Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...

 109

Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia
Volume 7 - No. 1, Juni 2010

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU PERSISTENSI LABA
Zaenal Fanani
Universitas Airlangga
fanani_unair@yahoo.com

Abstract

This research is aimed to examine and find out empirical evidence of the influence of cash flow volatility,
magnitude of accrual, sales volatility, leverage, and operating cycle on earnings persistence. Samples used
in this research are manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange (BEI) during period
2001-2006. Total samples are 141 companies. The data are collected using purposive sampling method.
The analysis of this research employs multiple regression. Results show that cash flow volatility, magnitude
of accrual, sales volatility, leverage have significant effect on earnings persistence, but operating cycle do
not have significant effect on earnings persistence.

Keywords: cash flow volatility, magnitude of accrual, sales volatility, leverage, operating cycle, and
earnings persistence

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menemukan bukti empiris pengaruh volatilitas arus kas, besaran
akrual, volatilitas penjualan, tingkat hutang, dan siklus operasi terhadap persistensi laba. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) selama periode 2001-2006. Total sampel 141 perusahaan. Data dikumpulkan dengan menggunakan
metode purposive sampling. Analisis penelitian ini menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa volatilitas arus kas, besaran akrual, volatilitas penjualan, tingkat hutang berpengaruh
signifikan terhadap persistensi laba, tetapi siklus operasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
persistensi laba.

Kata kunci: volatilitas arus kas, besaran akrual, volatilitas penjualan, tingkat hutang, dan siklus operasi,
persistensi laba

LATAR BELAKANG Menurut Statement of Financial
Accounting Concepts (SFAC) No.1, terdapat
Pelaporan keuangan merupakan sebuah dua tujuan pelaporan keuangan, yaitu: pertama,
wujud pertanggungjawaban manajemen atas memberikan informasi yang bermanfaat bagi
pengelolaan sumber daya perusahaan kepada para investor, investor potensial, kreditor, dan
pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pemakai lainnya untuk membuat keputusan
perusahaan. Sedangkan laporan keuangan itu investasi, kredit, dan keputusan serupa
sendiri merupakan salah satu sumber informasi lainnya; kedua, memberikan informasi tentang
keuangan perusahaan yang dapat digunakan prospek arus kas untuk membantu investor dan
sebagai dasar untuk membuat beberapa kreditur dalam menilai prospek arus kas bersih
keputusan, seperti penilaian kinerja manajemen, perusahaan. Sedangkan menurut Standar
penentuan kompensasi manajemen, pemberian Akuntansi Keuangan (SAK) di Indonesia,
dividen kepada pemegang saham dan lain tujuan laporan keuangan adalah menyediakan
sebagainya. informasi yang menyangkut posisi keuangan,
110 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2010, Vol. 7, No. 1 hal 109 - 123

kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu yang tergambarkan dalam laba perusahaan.
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah Pandangan ini menyatakan laba yang persisten
besar pemakai dalam pengambilan keputusan tinggi terefleksi pada laba yang dapat
ekonomi. berkesinambungan (sustainable) untuk suatu
Darraough (1993) menunjukkan arti periode yang lama.
pentingnya laba dengan menyatakan bahwa Menurut Schipper (2004), pandangan
perusahaan memberikan laporan keuangan ini berkaitan erat dengan kinerja perusahaan
kepada berbagai stakeholder, dengan tujuan yang diwujudkan dalam laba perusahaan
untuk memberikan informasi yang relevan dan yang diperoleh pada tahun berjalan. Laba
tepat waktu agar berguna dalam pengambilan yang persisten jika laba tahun berjalan dapat
keputusan investasi, monitoring, penghargaan menjadi indikator yang baik untuk laba
kinerja, dan pembuatan kontrak. Agar dapat perusahaan di masa yang akan datang (Lev
memberikan informasi yang handal maka laba dan Thiagarajan 1993; Richardson et al. 2001;
harus persisten. Penman dan Zhang 2002; Beneish dan Vargus
Schipper and Vincent (2003), menjelaskan 2002; Richardson 2003) atau berasosiasi kuat
bahwa laba digunakan oleh investor dan dengan arus kas operasi di masa yang akan
kreditor sebagai dasar pengambilan keputusan datang (Dechow dan Dichev 2002 dan Cohen
ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan 2003).
pengambilan keputusan pembuatan kontrak Sedangkan pandangan kedua menyatakan
(contracting decision), keputusan investasi persistensi laba berkaitan dengan kinerja harga
(investment decision) dan pembuat standar saham pasar modal yang diwujudkan dalam
(standard setters). Keputusan melakukan bentuk imbal hasil, sehingga hubungan yang
kontrak yang didasarkan pada persistensi laba semakin kuat antara laba perusahaan dengan
yang rendah menyebabkan terjadinya transfer imbal hasil bagi investor dalam bentuk return
kesejahteraan yang tidak diinginkan oleh saham menunjukkan persistensi laba yang
semua pihak. Misalnya, investor menaksir laba tinggi (Ayres 1994). Pandangan kedua ini juga
terlalu tinggi sebagai indikator kinerja manajer, menyatakan bahwa persistensi laba berkaitan
maka akan mengakibatkan kompensasi yang dengan kinerja saham perusahaan di pasar
berlebihan kepada manajer. Demikian pula modal. Hubungan yang semakin kuat antara
dengan laba yang ditaksir terlalu tinggi dapat laba dengan imbalan pasar menunjukkan
menutupi kemampuan melunasi hutang yang persistensi laba tersebut semakin tinggi (Lev
sesungguhnya dan memberikan informasi dan Thiagarajan 1993; Chan et al. 2004).
yang menyesatkan kepada kreditor untuk Motivasi penelitian ini adalah pertama,
melanjutkan pemberian pinjaman atau mengkaji peran laba bagi investor sebagai dasar
menangguhkan penyitaan. pengambilan keputusan. Laba dalam laporan
Persistensi laba menjadi pusat perhatian keuangan sering digunakan oleh manajemen
bagi para pengguna laporan keuangan, untuk menarik calon investor sehingga
khususnya bagi mereka yang mengharap laba tersebut sering direkayasa sedemikian
persistensi laba yang tinggi. Penman (2001), rupa oleh manajemen untuk mempengaruhi
mengungkapkan bahwa laba yang persisten keputusan investor.
adalah laba yang dapat mencerminkan Kedua, konstruksi persistensi laba tidak
keberlanjutan laba (sustainable earnings) di dapat diobservasi secara langsung, namun
masa depan. dapat diobservasi dan diukur melalui proksi
Pengertian persistensi laba pada atau atribut-atribut yang melekat di dalam
prinsipnya dapat dipandang dalam dua sudut laba itu sendiri. Persistensi laba ini merupakan
pandang. Pandangan pertama menyatakan salah satu unsur kualitas informasi akuntansi
bahwa persistensi laba berhubungan relevansi yaitu nilai prediksi. Barth dan Hutton
dengan kinerja keseluruhan perusahaan (2001) menggunakan persistensi laba sebagai
Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...  111

karakteristik nilai relevan dalam model akrual dan aliran kas dari laba sekarang, yang
penelitiannya. Persistensi laba dipilih karena mewakili sifat transitori dan permanen laba.
sangat relevan dalam perspektif kegunaan Volatilitas arus kas mempengaruhi
keputusan dan mencerminkan tujuan dari persistensi laba karena adanya ketidakpastian
informasi akuntansi, seperti yang dikatakan tinggi dalam lingkungan operasi ditunjukkan
dalam Conceptual Framework FASB. Tujuan oleh volatilitas arus kas yang tinggi. Jika
tersebut adalah memberikan informasi yang arus kas berfluktuasi tajam maka persistensi
berguna bagi pembuatan keputusan oleh laba akan semakin rendah. Besaran akrual
investor (dan investor potensial) dan oleh mempengaruhi persistensi laba karena semakin
kreditor (dan kreditor potensial). Penelitian banyak akrual berarti semakin banyak estimasi
sebelumnya di Indonesia menggunakan dan error estimasi, dan karena itu persistensi
indikator earning response coefficient untuk laba akan semakin rendah. Volatilitas penjualan
mengukur persistensi laba seperti Lipe (1990), menunjukkan fluktuasi lingkungan operasi dan
Sloan (1996), Chandrarin (2001) dan Meythi penyimpangan aproksimasi yang besar dan
(2006). Nilai absolut akrual diskresioner berhubungan dengan kesalahan estimasi yang
digunakan oleh Dechow dan Dichev (2002); lebih besar sehingga menyebabkan persistensi
McNichols (2002), Chambers (2003); Aboody laba yang rendah. Besarnya tingkat hutang
et al. (2003); Francis et al. (2004, 2005); perusahaan akan menyebabkan perusahaan
Pagalung (2006) serta Fanny dan Siregar meningkatkan persistensi laba dengan tujuan
(2007). untuk mempertahankan kinerja yang baik di
Ketiga, faktor-faktor penentu persistensi mata investor dan auditor. Semakin panjang
laba dalam penelitian ini menggunakan siklus operasi menunjukkan semakin banyak
lima variabel independen yang merupakan kepastian, semakin banyak estimasi dan
kombinasi dari penelitian sebelumnya, yaitu; error estimasi, dan karena itu persistensi laba
volatilitas arus kas, besaran akrual, volatilitas semakin rendah.
penjualan, tingkat hutang, dan siklus operasi Berdasarkan latar belakang di atas
perusahaan. Variabel siklus operasi diadopsi maka penulis merumuskan permasalahan
dari Gu et al. (2002); Dechow and Dichev dalam penelitian ini adalah: apakah volatilitas
(2002); Cohen (2003); Francis et al. (2004), arus kas, besaran akrual, volatilitas penjualan,
Pagalung (2006), volatilitas penjualan dari tingkat hutang, dan siklus operasi berpengaruh
Dechow and Dichev (2002); Cohen (2003); terhadap persistensi laba?
Francis et al. (2004), Pagalung (2006), dan Ada dua manfaat penelitian yang
tingkat hutang dari Gu et al. (2002), Tumirin diharapkan di dalam penelitian ini, yang
(2003) dan Saputra (2003). Sedangkan dua pertama adalah manfaat teoritis dan yang
faktor yang lainnya adalah volatilitas arus kas kedua adalah manfaat praktis. Manfaat teoritis
diadopsi dari Sloan (1996), Dechow dan Dichev yang diharapkan adalah mengkaji faktor-
(2002) dan besaran akrual yang diadopsi dari faktor yang menentukan persistensi laba.
Sloan (1996), Dechow dan Dichev (2002). Sedangkan manfaat praktis yang diharapkan
Dua faktor tambahan ini adalah faktor yang adalah dapat memberikan manfaat kepada
memiliki kaitan erat dengan persistensi laba investor, calon investor, analis pasar modal dan
akuntansi. Penelitian sebelumnya untuk arus pemakai laporan keuangan yang lainnya untuk
kas dan akrual telah dilakukan oleh Sloan dapat mengukur persistensi laba secara tepat.
(1996), di dalam penelitiannya mengungkapkan Sehingga nantinya persistensi laba yang diukur
bahwa persistensi laba merupakan salah dapat dijadikan sebagai alat dalam membantu
satu komponen nilai prediksi laba dalam pengambilan keputusan di masa yang akan
menentukan persistensi laba, dan persistensi datang karena menggunakan pengukuran
laba tersebut ditentukan oleh komponen persistensi laba yang lebit tepat.
112 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2010, Vol. 7, No. 1 hal 109 - 123

TINJAUAN PUSTAKA DAN sekarang dengan laba mendatang. Semakin
PERUMUSAN HIPOTESIS tinggi (mendekati angka 1) koefisiennya
menunjukkan persistensi laba yang dihasilkan
Pengertian dan Pengukuran Persistensi laba tinggi, sebaliknya jika nilai koefisiennya
Selama ini laba akuntansi masih menarik mendekati nol, persistensi labanya rendah atau
perhatian para investor sebagai dasar dalam laba transitorinya tinggi. Jika nilai koefisiennya
pengambilan keputusan, seperti penilaian bernilai negatif, pengertiannya terbalik, yaitu
kinerja manajemen, penentuan kompensasi nilai koefisien yang lebih tinggi menunjukkan
manajemen, pemberian dividen kepada kurang persisten, dan nilai koefisien yang lebih
pemegang saham dan lain sebagainya. Oleh rendah menunjukkan lebih persisten. Penelitian
karena itu laba yang perlu diperhatikan oleh persistensi laba dengan menggunakan model
para calon maupun investor bukan hanya laba ini telah dilakukan oleh Lev dan Thiagarajan
yang tinggi, namun juga laba yang persisten. (1983), Sloan (1996), Penman dan Zhang
Menurut Wijayanti (2006), laba (2002), Richardson (2003), Francis et al.
yang persisten adalah laba yang dapat (2004), dan Pagalung (2006).
mencerminkan kelanjutan laba (sustainable
earnings) di masa depan yang ditentukan Perumusan Hipotesis
oleh komponen akrual dan aliran kasnya.
Pengaruh Volatilitas Arus Kas terhadap
Sedangkan Chandarin (2003) dalam Wijayanti
Persistensi laba
(2006) mengungkapkan bahwa laba yang
Salah satu kegunaan informasi arus
persisten adalah laba akuntansi yang memiliki
kas menurut PSAK No. 2 paragraf 03 adalah
sedikit atau tidak mengandung gangguan
meningkatkan daya banding kinerja operasi
(noise), dan dapat mencerminkan kinerja
berbagai perusahaan karena dapat meniadakan
keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Hal
pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi
ini juga dikuatkan oleh pendapat Hayn (1995),
yang berbeda terhadap transaksi dan peristiwa
gangguan dalam laba akuntansi disebabkan
yang sama (IAI, 2010). Kemampuan arus kas
oleh peristiwa transitori (transitory event) atau
untuk meningkatkan daya banding pelaporan
penerapan konsep akrual dalam akuntansi.
kinerja operasi ini merupakan salah satu
Penman dan Zhang (2002) mendefinisikan
alasan digunakannya arus kas sebagai sumber
persistensi laba sebagai revisi dalam laba
informasi oleh investor selain informasi laba.
akuntansi yang diharapkan di masa mendatang
Sesungguhnya, nilai yang terkandung
(expected future earnings) yang disebabkan
di dalam arus kas pada suatu periode
oleh inovasi laba tahun berjalan (current
mencerminkan nilai laba dalam metode kas
earnings). Persistensi laba tersebut ditentukan
(cash basis). Data arus kas merupakan indikator
oleh komponen akrual dan aliran kas yang
keuangan yang lebih baik dibandingkan
terkandung dalam laba saat ini. (Penman,
dengan akuntansi karena arus kas relatif lebih
2001). Bernstein (1993) dalam Sloan (1996)
sulit untuk dimanipulasi. Manipulasi akuntansi
menyatakan bahwa komponen akrual dari
biasanya dilakukan melalui penggunaan
current earnings cenderung kurang terulang
metode akuntansi yang berbeda untuk transaksi
lagi atau kurang persisten untuk menentukan
yang sama dengan tujuan untuk menampilkan
laba masa depan karena mendasarkan pada
laba yang diinginkan.
akrual, defferred (tangguhan), alokasi dan
Untuk mengukur persistensi laba
penilaian yang mempunyai distorsi subyektif.
dibutuhkan informasi arus kas yang stabil, yaitu
Persistensi laba memfokuskan pada
yang mempunyai volatilitas yang kecil. Jika
koefisien dari regresi laba sekarang terhadap
arus kas berfluktuasi tajam maka sangatlah sulit
laba mendatang. Hubungan tersebut dapat
untuk memprediksi arus kas di masa yang akan
dilihat dari koefisien slope regresi antara laba
datang. Volatilitas yang tinggi menunjukkan
Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...   113

persistensi laba yang rendah, karena informasi dalam memprediksi aliran kas di masa yang
arus kas saat ini sulit untuk memprediksi arus akan datang. Namun jika tingkat volatilitas
kas di masa yang akan datang. penjualan tinggi, maka persistensi laba tersebut
Volatilitas aliran kas mengindikasikan akan rendah, karena laba yang dihasilkan akan
adanya ketidakpastian tinggi dalam lingkungan mengandung banyak gangguan (noise).
operasi ditunjukkan oleh volatilitas arus kas Volatilitas penjualan mengindikasikan
yang tinggi. Jika arus kas berfluktuasi tajam fluktuasi lingkungan operasi dan kecenderungan
maka persistensi laba akan semakin rendah yang besar penggunaan perkiraan dan estimasi,
(Dechow dan Dichev, 2002). menyebabkan kesalahan estimasi yang besar
H1: Semakin besar volatilitas aliran kas sehingga menyebabkan persistensi laba yang
suatu perusahaan semakin rendah rendah (Dechow and Dichev 2002). Faktor
persistensi laba. volatilitas penjualan merupakan salah satu
faktor penentu persistensi laba (Francis et al.
Pengaruh Besaran Akrual terhadap Per- 2004) karena jika tingkat penyimpangannya
sistensi laba yang lebih besar akan menimbulkan persistensi
Laba dalam laporan keuangan akuntansi laba yang lebih rendah.
sering digunakan oleh investor maupun H3: Semakin besar volatilitas penjualan
calon investor untuk pengambilan keputusan. perusahaan semakin rendah persis-
Keputusan tersebut akan menentukan di tensi laba perusahaan.
perusahaan mana mereka akan berinvestasi.
Sehingga oleh manajemen, ada kemungkinan Pengaruh Tingkat Hutang terhadap
untuk merekayasa laba agar dapat menarik Persistensi laba
minat para investor dan calon investor untuk Tingkat hutang akan menjadi besar
menanamkan investasinya lebih banyak lagi. apabila lebih banyak utang jangka panjang
Jika begitu maka tidaklah mustahil jika terjadi yang dimiliki oleh perusahaan. Para pemegang
asimetri informasi antara pihak manajemen saham mendapatkan manfaat dari solvabilitas
dan pihak eksternal perusahaan. keuangan sejauh laba yang dihasilkan atas
Persistensi laba menjadi perhitungan uang yang dipinjam melebihi biaya bunga
lain di dalam pengambilan keputusan. Laba dan juga jika terjadi kenaikkan nilai pasar
akuntansi yang persisten adalah laba akuntansi saham. Utang mengandung konsekuensi
yang memiliki sedikit atau tidak mengandung perusahaan harus membayar bunga dan pokok
akrual, dan dapat mencerminkan kinerja pada saat jatuh tempo. Jika kondisi laba tidak
keuangan perusahaan yang sesungguhnya dapat menutup bunga dan perusahaan tidak
(Chandrarin 2003). Hayn (1995) menjelaskan dapat mengalokasikan dana untuk membayar
bahwa gangguan dalam laba akuntansi pokoknya, akan menimbulkan risiko kegagalan.
disebabkan oleh peristiwa transitori (transitory Maka dari itu seberapa besar tingkat hutang
events) atau penerapan konsep akrual dalam yang diinginkan, sangat tergantung pada
akuntansi. Semakin besar akrual, maka stabilitas perusahaan.
semakin rendah persistensi laba. Karena itu, tingkat hutang tinggi bisa
H2: Semakin besar akrual suatu memberi insentif lebih kuat bagi manajer
perusahaan akan semakin rendah untuk mengelola laba pada prosedur yang
persistensi laba. bisa diterima. Besarnya tingkat hutang
perusahaan akan menyebabkan perusahaan
Pengaruh Volatilitas Penjualan terhadap meningkatkan persistensi laba dengan
Persistensi laba tujuan untuk mempertahankan kinerja yang
Penjualan adalah bagian terpenting dari baik di mata investor dan auditor. Dengan
siklus operasi perusahaan dalam menghasilkan kinerja yang baik tersebut maka diharapkan
laba. Volatilitas penjualan yang rendah kreditor tetap memiliki kepercayaan terhadap
akan dapat menunjukkan kemampuan laba perusahaan, tetap mudah mengucurkan dana,
114 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2010, Vol. 7, No. 1 hal 109 - 123

dan perusahaan akan memperoleh kemudahan VP1-5 = Volatilitas Penjualan
dalam proses pembayaran. Hasil penelitian TH = Tingkat Hutang
Gu et al. (2002), Cohen (2003), dan Pagalung SO = Siklus Operasi
(2006) menunjukkan ada pengaruh positif e = Error (variabel lain yang tidak
antara tingkat hutang terhadap persistensi laba. dijelaskan dalam model)
H4: Semakin besar tingkat hutang suatu
perusahaan semakin tinggi persistensi laba. Definisi Operasional Variabel
Untuk memberikan pemahaman
Pengaruh Siklus Operasi terhadap Persistensi
yang lebih spesifik terhadap variabel-
laba
Siklus operasi adalah periode waktu variabel penelitian ini, maka variabel tersebut
rata-rata antara pembelian persediaan didefinisikan secara operasional disajikan pada
dengan pendapatan kas yang nantinya akan Tabel 1.
diterima penjual. Atau rangkaian seluruh
transaksi dimana suatu bisnis menghasilkan Populasi dan Sampel
penerimaannya dan penerimaan kasnya dari Populasi penelitian ini adalah seluruh
pelanggan. Siklus operasi suatu perusahaan
perusahaan manufaktur yang terdaftar di
terdiri dari transaksi-transaksi berikut: (a)
pembelian barang, (b) penjualan barang, dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sejumlah 181
(c) pengumpulan piutang dari pelanggan. perusahaan. Hal ini dilakukan karena struktur
Siklus operasi bersinggungan langsung dengan keragamanan operasional perusahaan relatif
laba perusahaan, hal ini dikarenakan ada faktor sama, disamping porsi perusahaan manufaktur
penjualan di dalam siklus operasi. yang terdaftar di Bursa lebih dari separuh
Perusahaan yang memiliki siklus operasi perusahaan yang tercatat (listing) di Bursa
yang lama dapat menimbulkan ketidakpastian,
Efek Indonesia. Sampel yang dipilih di dalam
estimasi dan kesalahan estimasi yang makin
besar yang dapat menyebabkan persistensi penelitian ini menggunakan teknik purposive
laba yang rendah. Siklus operasi yang lebih sampling. Adapun kriteria sampel yang dipilih
lama menyebabkan ketidakpastian yang lebih adalah:
besar, membuat akrual lebih terganggu (noise) a) Perusahaan manufaktur yang telah
dan kurang membantu dalam memprediksi terdaftar di BEI sejak 1 Januari 2001,
aliran kas di masa yang akan datang (Dechow b) Terdaftar di BEI sampai akhir tahun
& Dichev, 2002).
2006, sehingga menghasilkan laporan
H5: Semakin panjang siklus operasi
perusahaan semakin rendah persis- keuangan perioda akhir tahun 2006,
tensi laba perusahaan c) Menerbitkan laporan keuangan secara
lengkap dengan perioda pelaporan
METODE PENELITIAN tahunan yang berakhir pada tanggal 31
Desember, dan
Model Penelitian d) Perusahaan menerbitkan laporan
Model yang digunakan untuk menguji keuangan selama perioda 2001 sampai
hipotesis adalah sebagai berikut: 2006.

dimana: Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh
PL = Persistensi laba sampel sebanyak 141 perusahaan. Prosedur
α = Nilai intercept pemilihan sampel dalam penelitian ini di
β1−5 = Koefisien arah regresi paparkan dalam Tabel 2. Dari 141 perusahaan
VOK = Volatilitas Arus Kas
dilakukan uji univariate outlier (z-score)
BA = Besaran Akrual
Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...  115

Tabel 1
Definisi Operasional Variabel
116 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2010, Vol. 7, No. 1 hal 109 - 123

dengan kriteria jika data kurang/lebih dari + 2.58 rata (mean), nilai minimun, nilai maksimum,
tidak diikutkan dalam pengujian selanjutnya. dan standar deviasi, sehingga dapat diperoleh
Berdasarkan uji tersebut dikeluarkan sebanyak gambaran mengenai data sampel secara garis.
20 perusahaan yang mengalami outlier Adapun data yang diolah adalah sebanyak 121
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
sehingga data yang diuji 121 perusahaan.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini
Tabel 2
adalah volatilitas arus kas, besaran akrual,
Prosedur Pemilihan Sampel tingkat hutang, volatilitas penjualan, dan siklus
operasi. Sedangkan untuk pengukuran statistik
sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan
Penetapan Sampel Jumlah menggunakan program Statistical Package
• Perusahaan manufaktur yang 181 for Social Science (SPSS) 15 dengan hasil
terdaftar di BEI pada tahun 2001 (38) perhitungan pada Tabel 3.
• Perusahaan manufaktur yang
(2) Tabel 3 menyajikan statistik deskriptif
delisting selama tahun 2001
untuk 121 data selama lima tahun pengamatan.
sampai 2006
• Perusahaan manufaktur yang tidak (0) Baris pada Tabel 3 menyajikan statistik
menerbitkan laporan keuangan 141 deskriptif variabel volatilitas arus kas (VOK),
mulai tahun 2001 sampai dengan besaran akrual (BA), volatilitas penjualan
2006 (VP), tingkat hutang (TH), siklus operasi
• Periode pelaporan tahunan yang (SO), dan persistensi laba (PL). Kolom pada
diterbitkan tidak berakhir pada Tabel 3 menjelaskan jumlah sampel, nilai-nilai
tanggal 31 Desember minimum, maksimum, rata-rata (mean), dan
• Perusahaan manufaktur yang standar deviasi. Nilai minimum menjelaskan
memenuhi kriteria sebagai sampel
nilai terendah suatu variabel. Nilai maksimum
• Data Outlier 20
• Data yang diolah untuk regresi 121 menjelaskan nilai tertinggi suatu variabel.
Nilai rata-rata menggambarkan nilai kisaran
data yang diperoleh dari penjumlahan seluruh
data dan membaginya dengan jumlah data.
HASIL PENELITIAN DAN Sedangkan deviasi standar merupakan
PEMBAHASAN simpangan dari nilai rata-rata yang diakar
kuadratkan untuk suatu variabel.
Deskriprif Statistik Data Sampel Berdasarkan hasil pengukuran statistik
Pengukuran deskriptif statistik pada deskriptif pada Tabel 3 statistik deskriptif
penelitian ini bermanfaat untuk mempermudah variabel penelitian, dapat dijelaskan bahwa
pengamatan melalui perhitungan nilai rata- nilai minimum dari volatilitas arus kas adalah
Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...   117

0,006 dan nilai maksimumnya adalah 0,348 pengukuran tingkat hutang dihasilkan nilai
dengan nilai rata-rata 0,068. Standar deviasi minimum sebesar 0,130 dan nilai maksimum
volatilitas arus kas sebesar 0,054. Hal ini sebesar 2,185 dengan nilai rata-rata sebesar
menandakan bahwa volatilitas arus kas di 0,615. Standar deviasi tingkat hutang sebesar
perusahaan-perusahaan manufaktur yang 0,357. Hasil pengukuran ini mengindikasikan
sedang diamati rendah dan tidak fluktuatif bahwa perusahaan-perusahaan manufaktur
antara satu perusahaan dengan perusahaan yang sedang diamati menghasilkan tingkat
yang lain. Pada pengukuran variabel besaran hutang yang tinggi.
akrual nilai minimum yang dihasilkan adalah Pada pengukuran variabel siklus
0,013 dan nilai maksimumnya adalah 0,617 operasi, nilai minimum yang dihasilkan
adalah sebesar 35,355 dan nilai maksimum
dengan nilai rata-rata 0,106. Standar deviasi
yang dihasilkan adalah sebesar 551,971
besaran akrual sebesar 0,095. Nilai ini
sedangkan nilai rata-rata 150,076. Standar
mengindikasikan bahwa besaran akrual yang
deviasi siklus operasi sebesar 74,797. Nilai
terjadi tidak terlalu besar dan memiliki sebaran tersebut mengindikasikan bahwa turnover
data yang relatif seragam. siklus operasi pada perusahaan-perusahaan
Pengukuran pada variabel volatilitas manufaktur rata-rata 150 hari dan lamanya
penjualan menghasilkan nilai minimum siklus operasi antara satu perusahaan dengan
sebesar 0,027 dan nilai maksimum sebesar perusahaan sangat variatif. Sedangkan pada
1,163 dengan nilai rata-rata sebesar 0,254. variabel persistensi laba nilai minimum
Standar deviasi volatilitas penjualan sebesar -65,217 dan nilai maksimum 91,773. Standar
0,219. Nilai ini mengindikasikan bahwa deviasi persistensi laba sebesar 86,001. Semua
volatilitas penjualan yang terjadi di perusahaan perusahaan yang memiliki persistensi laba
manufaktur yang sedang diteliti cukup rendah tidak sama (berbeda) dengan nol. Hal ini
dan tidak begitu variatif. Sedangkan untuk menunjukkan variabel persistensi laba layak
118 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2010, Vol. 7, No. 1 hal 109 - 123

digunakan sebagai variabel dependen karena (Ghozali 2007, 108). Dari Tabel 5 dapat
lebih banyak perusahaan yang memiliki disimpulkan bahwa untuk volatilitas arus
variabel yang tidak sama (berbeda) dengan kas (VOK), besaran akrual (BA), volatilitas
nol. penjualan (VP), tingkat hutang (TH), dan
siklus operasi (SO) terhadap absolut residual
Pengujian Asumsi Klasik (absu) tidak terjadi heterosdastisitas dengan
ditunjukkan nilai signfikansi yang lebih besar
Uji Normalitas dari 0.05.
Hasil dari perhitungan Kolmogorof
Smirnov Test (lihat Tabel 4) sudah menunjukkan Uji Non-Kolinieritas Ganda (Multicolinearity)
distribusi yang normal pada model yang Untuk mendeteksi adanya multi-
digunakan dengan nilai probabilitasnya sebesar kolinearitas dapat dilihat dari Variance
0,519 (0,519 > 0,10) sehingga bisa dilakukan Inflation Factor (VIF). Dari Tabel 6 dapat
regresi dengan Model Linear Berganda disimpulkan bahwa untuk variabel volatilitas
(Ghozali, 2007:115). arus kas (VOK), besaran akrual (BA),
volatilitas penjualan (VP), tingkat hutang
Uji Non-Heteroskedastisitas (TH), dan siklus operasi (SO) tidak terjadi
Uji heteroskedastisitas dalam penelitian multikolineritas dengan ditunjukkan nilai VIF
ini dilakukan dengan menggunakan uji gleijser lebih kecil dari 10 (Ghozali 2007, 92).
Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...  119

Hasil Penelitian dan Pembahasan refleksi dari periode masa depan ataupun
Hasil regresi dapat dilihat pada Tabel 7. periode sekarang.
Tampak pada tabel tersebut menunjukkan
angka yang signifikan pada variabel volatilitas Pengaruh Besaran Akrual terhadap Per-
arus kas (VOK), besaran akrual (BA), volatilitas sistensi laba
penjualan (VP), dan tingkat hutang (TH), Penelitian ini berhasil memberikan bukti
sedangkan variabel yang lain yaitu variabel bahwa besaran akrual berpengaruh negatif dan
siklus operasi (SO) tidak menunjukkan angka signifikan terhadap persistensi laba. Terbukti
yang signifikan. dari hasil penelitian (Tabel 7) menunjukkan
bahwa signifikansi t pada volatilitas arus
Pengaruh Volatilitas Arus Kas terhadap kas menunjukkan nilai yang lebih kecil
Persistensi laba dibandingkan α (0.033 < 0.05). Hasil penelitian
Hasil penelitian ini berhasil memberikan ini sesuai dengan penelitian Dechow dan
bukti bahwa volatilitas arus kas berpengaruh Dichev (2002) yang menyatakan bahwa besaran
negatif dan signifikan terhadap persistensi akrual mempunyai pengaruh negatif dan
laba. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel signifikan terhadap persistensi laba. Walaupun
7 yang menunjukkan bahwa signifikansi t pada proksi pengukuran persistensi laba yang
volatilitas arus kas menunjukkan nilai yang berbeda dengan penulis, bagaimanapun juga
lebih kecil dibandingkan α (0.010 < 0.05). besar kecilnya komponen akrual yang terjadi
Hasil ini sesuai dengan Sloan (1996) serta di perusahaan akan menyebabkan gangguan
Dechow dan Dichev (2002) yang menyatakan (noise) yang dapat mengurangi persistensi
bahwa arus kas berpengaruh negatif laba. Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan
terhadap persistensi laba. Hasil penelitian dari Bernstein (1993,461) dalam Sloan (1996)
ini membuktikan bahwa volatilitas arus kas yang menyatakan bahwa komponen akrual
yang tinggi akan menyebabkan persistensi dari current earnings cenderung terulang lagi
laba yang rendah. Semakin besar fluktuasi atau persisten untuk menentukan laba masa
arus kas maka persistensi laba akan semakin depan karena didasarkan pada akrual, defferred
rendah. Volatilitas yang tinggi menunjukkan (tangguhan), alokasi dan penilaian yang
persistensi laba yang rendah, karena informasi mempunyai distorsi subyektif.
arus kas saat ini sulit untuk memprediksi arus
kas di masa yang akan datang. Pengaruh Volatilitas Penjualan terhadap
Hasil penelitian ini sama dengan Persistensi laba
penelitian sebelumnya meskipun proksi yang Hasil penelitian ini berhasil memberikan
digunakan dalam pengukuran persistensi laba bukti bahwa volatilitas penjualan berpengaruh
tidak sama dengan yang digunakan Sloan negatif dan signifikan terhadap persistensi
(1996) serta Dechow dan Dichev (2002). laba. Dari hasil penelitian dapat dilihat pada
Sloan (1996) hanya menggunakan laba Tabel 7 yang menunjukkan bahwa signifikansi
dibagi dengan total aset. Dechow dan Dichev t pada volatilitas arus kas menunjukkan nilai
(2002) menggunakan aliran kas operasi yang lebih kecil dibandingkan α (0.044 <
ditambah dengan perubahan modal kerja 0.05). Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian
dibagi total aset. Kedua pengukuran penelitian yang dilakukan oleh Pagalung (2006) dimana
sebelumnya tidak menggunakan estimasi volatililas penjualan tidak berpengaruh
dalam menentukan persistensi laba. Padahal terhadap persistensi laba.
laba dikatakan persisten jika perusahaan Volatilitas yang tinggi dari penjualan
dapat mempertahankan labanya dalam jangka dapat memprediksi persistensi laba, karena
panjang, atau dengan kata lain bahwa laba laba yang dihasilkan akan mengandung banyak
sekarang memberikan indikasi bagus untuk gangguan (noise). Disamping itu informasi
laba masa depan. Persistensi laba adalah besar kecilnya penjualan diperhatikan oleh
kondisi bahwa laba periode sekarang adalah para investor. Dengan begitu maka dapat
120 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2010, Vol. 7, No. 1 hal 109 - 123

disimpulkan bahwa persistensi laba mengikuti lebih lama tidak menyebabkan ketidakpastian
pola penjualan. Hal ini dimungkinkan karena yang lebih besar, tidak membuat akrual
laba secara keseluruhan di perusahaan di lebih ber-noise dan kurang membantu dalam
Indonesia biasanya telah mengalami perataan, memprediksi aliran kas di masa yang akan
sehingga gejolak atau volatilitas yang terjadi datang. Hasil penelitian ini juga tidak sesuai
pada penjualan berpengaruh terhadap besar dengan Dechow (1994) yang berpendapat
kecilnya laba yang diperoleh. bahwa lama siklus operasi perusahaan adalah
penentu volatilitas modal kerja. Lama tidaknya
Pengaruh Tingkat Hutang terhadap Per- siklus operasi, tidak mempengaruhi modal
sistensi laba kerja perusahaan dan realisasi kas yang
Penelitian ini berhasil memberikan bukti lebih lama sehingga kinerja perusahaan juga
bahwa tingkat hutang berpengaruh positif dan tidak terpengaruh. Dengan demikian dapat
signifikan terhadap persistensi laba. Terbukti dikatakan bahwa semakin lama siklus operasi
dari hasil penelitian pada Tabel 7, signifikansi perusahaan dalam satu tahun kegiatan tidak
t pada volatilitas arus kas menunjukkan nilai dapat menimbulkan persistensi laba yang lebih
yang lebih kecil di bandingkan α (0.002 < rendah.
0.05). Hasil ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Pagalung (2006) SIMPULAN
dimana persistensi laba dipengaruhi oleh
tingkat hutang. Hal ini berhubungan dengan Penelitian ini bertujuan untuk menguji
tingkat solvabilitas keuangan yang dimiliki pengaruh volatilitas arus kas, besaran akrual,
oleh perusahaan. Besarnya tingkat hutang volatilitas penjualan, tingkat hutang, dan
perusahaan akan menyebabkan perusahaan siklus operasi terhadap persistensi laba.
meningkatkan persistensi laba dengan Dari keseluruhan penjelasan di atas dapat
tujuan untuk mempertahankan kinerja yang disimpulkan bahwa 1) volatilitas arus kas
baik di mata investor dan auditor. Dengan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
kinerja yang baik tersebut maka diharapkan persistensi laba hal ini. Hal ini berarti
kreditor tetap memiliki kepercayaan terhadap derajat volatilitas arus kas bisa memprediksi
perusahaan, tetap mudah mengucurkan dana, persistensi laba, 2) besaran akrual berpengaruh
dan perusahaan akan memperoleh kemudahan negatif dan signifikan terhadap persistensi
dalam proses pembayaran. laba. Hal ini memberikan informasi bahwa
besar kecilnya komponen akrual yang terjadi
Pengaruh Siklus Operasi terhadap Persistensi di perusahaan akan menyebabkan gangguan
laba (noise) yang dapat mengurangi persistensi
Penelitian ini tidak berhasil memberikan laba, 3) volatilitas penjualan berpengaruh
bukti bahwa siklus operasi berpengaruh negatif dan signifikan secara signifikan
signifikan terhadap persistensi laba. Dari hasil terhadap persistensi laba. Volatilitas yang
penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 7 tinggi dari penjualan dapat memprediksi
yang menunjukkan bahwa signifikansi t pada persistensi laba, karena laba yang dihasilkan
volatilitas arus kas menunjukkan nilai yang akan mengandung banyak gangguan (noise),
lebih besar di bandingkan α (0.997 > 0.05). Hal 4) tingkat hutang berpengaruh positif dan
ini tidak sesuai dengan penelitian Dechow dan signifikan terhadap persistensi laba. Besarnya
Dichev (2002) serta Pagalung (2006) dimana tingkat hutang perusahaan akan menyebabkan
persistensi laba dipengaruhi oleh siklus operasi. perusahaan meningkatkan persistensi laba
Dechow et al. (1998) menunjukkan bahwa dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja
kemampuan laba untuk memprediksi aliran yang baik di mata investor dan auditor. Dengan
kas di masa yang akan datang tergantung pada kinerja yang baik tersebut maka diharapkan
siklus operasi perusahaan. Siklus operasi yang
Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...  121

kreditor tetap memiliki kepercayaan terhadap aktiva tetap. Lalu untuk prediktabilitas adalah
perusahaan, tetap mudah mengucurkan kemampuan laba sekarang memprediksi laba
dana, dan perusahaan akan memperoleh masa mendatang. Pengukuran prediktabilita
kemudahan dalam proses pembayaran, dan adalah variabilitas kesalahan model regresi
5) siklus operasi tidak berpengaruh signifikan laba sekarang terhadap laba masa mendatang.
terhadap persistensi laba. Siklus operasi yang Selanjutnya untuk perataan laba adalah rasio
lebih lama tidak menyebabkan ketidakpastian variabilitas laba terhadap variabilitas arus kas.
yang lebih besar, tidak membuat akrual lebih
terganggu (noise) dan kurang membantu dalam DAFTAR PUSTAKA
memprediksi aliran kas di masa yang akan
datang. Aboody, D. J. Hughes, and J. Liu. 2003.
Terdapat beberapa keterbatasan dalam Earnings Quality, Insider Trading,
penelitian ini, anatara lain: 1) jumlah and Cost of Capital. Working Paper.
sampel tidak dilakukan secara random University of California, Los Angeles.
tetapi mensyaratkan kriteria-kriteria tertentu Ayres, F.L. 1994. Perception of Earnings
(purposive sampling), yaitu dengan membatasi Quality: What Managers Need to Know.
kriteria sampel hanya untuk perusahaan
Management Accounting, 75 (9), 27-29.
manufaktur. Oleh karena itu hasil penelitian ini
tidak dapat digeneralisasi untuk perusahaan di Barth, M.E., and A.P. Hutton. 2001. Financial
luar manufaktur; 2) penulis hanya menggunakan Analysts and the Pricing of Accruals.
lima variabel saja yaitu volatilitas arus kas, Working paper. Research Paper Series,
besaran akrual, volatilitas penjualan, tingkat Graduate School of Business Stanford
hutang dan siklus operasi, dan ternyata hasil University.
koefisien determinasi (R2) relatif kecil. Dari
Beneish, M., and M. Vargus. 2002. Insider
hasil tersebut maka dibutuhkan variabel lain
Trading, Earnings Quality, and Accrual
yang lebih dapat menjelaskan persistensi laba
Mispricing. The Accounting Review, 77
dalam hal ini persistensi laba.
(4), 755-791.
Berdasarkan keterbatasan penelitian
yang diungkapkan di atas, maka dapat Chambers, D.J. 2003. Earnings Persistence
diberikan beberapa saran dengan maksud and Accrual Anomaly. Working Paper,
untuk meningkatkan mutu penelitian University of Illinois at Urbana-
selanjutnya. Saran yang dapat diberikan: 1) Champaign.
dilihat dari koefisien determinasi (R2) yang
Chan, K., L. Chan, N. Jegadeesh, and J.
realtif kecil maka penelitian selanjutnya perlu
untuk menambah variabel lain yang dapat Lakonishok. 2004. Earnings quality and
mempengaruhi persistensi laba misalnya seperti stock returns. Working Paper, University
ukuran perusahaan dan kinerja perusahaan. of Illinois at Urbana-Champaign.
Menurut beberapa penelitian variabel tersebut Chandrarin, G. 2001. Laba (Rugi) Selisih
juga berpengaruh terhadap persistensi laba. Kurs sebagai Salah Satu Faktor yang
Seperti ukuran perusahaan, umur perusahaan, Mempengaruhi Koefisien Respon Laba
kinerja perusahaan, likuiditas, risiko Akuntansi: Bukti Empiris dari Pasar
lingkungan dan lain sebagainya atau variabel Modal Indonesia. Disertasi. Universitas
tersebut bisa dijadikan sebagai variabel kontrol; Gadjah Mada, Yogyakarta.
2) untuk penelitian selanjutnya pendekatan
persistensi laba, dapat juga digunakan kualitas Christensen, P.O., G.A. Feltham, and F. Sabac.
akrual, prediktabilitas, atau bahkan perataan 2005. A Contracting Perspective on
laba. Proksi kualitas akrual memetakan akrual Earnings Quality. Journal of Accounting
periode sekarang ke dalam arus kas masa lalu, and Economics, 39, 265-294.
masa sekarang, masa mendatang, penjualan, dan
122 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2010, Vol. 7, No. 1 hal 109 - 123

Cohen, D.A. 2003. Quality of Financial Gu. Z., C.J Lee, and J.G. Rosett. 2002.
Reporting Choice: Determinants and Information Environment and Accrual
Economic Consequences. Working Volatility. Working Paper. A. B. Freeman
Paper, Northwestern University Collins. School of Business, Tulane University.
Cooper, D.R. and C.W. Emory. 1995. Business Hayn, C. 1995. The Information Content
Research Methods 5th Ed. Richard D. of Losses. Journal of Accounting and
Irwin, Inc. Economics, 20, 125-153.
Cornell, B. and W. R. Landsman. 2003. Ikatan Akuntan Indonesia. 2010. Pernyataan
Accounting Valuation: Is Earnings Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta:
Quality an Issue?. Financial Analysts Salemba Empat.
Journal, 59 (6), 20-28. Indriantoro, N. dan B. Supomo, 1999.
Dajan, A. 1986. Pengantar Metode Statistik Metodologi Penelitian Bisnis untuk
Jilid 1 & 2. Jakarta: LP3ES. Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta:
BPFE.
Darraough, M.N. 1993. Disclosure Policy and
Competition: Cournot vs Bertrand. The Jogiyanto, H.M. 2004. Metodologi Penelitian
Accounting Review, 68 (3), 534-561. Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-
Dechow, P. and I. Dichev. 2002. The Quality pengalaman. Yogyakarta: BPFE.
of Accruals and Earnings: The Role of Lev, B. and R., Thiagarajan, 1993. Fundamental
Accrual Estimation Errors. The Accounting Information Analysis. Journal of
Review, 77 (Supplement), 35-59. Accounting Research, 31 (2), 190-215.
Fanny, M. dan S.V.N.P. Siregar. 2007. Pengaruh Lipe, R.C. 1990. The Relation Between
Pergantian dan Jangka Waktu Penugasan Stock Return, Accounting Earnings and
Auditor Terhadap Persistensi laba: Alternative Information. The Accounting
Studi Pada Emiten Bursa Efek Jakarta. Review, 69 (1), 49-71
The 1st Accounting Conference Faculty
of Economics Universitas  Indonesia, McNichols, M. 2002. Discussion of The
Jakarta. Quality of Accruals and Earnings: The
Role of Accrual Estimation errors. The
Financial Accounting Standards Boards. 1980.
Accounting Review, 77 (Supplement), 61-
Statement of Financial Accounting
Concepts Nomor 2: Qualitative 69.
Characteristics of Accounting Meythi. 2006. Pengaruh Arus Kas Operasi
Information. Stanford, Connecticut. terhadap Harga Saham dengan
Francis, J., R. LaFond, P. Olsson, and K. Persistensi Laba Sebagai Variabel
Schipper. 2004. Costs of Equity and Intervening. Simposium Nasional
Earnings Attributes. The Accounting Akuntansi 9, Padang.
Review, 79 (4), 967-1010. Pagalung, G. 2006. Kualitas Informasi Laba:
Francis, J. R. LaFond, P. Olsson, and K. Faktor-Faktor Penentu dan Konsekuensi
Schipper. 2005. The Market Pricing of Ekonominya. Disertasi. Universitas
Earnings Quality. Journal of Accounting Gajah Mada, Yogyakarta.
and Economics, 29, 295-327.
Penman, S.H. 2001. On Comparing Cash Flow
Ghozali, I. 2007. Aplikasi Analisis Multivariat and Accrual Accounting Models For
dengan Program SPSS. Semarang: Badan Use in Equity Valuation. Working paper,
Penerbit Universitas Diponegoro,. www.ssrn.com.
Zaenal Fanani, Analisis Faktor-Faktor Penentu Persistensi Laba...   123

Penman, S.H. and X.J. Zhang. 2002. Accounting Wijayanti, H.T. 2006. Analisis Pengaruh
Conservatism, the Quality of Earning Perbedaan Antara Laba Akuntansi
and Stock Returns. Working Paper, www. Dan Laba Fiskal Terhadap Persistensi
ssrn.com. laba, Akrual, dan Arus Kas. Simposium
Nasional Akuntansi 9, Padang.
Richardson, S. 2003. Earnings Quality and
Short Sellers. Supplement. Accounting
Horizons, 17, 49-61.
Richardson, S., R. Sloan, M. Soliman, I. Tuna.
2001. Information in Accruals About
the Quality of Earnings. Working Paper,
University of Michigan business school.
Schipper, K. and L. Vincent. 2003. Earnings
Quality. Accounting Horizons, 70
(Supplement), 97-110.
Schipper, K. 2004. Earnings Quality.
Working Paper in Asia Pacific Journal of
Accounting and Economics Conference,
Kuala Lumpur, Malaysia.
Santoso, S. 2001. SPSS Versi 10 Mengolah
Data Statsitik Secara Profesional.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Saputra, I.D.G.D. 2003. Penggunaan Rasio
Keuangan Sebagai Ukuran Risiko Dalam
Menentukan Bid-Ask Spread. Thesis.
Program Pascasarjana Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sekaran, U. 2003. Research Methods For
Business 4th Ed. John Wiley & Sons, Inc.
Sloan, R.G.. 1996. Do Stock Prices Fully
Reflect Information in Accruals and
Cash Flow About Future Earnings?. The
Accounting Review, 71 (3), 289-315.
Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi.
Yogyakarta: Penerbit BPFE.
Tumirin. 2003. Analisis Variabel Akuntansi
Kuartalan, Variabel Pasar, Arus Kas
Operasi Yang Mempengaruhi Bid-Ask
Spread. Thesis. Program Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Watts. R.L. dan J.L. Zimmerman. 1986.
Positive Accounting Theory. Englewood
Cliffs: Prentice-Hall..