PEDOMAN PENGELOLAAN RUJUKAN PENYAKIT

BERDASARKAN KLASIFIKASI KASUS DAN KOMPETENSI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN

BEDAH

NO DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3
1 Appendicitis Acute (kasus Skrining tanda serta gejala klinik Appendectomy, Appendectomy
gawat darurat, permenkes Laparascopy app Laparoskopi app
856/2009) Edukasi Rujuk ke PPK 2 /PPK
3 (melalui UGD) Kontrol Luka Kontrol Luka

Jika yakin pasien akan ke RS, setelah stabil→ rujuk kembali ke setelah stabil→ rujuk kembali ke
beri therapi pendahuluan perujuk perujuk
(Antibiotik dan analgetik)
2 Hemorhoid interna & Penilaian klinis, Haemorroidectomy Haemorroidectomy
Eksterna Diagnostik dan terapi Kontrol luka Kontrol luka
(Haemmorrhoid Gr I dan II)
Setelah stabil rujuk kembali ke Setelah stabil rujuk kembali ke
Rujuk ke PPK 2 / PPK 3 (RS perujuk perujuk
kelas B dan RS regional) untuk
kasus Haemorrhoid Gr III dan IV
3 Fistula ani simple Penegakan Diagnosis Terapi konservatif
Therapi pendahuluan Tindakan operatif
Setelah stabil rujuk kembali ke
Rujuk ke PPK 2 PPK 1
Fistula ani kompleks Penegakan Diagnosis Penanganan Pemeriksaan penunjang
Therapi pendahuluan (Tindakan operatif) Penangananpada fistula
Setelah stabil rujuk ke PPK 1 (Tindakan operatif)
Rujuk ke PPK 2 / 3 (RS kelas B Bila ada penyulit rujuk PPK 3
dan RS regional) Penanganan komplikasi/penyulit

Setelah stabil rujuk ke PPK 1

1
4 Fissura ani Penegakkan Diagnosis Therapi dan tindak lanjutan
Therapi Pendahuluan
Rujuk ke PPK 2 Setelah stabil rujuk kembali ke
PPK 1
5 Cholelithiasis Deteksi gejala klinik Tindakan operasi Tindakan operasi
(Kasus gawat darurat, Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3
permenkes 856/2009) Therapi Simptomatis Bila dg penyulit rujuk ke PPK 3 ( tersier puncak/rujukan
Rujuk ke PPK 2/3 (semua PPK 3) (tersier puncak/ rujukan nasional) nasional)

Bila dengan penyulit.
penanganan oleh Subspesialis (
Tersier puncak)

Bila telah stabi →
rujuk kembali ke PPK 2
6 Hernia inguinalis lateralis Diagnosis dini Herniorepair
reponibilis Edukasi
(non complicated) Rujuk ke PPK 2 Setelah stabil rujuk kembali ke
PPK 1
Hernia inguinalis irreponibilis Diagnosis dini Herniorepair Herniorepair
(complicated/ strangulata, Edukasi Setelah stabil rujuk kembali ke Setelah stabil rujuk kembali ke
incarcerata) Rujuk ke PPK2/ PPK 3 (Semua PPK 1 PPK 1
(Kasus gawat darurat, PPK 3)
permenkes 856/2009)
Hernia umbilical, incisional Diagnosis dini Herniorepair Herniorepair
Edukasi Setelah stabil rujuk kembali ke Setelah stabil rujuk kembali ke
Rujuk ke PPK2/ PPK 3 (RS PPK 1 PPK 1
kelas B dan RS regional)
7 Peritonitis Diagnosis dini Laparotomi explorasi Laparotomi explorasi
(kasus gawat darurat, Edukasi Setelah stabil rujuk kembali ke Setelah stabil rujuk kembali ke
permenkes 856/2009) Rujuk ke PPK 2/ 3 (Semua PPK PPK 1 PPK 1
3)

2
8 Ileus Diagnosis dini Laparotomi explorasi, atasi Laparotomi explorasi, atasi
(Kasus gawat darurat, Edukasi penyebab ileus penyebab ileus
permenkes 856/2009) Rujuk ke PPK 2/ 3 (Semua PPK Setelah stabil rujuk kembali ke Setelah stabil rujuk kembali ke
3) PPK 1 PPK 1
9 Tumor abdomen Diagnosis dini Laparotomi explorasi, (reseksi/ Laparotomi explorasi, (reseksi/
Edukasi tindakan sesuai letak & kondisi tindakan sesuai letak & kondisi
Rujuk ke PPK 2/3 (RS kelas B tumor) tumor)
dan RS regional) Setelah stabil rujuk kembali ke Setelah stabil rujuk kembali ke
PPK 1 PPK 1
Pasien yang telah di diagnosis
mengalami keganasan dan Rujuk PPK 3 bila dicurigai Bila ada penyulit dan
membutuhkan radioterapi rujuk keganasan dan membutuhkan membutuhkan radioterapi rujuk
ke PPK 3 / tersier puncak Kemoterapi ke PPK 3 puncak (rujukan
(rujukan nasional) nasional)
10 Trauma abdomen Diagnosis dini, stabilisasi pasien Laparotomi explorasi (definitif Laparotomi explorasi (definitif
(Kasus gawat darurat, rujuk ke PPK 2/3 (RS kelas B dan atau damage control) atau damage control)
Permenkes 856/2009) RS regional) Setelah stabil rujuk kembali ke Setelah stabil rujuk kembali ke
PPK 1 PPK 1
Bila ada penyulit, rujuk PPK 3
(RS kelas B dan RS regional)
11 Tumor payudara Deteksi / diagnosis dini Tatalaksana (Eksisi ) Penanganan di PPK 3
-Fibro Adenoma Mammae Simptomatis PA Jaringan Tatalaksana (Eksisi )
(FAM) Rujuk Ke PPK 2 Setelah stabil, rujuk balik PPK1 PA Jaringan
-Lesi fibrokistik Setelah baik rujuk balik PPk1
-Mastopathia
Rujuk PPK 2/3 bila bila dicurigai Jika ganas Jika ganas
keganasan Radical Mastectomy/Modified Radical Mastectomy/Modified
Radical Mastectomy atau yg Radical Mastectomy atau yg
Pasien yang telah di diagnosis terpilih terpilih
mengalami keganasan dan
membutuhkan radioterapi rujuk Rujuk PPK 3 bila membutuhkan Bila ada keganasan
ke PPK 3 (tersier) puncak/ Kemoterapi (jika tdk ada sarpras Kemoterapi
rujukan nasional pendukung) dan radioterapi Bila membutuhkan Radioterapi
rujuk ke PPK 3 puncak ( tersier
3
puncak/ rujukan nasional)

Untuk keganasan Penanganan
di PPK 3
12 Lipoma Simptomatis Eksisisi
Rujuk kembali ke PPK I untuk Eksisi dlm narkose umum
Eksisi dan perawatan luka post perawatan
eksisi Rujuk kembali ke PPK I untuk
Ukuran di atas 2 cm, rujuk PPK perawatan luka
2
Eksisi dlm narkose umum
Rujuk ke PPK 2 bila :
Multiple Lipoma dan atau diarea Rujuk kembali ke PPK I untuk
yang sulit perawatan luka
Rujuk ke PPK 3 (RS kelas B dan
RS regional) bila curiga
keganasan
13 Ateroma Penanganan di PPK 1 Ekstirpasi dlm narkose umum
Simptomatis
Eksisi dan perawatan luka post Rujuk kembali ke PPK I untuk
eksisi perawatan luka
Rujuk ke PPK 2 bila Giant
Ateroma
14 Struma Deteksi gejala dan Pemeriksaan Penanganan lebih lanjut Penanganan lebih lanjut
Fisik (operatif) Penanganan Subspesialistik
(bila ada subspesialis)
Edukasi Simptomatik Jika terkontrol, rujuk PPK 1 Jika terkontrol, rujuk kembali ke
Rujuk PPK 2/PPK 3 (RS kelas B PPK 2
dan RS regional)
Rujuk Rujuk ke PPK 3 puncak Rujuk ke PPK 3 puncak (tersier
(tersier puncak) jika puncak) jika memerlukan
memerlukan penegakkan penegakkan diagnostic dan
diagnostic dan penanganan penanganan subspelialistik
subspelialistik
4
15 Ca mammae Deteksi gejala dan pemeriksaan Penanganan lebih lanjut operatif Penanganan lebih lanjut
fisik Penanganan Subspesialistik
Jika terkontrol, rujuk PPK 1 (bila ada subspesialis)
Edukasi Jika terkontrol, rujuk kembali ke
Simptomatik PPK 2
Rujuk PPK2/ PPK 3 (RS kelas B Rujuk ke PPK 3 puncak (tersier
dan RS regional) puncak/rujukan nasional) jika Rujuk Rujuk ke PPK 3 puncak
memerlukan penegakkan (tersier puncak/rujukan
Pasien yang telah di diagnosis diagnostic dan penanganan nasional) jika memerlukan
mengalami keganasan dan subspelialistik, kemoterapi penegakkan diagnostic dan
membutuhkan radioterapi rujuk penanganan subspelialistik
ke PPK 3 puncak (tersier puncak
/rujukan nasional)
16 Batu saluran kencing Deteksi gejala dan Pemeriksaan Penanganan lebih lanjut operatif Penanganan lebih lanjut
Fisik Jika terkontrol, rujuk PPK 1 Jika terkontrol, rujuk kembali ke
Edukasi PPK 1/2
Simptomatik Rujuk ke PPK 3 (RS kelas B dan Rujuk Rujuk ke PPK 3 puncak
Rujuk PPK 2/PPK 3 (RS kelas B RS regional) jika memerlukan (tersier puncak/ rujukan
dan RS regional) penanganan lebih lanjut nasional) jika terdapat
komplikasi yang tidak dapat
ditangani oleh PPK 3.
17 BPH Deteksi gejala dan Pemeriksaan Penanganan lebih lanjut operatif Penanganan lebih lanjut
Fisik Jika terkontrol, rujuk PPK 1 Jika terkontrol, rujuk kembali ke
Edukasi PPK 1/2
Simptomatik Rujuk Rujuk ke PPK 3 (RS kelas
Rujuk PPK 2/PPK 3 (RS kelas B B dan RS regional) Rujuk Rujuk ke PPK 3 puncak
dan RS regional) (tersier puncak/ rujukan
nasional) jika terdapat
komplikasi yang tidak dapat
ditangani oleh PPK 3.
18 Ruptur tendo Deteksi gejala dan Pemeriksaan Penanganan lebih lanjut operatif Penanganan lebih lanjut,
(Permenkes 856 masuk Fisik Jika terkontrol, rujuk balik PPK 1 operatif
kategori gawat darurat) Edukasi Jika terkontrol, rujuk kembali ke
Rujuk PPK 2/PPK 3 ( semua Rujuk Rujuk ke PPK 3 (RS kelas PPK 1
5
fasilitas PPK 2 dan 3) B dan RS regional) jika tidak
dapat menangani sesuai insikasi Rujuk Rujuk ke PPK 3 puncak
Area jari rujuk ke PPK3 puncak. medis. (tersier puncak/rujukan
nasional) jika terdapat
komplikasi yang tidak dapat
ditangani oleh PPK 3.
19 Fraktur Deteksi gejala dan Pemeriksaan Penanganan lebih lanjut operatif Penanganan lebih lanjut,
(Permenkes 856 masuk Fisik Jika terkontrol, rujuk balik PPK 1 operatif
kategori gawat darurat) Edukasi Jika terkontrol, rujuk kembali ke
Rujuk PPK 2/PPK 3 ( semua Rujuk Rujuk ke PPK 3 (kelas B PPK 1
fasilitas PPK 2 dan 3) dan kelas A) jika tidak dapat
Area jari rujuk ke PPK3 puncak/ menangani sesuai insikasi medis. Rujuk Rujuk ke PPK 3 puncak
RS Rujukan Nasional (tersier puncak/ RS rujukan
nasional) jika terdapat
komplikasi yang tidak dapat
ditangani oleh PPK 3.
20 Trauma thorax Deteksi gejala dan Pemeriksaan Penanganan lebih lanjut Penanganan lebih lanjut
Non complicated Fisik Jika terkontrol, rujuk PPK 1 Jika terkontrol, rujuk PPK 1
Edukasi
PPK2/PPK 3 (RS kelas B dan RS Stabilisasi dan Penanganan
regional) pasien
Trauma thorax
Complicated
Deteksi gejala dan Pemeriksaan
Fisik
Edukasi & stabilisasi
Rujuk PPK 3

6
PENYAKIT DALAM

NO DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 DM Tipe 1 TEGAKKAN DIAGNOSIS TERKENDALI TERKENDALI
KLINIS Pengelolaan di PPK 2 Penananganan di PPK 3
 Pemantauan Hba 1c/ GDP
Rujuk PPK 2/PPK3 Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan  Penanganan komplikasi
(untuk penegakan diagnosis dan RS regional):  Penanganan tetap di PPK
pelacakan komplikasi)  BILA TIDAK TERKENDALI 3 bila Hba1c > 7 / GDP >
 Hba 1 C > 7 (tiap 3 bulan) 170 mg/dl selama 3 bulan
Rujuk PPK 3  GDP >170 selama 3 bulan dan atau komplikasi tidak
(Bila sudah ditegakkan diagnosis pengelolaan teratasi
DM tipe 1 dengan komplikasi  PELACAKAN KOMPLIKASI
Nefropati, Retinopati, Neuropati , TIDAK OPTIMAL DENGAN Rujuk balik PPK 2 bila :
komplikasi KECURIGAAN KLINIS  Hba 1 C < 7 (tiap 3 bulan)
cerebrocardiovascular)  Nefropati, Retinopati,  GDP <170 selama 3 bulan
Neuropati , komplikasi pengelolaan dan tidak
cerebrocardiovascular didapatkan komplikasi
2 DM dengan kehamilan TEGAKKAN DIAGNOSIS TERKENDALI
KLINIS → Pengelolaan Komprehensif di
PPK 3 (Rujukan internal)
Rujuk PPK 2 khusus - RS KIA /
PPK3 (RS kelas B dan RS
regional)
3 DM Tipe 2 Pengelolaan di PPK 1 bila : Pengelolaan di PPK 2 bila: Pengelolaan di PPK 3
TERKENDALI dengan obat TERKENDALI
Tanpa komplikasi hipoglikemik oral (OHO) (GDP <170 selama 3 bulan Masuk PRB bila :
pengelolaan) TERKENDALI
→Masuk PRB  HbA1C < 7
Rujuk PPK 2 bila :  GDP <170 selama 3 bulan
 TIDAK TERKENDALI Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan pengelolaan dan tidak
 HbA1C > 7 selama 3 bulan RS regional) didapatkan komplikasi
bila :
7
pengelolaan  TIDAK TERKENDALI
 GDP >170 selama 3 bulan  (GDP >170 selama 3 bulan (tembusan pada PPK 2)
pengelolaan pengelolaan
 DM Inisiasi Insulin tanpa  PELACAKAN KOMPLIKASI
komplikasi TIDAK OPTIMAL DENGAN
 DM dengan terapi obat yang KECURIGAAN KLINIS/
tidak masuk pada daftar obat KOMPLIKASI TIDAK
PRB( misal Piogltazon/ Pionic) TERTANGANI
 Nefropati, Retinopati,
Neuropati , komplikasi
cerebrocardiovascular
4 DM Tipe 2 TEGAKKAN DIAGNOSIS Pengelolaan di PPK2 TERKENDALI
Komplikasi kronik makro- KLINIS
mikro vaskular Masuk PRB bila: Rujuk balik PPK 2 bila:
Rujuk PPK 2 bila :  TERKENDALI  HbA1C < 7 atau
Terjadi komplikasi Ulkus DM  HbA1C < 7 atau  GDP <170 selama 3
(Limb Threatening) Grade 2 dan  GDP <170 selama 3 bulan bulan pengelolaan dan
3, Neuropati pengelolaan penanganan komplikasi
 Tidak didapatkan optimal
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan komplikasi makro-
RS regional) mikrovaskular Masuk PRB bila :
bila: Tidak didapatkan komplikasi
 Terjadi komplikasi Ulkus DM Rujuk PPK 3 bila : makro-mikrovaskular)
(Life Threatening) Grade 4  TIDAK TERKENDALI
 Terjadi Komplikasi  HbA1C > 7 atau
cerebrocardiovaskular  GDP >170 selama 3 bulan
pengelolaan
Rujuk PPK 2 Kelas C/ PPK3  PENANGANAN
bila: KOMPLIKASI TIDAK
Terjadi Komplikasi Nefropati, OPTIMAL
Retinopati

8
5 DM dengan gangguan kognitif Diagnosis awal Skrining kognitif Penanganan di PPK 3 (rujukan
Rujuk ke PPK 2 Rujuk PPK 3 ( rujukan nasional) nasional)
6 DM dengan komorbid TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS TERKENDALI TERKENDALI
→ Pengelolaan di PPK 2 →Pengelolaan di PPK3
→ Rujuk PPK 2 /PPK3
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan Rujuk balik ke PPK 2 bila:
RS regional) bila: TERKENDALI
TIDAK TERKENDALI (HbA1C < 7 atau DP <170
(HbA1C > 7 atau selama 3 bulan pengelolaan)
GDP >170 selama 3 bulan
pengelolaan)

7 DM tipe 2  TEGAKKAN DIAGNOSIS Pengelolaan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3
KLINIS
Hipoglikemi Rujuk kembali ke PPK 1 bila Rujuk kembali ke PPK 1 bila
 TERAPI PENDAHULUAN TERKENDALI TERKENDALI

 RUJUK SEGERA PPK 2 Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan
RS regional) bila:
TIDAK TERKENDALI dalam 24
jam
8 DM tipe 2 Pengelolaan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3

Komplikasi Akut Hiperglikemi  TEGAKKAN DIAGNOSIS Rujuk kembali ke PPK 1 bila: (Pengelolaan tetap di PPK 3 bila
KLINIS TERKENDALI terjadi komplikasi dan obat
KAD-HHS  TERAPI PENDAHULUAN hanya tersedia di PPK 3, PPK 3
 RUJUK PPK 2 Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan membuat surat keterangan
RS regional) bila:
masih dalam perawatan)
TIDAK TERKENDALI dalam 24
jam Rujuk kembali ke faskes
perujuk bila TERKENDALI

9
9 Hipertensi Esensial TANPA KOMPLIKASI: Pengelolaan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3
 Pengelolaan di PPK 1
 Masukan program Prolanis Masuk PRB bila TERKENDALI TERKENDALI tanpa komplikasi
tanpa komplikasi  Masuk PRB
Rujuk PPK 2 apabila terjadi : (PPK 1 merujuk kembali ke PPK
 Hipertensi dengan komplikasi 2 tiap 3 bulan) TERKENDALI dengan
(Retinopati, Nefropati, HHD, komplikasi
CHF,cerebrocardiovaskular) Pengelolaan di PPK 2 bila →Pengelolaan tetap di PPK 3
 Resistensi hipertensi TERKENDALI dengan (Pasien kontrol setiap bulan di
 Krisis hipertensi( hipertensi komplikasi PPK 3 karena obat nya tidak
emergency dan urgensi) ada di PRB dengan surat
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan
 Obat golongan I tidak dapat keterangan masih dalam
RS regional) bila TIDAK
memberikan hasil yang baik perawatan dari PPK 3)
TERKENDALI atau penanganan
 Intolerance Obat gol ACEI
komplikasi tidak optimal
(Captopril, Lisinopril ) dan
CCB( ( Amlodipin )

Pengelolaan pasien rujuk balik
Masukkan program PRB
10 Hipertensi sekunder 1. Tegakkan diagnosis Penegakan diagnosis (penyebab) Pengelolaan di PPK 3
2. Terapi pendahuluan dan Pengelolaan di PPK 2
3. Rujuk PPK 2 Bila TERKENDALI masuk PRB
Bila TERKENDALI, rujuk balik ke
PPK 1 ( PRB) bila obat tersedia
di Apotik PRB

Rujuk PPK 3 bila :

-Tidak terkendali

-Penegakan penyebab terkendala
fasilitas

10
11 ASHD (Peny Jantung Koroner PJK KRONIK STABIL TERKENDALI TERKENDALI
Kronik Stabil)  TEGAKKAN DIAGNOSIS
KLINIS Pengelolaan tetap di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3:
 TERAPI PENDAHULUAN (Bila obat tidak tersedia di PPK (Bila obat tidak tersedia di PPK
1/apotik PRB , rujukan tiap 4 1 dan PPK2, PPK 1 merujuk ke
RUJUK PPK2/PPK3 (RS kelas B bulan dari PPK 1) PPK 3 tiap bulan/ PPK 3
dan RS regional) membuat surat keterangan
Rujuk PPK 3 bila: masih dalam perawatan)
Pengeloaan setelah rujuk balik: Obat tidak tersedia di PPK 2
Bila tersedia obat di apotik PRB, Rujuk kembali ke PPK 2 (Bila
Pengelolaan di PPK 1 dan rujuk Rujuk balik PPK 1 obat tersedia di PPK 2)
ke PPK 2 setiap 4 bulan (Bila obat tersedia di PPK1/
apotik PRB) Rujuk balik PPK 1 (Bila obat
ada di daftar obat PRB )
12 ASHD (Sindroma Koroner Sindroma Koroner Akut (SKA) TERKENDALI
Akut)
 TEGAKKAN DIAGNOSIS → Pengelolaan di PPK 3
KLINIS
 TERAPI PENDAHULUAN Bila stabil dan komplikasi
 RUJUK PPK 3 tertangani, Rujuk kembali ke
PPK 1 sebagai ASHD Koroner
Kronik Stabil

13 Geriatri (sudah terdiagnosis di TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS TERKENDALI
Poliklinik Geriatri)
RUJUK PPK 3 → Pengelolaan di PPK 3
 Multipatologi (minimal 3
penyakit) (Kontrol di PPK 3 setiap bulan
 Sindrom Geriatri dengan surat keterangan masih
 Polifarmasi dalam perawatan)

11
14 ASHD (gagal jantung) Tegakkan dx klinis Terkendali --> Pengelolaan di Pengelolaan di PPK 3
Terapi pendahuluan PPK 2
Rujuk PPK 2 Rujuk balik ke PPK1 (PRB)
Rujuk balik ke PPK1 ( PRB) bila :
Pengelolaan pasien yang bila : Stabil dan terkendali
sudah di rujuk balik Stabil dan terkendali (rujuk tiap 3 bulan dari PPk 1 ke
 Pemberian obat seperti (rujuk tiap 3 bulan dari PPK 1 ke PPK 2)
PPK 3 (RS kelas B dan PPK 2)
RS regional) melalui
Apotik PRB Rujuk PPK 3 bila tidak stabil
 Rujuk ke PPK2 tiap 3 dan tidak terkendali
bulan
Rujuk ke PPK 3 (tersier
puncak/rujukan nasional) bila :
Diperlukan tindakan diagnostik
(misal pada penyakit jantung
katup) dan atau tindakan
intervensi
15 Diare Rujuk PPK 2 bila : Pengelolaan di PPK 2 Bila tidak didapatkan kelainan
 Tanda dehirasi sedang-berat Bila terkendali  Rujuk kembali organik  rujuk kembali PPK 1
 Penurunan berat badan PPK 1
 Nyeri perut yang sangat
 Tidak dapat dilakukan Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan
rehidrasi oral RS regional) bila :
 Tidak mampu melakukan Diare kronik perlu dilakukan
rehidrasi parenteral di pelacakan dan bila fasilitas tidak
pelayanan primer memadai
 Lebih dari 2 minggu
16 Disentri Rujuk PPK 2 bila : Penanganan di PPK 2
 Perburukan klinis
 Sepsis Bilat teratasi:
 Komplikasi: hiponatremia  rujuk kembali ke PPK 1
berat, hipoglikemia berat,
12
ensefalopati, megakolon, Bila tidak teratasi
prolaps rektal, peritonitis,  rujuk ppk 3 (RS kelas B dan
perforasi, abses rektum, RS regional)
hemoroid
17 Goiter Tegakkan dx klinis Pengelolaan di PPK 2 (jika ada Pengelolaan di PPK 3
lab penunjang)
Rujuk ke PPK 2: Jika terkendali  rujuk kembali
Jika diperlukan pemeriksan Rujuk PPK 3 jika : ke PPK 1
hormon tiroid ( tergantung Membutuhkan tindakan intervensi
fasilitas laboratorium) dx/terapi atau tidak terkendali di
ppk2
18 Pneumonia tanpa komplikasi 1. Tegakkan dx klinis Terkendali  pengelolaan di PPK Pengelolaan di PPK 3
2. Terapi pendahuluan 2
3. Rujuk ke ppk 2 atau ppk Bila tidak membaik rujuk ke PPK
3 ( RS kelas B/ RS Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan 3 (tersier puncak/ rujukan
regional) RS regional) nasional)
bila:
 Selama perawatan tidak
membaik
 Gejala klinis berat
 Disertai faktor komorbid
19 Leukemia TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS Pengelolaan di PPK.3

→ Rujuk PPK3 (penegakan
diagnosis)

20 Perdarahan saluran cerna TEGAKKAN DIAGNOSIS KLINIS Pengelolaan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3

Rujuk PPK 2/PPK3 (RS kelas B Rujuk PPK 3 bila:
dan RS regional yang Manifestasi perdarahan berat dan
mempunyai fasilitas endoskopi) berulang .
untuk penegakan diagnosis dan

13
penanganan

21 HIV 1.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK 2 (stadium Pengelolaan di PPK 3
2. VCT 1): ( Untuk stadium 2 ke atas)
 Terapi ARV (ada tim
Rujuk PPK 2 untuk stadium 1 konseling)
Rujuk PPK 3 untuk stadium 2
Rujuk PPK 3 bila :
HIV stadium 2 ke atas
22 Hepatitis akut 1.Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK.2. Pengelolaan di PPK 3
Rujuk balik ke PPK 1 bila stabil
2.Rujuk PPK 2/PPK3 (RS kelas
B dan RS regional) Rujuk PPK 3 bila :
 Manifestasi klinis berat
 Ada komorbid
23 Hepatitis kronis Tegakkan diagnosis Pengelolaan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3

Rujuk PPK 2 Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan
RS regional) bila :
 Manifestasi peluang
pemberian terapi hepatitis (+)
 SGPT meningkat 2x dari batas
atas dan menetap dalam
evaluasi 1 bulan

Rujuk ke PPK3 puncak/ RS
rujukan nasional jika curiga
sirosis atau ca hepar
24 Demam tifoid tanpa Tegakkan diagnosis klinis Pengelolaan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3
komplikasi
Pengelolaan di PPK 1 Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan
RS regional) bila :
Rujuk PPK 2 bila: Pengelolaan 3 hari tidak ada
Pengelolaan 3 hari tidak ada perbaikan
14
perbaikan
Rujuk PPK 3 bila ada penyulit
Rujuk PPK 3 bila: lain (Tifoid toksik, Pankreatitis
Terjadi komplikasi (Tifoid toksik, akut, Ileus Paralitik, Perforasi
Pankreatitis akut, Ileus Paralitik, usus)
Perforasi usus)
25 Demam tifoid dengan Penegakan diagnosis Pengeloaan di PPK III
komplikasi/ penyulit
 Tifoid toksik Rujuk PPK III (semua PPK III)
 Pankreatitis akut
 Ileus Paralitik
 Perforasi usus
26 Leptospirosis Penegakan diagnosis klinis Pengelolaan di PPK 2 Leptospirosis dengan
Bila stabil  rujuk kembali manifestasi klinis berat 
Rujuk PPK 2/PPK3 (RS kelas B
Pengelolaan di PPK 3
dan RS regional) Rujuk PPK 3 bila :
 Timbul manifestasi klinis berat Rujuk ke PPK 3 puncak jika
 Ada komorbid terjadi komplikasi yang tidak
dapat ditangani di PPK (RS
kelas B dan RS regional)
27 Artritis dengan komplikasi Tegakkan diagnosis klinis Pengelolaan di PPK 2 Penanganan di PPK 3 :
Terapi simptomatis 1. Rehabilitasi medik/
Rujuk kembali ke PPK 1 bila : fisioterapi
Rujuk PPK 2 bila :  Terkendali/ komplikasi teratasi 2. Intervensi bedah bila
 Klinis Artritis reumatoid  Obat tersedia di PPK 1 diperlukan
 Artritis dengan gejala Rujuk PPK 3 (tersier puncak/
ekstraartikular/sistemik, rujukan nasional ) bila tidak
 Artritis gout yang tidak Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan
ada perbaikan
membaik dalam terapi selama RS regional) bila:
3 hari,  Terdapat deformitas Rujuk kembali PPK 1 bila:
 Skleroderma  Kerusakan kartilago/tulang  Terkendali/ komplikasi
 Artritis septik teratasi
 Spondiloartropati  Obat tersedia di PPK 1
15
 Osteoarthritis berat
Rujuk kembali ke PPK 2 bila
obat tidak tersedia di PPK 1

28 SLE 1. Tegakkan diagnosis klinis Penatalaksanaan di PPK 2: Pengelolaan di PPK 3
2. Terapi pendahuluan  Tegakkan diagnosis
 Terapi Bila terkendali→Rujuk balik
Rujuk ke PPK2 PPK 1 (PRB)
Rujuk balik ke PPK 1 (PRB)
bila : Rujuk ke PPK 3 puncak
Stabil dan sudah di tap off (tersier puncak/ rujukan
(PPK 1 melakukan monitoring nasional) jika terjadi komplikasi
aktivitas penyakit) yang tidak dapat ditangani di
PPK 3 (RS kelas B dan RS
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan regional)
RS regional) bila:
 Tidak membaik
 SLE dengan banyak target
organ
29 SLE ( pasien rujuk balik / Rujuk ke PPK 2 setiap bulan Pengelolaan di PPK 2
PRB) ( bila obat tidak tersedia di apotik Rujuk ke PPK 3 RS kelas B dan
PRB) RS regional) tiap 3 bulan
30 Gastritis Pengelolaan di PPK 1 Penanganan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3
Tegakkan diagnosis
Rujuk PPK 2 bila: (Bila perlu, dilakukan endoskopi) Rujuk kembali ke PPK 1 bila
 3x pengobatan tidak ada Post Endoskopi/Post pelacakan
perbaikan Rujuk ke PPK 3 (RS kelas B tidak didapatkan kelainan
 Terjadi alarm symptomp : dan RS regional) bila : organik
perdarahan, berat badan  Tidak membaik selama 3 x
turun 10% dalam 6 bulan, pengobatan
mual muntah berlebihan,  Bila tidak terdapat fasilitas
hematemesis melena, untuk penegakan diagnosis (
anemia endoskopi)
16
Rujuk PPK 2/PPK3 (RS kelas B Rujuk ke ppk 3 puncak (tersier
dan RS regional) bila puncak/ rujukan nasional) jika
membutuhkan penegakan terdapat kecurigaan keganasan
diagnosis dengan endoskopi
31 Reflux Gastroesofagus Penanganan di PPK I Penanganan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3
Tegakkan diagnosis
Rujuk PPK 2 bila : (Bila perlu, dilakukan endoskopi) Rujuk PPK 3( tersier puncak/
 Pengobatan empirik 3x tak rujukan nasional) bila terjadi
menunjukkan hasil Rujuk ke PPK 3 (RS kelas B komplikasi yang tidak bisa
 Pengobatan empirik dan RS regional) bila : ditangani di PPK 3 (RS kelas B
menunjukkan hasil,tetapi  Tidak membaik selama 3 x dan RS regional)
kambuhkembali dalam pengobatan
waktu kurang dari 1 bulan  Bila tidak terdapat fasilitas
atau dalam 3 bulan untuk penegakan diagnosis ( Rujuk kembali ke PPK 1 bila:
terdapat kekambuhan 3x endoskopi) Post Endoskopi/Post pelacakan
atau lebih tidak didapatkan komplikasi
 Ada alarm symtomp: berat esofagus (striktur, ulkus, Barret,
badan turun, adenoca) maupun ekstra
haematemesis melena, esofagus (asma,
disfagia, odinofagia, bronkospasme, laringitis)
Anemia

Rujuk PPK 2/PPK3 (RS kelas B
dan RS regional) bila
membutuhkan penegakan
diagnosis dengan endoskopi
32 Demam Dengue dengan Penegakan diagnosis dan Pengelolaan di PPK 2 Pengelolaan di PPK 3
komplikasi penanganan awal (Pengelolaan komplikasi)
Rujuk PPK 3 (semua PPK,
(Kasus gawat darurat, Rujuk PPK 2 / PPK 3 ( termasuk termasuk rujukan nasional)
Permenkes 856/2009) rujukan nasional) bila : bila:
 DSS/ tanda2 shock komplikasi tidak tertangani

17
 Warning signs:
 Tak ada perbaikan klinis
saat demam mereda
 Tak mau makan/minum
 Muntah terus-menerus
 Letargi, perubahan
perilaku/ penurunan
kesadaran
 Pucat, extremitas dingin
 Perdarahan: epistaksis,
hematemesis, melena,
menoragia, hematuria
 panas 40 derajat tak
mempan dg anti piretik
 Trombocyt < 125 rb
 Kenaikan HMt 20% dari
sebelumnya
33 Gagal ginjal Akut Tegakkan diagnosis klinis Penegakan diagnosis Penegakan diagnosis
Pengelolaan bila ada fasilitas Pengelolaan bila ada fasilitas
( Permenkes 856/2009 masuk Rujuk ke PPK 2/3 ( semua PPK HD HD
kasus gawat darurat) 3) untuk penegakkan diagnosis
Rujuk bailik PPK 1 bila stabil
Rujuk PPK 3 ( semua PPK 3) atau membaik
bila :tidak stabil/ tidak membaik

Rujuk bailik PPK 1 bila stabil
atau membaik
34 GGK terminal Tegakkan diagnosis klinis Pengelolaan di PPK bila ada Pengelolaan di PPK 3
Rujuk PPK 2/3 dengan fasilitas fasilitas HD
HD
Stabil/HD rutin  selama 3
bulan Stabil/HD rutin  selama 3
Pasien terdiagnosis GGK Rujuk kembali ke PPK 1
18
terminal yang membutuhkan HD bulan
dirujuk tiap 3 bulan. Rujuk PPK 3 bila: tidak stabil/
tidak membaik Rujuk kembali ke PPK 1

35 Sindroma Nefrotik Tegakkan diagnosis klinis Pengelolaan di PPK 2, membaik Pengelolaan di PPK 3
hingga tapp off
Rujuk ke PPK2  Rujuk kembali ke PPK 1  Rujuk kembali ke PPK
bila stabil. (proteinuria 1 bila stabil (proteinuria
negatif) negatif)

Pengelolaan setelah  kontrol kembali setiap 3 Pasien kontrol kembali setiap
terdiagnosis SN  kontrol PPK bulan ( rujukan dari PPK 1) 3 bulan ( rujukan dari PPK1)
2/3 tiap 3 bulan
Rujuk PPK 3 bila: tidak
membaik (proteinuria menetap
setelah evaluasi sebulan terapi,
albumin <3, peningkatan ureum
creatinin)
36 Anemia berat Tegakkan diagnosis Penegakan causa anemia -> Pengelolaan di PPK 3
kelola bila causa dapat
Rujuk ke PPK2 ditegakkan.

Rujuk PPK 3 bila penyebab tidak
bisa ditegakkan

Rujuk ke PPK3 puncak /
rujukan nasional jika terdapat
kecurigaan keganasan

19
PENYAKIT PARU

No Diagnosa PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 ASMA Penaganan di PPK II Penanganan di PPK 3

Skrining dan Diagnosa

Penanganan di PPK I Sarana/prasarana : Sarana/prasarana :

- Asma terkontrol masuk Thorax Foto,Spirometri,Analisa Gas ICU/Ventilator, Analisa Gas
PRB Darah,Ruang ICU/Ventilator. Darah, Spirometri,
- Asma dlm serangan ringan

- Catatan : Bila terkontrol, masuk PRB Bila asma terkontrol, masuk
- penentuan Asma terkontrol PRB
memakai kriteria ACT
(Asthma Controle Test)
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan RS
regional) bila:
Rujuk PPK 2 bila : - Asma persistent sedang/berat.
- Asma dg mengancam gagal
- Asma tidak terkontrol napas
- Status asmatikus - Asma dengan gagal napas
- Asma dengan penyakit - Asma dengan Riwayat Intubasi
penyerta (seperti : (Riwayat “ Near- Fatal
Hipertensi, DM,Cor Asthma”)
Pulmonale, Aritmia, GERD - Asma Dengan kemungkinan
dan keganasan Paru) Allergic bronchopulmonary
- Asma dengan kehamilan Aspergillosis (ABPA)
20
2 PPOK Skrining dan diagnosa klinis Penanganan di PPK 2 untuk :
- PPOK Stabil
- PPOK Eksaserbasi Akut Penanganan di PPK 3
- PPOK dengan Penyakit Komorbid
Rujuk PPK 2 Bila stabil, masuk PRB Sarana/prasarana :
ICU/Ventilator, Analisa Gas
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan RS Darah, Spirometri,
regional) bila
 Ada riwayat intubasi (“ Near Fatal
Asthma) Bila stabil masuk PRB
 PPOK dengan gagal nafas
3 TB Paru - TB Paru tanpa komplikasi Penanganan di PPK 2 Penanganan di PPK 3

( Penanganan di PPK 1
bekerjasama dengan Puskesmas/ Sarana/Prasarana : Sarana/Prasarana :
rujukan horisontal)
Poli DOTS TB/Pojok TB ICU/Ventilator, ICCU, dokter
Rujuk PPK 2 bila: spesialis/ sub. Spesialis lainnya.

- TB paru Luas/Destroid Lung
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan RS
- TB diluar Paru (TB Ekstra
paru) regional)bila:
- TB paru dengan penyakit
- TB paru dg Impending gagal
penyerta ( seperti :
napas
DM/Gagal ginjal,dll)
- TB paru dg gagal Napas
- TB Millier
- Spondilitis TB
- TB paru dengan B20/HIV
- TB paru dengan Komplikasi
( seperti : Batuk darah,
Effusi pleura Pneumothorak,
Efek samping OAT) Rujuk ke PPK3 puncak jika :

- TB paru MDR
21
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan RS - Meningitis TB
regional) bila: - Perikarditis TB
- TB paru dg Impending gagal - Peritonitis TB
napas
- TB paru dg gagal Napas
- Spondilitis TB
-
Rujuk PPK 3 puncak (tersier
puncak/rujukan nasional) bila :
- TB paru MDR
- Meningitis TB
- Perikarditis TB
- Peritonitis TB
4 Pneumonia Skrining dan diagnosa klinis Penegakkan diagnosis Penegakkan diagnosis
Penanganan di PPK 3
Penanganan pendahuluan Penanganan untuk pneumonia:
- Pneumonia dg penyulit
- Pneumonia dg penyakit penyerta Saran/prasaran :
(DM/Gagal ginjal, Keganasan dll) ICU/Ventilator,CT Scan
Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 (RS kelas - Pneumonia dg B20/HIV
B dan RS regional) -
Sarana/Prasarana : Rujuk PPK 3 puncak/ rujukan
Thorax Foto,USG, CT Scan nasional bila tidak tertangani di
PPK 3
Rujuk PPK 3 bila :
- Pneumonia dg Impending Gagal
Napas
- Pneumonia dg Gagal Napas
- Pneumonia dg Sepsis/Septic
Syock
5 Abses Paru Skrining dan diagnosa klinis Penegakan diagnosis Penegakan diagnosis

Penanganan awal di PPK 1 Penanganan di PPK 2 untuk kasus: Penanganan di PPK 3

22
Rujuk PPK 2/ PPK 3 - Abses Paru tanpa penyulit
Sarana/ prasarana:
Thorax Foto Sarana/ prasarana :

Rujuk PPK 3 bila: ICU/Ventilator,USG, Ct Scan
- Abses Paru dg Sepsis thorax, Sub spesialis Bedah
- Abses Paru dg Gagal Napas TKV
- Abses Paru dg Penyulit
6 Effusi Pleura Skrining dan diagnosa klinis Penegakan diagnosis Penegakan diagnosis

Penanganan awal di PPK 1 Penanganan di PPK 2 untuk kasus: Penanganan di PPK 3
- Effusi pleura tanpa penyulit
Rujuk PPK 2/ PPK 3 (RS kelas B Sarana/ prasarana : Sarana /prasarana :
dan RS regional) Thorax Foto,USG ICU/Ventilator,USG, Ct Scan
thorax, Sub spesialis Bedah
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan RS TKV
regional) bila:
- Effusi pleura dg Gagal Napas
- Effusi Pleura dg Penyulit
7 Empiema Skrining dan diagnosa klinis Penegakan diagnosis Penanganan di PPK 3
Penanganan di PPK 2 untuk kasus:
Penanganan awal di PPK 1 - Empiema tanpa penyulit Sarana/ Prasaran :
Sarana/prasarana :
Rujuk PPK 2/ PPK 3 (RS kelas B Thorax Foto, USG ICU/Ventilator,USG, Ct Scan
dan RS regional) thorax, Sub spesialis Bedah
Rujuk PPK 3 (RS kelas B dan RS TKV
regional) bila :
- Empiema dg Sepsis
- Empiema dg Gagal Napas
- Empiema dg Penyulit
8 Pneumothorax Skrining dan diagnosa klinis Penegakan diagnosis Penanganan di PPK 3 untuk
Penanganan di PPK 2 untuk kasus: kasus:
Penanganan awal di PPK 1 - Pneumothorax tanpa penyulit - Pneumothorax dg Sepsis
Sarana/ prasarana : - Pneumothorax dg Gagal
23
Rujuk PPK 2/ PPK 3 (RS kelas B Thorax Foto, Alat WSD /Continous Napas
dan RS regional) suction WSD Thorak. - Pneumothorax dg
Penyulit
Rujuk ke PPK 3 (RS kelas B dan Sarana/ Prasaran :
RS regional) bila :
- Pneumothorax dg Sepsis ICU/Ventilator,USG, Ct Scan
- Pneumothorax dg Gagal thorax, Sub spesialis Bedah
Napas TKV
- Pneumothorax dg Penyulit
9 Haemathothorax Diagnosis klinis dan penanganan Penanganan di PPK 3 pada
awal kasus:
- Haematothorax tanpa
RUJUK ppk 3 (RS kelas B dan penyulit
RS regional) - Haematothorax dg
Sepsis
- Haematothorax dg Gagal
Napas
Rujuk ke PPK 3 puncak ( tersier - Haematothorax dg
puncak/rujukan nasional) jika Penyulit
terdapat kecurigaan keganasan Sarana/ Prasaran :
ICU/Ventilator,USG, Ct Scan
thorax, Sub spesialis Bedah
TKV

Rujuk ke PPK 3 puncak (
tersier puncak/rujukan
nasional) jika terdapat
kecurigaan keganasan

10 Tumor Paru Penegakan diagnosis klinis Penegakan Diagnosis Penanganan di PPK 3
- Tumor Paru tanpa
Rujuk PPK 2 kelas C dengan Sarana/Prasarana : penyulit
- Tumor Paru dg penyulit

24
fasilitas/ PPK 3 Thorax Foto, Ct Scan - Tumor Paru dg Gagal
Napas
- Tumor Paru dg Penyulit
- Modalitas Terapi Tumor
Rujuk ke PPK 3 (tersier puncak / Rujuk PPK 3 untuk tatalaksana Paru ( Kemoterapi,Radio
rujukan nasional) bila : terapi, pembedahan)
Pasien yang sudah terdiagnosis Sarana/ Prasaran :
sebagai Ca Paru ( keganasan) ICU/Ventilator,USG, CT Scan
dapat Thorax, Sub spesialis Bedah
TKV, Sarana Tim Onkologi.
11 Tumor Penegakan diagnosis klinis - Penanganan di PPK 3
Mediastinum - Tumor Mediastinum
Rujuk PPK 2 kelas C dengan Penegakan Diagnosis Tanpa Penyulit Tumor
fasilitas/ PPK 3 mediastinum dg Penyulit
Sarana/Prasarana : - Tumor Mediastinum dg
Gagal Napas
Thorax Foto, Ct Scan - Tumor Mediastinum dg
Pasien yang sudah terdiagnosis Penyulit
sebagai Ca Paru ( keganasan) - Modalitas Terapi Tumor
dapat dirujuk ke PPK 3( tersier Rujuk PPK 3 untuk tatalaksana Mediastinum (
puncak/ rujukan nasional) Kemoterapi,Radio terapi,
pembedahan)
Sarana/ Prasarana :
ICU/Ventilator,USG, CT Scan
Thorax, Sub spesialis Bedah
TKV, Sarana Tim Onkologi.
12 Bronkiectasis Penegakkan diagnosis klinis Tatalaksana di PPK 2 Tatalaksana di PPK 3 Kelas
Rujuk PPK 2 - Bronkiectasis tanpa penyulit RS kelas B/ RS regional
Sarana/ prasarana: - Bronkiectasis dg Sepsis
Thorax Foto - Bronkiectasis dg Gagal
Napas
Rujuk PPK 3 kelas RS kelas B dan - Bronkiectasis dg
RS regional bila: Penyulit
- Bronkiectasis dg Sepsis Sarana/ Prasarana :
25
- Bronkiectasis dg Gagal Napas ICU/Ventilator,USG, Ct Scan ,
- Bronkiectasis dg Penyulit CT Angiografi, Sub spesialis
Bedah TKV

Rujuk PPK 3 tersier
puncak/rujukan nasional bila
tidak membaik
13 Policystic Lung Penegakkan diagnosis klinis Tatalaksana di PPK 2 Tatalaksana di PPK 3 kelas
Desease Rujuk PPK 2 - Policystic Lung Disease tanpa RS kelas B dan RS regional :
penyulit - Policystic Lung Disease
Sarana/ prasarana: dg Sepsis
Thorax Foto - Policystic Lung Disease
dg Gagal Napas
Rujuk PPK 3 kelas RS kelas B dan - Policystic Lung Disease
RS regional bila: dg Penyulit
- Policystic Lung Disease dg Sarana/ Prasaran :
Sepsis ICU/Ventilator,USG, Ct Scan ,
- Policystic Lung Disease dg Sub spesialis Bedah TKV
Gagal Napas
- Policystic Lung Disease dg
Penyulit
14 Contusio Paru Penegakkan diagnosis klinis Tatalaksana di PPK 2 Tatalaksana di PPK 3 kelas
Rujuk PPK 2 - Contusio Paru Tanpa penyulit RS kelas B dan RS regional :
Tata laksana awal - Contusio Paru dg Sepsis
Sarana/ Prasarana : - Contusio Paru dg Gagal
Thorax Foto, USG Napas
- Contusio Paru dg
Rujuk PPK 3 kelas RS kelas B dan Penyulit
RS regional bila:
- Contusio Paru dg Sepsis Sarana/ Prasaran
- Contusio Paru dg Gagal ICU/Ventilator,USG
Napas
- Contusio Paru dg Penyulit

26
15 Edema Paru non Penegakkan diagnosis klinis Tatalaksana di PPK 2 Tatalaksana di PPK 3 kelas
Cardiogenik Rujuk PPK 2 - Edema Paru non Cardiogenik RS kelas B dan RS regional :
Tanpa penyulit - Edema Paru non
Cardiogenik dg Gagal
Tatalaksana awal Napas
Sarana/ Prasarana : - Edema Paru non
Thorax Foto, USG Cardiogenik dg Penyulit

Rujuk PPK 3 kelas RS kelas B dan
RS regional bila: Sarana/ Prasaran :
- Edema Paru non Cardiogenik ICU/Ventilator,USG
dg Gagal Napas -
- Edema Paru non Cardiogenik
dg Penyulit
16 Emboli Paru Penegakan diagnosis klinis Penanganan di PPK 2 Penanganan di PPK 3
- Emboli Paru Tanpa penyulit - Emboli Paru dg Gagal
Rujuk PPK 2/ PPK3 untuk Penegakan Diganosis dan Napas
penegakan diagnosis tatalaksana awal - Emboli Paru dg Penyulit
Sarana/ Prasarana :
Thorax Foto, USG
Rujuk PPK 3 bila: Sarana/ Prasarana :
- Emboli Paru dg Gagal Napas ICU/Ventilator,USG, Ct Scan
- Emboli Paru dg Penyulit

27
SARAF

Kelompok Studi Nyeri

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3
.

1. Migrain Tatalaksana oleh dokter di  Tatalaksana kasus migrain  Tatalaksana kasus migrain
layanan primer yang persisten dan tidak hilang yang persisten dan tidak hilang
Rujuk ke Spesialis Saraf (PPK dengan pengobatan analgesik dengan pengobatan analgesik
2) bila: non-spesifik. non-spesifik maupun spesifik,
 Timbul komplikasi: stroke  Pengobatan migren dengan serta dicurigai terdapat kelainan
iskemik, migren komplikata obat-obatan spesifik dan struktural di otak
dengan hemiparesis profilaksis.  Tatalaksana kasus migren
 Efek samping OAINS: dengan kemungkinan terjadi
perdarahan dan ulkus Rujuk ke PPK 3 bila dalam migren komplikasi
 Terdapat tanda-tanda defek pengobatan tidak membaik atau  Melakukan pemeriksaan MRI
neurologis berat terjadi migren komplikasi dan diagnostik penunjang lain
 migren terus berlanjut (> 72 bila diperlukan
jam)
 Frekuensi > 3x dalam
setahun
 atau migren tidak hilang
dengan pengobatan
analgesik non-spesifik.
2. Nyeri Kepala Tipe Tegang Tatalaksana oleh dokter di  Tatalaksana rujukan kasus
(Tension Headache) layanan primer nyeri kepala tipe tegang yang
tidak membaik.
Rujuk PPK 2 bila:  Rujuk internal bila
 Nyeri tak membaik lebih dari membutuhkan pelayanan
15 hari (kronik) ( spesialis spesialis lain (seperti spesialis
saraf) jiwa)
 Penyulit depresi berat dengan  Di PPK 2 diharapkan kasus

28
ide bunuh diri ( ke spesialis TTH dapat terselesaikan
jiwa)
 Keluarga dan penderita tidak
kooperatif
3. Nyeri Kepala Kluster  Identifikasi diagnosis dan  Tatalaksana medis  Tatalaksana medis
tatalaksana awal  Pemeriksaan CT-Scan +  Pemeriksaan MRI + kontras bila
 Rujuk PPK 2/3 untuk kontras bila didapatkan defisit didapatkan defisit neurologi,
penegakan diagnosis neurologi, diterapi belum diterapi belum membaik selama
membaik selama 3 bulan serta 3 bulan serta keluhan makin
 Bila sudah terdiagnosis Nyeri keluhan makin memberat. memberat.
kepala kuster, rujuk ke PPK 3.
4. Carpal Tunnel Syndrome  Skrining diagnostic  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
 Tatalaksana pendahuluan dan sesuai dengan ketersediaan intervensi invasif minimal dan
merujuk ke dokter spesialis fasilitas operatif
saraf ( PPK 2/3)  Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik
5. Trigger Finger  Skrining diagnostic  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
 Tatalaksana pendahuluan dan sesuai dengan ketersediaan intervensi invasif minimal dan
merujuk ke dokter spesialis fasilitas operatif
saraf ( PPK 2/3)
6. Sindrom De Quervain  Skrining diagnostic  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
 Terapi pendahuluan dan invasif minimal sesuai dengan intervensi invasif minimal, dan
merujuk ke dokter spesialis ketersediaan fasilitas operatif
saraf (PPK2/3) untuk diagnosis  Rujukan internal  Rujukan internal
dan terapi
 Merujuk ke Spesialis Bedah
Ortopedi/ bedah saraf untuk
tindakan bedah
7. Epikondilitis Lateral  Skrining diagnostic.  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
 Terapi pendahuluan dan invasif minimal sesuai dengan intervensi invasif minimal, dan
merujuk ke dokter spesialis ketersediaan fasilitas operatif
saraf (PPK 2/ PPK3)

29
8. Kapsulitis Adhesiva Bahu  Skrining diagnostic.  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
 Terapi pendahuluan dan invasif minimal sesuai dengan intervensi invasif minimal, dan
merujuk ke dokter spesialis ketersediaan fasilitas operatif
saraf ( PPK 2/PPK3)
9. Sindrom Rotator Cuff  Skrining diagnostic.  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
 Terapi pendahuluan dan invasif minimal sesuai dengan intervensi invasif minimal, dan
merujuk ke dokter spesialis ketersediaan fasilitas operatif
saraf (PPK 2/ PPK3)
10. Knee Pain  Skrining diagnostic.  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
 Terapi pendahuluan dan invasif minimal sesuai dengan intervensi invasif minimal, dan
merujuk ke dokter spesialis ketersediaan fasilitas operatif
saraf (PPK 2 / PPK3)
11. Fibromialgia  Skrining diagnostic  Talaksana medis sesuai  Talaksana medis komprehensif,
 Rujuk ke PPK 2 dengan ketersediaan fasilitas intervensi non medika mentosa
 Rujuk PPK 3 bila tidak membaik (CBT)
dan membutuhkan intervensi
komprehensif
12. Sprain dan Strain Otot  Tatalaksana oleh dokter di  Tatalaksana kasus sprain/strain  Talaksana medis komprehensif,
layanan primer yang tidak membaik intervensi invasif minimal, dan
 Merujuk ke Spesialis Saraf  Talaksana medis dan intervensi operatif
(PPK2) sesuai algoritma invasif minimal sesuai dengan
tatalaksana ketersediaan fasilitas
 Bila terdapat faktor komorbid  Rujuk PPK 3 bila tidak
dirujuk ke pelayanan sekunder membaik dan membutuhkan
yang memiliki dokter spesialis intervensi komprehensif
bedah tulang
13. Neuropatika Diabetika  Tatalaksana awal dan  Pemeriksaan penunjang  Tatalaksana medis serta
pengenalan gejala awal oleh (pemeriksaan neurofisiologi) tindakan intervensi pain jika
dokter di layanan primer  Tatalaksana medis dengan diperlukan.
 Manajemen nyeri sederhana: analgetik non opioid dan opioid,  Pemeriksaan penunjang
analgetik non opioid serta analgetik adjuvant
 Merujuk ke Spesialis Saraf  Rujuk PPK 3 bila tidak
(PPK 2) untuk penegakan membaik dan membutuhkan
30
diagnosis dan penanganan intervensi komprehensif
14. Neuralgia Paska Herpes  Membuat diagnosis klinik dan  Tatalaksana kasus neuralgia  Tatalaksana kasus neuralgia
memberikan terapi paska herpes dari layanan paska herpes intraktabel
pendahuluan. kesehatan primer
 Rujuk ke PPK 2  Evaluasi terapi neuralgia paska
herpes secara
farmakologismaupun non-
farmakologis
 Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik dan membutuhkan
intervensi komprehensif
15. Neuralgia Trigeminal  Skrining diagnostic  Tatalaksana medis sesuai  Talaksana medis komprehensif,
 Rujuk PPK 2/3 dengan ketersediaan fasilitas minimal invasive dan surgikal
16. Cervical Syndrome  Diagnosis dan pemeriksaan  Tatalaksana medis dan  Talaksana medis komprehensif,
penunjang sederhana intervensi invasif minimal sesuai intervensi invasif minimal, dan
 Tatalaksana awal dengan ketersediaan fasilitas operatif
 Merujuk ke Spesialis Saraf  Rujuk PPK 3 bila tidak
(PPK 2) sesuai algoritma membaik dan membutuhkan
tatalaksana intervensi komprehensif
17. Cervical Disc Disorder  Skrining diagnostik  Tatalaksana medis dan  Talaksana medis komprehensif,
 Tatalaksana nyeri sederhana intervensi invasif minimal sesuai intervensi invasif minimal, dan
dan merujuk ke dokter dengan ketersediaan fasilitas operatif
spesialis saraf (PPK 2/3)  Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik dan membutuhkan
intervensi komprehensif
18. Nyeri Punggung Bawah  Diagnostik awal  Tatalaksana medis sesuai  Tatalaksana medis
(LBP)  Tatalaksana nyeri sederhana dengan ketersediaan fasilitas komprehensif
dan bila tidak membaik (4  Tatalaksana intervensi invasif  Tatalaksana intervensi invasif
minggu) merujuk ke dokter minimal minimal (tanpa alat bantu
spesialis saraf (PPK 2) Rujuk PPK 3 apabila: pemandu, USG-guided dan C-
 Tidak membaik, arm guided)
 Membutuhkan intervensi  Tatalaksana bedah/operatif
komprehensif
31
 Membutuhkan tindakan
operatif
19. Nyeri Radikulopati Lumbal  Skrining diagnostik  Tatalaksana medis dan  Talaksana medis komprehensif,
 Tatalaksana awal dan merujuk intervensi invasif minimal sesuai intervensi invasif minimal, dan
ke dokter spesialis saraf dengan ketersediaan fasilitas operatif
(PPK2/PPK3)

20. Kelainan Diskus  Tatalaksana oleh dokter di  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
Intervertebral Lumbal layanan primer invasif minimal sesuai dengan intervensi invasif minimal, dan
 Merujuk ke Spesialis Saraf ( ketersediaan fasilitas operatif
PPK2 ) sesuai algoritma  Rujuk PPK 3 bila
tatalaksana membutuhkan tindakan
intervensi / operatif
21. Spinal Stenosis Lumbalis  Tatalaksana oleh dokter di  Talaksana medis dan intervensi  Talaksana medis komprehensif,
layanan primer invasif minimal sesuai dengan intervensi invasif minimal, dan
 Merujuk ke Spesialis Saraf ( ketersediaan fasilitas operatif
PPK 2) sesuai algoritma  Rujuk PPK 3 bila
tatalaksana membutuhkan tatalaksana
medis komprehensif, tindakan
intervensi invasif minimal dan
operatif
22. Nyeri Neuropatik pada HIV  Diagnosis dan pemeriksaan  Pemeriksaan penunjang seperti  Pemeriksaan penunjang seperti
penunjang sederhana di faskes primer, ditambah PPK 2, ditambah imaging MRI
 Manajemen nyeri sederhana : pemeriksaan immunologi  Tatalaksana seperti di PPK 2,
analgesik non opioid pemeriksaan neurofisiologi ditambah tindakan intervensi
 Tatalaksana medis dengan pain (neurolitik) jika diperlukan
• Rujuk ke PPK 2 (RS kelas C)/ analgesik non opioid dan opioid,
PPK 3 serta analgesik adjuvant
Rujuk PPK 3 bila :
 Membutuhkan pemeriksaan
MRI
 Tindakan intervensi pain
(neurolitik)
32
23. Nyeri Kanker Mendiagnosis dan merujuk  Pemeriksaan penunjang
lengkap termasuk MRI, Biopsi
Rujuk PPK 3 dan EMG NCV
 Tatalaksana medis dengan
analgetik
 Tatalaksana intervensi dengan
blok saraf/ganglion
 Perawatan paliatif (termasuk
operasi dan radiasi paliatif)

Kelompok Studi Epilepsi

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK3

1 Epilepsi  Diagnostik awal, untuk  Pemeriksaan penunjang Lab, Untuk epilepsi refrakter, epilepsi
penanganan awal pasien Lumbal Pungsi, Rontgen simtomatik (etiologi tumor, post
harus dirujuk ke dokter Thorax dan EEG, CT scan trauma, epilepsi post
spesialis saraf (PPK 2) dengan kontras, USG enchepalitis,dll) epilepsi pada
abdomen (kasus ibu hamil)
pasien HIV AIDS
 Tatalaksana epilepsi sesuai  Talaksana medis sesuai
dengan rujuk balik dengan ketersediaan fasilitas  Pemeriksaan penunjang
 (Obat tersedia di apotik PRB) seperti PPK 2 ditambah EEG
Rujuk balik PPK 1 ( PRB) monitoring, MRI dan
 Rujuk bulan ke 4 pemeriksaan neurobehaviour
 Pemeriksaan kadar obat
dalam darah dan toksikologi,
Rujuk PPK 3 bila membutuhkan
pemeriksaan genetik,
penanganan lebih lanjut
hormonal, serologi penanda

33
tumor, biomarker, Human
Leukocyte Antigen (HLA)
 Pemeriksaan PET scan,
SPECT atau MRS
 Talaksana medis
komprehensif termasuk CBT
 Tatalaksana bedah epilepsi
2 Status epileptikus Penegakan diagnosis dan  Pemeriksaan penunjang Lab, Status epilepsi refrakter
tatalaksana awal, kemudian Lumbal Pungsi, rontgen
(Kasus gawat darurat / dirujuk ( melalui UGD di PPK2 / thorax dan EEG, CT scan  Pemeriksaan penunjang
Permenkes 856/2009) dengan kontras, USG seperti PPK 2 ditambah EEG
PPK3)
abdomen (kasus ibu hamil monitoring, MRI dan
dengan status epilepsil) pemeriksaan neurobehaviour
 Tatalaksana medis sesuai  Pemeriksaan kadar obat
dengan ketersediaan fasilitas dalam darah dan toksikologi,
pemeriksaan genetik,
hormonal, serologi penanda
tumor, biomarker, Human
Leukocyte Antigen (HLA)
 Pemeriksaan PET scan,
SPECT atau MRS
 Talaksana medis
komprehensif termasuk CBT
 Tatalaksana bedah epilepsi

34
Kelompok Studi Neurootologi/Vertigo

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 BPPV (vertigo perifer)  Diagnosis awal  Tatalaksana sesuai dengan  Tatalaksana komprehensif
 Tatalaksana farmakologis dan fasilitas, maksimal 3 kali control (farmakologis/non
non farmakologis  Rujuk PPK III bila 3 kali farmakologis/pembedahan)
pengobatan tidak membaik sesuai indikasi
Rujuk PPK 2 bila:
 Dalam 1 bulan / 3 kali
pengobatan tidak membaik
 Vertigo vestibular tipe sentral
2 Meniere disease, labirintis,  Diagnosis awal  Penegakan diagnosis  Tatalaksana komprehensif
neuritis vestibularis  Rujuk PPK 2  Tatalaksana sesuai dengan (farmakologis/non
fasilitas, maksimal 3 kali kontrol farmakologis/pembedahan)
(vertigo perifer selain BPPV)  Merujuk ke PPK 3 bila tidak sesuai indikasi
membaik
3 Vertigo Sentral  Diagnosis awal  Penegakan diagnosis  Tatalaksana komprehensif
 Rujuk PPK2  Tatalaksana sesuai dengan (farmakologis/non
fasilitas, maksimal 3 kali kontrol farmakologis/pembedahan)
 Merujuk ke PPK 3 bila tidak sesuai indikasi
membaik
4 Vertigo Cervicogenik  Diagnosis awal  Penegakan diagnosis  Tatalaksana komprehensif
 Rujuk PPK2  Tatalaksana sesuai dengan (farmakologis/non
fasilitas, maksimal 3 kali kontrol farmakologis/pembedahan)
 Merujuk ke PPK 3 bila tidak sesuai indikasi
membaik
5 Vertigo Psikogenik  Diagnosis awal  Penegakan diagnosis  Tatalaksana komprehensif
 Rujuk PPK 2  Tatalaksana sesuai dengan multidisiplin (farmakologis/non
fasilitas, maksimal 3 kali kontrol farmakologis) sesuai indikasi
 Merujuk ke PPK 3 bila tidak
membaik

35
Kelompok Studi Stroke dan Pembuluh Darah

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 Transient Ischemic Attack Penegakkan diagnosis,  Pemeriksaan lab, EKG, Ro  Pemeriksaan penunjang
(TIA) penanganan Thorax, CT Scan, Doppler seperti di PPK 2 ditambah
Carotis, TCD MRI, Angiografi,
(Permenkes 856/2009) awal ABC  Talaksana emergensi dan (CTA/MRA/DSA), Doppler
medis sesuai dengan Carotis dan TCD/TCCD
( Rujuk UGD PPK 2/ PPK 3) ketersediaan fasilitas  Talaksana emergensi dan
medis komprehensif
2 Stroke Iskemik Penegakkan diagnosis,  Pemeriksaan lab, EKG, Ro  Pemeriksaan penunjang
penanganan Thorax, CT Scan dan Doppler seperti di PPK 2 ditambah
(Permenkes 856/2009) Carotis dan TCD/TCCD MRI, Angiografi
awal ABC  Talaksana emergensi (CTA/MRA/DSA), Doppler
(termasuk trombolisis Carotis dan TCD/TCCD
( Rujuk UGD PPK 2/ PPK 3) intravena) dan tatalaksana  Talaksana emergensi
medis sesuai dengan (termasuk trombolisis
ketersediaan fasilitas intravena) dan medis
 Stroke Iskemik dengan faktor  Tatalaksana trombektomi
pemberan dan terdapat Organ dan tindakan neurointervensi
failure dirujuk ke PPK3 lain dan tatalaksana bedah
jika diperlukan
3 Stroke Hemoragik Penegakkan diagnosis,  Pemeriksaan lab, EKG, Ro  Pemeriksaan penunjang
penanganan Thorax, CT Scan seperti di PPK 2 ditambah
(Permenkes 856/2009)  Talaksana emergensi dan MRI, Angiografi
awal ABC medis sesuai dengan (CTA/MRA/DSA), Doppler
ketersediaan fasilitas Carotis dan TCD/TCCD
( Rujuk UGD PPK 2/ PPK 3)  Stroke hemoragik dengan  Talaksana emergensi
faktor pemberan dan terdapat (termasuk evakuasi
Organ failure dirujuk ke hematom) dan medis
PPK3 komprehensif
36
 Tatalaksana neurointervensi
 Tatalaksana bedah saraf
4 Perdarahan Subarahnoid Penegakkan diagnosis,  Pemeriksaan lab, EKG, Ro  Pemeriksaan penunjang
penanganan Thorax, CT Scan, Doppler seperti di PPK 2 ditambah
(Permenkes 856/2009) Carotis dan TCD/TCCD MRI, Angiografi
awal ABC  Talaksana emergensi dan (CTA/MRA/DSA), Doppler
medis sesuai dengan Carotis dan TCD/TCCD
( Rujuk UGD PPK 2/ PPK 3) ketersediaan fasilitas  Talaksana emergensi dan
 Perdarahan subarahnoid medis komprehensif
dengan tanda-tanda  Tatalaksana neurointervensi
hidrosefalus dirujuk ke PPK3  Tatalaksana bedah saraf
5 Sinkop (pingsan sesaat < 20  Diagnosis dan tatalaksana  Talaksana emergensi dan Talaksana emergensi dan medis
detik) awal medis sesuai dengan komprehensif
 Rujuk ke PPK 2 ketersediaan fasilitas
 Bila > 20 detik  Sinkop dengan faktor
 Bila berulang pemberat (gangguan ginjal/
jantung) dirujuk ke PPK3
6 Koma & Penurunan  Diagnosis dan tatalaksana  Talaksana medis dan bedah  Talaksana medis
Kesadaran awal (ABC & Resusitasi) sesuai dengan indikasi dan komprehensif
 ( Rujuk UGD PPK 2/ PPK 3) ketersediaan fasilitas  Tatalaksana bedah sesuai
(Permenkes 856/2009)  Penurunan kesadaran disertai indikasi
tanda-tanda gagal nafas
dirujuk ke PPK3

Kelompok Studi Neuroonkologi

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 Tumor Otak Diagnostik dan tatalaksana awal Talaksana emergensi dan medis Tatalaksana medis
sesuai dengan ketersediaan komprehensif, tatalaksana
 rujuk PPK 2/ PPK 3 fasilitas → intervensi, dan
rujukuntukintervensi/bedah ke
37
PPK 3 tatalaksanabedah

2 Tumor Medulla Spinalis Diagnostik dan tatalaksana awal Talaksana emergensi dan medis Tatalaksana medis
sesuai dengan ketersediaan komprehensif, tatalaksana
 rujuk PPK 2/ PPK3 fasilitas → rujuk untuk intervensi, dan tatalaksana
intervensi/bedah ke PPK 3 bedah

Kelompok Studi Neuroinfeksi

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1. Abses Otak  Diagnosis awal  Melakukan pemeriksaan  Pemeriksaan penunjang
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 penunjang : Darah rutin seperti PPK 2, ditambah
(leukosit, LED), ureum, MRI Kepala
kreatinin, SGOT, SGPT,  Pungsi lumbal bila tidak
CT Scan kepala + kontras ada kontraindikasi
 Tatalaksana medis  Tatalaksana medis
komprehensif komprehensif kasus
seperti di PPK 2
 Tatalaksana operasi
2. Ensefalitis Toxoplasma  Diagnosis awal  Manajemen komprehensif  MRI Kepala
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 sesuai dengan fasilitas  Pungsi Lumbal
yang tersedia  Manajemen
 Rujuk ke PPK 3 jika komprehensif
fasilitas tidak memadai
3. Meningitis Kriptokokus  Diagnosis awal  Manajemen komprehensif  MRI Kepala
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 sesuai dengan fasilitas  Pungsi Lumbal
yang tersedia  Manajemen
Rujuk ke PPK 3 jika komprehensif
fasilitas tidak memadai

38
4. Ensefalitis Viral  Diagnosis awal  Melakukan pemeriksaan  Pemeriksaan penunjang
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 penunjang : Darah seperti PPK 2, ditambah
lengkap, Kimia klinik, Pungsi lumbal, PCR
Serologi darah untuk HSV HSV, CMV, HHV-6, EEG
dan CMV, CT scan kepala (high voltage periodic
+ kontras spike wave dan kompleks
 Tatalaksana medis slow wave di temporal
komprehensif kasus HSV yang menunjukkan
dan VZV berikut infeksi HSV) dan MRI +
penyulitnya kontras
 Tatalaksana medis
komprehensif kasus
Rujuk PPK 3 untuk seperti di PPK 2
penanganan selanjutnya/ ditambah kasus HSV
fasilitas tidak memadai yang memerlukan terapi
intravena dan resisten
terhadap asiklovir,
Epstein Barr virus, CMV
dan HHV
5. Meningitis Bakterial Tatalaksana ABC dan Resusitasi Tatalaksana medis komprehensif  MRI Kepala
sesuai ketersediaan fasilitas  Pungsi Lumbal
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Manajemen
Rujuk ke PPK 3 bila : komprehensif
 Pasien tidak mengalami
perbaikan setelah diberi terapi
empirik selama 3-7 hari,
 Mengalami status epilepsy
 Refrakter,
 Memerlukan tindakan
definitive untuk menurunkan
TIK
 Dan atau tidak memiliki
fasilitas seperti pada PPK 3

39
6. Meningitis Tuberkulosa Tatalaksana ABC dan Resusitasi Tatalaksana medis komprehensif  MRI Kepala
sesuai ketersediaan fasilitas  Pungsi Lumbal
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Manajemen
Rujuk PPK 3 bila: komprehensif
 Penanganan selama 3-7 hari  Tatalaksana operatif
tidak membaik
 Memerlukan pemeriksaan
penunjang MRI
7. Spondilitis Tuberkulosis Tatalaksana ABC dan Resusitasi Tatalaksana medis komprehensif  MRI
sesuai ketersediaan fasilitas  Lumbal Pungsi
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Tatalaksana medis
Merujuk pada PPK 3 untuk komprehensif dan bedah
tatalaksana medis komprehensif
dan bedah

8. Rabies Tatalaksana awal di faskes Manajemen komprehensif sesuai Manajemen komprehensif
primer, dengan fasilitas yang tersedia,
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 rujuk ke

Rujuk PPK 3 jika fasilitas tidak
memadai

9. Tetanus Tatalaksana awal di faskes Manajemen komprehensif sesuai Manajemen komprehensif
primer, dengan fasilitas yang tersedia,
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 rujuk ke

Rujuk PPK 3 jika fasilitas tidak
memadai

10. Ensefalitis HIV  Diagnosis awal  Penegakan Diagnosis Manajemen komprehensif
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Merujuk pada PPK 3
11. AIDS Demensia Kompleks  Diagnosis awal  Penegakan Diagnosis Manajemen komprehensif
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Merujuk pada PPK 3
40
12. Infeksi Oportunistik HIV  Diagnosis awal  Penegakan Diagnosis Manajemen komprehensif
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Merujuk pada PPK 3
13 Myelitis transversa  Diagnosis awal Manajemen komprehensif sesuai Manajemen komprehensif
Tatalaksana emergensi dengan fasilitas yang tersedia,
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3
Rujuk ke PPK 3 jika fasilitas
tidak memadai

14 Subacute Sclerosing Pan  Diagnosis awal Manajemen komprehensif sesuai Manajemen komprehensif
Encephalitis Tatalaksana emergensi dengan fasilitas yang tersedia
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3
Rujuk ke PPK 3 jika fasilitas
tidak tersedia

Kelompok Studi Gangguan Gerak

No. Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1. Penyakit Parkinson - Skrining diagnosis dan - Diagnosis; kriteria penegakan - Diagnosis dan tatalaksana
tatalaksana kegawatan diagnosis klinis menggunakan tahap lanjut
- Menemukan kumpulan gejala kriteria UKPDS brain’s bank - Kriteria diagnosis
tremor, bradikinesia, rigiditas clinical criteria menggunakan MDS Clinical
dan ketidakseimbangan - Tatalaksana penyakit Diagnostic Criteriafor
postural parkinson awal bila ada dokter Parkinson Disease
- Merujuk ke PPK 2 spesialis saraf : farmakologis - Tatalaksana paripurna
dan non farmakologis secara multidisiplin.
- Terapi penyakit parkinson - Terapi pembedahan atas
lanjut dengan komplikasi yang indikasi dan keadaan
masih dapat diprediksi memungkinkan
- Merujuk ke PPK 3 bila
memerlukan tatalaksana
medis komprehensif
41
2. Restless Leg syndrome - Diagnosis awal - Penegakan diagnosis dan Tatalaksana medis
- Merujuk ke PPK 2 tatalaksana medis sesuai komprehensif
dengan ketersediaan fasilitas
- Merujuk ke PPK 3 bila
memerlukan tatalaksana
medis komprehensif
3. Hemifasial spasme - Diagnosis awal - Penegakan diagnosis dan Tatalaksana medis
- Merujuk ke PPK 2 tatalaksana medis sesuai komprehensif
dengan ketersediaan fasilitas
- Merujuk ke PPK 3 bila
memerlukan tatalaksana
medis komprehensif
4. TICS dan TOURETTE - Diagnosis awal - Penegakan diagnosis dan Tatalaksana medis
- Merujuk ke PPK 2 tatalaksana medis sesuai komprehensif
dengan ketersediaan fasilitas
- Merujuk ke PPK 3 bila
memerlukan tatalaksana
medis komprehensif

Kelompok Studi Neuropediatri

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1. Palsi Serebral Penegakkan diagnosis dan Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif,
diberikan penanganan awal. ketersediaan fasilitas pemeriksaan penunjang lain

Rujuk PPK 2 untuk penanganan Rujuk PPK 3 bila membutuhkan (MRI atau CT-Scan, EEG,
selanjutnya. pemeriksaan penunjang BERA)
diagnostik (MRI atau CT-Scan,
Syarat: PPK 2 memiliki dokter EEG, BERA)
spesialis saraf, spesialis anak,
rehabilitasi anak.

42
2. Autisme Diagnosis awal Penegakan diagnosis Penanganan komprehensif di
Rujuk ke PPK II untuk Tatalaksanan di PPK 2 PPK 3 (Dapat ditangani multi
penegakan diagnosis (Apabila penanganan tetap di disiplin saraf anak, dokter
PPK 2, dokter membuat surat
spesilis anak, dokter psikiater
Pasien yang sudah terdiagnosis keterangan masih dalam
perawatan) anak, dokter rehabilitasi medis,
autism dirujuk ke PPK 3 yang
psikolog dan peralatan terapi
memiliki dokter spesialis Saraf,
Rujuk PPK 3 bila : yang lengkap.)
dokter spesialis anak, dokter
Obat-obatan dan peralatan untuk
psikiatri anak dan dokter terapi kurang lengkap dirujuk ke (Apabila penanganan tetap di
rehabilitasi anak, saraf anak PPK 3 PPK 3, dokter membuat surat
keterangan masih dalam
perawatan)

3. Paraparese atau tetraparese Diagnosis awal dan merujuk ke Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif
PPK 2 ketersediaan fasilitas, (termasuk pemeriksaan
neurofisiologi, PCR , biopsi otot
Rujuk PPK ke 3 bila :
dan terapi kortikosteroid).
Penanganan sebanyak 3 kali
tidak membaik Ditangani multi disiplin dengan
dokter rehabilitasi medis dan
peralatan terapi yang lengkap.

4. Duchenne Muscular Skrining diagnosis dan merujuk Penegakkan diagnosis awal, Talaksana medis komprehensif
Dystrophy PPK2/ PPK3 untuk penegakan (termasuk pemeriksaan
diagnosis Rujuk ke PPK 3 neurofisiologi, PCR , biopsi otot
dan terapi kortikosteroid).
Bila Sudah terdiagnosis DMP, Ditangani multi disiplin dengan
rujuk PPK 3 dokter rehabilitasi medis dan
peralatan terapi yang lengkap.

43
5. Spinal Muscular Atrophy Skrining diagnosis dan merujuk Penegakkan diagnosis awal, Talaksana medis komprehensif
(SMA) PPK2/ PPK3 untuk penegakan (termasuk pemeriksaan
diagnosis Rujuk ke PPK 3 neurofisiologi, PCR , biopsi otot
dan terapi kortikosteroid).
Bila Sudah terdiagnosis SMA, Ditangani multi disiplin dengan
rujuk PPK 3 dokter rehabilitasi medis dan
peralatan terapi yang lengkap.

6. Developmental delay Skrinign diagnosis dan merujuk Penegakkan diagnosis awal, Talaksana medis komprehensif
PPK2/ PPK3 untuk penegakan
diagnosis Rujuk ke PPK 3

Bila Sudah terdiagnosis
Developmental delay,
rujuk PPK 3
7. Retardasi mental Diagnosis awal dan merujuk Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif
PPK 2 ketersediaan fasilitas.

Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik

8. Gangguan pemusatan dan Diagnosis awal Dapat Tatalaksana di PPk 2 ( RS Penanganan secara
perhatian (ADHD) mendiagnosis, kemudian Kelas C) komprehensif (Ditangani multi
merujuk PPK 2 kelas C/ PPK 3 disiplin : dokter spesialis saraf
yang mempunyai dokter spesialis Rujuk PPK 3 bila obat-obatan & anak, dokter spesilis anak,
saraf, dokter spesialis anak, peralatan untuk terapi kurang dokter psikiater anak, dokter
dokter psikiatri anak, dokter lengkap rehabilitasi medis dan peralatan
rehabilitasi anak. terapi yang lengkap).

44
9. Epilepsi pada anak Diagnosis awal Dapat Pasien ditangani oleh dokter Di PPK 3 pasien ditangani oleh
mendiagnosis epilepsi sesuai tipe Spesialis Saraf atau dokter Spesialis Saraf Anak dari
bangkitan, jika diagnosis epilepsi Spesialis Anak. Apabila pasien Departemen Neurologi atau dari
sudah ditegakkan, dapat mulai sudah diberi OAE ( Obat Anti Departemen IK. Anak.
dengan OAE (Obat Anti Epilepsi) Epilepsi) lini pertama sampai
lini pertama dan jika tidak dosis maksimal dan belum dapat Penanganan pasien sesuai
berhasil mengatasi bangkitan mengatasi bangkitan maka mulai dengan Sindrom Epilepsi yang
dengan monoterapi lini pertama, dengan OAE yang kedua, diderita pasien
maka dirujuk ke PPK 2/3 sedangkan OAE yang pertama
diturunkan bertahap

Rujuk PPK 3 bila membutuhkan
dokter spesialis saraf anak

10. Kejang Demam Sederhana Dapat mendiagnosis dan Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif,
memberikan tatalaksana. Selesai ketersediaan fasilitas pemeriksaan penunjang lain,
bila kejang tertangani. bila diperlukan.
Rujuk PPK 3 bila membutuhkan
Rujuk PPK 2 bila : tatalaksana medis komprehensif
 Tak membaik dengan obat dan memerlukan pemeriksaan
antikonvulsi penunjamg lain
 Indikasi untuk EEG
 Curiga Meningitis
 Curiga Ensefalitis
 Epilepsi
 Disertai gangguan metabolik
 Kejang atipikal dan berulang
11. Kejang Demam Kompleks Dapat mendiagnosis awal, rujuk Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif,
PPK2 ketersediaan fasilitas, pemeriksaan penunjang lain
(kejang fokal, durasi >15 penanganan sebanyak 3 kali
menit, kejang berulang dalam (MRI atau CT-Scan dan EEG)

45
24 jam) tidak membaik, rujuk ke PPK3

12. Kejang tanpa Demam Dapat mendiagnosis awal, rujuk Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif,
PPK2 ketersediaan fasilitas, pemeriksaan penunjang lain
penanganan sebanyak 3 kali
tidak membaik, rujuk ke PPK3 (MRI atau CT-Scan dan EEG)

13. Kejang interaktable Dapat mendiagnosis awal, rujuk Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif,
PPK2/ PPK 3 ketersediaan fasilitas, pemeriksaan penunjang lain
penanganan sampai dengan 2
jenis OAE secara maksimal dan (MRI atau CT-Scan dan EEG)
belum membaik, rujuk ke PPK3

14. Vertigo pada anak Dapat mendiagnosis awal, rujuk Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif,
PPK2/ PPK 3 ketersediaan fasilitas, pemeriksaan penunjang lain
penanganan sebanyak 3 kali
tidak membaik, rujuk ke PPK3 (MRI atau CT-Scan dan BERA)

15. Nyeri kepala pada anak Dapat mendiagnosis awal, rujuk Talaksana medis sesuai dengan Tatalaksana medis
PPK2 ketersediaan fasilitas, komprehensif, pemeriksaan
penanganan sebanyak 3 kali penunjang lain yang
tidak membaik, rujuk ke PPK3 mendukung (MRI atau CT Scan,
EEG atau lainnya)

16. Stroke pada anak Dapat mendiagnosis awal, rujuk Talaksana medis sesuai dengan Tatalaksana medis
PPK2/ PPK3 ketersediaan fasilitas, komprehensif, pemeriksaan
penanganan sebanyak 3 kali penunjang lain yang
tidak membaik, rujuk ke PPK3 mendukung (MRI atau CT Scan
atau DSA atau TCD),
tatalaksana interdisiplin
komprehensif dengan bagian
46
lain seperi rehabilitasi medis
atau neuro intervensi, bila
diperlukan

17. Cedera kepala pada anak Tatalaksana ABC & Resusitasi Talaksana medis dan bedah Talaksana medis dan bedah
awal, lalu rujuk PPK 2/ PPK 3 sesuai dengan ketersediaan koomprehensif
(Kasus gawat darurat fasilitas
Permenkes 856/2009)

18. Tumor otak dan tumor medula Pengenalan gejala dan tanda, Pemeriksaan pencitraan otak, Terapi pembedahan, radioterapi
spinalis pada anak rujuk ke Spesialis Saraf PPK rujuk untuk terapi pembedahan dan kemoterapi
2/3 dan kemoterapi serta radioterapi

Kelompok Studi Sleep Disorder

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1. Obstructive Sleep Apnea  Skrining diagnosis  Tatalaksana sesuai dengan Tatalaksana komprehensif
 Merujuk 3 fasilitas (farmakologi/non-
 Merujuk ke PPK 3 bila tidak farmakologi/pembedahan)
tertangani sesuai indikasi

47
2. Insomnia  Skrining Diagnosis  Tatalaksana farmakologis dan Tatalaksana interdisiplin
 Terapi non farmakologis dan non farmakologis sesuai dengan komprehensif
farmakologis Sederhana fasilitas
 Rujuk PPK 2 bila tidak  Rujuk PPK 3 bila 3 kali terapi
berespon terhadap terapi tidak membaik

Kelompok Studi Neuromuskular

Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1. Neuropati DM - Tatalaksana awal dan - Pemeriksaan penunjang - Pemeriksaan penunjang
pengenalan gejala awal oleh (pemeriksaan neurofisiologi) seperti PPK 2
dokter di layanan primer - Tatalaksana medis dengan - Tatalaksana seperti di
- Manajemen nyeri sederhana : analgetik non opioid dan PPK 2, ditambah
analgetik non opioid opioid, serta analgetik tindakan intervensi pain
adjuvan jika diperlukan serta
Rujuk PPK 2 - Penanganan interdisiplin ( terapi penunjang.
rujukan internal) - Penanganan interdisiplin,
rujukan internal
Rujuk PPK 3 bila tidak tertangani - Masuk program PRB
48
untuk kasus DM
2. Bell’s palsy Diagnosis dan tatalaksana - Pemeriksaan penunjang : EMG - Pemeriksaan penunjang
- Tatalaksana medis seperti PPK 2, ditambah MRI
komprehensif komprehensif Kepala
- Tatalaksana rehabilitasi - Tatalaksana medis
Rujuk PPK 2 bila: komprehensif
− Rujuk sesuai algoritma Rujuk PPK 3 bila memerlukan : - Tatalaksana Rehabilitasi
 Tak membaik dengan  Pemeriksaan MRI Kepala - Tindakan operasi (jika
terapi standart  Tatalaksana medis diperlukan)
 Dicurigai kelainan komprehensif
supranuklear  Tatalaksana Rehabilitasi
 Paralisis fasialis komplit  Tindakan operasi (jika
(grade V-VI skala house & diperlukan)
brackmann)
3. Myastenia gravis Skrining diagnostik, resusitasi Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif
dan tatalaksana emergensi jika ketersediaan fasilitas (tanpa IVIG (termasuk pemberian IVIG dan
diperlukan dan Plasmafaresis) lalu rujuk. Plasmafaresis)

 Rujuk PPK 2/ PPK 3 Bila terjadi krisis myastemia
rujuk PPK 3
4. Krisis myastenia Diagnosis seawal mungkin, Tatalaksana komprehensif
tatalaksana emergensi, lalu (termasuk pemberian IVIG dan
segera rujuk PPK 3 Plasmafaresis) dan
ketersediaan ICU
5. GBS Skrining diagnostic, resusitasi Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensi
dan tatalaksana emergensi jika ketersediaan fasilitas (tanpa IVIG (termasuk pemberian IVIG dan
diperlukan. dan Plasmafaresis) Plasmafaresis) dan
ketersediaan ICU
Rujuk PPK 2/PPK 3

6. Paralisis periodic Diagnosis awal Talaksana medis sesuai dengan Talaksana medis komprehensif
hipokalemia ketersediaan fasilitas,
Rujuk PPK 2/ PPK 3 yang ketersediaan ICU
memiliki dokter spesialis saraf
dan mempunyai fasilitas ICU

49
9. Carpal Thunnel Syndrome - Tatalaksana awal dan - Pemeriksaan penunjang - Talaksana medis
pengenalan gejala awal oleh (pemeriksaan neurofisiologi) komprehensif, termasuk
dokter di layanan primer - Tatalaksana medis dengan tindakan intervensi pain dan
- Manajemen nyeri sederhana : analgetik non opioid dan tindakan operatif bila
analgetik non opioid opioid, serta analgetik diperlukan
adjuvan
Rujuk PPK 2 - Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik dalam 3 kali terapi
10. Tenosinovitis de Quervain - Tatalaksana awal dan - Tatalaksana medis dengan - Talaksana medis
pengenalan gejala awal oleh analgetik non opioid dan komprehensif, termasuk
dokter di layanan primer opioid, serta analgetik tindakan intervensi pain dan
- Manajemen nyeri sederhana : adjuvan. tindakan operatif bila
analgetik non opioid - Bila dengan penanganan 3 diperlukan
- Rujuk PPK 2 kali tidak membaik, rujuk
PPK3.
11. Guyon Thunnel Syndrome - Tatalaksana awal dan - Pemeriksaan penunjang - Talaksana medis
pengenalan gejala awal oleh (pemeriksaan neurofisiologi) komprehensif, termasuk
dokter di layanan primer - Tatalaksana medis dengan tindakan intervensi pain dan
- Manajemen nyeri sederhana : analgetik non opioid dan tindakan operatif bila
analgetik non opioid opioid, serta analgetik diperlukan
- Rujuk PPK 2 adjuvan
- Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik dalam 3 kali terapi
12. Plantar Fascitis - Tatalaksana awal dan - Pemeriksaan penunjang - Talaksana medis
pengenalan gejala awal oleh (pemeriksaan neurofisiologi) komprehensif, termasuk
dokter di layanan primer - Tatalaksana medis dengan tindakan intervensi pain dan
- Manajemen nyeri sederhana : analgetik non opioid dan tindakan operatif bila
analgetik non opioid opioid, serta analgetik diperlukan
- Rujuk PPK 2 adjuvan
- Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik dalam 3 kali terapi
13. Sindroma Piriformis - Tatalaksana awal dan - Pemeriksaan penunjang - Talaksana medis
pengenalan gejala awal oleh (pemeriksaan neurofisiologi) komprehensif, termasuk

50
dokter di layanan primer - Tatalaksana medis dengan tindakan intervensi pain dan
- Manajemen nyeri sederhana : analgetik non opioid dan tindakan operatif bila
analgetik non opioid opioid, serta analgetik diperlukan
- Rujuk PPK 2 adjuvan
- Rujuk PPK 3 bila tidak
membaik dalam 3 kali terapi

Kelompok Studi Neurointensif

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 Sinkop Diagnosis dan tatalaksana awal Talaksana emergensi dan medis Talaksana emergensi dan medis
serta diagnostik sesuai dengan serta diagnostik komprehensif
Rujuk PPK 2 (apabila dijumpai ketersediaan fasilitas, sumber dan interdisipliner
sinkop karena trauma kepala, daya manusia yang memadai
hipoglikemia pada DM, epilepsi,
kardial,syok hipovolemia,
anemia;durasi sinkop >10
menit;frekuensi sinkop >3x/bulan)

2 Koma dan penurunan Diagnosis dan tatalaksana awal Talaksana emergensi dan medis Talaksana emergensi dan medis
kesadaran (ABC & Resusitasi), serta diagnostik sesuai dengan serta diagnostik komprehensif
ketersediaan fasilitas, sumber dan interdisipliner
(Permenkes 856/2009, kasus Rujuk PPK 2/ PPK 3 melalui daya manusia yang memadai
gawat darurat) UGD

51
Kelompok Studi Neurotrauma

No Diagnosis PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 Cedera kepala Tatalaksana ABC & Resusitasi Talaksana medis dan bedah Talaksana medis dan bedah
awal, rujuk (cedera kepala sesuai dengan ketersediaan koomprehensif cedera kepala
(Permenkes 856/2009, kasus ringan yaitu GCS 13– 15, dapat fasilitas,cedera kepala sedang, berat dan adanya komplikasi
gawat darurat) terjadi kehilangan kesadaran (CT Scan,bedah saraf), rujuk jika cedera kepala yaitu kejang
(pingsan ) kurang dari 30 menit tidak tersedia sarana tersebut. pasca trauma, hidrosefalus,
atau mengalami amnesia spastisitas, agitasi, gangguan
retrograde) kognitif, sindrom post kontusio)

Rujuk PPK 2/ PPK 3 melalui
UGD

2 Cedera medulla spinalis Tatalaksana ABC & Resusitasi Talaksana medis dan bedah Talaksana medis dan bedah
awal, rujuk (bedah saraf, bedah spine) sesuai komprehensif, rehabilitasi pasca
(Permenkes 856/2009, kasus dengan ketersediaan fasilitas (CT cedera medulla spinalis
gawat darurat) Rujuk PPK 2/ PPK 3 melalui Scan, MRI).
UGD

52
TELINGA HIDUNG TENGGOROK

NO DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3
TELINGA
1 a. Otitis Media Supuratif  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
Kronik klinis  Foto Rontgen ( Schuller atau  Foto Rontgen Schuller atau
 Tatalaksana di PPK 1 Stenver ) Stenver
 Rujuk ke PPK 2 bila dalam  Kultur resistensi bila tidak ada   CT Scan telinga
terapi sampai 3 kali belum rujuk PPK 3  Kultur resistensi
membaik (atau terapi selama  Tatalaksana farmakoterapi lanjutan  Pemeriksaan Oto-Mikroskopi
7 hari)  Tindakan operasi (bila ada fasilitas)  Audiometri
 Rujuk ke PPK 3 bila:  Tindakan : bedah mikro telinga
(bila ada SpTHT-KL dan 1. Komplikasi intracranial  Catatan: Kriteria rujuk balik ke
fasilitas memadai) 2. Komplikasi intratemporal PPK 2 pasca operasi setelah 3
3. Otorea menetap setelah terapi bulan terapi atau kondisi sudah
maksimal/optimal stabil (luka kering). PPK 3
4. Fasilitas tidak memadai untuk memberikan catatan selama
penanganan dan kompetensi pada perawatan.
SDM nya
 Menerima rujukan balik dari PPK
untuk terapi lanjutan setelah 3
bulan terapi pasca operasi atau
kondisi sudah stabil (luka kering).
Apabila belum membaik dan perlu
perawatan lanjutan dengan fasilitas
yang lebih memadai, di rujuk
kembali ke PPK 3 ( Untuk kontrol
rutin PPK 2 membuat surat
keterangan dalam perawatan)

53
b. Otitis Media Supuratif Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
Kronis dengan  Menerima rujukan balik dari PPK 2  Foto Rontgen Schuller atau
Penyulit atau  Rujuk PPK 3 untuk terapi lanjutan setelah 3 bulan Stenver
emergency terapi pasca operasi atau kondisi  CT Scan telinga
(granuloma/kolesteato  Bila dengan sudah stabil (luka kering).  Kultur resistensi
ma, abses, perforasi penyulit/emergency rujuk  Apabila belum membaik dan perlu  Pemeriksaan Oto-Mikroskopi
MT total/attic, langsung PPK 3 perawatan lanjutan dengan fasilitas  Audiometri
penurunan kesadaran, yang lebih memadai, kembali di  Tindakan : bedah mikro telinga
paresis facialis, nyeri rujuk ke PPK 3  Rujuk kembali ke PPK 2
kepala hebat dengan  Catatan: Kriteria rujuk balik ke
tanda2 komplikasi PPK 2 pasca operasi setelah 3
intrakranial) bulan terapi atau kondisi sudah
stabil (luka kering). PPK 3
memberikan catatan selama
perawatan. (apakah
pengembalian perawatan ke
PPK 2 bisa langsung tanpa
melalui PPK 1?)
2 Speech delayed  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
klinis  Bila tidak ada fasilitas OAE, rujuk  Pemeriksan Timpanometri
(Terlambat bicara)  Pemeriksaan pendengaran ke PPK 3  Pemeriksaan BOA
sederhana  Habilitasi dan ABD bila ada fasilitas,  Pemeriksaan Brain Evoked
 Rujuk PPK 2 (bila ada bila tidak ada fasilitas rujuk PPK 3 Respon Audiometri (BERA)
SpTHT-KL  Pemeriksaan Auditory Steady
Dan ada fasilitas OAE) State
 Bila tidak ada OAE ke PPK 3 Respon (ASSR)
(OAE = Otoacoustic Emission)  Habilitasi dan ABD, bila perlu
kandidasi Implantasi Kokhlea

54
3 Otitis eksterna  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana di PPK 1  Tatalaksana lanjutan  Tatalakasana lanjutan
 Rujuk ke PPK 2 bila dalam  Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan penunjang
terapi sampai 3 kali belum  Pembedahan bila
membaik (atau terapi selama Rujuk PPK 3 bila: memungkinkan
7 hari) (bila ada SpTHT-KL)  Dengan penyulit  Konsul ke Sp lain untuk
 Bila malignasi pelacakan Komorbid ( Rujukan
Rujuk PPK 3 bila:  Defek permanen internal)
 Ada penyulit seperti stenosis
CAE telinga dan faktor resiko
DM/penyakit sistemik
4 a. Otitis media akuta  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Penanganan di PPK 1  Tatalaksana lanjutan  Tatalakasana lanjutan
Rujuk PPK 2 bila:  Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan penunjang
 Dalam 7 hari terapi belum Rujuk PPK 3 bila :  Pembedahan bila
membaik  Dengan penyulit yang tidak dapat memungkinkan
 Ada indikasi miringotomi diatasi (Terjadi komplikasi intra  Konsul ke Sp lain untuk Co-
 OMA pada bayi dengan BB temporal dan intrakranial morbid ( Rujukan internal)
kurang (BGM) /penurunan kesadaran)
 Membrana timpani tidak
menutup lagi setelah 3 bulan
Rujuk PPK 3 bila :
Terjadi komplikasi intra temporal
dan intrakranial (penurunan
kesadaran)
b. Otitis media efusi  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
klinis  Tatalaksana lanjutan  Tatalaksana lanjutan
 Rujuk ke PPK 2 (bila ada  Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan penunjang
SpTHT-KL)  Bila fasilitas memadai, dapat  Tindakan operasi (miringotomi

55
dilakukan miringotomi/pasang dan atau pasang grommet,
grommet rekonstruksi telinga tengah)
Rujuk PPK 3 bila :
 Dengan penyulit yang tidak dapat
diatasi
5 Cerumen prop  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana di PPK 1  Tatalaksana lanjutan (operasi  Tatalaksana lanjutan (operasi
Rujuk PPK 2 apabila: dengan anestesi local atau general) dengan anestesi local atau
 dalam tatalaksana sampai 3 Rujuk PPK 3 bila : general)
kali belum membaik (atau  Dengan penyulit yang tidak dapat
terapi selama 7 hari) (bila diatasi seperti kolesteatoma,
ada SpTHT-KL dan fasilitas) granuloma, laserasi kanal berat,
 Penderita tidak kooperatif pasca operasi telinga atau MT
Rujuk PPK 3 apabila terdapat perforasi
penyulit seperti kolesteatoma,
granuloma, laserasi kanal berat,
pasca operasi telinga atau MT
perforasi
6 Ot hematom  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
(Hematoma auricular) klinis  Terapi dan tindakan operasi kalau  Pemeriksaan penunjang
 Identifikasi klinis dan perlu (baik dengan anestesi local  Tindakan mendikamentosa dan
manifestasinya. maupun general) operasi kalau perlu (baik
 Rujuk ke PPK 2  Evaluasi pasca tindakan dengan anestesi local maupun
 Rujuk PPK 3 bila ada penyulit dan general)
 Rujuk PPK 3 bila ada komplikasi  Evaluasi pasca tindakan
penyulit dan komplikasi
(cauliflower)
7 Perikondritis, kondritis  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
klinis  Terapi dan tindakan operasi kalau  Pemeriksaan penunjang

56
 Rujuk ke PPK 2 (apabila perlu (baik dengan anestesi local  Tindakan mendikamentosa dan
terdapat spesialis THT-KL maupun general) operasi kalau perlu (baik
dan fasilitas  minor set,  Evaluasi pasca tindakan dengan anestesi local maupun
ruang tindakan steril,  Rujuk PPK 3 bila ada penyulit dan general)
pemeriksaan penunjang : komplikasi  Evaluasi pasca tindakan
laboratorium.
 Rujuk PPK 3 bila ada
penyulit dan komplikasi
(cauliflower)
8 Sinus preaurikula  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
terinfeksi  Tatalaksana awal  Terapi dan tindakan operasi kalau  Pemeriksaan penunjang
(Usul masuk diagnosis  Rujuk PPK 2 apabila telah perlu (baik dengan anestesi local  Tindakan mendikamentosa dan
PPK 1) diterapi 3 kali (atau selama 7 maupun general) operasi kalau perlu (baik
hari) tidak ada perbaikan  Evaluasi pasca tindakan dengan anestesi local maupun
(apabila terdapat spesialis  Rujuk PPK 3 bila ada penyulit dan general)
THT dan fasilitas memadai) komplikasi  Evaluasi pasca tindakan
atau PPK 3
 Rujuk PPK 3 bila ada
penyulit (terbentuk abses)
dan komplikasi
9 Benda asing di telinga  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
(Kasus gawat darurat,  Tatalaksana awal  Pemeriksaan penunjang (Rontgen)  Pemeriksaan penunjang
Permenkes 856/2009)  Evakuasi corpal  Evakuasi corpal (baik local maupun (rontgen, CT scan, laboratorium)
 Rujuk PPK 2 / PPK 3 bila general)  Tindakan operatif (baik local
gagal dan menyebabkan  Evaluasi tindakan operasi sampai maupun general)
perdarahan dinyatakan aman bagi pasien  Evaluasi tindakan operasi
 Rujuk PPK 3 bila ada penyulit ( sampai dinyatakan aman bagi
contoh corpal menancap di tulang) pasien
10 TINITUS  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis

57
klinis  Pemeriksaan laboratorium dasar  Pemeriksaan laboratorium untuk
 Identifikasi klinis dan  Pemeriksaan audiometri nada murni factor resiko
manifestasinya. (bila ada)  Pemeriksaan audiometri nada
 Bukan karena cerumen prop /  Pemeriksaan Timpanometri (bila murni (bila ada)
otitis eksterna (kriteria rujuk) ada)  Pemeriksaan Timpanometri (bila
 Rujuk PPK 2 (bila terdapat  Pemeriksaan OAE (bila ada) ada)
spesialis THT dan fasilitas  Rujuk ke PPK 3 bila membutuhkan  Pemeriksaan OAE (bila ada)
memadai) pemeriksaan lebih lanjut  Pemeriksaan reflek akustik (bila
ada)
11 HEARING LOSS  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
(DEWASA) klinis  Pemeriksaan laboratorium dasar  Pemeriksaan laboratorium untuk
 Identifikasi klinis dan  Pemeriksaan audiometri nada murni factor resiko
manifestasinya. (bila ada)  Pemeriksaan audiometri nada
 Bukan karena cerumen prop /  Pemeriksaan Timpanometri (bila murni (bila ada)
otitis eksterna ada)  Pemeriksaan audiometri tutur /
 Rujuk PPK 2 (bila terdapat  Pemeriksaan OAE/ Otoacoustic Speech audiometri (bila ada)
spesialis THT dan fasilitas Emission (bila ada)  Pemeriksaan Timpanometri (bila
memadai = audiometri nada  Rujuk ke PPK 3 bila membutuhkan ada)
murni) pemeriksaan lebih lanjut  Pemeriksaan OAE (bila ada)
 Pemeriksaan reflek akustik (bila
ada)
12 Vertigo dan BPPV H.82  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Bedside Testing (dengan metode  Bedside Testing (dengan
 Penanganan fase akut manual, frenzel atau video frenzel) metode manual, frenzel atau
vertigo selama 7-10 hari  Terapi lanjutan video frenzel)
 Rujuk PPK 2 bila tidak  Rehabilitasi  Test VEMP
membaik atau terjadi  Test VHit
kekambuhan 3 kali dalam Rujuk PPK 3 apabila fasilitas tidak  Test nistagmografi
sebulan (bila ada SpTHT- memadai  Terapi lanjutan

58
KL)  Rehabilitasi, dan tindakan
operatif bila diperlukan
HIDUNG
13 Rinosinusitis akut (tanpa  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
komplikasi, misal mata)  Tatalaksana awal  Nasoendoskopi  Nasoendoskopi
(Usul diagnosis PPK 1)  Terapi sesuai pedoman di  Tatalaksana lanjutan  Kultur resistensi
PPK 1  Kultur resistensi  CT Scan Sinus Paranasal
 Rujuk PPK 2 bila tidak  Rontgen sinus ( waters,  Tindakan pembedahan lanjut
berkurang setelah terapi Caldwelluck) atau endoksopik
selama 2 minggu (bila  Tindakan bedah hidung sinus  Evaluasi pasca tindakan operasi
terdapat spesialis THT- konvensional kurang lebih maksimal 3 bulan.
KL)  Bila terdapat penyulit dan (Penanganan pasca operasi
Rinosinusitis akut dengan  Skrining tanda dan gejala komplikasi, rujuk ke PPK 3 bisa di PPK 2 setelah 1 sd 3
kecurigaan komplikasi klinis bulan)
(misal: mata)  Dengan komplikasi, langsung
rujuk ke PPK 2 (bila ada
SpTHT-KL)
 Kejadian komplikasi pada
anak-anak langsung ke PPK
3
Rinosinusitis kronis  Skrining tanda dan gejala
dengan/tanpa polip klinis
disertai penyulit  Langsung rujuk ke PPK 2
(bila terdapat SpTHT-KL)
14 Rhinitis Alergi dan  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis o Skrining tanda dan gejala klinis
Vasomotor  Tatalaksana awal  Rhinitis alergi persisten derajat o Pemeriksaan penunjang
 sedang-berat dan memerlukan (nasoendoskopi, CT Scan)
Rhinitis alergi intermiten imunoterapi  Rujuk PPK 3 o Pemeriksaan tes alergi (Skin
derajat ringan di terapi di  Rhinitis vasomotor : jika Prick Test)

59
PPK 1 selama 2 x 2 minggu. memerlukan konkotomi/neurektomi o Imunoterapi
Rujuk PPK 2 minggu (bila ada vidians  rujuk PPK 3 o Dengan penyulit, dilakukan
SpTHT-KL) bila : operasi (reseksi submkosa
 Tidak membaik selama konka inferior, posterior
2x2 Derajat sedang-berat neurektomi)
dan rhinitis alergi
persisten rujuk ke PPK 2
(bila ada SpTHT-KL) atau
PPK 3

Rhinitis vasomotor
Rujuk PPK 2 apabila:
 Tidak membaik dengan
terapi selama 7 hari (bila
ada Sp.THTKL )
 Bila terjadi komplikasi
polip nasal, sinusitis
paranasal, otitis media
15 Epistaksis (R.4)  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Tampon hidung anterior dan atau  Nasoendoskopi → mencari
 Epistaksis anterior e/c posterior sumber perdarahan
rhinitis simplek: terapi  Tampon hidung anterior dan
konservatif di PPK 1. Rujuk PPK 3 bila perdarahan tetap posterior
Rujuk PPK 2 apabila : tidak dapat teratasi  Tindakan pembedahan
 Berulang sampai 3 kali
dalam 1 bulan
 Epistaksis inferior
 Epistaksis yang
menyertai demam hari ke

60
3
Epistaksis lain  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinls
klinis  Pemeriksaan penunjang diagnostic  Nasoendoskopi → mencari
 Apabila tidak dapat  Tatalaksana epistaksis (konservatif sumber perdarahan
diidentifikasi sumber atau operasi dengan bius local atau  Tampon hidung anterior dan
perdarahan atau dengan total) posterior
penyulit (misal: tumor,  Dengan penyulit atau tidak dapat  Tindakan pembedahan
trauma, aneurisma), rujuk ke diidentifikasi, rujuk PPK 3
PPK 2 (bila ada SpTHT-KL)
atau PPK 3
16 Rhinitis akut  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Tuntas di PPK 2  Tatalaksana lanjutan
 Tuntas di PPK 1  Jika terdapat factor penyulit   Pemeriksaan penunjang
Rujuk ke PPK 2 ( bila ada rujuk PPK 3 (laboratorium, rontgen,
SpTHT-KL) apabila: endoskopi, CT scan
 Dalam 7 hari tidak ada
perbaikan
 Bila disertai tanda otitis
media akuta, sinusitis
paranasalis dan infeksi
traktus respiratorius bag
bawah

17 Benda asing di hidung  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinik
T.17 (kasus gawat  Tatalaksana awal  Bila perlu Rontgen apabila corpal awal.
darurat, permenkes  Apabila benda asing dari benda keras  Bila perlu penegakkan diagnosis
856/2009) tampak pada rinoskopi  Bila perlu lakukan dengan bius total dengan menggunakan CT scan
anterior, lakukan (GA) dan atau endoskopi
evakuasi.  Rujuk PPK 3 bila terdapat penyulit  Dilakukan evakuasi dengan GA

61
Rujuk PPK 2/PPK 3 apabila : yang tidak bisa ditangani di PPK 2  Evaluasi pasca evakuasi
 Benda asing terletak di dan terdapat komplikasi akibat
dalam/tidak tervisualisas tindakan evakuasi/eksplorasi corpal
 Gagal dilakukan evakuasi
 Ada perdarahan saat
evakuasi (dengan syarat
ada Spesialis THT-KL
dan fasilitas memadai)
Rujuk PPK 3 apabila dengan
penyulit/ emergency ( barang
organik atau komplikasi abses)
18 Furunkel pada hidung  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
J.34  Tatalaksana awal  Perlu pemeriksaan penunjang  Perlu pemeriksaan penunjang
 Rujuk PPK 2 bila dalam  Rujuk PPK 3 bila ada penyulit dan  Terapi kausatif sesuai temuan
terapi sampai 3 kali adanya komplikasi yang tidak dapat (medikamentosa dan atau
belum membaik (atau ditangani (misal deformitas, operatif)
terapi selama 7 hari)  komplikasi sistemik, curiga
(dengan syarat ada kegasanan)
Spesialis THT-KL dan
fasilitas memadai)
 Rujuk PPK 3 bila
terdapat abses,
vestibulitis dan
penyebaran infeksi
menjadi trombophlebitis
19 Influenza J.11  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Tuntas di PPK 2  Tatalaksana lanjutan
 Tuntas di PPK 1  Jika terdapat factor penyulit  rujuk  Pemeriksaan penunjang
 Rujuk ke PPK 2 jika PPK 3 (laboratorium, rontgen,

62
dalam 7 hari tidak ada endoskopi, CT scan)
perbaikan
 (pertimbangkan rujukan
ke anak/ dalam :
masukan kolegium)
MULUT –TENGGOROK-LEHER-LAIN-LAIN
20 Benda asing di esofagus  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
klinis  Bila diyakini secara klinis terdapat  Pemeriksaan penunjang
 Bila diyakini secara klinis benda asing di trakea dan atau (laboratorium, rontgen,
terdapat benda asing di bronkus  rujuk PPK 3 endoskopi, CT scan)
esofagus langsung rujuk  Tindakan operatif
PPK 3  Konsultasi dengan spesialis lain
 Evaluasi tindakan operatif
sampai dinyatakan aman bagi
pasien
21 Benda asing di Trakea  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
dan atau Bronkus klinis  Bila diyakini secara klinis terdapat  Pemeriksaan penunjang
 Bila diyakini secara klinis benda asing di trakea dan atau (laboratorium, rontgen,
terdapat benda asing di bronkus  rujuk PPK 3 endoskopi, CT scan)
trakea dan atau bronkus   Tindakan operatif
langsung rujuk PPK 3  Konsultasi dengan spesialis lain
 Evaluasi tindakan operatif
sampai dinyatakan aman bagi
pasien
22 Tumor THT dan Kepala  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
dan Leher klinis  Nasofaringoskopi  Nasofaringoskopi
a. Karsinoma Nasofaring  Rujuk ke PPK 2/3 untuk  Biopsi, FNAB  FNAB
b. Karsinoma Sinonasal penegakkan diagnosis  Rujuk ke PPK 3 untuk penanganan  Biopsi dengan endoskopi (lokal
c. Karsinoma Laring  Rujuk PPK 3 bila dengan selanjutnya (operasi, kemoterapi, anestesi)

63
d. Tumor di leher penyulit/emergency (sesak radioterapi)  Operasi dengan endoskopi
e. Tumor lidah dan nafas, perdarahan, kesulitan  Terdapat penyulit/emergensi yang  Operasi kasus dengan penyulit
rongga mulut menelan, kenaikan tekanan tidak dapat ditangani langsung  Radiotherapi
f. Tumor telinga intrakranial, timbul abses rujuk PPK 3  Kemotherapi
g. Tumor kelenjar liur  Menerima rujukan balik dari PPK 3  Kontrol setelah tindakan 6 bulan
h. Massa Leher untuk evaluasi dan monitoring pertama
setelah dilakukan terapi lengkap
23 Tonsilitis J.03  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Terapi simptomatik dan antibiotik  Pemeriksaan penunjang
 Terapi simptomatik dan oral  Biopsi atau tonsilektomi intoto
antibiotik oral bila  Pemeriksaan penunjang sesuai indikasi
diperlukan  Tindakan tonsilektomi sesuai  Atasi penyulit dengan konsultasi
 Bila tidak sembuh dalam indikasi spesialis lain
7-10 hari, demam tidak  Bila terdapat penyulit (kelainan
dapat diatasi, sulit atau darah, obesitas, sleep apneu,
tidak bisa menelan, deformitas maksilofacial), curiga
kambuh > 3x dalam 1 th keganasan, kelainan jantung/darah
atau terdapat tanda-tanda rujuk  PPK 3
kronis (hipertrofi
persisten, muara kripte
melebar, detritus,
halitosis)  rujuk PPK 2
(Bila ada spesialis THT-
KL dan fasilitas memadai)
atau PPK 3
25 Laringitis J.04  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Pemeriksaan laringoskopi indirek  Pemeriksaan endoskopi laring
 Rujuk PPK 2 (bila ada  Pemeriksaan penunjang rigid maupun fleksibel
SpTHT-KL)  Pemeriksaan penunjang lain

64
 bila tidak membaik (3 kali Rujuk PPK 3 bila terdapat penyulit  Direk laringoskopi
terapi atau selama 7 hari) (kecurigaan keganasan, gangguan  Biopsi jika diperlukan (anestesi
atau ada gejala sumbatan jalan nafas) local atau general)
jalan nafas atas  Terapi adekuat (medikamentosa
 Laringitis kronis dan atau operatif)
 Rehabilitasi jika diperlukan
26 Faringitis J.02  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Swab orofaring dan kultur  Swab orofaring dan kultur
 Penanganan di PPK 1 sensitivitas kuman (bila fasilitas sensitivitas kuman
Rujuk PPK 2 apabila : tersedia)  Pemeriksaan penunjang lain
 Terapi sampai 3 kali  Terapi simptomatik dan antibiotik  Evaluasi dengan endoskop
belum membaik (atau sesuai kultur  Pelacakan factor etiologi dan
terapi selama 7 hari)  Pemeriksaan penunjang yang tidak predisposisi, dan kemungkinan
 Terjadi Komplikasi: ada fasilitas  rujuk PPK 3 kondisi imunocompromized
epiglotitis, abses  Tindakan kauterisasi orofaring bila  Terapi kausatif sesuai temuan
peritonsiler, abses diperlukan  Tindakan kauterisasi orofaring
retrofaringeal, septikemia, Rujuk PPK 3 bila : bila diperlukan
meningitis,  Pemeriksaan penunjang yang tidak
glomerulonefritis, demam ada fasilitas
rematik akut (sesak  Terdapat kecurigaan kondisi
nafas, penurunan imunocompromized
kesadaran, nyeri telan
berat)
 Merupakan Faringitis
luetika
27 Candidiasis mulut B.37  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Perlu pemeriksaan penunjang  Tindakan diagnostic dan
 Rujuk PPK 2/ PPK 3 bila (rontgen, swab tenggorok, pelacakan etiologi (rontgen,
diterapi 3 kali (selama 7 laboratorium, dll) swab tenggorok, endoskopi, CT

65
hari) belum membaik  Rujuk PPK 3 bila ada penyulit atau scan)
 Rujuk PPK 3 bila penyakit komorbid lain yang  Terapi medikamentosa dan atau
terdiagnosis ada penyulit memberatkan pembedahan
seperti imunokompromise
28 Parotitis B.26  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
klinis Penegakan diagnosis  Rujuk PPK 3 bila dengan penyulit (  Terapi medikamentosa sesuai
 Tatalaksana awal parotitis dgn komplikasi atau kausa
 Rujuk PPK 2 bila dalam terapi dengan akibat kelainan sistemik dan  Bila kondisi pasien membaik
sampai 3 kali belum membaik tidak dapat ditangani di PPK 2 dan memerlukan terapi lanjutan
(atau terapi selama 7 hari) yang dapat dilakukan di PPK 1
 dikembalikan ke PPK 1
 Rujuk langsung PPK 2/PPK 3
bila dengan penyulit ( parotitis
dgn komplikasi/abses atau
dengan akibat kelainan
sistemik)
29 Gangguan menelan/  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
disfagia klinis (reflek menelan, muntah, fungsi  Penegakan diagnosis dan
(permenkes 856/20109)  Identifikasi etiologi dan menelan fase oral-faringeal- pelacakan etiologi dengan
manifestasi klinis esofagus) esofagografi, endoskopi, CT
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Pemeriksaan esofagografi scan
melalui IGD  Konsultasi dengan Spesialis lain  Dilakukan tindakan medis bila
 Bila dapat diketahui bahwa  Rujuk PPK 3 bila tidak dapat terdapat obstruksi mekanik
kelainan diakibatkan oleh ditangani  FEES (Functional Endoscopic
defek intracranial/neurologis for Evaluation of Swallowing)
 rujuk sejawat Spesialis  Bekerja sama dengan spesialis
Saraf lain (misal Saraf, Bedah Saraf
dan Rehabilitasi Medik)
 Apabila kondisi pasien membaik

66
dan dapat dilakukan terapi
lanjutan di PPK 2 atau PPK 1,
dikembalikan untuk terapi
lanjutan
30 Limfadenitis  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Pemeriksaan penunjang (AJH,  Pemeriksaan penunjang
 Rujuk PPK 2 (bila laboratorium, rontgen) (laboratorium, Rontgen, CT
terdapat spesialis THT-  Terapi lanjutan scan, endoskopi)
KL) bila 3 kali terapi  Rujuk PPK 3 bila ada penyulit dan  Skrining keganasan
(selama 7 hari), tidak ada komplikasi yang tidak bisa diatas  Terapi lanjutan dan pelacakan
perbaikan etiologi
 Rujuk langsung PPK 2/  Tindakan operatif kalau perlu
PPK 3 Bila ada penyulit  Evaluasi pasca tindakan
dan komplikasi lain
(abses, kecurigaan
keganasan)
31 Ulkus mulut  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
 Tatalaksana awal  Perlu pemeriksaan penunjang  Tindakan diagnostic dan
 Pelacakan etiologi dan (rontgen, swab tenggorok, pelacakan etiologi (rontgen,
terapi awal laboratorium, dll) swab tenggorok, endoskopi, CT
 Rujuk PPK 2 (Bila ada  Konsultasi dengan spesialis lain scan)
spesialis THT-KL dan  Rujuk PPK 3 bila ada penyulit dan  Terapi medikamentosa atau
fasilitas memadai bila adanya komplikasi yang tidak dapat pembedahan
diterapi 3 kali (selama 1 ditangani  Konsultasi dengan spesialis lain
minggu) belum membaik  Bila kondisi pasien membaik
 Rujuk langsung ke PPK dan memerlukan terapi lanjutan
3 bila ada penyulit atau yang dapat dilakukan di PPK 1
diketahui adanya  dikembalikan ke PPK 1
komplikasi(gangguan

67
menelan berat, sepsis)
32 Refluks  Penegakan diagnosis  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
ekstragastroesofageal/  Tatalaksana awal  Perlu pemeriksaan penunjang bila  Tindakan diagnostik dengan alat
Refluks laringofaring  Pemberian terapi awal: fasilitas memadai (misal endoskopi, /pemeriksaan penunjang
(RLF) PPI dan identifikasi fator swab tenggorok)  Evaluasi factor penyulit kalau
risiko.  Melacak etiologi yang lain ada
 Rujuk PPK 2 (Bila ada  Konsultasi dengan spesialis lain  Evaluasi terapi dengan alat
spesialis THT-KL)apabila  Rujuk PPK 3 bila kondisi pasien penunjang
dalam 3 kali terapi memburuk dan terdapat penyulit  Konsultasi dengan spesialis lain
(selama 1 minggu) tidak yang tidak bisa diatasi oleh PPK 2  Bila kondisi pasien membaik
ada perbaikian sama dan memerlukan terapi lanjutan
sekali  Bila kondisi pasien membaik dan yang dapat dilakukan di PPK 1
 Pasien dikembalikan ke memerlukan terapi lanjutan yang  dikembalikan ke PPK1 untuk
PPK1 apabila kondisi dapat dilakukan di PPK 1  lanjutan terapi dari PPK3
umum membaik dan dikembalikan ke PPK1 untuk
masih memerlukan terapi lanjutan terapi dari PPK2
lanjutan yang diberikan
oleh PPK2/3
33 Fraktur di bidang THT  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
- fraktur OS nasale klinis  Terapi dan tindakan operasi kalau  Pemeriksaan diagnostik dengan
- fraktur maksila  Identifikasi klinis dan perlu (baik dengan anestesi local alat/pemeriksaan penunjang
- fraktur zygoma manifestasinya maupun general)  Evaluasi faktor penyulit atau
- fraktur naso-orbita-  Rujuk PPK 2/ PPK 3 Rujuk PPK 3 bila : komplikasi serta kegawatan
ethmoid  Rujuk langsung ke PPK 3  Evaluasi pasca tindakan, bila ada yang ada
- fraktur frontal bila ada fraktur komplek penyulit dan komplikasi, infeksi  Terapi dan tindakan operasi
- fraktur mandibula maksilofacial dan mandibula serta kegawatan yg tdk dpt diatasi kalau perlu (baik dengan
- multifraktur rujuk di PPK 2 anestesi local maupun general)
 Fasilitas tidak memadai atau tdk  Konsultasi dengan spesialis lain
kompeten (atau rujukan horisontal)  Evaluasi pasca tindakan

68
 Bila kondisi pasien membaik
Bila kondisi pasien membaik dan dan memerlukan terapi lanjutan
memerlukan terapi lanjutan yang dapat yang dapat dilakukan di PPK
dilakukan di PPK 1  dikembalikan ke 1/2 dikembalikan ke PPK1/2
PPK1 untuk lanjutan terapi untuk lanjutan terapi
34 Vulnus di bidang THT  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
(Permenkes 856/209 klinis  Terapi dan tindakan operasi kalau  Pemeriksaan diagnostik dengan
kasus gawat darurat)  Lakukan perawatan luka perlu (baik dengan anestesi local alat/pemeriksaan penunjang
sesuai kompetensi dan maupun general)  Evaluasi faktor penyulit atau
manajemen terapi di PPK 1  Evaluasi pasca tindakan, bila ada komplikasi serta kegawatan
 Bila ada vulnus penyulit dan komplikasi, infeksi yang ada
luas/kompleks, penyulit, serta kegawatan yg tdk dpt diatasi  Terapi dan tindakan operasi
komplikasi, infeksi serta di PPK 2 rujuk ke PPK 3 kalau perlu (baik dengan
kegawatan  rujuk PPK 2  Rujuk ke PPK 3 bila fasilitas tdk anestesi local maupun general)
(bila ada Spesialis THT-KL) memadai atau tidak kompeten  Evaluasi pasca tindakan
atau PPK 3 melalui UGD  Bila kondisi pasien membaik
 Bila kondisi pasien membaik dan dan memerlukan terapi lanjutan
memerlukan terapi lanjutan yang yang dapat dilakukan di PPK
dapat dilakukan di PPK 1  1/2 dikembalikan ke PPK1/2
dikembalikan ke PPK1 untuk untuk lanjutan terapi
lanjutan terapi
35 Abses di bidang THT  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
(dapat berupa abses klinis  Perlu pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan penunjang
submandibula,  Apabila sudah menjadi abses (rontgen, laboratorium, swab (laboratorium, rontgen, swab
peritonsiller, parafaring leher  rujuk ke PPK 2 / tenggorok) tenggorok, endoskopi, CT scan)
retrofaring, dan leher PPK 3  Lakukan incisi dan eksplorasi  Tindakan medikamentosa dan
dalam) sederhana operatif
Rujuk langsung PPK 3 bila :  Evaluasi pasca operasi
 Ada penyulit dan komplikasi Rujuk PPK 3 bila:  Perlu konsultasi dengan

69
(penurunan kesedaran, sesak  Abses leher dalam spesialias lain
nafas, sepsis)  Ada penyulit dan komplikasi (sesak  Bila kondisi pasien stabil dan
nafas, gangguan menelan, DM, tidak memerlukan tindakan di
deficit neurologis) PPK3, terapi dapat dilakukan di
PPK1,  dikembalikan ke PPK1
36 Benda asing di tenggorok  Skrining tanda dan gejala  Skrining tanda dan gejala klinis  Skrining tanda dan gejala klinis
klinis  Pemeriksaan penunjang (Rontgen)  Pemeriksaan penunjang
 Bila diyakini secara klinis  Evakuasi corpal (baik local maupun (rontgen, CT scan, laboratorium)
terdapat benda asing di general)  Tindakan operatif (baik local
hipofaring dan valekula   Evaluasi tindakan operasi sampai maupun general)
rujuk ke PPK 2 / PPK 3 dinyatakan aman bagi pasien  Konsultasi dengan spesialis lain
 Rujuk PPK 3 bila ada penyulit  Evaluasi tindakan operasi
sampai dinyatakan aman bagi
pasien

Catatan Rujukan:
- Apabila ada tambahan diagnosis dengan kronis, dapat di rujuk langsung ke PPK 2 (bila ada spesialis THT-KL) atau PPK 3

70
MATA

NO DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3
1. KONJUNGTIVITIS DIAGNOSIS PENGOBATAN PENGOBATAN
- Bakteri  Mata merah, gatal, berair  Memberiksan pengobatan dengan  Pemeriksaan mikrobiologi dan
- Virus dengan sekret dapat mukoid, antibiotik spektrum luas atau test sensitivitas antibiotik dari
- Iritasi mukopurulen atau purulen antibiotik tertentu sesuai dengan apus konjungtiva
- Alergi  Tanpa penurunan visus gejala klinis jika dicurigai  Melakukan pengobatan dengan
- Vernalis penyebabnya infeksi antibiotik spektrum luas
- SJS (Steven Johnson PENGOBATAN/ TATA  Bila tidak ada perbaikan, terjadi dilanjutkan dengan atibiotik
Syndrome) LAKSANA AWAL DI PPK 1 perburukan atau terjadi komplikasi sesuai dengan hasil sensitivitas
- GO lain dalam 1 bulan, pasien dirujuk  Jika penyebabkan curiga suatu
Rujuk ke PPK 2/PPK 3 bila: ke PPK 3 kelainan imunologis, dilakukan
 Bila tidak tidak ada perbaikan pelacakan kemungkinan
dan atau terjadi komplikasi kelainan imunologis dan
pada kornea, segera rujuK tatalaksana dengan spesialisasi
 Bila tidak ada perbaikan lain (kulit, penyakit dalam, anak,
dengan terapi dalam 1 dll.)
minggu pada konjungtivitis  Rujuk balik ke PPK perujuk bila
bakteri, 2 minggu pada sudah tertangani
konjungtivitis virus dan alergi,
 Bila ada kecurigaan
konjungtivitis GO (rujuk
segera)
2 KERATITIS DAN ULKUS DIAGNOSIS PENGOBATAN PENGOBATAN
KORNEA  Mata merah  Melakukan pengobatan dengan  Pemeriksaan mikrobiologi dan
 Visus turun antibiotik spektrum luas atau test sensitivitas antibiotik dari
 Terasa nyeri berdasarkan pemeriksaan klinis apus konjungtiva
 Fotofobia  Rujuk ke PPK 3 apabila  Melakukan pengobatan dengan
 Bercak putih pada kornea didapatkan : antibiotik spektrum luas
 Ulkus kornea yang terjadi pada dilanjutkan dengan atibiotik
PENGOBATAN/ TATA pasien yang hanya mempunyai sesuai dengan hasil sensitivitas
LAKSANA AWAL di PPK 1 satu mata  Melakukan graft konjungtiva
 Ulkus kornea pada anak-anak maupun transplantasi membran
71
Segera rujuk ke PPK 2 /PPK 3  Adanya kecen- derungan untuk amnion jika terdapat ancaman
apabila : perforasi dan desmetocele perforasi kornea
 Tajam penglihatan awal  Kecurigaan ulkus kornea jamur,  Melakukan tindakan keratoplasti
buruk atau menurun setelah tetapi tidak mempunyai fasilitas pada kasus ulkus kornea yang
3 hari pengobatan pemeriksaan langsung KOH 10% sudah tenang dengan
 Tampak lesi putih (infiltrat) di atau pewarnaan jamur lainnya. kekeruhan kornea persisten.
kornea  Tidak didapatnya kemajuan terapi
setelah 3 hari pengobatan (ulkus  Rujuk kembali ke PPK perujuk
kornea bakteri) atau 7 hari apabila penyakit sudah
pengobatan (ulkus kornea jamur). tertangani

 Follow up pasien setelah ditangani
di PPK 3
3 GLAUKOMA KRONIS DIAGNOSIS PENGOBATAN PENGOBATAN
Gejala dan tanda glaukoma  Glaukoma sudut terbuka primer  Medikamentosa
kronis: (POAG):  Tatalaksana bedah:
 Seringkali tanpa gejala  Medikamentosa  Laser perifer iridotomy (LPI)
 Tajam penglihatan masih  Trabekulektomi  Iridektomi
baik  Glaukoma sekunder:  Trabekulektomi
 Penyempitan lapang  Medikamentosa  Trabekulotomi
pandang (pada glaukoma  Iridektomi perifer  Trabekuloplasty
berat lapang pandang seperti  Trabekulektomi  Glaucoma implants
terowongan)  Bedah katarak/ ekstraksi lensa.  Cyclocryoterapy
 Glaukoma sudut tertutup kronis
 Sakit kepala ringan
(CACG)  Evaluasi terapi dan progresifitas
 Pada glaukoma berat reflek  Medikamentosa glaukoma (OCT RNFL+ONH
cahaya di pupil lambat dan  Trabekulektomi dan Perimetri)
pupil mid dilatasi Rujuk ke PPK 3 apabila:  Rujuk kembali ke PPK perujuk
 Mempunyai faktor risiko  Tekanan bola mata tidak dapat apabila tekanan bola mata
glaukoma: turun/turun tidak mencapai target sudah mencapai target atau
atau tertangani
 Berusia di atas 40 tahun
 Jika terjadi progresifitas penyakit
 Memiliki riwayat keluarga

72
penderita glaukoma
 Memiliki riwayat tekanan
bola mata tinggi
 Penderita myopia
(kacamata minus) dan
hippermetropia (kacamata
plus) yang tinggi
 Memliki riwayat penyakit
diabetes, hipertensi,
migraine, jantung.
 Pemakai obat steroid
dalam jangka waktu lama
 Pernah mengalami trauma
mata

PENGOBATAN/
TATALAKSANA AWAL:
 Analgetik jika terasa sakit
kepala

Rujuk ke PPK 2 atau 3

4 KATARAK PADA DIAGNOSIS DINI/ PENGOBATAN PENGOBATAN
PENDERITA DEWASA PENGENALAN GEJALA DAN  Penatalaksanaan bersifat non
TANDA bedah, dimana pasien dengan virus Penatalaksanaan bersifat
lebih dari 6/12 diberikan kacamata bedah, jika visus sudah
Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 dengan koreksi terbaik. mengganggu untuk melakukan
 Jika visus kurang dari 6/12 atau kegiatan sehari-hari berkaitan
sudah mengganggu untuk dengan pekerjaan pasien atau ada
melakukan kegiatan sehari-hari indikasi lain untuk operasi dapat
berkaitan dengan pekerjaan pasien dilakukan ekstraksi lenda dengan

73
atau ada indikasi lain dapat implantasi iol (ecce+iol, sics+iol,
dilakukan operasi ekstraksi lensa phacoemulsfiikasi+iol)
dan implantasi intra ocular (IOL)
lens (ECCE+iol, SICS+IOL atau
Phacoemulsifikasi+ IOL)

Rujuk PPK 3 apabila :
Katarak patologis (katarak komplikata,
katarak trumatika, subluksasi lensa)

5 PTERYGIUM DIAGNOSIS DINI/ PENGOBATAN PENGOBATAN
PENGENALAN GEJALA DAN
TANDA Pada pterygium derajat 3 dan 4, Penatalaksanaan pada fasilitas
dilakukan tindakan bedah berupa tersier bersifat bedah dengan
PENATALAKSANAAN ektirpasi pterygium dengan bare untuk mengurangi rekurensi
 Penatalaksanaan bersifat sclera, flap atau graft konjungtiva. pterygium dengan cangkok
non bedah,. konjungtiva auto graft pada mata
 Pada pterygium derajat 1-2 Rujuk PPK 3 apabila: yang sama atau sebelahnya
yang mengalami inflamasi, Pterygium dengan risiko rekurensi dengan fibrin glue graft atau jahit
pasien dapat diberikan obat tinggi dapat graft.
tetes mata kombinasi
antibiotic dan steroid Rujuk kembali ke PPK perujuk
apabila pasien sudah tertangani.
Rujuk PPK 2/ PPK 3:
 Pterygium derajat 2 dengan
inflamasi berulang atau
dengan keluhan mengganjal
 Pterygium derajat 3 dan 4
6 KELAINAN REFRAKSI DIAGNOSIS DINI/ PENGOBATAN PENGOBATAN
PADA ANAK DIAGNOSIS DINI/
PENGENALAN GEJALA DAN Koresi kelainan refraksi pada semua  Penatalaksanaan amblipio dan
TANDA kelompok harus berdasarkan akomodatif esotropia
pertimbangan : besarnya kelainan  Koreksi (tindakan)sisa esotropia
74
Pemeriksaan visus rekraksi cukup mengganggu aktivitas: pada kasus akomodatif
kemampuan akomodasi pasien :. esotropia setelah koreksi kaca
Rujuk ke PPK 2 / PPK 3 Kebutuhan tajam penlihatan sesuai mata diberikan
umur; resiko yang timbul akibat adanya  Pemeriksaan dengan streak
kelainan refraksi. retinoskop dan dikonsulkan ke
bagian pediatrik oftalmologi dan
Rujuk ke PPK 3 bila dijumpai retina
amblyopia, mata juling, high myop,
astigmatisma tinggi, tidak dapat Rujuk kembali ke PPK 2 apabila
dikoreksi penuh atau low vision sudah tertangani.

7 STRABISMUS DIAGNOSIS DINI/ PENGOBATAN/ TATALAKSANA PENGOBATAN/ TATALAKSANA
PENGENALAN GEJALA DAN
TANDA  Pemeriksaan visus dilakukan sesuai  Pemeriksaan visus dilakukan
 Bila terdapat kelainan rekraksi, sesuai
Pemeriksaan visus koreksi dengan kaca mata yang  Bila dengan koreksi kelainan
sesuai refraksi, tetap ekstropia,
Rujuk ke PPK 2/ PPK 3  Bila terdapat ambliopia, lakukan lakukan operasi.
terapi ambliopia dengan patching  Jenis operasi yang dilakukan
mata yang dominan dengan terlebih disesuaikan dengan diagnosis
dahulu koreksi kelainan refraksi. dan pola deviasi yang ada dan
 Bila dengan pemberian kaca mata keadaan visus masing-masing
tidak ada perbaikan pada mata.
deviasinya maka dirujuk ke  Bila tipe Divergence Excess
fasilitas kesehatan tertier / PPK 3 dapat dilakukan reses rektus
untuk dilakukan penatalaksanaan lateral pada kedua mata.
selanjutnya.  Bila tipe Basic dan bila visus
salah satu mata tidak baik,
dapat dilakukan reses –resek
pada mata yang tidakk
dominan atau yang visusnya
lebih buruk
 Bila tipe convergence
insufficiency dapat dilakukan
75
resek rektus medieus.

Rujuk kembali ke PPK 2 apabila
sudah tertangani.

8 TUMOR ORBITA DIAGNOSIS DINI/ PENEGAKAN DIAGNOSIS PENEGAKAN DIAGNOSIS
PENGENALAN GEJALA DAN - Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi :
TANDA - Pemeriksaan PA - Ultrasonografi :
PENGOBATAN/TATALAKSANA - CT-scan
DIAGNOSIS  Jika dicurigai tumor jinak dan - Pemeriksaan MRI
Gejala: diagnosis dibuat pseudotumor - Pemeriksaan patologi anatom
 Dengan atau tanpa dapat diberikan pengobatan steroid
penurunan penglihatan oral, seperti prednisone dosis PENGOBATAN
 Dengan atau tanpa tinggal 12-16 tablet (12mg  Jika dicurigai tumor jinak dan
penglihatan dobel perKgBB) setiap hari selama dua diagnosis dibuat pseudotumor
 Gangguan gerak bola mata minggu, kemudian diturunkan dapat diberikan pengobatan
 Pergeseran atau penonjolan secara bertahap. Jika tidak berhasil steroid oral,. Jika tidak berhasil
bola mata sebaiknya dirujuk untuk ekspolari dapat diberikan sitostatika
lanjut. single agent seperti
PENATALAKSANAAN  Pada tumor epitel adneksa, chlorambucil dengan
Rujuk PPK 2/PPK 3 berukuran kecil dan diduga jinak, pengawasan ahli hematologi.
dapat dilakukan ekstripasi dengan  Pada tumor yang lebih luas,
meninggalkan jaringan sehat.Pada eksisi dengan rekonstruksi.
tumor epitel yang dicurigai ganas Pada tumor yang lanjut dan
dapat dilakukan eksisi dengan telah berinvasi ke orbita
memperhatikan jaringan sehat yang dilakukan tindakan
ditinggalkan. pembedahan radikal
 Pemeriksaan dilanjutkan dengan eksenterasi orbita.
pemeriksaan patologi jaringan  Pengobatan tambahan radiasi
tumor. atau sitostatika dapat diberikan.
 Lakukan biopsy insisi untuk Pada tumor konjungtiva,
pemeriksaan patologi pada tumor karsinoma sel skuamosa
orbita baik jinak, ganas maupun stadium 1 setelah ektirpasi
metastase tumor dapat dilanjutkan dengan
76
pemberian sitostatika local
Rujuk PPK 3 bila : seperti tetes mata mitomycin.
 Jika diagnosis meragukan, Pemeriksaan patologi jaringan
sebaiknya dirujuk. tumor harus dilakukan.
 Jika meragukan melakukan  Pembedahan, jenis
tindakan, terutama pada tumor pembedahan sesuai dengan
orbita, baik jinak, ganas ataupun lokasi dan jenis tumor.
metastasis/invasi. Pemberian terapi tambahan
 Memerlukan tindakan radiasi dan sitostatika dapat
pembedahan, radiasi, ataupun diberikan sesuai kebutuhan dan
sitostatika. sesuai dengan patogenesa
jenis tumor, dengan kerjasama
antar disiplin ilmu.

Rujuk kembali ke PPK 2 apabila
sudah tertangani.
9 RETINOPATI DIABETIKA DIAGNOSIS DINI/ PENGOBATAN PENGOBATAN
PENGENALAN GEJALA DAN
TANDA  Pasien DM tanpa retinopati  Fundus Fluorocence
diabetika atau retinopati diabetika Angiography (FFA), dilakukan
DIAGNOSIS: stadium non-proliferative (NPDR) apabila ada indikasi.
Semua penderita diabetes memerlukan evaluasi retina 1 tahun  USG, bila terdapat kekeruhan
mellitus memerlukan sekali. media dan fundus tidak tembus.
pemeriksaan retina (screening  Pasien dengan retinopati diabetika  Pasien dengan retinopati
retinopati diabetika) karena bisa stadium non proliferative (NPDR) diabetika non-proliferative
dengan atau tanpa keluhan sedang dievaluasi retinaya 3-6 (NPDR) stadium berat atau
gangguan penglihatan. bulan sekali. proliferative (PDR) dilakukan
 Pasien dengan NPDR berat, yaitu terapi fotokoagulasi laser.
apabila ditemukan salah satu  Pasien dengan retinopati
PENATALAKSANAAN: dibawah ini dapat dilakukan diabetika non-proliferative
 Penatalaksanaan diabetes tindakan terapi laser fotokoagulasi (NPDR) atau proliferative (PDR)
mellitus pan retina jika memiliki fasilitas semua stadium dengan edema
 Penatalaksanaan hipertensi tersebut makula dilakukan terapi laser
dan hiperkolesterol jika  Pendarahan intra retina 4 focal/grid atau injeksi
77
menyertai kwadran injtravitreal Anti-VEGF atau
 Pelebaran vena 2 kwadran Triamcinolone acetonide.
Pasien dirujuk ke PPK 2 /PPK 3  Intra retina mikrovaskular  Operasi vitrektomi dilakukan
untuk dilakukan screening, abnormalism (IRMA) 1 kwadran apabila terdapat pendarahan
grading serta tatalaksana  Pasein retinopati diabetika non- vitreus, pertumbuhan jaringan
retinopati diabetika. proliferative (NPDR) semua stadium fibrovaskular di retina,
dengan edema makula yang persistent mascular edema dan
ditegakkan berdasarkan ablasio retina traksional.
pemeriksaan klinis (CSME/Clinical
significant macular edema), atau Dirujuk kembali ke PPK 2 jika
berdasarkan pemeriksaan kondisi mata dianggap stabil dalam
penunjang Optical Coherence 3 bulan paska terapi terakhir atau
Tomography (OCT) dapat dilakukan apabila tatalaksana sudah
tindakan injeksi intravitreal Anti- maksimal atau kondisi mata dan
VEGF atau Triamcinolone pasien tidak operabel.
acetonide atau laser fokal/grid jika
memiliki fasilitas tersebut. Apabila
tidak memiliki fasilitas tersebut
pasien dirujuk ke pelayanan
kesehatan tersier.
 Apabila ditemukan katarak yang
mempersulit evalusi segmen
poeterior, dapat dilakukan operasi,
dengan penjelasan akan prognosis
penglihatan dan kemungkinan
retinopati bertambah berat setelah
operasi.
 Melakukan follow-up paska
tindakan retina.

Rujuk PPK 3 apabila :
 Tidak memiliki fasilitas terapi
laser fotokoagulasi pan retina

78
 Tidak memiliki fasilitas untuk
injeksi intravitreal Anti-VEGF
atau Triamcinolone acetonide
atau laser fokal/grid
 Pasien dengan Proliferative
Diabetic Retinopathy (PDR),
yaitu dengan adanya pendarahan
vitreus dan pertumbuhan jaringan
fibrovaskular di vitreus,

 Dirujuk kembali ke PPK 1 untuk
penatalaksanaan diabetes dan
hipertensi jika kondisi mata dianggap
stabil dalam 6 bulan paska terapi
terakhir dan apabila tatalaksana mata
sudah maksimal.
10 RETINA LEPAS DIAGNOSIS DINI/ PENEGAKAN DIAGNOSIS PENGOBATAN
(RETINAL PENGENALAN GEJALA DAN Melakukan tindakan sesuai
DETACHMENT/ ABLASIO TANDA PEMERIKSAAN: dengan tipe retina lepas dan
RETINA) Dengan oftalmoskop direk/indirek komplikasinya.
DIAGNOSIS ditemukan retina yang mengalami  Pada ablasio retina
Gejala klinis: ablasi akan bergerak bebas pada rhegmatogen akut
1. Fotopsia, yaitu perasaan pergerakan bola mata kecuali pada mengancam yang macula,
melihat kilatan cahaya kasus proliferative vitreoretinopati operasi dilakukan secepatnya,
2. Floaters, yaitu gerakan (PVR) yang berat. sedangkan yang kronik dapat
kekeruhan vitreus yang dapat dioperasi dalam waktu 1
dilihat bila bayangannya jatuh di PENATALAKSANAAN minggu.
atas retina Rujuk ke PPK 3 untuk tatalaksana  Jenis operasi (sclera buckling
3. Defek lapang pandang lebih lanjut. atau vitektomi atau kombinasi
sampai penurunan tajam  Follow-up paska tindakan retina. keduanya) tergantung kondisi
penglihatan yang disebabkan  Dirujuk kembali ke PPK 1 apabila yang ditemukan pre-operative.
perluasan cairan subretina dari retina stabil 6 bulan paska tindakan Jenis tamponade apakah
ekuator ke polus posterior retina, atau apabila tindakan retina minyak silikon atau gas
posterior dan dilihat pasien sudah maksimal. intraokular ditentukan oleh
79
seperti tirai hitam keadaan yang ditemukan pre-
operative, durante operasi,
PENATALAKSANAAN kondisi mata sebelahnya dan
Rujuk ke PPK 2 / PPK 3 mobilitas penderita.
 Ablasio retina tipe exudativa
memerlukan pengobatan
sesuai dengan penyakit yang
mendasari.

Dirujuk kembali ke PPK 2 jika:
 kondisi mata dianggap stabil
dalam 3 bulan paska terapi
terakhir
 atau apabila tatalaksana sudah
maksimal
 atau kondisi mata/ pasien tidak
operabel.

80
PSIKIATRI

No DIAGNOSA PPK 1 PPK 2 PPK 3
.
1. GANGGUAN MENTAL ORGANIK
A Demensia Skrining Skrining Skrining
Diagnosa Diagnosa Diagnosa
Penanganan awal gaduh Penanganan awal dan lanjutan gaduh Penanganan awal dan lanjutan gaduh
gelisah gelisah gelisah
Penanganan awal gejala Penanganan awal dan lanjutan gejala Penanganan awal dan lanjutan gejala
perasaan dan perilaku perasaan dan perilaku yang berisiko perasaan dan perilaku yang berisiko
yang tidak berisiko membahayakan diri sendiri dan membahayakan diri sendiri dan
membahayakan diri sendiri lingkungannya lingkungannya
dan lingkungannya Pengelolaan demensia dengan kondisi: Pengelolaan demensia dengan
Bila kehilangan daya ingat mendadak kondisi:
Rujuk ke PPK 2/3 atau agitasi tak terkendali Bila kehilangan daya ingat mendadak
Demensia akibat penyakit fisik yang atau agitasi tak terkendali
Tatalaksana pasca rujuk memerlukan pengobatan spesialistik Demensia akibat penyakit fisik yang
balik (misal sifilis, hematoma subdural dll) memerlukan pengobatan spesialistik
 Komunikasi, informasi Penatalaksanaan rawat jalan paska (misal sifilis, hematoma subdural dll)
dan edukasi rawat inap pada fase stabilisasi dam Penatalaksanaan rawat jalan paska
 Rehabilitasi masyarakat maintenance rawat inap pada fase stabilisasi dam
Konseling dan psikoterapi maintenance
Konseling dan psikoterapi
(Bila masih membutuhkan perawatan (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) medikamentosa)
B Delirium Skrining Skrining Skrining
Diagnosa Diagnosa Diagnosa
Penanganan awal gaduh Penanganan awal dan lanjutan gaduh Penanganan awal dan lanjutan gaduh
gelisah gelisah gelisah
Penanganan awal gejala Penanganan awal dan lanjutan gejala Penanganan awal dan lanjutan gejala
perasaan dan perilaku perasaan dan perilaku yang berisiko perasaan dan perilaku yang berisiko
81
yang tidak berisiko membahayakan diri sendiri dan membahayakan diri sendiri dan
membahayakan diri sendiri lingkungannya lingkungannya
dan lingkungannya Pengelolaan delirium dengan kondisi: Pengelolaan delirium dengan kondisi:
Bila kehilangan daya ingat mendadak Bila kehilangan daya ingat mendadak
Rujuk PPK 2/ PPK 3: atau agitasi tak terkendali atau agitasi tak terkendali
Delirium akibat penyakit fisik yang Demensia akibat penyakit fisik yang
Tatalaksana pasca rujuk memerlukan pengobatan spesialistik memerlukan pengobatan spesialistik
balik (misal intoksikasi atau putus alkohol (misal intoksikasi atau putus alkohol
 Komunikasi, informasi atau zat/obat lain, infeksi berat, atau zat/obat lain, infeksi berat,
dan edukasi perubahan metabolik, trauma berat dan perubahan metabolik, trauma berat
hipoksiadll) dan hipoksiadll)
. Penatalaksanaan rawat jalan paska Penatalaksanaan rawat jalan paska
rawat inap pada fase stabilisasi dam rawat inap pada fase stabilisasi dam
maintenance maintenance
Konseling dan psikoterapi Konseling dan psikoterapi

((Bila masih membutuhkan perawatan (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) medikamentosa)

2.
A Gangguan Mental dan Skrining Skrining Skrining
Perilaku akibat Penyalah Diagnosa awal Diagnosa Diagnosa
gunaan zat psikoaktif Penangan awal gaduh Penangan lanjutan gaduh gelisah Penangan lanjutan gelisah
gelisah Penanganan awal dan lanjutan gejala Penanganan awal dan lanjutan gejala
Penanganan awal gejala putus zat putus zat
putus zat Penanganan awal gejala psikiatrik yang Penanganan awal gejala psikiatrik
Penanganan awal gejala menyertai yang menyertai
psikiatrik yang menyertai Penanganan lanjutan pada: Rujuk bila:
Kondisi akut Kondisi akut tidak tertangani
Rujuk ke PPK 2/PPK 3 Ada gangguan pikiran, perasaan dan Ada gangguan pikiran, perasaan dan
bila: perilaku yang berisiko membahayakan perilaku yang berisiko membahayakan
diri sendiri dan orang lain diri sendiri dan orang lain
82
Komorbiditas dengan penyakit fisik dan Komorbiditas dengan penyakit fisik dan
gangguan jiwa berat gangguan jiwa berat
Komunikasi, informasi dan edukasi Komunikasi, informasi dan edukasi
Terapi substitusi Memerlukan rehabilitasi
Penanganan kondisi akut akibat putus Memerlukan terapi substitusi
zat
Rehabilitasi (bagi PPK 2 yang memiliki (Bila masih membutuhkan perawatan
sarana/prasarana rehabilitasi) dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi
(Bila masih membutuhkan perawatan medikamentosa)
dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa)

3 SKIZOFRENIA, GANGGUAN SKIZOTIPAL, GANGGUAN WAHAM DAN GANGGUAN SKIZOAFEKTIF
A Skizofrenia, Gangguan Skrining Skrining Skrining
Skizotipal, Gangguan Diagnosa awal Diagnosa Diagnosa awal
Waham Penanganan awal gaduh Penanganan lanjutan gaduh gelisah Penanganan awal gaduh gelisah
gelisah Penatalaksanaan farmakologi pada fase Penatalaksanaan farmakologi pada
Penatalaksanaan akut, stabilisasi dan maintenance fase akut, stabilisasi dan maintenance
farmakologi pada fase Penanganan Penanganan :
akut, stabilisasi dan -Gaduh gelisah yang tidak terkendali -Gaduh gelisah tidak terkendali
maintenance -Ada risiko membahayakan diri sendiri -Ada risiko membahayakan diri sendiri
dan orang lain dan orang lain
Rujuk PPK 2/PPK 3 bila: -Respon terapi tidak adekuat setelah -Respon terapi tidak adekuat setelah
diterapi 2 minggu diterapi 2 minggu
-Komorbiditas dengan gangguan fisik -Komorbiditas dengan gangguan fisik
Tatalaksana pasca rujuk dan gangguanpsikiatri berat lainnya dan gangguanpsikiatri berat lainnya
balik -Komunikasi, informasi dan edukasi -Komunikasi, informasi dan edukasi
-Rujuk ke PPK2/3 pada -Konseling individu keluarga -Konselingindividu keluarga
bulan ke 4 ( bila obat ada -Psikoterapi -Psikoterapi
di apotik PRB). Program Rujuk Balik -Intervensi perilaku
-Komunikasi, informasi dan - Intervensi psikososial
edukasi -Rehabilitasi
83
-Konseling keluarga

B Gangguan Skizoafektif Skrining Skrining Skrining
Diagnosa awal Diagnosa Diagnosa awal
Penanganan awal gaduh Penanganan lanjutan gaduh gelisah Penanganan awal gaduh gelisah
gelisah Penatalaksanaan farmakologi pada fase Penatalaksanaan farmakologi pada
Penatalaksanaan akut, stabilisasi dan maintenance fase akut, stabilisasi dan maintenance
farmakologi pada fase Penanganan Penanganan :
akut, stabilisasi dan -Gaduh gelisah yang tidak terkendali -Gaduh gelisah tidak terkendali
maintenance -Ada risiko membahayakan diri sendiri -Ada risiko membahayakan diri sendiri
dan orang lain dan orang lain
Rujuk PPK 2/ PPK 3 : -Respon terapi tidak adekuat setelah -Respon terapi tidak adekuat setelah
diterapi 2 minggu diterapi 2 minggu
Tatalaksana pasca rujuk -Komorbiditas dengan gangguan fisik -Komorbiditas dengan gangguan fisik
balik dan gangguanpsikiatri berat lainnya dan gangguanpsikiatri berat lainnya
-Komunikasi, informasi dan -Komunikasi, informasi dan edukasi -Komunikasi, informasi dan edukasi
edukasi -Konseling individu keluarga -Konselingindividu keluarga
-Konseling keluarga -Psikoterapi -Psikoterapi
-Intervensi perilaku
(Bila masih membutuhkan perawatan - Intervensi psikososial
dapat menggunakan surat keterangan -Rehabilitasi
dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa)

4. GANGGUAN SUASANA PERASAAN
A Episode depresif Skrining Skrining Skrining
Diagnosa Diagnosa Diagnosa
Penatalaksanaan Penatalaksanaan farmakoterapi dan Penatalaksanaan farmakoterapi dan
farmakoterapi dan non non farmakoterapi (komunikasi, non farmakoterapi (komunikasi,
farmakoterapi (komunikasi, informasi dan edukasi). informasi dan edukasi).
informasi dan edukasi) Penanganan lanjutan rujukan dari PPK Penanganan lanjutan rujukan dari PPK
84
Rujuk PPK 2/ PPK 3: 1 2
 Respon terapi tidak adekuat setelah 2  Respon terapi tidak
Tatalaksana pasca rujuk minggu  Depresi sedang-berat dengan
balik  Depresi sedang-berat dengan komorbiditas penyakit kronik yang
- Komunikasi, informasi komorbiditas penyakit kronik yang berisiko membahayakan diri sendiri
dan edukasi berisiko membahayakan diri sendiri dan lingkungan
-Konseling keluarga dan lingkungan  Depresi berat dengan gejala psikotik
 Depresi berat dengan gejala psikotik  Depresi berat dengan ide dan
 Depresi berat dengan ide dan percobaan bunuh diri
percobaan bunuh diri Psikoterapi
Psikoterapi Terapikelompok

(Bila masih membutuhkan perawatan (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) medikamentosa)
B Episode manik Skrining Skrining Skrining
Diagnosa Diagnosa Diagnosa
Penatalaksanaan awal Penatalaksanaan lanjutan gaduh Penatalaksanaan lanjutan gaduh
gaduh gelisah gelisah Penatalaksanaan farmakoterapi gelisah
Penatalaksanaan dan non farmakoterapi (komunikasi, Penatalaksanaan farmakoterapi dan
farmakoterapi dan non informasi dan edukasi). non farmakoterapi (komunikasi,
farmakoterapi (komunikasi, Penanganan lanjutan rujukan dari PPK informasi dan edukasi).
informasi dan edukasi) 1 Penanganan lanjutan rujukan dari PPK
selama 2 minggu  Respon terapi tidak adekuat setelah 2 2
Rujuk PPK 2/ PPK 3 minggu  Respon terapi tidak adekuat
 Mania sedang- dengan komorbiditas  Mania sedang- dengan
Tatalaksana pasca rujuk dengan gejala psikotik dan penyakit komorbiditas dengan gejala psikotik
balik kronik yang berisiko membahayakan dan penyakit kronik yang berisiko
- Komunikasi, informasi diri sendiri dan lingkungan membahayakan diri sendiri dan
dan edukasi  Mania dengan ide membahayak an lingkungan
-Konseling keluarga diri sendiri dan lingkungan  Mania dengan ide membahayak an
Psikoterapi diri sendiri dan lingkungan

85
 Psikoterapi
(Bila masih membutuhkan perawatan  Intervensi perilaku
dapat menggunakan surat keterangan  Intervensi psikososial
dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa)
C Gangguan afektif bipolar Skrining Skrining Skrining
Diagnosa Diagnosa Diagnosa
Penatalaksanaan awal Penatalaksanaan lanjutan gaduh Penatalaksanaan lanjutan gaduh
gaduh gelisah gelisah Penatalaksanaan farmakoterapi gelisah
Penatalaksanaan dan non farmakoterapi (komunikasi, Penatalaksanaan farmakoterapi dan
farmakoterapi dan non informasi dan edukasi). non farmakoterapi (komunikasi,
farmakoterapi (komunikasi, Penanganan lanjutan rujukan dari PPK informasi dan edukasi).
informasi dan edukasi) 1 Penanganan lanjutan rujukan dari PPK
selama 2 minggu  Respon terapi tidak adekuat setelah 2 2
Rujuk PPK 2/PPK 3: minggu  Respon terapi tidak adekuat
 Mania sedang- dengan komorbiditas  Mania sedang- dengan
Tatalaksana pasca rujuk dengan gejala psikotik dan penyakit komorbiditas dengan gejala psikotik
balik kronik yang berisiko membahayakan dan penyakit kronik yang berisiko
- Komunikasi, informasi diri sendiri dan lingkungan membahayakan diri sendiri dan
dan edukasi  Mania dengan ide membahayak an lingkungan
-Konseling keluarga diri sendiri dan lingkungan  Mania dengan ide membahayak an
Psikoterapi diri sendiri dan lingkungan
 Psikoterapi
(Bila masih membutuhkan perawatan  Intervensi perilaku
dapat menggunakan surat keterangan  Intervensi psikososial
dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa)
86
5. GANGGUAN NEUROTIK, GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN STRES
A Gangguan Panik -Skrining -Skrining -Skrining
- Gangguan -Diagnosa -Diagnosa -Diagnosa
panik tanpa agorafobia -Penatalaksanaan awal -penatalaksanaan lanjutan kondisi akut -penatalaksanaan lanjutan kondisi akut
- Gangguan panik dengan kondisi akut -Penatalaksanaan lanjutan -Penatalaksanaan lanjutan
agorafobia - Rujuk PPK 2/PPK 3 farmakoterapi - -serangan panik berat farmakoterapi - -serangan panik berat
- Agorafobia tanpa riwayat dan berulang dan berulang
gangguan panik -Konseling -Konseling
-Psikoterapi -Psikoterapi

(Bila masih membutuhkan perawatan (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) medikamentosa)
B Gangguan Ansietas Skrining Skrining Skrining
Menyeluruh Diagnosa Diagnosa Diagnosa
Penatalaksanaan awal Penatalaksanaan awal dan lanjutan Penatalaksanaan awal dan lanjutan
kondisi akut kondisi akut kondisi akut
Pemberian farmakoterapi, Pemberian farmakoterapi Pemberian farmakoterapi
evaluasi tiap dua minggu Komorbiditas dengan penyakit fisik dan Komorbiditas dengan penyakit fisik dan
gangguan jiwa berat lainnya gangguan jiwa berat lainnya
Rujuk PPK 2/PPK 3: Komunikasi, informasi dan edukasi Komunikasi, informasi dan edukasi
Konseling individu dan keluarga Konseling individu dan keluarga
Tatalaksana pasca rujuk Psikoterapi Psikoterapi
balik
- Komunikasi, informasi (Bila masih membutuhkan perawatan (Bila masih membutuhkan perawatan
dan edukasi dapat menggunakan surat keterangan dapat menggunakan surat keterangan
-Konseling keluarga dalam perawatan untuk terapi dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) medikamentosa)
C Gangguan Obsesif -Skrining -Skrining -Skrining
Kompulsif -Diagnosa -Diagnosa -Diagnosa
-Penatalaksanaan awal -penatalaksanaan lanjutan kondisi akut -penatalaksanaan lanjutan kondisi akut
kondisi akut -Penatalaksanaan lanjutan -Penatalaksanaan lanjutan
-Rujuk PPK 2/PPK 3 farmakoterapi - farmakoterapi -
87
-Konseling -Konseling
-Psikoterapi -Psikoterapi
(surat keterangan dalam perawatan)

D Gangguan Stres Pasca -Skrining -Skrining -Skrining
Trauma -Diagnosa -Diagnosa -Diagnosa
-Penatalaksanaan awal -penatalaksanaan lanjutan kondisi akut -penatalaksanaan lanjutan kondisi akut
kondisi akut -Penatalaksanaan lanjutan -Penatalaksanaan lanjutan
-Rujuk PPK 2/ PPK 3 farmakoterapi - farmakoterapi -
-Konseling -Konseling
-Psikoterapi -Psikoterapi

(Bila masih membutuhkan perawatan (Bila masih membutuhkan perawatan
dapat menggunakan surat keterangan dapat menggunakan surat keterangan
dalam perawatan untuk terapi dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) medikamentosa)
6. SINDROM PERILAKU Skrining Skrining Skrining
YANG BERHUBUNGAN Diagnosa Diagnosa Diagnosa
DENGAN GANGGUAN Penangan awal kondisi Penangan awal kondisi akut Penangan awal kondisi akut
FISIOLOGIK DAN FAKTOR akut Farmakoterapi komorbiditas dengan Farmakoterapi komorbiditas dengan
FISIK Farmakoterapi evaluasi penyakit fisik kronik dan gangguan jiwa penyakit fisik kronik dan gangguan
setiap dua minggu lain yang berisiko membahayakan diri jiwa lain yang berisiko membahayakan
dan lingkungan rujuk diri dan lingkungan rujuk
Rujuk PPK 2 / PPK 3 : -Komunikasi informasi dan edukasi -Komunikasi informasi dan edukasi
-Konseling -Konseling
Tatalaksana pasca rujuk -Psikoterapi -Psikoterapi
balik
 Komunikasi informasi (Bila masih membutuhkan perawatan (Bila masih membutuhkan perawatan
dan edukasi dapat menggunakan surat keterangan dapat menggunakan surat keterangan
 Konseling dalam perawatan untuk terapi dalam perawatan untuk terapi
medikamentosa) medikamentosa)
7. GANGGUAN Skrining Skrining Skrining
KEPRIBADIAN DAN Diagnosa Diagnosa Diagnosa
PERILAKU MASA Rujuk PPK 2/PPK 3 Konseling Konseling
88
DEWASA Psikoterapi Psikoterapi
8. RETARDASI MENTAL Skrining Skrinig Skrinig
Diagnosa awal Diagnosa awal Diagnosa awal
Pengelolaan farmakologi berdasarkan Pengelolaan farmakologi berdasarkan
Rujuk PPK 2/PPK 3 bila simptom simptom
ada gangguan pikiran, Terapi keluarga Terapi keluarga
perasaan dan perilaku Konseling Konseling
Psikoterapi Psikoterapi
9. GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK
A Gangguan autistik Non farmakologik
- Skrining - Skrining - Konseling orang tua
- Rujuk PPK 2/PPK 3 - Diagnosis - Psikoedukasi keluarga
- Terapi perilaku
Non farmakologik - Terapi okupasi
- Konseling orang tua - Terapi wicara
- Psikoedukasi keluarga
(surat keterangan dalam perawatan)

10 GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET MASA KANAK DAN REMAJA
.
A Gangguan pemusatan Penatalaksanaan lanjutan
perhatian dan hiperaktivitas - Skrining - Skrining
- Rujuk PPK 2/ PPK 3 - Diagnosis
Gangguan tempertantrum
Penatalaksanaan
Gangguan depresi

Gangguan cemas

Gangguan akibat
persaingan antar saudara

Gangguan kelekatan reaktif

89
Gangguan enuresis

Gangguan enkoperesis

Gangguan makan

Gangguan gagap

Gangguan tidur

90
PENGELOLAAN PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

NO DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3
KULIT
1. Candidiasis Kutis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simtomatis dan  Pemeriksaan penunjang:  Dokumentasi fotografi (bila
kausatif (antijamur) pemeriksaan mikroskopis tersedia fasilitas)
 Edukasi  Tatalaksana simtomatis dan etiologis  Pemeriksaan penunjang:
 Rujuk PPK 2 bila tidak (antijamur) o Pemeriksaan mikroskopis
membaik dalam 2 minggu atau  Edukasi o Kultur jamur bila perlu
terdapat komplikasi atau pada  Rujuk PPK 3 bila tidak membaik  Tatalaksana simtomatis dan
pasien imunokompromais (bila dalam 2 minggu terapi dan muncul etiologis (antijamur)
ada SpKK dan fasilitas) komplikasi lain atau pada pasien  Edukasi
imunokompromais  Jika membaik rujuk kembali ke
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK PPK 2
1
2. Candidiasis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
Mukosa  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Pemeriksaan penunjang:  Pemeriksaan penunjang:  Dokumentasi fotografi (bila
pemeriksaan mikroskopis pemeriksaan mikroskopis tersedia fasilitas)
 Tatalaksana simtomatis dan  Tatalaksana simtomatis dan etiologis  Pemeriksaan penunjang :
kausatif (terapi antifungal) (antijamur) o Pemeriksaan mikroskopis
 Edukasi  Edukasi o Kultur jamur bila perlu
 Rujuk PPK 2 bila tidak  Rujuk PPK 3 bila tidak membaik  Tatalaksana simtomatis dan
membaik dalam 2 minggu atau dalam 2 minggu terapi dan muncul etiologis (anti jamur)
terdapat komplikasi atau pada komplikasi lain atau pada pasien  Edukasi
pasien imunokompromais (bila imunokompromais  Jika membaik rujuk kembali ke
ada SpKK dan fasilitas)  Jika membaik rujuk kembali ke PPK PPK 2
1
3. Candidiasis kuku  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
91
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Edukasi:  Pemeriksaan penunjang :  Dokumentasi fotografi (bila
o Pemutusan rantai o Pemeriksaan mikroskopis tersedia fasilitas)
penularan  Tatalaksana simtomatis dan etiologis  Pemeriksaan penunjang :
o Jaga kelembaban (anti jamur) o Pemeriksaan mikroskopis
o Hindari faktor predisposisi  Edukasi: o Kultur jamur
o Pemutusan rantai o Tata cara pemakaian obat o Biopsi kuku bila perlu
penularan o Jaga kelembaban  Tatalaksana simtomatis dan
 Langsung rujuk ke PPK 2 o Hindari faktor predisposisi etiologis (anti jamur)
(bila ada SpKK dan fasilitas) o Pemutusan rantai penularan  Edukasi:
atau PPK 3  Rujuk ke PPK 3 o Tata cara pemakaian obat
o untuk kultur jamur o Jaga kelembaban
o tidak membaik dalam 12 minggu o Hindari faktor predisposisi
pengobatan o Pemutusan rantai penularan
 Jika membaik rujuk kembali ke
PPK 2
4. Cutaneous larva  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
migran  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simtomatis dan  Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan penunjang
etiologis (antiparasit) pemeriksaan mikroskopis (bila o pemeriksaan mikroskopis (bila
 Edukasi diperlukan) diperlukan)
 Rujuk PPK 2 bila tidak  Tatalaksana simtomatis dan o biopsi kulit bila diperlukan
membaik dalam 1 minggu etiologis (anti parasit), dan infeksi  Tatalaksana simtomatis, etiologis
atau terjadi komplikasi atau sekunder bila ada (anti parasit ), dan infeksi
pada pasien  Edukasi sekunder
imunokompromais (bila ada  Rujuk PPK 3 bila tidak membaik  Edukasi
SpKK dan fasilitas) atau dalam 2 minggu dan muncul
PPK 3 komplikasi lain maka
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK
1

92
5. Filariasis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
status dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simtomatis  Pemeriksaan penunjang darah tepi  Pemeriksaan penunjang darah
dan kausatif (obat untuk mengetahui adanya infeksi tepi untuk mengetahui adanya
antifilaria) cacing infeksi cacing dan pemeriksaan
 Edukasi :  Tatalaksana simtomatis dan kausatif sediaan daran untuk mendeteksi
o Mencegah gigitan (obat antifilaria) adanya mikrofilaria
nyamuk  Edukasi :  Tatalaksana simptomatis dan
o Pemberantasan o Mencegah gigitan nyamuk kausatif (obat antifilaria)
nyamuk dewasa o Pemberantasan nyamuk dewasa  Edukasi :
o Pemberantasan o Pemberantasan jentik nyamuk o Mencegah gigitan nyamuk
jentik nyamuk  Rujuk PPK 3 bila dibutuhkan o Pemberantasan nyamuk
 Rujuk PPK 2 bila dibutuhkan pengobatan operatif atau bila gejala dewasa
pengobatan operatif atau bila tidak membaik dengan pengobatan o Pemberantasan jentik nyamuk
gejala tidak membaik dengan dan bila terjadi komplikasi  Jika sudah membaik rujuk
pengobatan konservatif (bila  Jika membaik rujuk kembali ke PPK kembali ke PPK 2
ada SpKK dan fasilitas) atau 1
PPK 3
6. Pediculosis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simptomatis  Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan penunjang
(anti pruritus), etiologi (terapi (pemeriksaan mikroskopis) (pemeriksaan mikroskopis /
pedikulosid)  Tatalaksana simptomatis (anti dermoskopi)
 Edukasi pruritus), etiologis (terapi  Tatalaksana simptomatis (anti
 Rujuk PPK 2 jika terjadi pedikulosid), dan infeksi sekunder pruritus), etiologis (terapi
infestasi kronis dan tidak  Edukasi pedikulosid), dan infeksi
sensitive terhadap terapi  Rujuk PPK 3 jika terjadi infestasi sekunder
yang diberikan atau terjadi kronis dan tidak sensitive terhadap  Edukasi
infeksi sekunder atau pada terapi yang diberikan
pasien dengan  Jika membaik rujuk kembali ke PPK
imunokompromais 1
93
7. Scabies  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simptomatis (anti  Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan penunjang
pruritus), etiologi (anti (pemeriksaan mikroskopis) (pemeriksaan mikroskopis /
scabies), dan linen.  Tatalaksana simptomatis (anti dermoskopi)
 Edukasi pruritus), etiologis (anti scabies),  Tatalaksana simptomatis (anti
 Rujuk PPK 2 jika tidak dan infeksi sekunder serta pruritus), etiologis (anti scabies),
membaik dalam 2x terapi dan tatalaksana linen dan infeksi sekunder serta
muncul komplikasi maka  Edukasi tatalaksana linen
 Rujuk PPK 3 bila Norwegian  Edukasi
Scabies
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK
1

8. Reaksi gigitan  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
serangga (DKI  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
toksik) dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simptomatis  Tatalaksana dengan prinsip  Tatalaksana dengan prinsip
 Edukasi mengurangi pruritus, menekan mengurangi pruritus, menekan
 Rujuk jika rekalsitran atau inflamasi, dan menjaga hidrasi kulit inflamasi, dan menjaga hidrasi
Reaksi berat (angioedema /  Identifikasi dan eliminasi bahan iritan kulit
anafilaktik) ke PPK 2 (bila ada tersangka  Identifikasi dan eliminasi bahan
SpKK dan fasilitas) atau PPK  Pemeriksaan penunjang: Uji temple iritan tersangka
3 bila diperlukan  Pemeriksaan penunjang: Uji
 Edukasi temple bila diperlukan
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Edukasi
1
 Jika tidak membaik atau rekalsitran
rujuk ke PPK 3
9. Dermatitis kontak  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
iritan  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
94
 Tatalaksana simtomatis  Tatalaksana dengan prinsip  Tatalaksana dengan prinsip
 Edukasi mengurangi pruritus, menekan mengurangi pruritus, menekan
 Rujuk ke PPK 2 jika inflamasi, dan menjaga hidrasi kulit inflamasi, dan menjaga hidrasi
rekalsitran  Identifikasi dan eliminasi bahan iritan kulit
tersangka  Identifikasi dan eliminasi bahan
 Pemeriksaan penunjang: Uji tempel iritan tersangka
bila diperlukan (bila tersedia fasilitas)  Pemeriksaan penunjang: Uji
 Edukasi tempel bila diperlukan
 Rujuk PPK 3 jika tidak membaik  Edukasi
atau rekalsitran  JIika sudah membaik rujuk
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK kembali ke PPK 2
1
10. Dermatitis kontak  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
alergi  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Rujuk ke PPK 2 atau PPK 3  Tatalaksana dengan prinsip  Tatalaksana dengan prinsip
mengurangi pruritus, menekan mengurangi pruritus, menekan
inflamasi, dan menjaga hidrasi kulit inflamasi, dan menjaga hidrasi
 Identifikasi dan eliminasi bahan iritan kulit
tersangka  Identifikasi dan eliminasi bahan
 Pemeriksaan penunjang: Uji tempel iritan tersangka
bila diperlukan (bila tersedia fasilitas)  Pemeriksaan penunjang: Uji
 Edukasi tempel bila diperlukan
 Rujuk PPK 3 bila tidak membaik  Edukasi
atau rekalsitran  JIika sudah membaik rujuk
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK kembali ke PPK 2
1
11. Dermatitis atopik  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simptomatis  Tatalaksana dengan prinsip  Tatalaksana dengan prinsip
 Edukasi mengurangi pruritus, menekan mengurangi pruritus, menekan
 Rujuk PPK 2 jika tidak inflamasi, dan menjaga hidrasi kulit inflamasi, dan menjaga hidrasi
95
membaik selama 2 minggu  Pemeriksaan penunjang: Uji tempel kulit
terapi atau rekalsitran bila diperlukan (bila ada)  Pemeriksaan penunjang: Uji
 Edukasi tempel bila diperlukan
 Rujuk PPK 3 jika membutuhkan  Psikoterapi (konsultasi)
fototerapi atau imunoterapi  Edukasi
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Jika sudah membaik rujuk
1 kembali ke PPK 2
12. Dermatitis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
numularis  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status
dermatovenerologis dermatovenerologis dermatovenerologis
 Tatalaksana simptomatis  Tatalaksana dengan prinsip  Tatalaksana dengan prinsip
 Edukasi mengurangi pruritus, menekan mengurangi pruritus, menekan
 Rujuk PPK 2 jika dalam 2 kali inflamasi, dan menjaga hidrasi kulit inflamasi, dan menjaga hidrasi
pengobatan tidak ada  Pemeriksaan penunjang: Uji tempel kulit
penyembuhan dan muncul bila diperlukan  Pemeriksaan penunjang: Uji
komplikasi  Edukasi tempel bila diperlukan
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Konsultasi multidisiplin jika perlu
1  Edukasi
 Rujuk PPK 3 jika tidak membaik
atau muncul komplikasi
13. Morbili  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV dan tanda Koplik Spot dan tanda Koplik Spot dan tanda Koplik Spot
 Pemeriksaan penunjang:  Pemeriksaan penunjang:  Pemeriksaan penunjang:
o Pemeriksaan darah o Pemeriksaan darah o Pemeriksaan darah
 Tatalaksana komprehesif o Pemeriksaan serologi o Pemeriksaan serologi
 Edukasi  Tatalaksana komprehesif  Evaluasi pengobatan
 Rujuk PPK 2/ PPK 3 jika ada  Edukasi  Tatalaksana komprehesif
komplikasi atau untuk kasus  Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Edukasi
pada bayi dan geriatri atau 1
pasien immunokompromais  Rujuk ke PPK 3 jika ada komplikasi
atau memerlukan penanganan
lanjutan
96
14. Varisela  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Tatalaksana komprehesif  Pemeriksan sitology Tzanck
 Tatalaksana komprehesif  Rawat untuk kasus tertentu Smear
 Edukasi  Edukasi  Dokumentasi fotografi (bila
 Rujuk PPK 2/ PPK 3 jika ada  Jika membaik rujuk kembali ke PPK tersedia)
komplikasi atau untuk kasus 1  Tatalaksana komprehesif
pada bayi atau geriatri atau  Rujuk ke PPK 3 jika untuk kasus  Rawat untuk kasus tertentu
pasien immunokompromais berat yang membutuhkan terapi  Edukasi
antiviral intravena
15. Herpes Simpleks  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang:  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana komprehesif o Pemeriksaan mikroskopik tersedia)
 Edukasi  Tatalaksana komprehesif  Pemeriksaan penunjang:
 Rujuk ke PPK 2/ PPK 3 jika  Konsultasi dan rawat bersama o Pemeriksaan mikroskopik
ada komplikasi atau pasien multidisiplin bila perlu o Serologis (bila ada)
bayi dan geriatri atau pasien  Edukasi  Tatalaksana komprehesif
imunokompromais  Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Konsultasi dan rawat bersama
1 multidisiplin bila perlu
 Rujuk ke PPK 3 jika terjadi  Edukasi
komplikasi dan tidak ada perbaikan
16. Impetigo/  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
impetigo ulseratif  Pemeriksaan fisik dan  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
status DV  Dilakukan pemeriksaan  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana komprehesif penunjang tersedia)
 Edukasi  Tatalaksana komprehesif  Dilakukan pemeriksaan
 Rujuk ke PPK 2 jika ada  Rawat inap sesuai indikasi untuk penunjang
komplikasi, tidak membaik erysipelas, selulitis, flegmon  Evaluasi pengobatan dan
dalam 1 minggu, dan  Edukasi sensitivitas tes
dalam keadaan komorbid  Jika membaik rujuk kembali ke  Tatalaksana komprehesif
(bila ada SpKK dan PPK 1  Rawat inap sesuai indikasi untuk

97
fasilitas) atau PPK 3  Rujuk ke PPK 3 jika ada erysipelas, selulitis, flegmon
komplikasi, tidak membaik  Edukasi
dengan pengobatan, dan dalam
keadaan komorbid, memerlukan
kultur
17. Folikulitis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
Superficialis,  Pemeriksaan fisik dan  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
Furunkel, status DV  Pemeriksaan penunjang (jika  Dokumentasi fotografi (bila
Karbunkel  Pemeriksaan penunjang perlu): tersedia)
(jika perlu dan fasilitas o Pemeriksaan mikroskopis  Pemeriksaan penunjang (jika
memadai): o Kultur dan resistensi dari perlu):
o Pemeriksaan mikroskopis spesimen lesi o Pemeriksaan mikroskopis
 Tatalaksana sesuai  Tatalaksana sesuai etiologi o Kultur dan resistensi dari
etiologi  Edukasi specimen lesi
 Edukasi  Jika membaik rujuk kembali ke o Kultur dan resistensi darah bila
Rujuk ke PPK 2 (bila ada PPK 1 diduga bakteremia
SpKK dan fasilitas) atau PPK  Rujuk PPK 3 bila kasus berat  Evaluasi pengobatan
3 jika : dan memerlukan kultur  Tatalaksana sesuai etiologi
 Ada komplikasi (erisipelas,  Edukasi
sellulitis, ulkus, limfangitis,
limfadenitis supuratif,
bakteriemia (sepsis))
 Tidak membaik dalam 1
minggu, dan dalam
keadaan komorbid
18. Lepra  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
status DV  Pemeriksaan penunjang:  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana komprehesif o Pemeriksaan slit skin smear tersedia)
 Edukasi o Pemeriksaan mikroskopik  Pemeriksaan penunjang:
 Rujuk ke PPK 2 (bila ada  Tatalaksana komprehesif o Pemeriksaan slit skin smear
SpKK dan fasilitas)  Edukasi o Pemeriksaan mikroskopik
 Rujuk PPK 3 jika terdapat  Jika membaik rujuk kembali ke o Biopsy
98
efek samping obat yang PPK 1  Evaluasi pengobatan
serius, terdapat reaksi  Rujuk ke PPK 3 jika terdapat  Tatalaksana komprehesif
kusta, dan komplikasi relaps atau rekuren  Edukasi

19. Tinea  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan Penunjang:  Dokumentasi fotografi (bila
 Pemeriksaan Penunjang: o Pemeriksaan mikroskopis tersedia)
Pemeriksaan mikroskopis o Pemeriksaan Lampu Wood (bila  Pemeriksaan Penunjang:
 Tatalaksana simptomatis dan ada) o Pemeriksaan mikroskopis
etiologis (anti jamur)  Tatalaksana simptomatis dan o Pemeriksaan Lampu Wood
 Edukasi: etiologis (anti jamur) o Kultur Jamur bila perlu
o Tata cara pemakaian obat  Edukasi:  Evaluasi pengobatan
o Pemutusan rantai o Tata cara pemakaian obat  Tatalaksana simptomatis dan
penularan o Pemutusan rantai penularan etiologis (anti jamur)
o Tidak berbagi penggunaan  Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Edukasi:
barang pribadi dengan 1 o Tata cara pemakaian obat
orang lain  Rujuk ke PPK 3 jika tidak ada o Pemutusan rantai penularan
 Rujuk ke PPK 2 (bila ada perbaikan dengan terapi 3 bulan
SpKK dan fasilitas) atau PPK 3 atau ada penyulit atau memerlukan
bila kultur dan biopsi
o > dari 10 % luas
permukaan tubuh atau
o tidak membaik dengan
terapi standar dalam 2
minggu atau

Rujuk PPK 2/ PPK 3 bila pasien
imunokompromais
20. Pitiriasis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
Versikolor  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV termasuk tanda finger nail termasuk tanda finger nail termasuk tanda finger nail
 Tatalaksana komprehesif  Pemeriksaan penunjang (jika  Pemeriksaan penunjang:
99
 Edukasi: fasilitas memadai): o Pemeriksaan Lampu Wood
o Usahakan pakaian tidak o Pemeriksaan Lampu Wood o Pemeriksaan mikroskopik
lembab o Pemeriksaan mikroskopik (tanda (tanda spaghetti and meatball)
 Rujuk ke PPK 2 jika tidak spaghetti and meatball)  Evaluasi pengobatan
responsif pengobatan dalam 2  Tatalaksana komprehesif  Tatalaksana komprehesif
minggu atau ada penyulit atau  Edukasi  Edukasi
pasien imunokompromais  Jika membaik rujuk kembali ke PPK
1
 Rujuk ke PPK 3 jika tidak
responsive pengobatan dalam 3
bulan dan ada penyulit
21. Napkin Ekzema  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang :  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana dengan prinsip o Pemeriksaan KOH/gram tersedia)
mengurangi gejala dan  Tatalaksana dengan prinsip  Pemeriksaan penunjang :
mencegah bertambah mengurangi gejala dan mencegah o Pemeriksaan KOH/gram
beratnya lesi bertambah beratnya lesi  Tatalaksana dengan prinsip
 Edukasi  Tatalaksana pemberian mengurangi gejala dan
 Rujuk ke PPK 2 jika tidak farmakoterapi untuk menekan mencegah bertambah beratnya
responsive pengobatan dalam inflamasi dan mengatasi infeksi lesi
2 minggu atau ada penyulit kandida  Tatalaksana pemberian
atau pasien  Edukasi farmakoterapi untuk menekan
imunokompromais  Jika membaik rujuk kembali ke inflamasi dan mengatasi infeksi
PPK1 kandida
 Rujuk ke PPK 3 jika keluhan tidak  Edukasi
membaik 2 minggu atau
memerlukan pemeriksaan lanjutan
22. Dermatitis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
Seboroik  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Tatalaksana dengan prinsip  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana dengan prinsip menghilangkan dan mengeluarkan tersedia)
menghilangkan dan skuama dan krusta, menghambat  Tatalaksana dengan prinsip
100
mengeluarkan skuama dan kolonisasi jamur, mengkontrol infeksi menghilangkan dan
krusta, menghambat sekunder, mengurangi eritema dan mengeluarkan skuama dan
kolonisasi jamur, mengkontrol gatal krusta, menghambat kolonisasi
infeksi sekunder, mengurangi  Edukasi jamur, mengkontrol infeksi
eritema dan gatal  Jika membaik rujuk kembali ke PPK1 sekunder, mengurangi eritema
 Edukasi  Rujuk ke PPK 3 jika keluhan tidak dan gatal + fototerapi
 Rujuk PPK 2 (bila ada SpKK membaik atau memerlukan fototerapi  Edukasi
dan fasilitas) /PPK 3 jika
tidak membaik selama 2
minggu terapi atau
rekalsitran atau terdapat
kelainan sistemik atau lesi
luas atau HIV/AIDS,
23. Ptiriasis Rosea  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Tatalaksana tidak diperlukan bila  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana tidak diperlukan tanpa komplikasi tersedia)
bila tanpa komplikasi  Tatalaksana bila perlu  Tatalaksana tidak diperlukan bila
 Edukasi  Edukasi tanpa komplikasi
Rujuk ke PPK 2 (bila ada SpKK  Jika membaik rujuk kembali ke PPK1  Tatalaksana bila perlu :
dan fasilitas) /PPK 3 jika:  Rujuk ke PPK 3 jika keluhan tidak o Kortikosteroid topikal
 Tidak membaik selama 2 membaik dalam 6 minggu atau o Fototerapi
minggu terapi atau rekalsitran memerlukan fototerapi  Edukasi
 Terdapat kelainan sistemik
atau lesi luas atau HIV/AIDS.
maka
24. Acne Vulgaris  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana tidak diperlukan  Tatalaksana tidak diperlukan bila tersedia)
bila tanpa komplikasi tanpa komplikasi  Pemeriksaan penunjang :
 Edukasi  Edukasi o Kultur
 Rujuk ke PPK 2 (bila ada  Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Surgical care
101
SpKK dan fasilitas) / PPK 3 1  Edukasi
bila Acne papulopustulosa,  Rujuk ke PPK 3 jika keluhan tidak  Jika membaik rujuk kembali ke
acne nodulokistik dan acne membaik dengan terapi selama 8 PPK 2
fulminan maka minggu
25. Dermatitis  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
Perioral  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang tidak  Dokumentasi fotografi (bila
 Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan tanpa komplikasi tersedia)
diperlukan tanpa komplikasi  Pemberian farmakoterapi  Pemeriksaan penunjang tidak
 Tatalaksana mengurangi  Tatalaksana mengurangi pruritus diperlukan tanpa komplikasi
pruritus dan menekan dan menekan inflamasi  Pemberian farmakoterapi
inflamasi  Edukasi  Tatalaksana mengurangi pruritus
 Edukasi  Jika membaik rujuk kembali ke PPK1 dan menekan inflamasi
 Jika tidak membaik selama 2  Rujuk ke PPK 3 jika keluhan tidak  Edukasi
minggu terapi maka rujuk ke membaik selama 2 minggu terapi  Jika membaik rujuk kembali ke
PPK 2 (bila ada SpKK dan PPK 2
fasilitas) atau PPK 3
26. Miliaria  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang umumnya  Dokumentasi fotografi (bila
 Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan tersedia)
umunya tidak diperlukan  Tatalaksana mengurangi pruritus,  Pemeriksaan penunjang
 Tatalaksana mengurangi menekan inflamasi dan membuka umumnya tidak diperlukan
pruritus, menekan inflamasi retensi keringat  Tatalaksana mengurangi pruritus,
dan membuka retensi keringat  Tatalaksana memberikan menekan inflamasi dan membuka
 Edukasi : farmakoterapi retensi keringat
o Melakukan modifikasi gaya  Edukasi :  Tatalaksana memberikan
hidup o Melakukan modifikasi gaya hidup farmakoterapi
o Memakai pakaian yang tipi o Memakai pakaian yang tipi dan  Edukasi :
dan dapat menyerap dapat menyerap keringat o Melakukan modifikasi gaya
keringat o Menghindari panas dan hidup
o Menghindari panas dan kelembapan yang berlebihan o Memakai pakaian yang tipi dan
kelembapan yang o Menjaga kebersihan kulit dapat menyerap keringat
102
berlebihan o Mengusahakan ventilasi yang o Menghindari panas dan
o Menjaga kebersihan kulit baik kelembapan yang berlebihan
o Mengusahakan ventilasi  Jika membaik rujuk kembali ke PPK1 o Menjaga kebersihan kulit
yang baik  Rujuk ke PPK 3 jika keluhan tidak o Mengusahakan ventilasi yang
 Jika tidak membaik selama 2 membaik diberi pengobatan 2 baik
minggu terapi maka rujuk ke minggu  Jika membaik rujuk kembali ke
PPK 2 (bila ada SpKK dan PPK 2
fasilitas) atau PPK 3
27. Urtikaria Akut  Anamnesis Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV Pemeriksaan penunjang :  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana simptomatis o Darah perifer lengkap tersedia)
(antihistamin) o Urinalisis  Pemeriksaan penunjang :
 Atasi keadaan akut terutama o Feses lengkap o Darah perifer lengkap
pada angioderma karena o Uji dermografisme o Urinalisis
dapat terjadi obstruksi saluran o Uji provokasi (ice cube, air o Feses lengkap
napas hangat) o IgE total
 Edukasi o Uji kulit (bila ada) o CRP
 Rujuk ke PPK 2 jika keluhan o Uji tusuk (bila ada) o Uji kulit jika memenuhi syarat
tidak membaik dalam 3 kali  Tatalaksana o Uji dermografism
pengobatan o Atasi keadaan akut terutama o Uji ice cube
 Kasus berat/kronik  rujuk pada angioderma karena dapat o Uji tusuk standar
PPK 2 dengan Sp. KK atau terjadi obstruksi saluran napas. o Uji eliminasi makanan
PPK 3 Dapat dilakukan di unit gawat  Tatalaksana
darurat bersama-sama dengan /  Atasi keadaan akut terutama pada
atau dikonsulkan ke Sp. THT angioderma karena dapat terjadi
o Terapi topikal obstruksi saluran napas. Dapat
o Terapi sistemik dilakukan di unit gawat darurat
 Edukasi bersama-sama dengan / atau
 Rujuk ke PPK 3 dikonsulkan ke Sp. THT
o Identifikasi  Terapi topikal
o Komplikasi / keluhan tidak  Terapi sistemik
membaik  Edukasi
103
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK  Jika membaik rujuk kembali ke
1 PPK 2
28. Eksantematous  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
Drug Eruption,  Pemeriksaan fisik dan  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
Fixed Drug status DV  Pemeriksaan penunjang tidak  Dokumentasi fotografi (bila
Eruption  Pemeriksaan penunjang diperlukan tanpa komplikasi tersedia)
tidak diperlukan tanpa  Tatalaksana mengurangi pruritus,  Pemeriksaan penunjang tidak
komplikasi menekan inflamasi diperlukan tanpa komplikasi
 Tatalaksana mengurangi  Tatalaksana pemberian  Tatalaksana mengurangi pruritus,
pruritus, menekan inflamasi farmakoterapi menekan inflamasi
 Edukasi  Edukasi  Tatalaksana pemberian
 Rujuk ke PPK 2 (bila ada  Jika membaik rujuk kembali ke PPK1 farmakoterapi
SpKK dan fasilitas) atau ke  Rujuk ke PPK 3 jika keluhan tidak  Edukasi
PPK 3 membaik dalam 5 hari atau terdapat  Jika membaik rujuk kembali ke
o Jika lesi luas termasuk komplikasi sistemik berat PPK 2 atau PPK 1
mukosa (kemungkinan
SJS) serta dengan gejala
sistemik
o Memerlukan uji
pembuktian obat yang
diduga sebagai penyebab
o Pada pasien
imunokompromais
o Jika keluhan tidak
membaik dalam 5 hari
29. Ulkus kronik pada  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
tungkai bawah  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang (sesuai  Pemeriksaan penunjang :
 Pemeriksaan penunjang dengan kemungkinan penyebab) o Kultur bila perlu
(sesuai dengan kemungkinan o Pemeriksaan darah lengkap o Doppler bila perlu
penyebab) o Urinalisa  Dokumentasi fotografi (bila
o Pemeriksaan darah o Pemeriksaan gula darah tersedia)
lengkap  Tatalaksana komprehensif
104
o Urinalisa o Kolesterol  Edukasi
o Pemeriksaan kadar gula  Tatalaksana komprehensif  Rawat bersama multi disiplin bila
dan kolesterol  Edukasi perlu
 Tatalaksana : sesuai jenis  Kriteria Rujukan PPK 3  Jika membaik rujuk kembali ke
ulkus  Dengan komplikasi PPK 2
 Edukasi  Memerlukan tindakan operatif atau
 Kriteria Rujukan PPK 2 (bila invasif lanjut
ada SpKK dan fasilitas) atau  Memerlukan pemeriksaan lanjutan
ke PPK 3 untuk pelacakan kausa
o Sudah diterapi selama 2  Jika membaik rujuk kembali ke PPK
minggu tidak membaik 1
o Dengan komplikasi
o Komorbiditas dengan
penyakit lain
o Pada pasien
imunokompromais
30. Lipoma  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang :  Pemeriksaan penunjang:
 Tatalaksana Dapat dilakukan tusukan jarum halus Pemeriksaan radiologi bila perlu
Biasanya Lipoma tidak perlu untuk mengetahui isi massa.  Dokumentasi fotografi (bila
dilakukan tindakan apapun.  Tatalaksana Komprehensif tersedia)
o Pembedahan  Kriteria rujukan PPK 3  Tatalaksana Komprehensif
o Dengan indikasi : o Massa ukuran > 2 cm dengan  Rawat bersama multi disiplin
kosmetika tanpa keluhan pertumbuhan yang cepat. sesuai komplikasi bila perlu
lain. o Ada gejala nyeri spontan maupun  Jika membaik rujuk kembali ke
o Cara eksisi Lipoma tekan. PPK 2
dengan melakukan
o Predileksi di lokasi yang berisiko
sayatan di atas benjolan,
bersentuhan dengan pembuluh
lalu mengeluarkan
darah atau saraf.
jaringan lipoma
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK
o Terapi pasca eksisi:
1
antibiotik, anti nyeri
105
o Simtomatik: obat anti nyeri
 Kriteria rujukan PPK 2 (bila
ada SpKK dan fasilitas) atau
PPK 3
o Kriteria ukuran lebih dari 2
cm
o lokasi pada tempat yang
sulit dan vital
o Jumlah lebih dari satu.
o Memerlukan anestesi
sedasi

31. Veruka Vulgaris  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang :  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana: Pengobatan Pemeriksaan mikroskopis jika tersedia)
topikal dilakukan dengan memungkinkan  Pemeriksaan penunjang :
pemberian bahan kaustik  Tatalaksana Komprehensif Pemeriksaan mikroskopis
 Edukasi Pengobatan topikal dilakukan dengan histopatologi
 Kriteria rujukan PPK 2 (bila pemberian bahan kaustik  Tatalaksana Komprehensif
ada SpKK dan fasilitas) atau Tindakan : Pengobatan topikal dilakukan dengan
PPK 3 Cryotherapy pemberian bahan kaustik
o Kesulitan penegakan Kuretase atau eksisi pada lesi yang Tindakan :
diagnosis tidak respon terapi topikal Cryotherapy
o Tidak tersedia bahan  Edukasi Kuretase atau eksisi pada lesi yang
kaustik  Kriteria Rujukan ke PPK 3: tidak respon terapi topikal
o Tidak respon terhadap o Diagnosis belum dapat Laser
terapi topikal ditegakkan.  Rawat bersama multi disiplin
o Tindakan yang o Belum membaik dengan terapi sesuai komplikasi bila perlu
memerlukan anestesi / o Rekuren  Jika membaik atau perawatan
sedasi. post tindakan, rujuk kembali ke
o Memerlukan imunoterapi
PK 2
 Jika membaik rujuk kembali ke PPK
1
106
32. Moluscum  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
Contagiosum  Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV.  Pemeriksaanpenunjang :  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana o Biasanya tidak diperlukan tersedia)
Tindakan bedah kuretase / o Pemeriksaan mikroskopik  Pemeriksaanpenunjang :
enukleasi pewarnaan Giemsa  Biasanya tidak diperlukan
Terapi topikal  Tatalaksana  Pemeriksaan mikroskopik dengan
 Edukasi o Tindakan bedah kuretase / pewarnaan Giemsa
 Kriteria rujukan PPK 2 (bila enukleasi  Pemeriksaan histopatologi bila
ada SpKK dan fasilitas) atau o Terapi topikal lesi tidak khas MK.
PPK 3 o Terapi Sistemik  Tatalaksana Komprehensif
o Tidak ditemukan badan  Edukasi  Tatalaksana
moluskum / tidak khas  Kriteria Rujukan PPK 3 o Tindakan bedah kuretase /
o MK multipel dan o Pasien dengan gangguan sistem enukleasi
komplikata imun ( seperti HIV/AIDS, kanker o Terapi topikal
o Tidak tersedia terapi ) o Terapi Sistemik
topikal  Jika membaik rujuk kembali ke PPK o Laser
o Terdapat penyakit 1  Edukasi
komorbiditas yang terkait  Rawat bersama multi disiplin
dengan kelainan sesuai komplikasi bila perlu
hematologi.
o Pasien dengan gangguan
sistem imun ( seperti
HIV/AIDS, kanker )
o Pada pasien yang tidak
kooperatif
33. Herpes Zoster  Anamnesis  Anamnesis  Anamnesis
 Pemeriksaan fisik dan status  Pemeriksaan fisik dan status DV  Pemeriksaan fisik dan status DV
DV  Pemeriksaan penunjang :  Dokumentasi fotografi (bila
 Tatalaksana Pemeriksaan laboratorium (tzanck tersedia)
o Pengobatan topikal smear) bila memungkinkan  Pemeriksaan penunjang :

107
o Pengobatan antivirus oral  Tatalaksana  Pemeriksaan laboratorium (tzanck
bila diperlukan  Edukasi : smear, direct flourescent assay,
 Edukasi  Rujukan ke PPK 3 PCR dan biopsi kulit) bila
 Kriteria rujukan PPK 2 (bila o Pada pasien imunokompromais diperlukan
ada SpKK dan fasilitas) atau o Jika memerlukan pemeriksaan  Tatalaksana Komprehensif
PPK 3 lanjutan  Edukasi
o Jika ada komplikasi atau  Rawat bersama multi disiplin
usia >50 tahun dengan sesuai komplikasi bila perlu
gambaran klinis berat
o Zoster Oftalmikus dan
Zoster Otikus

108
PENYAKIT JANTUNG

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

1 Angina Pectoris I20.8 AP CCS I-II AP CCS III-IV AP CCS III-IV PPK II

Pemberian Terapi Pemberian Terapi Yang memerlukan
Rawat Jalan Rawat Inap Non revaskularisasi
Revaskularisasi
Rujuk PPK 2 bila
memelrukan rawat Rujuk Bila
inap memerlukan
revaskularisasi

2 UAP – NSTEMI I20.0; I20.4 Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Rawat Inap Non Rawat Inap bila
Revaskularisasi memerlukan
revaskularisasi
Rujuk Bila
memerlukan
revaskularisasi

3 STEMI I21.1; I21.2; Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
I21.3 Rawat Inap Rawat Inap untuk
Fibrinolisis PCI

Rujuk untuk PCI

4 Infark Miokard I21.1; I21.2; Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Rawat Inap Rawat Inap untuk
109
Perioperatif I21.3 Fibrinolisis PCI

Rujuk untuk PCI

5 Syok Kardiogenik I50.1 Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Rawat Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

6 Kardiomiopati Dilatasi I42.0 Pemberian Terapi Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK I/II
Rawat Jalan  Bila Rawat Inap Rawat Inap
kondisi stabil Medikamentosa Medikamentosa &
(Tidak didapatkan (Non Invasive)  Invasive
pemberatan gejala (Bila didapatkan
& tanda gagal pemberatan gejala
jantung) & tanda gagal
jantung)

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

7 Kardiomiopati I42.1; I42.2 Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Hipertrofi Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive)  Invasive
(Bila terdapat
pemberatan gejala
& tanda gagal
jantung dan

110
aritmia)

8 Gagal Jantung Akut I50; I50.21; Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
I50.23; Rawat Inap Rawat Inap
I50.31; Medikamentosa Medikamentosa &
I50.33; (Non Invasive) Invasive
I50.41; I50.43

9 Gagal Jantung Kronik I50.22; I50.32 Pemberian Terapi Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK I/II
Rawat Jalan  Bila Rawat Inap Rawat Inap
kondisi stabil Medikamentosa Medikamentosa &
(Tidak didapatkan (Non Invasive)  Invasive
pemberatan gejala (Bila didapatkan
& tanda gagal pemberatan gejala
jantung) & tanda gagal
jantung)

10 Hipertensi Primer I10 Pemberian Terapi Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK I/II
Rawat Jalan  Bila Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
kondisi stabil Medikamentosa Medikamentosa &
(Tidak didapatkan (Non Invasive)  Invasive
Krisis Hipertensi) (Bila didapatkan
Krisis Hipertensi)

11 Penyakit Jantung I11.0; I11.9 Pemberian Terapi Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK I/II
Hipertensi Rawat Jalan  Bila Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
kondisi stabil Medikamentosa Medikamentosa &
(Tidak didapatkan (Non Invasive)  Invasive
pemberatan gejala (Bila didapatkan
& tanda gagal pemberatan gejala
& tanda gagal
111
jantung) jantung)

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

12 Supra Ventrikular I47.1; Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Takikardia Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

13 Ekstra Sistol Ventrikel I49.3 Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

14 Takikardia Ventrikular I47.2 Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Rawat Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

15 Atrio Ventrikular Blok I44.0 Observasi - - PPK I
Derajat I

16 Atrio Ventrikular Blok I44.1 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemasangan pacu PPK II
Derajat II Tipe I dan 3 jantung sementara
Tipe II kemudian pacu
jantung permanen
bila diperluikan

112
17 Atrio Ventrikular Blok I44.2 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemasangan pacu PPK II
Derajat III 3 jantung permanen

18 Fibrilasi Atrium I48.0; I48.1; Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
I48.2 Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

19 Diseksi Aorta I71.0; I71.01; Rujuk PPK 2 Rujuk Pemberian Terapi PPK II
I71.02; I71.03 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

20 Aneurisma Aorta I71.1; I71.2; Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
I71.3; I71.4 3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

21 Sindrom Raynaud’s I73.00; I73.01 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

22 Penyakit Burger I73.1 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
Rawat Inap
113
3 Medikamentosa &
Invasive

23 Stenosis Arteri Karotis I65.2 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

24 Stenosis Arteri Renalis I70.1 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

25 Iskemik Mesenterika K55.0 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

26 Iskemia Tungkai I70.21 Rujuk PPK 2/ PPK Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Kronis Tidak Kritis 3 Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

20 Aneurisma Aorta I71.1; I71.2; Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
Rawat Inap
114
I71.3; I71.4 3 Medikamentosa &
Invasive

21 Sindrom Raynaud’s I73.00; I73.01 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

22 Penyakit Burger I73.1 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

23 Stenosis Arteri Karotis I65.2 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

24 Stenosis Arteri Renalis I70.1 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

25 Iskemik Mesenterika K55.0 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

26 Iskemia Tungkai I70.21 Rujuk PPK 2/ PPK Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Kronis Tidak Kritis 3 Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &

115
(Non Invasive) Invasive

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

27 Iskemia Tungkai I70.22 Rujuk Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Kronis Kritis Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

28 Iskemia Ekstremitas I74.2; I74.3 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
Akut 3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

29 Emboli Paru I26 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
Invasive

30 Trombosis Vena I82.4; I82.6 Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Dalam Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

31 Arteriovenous Fistula I77.0 Rujuk PPK 2/ PPK Rujuk Pemberian Terapi PPK II
3 Rawat Inap
Medikamentosa &
116
Invasive

32 Insufisiensi Vena I87.2 Rujuk PPK 2 Pemberian Terapi Pemberian Terapi PPK II
Kronik Rawat Jalan & Inap Rawat Inap
Medikamentosa Medikamentosa &
(Non Invasive) Invasive

33 Stenosis Mitral I05.0; I34.2 Rujuk PPK 2 Pemberian terapi Stenosis Mitral PPK II
suportif, yang memerlukan
tindakan invasif
Rujuk bila atau pembedahan
memerlukan
tindakan invasif/
Pembedahan

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

34 Regurgitasi Mitral I05.1; I05.2; Rujuk PPK 2 regurgitasi sedang regurgitas yang PPK II
I34.0; I34.1; yang tidak memerlukan
I23.4; I23.5 memerlukan tindakan invasif
tindakan invasif. atau pembedahan.

rujuk jika Regurgitasi berat
memerlukan yang tidak dapat
tindakan invasif dioperasi atau tidak
mau dioperasi.

117
35 Stenosis Aorta I06.0; I35.0 Rujuk PPK 2 Stenosis ringan- Stenosis yang PPK II
sedang yang tidak memerlukan
memerlukan tindakan intervensi
tindakan intervensi. atau pembedahan.

Rujuk bila stenosis sedang-
memerlukan berat yang tidak
tindakan intervensi dapat dioperasi
atau pembedahan atau tidak mau
doperasi

36 Regurgitasi Aorta I06.1; I06.2; Rujuk PPK 2 Regurgitasi ringan Regurgitasi yang PPK II
I35.1; I35.2 sedang yang tidak memerlukan
membutuhkan tindakan intervensi/
tindakan intervensi pembedahan.
atau pembedahan
Regurgitasi berat
Rujuk bila yang tidak dapat di
memerlukan lakukan tindkan
tindakan invasif/ invasif/
pembedahan. pembedahan.

37 Stenosis Trikuspid I07.0; I07.1; Rujuk PPK 2 Stenosis- Stenosis dan PPK II
I07.2 regurgitasi trikuspid regurgitasi yang
ringan yang tidak memerlukan
memerlukan tindakan
tindakan invasif/ pembedahan/
pembedahan. invasif.

Rujuk bila
memerlukan

118
tindakan
pembedahan.

Penanganan Awal Penanganan
No. Diagnosa Kode ICD X Lanjutan
PPK I PPK II PPK III
(Kontrol)

38 Kelainan Katup Mitral, I08.3 Rujuk PPK 2 Kelainan katup Kelainan katup PPK II
Aorta, Trikuspid mitral-aorta, mitral, aorta dan
trikuspid yang tidak trikuspid yang
memerlukan memerlukan
tindakan invasif/ tindakan invasif/
pembedahan. pembedahan

Rujuk bila
memerlukan
tindakan
pembedahan atau
invasif.

Rekomendasi
1. Penunjukan FasKes sebagai PPK I yang dapat menerima kasus-kasus kardiovakular harus memiliki syarat minimal berupa :
a. Memiliki dokter umum,dengan kemampuan membaca ecg untuk pasiennya sendiri
b. Memiliki alat rekam jantung (ECG)
c. Pasien yang kontrol di PPK I hanya boleh 3 bulan berturut-turut, di bulan ke 4, 8, 12, dst.. wajib kontrol ke PPK II atau III

2. Penunjukan RS sebagai PPK II yang dapat menerima rujukan kasus-kasus kardiovakular dari PPK I harus memiliki syarat minimal berupa
:
119
a. Memiliki dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah atau Spesialis Penyakit Dalam
b. Memiliki ICU/ICCU beserta sarana, prasarana dan SDM yang memadai
c. Dapat menyediakan obat-obatan kardiovaskular sesuai Formularium Nasional
d. Memilki fasilitas penunjang berupa Echocardiografi dan Treadmill Test

3. Penunjukan RS sebagai PPK III yang dapat menerima rujukan kasus-kasus kardiovakular dari PPK I harus memiliki syarat minimal
berupa :
a. Memiliki dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dengan kualifikasi Konsultan Intervensi, Echocardiografi, Rehabilitasi Jantung,
Imaging
b. Memiliki ICU/ICCU beserta sarana, prasarana dan SDM yang memadai
c. Memiliki Ruang Cath Lab untuk tindakan-tindakan invasif beserta sarana, prasarana dan SDM yang memadai
d. Memiliki Fasilitas Transesofageal Echocardiografi
e. Memilki fasilitasi Imaging Cardiology (MSCT Cardiac)
f. Dapat menyediakan obat-obatan kardiovaskular sesuai Formularium Nasional

120
PEDOMAN PENANGANAN GAWAT DARURAT DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN

No. BAGIAN DIAGNOSA

ANAK 1. Anemia sedang
2. Apnea/gasping
3. Asfiksia neonatarum
4. Bayi ikterik, anak ikterik
5. Bayi kecil/ prematur
6. Cardiac arrest/ payah jantung
7. Cyanotic spell (penyakit jantung)
8. Diare profuse (> 10x/hr) disertai dehidrasi atau
tidak
9. Diphtery
10. Ditemukan bising jantung, aritmia
11. Edema/ bengkak seluruh badan
12. Epistaxis, tanda pedarahan lain disertai febris
13. Gagal ginjal akut
14. Gagal nafas akut
15. Gangguan kesadaran, fungsi vital masih baik
16. Hematuria
17. Hipertensi berat
18. Hipotensi/ syok ringan sd sedang
19. Intoksikasi (minyak tanah, baygon) keadaan
umum masih baik
20. Intoksikasi disertai gangguan fungsi vital
21. Kejang disertai penurunan kesadaran
22. Muntah profus( >6x/hari) disertai dehidrasi
maupun tidak
23. Panas tinggi > 40 ° celcius
24. Resusitasi cairan
25. Sangat sesak, gelisah, kesadaran menurun,
sianosis ada retraksi hebat (penggunaan otot
pernfasan sekunder)
26. Sering kencing, kemungkinan diabetes
27. Sesak tapi kesadaran dan keadaan umum
masih baik
28. Shock berat (profound) : nadi tak teraba,
tekanan darah terukur
29. Tetanus
30. Tidak kencing > 8 jam
31. Tifus abdominalis dengan komplikasi
32. Pendarahan pada organ vital yang berlangsung
akut atau terus menerus (Syok hipovolumik)
33. Kegawatan onkologi : hiperleukositosis
(leukosit > 50.000), tumor lysis syndrome,
Sindrom vena cava superior, demam
neutropenia (ANC < 1000), pendesakan saraf
oleh tumor
34. Gangguan elektrolit dan asam basa (
penurunan kesadaran)
35. Tanda bahaya pada demam berdarah: nyeri
121
perut berat, muntah terus menerus,
trombositopenia < 100.000, tanda kebocoran
plasma, syok)
36. Hipotermi (<36.5)
37. Febris tinggi pada balita > 38,50C
38. Hipoglikemia
39. Dehidrasi sedang sampai berat
40. Ketoasidosis diabetikum
41. Infeksi intracranial
42. Obstruksi saluran cerna
43. Sepsis / Infeksi Neonatus
44. Bayi Makrosomi (BB bayi > 4000gram)
45. Fetal Distress
46. Infant of diabetic mother (IDM)
47. Tetanus neonatorum
48. Cyanotic congenital heart disease
49. Kejang demam, riwayat kejang dalam 12 Jam
50. Labiopalatognatoskizis pada BBL atau dengan
gangguan ABC
51. Reaksi Alergi dengan risiko ABC
BEDAH 1. Abses cerebri
2. Abses submandibula
3. Amputasi penis
4. Anuria
5. Appendiccitis akut
6. Atresia ani ( anus malformasi)
7. Akut abdomen
8. BPH dengan retensio urin
9. Cedera kepala berat
10. Cedera kepala sedang
11. Cedera tulang belakang (vertebral)
12. Cedera wajah dengan gangguan jalan nafas
13. Cedera wajah tanpa gangguan jalan nafas,
antara lain :
a. patah tulang hidung / nasal terbuka dan
tertutup
b. patah tulang pipi ( zygoma) terbuka dan
tertutup
c. patah tulang rahang (maksila dan
mandibula) terbuka dan tertutup
14. Cellulitis
15. Cholesistitis akut
16. Corpus allienum pada :
a. Leher
b. Thorax
c. Abdomen
d. anggota gerak
e. genitalia
17. CVA bleeding
18. Dislokasi persendian
19. Drawning
20. Flail Chest
122
21. Fraktur tulang kepala
22. Gastroskisis
23. Gigitan binatang/ manusia
24. Hanging
25. Hematothorax dan pneumothorak
26. Hematuria
27. Hemorrhoid grade IV (dengan tanda
strangulasi)
28. Hernia incarcerata
29. Hydrocephalus dengan TIK meningkat
30. Hirsprung's disease
31. Ileus obstruktif
32. Internal bleeding
33. Luka Bakar
34. Luka terbuka daerah abdomen
35. Luka terbuka daerah kepala
36. Luka terbuka daerah thorax
37. Meningokel/ myelokel pecah
38. Multiple Trauma
39. Omfalokel pecah
40. Pankreatitis akut
41. Patah tulang dengan dugaan cidera pembuluh
darah
42. Patah tulang iga multiple
43. Patah tulang leher
44. Patah tulang terbuka
45. Patah tulang tertutup
46. Periappendikular infiltrat
47. Peritonitis generalisata
48. Pleghmon dasar mulut
49. Priapismus
50. Prolaps uteri
51. Rectal bleeding
52. Ruptur otot dan tendon
53. Strangulasi penis
54. Shock neurogenik
55. Tension Pneumothorak
56. Tetanus generalisata
57. Tenggelam
58. Torsio testis
59. Tracheoesophagus fistule
60. Trauma tajam dan tumpul daerah leher
61. Trauma tumpul abdomen
62. Trauma thorax
63. Trauma Muskuloskeletal
64. Trauma spiral
65. Trauma amputasi
66. Tumor otak dengan penurunan kesadaran
67. Unstable pelvic
68. Urosepsis
Kardiovaskuler 1. Aritmia
2. Aritmia dan shock
123
3. Angina pektoris
4. Cor pulmonal dekompensata yang akut
5. Edema paru akut
6. Henti jantung
7. Hipertensi berat dengan komplikasi ( HT
encephalopati, CVA)
8. Infark myocard dengan komplikasi ( shock)
9. Kelainan jaantung bawaan dngan gangguan
ABC ( Airway, Breathing, Circulation)
10. Kelaina katup jantung dengan gangguan ABC (
Airway, Breathing, Circulation)
11. Krisis Hipertensi
12. Myocarditis dengan shock
13. Nyeri dada
14. PEA ( Pulseless Electrical Activity) dan asistol
15. Sesak nafas karena payah jantung
16. Syndrome koroner akut
17. Syncope karena penyakit jantung
Kebidanan 1. Abortus
2. Atonia uteri
3. Distosia bahu
4. Eklampsia
5. Ekstraksi vakum
6. Infeksi nifas
7. Kehamilan ektopik terganggu
8. Perdarahan antepartum
9. Perdarahan post partum
10. Perlukaan jalan lahir
11. Pre eklampsia & eklampsia
12. Sisa plasenta
Mata 1. Benda asing di kornea / kelopak mata
2. Blenorhhoe / Gonoblenorhroe
3. Dakriosistitis akut
4. Endophtalmitis/ panophtalmitis
5. Glaukoma :
a. akut
b. sekunder
6. Penurunan tajam penglihatan mendadak :
7. Sellulitis Orbita
a. Ablasio retina
b. CRAO
c. Vitreous bleeding
8. Semua kelainan kornea mata
a. Erosi
b. Ulkus/ abses
c. Descematolis
9. Semua trauma mata
a. Trauma tumpul
b. Trauma fotoelektrik/ radiasi
c. Trauma tajam/ tajam tembus
10. Trombosis sinus kavernosus
11. Tumor orbita dengan prdarahan
124
12. Uveitis/ skleritis/ iritasi
Paru-paru 1. Asma bronkitis moderat sd severe
2. Aspirasi pneuminia
3. Emboli paru
4. Gagal nafas
5. Injury paru
6. Massive hemoptosis
7. Massive pleural effusion
8. Edema paru non kardiogenik
9. Open/ closed pneumothoraks
10. PPOK ekserbasasi akut
11. Pneumonia sepsis
12. Pneumothoraks ventil
13. Reccurent hemoptoe
14. Status Asmaticus
15. Tenggelam
16. Bronkhiolitis
17. Efusi pleura dengan sesak napas
18. Pneumonia yang mengganggu ABC
19. Empiema
20. Hidropneumothoraks
21. PPOK dengan CPC dekompesata
22. Status asmatikus
Penyakit Dalam 1. Demam berdarah dengue
2. Demam tifoid
3. Diphtery
4. Disequilibrium pasca HD
5. Gagal ginjal akut
6. GEA dan dehidrasi
7. Hematemesis melena
8. Hematoschezia
9. Hipertensi maligna
10. Intoksikasi opiat
11. Keracunan makanan
12. Keracunan obat
13. Koma metabolik
14. Keto Asidosis Diabetikum (KAD)
15. Leptospirosis
16. Malaria
17. Observasi shock
18. Demam Dengue dengan tanda bahaya ( lihat
warning sign)
THT 1. Abses di bidang THT dan kepala leher
2. Benda asing laring/trakea/bronkus, dan benda
asing tenggorokan
3. Benda asing telinga dan hidung
4. Disfagia
5. Obstruksi saluran nafas atas Gr II/III Jackson
6. Obstruksi saluran nafas atas GR IV Jackson
7. Otalgia akut ( apapun penyebabnya)
8. Parese ekstrimitas akut

125
9. Perdarahan di bidang THT
10. Shock karena kelaina di bidang THT
11. Trauma ( akut) di bidang THT & kepala leher
12. Tuli mendadak
13. Vertigo gejala berat
Psikiatri 1. Gangguan panik
2. Gangguan psikotik
3. Gangguan konversi
4. Gaduh gelisah
Syaraf 1. Kejang
2. Stroke
3. Meningoencephalitis

126