FAKTOR RISIKO OBESITAS PADA ANAK USIA 5-15 TAHUN

Sri Kartini

Program Studi Anafarma

Universitas Abdurrab

ABSTRAK

Obesitas merupakan akibat dari keseimbangan energi positif untuk periode waktu yang

cukup panjang. Masalah obesitas dapat terjadi pada usia anak-anak, remaja hingga dewasa.

Prevalensi obesitas (persentil >95) pada anak rentang usia 5-15 tahun sebesar 8,3%. Banyak

faktor risiko yang berhubungan dengan obesitas pada anak usia 5-15 tahun, diantaranya adalah

tingkat pendidikan anak, jenis kelamin, riwayat obesitas ayah, kebiasaan olah raga dan merokok

serta asupan protein. Artikel ini membahas faktor risiko yang berhubungan dengan obesitas pada

anak usia 5-15 tahun.

PENDAHULUAN

Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi

kurang masih belum teratasi sepenuhnya, sementara sudah muncul masalah gizi lebih. Kelebihan

gizi yang menimbulkan obesitas dapat terjadi baik pada anak-anak hingga usia dewasa. Obesitas

disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan yang dibutuhkan

oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas,

pemeliharaan kesehatan . Jika keadaan ini berlangsung terus menerus (positive energy balance)

dalam jangka waktu cukup lama, maka dampaknya adalah terjadinya obesitas (Jahari, 2004).

Obesitas merupakan keadaan indeks massa tubuh (IMT) anak yang berada di atas

persentil ke-95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya. Obesitas pada masa

anak dapat meningkatkan kejadian diabetes mellitus (DM) tipe 2. Selain itu, juga berisiko untuk

penyumbatan pembuluh darah dan lain-lain. hot dog) dan makanan siap saji lainnya. Selain itu. Faktor penyebab obesitas lainnya adalah kurangnya aktivitas fisik baik kegiatan harian maupun latihan fisik terstruktur. Tingginya prevalensi obesitas anak disebabkan oleh pertumbuhan urbanisasi dan perubahan gaya hidup seseorang termasuk asupan energi. Prevalensi yang cenderung meningkat baik pada anak maupun orang dewasa . minuman soft drink. 2008). Obesitas dipengaruhi oleh faktor lingkungan dibandingkan dengan faktor genetik. Penyebab obesitas dinilai sebagai ‘multikausal’ dan sangat multidimensional karena tidak hanya terjadi pada golongan sosio-ekonomi tinggi. Obesitas pada usia anak akan meningkatkan risiko obesitas pada saat dewasa. Prevalensi obesitas anak mengalami peningkatan di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia. Aktivitas fisik yang dilakukan sejak masa anak sampai lansia akan mempengaruhi kesehatan seumur hidup. satu dari 10 (sepuluh) anak di dunia mengalami kegemukan. tetapi juga sering terdapat pada sosio-ekonomi menengah hingga menengah ke bawah. 2003). makanan jajanan seperti makanan cepat saji (burger. Beberapa faktor penyebab obesitas pada anak antara lain asupan makanan berlebih yang berasal dari jenis makanan olahan serba instan. maka risiko obesitas dapat terjadi pada saat tumbuh dewasa.menjadi obesitas pada saat dewasa dan berpotensi mengakibatkan gangguan metabolisme glukosa dan penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. Menurut WHO. obesitas pada anak usia 6-7 tahun juga dapat menurunkan tingkat kecerdasan 2 karena aktivitas dan kreativitas anak menjadi menurun dan cenderung malas akibat kelebihan berat badan (CDC. pizza. Anak obesitas biasanya berasal dari keluarga yang juga obesitas (Maffeis. Jika obesitas terjadi pada anak sebelum usia 5-7 tahun.Peningkatan obesitas pada anak dan remaja sejajar dengan orang dewasa.

Berdasarkan data tersebut diatas maka obesitas masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dennis Bier dari Pediatric 3 Academic Society (PAS) ( Farmacia online. 2007) menyebutkan lebih dari 9 juta anak di dunia berusia 6 tahun ke atas mengalami obesitas. 2006). yaitu dari 5. Angka ini meningkat menjadi 14 % pada tahun 2010.4% untuk anak-anak usia 2-5 tahun.17 tahun (Depkes RI.8%. sedangkan kejadian obesitas pada anak balita yakni 12. World Health Organization (WHO.sudah merupakan peringatan bagi pemerintah dan masyarakat bahwa obesitas dan segala implikasinya memerlukan perhatian khusus. Dan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5. Pada tahun 2005.4%. 6.2 % dari jumlah anak Indonesia.5% dan pada perempuan 6. Menurut Data Estimasi Sasaran Program Kesehatan prevalensi obesitas tahun 2014 mencapai 20.5% sampai 17% untuk anak-anak usia 6-11 tahun. prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia = 15 tahun pada laki-laki sebesar 13. Kareteristik Anak Menurut penelitian Ayu 2011. Prevalensi kegemukan pada balita di Indonesia meningkat melampaui angka malnutrisi pada balita. 2006). sekurang-kurangnya 20 juta anak-anak usia di bawah 5 tahun di dunia mengalami overweight.0% menjadi 12.9% dan pada perempuan sebesar 23.anak usia 12-19 tahun (Center for Disease Control.5 % . Data dari survey The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa prevalensi obesitas telah meningkat. 2007).6% untuk anak. Anak yang berusia <10 tahun memiliki risiko sebesar . dan 5% sampai 17.

Pada periode ini ditandai dengan masa puber.000).4 kali dibandingkan anak perempuan. Tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor penyebab obesitas saat dewasa. tetapi perkembangan motorik. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh anak perempuan lebih sering membatasi makan untuk alasan penampilan. Aktivitas Fisik . yaitu tingkat pendidikan berhubungan dengan kejadian obese.3. kognitif dan emosi sosial mulai matang. Pendidikan khususnya tentang kesehatan merupakan upaya yang sangat penting sebagai tahap awal dalam mengubah perilaku seseorang atau masyarakat untuk menuju perilaku hidup sehat. Kelompok remaja memiliki growth spurt dengan pertumbuhan yang pesat sehingga berbagai masalah gizi lebih seperti obesitas sering terjadi pada usia ini. Asupan energi dan karbohidrat menunjukkan bahwa rerata asupan energi total dan karbohidrat pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Anak yang berusia 6- 12 tahun mengalami masa perkembangan dan pertumbuhan yang lebih stabil dibandingkan bayi dan balita. riwayat obesitas ayah. Pendidikan kesehatan yang dilakukan pada usia dini merupakan upaya strategis dari sisi manfaat jangka pendek maupun jangka panjang. Anak laki-laki memiliki risiko mengalami obesitas sebesar 1. et al. kebiasaan olah raga dan merokok anak serta asupan protein. Penelitian Haines. kesuburan dan kesejahteraan. Salah satu indikator status sosial adalah tingkat pendidikan.8 kali mengalami obesitas dibandingkan anak usia =10 tahun (p=0. Kejadian obesitas pada anak merupakan tanda dari tingginya status sosial. Tingkat pendidikan tidak sekolah/tidak tamat SD memiliki peluang obese sebesar 2 kali dibandingkan anak > tamat SD setelah dikontrol oleh jenis kelamin anak. Pertumbuhan fisiknya terlihat lebih lambat. anak perempuan 4 lebih dulu mengalami masa ini dibandingkan anak laki-laki.

dan bersepeda. Rendahnya aktivitas fisik merupakan faktor utama yang mempengaruhi obesitas.35 kali dibandingkan dengan anak yang rutin berolahraga. Penelitian yang dilakukan Luthfiana Arifatul Hudha (2006). Penelitian Dian (2002) mengemukakan bahwa ada hubungan obesitas dengan faktor genetik. Penelitian yang dilakukan oleh Mustelin menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan obesitas pada anak. Kebiasaan Konsumsi Sayur dan Buah Sayur dan buah merupakan sumber serat yang penting bagi anak dalam masa . Rekomendasi dari Physical Activity and Health menyatakan bahwa ‘aktivitas fisik sedang’ sebaiknya dilakukan sekitar 30 menit atau lebih dalam seminggu. Aktivitas fisik sedang antara lain berjalan. Hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan obesitas sebesar 80. Hasil Penelitian Ayu 2011 menunjukan bahwa anak yang tidak rutin berolah memiliki risiko obesitas sebesar 1. Aktivitas fisik yang dilakukan setiap hari bermanfaat 5 bukan hanya untuk mendapatkan kondisi tubuh yang sehat tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan mental.1% sedangkan sisanya sebesar 19. jogging.Aktivitas fisik didefinisikan sebagai pergerakan tubuh khususnya otot yang membutuhkan energi dan olahraga adalah salah satu bentuk aktivitas fisik. Selain itu ternyata anak yang tidak rutin berolah raga justru cenderung memiliki asupan energi yang lebih tinggi dibandingkan anak yang rutin berolah raga. Makanan dan aktivitas fisik dapat mempengaruhi timbulnya obesitas baik secara bersama maupun masing-masing.9% dipengaruhi oleh faktor lain. hiburan dalam mencegah stres. berenang. dan faktor lingkungan sekolah dan keluarga. menyatakan ada hubungan pola makan dengan obesitas dan ada hubungan pula antara aktivitas fisik dengan obesitas. kurang gerak atau olah raga. faktor pola makan.

Kelebihan energi tersebut akan disimpan di dalam tubuh. produk susu . Selain itu ternyata anak perempuan lebih sering mengkonsumsi sayur dan buah dibandingkan dengan anak laki-laki. Anak overweight dan obesitas membutuhkan makanan tinggi serat seperti sayur dan buah (Gilman MW.5 kali untuk terjadi obesitas dibandingkan anak yang konsumsi sayur dan buah. Pola konsumsi sayur dan buah pada penduduk Indonesia memang masih rendah daripada jumlah yang dianjurkan(Soegondo. Asupan Energi dan Protein Selain sebagai sumber energi. Sidartawan. Berdasarkan PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang). khususnya berhubungan dengan obesitas. makanan juga diperlukan untuk menggantikan sel tubuh yang rusak dan pertumbuhan.2003). Remaja membutuhkan sejumlah kalori untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari baik untuk keperluan aktivitas maupun pertumbuhan. Persoalan akan muncul obesitas jika makanan yang dikonsumsi melebihi kebutuhan. Jika keadaan ini terjadi terus menerus akan mengakibatkan penimbunan lemak di dalam tubuh sehingga berisiko mengalami kegemukan. konsumsi sayur dan buah minimal 3 porsi/hari. 2008). Dalam memenuhi kebutuhannya. Konsumsi serat secara linier akan mengurangi asupan lemak dan garam yang selanjutnya akan menurunkan tekanan darah dan mencegah peningkatan berat badan. usia remaja dianjurkan untuk mengkonsumsi variasi makanan sehat antara lain sumber protein. Berbagai intervensi dalam mencegah obesitas termasuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah dapat menggantikan makanan dengan densitas energi tinggi yang sering dikonsumsi anak dan remaja.pertumbuhan. sehingga secara tidak langsung dapat menurunkan berat badan. Peningkatan kebutuhan energi sejalan dengan bertambahnya usia. 6 Hasil penelitian Ayu juga menunjukkan bahwa anak yang tidak konsumsi sayur dan buah lebih berisiko 1.

tahu dan kedelai. susu dan produknya. 2005). Riwayat Obese Orang Tua Hasil penelitian Ayu T ahun 2011 menunjukkan bahwa anak yang memiliki ayah ‘obese’ memiliki peluang obese sebesar 1. walaupun akhir-akhir ini kecenderungan anak dalam memilih makanan lebih disebabkan oleh pengaruh lingkungan di luar rumah yang dapat menggeser kebiasaan pola makan anak. kelebihan berat badan pada orangtua memiliki hubungan positif .2 kali dibandingkan dengan anak yang memiliki ayah ‘tidak obese’. Protein berperan penting dalam pertumbuhan dan kekuatan otot. anak usia 5-15 tahun cenderung masih tergantung dari makanan yang disediakan oleh orang tua di rumah. Penelitian Haines et al.57 Kkal. Rerata asupan energi total per kapita per hari sebesar 1636. kacang. serealia. Tingginya asupan energi kemungkinan 7 disebabkan oleh konsumsi makanan cepat saji (makanan modern) yang menjadi kebiasaan umum baik di kota besar maupun kecil di wilayah Indonesia. telur. ayam. komposisi makanan jenis makanan cepat saji adalah tinggi energi. Hasil penelitian ayu tahun 2011 menunjukkan adanya hubungan antara asupan energi dan protein dengan obesitas pada anak (p<0.7 g.rendah lemak. Secara umum.05). garam dan rendah serat. seorang remaja membutuhkan 45-60 g protein yang bersumber dari makanan seperti daging. kebutuhan gizi anak usia 10-12 tahun adalah tinggi kalori dan protein. Setiap harinya. Asupan tinggi protein dapat memberikan kontribusi jumlah kalori dalam sehari. Pada umumnya. lemak. karena pada masa ini tubuh sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat (Brown JE. Riwayat obesitas pada orangtua berhubungan dengan genetik/hereditas anak dalam mengalami obesitas. Pada prinsipnya. Rerata asupan protein per kapita per hari responden sebesar 56. buah dan sayuran.

Peluang seorang anak mengalami obesitas adalah 10% meskipun bobot badan orang tua termasuk dalam kategori normal.dengan kelebihan berat badan anak. serta Asupan Energi dan Protein ada hubungannya atau merupakan faktor risiko terjadinya obesitas. Riwayat Obese Orang Tua. 2008). Jika ayah dan/atau ibu menderita overweight (kelebihan berat badan) maka kemungkinan anaknya memiliki kelebihan berat badan sebesar 40- 50%. Anak yang tidak rutin berolaraga akan cenderung terkena obesitas dibandingkan anak yang rutin berolaraga. Faktor genetik berhubungan dengan pertambahan berat badan. lingkar pinggang dan aktivitas fisik. SARAN Perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko obesitas dengan menanamkan pendidikan kesehatan pada anak sejak usia dini. Kebiasaan Konsumsi Sayur dan Buah. kemungkinan anaknya menjadi ‘obese’ sebesar 70-80%. Anak yang asupan energy dan protein yang berlebihan tanpa ada aktivitas akan berisiko terkena obesitas. Anak yang orang tuanya ada riwayat obesitas cenderung terkena obesitas juga dibandingkan anak yang orang tuanya tidak mempunyai riwayat hipertensi. 8 Ali khomsan mengatakan bahwa hereditas (keturunan) menjadi salah satu faktor penyebab obesitas. Apabila kedua orang tua menderita ‘obese’. IMT. Bila salah satu orang tua obesitas peluangnya menjadi 40% dan bila kedua orang tuanya obesitas peluang anak meningkat sebesar 80% (Soetjiningsih. melalui peningkatan KIE . Anak yang konsumsi sayur dan buah akan terhindar dari obesitas dibandingkan anak yang jarang konsumsi buah dan sayur. KESIMPULAN Aktivitas atau Olaraga.

(http://www. 2005. Vol. and Environmental Risk and Protective Factors for Adolescent Overweight. 1. 15:2748-2760. Faktor Risiko Obesitas pada Remaja. gerakan cinta serat (sayur dan buah) serta membudayakan aktivitas fisik. Center for Disease Control. Makara. Obesitas Dan Kurang Aktivitas Fisik Menyumbang 30% Kanker. J. informasi dan edukasi). Bogor: Puslitbang Gizi dan Makanan. Disord. Faktor Risiko Obesitas Pada Anak 5-15 Tahun Di Indonesia. 15. 27(1):821-826. Washington: Department of Health and Human Services.Growth charts for the United States: methods and development. Brown JE. Relat. 2004. physical activity and parents’ obesity on children’s: a four . Metab.(komunikasi. Int. Haines J.go. Jurnal Gizi Kesmas UMS. 2011.php?option=news&task=viewarticle&sid 3328. 2011. J. Maffeis CG. 2003.2003. 2006. Behavioral. Nutrition through the Life Cycle. Influence of diet. Dian. Growth charts for the United States: methods and development. (online). No.id/index. Penilaian Status Gizi Berdasarkan Antropometri. 2008. diakses tahun 2008). 2007. Juni 2011. 2003. 9 DAFTAR PUSTAKA Ayu. 2008. Jahari A.depkes. 2007.vBelmont: Thomson Wadsorth. Association between Fruit and Vegetable Intake and Change in Body Mass Index among a Large Sample of Children and Adolescents in the United States. Depkes. Personal. Gilman MW. Int. Centers for Disease Control and Prevention. Kesehatan. Departemen Gizi Kesmas UI. Obes. Washington: Department of Health and Human Services.

Metab. Faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas pada Anak Remaja. WHO Obesity Technical Report series 894. World Health Organization. . Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) IX. Republik Indonesia. Disord. Int. 2008. 2007. Riskesdas Nasional. Berbagai Penyakit dan Dampaknya terhadap Kesehatan dan Ekonomi. Jakarta. Obes. WHO. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. Soegondo. Skripsi UMS. 2006. 2008.year longitudinal study. Obesity: Preventing and managing the global epidemic. 10 Soetjiningsih. Sidartawan. Relat. J. Geneva.