LAPORAN TUGAS BESAR

DESAIN PENGOLAHAN BIOLOGI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Mata kuliah Desain Pengolahan
Biologi KTL - 445

Disusun oleh :

Nama : Imom Abdullah

NRP : 25-2012-033

Dosen : Dr. Etih Hartati ,Ir., M.T.

Asisten : Dr. Etih Hartati ,Ir., M.T

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN

FALKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

BANDUNG

2015




PRAKATA

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas
besar yang berjudul “Desain Pengolahan Biologi”. Penyusunan tugas ini diajukan
sebagai salah satu syarat untuk memenuhi mata Desain Pengolahan Biologi di
Jurusan Teknik Lingkungan ITENAS Bandung.

Dalam penyusunan tugas ini dilakukan dengan sebaik-baiknya namun
tidak menutup kemungkinan masih banyak kekurangan dari penyusunan tugas ini,
karena kemampuan saya sebagai manusia juga terbatas.

Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih
yang telah mendukung penyusunan tugas ini sehingga tugas ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Ucapan terima kasih ini ditujukan
kepada :

1. Ibu Dr. Etih Hartati ,Ir.,M.T. selaku dosen mata kuliah Desain Pengolahan
Biologi di Jurusan Teknik Lingkungan, yang telah membantu dalam
penyusunan atau penulisan tugas besar ini dengan baik, sehingga tugas
besar ini dapat terselesaikan dengan lebih baik dan lebih benar, serta
selaku asisten dosen mata kuliah Desain Pengolahan Biologi di Jurusan
Teknik Lingkungan, yang telah banyak membantu saya dalam penyusunan
tugas ini dengan sabar sehingga tugas besar ini dapat terselesaikan dengan
baik.
3. Kepada teman – teman seangkatan yang telah rela membagi ilmunya
dengan memberikan masukan-masukan atas kesulitan yang saya alami.

Atas segala amal kebaikan seluruh pihak yang saya sebutkan dan tidak
saya sebutkan, mudah-mudahan Allah S.W.T. memberikan balasan yang berlipat
ganda. Akhir kata semoga tugas besar ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya
dan bagi pembaca pada umumnya, meskipun masih banyak kekurangan dan jauh
untuk dikatakan sempurna.
Bandung, 23 Desember 2015

Hal 1




Penulis

DAFTAR ISI

PRAKATA...................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL........................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. I-1
1.1. AIR BUANGAN DOMESTIK.......................................................... I-1
1.2. STANDAR DAN KARAKTERISTIK AIR BUANGAN.................. I-9
1.3. ANALISIS AIR BUANGAN............................................................. I-24
1.4. INVENTARISASI UNIT PENGOLAHAN....................................... I-29

BAB II PERHITUNGAN UNIT-UNIT PENGOLAHAN............................. II-1
2.1...............................................................................TANGKI AERASI
2.2............................................................................BAK PENGENDAP II-10
2.3....................................................................GRAVITY THICKENER II-16
2.4....................................................................SLUDGE DRYING BED II-20

BAB III KESIMPULAN ............................................................................... III-1

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Hal 2

.......... I-26 Tabel 2.................................................................. II-11 Hal 3 ....... II-2 Tabel 2.........2 Karakteristik fisik..................................................................................................................1 Keuntungan dan Kerugian Penerapan Standar di Lapangan......5 Data Perencanaan................................. I-11 Tabel 1....................3 Dimensi Tipikal Mechanical Surface Aerator........................... I-24 Tabel 1. kimia dan biologi air limbah dan sumber pencemarnya ................................................................3 Perbandingan Data Kualitas Badan Air Penerima B Dengan Baku Mutu......................................................... II-1 Tabel 2....... II-10 Tabel 2............................................................................................................ II-7 Tabel 2...........I-25 Tabel 1.............................................................................................1 Kriteria Desain Tangki Aerasi.5 Konsentrasi Campuran Sebelum Air Buangan B Melalui Pengolahan....4 Bentuk Pengolahan Air Buangan B Dari Parameter Yang Melebihi ..............  DAFTAR TABEL Tabel 1.................................................................. I-9 Tabel 1....4 Kriteria Desain Bak Pengendap....2 Data Perencanaan..

.............. Skema Pengolahan Bak Pengendap II Dari Lumpur Aktif.....................................................................................................................................................2 Unit Clarifier......5 Sludge Drying Bed.... I-35 Gambar 1...1 Unit Grit Chamber untuk Grit Removal.....................................1.............................. I-36 Gambar 1...4 Unit Gravity Thickener. I-36 Gambar 1... II-10 Hal 4 ..... I-38 Gambar 2..3 Unit Trickling Filter.......... I-37 Gambar 1......................................................  DAFTAR GAMBAR Gambar 1.........

perniagaan. (MENLH. dekomposisi bahan organik yang terdapat di dalamnya akan menjadi gangguan terhadap lingkungan termasuk memproduksi gas-gas yang tidak berbau. (Metcalf dan Eddy. rumah makan atau restauran.1 AIR BUANGAN DOMESTIK Setiap komunitas atau lembaga menghasilkan baik limbah padat maupun limbah cair dan emisi udara. tidak ada penambahan dan tidak ada pengurangan. Sedangkan air merupakan sumber daya yang sangat dibutuhkan namun jumlahnya tetap di bumi ini. 2010) Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman (real estate). Sedangkan air limbah yang dialirkan ke badan air permukaan menyebabkan kualitas air permukaan tersebut menjadi buruk dan air permukaan merupakan sumber utama air minum karena kuantitasnya. Pada air buangan juga terdapat nutrient yang dimana dapat menstimulasi pertumbuhan tanaman air. dan kemungkinan terdapat senyawa beracun atau senyawa yang berpotensi menjadi mutagenik ataupun karsinogenik. Karena alasan tersebut. apartemen dan asrama. penggunaan atau penguraian ke lingkungan yang dibutuhkan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan. perkantoran.  BAB I PENDAHULUAN 1. diikuti dengan pengolahan. Sebagai contoh. Ketika air buangan yang tidak diolah terakumulasi dan keadaannya menjadi septik. terdapat organisme patogen pada air buangan yang tidak diolah yang berasal dari saluran pencernaan manusia. bahan organik yang terdapat di dalam air limbah bila dibuang langsung ke sungai H a l I-1 | 38 . penyisihan secara langsung dan bebas dari gangguan pada air buangan di asal sumbernya. 2003) Air limbah yang langsung dibuang ke air permukaaan (misalnya sungan dan danau) dapat mengakibatkan pencemaran permukaan air ini. Selain itu.

(Metcalf dan Eddy.1 Gangguan Terhadap Keindahan Adakalanya air limbah mengandung polutan yang tidak mengganggu kesehatan dan ekosistem. akan menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen akan terganggu. Di berbagai kota di Indonesia. dalam hal ini akan mengurangi perkembangannya. 2010) 1.  dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen yang terlarut (Disolved Oksigen) di dalam sungai tersebut. maka kualitasnya akan menurun sehingga tidak dapat lagi digunakan sesuai peruntukannya. Untuk pengenmabangan. laju aliran air buangan biasanya ditentukan dengan proyeksi laju aliran air buangan sebelum-sebelumnya atau dengan survei secara langsung. Adakalanya. Umumnya sumber air buangan domestik pada komunitas adalah daerah perumahan dan distrik komersial. karena masih minimnya fasilitas pengolahan air buangan kota mengakibatkan tercemarnya badan sungai oleh air limbah domestik. Dengan demikian.1. Contoh yang sederhana ialah air limbah yang mengandung pigmen warna yang dapat menimbulkan perubahan warna pada badan air penerima. Untuk daerah yang disediakan dengan sistem pengumpul air buangan. tetapi mengganggu keindahan. air limbah juga dapat merembes ke dalam air tanah. (Metcalf dan Eddy. pencemaran akibat limbah domestik pun telah menunjukkan tingkat yang cukup serius. Bila air tanah tercemar. 2010) Saat ini selain pencemaran akibat limbah industri. Sumber lainnya yang umum adalah institusi dan fasilitas rekreasi. laju aliran air buangan didapatkan dengan analisis dari data populasi dan perkiraan air buangan per kapita dari komunitas yang kondisinya menyerupai. sehingga menyebabkan pencemaran air tanah. bahkan badan sungai yang diperuntukkan sebagai bahan baku air minum pun telah tercemar juga. Walaupun H a l I-2 | 38 .

Apabila air limbah tidak memenuhi ketentuan ini. tetapi terjadi gangguan keindahan terhadap badan air penerima ini. maka dapat menimbulkan gangguan keindahan pada badan air tersebut. Bentuk dan macam buangan yang dihasilkan manusia tergantung pada tingkat peradaban manusia. maka perlu dilakukan pengolahan air limbah sebelum mengalirkanna ke lingkungan. 1. H a l I-3 | 38 . air limbah yang dialirkan ke lingkungan harus memenuhi ketentuan seperti yang disebutkan dalam baku mutu air limbah. maka biaya pemeliharaan akan semakin besar juga. Gas ini dapat mempercepat proses perkaratan pada benda yang terbuat daribesi (misal: pipa saluran air limbah) dan buangan air otor lainnya.1. Kadang-kadang air limbah juga mengandung bahan-bahan yang bila terurai menghasilkan gas-gas yang berbau.1.  pigmen ini tidak menimbulkan gangguan terhadap kesehatan. sehingga dengan kemajuan jaman dan teknologi jenis buangan manusia yang semula bersifat sederhana kini semakin bervariasi dan apabila tidak diolah dengan baik akan mempengaruhi kualitas lingkungan. Dengan cepat rusaknya air tersebut.3 Faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas air limbah. yang berarti akan menimbulkan kerugian materian.2 Gangguan Terhadap Kerusakan Benda Adakalanya air limbah mengandung zat-zat yang dapat dikonversi oleh bakteri anaerobik menjadi gas yang agresif seperti H 2S. Bila air limbah jenis ini mencemari badan air. yang berarti akan semakin besar juga. 1. Untuk menghindarkan terjadinya gangguan-gangguan tersebut.

maka diperlukan desain instalasi pengolahan air limbah domestik yang berfungsi menurunkan konsentrasi zat-zat pencemar sebelum air limbah tersebut dialirkan ke badan air penerima. 2. 2010) Untuk menghindari dampak yang merugikan dari pembuangan air limbah domestik. 2010) : 1.1. Karakteristik Fisik Terdiri dari 99.9% air. Komposisi cairan limbah bisa berupa nitrogen (urea. kemungkinan terdapat bakteri pengurai dan bakteri patogen karena terdapat banyak dan bermacam nutrient pada air buangan tersebut. Data ini terutama berguna pada daerah yang penggunaan air untuk irigrasi terbatas dan lebih dari 90% air yang dipakai menjadi air buangan. asam amino) dan non nitrogen (lemak. Data penggunaan air bersih juga dapat digunakan untuk memperkirakan laju aliran. 1. sabun.  (Metcalf dan Eddy. 3. karbohidrat).1% dalam bentuk suspensi padat yang volumenya bervariasi antara 100- 500 ml. Karakteristik bakteriologis Biasanya mengandung bakteri patologis E. protein. Karakteristik Kimia Air limbah biasanya bercampur dengan zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih dan zat organik dari limbah itu sendiri.coli. Kemajuan teknologi dalam sanitasi juga mempengaruhi besar dalam karakteristik kimia dari air limbah tersebut. sedangkan kandungan bahan padatnya mencapai 0.4 Data Yang Perlu Diketahui Untuk Mengolah Air Limbah Domestik H a l I-4 | 38 . Karakteristik air limbah domestik (Metcalf dan Eddy.

jumlah lumpur yang dihasilkan. luas lahan dibutuhkan. dimensi unit H a l I-5 | 38 . 2012)  Data fisik kota  Data Sosial Ekonomi  Kondisi topografi  Data penduduk  Penggunaan air bersih  Lokasi Bangunan Pengolahan Air Buangan (BPAB)  Penyusunan Rencana Induk Untuk mengolah air limbah domestik. Tetapi data ini juga bisa didapatkan dengan mengetahui pemakaian air minum pada daerah tersebut dikali dengan faktor tertentu. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data: (Juanda.  Untuk menentukan teknologi yang akan digunakan untuk pengolahan air limbah. batasan-batasan yang ada. yang berhubungan langsung dengan pembiayaan. berbagai data diperlukan untuk menunjang efektivitas dari pengolahan tersebut. dan potensi yang dimiliki oleh daerah pelayanan. terlebih dahulu harus dilakukan analisis terhadap kondisi umum.. Data ini kemudian berhubungan dengan kapasitas debit pengolahan pada instalasi. Contoh data-data yang diperlukan adalah :  Kuantitas air limbah domestik Data ini bisa didapatkan dari pengambilan sampel limbah domestik pada daerah yang akan dilayani. M. dimensi pipa. Pertumbuhan penduduk pada daerah yang dilayani perlu diketahui pula agar IPAL yang direncanakan dapat mengolah air buangan beberapa tahun kedepannya.

Oksigen yang dikonsumsi setara dengan jumlah dikromat yang diperlukan untuk mengoksidasi air sampel.  COD (Chemical Oxygen Demand) Menggambarkan jumlah total oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. H a l I-6 | 38 . waktu detensi pada reaktor. kapasitas pompa dan commuter serta volume udara pada saat aerasi. Kualitas air limbah domestik biasanya tidak jauh berbeda antar daerah yang menyerupai. baik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable).  Kualitas air limbah domestik Kualitas air limbah domestik sangat penting untuk diketahui sebelum merencanakan instalasi pengolahan air limbah domestik. Sedangkan parameter umum yang terdapat pada air limbah domestik adalah  BOD (Biochemical Oxygen Demand) Adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau milligram/liter (mg/lt) yang diperlukan untuk menguraikan benda organik oleh bakteri pada suhu 20˚C selama 5 hari.  pengolahan. Maupun yang sukar didekomposisi secara biologis (non biodegradable). Tetapi data ini perlu dikaji ulang untuk mendesain unit pengolahan yang tepat sehingga effluen dari instalasi sesuai dengan yang diinginkan.  Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) Adalah banyaknya oksigen yang terkandung didalam air dan diukur dalam satuan milligram per liter.

Didapat dari pemanasan MLSS pada suhu 600˚C. H a l I-7 | 38 .  Settleable solid Adalah lumpur yang mengendap dengan sendirinya pada kondisi yang tenang selama 1 jam secara gaya beratnya sendiri.45 mikron. benda volatile menguap disebut MLVSS.   Kesadahan (Hardness) Adalah gambaran kation logam divalen (valensi 2) yang terdapat dalam air.  MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid) Adalah jumlah TSS yang berasal dari bak pengendap lumpur aktif setelah dipanaskan pada suhu 103˚. Selain suspended solid ada juga istilah dissolved solid(padatan terlarut).105˚C.  Kekeruhan (turbidity) Adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air sungai. Suspended solid (material tersuspensi) dapat dibagi menjadi zat padat dan koloid. Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan (presipitasi) maupun dengan anion-anion yang terdapat didalam air membentuk endapan atau karat pada peralatan logam.  MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid) Adalah kandungan organic matter yang terdapat dalam MLSS. kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda koloid dalam air.  TSS (Total Suspended Solid) Adalah jumlah berat dalam mg/l kering lumpur yang ada didalam air limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0.

kimia maupun biologi. sumber energi serta biaya operasi diupayakan serendah mungkin.  Berdasarkan Kepmenlh 112 Tahun 2003. terdapat 4 parameter untuk baku mutu air limbah domestik. Untuk memenuhi standar baku mutu ini maka keempat parameter tersebut harus diketahui sebelum merencanakan instalasi pengolahan air limbah (MENLH). Parameter Satuan Kadar Maksimum pH 6-9 BOD mg/l 100 TSS mg/l 100 Minyak dan Lemak mg/l 10 1. Proses pengolahan air limbah domestik tidak bisa dipilih secara acak. Setiap jenis teknologi pengolahan air limbah mempunyai keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Pengolahan limbah cair bertujuan untuk menghilangkan atau menyisihkan kontaminan. kualitas air hasil olahan yang diharapkan. (Metcalf & Eddy. 2004). Ada beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan untuk pemilihan H a l I-8 | 38 .1. oleh karena itu perlu diperhatikan aspek lingkungan juga.5 Pertimbangan Untuk memilih Teknologi Pengolahan Pemilihan teknologi pengolahan harus mempertimbangkan beberapa hal antara lain jumlah air limbah yang akan diolah. Kontaminan dapat disisihkan dengan pengolahan fisik. ketersediaan lahan.

(Permen LH RI Nomor 5 Tahun 2014) H a l I-9 | 38 . 3. antara lain (Yudo. energi. 7. zat. Efisiensi pengolahan dapat mencapai standar baku mutu lingkungan.2 STANDAR DAN KARAKTERISTIK AIR BUANGAN 1. 6. Kriteria untuk memilih proses pengolahan air limbah domestik. Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar. 8.2. 2008) : 1. Biaya operasinya rendah. 2. 1.  proses pengolahan tersebut. Pengelolaannya harus mudah. Lumpur yang dihasilkan sedapat mungkin kecil. 4. Dapat menghilangkan padatan tersuspensi (SS) dengan baik. 5.1 Pengertian Stream dan Effluent Standar Stream Standar adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup. (PP RI Nomor 82 Tahun 2001) Effluent Standar adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam media air dari suatu usaha dan/atau kegiatan. atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air. Konsumsi energi sedapat mungkin rendah. Perawatannya mudah dan sederhana.

mengakibatkan sungai b.html 1. Mempermudah dengan kondisi alam (hujan Stream pemantauan kualitas air.1 Keuntungan dan Kerugian Penerapan Standar di Lapangan Standar Keuntungan Kerugian a. yang masuk ke badan b.d). Membatasi kadar limbah apabila terlalu banya industri. standar.Lebih mudah dalam besar karena harus memonitoring ketika mengecek semua limbah terjadi pencemaran. parameter yang dibahas meliputi parameter fisik. Sungai akan terjamin kualitasnya sesuai a.tips/documents/ksda-08-09-standar-ka.  Tabel 1. yang keluar. a. Jumlah limbah yang dibuang dengan standar. industri bisa berubag sesuai b. Biaya monitoring ppasti c. Debit sangat berpengaruh dengan pemanfaatan terhadap kualitas sungai. Standar disesuaikan b. kimia dan mikrobiologis. Kualitas sungai tidak terjamin a. (Masduqi. maka kita harus melihat kualitas air tersebut. standar c.b. Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. atau kemarau). 2009) 1.2 Karakteristik dan Sumber Pencemar Untuk mengetahui pengolahan yang tepat pada air yang akan diolah. Akumulasi limbah bisa air. badan air (gol a. Sumber: http://dokumen. c. Karakteristik Fisika H a l I-10 | 38 .c. Meningkatkan kesadaran tercemar dan tidak bisa Efluen industri dalam mengolah dimanfaatkan sesuai standar limbahnya agar sesuai pemanfaatannya.2.

warna dan temperatur. sedimentasi. Bahan yang mengendap ini dapat dihilangkan melalui proses pengendapan. seperti: screening. Bahan organik terlarut dapat menghabiskan oksigen dalam limbah serta akan menimbulkan bau dan rasa yang tidak sedap pada penyediaan air bersih. Beberapa pengolahan secara fisik. flokulasi. Serta dapat berakibat vatal jika mengandung bahan beracun seperti unsur- unsur logam berat. Penambahan bahan kimia dalam proses pengolahan secara kimia ini dimaksudkan untuk menghasilkan suatu endapan akibat berinteraksinya bahan kimia dengan suatu konstituen pencemar. Pengolahan biologis juga H a l I-11 | 38 . filtrasi dan absorpsi (Tchobanoglous. kejernihan. 2. zat ini diubah menjadi gas yang dapat keluar ke atmosfer dan jaringan sel biologis yang dapat dihapus oleh proses pengendapan atau proses pemisahan lain. 3. filtrasi dan proses membran (Tchobanoglous. Pada dasarnya. Menurut Sugiharto (1987) derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh sifat fisik yang mudah terlihat seperti kandungan zat padat sebagai efek estetika.  Metode pengolahan dengan penerapan secara fisik biasa dikenal sebagai unit proses fisik. Karakteristik Kimia Metode pengolahan kimia merupakan suatu bentuk penghilangan konstituen yang menggunakan penambahan bahan kimia atau reaksi kimia yang dikenal dengan unit proses kimia. Karakteristik Biologi Metode pengolahan biologi merupakan suatu bentuk penghilangan konstituen yang menggunakan aktivitas biologi yang dikenal dengan unit proses biologi. Pengolahan biologi digunakan untuk pengolahan awal untuk menghilangkan koloid atau zat terlarut organik biodegradable yang ditemukan di air limbah. Menurut Sugiharto (1987) kandungan bahan kimia yang ada di dalam air limbah dapat berpengaruh negatif pada lingkungan melalui berbagai cara. 2014). bau. 2014).

. komersial dan limbah . lemak dan minyak industri . Padatan erosi tanah. surfaktan industri . komersial dan limbah . Sifat biologis ini diperlukan untuk mengukur kualitas air. 2014).  digunakan untuk penghilangan nitrogen dan fosfor dari air limbah (Tchobanoglous. komersial dan limbah .2 Karakteristik fisik. priority pollutants industri Domestik. limbah . phenol industri Konsitituen Domestik. komersial dan limbah . karbohidrat industri Domestik. Tabel 1. temperatur Limbah domestik dan industri Domestik. kimia dan biologi air limbah dan sumber pencemarnya Karakteristi Parameter Sumber pencemar k Domestik dan limbah industri. komersial dan limbah Kimia Organik . protein industri Domestik. inflow / infiltrasi . . organic volatile Pembusukan alami bahan organik . pestisida Limbah pertanian Domestik. komersial dan limbah . Menurut Sugiharto (1987) dasarnya pemeriksaan biologis di dalam air limbah dimaksudkan untuk mengidentifikasi apakah ada bakteri-bakteri patogen berada didalam air limbah. lain-lain H a l I-12 | 38 . Bau Fisik industri Limbah rumah tangga dan industri. Warna pembusukan alami bahan organik Dekomposisi air limbah.

Air limbah domestik . penyaluran air fosfor domestik. . klorida penyaluran air domestik. Limbah industri . Air limbah domestik. tumbuhan treatment plants . potassium industri . air tanah infiltrasi . Domestik. Air limbah domestik. heavy metals . Aliran air terbuka dan . dekomposisi limbah Gas metan domestik Penyaluran air domestik.  Karakteristi Parameter Sumber pencemar k . Domestik dan limbah Konstituen . air tanah infiltrasi . nitrogen pertanian Kimia . Air limbah domestik. infiltrasi air permukaan dan treatment plants H a l I-13 | 38 . Domestik dan limbah anorganik . . infiltrasi oxygen air permukaan Biologi . . limpasan runof Domestik. komersial dan limbah sulfur industri. pH penyaluran air domestik. Protista · Eubacteria · Air limbah domestik. alkalinitas penyaluran air domestik. animals treatment plants . Dekomposisi limbah hydrogen sulfide domestik . cacing . Aliran air terbuka dan . air tanah infiltrasi .

  Karakteristi Parameter Sumber pencemar k · Air limbah domestik. lintang (latitude). Temperatur Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim. waktu dalam hari. ketinggian dari permukaan air laut (Altitude). 2014) 1. sirkulasi udara. Karakteristik Fisika . penutupan awan dan aliran serta kedalaman badan air.2. H a l I-14 | 38 . infiltrasi · Archaebacteria air permukaan dan treatment plants (Sumber: Tchobanoglous. Suhu juga sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses kimia.3 Karakteristik Berbagai Parameter Air Buangan a. fisika. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya. dan biologi badan air.

reaksi kimia. juga dapat menambah kekeruhan yang banyak. dan sebagainya. peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air. pertanian. banjir. H a l I-15 | 38 . Longsor. logam. CO2. Peningkatan suhu perairan sebesar 10 oC menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2-3 kali lipat. N2. dikondisikan agar suhu menjadi normal. evaporasi. . (Haslam. dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Effendi. Namun peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi.1995) Selain itu. baik yang bersifat anorganik ataupun yang organik. biasanya berasalkan lapukan batu. misalnya gas O2. Zat anorganik. Berbagai limbah seperti buangan domestik. 2003) Oleh karenanya suhu air diatur dalam PERMENKES No 492 tahun 2010 dan PP No 82 tahun 2001 dengan batas suhu maksimal yang diperbolehkan adalah ±3 oC. Kekeruhan Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi. dan volatilisasi.  Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air. CH4. (H. sedangkan yang organik dapat berasal dari lapukan tanaman dan/atau hewan. dan industri merupakan sumber kekeruhan. sehingga aman bagi makhluk hidup yang mengonsumsi dan hidup di lingkungan perairan tersebut. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah suhu tinggi dalam air adalah dengan Aerasi (hydrolik jump).

untuk itu perlu adanya pengolahan lebih lanjut. Air yang keruh sulit didesinfeksi. 2003). akan tetapi jika berlebihan dapat meningkatkan nilai kekeruhan. humus. Effendi. karena mikroba terlindung oleh zat tersuspensi tersebut (Soemirat. P. . sehingga mendukung perkembangbiakannya. 2011) TDS ini melebihi standar baku mutu yang ada. filtrasi. filtrasi. flokulasi. yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air (H.45 µm. carbon adsorption. Demikian pula dengan algae yang berkembang biak karena adanya zat hara N. Bakteri ini juga merupakan zat organik tersuspensi. dan ion-ion logam H a l I-16 | 38 . (Soemirat. garam anorganik dan gas terlarut. TDS (total dissolved solids) biasanya terdiri dari zat organik. flokulasi. TDS Padatan tersuspensi total (TDS) adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter > 1 µm) yang tertahan pada saringan milipore dengan diameter pori 0.  Zat organik dapat menjadi makanan bakteri. K akan menambah kekeruhan air. karena keberdaaan plankton. Bahan-bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik. Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik pula. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kekeruhan yang melebihi baku mutu dalam air adalah dengan Koagulasi. . sehingga pertambahannya akan menambah pula kekeruhan air. efek TDS ataupun kesadahan terhadap kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab masalah tersebut. Warna Warna perairan ditimbulkan oleh adanya bahan organik dan bahan anorganik. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah TDS dalam air adalah dengan koagulasi. bila mikroba itu patogen. 2011). Selanjutnya. Hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan.

  (misalnya besi dan mangan). misalnya alumunium dan besi. ganggang. dan asam humus yang berasal dari dekomposisi tumbuhan yang telah mati menimbulkan warna kecokelatan. dalam penyediaan air minum warna sangat dikaitkan dengan segi estetika. Warna perairan pada umumnya disebabkan oleh partikel koloid bermuatan negatif. Sedangkan kalsium karbonat yang berasal dari daerah berkapur menimbulkan warna kehijauan pada perairan. sehingga penghilangan warna di perairan dapat dilakukan dengan penambahan koagulan yang bermuatan positif.. filtrasi. Warna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air dan mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis. TSS Total suspended solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2μm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. logam oksida. flokulasi. H a l I-17 | 38 . Yang termasuk TSS adalah lumpur.05 mg/liter sudah cukup dapat menimbulkan warna pada perairan (peavy et al.3 mg/liter dan kadar mangan sebanyak 0. Adanya oksida besi menyebabkan air berwarna kemerahanm sedangkan oksida mangan menyebabka air berwarna kecokelatan atau kehitaman. lignin. 2003) Perairan alami tidak berwarna. Effendi. tanah liat. (Sawyer dan McCarty. Sumber air untuk kepentingan air minum sebaiknya memiliki warna antara 5-50 PtCo. 1978) Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah warna melebihi baku mutu dalam air adalah dengan Koagulasi. (H. Bahan-bahan organik seperti tanin. Kadar besi sebanyak 0. sulfida. . serta bahan-bahan lain. Untuk kepentingan keindahan air sebaiknya tidak melebihi 15 PtCo. bakteri dan jamur. 2003).1985 dalam Effendi.

Fungsi dari hasil pengukuran BOD adalah : 1. Menentukan besarnya fasilitas pengolahan air buangan 3. BOD merupakan H a l I-18 | 38 . Mengukur efisiensi dari suatu proses pengolahan BOD biasanya didefinisikan sebagai jumlah oksigen yang diperlukan oleh bakteri dalam mendegradasi bahan organik terurai dalam kondisi aerobik. Karakteristik Kimia . Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah TSS berlebih adalah Sand Filter. Atau banyaknya oksigen yang diperlukan untuk menguraikan zat organik dalam air secara biologik sampai menjadi senyawa yang stabil. BOD5 (Biochemical Ozygen Demand) BOD5 adalah salah satu parameter yang biasanya sering digunakan untuk menentukan beban pencemar di dalam air buangan ataupun air permukaan. Menentukan kuantitas oksigen yang diperlukan untuk menstabilissasikan 2. parameter BOD sangat penting sekali karena parameter ini merupakan salah satu indikator pencemaran air. BOD juga merupakan parameter kualitas air yang menggambarkan banyaknya bahan organik yang dapat diuraikan (dioksidasikan) oleh mikroorganisme dalam kondisi tertentu. b. Air yang tercemar biasanya mempunyai BOD yang tinggi. Biasanya penentuan BOD termasuk didalamnya pengukuran DO menggunakan bantuan mikro organisme. biasanya pada temperatur 20OC selama 5 hari. TSS memberikan kontribusi untuk kekeruhan (turbidity) dengan membatasi penetrasi cahaya untuk fotosintesis dan visibilitas di perairan. sebaliknya air yang tidak tercemar mempunyai BOD yang rendah.  TSS umumnya dihilangkan dengan flokulasi dan penyaringan. Proses terurai dapat diartikan bahwa bahan organik dapat berfungsi sebagai makanan untuk bakteri dan energi yang berasal dari proses oksidasinya.

Dalam metode pengukuran COD H a l I-19 | 38 . hal yang penting adalah design pengolahan dan unit pengolahannya. karena bila BOD semakin tinggi dapat menyebabkan kematian. sedimentasi. Makin banyak kandungan zat organik makin tinggi BOD. koagulasi. flokulasi. Setelah rencana pengolahan dilakukan beberapa pengujian terhadap beberapa unit untuk mengevaluasi keefesiensiannya. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah BOD berlebih adalah Grit Chamber. Hal ini merupakn factor dari beberapa metode pengolahan dan penentuan kriteria unit yang biasanya menggunakan saringan dan activated sludge. Unuk pengolah BOD.  petunjuk penting untuk mengetahui banyaknya zat organik yang terkandung dalam air limbah. hal ini menunjukkan bahwa semua komponen orgnik serta beberapa pengecualian dapat dioksidasi dengan menggunakan beberapa proses oxidizing agent yang kuat dalam kondisi asam. Perairan yang memiliki nilai BOD tinggi dan tidak mempunyai kemampuan meningkatkan kandungan oksigen terlarutnya akan sangat berbahaya bagi kehidupan biota akuatik yang ada. glukosa dan lignin merupakan komponen yang dapat dioksidasi secara sempurna. Pengukurannya mengacu pada total kuantitas dari oksigen mengoksidasi karbon dioksida dan air. COD (Chemical Oxygen Demand) COD sering dipakai untuk mengetahui serta mengukur konsentrasi dari limbah domestik dan industri. Peningkatan nilai BOD merupakan petunjuk adanya penurunan kandungan oksigen terlarut yang disebabkan oleh peningkatan jumlah populasi organisme dan meningkatnya laju penguraian. . Selama penentuan COD materi dapat dikonfersikan menjadi karbon dioksida dan beberapa material biological seperti. BOD merupakan salah satu factor yang normalnya digunakan untuk menghitung unit untuk secondary treatment dan proses biological yang terjadi.

chemical coagulation. NO2 Nitrit di perairan alami biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit. flokulasi. dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Effendi. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah COD berlebih adalah koagulasi. Hal ini sangat diperlukan untuk semua jenis sample. pengolahan COD sangat membantu indikasi kondisi berbahaya dan kehadiran materi organic yang resisten. Hubungannya dengan pengolahan BOD. filtrasi. Hal ini sangat bernilai untuk mengetahui desain serta control untuk sewer system. Bagi manusia dan hewan nitrit bersifat lebih toksik daripada nitrat. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat (nitrifikasi). karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Pada manusia nitrit yang berlebihan dapat mengakibatkan terganggunya proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin yang tidak mampu mengikat oksigen. (H. COD biasanya digunakan untuk menentukan pengolahan buangan industri. . lebih sedikit daripada nitrat. Sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik. 2003) Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah nitrit berlebih adalah dengan Ion exchange.  beberap akses oxidizing agent harus hadir untuk memastikan semua materi organik dapat dioksidasikan secara sempurna sesuai dengan kekuatan reagen. Besi (Fe) H a l I-20 | 38 . Hasil dapat diperoleh relatif dalam waktu yang singkat dan pengukuran diambil untuk mengoreksi beberapa hal yang ganjil hingga analisis berjalan baik. carbon adsorption. Pengujian biasanya digunakan saat operasional unit-unit pengolahan. .

Tembaga H a l I-21 | 38 .05 . [Fe(OH)3] dalam bentuk koloid dan organik kompleks.2 mg/1. (Soemirat. 2011) Karena banyaknya dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh besi maka haruslah dilakukan proses pengolahan.3 mg/1 (Rump dan Krist. kematian sering kali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. rapid sand filter. 1992). antara lain bentuk suspensi dari lumpur. . carbon adsorption. Kadar besi pada perairan yang mendapat cukup aerasi (aerob) hampir tidak pernah lebih dari 0. 1988) Jika konsentrasi besi di dalam air relatif besar. yaitu menaikan tingkat oksidasi oleh suatu oksidator dengan tujuan merubah bentuk besi terlarut menjadi bentuk besi tidak larut (endapan). warna kuning. Endapan yang terbentuk dihilangkan dengan proses sedimentasi dan atau filtrasi. dan kekeruhan. Besi sebenarnya hanya ditemukan pada perairan yang bersifat anaerob akibat proses dekomposisi bahan organik yang berlebihan.0. pengendapan pada dinding pipa. sedangkan kadar besi pada perairan alami berkisar antara 0. sekalipun besi (Fe) diperlukan oleh tubuh manusia. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah besi berlebih adalah dengan Adsorpsi.  Besi pada air permukaan terdapat dalam beberapa bentuk. pertumbuhan bakteri besi. Besi pun dapat menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan. Proses penghilangan besi pada prinsipnya adalah proses oksidasi. tanah liat dan partikel (dispersi) halus dari besi (III) hidroksida. debu besi juga dapat terakumulasi di dalam alveoli dan dapat menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru. Besi dalam dosis besar di dalam tubuh dapat merusak dinding usus. (Boyd. ion exchange. akan memberikan dampak antara lain menimbulkan rasa.

Tembaga (Cu) yang masuk ke lingkungan perairan dapat berasal dari peristiwa-peristiwa alamiah dan sebagai efek samping dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Kesadahan Kesadahan adalah gambaran kation logam divalen (valensi dua).  Tembaga atau Copper (Cu) merupakan logam berat yang dijumpai pada perairan alami dan merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan dan hewan. Kadar tembaga yang tinggi dapat mengakibatkan korosi pada besi dan alumunium. Perairan dengan nilai kesadahan tinggi pada umumnya merupakan perairan yang berada di wilayah yang memiliki lapisan tanah pucuk (top soil) tebal dan batuan kapur. Perairan H a l I-22 | 38 . Kesadahan perairan berasal dari kontak air dengan tanah dan batuan. sehingga membuat masyarakat tidak suka memanfaatkan penyediaan air bersih tersebut. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tembaga berlebih adalah dengan Filtrasi. Defisiensi tembaga dapat mengakibatkan anemia. tembaga berperan sebagai penyusun plastocyyanin yang berfungsi dalam transport electron dalam proses fotosintesis. Pada tumbuhan termasuk algae. Aktivitas manusia. Mg dan ion ion logam polivalen lainnya. Kesadahan pada dasarnya menggambarkan kandungan Ca. (H. seperti buangan industri. 2003). merupakan salah satu jalur yang mempercepat terjadinya peningkatan kelarutan Cu dalam badan perairan. adsorpsi. Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan (presipitasi) maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air mebentuk endapan atau karat pada peralatan logam. koagulasi. namun kadar tembaga yang berlebihn dapat mengakibatkan air menjadi berasa jika diminum dan dapat mengakibatkan kerusakan pada hati. Effendi. .

molekul dengan ikatan yang kuat dan struktur cincin merupakan esensi non biodegradable. koagulasi. c. Senyawa organik biasanya terdiri dari kombinasi karbon. Oleh sebab itu. Pada umumnya kandungan bahan organik yang dijumpai di dalam air limbah berisikan 40%-60% adalah protein. Karakteristik Organik .  lunak berada pada wilayah dengan lapisan tanah atas tipis dan batuan kapur relatif sedikit atau bahkan tidak ada. 2003) Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesadahan berlebih adalah dengan Filtrasi. dan fenol biasa ditemukan pada sistem air alami . (H. Bila keadaan ini terus berlanjut. beberapa industri kimia. sulfur. Asam tanin. Effendi.com). hidrogen dan oksigen. serta 10% lainnya berupa lemak. Zat Organik Air buangan kira-kira mengandung 75% SS. adsorpsi. phosfor. (H. binatang. 2003) Beberapa materi organik resisten dari degradasi biologis. dan campuran hidrokarbon yang berkombinasi dengan klorin. Effendi. Hal ini ditemukan pada pestisida organik. juga nitrogen. 25%-50% karbohidrat. dimana 40% nya merupakan bahan organik alami. Sebagian besar pestisida bersifat toksik kumulatif dan meyebabkan beberapa masalah pada rantai makanan yang lebih tinggi. lignin. Tingginya zat organik yang dapat dioksidasi menunjukkan adanya pencemaran. besi. H a l I-23 | 38 . dapat menyebabkan jumlah oksigen didalam air berkurang. Beberapa organik yang non biodegradable bersifat toksik bagi organisme. selulosa. (jujubandung. aktivitas manusia yang dihubungkan dengan sintesa senyawa organik. Padatan ini berasal dari tumbuhan. Zat organik mudah diuraikan oleh mikroorganisme. maka jumlah oksigen akan semakin menipis sehingga kondisi menjadi anaerob dan dapat menimbulkan bau. bila zat organik banyak terdapat di badan air.wordpress. Zat organik merupakan indikator umum bagi pencemaran.

1. walaupun sebagai suatu grup mereka biasanya hadir dalam jumlah yang besar dalam tinja menusia dan juga pada binatang berdarah panas yang lainnya. memiliki parameter tersendiri. Coliform tinja adalah kelompok dari total koliform yang dianggap hadir khususnya di usus dan kotoran dari hewan berdarah panas. Bakteri di dalam air yang diolah atau air alami bervariasi.  Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah zat organik berlebih adalah dengan Koagulasi. . selain itu harus bebas dari bakteri yang memberi indikasi pencemaran tinja. Kedua air tersebut harus dianalisis parameter- parameternya guna mendapatkan pengolahan yang diinginkan yang akan dijelaskan lebih detail pada sub bab 1. flokulasi. dalam air yang telah dipengaruhi oleh air permukaan. Badan air penerima yaitu sungai.3. desinfeksi. Total coli Tes yang paling mendasar bagi kontaminasi bakteri pada air adalah tes untuk bakteri coliform Total.4. filtrasi.2. Pendeteksian organisme golongan coli tinja khususnya E. coli menunjukkan secara nyata telah terjadi pencemaran oleh tinja. 1. terdapat parameter-parameter yang telah disebutkan pada sub bab 1. idealnya air minum tidak boleh mengandung mikroorganisme patogen apapun.3 ANALISIS AIR BUANGAN Pada air buangan ini. serta kotoran manusia maupun hewan. Indikator utama untuk tujuan ini disarankan mempergunakan golongan coli sebagai organisme secara keseluruhan. Jumlah coliform memberikan indikasi umum kondisi sanitasi untuk suatu perairan. Jumlah coliform termasuk bakteri yang ditemukan di dalam tanah. Pengolahan yang tepat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah Total coli berlebih adalah Desinfeksi.1 Stream Standard H a l I-24 | 38 .

Karakteristik air buangan tersebut ditentukan langsung dari sumbernya tergantung jenis aktifitas yang dilakukan.1 0. 82 Tahun an 2001 Kelas 2 Melebihi Baku 1 BOD mg/L 24 3 mg/L Mutu Tidak Melebihi 2 TDS mg/L 30 1000 mg/L Baku Mutu Melebihi Baku 3 COD mg/L 37 25 mg/L Mutu 4 NH4+ mg/L 0. Peraturan yang mengkaji permasalah stream standard adalah Peraturan Pemerintah No. mg/L 0. No.24 . Effluent standard H a l I-25 | 38 . 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. mg/L 19 . mg/L - Melebihi Baku 5 NO2.3. Tabel 1. mg/L - Sumber: Hasil Perbandingan.06 mg/L Mutu Melebihi Baku 6 TSS mg/L 58 50 mg/L Mutu Tidak Melebihi 7 NO3. mg/L 6.   Stream standard adalah aturan yang menentukan batas kadar buangan yang diijinkan ada pada perairan air buangan setelah air buangan tersebut bercampur dengan air yang ada pada badan air penerima.3 Perbandingan Data Kualitas Badan Air Penerima B Dengan Baku Mutu Standar Baku Parame Satu Konsentr Mutu Satu No Keterangan ter an asi PP. Berikut ini merupakan tinjauan kualitas badan air penerima B yang dibandingkan dengan PP.2 Effluent Standard Effluent standard adalah aturan yang menentukan batas kadar air buangan yang dapat ditoleransi dan dapat diterima oleh badan air (sungai). 82 Tahun 2001 Kelas II. No. 2015 1.3 10 mg/L Baku Mutu 8 SO42.

112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Limbah Domestik. Penggunaannya adalah dengan memperhatikan kadar maksimum. - t 95 m3/de 2 Q maks 0.4 Bentuk Pengolahan Air Buangan B Dari Parameter Yang Melebihi Baku Mutu Standar Baku Mutu N Satu Nil Satu Parameter KepMen LH 112 Keterangan o an ai an Tahun 2003 m3/de 0. Effluent standard biasanya sering digunakan pada sungai yang kualitasnya sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Peraturan ini memberikan aturan bahwa air limbah domestik perlu memenuhi syarat-syarat yang ada pada peraturan tersebut sebelum dibuang menuju badan air.5 1 Q rata-rata .7 9 . . . - Melebihi Baku 6 TSSin mg/L 253 100 mg/L Mutu 7 TSSout mg/L 20 . - 5 CODin mg/L 258 . . - t Melebihi Baku 3 BODin mg/L 172 100 mg/L Mutu 4 BODout mg/L 100 .   diatur oleh Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. . . Berikut adalah tinjauan per parameter yang dibandingkan dengan standar baku mutu KepMen LH No. - 3. 2015 H a l I-26 | 38 . debit limbah dan beban pencemaran maksimum. .2 . Tabel 1. - 50 Lumpur mg/L 9.2 8 MLVSS mg/L .9 . . . - 0 udara Sumber: Hasil Perbandingan.112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Limbah Domestik. - resirkulasi SS 42 1 Berat jenis kg/m3 1.

0. 82 ua o n Air Camp n r n Sebel Tahun 2001 n Pener uran um Kelas 2 ima Diola h mg/ mg/ Melebihi 1 BOD 24 172 48 3 L L Baku Mutu mg/ mg/ 2 TDS 30 . .3 . .06 - L L mg/ mg/ Melebihi 6 TSS 58 253 90 50 L L Baku Mutu mg/ mg/ 7 NO3. . 2015 (Qa x Ca +Qs x Cs) Keterangan: Co : Konsentrasi Campuran Rumus Co= Qa+Qs Ca : Konsentrasi Air Buangan Cs : Konsentrasi Badan Air Penerima H a l I-27 | 38 . .24 . 10 - L L mg/ mg/ 8 SO42. . . . 0. . 1000 - L L mg/ mg/ 3 COD 37 . - L L mg/ mg/ 5 NO2.1 . 25 - L L mg/ mg/ 4 NH4+ 0. No. - L L Sumber: Hasil Perhitungan.   Tabel 1.5 Konsentrasi Campuran Sebelum Air Buangan B Melalui Pengolahan Konse Standar Baku ntrasi Mutu Konse Air ntrasi Konse Para Sat Buan Sat N Bada ntrasi Keteranga mete ua gan PP. 6. 19 .

perancang dapat mengetahui pula sejauh mana kemampuan pengolahan air buangan dan keberhasilan unit pengolahan dalam kurun waktu tertentu.3.  Contoh perhitungan: Parameter BOD : Cs = 24 mg/L Qa = 900 L/det Ca = 172 mg/L Qs = 4650 L/det (Qa x Ca +Qs x Cs) ( 900 x 172+4650 x 24 ) Co= = =48 mg/ L Qa+Qs 900+ 4650 Dengan menganalisa parameter yang akan diolah. 1. sehingga unit mempunyai kapasitas dan dapat mengolah air menjadi air baku yang sesuai standar dalam waktu yang lama. Setelah mengetahui seberapa besar efisiensi unit pengolahan. selanjutnya dapat diketahui seberapa besar nilai parameter yang harus dikurangi agar memenuhi baku mutu dan dapat menentukan seberapa besar efisiensi unit pengolahan agar parameter tersebut memenuhi baku mutu (Anwar. Peraturan-Peraturan Yang Berhubungan Dengan Stream Standard Dan Effluent Standard.3. H a l I-28 | 38 . 2008).

4 INVENTARISASI UNIT PENGOLAHAN 1.4. 1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 111 tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.Jenis Pengolahan H a l I-29 | 38 . Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. . .  Peraturan-peraturan yang berhubungan dengan kedua standar tersebut adalah: . .1 Jenis . Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah.

diharapkan agar bahan-bahan tersuspensi dalam air limbah yang berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. pada proses ini bisa dilakukan tanpa tambahan bahan kimia bila ukurannya sudah besar dan mudah mengendap tapi dalam kondisi tertentu dimana bahan-bahan terususpensi sulit diendapkan maka akan digunakan bahan kimia sebagai bahan pembantu dalam proses sedimentasi. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. pada proses ini akan terjadi pembentukan flok- flok dalam ukuran tertentu yang lebih besar sehingga mudah diendapkan pada proses yang menggunakan bahan kimia ini masih diperlukan pengkondisian pH untuk mendapatkan hasil yang optimal. Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Teknik-teknik pengolahan air buangan/limbah cair yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi tiga metode pengolahan: 1. sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air limbah. Pengolahan secara fisika Pada umumnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).  Berbagai teknik pengolahan air buangan/limbah cair untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudahdengan proses pengendapan. biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis- H a l I-30 | 38 . Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan. Tahap penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar biasanya dengan menggunakan sand filter dengan ukuran silica yang disesuaikan dengan bahan- bahan tersuspensi yang akan disaring.

flotasi. filtrasi dan transfer gas. biasanya dengan karbon aktif. Fungsi penyaringan ini adalah untuk menghilangkan zat padat yang kasar. flokulasi. terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.  Flokulasi H a l I-31 | 38 .2004). Bagian-bagian dari screening terdiri dari batang-batang yang dipasang secara paralel yang biasa disebut sebagai “bar rack” atau screen kasar yang digunakan untuk meremoval bahan-bahan yang kasar.  Screening Penyaringan merupakan unit operasi pertama dalam pengolahan air limbah. terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa. sedimentasi. Dalam pengolahan limbah saringan kasar ini digunakan untuk melindungi unit pengolahan lainnya dari penyumbatan dan kerusakan. (Metcalf & Eddy. Pada umumnya proses tersebut dengan jalan melewati air limbah melalui para-para atau saringan kasar untuk menghilangkan benda- benda yang besar. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal Unit operasi fisik merupakan metode pengolahan dimana diaplikasikan proses fisik seperti screening.  nya. Proses adsorbsi. Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil. dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya. mixing.

Partikel-partikel dalam interval ukuran partikel koloid adalah sangat kecil untuk dapat diendapkan dalam waktu yang singkat dan terlalu kecil untuk dijerat oleh lubang-lubang suatu filter (Davis dan Cornwell. Muatan permukaan yang lebih besar akan menyebabkan kestabilannya menjadi lebih besar (Davis dan Cornwell. Reaksi koagulasi terjadi dengan sangat cepat. dan pada pengolahan air limbah tingkat lanjutan. Selama terjadinya koagulasi. pengolahan air limbah.  Partikel-partikel koloid mempunyai sifat yang stabil biasanya mengapung di dalam larutan dan tidak dapat dihilangkan dengan sedimentasi atau filtrasi. 2002). 1991). sedimentasi digunakan pada pengolahan air minum. ion positif yang ditambahkan ke dalam larutan akan mereduksi muatan permukaan dengan tujuan agar koloid tidak saling menolak satu sama lain (Davis dan Cornwell. sehingga diperlukan pencampuran yang cepat untuk menyebarkan bahan koagulan sehingga menyebar ke seluruh bagian air limbah (Culp dkk. (Masduqi. Pada umumnya. Tujuan koagulasi adalah untuk mengubah partikel koloid sehingga mereka dapat melekat satu sama lain. Partikel-partikel koloid ini berada di dalam suatu gerakan yang disebut Gerak Brown (Brownian Movement) yang merupakan gerak partikel yang tidak teratur.  Sedimentasi Sedimentasi adalah pemisahan solid-liquid menggunakan pengendapan secara gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. H a l I-32 | 38 . Keadaan yang stabil di dalam larutan terjadi karena mereka memiliki muatan negatif sehingga membuat partikelnya saling berjauhan sebelum bertubrukan satu sama lain. 1991). 1991). 1978).

Penyisihan bahan- bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut. logam-logam berat. sehingga oksigen bukan merupakan faktor pembatas. Pengolahan secara kimia Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid). yaotu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO) didalam air ada dalam konsentrasi yang rendah. yaitu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO) didalam air cukup banyak.  Lingkungan anoksik. 3. Filtrasi digunakan di pengolahan air untuk menyaring air yang telah dikoagulasi dan mengendap untuk menghasilkan air limbah dengan kualitas yang baik. dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. senyawa fosfor.(anonim). dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. H a l I-33 | 38 .   Filtrasi Filtrasi adalah suatu proses pemisahan solid dari cairan dimana cairan (air) dilewatkan melalui suatu media yang berongga atau materi berongga lainnya untuk menyisihkan sebanyak mungkin materi tersuspensi. yaitu :  Lingkungan aerob. 2. yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi). baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi- reduksi. Proses pengolahan air buangan secara biologis dapat berlangsung dalam tiga lingkungan utama. Pengolahan secara biologi Pengolahan air buangan secara biologis adalah salah satu cara pengolahan yang diarahkan untuk menurunkan atau menyisihkan substrat tertentu yang terkandung dalam air buangan dengan memafaatkan aktivitas mikroorganisme untuk melakukan perombakan substrat tersebut. dan zat organik beracun.

yaitu :  Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reactor). Proses pengolahan air limbah secar biologis tersebut dapat dilakukakn pada kondisi aerobik dan anarobik atau kombinasi anaerobik dan aerobik. Proses biologis aerobik biasanya digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang tidak terlalu besar. merupakan kebalikan dari lingkungan aerob. reaktor dapat dibedakanmenjadi 2 bagian. 2004). sehingga mikroorganisme tersebut dapat menggunakan bakteri organik pencemar yang ada sebagai bahan makanan dalam kondisi lingkungan tertentu dan mendegradasi atau menstabilisasinya menjadi bentuk yang lebih sederhana (Metcalf & Eddy. yaitu tidak terdapat oksigen terlarut. sehingga oksigen menjadi faktor pembatas berlangsungnya proses metabolisme aerob.  Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reactor). Proses pengolahan biologi merupakan proses pengolahan air limbah dengan memanfaatkan aktivitas pertumbuhan mikroorganisme yang berkontak dengan air limbah.Hampir semua junis limbah cair dapat diolah secara biologi bila dilakukan melalui analisis dan kontrol lingkungan yang benar. yaitu reaktor dimana mikroorganisme yang berperan pada proses penguraian substrat tumbuh dan berkembang biak dalam keadaan yang tersuspensi. H a l I-34 | 38 . yaitu reaktor dimana mikroorganisme yang berperan pada prosses biologis tumbuh dan berkembang biak dalam keadaan tersuspensi.   Lingkungan anaerob. Sedangkan berdasarkan pada kondisi pertumbuhan mikroorganisme yang bertanggung jawab pada proses penguraian yang terjadi. Unit proses biologi merupakan metode pngolahan dimana kontaminan disisihkan melalui aktivitas biologi yang ditujukan untuk menghilangkan substansi organik biodegradable dalam limbah cair .

1987) Pengolahan Awal (Pretreatment) Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah.  sedangkan proses biologis anaerobik digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang tinggi. Pembunuhan Lanjutan (Ultimate Disposal) (Sugiharto.2 Tahapan Pengelolaan Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi BOD. Pengolahan Kedua (secondary Treatment) 4. Pengolahan pendahuluan(pre Treatment) 2. Pengolhan Ketiga(Tertiary Treatment ) 5. Pengolahan pertama(Primary Treatment) 3.equalization and storage.Selain itu . serta oil separation.partikel tercampur.seeta membunuh organisme pathgen.kompinen beracun. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal. Pembunuhan Kuman (Disiinfection) 6.diperlukan juga tambahan pengolahan untuk menghilngkan nutrisi .Kegiatan pengolahan air limbah dapat dikelompokan menjadi 6 bagian yaitu 1. 1.serta bahan yang tida dapat didegradasi agar konsentrasi yag ada menjadi rendah.4. H a l I-35 | 38 .

chemical addition and coagulation. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization. dan filtration. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. sedimentation. flotation.  Gambar 1.1 Unit Grit Chamber untuk Grit Removal  Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment) Pada dasarnya pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. H a l I-36 | 38 .

anaerobic lagoon. serta anaerobic contactor and filter.2 Unit Clarifier  Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment) Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge. H a l I-37 | 38 . stabilization basin. rotating biological contactor. aerated lagoon. tricking filter.  Gambar 1.

filtration. carbon adsorption. ion exchange.  Gambar 1. serta thickening gravity or flotation. Gambar 1. membrane separation.4 Unit Gravity Thickener H a l I-38 | 38 .3 Unit Trickling Filter  Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment) Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation.

Ditemukan pula bahwa beberapa pathogen atau parasit telah resistan terhadap desinfektan. Namun demikian pada tahun-tahun belakangan ini ditemukan bahwa di dalam proses klorinasi terjadi hasil samping berupa senyawa halogen organik yang dapat meracuni manusia maupun binatang. vacuum filtration.   Pembunuhan Kuman memakai Klor (Khlorinasi) Khlorinasi adalah proses yang paling awal pada abad ini untuk pengamanan terhadap mikro-organisme pathogen. sehingga mendorong untuk menemukan disinfektan yang lebih aman.pressure filtration. atau landfill. centrifugation. incineration. lagooning or drying bed.  Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment) Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion. H a l I-39 | 38 . Pemusnahan pathogen dan parasit dengan cara disinfeksi sangat membantu dalam penurunan wabah penyakit akibat konsumsi air dan makanan.

  Gambar 1.5 Sludge Drying Bed H a l I-40 | 38 .

ML terhadap F/M 0.8 .5 hal 30 2–5 Bahan ajar ITS Waktu detensi Td Jam 4-8 Metcalf & Eddy Koefisien mgVSS/mg Y 0.BOD5/kg.Bowo.   BAB II PERHITUNGAN UNIT-UNIT PENGOLAHAN 2.Bowo.25 – 0.6 VSS. 4 .2 – 0.hari Bahan ajar ITS mikroorganisme Mixed LiquorVolatile Suspended Solid X 3000-6000 mg/L Bahan ajar ITS (MLVSS) Metcalf & Eddy 0.25 – 1 - Djoko M.75 Bahan ajar ITS Koefisien resirkulasi Qr/Q 0.1 Kriteria Desain Tangki Aerasi Parameter Simbol Besaran Satuan Sumber Metcalf & Eddy 5 – 15 Umur sel lumpur θ Hari c Djoko M. 0.8 Bahan ajar ITS pertumbuhan BOD H a l II-1 | 21 .3 – 0.6 Bahan ajar ITS Rasio makanan 0.15 hal 30 0.25 – 0.4 – 0.7 Metcalf & Eddy Volumetric loading Vl kg BOD/m3.hari 0.1 TANGKI AERASI Kritera Desain Tabel 2.2 – 0.2.4 Metcalf & Eddy kg.

6 m Bahan ajar ITS Bahan ajar ITS 62 Konsentrasi O2 M m3/kg BOD Djoko M.250 mg/L Konsentrasi lumpur 9.9 m3/detik BOD in (S0) 172 mg/L BOD out (Se) Sesuai KepmenLH no.112 tahun 2003 (100mg/L) CODin 258 mg/L TSS in 253 mg/L TSS out 20 mg/L Konsentrasi MLVSS (Xc) 3.2 Data Perencanaan Parameter Nilai Q rata-rata air buangan 0.2 kg/m3 (STP) H a l II-2 | 21 . 45-90 hal 30 Efisiensi penyisihan η 85-95 % Metcalf & Eddy BOD Efisiensi penyisihan η 85-95 % Metcalf & Eddy SS Data Perencanaan Soal B : Tabel 2.Bowo.025- Kd /hari Bahan ajar ITS sel 0.595 m3/detik Q maksimum air buangan 0.   Parameter Simbol Besaran Satuan Sumber Koefisien kerusakan 0.3 – 0.075 Kedalaman tangki h air 3-5 m Bahan ajar ITS aerasi limbah Freeboard H 0.742 mg/L SS resirkulasi (Xres) Berat jenis udara 1.

01 m2 = 2L2 L= √ 423.01 m2 = 2L x L 423.7 10 kg kg hari  Pertambahan massa Mixed-Liquor Suspended Solid (MLSS).313. Volume reaktor. P(XSS) VSS diasumsikan 80% SS P 1850.75 m X ( 1+ k d θ c ) mg 3000 ×(1+ ( 0.5 m = 423.05 ×12 hari)  Pertambahan massa Mixed-Liqour Volatile Suspended Solid (MLVSS). Yobs Y 0.54 m 2. Vr 3 m mg mg θ c QY ( S0 −S e ) 12 hari ×51408 ×0.8(172 −100 ) hari L L 3 V r= = =7.5 m  luas permukaaan bak =As = V/h = 1480.480.7 Px ( SS)= x = =2.5 172 [( mg L −100 mg L × 1m 3 )] 1000 L 1 mg × 6 =1.402.SS terbuang di effluent H a l II-3 | 21 . Px P=Q ×Y obs ( S 0−S e ) =51408 m3 hari × 0.05 ×12 hari ) ) L Q yang dipakai Q rata-rata  direncanakan 5 bak aerasi.5 1+ k d θc 1+(0.752 m3/5 = 1.4 kg /hari 0.55 m3/3.8 Y obs = = =0. sehingga volume tiap bak Vr/n = 7402.01 m2  Rasio panjang : lebar = 2 : 1 A=PxL 423. Lumpur yang harus dibuang setiap hari  Observed Yield Coefficient.8  Lumpur yang harus dibuang = P(XSS) .01m2 2 = 14.8 0.   Perhitungan : 1.850 .55 m3  direncanakan kedalaman bak = 3.

472 L . Qres L hari L L mg m3 mg 167.2 kg/hari 3.076. Xe = TSS out x 0.577.993 . Laju pembuangan sludge  Diasumsikan Q = Qe (kehilangan air dari sludge dewatering dan penguapan diabaikan).72 m3 /hari 4.  = P(XSS) – (Q.Qres mg m3 mg mg 167.285. dan VSS efluen adalah 80% SS.8 Xe = 20 mg/L x 0.076 .16 7402.177 . SS terbuang di effluent) = 2.6 . Rasio resirkulasi X c ( Q+Qres ) =0.4 kg/hari – (51.408 hari ) +Qres =0.10-3 = 1.8 ×9.6 . Qres L hari L mg m 3 167076000 L hari m3 Qres = =39.313.250 L ( 51.8 = 16 mg/L VrX θc = Qw X +Qe X e V r Qe X e Qw = − θc X m3 mg 51408 .408 m3/hari x 20 mg/L).75 m3 hari L Qw = − 12hari mg 3000 L Qw =342.000 =4.000 +3400 Q res =7.3 mg hari 4177.6 L H a l II-4 | 21 .8 × X res Qres mg m3 mg 3.

777 Q m3 51.46 jam Q m3 2.  m3 39.68  Kebutuhan oksigen m3 mg mg 51.443.408 (172 −100 ) O Q ( S−So ) hari L L kg × 2 = ×10−3= ×10−3=5.2 d 0. Rasio F/M dan volumetric loading factor  Perhitungan rasio F/M mg 172 F S L 0.402.408 hari 5.75 m 8.68 7.46 jam× 3.3 Qres hari =R= =0. Perhitungan kebutuhan udara Efisiensi transfer oksigen bagi peralatan aerasi yang digunakan diasumsikan sebesar 8%.68 0.68 0. Safety factor sebesar 2 digunakan untuk H a l II-5 | 21 . Waktu retensi hidrolis bagi reaktor V 7.75 m3 θ= r = =3.194 kg BOD 5 /m hari Vr 7402.2 kg /hari 0.000 L  Perhitungan volumetric loading factor 3 mg m 172 ×51408 S0Q −3 L hari −3 3 × 10 = 3 ×10 =1.443.68 BODL)  Massa BODL yang digunakan 3 m mg mg Q ( S−S 0 ) 51.02 0.142 jam 6. Kebutuhan oksigen berdasarkan BODL (asumsi BOD5 = 0.408 (172 −100 ) −3 hari L L −3 × 10 = ×10 =5.48 = 0= = = M θX mg jam hari 3.993.

08 hari menit  Kebutuhan desain udara =2 x kebutuhan udara sebenarnya pada efisiensi transfer 8% 3 3 m m =2x 169.396.2% berat oksigen O kg .   menghitung volume desain yang sebenarnya untuk menghitung blower.2 3 ×0.72 m3 /hari kg kg berat jenis udara 3 ×0.5 =169.72 m3 / hari m3 m3 ¿ = =244. Periksa volume kebutuhan udara dengan menggunakan nilai sebenarnya  Kebutuhan udara per unit volume m3 kebutuhanudara sebenarnya pd efisiensi transfer 8 hari ¿ m3 Q hari m3 244.551.232 m m  Kebutuhan udara sebenarnya pada efisiensi transfer 8% kebutuhan udara teoritis 19.408 hari  Kebutuhan udara per kilogram BOD yang disisihkan 3 m kebutuhanudara sebenarnya pd efisiensi transfer 8 hari ¿ −3 ( S0 −S e ) Q ×10 3 m 244.  Kebutuhan udara teoretis.443.551.4 menit 9.5 3 hari m ¿ 3 =66.72 0.72 menit = 339.08 0.232 1.754 m3 /m3 m 51.396.029 BOD5 yang disisihkan mg mg m kg ( 172 L −100 L ) × 51408 hari × 10−3 H a l II-6 | 21 .5 hari ¿ 3 =4. 2 d 5. dengan asumsi bahwa udara mengandung 23.396.2 kg/hari ¿ = =19.

5 – 4 10 – 15 30 22. masing-masing dengan dimensi Kedalaman tangki = 3. ft Depth. Sehingga jumlah total aerator untuk 5 bak adalah 5 buah.5 14 – 23 75 55 15 – 20 50 – 85 4.5 m Lebar tangki = 14.3 Dimensi Tipikal Mechanical Surface Aerator Tank Dimensions Aerator Size U.5 – 5. Dalam saluran terdapat orifice untuk mendistribusikan aliran influen sepanjang lebar bak aerasi. Konstruksi Inlet Konstruksi inlet terdiri dari saluran segi empat sepanjang lebar tangki aerasi.408 m3/hari  Qres =R x Qinf = 0.88 m.5 – 6 15 – 26 100 75 15 – 20 60 – 90 4.5 – 6 18 – 27 Direncanakan 5 buah tangki.777 x 51408 m3/hari = 39.02 m3/hari H a l II-7 | 21 . Tabel 2.5 12 – 18 40 30 12 – 17 45 – 65 3. m 10 7.S customary SI Units hp kW Depth.5 13 – 15 40 – 60 4 – 4. 11. sehingga untuk masing-masing bak dibutuhkan 1 buah aerator.5 10 – 12 30 – 40 3 – 3.944. Aliran inflow memasuki saluran pada bagian tengah dengan menggunakan pipa cast iron. Daerah kerja aerator adalah 3.  Qinf = Q= 51.5 15 – 18 45 – 75 4.5 m x 16. ft Width. maka aerator yang digunakan adalah yang berukuran 30 hp.5 9 – 12 20 15 12 – 14 35 – 50 3. Perhitungan sistem surfaceaerator Lihat tabel 5-33 buku Metcalf & Eddy untuk dimensi tipikal tangki aerasi yang digunakan untuk mechanical surface aerator.  10.5 – 5 14 – 20 50 37.54 m Dari tabel di atas. m Width.

5 m (tentukan sendiri).6 × 0.035 m 0.352. H a l II-8 | 21 .02 m3/hari  Qtot/jumlah bak (dengan satu bak dikuras) = m3 91.5m = 50 cm (tentukan sendiri)  Panjang saluran = lebar bak = 14.352.8 12.40 m3/hari = 0.408 m3/hari + 39. Lebar salurang outlet = 0.54 m  Tinggi muka air dalam saluran = 0. dengan dimensi 20 x 20 cm  Debit tiap orifice = Qbak/banyaknya orifice = 0.2 m× √2 × 9.270. Konstruksi Outlet Konstruksi outlet menggunakan rectangular weir. yaitu 14.54 m.02 m3/detik  CD=0.02 det = 0.016 hari = 18.   Qtot = Qinf+ Qres= 51.21 m3/detik 5  Lebar saluran inlet = 0.6 2  Kehilangan tekanan ∆ H= [ Q CD × A ×√2 g = ] 2 [ ] m3 0.2m ×0.02 m3/hari = 91.944. dengan panjang weir sama dengan lebar bak.3 m  Banyaknya orifice = 9 buah (tentukan sendiri).

  2. H a l II-9 | 21 . Lumpur yang mengandung bakteri yang masih aktif akan diresirkulasi kembali ke activated sludge dan lumpur yang mengandung bakteri yang sudah mati atau tidak aktif lagi dialirkan ke pengolahan lumpur.2 BAK PENGENDAP Bak pengendap II (secondary clarifier) berfungsi untuk memisahkan lumpur aktif dari activated sludge dari MLSS. Langkah ini (pengolahan lumpur) merupakan langkah terakhir untuk menghasilkan effluen yang stabil dengan konsentrasi BOD dan suspended solid (SS) yang rendah.

200 4 Kedalaman H 3.5 Data Perencanaan H a l II-10 | 21 .200 4 Weir loading WL 125-500 m3/m2. Skema Pengolahan Bak Pengendap II Dari Lumpur Aktif Tabel 2.200 bak 4 Waktu retensi td 2-6 jam Tchobanoglous&franklin.1985 bak Diameter bak D 3-60 m Tchobanoglous&franklin.  Gambar 2.jam Qasim.5-5 Kg/m2.hari Tchobanoglous&franklin.200 4 Slope dasar S 1/16 – 1/6 mm/mm Tchobanoglous&franklin.200 4 Data perencanaan : Tabel 2.4 Kriteria Desain Bak Pengendap Parameter Simbol Besaran Satuan Sumber Overflow rate OR 8-16 m3/m2.1985 16-28 Tchobanoglous&franklin.1985 4-6 Tchobanoglous&franklin.1.200 4 Solid loading SL 0.5-5 m Qasim.hari Qasim.

595 . A.005 m/dt  sumber eckenfelder Qin 17855. Qtiap bak = n = 5 = 0. Aact Vo = 0.77) 10. Luas bak pengendap.hari Aact 907.7 3 2 ¿= = =19.595 m3/detik=51.281.72 m = 34 m 34 ¿ ¿ 1 2 1 Aact = π D = x 3.855. Qin = (1+R)Q-Qw = (1+0. Qin Qr 0.72 = 17.8 m/s  R = 0.   Qrata-rata = 0. diameter bak pengendap. Waktu detensi . td 24 x Aact x H 24 x 907.6 – 342. OR Qin 17855.855.14 =33. D.7 H a l II-11 | 21 .77 Perhitungan : 1.408 m3/h  Qw produksi lumpur = 342.72 m3/hari  H = 5 meter  TSSin = 253 mg/l  Penggeruk lumpur tipe traveling flight  Jumlah bak pengedap = 6 buah(1 cadangan)  V saluran effluent = 0.78m2 V0 20 m /m /hari D= √ √ 4A π = 4 x 892.46 x 5 td= = =6 jam Qin 17. dan luas bak sebenarnya.67=20 m /m .6 m3/hari .7 m3 /hari A= = 3 2 =892.7m3/detik 2.281.46 3.119 m3/detik = 10.78 3.14 x ¿ 4 4 Overflow Rate.

46 6. Control overflow rate bila satu bak pengendap tidak beroperasi ' Q Q= =m3 /hari jumlah bak −1 51408 Q' = =12.  4.5 m Kedalaman pada pusat bak akan bertambah dari tepi sebesar :5. Bilangan Reynold .855. hari 907. Debit resirkulasi 3 Qres=R x Qin=m H a l II-12 | 21 .hari A 17.62 m3 /m2 .852m 3/hari 5−1 3 12852 4 ¿ =10.7 x 253 2 Solid Loading= =4.5m D 0 t= X tan 10 =m 2 34 t= X tan 100=2.00 m 2 8.978. Nre ¿x H Nre= =¿ µ 20 x 5 Nre= =1.99 m=3. Kedalaman akhir bak pengendap Kedalaman akhir bak pengendap = kedalaman zona sedimentasi (zo) + freeboard = 5 + (10% x 5) = 5.157.hari 907.46 Apakah memenuhi syarat pada kriteria desain? Memenuhi kriteria 7.17 kg /m .40 86400 x 10−6 5. Kontrol solid loading Qin x TSSin Solid Loading= =kg /m2 .




3
Qres=0,77 x 17855,7=13.748,04 m

9. Banyaknya lumpur yang harus dialirkan ke pengelolaan lumpur oleh
masing-masing bak pengendap
Qr=Qres +Qw =m3
Qr=13.748,8+ 342,72=14.091,60 m3

10. Banyaknya lumpur yang harus dialirkan ke tangki stabilisasi sebagai sludge
return, QR total
QR total=4 x 14091,60=56.366,44 m3

11. Inlet
Inlet berupa pipa berdiameter 16 inch yang menyalurkan pengolahan dari
bak aerasi ke tengah bak pengendap II

12. Outlet
Digunakan sistem pelimpah
3
m
Q pelimpah=Q¿ −Qres −Qw = , Q =R x Q¿
hari res
3764,05 m3
Q pelimpah=17855,7−13.748,8−342,72=
hari

Sistem pelimpah menggunakan V-notch 90o
Direncanakan jarak antar pelimpah, I = 12 cm
- Jumlah pelimpah , n
n = keliling lingkaran/I = buah
- Debit tiap pelimpah
3764,05 796,83 m3
= =752,81
5 hari detik
- Tinggi air di atas pelimpah, h
Qpelimpah 25
h= ( 1,4 ) =¿

2
3764,05
h=(
1,4 )
=26,88 m=26,08 m
5

13. Saluran pembawa efluen
- Qrata-rata tiap bak = Q/jumlah bak = m3/hari
- Luas penampang basah saluran, A

H a l II-13 | 21




0,595
A= =0,199 m 2 = 0,2 m2
5

- Kedalaman air pada effluent launder, d
0,199
d= =0,03 m
5
L asumsi

- Jari- jari hidrolis, R
0,20
R= =0,188 m=0,19
2(0,03)+1
- Slope, S (n = koef. Manning –pvc = 0,013)
0,013 0,199
x
0,199 0,192 /3
¿ =3,87x10-4
¿
S=¿

2.3 GRAVITY THICKENER

H a l II-14 | 21




Pengolahan lumpur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suatu
instalasi pengolahan air limbah. Inti dari pengolahan lumpur adalah
mengurangi kadar air, menstabilkan, serta menghilangkan mikroorganisme
patogen. Berikut ini adalah berbagai teknologi/metode dalam pengolahan
lumpur. Secara umum, sistem penanganan dan pembuangan lumpur terdiri
dari:

-Pemadatan (Thickening),

-Stabilisasi (Stabilization),

-Pengeringan (Dewatering),

-Pembuangan (disposal).

Thickening adalah proses yang dilakukan untuk mengurangi volume lumpur
sekaligus meningkatkan konsentrasi padatan di dalam lumpur. Proses ini dapat
dilakukan menggunakan peralatan antara lain gravity thickener, gravity belt
thickener, rotary drum, separator, centrifuge, dan flotator.

2.3.1 Kriteria Perencanaan
- Pemisahan solid = 85%
- Specific gravity lumpur =1,03 kg/liter
- % solid lumpur = 10%
- Solid loading perencanaan = 62 kg/m2.hari
- Kedalaman thickener (h) = 4 m

2.3.2 Perhitungan
2.1 Dimensi Bak Thickener
1. Volume lumpur yang masuk (Qres total dari bak pengendap
II)
= 105.293 m3/hari
2. Berat SS yang masuk dari bak pengendap I
= 8.500 kg/hari

H a l II-15 | 21

94 m2 ×4 m=615.8 ≈ 440 buah l l 0.94 m 4 6. Luas sebenarnya (Aact) 1 A act = π D2 4 1 2 2 ¿ π 14 =153.1 m2 π =13. Ruang lumpur (h) Direncanakan dasar gravity thickener dibuat miring dengan membentuk sudut 10° terhadap dasar horizontal D h= × tan 10 ° 2 14 h= × tan 10° =1.3.1  Berat lumpur setelah dikentalkan Pemisahan ×berat SS yang masuk ¿ solid lumpur H a l II-16 | 21 . Direncanakan jarak pelimpah (l)= 10 cm  Jumlah pelimpah (n) keliling lingkaran πD 14 π n= = = =439.76 m2 7. Volume gravity thickener V = A act ×h V =153.3 Sistem effluen Digunakan sistem pelimpah menggunakan V notch 90°.  3. Luas gravity thickener (A) berat SS A= solid loading 8500 kg /hari A= 2 =137. Diameter gravity thickener (D) D= 4A π√ ¿ √ 4 ×137.234 2 2. hari 4.1 m2 62 kg /m .21 m≈ 14 m 5.

93 x 10−4 440 detik  Tinggi air diatas pelimpah (h) 2 Qpelimpah 5 h= ( 1.200 kg/ hari m3 QL = × =75.4 ) 2/ 5 h= ( 6.22 ) detik  Debit pelimpah (qo) Vsupernatan / 4 q 0= n 1.13 cm 2.76 m hari V¿  Volume supernatan Volume supernatan=Vmasuk−Vkeluar m3 m3 1 hari m3 ¿ 105.293 hari −75.93 x 10−4 1.92 m3 /hari 1.4 Sistem outlet H a l II-17 | 21 .0313 m=3.03 kg /l 1000 l  Volume lumpur jika td pengambilan tiap 3 hari L=¿ Q L ×3 hari V¿ 3 m 3 L=¿ 75.200 kg/hari 10  Volume lumpur perhari (QL) berat lumpur setelah dikentalkan QL = specific gravity lumpur 78.3.92 × ( hari 86400 detik =1.4 ) =0.22 /4 m3 q 0= =6.92 × 3 hari=227.   85 ×8500 kg /hari ¿ =78.

44 m=244 cm 0. Lebar bed :6m H a l II-18 | 21 . Lebar bed :6m 3.4 SLUDGE DRYING BED Kriteria Perencanaan: 1.5 m 3. Tebal lapisan media : 200-300 mm 2.22 detik A= =1. yang terbuat dari beton dengan konstanta kekasaran n=0. Panjang bed : 6-30 m Direncanakan: 1.5 m 2. v=1 m/s.  Luas penampang (A) Qsupernatan A= V m3 1. supernatan ditampung pada saluran penampung yang berbentuk segi empat dengan lebar (b)= 0. Tebal lapisan media : 250 2.22 m2 Y= =2.  Setelah dialirkan melalui pelimpah. Tebal cake di bed : 0.013 dan kecepatan aliran.5m.22 m2 1 m/ s  Kedalaman air pada saluran (Y) A Y= b 1.

5 m. Tebal cake di Bed 0. Berat air di dalam cake sludge : 60% berat solid (Pi) = 60% x kg 72. Jumlah bed rencana (n) : 2 operasi.5 m Sehingga Lebar = 6 m Panjang Bed = 70.0146 h ari h ari Perhitungan: 1. terdiri dari: H lumpur = 0.0146 x 10 Kapasitas Bed (V) = Vi x T h ari = =35.15 m2 =11.2 m Sehingga H total = h lumpur + h pasir + h gravel + fb = 0.1 m Freeboard rencana (fb) = 0. Kadar Air : 90% 2.  4.146 x 10 =7.250 h ari kg ¿ 43.691=11. Dimensi Bed m3 7. Lumpur td Pengambilan x 10% = m3 m3 70.7 m 3..25 m H pasir = 0. Volume solid (Vi) Vol.073 m 3 Luas Bed (A) = = 70.15 m2 Tebal cake di bed 0. Berat Solid : berat lumpur x kadar solid= 72.073 m3 2 2 V 35.15 m H gravel = 0.350 h ari 6. Waktu pengeringan (T) : 10 hari 5. 1 standby Kondisi lumpur yang keluar dari gravity thickener: 1.250 kg/hari x10%= 7225 4. Desain Bak Tiap bak terdiri dari 1 drainage lateral line H a l II-19 | 21 . Kadar Solid: 10% 3.7 m(kriteria desain panjang bed 6−30 m) 6 2.

0585 m = 32.7 m + 0. L H central = slope x S = 0.85cm Maka kedalaman bak dari central pipeline adalah: H central = 0.02 x 2. dimana L=S .15 m S= =2.76 m H a l II-20 | 21 .925m 2 c) Kedalaman central (h central): Slope = 2% h central Slope = .  Letak pipa memanjang Slope pipa = 20% Diameter pipa = 100 mm lebar bak 6m a) Letak pipa = jumlah bak = =3 m 2 b) Jarak pipa dari dinding (S): Lebar tempat pipa = 150 mm = 0.925 m = 0.15 m 6 m−0.0585 = 0.

Ada beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan untuk pemilihan proses pengolahan tersebut. M. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data: (Juanda. Kegiatan pengolahan air limbah dapat dikelompokan menjadi 6 bagian yaitu H a l III-1 | 2 . antara lain: (Yudo. 2012)  Data fisik kota  Data Sosial Ekonomi  Kondisi topografi  Data penduduk  Penggunaan air bersih  Lokasi Bangunan Pengolahan Air Buangan (BPAB) 2. Stream Standar adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup. zat.  Dapat menghilangkan padatan tersuspensi (SS) dengan baik. Kriteria untuk memilih proses pengolahan air limbah domestik. Effluent Standar adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam media air dari suatu usaha dan/atau kegiatan.  Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.. terlebih dahulu harus dilakukan analisis terhadap kondisi umum. 2008)  Efisiensi pengolahan dapat mencapai standar baku mutu lingkungan.  Pengelolaannya harus mudah. atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air. Untuk menentukan teknologi yang akan digunakan untuk pengolahan air limbah.  Konsumsi energi sedapat mungkin rendah. 5. batasan-batasan yang ada.  Lumpur yang dihasilkan sedapat mungkin kecil. dan potensi yang dimiliki oleh daerah pelayanan. energi. (PP RI Nomor 82 Tahun 2001) 3. (Permen LH RI Nomor 5 Tahun 2014) 4.  BAB III KESIMPULAN 1. Proses pengolahan air limbah domestik tidak bisa dipilih secara acak.  Biaya operasinya rendah.

Pembunuhan Lanjutan (Ultimate Disposal 7.  Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 111 tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air.   Pengolahan pendahuluan(pre Treatment)  Pengolahan pertama(Primary Treatment)  Pengolahan Kedua (secondary Treatment)  Pengolhan Ketiga(Tertiary Treatment )  Pembunuhan Kuman (Disiinfection) 6. H a l III-2 | 2 .  Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.  Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah. Peraturan yang menjadi acuan dalam pengolahan air limbah yaitu  Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

  DAFTAR PUSTAKA 1. Tchobanoglous. Surabaya 2. “Dasar – dasar Pengelolaan Air Limbah”.L Burton.tips/documents/ksda-08-09-standar-ka. 5rth Ed. 4. 1987. Soemirat. Kanisius. Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran. http://inspeksisanitasi. Gadjah Mada University Press. 2014.com/2014/01/dampak-kesehatan-dan- lingkungan-mercury. 8. santika. Anonim. Anonim. “Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan”. UI Press.Inc. “Dampak Kesehatan dan Lingkungan Mercury”. Sugiharto. 2014. dan F. Effendi. G.. Usaha Nasional. G. “Konservasi Sumber Daya Air”. Yogyakarta. Hefni. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 112 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air limbah Domestik. Wastewater Engineering: Treatment.html (diunduh tanggal 14 September 2014) 9. 7.blogspot. 2003. Jakarta. “Kesehatan Lingkungan”. Juli. and Resources Recovery. http://dokumen. Singapore. Cetakan Pertama. “Metoda Penelitian Air”. 2015. sri sumestri. Yogyakarta 3. 1984.html (diunduh tanggal 5 Oktober 2015) Hal 5 . Alaerts. 6. 5. McGrawHill.

  LAMPIRA N  Hal 6 .