siswa mampu mengembangkan rencana perawatan keperawatan untuk anak-anak

keterbelakangan mental.

14 tahun gadis mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, terkadang menetes air liur, kesal
ketika keinginannya tidak segera dipenuhi. berdasarkan pemeriksaan psikologis, klien memiliki
IQ 45, perkembangan sosial nya adalah bahwa seorang anak 5 tahun, dan semua kegiatan sehari-
hari harus dibantu oleh orang tuanya.

Retardasi Mental
January 19, 2007 · by Jevuska · in Artikel Kedokteran, Jiwa
1
+1
17
Share
0
Tweet

Pendahuluan

Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa
perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang
kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi
mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.1

Retardasi mental bukan suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses
patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan fungsi
adaptif.2 Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik
lainnya. 3

Hasil bagi intelegensi (IQ = “Intelligence Quotient”) bukanlah merupakan satu-satunya patokan
yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya retardasi mental. Sebagai kriteria dapat
dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja.
Tingkatannya mulai dari taraf ringan, sedang sampai berat, dan sangat berat.4,5

Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :2

1. Retardasi mental berat sekali

IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang terkena retardasi mental.

2. Retardasi mental berat
IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang terkena retardasi mental.

3. Retardasi mental sedang

IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang terkena retardasi mental.

4. Retardasi mental ringan

IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkena retardasi mental. Pada umunya
anak-anak dengan retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat
pertama atau kedua disekolah.

Epidemiologi

Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. Di indonesia 1-3 persen
penduduknya menderita kelainan ini.4 Insidennya sulit di ketahui karena retardasi metal kadang-
kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih dalam taraf
ringan. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun.
Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan
perempuan.2

Etiologi

Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas sebabnya
(simpleks).keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder disebabkan
oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau anak-anak.4

Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu : 1,6

- Akibat infeksi dan/atau intoksikasi.

Dalam Kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan otak akibat
infeksi intrakranial, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.

- Akibat rudapaksa dan atau sebab fisik lain.

Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha
melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan dengan retardasi mental. Rudapaksa sesudah
lahir tidak begitu sering mengakibatkan retardasi mental.

- Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi.
Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya
gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam
kelompok ini.

Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun sangat
memepngaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat
diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini biarpun anak itu dibanjiri
dengan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan.

- Akibat penyakit otak yang nyata (postnatal).

Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan
sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel optak yang nyata, tetapi
yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat
degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif.

- Akibat penyakit/pengaruh pranatal yang tidak jelas.

Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk
anomali kranial primer dan defek kogenital yang tidak diketahui sebabnya.

- Akibat kelainan kromosom.

Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlah atau dalam bentuknya.

- Akibat prematuritas.

Kelompok ini termasuk retardasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada waktu
lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa hamil kurang dari 38 minggu
serta tidak terdapat sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori sebelum ini.

- Akibat gangguan jiwa yang berat.

Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu dan tidak
terdapat tanda-tanda patologi otak.

- Akibat deprivasi psikososial.

Retardasi mental dapat disebabkan oleh fakor-faktor biomedik maupun sosiobudaya.

Diagnosis

Untuk mendiagnosa retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesa dari orang tua
dengan teliti mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak. Bila mungkin dilakukan
juga pemeriksaan psikologik, bila perlu diperiksa juga di laboratorium, diadakan evaluasi
pendengaran dan bicara. Observasi psikiatrik dikerjakan untuk mengetahui adanya gangguan
psikiatrik disamping retardasi mental.1

Tingkat kecerdasan intelegensia bukan satu-satunya karakteristik, melainkan harus dinilai
berdasarkan sejumlah besar keterampilan spesifik yang berbeda. Penilaian tingkat kecerdasan
harus berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan klinis, prilaku adaptif dan
hasil tes psikometrik. Untuk diagnosis yang pasti harus ada penurunan tingkat kecerdasan yang
mengakibatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari lingkungan sosial
biasa sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik pasien dengan retardasi mental dapat ditemukan
berbagai macam perubahan bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala: mikrosefali,
hidrosefali, dan sindrom down. Wajah pasien dengan retardasi mental sangat mudah dikenali
seperti hipertelorisme, lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi
wajah tampak tumpul.

Kriteria diagnostik retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu : 2

1. Fungsi intelektual yang secara signifikan dibawah rata-rata. IQ kira-kira 70 atau dibawahnya
pada individu yang dilakukan test IQ.

2. Gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2 misalnya komunikasi, kemampuan
menolong diri sendiri, berumah tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan keamanan.

3. Onsetnya sebelum berusia 18 tahun

Ciri-ciri Perkembangan penderita retardasi mental (Tabel 1)

Diagnosis Banding

Anak-anak dari keluarga yang sangat melarat dengan deprivasi rangsangan yang berat (retardasi
mental ini reversibel bila diberi rangsangan yang baik secara dini). Kadang-kadang anak dengan
gangguan pendengaran atau penglihatan dikira menderita retardasi mental. Mungkin juga
gangguan bicara dan “cerebral palsy” membuat anak kelihatan terbelakang, biarpun
intelegensianya normal. Gangguan emosi dapat menghambat kemampuan belajar sehingga dikira
anak itu bodoh. “early infantile” dan skizofrenia anak juga sering menunjukkan gejala yang
mirip retardasi mental.1

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan primer dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan
keadaan-sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran (umpamanya perawatan
prenatal yang baik, pertolongan persalinan yang baik, kehamilan pada wanita adolesen dan diatas
40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak pada anak-anak).1

Pencegahan sekunder meliputi diagnosa dan pengobatan dini peradangan otak, perdarahan
subdural, kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu cepat, dapat dibuka dengan
kraniotomi; pada mikrosefali yang kogenital, operasi tidak menolong).1
Pencegahan tersier merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya disekolah luar
biasa. Dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah, hiperaktif atau dektrukstif.1

Konseling kepada orang tua dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan antara lain
membantu mereka dalam mengatasi frustrasi oleh karena mempunyai anak dengan retardasi
mental. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu dapat diberi penerangan
bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat anak menjadi pandai, hanya ada
obat yang dapat membantu pertukaran zat (metabolisme) sel-sel otak. 1

Latihan dan Pendidikan

Pendidikan anak dengan retardasi mental secara umum ialah:1

- Mempergunakan dan mengembangkan sebaik-baiknya kapasitas yang ada.

- Memperbaiki sifat-sifat yang salah atau yang anti sosial.

- Mengajarkan suatu keahlian (skill) agar anak itu dapat mencari nafkah kelak.

Latihan diberikan secara kronologis dan meliputi :1

1. Latihan rumah: pelajaran-pelajaran mengenai makan sendiri, berpakaian sendiri, kebersihan
badan.

2. Latihan sekolah: yang penting dalam hal ini ialah perkembangan sosial.

3. Latihan teknis: diberikan sesuai dengan minat, jenis kelamin dan kedudukan sosial.

4. Latihan moral: dari kecil anak harus diberitahukan apa yang baik dan apa yang tidak baik.
Agar ia mengerti maka tiap-tiap pelanggaran disiplin perlu disertai dengan hukuman dan tiap
perbuatan yang baik perlu disertai hadiah.

C. Tingkatan Retardasi Mental

Untuk menentukan berat-ringannya retardasi mental, kriteria yang dipakai adalah:
1. Intelligence Quotient (IQ), 2. Kemampuan anak untuk dididik dan dilatih, dan 3.
Kemampuan sosial dan bekerja (vokasional). Berdasarkan kriteria tersebut
kemudian dapat diklasifikasikan berat-ringannya retardasi mental yang menurut
GPPDGJ – 1 (W.F. Maramis, 2005: 390-392) adalah : 1. Retardasi Mental Taraf
Perbatasan (IQ = 68 – 85), 2) Retardasi Mental Ringan (IQ = 52 – 67), 3. Retardasi
Mental Sedang (IQ = 36 – 51), 4. Retardasi Mental Berat (IQ = 20 – 35), dan 5.
Retardasi Mental Sangat Berat (IQ = kurang dari 20).

D. Pencegahan Retardasi Mental
Terjadinya retardasi mental dapat dicegah. Pencegahan retardasi mental dapat
dibedakan menjadi dua: pencegahan primer dan pencegahan sekunder.

a. Pencegahan Primer

Usaha pencegahan primer terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan
dengan: 1) pendidikan kesehatan pada masyarakat, 2) perbaikan keadaan sosial-
ekonomi, 3) konseling genetik, 4) Tindakan kedokteran, antara lain: a) perawatan
prenatal dengan baik, b) pertolongan persalinan yang baik, dan c) pencegahan
kehamilan usia sangat muda dan terlalu tua.

a. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan dengan
diagnosis dan pengobatan dini peradangan otak dan gangguan lainnya.

E. Penanganan Retardasi Mental

Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada
penderita saja, melainkan juga pada orang tuanya. Mengapa demikian? Siapapun
orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya
menderita retardasi mental, apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat
berat. Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka
mereka perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Untuk itulah maka mereka
perlu mendapatkan layanan konseling. Konseling dilakukan secara fleksibel dan
pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-
sosial pada dirinya terlebih dahulu.

Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesis dari
orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan, persalinan, dan pertumbuhan serta
perkembangan anak. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.

a. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental

1) Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki
dengan sebaik-baiknya.

2) Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah.

3) Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang,
sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang.

Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal
antara lain karena perhatian penderita retardasi mental mudah terinterupsi. Untuk
mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan
merangsang indera.

b. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental
Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi mental,
yaitu: 1) Latihan di rumah: belajar makan sendiri, membersihkan badan dan
berpakaian sendiri, dst., 2) latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap
social, 3) Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin
penderita, dan 4) latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai
hal-hal yang baik dan buruk secara moral.

Retardasi mental didefinisikan dalam DSM IV TR sebagai:

(1) Fungsi intelektual yang di bawah rata-rata bersama dengan,

(2) Kurangnya perilaku adaptif; dan

(3) Terjadi sebelum usia 18 tahun.

Kriteria retardasi mental dalam DSM IV TR adalah sebagai berikut:

1. Fungsi intelektual secara signifikan berada di bawah rata-rata, IQ kurang dari
70;

2. Kurangnya fungsi sosial adaptif dalam minimal dua bidang berikut:
Komunikasi, mengurus diri sendiri, kehidupan keluarga, keterampilan
interpersonal, penggunaan sumber daya komunitas, kemampuan untuk
mengambil keputusan sendiri, keterampilan akademik fungsional, rekreasi,
pekerjaan, kesehatan dan keamanan;

3. Terjadi sebelum usia 18 tahun.

Komponen berikutnya adalah fungsi adaptif, yaitu merujuk pada penguasaan
keterampilan masa kanak-kanak seperti:

1. menggunakan toilet,

2. berpakaian,

3. memahami konsep waktu dan uang,

4. mampu menggunakan peralatan,

5. berbelanja,

6. melakukan perjalanan dengan transportasi umum dan

7. mengembangkan responsivitas sosial.

Klasifikasi Retardasi Mental
1. Retardasi mental ringan. Antara IQ 50-55 hingga 70. Mereka tidak selalu
dapat dibedakan dengan anak-anak normal sebelum mulai bersekolah. Di
usia remaja akhir biasanya mereka dapat mempelajari keterampilan
akademik yang kurang lebih sama dengan level 6. Mereka dapat bekerja
ketika dewasa, pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan yang rumit
dan mereka bisa mempunyai anak

2. Retardasi mental sedang. Antara IQ 35-40 hingga 50-55. Orang yang
mengalami retardasi mental sedang dapat memiliki kelemahan fisik dan
disfungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik yang normal,
seperti memegang dan mewarnai dalam garis, dan keterampilan motorik
kasar, seperti berlari dan memanjat. Mereka mampu, dengan banyak
bimbingan dan latihan, berpergian sendiri di daerah lokal yang tidak asing
bagi mereka. Banyak yang tinggal di institusi penampungan, namun sebagian
besar hidup bergantung bersama keluarga atau rumah-rumah bersama yang
disupervisi

3. Retardasi mental berat . Antara IQ 20-25 hingga 35-40. Umumnya mereka
memiliki abnormalitas fisik sejak lahir dan keterbatasan dalam pengendalian
sensori motor. Sebagian besar tinggal di institusi penampungan dan
membutuhkan bantuan supervisi terus menerus.

Orang dewasa yang mengalami retardasi mental berat dapat berperilaku ramah,
namun biasanya hanya dapat berkomunikasi secara singkat di level yang sangat
konkret. Mereka hanya dapat melakukan sedikit aktifitas secara mandiri dan sering
kali terlihat lesu karena kerusakan otak mereka yang parah menjadikan mereka
relatif pasif dan kondisi kehidupan mereka hanya memberikan sedikit stimulasi.
Mereka mampu melakukan pekerjaan yang sangat sederhana dengan supervisi
terus-menerus

Secara biologis Penyebab RM antara lain :

1. Prenatal : Malnutrition, terinfeks penyakit ketika dalam kandungan, atau
penggunaan obat-obatan serta komunikasi alkohol pada wanita hamil.

2. Prinatal : Kesulitan dalam proses kelahiran,kekurangan oksigen selama proses
persalinan.

3. Posnatal : Infeksi atau mengalami cedera kepala.

Kapalan (1972) menyatakan bahwa penyebab RM antara lain :

1. Kelainan kromosom meliputi down syndrom,fragile x syndrome , prader–willi
syndrome dan cat-cry syndrom. A)Wanita yang terserang virus rubella ketika
hamil akan mengalami infeksi maternal, sehingga akan menyebabkan
malformasi kongental. B) Penyakit inklusi sitomeganik pada ibu > kematian
anak,kalsifikasi sereberal, hidrosefalus >RM. C) Sifilis pada wanita hamil akan
menimbulkan neuropatologis pada bayi yang menyebabkan RM. D)
Taxoplasma menyebabkan RM ringan dan berat pada anakMengatasi bukan
lahmudah,,makanya lebih baik menghindari RM tesebut. E) Klasifikasi
retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :

2. Kelainan genetika = fenilketonuria, gangguan RET

3. Kelainan prenatal,antara lain:

Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu

1. Retardasi mental berat sekali IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2
%dari orang yang terkena retardasi mental.

2. Retardasi mental berat IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 %
dariorang yang terkena retardasi mental.

3. Retardasi mental sedang IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 %
dariorang yang terkena retardasi mental.

4. Retardasi mental ringan IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari
orangyang terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan
retardasimental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat
pertamaatau kedua disekolah

Retardasi mental adalah suatu gangguan aksis II, didefinisikan dalam DSM IV TR sebagai: (1)
Fungsi intelektual yang di bawah rata-rata bersama dengan, (2) Kurangnya perilaku adaptif; dan
(3) Terjadi sebelum usia 18 tahun. Kriteria retardasi mental dalam DSM IV TR adalah sebagai
berikut:

(1) Fungsi intelektual secara signifikan berada di bawah rata-rata, IQ kurang dari 70; (2)
Kurangnya fungsi sosial adaptif dalam minimal dua bidang berikut: Komunikasi, mengurus diri
sendiri, kehidupan keluarga, keterampilan interpersonal, penggunaan sumber daya komunitas,
kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri, keterampilan akademik fungsional, rekreasi,
pekerjaan, kesehatan dan keamanan; (3) Terjadi sebelum usia 18 tahun.

Komponen pertama dalam definisi DSM memerlukan penilaian intelegensi. Penentuan IQ harus
didasarkan pada berbagai tes yang diberikan kepada seseorang oleh seorang profesional yang
kompeten dan terlatih dengan baik.

Komponen berikutnya adalah fungsi adaptif, yaitu merujuk pada penguasaan keterampilan masa
kanak-kanak seperti menggunakan toilet, berpakaian, memahami konsep waktu dan uang,
mampu menggunakan peralatan, berbelanja, melakukan perjalanan dengan transportasi umum
dan mengembangkan responsivitas sosial. Seorang remaja, contohnya, diharapkan mampu
menerapkan keterampilan akademik, penalaran dan penilaian dalam kehidupan sehari-hari dan
berpartisipasi dalam berbagai aktifitas kelompok. Seorang dewasa diharapkan dapat menyokong
diri sendiri dan memegang tanggung jawab sosial.

Komponen terakhir dalam definisi retardasi mental adalah gangguan ini terjadi sebelum usia 18
tahun, untuk mencegah mengklasifikasikan kelemahan intelegensi dan perilaku adaptif yang
disebabkan oleh cedera atau sakit yang terjadi di kemudian hari sehingga mengakibatkan
retardasi mental. Anak-anak yang mengalami hendaya berat sering kali didiagnosis pada masa
bayi. Meskipun begitu, sebagian besar anak yang mengalami retardasi mental tidak
diidentifikasikan demikian sampai mereka mulai sekolah.

Anak-anak tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda fisiologis, neurologis, atau fisik yang jelas
dan masalah tersebut muncul kepermukaan hanya setelah mereka menunjukkan ketidakmampuan
untuk mengalami kehidupan yang sama seperti anak-anak seusia mereka di sekolah.

Klasifikasi Retardasi Mental

Kriteria penggolongan retardasi mental tidak bisa hanya menggunakan patokan intelegensi,
karena beberapa orang yang masuk dalam kelompok retardasi mental ringan tidak memiliki
gangguan pada fungsi adaptif sehingga tidak bisa digolongkan dalam gangguan retardasi mental.
Penggolongan berdasarkan intelegensi dapat digunakan jika penderita mengalami gangguan pada
fungsi adaptif. Berikut ini merupakan ringkasan karakteristik orang-orang yang masuk dalam
masing-masing level retardasi mental.

Retardasi mental ringan
Antara IQ 50-55 hingga 70. Mereka tidak selalu dapat dibedakan dengan anak-anak normal
sebelum mulai bersekolah. Di usia remaja akhir biasanya mereka dapat mempelajari
keterampilan akademik yang kurang lebih sama dengan level 6. Mereka dapat bekerja ketika
dewasa, pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan yang rumit dan mereka bisa mempunyai
anak.

Retardasi mental sedang
Antara IQ 35-40 hingga 50-55. Orang yang mengalami retardasi mental sedang dapat memiliki
kelemahan fisik dan disfungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik yang normal,
seperti memegang dan mewarnai dalam garis, dan keterampilan motorik kasar, seperti berlari dan
memanjat. Mereka mampu, dengan banyak bimbingan dan latihan, berpergian sendiri di daerah
lokal yang tidak asing bagi mereka. Banyak yang tinggal di institusi penampungan, namun
sebagian besar hidup bergantung bersama keluarga atau rumah-rumah bersama yang disupervisi.

Retardasi mental berat
Antara IQ 20-25 hingga 35-40. Umumnya mereka memiliki abnormalitas fisik sejak lahir dan
keterbatasan dalam pengendalian sensori motor. Sebagian besar tinggal di institusi penampungan
dan membutuhkan bantuan super visi terus menerus. Orang dewasa yang mengalami retardasi
mental berat dapat berperilaku ramah, namun biasanya hanya dapat berkomunikasi secara
singkat di level yang sangat konkret. Mereka hanya dapat melakukan sedikit aktifitas secara
mandiri dan sering kali terlihat lesu karena kerusakan otak mereka yang parah menjadikan
mereka relatif pasif dan kondisi kehidupan mereka hanya memberikan sedikit stimulasi. Mereka
mampu melakukan pekerjaan yang sangat sederhana dengan supervisi terus-menerus.

Retardasi mental sangat berat
IQ di bawah 25. Mereka yang masuk dalam kelompok ini membutuhkan supervisi total dan
sering kali harus diasuh sepanjang hidup mereka. Sebagian besar mengalami abnormalitas fisik
yang berat serta kerusakan neurologis dan tidak dapat berjalan sendiri kemanapun. Tingkat
kematian di masa anak-anak pada orang yang mengalami retardasi mental sangat berat sangat
tinggi.

Tanda dan gejala
a. Retardasi mental ringan
Keterampilan sosial dan komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun – tahun prasekolah.
Tetapi saat anak menjadi lebih besar, defisit kognitif tertentu seperti kemampuan yang buruk
untuk berfikir abstrak dan egosentrik mungkin membedakan dirinya dari anak lain seusianya.
b. Retardasi mental sedang
Keterampilan komunikasi berkembang lebih lambat. Isolasi sosial dirinya mungkin dimulai pada
usia sekolah dasar. Dapat dideteksi lebih dini jika dibandingkan retardasi mental ringan.
c. Retardasi mental berat
Bicara anak terbatas dan perkembangan motoriknya buruk. Pada usia prasekolah sudah nyata ada
gangguan. Pada usia sekolah mungkin kemampuan bahasanya berkembang. Jika perkembangan
bahasanya buruk, bentuk komunikasi nonverbal dapat berkembang.
d. Retardasi mental sangat berat
Keterampilan komunikasi dan motoriknya sangat terbatas. Pada masa dewasa dapat terjadi
perkembangan bicara dan mampu menolong diri sendiri secara sederhana. Tetapi seringkali
masih membutuhkan perawatan orang lain.

Tanda dan gejala yang lain
 Hiperaktivitas
 Toleransi frustasi yang rendah
 Agresi
 Ketidakstabilan afektif
 Perilaku motorik stereotipik berulang
 Perilaku melukai diri sendiri

E. Komplikasi
Menurut Betz, Cecily R (2002) komplikasi retardasi mental adalah :
1. Serebral palsi
2. Gangguan kejang
3. Gangguan kejiwaan
4. Gangguan konsentrasi / hiperaktif
5. Deficit komunikasi
6. Konstipasi (karena penurunan motilitas usus akibat obat-obatan, kurang mengkonsumsi
makanan berserat dan cairan).
Anak yang mengalami retardasi mental memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

• Adanya keterlambatan dalam tahapan perkembangan

• Adanya kesulitan dalam belajar dan kesulitan dalam bersosialisasi

• Tidak mampu memahami/melaksanakan instruksi

• Adanya perilaku seksual yang tidak sesuai (pada anak remaja)

• Adanya kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari (orang dewasa)

• Adanya kesulitan dalam adaptasi sosial (orang dewasa)

Anak-anak yang mengalami mental retardasi tidak berkemampuan untuk mengerti situasi
yang serius dan tidak dapat pula berperilaku sesuai dengan situasi hukum yang berlaku.
Seseorang anak yang mengalami mental retardasi dalam hal komonikasi mengalami kesulitan
karena perbendaharaan kata yang terbatas, mereka mengalami kesulitan (handicap) dalam
kemampuan untuk membaca serta untuk menulis.

Dalam hal ini mereka juga mengalami kesulitan dalam bertingkah laku yang sesuai dengan
usianya, dan mereka lebih memilih anak-anak yang usianya lebih rendah dari dirinya sebagai
temannya.

Mereka juga sukar sekali menerima interaksi dengan teman seusianya, demikian juga
interaksi yang terbatas dengan teman lawan jenisnya kelaminnya. Diketemukan pula sifat yang
akan sangat merugikan dirinya, seperti mudah dipengaruhi dan ingin sekali menyenangkan orang
lain.

Mereka sering mengalami kesulitan dalam berkomonikasi (bertelepon misalnya) Beberapa
diantara kasus-kasus mental retardasi, diketahui bahwa ambang frustasinya rendah sekali, dan
sering kekecewaan yang tidak jelas ujung pangkalnya, meledak dengan hebatnya.
Seorang anak yang mengalami mental retardasi tidak dapat mengenal situasi yang serius,
terlebih lagi mereka itu tidak dapat merespon suatu tindakan, dengan cara yang impulsif. Dalam
perbuatan kriminal mereka selalu ingin menjadi pengikut dan tidak pernah berkenginan menjadi
pemimpin.

Menurut J.P. Chaplin, Intelegensi adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri
terhadap situasi baru secara tepat dan efektif, kemampuan menggunakan konsep abstrak secara
efektif, kemampuan memahami dan belajar dengan cepat. Ketiganya tidak terlepas satu sama
lain.

IQ (Intelligence Quotient) adalah angka normatif dari hasil intelegensi dinyatakan dalam bentuk
rasio (quotient).

Cara pengukuran IQ

IQ dapat diukur menggunakan tes intelegensi atau tes IQ yang standar yang banyak digunakan
oleh para ahli psikolog di dunia, termasuk di Indonesia. Tes iQ dapat dilakukan secara individual
maupun secara kelompok. Beberapa model tes yang dapat mengukur IQ adalah: Stanford-Binet
intelligence scale, The Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R), The
Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R), The Standard Progressive Matrices, The
Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC), Wechsler Preschool and Primary Scale of
Intelligence (WPPSI) dan masih banyak lagi.

Penanganan Retardasi Mental.
Penanganan anak dengan retardasi mental memerlukan integrasi multidisiplin untuk membantu
anak-anak ini:

 Remedial Teaching

Perlu pengulangan secara terus menerus di berbagai situasi dan kesempatan untuk membantu
mereka memahami hal-hal yang baru dipelajari.

 Pelayanan Pendidikan

Pendidikan merupakan aspek yang paling penting berkaitan dengan treatment pada anak
penderita retardasi mental. Pencapaian hasil yang “baik” bergantung pada interaksi antara guru
dan murid. Program pendidikan harus berkaitan dengan kebutuhan anak dan mengacu pada
kelemahan dan kelebihan anak. Target pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bidang
akademik saja. Secara umum, anak penderita retardasi mental membutuhkan bantuan dalam
memperoleh pendidikan dan keterampilan untuk mandiri.

 Kebutuhan-kebutuhan Kesenangan dan Rekreasi
Idealnya, anak penderita retardasi mental dapat berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan
rekreasi. Ketika anak tidak ikut dalam aktivitas bermain, pada saat remaja akan kesulitan untuk
dapat berinteraksi sosial dengan tepat dan tidak kompetitif dalam aktivitas olahraga. Partisipasi
dalam olahraga memiliki beberapa keuntungan, yaitu pengaturan berat badan, perkembangan
koordinasi fisik, pemeliharaan kesehatan kardiovaskular, dan peningkatan self-image (gambaran
diri).

 Kontrol Gangguan Tingkah laku

Gangguan tingkah laku dapat dihasilkan dari ekspektasi/harapan orang tua yang tidak tepat,
masalah organik, dan atau kesulitan keluarga. Kemungkinan lain, gangguan tingkah laku dapat
muncul sebagai usaha anak untuk memperoleh perhatian atau untuk menghindari frustrasi.
Dalam mengukur tingkah laku, kita harus mempertimbangkan apakah tingkah lakunya tidak
sesuai dengan usia mental anak, daripada dengan usia kronologisnya. Pada beberapa anak,
mereka memerlukan teknik manajemen tingkah laku dan atau penggunaan obat.

 Mengatasi Gangguan

Jika terdapat gangguan lain- Cerebral palsy; gangguan visual & pendengaran; gangguan epilepsi;
gangguan bicara dan gangguan lain dalam bahasa, tingkahlaku dan persepsi- maka yang harus
dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal adalah diperlukan terapi fisik terus menerus, terapi
okupasi, terapi bicara-bahasa, perlengkapan adaptif seperti kaca mata, alat bantu dengar, obat
anti epilepsi dan lain sebagainya. Perlu diagnosa yang tepat untuk menetapkan gangguan,
diluar hanya masalah taraf intelegensi.

 Konseling Keluarga

Banyak keluarga yang dapat beradaptasi dengan baik ketika memiliki anak yang menderita
retardasi mental, tetapi ada pula yang tidak. Diantaranya karena faktor-faktor yang berkaitan
dengan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah perkawinan, usia orang tua, self-
esteem (harga diri) orang tua, banyaknya saudara kandung, status sosial ekonomi, tingkat
kesulitan, harapan orang tua & penerimaan diagnosis, dukungan dari anggota keluarga dan
tersedianya program-program dan pelayanan masyarakat.

Salah satu bagian yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi keluarga penderita
retardasi mental, agar keluarga dapat tetap menjaga rasa percaya diri dan mempunyai harapan-
harapan yang realistik tentang penderita. Perlu penerimaan orang tua mengenai taraf
kemampuan yang dapat dicapai anak. Orang tua disarankan untuk menjalani konsultasi
dengan tujuan mengatasi rasa bersalah, perasaan tidak berdaya, penyangkalan dan perasaan
marah terhadap anak. Selain itu orang tua dapat berbagi informasi mengenai penyebab,
pengobatan dan perawatan penderita baik dengan ahli maupun dengan orang tua lain.

 Evaluasi Secara Berkala
Walaupun retardasi mental adalah suatu gangguan statis, kebutuhan-kebutuhan anak dan
keluarga berubah setiap waktu. Seiring perkembangan anak, informasi tambahan harus
diberikan kepada orang tua, dan tujuan harus ditetapkan kembali, serta program perlu diatur.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Berikut ini adalah obat-obat yang dapat digunakan :
 Obat-obat psikotropika ( tioridazin,Mellaril untuk remaja dengan perilaku yang membahayakan
diri sendiri
 Psikostimulan untuk remaja yang menunjukkan tanda-tanda gangguan konsentrasi/gangguan
hyperaktif.
 Antidepresan ( imipramin (Tofranil)
 Karbamazepin ( tegrevetol) dan propanolol ( Inderal )
Pencegahan :
 Meningkatkan perkembangan otak yang sehat dan penyediaan pengasuhan dan lingkungan yang
merangsang pertumbuhan
 Harus memfokuskan pada kesehatan biologis dan pengalaman kehidupan awal anak yang hidup
dalam kemiskinan dalam hal ini ;
- perawatan prenatal
– pengawasan kesehatan reguler
– pelayanan dukungan keluarga

C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis retardasi mental antara lain :
1. Gangguan kognitif (pola, proses pikir)
2. Lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa
3. Gagal melewati tahap perkembangan yang utama
4. Lingkar kepala diatas atau dibawah normal (kadang-kadang lebih besar atau lebih kecil dari
ukuran normal)
5. Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
6. Kemungkinan tonus otot abnormal (lebih sering tonus otot lemah)
7. Kemungkinan ciri-ciri dismorfik
8. Terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar
D. Patofisiologi
Retardasi mental merujuk pada keterbatasan nyata fungsi hidup sehari-hari. Retardasi mental ini
termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak
(sebelum usia 18 tahun) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ 70 sampai
75 atau kurang) dan disertai keterbatasan-keterbatasan lain pada sedikitnya dua area fungsi
adaftif : berbicara dan berbahasa, kemampuan/ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan,
ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan
keamanan, akademik fungsional, bersantai dan bekerja. Penyebab retardasi mental bisa
digolongkan kedalam prenatal, perinatal dan pasca natal. Diagnosis retardasi mental ditetapkan
secara dini pada masa kanak-kanak.

E. Kriteria Diagnostik
Fungsi intelektual yang secara signifikan berada dibawah rata-rata . IQ kira-kira 70 atau kurang
(untuk bayi penilaian klinis dari fungsi fungsi intelektual dibawah rata-rata). – Kekurangan atau
kerusakan fungsi adaptif yang terjadi bersamaan (misalnya efektifitas seseorang dalam
memenuhi harapan kelompok budayanya terhadap orang seusianya) dalam sedikitnya dua area
berikut : komunikasi, perawatan diri , kerumahtanggaan, ketrampilan sosial dan interpersonal,
penggunaan sarana-sarana masyarakat pengarahan diri, ketrampilan akademik fungsional ,
bekerja, bersantai , kesehatan dan keamanan. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun.
Kode dibuat berdasarkan tingkat keparahan yang tercermin dari kerusakan inteletual :
317 Retardasi mental ringan (Tingkat IQ 50-55 sampai kira-kira 70)
318.0. Retardasi mental sedang (Tingkat IQ 35-40 sampai 50-55)
318 .1. Retardasi mental berat (Tingkat IQ 20-35 sampai 35-45)
318.2. Retardasi mental yang amat sangat berat (Tingkat IQ dibawah 20-25)
319 Retardasi mental dengan keperahan yang tidak disebutkan: jika
terdapat dugaan kuat adanya retardasi mental tetapi emintelligence orang tsb tidak dapat diuji
dengan test Standar.

Etiologi
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi
mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Penyebab dari retardasi
mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa faktor yang
potensial berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT
(1983) dan Shonkoff JP (1992) dibawah ini.
Faktor-faktor yang potensial sebagai penyebab retardasi mental
1. Non Organik
- Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis
- Faktor sosiokultural
- Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik
- Penelantaran anak
2. Organik
a. Faktor prakonsepsi
- Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik, kelainan neurocutaneos, dll.)
- Kelainan kromosom (X-linked, translokasi, fragile-X) - Sindrom polygenic familial
b. Faktor pranatal
- Gangguan pertumbuhan otak trimester I
- Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
c. Faktor perinatal
- Sangat prematur
- Asfiksia neonatorum
- - Trauma lahir: perdarahan intra kranial
- - Meningitis
- Kelainan metabolik:hipoglikemia, hiperbilirubinemia
d. Faktor post natal
- Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
- Neuro toksin, misalnya logam berat
- CVA (Cerebrovascularaccident) - Anoksia, misalnya tenggelam
- Metabolik
- Infeksi
D. Manifestasi klinis :
§ Gangguan Kognitif
§ Lambatnya ketrampilan dan bahasa
§ Gagal melewati tahap perkembangan utama
§ Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
§ Kemungkinan tonus otot abnormal
§ Terlambatnya perkembangan motorik halus dan kasar

Ciri-ciri retardasi mental
1. Penderita mengalami keterbatasan pada fungsi intelektualnya, yang ditandai dengan sulit belajar.
2. Kesulitan dalam melaksanakan penggunaan skill (tenaga), komunikasi, dan pembawaan diri

Gangguan yang dialami oleh penderita retardasi mental antara lain :
1. Gangguan konsentrasi (perhatian)
2. Gangguan ingatan (memori terbatas)
3. Gangguan prestasi akademik
4. Gangguan bahasa, yaitu mengalami kesulitan dalam berbicara (biasanya berbicara jelas tetapi
cedal)

Kriteria retardasi mental :
1. IQ kurang dari 70 (IQ normal antara 90-110). Dari IQ tersebut retardasi mental dapat
diklasifikasikan :
a. Ringan dengan IQ 55-70
b. Sedang dengan IQ 40-49
c. Berat dengan IQ 25-34
d. Sangat berat dengan IQ kurang dari 20
2. Mempunyai hambatan dalam perkembangan sosial
3. Mempunyai hambatan dalam kontrol diri
4. Mempunyai hambatan dalam perkembangan secara umum
5. Mendapat gangguan pada beberapa fungsi otak

Jenis retardasi mental :
1. Mental retardation ringan atau semu (Cultural familial retardation), disebabkan oleh kondisi
lingkungan
dan sosial ekonomi keluarga yang tidak mendukung.
2. Mental retardation berat, disebabkan oleh faktor genetik yang dibedakan menjadi:
a. Down syndrome, yang terdiri dari :
(1). Trisomy 21, terjadi kelebihan kromosom pada pasangan kromosom 21 yang terdiri atas tiga
kromosom. Biasanya terjadi pada anak-anak yang berasal dari ibu yang mengandung pada usia
kritis yaitu usia di bawah 20 tahun atau di atas 40 tahun.
(2). Mosaicism, terjadi karena adanya kegagalan dalam perkembangan sel secara sempurna sehingga
menimbulkan kelebihan atau kekurangan kromosom pada tubuh.
(3). Translocation, terjadi akibat adanya pasangan kromosom yang melekat pada pasangan
kromosom lainnya, sehingga menimbulakan gangguan terhadap fungsi intelektual penderitanya.
b. Phenylketonuria (PKU), kemampauan tubuh untuk mengubah phenylalanin menjadi tirosin
terganggu sehingga tidak memenuhi persyaratan yang dibutuhkan tubuh.
c. Tay Sachs Disease, terjadi pembesaran pada tengkorak sehingga menimbulkan kemunduran sistem
syaraf. Penyakit ini biasa terdeteksi pada usia 6 bulan. Akibat penyakit ini penderita kehilangan
kemampuan intelektual dan otot-ototnya menjadi lemah.

Karakteristik Retardasi Mental
Dari dua rumusan definisi retardasi mental yang telah dikemukakan sebelumnya,
dapat diambil kesimpulan dan batasan (karakteristik) retardasi mental sebagai berikut;
Bahwa orang yang menderita retardasi mental adalah orang yang:
a. Tingkat kecerdasannya berada di bawah rata-rata anak normal.
b. Disertai dengan adanya kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam bertingkah laku atau
beradaptasi.
c. Terjadi pada masa perkembangan.
Selain batasan di atas retardasi mental juga dapat dilihat dari karakteristik/ciri:
a. Fisik/tanda-tanda ilmiah
– Wajah dan segala sesuatu yang terdapat padanya
Biasanya anak penyandang cacat mental mempunyai bentuk muka ya ng bundar. Kalau dilihat
dari samping, mukanya cenderung mempunyai tampang yang pipih. Hal ini seperti dikenal
dengan “Brachycephaly” (kepala pendek dan lebar).
Mengenai mata, dari hampir semua anak maupun orang dewasa yang cacat mental cenderung
sipit atau miring ke atas. Selain itu, sering juga ada lipatan kecil dari kulit (Epicanthic Fold) yang
timbul tegak lurus antara bagian sudut dalam dari mata dan jembatan hidung.
Rongga mulutnya sedikit lebih kecil dan lidanya lebih besar dari yang biasa. Inilah yang
mendorong anak untuk mempunyai kebiasaan mengeluarkan lidahnya pada waktu-waktu
tertentu.
– Anggota tubuh
Tangan penderita cacat mental ini cenderung lebar dengan jari-jari yang pendek. Sedangkan kaki
cenderung pendek dan tebal serta mempunyai sela yang lebar antara jempol kaki dan jari-jari di
sebelahnya.
– Koordinasi anggota tubuh
Adakalanya koordinasi antara tangan dan kaki juga kurang baik. Hal ini bisa terlihat pada anak
yang ragu-ragu melangkah dan menggerakkan tangannya.
– Gaya duduk
Biasanya kedua lututnya mengarah lebar ke depan, sedangkan bagian lutut ke bawah sampai
telapak kaki terlipat mengarah ke belakang, masing-masing di sebelah kanan dan kiri pinggang.
b. Sikap dan tingkah laku
Ada yang terlalu apatis (diam) dan adapula yang terlalu hiper-aktif.
c. Perkembangan anak cacat mental
Anak cacat mental tertentu, selain yang berat cacat mentalnya, masing akan dapat berkembang
da belajar sepanjang hidupnya. Dari seorang bayi yang baru dilahirkan dan seluruhnya
tergantung dari keluarganya, mereka akan berkembang jasmani, daya pikir dan perasaannya.
Perkembangan anak cacat mental, tidak hanya lebih lambat atau bahkan jauh tertinggal dari
mereka yang tanpa cacat, tetapi yang dicapai juga tidak lengkap. Dan dalam masa dewasanya,
mereka yang cacat mental akan lebih memerlukan bantuan dari rata-rata orang dewasa pada
umumnya.