You are on page 1of 3

Kisah tragis Sara Specx bersama sang kekasih ternyata abadi sepanjang masa.

Kisah sedih ini


telah menjadi cerita rakyat di Betawi secara turun temurun. Kisah tragis percintaan ini diangkat ke
dalam sebuah roman oleh Tio Ie Soei, seorang sastrawan Melayu Tionghoa. Judulnya, Sara Specx,
Satoe Kedjadian jang betoel di Betawi di Djeman Pamerentahannja Jan Pieterszoon Coen dalem taon
1629. (Hiboerankoe, 1926, dengan nama Tjoa Piet Bak).

Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, semua orang sama kedudukannya di mata sang
dewi keadilan. Tidak peduli apakah seseorang anak pejabat atau anak petani, orang kaya atau miskin.
Memang itulah prinsip yang harus dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab.

Prinsip itu pula yang dijalankan Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen, selama dua
kali masa pemerintahannya di Batavia 1619-1623 dan 1627-1629. Salah satu kisah mengenai keras
dan kejamnya, pemerintahan Coen dalam menegakkan hukum dalam kasus Sara Specx, putri seorang
pejabat tinggi VOC, Jacques Specx yang kelak menjadi Gubernur Jenderal menggantikan Coen
periode 1629-1632

Sara Specx dilahirkan di daerah Hirado, Jedang pada 1616 -1617. Ayahnya Jacques Specx
seorang pejabat tinggi VOC di kawasan Timur atau Indie (masa itu belum ada istilah Nederlandsch
Indi, yang ada hanya Oost Indi atau Hindia Timur yaitu Vereeniging Oost Indische Compagnie atau
Perserikatan Dagang Hindia Timur). Sebelum datang ke Batavia, Jacques Specx dikenal selama dua
kali periode menjadi pemimpin tertinggi VOC di Hirado, Jepang antara 1609-1613 dan 1614-1621.

Salah satu keberhasilannya mendirikan dan mengembangkan pusat dan pos dagang VOC di
Hirado, Jepang. Berkat kepemimpinan Specx, Hirado berkembang menjadi markas dagang penting
milik VOC di Jepang sebelum akhirnya dipindahkan ke Deshima (sekarang Nagasaki), pada 1641.
Karena cukup lama menjadi pemimpin VOC di Jepang, Specx sempat diketahui menjalin hubungan
dengan seorang wanita setempat yaitu gadis Jepang. Dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak
gadis bernama Sara Specx. Jadi dapat dibayangkan bagaimana rupa Sara Specx yang merupakan
percampuran darah Jepang dan Belanda.

Pada 1629, Jacques Specx di tugaskan sebagai pejabat tinggi VOC di Batavia dengan
jabatan de Eerste Raad Ordinair van Indi. Namun karena ada urusan administrasi, Specx harus
kembali dahulu ke negeri Belanda. Sementara anak gadisnya, Sara Specx berangkat lebih dahulu
ke Batavia, karena pada waktu itu anak di luar perkawinan resmi sesama orang Belanda tidak diakui
dan tidak boleh dibawa ke negeri Belanda. Sara yang merupakan anak pejabat tinggi VOC, di
Batavia tinggal dan dititipkan di rumah penguasa Batavia saat itu Jan Pieterszoon Coen di dalam
lingkungan kastil yang merupakan benteng kota Batavia.

Sara pada masa itu masih belia, usianya baru 12 tahun. Ia senang tinggal di rumah Gubernur
Jenderal. Seperti halnya di Batavia, rumah Coen dijaga oleh prajurit-prajurit pilihan yang gagah dan
tampan. Kawasan Batavia di sekitar benteng Belanda di masa itu sangat rawan. Pihak kesultanan
Banten, Demak dan Mataram tidak menyukai keberadaan Belanda di Kalapa atau Batavia. Mereka
berulang kali berusaha menyerang benteng tersebut. Karena kondisi itu, maka kehidupan orang-orang
Belanda di Batavia kebanyakan dihabiskan di dalam lingkungan benteng. Demikian pula yang terjadi
pada Sara Specx di Batavia.
Karena sehari-hari tinggal di lingkungan rumah Jan Pieterszoon Coen yang dikelilingi prajurit
penjaga yang gagah-gagah tersebut, Sara yang masih muda belia lama kelamaan jatuh hati pada salah
satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan
keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat
belia untuk urusan semacam itu. Sang Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen yang mendengar kabar
angin mengenai hal tersebut tidak ambil pusing karena masih banyak urusan lain yang lebih penting di
Batavia. Ia lebih mementingkan urusan pertahanan benteng Batavia dari gempuran pasukan Mataram
daripada memikirkan hal tersebut.

Pada awalnya hubungan asmara keduanya berjalan lancar hingga pada suatu malam sebuah
peristiwa menggemparkan terjadi di lingkungan kastil Batavia. Hubungan asmara Sara dengan Pieter
sampai pada puncaknya. Pada suatu malam, Sara dengan diam-diam mengijinkan sang pujaan hatinya
masuk ke kamarnya yang sebetulnya rumah sang Gubernur Jenderal. Lingkungan kastil yang indah
ketika itu, ditambah dengan desiran angin laut. Tentunya membuat suasana menjadi semakin romantis
sehingga membuat sepasang kekasih ini menjadi lupa diri. Sara pun jatuh dalam pelukan hangat
Pieter. Selanjutnya entah bagaimana, tak disangka-sangka kejadian itu ternyata diketahui Jan
Pieterszoon Coen.

Sang Gubernur Jenderal menjadi sangat murka. Ia tidak terima kediamannya dinodai oleh
perbuatan zinah Sara dan anak buahnya. Sebagai catatan, pada masa itu, norma-norma gereja dan
aturan agama yang dibawa dari negeri asal masih sangat ketat sehingga perbuatan yang dilakukan
Sara dan Pieter benar-benar dianggap sudah melampaui batas. Seketika itu pula sang penguasa
Batavia ini langsung memerintahkan untuk mendirikan tiang gantungan bagi keduanya. Namun
untunglah pimpinan Dewan Pengadilan Batavia (Raad van Justitie), langsung turun tangan menengahi
masalah tersebut. Dewan Pengadilan Batavia ini menyatakan kasus itu harus dibawa dahulu ke meja
pengadilan.

Setelah proses pengadilan, Raad van Indie akhirnya pada 18 Juni 1629 keduanya tetap
dinyatakan bersalah melakukan perzinahan. Prajurit muda penjaga kastil (bahasa Belandanya de
vaandrig van de kasteelwacht), Pieter J. Cortenhoeff dijatuhi hukuman mati. Eksekusi mati yang
dihadapi prajurit penjaga kastil ini dilakukan dengan cara dipenggal kepalanya pada 19 Juni 1629 di
halaman balai kota atau Stadhuisplein dan disaksikan masyarakat umum. Sementara Sara Specx yang
berusia 12 tahun itu dijatuhi hukuman cambuk berkali-kali di hadapan umum. Hukuman cambuk ini
dilakukan di depan gerbang balaikota Batavia.

Hukuman tetap dilaksanakan. Meskipun memiliki kekuasaan, namun Gubernur Jenderal Jan
Pieterszoon Coen tidak mau menggunakannya untuk membatalkan ataupun mengintervensi keputusan
eksekusi pengadilan Raad van Justitie. Ia berprinsip yang salah tetap harus dihukum sesuai dengan
hukum yang berlaku (ia juga tidak memperdulikan bahwa Sara adalah anak pejabat tinggi VOC).
Padahal ia bisa saja mengganti eksekusi yang kejam terhadap Sara tersebut, dengan hanya
mengurungnya di dalam rutan di benteng Batavia.

Tak lama setelah kejadian itu di tahun yang sama 1629, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon
Coen meninggal dunia. Penyebab kematian Coen hingga kini masih menjadi tanda tanya, ada sumber
mengatakan karena sakit malaria atau kolera, ada pula yang mengatakan tewas dalam serangan
pasukan Kesultanan Mataram pimpinan Sultan Agung. Jenazah Jan Pieterszoon Coen dimakamkan di
pekuburan yang ada di halaman samping gereja Oud Hollandsche Kerk (kini menjadi Museum
Wayang). Selanjutnya, Jacques Specx yang tiba di Batavia dari negeri Belanda diangkat menjadi
Gubernur Jenderal mengantikan Coen.

Tidak ada catatan mengenai reaksi Jaques Specx atas kejadian yang menyangkut putrinya
tersebut. Namun, ia menolak untuk datang ibadah pada hari minggu sebagaimana dilakukan para
hakim yang menyidangkan perkara anaknya. Sementara itu, Sara pada 20 Mei 1632 diketahui
menikah dengan seorang Pendeta Protestan berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC, Georg
Candidus (1597-1647). Setahun kemudian Mei 1633 mereka pindah ke daerah kekuasaan VOC di
Formosa (Taiwan) dan meninggal sebagai wanita terhormat dalam usia muda di tahun 1636.

Tak ada yang tahu bahwa sebetulnya kejadian ini telah direncanakan dengan sangat matang
oleh Utari Sandijayaningsih. Pieter J Cortenhoff adalah salah satu perwira intelijen kepercayaan Coen
yang mampu mengendus jaringan telik sandi pasukan Mataram dibawah pimpinan Bagus Wanabaya.
Operasi kilat penjebakan dilakukan saat Cortenhoof setengah mabuk dipancing masuk ke kamar Sarah
Specx yang tengah tertidur lelap dengan kamar tidak terkunci. Alih alih masuk ke kamar Utari
Sandijayaningsih, Coertenhoeff malah masuk ke kamar Sarah maka skenario pemerkosaan lebih
mengemuka. Utari Sandijayaningsih segera memberitahu beberapa perwira VOC lain yang iri pada
kedudukan pimpinan yang dipegang Cortenhoof. Para perwira VOC itupun menangkap basah
pemerkosa Sarah Specx itu. Sebagai orang yang dipercaya oleh Jacques Specx, Coen tidak bisa
menahan kemarahan dan langsung menghukum mati Cortenhoeff, sedang Sarah dibebaskan.