You are on page 1of 5

Sejarah Amerika Serikat di sepanjang abad ke-18 dan ke-19 banyak ternodai oleh

peristiwa-peristiwa kelam, yang menandakan adanya gejolak yang terus mewarnai kehidupan
sehari-hari warga Amerika. Mulai dari munculnya para Robber Baron atau pengusaha kaya
raya yang terus berlomba-lomba untuk menumpuk kekayaan sembari mengindahkan kualitas
hidup para pekerjanya, demam emas yang melanda wilayah barat Amerika, perbudakan
orang-orang kulit hitam, arus imigrasi dari Eropa yang tak terkontrol, korupsi yang
merajalela, perang-perang melawan Inggris (1811 1814) dan Meksiko pada 1840-an,
Perang Sipil Amerika (1861 1865) yang mengoyak negara itu menjadi duautara dan
selatanhingga peristiwa pengusiran dan pembantaian masyarakat suku Indian di Amerika.
Yang terakhir ini, menjadi begitu samar di ingatan masyarakat Amerika, mengingat
banyaknya peristiwa-peristiwa yang lebih eksplosif yang terjadi di era yang bersamaan.

Memang sebagian dari pembantaian dan pengusiran itu menjadi terkenal dan mendapat
tempat khususnya dalam sejarah kelam Amerika, misalnya seperti Pembantaian Wounded
Knee dan Pengusiran Paksa Trail of The Tears di era pemerintahan Jackson, namun
kejahatan-kejahatan lainnya juga terlalu penting dan menyedihkan untuk kita lewatkan.
Berikut ini adalah 10 daftar peristiwa pembantaian yang menimpa orang-orang Indian di
Amerika, selain Pembantaian Wounded Knee dan Trail of The Tears yang terkenal itu,
dimulai dari kejadian dengan korban terdampak yang lebih kecil hingga yang terbesar.

1. Sand Creek Massacre


Pada tahun 1864, desa Indian Cheyenne, terletak di Sand Creek, Colorado, dihuni
oleh 800 orang Suku Indian. Desa ini kemudian ditetapkan sebagai daerah di bawah
perlindungan tentara Amerika. Kepala suku, yang dikenal dengan julukan Black Kettle, telah
mengadakan perjanjian dengan tentara yang berada di sekitar wilayah itu. Suku ini mendapat
jaminan keamanan dan perlindungan dari komandan tentara setempat. Namun perjanjian ini
ternyata berlaku sepihak.
Kolonel John Chivington, yang berambisi untuk menjadi seorang anggota Kongres
mewakili daerahnya, meyakini bahwa untuk mewujudkan ambisinya ini, ia haruslah
memenangi pertempuran melawan orang-orang Indian.
Namun Suku Cheyenne yang berada di wilayah Sand Creek adalah suku yang jauh
dari tabiat cinta perang dan membuat masalah. Mereka memiliki reputasi yang baik karena
sifat damainya. Namun, Chivington kemudian memutuskan untuk mengumpulkan 700 milisi
sukarelawan, dan membakar desa Cheyenne.
Pada 29 November, hanya sehari setelah perjanjian ditandatangani antara Black Kettle
dan Chivington, milisi-milisi kulit putih menyerang Cheyenne. Hampir seluruh pria sedang
keluar untuk berburu, meninggalkan para wanita, anak-anak, dan orang tua di desa itu tanpa
perlindungan. Sekitar 100 hingga 400 orang suku Cheyenne dibunuh pada hari itu.
Walaupun Chivington kemudian dikecam di seluruh negeri atas aksi kejinya itu,
namun ia sama sekali tidak pernah dikenai hukuman.

2. Camp Grant Massacre


Tidak lama setelah Presiden Amerika, Ulysses Grant, memperkenalkan kebijakan
damainya terhadap suku Indian, terjadi suatu pembantaian yang terkenal dengan nama Camp
Grant Massacre di Arizona bagian selatan pada 30 April 1871. Sebelumnya, suku Indian
Apache telah setuju untuk direlokasi ke Camp Grant, setelah diperintah oleh Letnan Royal E.
Whitman. Letnan Whitman juga berjanji untuk memenuhi kebutuhan hidup suku Apache
selama suku ini berada di Camp Grant.
Sayangnya, masyarakat kulit putih lokal menolak upaya ini, dan menyatakan bahwa
militer tidak mampu melindungi mereka dari kemungkinan serangan suku Indian. Warga
setempat yang menentang kehadiran orang-orang Apache di wilayah mereka ini, akhirnya
menyusup ke dalam kamp itu pada malam hari, di saat para laki-laki dewasa suku Apache
sedang keluar untuk berburu. Pembantaian segera tak terelakkan.
Sebagian besar yang terbunuh dari pembantaian ini adalah wanita dan anak-anak. Para
pelaku pembantaian, yang berjumlah 104 orang, berdalih bahwa suku Apache hendak
membakar rumah-rumah warga sekitar kamp. Walaupun alasan yang digunakan oleh para
pembantai ini sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat, namun mereka semuanya
kemudian terbebas dari jeratan pidana.

3. Wiyot Tribe Massacre


Selama lebih dari 1.000 tahun, suku Indian Wiyot telah mendiami pulau-pulau di
sepanjang pantai utara California, yang dikenal sebagai Indian Island. Suku Wiyot baru saja
menyelesaikan upacara peringatan tahun baru mereka ketika sebuah tragedi yang mengerikan
menimpa suku ini.
Pembantaian yang terjadi pada tanggal 26 Februari 1860, berlangsung saat para pria
dewasa dari suku Wiyot sedang keluar untuk mengumpulkan makanan. Sekumpulan milisi
kulit putih lokal menyeberangi selat kecil yang memisahkan pulau itu dengan daratan,
kemudian mulai membantai wanita, anak-anak, dan orang tua yang bermukim di pulau
tersebut. Sebuah laporan menyebutkan, antara 60 hingga 200 orang Indian Wiyot tewas
akibat pembantaian tersebut.
Sheriff lokal menyatakan, bahwa aksi ini adalah aksi balas dendam para pemukim
kulit putih, setelah sebelumnya suku Wiyot kerap kali mencuri hewan ternak orang-orang
kulit putih. Sebenarnya ini adalah rekayasa yang dibuat-buat untuk menutupi fakta yang ada.
Kenyataannya, pemimpin milisia lokal menginginkan agar grup milisinya ini diakui oleh
pemerintah negara bagian, sehingga mereka mendapat dana tunjangan setiap tahunnya. Si
pemimpin percaya bahwa dengan membantai suku Indian lokal, maka tujuannya itu akan
berhasil. Namun kenyataannya justru berkata sebaliknya.

4. Bridge Gulch Massacre


Bridge Gulch Massacre, terhadap suku Wintu dari California Utara, terjadi pada
tanggal 23 April 1852. Sesaat sebelum peristiwa terjadi, seorang pria bernama John Anderson
terbunuh, ketika keledai yang biasa ia kendarai kembali ke peternakannya tanpa sang tuan.
Sebanyak 70 orang kemudian menyisir lokasi kejadian untuk menemukan si pembunuh, yang
sebelumnya telah dicurigai bahwa salah satu pelakunya adalah anggota suku Wintu,
walaupun pelaku pembunuh sebenarnya bukan berasal dari suku Wintu.
Mengelilingi suatu lembah kecil yang terkenal dengan nama Bridge Gulch,
sekumpulan penyerang memulai aksinya pada pagi hari, menembak seluruh pria, wanita, dan
anak-anak yang mereka temui di lembah itu. Sebanyak 150 orang Indian meninggal terbunuh,
hanya 2 anak perempuan yang berhasil selamat dari pembantaian ini. Mereka kemudian
dibawa ke kota terdekat dan diadopsi oleh keluarga kulit putih.
5. Cypress Hill Massacre
Cypress Hill Massacre terjadi di Saskatchewan, Kanada, pada tahun 1873. Orang-
orang Indian telah mendiami daerah itu selama ribuan tahun. Sementara itu, sekumpulan
pemburu asal Montana, Amerika Serikat, juga berkeliaran di wilayah Saskatchewan dan juga
mendirikan pos-pos perdagangan yang tersebar luas. Pertikaian antara orang-orang Indian
dengan para pemburu ini mulai muncul ketika stok buruan mulai berkurang drastis. Kuda-
kuda milik para pemburu juga banyak yang dicuri, sehingga ketegangan rasial antara dua
golongan semakin memuncak.

Ketika para pemburu sudah cukup bosan untuk terus mengejar orang-orang Indian
yang mencuri kuda-kuda mereka, para pemburu ini memutuskan untuk balas dendam.

Suatu malam, salah seorang pemburu kulit putih yang mabuk mencuri satu kuda dari
perkampungan Indian sebagai ganti rugi atas hilangnya kuda-kuda para pemburu. Namun
para jagoan suku Indian, yang juga sama-sama mabuk, menantang para pemburu ini untuk
berduel. Orang-orang kulit putih kemudian mengamuk, dan membunuh 20 orang Indian di
wilayah itu.

Pihak kepolisian Kanada yang memproses peristiwa pembantaian ini, berhasil


menangkap 3 orang pemburu ketika mereka hendak kabur ke Montana. Namun karena bukti
yang terbatas, mereka dibebaskan kembali.

6. Three Knolls Massacre

Pada tahun 1865, populasi Suku Indian Yana terus berkurang jumlahnya menjadi
kurang dari 100 orang, dan bermukim di sekitar Lassen Peak, California. Setelah
pembunuhan beberapa orang kulit putih tidak jauh dari wilayah itu, para pemburu kemudian
mengejar para pelaku pembunuhan hingga ke Three Knolls, di mana ada banyak orang Indian
yang tinggal di wilayah itu.

Para pemburu kulit putih ini kemudian membunuh semua orang Indian yang tinggal di
situ, hanya beberapa orang Indian yang berhasil kabur dan selamat. Seorang pria Indian Yana,
Ishi, menyaksikan peristiwa pembantaian itu saat ia masih anak-anak. Ishi dan keluarganya
kabur dan bersembunyi ke pegunungan terdekat selama 40 tahun.

7. Marias Massacre

Pembantaian paling berdarah terhadap masyarakat Indian di Montana, justru berawal


dari sebuah kesalahan. Kolonel Eugene Baker diperintahkan oleh pemerintah negara bagian
untuk mengatasi pemberontakan orang-orang Indian dari suku Blackfeet.
Pada awalnya, Baker dan anak buahnya melacak suku Blackfeet hingga ke sebuah
desa yang terletak di bibir Sungai Marias. Pada 23 Januari 1870, para prajurit telah
mengepung desa itu dan bersiap untuk menyerang.

Tetapi, salah seorang pengintai mengenali corak warna hiasan khas suku Indian ini,
dan memberitahu Kolonel Baker bahwa mereka ini ternyata adalah suku yang berbeda dari
suku Blackfeet. Baker menjawab, Tidak ada bedanya, satu suku dengan suku yang lain,
mereka semua sama dan kita akan tetap menyerang mereka.

Sebagian besar pria dewasa Indian sedang pergi berburu, sehingga meninggalkan
wanita, anak-anak, dan orang tua rentan terhadap bahaya pembantaian. Serangan militer
Amerika segera berubah menjadi ajang pembantaian, di mana 173 orang Indian terbunuh.
Ketika Baker mengetahui adanya wabah cacar di desa itu, ia segera meninggalkan dan
mengabaikan orang-orang Indian itu, sehingga korban tewas akibat wabah cacar bertambah
hingga mencapai 140 orang.

8. Yontocket Massacre

Orang-orang Indian dari Suku Tolowa mengklaim kepemilikan atas sejumlah tanah di
wilayah perbatasan antara California dan Oregon, yang kini didiami dan diambil paksa oleh
orang-orang kulit putih. Pada tahun 1853, para pendatang kulit putih membentuk milisi-milisi
bersenjata, dengan tujuan untuk melancarkan pembersihan terhadap orang Indian yang
mereka temui.

Pada musim gugur tahun 1853, orang-orang Tolowa mengadakan ibadah bersama di
Yontocket, ketika sekelompok orang kulit putih, yang dipimpin J.M. Peters, mengendap-
endap masuk ke dalam perkampungan Indian dan mulai melancarkan serangan mereka.

Peters kemudian dengan bangga mengatakan pada jurnalnya, bahwa tidak seorangpun
anak buahnya yang tewas pada hari itu. Kebalikannya, hanya satu orang Indian yang
dibiarkan hidup oleh Peters dan rekan-rekannya.

9. Clear Lake Massacre

Sebuah pulau yang terletak di dalam danau Clear Lake, California, diberi nama
Bloody Island setelah terjadinya salah satu pembantaian paling kejam dalam sejarah genosida
orang-orang Indian di Amerika Serikat. Orang-orang Indian dari suku Pomo, setelah
mendapat perlakuan kejam dari para kolonis kulit putih di California, mulai dari
pembunuhan, perbudakan, hingga pemerkosaan, akhirnya membalas dendam dan membunuh
dua orang kulit putih. Selanjutnya, para pembunuh bersembunyi di Bloody Island yang
terletak di tengah danau Clear Lake.
Kapten Nathaniel Lyon, prajurit dari Kesatuan Kavaleri Amerika, beserta anak
buahnya menyisir hutan di sekitar danau Clear Lake untuk menangkap para pembunuh.
Setelah Kapten Lyon berhasil menemukan kemah-kemah yang dicurigai sebagai kemah para
pembunuh dan mengetahui para pembunuh telah bersembunyi di Bloody Island, maka ia
segera mengepung dan menyerang pulau itu. Serangan yang berubah menjadi pembantaian
itu menewaskan 100 hingga 400 orang Indian.

Sebuah koran lokal menyatakan bahwa aksi pembantaian ini adalah genosida yang
didukung oleh pemerintah negara bagian, namun empat hari kemudian, mereka meralat
pernyataannya dan menyimpulkan bahwa jumlah korban dari pembantaian ini telah dilebih-
lebihkan.

10. Bear River Massacre

Salah satu pembantaian terbesar yang menimpa orang-orang pribumi Indian di


Amerika ini tetap diselimuti ketidakjelasan, karena kejadiannya yang bersamaan dengan
Perang Sipil Amerika. Suku Indian Shoshone yang bermukim di bagian selatan Idaho,
bersengketa dengan para pemukim kulit putih, setelah orang-orang kulit putih merampas
lahan-lahan pertanian orang Indian. Bertekad untuk mempertahankan seluruh lahan pertanian
dari gangguan orang-orang kulit putih, Suku Shoshone bertekad untuk membalas dendam.
Namun, mereka menghadapi Kolonel Patrick Connor dan 200 orang anak buahnya.

Kolonel Connor menyerang perkampungan suku Shoshone pada 29 Januari 1863,


secara brutal membunuh hingga 250 orang Indian. Anak buahnya memperkosa semua wanita
yang masih hidup, dan akhirnya membakar perkampungan orang-orang Indian, hingga rata
dengan tanah.

Referensi:
10 Horrific Native American Massacres - Listverse.com