
Hilir, Pelalawan, Siak, Kampar, Rokan Hulu, Bengkalis capital, and Kota Dumai). The total population up to 2007
dan Rokan Hilir) dan 2 kota yaitu Kota Pekanbaru (Ibukota was 5,070,952, living on a 8,915,015.09 ha of land.
Provinsi Riau), dan Kota Dumai. Sampai tahun 2007,
jumlah penduduk Riau 5.070.952 jiwa, dengan luas wilayah Riau is one of the biofuel study locations. Studies were
mencapai 8.915.015,09 hektar conducted in areas having indications of containing private
biofuel companies. The province contains the largest
Riau merupakan salah satu wilayah studi proyek biofeul peatland in mainland Sumatera, standing at 4.044 million ha
di Indonesia. Studi di lakukan di beberapa tempat (56.1% of the mainland total or 45% of the province total).
yang di indikasikan kuat ada perusahaan swasta yang The carbon content is said to be the highest throughout the
menginvestasikan proyek industry biofeul dari bahan baku mainland, and even in South East Asia.
kelapa sawit. Propinsi ini merupakan wilayah yang memiliki
lahan gambut yang terluas di pulau sumatra mencapai Biofuel is not only the climate cleaner, but also one of the
4,044 juta ha (56,1 % dari luas lahan gambut Sumatra atau largest contributors to global warming. The expansion of
45% dari luas daratan Propinsi Riau). Kandungan karbon oil palm plantations has threatened not only the province’s
tanah gambut di Riau tergolong yang paling tinggi di seluruh forests but also the peatland – the province’s carbon
Sumatera bahkan se-asia tenggara. sink. Imagine how much carbon will be emitted into the
atmosphere when it is converted into oil palm plantations. It
Biofuel tak hanya sebagai pembersih iklim, tapi juga sebagai is a paradox that biofuel, which is said to be able to address
biang pemanasan global. Ekpansi perkebunan kelapa sawit global warming, turns out to give considerable contribution
tak hanya mengancam hutan-hutan di Riau, tapi kini ekpansi of emissions.
telah merayap menuju areal-areal gambut yang selama ini
menyimpan CO2. jika areal gambut itu diubah dan dijadikan There have been and still are lengthy studies on the function
perkebunan kelapa sawit untuk bahan baku Biofuel, of Riau’s forests and peatland to stabilize the climate. The
bayangkan berapa banyak CO2 yang akan dilepaskan. Ini province’s peatland, encompassing 4.05 million ha, is
sebuah paradox. Biofuel yang dianggap bisa menjawab the richest in South East Asia. Riau is the province most
persoalan pemanasan global tapi dalam perjalannya justru prepared to supply the main raw material (oil palms) for
menyumbang emisi yang tak kecil. biofuel. As the result, the deforestation rate in Riau is among
the highest, fetching the average 160,000 Ha/year. Some
Hutan dan lahan gambut Riau sampai saat ini masih say that in 20 years, Riau’s forests will be gone. According
menjadi satu kajian panjang atas keberadaannya untuk to International Forest Advisor, the degradation rate of Riau
menstabilkan iklim. Dengan luas gambut mencapai 4,05 forest is the highest in the world, standing at 5.6%, with

Biofuel; Sebuah Jebakan
23

juta hektar, provinsi ini memiliki kekayaan gambut di asia conversion into oil palm and pulpwood plantations being
tenggara. Riau menempati posisi provinsi yang paling siap the primary cause. Accordingly, the sector has contributed
sebagai pemasok bahan baku utama biofeul dari kelapa a considerable amount of CO2 to the atmosphere, which
sawit. Akibatnya laju kerusakan hutan Riau rata-rata 160.000 reaches 278 mt/year7.
Ha/tahun, dan menurut beberapa pihak dalam kurun waktu
kurang dari 20 tahun hutan Riau tinggal kenangan. Menurut
International Forest Advisor, kerusakan hutan Riau tertinggi Gambar:
didunia yakni 5,6%. Dan aktifitas pengrusakan hutan di PETA PERKEBUNAN SAWIT DI RIAU
dominasi oleh kegiatan perkebunan kelapa sawit dan OIL PALM PLANTATIONS IN RIAU
perkebunan kayu pulp. sehingga tak mengherankan jika
kegiatan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan kayu
pula memberikan kontribusi pelepasan CO2 ke atmosphere
mencapai 278 mt CO2/tahun7.

Kebijakan pemerintah yang mendukung, minat investor dan
respon masyarakat yang semakin tinggi pada sektor kebun
kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang mendukung
percepatan pertumbuhan pembagunan kelapa sawit di
Riau sehingga telah menempatkan Propinsi Riau menjadi
penghasil kelapa sawit terbesar kedua di Indonesia yaitu
sekitar 1/3 (sepertiga) dari total produksi Crude Palm Oil
(CPO) Nasional. Sampai tahun 2007, luas kebun sawit Riau
mencapai + 2,157,091 hektar. Jumlah ini merupakan ¼ luas
lahan kelapa sawit indonesia berada di propinsi riau20. Dari
luas yang dimiliki Riau, kebun kelapa sawit mencapai 39
% Sawit berada di lahan gambut dan 55% berada dilahan
gambut dalam dan sangat dalam21. Selama 2002-2007
seluas 332,342 hektar hutan gambut telah berganti menjadi
perkebunan sawit, dan 40% hutan alam yang di buka
tersebut merupakan lahan gambut dalam dan 34% sangat Favourable policies and people’s increasing responses to
dalam22. the sector are two factors that drive the acceleration of the
expansion in the province, making it the Indonesia’ second
Dengan konversi gambut secara besar-besaran, maka, largest palm producer, totalling 1/3 of the national CPO
dampak yang ditimbulkan adalah; kebakaran hutan dan production. Up to 2007, the total palm plantations in Riau
lahan gambut, kerancamnya keragaman hayat gambut, reached +2,157,091 ha, which represent ¼ of the Indonesia
kekeringan, dan bencana banjir di Riau semakin tinggi setiap total20. Of these, 39% lies on peatland and 55% on deep
tahunnya. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, hal ini juga growth and very deep growth peatland21. During 2002-2007
di sampaikan oleh laporan UNEP 2007, yang menyatakan a total 332,342 ha of peatland was converted into palm
bahwa perkebunan sawit saat ini mengarah pada perusakan plantations, and 40% of the converted land was deep growth
hutan tropis di indonesia. peatland and another 34% is very deep growth peatland22.

2.2.1. Biofuel mengancam lumbung pangan di The massive conversion led to increasing forest and
Riau peatland fires, potential extinction threat of peat ecosystem
diversity, drought and floods. These are undeniable facts
Total penduduk Riau sebesar 5.070.952 jiwa. Kebutuhan and are also included in the 2007 UNEP’s report, which
konsumsi Riau menurut beberapa sumber informasi di added that palm plantations led to destruction of Indonesia’s
peroleh banyak dipasok dari Sumatera Barat, Palembang, tropical forests..
Bengkulu dan Medan. Pasoan ini mulai dari kebutuhan
beras, sayur mayur sampai buah-buahan. Hampir setiap 2.2.1. Biofuel threatens food sources in Riau
hari pasokan beras dan sayur mayur datang dari kota
padang, brastagi dan palembang. Kondisi sudah berjalan The total province’s population amounts to 5,070,952.
sejak lama, karena Riau sendiri belum dapat memenuhi Food supply comes from West Sumatera, Palembang,
kebutuhan pasokan bahan pangan dan sayur mayur sendiri. Bengkulu and Medan, comprising rice, vegetables and fruit.
Hal ini disebabkan, kebijakan pemerintah Riau yang tidak Almost every day rice and vegetables are supplied from

Biofuel; a Trap
24

memperhatikan kondisi dan kebutuhan pangan. Kebijakan Padang, Brastagi and Palembang as the province has yet to
pemerintah lebih mengarah kepada industri kehutanan sufficiently meet the local needs. This is due to the province’s
dan perkebunan. Walaupun sektor pertanian di kerjakan, negligence of its food status and needs. Agriculture is not
tetapi masih dikalahkan oleh sektor kehutanan (HTI) dan completely neglected; however, the provincial government
perkebunan kelapa sawit sekala besar. focuses more on forestry and large-scale palm plantations.

Ketergantungan akan pasokan Riau dari luar daerah dan The province’s dependence on external supply and the
kondisi pembangunan sektor kehutanan dan perkebunan development of forestry and palm plantations have potentially
kelapa sawit memberikan dampak pada kerawanan pangan led to food insecurity. Although the provincial government
secara mandiri. Walaupun di beberapa tempat telah dibangun had designated some areas as food sources, they were
dan ditetapkan sebagai sentra produksi pangan, tetapi selalu under pressure of palm expansion/conversion. One example
mendapat tekanan dari ekspansi kelapa sawit. Satu contoh is the case of Bunga Raya Village in Siak district. The district
kasus di Desa Bunga Raya Kabupaten Siak. Wilayah ini was among the most productive food producers. However,
termasuk kedalam sentra produksi pangan penghasil padi in the last few years, much of the agricultural land has been
paling potensial ditetapkan sebagai lumbung padi. Namun converted into palm plantations. So far, a total 800 ha of land
pada beberapa tahun belakangan ini banyak sawah-sawah has been converted into palm plantations. In 2007 the district
masyarakat yang dialih fungsikan menjadi perkebunan administration banned conversion into palm plantations,
kelapa sawit, setidaknya tercatat sudah lebih dari 800 ratus it even pulled out all the palm trees. Such a measure was
ha sawah di Desa ini beralih fungsi menjadi perkebunan done following a drastic decline in rice production as a result
kelapa sawit. Pada tahun 2007 pemerintah kabupaten of conversion.
mengambil tindakan dengan melarang masyarakat mengalih
fungsikan sawah ke perkebunan pemerintah juga mencabut According to Pak Dahlan, the main reason for the conversion
sawit-sawit yang telah ditanam masyarakat di lahan per was the high production cost and unprofitable outputs. In
sawahan. tindakan ini diambil pemerintah karna alih fungsi addition, After the implementation of the irrigation project,
areal persawahan keperkebunan telah mengakibatkan the fields became dry so they could only plant them once a
produksi padi menurun drastic. year during the wet season, and not twice as in the previous
years. Similarly, the 12,000 ha of agricultural land in the
Menurut Pak Dahlan Alasan masyarakat melakukan alih district Rokan Hilir are threatened by drought due to the
fungsi adalah karna biaya produksi padi tinggi sementara construction of canals, which overlooks the conditions of
hasil yang diperoleh tidak menguntungkan apa lagi lahan peatland.
persawahan di desa ini hanya bisa ditanam sekali setahun.
Sebelumnya masyarakat masih bisa melakukan penanaman 2.2.2. Biofuel, peatland fire and upper respiratory
2 kali setahun namun setelah ada proyek irigasi yang tract infections
dilakukan oleh PU, lahan persawahan jadi kering dan hanya
bisa ditanam saat musim hujan saja kondisi yang sama The larger land one burns, the greater profit one could
juga terjadi di kabupaten Rokan Hilir dimana saat ini 12.000 gain. Consequently, burning has been practised massively
ha lahan pertanian masyarakat terancam kering akibat and uncontrollably. Forest and land fires have adversely
pembuatan kanal yang tidak mempertimbangjkan kondisi affected many sectors: the economy, the transportation,
lahan gambut. the agriculture, the health as well as governmental affairs.
Based on MODIS data, during 2001-2008 the identified
2.2.2. Biofeul, Kebakaran Gambut dan ISPA hotspots recorded by Jikalahari amounted 86.883. During
(Infeksi saluran pernapasan Atas) 2001- February 2008, 77% of the hotspots were located on
peatland of 387,326.5 ha in size; and 28% of the burned peat
Semakin luas lahan yang dibakar, semakin besar was of deep-growth and 36% was of very deep growth.
keuntungan ekonomi yang didapat, sehingga pembakaran
lahan berlangsung dalam skala yang luas dan tak terkendali. During 2001 – February 2008 as many as 246 hotspots
Kebakaran hutan dan lahan telah memberikan dampak yang were detected in conservation areas of a total 1,033.27 ha
luas pada berbagai sektor, baik kepada perekonomian, in size, namely Danau Pulau Besar/Bawah, Kerumutan,
transportasi, produksi pertanian, tingkat kesehatan Tasik Belat, Giam Siak Kecil, Tasik Tanjung Pulau Padang,
masyarakat maupun hubungan kenegaraan. Berdasarkan Bukit Batu, and Sungai Dumai. The condition would lead to
Data MODIS, Sepanjang tahun 2001-2008 Titik panas yang the extinction of all the flora and fauna biodiversity in and
terdata di Jikalahari terdeteksi sebanyak 86883 titik api. around the areas, and would bring far-reaching impacts on
Dalam periode 2001- Pebruari 2008, 77% titik api berada the environment and humans. Declining air quality would

Biofuel; Sebuah Jebakan
25

dilahan gambut dengan luasan 387.326.5 hektar, 28% increase accute respiratory tract infection, particularly
gambut yang terbakar merupakan gambut dalam dan 36% among children.
merupakan gambut sangat dalam.
The Health Agency said in 2005 that smoke from peatland
Sepanjang priode 2001 – Pebruari 2008 terdeteksi 246 titik api fires affected many children in Riau. Up to 2005 the number
dikawasan konservasi dengan luasan total 1.033.27 hektar. of infected children in Riau amounted to 494,052. 7,608 of
Kawasan konservasi yang terbakar selama priode 2001 – these suffered from pneumonia, comprising 2,663 children
Pebruari 2008 yaitu DanauPulau Besar/Bawah, Kerumutan, under 1 year old, and 4,945 children between 1-4 years
Tasik Belat, Giam Siak Kecil, Tasik Tanjung Pulau Padang, old. The infected children were distributed almost evenly in
Bukit Batu, Sungai Dumai. Jika kondisi ini terus berlangsung Pekanbaru, Kampar, Palalawan, Rokan Hulu, Indragiri Hilir,
tentu akan berdampak pada punahnya keanekaragaman Indragiri hulu, Kuantang Sengingi, Bengkalis, Dumai, Siak
hayati baik flora maupun fauna di sekitar lokasi kebakaran. and Rokan Hilir.
Dampak yang luas terutama terhadap kondisi ekosistem
lingkungan dan makhluk hidup. Menurunnya kualitas udara 2.3. Biofuel, creating conflicts in South
mengakibatkan meningkatnya penderita penyakit Inspeksi Sumatera
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagi masyarakat terutama
bagi anak Balita.
The province of South Sumatera lies between 1º-4º South
Menurut sumber Dinas Kesehatan tahun 2005, dampak longitude and 102º-106º East latitude, encompassing an
kebakaran lahan gambut yang menimbulkan kabut asap area of 87,017.42 km2. It borders on the province of Jambi in
mengganggu penderita pada Balita di Riau. Sampai tahun the north, the province of Lampung in the south, the province
2005 jumlah Balita di Riau sebanyak 494.052 jiwa anak. Bangka Belitung in the east and the province of Bengkulu in
Jumlah yang menderita gangguan ISPA pada jenis penyakit the west. In late 2006, new districts were established; it is
pneumonia, sebanyak 7.608 jiwa balita, terdiri dari kelompok now made up of ten districts and four cities. In 2006 it had
umur terbagi menjadi usia dibawah 1 tahun sebanyak 2,538 villages, 293 cities, and 201 sub-districts.
2.663, umur 1 – 4 tahun sebanyak4.945. Penderita Balita ini
tersebar hampir merata di Pekanbaru, Kampar, Palalawan, The province is rich in natural resources, including minerals,
Rokan Hulu, Indragiri Hilir, Indragiri hulu, kuantang sengingi, forests, agriculture and plantations. In the mining sector,
Bengkalis, Dumai, Siak dan Rokan Hilir. it contains oil deposit up to 5.03 billion barrels (10% cl) or
5,032,992 metric stack tank barrels. Oil production rate
grows 10% per year and the deposit will last 60 years.
2.3. Biofuel, menciptakan konflik di The coal deposit is estimated to reach 16,953,615,000
Sumatera Selatan tons or 60% of the national total. Mining sites encompass
1,030,128.75 ha, including the 2,243,120.15 ha of oil and
gas. The designation of the province as the energy source
Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1 derajat has driven exploitation of fossil fuel such as oil, gas and
sampai 4 derajat Lintang Selatan dan 102 derajat sampai coal. In addition, the province will build alternative energy/
106 derajat Bujur Timur dengan luas daerah seluruhnya biofuel plants.
87.017,42 km2. Batas daerah ini adalah: Di sebelah Utara
dengan Provinsi Jambi, di sebelah Selatan dengan Provinsi In agricultural sector, the province has 6,757 ha of technical
Lampung, di sebelah Timur dengan Provinsi Bangka irrigated fields and 809 ha of non-technical irrigated ones.
Belitung, di sebelah Barat dengan Provinsi Bengkulu. The total agricultural land encompasses 5,524,725 ha or
Sampai akhir tahun 2006, wilayah administrasi Sumatera 70% of the province total. In 2005 there were 626,849 ha
Selatan mengalami pemekaran kabupaten, sekarang jumlah of rice fields with the total production of 2,320,110 tons.
kabupaten di Sumatera Selatan menjadi sepuluh kabupaten Approximately 171,928 of the total production came from
dan empat kota. Sumatera Selatan berbatasan langsung dry farms, which encompassed 73,504 ha. Districts with
dengan propinsi, di sebelah Utara propinsi Provinsi Jambi, the largest area and production were Ogan Komering Ilir
di sebelah Selatan Provinsi Lampung, sebelah Timur and Ogan Komering Ulu Timur (OKUT). The province also
Provinsi Bangka Belitung, sebelah Barat Provinsi Bengkulu. had 1,878,983 ha of community’s and private plantations,
Jumlah penduduk Sumatera Selatan tahun 2006 berjumlah comprising rubber, palms, sugar canes, coffee, coconuts,
6.899.892 jiwa. Rasio jenis kelamin Provinsi Sumatera peppers and others, with the total production amounting to
Selatan pada tahun 2005 sebesar 100,70 persen, yang 4,040,150 tons. Four dominant commodities are oil palm,
berarti daerah ini mempunyai jumlah penduduk laki-laki rubber, coffee and coconut.
lebih besar dari pada perempuan. Mata pencaharian di

Biofuel; a Trap
26

sector perkebunan sebanyak 1.134.502 KK. Jumlah ini
terbagi menjadi perkebunan karet sebanyak 510.005 kk,
kelapa sawit 211.883 KK, kopi 212.210 KK , kelapa dalam
152.954 KK dan perkebunan komoditas lain 47.450 KK

Dalam wilayah Provinsi Sumatera selatan terdapat banyak
sekali sumber daya alam baik itu sektor Pertambangan,Hutan
maupun dari hasil pertanian dan perkebunan. Untuk
sektor pertambangan propinsi sumatera selatan memiliki
cadangan minyak bumi sebanyak 5,03 miliar barrel (10% cl)
atau 5.032.992 matrick stack tank barrel. Cadangan minyak
bumi diproduksi dengan pertumbuhan 10% per tahun
dan dapat bertahan 60 tahun, Sedangkan cadangan batu
bara diperkirakan sebesar 16.953.615.000 ton atau 60%
cadangan nasional. Luas areal usaha pertambangan umum
mencapai 1.030.128,75 ha, dengan pertambangan minyak
dan gas 2.243,120,15 ha. Dicanangkannya Sumsel sebagai
lumbung energi telah memacu pemerintah provinsi gencar
melakukan eksploitasi terhadap sumber-sumber energi fosil
seperti minyak, gas dan batubara. Selain itu pemerintah
Sumsel akan membangun pengolahan energi alternatif/
bahan bakar nabati.

Di sektor Pertanian propinsi ini memiliki hamparan Lahan
sawah irigasi teknis mencapai 6,757 ha dan irigasi non
teknis 809 ha. Lahan pertanian mencapai 5.524.725 ha atau
setara dengan 70% total luas wilayah Sumatera Selatan.
Kendati demikian, lahan padi di provinsi ini pada 2005
mencapai 626.849 ha dengan jumlah produksi 2.320.110 2.3.1. Palm plantations
ton. Dari jumlah produksi itu, sekitar 171.928 ton berasal
dari produksi lahan kering seluas 73.504 ha. Kabupaten The province contains 682,730 ha of palm plantations
dengan luas areal dan produksi padi tertinggi adalah Ogan with 174 companies. It sets a target of producing 800,000
Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu Timur (OKUT). ha by the end of 2008. The provincial government has
Provinsi ini juga memiliki sumber daya perkebunan seluas reserved some 600,000 ha for palm plantations. The current
1.878.983 ha yang merupakan perkebunan milik rakyat dan production stands at 1.6 million tons or 12% of the national
perusahaan, terdiri dari perkebunan karet, kelapa sawit, production.
tebu, kopi, kelapa, lada dan lainnya dengan total produksi
4.040.150 ton. Ada empat komoditas yang dominan yaitu The expansion is related to the national plan for biofuel
kelapa sawit, karet, kopi dan kelapa. production. In response to the plan, the governor has
reserved the land in Muara Enim and Musi Banyu Asin for
2.3.1. Perkebunan kelapa sawit 8 investors planning to build biodiesel plants. Among the
investors are Inizio from Malaysia and Platinum Energy from
Saat ini luas perkebunan sawit Sumsel 682.730 ha dengan USA with the total investment of US$80 millions. The two
jumlah perusahaan 174 perusahan dan ditargetkan 800.000 companies plan to cooperate with a local palm company PT
ha akhir tahun 2008. Pemerintah Sumsel juga telah Bentayan Copal Makmur, which will supply the raw material.
mencadangkan 600.000 hektar lahan untuk perkebunan Other business groups interested in the sector are the Salim
kelapa sawit. Produksi minyak sawit/ CPO Sumatera Selatan Group and the Sampoerna Group26. In addition to the old
saat ini 1,6 juta ton minyak sawit, atau 12 persen dari total and new players in the business, Wilmar has been operating
produksi sawit nasional. in the province through its subsidiaries PT Buluh Cawang
Plantation, PT Agro Pelindo Sakti, PT Musi Banyuasin Indah,
Peningkatan areal ini terkait dengan rencana nasional PT Selatan Jaya, PT. Selapan Jaya, PT Mutiara Bunda Jaya
tentang biofuel. Menjawab rencana ini, Gubernur Sumatera and PT Telaga Hikmah. All but PT Buluh Cawang Plantation
Selatan telah mempersiapkan lahan di Muara Enim dan and PT Musi Banyusasin Indah, however, are said to have
Musi Banyu Asin untuk mendukung aktifitas 8 investor yang been sold to the Sampoerna Group.

Biofuel; Sebuah Jebakan
27

akan membangun pabrik biodiesel, salah satu investor itu According to the Provincial Plantation Agency, the province
adalah Inizio Malaysia dan Platinum Energy AS dengan contains potential raw material for biofuel, namely:
investasi US$ 80 Juta dan akan menggandeng perusahaan • Castor oil: 520 ha (potential expansion up to 50
lokal yang sudah memiliki perkebunan yaitu PT Bentayan thousand ha in 10 districts)
Copal Makmur sebagai pemasok bahan baku. Perusahaan • Oil palm: CPO production up to 1.6 million tons/year
group yang juga akan serius menekuni bisnis Biodiesel (plantation area: 600,000 ha)
adalah Salim Group dan Sampoerna26. Selain beberapa • Coconut: copra production up to 70,000 tons/year
pemain baru dan lama yang akan mengincar bisnis ini, (plantation area: 60,000 ha)
di Sumatera Selatan Wilmar juga telah bekerja dengan
nama PT Buluh Cawang Plantation, PT Agro Pelindo Sakti, The Agency says that the most potential commodity is oil
PT Musi Banyuasin Indah, PT Selatan Jaya, PT. Selapan palm considering that it has had all the needed infrastructure
Jaya, PT Mutiara Bunda Jaya dan PT Telaga Hikmah. Tapi (land, technology, human resources, financing) and the
beberapa perusahaan tersebut telah beralih kepemilikan province plans to produce 17.5 million tons in 2010.
yang menurut informasi masyarakat sekarang beberapa
perusahaan tersebut telah dikuasai oleh Sampoerna Group, Researches by Walhi South Sumatera show that some
dan hanya PT Buluh Cawang Plantation dan PT Musi companies planning to develop biofuel industry have
Banyusasin Indah saja yang masih dibawah managemen been uncertain about it. For example, PT. Buluh Cawang
Wilmar Groups. Plantation, a subsidiary of Wilmar operating in Pedamaran
sub-district, Ogan Komering Ilir district, has not decided on
Berdasarkan data Dinas perkebunan Sumatera Selatan the plantation sites. Interviews with the local communities
bahwa terdapat beberapa potensi bahan baku untuk reveal nothing new. The provincial government plans to
dijadikan biofuel di Sumatera Selatan yaitu : build a palm biodiesel plant within the Sembawa Research
• Jarak pagar : 520 ha (potensi lahan pengembangan : Office in Banyuasin district. The initial supply plantation is
50 ribu ha di 10 Kab) 1,200 ha in size and the entire facilities encompass 2 ha.
• Kelapa Sawit dengan produksi CPO : 1.6 juta ton/th The investment is estimated to be no less than 9 billion
(luas tanaman 600.000 ha) rupiahs. The plant itself will be managed by a province-
• Kelapa dengan produksi kopra : 70 ribu ton/th (luas owned company.
tanaman 60 ribu ha)
2.3.2. Jarak Pagar (Jatropha)
Berdasarkan data tersebut diatas maka menurut Dinas
Perkebunan Sumatera Selatan yang paling potensial The district of Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), a newly-
sebagai bahan baku pembuatan biofuel yaitu kelapa sawit established district, plans to build a jatropha biodiesel
dengan pertimbangan apabila diperbandingkan yaitu plant. Below are the test results of the use of biodiesel in
bahan baku lainnya, kelapa sawit telah tersedia dengan agricultural machines in Belitang in Oku Timurpada district
target produksi pada tahun 2010 yaitu 17,5 juta ton dengan on 12 May 2005 by the provincial plantation agency:
infrastruktur yang telah ada seperti lahan, teknologi, SDM • Total biodiesel needed for the provincial agricultural
dan perbankan. machines and tools: 4,372 litres per year
• Lower consumption
Dari penelitian Walhi Sumsel di lapangan, beberapa • Longer life machine.
perusahaan yang menyatakan akan membangun industri • Biodegradability
biofuel sampai saat ini belum ada kejelasan. Misalnya PT. • Fairly high enthusiasm
Buluh Cawang Plantation yang merupakan grup perusahaan
Wilmar di kecamatan pedamaran kabupaten Ogan Komering There have so far been three processing units to process
Ilir sampai saat ini belum bisa memastikan lahan perkebunan jatropha seeds into jatropa crude oil (JCO), the main
yang akan dijadikan penghasil bahan baku biofuel. Dari material for biodiesel. The units, installed in Tuni Jaya
hasil wawancara dengan masyarakat disekitar perkebunan Cillage, Martapura sub-district, belong to the State Ministry
bahwa sampai saat ini mereka juga tidak mengetahui of Research and Technology and have been transferred
apakah areal untuk perkebunan kelapa sawit tersebut akan to the OKU Timur administration. The production and the
mensuplai bahan baku untuk kebutuhan produksi biofuel. installation of the machines cost Rp. 5 billion, while Rp. 8.5
Pemerintah Sumatera Selatan juga telah merencanakan billion was spent on the construction of the biodiesel plant.
pembangunan pabrik biodiesel dengan bahan baku kelapa Each machine is capable of producing 2 tons of JCO per day
sawit yang terletak di Balai Penelitian Sembawa Kabupaten or the total 6 tons of JCO from the three machines, which in
Banyuasin dengan luas kebun sementara yaitu 1200 hektar turn are processed further to produce 6 tons of biodiesel.
dan luas pabrik 2 hektar. Pabrik biodiesel ini rencananya

Biofuel; a Trap
28

akan membutuhkan dana lebih kurang 9 milyar rupiah dan
pabrik ini nantinya akan dikelola oleh Perusahaan Daerah.

2.3.2. Jarak Pagar ( Jatropa)

Di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), yang
merupakan Kabupaten pemekaran baru, Pemerintah OKUT
membangun pabrik biofuel dengan bahan baku jarak pagar.
Berikut ini hasil ujicoba biodiesel untul alsintan (alat mesin
pertanian) pangan di belitang kabupaten Oku Timurpada
tanggal 12 Mei 2005 berdasarkan uji coba yang dilakukan
oleh Dinas perkebunan Sumatera Selatan :
• Total kebutuhan Bio diesel untuk alat dan mesin
pertanian di Sumatera Selatan 4.372 ton liter/thn
• Penggunaan bahan bakar lebih irit
• Mesin lebih awet.
• Biodegradability (ramah lingkungan)
• Antusias pengguna cukup tinggi

Saat ini telah memiliki tiga unit mesin pengolah biji jarak
menjadi jatropa crude oil (JCO) yang merupakan bahan
baku biodiesel. Tiga unit mesin yang berlokasi di Desa
Tuni Jaya,Kec Martapura, mesin ini merupakan asset
Kementerian Negara Riset dan Teknologi yang diserahkan
kepada pemerintah kebupaten OKU Timur. Tiga unit mesin
pengolah biji jarak tersebut dibangun menggunakan dana
sebesar Rp 5 miliar, sementara pembangunan pabrik
biodieselnya menelan biaya Rp 8,5 miliar. Setiap mesin
mampu menghasilkan 2 ton JCO setiap hari atau 6 ton
JCO per hari. Kemudian, diolah menjadi 6 ton biodiesel
pula setiap hari. Untuk mengolah 6 ton JCO setiap hari,
diperlukan bahan baku biji jarak sebanyak 18 ton per hari.
Dari hasil produksi bio diesel ini pemerintah kabupaten OKU
Timur berharap akan dapat memenuhi kebutuhan bahan To produce 6 tons of JCO per day requires a daily 18-ton
bakar untuk mesin-mesin pertanian di kabupaten OKU supply. The district administration of OKU Timur expects
Timur. Saat ini pemerintah kabupaten OKU Timur telah the production will be sufficient to run the local agricultural
memberikan bantuan bibit kepada petani dengan luas areal machines. Recently, the administration has provided seeds
2000 hektar dan akan terus dikembangkan menjadi 7000 for the farmers for a 2,000-ha plantation, which will be
hektar. expanded to 7,000 ha.

2.3.3. Praktek buruk perkebunan kelapa sawit 2.3.3. Oil palm plantations’ bad practices

1. Konflik pertanahan 1. Land conflicts

Konflik pertanahan di Sumatera Selatan telah ada sejak masa Land conflicts in the province of South Sumatera date back
orde baru (pemerintahan Soeharto), dan mulai muncul pada to the New Order’s time (the late Soeharto’s regime) and
tahun 1991. Sejak tahun 1991 kasus konflik pertanahan di started in 1991, and have since received advocacy from
Sumsel mulai mendapatkan pendampingan/ advokasi dari Palembang-based Legal Aid Agency (LBH). According to the
LBH Palembang. Menurut LBH Palembang konflik-konflik organisation, the existing conflicts are not between landless
pertanahan yang ada bukanlah konflik antara petani yang or small farmers and landlords, but between farmers and
tidak memiliki lahan atau petani berlahan sempit dengan investors, in this case plantation companies.
tuan-tuan tanah tetapi konflik antara petani dengan pemilik
modal dalam hal ini perusahaan-perusahaan perkebunan.

Biofuel; Sebuah Jebakan
29

Konflik pertanahan terus mencuat ketika Soeharto tidak Land conflicts have been rising to surface since the fall of the
lagi berkuasa, karena pada saat pemerintahan Soeharto late Soeharto. The late Soeharto was applying repressive
konflik-konflik pertanahan mendapat penanganan represif, measures to silence protests against land conflicts. In
sehingga belum ada keberanian dari petani untuk most cases, the government, which should have been the
mengadukan konflik-konflik. Pada situasi konflik yang terjadi mediator, were protecting investors. Many of palm plantation
Pemerintah yang seharusnya bersikap sebagai penengah concessions issued by the government led to conflicts. The
tetapi justru melindungi para pemilik modal. Bahkan banyak chart below shows the graphical conditions of the plantation-
sekali izin-izin konsesi untuk perkebunan (kelpa sawit) yang related conflicts in the province.
dikeluarkan pemerintah menimbulkan konflik pertanahan.
Berikut ini grafik kasus konflik pertanahan perkebunan
kelapa sawit di Sumsel :

Gambar Grafik konflik: data LBH Palembang

Konflik pertanahan juga telah menimbulkan konflik The conflicts in fact triggered other conflicts among
horizontal yaitu konflik antara masyarakat dengan communities, and between communities and the government.
masyarakat itu sendiri, maupun konflik antara masyarakat Very often, violence occurred between companies and
dengan pemerintahan. Konflik-konflik ini tidak sedikit juga communities, between communities and company’s officials,
dibarengi dengan kekerasan baik yang dilakukan oleh and among communities. LBH Palembang says that most
perusahaan terhadap masyarakat, kekerasan masyarakat conflicts have taken farmers to court for criminal cases.
dengan pegawai-pegawai perusahaan maupun kekerasan
antara masyarakat dengan masyarakat. Dari catatan The Litigation division of LBH Palembang records that since
LBH Palembang sebagian besar konflik pertanahan 1996 more than 100 farmers were imprisoned for cases
telah menyeret petani pada persoalan-persoalan kriminal related to land conflicts. Charges include offense, disgrace,
(pidana). theft, assaults, vandalism, and murder.

Divisi Litigasi LBH Palembang mencatat sejak tahun 1996,
lebih dari 100 orang petani yang akhirnya dikenakan sanksi
pidana, dipenjara yangmana kasus pidana ini diawali dengan
konflik pertanahan. Pasal-pasal pidana yang biasanya
sering membuat petani harus menjalani hukuman penjara
antara lain perbuatan tidak menyenangkan, pencemaran
nama baik, pencurian, penganiayaan, pengrusakan bahkan
pidana pembunuhan.

Biofuel; a Trap
30

2. Ancaman bagi ketahanan pangan di Sumsel 2. Threat to food security in South Sumatera

Pembangunan lahan pertanian di Sumatera Selatan terus Agricultural sector keeps being developed in South Sumatera
dilakukan, berdasarkan data Dinas Pertanian Sumatera province. The province contains 6,757 ha of technical
Selatan lahan sawah irigasi teknis mencapai 6,757 ha dan irrigated fields and 809 ha of non-technical irrigated ones.
irigasi non teknis 809 ha. Lahan pertanian padi di provinsi ini In 2005 there were 626,849 ha of rice fields with the total
pada 2005 mencapai 626.849 ha dengan jumlah produksi production of 2,320,110 tons. Approximately 171,928 of the
2.320.110 ton. Dari jumlah produksi itu, sekitar 171.928 ton total production came from dry farms, which encompassed
berasal dari produksi lahan kering seluas 73.504 ha. Luas 73,504 ha. Districts with the largest area and production
areal dan produksi padi tertinggi di Sumsel yaitu dikabupaten were Ogan Komering Ilir (OKI) and Ogan Komering Ulu
OKI dan OKU Timur. Timur (OKU Timur).

Tetapi di sisi lain pembangunan perkebunan kelapa sawit Despite the above, palm expansion has significantly been
yang terus dilakukan telah berdampak terhadap lauas areal decreasing rice fields. The conversion rate reaches 8%
pertanian padi. Setiap tahun konversi sawah di Sumsel annually. To date, there are 727,441 has of rice fields in the
mencapai 8 persen per tahun dari luas total keseluruhan. province. Addition of new fields is accountable for only 5%
Areal sawah di Sumatera Selatan saat ini 727.441 hektar. of the total, which is nothing compared with the conversion.
Pencetakan sawah baru, hanya 5 persen dari luas total The head of the provincial food crops agency Trisbani Arief
per tahun. Tidak sebanding dengan konversi sawah untuk says that the condition is worrying and will potentially affect
kepentingan lain. Menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman the food security in the province if no actions are in place23
Pangan Sumatera Selatan, Trisbani Arief, ini sudah cukup .
memprihatinkan jika diiarkan berlarut-larut bisa menggangu
stok pangan di Sumatera Selatan23 . Field data from Walhi South Sumatera indicate conversion
from rice fields into oil palm plantations, such as conversion
Dari data lapangan Walhi Sumsel terjadi alih fungsi lahan of Sonor fields (sonor is a traditional system of wetland rice
pertanian padi menjadi perkebunan kelapa sawit, misalnya cultivation; see Box) in several villages in Pangkalan Lampam
alih fungsi lahan pertanian Sonor salah satu sistem pertanian sub-district, namely Jermun (1,000 ha), Rambai (2,500 ha),
di lahan rawa pada saat musim kemarau (lihat box) di and Perigi Talang Nangka (25,000 ha). In Pedamaran sub-
beberapa desa di kecamatan Pangkalan Lampam dengan district, conversion occurred in Gerunggang village to 204
rincian sebagai berikut desa Jermun dengan luas lahan ha of rawa jering land.
pertanian padi 1.000 hektar, desa Rambai dengan luas lahan
pertanian seluas 2.500 hektar, desa Perigi Talang Nangka In addition to conversion by palm companies, local
dengan luas lahan pertanian 25.000 hektar. Sedangkan di communities also convert their agricultural land into oil
kecamatan Pedamaran alih fungsi lahan pertanian menjadi palm plantations as palm is thought to be more profitable.
perkebunan sawit terdapat desa Gerunggang dengan luas According to the head of the provincial plantation agency
lahan 204 hektar yang disebut lahan rawa jering. Samuil Khatib commodity plantations are very promising
because the price rose in 2008. “First, because commodities
Selain alih fungsi oleh perkebunan sawit yang dilakukan like rubber, palm and coffee are promising. Second, the
oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, alih fungsi juga province has a financing scheme in plantation revitalisaiton
dilakukan oleh masyarakat sendiri dikarenakan menanam programme, intended to promote the sector. In addition, there
sawit dianggap lebih menguntungkan dibanding dengan is a large market for primary products. Industrial countries
menanam padi. Menurut Kepala Dinas Perkebunan have more and more interests in our commodities,” said
Sumatera Selatan, Samuil Khatib, Perkebunan komoditas Samuil Khatib
menurut Samuil, prospeknya sangat baik sebab kondisi di
tahun 2008 harga mengalami kenaikan. “Pertama, karena
komoditi seperti karet, sawit dan kopi, menjanjikan. Ke dua,
Sumsel punya skema pembiayaan dalam program revitalisasi
perkebunan. Skema kreditnya dengan infrastruktur yang
dikerjakan pemerintah untuk mendorong semua itu.
Disamping komsumsi untuk produk primer, memiliki pangsa
pasar yang luas. Negara-negara industri makin berminat
dengan komoditas kita,” tutur Samuil Khatib

Biofuel; Sebuah Jebakan
31

3. Harga Kebutuhan Pokok (Minyak Goreng) 3. Price of basic needs (cooking oil)

Harga minyak goreng yang merupakan salah satu produk The price of cooking oil, one of palm products, rises in line
berbahan baku CPO terus meningkat seiring harga BBM with the world’s fuel price. The highest price on several
dunia. Harga tertinggi di Sumatera Selatan pada tanggal traditional markets in Palembang reached Rp14,000 on 4
4 Mei 2008 mencapai Rp 14.000. Harga ini berdasarkan May 2008. High cooking oil price presents a difficult time for
pantauan harga di beberapa pasar tradisional di kota families. Long queues are a common sight during market
Palembang. Tingginya harga minyak goreng sangat operations (i.e. government-subsidized cooking oil).
berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan pokok sehari-
hari masyarakat di Sumatera Selatan. Antrian panjang Walhi’s interviews with 10 housewives about the hike and
terjadi hampir disetiap tempat dimana operasi pasar yang the impacts on daily lives show that, as higher price means
dilakukan oleh dinas perdagangan. more expenses, housewives try to reduce use of cooking oil
by boiling instead of frying or re-using the used oil (locally
Dari hasil wawancara Walhi Sumsel dengan 10 orang ibu called minyak jelantah) though the latter will potentially affect
rumah tangga tentang kenaikan harga minyak goreng dan the health. The market operation by the Trade Agency is said
dampaknya terhadap kehidupan seharu-hari diperoleh to have been of little help as the price of the government-
catatan sebagai berikut : kenaikan harga minyak goreng subsidized cooking oil is just a little less than the normal
telah membuat pemenuhan kebutuhan ekonomi bertambah price and housewives must spend a considerable amount
terutama terhadap uang belanja dapur permasalahan diatasi of time queuing.
dengan berbagai cara yaitu melakukan pengehematan
dengan jalan mengurangi konsumsei minyak goreng The high price has also forced small/home food businesses
(memasak dengan cara direbus) atau dengan jalan to terminate or reduce the production, such as kemplang
memakai ulang (re use) minyak yang telah dipakai (disebut and kerupuk (chips) producers, which are quite numerous in
minyak jelantah) yang sebenarnya akan berpengaruh Palembang City. Besides, the price of some of the kerupuk
terhadap kesehatan Operasi pasar yang dilakukan oleh and kemplang slightly rising.
Dinas Perdagangan di kota/kabupaten di Sumatera Selatan
dirasakan oleh masyarakat tidak terlalu membantu karena
selaian harga yang hanya selisih sedikit dengan harga
minyak goreng yang ada di pasaran, juga membuat ibu-
ibu harus menambah waktu untuk mendapatkannya
dikarenakan harus membelinya dengan cara antrian.

Selain itu tingginya harga minyak goreng telah membuat
beberapa industri makanan khususnya yang dalam skala
kecil harus menghentikan atau mengurangi produksinya,
salah satunya yaitu industri rumah tangga berupa
kemplang dan kerupuk yang sangat banyak terdapat di
kota Palembang. Selain itu sebagian harga kerupuk dan
kemplang juga mengalami kenaikan harga walau tidak
terlalu signifikan jumlahnya.

12,000

10,000

8,000

6,000 East
4,000

2,000

0
1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007
Sumber data : Data Bulog yang diolah Walhi sumsel

Biofuel; a Trap
32

BAGIAN III PART III

BIOFUEL; BIOFUEL:
Setelah Mewariskan Konflik, After Creating Conflicts,
Bencana Dan Kemiskinan, Disasters And Poverty,
Kini Pangan Jadi Sasaran Now Threatening Crops

”Pulau Sumatera adalah laksana miniatur ”The island of Sumatera represents
Bencana di Indonesia, dari pulau ini semua Indonesia’s disaster in miniature. The island
eksperimen atas bencana dilakukan, hutan has seen experiments leading to disasters:
telah menghilang, gambut telah dikeringkan, forests are disappearing, peat has been
masyarakat sudah diusir, dan kini pangan dried, people have been displaced and now
akan diganti dengan kelapa sawit” crops are being replaced with palms.”

Sebagai respon terhadap krisis energy, dan terus Responding to energy crisis and the soaring price of the
meningkatnya harga bahan bakar dipasar international, telah world’s fuel, Susilo Bambang Yudhoyono’s government has
mendorong pemerintahan SBY melirik energy alternatif, thrown a glance at alternative energies, particularly biofuel.
terutaman biofuel. Rencana ini termulasi dengan baik dala The plan is well formulated in the 2006 biofuel blueprint,
Blueprint biofuel ditahun 2006 dan tentunya dengan target furnished with a highly ambitious target. This big biofuel
ambisius, dimana dalam blue print tersebut mencatat bahwa programme intends to immediately accelerate the creation
program besar ini ingin segera mendorong perbaikan hidup of prosperity to the nation – alleviating poverty, reducing
rakyat Indonesia, dengan cara mengurangi kemiskinan, unemployment and boosting the economic growth.
mengurangi pengangguran dan mempercepat pertumbuhan
ekonomi. The government’s plan for the year 2010 is to fulfil 10% of
the energy need with biofuel, estimating the biofuel need
Rencana pemerintah di tahun 2010 adalah 10% dari to reach 4 million kiloliters. To support the ambition, the
kebutuhan energy nasional harus berasal dari biofuel, government has not only issued relevant policies but also
dengan perkiraan kebutuhan biofuel mencapai 4 juta designated 1,000 villages as energy independent villages
kiloliter. Guna mendukung ambisi tersebut, pemerintah and 12 special biofuel zones. More than that, it has reserved
nasional selain melahirkan kebijakan untuk mendukung 6.5-million ha land for oil palm plantations (3 million ha),
program nasional ini, pemerintah juga telah menetapkan jatropha (1.5 million ha), cassava (1.5 million ha) and sugar
sekitar 1000 desa menjadi desa mandiri energy dan 12 cane (500,000 ha), to supply biofuel.
zona Biofuel khusus. Tak hanya itu saja, pemerintah telah
menyiapkan lahan seluas 6,5 juta Ha, dengan rincian 3 juta From macro-economic calculation, biofuel, notably palm
Ha untuk ekpansi perkebunan kelapa sawit, 1,5 juta Ha biodiesel, is very promising in many aspects. Assuming that
untuk masing-masing tanaman jarak dan singkong 500.000 1% of the domestic diesel consumption is to be fulfilled by
Ha untuk perkebunan tebu, dan kesemuanya disiapkan biodiesel, it means that 100,000 tons of biodiesel are needed
untuk mensuplay bahan baku biofuel. or equal to 100,000 tons of palm oil, the production of which
will require a palm plantation of 90,000 ha in size, and some
Jika dilihat dari sisi hitungan makro-ekonomi, pemanfaatan 30,000 workers to manage the plantation1. But, is it true?
biofuel terutama biodiesel yang bahan bakunya berasal dari Facts gathered so far show that economic factors have been
kelapa sawit memang menggiurkan, jika 1% konsumsi solar the main concern, ruling out ecological and cultural ones.
dalam negeri dipenuhi oleh biodiesel, maka dibutuhkan
100.000 ton biodiesel sebagai bahan campuran atau Since the inception of the project, domestic bank investment
setara dengan 100.000 ton minyak sawit. Sedangkan up to Rp5.1 trillion was approved by late 2007, and 20

Biofuel; Sebuah Jebakan
33

untuk menghasilkan 100.000 ton minyak sawit dibutuhkan
lahan seluas 90.000 Ha perkebunan kelapa sawit, dari
90.000 Ha akan menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja1.
Tapi betulkan demikian? Karena dalam berbagai catatan,
untuk memproduksi biodiesel faktor ekonomi yang menjadi
ukuran paling utama, sehingga faktor ekologi, dan budaya
diabaikan.

Sejak projek ini dicanangkan, hingga tahun 2007 tercatat
Rp 5,1 trilliun investasi oleh Perbankan dalam negeri yang
sudah ditanda tangani, dan 20 investor industri BBN yang
telah terdaftar dengan total kapasitas 3,2 juta ton/tahun
dengan nilai investasi sebesar 900 juta US$2. Tapi dari
total kapasitas terpasang baru 1,1 juta ton/tahun yang bisa
dihasilkan dari 5 pabrik yang sudah beroprasi, celakanya
hampir seluruh produksi Biodiesel dari dalam negeri tidak
terserap dalam negeri, hanya 15% yang terserap atau sekitar
150.000 ton/tahun, karena kebutuhan dalam negeri yang
masih sedikit, selebihnya di Ekspor kepasar international, investors were registered with the total intended capacity of
dengan permintaan terbesar dari pasar Eropa lalu disusul 3.2 million tons annually and the total investment standing
AS. at US$900 millions2. However, only 1.1 million tons of the
intended capacity have actually been realised from all the
”Kejar setoran” mungkin itu yang pantas diucapkan, 5 operating plants. To make matters worse, most of the
karena apa yang direncanakan secara nasional tidaklah production is exported – only 15% or 150,000 tons are
bisa berjalan mulus, lihat saja, selain minimnya kebutuhan absorbed by the domestic market due to low demand –
dalam negeri tentang biofuel, harga bahan bakar nabari mostly to European countries and USA.
dari biodiesel juga tidak lebih murah dari bahan bakar yang
berasal dari minyak bumi. Inilah yang membuat projek “Simply pursue the target” may be appropriately addressed
nasional ini menjadi stagnan. Misalnya saja perusahaan to the national programme as it has not been running well. In
pemerintah (PERTAMINA) yang ditunjuk pemerintah untuk addition to the low demand for biofuel on the domestic market,
memproduksi Biofuel (biosolar/biodiesel) menghentikan the price is not lower than that of fossil fuel. It is the reason
produksinya karena mengalami kerugian mencapai Rp. 16,9 why the national project gets stagnant. The government-
miliar sejak projek ini dil3uncurkan yaitu Mei 2006 hingga owned oil company PERTAMINA, officially appointed to
Maret 2007 dan PERTAMINA resmi ditunjuk pemerintah produce biofuel3, had to terminate the production following a
untuk memproduksi biodiesel4. Selain Pertamina, dari sekitar great loss of up to Rp.16.9 billion from its operation between
17 perusahaan dari 22 perusahaan biofuel yang memiliki May 2006 and March 20074. Besides, some 17 of the total
pabrik pengolahan menghentikan prouduksi biofuelnya5. operating plants had to terminate their production5.

Table 1.
Rencana distribusi lahan untuk biofuel di berbagai propinsi /
Plan of Biofuel Land Distribution in various provinces6
Luas/Size
Propinsi Province
(Hectare/Ha)
Sulawesi Tenggara 212,123 South East Sulawesi
Sulawesi Utara 34,812 North Sulawesi
Nusa Tenggara Timur 101,830 East Nusa Tenggara
Maluku 2,304,932 The Moluccas
Papua Papua 9,262,130 Papua
Kalimantan Barat 514,350 West Kalimantan
Sulawesi Tengah 251,856 Central Sulawesi
Kalimantan Selatan 65,638 South Kalimantan
Total 12,947,671 Total

Biofuel; a Trap
34

Jika dalam rencana nasional stagnan, tapi tidak demikian Although nationally stagnant, locally oil palm plantations
dengan kenyataan ditingkat lokal, tiap detik ekspansi still continue to expand. And to support the expansion,
perkebunan terutama perkebunan kelapa sawit terus various measures have been taken such as the plantation
dilakukan, dan kini untuk mendorong ekspansinya berbagai revitalisation programme, and the replanting programme,
program dikeluarkan seperti program revitalisasi perkebunan, which are nothing but mere projects. The national plan is
progarm replanting dll, yang sebetulnya ditingkat logal atau used as justification.
daerah program ini tak lebih dari projek semata. Tentunya
dengan justifikasi mendukung rencana nasional tentang The table shows a considerable size of land reserved for
biofuel. biofuel. The size represents the high expectation of biofuel
in the future. In fact, 24.4 million ha of land have actually
Dari rencana distribusi lahan perkebunan untuk bahan baku been reserved up to 2010 to support the national project.
biofeul menunjukan, betapa luasnya areal yang disediakan Of these, 5 millions are reserved for oil palm plantations,
di 8 wilayah khusus sebagaimana table tersebut diatas. another 1 million for oil palm plantations revitalisation
Tabel ini seperti ingin menggambarkan bahwa betapa project, another 9 millions for regional rehabilitation project,
besar harapan terhadap biofuel kedepan, sehingga harus and the rest 8 millions to support the National Land Agency’s
disiapkan lahan yang mencapai 12,9 juta hektar. Tapi land reform project.7. Nearly 70% of the land is reserved for
sebetulnya telah dipersiapkan lahan seluas 24,4 Juta Ha oil palm plantations, which are to supply not only food but
untuk mendukung projek nasional ini hingga tahun 2010, also raw material for biofuel. Such an expansion, however,
dimana 5 juta Ha lahan akan dipersiapkan untuk mendukung has brought about disasters in various places – fires, smoke
ekpansi perkebunan, 1 juta Ha untuk mendukung projek hazard, floods, extensive drought as palms absorb plenty of
revitalisasi perkebunan kelapa sawit, 9 juta Ha untuk projek water, extinction threat to biodiversity and conversion threat
rehabilitasi kawasan, dan sisanya atau sekitar 8 juta Ha to protected areas.
untuk mendukung Badan Pertanahan Nasional (BPN)
dalam proyek land reform7. Hampir 70% lahan tersebut akan
digunakan untuk menanam perkebunan kelapa sawit, yang
tentu saja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan,
tapi juga sebagai sumber bahan baku biofuel7. Perluasan
perkebunan kelapa sawit ini menimbulkan bencana di banyak
tempat, bencana kebakaran lahan dan hutan, gangguan
asap, banjir, kekeringan di mana-mana karena pohon sawit
banyak menghisap air, keanekaragaman hayati terancam
punah dan kawasan-kawasan lindung lainnya terancam di
konversi lebih luas.

Gambar/grafik:

Peta areal perluasan sawit untuk biofeul/
Palm expansion for biofeul

Biofuel; Sebuah Jebakan
35

3.1. Biofuel; dan kantong-kantong konflik di 3.1. Biofuel, and conflict pockets in Sumatera
Sumatera
The more extensive oil palm plantations are, the more
Semakin luas areal perkebunan kelapa sawit, semakin extensive and higher the social and environmental
meluas dan laju peningkatan konflik sosial dan lingkungan conflicts are. Plantation-related conflicts are not restricted
meningkat jumlahnya. Konflik di perkebunan tidak saja to Sumatera only, but have also spread to the other
terkonsentrasi wilayah Sumatera, tetapi semua pulau-pulau large islands of Indonesia where oil palm plantations are
besar di Indonesia yang mengalami perluasan perkebunan expanding, such as Kalimantan, Sulawesi and Papua. In
kelapa sawit, misalnya di Kalimantan, Sulawesi dan Papua the last three islands, the last refugee of peaceful lives, oil
sebagai pintu pertahanan terakhir bagi kehidupan yang palm plantations are starting to expand. According to Sawit
damai, sudah mulai di bangun kebun kelapa sawit. Menurut Watch, an NGO working on oil palm issues, the year 2003
catatan Sawit Watch, sebuah lembaga yang memiliki focus saw 140 social conflicts8, which rose to 513 in 2007. Up
pekerjaan melakukan pemantauan perkebunan kelapa sawit to late 2008, 576 conflicts were recorded nationwide, four
di Indonesia, Jumlah Konflik social tahun 2003 sebanyak 140 times as many as those in 2003 and all are directly related
konflik8, meningkat menjadi 513 konflik sosial9 pada tahun to oil palm plantations. This means that the biofuel project
2007. Sampai akhir tahun 2008, jumlah konflik mecapai 576 has contributed to the escalating conflicts in oil palm sector
kali di perkebunan kelapa sawit, di seluruh wilayah Indonesia. in Indonesia.
Peningkatan 4 kali lipat yang lansung bersentuhan dengan
perkebunan besar kelapa sawit. Artinya projek Biofuel telah
berkonstribusi terhadap akumulasi konflik diperkebunan
kelapa sawit di Indonesia.

84 Konflik

76 Konflik lahan
Peta Konflik
di Sumatera

140 Konflik
Conflict Map
in Sumatera

Sebanyak 13.000 jiwa Warga 3 Desa di Kecamatan As many as 13,000 people in 3 villages in Padamaran sub-
Padamaran, Kabupaten OKI Sumatera Selatan, telah district, OKI district, South Sumatera, have lost their hope for
kehilangan cita-cita kesejahteraannya, akibat luas lahan prosperity when their 5,000-ha land was taken over by BCP
mereka 5.000 hektar di ambil oleh perusahaan BCP (wilmar (the Wilmar group) to be converted into oil palm plantations.
group) untuk perkebunan kelapa sawit. Nasib meraka sama Similarly, the 1,700 households of the Suku Anak Dalam
dengan Warga suku anak dalam di Batanghari sebanyak indigenous people in Batanghari are in conflict with a palm
1.700 kepala kaluarga juga bersengketa dengan perusahaan company PT Asiatik Persada. The communities of Talang
PT Asiatik Persada sebuah perkebunan kelapa sawit yang Nagka village and Rambai village had their potential rice
memasok bahan baku biofeul. Lain lagi cerita warga Desa fields taken over by a palm company to be converted into
Talang Nagka dan Desa Rambai yang lahan potensial oil palm plantations. These few stories and facts represent
sawah di gusur oleh perusahaan kebun sawit. Cerita dan land conflicts between local communities and oil palm
fakta yang ditemui di tingkat lapangan pada tapak proyek plantation companies in the development of biofuel project
Biofeul di Sumatera. Sengketa tanah antara warga dan in Sumatera.
pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit, merupakan
catatan lengkap dari sebuah konflik di proyek biofeul ini.

Biofuel; a Trap
36

Sementara, dari rangkaian catatan sejarah di Sumatera, A total 300 conflicts have been spreading in three provinces
setidaknya ada tiga propinsi yang menimbulkan konflik of Sumatera, namely Riau, Jambi and South Sumatera.
di perkebunan mencapai 300 konflik di Riau, Jambi dan None has been settled satisfactorily. Should the expansion
Sumsel. Jumlah konflik tersebut sampai saat ini tak satupun continue, conflicts will be concentrated and become a
berusaha diselesaikan dengan baik. Jika kemudian ekspansi dangerous time bomb.
perkebunan terus dilakukan, maka tak heran jika suatu saat
konflik ini akan terkosentrasi dan menjadi bom waktu yang
siap meledak kapan saja.

Box 4: Konflik di sektor perkebunan Riau Box 4: Coflicts in Riau plantation sector

Dalam masa 20 tahun pertumbuhan perkebunan di Riau, 120,000 hectares per year, now totaling 2.3 million hectares3.
khususnya komoditi kelapa sawit telah mencapai 2,3 juta The rapid development has caused conflicts with many
hektar3 dengan pertumbuhan per tahun rata 100.000-120.000 indigenous peoples, such as the Talang Mamak in Indragiri
hektar. Pertumbuhan pesat pembangunan kelapa sawit, telah Hulu, the Petalangan in Pelalawan, the Sakai in Siak and
menimbulkan konflik dengan berbagai masyarakat suku asli Bengkalis, and the Bonai in Rokan Hulu. The conflicts have
di Riau, seperti Talang Mamak di Indragiri Hulu, Petalangan di deprived them of their rights to their ancestor’s natural
Pelalawan, Sakai di Siak dan Bengkalis, Bonai di Rokan Hulu. resources and diminished their social, economic and cultural
Konflik-konflik ini telah meminggirkan mereka dari sumber system. During 2008, there were at least 52 conflicts over
daya alam warisan leluhur mereka dan mencerabut sistem 101,822 hectares of land; some of them had started in the
sosial ekonomi budaya yang ada. Selama tahun 2008, ada previous year and had not been completely settled up to late
sedikitnya 52 konflik dengan luas lahan konflik 101.822 hektar, 2008. The conflicts started when the government reserved land
sebagian konflik ini terjadi sejak tahun sebelumnya dan masih for palm investment, including for the biofuel project in Riau.
belum mendapat penyelesaian hingga penghujung 2008 ini. 3.2 million hectares of peatland were designated as plantations
Konflik ini di mulai dari proses penyediaan lahan perkebunan without prior investigation of the existence of customary land,
kelapa sawit bagi investasi, termasuk proyek biofeul di Riau, which have still been recognized in villages since centuries
dimana seluas 3,2 juta hektar wilayah daratan gambut Riau ago. (scale-up Riau 2009)
telah dicanangkan untuk sektor perkebunan, tanpa didahului
oleh pendataan terhadap keberadaan hutan tanah adat/ulayat Conflicts in Jambi: from conflicts to customary
yang pada kenyataannya masih eksis diakui di pedesaan land up to those to partnership
sejak jaman kerajaan terdahulu. (scale-up Riau 2009)
Konflik di Jambi; dari konflik tanah adat hingga To date, there have been some unsettled 140 conflicts in Jambi.
konflik kemitraan While in early 2000 the conflicts were dominated by those
over conversion of customary land to oil palm plantations, in
Hingga saat ini, ada sekitar 140 konflik di Jambi. jika awal late 2006 they were dominated by conflicts over partnership
tahun 2000, konflik didominasi oleh sengketa tanah adat because the conflict pattern changed: land conflicts were
yang dikonversi menjadi kebun sawit, diakhir tahun 2006, usually settled by the provision of a partnership scheme
konflik justru didominasi oleh konflik kemitraan. Karena terjadi (nucleus – smallholder/plasma) as the compensation for the
perubahan pola konflik, dimana konflik tanah terkadang converted land. Then, problems arose, and new conflicts arose
diselesaikan dengan memberikan kompensasi kebun plasma between the smallholders and the nucleus (the company). In
kepada masyarakat melalui skema kemitraan. Lalu karena Jambi, there is a phenomenon that the partnership scheme
kemitraan juga bermasalah, lalu muncul kemudian konflik baru is always used to address conflicts over customary land. In
yaitu konflik antara petani plasma dengan perusahaan inti. Di the case of PT Asiatik Persada, for example, it is obvious that
Jambi ada fenomena bahwa konflik tanah adat, selalu dijawab the company, with the government’s permission, deprived the
dengan kompensasi kemitraan. Kasus di sebuah perkebunan local communities of their rights. However, instead of providing
di Kabupaten Batanghari PT Asiatik Persada misalnya, jelas- compensation or restoring the rights, the company asked the
jelas perusahaan pengambil hak-hak masyarakat dengan izin local communities to be engaged in the smallholder-nucleus
pemerintah, tapi bukannya mengganti rugi, atau kemudian scheme, under which they had to pay off the smallholder land
mengembalikan hak-hak masyarakat, tapi justru masyarakat they received on installments. This sounds like a diversion
SAD kemudian diminta untuk menjadi mitra dalam bentuk
kemitraan KKPA, dengan cara mencicil kebun tersebut. Ini
seperti pengalihan sumber masalah.

Biofuel; Sebuah Jebakan
37

3.2. Biofuel; menciptakan pertarungan 3.2. Biofuel: creating a war between humans
antara manusia dan mesin and machines

”Biofuel tidak akan ada manfaatnya, ketika 800 juta ”Biofuel is of no use when 800 millions of people are
manusia didunia tidak dapat tidur nyenyak dilanda too hungry to sleep.”
kelaparan karena ketiadaan pangan”

BAGAN PERTARUNGAN LAHAN DAN KOMODITAS
10
CHART OF THE WAR BETWEEN LAND AND COMMODITIES

Tahun 2007 eksport minyak sawit Indonesia
mencapai 13,20 ton (industri makanan dan kosmetik) dan
akan terus ditingkatkan hingga mengalahkan Malaysia
In 2007, Indonesia exported 13.2 tons of palm oil (food and cosmetic
industry) and would increase the export to beat Malaysia

Tahun 2010 kebutuhan CPO untuk pasar
domestic akan meningkat dari
Minyak Goreng, Mentega,
4 jt menjadi 10 jt ton
Cooking oil, butter The 2010 CPO need on the domestic market
will increase from 4 to 10 million tons

Telah disiapkan lahan seluas 24,4 jt ha (5 jt Ha
Perkebunan Kelapa untuk ekspansi baru/BBN, 2 jt Ha revitalisasi,
9 jt Ha rehabilitasi , dan 8 jt Ha PPAN
sawit skala besar
CPO 24.4 million ha have been reserved for oil
Large-scale palm plantations (5 millions), revitalisation
oil palm plantations (2 millions), rehabilitation (9 millions),
and land reform (8 millions)

Biofuel/biodiesel yang 2010 kebutuhan CPO untuk produksi biofuel
akan menggantikan solar domestic sebesar 2,01 jt ton

Biofuel/biodiesel to replace The 2010 CPO need for biofuel on the
diesel domestic market will reach 2.01 million tons

Kebutuhan biofuel untuk tranportasi dan biomassa di pembangkit
listrik mencapai 1,5 juta ton (Mt) tahun 2005, ini baru Eropa.

Biofuel need for transportation and biomass reached
1.5 million tons (Mt) in 2005, only in Europe.

Warga Tanah Menang di Jambi, Bunga Raya di Riau dan The communities of Tanah Menang in Jambi, of Bunga
Rambai di Sumatera Selatan, setiap pagi tidak pernah Raya in Riau and of Rambai in South Sumatera surely have
mengkonsumsi roti yang diberi mentega dan di panggang. never toasted bread with butter for breakfast. Their typical
Sarapan mereka sudah dipastikan nasi atau sinkong yang breakfast consists of cooked rice or boiled cassava plus a
direbus serta ikan secukupnya. Tidak pernah dibayangkan, small portion of fish. People never imagine that not only does
bahwa, Biofeul tidak saja akan memberikan gambaran positif biofuel give a positive picture of the world’s future energy, it
bagi pemenuhan kebutuhan akan energy di dunia. Tetapi also poses a threat to the world’s food security. Poor people
Biofeul juga akan menjadi persoalan pokok terancamnya are in particular the most affected group. The industry has
bahan pangan bagi rakyat di dunia. Khususnya masyarakat directly contributed to the increasing price of palm-based
miskin yang menerima dampak penggunaan Biofeul. Industri products: cooking oil, butter, milk and, indirectly, of other

Biofuel; a Trap
38

ini berdampak langsung pada peningkatan harga yang di basic needs: rice, wheat, soybean, both domestically and
produksi dari bahan baku minyak sawit, seperti; minyak globally. In addition to the increasing price, it is accountable
goreng, mentega, susu dan merabah pada bahan pokok for the reduction of crop production as more cropland has
lainnya seperti tapi juga menyebar kebahan pokok lainnya, been forcibly converted into oil palm plantations.
seperti beras, gandum, kedele, baik di dalam maupun diluar
negeri. Selain peningkatan harga, hilangnya bahan pangan The situation surely poses a great problem to rural
rakyat, karena lahan produksi pangan rakyat telah di ambil communities, whose cropland and plantations are displaced
paksa untuk areal perkebunan kelapa sawit. by palm companies. Cooking oil is getting more and more
expensive as the government makes biofuel its most
Keadaan ini jelas memukul masyarakat di pedesaan, yang prioritised development icon for energy solution. Not only
juga kemudian lahan dan kebunnya tergusur oleh perluasan cooking oil, but other basic needs such as rice, wheat,
perkebunan sawit industry Biofeul. Harga minyak goreng soybeans, etc., are also getting more and more expensive
naik terus ketika isu Biofeul menjadi salah satu “dewa on domestic market. While the price of cooking oil soars from
pembangunan” bagi Pemerintah sebagai solusi energy. Rp7,000 to Rp9,000–Rp11,500/kg, the price of rice in the last
Tidak saja berhenti pada naiknya harga minyak goreng year has been rising from Rp4,000/kg to Rp5,000–Rp7,000/
dalam negeri dari Rp 7.000 melambung antara 9.000 s/d kg in Jambi, Riau and Palembang City. The imposed project
11.500 per kg. Tetapi harga-harga kebutuhan bahan pokok has contributed to the increasing number of the poor and
juga ikut naik, misalnya beras, gandum, kedele dlsb. Harga the unemployed. It is estimated that the hikes in basic needs
Beras di tingkat pasar sejak setahun terakhir ini terus and fuel prices have created some 15.69 millions of newly
naik, dari 4.000/kg menjadi 5.000 – 7.000 / kg. Ini ditemui poor people.
di pasar Jambi, Riau dan Palembang. Situasi ini memiliki
sumbangan yang besar atas kondisi angka kemiskinan dan The table below shows that the size of agricultural land is
pengangguran terus meningkat sejak projek ini digulirkan. reversely proportional to that of oil palm plantations, which
Diperkirakan akibat kenaikan bahan pokok, dan BBM jumlah means that the development is oriented to palm oil export
orang miskin baru mencapai 15,68 Juta Orang. rather than food security as the government has always
iterated.
Tabel berikut ini bukti bahwa ada persoalan dalam jumlah dan
luas pertanian pangan terutama besar, dimana berbanding
terbalik dengan luas perkebunan kelapa sawit yang terus
meningkat. Ini bukti bahwa yang akan terjadi, adalah
bukan ketahanan pangan seperti yang didengungkan oleh
pemerintah, tapi ketahanan ekspor minyak sawit.

Tabel 4 : Jumlah Luas Kebun Sawit dan Tanaman Pangan (Padi), 3 wilayah Sumatera/
Total size of oil palm plantations and agricultural (rice) land in three regions of Sumatera,
2009.

Luas Kebun Sawit Luas Tanaman Padi
No Provinsi Total size of oil palm plantations Total size of agricultural (rice) land
(ha) (ha)
1 Jambi 450.000 154.941
2 Sumatera Selatan 600.000 626.849
(South Sumatera)
3 Riau 2,157,091 276,533
TOTAL 3.157.091 1.058.323
Sumber: Diolah dari berbagai sumber resmi Pemrov/ Processed from various provincial government’s data, 2007 – 2008

Tidak sepenuhnya projek biofuel ini bertanggung jawab Biofuel is not the only one that is responsible for the hike
atas kenaikan harga bahan pokok, kenaikan BBM akibat in food price. It is true that fuel hike is mainly due to the
persediaan semakin menipis juga menjadi pemicu utama, depleting deposit; however, prices become out of control
namun harga tidak bisa lagi dikendalikan ketika mesin dan when machines and humans struggle for food. We all know
manusia berebut untuk makan. Karena tentu kita sudah tau who will win.
siapa pemenangnya.

Biofuel; Sebuah Jebakan
39

Tanpa disadari konsep kesejehteraan masyarakat yang Unconsciously, the prosperity concept promoted by
diperjuangkan oleh multipihak terutama pemerintah, multistakeholder, particularly the government, has been
mengalami distorsi pemaknaan. indicator yang menekankan distorted. The indicator that prosperity is achieved when
pada nilai bahwa kesejahteraan masyarakat akan terwujud food need is satisfied has been replaced by another indicator
bila kebutuhan minimum berupa pangan bisa terpenuhi. that prosperity is measured by an adequate level of financial
Ini berarti yang menjadi ukuran adalah kebutuhan akan condition and it is difficult to describe the real socioeconomic
sumber penghidupan akan pangan, berubah menjadi conditions of communities. And it turns out that: “the
indicator yang kedua, bahwa yang menjadi nilai ukur adalah economic indicator used to measure poverty level has failed
kecukupan financial dan susah untuk menggambarkan to give the real picture and cannot be used to define what
kondisi social ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. should be done to address important and pressing issues to
Dan ternyata: “indikator ekonomi yang dipakai untuk establish sustainable development.”
mengukur tingkat kemiskinan telah gagal menggambarkan
kondisi yang sesungguhnya dan tidak bisa menjadi acuan
bagi apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah
penting dan mendesak dalam mewujudkan pembangunan
berkelanjutan”.

3.3. Biofuel dan kemiskinan 3.3. Biofuel and poverty

Masyarakat miskin berada diatas kebunnya, The poor are standing on what was once
diatas tanah adatnya dan dihalaman rumahnya their own plantation, on their ancestral land,
ditanami kelapa sawit. Mereka dipaksa and they have to grow palm and sacrifice for
berkorban tidak untuk dirinya. others, not themselves.

Hilang atau terbatasnya akses masyarakat marginal terhadap Loss of or limited access to sources of livelihood due to
sumber penghidupan akibat proses perubahan dayaguna forced conversion is an act of structural impoverishment.
lahan pertanian menjadi lahan perkebunan adalah proses The impacts of conversion are not restricted to changes in
pemiskinan structural. Akibat konversi lahan tidak berhenti agricultural structure only but also to the loss of food/difficult
begitu saja ketika struktur pertanian telah berubah menjadi access to food. The livelihood structure changes as well,
perkebunan, bahan makanan yang dahulu mudah didapat from rice farmers to plantation farmers or even plantation
sekarang sulit dicari. Struktur mata pencaharian masyarakat workers.
pun berubah dari petani menjadi pekebun bahkan pekebun/
buruh kebun dan terakhir malah menjadi buruh dikebunnya The biofuel project, which the government believes can
sendiri. alleviate poverty, provide job opportunities and boost
regional and national economy as well as address global
Proyek biofuel, diyakini sekali oleh pemerintah Indonesia warming, which is said to have caused poverty and famine
dapat mengatasi kemiskinan, memberikan pekerjaan worldwide. But, is it true?
bagi pengangguran dan meningkatkan ekonomi daerah
dan nasional. Selain itu, proyek ini katanya akan mampu Studies show that the poverty level in the three regions is
menjawab persoalan pemanasan global yang juga telah increasing, the number of poor people reaches 1,776,939
memicu terjadinya konsentrasi kemiskinan dan kelaparan out of the total 14,553,943. The highest poverty level is in
diberbagai belahan dunia. Tapi betulkah biofuel menjadi the province of South Sumatera. In 2009, the number of poor
“dewa penolong” kedua abad ini? people in Riau stood at 527,000.49 or 9.48%. This indicates
that palm expansion has brought increasing poverty, and not
Dari studi yang dilakukan, tingkat kemiskinan di tiga wilayah prosperity as it promises.
menunjukan angka yang cukup tinggi menunjukan 1.776.939
jiwa dari total jumlah penduduk sebanyak 14.553.943 jiwa.
Tingkat kemiskinan yang paling tinggi di ketiga provinsi
tersebut adalah Sumatera Selatan. Sementara pada Maret
2009, jumlah penduduk miskin di Riau mencapai 527.000,49
jiwa atau sejumlah 9,48 persen. Ini merupakan salah satu
indicator, bahwa perluasan perkebunan kelapa sawit tidak
semestinya meningkatkan kesejahteraan masyarakat
setempat, melainkan justru membawa tingkat kemiskinan
yang terus meningkat.

Biofuel; a Trap
40

Tabe 5:
Jumlah Penduduk Miskin di Wilayah Studi Sumatera/ Number of poor people in the study areas in Sumatera,
March 2009.
Jumlah Penduduk /Total population Penduduk Miskin/ Number of poor
No Provinsi
(Jiwa/ person) (Jiwa/ person)
1 Jambi 2.683.099 249.690
2 Sumatera Selatang/South Sumatera 6.899.892 1.000.249
3 Riau 5.070.952 527.000
Total 14.553.943 1.776.939
Source: Processed from the provincial Central Statistics Bureaus’ data, 2009.

Sementara provinsi Jambi sebanyak 249.690 jiwa orang The number of poor people In the province of Jambi
penduduk miskin pada Maret 2009, tersebar di di daerah amounted to 249,690 in March 2009. Of these, 132,410 lived
pedesaan sebanyak 132.410 jiwa dan daerah perkotaan in rural areas and 117,290 live in urban areas. To measure
yang jumlahnya 117.290 jiwa. Untuk mengukur kemiskinan, poverty, the Central Statistics Bureau uses the ability to fulfil
BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi basic needs, which means that poverty is measured by the
kebutuhan dasar, artinya kemiskinan dipandang sebagai economic inability to fulfil basic food needs, and not by the
ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi amount of expenses.
kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur
dari pengeluaran. The increasing poverty level is influenced by the presence of
oil palm plantations in the three locations. Oil palm plantations
Peningkatan angka kemiskinan ini dipengaruhi dari have taken over local communities’ land, plantations and
perluasan perkebunan kelapa sawit di tiga wilayah tersebut. rice fields. At least, what has been happening to Tanah
Dimana proses pembangunan kebun sawit menimbulkan Menang village in Jambi gives us a fairly clear picture: 1,000
dampak hilangnya tanah, kebun-kebun, dan lahan pertanian households have lost their livelihood, nearly 5,000 have
penduduk. Setidaknya, gambaran Desa Tanah Menang Jambi been impoverished, and only few of the Suku Anak Dalam
memberikan gambaran yang cukup jelas, ketika ada 1.000 indigenous people (less than 100) have been employed
Kepala keluarga kehilangan mata pencaharian dan hampir in palm companies. One of the government’s targets with
lebih 5.000 jiwa penduduk masuk dalam menambahan angka biofuel development is to provide job opportunities, and
jumlah orang miskin, dan tak sampai 100 orang masyarakat increase communities’ income. However, the target is far
dari Suku Anak Dalam yang berkerja di perusahaan. Target from being achieved. It is an indicator that palm expansion
pemerintah dalam pembangunan kebun kelapa sawit untuk has not brought about prosperity but increasing poverty.
biofeul bertujuan untuk memberikan lapangan pekerjaan,
peningkatan pendapatan masyarakat. Tetapi, jauh Despite serious impacts on the communities and the
panggang dari api tujuan ini tercapai. Ini merupakan salah environment, the government keeps supporting the project
satu indicator, bahwa perluasan perkebunan kelapa sawit by providing a legal umbrella for the biofuel project. Several
tidak semestinya meningkatkan kesejahteraan masyarakat policies have been issued to support alternative energy
setempat, melainkan justru membawa tingkat kemiskinan projects, including Governmental Regulation No. 5 Year
yang terus meningkat. 2007 on national energy policies, Presidential Instruction
No. 1 Year 2006 on supply and use of biofuel as alternative
Walaupun dampak yang diterima penduduk dan keselamatan energy, and Presidential Decree No. 10 Year 2006 on
lingkungan di daerah cukup serius. Pemerntah tetap the forming of the national team for biofuel development
berambisi pada proyek ini dengan cara menyediakan payung to accelerate the project. The issues of such policies –
hukum bagi kepentingan proyek memberi makan mesin. indicating the government’ seriousness in the sector – mean
Sehingga sudah dilakukan oleh pemerintah mengeluarkan that a large amount of money is to be disbursed in such
beberapa kebijakan guna mendukung proyek energy projects (cynically referred to as ‘wet projects’, i.e. the ones
alternatif. Ada Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 2007 involving a lot of money). At a certain time, palm oil does not
tentang kebijakan enegeri nasional, Instruksi Presiden No 1 end up only in supermarkets or cosmetic counters but also
tahun 2006 tentang supply dan pemanfaatan biofuel sebagai in fuel plants.
energi alternatif, Keputusan Presiden No. 10 tahun 2006
tentang pembentukan tim nasional pembangunan Biofuel
guna mempercepat proyek ini. Kebijakan-kebijakan ini,
betapa seriusnya sehingga, proyek ini membuktikan sangat

Biofuel; Sebuah Jebakan
41

berlimpah dana atau bisa disebut proyek “basah”. Tetapi, 3.4. Biofuel is cooking Sumatera’s climate
pada akhirnya, pada masa tertentu produk minyak kelapa
sawit tidak lagi melulu berakhir di dipusat perbelanjaan Up to the 1990s, palm was expanding slowly and from year
makanan, dan alat kosmetik, tapi berakhir di pengilangan to year. The sector did not receive government’s attention
bahan bakar untuk mesin-mesin di Sarana Pengisian Bahan as much as mining and wood industry. Things changed
Bakar Umum (SPBU). drastically, however, in 2000. The dark ages of oil palm
ended as the world was concerned about the depleting
fossil fuel and never-ending conflicts in the Mid-West. But,
attention has grown bigger and bigger since the worsening
3.4. Biofuel memanggang iklim Sumatera of the world’s climate, though the climate change issue is
in fact a clever camouflage for rich countries’ greed for fuel
Hingga tahun 1990-an, perluasan perkebunan kelapa sawit consumption.
seperti merayap, peningkatan dari tahun ketahun tidak
terlalu significant. Dan industri ini juga terlalu diperhatikan Concerns about the worsening climate condition, however,
oleh pemerintah dibanding tambang, dan indstri kayu. soon grow to win over those about the depleting fossil fuel
Hingga tahun 2000 semuanya berubah, masa kelam kelapa – the latter might only represents concerns expressed by
sawit telah berakhir sejak masyarakat dunia mulai kuatir annex 1 countries – and have produced several initiatives
dengan persediaan bahan bakar minyak bumi, dan sejak to control emission deteriorating the climate that leads to
Timur Tengah tak henti bergolak. Tapi yang lebih penting promotion of renewable fuel and energy. This momentum
adalah sejak masyarakat dunia mulai kuatir akan terus is advantageously used by palm oil industry to promote its
membruknya iklim dunia saat ini, walau sebetulnya wacana products. Forests have started to be cleared, peatland have
tentang perubahan iklim hanyalah sebagai topeng menutupi been dried, local communities have been displaced and
rakusnya negara kaya mengkosumsi bahan bakar. wildlife have been sent to cages, all done for one purpose:
to develop and expand energy plantations.
Tapi kemudian kekhawatiran akan iklim global yang terus
menurun, mengalahkan kekhawatiran akan cadangan Claims that biofuel is environmentally friendly and is a
minyak bumi yang terus menurun -mungkin kekhawatiran solution to global warming come from incomprehensive
tentang BBM hanya mewakili kekhawatiran dunia pertama- understanding. If we knew the life cycle of biofuel, right from
telah menghasilkan beberapa inisiatif mengendalikan emisi the land clearing, the draining of peatland, land burning,
penyebab perusak iklim yang mendorong penggunaan transportation to mills, to the refinery process, our view would
bahan bakar dan energy terbarukan, ini bagai kesempatan be very different. The entire process is not environmentally
emas bagi para industri minyak sawit dan para pengolahnya friendly and it even contributes to the increasing of green
untuk memasarkan produk mereka. Hutan ditebang, kayu house gases in the atmosphere.
dibakar, lahan gambut dikeringkan, masyarakat diusir,
satwa-satwa dipindahkan ke kandang. Hanya untuk satu Aresearch says that the production of 1 ton of palm oil will emit 33
tujuan, membangun dan memperluas perkebunan energy. tons of premium CO2 emission10. It is beyond comprehension
to say that biofuel is an alternative to clean the earth as the
Klaim Biofuel ramah lingkungan dan sebagai jawaban bagi production uses non environmentally-friendly practices.
pemanasan global terjadi akibat pemahaman yang tak
utuh. Jika dipahami utuh, maka kita akan faham bahwa
siklus hidup biofuel sejak dari pembukaan lahan, drainase
lahan gambut, pembakaran lahan, pengangkutan untuk
penggilingan di industri, pengangkutan bahan baku CPO
menggunakan alat transportasi, penyulingan bahan baku
menjadi bahan bakar, tentu pemahaman kita akan berbeda.
Bahwa sepanjang proses itu, berapa panjang proses yang
ditakukan yang justru tidaklah ramah lingkungan dan bahkan
telah menambah jumlah GRK di atmosfir.

Sebuah riset menyebutkan, untuk menghasilkan 1 ton
minyak sawit dihasilkan 33 ton emisi CO2 premium11. Artinya
sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa Biofuel
adalah alternatif untuk membersihkan bumi, karena proses
pembuatannya justru memakai cara-cara yang mengotori
bumi.

Biofuel; a Trap
42

Box 5:

Emisi lain dari aktifitas perkebunan kelapa sawit: Emisi Palm operations emit emission from use
dari penggunaan min yak bumi untuk tranportasi buah of fossil fuel to drive the transporation and
dan mesin pengangkut, emisi dari penggunaan pupuk the associated machines; use of fertilizers;
kimia, emisi dari aktiftas pabrik, dan emisi dari limbah. plant activities, and waste. These is emission
Ini baru emisi dari perkebunan kelapa sawit hingga emitted only from CPO production, excluding
menjadi CPO, belum lagi emisi yang dikeluarkan untuk biofuel production.
memrpoduksi biofuel.

Propinsi Riau adalah laboratorium penyebab kerusakan The province of Riau is the giant laboratory causing climate
iklim raksasa, jika selama ini hutan perawan telah habis, destruction. When pristine forests and communities’ land
lahan masyarakat sudah tak ada lagi, kini giliran lahan-lahan have been used up, now the 3-8 meter-deep growth peat
gambut yang memiliki kedalam 3-8 meter yang menjadi becomes the main target of the industry. It is no surprise that
sasaran. Tak mengherankan jika kemudian Indonesia Indonesia is now the world’s third largest GHG’s emission
termasuk penghasil GRK terbesar ketiga. Di Riau misalnya contributor. The Wetland International says that more than
menurut lembaga Wetland International, lebih dari 2 juta 2 million ha. of lowland peat in Riau are under full control of
hektar lahan gambut daratan rendah Riau telah dikuasai concessions or the like; one being oil palm plantations that
oleh konsesi atau semacamnya, dan salah satunya adalah control nearly 882,000 ha.11.
perkebunan kelapa sawit yang menguasai hampir 882.000
Ha12. In Jambi province, a subsidiary of the Bakrie Group is
operating on 3-meter-deep peat. In addition, a Malaysia-
Dipropinsi Jambi, salah satu anak perusahaan milik Bakri based company is even operating in the borders of Berbak
Group beroperasi diatas lahan gambut yang kedalamannya National Park, which is caught in fire when the dry season
mencapai 3 meter. Tak hanya Bakri, anak perusahaan comes.
Malaysia juga tak mau kalah, mereka malah beroperasi
diperbatasan Taman Nasional Berbak yang hampir setiap
tahun terbakar jika kemarau datang.

Tabel 6:
Luas Penggunaan Gambut Untuk Kebun Sawit (%) di 3 Wilayah/
Use of peatland for palm plantations (%) in three provinces
Luas Kebun Sawit/ Luas Konversi Gambut/ Peatland
No Provinsi Size of oil palm plantations converted into palm plantations
(ha) (%)
1 Jambi 400.000 7%
2 Sumatera Selatan/South Sumatera 600.000 11%
3 Riau 2,157,091 80%
Total 3.157.091 98%
Source: Processed from the 2007-2008 provincial statistics

Biofuel; Sebuah Jebakan
43

Box 6: Konversi Gambut adalah Bencana Iklim Global
Peat conversion is a global climate disaster

Gambut mulai gencar dibicarakan orang sejak sepuluh Peat has come into attention since ten years ago
tahun terakhir, ketika dunia mulai menyadari bahwa when the world started to be aware of the facts that
sumberdaya alam ini tidak hanya sekedar berfungsi natural resources are not only important for hydrology,
sebagai pengatur hidrologi, sarana konservasi biodiversity conservation, cultivation, sources of energy,
keanekaragaman hayati, tempat budi daya, dan sumber transportation, sources of clean water, flood control,
energi; sarana transportasi, penyplai sumber air bersih, social cultural values, research and education, but also
biodiversity, pengaturan banjir dan aliran air, mencegah for larger global climate importance: carbon sink.
instrusi air laut, sumber plasma nutfah, penyimpanan
karbon , pengaturan iklim, nilai-nilai sosial budaya Conversion and exploitation of peatland will emit CO2 to
masyarakat lokal, penelitian dan pendidikantetapi juga the atmosphere, which pollutes global environment as it
memiliki peran yang lebih besar sebagai pengendali disturbs the water table system (hydrological system).
perubahan iklim global karena kemampuannya dalam If the contribution of emission from peatland is counted
menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia. in global climate context, Indonesia ranks three as the
world’s largest emission contributor. Peat is capable of
Setiap konversi dan eksploitasi lahan gambut akan absorbing carbon to the average 7x102 tons/ha/year
menyebabkan terlepasnya emisi karbon (CO2) yang depending on the vegetation that grow on it and the type
mencemari lingkungan global karena terganggunya of the peat. Peat holds water 15-20 as much as its dry
sistem water table (sistem hidrologis). Apabila emisi weight.
dari lahan gambut diperhitungkan kontribusinya bagi
perubahan iklim di dunia, maka Indonesia tercatat Conversion of peatland to oil palm plantations will
sebagai negara urutan tiga penghasil emisi karbon change its ecosystem and bring serious impacts such
(CO2) terbesar di dunia. Kemampuan gambut as fires, floods, drought, loss of livelihood, extinction of
menyerap karbon rata-rata 7 x 102 ton/ha/tahun beneficial species.
namun dipengaruhi oleh vegetasi diatasnya dan jenis
gambutnya; sifat gambut menyimpan air 15-20 kali
berat kering gambut.

Konversi lahan dan hutan gambut untuk perkebunan
sekala besar kelapa sawit salah satu contoh, akan
menyebabkan perubahan ekosistem gambut akan
memberikan dampak yang cukup serius, misalnya;
mudahnya kebakaran hutan dan lahan, banjir,
kekeringan, hilangnya mata pencaharian penduduk,
hilangnya satwa dan tumbuhan yang berguna bagi
kehidupan dan rawan kebakaran.

Biofuel; a Trap
44

3.5. Biofuel; siapa untung dan siapa yang 3.5. Biofuel: who benefits and who loses?
buntung?

Untuk meyakinkan negara-negara berkembang termasuk To convince developing countries such as Indonesia,
Indonesia. Negara maju, seperti Amerika, Uni Eropa developed countries such as USA and the European Union
telah menggunakan berbagai ragam agenda dan promosi have been utilising various agenda and promoting their
kebijakannya dalam mengembangan energy alternative policies on alternative energy (biofuel) development. For this
biofuel. Dalam mega proyek energy ini, keterlibatan mega project, FAO-UE has issued convincing publication to
badan dunia untuk urusan pangan Uni Eropa (FAO-UE), engage developing countries actively. FAO-UE concluded
mengeluarkan publikasi yang cukup menyakinkan negara- that biofuel not only brings benefits but also creates new
negara miskin untuk terlibat secara katif, ketika FAO-UE job opportunities (FAO, 2005). The assumption, upon which
mempublikasi hasil kajiannya dengan menyimpulkan bahwa, the conclusion was drawn, that palm expansion leads to
biofuel selain menguntungkan juga menciptakan lapangan the increasing number of farmers is acceptable when the
kerja baru (FAO, 2005). Tentu saja kesimpulan yang di number of palm farmers in Indonesia increases. But, will
keluarkan oleh FAO-UE berdasarkan asumsi perluasan they lead to better lives for the farmers as well?
perkebunan kelapa sawit untuk pasokan bahan baku biofeul
bisa diterima, ketika jumlah petani kelapa sawit bertambah Let us take a look, a big company in Jambi set up plantations
di Indonesia. Tetapi, apakah peningkatan luas dan jumlah by taking over the land of and displacing 1,700 households
petani kelapa sawit akan diikuti dengan peningkatan taraf (totalling 5,000 lives) in three villages (Tanah Menang,
hidup petani kelapa sawit? Padang Salak and Pinang Tinggi) in Bajubang sub-district,
Batanghari district, Jambi. The head of Tana Menang village
Lihat saja, salah satu contoh sebuah perkebunan skala says that only approximately 100 local people have been
besar di Kabupaten Batanghari Jambi membangun kebun employed by the company to date, leaving the other 1,600
sawit melalui cara menggusur penduduk 3 desa (Tanah household heads unemployed. This is a typical case found
Menang, Padang Salak dan Pinang Tinggi) Kecamatan elsewhere, so FAO-UE conclusion is not based on accurate
Bajubang Kabupaten Batanghari, Jambi sebanyak 1.700 data, both micro and macro, that biofuel industry can absorb
Kepala Keluarga atau sekitar 5.000 jiwa. Saat ini menurut new labours; it creates new unemployment instead.
catatan kepada dusun Desa Tana Menang yang bekerja

Biofuel; Sebuah Jebakan
45

di perusahaan tersebut hanya sebanyak +100 orang, From another viewpoint, biofuel trade chain, from the
maka, penambahan penangguran baru sebanyak 1.600 production, the processing to the retailers, is not only
Kepala Keluarga. Kasus seperti ini sering kali ditemui di industrialised and globalised but also concentrated in
banyak tempat, maka, kesimpulan FAO-EU tidak memiliki several groups of businesses that tend to monopolise. This
dasar data yang akurat secara mikro dan makro, bila means that there are no other rooms for palm farmers except
pembangunan industry biofeul dapat menyerap tenaga harvesting and transporting fresh fruit bunches. The income
kerja bag penggagguran, malah sebaliknya menciptakan they get comes from the sale only. The price of FFBs itself is
pengangguran baru. unfairly determined by the industry.

Dari sisi lain, mata rantai perdagangan biofuel, sejak proses
produksi, perdagangan, pengolahan dan ritel (penjualan
eceran), tidak hanya terindustrialisasi dan mengglobal,
tapi semakin terkonsentrasi pada segelintir (orang) pelaku
bisnis yang cendrung melakukan praktek monopoli. Artinya
tidak ada ruang bagi petani kelapa sawit selain melakukan
pekerjaan panen dan penyetor Tandan Buah Segar (TBS)
semata, dan keuntungan yang diperoleh oleh petani kelapa
sawit pun hanya sampai pada penjualan TBS, tak lebih dari
itu. Dimana sering kali harga TBS di patok oleh industry
sangat tidak adil bagi peta

Biofuel; a Trap
46

BAGIAN IV PART IV

INISIATIF SOLIDARITAS PEOPLE SOLIDARITY
RAKYAT: INITIATIVE:
Jalan Keluar Dari Krisis Iklim A Way Out of Climate and
Dan Energi Energy Crisis

Bagian terdahulu, telah menunjukan, bahwa The previous part shows that biofuel industry
industry biofeul ini jelas memberikan dampak pada adversely affects vulnerable peoples, increases
masyarakat rentan, meningkatkan kemiskinan, poverty and food insecurity, and spreads conflicts
rawan pangan dan konflik semakin meluas disemua in all the expansion areas. This part will elaborate
wilayah ekspansi. Bagian ini akan menceritakan experiences of various solidarity initiatives as a
praktek kecil dari pengalaman beragam inisiatif way out of climate and energy crisis, and what
solidaritas rakyat solidaritas jalan keluar dari rural communities are doing to improve their living
kerusakan iklim dan krisis energy dan menceritakan conditions by taking the local carrying capacity into
apa yang sedang dikerjakan oleh masyarakat consideration.
di kampung guna memperbaiki kehidupan yang
lebih baik dengan memperhatian daya dukung
lingkungan setempat.

4.1. Belajar dari kekeliruan biofuel dan 4.1. Learning from biofuel industry flaws and
upaya jalan keluarnya seeking the way out

Pada dasarnya masyarakat sekitar tapak proyek biofuel Basically, communities living around or, say, affected by
atau boleh dikatakan korban tidak mengetahui apa yang biofuel projects, know nothing about alternative energies, i.e.
dimaksudkan dengan energy alternative dengan kata lain renewable energies. Theoretically, never have they learned
energy yag dapat diperbaharui. Sacara teori tidak pernah about them. In practice, however, they have long been using
mendapatkan ilmu tersebut, namun pada prakteknya, renewable energy/fuel extracted from candlenuts, resin,
masyarakat sudah lebih lama mempraktekan penggunaan and the like. A question to ask is then whether or not they
energy yang dapat diperbaharui dengan cara memakai need biofuel as promoted by the government as a result of
bahan bakar minyak yang terbuat dari kemiri, dammar global cooperation. No definite answer can be given to the
dan sejenis. Kemudian, apakah mereka membutuhkan question. Rural communities do not use much fuel, both
biofuel sebagaimana dimaksudkan atas rancangan proyek fossil-based and plant-based. Their stoves burn firewood,
pemerintah Indonesia dari janji kerjasama global? Tentunya their lamps burn oil extracted from plants they grow, be it
tidak pernah terjawab dengan pasti, karena penduduk di coconut, candlenuts, and the like. The experience gives
pedesaan, tidak banyak menggunakan bahan bakar minyak, an illustration of plant-based energy. Then, what is really
baik yang diproduksi hasil ekploitasi minyak bumi maupun happening in Indonesia’s and the world’s biofuel industry?
produksi dari bahan tumbuhan. Yang mereka ketahui
dalam pemenuhan kebutuhan energy adalah memasak Analysing further, Indonesia’s economic politics are still under
menggunakan kayu bakar, menghidupkan lampu masih the shadow of capitalism. This means that Indonesia is still
juga menggunakan minyak terbuat dari kelapa santan, dependent on large investors, who are controlled by several
buah kemiri bahkan dari tumbuhan lain yang diproduksi groups of people. The system in fact dates back to the times
sendiri. Pengalaman ini rupanya memberikan ilustrasi of Dutch colonisation, where the Dutch invaded Indonesia
pada penggunaan energy tumbuhan berbasis ketersediaan in search of natural resources – fragrant roots in Betawi,
sumberdaya local. Lalu, apa yang sebenarnya sedang spices, tea, cane sugar, and the like. Post colonialism,
terjadi dengan industry biofuel di Indonesia dan dunia. Indonesia has still been an exporter of raw materials,
mainly for Europe and USA markets. This is still blanketing

Biofuel; Sebuah Jebakan
47

Kalau dipelajari lebih jauh, politik ekonomi Indonesia masih Indonesia’s economic system, which adopts capitalism. One
di bawah bayang-bayang politik ekonomi kapitalisme. thing that can be learnt from the system in relation to biofuel
Maksudnya, Indonesia masih tergantung pada pemodal industry is that it is oriented to raw materials, be it fossil fuel
besar yang terorganisir oleh segelintir orang saja. Dari and plants. To meet the target, the system works in a larger
sejarah system ini sudah berlangsung sejak jaman colonial scale to control vast land to be continuously exploited for the
dahulu, dimana Belanda melakukan invansi/pendudukan so-called welfare and prosperity. The system is supported
atas negara Indonesia untuk mencari sumber-sumber by policies in the form of regulations, which force the
kekayaan alam, mulai dari akar wangi di Batavia, rempah- government to provide facilities for investment in the name
rempah, teh, tebu dan lain sebagainya. Paska kolonialisme, of global economic cooperation. Another measure is to force
Indonesia sampai saat ini masih menjadi Negara penyedia communities to hand over their land to companies in the
bahan mentah yang bertujuan ekspor ke manca negara, name of development and the law. Landowners’ refusal to
terutama Eropa dan Amerika. Sehingga, bayangan ini selalu handing over the land will be responded by violence and
menyelimuti system ekonomi di Indonesia yang menganut criminalisation (committing actions against the state). This
system ekonomi kapitalisme. Salah satu yang dapat di kind of ‘measure’ usually involves ‘certain members’ of the
pelajari dari system ini berhubungan dengan proyek biofuel military and the police, as in the violence committed by PT
adalah; memiliki orientasi pada bahan-bahan mentah, mulai Asiatik Persada to the Suku Anak Dalam indigenous people
dari minyak bumi sampai hasil tumbuhan. Untuk mencapai in Jambi.
tujuan pemenuhan bahan mentah, system ini bekerja
pada skala yang luas dalam penguasaan tanah-tanah Another form of softer and ‘friendly’ measure is to offer
untuk di eksploitasi terus menerus dengan menjanjikan mutually beneficial cooperation to communities, commonly
kesejahteraan dan kemakmuran. Watak bekerjanya system referred to as partnership. Such cooperation may take the
ini pula yang ditopang oleh kebijakan-kebijakan dalam form of Perkebunan Inti Rakyat (Nucleas Estate Scheme),
bentuk peraturan per undang-undangan, dimana bentuk Sawit Smallholder (plasma) or KKPA. These models are
pilihan kerjanya memaksa pemerintah untuk memberikan all favourable to the companies. Koesnadi Wirasapoetra
kemudahan-kemudahan investasi atas nama kerjasama in his investigation of smallholder scheme between PTPN
ekonomi global. Bentuk kerja lain yang berkaitan dengan XIII and farmers of Paser district in East Kalimantan during
komoditas di sektor perkebunan adalah dengan cara 2000-2001 reported that the partnership model will give 4
memaksa rakyat untuk menyerahkan tanah, hutan adat, benefits to the company over the farmers: first: the company
kebun miliknya secara “paksa” kepada perusahaan atas gets land for free; second: the company gets free workers
nama pembangunan dan peraturan Negarah. Bila rakyat – husbands, wives, children, grandparents are all doing
tidak mau menyerahkan, maka, tindakan “kekerasan” payless work for the perusahaan; third: the company gets
dilakukan serta melakukan upaya kriminalisasi rakyat low-priced FFBs and fourth: the company get additional
bilamana menghalangi pembangunan yang dikerjakannya. profits from the interest of farmers’ credits plus income from
Bentuk-bentuk kerja seperti ini biasanya melibatkan aparat paser production in the first two years of harvest.
keamanan dari “oknum” kepolisian dan TNI, seperti pernah
dilakukan oleh PT Asiatik Persada atas masyarakat suku The system surely brings adverse impacts on the farmers
anak dalam di Jambi. and the cooperating countries. Due to its exploitative nature
on natural resources, it eventually leads to deprivation of
Bentuk kerja lain yang lebih halus dan “bersahabat” biasanya communities’ rights to their natural resources. It surely causes
perusahaan menawarkan kerjasama dengan masyarakat floods, forest fires, drought, landslides, loss of biodiveristy,
saling menguntungkan, istilah ini biasa disebut kerjasama violation of human rights and impoverishment. This is a
kemitraan. Model ini bisa bentuknya Perkebunan Inti picture of the on-going biofuel projects in Sumatera.
Rakyat (PIR), Sawit Plasma atau KKPA. Model ini sangat
merugikan petani sawit, laporan Koesnadi Wirasapoetra The study cases in the three provinces of Sumatera show that
dalam investigasi model kerjasama Plasma antara PTPN the biofuel industry is oriented to export and characterised
XIII dan petani di Kabupaten Paser Kalimantan Timur by control over vast land for oil palm plantations to supply
tahun 2000-2001, menyebutkan bahwa model kerjasama the raw material. The project receives legal support, from
kemitraan seperti ini, biasanya perusahaan akan mendapat laws, governmental regulations, presidential instructions
4 keuntungan dari masyarakat atau petani; pertama: to governor and district’s regulations. All these legal
perusahaan mendapatkan tanah atau lahan gratis, kedua; products are used to justify the forced displacement of local
perusahaan akan mendapat buruh gratis – suami, istri, communities, the taking over of land and even conversion

Biofuel; a Trap
48

anak dan mertua bekerja di lahan kebun tanpa di bayar,
ketiga; perusahaan akan mendapatkan keuntungan buah
TBS murah dan keempat; perusahaan akan mendapat
keuntungan bunga kredit pengembalian petani yang di
tambah buah paser pada 2 tahun pertama pohon sawit
panen.

Dari praktek ini, sudah jelas akan menimbulkan dampak
yang merugikan rakyat (petani) dan negara mitra kerja
ekonomi. Karena system investasi yang cenderung sangat
menguras (eksploitatif) sumberdaya alam. Pada akhirnya
mendatangkan dampak bencana serta tidak terjaminnya
hak-hak rakyat atas sumberdaya yang dimilikinya. Sudah
bisa dipastikan bencana yang akan datang adalah banjir,
kebakaran hutan, kekeringan, tanah longsor, hilangnya
keanekaragaman hayati, pelanggaran HAM dan bermuara
pada kemiskinan ditingkat rakyat. Inilah yang tergambar dari
sebuah proyek biofuel sedang berjalan di Sumatera.

Dari studi kasus biofuel yang dilakukan di 3 wilayah Sumatera,
menunjukan biofuel memiliki orientasi eksport, dengan
sekala luas penguasaan lahan untuk bahan baku melalui
perkebunan kelapa sawit. Dimana proyek ini di dukung oleh
kebijakan yang cukup kuat mulai dari Undang-Undang,
Peraturan Pemerintah, Intruksi Presiden sampai Keputusan
Gubernur dan Bupati. Produk hukum yang menunjang ini
digunakan oleh proyek biofuel sebagai kekuatan penuh
untuk melakukan bentuk-bentuk pekerjaan menghalalkan
segala cara, mulai dari menggusur paksa rakyat dari tanah
dan kebunnya sampai mengkonversi sumberdaya alam yang
dilindungi oleh kebijakan pemerintah sendiri terjadi. Ini terjadi
di wilayah Jambi, Riau dan Sumatera Selatan, bagaimana
proyek ini bekerja dengan menggusur rakyat, menciptakan
pengangguran baru dan menambah jumlah penduduk of legally protected areas. All these have been happening
miskin, melakukan pengrusakan atas sumberdaya gambut in Jambi, Riau and South Sumatera. The provinces have
serta melanggar Hak-hak asasi manusia. Tetapi dengan seen how the projects have displaced local communities;
praktek seperti ini, tetap saja, watak proyek ini mendapat created new unemployment and more poor people;
perlindungan dari pemerintah baik tingkat daerah maupun destroyed peatland; and violated human rights. With all
Nasional. these violations, the projects still receive protection from all
levels of government.
Pertanyaannya, ada apa sesungguhnya dengan model
proyek seperti ini? Sudah bisa di indikasikan, bahwa The question is what’s behind the projects of this kind? There
proyek ini penuh dengan indikasi Kolusi, Korupsi dan is a strong indication that all the projects involve collusion,
Nepotisme (KKN), dan di landasi kerjasama antar Negara corruption and nepotism (KKN) and build on mutually
atas kebutuhan bahan bakar nabati yang secara politis beneficial political and economic bilateral agreements on
dapat diketahui hubungan bilateral ekonomi antar Negara biofuel need although they are unfair to the Indonesia’s
walaupun tidak adil bagi rakyat dan Bangsa Indonesia. people. The biofuel project represents a fundamental flaw
Proyek biofuel adalah kekeliruan yang mendasar bari in a country’s development plan. The flaw, however, is a
sebuah rencana pembangunan di sebuah negeri. Tetapi lesson for the people not to keep silent and to work together
kekeliruan ini merupakan proses catatan belajar bagi to save the earth.
masyarakat untuk tidak berdiam diri, sehingga upaya dan
inisiatif rakyat sebagai solidaritas penyelamatan bumi dapat
dilakukan secara bersama.

Biofuel; Sebuah Jebakan
49

4.2. Menyelamatkan Bahan dan sumber 4.2. Saving food and sources of food for
Pangan Untuk Rakyat communities

Luas lahan pertanian tanaman pangan yang semakin Cropland keeps shrinking and oil palm plantations keep
sempit, dan areal perkebunan kelapa sawit terus meningkat expanding from year to year. This threatens communities’
jumlahnya dari tahun ketahun. Menyebabkan, rawannya food security and the nation’s food sustenance. This is a
kondisi pangan rakyat dan ketahanan pangan nasional. condition none of law makers at all level of government are
Kondisi ini tidak di sadari oleh para pembuat kebijakan mulai aware of. Increasing importation of rice does not teach them
dari tingkat local sampai Nasional. Import beras yang selalu any lesson. Although Indonesia once enjoyed food self-
meningkat setiap tahun, bukan pelajaran yang berarti bagi supporting in 1984, importation of rice has soared to 50%
pengurus Negara. Walapun Indonesia sempat mengalami of the total national production after more than 15 years.
swasembada pangan di tahun 1984. Kurun waktu lebih 15 Decision making on food is reversely proportional to what
tahun, import beras Indonesia sudah mencapai 50% dari communities’ initiatives, and this reflects the government’
jumlah total produksi beras Nasional. Potret pengambil frivolity in securing food need for its people, in contradiction
kebijakan atas kondisi pangan rakyat sangat berbanding to rural view that food is part of Indonesia’s dignity as an
terbalik dengan upaya rakyatnya sendiri. Ini tergambar, agrarian country.
ketidak seriusan pemerintah menjamin keamanan pangan
rakyatnya. Berbeda dengan aktivitas rakyat di pedesaan, For the women of the Suku Anak Dalam indigenous people
bahwa, pangan merupakan bagian dari harga diri sebuah (abbreviated to SAD) in Jambi, collecting food is one of
Negara agraris Indonesia. the family responsibilities. Food is the inter-generation life
as agrarian people. SAD women collect food while the
Bagi perempuan Suku Anak Dalam (disingkat: SAD) di husbands hunt for food or work in the rubber gardens. Food
Jambi, melakukan pengumpulan bahan makanan adalah for them is an essential need for the family. Cassavas, sweet
satu kewajiban keluarga. Dimana pangan adalah kehidupan potatoes, vegetables and other plants are collected and
antar generasi sebagai masyarakat bercorak agraris. cooked for the family. It is an honour for women to fulfil the
Perempuan SAD melakukan ini ketika para suami pergi family’s food need. When food is not sufficient, they work
berburu satwa atau bekerja di kebun-kebun karet. Bahan hard for the family. The staple food for the SAD is cassava.
pangan bagi perempuan SAD adalah kebutuhan sangat It is grown in the family’s land. Each family has at least a
mendesak untuk hidup keluarga. Mulai dari singkong, ubi- quarter ha of land, sufficient to supply food throughout the
ubian, sayuran, dan tumbuhan lain yang tumbuh di hutan, year for a 5-member family. For other economic needs, the
kebun sekitar rumah dikumpulkan dan di masak untuk SAD hunt animals, collect rubber sap in their old gardens,
bersantap keluarga. Sebuah kehormatan bagi perempuan and grow cocoa, coffee, jackfruit, or rambutans. They also
bila telah memenuhi kecukupan bahan pangan keluarganya. grow timber trees for houses and other needs, or – when
Tetapi sebaliknya, bila bahan pangan tidak dapat memenuhi there is some left – for sale. This means that biodiversity
kecukupan keluarga, maka, perempuan harus bekerja keras exists around their village and ancestral forests. If they are
untuk berjuang demi keluarganya. Bahan pangan pokok SAD replaced with the monoculture oil palm, what is left for them?
adalah ubi atau nama populernya singkong. Ubi di tanam Of course, what would happen is hard to imagine!
di lahan pertanian, setiap keluarga memiliki lahan pangan
minimal ¼ hektar, ini cukup untuk menyediakan bahan The communities in Talang Nangka village and Rambai
makanan selama setahun bagi 5 orang keluarga. Untuk village in South Sumatera have a different way to fulfil their
kebutuhan ekonomi lainnya, SAD mengandalkan berburu, food need. They practice a traditional wetland rice farming
menoreh/ menyadap getah karet di kebun-kebun yang telah system called Sonor (see Box 5). Sonor is a common local
dipelihara terlebih dahulu. Selain karet, jenis tanaman lainnya practice among people living around peat swamps. Sonor
juga di budidayakan sederhana, misalnya;tanaman coklat, is practiced once a year during the dry season. In the wet
kopi, nangka, durian, rambutan dan jenis kayu-kayuan untuk season, the tide is so high that the rice will be submerged.
kebutuhan lainnya baik bangunan rumah maupun sekedar The typical variety of rice grown is a local one, which can be
di konsumsi dan lebihnya di jual. Ini menunjukan, bahwa harvested within 3.5 months. For those living in peat swamps,
apa yang didapat oleh perempuan SAD, masih terdapatkan sonor has been practiced for tens and even hundreds of
keanekaragaman hayati di sekitar desa dan hutan adatnya. years. That is why the local communities carefully protect
Bila saja semua ini berganti dengan tanaman satu jenis their swamps from palm expansion/investment.
(monoculture) pohon kelapa sawit, apa yang didapat bahan
pangan oleh perempuan SAD untuk keluarganya? Tentunya To the communities of the two villages, however, rice is not
jawabannya sulit dibayangkan! the only staple food. They also live on cassava, corns and
sago. So, for the Suku Anak Dalam indigenous people, and

Biofuel; a Trap
50

Lain cerita dari Desa Talang Nangka dan Desa Rambai
di Sumatera Selatan. Kebutuhan bahan pangan di dapat
dari pola pertanian tradisional di rawa gambut dengan
komoditas tanaman padi. Sistem ini biasa disebut system
pertanian Sonor (lihat box 5 ) untuk mendapatkan bahan
pangan beras. Sonor adalah suatu system pertanian local
kebanyakan penduduk yang tinggal disekitar rawa gambut.
Sonor dilakukan pada satu tahun sekali di musim kemarau,
ketika musim hujan, sonor tidak dilakukan, karena air
pasang rawa gambut akan menenggelamkan tanaman padi
yang dibudidayakan. Jenis atau varietas yang dibudidayaan
padi local yang memiliki umur 3 – 5 bulan, atau maksimum
3,5 bulan. Bagi yang tinggal di rawa gambut, sonor adalah
system yang berjalan sudah puluhan bahkan ratusan tahun.
Sehingga, penduduk Talang Nangka, Rambai, sangat
memperhatikan kondisi lahan rawanya dari ancaman dating
investasi perkebunan kelapa sawit.

Tetapi masyarakat kedua desa ini, pangan bukan hanya
beras, bahan pangan lainnya adalah singkong, jagung
dan sagu. Sehingga masyarakat suku anak Dalam,
Talang Nangka dan Rambai, membela lahan penyedia
bahan pangan adalah satu kewajiban dilakukan, karena
menyangkut hidup dan mati masyarakat. Bila mereka tidak the communities of Talang Nangka and Rambai, defending/
memiliki lahan produksi bahan pangan, maka, ancaman preserving their cropland is a must as it is about their lives.
rawan pangan akan mengancam di masa datang. Hal ini Losing the cropland will threaten their food security and
merupakan satu kegagalan bagi penduduk asli dalam reflect their failure in preserving their lives and the future
mempertahankan kehidupan dan generasinya. generations.

Box 7:
Sistem Sonor Selamatkan Pangan Rakyat The SONOR SYSTEM saves communities’ food

Sonor adalah sistem penanaman padi tradisional di areal rawa, Sonor is a traditional wetland rice farming system,
yang hanya dilakukan pada saat musim kemarau panjang (paling practiced only during a long dry season (with at
sedikit ada 5-6 bulan kering). Api digunakan dalam persiapan least 5-6 dry months). Fire is used to clear the
lahan. Sebanyak mungkin areal rawa dibakar tanpa usaha untuk land. As much land as possible is burned without
mengontrol pembakaran. Padi ditanam dengan cara disebar. Sistem any attempt to control the burning. Rice is grown
by spreading the seeds. The system uses low
sonor ini menggunakan tenaga kerja dan input pertanian yang
labor and agricultural input, without any treatment
rendah. Tidak ada kegiatan pemeliharaan seperti pemupukan. Petani such as fertilising. Farmers just spread the seeds,
hanya menyebar bibit, kemudian ditinggalkannya sekitar 6 bulan, leave them alone for about six months, and come
dan kembali untuk memanen. Saat ini beberapa petani mencoba back to harvest. Recently, some farmers, notably
untuk melakukan sistem tugal, terutama petani transmigran yang transmigrants having small plots of land, are trying
menguasai lahan yang terbatas. the tugal system.

Hampir semua masyarakat/petani lokal melakukan sonor pada Nearly all local farmers practice the sonor system
musim kemarau panjang. Di Air Sugihan, Talang Nagka, Rambai during a long drought. In Air Sugihan, Talang
Sumsel, masyakat lokal telah mengusahakannya sejak puluhan Nagka, and Rambai, South Sumatera, local
tahun di ekosistem rawa potensial sonor untuk ketahanan pangan communities have been practicing it for tens of
rakyat. Produksi padi sonor sangat penting untuk konsumsi pangan years to secure their food need. It is very important
masyarakat, karena tidak ada alternatif lain untuk menanam padi as there are no other ways to plant rice during a
pada saat musim kemarau yang sangat panjang. Kegiatan persiapan long drought. Land is prepared in late September
lahan dilakukan pada sekitar akhir September sampai akhir Oktober. up to late October. During the fallow – waiting for
Pada saat masa bera, yaitu menunggu musim kemarau panjang the next long drought – they cultivate other plants,
yang memungkinkan sonor dilakukan kembali, regenerasi beberapa mostly herbs such as Heleocharis fistulosa, Scleria
vegetasi muncul seperti tumbuhan herbal yaitu ; Heleocharis multifoliata, and Blechnum orientale; and wood
fistulosa, Scleria multifoliata, dan Blechnum orientale; tumbuhan kayu trees such as Melastoma malabathricum and
yaitu Melastoma malabathricum and Melaleuca cajuputi. Melaleuca cajuputi.

Biofuel; Sebuah Jebakan
51

4.3. Sudah Lama Masyarakat Menggunakan 4.3. Long use of bio energy at local level
Energy Nabati

Gerobak kayu dengan roda dua yang ditarik oleh kerbau Two-wheeled carts drawn by a buffalo or a cow are a
atau sapi, masih banyak di jumpai di wilayah Desa Talang common sight in Talang Nangka and Rambai, in particular
Nangka, Rambai khususnya Kabupaten Ogan Komering in Ogan Komering Ulu district. It is an alternative means of
Ulu. Sarana transportasi ini, salah alternative pilihan local and inter-village transportation to carry crops, rice,
masyarakat untuk mengangkut barang hasil perkebunan, vegetables, handicrafts and building materials. This means
pertanian sawah, sayuar mayor, hasil kerajinan dan untuk of transportation has nothing to do with fossil fuel or biofuel
bahan bangunan antar desa dan rumah penduduk. Bentuk that is intensively promoted by the government. It is about
transportasi ini tidak memiliki hubungan dengan penggunaan the use of local resources (i.e. cattle) and local initiatives
bahan bakar minyak bumi maupun minyak nabati yang to save energy. The carts emit no pollution and require no
sedang di galakan oleh pemerintah melalui proyek biofuel. factories to supply spare parts. Just a sackful of fresh grass
Kendaraan ini berhubungan dengan sumberdaya local and 50 litres of water per day, the carts will run fast on the
ternak dan inisiatif masyarakat untuk berhemat energy. stony village roads.
Tidak menghasilkan polusi udara, tidak membutuhkan
industry lainnya untuk suku cadang, transportasi gerobak Similarly, for the SAD in Jambi, motorcycles or cars are
sapi hanya membutuhkan sekarung rumput segar dan 1 uncommon. They generally walk, and sometimes walk a
ember air 50 liter dalam setiap harinya. Maka, gerobak akan long way. For their lamps, they extract oil from coconuts,
melaju cepat di jalan berbatu dan tak bertanah. candlenuts, and other oil-producing seeds, or sometimes
they use resin torch. So, long before biofuel was promoted
Begitu juga, bagi SAD di Jambi, tidak banyak mengenal by developed countries and invaded villages in Indonesia,
kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. the SAD have been using biofuel. It is a collective learning
Berjalan kaki berkilometer jauhnya tetap dijalani oleh process in utilising an idea that the modern world proudly
sebagian besar penduduk. Untuk penerangan lampu calls biofuel. The renewable energy developed by investors
biasanya digunakan bahan bakar nabati dari minyak kelapa, by occupying as much land has brought adverse impacts.
kemiri, atau dibuat dari biji-bijian yang menghasilkan minyak. Palm expansion to supply energy for industries is something
Terkadang penerangan menggunakan bahan bakar getah contradictory to what developed countries should be doing
damar yang di ambil dari pohon damar di hutan sekitar in their countries. Were it possible, they could follow the
kampung. Setidaknya, sebelum biofuel di gulirkan oleh SAD’s way of living or that of the communities in Talang
Negara-negara maju dan mengekspansi Indonesia sampai Nangka and Rambai, and the greed for Indonesia’s natural
kepelosok pedesaan, SAD sudah menerapkan penggunaan resources would not sacrifice local communities. Precisely,
energy dari tumbuh-tumbuhan sejak lama. Ini proses belajar we should learn from this experience.
bersama antar sesama mahluk hidup dalam memaknai
sebuah gagasan yang sangat di banggakan bernama
biofuel. Tetapi, energy terbarukan yang dikembangkan
para pemilik modal dengan menguasai lahan atau tanah
seluas-seluasnya, mengakibatkan dampak yang tidak
kecil. Ekspansi perkebunan kelapa sawit untuk bahan baku
industry, adalah hal pokok yang sangat bertolak belakang
dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh Negara kaya
di negerinya sendiri. Bila saja dimungkinkan, gaya hidup
Negara kaya mencontoh suku anak dalam atau masyarakat
Talang Nangka dan Rambai sejak lama, maka, kerakusan
akan sumberdaya alam Indonesia tidak mengorbankan
masyaraka lokal. Justru kita harus banyak belajar dari
pengalaman ini.

Biofuel; a Trap
52

4.4. Sumbangan PAD Masyarakat 4.5. Government’s ignorance of communities’
Terlupakan Pemerintah contributions to regional revenues

Sebenarnya, tidak banyak warga atau para pendamping Not many local people or facilitators have ever calculated the
masyarakat di pedesaan yang menghitung kekayaan desa di value of the village with regards to cultivation of its natural
dampinginnya berdasarkan ketersediaan sumberdaya alam resources, either primary or secondary. When analysed
setempat, baik yang dibudidayakan secara masal maupun further within micro/macro economic context, rural resources
hanya sekedar tanaman sela tumpang sari. Kekayaan give a considerable contribution to the national economy.
sumberdaya alam di desa bila kita kaji lebih jauh dengan Rural resources gives a fantastic amount of value, including
perhitungan ekonomi secara mikro/ local untuk ditarik local communities’ contribution via direct and indirect taxes,
pada sumbangan ekonomi Nasional, akan sangat berarti which amounts to 10-20% of the total value.
dan terasa sumbangannya. Dalam perhtiungan kekayaan
sumberdaya local, maka, angka yang di dapat dari semua Natural resources in the three provinces support the lives of
harga-harga yang ditetapkan, akan mendapatkan jumlah the farmers and the people, and contribute to the respective
yang luar biasa. Ketika jumlah hasil perhitungan sumberdaya regional revenues. One example is the total 1.9 million ha
local di dapat, maka, harus dihitung pula sumbangan tidak of rubber gardens in the three provinces (see Table 7). The
langsung warga desa kepada pemerintah melalui pajak largest rubber gardens lie in South Sumatera, encompassing
langsung maupun pajak tidak langsung dengan cara 804,000 ha with the total 510,000 rubber farmers, much
memotong 10% s/d 20% jumlah total pendapatan seluruh more than the number of palm farmers, which stands at
perhitungan kekayaan desa. 210,000. According to the provincial agricultural agency,
rubber is the backbone of farmers’ economy in South
Sementara potensi sumberdaya alam di 3 provinsi Sumatera. With annual production of 657,000 tons, it is the
merupakan penopang kehidupan petani dan penduduk largest contribution to the provincial revenue after crude oil.
serta pendapatan asli daerah, misalnya: luas kebun karet Assuming that each farmer gets a monthly income of Rp1.8
mencapai 1,9 juta hektar tersebar di 3 wilayah studi (lihat millions, it means that he gets more than the value of the
tabel7). Jumlah karet yang paling luas Sumatera Selatan rubber grown. Multiplying this with the total number of farmers
mencapai 804.000 hektar dengan total petani karet mencapai in the province, we will come to ±Rp918 billions of annual
510.000 jiwa lebih besar dari jumlah petani kelapa sawit income. This gives an ample contribution to the district’s
210.000 jiwa. Menurut keterangan Dinas Pertanian Provinsi, and the provincial’s revenues. Despite the contribution, the
komoditas karet adalah tulang punggung ekonomi daerah government’s attempts to facilitate farmers, from treatment
sumsel bagi kalangan petani. Dengan kapasitas produksi to business administration are still lacking. The business
sebanyak 657.000 ton per tahun, menyumbang PAD administration is still controlled by a few number of people
terbesar setelah minyak bumi adalah hasil karet. Bila rata- and this has deteriorated the sector and eventually the
rata petani menghasilkan uang sebesar 1.8 juta per bulan, farmers give up and start to convert their gardens to oil palm
maka petani telah mendapatkan nilai lebih dari hasil karet plantations.
yang dibudidayakan. Bila jumlah ini di total dengan jumlah
petani karet Sumatera Selatan, dana yang diperoleh petani
bisa mencapai + 918 Milliar per tahun. Angka pendapatan
petani ini setidaknya telah memberikan sumbangan PAD
kepada pemerintah provinsi dan Kabupaten setiap tahunnya.
Tetapi, upaya serius pemerintah untuk memfasilitasi petani
mulai dari perawatan sampai tata niaga belum dilakukan
sepenuhnya dengan baik. Hal ini dibuktikan, bahwa tata
niaga karet masih dikuasai oleh segelintir orang, sehinga,
petani mengalami kemerotoan dalam mempertahankan
kebun karetnya dan memulai mengkonversi ke kebun
kelapa sawit.

Biofuel; Sebuah Jebakan
53

Tabel 7:
Luas Kebun karet, Produksi dan Jumlah Petani Karet di 3 Provinsi 2007
Size and Production of Rubber and Number of Rubber Farmers in Three Provinces in Sumatera in 2007

Propinsi Luas (Ha) Produksi (Ton/tahun) Jumlah Petani (Jiwa/KK)
No
Provinsi Size (in Ha) Production (in tons/year) No. of Farmers (in persons/households)
1 Jambi 622.414 255.702 227.122
2 Sumatera Selatan 804.000 657.000 510.000
3 Riau 532 900 392 124 143.505
Total 1.959.314 1.304.826 880.627
Sumber : Diolah Dari Data Statistik 3 Provinsi tahun 2005 – 2007
Processed from the three provinces’ 2005 – 2007 statistics data

Luas lahan karet rakyat di Sumsel sekitar 804.000 hektar. Communities’ rubber gardens in South Sumatera total
Dengan luas lahan seperti itu, perkebunan karet rakyat 804,000 ha. With such a size, the production represents
memberikan kontribusi sekitar 94 persen dari total approximately 94% of the total provincial production. With
produksi karet alam Sumsel. Mengingat perannya yang such a large contribution to the provincial revenue (PAD),
sangat besar sebagai sumber pendapatan daerah (PAD), the provincial government should have paid more attention
seharusnya karet rakyat mendapat perhatian yang lebih to the sector. The province’s production represents 28% of
dari pemerintah. Karet Sumsel menyumbang 28 persen the national rubber production. According to Daud, an official
dari total produksi karet secara nasional. Menurut Daud with the provincial agricultural agency, farmers should not
petugas dinas pertanian Sumsel, kesejahteraan petani karet rely on hikes in rubber price, but improved productivity.
jangan bergantung pada kenaikan harga, tetapi dengan The ideal productivity is 1,750 kgs per ha per year. The
meningkatkan produktivitas tanaman karet. Produktivitas average productivity still stands at 800 kg per ha per year.
tanaman karet yang ideal adalah 1.750 kilogram per In the province, rubber is a potential sector to develop. The
hektar per tahun. Rata-rata produksi karet rakyat baru provincial spatial plan reserves some 3.2 million ha of land
mencapai 800 kilogram per hektar per tahun. Di Sumsel for plantation sector. Of these, only 2.3 million ha have been
potensi pengembangan perkebunan karet rakyat masih utilised, comprising 959,000 ha of rubber, 618,000 of oil
luas. Dalam Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Provinsi palm, 276,000 of coffee and 512,000 of other commodities.
Sumsel tersedia lahan perkebunan seluas 3,2 juta hektar. These sources of production have long contributed to the
Luas lahan yang dimanfaatkan mencapai 2,3 juta hektar provincial revenue but this has been ignored by the provincial
yang terdiri atas perkebunan karet 959.000 hektar, kelapa government.
sawit 618.000 hektar, kopi 276.000 hektar, dan komoditas
lain 512.000 hektar. Sumber-sumber produksi ini telah lama
menyumbang pendapatan asli daerah ketiga wilayah studi,
tetapi, kebijakan yang dikeluarkan sering menutup mata dan
telinga atas apa yang sudah disumbangkan rakyat untuk
Negara melalui pajak langsung maupun tidak langsung.

Tabel 8:
Harga Karet, Pinang dan Beras di 3 provinsi 2005 - 2007
Rubber, Areca Palm, and Rice Price in three provinces during 2005 - 2007

Harga Karet Harga Pinang Harga Beras
Propinsi Rubber Price Areca Palm Price Rice Price
No
Provinsi
(Rp/Kg) (Rp/Kg/rata-rata) (Rp/Kg/rata-rata)
1 Jambi 5.000 – 10.000 1.500 - 2.500 5.000 – 7.500
2 Sumatera Selatan 6.000 – 10.000 1.500 - 3.500 6.000 – 7.500
3 Riau 5.500 – 7.000 3.000 – 4.000 5.500 – 8.000
Sumber: Diolah Dari Data Lapangan 3 Provinsi tahun 2005 – 2007
Processed from the three provinces’ 2005 – 2007 statistics data

Biofuel; a Trap
54

Selain karet, sumberdaya lainnya seperti pinang adalah Besides rubber, another potential commodity is areca palm,
potensial sebagai pendapatan keluarga dimana budidaya which is commonly grown in the yards. Assuming that
pinang menjadi pilihan untuk tanaman perkaranagan. each household grows 100 trees, the monthly yield may
Misalnya; setipa keluarga memiliki 100 pohon pinang, maka fetch ±100 kg of dry areca palm. Prices in villages vary
keluarga masyarakat pedesaan sudah bisa mendapatkan with locations, ranging from Rp2,000 to Rp4,000 per kg. At
hasil setiap bulannya pinang kering + 100 kg. Harga pinang least, each household can get Rp200,000-Rp400,000 every
di pasar pedesaan sangat bervariasi, mulai dari 2.000 s/d month, or a monthly average of Rp300,000 per household.
4.000 per kg. Minimal setiap keluarga mendapat 200.000 If there are a total 500 households in Talang Nangka Village,
s/d 400.000 dalam setipa bulan. Hasil rata-rata 300.000 Rambai, growing the species, the total income will reach
per bulan per keluarga, jika kali jumlah penduduk di Desa Rp150,000,000/month, excluding incomes from other
Talang Nangka, Rambai yang memiliki pohon pinang commodities as part of self-sufficient programme (rice,
sebanyak kurang lebih 500 orang, maka penghasilan di cassava, sago, and others).
peroleh mencapai Rp 150.000.000/bulan dari pinang. Hasil
ini belum ditambah dengan hasil karet dan tanaman pangan This enormous potency has basically been supporting the
lainnya sebagai bagian dari swasembada pangan, baik lives of local people, in particular the farmers in the three
beras, ubi kayu, sagu dan bahan pangan lainnya. provinces. Still, the government pays serious attention to
nothing but oil palm. More privileges are given to investors
Potensi yang sangat besar ini, pada dasarnya telah investing in oil palm.
memberikan kehidupan bagi penduduk, khususnya petani
di pedesaan 3 wilayah studi sumatera. Tetapi, potensi yang
cukup luar biasa ini, Pemerintah daerah tidak memiliki
perhatian serius atas perkembangan komoditas diluar
kelapa sawit. Malah sebaliknya, kebijakan pemerintah tidak
menjamin keamanan areal lahan perkebunan komoditas
diluar kelapa sawit, dengan cara memberikan perijinan
pengusahaan kepada pemilik modal untuk di bangun kelapa
sawit.

4.5 Cara Rakyat Menanggulangi 4.5. Communities’ way to deal with poverty
Kemiskinan dan Pengangguran and unemployment

Sumberdaya alam yang beragam mulai dari ketersediaan Diverse natural resources – rice, crops, wildlife, non-
bahan pangan, hasil kebun, satwa ternak-buru dan hasil timber forest products – offer rural communities sources
hutan non kayu adalah salah satu bagian dari proses of livelihood to deal with poverty and unemployment. But,
masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan dan utilisation of these resources needs protection from any
pengangguran di pedesaan. Ketika aktivitas masyarakat interference that may threat the utilisation. Rubber, coffee,
dengan hasil kebun karet, pinang, kopi, coklat dan bahan cocoa, and oil palm are cultivated in Tana Menang, Pinang
pangan lainnya, sangat memerlukan jaminan keselamatan Tinggi, and Padang Salak in Jambi; in Talang Nangka,
dan keamanan dari gangguan yang dapat menghilangkan Rambai, Dapok Rejo, Bumi Hardjo and Suka Mulya in South
mata pencaharian mereka. Upaya penanaman pohon-pohon Sumatera; and Dosan and Bunga Raya in Riau to fulfil the
karet, kopi, coklat, pinang yang dilakukan penduduk tana local basic needs.
menang, pinang tinggi, padang salak Jambi, Desa Talang
Nangka, Rambai Sumatera Selatan, Desa Dosan, Bunga Rubber has long been cultivated in Talang Nangka and
Raya di Riau dan masyarakat desa Dapok Rejo, Bumi Rambai. Talang Nangka is home to 987 households totalling
Hardjo dan Suka Mulya di Sumatera Selatan, merupakan 4,028 lives, who cultivate 12,000 ha of rubber gardens.
salah satu upaya aktivias ekonomi bagi kesejahteraan Rambai is home to 308 households totalling 2,500 lives,
keluarganya. who cultivate 6,000 ha of rubber gardens. Rubber gardens
in both villages make up a total 18,000 ha with daily
Budidaya tanaman karet bagi warga Desa Talang Nangka production amounting to the average 10 kg of wet sap per
dan Desa Rambai sudah sejak lama dilakukan. Jumlah ha. According to the local people, they work for 20 days a
penduduk Talang Nangka 987 Kepala Keluarga mencapai month, thus the average monthly production is 200 kg. In a
4.028 jiwa, memiliki areal perkebunan karet seluas 12.000 year the total production amounts to 2,400 kg or 2.4 tons. The
hektar. Penduduk Desa Rambai 308 Kepala Keluarga, 2.500 price of wet sap ranges from Rp5,000-Rp7,000 per kg, an

Biofuel; Sebuah Jebakan
55

jiwa memiliki luas perkebunan karet 6.000 hektar. Total average Rp6,500/kg. So from each ha the local people gain
perkebunan karet Talang Nangka dan Rambai seluas 18.000 Rp15,500,000 annualy or a monthly income of Rp1,800,000.
hektar, dengan kapasitas produksi karet per hektar rata- This is the income from rubber alone, excluding that from
rata 10 kg per hari/basah. Menurut keterangan penduduk, other commodities such as duku, rambutan, durian, etc. The
setiap bulan hanya bekerja selama 20 hari, jadi rata-rata famous Palembang dukus are originally from Talang and
produksi karet setiap bulan mencapai 200 kg per bulan. Jadi Rambai.
dalam setahun penghasilan karet rata-rata sebanyak 2.400
kg setara 2,4 ton. Harga karet per kilogram antara 5.000 The monthly income of Rp1.8 millions per household plus
– 7.000/basah, dengan harga rata-rata mencapai 6.500/ incomes from other commodities exceeds the provincial
kg. Jadi setiap hektarnya penduduk menghasilkan uang minimum wage (UMR), which is set at Rp780,000 per month.
sebesar 15.500.000 per tahun, bila di bagi setiap bulan In addition, 18,000 ha of rubber gardens can absorb 36,000
maka mendapatkan Rp 1.800.000. Pendapatan ini belum of local labour at the least (a minimum 2 persons per ha).
ditambah dari hasil beberapa jenis pohon buah yang di Compared with the total population in the two villages, there
tanam di sekitar kebun karet, misalnya duku yang terkenal is a shortage of labour precisely! Then, how is this solved
dari Palembang sebenarnya dari Desa Talang dan Desa and how is it related to unemployment in rural areas? There
Rambai. Selain duku, rambutan, durian dlsb. is absolutely no unemployment in the two villages. Judged
from the facilities and infrastructure, both the villages are
Dari sisi pendapatan setiap bulan minimal 1,8 juta per quite advanced with their semi-permanent houses. Income
keluarga ditambah dengan hasil tanaman lain merupakan from their gardens has made these possible.
salah satu ukuran pendapatan diatas Upah Minimum
Regional yang ditetapkan setiap provinsi 780.000 per
bulan. Disamping itu, kebun karet seluas 18.000 hektar,
minimal akan mampu menyerap tenaga kerja local setiap
hektarnya minimal 2 orang, jadi penyerapan tenaga kerja
sebanyak 36.000 orang. Jadi jumlah ini bila di lihat dari
jumlah penduduk justru, tenaga kerja di perkebunan karet
dua desa kekurangan tenaga kerja. Lalu bagaimana dalam
pemenuhan kebutuhan tenaga kerja dan hubungannya
dengan pengangguran di desa? Jelas tidak ada orang
nganggur di dua desa. Dari sarana dan prasarana desa,
kedua desa ini terbilang sangat maju. Semua rumah-rumah
penduduk semi permanen yang dibangun dari hasil karet
dan ragam jenis tanaman lain yang dibudidaya.

Box 8. Buah duku Desa Rambai Rambai Village’s Dukus

Desa Rambai salah satu Desa yang berada di Kabupaten OKI termasuk Rambai Village, one of the villages that make up OKI district,
penghasil buah duku. Duku di desa rambai sangat manis dan menjadi is well known for its dukus. The fruit is sweet and mostly
primadona bagi para pemburu buah duku dari Jakarta dan kota Palembang. sought after by buyers from Jakarta and Palembang. There
Pohon duku sangat banyak dan tidak ada data yang menyebutkan angka are no exact data on how many trees they village has. The
pasti. Menurut ketua kelompok petani Desa Rambai, setiap panen duku head of the farmer’s group say that each harvest is enough
bisa mencapai 20 truk lebih. Setiap truk berkapasitas 8 ton, jadi total to fill up 20 trucks. As a truck has the capacity of 8 tons,
produksi duku di perkirakan mencapai 160 ton setiap panen. Tetapi, the total production fetch 160 tons per harvest. The farmers,
harga buah duku di Rambai sangat murah dibeli oleh para tengkulak however, do not enjoy good price as it is controlled by
yang dating dari kota Pelambang, Lampung dan Jakarta, dihargai 1.000 middlemen from Palembang, Lampung and Jakarta. The
– 3.000/kg dulu. Bila musim panen raya, harga duku mencapai 1.000/ price offered to the farmers ranges from Rp1,000-Rp3.000/
kg, bila panen tidak begitu banyak paling mahal 3.000/kg. sedangkan kg. When harvests are good, the common price is Rp1,000/
pedagang di pasaran Jakarta dan Palembang harga duku berkisar dari kg, which may rise to Rp3,000/kg when harvests are not very
6.000 s/d10.000/kg. Persoalan harga menjadi kendala, margin atau good. On Jakarta and Palembang markets they are sold at
keutungan lebih banyak di nikmati oleh pedagang atau tengkulak. Kondisi Rp6,000-Rp10,000/kg. It is the middlemen who enjoy more
ini, menurut keterangan ketua kelompok petani Rambai, akan diperbaiki profit. The farmer group’s head says that the farmers will
kedepan dengan cara petani membentuk koperasi agar tata niaga dapat form a cooperative to regulate a fairer price. (Talang Nangka,
di bangun secara adil bersama. (Talang Nangka, Koesnadi Agustus Koesnadi, August 2009)
2009)

Biofuel; a Trap
56

Namun, kebijakan pemerintah salah melihat dan mempelajari However, the government has misinterpreted what the
kedua desa ini. Tiba-tiba pemerintah memberikan ijin two villages are doing. Suddenly, the government granted
perusahaan perkebunan kelapa sawit beroperasi di permission to palm companies to operate in the villages. The
Desa Talang Nangka dan Desa Rambai. Ijin pemerintah permit is part of the government’s efforts to alleviate poverty
salah satu jawaban untuk penanggulangan kemiskinan and to reduce the unemployment rate there. The policies
dan mengurangi angka pengangguran di kedua desa. turned out to aim at the wrong target as the people refused
Rupanya kebijakan ini salah alamat, karena warga kedua to sell their villages to palm investors. Eventually, the people
desa menolak wilayah desanya di jual kepada investor of the two villages successfully defended their land, 5.700
kebun kelapa sawit. Akhirnya, warga kedua desa ini dapat ha of which had been included in the palm concession.
mempertahankan tanahnya yang telah dimasukan kedalam
wilayah kerja perusahaan perkebunan seluas hampir
mencapai 5.700 ha.

4.6. Cara Rakyat Melindungi Alam Sumatera 4.6. How the local people protect Sumatera’s
dengan Sistem Lokal nature with local systems

Air bersih, udara bersih, sungai yang mengalir, tumbuhan Clean water, fresh air, flowing rivers, and diverse food-
yang selalu memberikan penghasilan beranekaragam dan producing vegetation are some of what belongs to the SAD
keanekaragaman hayati yang memberikan bahan pangan in Jambi and the communities of Talang Nangka, Rambai,
bagi penduduk, adalah salah satu gambaran yang dimiliki Dapo Rejo, and Suka Mulya in South Sumatera. These plus
oleh penduduk SAD di Jambi, Talang Nangka, Rambai, crops that support Bunga Raya sub-district are all alternative
Dapo Rejo, Suka Mulya di Sumsel, dan bahan pangan yang options to save Sumatera’s nature and the communities
bisa memberikan swasembada bagi penduduk Kecamatan living on it.
Bunga Raya merupakan pilihan alternative menyelamatkan
alam sumatera beserta kehidupan rakyatnya. Sumatera stretches from Sabang in the northwest edge
of Sumatera Island down to the port of Bakauheuni in
Alam Sumatera membentang dari Sabang di ujung Barat southeast Bandar Lampung, and contains remarkable
sampai pantai pelabuhan Bakauheuni di Bandar Lampung. natural richness – oil, forests, agriculture, plantations,
Membentang dengan sumberdaya kekayaan alam yang and many more. Highly diverse biodiversity can be found
sangat luar biasa, mulai dari minyak bumi, hutan, pertanian along the Bukit Barisan mountains that stretch from North
dan perkebunan lainnya. Kekayaan keanekaragaman hayati Sumatera province to South Sumatera province. Sumatera
yang culup tinggi terdapat wilayah pegunungan barisan yang also contains the largest peatland in Indoneisa, which
membentang dari wilayah Sumatera Utara sampai Sumatera has regulated the provincial water system for aeons. The
bagian selatan. Sumatera pula memiliki lahan gambut typical wildlife includes the protected elephants and tigers.
terluas di Indoneisa yang sejak ribuan tahun terbentuk Sumatera is also home to many ethnic groups with their
mengatur tata air sungai, rawa-rawa dan kehidupan mahluk highly diverse cultures, knowledge and natural resource
lainnya. Keanekaragaman hayati fauna Sumatera yang management systems based on customary wisdom and
khas adalah Gajah, Harimau Sumatera masih terdapat di laws. One among the ethnic groups is the Suku Anak Dalam
beberapa habitat yang dilindungi. Ragam entitas suku di indigenous people that inhabits some areas of Sumatera.
Sumatera sangat beragam baik culture, pengetahuan dan
system pengelolaan sumberdaya alam yang dilandasi oleh The nature richness, however, has never received serious
kearifan budaya dan hukum lokal, salah satunya Suku Anak attention from the provincial and central governments in the
Dalam yang tersebar di beberapa wilayah Sumatera. last 20 years. Frequent forest fires, flash floods, drought, and
other disasters have affected the ecosystem and caused the
Tetapi, alam Sumatera sejak 20 tahun terakhir ini tidak loss of some protected wildlife. Conflicts among community’s
mendapat perlindungan yang serius dari pemerintah groups and between communities and the government, and
daerah sampai Nasional. Bencana kebakaran hutan, lahan, development models that favour certain groups have been
banjir bandang, kekeringan, hilangnya satwa di lindungi worsening the conditions. These bad situations, however,
serta becana lainnya membawa dampak pada ekosistem are not completely lessening local initiatives, based on
sumatera yang berubah. Selain bencana, konflik horizontal customary wisdom and knowledge, which both preserve the
dan vertical sering terjadi dari akses model pembangunan nature and nurture the communities.
yang menguntungkan salah satu pihak. Tetapi, situasi ini,
tidak menyurutkan langkah masyarakat untuk bekerja

Biofuel; Sebuah Jebakan
57

keras melindungi alam sumatera dengan beragam aktivias Local natural resource management practices will ensure
berdasarkan kemampuan, pengetahuan dan kearifan local preservation of the nature. The practices not only support
saling menguntungkan antara sumberdaya alam tetap lestari the local lives but also represent a model of how people treat
dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. nature wisely. The SAD indigenous people in Jambi have
been managing forests based on their customary knowledge
Praktek-praktek pengelolaan alam Sumatera yang and laws. They are not allowed to log trees for commercial
dilakukan oleh masyarakat local akan memberikan purposes and they do not destroy the natural resources on
jaminan keselamatan lingkungan hidup Sumatera. Model which their lives depend. The present rubber gardens reflect
pengelolaan masyarakat local tidak hanya sekedar untuk their long-established wisdom. In typical rubber cultivation,
mendapatkan komoditas, tetapi model ini dapat memberikan they do not grow all rubber species and they also grow
satu pengetahuan baru bagaimana manusia memperlakukan other plants between the rubber trees. Examples of this can
alam dengan bijaksana. Bagi SAD di Jambi, mengelola be seen in old rubber gardens, where durians, rambutan,
hutan berlandaskan pengetahuan dan system aturan adat. cempedak, rambai, duku and other fruit-bearing trees are
Mereka tidak boleh menebang pohon untuk kepentingan grown together with rubber trees in a given plot.
komersial, tidak melakukan pengrusakan atas sumberdaya
alam menjadi tempat hidupnya. Kebun karet yang telah In South Sumatera, people living in Meram, Talang Nangka,
mengalami proses pengerjaan berdasar generasi maka ini Rambai and in nearly all hamlets lying on peat swamps
dapat di kategorikan sebagai system yang telah berjalan. utilise the resource only for local economic and basic needs
Biasanya dalam budidaya karet secara local, tidak semua and preserve it for future generations. The cultivation system
jenis tanaman karet di tanam, pasti masyarakat menanam commonly applied there is the sonor system (see Box 5),
jenis tanaman lain di sela-sela tanaman karet walaupun tidak which is only practiced during a long drought (4-6 month

Biofuel; a Trap
58

banyak. Banyak ditemui kebun-kebun karet yang sudah tua, long). After harvest, they let the land lie fallow. The system
sebenarnya pola tumpang sari dengan jenis tanaman lain, is also practiced in Riau and Central Kalimantan, and it has
seperti durian, rambutan, cempedak, rambai, duku dan proven to be able to ensure food security and preservation
lainnya di tanam satu areal lahan yang disediakan. of the swamps.

Di Sumatera Selatan, penduduk lokal yang bermukim di There are plenty of other local initiatives to save Sumatera’s
Meram, Talang Nangka, Rambai dan hampir kebanyakan nature. The communities in Kampar peninsula reject PT
Desa-desa yang berada di rawa gambut, melindungi RAPP’s expansion of its industrial plantation forest as it is in
sumberdaya gambut untuk kebutuhan pasokan pangan dan direct contradiction to local environmental, social and cultural
ekonomi keluarga sambil memelihara kelestarian gambut values. The communities of Rambai and Talang Nangka
untuk masa datang. Model yang dikembangkan adalah defend their peat swamps from conversion. All these actions
system pertanian local di rawa gambut, biasanya system ii are surely based on sound environmental reasons, and
disebut pertanian local sonor (lihat box 5 ). Sistem ini hanya should be supported by relevant stakeholders as recognition
dilakukan pada saat musim kemarau panjang 4 – 6 bulan and appreciation of the local wisdom and knowledge, part of
dalam setiap tahunnya. Setelah itu, lahan Sonor dibiarkan Indonesia’s richness.
menjadi bera (istirahat). Sistem ini juga terdapat di wilayah
Riau dan Kalimantan Tengah, dimana dengan system ini
ketahanan pangan rakyat setempat terjamin dan hutan dan
lahan gambut tetap lestari.

Ada banyak cara dan ragam aktivitas rakyat melindungi
alam Sumatera dari kehancuran. Salah satu contoh, warga
desa di Semenanjung Kampar menolak perluasan areal HTI
PT RAPP di wilayah Kampar, karena bertentangan dengan
kaidah-kaidan lingkungan serta sosial budaya masyarakat.
Warga Rambai dan Talang Nangka mempertahankan rawa
gambutnya dari penggusuran perusahaan kebun sawit.
Upaya-upaya masyarakat tentunya memiliki alasan yang
jelas atas tujuan jangka panjang sebuah keberlanjutan
sumberdaya lingkungan. Dan upaya ini sebaiknya mendapat
dukungan kuat dari berbagai pihak dan para stakeholders
guna memberikan apresiasi dan pengakuan atas system
dan pengetahuan local sebagai kekayaan yang dimiliki
Indonesia.

Biofuel; Sebuah Jebakan
59

BAGIAN V PART V

KESIMPULAN DAN CONCLUSION AND
REKOMENDASI RECOMMENDATIONS

Proyek biofuel yang menjanjikan kesejahteraan The biofuel project, which is said to bring prosperity
rakyat, justru malah sebaliknya menyeret rakyat to the nation, turns out to have dragged them into
pada jurang kesengsaraan. Penguasaan tanah- the pit of misery. Massive handing over of vast
tanah skala luas untuk penanaman pohon kelapa land for oil palm plantations gives a undeniable
sawit sebagai bahan baku biofuel menunjukan fact that the project is built upon greed. At least,
fakta yang tidak bisa dihindari, bahwa proyek ini 13,000 people in three villages in South Sumatera
di jalankan atas dasar keserakahan, setidaknya, province and 5,000 of the indigenous Suku Anak
13.000 warga di 3 desa Sumsel, 5.000 jiwa Suku Dalam in Jambi have been forcibly displaced from
Anak Dalam terusir dari tanah dan kebunnya, their ancestral land and gardens, and ten thousands
ancaman rawan pangan puluhan ribu rakyat Riau of people in Riau have been threatened by a
karena sawah kering dan semakin rusaknya ekologi food crisis following the drying of their fields and
gambut Sumatera. Sehingga, proyek ini seharusnya the degradation of Sumatera’s peat ecology. The
di hentikan, sebelum jatuh korban lebih banyak lagi project should be terminated before dragging more
di Indonesia dan dunia. Biofuel tidak menjawab victims in Indonesia and the world. Biofuel is not an
persoalan krisis energy, dan pemanasan global, answer to energy crises and global warming. Saving
tapi gerakan penghematan energylah yang sangat energy is what the world has to do to address the
mendesak dilakukan oleh seluruh masyarakat di problems. Biofuel is not an answer to poverty and
dunia untuk menjawabnya. Juga tidak menjawab unemployment as well. Palm companies in fact
kemiskinan dan tenaga kerja, karena kenyataannya seize communities’ land – their sources of livelihood
bahwa kehadiran perusahaan perkebunan kelapa – and create more landless people.
sawit justru menambah jumlah orang tak bertanah,
dan merampas lahan-lahan pangan rakyat sebagai
sumber energy mereka.

Biofeul Menimbulkan Sejuta Masalah di Biofeul causing a million of problems in
Indonesia Indonesia

Biofuel sebagai energy yang dapat diperbaharui merupakan Biofuel as a renewable energy is offered as an alternative
salah satu solusi alternative pilihan dalam menjawab solution to addressing the global energy and climate crises.
krisis iklim dan energy di dunia. Solusi ini di respon oleh The government of Indonesia gives a warm response to the
kebijakan pemerintah Indonesia yang menracang mega idea and designs mega projects throughout the country by
proyek ini di banyak wilayah dengan mengalokasikan lahan allocating vast land for oil palm plantations – the raw material
untuk penanaman pohon bahan baku biofuel yaitu kelapa for biofuel. The national design is, however, a misplaced
sawit. Tetapi, rancangan Nasional atas kebijakan biofuel di policy to lift the position of the nation to the same level
Indonesia, merupakan kebijakan yang salah kaprah dalam as developed countries. Other findings reveal that biofuel
menempatkan posisi Bangsa Indonesia setara dengan companies, including the appointed state-owned enterprise
konsumsi minyak Negara-negara kaya. Temuan lainnya, (Pertamina), meet plenty of obstacles in production and
adalah kegagalan pelaksana proyek biofuel mencapai cannot meet the production target due to the high price of

Biofuel; a Trap
60

target produksi oleh perusahaan pelaksana, begitu juga CPO and the high biofuel production cost.
perusahaan BUMN (Pertamina) yang ditunjuk Pemerintah
mengatakan sulit dan banyak hambatan produksi biofuel Another worsening impact identified in the three provinces
karena factor tingginya harga CPO dan produksi Biofuel. of study is the shrinking forests and the expanding oil palm
plantations. Palm expansion has seized local communities’
Dampak memperparah iklim Projek industry biofuel yang ancestral land and gardens as well as protected areas and
ditemui di 3 wilayah Sumatera telah menimbulkan dampak has threatened their food security. CPO is no longer for food
semakin berkurangnya hutan di wilayah Sumatera. Semakin but for biofuel plants, causing hikes in food prices worldwide,
diperluasnya perkebunan kelapa sawit sekala besar untuk and again it is the poor who suffer the most.
memenuhi kebutuhan Bahan Bakar nabati/ biofuel, dengan
parktek penguasaan atas tanah-tanah rakyat, hutan adat, Since the inception of the biofuel project in Sumatera, the
kebun rakyat, kawasan lindung serta mengganggu ketahanan poverty level in the three provinces has been high and
pangan rakyat di banyak desa 3 wilayah Sumatera. Suplay tended to rise at local level due to forced unemployment –
bahan baku CPO untuk pangan, bergeser menjadi pasokan palm companies seize the land and leave the local people
kebutuhan biofeul untuk memberi makan mesin-mesin, with no jobs. The impoverishment is reinforced by forced or
sehingga kondisi ini memicu kenaikan bahan pokok di dunia persuasive displacement of the local people with a promise
dan menjadi korban masyarakat miskin di seluruh dunia. of better lives, in Tanah Menang, Pinang Tinngi, and Padang
Salak of Jambi province as well as Dapok Rejo, Suka Mulya
Dari implementasi proyek biofuel di Sumatera sejak and Bumi Harjo of South Sumatera province, and several
digulirkannya, menemukan angka memiskinan di 3 wilayah villages of Riau province. The far-fetching impacts of palm
masih cukup tinggi dan cendrung bertambah di tingkat expansion has added more social and environmental
daerah karena factor disengaja, misalnya; masyarakat conflicts to the list.
di gusur kehilangan mata pencaharian maka menjadi
miskin. Angka kemiskinan ini diperkuat dengan praktek While the conversion of cropland and peatland into oil
pengusiran penduduk secara paksa dan halus dengan janji palm plantations has given a significant contribution to the
kesejahteraan masyarakat yang dterjadi di Desa Tanah global warming, it has also eliminated the local sources
Menang, Pinang Tinngi, dan Padang Salak Provinsi Jambi. of livelihood, creating more poor people. it surely hinders
Desa Dapok Rejo, Suka Mulya dan Bumi Harjo di Sumatera efforts to achieve MDGs.
Selatan, serta beberapa desa di wilayah Riau. Selain itu,
dampak ekspansi kebun sawit sangat luas menambah daftar The biofuel project with all its impacts should teach a
konflik social dan lingkungan hidup semakin panjang. lesson to provincial and national governments to pay more
attention to local natural resource management initiatives.
Temuan lainnya, proyek biofuel telah mengkonversi (meng- History has it that local communities have contributed much
alihfungsi-kan) lahan dan hutan gambut untuk perluasan to the development, from supplying food to preserving
perkebunan kelapa sawit, maka persoalan ini akan the environment. The studies have found a lot of natural
menyumbang dampak pemanasan global yang lebih parah resource management practices that are based on local
di dunia. Persoalan ini tidak saja membawa pada tingkat wisdom. These findings can at least provide useful and
pendapatan masyarakat hilang, bahkan menciptakan strategic input for the sake of the nation’s development.
kemiskinan baru di pedesaan akibat tergusurnya mata
pencaharian masyarakat, dan jelas akan mengganggu
tercapainya tujuan MDGs.

Dari proses pembelajaran proyek biofuel di Sumatera
dengan berbagai dampak yang ditimbulkan, seharusnya
pemerintah daerah maupun Nasional banyak memberikan
perhatian kepada inisiatif local masyarakat dalam mengelola
sumberdaya alam Sumatera. Sejarah mencatat, bahwa
rakyat selama ini telah banyak membantu pemerintah dalam
menjalankan proses pembangunan dalam banyak hal, mulai
dari pemenuhan kebutuhan bahan pangan, menyelamatan
lingkungan dan lain sebagainya. Dari temuan di tingkat
lapangan pada lokasi studi, banyak di jumpai praktek-praktek
masyarakat local yang telah lama mengelola sumberdaya
alam berdasarkan kearifan local. Keberadaan ini setidaknya

Biofuel; Sebuah Jebakan
61

dapat memberikan masukan yang cukup strategis dan The lessons learnt suggest that the governments,
berdayaguna bagi pembangunan bangsa yang merdeka. communities, universities, academics, environmental
activists, the private sector as well as national and
Dari pengalaman yang diperoleh, sebaiknya Pemerintah, international financiers should do appropriate measures
masyarakat, perguruan tinggi, akademisi, aktivis lingkungan to address energy and climate crises without adversely
hidup, sector swasta dan lembaga-lembaga keuangan affecting the nation, among others:
nasional maupun international dapat melakukan bebeapa
hal yang dimungkinkan krisis iklim dan energy tidak lagi 1. To immediately stop palm expansion in Sumatera,
membebani kesengsaraan rakyat Indonesia dengan particularly the one intended to supply biofuel
langkah-langkah yang tepat, diantaranya: industry, as the past and the on-going development
of the industry in three provinces of Sumatera
1. segera menghentikan ekspansi perkebunan kelapa shows that such expansion has been concentrated
sawit di Sumatera, terutama yang diperuntukkan untuk in APL (areas for other uses), which serve as the
suply bahan baku biofuel, karena industri biofuel yang local communities’ sources of livelihood;
direncanakan dan yang telah berjalan di 3 wilayah 2. International financiers should conduct an in-depth
Sumatera membuktikan bahwa areal konsentrasi analysis of their investment in biofuel industry as
pengembangan perkebunan kelapa sawit adalah Sumatera can become a miniature of a failure
diareal APL (areal Penggunaan lain) yang artinya in investment that focuses mainly on economic
adalah wilayah-wilayah kelola rakyat untuk sumber purposes and overlooks social and environmental
pangan mereka. importance. The lesson is important for investors
2. lembaga keuangan international seharusnya juga that attempt to bring prosperity through their
segera melakukan kajian mendalam terhadap investasi investment. The investment will add more burden
mereka yang diperuntukkan bagi industri biofuel, to Indonesia and the world from food insecurity
karena Sumatera bisa jadi miniatur dari kegagalan threat, and deprivation of the local rights to land,
investasi yang menitik beratkan pada kepentingan gardens and forests. Investors are the ones who
ekonomi dan mengabaikan kepentingan sosial dan should be taken accountable for the destruction
lingkungan. Pelajaran ini penting bagi para investor they have caused. Regarding biofuel industry,
yang mengupayakan kesejahteraan rakyat melalui a step investors should take is to stop financing
dukungan keuangan atas rencana. Tetapi dukungan biofuel-related projects as they bring almost nothing
keuangan tersebut akan menambah kesulitan rakyat but prolonged misery to the country and the people
di Indonesia dan dunia atas ancaman bahan pangan, of Indonesia.
hilangnya hak atas tanah, kebun dan hutan. Sehingga
kondisi ini investorlah yang harus bertanggungjawab 3. Communities’s initiatives and solidarity to help
untuk memulihkan semuanya. Kemudian langkah yang the government have never ceased. All the rural
perlu diambil oleh para investor dalam kasus biofuel communities from highland to coastal areas,
adalah segera menghentikan kucuran dana membiayai including those in three study locations, have
projek Karena apa yang dilakukan oleh Investor long been working to save the country and the
pendukung, tidak banyak memberikan bantuan kepada nation from developed countries’ greed for raw
rakyat dan bangsa Indoensia, melainkan membawa materials to run their industries. Willing or not, the
kesengsaraan jangka panjang. government as an independent nation has to issue
policies supporting its people. National policies that
3. Inisiatif dan solidaritas masyarakat membantu are just and that are able to ensure the people’s
pemerintah tidak pernah kurang, dari waktu ke waktu safety and environmental preservation are what
seluruh masyarakat dipelosok pedesaan mulai dari the governments of all level must provide. In the
pegunungan sampai pesisir pantai Nusantara, terlebih international context, it is about time the government
lagi masyarakat di 3 wilayah studi sudah lama bergerak should issue policies that take rural communities
menyelamatkan diri dan bangsa ini dari keserakahan as part of the nation. To ensure security and safety,
dunia Negara-negara maju yang haus akan sumber the governments and the stakeholders should
bahan-bahan mentah dalam memenuhi kebutuhan immediately:
industrinya. Pilihan lain, suka tidak suka, pemerintah
harus mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada - Restore the rights of the displaced communities:
rakyat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka di atas it is the utmost expectation of the indigenous
bumi pertiwi. Kebijakan yang adil dan memberikan rasa Suku Anak Dalam in Tanah Menang, Pinang
aman serta keselamatan rakyat dan lingkungan adalah Tinggi and Padang Salak of Jambi province

Biofuel; a Trap
62

hal mutlak dilakukan oleh pemerintah, baik ditingkat that their ancestral land, gardens, forests and
daerah maupun nasional, terlebih lagi kebijakan antar cropland be returned to them and that the
Negara yang seharusnya memulai memahami rakyat di biofuel project be terminated to prevent far-
pedesaan sebagai warga Negara. Untuk memberikan fetching suffering. Similarly, the communities
rasa aman dan jaminan keselamatan, pemerintah dan of Dapo Rejo, Bumi Harjo and Suka Mulia
lpara pihak segera melakukan upaya: expect that the land taken over under the HGU
scheme (HGU=use permit) will be returned to
- Memulihkan hak-hak masyarakat tergusur: Haparan them when the permit expires.
Suku Anak Dalam di Tanah Menang, Pinang Tinggi
dan Padang Salak Jambi, agar tanah, hutan adat, - Recognise local wisdom, which is more
kebun dan lahan pangan mereka di kembalikan , sustainable: the local agricultural systems such
dan proyek biofeul dihentikan agar kesengsaraan as the sonor, the tasik, wetland and dry rice
rakyat tidak meluas. Begitu juga dengan warga cultivation are sustainable practices based on
Dapo Rejo, Bumi Harjo dan Suka Mulia, agar tanah- local wisdom, and they deserve policy support
tanah mereka yang di ambil dulu untuk HGU agar that protects, respects and recognises them
dikembalikan setelah masa HGU berlaku habis. as part of the nation’s intellectual and cultural
properties. Field findings reveal that the local
- Mengakui system kearifan local yang lebih lestari: communities in fact have various initiatives to
system sonor, tasik, rawa gambut, padi kering yang achieve sustainable prosperity, and they had
dikelola masyarakat berdasarkan kearifan dan been practiced long before Indonesia got her
keberlanjutan agar segera mendapat perlindungan independence. In the absence of government’s
melalui kebijakan yang menghargai dan mengakui support, however, local contribution to regional
system ini sebagai kekayaan ilmu pengetahuan dan economy, environmental/forest preservation
budaya local. Dari situasi dan fakta yang ditemukan and family economy is not recognised and
di tingkat lapangan, sejatinya masyarakat memiliki promoted to be an alternative with which the
beragam inisiatif dalam menjawab kebutuhannya nation can rise and have sovereignty over its
untuk mencapai kesejahteraan secara lestari. natural resources.
Gagasan dan sebuah upaya masyarakat
sebenarnya sudah lama dilakukan sebelum The communities of Dosan, Bunga Raya,
bangsa Indonesia merdeka. Tetapi, karena tidak Siak district, have a different expectation,
banyak mendapat dukungan dari pihak pemerintah though. They expect the government to pay
baik lokal maupun nasional, sehingga sumbangan attention to and provide technical assistance
masyarakat atas pertumbuhan ekonomi daerah, for the local agriculture – the irrigation system,
kelestarian lingkungan atau hutan dan peningkatan fertilisers, working capital and fair rice business
pendapatan keluarga tidak direkam secara baik administration. Should the government
dan di promosikan sebagai salah satu inisiatif untuk provide such assistance, they will be more
bangkit dan berdaulat atas sumberdaya alamnya. enthusiastic to manage their rice fields and to
be able to supply the district food need. Such
Lain lagi dengan pendapat masyarakat di Dosan, enthusiasm will also prevent the farmers to
Bunga Raya, agar pemerintah dapat memfasilitasi convert the fields into oil palm plantations.
masyarakat dalam mencukupi kebutuhan pangan
beras, sehingga pertanian padi sawah agar Massive campaign for local food at local and
mendapat perhatian dan bimbingan baik berupa international level should be done so that
teknologi pertanian padi sawah mulai dari system communities are proud of local agriculture that
pengairan, penyediaan pupuk sampai modal serta has so far been supporting the nation.
pengaturan tata niaga beras yang berpihak kepada
petani. Bila bimbingan ini dilakukan, maka, petani
sawah akan lebih bergairan dalam mengelola
sawahnya dan dapat menyuplai kebutuhan pangan
Kabupaten Siak. Selain itu akan menghidari
keinginan petani dalam mengkonversi sawah
menjadi kebun sawit.

Biofuel; Sebuah Jebakan
63

Melakukan kempanye besar-besaran tentang - Revoke permits that threaten communities’
pangan local, tidak hanya ditingkat international, and environmental safety: The government
tapi juga hingga ketingkat local, kampong-kampung, must revoke permits granted to bad palm
sehingga masyarakat merasa bangga dengan suppliers, which expand their plantations
pertanian local yang selama ini menghidupi rakyat without respect for local rights, convert land
Indonesia. and forests, displace local communities, pollute
the environment, deprive of displaced people’s
- Mencabut ijin kegiatan perusahaan yang rights and manipulate government’s trust.
mengancam keselamatan rakyat dan lingkungan The government should issue bylaws and
: Praktek-praktek implementasi perusahaan policies prohibiting destruction to Sumatera’s
pemasok bahan baku biofuel dengan perluasan peatland.
perkebunan kelapa sawit yang tidak mengindahkan
atas hak-hak dasar masyarakat, peraturan 4. There should be global actions for “energy saving”:
setempat dan kebijakan yang melarang atas do not use of gas combustion vehicles whenever
kerusakan gambut di Sumatera. Pencabutan ijin possible, do not use electricity excessively, do not
operasi penting dilakukan pemerintah terhadap use plastic materials that waste energy, do not use
perusahaan nakal yang mengahalkan segala cara energy inefficiently. Daily energy saving is needed
dalam menjalankan bisnis. Mengkonversi hutan to save the earth and poor people worldwide. Leave
dan lahan gambut, mengusir rakyat dari tanahnya, inefficient use of all energies – oil, water, electricity
mencemari lingkungan dan melakukan tindak – and of energy-inefficient stuffs, and save energy
pidana criminal atas hak-hak rakyat yang tergusur all at once across the globe.
serta memanipulasi kepercayaan pemerintah yang
diberikan.

4. Agenda aksi gerakan penghematan energy seluruh
masyarakat untuk dunia; tidak untuk menggunakan
kendaraan roda empat dan roda dua bila tidak penting
benar, tidak menggunakan energy listrik secara
berlebihan, tidak menggunakan bahan-bahan plastic
yang akan dapat memboroskan energy, tidak untuk
melakukan tindakan-tindakan boros atas energy
yang tersedia. Gerakan penghematan atas energy
yang digunakan setiap hari sangat di nantikan untuk
menyelamatkan bumi dan keselamatan rakyat miskin
di belahan dunia ini. Tidak menggunakan pemborosan
energy baik minyak bumi, air, listrik dan penggunakan
barang-barang yang berdampak pada pemborosan
energy segera di tinggalkan dan dilakukan penghematan
serentak di dunia.

Biofuel; a Trap
64

REFERENSI

REFERENCES

Bagian I : 7. Investigasi lapangan bulan Oktober-Desember
Tentang Industri Biofuel 2007
8. Kompas, 15 Mei 2008
9. PT Bakrie & Brother Tbk. Dalam Analyst Briefing
1. Kompas, 12 Desember 2007 Nov 2007
2. Kompas, 12 Desember 2007 10. PT Bakrie & Brother Tbk. dalam Analyst Briefing
3. BWI Publication May 2007
4. www.indofinanz.com, “BNI bentuk Divisi Khusus 11. Publikasi BWI dalam Biofuel in Indonesia: some
Tangani Biofuel,” 10 Januari 2007 critical Issues
5. Kompas, “Kredit Biofuel Mengalir BNI dan Bank 12. PT Bakrie & Brother Tbk. Dalam Analyst
Mandiri menandatangani MOU dengan 10 Briefing Nov 2007 tentang Expanding Estates
perusahaan,” 10 Januari 2007 Areas&construction new processing pacilities
6. The Jakarta Post, “BRI sets aside Rp 4 trilion for 13. Investigasi dan pendampingan masyarakat SAD.
agricultural sector, biofuel lending,” 28 November 14. Pengaduan petani dari Muara Sabak pada acara
Talkshow RRI pada Bulan Desember 2007 Jambi
2006
15. Pendampingan kasus di Dusun Penyabungan
7. www.indofinanz.com, see Note 42. 1998-2006
8. The Jakarta Post, Banks to lend Rp 25 trillion for 16. Liputan 6 pagi SCTV tgl 21 Januari 2008
plantation, biofuel projects, 21 December 2007 17. Kertas posisi SETARA yang dipublikasikan tahun
9. Kompas, Kredit Biofuel Mengalir BNI dan Bank 2007
Mandiri menandatangani MOU dengan 10 18. Laporan tahunan Dinas Perkebunan propinsi
perusahaan, 10 Januari 2007 Jambi th 2006
10. The Jakarta Post, Op. Cit. 19. Kompas, 5 Mei 2007. Warga serbu OP Minyak
11. The Jakarta Post, Ibid. Goreng.
12. The Jakarta Post, Ibid. 20. Menggoreng iklim, Greenpeace 2007
13. Bisnis Indonesia, KfW & JBIC danai biofuel, 22 21. Analisa data jikalahari 2008
22. Analisa data jikalahari 2008
Februari 2007
23. Kompas, 18 Maret 2008
14. Bisnis Indonesia, Ibid
15. Raja Suhud, “Pemerintah Harus Bangun
Infrastruktur Pendukung Proyek BBN,” 10 Januari
2007, Media Indonesia Online
16. Marianne Klute, “Green Gold Biodiesel: Players Bagian III:
in Indonesia,” Watch Indonesia Biofuel, daftar panjang kemiskinan dan
17. Kompas, “Sumsel Tambah 200.000 Ha Lahan bencana gambut Sumatera
Sawit,” 15 Januari 2007
18. The Jakarta Post, “USAID to help agribusiness to 1. Kompas, 14 Maret 2008
tune of $13,75m,” 22 Desember 2006 2. Kompas, 14 Maret 2008
19. Marianne Klute, Op. Cit. 3.
4. Antara, 10 Mei 2007
5. Indonesia.com (viewed 22 Mei 2008)
6. BWI dalam Biofuel Industry in Indonesia: some
critical issues. 2007
Bagian II: 7. Kompas, 16 Januari 2007
Potret buram industry biofuel Sumatera 8. Sawit Watch
9. Sawit Watch
1. Setara, Diolah dari berbagai sumber 10. Dari hasil kompilasi data Biofuel Setara Jambi
2. Dinas perkebunan propinsi Jambi tahun 2007
3. Laporan tahunan Dinas Perkebunan Propinsi 11. Holt-Gimenez, 2007)
Jambi tahun 2006 12. Green Peace dalam Bagaimana industri minyak
4. Jambi Ekspres, 19 April 2007 sawit menggoreng iklim.
5. Diolah dari Statistik Perkebunan propinsi Jambi 13. Diambil dari hasil penelitian Yayasan SETARA
tahun 2005 tentang skema kemitraan di Jambi tahun 2006-
6. Diolah dari informasi media lokal, nasional, 2007
international dan investigasi lapangan

Biofuel; Sebuah Jebakan
65

Biofuel; a Trap