LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK

A. DEFINISI
Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa, lensa menjadi
keruh, atau berwarna putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang
akibat hidrasi (penambahan cairan) pada lensa, denaturasi protein lensa atau
akibat keduanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan benjolan
progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu lama. Katarak
umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut akan tetapi dapat juga akibat
kelainan kongenital.
Dalam bahasa Indonesia disebut buyar penglihatan seperti tertutup air
terjun akibat lensa yang keruh.
Katarak adalah keadaan di mana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan
lensa di dalam kapsul lensa (Sidarta Ilyas, 1998)
B. PATOFISIOLOGI
Secara normal lensa berwarna transparan. Hal ini terjadi karena adanya
keseimbangan antara protein yang dapat larut dengan protein yang tidak dapat
larut dalam membran semipermiabel. Bila terdapat peningkatan jumlah protein
yang tidak dapat diserap, maka terjadi penurunan sintesa jumlah protein. Maka
jumlah protein dalam lensa berlebihan, sehingga pada lensa terdapat massa yang
transparan atau bintik kecil di sekitar lensa dan membentuk suatu kapsul.
Terjadinya penumpukan cairan, degenerasi dan disintegrasi pada serabut
menyebabkan jalannya cahaya tidak dapat difokuskan pada bintik kuning
dengan baik sehingga penglihatan terganggu.
C. PENYEBAB K ATARAK
1.Faktor keturunan
2. Cacat bawaan sejak lahir
3.Masalahkesehatan misalnya
diabetes
4.Penggunaan tertentu, khususnya steroid
5.gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)
6.gangguan pertumbuhan
7.Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup
lama
8.Rokok dan Alkohol
9.Operasi mata sebelumnya
10.Trauma (kecelakaan) pada mata
11.Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.

D.TANDA DAN GEJALA

1.Pengelihatantidak jelas seperti ada kabut yangmenghalangi obyek
2. Peka terhadap sinar.
3. Kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat / merasa di ruang gelap
4.Tampak kecoklatan / putih susu pada pupil
5.Penglihatanganda saat melihatsatubenda dengansatumata, gejala ini
terjadi saat katarak bertambah luas.

E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin muncul:
1) Glaucoma
2) Ablasio retina

F.PENATALAKSANAAN
a.medis
Salahsatucara pengobatan katarak adalahdengancara pembedahan,yaitu lensa
yangtelahkeruh diangkat dan sekaligus ditanam lensa intra okuler sehingga
pasca operasi tidak perlu lagi memakai kaca mata khusus (kacamata aphakia).

b.keperawatan
Untuk mencegahkatarak adalah dengan menjaga polamakan bergizi yang
baikuntukproses metabolisme,seperti konsumsibuahdan sayuran serta menjaga
agartidak terjadi trauma atau kecelakaan pada mata.
G.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan sensori sekunder akibat
katarak.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan ketajaman penglihatan.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan, staf dan orang lain di sekitarnya.
c. Dekatkan barang-barang yang diperlukan (piring, gelas, dan lain-lain).
d. Anjurkan keluarga untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-
hari.
2) Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur bedah
invasif yang akan dilaksanakan.
Kriteria evaluasi:
a. Tampil santai, dapat beristirahat / tidur cukup.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.

b. Orientasikan klien terhadap lingkungan, staf dan orang lain di sekitarnya.
c. Dekatkan barang-barang yang diperlukan (piring, gelas, dan lain-lain).
d. Anjurkan keluarga untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-
hari.
POST OPERASI
1) Perubahan kenyamanan berhubungan dengan trauma jaringan sekunder akibat
operasi ekstraksi katarak.
Kriteria evaluasi:
Mengatakan bahwa sakit telah terkontrol/dihilangkan.
Intervensi:
a. Kaji karakteristik nyeri.
b. Berikan tindakan kenyamanan dan aktivitas hiburan.
c. Berikan lingkungan yang tenang (kondusif) untuk istirahat.
d. Ajarkan teknik relaksasi.
e. Kolaborasi pemberian anastesi.
2) Gangguan sensori – perseptual berhubungan dengan gangguan penerimaan
sensori / status organ indera, lingkungan secara terapeutik dibatasi.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.
b. Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
c. Mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi:
a. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
b. Orientasikan klien terhadap lingkungan.
c. Observasi tanda-tanda, dan gejala-gejala disorientasi.
d. Dekatkan dari sisi yang tidak di operasi, bicara dan menyentuh.
e. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata.
f. Ingatkan klien untuk memakai kaca mata katarak yang tujuannya
memperbesar  25%.
g. Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan pada sisi yang tidak di
operasi.
3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Kriteria evaluasi:
a. Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainage purulen,
eritrema dan demam.
b. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah /menurunkan resiko infeksi.
Intervensi:
a. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh / mengobati mata.
b. Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar
dengan tissue basah / bola kapas setiap usapan.
c. Tekankan pentingnya tidak menyentuh / menggaruk mata yang di operasi.
d. Observasi / diskusikan tanda terjadinya infeksi.
e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik.

4) Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan intra
okuler, kehilangan vitreous.
Kriteria evaluasi:
a. Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
b. Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko
dan untuk melindungi diri dari cedera.
Intervensi:
a. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri, pembatasan
aktivitas, penampilan balutan mata.
b. Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tidak sakit
sesuai keinginan.
c. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggosok mata
membungkuk.
d. Dorong napas dalam, batuk untuk bersihan paru.
e. Anjurkan penggunaan teknik manajemen stress.
f. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.
g. Minta klien untuk membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri mata tajam
tiba-tiba.
h. Observasi pembengkakan luka, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah
pir.
i. Kolaborasi pemberian Antipiretik, Analgesik.
5) Kurang pengetahuan tentang prosedur, kondisi, prognosis dan pengobatan
berhubungan dengan dokumentasi mengenal sumber informasi, keterbatasan
cognitive.
Kriteria evaluasi:
a. Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan. Tampil
santai, dapat beristirahat / tidur cukup.
b. Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi:
a. Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur / lensa.
b. Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin.
c. Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas.
d. Diskusikan kemungkinan efek / interaksi antara obat mata dan masalah medis
klien.
e. Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan
saat defekasi, meniup hidung.
f. Dorong aktivitas pengalih seperti mendengar radio.
g. Anjurkan klien tidur terlentang, mengatur intensitas lampu dan menggunakan
kaca mata gelap bila keluar /dalam ruang terang.
h. Dorong pemasukan cairan adekuat / gejala memerlukan upaya evaluasi medis.

Ilmu Penyakit Mata. Danapabila diteruskan pada ginjal. 3.Rogen. systemrennin angiotensin. merokok dan stress.  Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh darah. DAFTAR PUSTAKA Ilyas S. 200-211 LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI 1. Patofisiologi Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke seljugularis. 2005.  Stress Lingkungan. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:  Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na. 3rd edisi. Hipertensi Esensial (Primer) Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika. maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. ed 3. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen. susunan saraf simpatik. Hipertensi SekunderDapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. hiperaktivitas. L.1996). Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah. lingkungan. efek dari eksresi Na. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih. sehingga terjadi kenaikan tekanan darah. 6. (Barbara Hearrison 1997) 2. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Pengertian Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkanretensi natrium. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Etiologi Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 1996). Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu: 5. Gangguan endokrin dll.  Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah meningkat. obesitas. hal: 128-136. 2008. Hal tersebut akan . Ilyas S.

mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :  Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg  Sakit kepala  Epistaksis  Pusing / migrain  Rasa berat ditengkuk  Sukar tidur  Mata berkunang kunang  Lemah dan lelah  Muka pucat  Suhu tubuh rendah 5.  Aktivitas Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan. Penatalaksanaan  Penatalaksanaan Non Farmakologis  DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. jogging. glukosa. protein.  Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.  Penatalaksanaan Farmakologis Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:  Mempunyai efektivitas yang tinggi. encelopati  EKG : Dapat menunjukan pola regangan. 6.perbaikan ginjal. dimana luas.  Urinalisa : darah.  IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal.  Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung. 4.  CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan Laborat  Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas.pembesaran jantung. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.berakibat pada peningkatan tekanandarah.bersepeda atau berenang.  BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. . anemia.

. penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler. pernafasan menghela.  Integritas Ego  Gejala :Riwayat perubahan kepribadian. yang berkaitan dengan pekerjaan.golongan penghambat konversi rennin angitensin. aterosklerosis. lemak serta kolesterol. golongan betabloker. keuangan. jugularis. murmur stenosis valvular.  Tanda :Kenaikan TD.  Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien. perubahan irama jantung. letih. Download Askep Hipertensi di sini Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipertensi 1. mual.obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi sepertigolongan diuretic.  Neurosensori . sianosis.  Sirkulasi  Gejala :Riwayat Hipertensi. distensi vena jugularis. nafas pendek. penyempitan continue perhatian.  Tidak menimbulakn intoleransi.  Makanan/cairan  Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam. Nadi denyutan jelas dari karotis.  Tanda :Letupan suasana hat. golongan antagonis kalsium. muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic  Tanda: Berat badan normal atau obesitas. ansietas.  Memungkinkan penggunaan obat secara oral. gelisah.radialis. glikosuria.  Memungkinkan penggunaan jangka panjang. factor stress multiple(hubungan. suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda. episode palpitasi. gaya hidup monoton. tikikardi.  Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.  Tanda :Frekuensi jantung meningkat.  Eliminasi  Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu). takipnea. Golongan obat . adanya edema.kulit pucat.tangisan meledak. otot muka tegang. Pengkajian  Aktivitas/ Istirahat  Gejala : kelemahan. peningkatan pola bicara.

batuk dengan/tanpa pembentukan sputum. Diagnosa Keperawatan yang Muncul  Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload.  Berikan lingkungan tenang.  Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi  Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan  Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher  Anjurkan tehnik relaksasi. penglihatan kabur. Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung . Intervensi Diagnosa Keperawatan 1.  Nyeri/ ketidaknyaman  Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung). iskemia miokard. sakit kepala. hipertropi ventricular.epistakis).  Genjala: Keluhan pening pening/pusing. panduan imajinasi. riwayat merokok. 2.sakitkepala. vasokonstriksi. suhu dan masa pengisian kapiler. : Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload.  Amati warna kulit. kelembaban. nyaman. jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi. mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima. pola/isi bicara. tidak terjadi iskemia miokard. memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien.  Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.dispnea. orientasi.ortopnea. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. kualitas denyutan sentral dan perifer.subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia. ginjal.  Catat edema umum. berdenyu. kurangi aktivitas.  Tanda: Status mental. ukur pada kedua tangan. proses piker.  Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral. tidak terjadi vasokonstriksi. vasokonstriksi. hipertropi ventricular. sianosis. perubahan keterjagaan. Intervensi :  Pantau TD. gunakan manset dan tehnik yang tepat.  Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. penurunan keuatan genggaman tangan. aktivitas pengalihan  Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah .  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Tujuan : Afterload tidak meningkat.  Catat keberadaan. hipotensi postural.efek.  Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi).  Pernafasan  Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea.  Keamanan  Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan. 3. iskemia miokard.

bimbingan imajinasi. tidak ada keluhan sakit kepala.  Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. atau nyeridada. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk memajukan tingkat aktivitas individual). kelelahan berat dan kelemahan. TD stabil. hindari konstipasi. posisi nyaman.  Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja jantung).  Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan.pusig atau pingsan. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Diagnosa Keperawatan 3.  Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi. catat peningkatanTD. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen). Kriteria Hasil :Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.  Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi  Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi. berkeringat. Intervensi :  Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter :frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat. . Intervensi :  Pertahankan tirah baring. dipsnea. menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan. Diagnosa keperawatan 4. (Konsumsioksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. sedikit penerangan  Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan. : Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral. lingkungan yang tenang.melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan).  Batasi aktivitas. Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu. aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung). Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi. Kriteria Hasil :Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima. tehnik relaksasi.  Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasienterhadap stress. jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.  Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan. frekwensi nadi. : Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat. peningkatan perhatian padaaktivitas dan perawatan diri. Diagnosa Keperawatan 2. ginjal.  Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es.

Penerbit Buku Kedokteran. diagnosis dan evaluasi . Edisi V. hindari kelelahan.M. Hernia abdominalis adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek fasia dan muskuloaponeuritik dinding perut baik secara konginetal maupun didapat.  Pantau elektrolit. pusing. 1995 Semple Peter. Penerbit Hipokrates. Yogyakarta. EGC. tidur. S. Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (R. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi. tinggikan kepala tempat tidur. Tekanan Darah Tinggi.  Amati adanya hipotensi mendadak. Edward. 2003 Smith Tom.  Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan. duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia. 1995 Marvyn.com. Penerbit Arcan. kreatinin sesuai pesanan. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan. 2001 Sobel. DEFINISI a. Buku Ajar Ilmu Bedah) b. et all . Buku Kedokteran EGC. diterjemahkan oleh Petrus Andryanto.  Ambulasi sesuai kemampuan. Jakarta. Bagaimana mengatasinya ?. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi .  Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien. et all. nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.K. 1996 Brunner & Suddarth. 1999 Kodim Nasrin. Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta. Jakarta. Lany. Jakarta. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin. Jakarta. EGC. DAFTAR PUSTAKA Doengoes. Edisi III. Marilynn E. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler. 1998 LAPORAN PENDAHULUAN HERNIA 1. Intervensi :  Pertahankan tirah baring. 2000 Gunawan. Leonard. @ tempointeraktif. Jakarta. Penerbit Arcan. BUN. Syamsuhidayat dan Win Dedjong. Barry J. Buku Kedokteran EGC. 2002 Chung. gizi dan diet. (Kapita Selecta Kedokteran) . Penerbit Arcan. Jakarta. Penerbit Kanisius. 1995 Tucker. Jakarta. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.  Ukur masukan dan pengeluaran.

Sekunder akibat peningkatan tekanan intra abdomen. Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang melalui annulus inguinalis internus yang terletak di sebelah lateral vasa epigastrika inferior menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui annulus inguinalis eksternus (Kapita Selekta Kedokteran) Menurut jenisnya hernia dibagi menjadi a. Hernia reponibilis : Isi hernia bisa dimasukkan kembali b. c. Hal ini sering menjadi besar dan turun ke skrotum. asites. masa abdomen membesar Janin 8 bulan testis Peningkatan TIK turun ke skrotum Sirkulasi darah terganggu Tidak dpt menutup sempurna . Hernia femoralis Hernia yang mana lengkung susu keluar melalui cincin umbilicus yang gagal menutup. Hernia direkta Hernia yang melalui dinding inguinal posterior medial terhadap vasa epigastrika inferior di daerah yang dibatasi oleh segitiga hasselbach. Konginetal atau primer b. masa abdomen yang terlalu besar. Hernia strangulasi : Hernia incarserata yang terdapat gangguan sirkulasi darah. konstipasi. Menurut keadaannya hernia dibagi menjadi : a. Henia indirekta Suatu kantong yang terbentuk dari selaput peritoneum yanmg berisi bagian dari saluran pencernaan atau omentum. b. PATOFISIOLOGI Prosesus inguinalis Batuk kronis. 3. Diakibatkan dari gagalnya prosesus vaginalis untuk menutup setelah testis turun ke dalam skrotum. Hernia incaserata : Hernia ireponibilis yang terdapat gangguan pada jalannya isi usus. d. Hernia irreponibilis : Isi hernia tidak bisa dimasukkan kembali c. d. ETIOLOGI a. gerak yang terlalu aktif. kehamilan. misal disebabkan karena batuk kronis. kehamilan (duktus spermatikus) Retensi urin. Hernia incisional Akibat dari in adekuat dari penyembuhan luka bedah dan sering terjadi pada luka bedah terinfeksi. 2. konstipasi. penyumbatan jalan keluar kandung kemih. c.

omentum terjepit skrotum Bendungan dari pembuluh darah usus Nyeri. Pada bayi dan anak-anak sering gelisah. Dapat ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau mual muntah bila terjadi komplikasi . TANDA DAN GEJALA 1. mengangkat benda berat . banyak menangis dan kadang perut kembung 2. Timbul bila menangis. mual. mengejan saat defekasi. Adanya benjolan di selakangan/ kemaluan . Hernia inguinalis lateralis / indirekta . Hernia inguinalis medialis / direkta . Benjolan bisa hilang atau timbul dan mengecil . Terlihat adanya masa yang bundar pada annulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila tiduran . muntah Perdarahan Nekrose Resti infeksi Penonjolan peritoneum (menekan peritoneum) 4.Tetap akan terdapat benjolan meskipun tidak mengejan . Isi usus keluar Usus dan isinya.

Radiografi abdomen : sejumlah gas terdapat dalam usus. Aktifitas Pembatasan aktifitas yang dapat meningkatkan tekanan intra abdomen seperti bersin. 8.000 sel/mm) . pembedahan ini disebut herniotomy dan herniografi. Makanan dan Cairan . fase lanjut terjadi konstipasi. terjadi inkontinensia uri. mengangkat benda berat. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri dan benjolan di lipatan paha 3.Defisiensi elektrolit. pasien akan kehilangan kalium. PENATALAKSANAAN Pada kasus hernia tindakan bedah adalah tindakan satu-satunya untuk pengobatan. Eliminasi Pada awalnya feses dapat keluar.. dehidrasi). klorida. emosi (kesal). baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan lakukan berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan pembedahan. takut. 6. hydrogen. Nyeri berhubungan dengan terjepitnya usus di daerah selakangan 2. Mudah kencing karena buli-buli ikut membentuk dinding medial hernia . Resti kurang pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah 5. enema barium menunjukan tingkat obstruksi b. . Inkontinensia usus berhubungan dengan vesika urinaria tertekan oleh hernia 4.Hb dan Ht meningkat karena hemokonsentrasi . 2. asidosis berhubungan dengan hilangnya cairan dan Na mengakibatkan syock hipovolemik. batuk mengejan. Laboratorium . obstipasi. ASUHAN KEPERAWATAN A. perasaan tidak berdaya 4. Sirkulasi Takikardi (akibat dari nyeri. infeksi. hipotensi. Pada hernia inguinalis lateralis reponbilis maka dilakukan bedah afektif karena terjadi komplikasi. yang akan mengakibatkan alkalis metabolic 7. 3.Sel darah putih meningkat pada hernia strangulasi (<10. nyeri sebagai manifestasi obstruksi usus. Pada hernia irreponibilis diusahakan agar penderita istirahat baring dan dipuasakan/ mendapat diet halus. Integritas ego Ansietas. 5. Pengkajian fokus 1. Istirahat Ansietas. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan kondisi kesehatan 6. pembatasan aktifitas kerja sehubungan dengan peningkatan tekanan intra abdomen. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. takipnea. kulit atau membran mukosa pecah. kebiasaan mengejan pada waktu BAB. Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan missal dengan bantl pasir. Bila hernia ke skrotum maka hanya akan ke bagian atas skrotum 5. MASALAH KEPERAWATAN 1. sianosis.

7. obesitas merupakan salah satu predisposisi hernia. Nyeri berhubungan dengan terjepitnya usus di daerah selakangan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat dikurangi Kriteria hasil :  Klien mengatakan nyeri berkurang  Wajah relaks  TTV dalam batas normal : TD : 120/80 mmHg. anoreksia. karakteristik. proses inflamasi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien tidak cemas Kriteria hasil  Klien mengatakan sudah siap untuk dioperasi  Klien tidak gelisah  Wajah rileks Intervensi 1. Monitor bising usus. skalanya (skala 1-10) R/ : berguna dalam pengawasan keefektifan obat. kemajuan penyembuhan 2. atan pre operasi dan post operasi  Pre operasi a. menolak R/ : indicator derajat ansietas 2. Mual. N : 80 x/mnt Intervensi 1. Muntah peroral mengandung makanan tak dicerna selanjutnya muntah air dan empedu hitam dan fekal. Motivasi orang terdekat untuk menunjukan perilaku perhatian R/ : membantu pasien merasa tenang 4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi kesehatan. Kaji nyeri. perhatikan peningkatan/ spasme dan nyeri R/ : mengetahui perkembangan kondisi pasien 4. Berikan kompres dingin pada hernia yang membengkak R/ : kompres dingin menambah vasokontriksi pembuluh darah dan mengurangi nyeri b.membantu menurunkan ansietas 3. meningkatkan kontrol penyakit  Post operasi a. TTV. Tetapkan hubungan antara flatus dan nyeri mereda R/ : nyeri tidak hilang dengan flatus merupakan tanda obstruksi usus 3. Bantu pasien belajar mekanisme koping baru R/ : membantu menurunkan stress. catat lokasi. Berikan lingkungan tenang dan istirahat R/ : meningkatkan relaksasi. Higiene Tidak mampu melakukan perawatan diri. Nyeri berhubungan denganluka insisi bedah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat dikurangi Kriteria hasil :  Klien mengatakan nyeri hilang / berkurang  Wajah relaks  TTV dalam batas normal : TD : 120/80 mmHg. 8. Nyeri /kenyamanan Nyeri pada lokasi. bau badan berhubungan dengan keterbataan aktifitas akibat nyeri. Catat petunjuk perilaku missal gelisah. muntah. N : 80 x/mnt . pada selakangan dan daerah sekitarnya.

2001). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi : 1) Fissure/Crack/Hairline. rupture tendon. 3) Buckle Fracture. Fraktur tibia dan fibula secara umum akibat dari pemutaran pergelangan kaki yang kuat dan sering dikait dengan gangguan kesejajaran. G. catat lokasi. 4. Berikan analgesik sesuai indikasi R/ : menghilangkan nyeri. Definisi Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. Klasifikasi 1. 6. dan luka organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.A. . Trauma Fraktur karena trauma dapat dibagi menjadi 2 yaitu: a. kerusakan pembuluh darah. Spontan . 2) Greenstick Fracture. (Brunner & Suddart. 1992 FRAKTUR 1. Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut. Fraktur tibia dan fibula yang terjadi akibat pukulan langsung. 2. kerusakan otot. Fraktur Patologis Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau osteoporosis. Buku Ajar Bedah I. Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Rencana Asuhan Keperawatan. tulang terputus seluruhnya tetapi masih di tempat. biasa terjadi pada anak-anak dan pada os. 2 . terjadinya jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer. Trauma tidak langsung. 3. skala nyeri (skala 1-10) R/ : berguna dalam pengawasan keefektifan obat. 3. b. DAFTAR PUSTAKA . 1992 . Dorong ambulasi dini R/: menungkatkan normalisasi fungsi organ seperti merangsang periltastik dan kelancaran flatus. Etiologi 1. Mansjoer. E Marylin. radius. yang biasanya disertai dengan luka sekitar jaringan lunak. kemajuan penyembuhan 2. Ajarkan teknik relaksasi R/ : mengalihkan perhatian dan mengurangi ketegangan 4. Trauma langsung. Kaji nyeri. fraktur dimana korteksnya melipat ke dalam. EGC. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan Tulang juga bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu mengabsorpsi energi atau kekuatan yang menimpanya. Fraktur incomplete (parsial). 1995 : 840) 3 . Fraktur complete : tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih. Jakarta : Media Aesculapius. Arif dkk. David C. Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi menjadi : a. 5. ulna. Intervensi 1. Sabiston. Dongoes. Jakarta : EGC. Jakarta . 2000). b. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga. (Apley. 2000 . jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi atau gerakan memuntir yang keras. clavikula dan costae. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. terjadi pada tulang tibia dan fibula. Cruris berasal dari bahasa latin crus atau cruca yang berarti tungkai bawah yang terdiri dari tulang tibia dan fibula (Ahmad Ramali). biasa terjadi di tulang pipih.

Karena itu begitu diketahui kemungkinan fraktur tulang panjang. Skin Traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester langsung pada kulit dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).2. otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. tidak luas. 4. memutar 4) Distracted. Undisplace. Rekognasi Pergerakan relatif sesudah cidera dapat mengganggu suplai neurovascular ekstremitas. apabila kulit diatas tulang yang fraktur masih utuh b. Displace. Kehilangan sensasi (Mati rasa. Fraktur tertutup. Secara umum berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar. tipe fraktur dan garis fraktur secara langsung. Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodik 2. 3. Echumosis dan perdarahan subculaneus 5. menggeser ke samping tapi dekat 2) Angulated. d) Kontaminasi ringan. 9. garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100 0 dari sumbu tulang) b. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler 4. Comminuted. Fraktur terbuka. membentuk sudut tertentu 3) Rotated. Manifestasi klinis 1. maka ekstremitas yang cedera harus dipasang bidai untuk melindunginya dari kerusakan. Krepitasi 5. c) Kraktur sederhana. garis patah tulang melintang sumbu tulang (<800 atau >1000 dari sumbu tulang) c. Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma 5. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. apabila kulit diatasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang. 11. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur. Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : rotasi pemendekan tulang. 3) Derajat III Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit. Berdasarkan garis patah atau konfigurasi tulang: a. Syock hipovolemik dari hilangnya hasil darah. MRI : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya. Deformitas 2. satu fragmen masuk ke fragmen yang lain. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun. yaitu : a. Berdasarkan hubungan antar fragman fraktur : a. 6. fraktur juga dapat dibagi menjadi 2. obliq atau kumulatif ringan. Longitudinal. Pergerakan abnormal 10. 4. Skor tulang tomography. Pemeriksaan diagnostik 1. 3. 4. 8. garis fraktur tumpang tindih 6) Impacted. avulse c) Fraktur komuniti sedang. garis patah mengikuti sumbu tulang d. saling menjauh karena ada interposisi 5) Overriding. terbagi atas: 1) Shifted Sideways. . Penekanan tulang 3. terdapat dua atau lebih garis fraktur. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati. skor C1. Tendernes atau keempuka 7. terbai atas : 1) Derajat I a) Luka kurang dari 1 cm b) Kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk. Oblik. 2) Derajat II a) Laserasi lebih dari 1 cm b) Kerusakan jaringan lunak. garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih e. Ada 2 macam yaitu: a. fragment tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya b. Transversal. Traksi Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk meluruskan bentuk tulang. munkin terjadi dari rusaknya saraf atau perdarahan). Foto Rontgen : Untuk mengetahui lokasi. 2. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur. 6. Penatalaksanaan 1. tranversal. Spiral.

atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. tulang. 2000) . Mendorong pasien kekamar tindakan sesuai jenis kasus pembedahan i. Komplikasi 1. Pola Eliminasi : Pasien dapat mengalami gangguan eliminasi BAB seperti konstipasi dan gangguan eliminasi urine akibat adanya program eliminasi c. Reduksi Tertutup/ORIF (Open Reduction Internal Fixation) b. Perawatan dilakukan sejak memindahkan pasien ke meja operasi samapai selesai 8. Pada persendian kaki dan jari-jari biasanya terjadi hambatan gerak. Compartement syndrome : Merupakan komlikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot. fragment tulang harus diimobilisasi. Pola Kebiasan a. dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Menilai KU dan TTV g. Kekakuan sendi: Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu lama. rontgen. h. (Brunner & suddarth. (Doenges. Avaskuler nekrosis : Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ketulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia d. hal ini dapat diatasi dengan fisiotherapi . Identitas pasien c. b. dampak hospitalisasi b. KONSEP ASUHAN KEPARAWATAN 1. Dini a. e. Perawatan Perioperatif 1. EKG. Identitas Pasien a. Memberikan Pre Medikasi : Mengecek nama pasien sebelum memberikan obat dan memberikan obat pre medikasi. Pola Aktivitas : Hampir seluruh aktivitas dilakukan ditempat tidur sehingga aktivitas pasien harus dibantu oleh orang lain. seperti nyeri yang hebat. Surat persetujuan operasi d. Pemeriksaan laboratorium darah. saraf. Riwayat Penyakit dahulu Ada tidaknya riwayat DM pada masa lalu yang akan mempengaruhi proses perawatan post operasi. Shock : karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. namun ada beberapa kondisi dapat menyebabkan pola istirahat terganggu atau berubah seperti timbulnya rasa nyeri yang hebat dan dampak hospitali d. Menerima Pasien dan memeriksa kembali persiapan pasien b. Infeksi : Pada trauma orthopedic infeksi di mulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Tekanan intracompartement dapat dibuka langsung dengan cara whitesides.b. namun beberapa kondisi dapat menyebabkan pola nutrisi berubah. muntah. tidak bisa melakukan banyak aktivitas. Penanganan: dalam waktu kurang 12 jam harus dilakukan fascioterapi. Reduksi a. mual. Perawatan intra Operasi: a. namun untuk aktivitas yang sifatnya ringan pasien masih dapat melakukannya sendiri. dan nafsu makan menurun. Pola Nutrisi : Tidak mengalami perubahan. 7. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Persiapan Pre Operasi: 1) Pasien sebaiknya tiba di ruang operasi dengan daerah yang akan di operasi sudah dibersihkan (di cukur dan personal hygiene) 2) Kateterisasi 3) Puasa mulai tengah malam sebelum operasi esok paginya (pada spinal anestesi dianjurkan untuk makan terlebih dahulu) 4) Informed Consent 5) Pendidikan Kesehatan mengenai tindakan yang dilakukan di meja operasi 2. Skeletal traksi adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera pada sendi panjang untuk mempertahankan bentuk dengan memasukkan pins atau kawat ke dalam tulang. Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri pada daerah Fraktur. Pola Istirahat : Kebutuhan istirahat atau tidur pasien tidak mengalami perubahan yang berarti. Mengganti baju pasien f. Kondisi fisik yang lemah. Reduksi Terbuka/OREF (Open Reduction Eksternal Fixation) 4. 2002) b. 3. Imobilisasi Fraktur Setelah fraktur di reduksi. tapi juga bisa karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat c. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka. Riwayat Penyakit Keluarga Fraktur bukan merupakan penyakit keturunan akan tetapi adanya riwayat keluarga dengan DM perlu di perhatikan karena dapat mempengaruhi perawatan post operasi 2. e. Perawatan Pre Operasi: a. (Sjamsuhidayat & Wim Dejong) c. Pengkajian 1.

g. Tinggikan ekstremitas yang sakit. prosedur pembedahan. 2002) 2. R/ Latihan ringan sesuai indikasi untuk mencegah kelemahan otot dan memperlancar peredaran darah 3. R/ Meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi edema dan mengurangi nyeri. Warna kulit normal dan hangat. dan imobilisasi. Balutan yang ketat harus dilonggarkan. denyut nadi. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasive. alat yang mengikat. b. 5. psikologis ini dapat muncul pada pasien yang masih dalam perawatan dirumah sakit. 3. Rencana Keperawatan Rencana asuhan keperawatan pada klien postoperatif ortopedi disusun seperti berikut : 1. latihan pergelangan kaki. Diagnosa Keperawatan Diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan pada klien pasca operasi ortopedi adalah sebagai berikut. Palpasi : Pemeriksaan dengan perabaan. 4. hematom. R/ Adanya edema. Anjurkan klien untuk melakukan pengeseran otot. f. 3. R/ Menurunkan edema dan pembentukan hematom e. Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang 2. Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pembengkakan. gips). pembengkakan. R/ Meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi edema dan mengurangi nyeri c. Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pembengkakan. Respons pengisian kapiler normal (crt 3 detik). hematom dan spasme otot menunjukkan adanya penyebab nyeri c. dan spasme otot. penolakan otot oleh sentuhan kita adalah nyeri tekan. Riwayat Sosial : Adanya ketergantungan pada orang lain dan sebaliknya pasien dapat juga menarik diri dari lingkungannya karena merasa dirinya tidak berguna i. Perubahan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan kehilangan kemandirian Tujuan pasien mampu melaksanakan tugas secara mandiri Kriteria hasil : . gangguan peredaran darah. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan. selain itu dapat juga terjadi ganggguan konsep diri body image. Pemeriksaan Fisik : Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan setelah riwayat kesehatan dikumpulkan. Tinggikan ekstremitas yang sakit. 3. Kaji status neurovaskular (misal warna kulit. d. dan imobilisasi. traksi. pembengkakan. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan. kemerahan mungkin timbul pada area terjadinya faktur adanya spasme otot dan keadaan kulit. 3. Klien memperlihatkan perfusi jaringan yang adekuat: 2. (Brunner & Suddarth. kulit pucat. Pemeriksaan dengan cara mendengarkan gerakan udara melalui struktur berongga atau cairan yang mengakibatkan struktur solit bergerak. Meninggikan ekstremitas untuk mengontrol pembengkakan dan ketidaknyamanan. Kaji adanya edema. Intervensi : a. d. pembengkakan. adanya alat imobilisasi (misal bidai. alat yang mengikat. laserasi. Tujuan tidak terjadi kerusakan / pembengkakan Kriteria hasil : 1. gerakan). intensitas. Riwayat Psikologis : Biasanya dapat timbul rasa takut dan cemas. 5. pengisian kapiler. Perubahan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan kehilangan kemandirian. 2. R/ Menghilangkan atau mengurangi nyeri secara non farmakologis 2. gangguan peredaran darah. dan imajinasi terpimpin. Ajarkan klien teknik relaksasi. nyeri. Tujuan nyeri berkurang atau hilang dengan Kriteria Hasil : 1. suhu. Perkusi : Perkusi biasanya jarang dilakukan pada kasus fraktur. Berikan kompres dingin (es). seperti distraksi. R/ Untuk menentukan intervensi selanjutnya b. R/ Untuk mengetahui karakteristik nyeri agar dapat menentukan diagnosa selanjutnya. Personal Hygiene : Pasien masih mampu melakukan personal hygienenya.e. Riwayat Spiritual : Pada pasien post operasi fraktur tibia riwayat spiritualnya tidak mengalami gangguan yang berarti h. parestesi. aktivitas ini sering dilakukan pasien ditempat tidur. 4. lepas dan sampai batas mana daerah yang sakit biasanya terdapat nyeri tekan pada area fraktur dan di daerah luka insisi. dan jenis nyeri. edema. 1. R/ Untuk memperlancar peredaran darah. Bergerak dengan lebih nyaman Intervensi : a. Pada pasien fraktur pemeriksaan ini pada areal yang sakit jarang dilakukan. 3. Lakukan pengkajian nyeri meliputi skala. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri. namun harus ada bantuan dari orang lain. Inspeksi : Pengamatan lokasi pembengkakan. pemeriksaan fisik yang lengkap biasanya dimulai secara berurutan dari kepala sampai kejari kaki. Auskultasi . dan "pemompaan" betis setiap jam untuk memperbaiki peredaran darah. 6.

Tidak terjadi perubahan konsep diri. Jakarta: EGC. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri. citra diri. Bantu klien menggerakkan bagian cedera dengan tetap memberikan sokongan yang adekuat. dkk. Kolaborasi kepada tim gizi. 4. Klien memaksimalkan mobilitas dalam batas terapeutik. Pantau tanda-tanda vital R/ Peningkatan suhu tubuh di atas normal menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi c. R/ Alat bantu gerak membantu keseimbangan diri untuk latihan mobilisasi 5. R/ Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan. dan anjurkan klien untuk latihan. pemberian menu seimbang dan pembatasan susu. Klien memperlihatkan upaya memperbaiki kesehatan. Intervensi : a. gips) Tujuan pasien mampu melakukan mobilisasi sesuai terapi yang diberikan Kriteria hasil : 1. Tujuan tidak terjadi infeksi Kriteria hasil : Tidak terjadi Infeksi Intervensi : a. 2000. Nyeri dikontrol dengan bidai dan memberikan obat anti-nyeri sebelum digerakkan. Mansjoer. R/ Mengurangi nyeri sebelum latihan mobilitas d. walker. Kaji respon pasien terhadap pemberian antibiotik R/ Untuk menentukan antibiotic yang tepat untuk pasien b. Marylinn. R/ Untuk mencegah tekanan pada kulit sehingga terhindar pada luka decubitus. kursi roda). 2. Pathofisiologi Konsep Klinisk Proses-Proses Penyakit. Ajarkan klien menggunakan alat bantu gerak (tongkat. Doengoes. 5. Pantau luka operasi dan cairan yang keluar dari luka R/ Adanya cairan yang keluar dari luka menunjukkan adanya tanda infeksi dari luka. c. Edisi 3. Rencana Asuhan Keperawatan. FKUI Laporan Pendahuluan dan Askep Asma . Arif. 3. b. Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan perifer 3. adanya alat imobilisasi (misal bidai. Dapat melakukan mobilitas fisik secara mandiri. Evaluasi 1. Sylvia Price. Edisi 3. Menggunakan alat imobilisasi sesuai petunjuk. harga diri dan peran diri DAFTAR PUSTAKA Anderson. Kapita Selekta Kedokteran. lakukan pemijatan dan minimalkan tekanan pada penonjolan tulang. Mematuhi pembatasan pembebanan sesuai anjuran Intervensi : a. Bantu klien untuk merubah posisi setiap 2 jam. Mengubah posisi sendiri untuk menghilangkan tekanan pada kulit. E. R/ Agar dapat membantu mobilitas secara bertahap b. R/ Meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi edema dan mengurangi nyeri c. R/ Untuk menjaga kulit tetap elastic dan hidrasi yang baik. pembengkakan. Nyeri berkurang sampai dengan hilang 2. Jakarta: Media Aesculapius. Pantau adanya infeksi pada saluran kemih R/ Retensi urine sering terjadi setelah pembedahan 4. 2000. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif. 2. 2001.1. Ekstremitas ditinggikan dan disokong dengan bantal. Lakukan perawatan kulit. d. prosedur pembedahan. Menjaga hidrasi yang adekuat. Pemeliharaan kesehatan terjaga dengan baik 4. Jakarta: EGC. 3. traksi.

Bagaimana patofisiologis dari Asma Bronkial? 7. 1. Bagaiamana pathway dari Asma Bronkial? 8. Apa klasifikasi dari Asma Bronkial ? 4.3 Tujuan .Di Indonesia. obstruksi aliran udara berlangsung secara reversibel. BAB I PENDAHULUAN 1. maka sistem pernafasan harus dijaga dari patogen – patogen yang dapat mempengaruhi pernafasan manusia seperti penyakit asma bronkial. National Heart. Apa etiologi dari Asma Bronkial? 5. Asma merupakan penyakit radang kronis umum dari saluran udara yang ditandai dengan gejala variabel dan berulang. Dalam bab selanjutnya akan dibahas mengenai tentang Asma dan pemberian Asuhan Keperawatan Klien dengan Asma. Bagaimana anatomi fisiologi dari system pernafasan? 2. penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 menunjukkan. Kenaikan prevalensi di Inggris dan di Australia mencapai 20-30%. Dari tahun ke tahun prevalensi penderita asma semakin meningkat. Lung and Blood Institute melaporkan bahwa asma diderita oleh 20 juta penduduk amerika. Bagaimana penatalaksanaan dari Asma Bronkial? 9. Bagaimana asuhan keperawatan dari Asma bronkial? 1. Apa manifestasi klinis dari Asma Bronkial? 6. dan bronkospasme.2%. prevalensi asma masih 2.1%.1 Latar Belakang Sistem pernafasan merupakan suatu sistem yang penting bagi kehidupan manusia. dan meningkat tahun 2003 menjadi dua kali lipat lebih yakni 5. Apa Definisi dari Asma Bronkial? 3.2 Rumusan Masalah 1.

2009). Untuk mengetahui definisi dari Asma bronkial 3. Asma adalah suatu peradangan pada bronkus akibat reaksi hipersensitif mukosa bronkus terhadap bahan alergen (Riyadi. Untuk mengetahui etiologi dari asma bronkial 4. sekaligus lapisan saluran bronchial mengalami peradangan dan bengkak (Espeland. Untuk mengetahui patofisiologis dari Asma bronkial 6. 2005). Asma adalah penyakit yang menyebabkan otot-otot di sekitar saluran bronchial (saluran udara) dalam paru-paru mengkerut. 1. a.1 Pengertian Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma (Ngastiyah. Untuk mengetahui Asuhan keperawatan dari Asma bronkial BAB 2 KONSEP DASAR ASMA 2. Untuk mengetahui pathway dari Asma bronkial 7. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Asma bronkial 8. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Asma bronkial 5. Anatomi dan fisiologi pernafasan 1) Anatomi saluran nafas Gambar 1 . Untuk mengetahui anatomi fisiologi dari system pernafasan 2. 2008).

Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berfungsi untuk menyaring dan menghangatkan udara (Hidayat. terdapat di dasar tengkorak. di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Terdapat epiglotis yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan. 2006). dipisahkan oleh sekat hidung. Organ-organ pernafasan a) Hidung Merupakan saluran udara pertama yang mempunyai 2 lubang. d) Trakea (batang tenggorok) . c) Laring (pangkal tenggorok) Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. b) Tekak (faring) Merupakan persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan.

Adapun guna dari pernafasan yaitu mengambil O2 yang dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk pembakaran. Fungsi mekanis pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru disebut sebagai ventilasi atau bernapas. Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). mengeluarkan CO 2 sebagai sisa dari pembakaran yang dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang. Alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Kemudian adanya pemindahan O2 dan CO2 yang melintasi membran alveolus-kapiler yang disebut dengan difusi sedangkan pemindahan oksigen dan karbondioksida antara kapiler-kapiler dan sel-sel tubuh yang disebut dengan perfusi atau pernapasan internal. Percabangan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina. Sebelah dalam diliputi oleh sel bersilia yang berfungsi untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Pernafasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara yang mengandung oksigen dan menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. e) Bronkus (cabang tenggorokan) Merupakan lanjutan dari trakea yang terdiri dari 2 buah pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V. menghangatkan dan melembabkan udara. pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. Terdapat beberapa mekanisme yang berperan memasukkan udara ke dalam paru-paru sehingga pertukaran gas dapat berlangsung. Pada dasarnya sistem pernafasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang menghangatkan udara luar agar bersentuhan dengan membran kapiler alveoli. 2. Jika dibentangkan luas permukaannya  90 meter persegi.2 Proses pernafasan . f) Paru-paru Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung- gelembung hawa (alveoli).

iritan.4 Patofisiologi Faktor-faktor penyebab seperti virus. Satu kali bernafas adalah satu kali inspirasi dan satu kali ekspirasi. Stadium akhir yaitu respirasi sel dimana metabolit dioksida untuk mendapatkan energi dan karbon dioksida yang terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel akan dikeluarkan oleh paru-paru (Price. cuaca. Proses pernafasan ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru. Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah dapat rangsangan dari nervus prenikus lalu mengkerut datar. alergi. jamur. 2. sel mast yang mengalami . kegiatan jasmani dan psikis akan merangsang reaksi hiperreaktivitas bronkus dalam saluran pernafasan sehingga merangsang sel plasma menghasilkan imonoglubulin E (IgE). 2000). 2. parasit. Sel mast tersensitisasi akan mengalami degranulasi. dan bakteri sedangkan faktor non infeksi seperti alergi. fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah. cuaca. Proses bernafas terdiri dari menarik dan mengeluarkan nafas. kegiatan jasmani dan psikis (Mansjoer. Stadium kedua adalah transportasi yang terdiri dari beberapa aspek yaitu difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik dengan sel-sel jaringan. distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus dan reaksi kimia. jamur. parasit. 2005). iritan. yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan ke luar paru-paru. IgE selanjutnya akan menempel pada reseptor dinding sel mast yang disebut sel mast tersensitisasi. bakteri. Bernafas diatur oleh otot-otot pernafasan yang terletak pada sumsum penyambung (medulla oblongata). Stadium pertama adalah ventilasi. Faktor infeksi misalnya virus. Proses fisiologis pernafasan dimana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan dan karbondioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Ekspirasi terjadi pada saat otot- otot mengendor dan rongga dada mengecil.3 Etiologi Adapun faktor penyebab dari asma adalah faktor infeksi dan faktor non infeksi.

retraksi otot dada. nadi meningkat.5 Manifestasi klinis Adapun manifestasi klinis yang ditimbulkan antara lain mengi/wheezing. nyeri dada. peningkatan produksi mukus dan kontraksi otot polos bronkiolus. batuk. Hal ini dapat menyebabkan paru-paru tidak dapat memenuhi fungsi primernya dalam pertukaran gas yaitu membuang karbondioksida sehingga menyebabkan konsentrasi O 2 dalam alveolus menurun dan terjadilah gangguan difusi. Mediator ini menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler sehingga timbul edema mukosa. kelelahan. sesak nafas. pneumotorak dan bronkopneumonia. lemah. sianosis dan gelisah. dada terasa tertekan atau sesak. anoreksia. 2.6 Komplikasi Adapun komplikasi yang timbul yaitu bronkitis berat. dan akan berlanjut menjadi gangguan perfusi dimana oksigenisasi ke jaringan tidak memadai sehingga akan terjadi hipoksemia dan hipoksia yang akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis. yang akan menyebabkan terjadi alkalosis respiratorik dan penurunan CO2 dalam kapiler (hipoventilasi) yang akan menyebabkan terjadi asidosis respiratorik. Hal ini akan menyebabkan proliferasi akibatnya terjadi sumbatan dan daya konsulidasi pada jalan nafas sehingga proses pertukaran O2 dan CO2 terhambat akibatnya terjadi gangguan ventilasi. emfisema. atelektasis. 2. takipnea. Rendahnya masukan O2 ke paru-paru terutama pada alveolus menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan CO2 dalam alveolus atau yang disebut dengan hiperventilasi. nafas cuping hidung. degranulasi akan mengeluarkan sejumlah mediator seperti histamin dan bradikinin. . pilek.

Alergen yang digunakan adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya. caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik nafas dalam melalui mulut kemudian menghebuskan dengan kuat). 2. Alat yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter. atelektasis juga ditemukan pada anak-anak  6 tahun. 3) Anti inflamasi (Kortikosteroid) diberikan untuk menghambat inflamasi jalan nafas.7 Pemeriksaan Diagnostik 1) Pemeriksaan Radiologi a) Foto thorak Pada foto thorak akan tampak corakan paru yang meningkat.8 Penatalaksanaan medis 1) Oksigen 4 . menilai hasil provokasi bronkus. 2) Pemeriksaan darah Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung. 2. bila tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma . b) Foto sinus paranasalis Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya sinusitis.6 liter / menit 2) Pemeriksaan analisa gas darah mungkin memperlihatkan penurunan konsentrasi oksigen. 3) Uji faal paru Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi. menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. 4) Uji kulit alergi dan imunologi Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. 4) Antibiotik diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi 5) Pemberian obat ekspektoran untuk pengenceran dahak yang kental 6) Bronkodilator untuk menurunkan spasme bronkus/melebarkan bronkus 7) Pemeriksaan foto torak . hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik.

ronchi.2 Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon aktual/potensial terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan. b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap anoreksia akibat rasa dan bau sputum c) Kerusakan pertukaran gas berubungan dengan perubahan membran alveolar kapiler . Dari data obyektif diperoleh data mengi/wheezing berulang. lemah. nafas cuping hidung dan retraksi otot dada. pernapasan cepat (takipnea). kelelahan dan gelisah. Pada tahap ini akan dilaksanakan pengumpulan. Pada pengumpulan data akan diperoleh data subyektif yaitu data yang diperoleh dari keterangan pasien atau orang tua pasien.8) Pantau tanda-tanda vital secara teratur agar bila terjadi kegagalan pernafasan dapat segera tertolong. Dari pengkajian yang dilakukan maka didapatkan diagnosa keperawatan yang muncul seperti : (Carpenito. 2000 & Doenges. pilek. Dari data subyektif pada pasien asma biasanya diperoleh data anak dikeluhkan sesak nafas. 1999) a) Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum/sekret. Data obyektif diperoleh dari pemeriksaan fisik. nafsu makan menurun. dada terasa tertekan atau sesak. pengelompokan dan penganalisaan data.1 Pengkajian Keperawatan Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan (Gaffar. 1999). BAB 3 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN ASMA 3. 3. sianosis. batuk.

1999). mengi dan ronchi Rasional: Bunyi nafas bronkial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. 1999). pernafasan dangkal dan gerakan dada tidak simetris. bunyi nafas. c) Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada Rasional : Takipnea.3 Perencanaan keperawatan Perencanaan merupakan preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat (Doenges. d) Auskultasi area paru. 3. 1) Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeabronkial Tujuan : bersihan jalan nafas efektif Rencana tindakan : a) Ukur vital sign setiap 6 jam Rasional : Mengetahui perkembangan pasien b) Observasi keadaan umum pasien Rasional : Mengetahui efektivitas perawatan dan perkembangan pasien. ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen. Rencana keperawatan yang dapat disusun untuk pasien asma yaitu: (Doenges. mengi dan ronchi terdengar pada inspirasi atau ekspirasi pada respon bertahap pengumpulan cairan. Perencanaan diawali dengan memprioritaskan diagnosa keperawatan berdasarkan berat ringannya masalah yang ditemukan pada pasien (Zainal. d) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. batuk menetap f) Ansietas orang tua berhubungan dengan perubahan status kesehatan. krekel. sekret kental dan spasme jalan nafas/obstruksi. kurangnya informasi. e) Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. 1999). e) Ajarkan pasien latihan nafas dalam dan batuk efektif . misal krekel. sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dada dan/atau cairan paru.

b) Observasi warna kulit. f) Anjurkan banyak minum air hangat Rasional : Air hangat dapat memobilisasi dan mengeluarkan sekret. g) Beri posisi yang nyaman (semi fowler/fowler) Rasional : Memungkinkan upaya napas lebih dalam dan lebih kuat serta menurunkan ketidaknyamanan dada. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami. membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas pasien. menghambat pengeluaran histamine. membran mukosa dan kuku Rasional : Sianosis menunjukkan vasokonstriksi. Ekspektoran memudahkan pengenceran dahak. h) Delegatif dalam pemberian bronkodilator. d) Tinggikan kepala dan sering mengubah posisi Rasional : Meningkatkan inspirasi maksimal. ekspktoran dan antibiotik Rasional : Bronkodilator untuk menurunkan spasme bronkus/melebarkan bronkus dengan memobilisasi sekret.Rasional : Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas lebih kecil. meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi e) Berikan terapi oksigen sesuai indikasi . 2) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar kapiler Tujuan : Ventilasi dan pertukaran gas efektif. Antibiotik diindikasikan untuk mengontrol infeksi pernafasan. kortikosteroid. c) Pertahankan istirahat tidur Rasional : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi. hipoksemia sistemik. Kortikosteroid yaitu anti inflamasi mencegah reaksi alergi. Rencana tindakan : a) Observasi keadaan umum dan vital sign setiap 6 jam Rasonal : Penurunan keadaan umum dan perubahan vital sign merupakan indikasi derajat keparahan dan status kesehatan pasien.

atau menunduk ke depan meja atau bantal e) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien Rasional : Keluarga mampu melakukan perawatan secara mandiri 4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi sputum Tujuan : pemenuhan nutrisi adekuat a) Timbang berat badan setiap hari Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet b) Beri penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh Rasional : Meningkatkan pematangan kebutuhan individu dan pentingnya nutrisi pada proses pertumbuhan c) Anjurkan memberikan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : Meningkatkan nafsu makan.Rasional : Mempertahankan PaO2 3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. menghemat energi untuk penyembuhan c) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen. tidur di kursi. dengan porsi kecil tidak akan cepat bosan d) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang (batasi pengunjung) Rasional : Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan . ketidakseimbangan suplay dan kebutuhan O 2 Tujuan : Aktivitas dapat ditingkatkan Rencana tindakan : a) Kaji tingkat kemampuan pasien dalam aktivitas Rasional : Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. b) Jelaskan pentingnya istirahat dan keseimbangan aktivitas dan istirahat Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik. d) Bantu pasien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat Rasional: Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi.

kurangnya informasi Tujuan: Kecemasan orang tua berkurang/hilang. orang tua memahami kondisi pasien. tanda gejala. pengetahuan orang tua bertambah. penyebab. Tujuan : Nyeri. batuk menetap. Rencana tindakan: a) Kaji karakteristik nyeri Rasional : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa serangan asma . . e) Anjurkan menghidangkan makan dalam keadaan hangat Rasional : Dengan makanan yang masih hangat dapat merangsang makan dan meningkatkan nafsu makan 5) Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. Rencana tujuan : a) Kaji tingkat pengetahuan orang tua dan kecemasan orang tua Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki orang tua dan kebenaran informasi yang didapat b) Beri penjelasan pada orang tua tentang keadaan. d) Libatkan orang tua dalam perawatan pasien Rasional : Orang tua lebih kooperatif dalam perawatan. Rasional : Memberi informasi untuk menambah pengetahuan orang tua. b) Observasi vital sign setiap 6 jam Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau tekanan darah menunjukkan bahwa mengalami nyeri. c) Berikan tindakan nyaman seperti relaksasi dan distraksi Rasional : Menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgetik d) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional: Meningkatkan kenyamanan/istirahat umum 6) Ansietas orang tua berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda vital telah terlihat. pengertian. pencegahan dan perawatan pasien. berkurang/terkontrol. c) Jelaskan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan Rasional : Agar orang tua mengetahui setiap tindakan yang diberikan.

5 Evaluasi keperawatan Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada pasien.4 Pelaksanaan keperawatan Pelaksanaan adalah pngelolaan. e) Beri kesempatan pada orang tua untuk bertanya tentang hal-hal yang belum diketahui Rasional : Orang tua bisa memperoleh informasi yang lebih jelas. f) Anjurkan orang tua untuk selalu berdoa Rasional : Membantu orang tua agar lebih tenang g) Lakukan evaluasi Rasoional: Mengetahui apakah orang tua sudah benar-benar mengerti dengan penjelasan yang diberikan 3. pengetauan orang tua bertambah. 3. Tindakan keperawatan yang dilaksanakan disesuaikan dengan perencanaan (Nursalam.1 Kesimpulan . 2001). perwujudan dari rencana perawatan yang telah disusun pada tahap kedua untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dan komprehensif. BAB IV PENUTUP 4. Evaluasi yang diharapkan sesuai dengan rencana tujuan yaitu : 1) Bersihan jalan nafas efektif 2) Ventilasi dan pertukaran gas efektif 3) Aktivitas dapat ditingkatkan 4) Pemenuhan nutrisi adekuat 5) Nyeri berkurang/terkontrol 6) Kecemasan orang tua berkurang/hilang. keluarga memahami kondisi pasien.

nyeri dada. kelelahan. pilek. Asma adalah penyakit yang menyebabkan otot-otot di sekitar saluran bronchial (saluran udara) dalam paru-paru mengkerut. b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap anoreksia akibat rasa dan bau sputum c) Kerusakan pertukaran gas berubungan dengan perubahan membran alveolar kapiler d) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Adapun faktor penyebab dari asma adalah faktor infeksi dan faktor non infeksi. pengelompokan dan penganalisaan data. Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan (Gaffar. nadi meningkat. dan evaluasi. sekaligus lapisan saluran bronchial mengalami peradangan dan bengkak. ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen. batuk. lemah. Asuhan keperawatn yang diberikan kepada pasien dengan asma yang pertama adalah pengkajian. dan bakteri sedangkan faktor non infeksi seperti alergi. kegiatan jasmani dan psikis. cuaca. nafas cuping hidung. takipnea. 1999). Adapun manifestasi klinis yang ditimbulkan antara lain mengi/wheezing. iritan. Pada tahap ini akan dilaksanakan pengumpulan. 1999) a) Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum/sekret. Dari pengkajian yang dilakukan maka didapatkan diagnosa keperawatan yang muncul seperti : (Carpenito. parasit. anoreksia. retraksi otot dada. diagnosa keperawatan. 2000 & Doenges. e) Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim f) paru. sesak nafas. Faktor infeksi misalnya virus. implementasi. batuk menetap g) Ansietas orang tua berhubungan dengan perubahan status kesehatan. dada terasa tertekan atau sesak. rencana keperawatan. kurangnya informasi. . jamur. sianosis dan gelisah.

medicastore. Rencana Asuhan Keperawatan. dari http://www. (2009). (2000). Informasi yang adekuat dan penkes sangat bermanfaat bagi klien. Diagnosa keperawatan. Dalam menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Chronik Asma di perlukan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan teori penyakit bagi seorang perawat. L. (2005). M. Jakarta: EGC Nursalam. Jakarta: Media Aesculapius Ngastiyah. (1999). N. Petunjuk Lengkap Mengatasi Alergi dan Asma pada Anak.com/asma/ Carpenito.A. Jakarta: EGC Espeland. Jakarta: EGC . Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC Doenges.(2006). (Edisi 6). Asma Bisa Sembuh atau Problem Seumur Hidup.2 Saran 1. Perawatan Anak Sakit. L. (2001). Jilid 1. 2. (2008).J. agar klien mampu mengatasi masalah nya secara mandiri DAFTAR PUSTAKA Anonymous.O. (Edisi 3).A.E. (Edisi 2).J. A. Jakarta: EGC Hidayat. Kapita Selekta Kedokteran. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. 4. A. (2000). (Edisi 3).(1999). Jakarta: Prestasi Pustakaraya Gaffar. Surabaya: Salemba Medika Mansjoer. Diperoleh tanggal 29 Juni 2009.

yaitu dinding saluran napas membengkak. Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang menyebabkan hiperaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi. (2009). Pengantar Keperawatan Profesional. Pada penderita asma. batuk. A. Namun demikian. Saluran napas penyandang asma biasanya menjadi merah dan meradang.Price. Jakarta: EGC Riyadi. ujung saluran napas mengecil. dan otot-otot saluran napas mengencang tetapi semuanya dapat dipulihkan ke kondisi semula dengan terapi yang tepat. . tidak semua penyandang asma mempunyai alergi dan tidak semua orang yang mempunyai alergi menyandang asma (Bull & Price. S. saluran napas menjadi sempit dan hal ini membuat sulit bernapas. (2005). Asma Bronkial adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos bronkiolus.H. Asuhan Keperawatan pada Anak. Alergi dapat memperparah asma. Terjadi beberapa perubahan pada saluran napas penyandang asma. hidung mengalami iritasi dan mungkin menjadi tersumbat. S. dan aliran udara yang melaluinya sangat jauh berkurang sehingga bernapas menjadi sangat sulit (Bull & Price. (1999). L. Yogyakarta: Graha Ilmu Zainal. Jakarta: Yayasan Bunga Raflesia LAPORAN PENDAHULUAN PADA GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN (ASMA) A. Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan). sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam hari atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan (Depkes RI. 2007).adanya sekumpulan lendir dan sel-sel yang rusak menutupi sebagian saluran napas. (Edisi 6). PENGERTIAN Asma adalah kondisi jangka panjang yang mempengaruhi saluran napas-saluran kecil yang mengalirkan udara masuk ke dan keluar dari paru-paru. reversibel dimana trakea dan bronchi merespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Smeltzer&Bare. 2002). 2009) Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten. Selama terjadi serangan asma.M. Asma sangat terkait dengan alergi.A & Wilson. 2007). Patofisiologi. perubahan dalam paru-paru secara tiba-tiba menjadi jauh lebih buruk. Hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus (Huddak & Gallo. 1997).

Faktor intrinsik(non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. asap rokok. 3. suhu udara. yang tampil dalam bentuk ingestan (alergen yang masuk ke tubuh melalui mulut). 2002) a. Namun. Penyebab asma dapat menimbulkan gejala- gejala yang umumnya berlangsung lebih lama (kronis). seperti common cold. Penyebab Asma (Inducer) Penyebab asma dapat menyebabkan peradangan (inflamasi) dan sekaligus hiperresponsivitas (respon yang berlebihan) dari saluran pernapasan. berlangsung dalam waktu pendek dan relatif mudah diatasi dalam waktu singkat. Umumnya penyebab asma adalah alergen. serbuk-serbuk. Sedangkan Lewis et al. Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan oleh alergen atau alergen yang dikenal seperti debu. Menurut mereka. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Gejala-gejala dan bronkokonstriksi yang diakibatkan oleh pemicu cenderung timbul seketika. latihan. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. inhalan (alergen yang dihirup masuk tubuh melalui hidung atau mulut). Factor Predisposisi 1) Genetik Bakat alergi merupakan hal yang diturunkan dari faktor genetik. dan polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan. Pemicu Asma (Trigger) Pemicu asma mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran pernapasan (bronkokonstriksi). Inducer dianggap sebagai penyebab asma yang sesungguhnya atau asma jenis ekstrinsik. tetapi bisa menjurus menjadi asma jenis intrinsik. meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya dengan jelas. Adapun rangsangan atau faktor pencetus yang sering menimbulkan Asma adalah: (Smeltzer & Bare. c. Umumnya pemicu yang mengakibatkan bronkokonstriksi adalah perubahan cuaca. Adanya bakat alergi ini . Menurut The Lung Association of Canada. 1. apabila sudah ada. Pemicu tidak menyebabkan peradangan. infeksi traktus respiratorius. dan lebih sulit diatasi. 2006). ada dua faktor yangmenjadi pencetus asma : a. yang belum berarti asma. dan alergen yang didapat melalui kontak dengan kulit ( VitaHealth. dan olahraga yang berlebihan. Trigger dianggap menyebabkan gangguan pernapasan akut. emosi. saluran pernapasan akan bereaksi lebih cepat terhadap pemicu. 2. secara umum pemicu asma adalah: a. Jadi dapat disimpulkan bahwa asma adalah penyakit jalan napas obstruktif yang disebabkan oleh berbagai stimulan ditandai dengan spasme otot polos bronkiolus. atau sudah terjadi peradangan. polusi udara. infeksi saluran pernapasan. b. (2000) tidak membagi pencetus asma secara spesifik. ETIOLOGI Ada beberapa hal yang merupakan faktor timbulnya serangan asma bronchial. b. gangguan emosi. bulu-bulu binatang. B.

 Kontaktan yang masuk melalui kontak dengan kulit. musim kemarau. bakteri dan polusi. aktivitas bermain. Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Faktor presipitasi 1) Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. seperti : debu. b. misalnya rhinitis alergik dan polip pada hidung.seperti : perhiasan. dimana 30% penderita bergejala pada umur 1 tahun.Sebagian besar anak yang terkena kadang-kadang hanya mendapat serangan ringan sampai sedang. spora jamur. seperti : makanan dan obat-obatan. EPIDEMIOLOGI Asma dapat timbul pada segala umur. Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olah raga yang berat. biasanya lebih banyak yang terus menerus dari pada yang musiman. Selain itu hipersentivisitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan. bulu binatang. C. Sebagian kecil mengalami asma berat yang berlarut-larut. serbuk bunga. selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. pabrik asbes. musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. 6) Gangguan pada sinus Hampir 30% kasus asma disebabkan oleh gangguan pada sinus. seperti: musim hujan. industri tekstil. 4) Lingkungan kerja. 2) Perubahan cuaca. Kadang-kadang serangan asma berhubungan dengan musim.  Ingestan yang masuk melalui mulut. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati. yaitu :  Inhalan yang masuk melalui saluran pernapasan. Kedua gangguan ini menyebabkan inflamasi membran mukus. polisi lalu lintas. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan. Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. . Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. sedangkan 80-90% anak yang menderita asma gejala pertamanya muncul sebelum umur 4-5 tahun. dan fungsi dari hari ke hari. menyebabkan penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpapar dengan faktor pencetus. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. logam dan jam tangan. 3) Stres Stres/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma. Atmosfer yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. 5) Olah raga/aktivitas jasmani yang berat. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Hal tersebut yang menjadikannya tidak mampu dan mengganggu kehadirannya di sekolah. yang relatif mudah ditangani. penderita asma yang mengalami stres/gangguan emosi perlu diberi nasihat untuk menyelesaikan masalah pribadinya karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.

Penelitian epidemiologi asma juga dilakukan pada siswa SLTP di beberapa tempat di Indonesia. Mungkin mula-mula akibat kepekaan yang berlebihan (hipersensitivitas) dari serabut-serabut nervus vagus yang akan merangsang bahan-bahan iritan di dalam bronkus dan menimbulkan batuk dan sekresi .7% pada tahun 1992. namun tampak terjadinya penurunan (outgrow) prevalensi asma sebanding dengan bertambahnya usia terutama setelah usia sepuluh tahun. PATOFISIOLOGI Berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan yang berupa peradangan dan bronkokonstriksi. Salah satu contoh yaitu histamin. Sel mast tersebut tidak lain daripada basofil yang kita kenal pada hitung jenis leukosit.7% dan di Bandung prevalensi asma sebesar 6. Bila satu molekul IgE yang terdapat pada permukaan sel mast menangkap satu molekul alergen.08%. Pelembang. Antibodi ini merupakan imunoglobin jenis IgE. maka pelepasan histamin akan terhalang. Belum dapat disimpulkan kecenderungan perubahan prevalensi berdasarkan bertambahnya usia karena sedikitnya penelitian dengan sasaran siswa SLTP. beberapa ahli membagi asma dalam 2 golongan besar yakni asma ekstriksi dan asma intrinsik (Hadibroto & Alam. Asma Intrinsik Terjadinya asma intrinsik sangat berbeda dengan asma ekstrinsik. Pada permukaan sel mast juga terdapat reseptor beta-2 adrenergik. 2005). Adanya eosinofil dalam sputum dapat dengan mudah diperlihatkan. Bila reseptor beta-2 dirangsang dengan obat anti asma Salbutamol(beta-2 mimetik). 2006).7%. Mekanisme terjadinya reaksi ini telah diketahui dengan baik. 1. sel mast tersebut akan memisahkan diri dan melepaskan sejumlah bahan yang menyebabkan konstriksi bronkus. antara lain: di Palembang. Antibodi ini melekat pada permukaan sel mast pada mukosa bronkus. akan membuat antibodi terhadap alergen yang dihirup itu. Penderita yang telah disensitisasi terhadap satu bentuk alergen yang spesifik.8%. dimana prevalensi asma sebesar 7. 2. Dengan demikian jelas bahwa kadar IgE akan meninggi dalam darah tepi (Herdinsibuae dkk. contoh lain ialah prostaglandin. Ujung Pandang. 8. dan Yogyakarta memberikan angka berturut-turut 7. Asma sudah dikenal sejak lama. hiperemia serta sekresi lendir putih yang tebal. Asma Ekstrinsik Pada asma ekstrinsik alergen menimbulkan reaksi yang hebat pada mukosa bronkus yang mengakibatkan konstriksi otot polos. Penelitian di Indonesia memberikan hasil yang bervariasi antara 3%-8%. Berdasarkan klasifikasi tersebut akan dijabarkan masing-masing dari patofisiologinya. tetapi sangat rumit. penelitian di Menado. Jadi eosinofil memberikan perlindungan terhadap serangan asma. di Jakarta prevalensi asma sebesar 5. Dulu fungsi eosinofil di dalam sputum tidak diketahui. tetapi baru-baru ini diketahui bahwa dalam butir-butir granula eosinofil terdapat enzim yang menghancurkan histamin dan prostaglandin. 17% dan 4.9% meningkat menjadi 29. Hal ini yang menyebabkan prevalensi asma pada orang dewasa lebih rendah jika dibandingkan dengan prevalensi asma pada anak. tetapi prevalensi asma tinggi. Di Australia prevalensi asma usia 8-11 tahun pada tahun 1982 sebesar 12. Pada mukosa bronkus dan darah tepi terdapat sangat banyak eosinofil. D.4%.99%.

3. Selain itu lendir yang sangat lengket akan disekresikan sehingga pada kasus-kasus berat dapat menimbulkan sumbatan saluran napas yang hampir total. Asma tingkat II Yaitu penderita asma yang secara klinis maupun pemeriksaan fisik tidak ada kelainan. Silent Chest d. dengan demikian merokok juga sangat merugikan (Herdinsibuae dkk. Asma tingkat III Yaitu penderita asma yang tidak memiliki keluhan tetapi pada pemeriksaan fisik dan tes fungsi paru memiliki tanda-tanda obstruksi. Batuk-batuk kronis dapat merupakan satu-satunya gejala asma dan demikian pula rasa sesak dan berat didada. batuk atau nafas berbunyi. Sianosis c. 2. 4. E. sering dapat menolong kasus-kasus seperti ini. Tampak lelah f. tetapi dengan tes fungsi paru nampak adanya obstruksi saluran pernafasan. terutama sternokliedo mastoideus b. demikian hipersensitifnya sehingga langsung menimbulkan refleks konstriksi bronkus. Atropin bahan yang menghambat vagus. Asma tingkat V Yaitu status asmatikus yang merupakan suatu keadaan darurat medis beberapa serangan asma yang berat bersifat refrakter sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. Serabut-serabut vagus. kegagalan pernapasan dan akhirnya kematian. Hiperinflasi thoraks dan takhikardi 5. 2005). Biasanya penderita merasa tidak sakit tetapi bila pengobatan dihentikan asma akan kambuh. asap. Asma tingkat I Yaitu penderita asma yang secara klinis normal tanpa tanda dan gejala asma atau keluhan khusus baik dalam pemeriksaan fisik maupun fungsi paru. Polusi udara oleh gas iritatif asal industri. serta udara dingin juga berperan. Gangguan kesadaran e. batuk-batuk dan mengi (whezzing) telah dikenal oleh umum dan tidak sulit untuk diketahui.Pada serangan asma ini dapat dilihat yang berat dengan gejala-gejala yang makin banyak antara lain : a. sehingga berakibat timbulnya status asmatikus. adenovirus dan juga oleh bakteri seperti hemophilus influenzae. Asma akan muncul bila penderita terpapar faktor pencetus atau saat dilakukan tes provokasi bronchial di laboratorium. Biasanya terjadi setelah sembuh dari serangan asma. Asma tingkat IV Yaitu penderita asma yang sering kita jumpai di klinik atau rumah sakit yaitu dengan keluhan sesak nafas. Rangsangan yang paling penting untuk refleks ini ialah infeksi saluran pernapasan oleh flu (common cold). Karena pada dasarnya asma bersifat reversible maka dalam kondisi apapun diusahakan untuk mengembalikan nafas ke kondisi normal . lendir melalui satu refleks. Tetapi untuk melihat tanda dan gejala asma sendiri dapat digolongkan menjadi : 1. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klasik penderita asma berupa sesak nafas. Kontraksi otot-otot bantu pernafasan.

Pengukuran fungsi paru (spirometri) 2.F. Tes ini dilakukan pada spirometri internal. 7. Pemeriksaan laboraturium . Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian brokodilator aerosol golongan adrenergi. 5. Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh. Pemeriksaan kulit 6. Tes provokasi bronkus 4. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. 3. Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90% dari maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEVR 10% atau lebih.

Hasil penelitian medis menunjukkan bahwa para penderita asma yang terutama menggantungkan diri pada obat-obatan pelega (reliever/bronkodilator) secara umum memiliki kondisi yang buruk dibandingkan penderita asma umumnya. d. sedang obat-obatan pelega sebagai pendukung. Pemeriksaan darah rutin dan kimia SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau hiperkapnea. Analisa Gas Darah (AGD / Astrup) Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia. dan risiko kematiannya karena asma juga lebih tinggi. pneumomediastinum dan atelektasis. Pewarnaan gram penting untuk adanya bakteri. Pemeriksaan radiologi Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma bronkhial biasanya normal.a. Terapi Obat Penatalaksanaan medis pada penderita asma bisa dilakukan dengan pengguaan obat-obatan asma dengan tujuan penyakit asma dapat dikontrol dan dikendalikan. dan bukan karena bronkokonstriksi. tetapi prosedur ini harus dilakukan untuk menyingkirkan adanya proses patologi di paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks. yang aman untuk digunakan dalam jangka panjang. sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. Keyakinan ini sangat disokong oleh penemuan obat-obatan pencegah peradangan saluran pernapasan. c. Penatalaksanaan Medis a. Alat-alat hirup Alat hirup dosis terukur atau Metered Dose Inhaler (MDI) disebut juga inhaler atau puffer adalah alat yang paling banyak digunakan untuk menghantar obat- . hiperkapnea. 8. Karena belum terlalu lama ini. G. Hal ini membuktikan bahwa pasa asma ekstrinsik. yakni hanya pada saat datangnya serangan sudah ketinggalan zaman. penyebab asma yang mereka derita adalah karena peradangan (inflamasi). Selanjutnya prosentase keharusan kunjungan ke unit gawat daruat (UGD). b. yakni baru sejak pertengahan tahun 1990-an mulai mengental keyakinan di kalangan kedokteran bahwa asma yang tidak terkendali dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasan dan paru-paru. dokter masa kini menggunakan obat peradangan sebagai senjata utama. keharusan mengalami rawat inap. Cara menangani asma yang reaktif. Sel oesinofil Perbaikan fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat. Sputum Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa. Dengan demikian. PENATALAKSANAAN 1. dan asidosis respiratorik b. cara tersebut kemudian kemudian diikuti kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotik.

Biodata 2. Sebagai hasil teknologi mutakhir. yang mengembang menjadi gas ketika melewati moncongnya. d. Penyuluhan Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus. PENGKAJIAN 1. obatan ke saluran pernapasan atau paru-paru pemakainnya. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ASMA A. dan mendorongnya keluar dari moncong masuk ke saluran pernapasan atau paru- paru pemakainya. biasanya chlorofluorocerbous/CFC. c. Menghindari faktor pencetus Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang ada pada lingkungannya. Cairan yang sebutan populernya adalah propelan tersebut memecah obat-obatan yang dikandung menjadi butiran-butiran atau kabut halus. Riwayat psikososial  Kondisi rumah:  Tinggal di daerah dengan tingkat polusi tinggi  Terpapar dengan asap rokok  Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah terlalu banyak . Riwayat kesehatan masa lalu Biasanya pasien mempunyai riwayat alergi seperti debu serta cuaca dingin. serta diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor pencetus. Fisioterapi Fisioterpi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. mulai dari balita hingga lansia. serta menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada tim kesehatan. Keluhan Utama Pasien mengatakan sesak/dispnea. batuk. dan mengi/wheesing/napas berbunyi 3. Riwayat kesehatan a. Riwayat kesehatan keluarga Ada anggota keluarga yang menderita asma d. termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien. alat hirup dosis terukur kini bisa digunakan oleh segala tingkatan usia. Alat ini menyandang sebutan dosis terukur (metered-dose) karena memang menghantar suatu jumlah obat yang konsisten/terukur dengan setiap semprotan. perkusi dan fibrasi dada. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat alergi dan riwayat penyakit saluran napas bagian bawah (rhinitis. Ini dapat dilakukan dengan drainage postural. e. c. Alat hirup dosis terukur memuat obat-obatan dan cairan tekan (pressurized liquid). urtikaria. dan eksim) b.

Menunjukan2. 2. orthopnea. Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak. tachypnea. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (bronkospasme). catat beberapa derajat bersihan jalan rasio dan dapat . barrel chest. Sistem integument Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas. c. perkusi hipersonor. 3.sianosis. dan kelelahan. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. bunyi napas bersih advertisius. Peningkatan PCO2 dan penurunan O2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (bronkuspasme). efektifnya bersihan jalan 1. INTERVENSI KEPERAWATAN N Diagnosa Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional o Keperawatan Hasil 1 Tidak Pencapaian Mandiri 1. ex: dengan obstruksi dengan 1. penggunaan otot aksesori pernapasan. ronchi basah sedang. tachicardia. penumpukan sekret. batuk produktif. C. Beberapa bersihan jalan napas dengan bunyi nafas. e. 1. mengi jalan nafas dan gangguan 1. ronchi kering musikal. sekret kental. Sistem perkemihan Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas. Auskultasi 1. Tachipnea kental perilaku untuk frekuensi biasanya ada pada memperbaiki pernafasan. Sistem kardiovaskuler Diaporesis. penumpukan atau jelas. f. b. derajat spasme nafas kriteria hasil catat adanya bronkus terjadi berhubungan sebagai berikut: bunyi nafas. pada auskultasi terdengar wheezing. B. mukosa mulut kering. Pemeriksaan fisik a. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat imunitas. Sistem Persyarafan / neurologi Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran d. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Terdapat nyeri tekan pada abdomen. 4. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (bronkospasme). kaji/pantau 2.Mempertahanka2. Binatang peliharaan: kucing 4. dapat/tidak suplai oksigen n jalan napas dimanifestasikan (bronkospasm paten dengan adanya nafas e). tidak toleransi terhadap makan dan minum. sekret. sekret 2.

Tingkatkan episode akut. Catat adanya akut.nafas misalnya inspirasi/ekspira ditemukan pada batuk efektif dan si. Pertahankan polusi lingkungan minimum. alergi pernafasan dapat mentriger 6. penerimaan atau mengeluarkan selama sekret. pasien. Pencetus tipe asap dll. stress/adanya proses infeksi 3. masukan cairan sampai dengan 6. distress 3. Hidrasi 3000 ml/ hari membantu sesuai toleransi menurunkan jantung kekentalan sekret. pernafasan adalah penggunaan variable yang obat bantu. penggunaan cairan . 5. memberikan air penggunaan cairan hangat. derajat dispnea. menggunakan gravitasi. duduk fungsi pernafasan pada sandara dengan tempat tidur. hangat dapat menurunkan kekentalan sekret. Disfungsi pernafasan. contoh: 4. 5. ansietas. tergantung pada tahap proses akut yang 4. Peninggian meninggikan kepala tempat kepala tempat tidur memudahkan tidur. contoh: debu. Tempatkan menimbulkan posisi yang perawatan di nyaman pada rumah sakit.

bantu mengubah ekspansi paru dan posisi. Perbaikan sianosis sentral suplai oksigen ventilasi. keabu-abuan dan gangguan 1. menurunkan kerja pernafasan dalam. Pasien dapat oksigen bernapas dan melakukan tambahan. Duduk tinggi dan irama napas kepala dan memungkinkan teratur. Membantu berhubungan kriteria hasil pasien pasien dengan sebagai berikut: pernapasan memperpanjang gangguan dalam. sehingga pasien (bronkospasm Mempertahankan akan bernapas e) ventilasi adekuat lebih efektif dan dengan efisien. 2 Pola nafas Perbaikan pola Mandiri tidak efektif nafas dengan 1. 3 Gangguan Perbaikan Mandiri pertukaran pertukaran gas 1. Perbaikan beratnya . 7. Kolaborasi 3. Kaji/awasi 1. mengindikasikan (bronkuspasm 2. menunjukan RR:16-20 x/menit 2. mengi. Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. napas. Berikan Memaksimalkan 3. dan produksi mukosa. sianosis atau tanda hipoksia lain. 7. Sianosis gas dengan kriteria secara rutin kulit mungkin perifer berhubungan hasil sebagai dan membrane atau sentral dengan berikut: mukosa. hangat dapat menurunkan Kolaborasi spasme bronkus. Tinggikan 2. Ajarkan 1. Berikan memudahkan 2. Berikan obat sesuai indikasi bronkodilator. Tidak posisi semi pernapasan. 3. waktu ekspirasi suplai oksigen 1. mengalami fowler.

Malnutrisi 1. adekuat imunitas 2. Untuk lingkungan yang specimen mengidentifikasi nyaman. Dapatkan 3. 2. Perubahan pola Kolaborasi hidup untuk meningkatkan 3. adekuat. Awasi suhu. Tachicardi. 4 Risiko tinggi Tidak terjadinya Mandiri terhadap infeksi dengan 1. Awasi tanda. 2. Berikan oksigen 3. adekuat dapat Mengidentifikasik kebutuhan mempengaruhi an intervensi nutrisi. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. Diskusikan 2. 1. infeksi. Kolaborasi 3. Penurunan 3. sputum dengan organisme batuk atau penyabab dan . tambahan sesuai disritmia. pengumplan cairan/udara. e) oksigen jaringan hipoksemia. Palpasi fremitus. menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. 2. kesehatan umum untuk mencegah dan menurunkan atau menurunkan tahanan terhadap resiko infeksi. getaran vibrasi tanda vital dan diduga adanya irama jantung. dan dengan indikasi perubahan tekanan hasil AGDA dan darah dapat toleransi pasien. Demam dapat infeksi kriteria hasil terjadi karena berhubungan sebagai berikut: infeksi dan atau dengan tidak dehidrasi.

EGC. EGC Nanda NIC-NOC.Diakses tanggal 17 September 2013 ( 16:10) Smeltzer.undip.2002.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Edisi Revisi Jilid 1. Jakarta :EGC . gram. Jakarta : EGC Doenges. (dalamhttp://eprints. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Brunner & Suddarth. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta. Faktor Faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Asma Bronkial Pada Anak (Studi Kasus Di Rs Kabupaten Kudus).ac. Keperawatan Kritis Edisi VI Vol I.com/2011/07/13/lp-asma/. kultur/sensitifita s. Edisi 8 Vol 1. 1999. Diaksestanggal 17 September 2013 (16:30).2013. 2012.Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah.2011.wordpress.LP Asma. C . Jakara : EGC Hudack&gallo(1997). DAFTAR PUSTAKA Anonim. pengisapan kerentanan untuk terhadap berbagai pewarnaan anti microbial. Keperawatan Medikal Bedah Jilid 1.2001. (dalamhttp://askepreview.dkk. Penerbit Buku Kedokteran. Suzanne.2008. NANDA Internasional.pdf). Jakarta : ECG Purnomo.id/18656/1/P_U_R_N_O_M_O. Jakarta.