Kerajaan Mataram Islam (1577-1681

)

Lambang Kerajaan Mataram Islam

Nama Mataram berasal dari nama bunga, sejenis bunga Dahlia yang berwarna merah
menyala. Ada juga nama Mataram yang dihubungkan dengan Bahasa Sansekerta, Matr yang
berarti Ibu, sehingga nama Mataram diberi arti sama dengan kata Inggris Motherland yang
berarti tanah air atau Ibu Pertiwi. Sebelum tahun 1000 M daerah ini telah berkembang suatu
peradaban yang ditinggalkan oleh kerajaan Hindu. Pada abad ke-14 sewaktu Majapahit mencapai
puncak kejayaan, bumi Mataram rupanya dipandang kurang penting. tidak terdapat tanda-tanda
yang menunjukkan bahwa para raja Mataram kuno yang hidup beberapa abad sebelumnya masih
dikenang di Majapahit. Sampai saat ini pun belum ada data-data yang mungkin dapat
menghubungkan Mataram Islam yang berdiri akhir abad 16 dengan Mataram kuno. Di cerita
Babad Tanah Jawi hanya menyebutkan bahwa tanah Mentaok yang berupa hutan belukar dan
kosong penduduknya oleh raja Pajang dihadiahkan kepada Ki Ageng Pemanahan untuk dibuka
sebagai balas jasanya dalam mengalahkan Aria Penagsang, musuh sultan Adiwijaya Pada abad
ke-16 maka berdirilah kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan di
Kotagede. Pada masa ini kerajaan Mataram masih di bawah kekuasaan raja Pajang. Namun pada
periode Sutawijaya, Mataram akhirnya dapat menjadi Kerajaan Independent.[1]

1. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

Pada mulanya, Mataram adalah wilayah yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya
kepada Ki Gede Pemanahan. Sultan Adiwijaya menghadiahkannya karena Ki Gede
Pemanahan telah berhasil membantu Sultan Adiwijaya dalam membunuh Arya
Penangsang di Jipang Panolan. Ki Pamenahan, disinyalir sebagai penguasa Mataram
yang patuh kepada sultan Pajang. Ia mulai naik tahta di Istananya di Kotagede pada tahun
1577 M. Di tangan Ki Gede Pemanahan, Mataram mulai menunjukkan kemajuan. Pada
tahun 1584 Ki Gede Pemanahan meninggal, maka usaha memajukan Mataram
dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sutawijaya.[2]

Sutawijaya atau dikenal dengan nama Panembahan Senapati. Sepeninggal
ayahnya, ia dilantik sebagai penguasa penting di Mataram menggantikan Ayahnya. Ia
seorang yang gagah berani, mahir dalam hal berperang. Sehingga sejak ia masih sebagai
pemimpin pasukan pengawal raja Pajang ia telah diberi galar oleh Sultan Adiwijaya,
Senapati ing Alaga (panglima perang).

Senapati memiliki cita-cita hendak mengangkat kerajaan Mataram sebagai
penguasa tertinggi di Jawa menggantikan Pajang. Untuk mewujudkan cita-citanya itu,
Senapati mengambil dua langkah penting, pertama memerdekakan diri dari pajang dan
kedua untuk memperluas wilayah kerajaan Mataram keseluruh jawa. Konflik antara raja
Pajang dengan Sutawijaya menghasilkan kemenangan dipihak Sutawijaya. Setelahnya,
keturunan Adiwijaya, yaitu pangeran Benawa yang seharusnya menjadi ahli waris
kesultanan pajang, menyerahkan tahta kekuasaan kerajaan Pajang kepada Senapati. Sejak
saat itu Senapati mengambil gelar Panembahan tahun 1586. Sutawijaya berhasil

RM Jolang menunjuk Raden Mas Rangsang sebagai penggantinya. ia selalu mengangkat senjata dalam rangka menerapkan taktik ekspansi. yang merupakan salah satu penyebab mengapa RM Jolang tidak mampu memperluas wilayah Kesultanan Mataram. Musuh-musuh Sultan Agung bukan saja kerajaan-kerajaan yang ada di pesisir dan kerajaan Hindu di Blambang. Ia diberi gelar Sultan Hanyakrawati. Kesultanan Mataram mengalami kejayaan. Sultan Agung selalu menaati ibadah dan menjadi contoh untuk rakyatnya. Portugis dan Belanda. Selain beras. Sutawijaya meninggal pada tahun 1601 dan ia menguasai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menjelang wafatnya. sering terjadi perlawanan dari wilayah pesisir.[4] Setelah Sutawijaya meninggal. Hal ini menimbulkan berbagai kerusakan disana-sini. Akan tetapi setelah Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Sultan Agung dikenal dengan politik ekspansinya.[3] Di sebelah timur hanya Blambangan. ia cenderung mengadakan pembangunan dibanding ekspansi. Misalnya. Demak. Gelar dari Mekkah itu lengkapnya adalah Sultan Abu Muhammad Maulana Matarami. RM Rangsang diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahaman. dan Banyumas. maka Sultan Agung mengambil ibukotanya di Karta. dan Bali yang masih tetap merdeka. Ia memerintah dari tahun 1613-1645. Ia memerintah pada tahun 1601-1613. Oleh karena itu. Dalam menjalankan roda pemerintahan. sehingga bukan Jawa saja yang ingin dikuasainya melainkan wilayah Nusantara. posisinya sebagai Sultan digantikan oleh putranya yaitu Raden Mas Jolang. wajarlah jika semenjak diangkatnya. Sebagai orang Islam.[7] . dan mengadakan perjanjian dengan Belanda sehingga memberi peluang kepada Belanda untuk berkoloni di Nusantara. kejam. Setiap hari Jum’at Sultan agung bersama rakyatnya melakukan shalat Jum’at. tetapi juga para penguasa asing yang berkoloni di Nusantara. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan itu muncul mengakhibatkan perpecahan di kalangan bangsa Mataram yang menguntungkan Belanda. Gula kelapa dan gula aren itu diekspor ke luar melalui Tembayat dan Wedi. para penggantinya lemah-lemah. Dalam tahun 1633 ia membuat tarikh (kalender baru) yaitu kalender Jawa-Islam. Guna memperkokoh kedudukannya sebagai pemimpin Islam. Panarukan. Bidang Perekonomian Kesultanan Mataram Negara Mataram tetap merupakan negara agraris yang tetap mengutamakan pertanian. Pekalongan mengakui kekuasaan Mataram. membangun Mataram pada tahun 1586. Pada masa pemerintahannya. Lainnya tunduk pada kekuasaan Senapati Sedangkan di pantai laut Jawa Rembang. Jika para pendahulunya mengambil ibukotanya di Kotagede. Setelah dilantik.[5] 2. Masa Kejayaan Mataram Islam Raden Mas Rangsang diangkat menjadi raja baru yang memakai nama Sultan Agung Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman. [6] 3. Pada masa pemerintahannya. Hasil gula tersebut berasal dari daerah Giring di Guningkidul. Kedu. Mataram juga menghasilkan gula kelapa dan gula aren. Sultan Agung mengirim utusan ke Mekkah untuk kembali ke Mataram dengan membawa gelar Sultan untuknya dan ahli-ahli agama untuk menjadi penasihat baginya di istana. Wilayah yang dikuasai Kesultanan Mataram adalah Mataram. Pati.

Dasar-dasar kehidupan maritim tidak dimiliki oleh Mataram. Yaitu ulama yang masih berdarah bangsawan. Kehidupan Sosial. Sultan Agung sangat menghargai para ulama karena mereka mempunyai moral dan ilmu pengetahuan tinggi.[11] Namun peran ulama menjadi tergeser semenjak Mataram dikuasai oleh Amangkurat I. Islam tersebut tentu adalah Islam Sinkretis yang menyatukan diri dengan unsur-unsur Hindu-Budha. Tidak hanya sebagai pemimpin rohani. Kesultanan Mataram yang sedang dalam taraf pembangunan tidak berhasil memiliki pelabuhan dan tidak akan menjadi negara Maritim. Raja berkedudukan sebagai pemimipin dan pengatur agama.[8] 4. Demikianlah keadaan Islam semenjak berpusat di Mataram campur tangan budaya setempat yang kemudian terkenal dengan Islam Kejawen. [9] Ulama pada saat itu sedang konsentrasi menggarap soal Islamisasi terhadap budaya-budaya yang masih melekat di hati masyarakat Mataram. Memang disadari pindahnya pusat pemerintahan dari pesisir utara Jawa ke daerah pedalaman yang agraris serta telah dipengaruhi budaya pra Islam menimbulkan warna baru bagi Islam yang kemudian disebut dengan Islam Sinkretisme. Peran di bidang kebudayaan Islam . Banyak ulama yang dibunuh sehingga kehidupan keagamaan merosot. Mataram menerima agama dan peradaban Islam dari kerajaan-kerajaan Islam pesisir yang lebih tua. para ulama yang ada di kesultanan Mataram dapat dibagi dalam tiga bagian. beliau adalah ulama yang selalu berusaha keras agar ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat yang sudah kuat nilai kepercayaan terhadap ajaran dan doktrin budaya sebelum Islam. ulama pedesaan yang tidak menjadi alat birokrasi. Selain itu. Hubungan- hubungan erat antara Cirebon dan Mataram memiliki peranan penting bagi perkembangan Islam di Mataram. sementara dekadensi moral menghiasi keruntuhan pamor Mataram akibat dari campur tangan budaya asing.[12] 5. Jika ingin membuat kebijakan. Pada saat itu terjadi de-islamisasi.[10] Penggunaan gelar Sayidin Panatagama oleh Senopati menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya Mataram telah dinyatakan sebagai negara Islam. Sunan Kalijaga sebagai penghulu terkenal masjid suci di Demak mempunyai pengaruh besar di Mataram. Sifat mistik Islam dari keraton Cirebon merupakan unsur yang menyebabkan mudahnya Islam diterima oleh masyarakat Jawa di Mataram. Pada hakikatnya Sutawijaya memeriksa apakah laut Hindia dapat digunakan sebagai pelabuhan kesultanan Mataram yang sedang dalam taraf pembentukan. ulama yang bekerja sebagai alat birokrsi. Bagaimanapun laut Jawa masih dikuasai oleh orang Tionghoa dari kesultanan Demak pada zaman pemerintahan Dinasti Jin Bun. Sunan Kalijaga misalnya. tetapi juga sebagai pembimbing di bidang politik. Ternyata gelombangnya terlalu besar sehingga pembuatan pelabuhan di pantai selatan tidak mungkin. agama serta Peran Ulama dan Partisipasinya Pada masa pemerintahan Sultan Agung. Sultan Agung selalu memeinta nasihat dan pertimbangan kepada para ulama. Sebagai penguasa Mataram. Kesultanan Mataram hanya akan menjadi negara pertanian karena pusat kerajaannya berada di pedalaman. Berbagai cara telah beliau tempuh termasuk melalui karya seni yang telah mentradisi di masyarakat.

ia kirimkan ke Batavia untuk . masing-maasing mereka hampir tidak mengalami perbedaan. Beda hal dengan penguasa Mataram berikutnya. terutama menyangkut konsolidasi tata pemerintahan.[13] 6. kadang- kadang mengalami naik-turun. diantara penguasa Mataram bisa ditemui perbedaan yang mencolok dalam menerapkan sistem untuk menghadapi penetrasi barat. Dua kali sesudah ekspansinya. Sistem Politik Kesultanan Mataram Dalam sistem politik di kerajaan Mataram periode Senopati hingga Susuhunan Amangkurat I mengalami turun-naik secara drastis. yakni menjadikan Mataram berdiri sendiri (yang semula merupakan daerah bawahan Kerajaan Pajang). Hal ini disebabkan walaupun saat itu orang-orang Eropa sudah berada di Nusantara. Sultan Agung gagasan untuk mengembangkan kebudayaan dapat dimulai. akan tetapi dalam hal penguasaaan wilayah. Baru pada masa pemerintahan raja yang ketiga. Keabsahan kedudukan dan kekuasaan raja mataram. Mengenai sistem politik eksternalnya. Pertama. menyatukan diri dengan unsur-unsur Hindu-Budha yang disebut dengan islam Sinkretis. kurang berkembang dikarenakan dua alasan. Peranan kegiatan di bidang kebudayaan pada masa awal berdirinya Mataram. wilayah kekuasaan mulai menciut karena hubungannya dengan kolonial Belanda. Pada masa panembahan senopati. Untuk sistem politik yang sifatnya intern. sistem penggantian raja. Periode Raden Mas Jolang kemudian dengan anaknya Raden Mas Rangsang. Berbagai usaha telah dikerahkan untuk mengusik keberadaan dan membendung penetrasinya yang kian kuat di bumi Nusantara. Kedua. penanaman kekuasaan politik ternyata hanya dapat dilakukan dengan kekuatan senjata. Secara tradisional pengganti raja-raja ditetapkan putra laki-laki dari istri selir pun biasa dinobatkan sebagai pengganti raja. diperoleh karena warisan. Diambillah unsur-unsur peradaban dari daerah-daerah pesisir Utara dan Jawa Timur yang dapat mempertinggi martabat keraton Mataram dibidang kebudayaan sesuai dengan kedudukannya sebagai istana raja penguasa tertinggi diseluruh tanah Jawa juga dalam hal penyebaran agama Islam. pasukan militer. para pendiri Mataram belum punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang spiritual. Ada yang menempuh sikap kompromistis dan ada pula yang anti pati sama sekali. Ketika kendali pimpinan beralaih ke tangan susuhunan amangkurat 1 martabat mataram menjadi merosot kembali. ia mampu mengangkat martabat Mataram ke strata yang lebih tinggi. konsentrasi politik sedang dicurahkan untuk konsolidasi dan penguasaan kerajaan-kerajaan disekitarnya. maka. Kemudian Susuhunan Amangkurat I bertolak belakang dengan apa yang telah ditempuh pendahulunya. Apabila dari keduanya tidak mendapatkan anak laki- laki. Seperti pada masa Panembahan Senopati. Perhatiannya lebih tercurah pada soal-soal pembukaan dan pemanfaatan sumber daya alam demi kemajuan ekonomi dan strategi pertahanan. usaha tersebut memang belum ditemui. seperti sistem birokrasi.paman atau saudara laki-laki tua dari ayahnya bisa menjadi pengganti. Pengolahan tanah dan penggarapan daerah-daerah tandus lebih banyak menyita waktu. Demikianlah maka ki Gede Pemanahan Senapati dan Mas Jolang belum sempat untuk mengembangkan kebudayaan yang sifatnya lebih rohaniah. kehadiran belanda diterima dengan baik diakhir kekuasaannya. beliau termasuk penguasa yang antipatis pada kompeni. Sedangkan pada masa Raden Mas Jolang. Oleh sebab itu seluruh masa pemerintahan raja-raja pertama Mataram hanya dihabiskan dalam peperangan. Sultan Agung.

melakukan perlawanan. Ia keluar dari aliansi. menghapus lembaga-lembaga agama yang ada di Kesultanan. Kekuatan semaki kuat ketika Karaeng Galesong bangsawan dari Gowa. yaitu wilayah Kesultanan yang dirajai oleh Sultan Hamengku Buwono III dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin oleh Bendara Pangeran Natakusuma atau dikenal dengan Pangeran Pakualam I. Kedua kerajaan tersebut adalah Kerajaan Surakarta dengan rajanya Susuhunan (Pakubuwono III) dan Yogyakarta dengan rajanya Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I). Dengan demikian. Adipati Anom melakukan pengkhianatan. Mataram kemudian diperintah oleh raja yang pro dengan kompeni yaitu Susuhunan Amangkurat I. Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal. aliansi Raden Kajoran berhasil mengepung pusat pemerintahan Amangkurat I di Pleret. Ia menyusun kekuatan dari para santri dan rakyat pedesaan. Yogyakarta dipecah menjadi dua.[15] Sejak 1743 Mataram hanya memiliki wilayah-wilayah Begelen. seorang ulama bangsawan yang hidup dalam pedesaan. Jogjakarta. Keempat. membatasi perkembangan islam dan melarang kehidupan Agama mencampuri masalah kesultanan. wilayah yang dirajai Pakubuwono III dan wilayah yang dirajai oleh Mangkunegara I. seperti menghapus Mahkamah Syariah yang telah dibentuk oleh Ayahnya. Raden Kajoran mendapat dukungan dari Raden Anom. Pada masanya ribuan ulama Syahid dibunuh Sultan Amangkuran I. Kerajaan Surakarta dipecah lagi menjadi dua yaitu. Dalam perjalanan menuju Batavia. sesuai dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755. tidak lagi menghargai para ulama bahkan berusaha untuk menyingkirkannya. Tragisnya lagi.[14] 7. Sebelum Amangkurat I wafat. Sedangkan Amangkurat I dan anaknya berhasil melarikan diri ke Batavia dan meminta bantuan kepada Belanda. Surakarta. Cara Amangkurat I dalam memerintah yang tidak memperhatikan nilai-nilai kearifan itu telah mendatangkan kemarahan masyarakat. Pada tahun 1677. anak Sultan Amangkurat I dan Trunojoyo bangsawan dari Madura. Ketiga. karena ia sudah di ampuni oleh ayahnya. kedua. Kedu. Walaupun Sultan Amangkurat II meduduki Mataram dan mengembalikan fungsi ulama. membangun kerjasama dengan penjajah Belanda yang menjadi musuh bebuyutan Ayahnya. Amangkurat II dan Belanda melakukan penyerangan ke Mataram dan berhasil memukul mundur aliansi Raden Kajoran. Selanjutnya pada tahun 1757. memukul mundur VOC. Sultan Amangkurat I membuat kebijakan- kebijakan yang kontrofersial yaitu pertama. Sebagai penguasa Mataram yang baru. Setelah dilantik. Sultan amangkurat II berhasil merebut kembali tahta Mataram. Demikian juga pada tahun 1813 oleh Inggris. Setelah perjanjian Jepara ditandatangani. Masa Kemunduran Mataram Islam Setelah Sultan Agung wafat. ia sudah menetapkan Adipati Anom sebagai Sultan Mataram yang baru. Dalam kondisi seperti ini. Adipati Anom diberi gelar Sultan Amangkurat II ia segera melanjutkan kerjasamanya dengan Belanda untuk merebut kembali tahta Mataram dalam perjanjian di Jepara yang mana Belanda mengiginkan wilayah timur karawang dan upah dalam bentuk uang. tetapi persoalan Mataram belum selesai. Mataram terpecah menjadi dua kerajaan. Namun perkembangan selanjutnya.[16] . masing-masing pada tahun 1628 dan 1629 walaupun pada akhirnya memperoleh kegagalan. Raden Kajoran. ia memerintah pada tahun 1645-1677.

TUGAS SEJARAH KERAJAAN ISLAM MATARAM OLEH KELOMPOK 5 1. Maria Sonya Taus 2. Ronald Bou 3. Leonard juan ottu KELAS XI IPA 5 SMA NEGERI 2 KEFAMENANU TAHUN 2017 .