KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan tutorial B Blok 27 berhasil kami
selesaikan. Laporan ini kami susun untuk memenuhi tugas laporan tutorial.

Dalam penyusunan laporan ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi, namun
kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan laporan ini tidak lain berkat bantuan
dari dr. Zulkarnain Musa, Sp.PA selaku tutor kami yang telah meluangkan waktu, tenaga,
dan pikiran dalam memberikan bimbingan, pengarahan, dan dorongan dalam rangka
penyelesaian penyusunan laporan ini. Untuk itu kami ucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya.

Kami sadar laporan yang kami buat ini masih banyak kekurangan, baik pada teknik
penyusunan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki sangatlah
terbatas. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat
kami harapkan untuk memperbaiki laporan ini. Akhir kata, semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Palembang, 25 Agustus2016

Penyusun,

Kelompok Tutorial 1

1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................1

DAFTAR ISI..............................................................................................................2

BAB I: PENDAHULUAN

Latar Belakang....................................................................................................3

A. Maksud dan Tujuan.............................................................................................3

BAB II: PEMBAHASAN

A. Skenario A Blok 27.............................................................................................4

B. Klarifikasi Istilah.................................................................................................5

C. Identifikasi Masalah............................................................................................6

D. Analisis Masalah.................................................................................................7

E. Hipotesis.............................................................................................................. 22

F. Learning Issue..................................................................................................... 37

G. Kerangka Konsep ...............................................................................................66

H. Kesimpulan ........................................................................................................67

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................68

2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Blok Penyakit Tropis (Tropical Diseases) adalah blok ke dua puluh tujuh semester enam
dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya Palembang.

3

 Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial dan memahami konsep dari skenario ini. Demam diawali dengan menggigil. intermiten. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari tutorial ini. bertempat tinggal di Palembang. yaitu:  Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. seorang anak perempuan berusia 10 tahun. dibawa ke bagian gawat darurat dengan keluhan utama demam selama 6 hari. hilang timbul tiap 2 hari.  Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan pembelajaran diskusi kelompok. diikuti oleh 4 . BAB II PEMBAHASAN A. Demam tinggi.Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi kasus yang sebenarnya pada waktu yang akan datang. Skenario A Blok 27 Tahun 2016 Kasus: Dina. B.

Pemeriksaan fisik: Status antropometri: Berat badan 30 kg. Dina pernah pergi ke Bangka 1 bulan yang lalu dan tinggal di sana selama 1 minggu. Tidak ditemukan anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama. Tidak ditemukan manifestasi perdarahan dan ruam kulit. Pemeriksaan dinding dada dalam batas normal. temperatur 39oC. sesak. Hematokrit 27%. tidak terdapat kelainan morfologi sel darah putih dan trombosit. tinggi badan 145 cm. mual dan muntah. Pemeriksaan lain dalam batas normal. Tidak ditemukan tanda dehidrasi ataupun gangguan sirkulasi. Buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan. Keadaan umum: kesadaran compos mentis. Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal. Riwayat imunisasi dasar lengkap. Tekanan darah 100/70 mmHg. Urinalisis dalam batas normal. KGB tidak teraba membesar. Pada pemeriksaan apusan darah tipis (thin blood smear) ditemukan gambaran sebagai berikut: 5 . Gambaran darah tepi menunjukkan gambaran hemolitik. Pemeriksaan laboratorium: Hb 8. Tidak terdapat batuk/pilek. Tidak terdapat ruam kulit (eksantem). nadi 108 kali/menit (isi dan tegangan cukup).8 g%. Dina juga mengalami sakit kepala. konjungtiva pucat.demam tinggi dan kemudian demam mereda setelah berkeringat banyak. mencret. laju pernapasan 28 kali/menit. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal. dan nyeri saat berkemih. tidak terdapat cyanosis. leukosit dan trombosit dalam batas normal. tidak terdapat sesak. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali.

Klarifikasi Istilah NO.B. 4. Imunisasi dasar Imunisasi yang diberikan pada bayi dan anak sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari penyakit yang berbahaya. Demam tinggi Suhu tubuh melebihi 39oC. ISTILAH DEFINISI 1. 5. Ruam kulit exantem Erupsi kulit yang terjadi sebagai gejala dari suatu penyakit virus akut seperti demam berdarah atau campak. Apusan darah tipis Sediaan darah tipis yang mengetahui spesies parasit penyebab penyakit. 6 . tanda kondisi. Intermitten (Demam Demam yang ditandai dengan penurunan suhu badan ke naik turun) tingkat normal selama beberapa jam dalam satu hari. atau penyakit dan ditandai dengan warna biru di kulit atau selaput lendir karena kekurangan oksigen dalam darah atau jaringan seseorang. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut tertiana. 7. 3. 6. Hepatosplenomegali Pembengkakan atau pembesaran pada hati dan limpa. Cyanosis Manifestasi. dan bila terjadi dua haru bebas demam di antara dua serangan demam disebut kuartana. 2.

laju pernapasan 28 kali/menit. sesak. Riwayat imunisasi dasar lengkap. Pemeriksaan fisik: VV Status antropometri: Berat badan 30 kg. hilang timbul tiap 2 hari. 2. 4. dan nyeri saat berkemih. tidak terdapat sesak. Tidak ditemukan tanda dehidrasi ataupun gangguan sirkulasi. VVVVV 3. KGB tidak teraba membesar. MASALAH KONSEN 1. Tidak terdapat ruam kulit (eksantem). Dina mengalami sakit kepala. Demam diawali dengan menggigil. diikuti oleh demam tinggi dan kemudian demam mereda setelah berkeringat banyak. Tidak ditemukan adanya anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama. Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal. Idenfitikasi Masalah NO. Tidak ada keluhan mengenai gangguan buang air besar dan buang air kecil. Pemeriksaan dinding dada dalam batas normal. seorang anak perempuan berusia 10 tahun. temperatur 39oC. konjungtiva pucat. Ia menderita demam tinggi. intermiten. mual dan muntah. tidak terdapat cyanosis. Tidak ditemukan manifestasi perdarahan dan ruam kulit. Dina. tidak VVV terdapat batuk/pilek. Keadaan umum: kesadaran compos mentis. 7 . tinggi badan 145 cm.C. mencret. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali. nadi 108 kali/menit (isi dan tegangan cukup). dibawa ke bagian gawat darurat dengan keluhan utama demam selama 6 hari. 5. Dina pernah pergi ke Bangka 1 bulan yang lalu dan tinggal di sana VVVV selama 1 minggu. Tekanan darah 100/70 mmHg. bertempat tinggal di VVVVVV Palembang. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan lain dalam batas normal.

leukosit dan trombosit dalam batas normal. Gambaran darah tepi menunjukkan gambaran hemolitik. Hematokrit 27%.6. Pemeriksaan laboratorium: V Hb 8. tidak terdapat kelainan morfologi sel darah putih dan trombosit. Analisis Masalah 8 . Urinalisis dalam batas normal.8 g%. Pada pemeriksaan apusan darah tipis (thin blood smear) ditemukan gambaran sebagai berikut: D.

Apa hubungan. diikuti oleh demam tinggi dan kemudian demam mereda setelah berkeringat banyak. bertempat tinggal di Palembang. intermiten. Provinsi Sumatera Selatan adalah daerah endemis malaria. Kabupaten Lahat. Kabupaten yang merupakan daerah endemis di Provinsi Sumatera Selatan adalah Kabupaten Ogan Komering Ulu. a. jenis kelamin. Ia menderita demam tinggi. Satu kota diantara daerah endemis rendah yaitu Kota Palembang adalah daerah bebas malaria dalam arti kasus yang ada adalah kasus impor dari kabupaten lain (Kabupaten Banyuasin). seorang anak perempuan berusia 10 tahun. dan tempat tinggal pada kasus? Jawab:  Umur : kelompok usia 9-14 tahun  Jenis Kelamin: Laki-laki lebih sering karena menurut penelitian perempuan mempunyai respon imun yang lebih baik  Tempat tinggal: Melalui pengamatan terhadap angka kesakitan dari tahun ke tahun dapat diketahui bahwa sepuluh penyakit terbanyak pada kunjungan rawat jalan puskesmas Kota Palembang masih didominasi penyakit infeksi dan penyakit menular. kusta. Apa penyebab dan bagaimana mekanisme: 9 . yaitu DBD dengan 438 kasus pada tahun 2013.1. dimana tahun 2009 terdapat 7 kabupaten endemis malaria sedang dan 8 kabupaten/kota lainnya digolongkan pada daerah endemis rendah. Kabupaten Ogan Ilir. ISPA (pneumonia). Demam diawali dengan menggigil. TB paru dengan 1474 kasus pada tahun 2013. dibawa ke bagian gawat darurat dengan keluhan utama demam selama 6 hari. umur. hilang timbul tiap 2 hari. Kota Lubuk Linggau. dan penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (campak) (Profil Kesehatan Kota Palembang tahun 2013. b. Dina. diare.

i. Demam Jawab: Demam mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan bermacam-macam antigen. TNF akan dibawa aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh dan terjadi demam.falciparum memerlukan waktu 36-48 jam. 10 . dan P. dan P.malariae demam timbul selang waktu 2 hari.vivax/ovale selang waktu satu hari. sehingga memicu mekanisme respon dingin untuk meningkatkan suhu. Proses skizogoni pada keempat plasmodium memerlukan waktu yang berbeda- beda. Demam pada P. P.vivax/ovale 48 jam. terjadi inisiasi respon dingin. ii. P. Periodisitas demam pada malaria berhubungan dengan waktu pecahnya sejumlah skizon matang dan keluarnya merozoit yang masuk aliran darah (sporulasi). monosit atau limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin. dimana hipotalamus mendeteksi suhu tubuh di bawah normal. P. Antigen ini akan merangsang sel-sel makrofag. Menggigil dan berkeringat Jawab: Pecahnya sel darah merah yang terinfeksi Plasmodium dapat menyebabkan timbulnya gejala demam disertai menggigil.Respon dingin tersebut berupa menggigil dengan tujuan agar produksi panas meningkat dan vasokonstriksi kulit untuk segera mengurangi pengeluaran panas dan terjadilah berkeringat.malariae 72 jam. Pirogen endogen ini menyebabkan pengeluaran prostaglandin. yaitu pengeluaran suatu bahan kimia oleh makrofag yang disebut pirogen endogen (TNF α dan IL-1). suatu perantara kimia lokal yang dapat menaikkan thermostat hipotalamus yang mengatur suhu tubuh. antara lain TNF (Tumor Nekrosis Faktor).Respon yang terjadi bila organism penginfeksi telah menyebar di dalam darah. Setelah terjadi peningkatan titik patokan hipotalamus.falciparum dapat terjadi setiap hari.

Variasi diurnal biasanya terjadi. brucellosis Demam rekuren Familial Mediterranean fever Penilaian pola demam meliputi tipe awitan (perlahan-lahan atau tiba-tiba).  Demam intermiten: suhu kembali normal setiap hari. dan puncaknya pada siang hariPola ini merupakan jenis demam terbanyak kedua yang ditemukan di praktek klinis. Pola ini merupakan tipe demam yang paling sering ditemukan dalam praktek pediatri dan tidak spesifik untuk penyakit tertentu. variasi derajat suhu selama periode 24 jam dan selama episode kesakitan. siklus demam. beberapa drug fever (contoh karbamazepin) Relapsing atau periodik Malaria tertiana atau kuartana. khususnya bila demam disebabkan oleh proses infeksi.  Demam remiten: ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak mencapai normal dengan fluktuasi melebihi 0.c.4oC selama periode 24 jam. endokarditis Hektik atau septik Penyakit Kawasaki. dan respons terapi. arthritis gonococcal. juvenile rheumathoid arthritis. malaria falciparum malignan Remitten Sebagian besar penyakit virus dan bakteri Intermiten Malaria.vivax Double quotidian Kala azar. Fluktuasi diurnal suhu normal biasanya tidak terjadi atau tidak signifikan. infeksi pyogenik Quotidian Malaria karena P. 11 . umumnya pada pagi hari. limfoma. Gambaran pola demam klasik meliputi:  Demam kontinyu atau sustained fever: ditandai oleh peningkatan suhu tubuh yang menetap dengan fluktuasi maksimal 0.5oC per 24 jam. Apa saja jenis-jenis demam? Jawab: Berdasarkan pola demam: POLA DEMAM PENYAKIT Kontinyu Demam tifoid.

demam kuning.  Demam quotidian: disebabkan oleh P. Vivax. Colorado tick fever. Tiap episode diikuti satu sampai beberapa hari. dan African hemorrhagic fever (Marburg. Ebola. Gambaran bifasik juga khas untuk leptospirosis. contohnya > 10 hari untuk infeksi saluran nafas atas.  Demam bifasik: menunjukkan satu penyakit dengan 2 episode demam yang berbeda (camelback fever pattern. dan demam Lassa). ditandai dengan paroksisme demam yang terjadi setiap hari.  Demam lama (prolonged fever): menggambarkan satu penyakit dengan lama demam melebihi yang diharapkan untuk penyakitnya. Poliomielitis merupakan contoh klasik dari pola demam ini. Contoh yang dapat dilihat adalah malaria (istilah tertiana digunakan bila demam terjadi setiap hari ke-3. kemudian secara perlahan turun menjadi normal. spirillary rat-bite fever (Spirillum minus). demam dengue. 12 . kuartana bila demam terjadi setiap hari ke-4) dan brucellosis. yaitu:  Demam periodik: ditandai oleh episode demam berulang dengan interval regular atau irregular. beberapa minggu atau beberapa bulan suhu normal. Demam septik atau hektik: terjadi saat demam remiten atau intermiten menunjukkan perbedaan antara puncak dan titik terendah suhu yang sangat besar.  Demam rekuren: adalah demam yang timbul kembali dengan interval irregular pada satu penyakit yang melibatkan organ yang sama (contohnya traktus urinarius) atau sistem organ multipel. Gambaran pola demam relapsing fever dan demam periodik. atau saddleback fever).  Demam quotidian ganda: memiliki dua puncak dalam 12 jam (siklus 12 jam)  Undulant fever: menggambarkan peningkatan suhu secara perlahan dan menetap tinggi selama beberapa hari.

37 38 Telinga Emisi infra merah 35. elektronik 36.6 37. 36. 36. elektronik 34.5.6 37.6 – 37. TEMPAT JENIS DEMAM RERATA SUHU PENGUKURAN TERMOMETER (OC) NORMAL (OC) Aksila Air raksa.6 Jenis demam malaria: Gambar 1. Jenis demam malaria Sesudah serangan panas pertama.6 Rektal Air raksa. 36. terjadi interval bebas panas selama antara 48-72 jam. elektronik 35.4 Sublingual Air raksa.3. 13 .  Relapsing fever: adalah istilah yang biasa dipakai untuk demam rekuren yang disebabkan oleh sejumlah spesies Borrelia dan ditularkan oleh kutu (louse-borne RF) atau tick (tick-borne RF).7 – 37.4 37.5 – 37. lalu diikuti dengan serangan panas berikutnya seperti yang pertama.9.5. Suhu normal pada tempat yang berbeda RENTANG.7 – 37.

dan ini tergantung pada spesies parasit. umumnya pada pagi hari dan puncaknya pada siang hari. pada malaria vivax termasuk demam intermitten dengan pola tertiana yaitu demam terjadi setiap dua hari sekali. Demam intermiten dapat terjadi pada penyakit malaria. mual dan muntah. Apa makna klinis dari demam tinggi. intermitten. d. Gejala-gejala malaria ’klasik’ seperti yang telah diuraikan tidak selalu ditemukan pada setiap penderita. 14 . Gambar 2. Demam hilang timbul setiap 2 hari menandakan bahwa Dina terserang malaria tertiana yang biasanya disebabkan oleh Plasmodium Vivax. Apa makna klinis dari demam selama 6 hari? Jawab: Demam selama 6 hari menandakan demam yang terjadi merupakan demam akut. dan hilang timbul tiap 2 hari? Jawab: Demam intermiten merupakan demam dimana suhu kembali normal setiap hari. dan pada kasus terdapat periode afebril sehingga menandakan demam akut periodic. Pola demam malaria Jadi. dan demikian selanjutnya. e. umur dan tingkat imunitas penderita. 2. Dina mengalami sakit kepala.

a.IL 3 dengan mengaktivasi makrofag  IL3 mengaktivasi sel mast  pelepasan histamin  peningkatan asam lambung  nausea (mual) dan muntah.5 hari  skizoit  skizoit pecah menjadi mengeluarkan merazoid-merazoid  merazoid ke sirkulasi darah dan menyerang RBC  terbentuk eritrosit parasit  bereplikasi secara aseksual (skizogoni eritrosit)  parasit dalam eritrosit mengalami 2 stadium yaitu stadium cincin (tropozoid) dan matur (skizon)  permukaan membran eritrosit parasit stadium matur menonjol dan membentuk knob dengan HRPI (komponen umum knob)  eritrosit parasit mengalami merogoni/skizogoni (pembelahan secara berulang)  melepaskan toksin malaria berupa GP1  GP1 merangsang pelepasan TNF α. Tubuh melakukan vasokontriksi pembuluh darah agar pasokan darah tercukupi. ii. Siklus ini terjadi berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan Dina merasakan sakit kepala. Bagaimana hubungan antar gejala dengan demam? 15 . Lalu parasit yang masih ada akan menginvasi kembali sehingga kembali terjasi vasodilatasi dan kembali dikompensasi dengan vasokontriksi. Apa penyebab dan bagaimana mekanisme: i. Mual dan muntah Jawab: Nyamuk yang didalam tubuhnya terdapat parasit malaria  menggigit manusia  sporozoit  sporozoit ke sel hati dan di parenkim hati melakukan perkembangan secara aseksual (skizoni eksoerirosit) selama 5. IL 6. b. Sakit kepala Jawab: Vasodilatasi pembuluh darah di otak yang disebabkan oleh invasi parasit mengakibatkan pasokan darah ke otak berkurang.

3. Hal ini dikarenakan daerah Bangka merupakan daerah penghasil timah. Dina termasuk orang yang rentan (sebagai orang datangan) dimana nyamuk yang menggigit akan sangat mudah menimbulkan penyakit. sehingga tubuh akan kekurangan sel darah merah dan tingkat plasmodium yang beredar di seluruh pembuluh darah semakin meningkat. Tidak ditemukan manifestasi perdarahan dan ruam kulit. pada fase skizon erythrocytic cycle plasmodium tersebut akan masuk ke dalam eritrosit dan menghancurkan eritrosit tersebut. Tidak ada keluhan mengenai gangguan buang air besar dan buang air kecil. 4. dan nyeri saat berkemih. Sakit kepala disebabkan karena invasi plasmodium di pembuluh darah sekitar otak yang mengakibatkan terjadi vasodilatasi di pembuluh darah sekitar otak hal ini menyebabkan otak kekurangan pasokan darah yang dikompensasi dengan memvasokontriksikan pembuluh darah tersebut. mencret. tidak terdapat batuk/pilek. Apa hubungan riwayat pernah ke Bangka selama 1 minggu dengan demam pada kasus? Jawab: Daerah Bangka merupakan daerah endemik malaria. ia terkena gigitan nyamuk anopheles betina sehingga timbullah keluhan yang dialami Dina sekarang. Dina pernah pergi ke Bangka 1 bulan yang lalu dan tinggal di sana selama 1 minggu. Jika dihubungkan dengan sistem imun yang dimiliki oleh Dina. Setelah itu. a. Mungkin pada saat Dina tinggal di Bangka. Para masyarakat yang mencari timah biasanya tidak menutup kembali lobang galian timah sehingga lobang bekas galian timah itu menjadi rawa-rawa saat terisi air dan merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk anopheles betina. sesak. sehingga keadaan vasodilatasi dan vasokontriksi akan terjadi berulang-ulang. Plasmodium akan menginvasi kembali. Hal ini yang menimbulkan keadaan sakit kepala dan mual dan muntah disebabkan oleh IL3 yang mengaktivasi sel mast dan melepaskan histamine sehingga meningkatkan sekresi asam lambung. Jawab: Secara patofisiologinya. Tidak ditemukan 16 .

Bagaimana makna klinis tidak adanya manifestasi klinis? Jawab: Tidak ditemukan manifestasi perdarahan dan ruam kulit. dan nyeri saat berkemih.adanya anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama. Buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan. Apa saja imunisasi dasar lengkap untuk anak berusia 10 tahun? Jawab: Gambar 3. Tidak terdapat batuk/pilek. Tidak ditemukan anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama. Riwayat imunisasi dasar lengkap. = tidak ada pendarahan spontan. b. sesak. mencret. Jadwal Imunisasi menurut IDAI Menurut IDAI untuk anak 10 tahun:  Hepatitis B 3x  Polio 5x  BCG 1x 17 . a.

6 bulan 5. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali. Tekanan darah 100/70 mmHg. Keadaan umum: kesadaran compos mentis. Tidak ditemukan tanda dehidrasi ataupun gangguan sirkulasi. KGB tidak teraba membesar. a. tidak terdapat sesak. Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal. laju pernapasan 28 kali/menit. diberikan 3 kali dengan interval 0. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari: i. 1. tinggi badan 145 cm. temperatur 39 oC. Antropometri Jawab: PEMERIKSAAN HASIL NORMAL INTERPRETASI Berat: 30 kg (2x usia)+8 Normal (2x10)+8 = 28 Tinggi: 145cm Rata-rata 138. Pemeriksaan dinding dada dalam batas normal. nadi 108 kali/menit (isi dan tegangan cukup).27 13.6 Normal IMT: 14. dan Td untuk anak diatas umur 7 tahun dan dibooster setiap 10 tahun  Hib 4x  PCV 4x  Rotavirus 3x  Campak 3x  MMR 2x  Varisela 1x  HPV diberikan mulai umur 10 tahun. Pemeriksaan lain dalam batas normal. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal. tidak terdapat cyanosis. konjungtiva pucat.5-19 Normal 18 . Pemeriksaan fisik: Status antropometri: Berat badan 30 kg. Tidak terdapat ruam kulit (eksantem).  DTP 5x.

malariae umumnya terjadi pada keadaan kronis. Plasmodium vivax dan P. Keadaan umum dan vital sign Jawab: PEMERIKSAAN HASIL NORMAL INTERPRETASI Kesadaran : Compos Mentis Compos Mentis Normal Konjungtiva pucat Konjungtiva tidak pucat Abnormal/anemia Tidak terdapat sesak .5-37. Interpretasi keadaan umum dan vital sign Mekanisme Abnormal:  Konjungtiva pucat Konjungtiva pucat disebabkan oleh anemia. Sehingga anemia yang disebabkan oleh P. dan Hipotensi mmHg diastolik 77-83 Nadi : 108 kali/menit Pada usia 6‐12 tahun 80‐ Normal 120 RR : 28 kali/menit Pada usia 6-10 tahun 20‐26 Abnormal/Takipneu kali/menit Temperatur : 390C 36. ovale hanya menginfeksi sel darah merah muda yang jumlahnya hanya 2% dari seluruh jumlah sel darah merah. vivax . Normal Tekanan Darah : 100/70 sistolik 114-127. ovale dan P. 19 . Normal Tidak terdapat cyanosis .2 0C Demam Tabel 2. Interpretasi pemeriksaan fisik ii. P. Tabel 1. sedangkan P. Anemia terjadi karena pecahnya sel darah merah yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. malariae menginfeksi sel darah merah tua yang jumlahnya hanya 1% dari jumlah sel darah merah.  Takipneu Perubahan set point hypothalamus  peningkatan metabolism  peningkatan pernafasan.

P. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal.malariae 72 jam.falciparum memerlukan waktu 36-48 jam. iii. TNF akan dibawa aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh dan terjadi demam. Normal 20 .malariae demam timbul selang waktu 2 hari. PEMERIKSAAN INTERPRETASI Tidak ditemukan tanda dehidrasi ataupun Normal gangguan sirkulasi Tidak terdapat ruam kulit (eksantem) Normal Pemeriksaan dinding dada dalam batas Normal normal Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas Normal normal Pada pemeriksaan abdomen ditemukan Abnormal hepatosplenomegali KGB tidak teraba membesar. Pemeriksaan spesifik Jawab: Tidak ditemukan tanda dehidrasi ataupun gangguan sirkulasi. Pemeriksaan dinding dada dalam batas normal.vivax/ovale 48 jam. monosit atau limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokin. Pemeriksaan lain dalam batas normal. P. Tidak terdapat ruam kulit (eksantem).falciparum dapat terjadi setiap hari.vivax/ovale selang waktu satu hari. Proses skizogoni pada keempat plasmodium memerlukan waktu yang berbeda-beda. Antigen ini akan merangsang sel- sel makrofag. P. KGB tidak teraba membesar. Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali. dan P. Demam pada P. antara lain TNF (Tumor Nekrosis Faktor).  Demam Demam mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan bermacam-macam antigen. dan P.

dimana Plasmodium dihancurkan oleh sel-sel makrofag dan limfosit. Penambahan sel- sel radang ini akan menyebabkan limpa membesar. Sebagai organ yang berfungsi sebagai penyaring dan penyimpan darah. Gambaran darah tepi menunjukkan gambaran hemolitik.8 g% Anemia Anemia terjadi karena (10 – 16 g%) pecahnya sel darah merah yang terinfeksi maupunyang tidak terinfeksi. Hepatomegali atau pembesaran pada hepar disebabkan karena parasitemia. Limpa merupakan organ retikuloendothelial. Pemeriksaan laboratorium: Hb 8. tidak terdapat kelainan morfologi sel darah putih dan trombosit. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan laboratorium? Jawab: PEMERIKSAAN HASIL NORMAL INTERPRETASI Hb: 8.8 g%. hati dapat berisiko tinggi terjadi gangguan. Hal ini dikarenakan dalam darah banyak mengandung parasit atau parasitemia. 21 . Hematokrit 27%. Pemeriksaan lain dalam batas normal. Pada pemeriksaan apusan darah tipis (thin blood smear) ditemukan gambaran sebagai berikut: a. Pemeriksaan neurologis dalam batas Normal normal. Plasmodium vivax dan P. Interpretasi Pemeriksaan spesifik Splenomegali. 6. leukosit dan trombosit dalam batas normal. Normal Tabel 3. Urinalisis dalam batas normal.

Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari apusan darah tipis? Jawab: Dengan pulasan Giemsa pada tahap trofozoit muda sitoplasma berwarna biru. Eritrosit muda atau retikulosit 22 . ovale dan P. sejak ia pulang dari Bangka. malariae umumnya terjadi pada keadaan kronis. inti merah. Ini menandakan bahwa pasien ini sudah menderita malaria kronis. ovale hanya menginfeksi sel darah merah muda yang jumlahnya hanya 2% dari seluruh jumlah sel darah merah. sehingga anemia yang disebabkan oleh P. vivax. Hematokrit: 27& Rendah (33 – 38%) Leukosit dan trombosit: Normal - dalam batas normal Gambaran darah tepi: Abnormal Terjadi pemecahan sel Gambaran hemolitik darah merah (hemolisis) Morfologi WBC dan Normal - trombosit: tidak terdapat kelainan Urinalisis: dalam batas Normal - normal Tabel 4. Interpretasi pemeriksaan laboratorium b. mempunyai vakuola yang besar. P.

dan anemia akibat malaria.  Riwayat minum obat malaria 1 bulan terakhir. Gambar 3. Hipotesis Dina. Pigmen parasite menjadi makin nyata dan berwarna kuning tengguli. Gambaran apusan darah tipis E. Pemeriksaan Fisik  Suhu aksila > 37. Anamnesis Keluhan utama: Demam.  Riwayat tinggal di daerah endemik malaria. berkeringat. nyeri otot atau pegal-pegal. yang dihinggapi parasit P. muntah. intermitten. mual. yang bentuk dan besarnya sama disebut titik Schüffner. B.5˚C  Konjungtiva atau telapak tangan pucat  Splenomegali 23 . vivax ukurannya lebih besar dari eritrosit lainnya.  Riwayat mendapat transfusi darah. diare. Pada tahap trofozoit tua sitoplasmanya berbentuk ameboid. Bagaimana cara mendiagnosis kasus ini? Jawab: A. seorang anak perempuan berusia 10 tahun mengalami demam tinggi. menggigil. Dapat disertai sakit kepala. berwarna pucat. 1. tampak titik halus berwarna merah.  Riwayat pernah sakit malaria.  Riwayat berkunjung ke daerah endemik malaria.

urin hitam.36. ikterik. falciparum. kejang. falcifarum M.  Hepatomegali  Manifestasi malaria berat seperti: penurunan kesadaran. AGD. VV VV V Recrudensi vv . kuartana M. urinalisis. Ht. Hanya mendeteksi P. Pemeriksaan mikroskop  gold standard Diagnosis pasti bila ditemukan parasit malaria dalam darah. ovale Inkubasi 9–14 hari 12–17 hari 18– 40 hari 16–18 hari Panas Interval 48jam 72 jam 48jam 24. telapak tangan pucat.  Jika jumlah parasit yang sangat sedikit. tertiana M. PCR  Dapat membedakan reinfeksi dan rekrudensi pada infeksi P. bilirubin. Gula darah. 3. 4. oliguria. trombosit. K. SGOT/SGPT.48jam Relaps . Rapid Test Diagnostik (RDT)  deteksi antigen malaria. albumin/globulin. ureu. 2. lekosit. . Jika malaria berat: Hb. konjungtiva pucat. falciparum atau non-P. kreatinin. V Manifestasi Menggigil Jarang Menggigil Jarang menggigil 24 . falciparum. sangat lemah. Apa saja diagnosis banding kasus ini? Jawab: DD/ Malaria:  Demam tifoid  Demam dengue  Leptospirosis DD/ Malaria Tertiana:  Malaria Vivax  Malaria Ovale Ciri-ciri M. C. 2. alkali fosfatase. demam tinggi. Pemeriksaan Laboratorium 1. Na.

4. Bagaimana epidemiologi dari diagnosis kerja? Jawab: 25 . 5. Apakah definisi dari diagnosis kerja? Jawab: Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah.klinis menggigil Splenomegali Splenomegali Jarang Jarang splenomegali splenomegali Anemiahemolys Anemia kronik Jarang anemia Anemia kronik is Syok Jarang terjadi Jarang terjadi Jarang terjadi syok syok syok Demam Demam lama berlangsung sampai 5 cepat minggu Gejala serebral. edema paru. 3. hipoglikemi. vivax. Apakah diagnosis kerja pada kasus ini? Jawab: Dina menderita malaria tertiana et causa P.

6%).3%) laki-laki dan 141 orang (36. jenis ini jarang sekali dijumpai dan umumnya banyak terdapat di Afrika dan Pasifik Barat. Plasmodium malaria penyebab malaria kuartana. kasus malaria di wilayah Puskesmas Pangkalbalam Kota Pangkalpinang banyak diderita responden berumur 21-25 tahun (17. 26 . Plasmodium vivax (malaria tertian benigna) penyebab malaria tertiana yang ringan.9%).7%). dan >45 tahun 35 orang (9. 243 orang (63. Plasmodium ovale (malaria tertian ovale). c.2% (56 orang). 6.8%). Plasmodium falciparum (malaria tertian maligna) penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan malaria berat/malaria otak dan kematian. family Plasmodidae dan ordo Coccididae. 44% berasal dari pekerjaan petani serta tidak ditemukan pada PNS/TNI/POLRI. Bagaimana etiologinya dari diagnosis kerja? Jawab: Penyakit malaria disebabkan oleh sporozoa dari genus Plasmodium. Infeksi malaria sangat ditentukan oleh 4 jenis spesies Plasmodium: a. dkk tahun 2004-2007 dengan desain kasus kontrol. 80 orang mempunyai jenis kelamin laki-laki (58.7%) perempuan.1%). Namun secara keseluruhan fenomena tersebut menunjukkan bahwa penyakit malaria menyerang hampir seluruh kelompok umur. kelompok umur 5-14 tahun 23 orang (6%). perempuan 41. diperoleh bahwa dari 145 kasus malaria yang diteliti. b. 15-44 tahun 326 orang (84.20 Penelitian Yoga dalam Sarumpaet dan Tarigan (2006) tahun 1999 di Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Epidemiologi malaria seringkali dilaporkan dari berbagai wilayah dengan angka kematian yang lebih tinggi pada anak-anak di bawah 5 tahun dibanding orang dewasa. umur 36-40 tahun (14. Penelitian Sunarsih. d. Penelitian Yulius (2007) dengan desain case series di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau tahun 2005-2006 terdapat 384 penderita malaria.

dan setelah perjalanan. Pada P vivax dan ovale. 8. yaitu waktu aktif dari nyamuk yang menularkan malaria. yang merupakan daerah endemis malaria. dan bentuk ini yang akan menyebabkan terjadinya relaps pada malaria. Bagaimana patogenesis pada kasus ini? Jawab: lnfeksi parasit malaria pada manusia mulai saat nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan nyamuk akan melepaskan sporozoit ke dalam pembuluh darah dimana sebagian besar dalam waktu 45 menit akan menuju ke hati dan sebagian kecil sisanya akan mati di darah. Berpergian ke daerah dimana ada penyakit malaria dan:  Tidak minum obat untuk mencegah malaria sebelum.000 merozoit ke sirkulasi darah. faktor risiko Dina terkena malaria adalah karena dia pergi ke Bangka 1 bulan yang lalu dan tinggal disana selama 1 minggu. terutama di daerah pedesaan.000-30.7. Apa saja faktor resiko dari kasus ini? Jawab: Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terkena malaria antara lain: a.5 hari untuk Plasmodium falciparum dan 15 hari untuk Plasmodium malariae. Tinggal atau melakukan perjalanan ke negara atau daerah dimana terdapat penyakit malaria. sebagian parasit di dalam sel hati membentuk hipnozoit yang dapat bertahan sampai bertahun-tahun. Perkembangan ini memerlukan waktu 5. atau tidak minum obat dengan benar. b. pada waktu senja dan fajar (malam hari). 27 . Pada kasus ini. selama. terbentuk skizon hati yang apabila pecah akan dapat mengeluarkan 10. Setelah sel parenkim hati terinfeksi.  Berada di luar.  Tidak mengambil langkah pencegahan untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk. Di dalam sel parenkim hati mulailah perkembangan bentuk aseksual skizon intrahepatik atau skizon pre eritrosil.

falciparum dinding eritrosit membentuk tonjolan yang disebut knob yang nantinya penting dalam proses sitoaderens dan rosetting. Di dalam darah sebagian parasit akan membentuk gamet jantan dan betina. Setelah berada dalam sirkulasi darah merozoit akan menyerang eritrosit dan masuk melalui reseptor permukaan eritrosit. pada P. Hal ini menyebabkan individu dengan golongan darah Duffy negatif tidak dapat terinfeksi malaria vivax. vivax reseptor ini berhubungan dengan faktor antigen Duffy Fya atau Fyb. Pada P. malariae adalah 72 jam. falciparum diduga suatu glycophorins. sedangkan pada P malariae dan P. falciparum. ovale belum diketahui. dan P. Pada surveilens malaria di masyarakat. dan bila skizon pecah akan mengeluarkan 6-36 merozoit dan slap menginfeksi eritroslt yang lain. Pada daerah holoendemik banyak penderita anak-anak dengan anemia berat. Dalam waktu kurang dari 12 jam parasit berubah menjadi bentuk ring. Siklus aseksual ini pada P. P. Eritrosit yang berparasit menjadi lebih elastik dan dinding berubah lonjong. 28 . Secara tradisi endemisitas daerah dibagi menjadi:  HIPOENDEMIK: bila parasit rate atau spleen rate 0 10%  MESOENDEMIK: bila paraslt rate atau spleen rate 10 50%  HIPERENDEMIK: bila parasit rate atau spleen rate 50 75%  HOLOENDEMIIK: bila paraslt rate atau spleen rate > 75% Parasit rate dan spleen rate ditentukan pada pemeriksaan anak-anak usia 2-9 tahun. parasit berubah menjadi skizon. dan bila nyamuk menghisap darah manusia yang sakit akan terjadi siklus seksual dalam tubuh nyamuk. falciparum menjadi bentuk stereo headphones. tingginya slide positive rate (SPR) menentukan endemisitas suatu daerah dan pola kiinis penyakit malaria akan berbeda. Setelah terjadi perkawinan akan terbentuk zigot dan menjadi lebih bergerak menjadi ookinet yang menembus dinding perut nyamuk dan akhirnya menjadi bentuk oocyst yang akan menjadi masak dan mengeluarkan sporozoit yang akan bermigrasi ke kelenjar ludah nyamuk dan siap menginfeksi manusia. pada P. yang mengandung kromatin dalam intinya dikelilingi sitoplasma. ovale ialah 48 jam dan pada P. Reseptor untuk P. Parasit tumbuh setelah memakan hemoglobin dan dalam metabolismenya membentuk pigmen yang disebut hemozoin yang dapat dilihat secara mikroskopik. vivax. Setelah 36 jam invasi ke dalam eritrosit.

trombospondin. (P. falclparum. akan dilepaskan toksin malana berupa GPI atau glikosilfosfatidilinositol yang merangsang peiepasan TNF-α dan interleukin~1 (IL-1) dari makrofag. Perlekatan terjadi molekul adhesif yang terletak di permukaan knob EP melekat dengan molekul-molekul adhesif yang terletak di permukaan endotel vaskular. falciparum melepaskan 18-24 merozoit ke dalam slrkulasl. endothel leucacyte adhesion molecule-1 (ELAM1) dan glycosaminoglycan chondroitin sulfate A. Sedangkan yang masuk dalam faktor penjamu adalah tingkat endemisitas daerah tempat tinggal. status nutrisi dan status imunologi. usia. Molekul adhesif di permukaan knob EP secara kolektif disebut PfEMP-l. Selanjutnya bila EP tersebut berubah menjadi merozoid. Sitoaderensi ialah perlekatan antara EP stadium matur pada permukaan endotel vaskular. Permukaan EP stadium cincin akan menampilkan antigen RESA (ring-erythrocyte surface antigen) yang menghilang setelah parasit masuk stadium matur. Merozoit yang lolos dari filtrasi dan fagositosis di limpa akan menginvasi entrosit. EP secara garis besar mengalami 2 stadium. Setelah melalui jaringan hati P. Termasuk dalam faktor parasit adalah intensitas transmisi. PfEMP- l merupakan protein-protein hasil ekspresi genetik oleh sekelompok gen yang berada 29 .falciparum erythrocyte membrane protein-1). malaria dengan gangguan fungsi hati atau gangguan fungsi ginjal pada usia dewasa. Densitas parasit dan virulensi parasit. Selanjutnya parasit berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit. intercellular adhesion molecule-1 (lCAM-l). Sitoaderensi. sedangkan pada daerah hipoendemik/daerah tidak stabil banyak dijumpai malaria serebral. Molekul adhesif di permukaan sel endotel vaskular adalah C036. vascular cell adhesion molecule 1 (VCAM). genetik. Merozoit yang dilepaskan akan masuk dalam sel RES di limpa dan mengalami fagositosis serta filtrasi.pada daerah hiperendemik dan mesoendemik mulai banyak malaria serebral pada usia kanak-kanak (2-10 tahun). Patogenesis malaria falsiparum dipengaruhi oleh faktor parasit dan faktor pejamu (host). Permukaan membran EP stadium matur akan mengalami penonjolan dan membentuk knob dengan Histidin Rich-protein-I (HRP-l) sebagai komponen utamanya. Bentuk aseksual parasit dalam entrosit yang berpotens: (EP) inilah yang bertanggungjawab dalam patogenesis terjadinya malaria pada manusia. yaitu stadium cincin pada 24 jam l dan stadium matur pada 24 jam ke ll. Patogenesis malaria yang banyak diteliti adalah patogenesis malaria yang disebabkan oleh P.

intedeukin-3 (ll-3). maupun sebaliknya NO justru memberikan efek protektif karena membatasi perkembangan parasit dan menurunkan ekspresi molekuladesi. diikuti dengan hepar dan ginjal. Sekuestrasi terjadi pada organ-organ vital dan mampu semua janngan dalam tubuh Sekuestrasi tertinggi terdapat di otak. GPI ). karena pada plasmodium lainnya seluruh siklus terjadi pada pembuluh darah perifer. Sekuestrasi ini diduga memegang peranan utama dalam patofisiologi malaria berat Rosetting ialah berkelompoknya EP matur yang diselubungi 10 atau lebih eritrosit yang tidak mengandung parasit. Sitokin. monosit dan makrofag setelah mendapat stimulasi dari malaria toksin (LPS. Nitrit Oksida. Rosetting menyebabkan obstruksi aliran darah lokal/dalam jaringan sehingga mempermudah terjadinya sitoadheren. IL-1. Sitokin ini antara lain TNF-a (tumor necrosis factor-alpha). Dari beberapa penelitian dibuktikan bahwa penderita malaria serebral yang meninggal atau dengan komplikasi berat seperti hipoglikemia mempunyai kadar TNF-α yang tinggi. ditunjukkan dari rendahnya kadar nitrat dan nitrit total pada cairan serebrospiral. Parasit dalam eritrosit matur yang tinggal dalam jaringan mikrovaskular disebut EP matur yang mengalami sekuestrasi. usus dan kulit. Diduga produksi NO lokal di organ terutama otak yang berlebihan dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Oleh karenanya diduga adanya peran dari neurotransmitter yang lain sebagai free-radical dalam kaskade ini seperti nitrit-oksida sebagai faktor yang panting dalam patogenesis malaria berat. Akhir-akhir ini banyak diteliti peran mediator nitrit oksid (NO) baik dalam menimbulkan malaria berat terutama malaria serebral. paru jantung. Justru kadar NO yang rendah mungkin menimbulkan malaria berat. Walaupun demikian hasil ini tidak konsisten karena juga dijumpai penderita malaria yang mati dengan TNF normal/ rendah atau pada malaria serebral yang hidup dengan sitokin yang tinggi. interleukin-6 (IL-6). Kelompok gen ini disebut gen VAR. Sitoaderen menyebabkan EP matur tidak beredar kembali dalam sirkulasi. LT (lymphotoxin) don interferongamma (INF-g). Demikian juga malaria tanpa komplikasi kadar TNF-α. memberikan perlindungan terhadap malaria berat. Plasmodium yang dapat melakukan sitoaderensi juga yang dapat melakukan rosetting. Sebaliknya pendapat lain menyatakan kadar NO tertentu. Gen VAR mempunyai kapasitas variasi antigenik yang sangat besar.di permukaan knob. Hanya P falciparum yang mengalami sekuestrasi. interleukin-1 (IL-1). IL-6 lebih rendah dari malaria serebral. Anak-anak penderita 30 . Sekuestrasl. Sitokin terbentuk dari sel endotel.

Apa saja manifestasi klinis kasus ini? Jawab: Suatu serangan biasa dimulai secara samara-samar dengan menggigil. malaria serebral di Afrika. akan terbentuk pola yang khas dari serangan yang hilang timbul. Setelah 31 . Dalam 1 minggu. Suatu periode sakit kepala atau rasa tidak enak badan. 9. di ikuti berkeringat dan demam yang hilang timbul. mempunyai kadar arginine yang rendah. diikuti oleh menggigil. Patofisiologi malaria 10. banyak hipotesis yang belum dapat dibuktikan dengan jelas dan hasil berbagai penelitian suing saling bartentangan. Demam berlangsung selama 1-8 jam. Masalah peran sitokin proinflamasi dan NO pada patogenesis malaria berat mash kontroversial. Bagaimana patofisiologi pada kasus ini? Jawab: Gambar 4.

Pada malaria vivax. urin menjadi hitam (black water fever). radang otak. 13. Pengobatan lini kedua malaria vivax 12. 11. penderita merasakan sehat sampai terjadi menggigil berikutnya. anemia berat (Hb <5). serangan berikutnya cenderung terjadi setiap 48 jam. hipoglikemi. Bagaimana tatalaksana yang harus diberikan pada kasus ini? Jawab: Tabel 5. gangguan ginjal. Apa saja komplikasi dari kasus ini? Jawab: Malaria cerebral. Pengobatan lini pertama malaria vivax menurut berat badan dengan DHP dan Primakuin Tabel 6. dan syok. demam reda. Bagaimana prognosis pada kasus ini? 32 .

Jawab: Prognosis malaria tergantung dari:  Spesies penyebab  Kecepatan dan ketepatan diagnosis dan pengobatan  Kegagalan fungsi organ kegagalan fungsi organ dapat terjadi pada malaria berat terutama organ-organ vital.  Memakai obat nyamuk bakar atau semprot secara teratur. Diminum 2 hari sebelum pergi. semakin buruk prognosisnya. Bagaimana SKDI pada kasus ini? Jawab: 33 .  Menyingkirkan atau menutup genangan air yang berpotensi menjadi sarang jentik- jentik nyamuk. 15.  Kepadatan parasit pada pemeriksaan hitung parasit. pada kasus ini mempunyai prognosis dubia ad bonam. semakin baik prognosisnya. Losion yang paling efektif adalah yang mengandung DEET atau diethyltoluamide.  Membersihkan bak mandi dan menabur serbuk abate untuk membasmi jentik-jentik nyamuk.  Menggunakan pakaian atau selimut yang bisa menutupi kulit tubuh. semakin padat atau banyak jumlah parasit yang didapatkan. Profilaksis:  Doksisiklin 1 kapsul/hari.  Melakukan fogging atau pengasapan secara teratur. 14. terlebih lagi bila didapatkan bentuk skizon dalam pemeriksaan darah tepi. sampai 4 minggu setelah keluar daerah endemik. Semakin sedikit organ vital yang terganggu dan mengalami kegagalan dalam fungsinya. selama tinggal. Bagaimana pencegahan dari kasus ini? Jawab:  Memakai kelambu berinsektisida untuk menutupi ranjang.  Memakai losion anti serangga. Jadi.

Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter.15 per 1000 penduduk pada tahun 2004.19 pada tahun 2006.81 per 1000 penduduk terus turun hingga 0.09 menjadi 21. sebagian besar terjadi pada anak- anak di Afrika. diperkirakan malaria menyebabkan 781 000 kematian. Sebagian besar kematian terjadi di antara anak yang tinggal di Afrika di mana seorang anak meninggal setiap 45 detik akibat malaria dan penyakit ini menyumbang sekitar 20% dari semua kematian anak di dunia.16 per 1000 penduduk pada tahun 2007-2008. F. Hal yang sama terjadi pada AMI. untuk kemudian kembali turun pada angka 0. Di Indonesia. Kemudian berdasarkan data dari Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi 34 .2 per 1000 penduduk kemudian hingga tahun 2008 turun menjadi 18. Learning Issues I.82 per 1000 penduduk. Berdasarkan data Departemen Kesehatan Indonesia baik API (Annual Parasite Incidence) maupun AMI (Annual Malaria Incidence) menunjukan penurunan selama periode 2000-2008. Data ini mengalami penurunan dari 233 juta kasus dan 985 000 kematian pada tahun 2000. MALARIA Definisi Malaria Tertiana adalah jenis malaria paling ringan dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama 2 minggu infeksi). hingga akhir 2008 kasus malaria menunjukkan kecenderungan menurun. namun masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. API pada tahun 2000 berada pada angka 0. Menurut Laporan Badan Kesehatan Dunia tahun 2010. Pada periode 2000-2004 AMI cenderung menurun dari 31. Angka ini meningkat menjadi 0. SKDI pada kasus adalah 4A. terdapat 225 juta kasus malaria dan diperkirakan 781 000 meninggal pada tahun 2009. Epidemiologi Malaria adalah penyakit yang mengancam kehidupan yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas. Pada tahun 2009.

27%).531 kasus). dengan jumlah sediaan darah yang diperiksa / ABER ( Annual Blood Examination rate) 0. Angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 (AMI) adalah 8.08% (7. Provinsi Sumatera Selatan adalah daerah endemis malaria.34%. Angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Selatan dalam tahun 2009 tertinggi adalah di Kabupaten Ogan Komering Ulu 27.217 kasus).07% (7.  Plasmodium vivax (Labbe. Selain empat spesies Plasmodium diatas. Kota Lubuk Linggau 17. 1890) menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana. Hal ini disebabkan Kabupaten Bangka dan Belitung berpisah dari Povinsi Sumatera Selatan. 1897) menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana maligna/malaria tropika/malaria pernisiosa.27 per 1000 penduduk.326 kasus). Etiologi Penyakit malaria disebabkan oleh Protozoa genus Plasmodium. yang merupakan plasmodium zoonosis yang sumber infeksinya adalah kera.9% .  Plasmodium ovale (Stephens.  Plasmodium malariae (Grassi dan Feletti. Kabupaten Lahat 22.Terdapat empat spesies yang menyerang manusia yaitu:  Plasmodium falciparum (Welch. sedangkan terendah di Kabupaten Ogan Ilir 0. 35 . Angka kesakitan malaria dari tahun 2003 ke tahun 2004 menurun secara drastis. Satu kota diantara daerah endemis rendah yaitu Kota Palembang adalah daerah bebas malaria dalam arti kasus yang ada adalah kasus impor dari kabupaten lain (Kabupaten Banyuasin). manusia juga bisa terinfeksi oleh Plasmodium knowlesi.42% dan persentase dari sediaan darah yang positif dari seluruh sediaan darah yang diperiksa (SPR) 21. 1922) menyebabkan malaria ovale atau malaria tertiana benigna ovale. angka AMI turun hingga 12. Kedua Kabupaten tersebut adalah penyumbang kasus malaria paling tinggi. 1899) menyebabkan malaria vivax atau malaria tertiana benigna.45% dengan kematian (CFR 0. dimana tahun 2009 terdapat 7 kabupaten endemis malaria sedang dan 8 kabupaten/kota lainnya digolongkan pada daerah endemis rendah.88% (3.Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010.

Umur Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi malaria. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai respon yang kuat dibandingkan laki-laki. Faktor Manusia (Host) a.Jenis Kelamin Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin. Hubungan antara penyakit malaria dan 36 . .Status gizi Masyarakat dengan gizi kurang baik dan tinggal di daerah endemis malaria lebih rentan terhadap infeksi malaria. Penyebab terbanyak di Indonesia adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Plasmodium falciparum dapat gagal matang pada anak dengan dengan sel sabit serta tidak mampu mencapai densitas tinggi pada anak dengan defisiensi glukose-6-fosfat dehidrogenase. misalnya sickle cell anemia dan ovalositas. Karakteristik manusia . . namun kehamilan menambah risiko malaria. . Faktor Risiko 1. Akan tetapi anak yang bergizi baik dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak bergizi buruk. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang bergizi baik justru lebih sering mendapat kejang dan malaria serebral dibanding dengan anak yang bergizi buruk.Imunitas Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya terbentuk imunitas dalam tubuhnya. Untuk Plasmodium falciparum menyebabkan suatu komplikasi yang berbahaya. . tetapi apabila menginfeksi ibu yang sedang hamil akan menyebabkan anemia yang berat.Ras Beberapa ras di Afrika mempunyai kekebalan terhadap malaria. sehingga disebut juga dengan malaria berat. demikian juga yang tinggal di daerah endemis biasanya mempunyai imunitas alami terhadap malaria.

. diantaranya: .86 kali dibandingkan dengan yang berstatus gizi baik.Memasang kawat kasa pada rumah dapat mengurangi masuknya nyamuk ke dalam rumah untuk menggigit manusia. mempunyai risiko terjangkit malaria sebesar 2. Balita yang tinggal dalam rumah tidak di lengkapi dengan kawat 37 . Rice et al. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwito (2005) menunjukkan bahwa responden yang mempunyai kebiasaan keluar rumah pada malam hari mempunyai risiko menderita malaria 4 kali lebih besar di banding dengan yang tidak mempunyai kebiasaan keluar pada malam hari. tetapi sebagian peneliti berpendapat bahwa keadaan KEP yang menyebabkan anak mudah terserang penyakit malaria. dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik akan memudahkan kontak dengan nyamuk. . kejadian Kurang Energi Protein (KEP) merupakan masalah yang hingga saat ini masih kontrovesial.2008). menggunakan kelambu. Penelitian Shankar yang menguji hubungan antara malaria dan status gizi menunjukkan bahwa malnutrisi protein dan energi mempunyai hubungan dengan morbiditas dan mortalitas pada berbagai malaria (Wanti.Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria dengan menyehatkan lingkungan. Ada kelompok peneliti yang berpendapat bahwa penyakit malaria menyebabkan kejadian KEP. Hasil penelitian Suwadera (2003) bahwa ada hubungan ventilasi yang di lengkapi kasa dengan kejadian malaria pada balita. Penelitian yang dilakukan oleh Suwadera menunjukkan bahwa balita dengan status gizi kurang berisiko menderita malaria 1. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Babba (2009) diperoleh bahwa orang yang tidur malam tidak menggunakan kelambu. b.Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam.28 kali lebih besar dibandingkan yang menggunakan kelambu. mengatakan terdapat hubungan yang kuat antara malnutrisi dalam hal meningkatkan risiko kematian pada penyakit infeksi termasuk malaria pada anak-anak di negara berkembang. Perilaku manusia Manusia dalam keseharian mempuyai aktifitas yang beresiko untuk terkena penyakit malaria.

pertambangan dan pembangunan pemukiman/transmigrasi sering mengakibatkan perubahan lingkungan yang menguntungkan penularan malaria. . Pendidikan yang semakin tinggi diharapkan berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan. Pendapatan berkaitan dengan kemampuan responden untuk mengupayakan pencegahan atau meminimalkan kontak dengan nyamuk misalnya dengan penggunaan kawat kasa atau membeli obat anti nyamuk. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Babba (2008) bahwa ada hubungan antara pendidikan yang rendah dengan kejadian malaria dengan risiko terkena malaria sebesar 2. baik hanya bersifat menolak ataupun membunuh nyamuk.41 kali dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan ventilasi memakai kawat kasa. Hasil penelitian oleh Balai Penelitian Vektor dan Reservoar Penyakit (BPVRP) juga menunjukkan hasil bahwa pekerjaaan yang berkaitan dengan pertanian mempunyai risiko untuk menderita malaria sebesar 4. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Babba (2008) menunjukkan bahwa orang yang mempunyai penghasilan yang kurang mempunyai risiko sebesar 4. Mereka yang mempunyai kebiasaan tidak menggunakan obat nyamuk mempunyai risiko terkena malaria sebesar 10. pekerjaan. terutama untuk pencegahan malaria. kasa akan berisiko terkena malaria sebesar 3. terdapat juga beberapa karakteristik dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya malaria seperti pendidikan.23 kali dibanding dengan orang yang berpendidikan tinggi.Menggunakan obat nyamuk maupun repelen dapat menghindarkan diri dari gigitan nyamuk. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yahya. Pekerjaan yang dilakukan seseorang mempunyai peranan dalam kejadian malaria.1 kali lebih besar daripada yang bekerja selain dibidang pertanian. pengetahuan dan pendapatan. 38 . 32 kali untuk menderita malaria.2005). dkk (2005) makin tinggi tingkat pendidikan ibu cenderung makin tinggi tingkat pengetahuannya tentang malaria pada anak. Selain hal tersebut diatas. pembuatan jalan. Selain perilaku-perilaku tersebut. berbagai kegiatan manusia seperti pembendungan.8 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menggunakan obat anti nyamuk (Suwito.

Beberapa yang penting meliputi: a. 3. Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan kemudian menginfeksi. Faktor Lingkungan a. suka menggigit manusia atau hewan (antrofofilik dan zoofilik).Suhu Udara Suhu udara berpengaruh terhadap lamanya masa inkubasi ekstrinsik (panjang pendeknya siklus sprorogoni). Pada suhu 26. Frekuensi menghisap darah (tergantung pada suhu) d. begitu juga sebaliknya. Malariae (14 hari) dan P. Vivax (8-11hari). P. P. Hal ini berperan dalam transmisi malaria. Lamanya sporogoni (berkembangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi infektif) e.2.Kelembaban udara 39 . Jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 2000-2500 m. perilaku nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria. Tempat istirahat di dalam rumah atau luar rumah (endofilik dan eksofilik) b. Tempat menggigit di dalam rumah atau luar rumah (endofagik dan eksofagik) c. Efektifitas vektor untuk menularkan dipengaruhi hal-hal berikut: a.7 ᵒC masa inkubasi ekstrinsik pada spesies plasmodium berbeda yaitu : Plasmodium falciparum (10-12 hari). Lingkungan Fisik . namun dapat juga hidup di daerah beriklim sedang bahkan dapat hidup di daerah Arktika. Selain itu. Semakin tinggi suhu antara 20-30 ᵒC akan berakibat pada makin pendeknya masa inkubasi ekstrinsik. Kesukaan menghisap darah manusia c. Pengaruh suhu terhadap masing-masing spesies tidak sama. Obyek yang di gigit. Ovale ( 15 hari) . Faktor Nyamuk Nyamuk anopheles terutama hidup didaerah tropik dan sub tropik. Kepadatan vektor dekat pemukiman manusia b.

dengan tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk hidupnya nyamuk. Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam berpengaruh terhadap nyamuk yang keluar masuk rumah. Tetapi tidak semua spesies mempunyai kecenderungan yang sama. . . Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda.maculatus di Kabupaten Banjarnegara 40 .Sinar matahari Sinar matahari memberikan pengaruh berbeda pada spesies nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit.Angin Kecepatan dan arah angin berpengaruh terhadap kemampuan jarak terbang (flight range) nyamuk. Hujan yang di selingi panas akan memperbesar kemungkinan perkembang biakan nyamuk anopheles berlangsung sempurna. Jentik An. Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk. Spesies yang lain lebih menyukai tempat yang rindang.Ketinggian Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah. Aconitus lebih menyukai tempat untuk berkembang biak dalam badan air yang ada sinar mataharinya dan ada peneduh. Nyamuk An. . ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata.Hujan Siklus hidup dan perkembangan nyamuk dapat dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan. Ini menyebabkan terjadinya perubahan pola musim di Indonesia yang berpengaruh terhadap perilaku nyamuk. Anopheles sundaicus lebih suka di tempat yang teduh. Pada ketinggian diatas 2000 m jarang ada transmisi malaria. namun ini bisa berubah dengan adanya pemanasan bumi dan pengaruh dari El-Nino. Jarak terbang nyamuk dapat diperpendek atau diperpanjang sebagai akibat pengaruh adanya kecepatan angin. Anopheles hyrcarnus spp. Lebih suka di tempat yang terbuka sedangkan Anopheles balabacensis dapat hidup beradaptasi baik di tempat yang teduh maupun yang terang. .

Depkes RI (1999). sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar antara 12-18 % dan tidak dapat berkembang biak pada kadar garam 40% keatas. diantaranya seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk.Arus air An. Lingkungan kimia Dari lingkungan ini yang baru di ketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan. meningkatkan resiko kontak dengan nyamuk. Demikian juga lokasi rumah dekat tempat perindukan vektor serta desain. beberapa lingkungan fisik yang terdapat disekitar manusia dan dalam kondisi yang sesuai dapat meningkatkan resiko kontak dengan nyamuk infeksius. An. letifer dapat hidup di tempat yang asam/ pH rendah. Lingkungan Biologi 41 .dkk. .2002) banyak ditemukan di antara batuan atau di bawah tanaman air yang terlindung dari sinar matahari langsung. Menurut laporan penelitian (Yunianto. (Yunianto. Selain hal tersebut diatas. konstruksi rumah dapat mengurangi kontak antara manusia dengan vektor. Sebagai contoh An.. Balabacensis lebih menyukai tempat perindukan yang airnya tergenang atau mengalir sedikit. letifer menyukai tempat yang airnya tergenang. Rumah dengan dinding yang terbuka karena konstruksi yang tidak lengkap ataupun karena bahan baku yang membuatnya bercelah. minimus menyukai tempat perindukan yang aliran airnya cukup deras dan An. maculatus berkembangbiak pada genangan air di pinggir sungai dengan aliran lambat atau berhenti. tempat pemeliharaan ternak besar serta konstruksi dinding rumah. b.2002) menyatakan bahwa An. Meskipun di beberapa tempat di sumatra Utara An. sundaicus ditemukan pula dalam air tawar dan An. c. adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau dapat mengurangi gigitan nyamuk pada manusia apabila kandang tersebut diletakan di luar rumah pada jarak tertentu (cattle barrier).

P. Penelitian in vitro Chotivanich. 42 . gambusia dan ikan kepala timah. Faktor Parasit Parasit harus ada dalam tubuh manusia untuk waktu yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan betina pada saat yang sesuai untuk penularan. Plasmodium falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek namun menghasilkan parasitemia paling tinggi. Demikian juga keberadaan binatang pemakan jentik seperti ikan nila. ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia yang rendah. Sebagian besar kematian karena malaria disebabkan oleh malaria berat karena infeksi plasmodium falciparum. gejala yang lebih ringan dan masa inkubasi yang lebih lama. vivax dan P. Parasit juga harus menyesuaikan diri dengan sifat spesies vektor anopheles agar sporogoni di mungkinkan dan menghasilkan sporozoit yang infektif. vivax dan ovale dalam hati berkembang menjadi sizon jaringan primer dan hipnozoit. P. Lingkungan biologi berpengaruh terhadap kehidupan nyamuk. dkk menunjukkan parasit pasien malaria berat mempunyai kemampuan multiplikasi 3 kali lebih besar dibandingkan parasit yang didapat dari pasien malaria tanpa komplikasi. mujair. 4. Gametosit P. Sporozoit P. Keberadaan tanaman air seperti tanaman bakau. baik bersifat menguntungkan maupun merugikan. lumut dapat melindungi larva nyamuk dari sinar matahari langsung maupun serangan makhluk lainnya. gejala yang paling berat dan masa inkubasi yang paling pendek. Hipnosoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps. falciparum baru berkembang setelah 8-15 hari sesudah masuknya parasit ke dalam darah. Selain itu parasit malaria berat juga mampu menghasilkan toksin yang sangat banyak. Sifat parasit berbeda-beda untuk setiap spesies dan mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. ganggang.falciparum menunjukkan periodisitas dan infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vektor.

diare ringan dan kadang-kadang dingin. nyeri sendi dan tulang. falciparum dan malariae keluhan prodromal tidak jelas bahkan gejala dapat mendadak. sakit perut. malariae. anemia dan splenomegali. sedang pada P.Manifestasi Klinis Dikenal 5 jenis Plasmodium (P) yang menginfeksi manusia yaitu P. 43 . memberikan infeksi yang paling ringan dan sering sembuh spontan tanpa pengobatan. P. vivax dan ovale. P. malariae dan dapat menyebabkan malaria berat. P. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium. menyebabkan malaria ovale. dan Plasmodium ke-5 ialah P. demam ringan. Keluhan prodromal sering terjadi pada P. memberikan banyak komplikasi dan mempunyai perjalanan klinis yang cukup serius. falciparum. anoreksia. Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan. vivax. Manifestasi Umum Malaria Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik. malaise. knowlesi yang dilaporkan pertama kali di Serawak sering didiagnosa sebagai P. sakit punggung. merasa dingin di punggung. ovale dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik Barat. sakit kepala. yang merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana/ vivaks. mudah resisten dengan pengobatan dan menyebabkan malaria tropika/ falsiparum. cukup jarang namun dapat menimbulkan sindroma nefrotik dan menyebabkan malaria quartana/ malariae.

Rekrudesensi: berulangnya gejaia klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer Rekrudesensi dapat terjadi berupa berulangnya gejala klinik sesudah periode laten dari serangan primer. Biasanya tedadi diantara dua keadaan paroksismal. Timbulnya gejala trias malaria ini juga dipengaruhi tingginya kadar TNF-alfa. penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-geligi saling terantuk. dan pengaruh sitokin. Sering disebut relaps waktu panjang. Beberapa keadaan klinik dalam perjalanan infeksi malaria ialah: . Limpa merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria. penghambatan pengeluaran retikulosit. Trias malaria Iebih sering terjadi pada infeksi P vivax. . nyeri dan hiperemis. vivax dan ovale. antigenik dan rheological dari eritrosit yang terinfeksi. Serangan paroksismal ini dapat pendek atau panjang tergantung dari jumlah parasit dan keadaan immunitas penderita. diikuti dengan keadaan berkeringat. Beberapa mekanisme terjadinya anemia ialah: pengrusakan eritrosit oleh parasit.Gejala yang klasik yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara berurutan: periode dingin (15-60 menit) : mulai menggigil. . 60 jam pada P. limpa akan teraba setelah 3 hari dari serangan infeksi akut. hemolisis oleh karena kompleks imun yang diperantarai komplemen. panas dan berkeringat. limpa menjadi bengkak. hambatan sementara eritropoiesis. dan penderita merasa sehat. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi malaria. malariae. diikuti dengan periode panas: penderita muka merah. diikuti dengan meningkatnya temperatur. 36 jam pada P. dan suhu badan tetap tinggi beberapa jam. Serangan primer: yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan paroksismal yang terdiri dari dingin/menggigil. Periode latent: yaitu periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya infeksi malaria. Pembesaran limpa (splenomegali) sering dijumpai pada penderita malaria. 44 . nadi cepat. penelitian pada binatang percobaan memperlihatkan limpa memfagosit eritrosit yang terinfeksi melalui perubahan metabolisme. Periode tidak panas berlangsung 12 jam pada P falciparum. pada P falciparum menggigil dapat berlangsung berat ataupun tidak ada. kemudian periode berkeringat: penderita berkeringat banyak dan temperatur turun. eritrofagositosis.

Parasitemia mulai menurun setelah 14 hari. Pada akhir minggu kelima panas mulai turun.. malaria serebral. Relaps sering terjadi karena keluarnya bentuk hipnozoit yang tertinggal di hati pada saat status imun tubuh menurun. Pada penderita yang semi- imun infeksi malaria vivaks tidak spesifik dan ringan saja. pada saat tersebut perasaan dingin atau menggigil jarang terjadi. limpa dapat membesar sampai derajat 4 atau 5 (ukuran Hackelt). Resistensi terhadap kloroquin pada malaria vivaks juga dilaporkan di lrian Jaya dan di daerah lainnya (Sumatra). Edema tungkai disebabkan karena hipoalbuminemia. Manifestasi Klinis Malaria Malariae/M. Serangan paroksismal biasanya terjadi waktu sore hari. .5 kali lipat jumlah penderita dan secara global beban malaria vivaks adalah 132-391 juta orang per tahun. Pada malaria vivaks. Relaps atau Rechute: yaitu berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodik dari infeksi primer atau setelah periode yang lama dari masa laten (sampai 5 tahun). Pada hari-hari pertama panas iregular. Quartana 45 . Benigna Secara epidemiologi pada tahun 1999 diperkirakan terdapat 72-80 juta penderita malaria vivaks di dunia dan 52% ada di Asia. Rekurens: yaitu berulangnya gejala klinik atau parasitemia setelah 24 minggu berakhirnya serangan primer. Pada akhir minggu tipe panas menjadi intermiten dan periodik setiap 48 jam dengan gejala klasik trias malaria. Kepadatan parasit mencapai maksimal dalam waktu 7-14 hari. Manifestasi Klinis Malaria Tertiana/ M. parasitemia hanya rendah. serangan demam hanya pendek dan penyembuhan lebih cepat. Malaria serebral jarang terjadi. biasanya terjadi karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk diluar eritrosit (hati) pada malaria vivaks atau ovate. limpa masih dapat membesar dan panas masih berlangsung. Malaria vivaks sering menyebabkan relaps. Pada minggu kedua limpa mulai teraba. Saat ini terjadi peningkatan 2. kadang-kadang remiten atau intermiten. Vivax/ M. bisa lebih panjang 12-20 hari. Malaria vivaks saat ini dapat juga berkembang menjadi malaria berat dan memberikan komplikasi seperti gagal pernapasan. lnkubasi 12-17 hari. disfungsi hati dan anemia berat.

perasaan dingin. sindroma nefrotik dilaporkan pada infeksi plasmodium malariae pada anak-anak Afrika. Amerika latin. parasit dapat bertahan lama dalam darah perifer. asites. sedangkan bentulk diluar eritrosit (di hati) tidak terjadi pada P malariae. puncak panas Iebih rendah dan parlangsungan Iebih pendek. Manifestasi Klinis Malaria Ovale Merupakan bentuk yang paling ringan dari samua jenis malaria. Serangan menggigil jarang terjadi dan splenomegali jarang sampai dapat diraba. Keadaan ini prognosisnya jelek. Manifestasi Klinis Malaria Tropika/M. Masa inkubasi 18-40 hari. sebagian Asia. splenomegaili. Masa inkubasi 11- 16 hari. Gejala prodromal yang sering dijumpai yaltu sakit kepala. 46 . M. parasitemia sering dijumpai. proteinuria yang banyak. dan dapat sembuh sponlan tanpa pengobatan. Iebih rlngan. Serangan paroksismal terjadi tiap 3-4 hari. lesu. biasanya pada waktu sore dan parasitemia sangat rendah < 1%. ditandai dangan panas yang iregular. Malaria tropika mempunyai perjalanan klinis yang cepat. Pada pemeriksaan dapat dijumpai edema. Diduga komplikasi ginjal disebabkan oleh karena deposit kompleks imun pada glomerulus ginjal. Gejala kllnis hampir sama dengan malaria vivaks. anemia jarang terjadi. Masa inkubasi 9-14 hari. respons terhadap pengobatan anti malaria tidak menolong. Penyebarannya tidak seluas P. steroid tidak berguna. Manifestasi klinik seperti pada malaria vivaks hanya berlangsung lebih ringan.5 mg/ kgBB selama 12 bulan tampaknya memberikan hasil yang balk. dan sering terjadi komplikasi. maka P. dan diuretik boleh dicoba. dan parasitemia yang tinggi dan menyerang semua bentuk eritrosil. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan lg M bersama peningkatan titer anti-bodinya. diet dengan kurang garam dan tinggi protein. falciparum. tanpa uremia dan hipertensi. ovale tidak: akan tampak didarah tepi. splenomegali sering dijumpai walaupun ringan. Pengobatan dengan azatioprin dengan dosis 2-2. Rekrudesensi sering terjadi pada Plasmodium malariae. nyeri punggung/ nyeri tungkai. falsiparum Malaria tropika merupakan bentuk yang paling berat. sarangan paroksiamal 3-4 hari terjadi malam harl dan jarang Iebih dari 10 kali walaupun tanpa terapl. hipoproteinaemia. malariae banyak dijumpai di daerah Afrika. siklofosfamid lebih sering memberikan efek toksrk. vivax dan P. Apabila terjadi infeksi campuran dengan plasmodium lain. tetapi plasmodium yang lain yang akan ditemulran. Komplikasi jarang terjadi. anemia.

nausea. sering terjadi hiperpireksia dengan temperatur di atas 40°C. knowlesi juga dilaporkan di Filipine. malanae yang tidak klasik karena gajala panas lebih dominan.Komplikasi malaria berat dapat terjadi berupa penurunan kesadaran. Kelainan urin dapat berupa albuminuria. Skizon hati berukuran 45 47 . Selain di serawak Malaysia. hialin dan kristal yang granuler. Panas biasanya ireguler dan tidak periodik. Knowlesi Sejak dipublikasikan tahun 2004 sebagai hasil studi retrospektif terhadap adanya kasus di Kapit-Serawak dimana dilaporkan sebagai P. hipotensi. Singapore. Malaria ini dikenal sebagai Simian malaria yang menginfeksi kera berekor panjang dikenal sebagai Maccaca fascicularis. Gejala lain berupa konvulsi. Thailand dan Myanmar. P. An. dangan puncak panas tiap hari. kadang dengan 2 puncak mempunyal siklus aseksual tiap 24 jam dan masa inkubasi eksperimental 9-12 hari. Malariae yang tidak klasik. Manifestasi klinik P. Apabila infeksi memberat nadi cepat. dapat disertai timbulnya ikterus. ikterik. Patogenesis Dengan tusukan nyamuk Anopheles betina sporozoit masuk melalui kulit ke peredaran darah perifer manusia. Splenomegali dijumpai Iebih sering dari hepatomegali dan nyeri pada perabaan. Dalam retrospektif analisis kasus malaria di Serawak-Sabak tahun 2001-2006. nemestriana dan juga Presbytis femoralis. Malaria lnl sering didiagnosa sebagai P. muntah. setelah ±½ jam sporozoit masuk dalam sel hati dan tumbuh menjadi skizon hati dan sebagian menjadi hipnozoit. Parasit sulit ditemui pada penderita dengan pangobatan imunosupresan. muntah. An. Latans. Diagnosa pasti malaria knowlesi saat ini hariya dengan pemeriksaan analisis DNA dengan pemeriksaan PCR. dari 960 kasus. Sebagai vektor utama ialah Anopheles cracens. pneumonia aspirasi dan banyak keringat walaupun temperatur normal. Anemia Iebih menonjol dengan leukopenia dan monositosis. knowlesi ditemukan pada 266 (27. . gagal pernapasan dan menyebabkan kematian. P.7%). Parasitemia tebih tinggi dibandingkan oleh P. gagal ginjal. M. Balabacencis. dan diare. Di lndonasia juga pernah dilaporkan panderita dari Kallmantan. diarea menjadi berat dan diikuti kelainan paru (batuk). Sering dijumpai gejala nyeri abdomen dengan diarea. malariae.mual.

Merozoit hati pada eritrosit tumbuh menjadi trofozoit muda yang berbentuk cincin. dalam darah tepi dapat ditemukan semua stadium parasite. Merozoit dari skizon hati masuk ke peredaran dan menginfeksi eritrosit untuk mulai dengan daur eritrosit (skizogoni darah). sekuestrasi oleh limpa pada eritrosit yang terinfeksi maupun yang normal.mikron dan membentuk ±10. Akibat demam terjadi vasodilatasi perifer yang mungkin disebabkan oleh bahan vasoaktif yang diproduksi oleh parasit. Pada hemolisis berat dapat terjadi hemoglobinuria dan hemoglobinemia. Walaupun demikian. Anemia juga disebabkan oleh hemolisis autoimun. yaitu TNF dan interleukin-1. Hiperkalemia dan hiperbilirubinemia juga sering ditemukan. Juga terjadi penurunan jumlah trombosit dan leukosit neurtofit. Hebatnya hemolisis tergantung pada jenis Plasmodium dan status imunitas pejamu.vivax berlangsung 48 jam dan terjadi secara sinkron. Skizon matang dari daur eritrosit mengandung 12-18 buah merozoit dan mengisi seluruh eritrosit dengan pigmen berkumpul di bagian tengah atau di pinggir. besarnya ±⅓ eritrosit. dan gangguan eritropoiesis. Hipnozoit tetap beristirahat dalam sel hati selama beberapa waktu sampai aktif kembali dan mulai dengan daur eksoeritrosit sekunder. Pembesaran limpa disebabkan oleh terjadinya peningkatan jumlah eritrosit yang terinfeksi parasit. Kemudian trofozoit muda menjadi trofozoit stadium lanjut (trofozoit tua) yang sangat aktif sehingga sitoplasma tampak berbentuk ameboid. Terjadinya kongesti pada organ lain meningkatkan resiko terjadinya ruptur limpa. Daur eritrosit pada P. Gejala yang paling mencolok adalah demam yang diduga disebabkan oleh pirogen endogen. teraktivasinya sistem retikuloendotelial untuk memfagositosis eritrosit yang terinfeksi parasit dan sisa eritrosit akibat hemolisis. disebabkan karena sel darah merah yang terineksi menjadi kaku dan lengket. sehingga perjalanannya 48 . Skizon hati ini masih dalam daur praeritrosit atau daur eksoeritrosit primer yang berkembang biak secara aseksual dan prosesnya disebut skizogoni hati.000 merozoit. Kelainan patologik pembuluh darah kapiler pada malaria tropika. sehingga gambaran dalam sediaan darah tidak uniform. Patofisiologi Gejala malaria tumbul saat pecahnya eritrosit yang mengandung parasit. Anemia terutama disebabkan oleh pecahnya eritrosit dan difagositosis oleh sistem retikuloendotelial.

spesies ini mungkin memerlukan protein pada permukaan sel yang spesifik untuk dapat masuk ke dalam eritrosit. maka aliran kapiler terhambat dan timbul hipoksia jaringan. Masuknya parasit tergantung pada interaksi antara organel spesifik pada merozoit dan struktur khusus pada permukaan eritrosit. thalasemia.dalam kapiler teganggu dan mudah melekat pada endotel kapiler karena adanya penonjolan membran eritrosit. Monosit/makrofag merupakan partisipan seluler yang terpenting dalam fagositosis eritrosit yang terinfeksi. Pertahanan tubuh individu terhadap malaria dapat berupa faktor yang diturunkan maupun yang didapat. 49 . terjadi gangguan pada integritas kapiler dan dapat terjadi perembesan cairan bahkan pendarahan ke jaringan sekitarnya. kelainan genetik tertentu dari eritrosit. Rangkaian kelainan patologis ini dapat menimbulkan manifestasi klinis sebagai malaria serebral. gagal ginjal dan malabsorpsi usus. yang merupakan suatu antibodi spesifik yang diproduksi untuk melengkapi beberapa aktivitas opsonin terhadap eritrosit yang terinfeksi. tetapi proteksi ini tidak lengkap dan hanya bersifat sementara bilamana tanpa disertai infeksi ulangan. Resistensi relatif yang diturunkan pada individu dengan HbS terhadap malaria telah lama diketahui dan pada kenyataannya terbatas pada daerah endemis malaria. Tendensi malaria untuk menginduksi imunosupresi. Masing-masing kelainan ini menyebabkan resistensi membran eritrosit atau keadaan sitoplasma yang menghambat pertumbuhan parasit. Setelah terjadi penumpukan sel dan bahan pecahan sel. Seleksi yang sama juga dijumpai pada hemoglobinopati tipe lain. edema paru. dapat diterangkan sebagian oleh tidak adekuatnya respon ini. Pertahanan terhadap malaria yang diturunkan terutama penting untuk melindungi anak kecil/bayi karena sifat khusus eritrosit yang relatif resisten terhadap masuk dan berkembang-biaknya parasit malaria. Antigen yang heterogen terhadap Plasmodium mungkin juga merupakan salah satu faktor. Pada individu dengan malaria dapat dijumpai hipergamaglobulinemia poloklonal. Namun imunitas ini tidak mutlak dapat mengurangi gambaran klinis infeksi ataupun dapat menyebabkan asimptomatik dalam periode panjang. Imunitas humoral dan seluler terhadap malaria didapat sejalan dengan infeksi ulangan. difisiensi enzim G6PD dan difisiensi pirufatkinase. Sebagai contoh eritrosit yang mengandung glikoprotein A penting untuk masuknya Plasmodium falciparum. Individu yang tidak mempunyai determinan golongan darah Duffy (termasuk kebanyakan negro Afrika) mempunyai resistensi alamiah terhadap Plasmodium vivax.

Pengobatan Malaria P. Pengobatan ACT yang direkomendasikan meliputi : 1. Dosis artesunate ialah 4 mg/kg BB/hari selama 3 hari dan dosis amodiakuin ialah 10 mg/kg BB/hari selama 3 hari. .Penatalaksanaan Pengobatan malaria yang tidak tepat dapat menyebab resistensi. sehingga menyebabkan meluasnya malaria dan meningkatnya morbiditas. Kombinasi artesunate + meflokuin 4.1 Pengobatan Lini I. Pengobatan dengan ACT harus disertai dengan kepastian ditemukannya parasit malaria secara mikroskopik atau sekurang- kurangnya dengan pemeriksaan RDT (Rapid Diagnostic Test). Kombinasi artesunate + sulfadoksin – pirimetamin Berikut ini adalah penatalaksanaan malaria ringan/tanpa komplikasi berdasarkan konsensus Departemen Kesehatan. 3/4 1 2 2-3 50 . Kombinasi artesunate + amodikuin 3. rekomendasi Tim ahli Malaria Depkes RI serta pedoman WHO tahun 2006 : 1. Tabel 2. Plasmodium Falciparum berdasarkan Usia H Jenis Obat Jumlah tablet menurut kelompok umur ari Dosis 0-1 2. Kombinasi artemeter + lumefantrin (AL) 2. Untuk itu WHO telah merekomendasikan pengobatan malaria secara global dengan penggunaan regimen obat ACT (Artemisin Combination Therapy) dan telah disetujui oleh Depkes RI sejak tahun 2004 sebagai obat lini I diseluruh Indonesia. 1-4 5-9 10-14 > 15 Tunggal bulan 11 tahun tahun tahun tahun bulan 1 Artesunate 1/4 ½ 1 2 3 4 Amodiakuin 1/4 ½ 1 2 3 4 Primakuin . Falciparum Lini I : Artesunate + Amodikuin (1 tablet artesunate 50 mg dan 1 tablet amodikuin 200 mg.

> 15 Tunggal bulan 11 tahun tahun 14 tahun bulan tahun 1 Artesunate 1/4 ½ 1 2 3 4 Amodiakuin 1/4 ½ 1 2 3 4 Primakuin . 1/4 1/2 3/4 1 4-14 Primakuin . .2 Pengobatan Lini I malaria vivaks dan malaria ovale Hari Jenis Obat Jumlah tablet menurut kelompok umur Dosis 0-1 2. 1/4 1/2 3/4 1 3 Artesunate 1/4 1/2 1 2 3 4 Amodiakuin 1/4 1/2 1 2 3 4 Primakuin . . 1/2 2 Artesunate 1/4 ½ 1 2 3 4 Amodiakuin 1/4 ½ 1 2 3 4 3 Artesunate 1/4 ½ 1 2 3 4 Amodiakuin 1/4 ½ 1 2 3 4 Pada kasus-kasus dengan kegagalan artesunate+amodiakuin maka Kombinasi artemeter-lumefantrin (AL) dapat di pakai sebagai obat pilihan pertama 2. 1-4 5-9 10. . vivax/ovale/malariae Tabel 2. 1/4 1/2 3/4 1 51 . . Pengobatan Malaria oleh P. 1/4 1/2 3/4 1 2 Artesunate 1/4 ½ 1 2 3 4 Amodiakuin 1/4 ½ 1 2 3 4 Primakuin .

j. Kejang berulang lebih dari 2 kali/24 jam. Pendarahan spontan dari hidung. klinis pernafasan dalam/respiratory distress. Hipoglikemi: gula darah < 40 ml/dl. b. Malaria cerebral (coma) yang tidak disebabkan oleh penyakit lain atau lebih dari 30 menit setelah serangan kejang. falcifarum dengan satu atau lebih komplikasi sebagai berikut: a. saluran cerna dan/atau disertai kelainan labolatorik adanya gangguan koagulasi intravascular. h. Gagal sirkulasi atau syok: tekanan sistol < 70 mmHg (anak 1-5 tahun<50 mmHg). d. kadar lactate vena <>5 mmol/1. i. Gagal ginjal akut (urin kurang dari 400ml/24 jam pada orang dewasa atau 12ml/BB pada anak anak) setelah dilakukan rehidrasi. talasemia/hemoblobinopati lainya. c. derajat penurunan kesadaran harus dilakukan berdasarkan penilaian GCS. g. Edema paru non kardoigenic/ARDS f. Anemia berat (Hb < 5 g/dl atau hematokrit < 15% ) pada keadaan parasit > 10. disertai kreatinin > 3 mg/dl e. Academia/acidosis: pH darah < 7.000/ul. disertai keringat dingin atau perbedaan temperature kulit mukosa>10°C. bila anemianya hipokromik dan/atau miktositik harus dikesampingkan adanya anemia defisiensi besi.25 atau plasma bicarbonate <15 mmol/1. 52 . Jika terjadi kegagalan pengobatan lini I maka dapat digunakan kombinasi dihidroartemisin+piperakuin atau artemeter-lumefantrin atau artesunate + meflokuin (Harijanto. 2010) Komplikasi Penderita malaria dengan komplikasi umumnya digolongkan sebagai malaria berat yang menurut WHO didefinisikan sebagai infeksi P. gusi. Makroskopik hemoglobinuri oleh karena infeksi malaria akut (bukan karena obat anti malaria/kelainan eritrosit (kekurangan G-6-PD)).

Modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja sampai subuh di saat nyamuk anopheles umumnya mengigit. . 53 . b. primakuin dan sebagainya. dan menghindari untuk mengunjungi lokasi yang rawan malaria. Proteksi pribadi. . meflokuin (belum tersedia di Indonesia). pengetahuan tentang upaya menghilangkan tempat perindukan. Dosis kumulatif maksimal untk pengobatan pencegahan dengan klorokuin pada orang dewasa adalah 100 gram basa. k. pengobatan malaria. Diperlukan upaya tambahan. yaitu kemoprofilaksis untuk mengurangi risiko jatuh sakit jika telah digigit nyamuk infeksius. Materi utama edukasi adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria. namun tidak dapat menghilangkan sepenuhnya risiko terkena infeksi. seseorang seharusnya menghindari dari gigtan nyamuk dengan menggunakan pakaian lengkap. Diagnosis post-mortem dengan ditemukannya parasit yang padat pada pembuluh kapiler pada jaingan otak Pencegahan Primer a. Melakukan kegiatan sistem kewaspadaan dini. risiko terkena malaria. Edukasi adalah faktor terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. dengan memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang cara pencegahan malaria. tidur menggunakan kelambu. Tindakan terhadap manusia . memakai obat penolak nyamuk. doksisiklin. dan yang terpenting pengenalan tentang gejala dan tanda malaria. . Beberapa obat-obat antimalaria yang saat ini digunakan sebagai kemoprofilaksis adalah klorokuin. Kemoprofilaksis (Tindakan terhadap Plasmodium sp) Walaupun upaya pencegahan gigitan nyamuk cukup efektif mengurangi paparan dengan nyamuk.

Pengendalian secara mekanis Dengan cara ini. 54 . sedangkan Heterorhabditis termasuk golongan cacing nematode yang mampu memeberantas serangga. Bagi penduduk yang tinggal di daerah risiko tinggi malaria dimana terjadi penularan malaria yang bersifat musiman maka upaya pencegahan terhadap gigitan nyamuk perlu ditingkatkan sebagai pertimbangan alternatif terhadap pemberian pengobatan profilaksis jangka panjang dimana kemungkinan terjadi efek samping sangat besar. . Pengendalian secara biologis Pengendalian secara biologis dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup yang bersifat parasitik terhadap nyamuk atau penggunaan hewan predator atau pemangsa serangga. Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang banyak digunakan. melakukan radiasi terhadap nyamuk jantan sehingga steril dan tidak mampu membuahi nyamuk betina. misalnya dengan mengeringkan genangan air yang menjadi sarang nyamuk. Dengan pengendalian secara biologis ini. Tindakan terhadap vector . misalnya memberi kawat nyamuk pada jendela dan jalan angin lainnya. sarang atau tempat berkembang biak serangga dimusnahkan. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk. Untuk mencegah terjadinya infeksi malaria terhadap pendatang yang berkunjung ke daerah malaria pemberian obat dilakukan setiap minggu. penurunan populasi nyamuk terjadi secara alami tanpa menimbulkan gangguan keseimbangan ekologi. Pada saat ini sudah dapat dibiakkan dan diproduksi secara komersial berbagai mikroorganisme yang merupakan parasit nyamuk. c. Pengobatan pencegahan tidak diberikan dalam waktu lebih dari 12-20 minggu dengan obat yang sama. mulai minum obat 1-2 minggu sebelum mengadakan perjalanan ke endemis malaria dan dilanjutkan setiap minggu selama dalam perjalanan atau tinggal di daerah endemis malaria dan selama 4 minggu setelah kembali dari daerah tersebut. Termasuk dalam pengendalian ini adalah mengurangi kontak nyamuk dengan manusia.

riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemis malaria. riwayat tinggal di daerah endemis malaria. muntah. Karena nyamuk An. aconitus adalah nyamuk yang senangi menyukai darah binatang (ternak) sebagai sumber mendapatkan darah. Pencarian penderita malaria Pencarian secara aktif melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita malaria dengan dilakukan pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis (mikroskopis dan/atau RDT (Rapid Diagnosis Test)) dan secara pasif dengan cara malakukan pencatatan dan pelaporan kunjungan kasus malaria. Dengan ditemukannya berbagai jenis bahan kimiayang bersifat sebagai pembunuh serangga yang dapat diproduksi secara besar-besaran. diare. riwayat sakit malaria. aconitus yaitu dengan menempatkan kandang ternak diluar rumah (bukan dibawah kolong dekat dengan rumah). mual. b. Diagnosa dini . menggigil. babi. Gejala Klinis Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesis yang tepat dari penderita tentang keluhan utama (demam. riwayat minum obat malaria satu 55 . . Pencegahan Sekunder a. dan nyeri otot atau pegal-pegal). kerbau. berkeringat dan dapat disertai sakit kepala. Pengendalian secara kimiawi Pengendalaian secara kimiawi adalah pengendalian serangga mengunakan insektisida. Pengendalian nyamuk dewasa dapat dilakukan oleh masyarakat yang memiliki temak lembu. maka pengendalian serangga secara kimiawi berkembang pesat. untuk itu ternak dapat digunakan sebagai tameng untuk melindungi orang dari serangan An.

dan Melfoquine. bulan terakhir. eritrosit dan trombosit. malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. riwayat mendapat transfusi darah. EKG (Electrokardiograff).5 °C)  Anemia  Pembesaran limpa (splenomegali) atau hati (hepatomegali) . c. bahan ini sangat beracun tetapi dapat menekan pertumbuhan protozoa dalam darah. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah. Saat ini ada tiga jenis obat anti malaria. yaitu Chloroquine. Rapid Diagnostic Test) . hematokrit. Sejak 1638. Pemeriksaan Laboratorium  Pemeriksaan mikroskopis  Tes Diagnostik Cepat (RDT. Pengobatan harus dilakukan 24 jam sesudah terlihat adanya gejala. Pengobatan spesifik untuk semua tipe malaria: 56 . Doxycyline. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup. malaria diobati dengan ekstrak kulit tanaman cinchona. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan fisik berupa:  Demam (pengukuran dengan thermometer ≥37. jumlah leukosit. dan pemeriksaan lainnya. meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin. Tanpa pengobatan yang tepat akan dapat mengakibatkan kematian penderita. Pengobatan yang tepat dan adekuat Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain. pemeriksaan foto toraks. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita.

Primaquine tidak dianjurkan pemberiannya bagi orang yang terkena infeksi malaria bukan oleh gigitan nyamuk (sebagai contoh karena transfusi darah) oleh karena dengan cara penularan infeksi malaria seperti ini tidak ada fase hati. Untuk mencegah adanya infeksi ulang karena digigit nyamuk yang mengandung malaria P. ovale yang masih sensitif terhadap obat tersebut. . Pengobatan untuk mereka yang terinfeksi malaria adalah dengan menggunakan chloroquine terhadap P. . falciparum yang didapat di daerah dimana ditemukan strain yang resisten terhadap chloroquine. 57 . vivax. . Untuk pengobatan infeksi malaria P. Prinsip penanganan malaria berat: . Untuk infeksi malaria P. pengobatan dilakukan dengan memberikan quinine. ovale berikan pengobatan dengan primaquine. falciparum. Penanganan akibat lanjut dari komplikasi malaria Kematian pada malaria pada umumnya disebabkan oleh malaria berat karena infeksi P. falciparum. malariae dan P. vivax dan P. vivax yang terjadi di Papua New Guinea atau Irian Jaya (Indonesia) digunakan mefloquine. Untuk pengobatan darurat bagi orang dewasa yang terinfeksi malaria dengan komplikasi berat atau untuk orang yang tidak memungkinkan diberikan obat peroral dapat diberikan obat Quinine dihydrochloride. Pemberian obat malaria yang efektif sedini mungkin . Penanganan kegagalan organ seperti tindakan dialisis terhadap gangguan fungsi ginjal. pemasangan ventilator pada gagal napas. Pencegahan Tertier a. . Manifestasi malaria berat dapat bervariasi dari kelainan kesadaran sampai gangguan fungsi organ tertentu dan gangguan metabolisme. . P. Tindakan suportif berupa pemberian cairan serta pemantauan tanda vital untuk mencegah memburuknya fungsi organ vital. P. .

b. Rehabilitasi mental/ psikologis

Pemulihan kondisi penderita malaria,memberikan dukungan moril kepada penderita dan
keluarga di dalam pemulihan dari penyakit malaria, melaksanakan rujukan pada penderita
yang memerlukan pelayanan tingkat lanjut.

58

II. DEMAM

Definisi

International Union of Physiological Sciences Commission for Thermal Physiology
mendefinisikan demam sebagai suatu keadaan peningkatan suhu inti, yang sering (tetapi
tidak seharusnya) merupakan bagian dari respons pertahanan organisme multiselular (host)
terhadap invasi mikroorganisme atau benda mati yang patogenik atau dianggap asing oleh
host. El-Rahdi dan kawan-kawan mendefinisikan demam (pireksia) dari segi patofisiologis
dan klinis. Secara patofisiologis demam adalah peningkatan thermoregulatory set point
dari pusat hipotalamus yang diperantarai oleh interleukin 1 (IL-1). Sedangkan secara klinis
demam adalah peningkatan suhu tubuh 1OC atau lebih besar di atas nilai rerata suhu normal
di tempat pencatatan. Sebagai respons terhadap perubahan set point ini, terjadi proses aktif
untuk mencapai set point yang baru. Hal ini dicapai secara fisiologis dengan
meminimalkan pelepasan panas dan memproduksi panas.

Pola Demam

Pola Demam Penyakit

Kontinyu Demam tifoid, malaria falciparum malignan

Remitten Sebagian besar penyakit virus dan bakteri

Intermiten Malaria, limfoma, endocarditis

Hektik atau septic Penyakit Kawasaki, infeksi pyogenic

Quotidian Malaria karena P.vivax

Double quotidian Kala azar, arthritis gonococcal, juvenile rheumathoid
arthritis, beberapa drug fever (contoh karbamazepin)

Relapsing atau periodic Malaria tertiana atau kuartana, brucellosis

Demam rekuren Familial Mediterranean fever

Demam Kontinyu

59

Demam kontinyu (Gambar 1) atau sustained fever ditandai oleh peningkatan suhu tubuh
yang menetap dengan fluktuasi maksimal 0,4OC selama periode 24 jam. Fluktuasi diurnal
suhu normal biasanya tidak terjadi atau tidak signifikan.

Gambar 1. Pola demam pada demam tifoid (memperlihatkan bradikardi relatif)

Demam Remiten

Demam remiten ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak mencapai normal
dengan fluktuasi melebihi 0,5OC per 24 jam. Pola ini merupakan tipe demam yang paling
sering ditemukan dalam praktek pediatri dan tidak spesifik untuk penyakit tertentu
(Gambar 2). Variasi diurnal biasanya terjadi, khususnya bila demam disebabkan oleh
proses infeksi.

Gambar 2. Demam remiten

Demam Intermiten

Pada demam intermiten suhu kembali normal setiap hari, umumnya pada pagi hari, dan
puncaknya pada siang hari (Gambar 3). Pola ini merupakan jenis demam terbanyak kedua
yang ditemukan di praktek klinis.

60

disebabkan oleh P. kemudian secara perlahan turun menjadi normal.Gambar 3. Gambar 4. Demam Quotidian Ganda Demam quotidian ganda (Gambar 4) memiliki dua puncak dalam 12 jam (siklus 12 jam). Vivax. ditandai dengan paroksisme demam yang terjadi setiap hari. Demam Quotidian Demam quotidian. 61 . Demam quotidian Undulant Fever Undulant fever menggambarkan peningkatan suhu secara perlahan dan menetap tinggi selama beberapa hari. Demam intermiten Demam Septik/ Hektik Demam septik atau hektik terjadi saat demam remiten atau intermiten menunjukkan perbedaan antara puncak dan titik terendah suhu yang sangat besar.

kuartana bila demam terjadi setiap hari ke-4) (Gambar 5) dan brucellosis. Contoh yang dapat dilihat adalah malaria (istilah tertiana digunakan bila demam terjadi setiap hari ke-3. danAfrican hemorrhagic fever (Marburg. demam kuning. atausaddleback fever). demam dengue. dan demam Lassa). contohnya lebih dari 10 hari untuk infeksi saluran nafas atas. Pola demam malaria 62 . Gambaran bifasik juga khas untuk leptospirosis. Demam Bifasik Demam bifasik menunjukkan satu penyakit dengan 2 episode demam yang berbeda (camelback fever pattern. beberapa minggu atau beberapa bulan suhu normal. Poliomielitis merupakan contoh klasik dari pola demam ini. spirillary rat-bite fever (Spirillum minus).Prolonged Fever Demam lama (prolonged fever) menggambarkan satu penyakit dengan lama demam melebihi yang diharapkan untuk penyakitnya. Demam Rekuren Demam rekuren adalah demam yang timbul kembali dengan interval irregular pada satu penyakit yang melibatkan organ yang sama (contohnya traktus urinarius) atau sistem organ multipel. Colorado tick fever. Relapsing Fever dan Demam Periodik  Demam Periodik Demam periodik ditandai oleh episode demam berulang dengan interval regular atau irregular. Tiap episode diikuti satu sampai beberapa hari. Gambar 5. Ebola.

Lyme disease. Pola demam Borreliosis (pola demam relapsing) Penyakit ini ditandai oleh demam tinggi mendadak. sugestif untuk LH.Hanya sedikit pasien dengan penyakit Hodgkin mengalami pola ini. Gejala bervariasi dari demam ringan dan fatigue sampai reaksi anafilaktik full-blown.Gejala penyerta meliputi myalgia. yang berulang secara tiba-tiba berlangsung selama 3 – 6 hari. Relapsing Fever Relapsing fever adalah istilah yang biasa dipakai untuk demam rekuren yang disebabkan oleh sejumlah spesies Borrelia (Gambar 6) dan ditularkan oleh kutu (louse-borne RF) atau tick (tick-borne RF).Pola terdiri dari episode rekuren dari demam yang berlangsung 3 – 10 hari.JHR sangat sering ditemukan setelah mengobati pasien syphillis. yang umumnya mengikuti pengobatan antibiotik. Gambar 6. digambarkan oleh Pel dan Ebstein pada 1887. dan perubahan kesadaran.Penyebab jenis demam ini mungkin berhubungan dengan destruksi jaringan atau berhubungan dengan anemia hemolitik. pada awalnya dipikirkan khas untuk limfoma Hodgkin (LH). sakit kepala.5OC pada louse-borne.Resolusi tiap episode demam dapat disertai Jarish- Herxheimer reaction (JHR) selama beberapa jam (6 – 8 jam). tetapi bila ada.Reaksi ini lebih jarang terlihat pada kasus leptospirosis.6OC pada tick-borne fever dan 39. Demam Pel-Ebstein (Gambar 7). Suhu maksimal dapat mencapai 40. dan brucellosis. nyeri perut. diikuti oleh periode afebril dalam durasi yang serupa. diikuti oleh periode bebas demam dengan durasi yang hampir sama. 63 .Reaksi ini disebabkan oleh pelepasan endotoxin saat organisme dihancurkan oleh antibiotik.

atau kronis. Klasifikasi Demam Klasifikasi demam diperlukan dalam melakukan pendekatan berbasis masalah. dan dengan atau tanpa localizing signs. Tiga kelompok utama demam yang dijumpai pada praktek pediatrik: Klasifikasi Penyebab tersering Lama demam (pada umumnya) Demam dengan localizing Infeksi saluran nafas atas <1 minggu signs Demam tanpa localizing Infeksi virus. tidak ada interaksi dengan pemeriksa atau orang tua. infeksi saluran <1minggu signs kemih Fever of unknown origin Infeksi. yang dapat localization didiagnosis setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik Demam tanpa Penyakit demam akut tanpa penyebab demam yang jelas setelah localization anamnesis dan pemeriksaan fisik Letargi Kontak mata tidak ada atau buruk. Pola demam penyakit Hodgkin (pola Pel-Ebstein). demam dapat dibedakan atas akut. tidak tertarik dengan sekitarnya 64 . Untuk kepentingan diagnostik. subakut.Gambar 7. juvenile idiopathic >1 minggu arthritis Definisi istilah yang digunakan: Istilah Definisi Demam dengan Penyakit demam akut dengan fokus infeksi.

yang dapat mengancam jiwa. perfusi buruk. septikemia menunjukkan adanya invasi bakteri ke jaringan. Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dan dipastikan dengan pemeriksaan sederhana seperti pemeriksaan foto rontgen dada. Penyebab tersering adalah infeksi virus. Infeksi seperti ini harus dipikirkan hanya setelah menyingkirkan infeksi saluran kemih dan bakteremia. infeksi saluran kemih. baik karena mereda secara spontan atau karena pengobatan spesifik seperti pemberian antibiotik. terutama terjadi selama beberapa tahun pertama kehidupan. infeksi tulang dan sendi. enteritis. Demam tanpa localizing signs umumnya memiliki awitan akut. dan merupakan sebuah dilema diagnostik yang sering dihadapi oleh dokter anak dalam merawat anak berusia kurang dari 36 bulan. pneumonia Bakteremia dan Bakteremia menunjukkan adanya bakteri dalam darah. menyebabkan hipoperfusi jaringan dan disfungsi organ Demam dengan localizing signs Penyakit demam yang paling sering ditemukan pada praktek pediatrik berada pada kategori ini. Persistent Pyrexia of Unknown Origin (PUO) Istilah ini biasanya digunakan bila demam tanpa localizing signs bertahan selama 1 minggu dimana dalam kurun waktu tersebut evaluasi di rumah sakit gagal mendeteksi penyebabnya. septikemia dibuktikan dengan biakan darah yang positif. Demam tanpa localizing signs Sekitar 20% dari keseluruhan episode demam menunjukkan tidak ditemukannya localizing signs pada saat terjadi. Demam biasanya berlangsung singkat. cyanosis. Persistent pyrexia of unknown origin. atau lebih dikenal sebagai fever of 65 . berlangsung kurang dari 1 minggu. Contohnya adalah meningitis. hipo atau hiperventilasi Infeksi bakteri serius Menandakan penyakit yang serius. Toxic appearance Gejala klinis yang ditandai dengan letargi. sepsis.

vivax dalam hati Mengeluarkan merozoit Fagositosis dan filtrasi Tertangkap oleh RES Lolos Plasmodium Menginvasi RBC dan mengeluarkan berkembang antigen GP1 RBC pecah dan merozoit Merangsang makrofag masuk ke sirkulasi mengeluarkan pirogen Merozoit menginvasi Dikirim ke hipotalamus RBC Demam turun dan berkeringat G. Bepergian ke daerah Dina. vivax P. Terinfeksi P. unknown origin (FUO) didefinisikan sebagai demam yang berlangsung selama minimal 3 minggu dan tidak ada kepastian diagnosis setelah investigasi 1 minggu di rumah sakit. 10 tahun endemis malaria (Bangka) tanpa mengkonsumsi profilaksis. Kerangka Konsep Pengeluaran RBC yang terinfeksi asam arakidonat Limpa Hemolisis di Sitoadherens Sintesis PGI2 Sintesis prostaglandin memfagosit sirkulasi dan sekuensi PGE2 ↑ RBC terinfeksi Gangguan Nyeri dan non infeksi eritropoiesis Anoksia jaringan Set point suhu tubuh ↑ Splenomegali Anemia Demam Vasokontriksi pembuluh darah Hepatomegali 66 Vasodilatasi Menggigil Berkeringat .

H. Kesimpulan Dina. seorang anak perempuan berusia 10 tahun mengalami demam intermitten dan menggigil selama 6 hari akibat malaria vivax et causa Plasmodium vivax. 67 .

Siti.h. 2009. Powel KR.. Diakses pada tanggal 23 Agustus 2016). Cunha BA. A. DAFTAR PUSTAKA Arsin. Edisi ke-18. penyunting.pdf? sequence=1. El-Radhi AS.N. The clinical significance of fever patterns. penyunting. Hurst JW. 2007. Edisi ke-4. Dalam: Setiati.unhas.1990.h.318-73. Boyce TG.. Klein N. P. Dalam: El-Radhi SA. Stanton BF. Dalam: Kliegman RM. Abbas A. Dalam: Walker HK. Fever.1-24.W. physical. Inf Dis Clin North Am 1996. Harijanto. Temperature. 68 . Dalam: Fisher RG. Jenson HB. Edisi ke-3.id/bitstream/handle/123456789/3109/malaria_layout.Sudoyo. Interna Publishing.ac. Clinical manual of fever in children. Tinjauan Aspek Epidemiologi Malaria Di Indonesia. Clinical methods: The history. Berlin: Springer-Verlag. Jakarta. Hall WD. Alwi. :Butterworths.10:33- 44. 2012. 2014. Edisi ke-9. Fisher RG. Andi Arsunan. Carroll J. New York: Lippincott William & Wilkins. Philadelphia: Saunders Elsevier. penyunting. 2005. and laboratory examinations. dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI (halaman 595-612). I. Nelson textbook of pediatrics. Malaria. Fever and shock syndrome. (http://repository.990-3.h. Moffet’s Pediatric infectious diseases: A problem-oriented approach. Boyce TG. Klein N. Fever. Del Bene VE.h. Behrman RE. penyunting. Indonesia. Carroll J.

. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2009. M.Sudoyo. Setiati. Alwi. Setiyohadi. Indonesia. Woodward TE.1997. Philadelphia: Lippincott- Raven. I. Simadibrata. penyunting.215-36 69 .. Edisi ke-2. Interna Publishing Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam. The fever patterns as a diagnosis aid.. Jakarta. Fever: Basic mechanisms and management. S.h. B. AW. Dalam: Mackowick PA. Hal 2815-2816.