You are on page 1of 6

Sejak berdirinya Negara Israel pada 1948 hingga saat ini, Syria telah menjadi salah satu

musuh terbesar Israel. Sejak 1948 hingga 1967, dengan dikuasainya Dataran Tinggi Golan
oleh Syria, militer Syria kerap kali menembakkan mortar ke arah pemukiman dan pos-pos
militer Israel di dekat wilayah itu. Selama tahun-tahun itu, kota-kota Israel di dekat
perbatasan Syria dan Lebanon selalu berada di bawah ancaman invasi dari pasukan Syria.

Selain posisinya yang strategis, Dataran Tinggi Golan juga terkenal akan sisi
historisnya dan keindahan alam. Dataran Tinggi Golan juga berperan vital dalam kehidupan
sehari-hari penduduk Israel, karena 30 % suplai air Israel bergantung dari Sungai Jordan, di
mana hulu Sungai Jordan ini terletak di Golan, di wilayah yang dikontrol oleh Syria. Oleh
karena itu, selalu timbul keresahan di antara publik Israel, jikalau sewaktu-waktu Syria
mengubah arah aliran dari Sungai Jordan, sehingga Sungai Jordan yang menjadi sumber air
minum bagi Israel menjadi kosong.

Kemudian, persekutuan antara Syria dengan Mesir masuk ke dalam tahapan lanjut
ketika kedua negara ini sepakat untuk menyatukan negeri mereka menjadi Republik
Persatuan Arab (United Arab Republic) pada tahun 1958. Mesir, yang dipimpin oleh Gamal
Abdel Nasser yang kharismatis, selalu menyerukan penghancuran negara Israel dan kerap
melancarkan provokasi-provokasi militer yang berlebihan, walaupun sebenarnya provokasi-
provokasi ini ditujukan untuk meningkatkan citra Nasser di mata bangsa Arab, bukan untuk
menekan Israel.

Posisi Syria yang terletak di wilayah utara dan barat laut Israel semakin
menguntungkan Nasser. Dengan demikian, Israel terjepit dari dua arah, dari timur oleh Mesir,
dan dari utara dan barat, oleh Syria. Syria kerap kali mengadakan operasi militer di wilayah
utara Israel, agar Israel menempatkan konsentrasi militer yang besar di sepanjang perbatasan
dengan Syria. Tentu hal ini merupakan keuntungan bagi Mesir, karena dengan demikian akan
menjadi lebih mudah bagi Mesir untuk masuk ke wilayah Israel setelah Israel merapatkan
pertahanan di wilayah utara.

Kelemahan ini diketahui betul oleh para pemimpin militer Israel. Dengan angkatan
bersenjatanya yang kecil, tidaklah sebanding untuk melawan Syria dan Mesir secara
bersamaan. Oleh karena itu, Israel jelas membutuhkan informan dan mata-mata yang mampu
menyusup ke dalam lingkaran elit musuh-musuh mereka, mendapatkan informasi dan data-
data rahasia, yang dapat digunakan oleh Israel untuk mencegah bencana di hadapan mereka.
Sosok yang mereka cari-cari, akan mereka temukan dalam diri seorang Eliahu Eli Cohen.

Eli Cohen lahir di Alexandria, Mesir, pada 26 Desember 1924. Kedua orang tuanya
berasal dari Aleppo, Syria. Sejak kecil, Eli telah ditanamkan nilai-nilai tradisional masyarakat
Yahudi, Zionisme, dan tentu saja cerita-cerita tentang kebudayaan warga Yahudi di Syria.
Pada tahun 1949, kedua orang tua beserta sanak saudaranya pindah ke Israel, sementara Eli
menetap di Mesir, aktif dalam kegiatan-kegiatan Zionis di sini. Semenjak penangkapan agen-
agen Israel yang terlibat dalam Operasi Susannah, Eli ditangkap oleh otoritas Mesir dan
diinterogasi oleh intelijen Mesir. Walaupun Eli secara tidak langsung turut membantu dan
berperan dalam operasi ini, ia kemudian dibebaskan.
Setelah Operasi Susannah dibatalkan oleh intelijen Israel, Eli Cohen pergi
meninggalkan Mesir menuju ke Israel untuk menjalani training intensif spionase pada 1955.
Ia bahkan menjalani latihan di tempat yang sama sebagaimana kawan-kawannya yang
menjalani Operasi Susannah beberapa tahun sebelumnya. Setelah menjalani pelatihan-
pelatihan tersebut, Eli kembali ke Mesir, namun langsung dicurigai dan ia kemudian dimata-
matai oleh agen intelijen Mesir. Pada permulaan Perang Sinai 1956, Eli ditahan oleh polisi
Mesir, kemudian diusir dari Mesir beserta orang-orang Yahudi Alexandria lainnya setelah
perang berakhir. Ia tiba di Israel pada 8 Februari 1957.

Eli Cohen kemudian menawarkan jasanya pada Dinas Intelijen Israel, namun ia ditolak
dua kali. Ia bahkan juga tidak diterima ketika mendaftarkan diri pada tentara reguler, namun
kemudian ia ditempatkan sebagai pegawai cadangan logistik militer. Kemungkinan ia
mengalami kesulitan-kesulitan ini karena hasil tesnya oleh Dinas Intelijen Israel beberapa
tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil tes itu, disimpulkan bahwa Eli Cohen memiliki IQ yang
tinggi, keberanian yang besar, daya ingat yang kuat, dan kemampuan yang baik untuk
menjaga rahasia, namun tes itu juga mengungkapkan, dibalik penampilannya yang sederhana,
ia memiliki rasa egois yang berlebihan, mudah mengalami gejolak batin, dan sulit untuk
mendeteksi bahaya.

Pada 31 Agustus 1959, Eli menikah dengan Nadia Majald, seorang Yahudi kelahiran
Iraq yang cantik jelita. Eli selanjutnya bekerja sebagai akuntan. Karirnya tidak berjalan baik,
dan segera ia kerap bergantung pada Nadia untuk mendukung pernikahan mereka. Kemudian,
di tahun 1960, Intelijen Israel bersedia memberi kesempatan lain bagi Eli. Bagaimanapun, Eli
dilahirkan di negara Arab, perawakannya lebih menyerupai orang Arab ketimbang Yahudi,
terkenal berani dan cerdas, ditambah ia mampu berbahasa Arab, Inggris, dan Perancis.
Terutama pada saat yang bersamaan, konflik baru pun muncul antara Israel dan Syria di
Golan.

Suatu hari pada 1960, Intelijen Israel mendatanginya dan menjelaskan bahwa mereka
berencana untuk merekrutnya. Awalnya, Eli menolak. Tapi, dalam satu bulan, ia kehilangan
pekerjaannya sebagai akuntan di Tel Aviv. Ketika Intelijen mendatanginya sekali lagi, Eli
langsung setuju untuk bergabung bersama mereka. Segera Eli disertakan dalam training-
training insentif yang melelahkan. Ia diajari bagaimana teknik mengendarai mobil dengan
kecepatan tinggi, skill yang akan ia gunakan saat ia kabur dari kejaran para musuhnya.
Keahlian bersenjata, terutama senjata-senjata ringan, beserta ilmu topografi, membaca peta,
sabotase, teknik radio, dan yang paling penting, kriptografi, semua termasuk dalam
kurikulum yang dilahapnya. Skill-skill seperti ini sangatlah vital untuk menjamin sukses
terciptanya identitas baru bagi Eli: Kamal Amin Tsaabet. Salah satu latihan tersulit bagi Eli
adalah menguasai logat Arab Syria yang terkenal rumit. Ia mengalami kesulitan untuk
mengganti logat Arab Mesir dengan logat Arab Syria. Pelatihnya dalam hal ini adalah seorang
Yahudi kelahiran Iraq yang menguasai berbagai macam logat Arab dan memahami dengan
baik tradisi-tradisi Arab dan Islam.

Intelijen kemudian membuat identitas baru yang komplit bagi Eli. Kamal Amin
Tsaabet, lahir di Beirut, Lebanon, dari orang tua Muslim Syria. Ayahnya bernama Amin
Tsaabet, dan ibunya Saadia Ibrahim. Berdasarkan biografi fiksinya, pada tahun 1948,
keluarga Tsaabet pindah ke Argentina dan mendirikan usaha tekstil yang sukses. Kepulangan
kembali Kamal Amin ke Syria adalah cita-cita patriotik utama bagi pengusaha tekstik palsu
ini.

Di awal 1961, Direktur Mossad, Chaim Herzog, yang kelak menjadi Presiden Israel,
menandatangani surat tugas Eli Cohen. Eli diantar ke bandara, di mana istrinya Nadia juga
mengantarkannya pergi. Nadia mengetahui bahwa Eli bekerja untuk Kementerian Pertahanan
Israel, namun ia tidak mengetahui ke mana suaminya ini akan pergi dan tugas seperti apa
yang sedang diembannya. Nadia hanya diyakinkan oleh suaminya bahwa suaminya ini akan
baik-baik saja, dan Nadia terus mempercayainya hingga berita penangkapan Eli oleh otoritas
Syria muncul pada 1965.

Eli Cohen pertama dikirim ke Buenos Aires, Argentina, untuk membangun reputasinya
sebagai seorang pengusaha migran asal Syria. Ia kemudian segera masuk ke dalam kehidupan
sosial warga Syria di Argentina, di mana ia dikenal sebagai pengusaha kaya yang dermawan,
tampan, dan menggandrunngi kehidupan malam. Ia segera diterima, disukai, dan dihormati
oleh komunitas Syria di sana, kemudian menjalin pertemanan dengan politisi, diplomat, dan
personil militer Syria yang bekerja di Kedutaan Besar Syria. Salah satu dari rekan barunya
adalah Kolonel Amin al-Hafez, seorang suporter Partai Baath yang sekuler dan kekiri-kirian.

Berkat pesta-pesta yang sering Eli adakan, maka kontak-kontaknya di dalam


pemerintahan Syria juga bertambah. Selanjutnya ia mendapat undangan dari sejumlah pejabat
tinggi di Syria untuk mendirikan usaha di Damaskus. Eli dijanjikan bantuan dan kemudahan
pengurusan proses-proses administrasi dalam mendirikan usaha. Para pejabat Syria tentu saja
gembira menerima investasi yang akan ditanamkan oleh Eli di negerinya.

Sembilan bulan kemudian, di penghujung tahun 1961, Eli kembali ke Israel untuk
mengunjungi istrinya. Tetapi ia menghabiskan lebih banyak waktu di Tel Aviv,
menyempurnakan penyamaran yang sedang ia jalani di Syria, dan menerima tugas-tugas baru
dari Dinas Intelijen. Kesuksesan Eli untuk masuk ke dalam lingkungan sosial dan politik
pejabat tinggi di Syria sudah jauh melebihi ekspektasi para atasannya di Dinas Intelijen.

Eli kemudian memulai tahapan baru misinya di Syria, dan ia tiba di Damaskus pada
Februari 1962, menyamar sebagai seorang pengusaha dari Argentina yang telah kembali
pulang ke tanah airnya. Di akhir tahun 1961, Syria memutuskan persatuan negaranya dengan
Mesir dalam Republik Persatuan Arab, yang hanya bertahan selama 3 tahun. Partai Baath
tumbuh menjadi salah satu partai terbesar di Syria, dan Eli mulai merencanakan untuk masuk
menyusup menjadi anggota di dalam partai ini. Ia secara berhati-hati terus menjalin kontak
dengan para pemimpin Partai Baath, salah satunya Amin Al-Hafez, seorang perwira tinggi
yang dulu pernah ia temui di Argentina. Eli meneruskan kembali rutinitasnya untuk
mengadakan pesta-pesta besar di rumahnya, menghabiskan banyak waktu di kafe-kafe untuk
mengikuti gosip terkini di dunia politik Syria. Ia kerap mengadakan pesta-pesta liar di
rumahnya, di mana banyak pejabat dan menteri pemerintahan Syria yang menggunakan
rumahnya untuk berkencan dengan wanita-wanita simpanan mereka. Pada pesta-pesta seperti
inilah, para pejabat tinggi akan berbicara begitu bebas tentang rahasia-rahasia militer dan
intelijen Syria, dikarenakan suasana pesta yang sudah begitu meriah dan mereka sendiri telah
terlalu mabuk. Eli selalu memesan bir dan wine dengan kadar alkohol yang tinggi sehingga
para pejabat Syria cukup dibuat mabuk dengannya, sementara Eli yang tetap terjaga dari
alkohol-alkohol itu mendengarkan dengan seksama setiap pembicaraan seputar topik-topik
top secret antar pejabat. Selain sering menyediakan bantuan dan pinjaman dana bagi para
pejabat Syria, Eli juga kerap dimintai nasihat oleh pejabat-pejabat Syria. Eli sendiri juga
menjadi incaran bagi para pemburu suami di kota Damaskus, dan ia oleh masyarakat luas
dikenal sebagai duda yang paling diincar oleh wanita-wanita kota Damaskus. Eli sendiri tidak
pernah menghindari mereka, bahkan ia mempunyai 17 wanita simpanan, di mana baik Eli
maupun Dinas Intelijen Israel berharap, wanita-wanita ini dapat membantu Eli jika
penyamarannya dibongkar dan ia diincar oleh pemerintah Syria.

Seiring berjalannya waktu, Eli menjadi kepercayaan para pejabat di tingkat eselon
tertinggI Syria. Ia menjadi orang kepercayaan dari pejabat tinggi Kementerian Informasi,
George Saif. Walaupun begitu, kepercayaan total yang diterima oleh Eli dari para informan-
informannya yang tidak sadar, pernah suatu kali hampir membuatnya celaka.

Suatu hari Eli sedang duduk di kantor Saif, seraya diam-diam membaca dokumen-
dokumen classified ketika Saif sedang berada di sudut ruangan lainnya untuk menerima
telepon. Tiba-tiba salah seorang manajer di gedung itu masuk ke dalam kantor Saif, dan ia
kaget saat melihat Eli tengah membaca dokumen-dokumen rahasia Kementerian Informasi.
Si manajer kemudian menegur Saif, mempermasalahkan bagaimana ia bisa memperbolehkan
seorang asing untuk membaca dokumen-dokumen itu sementara pekerja biasa saja di
Kementerian Informasi saja dilarang membacanya? Saif menjawab dengan santai, Tenang
saja, tak perlu khawatir. Dia orang kepercayaan saja.

Ketika Partai Baath meraih kekuasaan di tahun 1963, dengan Amin Al-Hafez sebagai
Perdana Menterinya, Eli kini masuk ke dalam lingkaran para pejabat dan official tertinggi di
negara itu. Sementara, ia setiap beberapa hari mentransmisikan informasi-informasi rahasia
ke Israel melalui radio transmitter yang ia sembunyikan di kamarnya.

Di tengah-tengah kesibukannya di Syria, Eli juga sesekali kembali ke Israel untuk


berdiskusi dengan Dinas Intelijen dan mengunjungi keluarganya. Antara tahun 1962 hingga
1965, ia telah kembali ke Israel sebanyak tiga kali.

Sementara itu, Syria memiliki rencana untuk mengalihkan aliran air di hulu Sungai
Jordan, sehingga sumber air Israel itu akan mengering. Eli, pada waktu itu telah berteman
baik dengan Kol. Hatoum dan Kol. Dali, dua perwira militer yang mengetahui dengan baik
semua detail dari rencana besar Syria itu. Pada awal 1964, Eli berhasil mengetahui detail-
detail dari rencana ini, dan memberitahukannya melalui radio kepada Dinas Intelijen Israel.
Berkat informasi yang ia berikan, Angkatan Udara Israel kemudian menghancurkan rencana
Syria tersebut dengan membombardir peralatan dan buldoser-buldoser yang digunakan di
dalam proyek itu.

Peran penting Eli bagi Israel ditunjukkan melalui kapasitasnya sebagai penasihat
Kepala Staf Angkatan Darat Syria. Eli menyarankan sang Kepala Staf agar menanam pohon
eukalyptus di pos-pos pertahanan Syria di Golan. Selain untuk melindungi pos-pos
pertahanan tersebut dari deteksi pesawat Israel, pohon-pohon itu juga dapat dimanfaatkan
para prajurit sebagai tempat berteduh. Usul ini segera diterima oleh Kepala Staf. Belakangan,
Eli membocorkan hal ini ke intelijen Israel, sehingga memudahkan Angkatan Udara Israel
dalam Perang Enam Hari tahun 1967 untuk menemukan pos-pos pertahanan Syria yang
ditandai oleh kumpulan pohon-pohon eukalyptus. Eli juga kerap mengunjungi Dataran Tinggi
Golan bersama para perwira tinggi Syria. Di sana, ia mengunjungi setiap lokasi pertahanan
dan sentri-sentri jaga Syria, beserta parit-parit pertahanan, gudang-gudang mortar, dan
bunker-bunker rahasia. Ia mengingat seluruh lokasi fasilitas-fasilitas ini, dan informasi-
informasi penting ini diteruskannya ke Israel. Dengan demikian, di dalam Perang Enam Hari,
dua tahun setelah kematian Eli, Israel mampu mengatasi dengan mudah perlawanan Syria di
Dataran Tinggi Golan.

Pertemanan baik Eli dengan Amin al-Hafez membuahkan hasil. Kini, ia bahkan
dipertimbangkan oleh al-Hafez untuk dijadikan sebagai Wakil Menteri Pertahanan Syria.

Namun, perubahan terbaru yang kini terjadi di tubuh pemerintahan Syria membuat Eli
waswas. Kolonel Ahmed Suedani, yang dari dulu tidak pernah mempercayai Eli dan
membencinya, ditunjuk menjadi komandan Intelijen Syria. Eli mengungkapkan rasa
khawatirnya ke atasannya di Israel dan ia menginginkan agar misinya segera diakhiri ketika
ia mengunjungi Israel untuk terakhir kalinya pada November 1964. Akan tetapi Dinas
Intelijen menolaknya, dan mereka meminta Eli untuk kembali ke Syria sekali lagi.

Eli akhirnya kembali lagi ke Syria, namun sifatnya kini berubah. Ia menjadi lebih
sembrono. Kini ia setiap hari atau bahkan sehari dua kali mengirim transmisi radio ke Israel,
dan selalu pada jam yang sama, yaitu jam 8:30 pagi. Transmisi radinya juga menjadi lebih
lama. Beberapa sejarahwan dan pengamat intelijen memperkirakan hal ini terjadi karena
keberaniannya yang semakin besar, karena keberhasilan penyamarannya yang luar biasa. Ada
juga yang menyatakan bahwa Eli mulai memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Eli telah
terlalu lama berada dalam penyamaran, dan ia tahu bahwa sulit baginya untuk segera
mengakhiri tugas penyamaran ini, sehingga ia menjadi begitu lelah dan ingin segera
mengakhirinya.

Sinyal transmisi radio yang Eli gunakan juga cukup kuat, sehingga sering mengganggu
sinyal-sinyal radio kantor-kantor pemerintahan yang berada di dekat rumahnya. Kedutaan
Besar India yang berlokasi di dekat rumah Eli mengeluhkan kepada polisi bahwa akhir-akhir
ini sinyal radio yang mereka gunakan sering mengalami gangguan. Para penasehat militer
Soviet yang berada di Syria akhirnya mencurigai hadirnya mata-mata di negeri itu. Kemudian
mereka, bersama sejumlah perwira militer Syria, menggunakan peralatan peralatan canggih
untuk mendeteksi transmisi-transmisi radio ilegal yang ada di Damaskus. Polisi kemudian
memadamkan listrik di kota secara bergiliran agar sinyal radio ilegal itu semakin mudah
dideteksi. Akhirnya, diketahui bahwa rumah Eli adalah sumber dari sinyal-sinyal radio ilegal
itu....
Pada Januari 1965, intelijen Syria menyergap kediaman Eli di saat Eli tengah mengirim
sejumlah informasi ke Israel. Perwira yang memimpin penyergapan itu adalah Kol. Suedani,
musuh besar Eli, yang selama ini terus mencurigai tindak-tanduk Eli di Syria.

Eli kini tertangkap basah di tengah aksinya. Tidak ada pembelaan yang bisa ia lakukan.
Ia ditangkap, diinterogasi dan disiksa, namun ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya
untuk memberi keterangan-keterangan yang bisa memberatkan negaranya. Sejumlah tentara
yang ikut menginterogasinya bahkan juga menaruh hormat kepadanya karena keberanian dan
pengorbanannya demi negara yang ia bela.

Eli kemudian diarak, dan menjalani pengadilan terbuka, seperti yang terjadi pada
Operasi Susannah 12 tahun sebelumnya. Para pemimpin dunia, pengusaha, pemerintah Israel,
Paus, dan tokoh-tokoh ternama dunia meminta Syria untuk mengampuni atau
membebaskannya. Pemerintah Syria yang kecolongan dan merasa malu atas insiden ini
akhirnya menjatuhkan hukuman mati pada Eli. Ia dihukum gantung pada 18 Mei 1965.
Sebelum naik ke atas perancah kayu, ia menulis surat untuk istrinya. Eksekusi matinya
disiarkan langsung oleh kantor berita Syria dan sejumlah stasiun televisi. Setelah eksekusi
mati selesai, selembar kertas putih besar yang bertuliskan seruan-seruan anti Zionis
ditempelkan ke tubuhnya. Ia dibiarkan menggantung selama enam jam.

Eli Cohen telah menyediakan ribuan informasi berharga bagi Israel selama tiga tahun.
Pada tahun 1967, selama Perang Enam Hari, Israel mampu merebut Dataran Tinggi Golan
hanya dalam waktu dua hari, berkat informasi-informasi rahasia yang Eli berikan beberapa
tahun sebelumnya. Direktur Dinas Intelijen israel, Meir mengatakan, bahwa Eli telah sukses
jauh melampaui kemampuan agen-agen intelijen Israel selama ini.

Apa yang paling menarik dari Eli, adalah karena kecerdasannya dalam menyamar, ia
bahkan disukai dan dicintai oleh para pejabat tinggi Syria. Ia memiliki informan-informan
yang bersedia memberikannya segala informasi terkait data-data rahasia negara Syria, mulai
dari data alutsista, intelijen, hingga rencana-rencana operasi mereka. Eli berhasil
menyesuaikan dirinya dengan baik di dalam kehidupan sosial Damaskus, dan ia tak pernah
dicurigai sebagai seorang mata-mata sebelum akhirnya sinyal radionya terdeteksi dan ia
tertangkap.

Eli Cohen, mungkin merupakan salah satu agen mata-mata terbaik dunia sepanjang
sejarah.