Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN
PETERNAK AYAM PETELUR MELAKUKAN VAKSINASI:
STUDI KASUS DI PROVINSI JAWA BARAT DAN BALI
(Factors Influencing Layer Farmers Decision to Conduct Vaccination:
Case Study in West Java and Bali Provinces)
SRI HERY SUSILOWATI

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Jl. A Yani 70, Bogor

ABSTRACT

Vaccination is one of activities adopted by layer farmers to prevent Avian Influenza (AI). Many factors
contribute on influencing farmers decision to conduct vaccination. The objectives of this paper are: (1) to
describe characteristics of layer poultry farmers and farms in West Java and Bali provinces; (2) to analyze
factors influencing farmers decision to conduct AI vaccination; (3) to give policy recommendation for
improving biosecurity and vaccination implementation of layer poultry farm. Survey was conducted on sector
3 layer farms at West Java and Bali provinces. Results indicated that factors: education, farming experiences,
size and farm capacity significantly influenced farmers decision to conduct vaccination. To improve farmer
participation on vaccination and biosecurity program for preventing AI disease, therefore, training and
education program relating to AI should consider: farmer education level, on farm biosecurity actions
implementation and farm characteristics particularly for small scale farms.
Key Words: Biosecurity, Vaccination, Layer Farm

ABSTRAK

Vaksinasi adalah salah satu kegiatan yang diadopsi oleh peternak ayam untuk pencegahan penyakit flu
burung. Berbagai faktor diduga mempengaruhi keputusan peternak melakukan vaksinasi flu burung. Tujuan
makalah ini adalah: (1) mendeskripsikan karakteristik peternak dan peternakan ayam petelur di provinsi Jawa
Barat dan Bali; (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan peternak ayam petelur
melakukan vaksinasi flu burung dan (3) menyajikan saran kebijakan untuk peningkatan penerapan biosecurity
umumnya dan vaksinasi flu burung khususnya oleh peternak ayam petelur. Metodologi penelitian melalui
survei terhadap peternak ayam petelur sektor 3 di Provinsi Jawa Barat dan Bali. Hasil analisis menunjukkan
bahwa faktor-faktor yang secara statistik nyata mempengaruhi peluang peternak ayam petelur melakukan
vaksinasi flu burung adalah pendidikan, pengalaman beternak, ukuran dan kapasitas peternakan. Untuk
meningkatkan partisipasi vaksinasi dan biosecurity yang berkaitan dengan penyakit flu burung, maka
program-program pelatihan dan pendidikan terkait dengan upaya pengendalian flu burung harus
mempertimbangkan tingkat pendidikan rumahtangga peternak, tindakan biosecurity yang sudah dipraktekkan
serta karakteristik peternakan, khususnya untuk peternak skala kecil.
Kata Kunci: Biosecurity, Vaksinasi, Peternakan Ayam Petelur

PENDAHULUAN ancaman berbagai penyakit yang
dikhawatirkan akan menurunkan kinerja
Dalam menghadapi fenomena perubahan subsektor peternakan. Terkait dengan ancaman
iklim yang saat ini sedang terjadi, sub sektor penyakit, yaitu munculnya berbagai penyakit
peternakan dihadapkan pada dua permasalahan unggas di kawasan budidaya perunggasan,
serius yang perlu diatasi. Dua permasalahan seperti: Newcastle Disease (ND), Chronic
tersebut adalah terganggunya ketersediaan Respiratory Disease (CRD), AI (Avian
bahan baku pakan karena penurunan produksi Influenza/flu burung) dan beberapa jenis
baik di tingkat nasional maupun global, serta penyakit unggas lainnya. Namun dampak

779

Pengumpulan data tahun 2003 sampai 2006 telah mengakibatkan dilakukan dengan cara wawancara kerugian ekonomi yang relatif besar bagi usaha menggunakan kuesioner. peternak Bali sebanyak 60 orang. e(∑βj xj + βo) Namun. diperlukan (PATRICK. tujuan diprediksi dari jumlah tahun menempuh penulisan makalah ini adalah: (1) pendidikan formal (tahun) Mendeskripsikan karakteristik peternak dan X3: Lama pengalaman beternak (tahun) peternakan ayam petelur di Jawa Barat dan X4: Peubah dummy mengalami serangan flu Bali. persen usaha ternak ayam menghentikan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi usahanya pada tahun 2005. Dampak flu burung keputusan peternak ayam petelur melakukan baik secara langsung maupun tidak langsung vaksinasi flu burung digunakan Model Regresi telah mengakibatkan produksi ayam turun 60 Logistik. dalam hal ini melakukan vaksinasi atau tidak Selama periode 2003 – 2006 telah melakukan vaksinasi) merupakan suatu binary dimusnahkan 11 juta ekor ayam dan sekitar 60 outcomes (HELBE. 1-p kurangnya pemahaman peternak. 2009). 2009). persen pada tahun 2005 (YUSDJA et al. X8: Total kapasitas peternakan (ekor) (unit) 780 . Oleh karena itu. X2: Tingkat pendidikan kepala keluarga. merupakan bagian dari hasil penelitian Cost- belajar dari pengalaman terdahulu. Berdasarkan latar belakang tersebut. model tidak semuanya direspon secara baik oleh Logistik pada penelitian ini dapat masyarakat peternak. Keputusan untuk peternakan khususnya usaha peternakan skala melakukan atau tidak melakukan sesuatu (yang kecil dan usaha rumah potong skala kecil. Metode Wabah flu burung yang pernah terjadi penelitian adalah survei. yaitu effective biosecurity for non-industrial merebaknya wabah flu burung yang pernah commercial poultry operations in Indonesia menyerang industry perunggasan. atau faktor ……………………………………………………………………………. 1 Terdapat sembilan strategi pengendalian flu Pr (y = 1 | xj ) = -(∑βj xj + βo) burung termasuk vaksinasi dan biosecurity 1+e (DITJEN BINA PRODUKSI PETERNAKAN. 1: tidak) mempengaruhi keputusan peternak ayam X5: Luas areal peternakan (m2) petelur melakukan vaksinasi flu burung dan (3) X6: Jumlah peternakan yang dikelola peternak Menyajikan saran kebijakan untuk peningkatan (unit) penerapan vaksinasi flu burung oleh peternak X7: Jumlah kandang (unit) ayam petelur. Banyak faktor yang dipresentasikan sebagai berikut: mempengaruhi apakah peternak akan melakukan vaksinasi terhadap unggas mereka. 2009). p = β0 + β1 X1 + …+ β11 X11 Logit (p) = Log diantaranya karena pertimbangan ekonomi. Jumlah dampak buruk perubahan iklim pada industri responden peternak Jawa Barat 41 orang dan perunggasan. 2009) Penelitian dilaksanakan pada langkah-langkah antisipasi dan upaya tahun 2009 di Provinsi Jawa Barat dan Bali peningkatan kewaspadaan untuk mengurangi pada peternak ayam petelur sektor tiga. Misalkan p adalah probabilitas peternak Program vaksinasi adalah salah satu melakukan vaksinasi yang dipresentasikan program yang diadopsi oleh peternak ayam sebagai: untuk mengendalikan penyakit flu burung Pr (yj ≠ 0 | xj ) = Pr (y = 1 | xj ) maka bentuk sedangkan biosecurity adalah pertahanan umum model Logistik dapat dituliskan sebagai: utama dalam mencegah masuknya penyakit.(2) teknis lainnya terkait dengan kondisi X1: Umur kepala keluarga (tahun) peternakan. seringkali program-program = ……… (1) pengendalian wabah flu burung (termasuk 1 + e(∑βj xj + βo) vaksinasi) yang dipromosikan oleh pemerintah Dalam bentuk yang lebih sederhana. Data yang digunakan dalam penulisan ini Dihadapkan kepada kondisi yang demikian. (2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang burung (0: ya. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 perubahan iklim terhadap penyebaran penyakit MATERI DAN METODE pada ternak seringkali kurang memperoleh perhatian secara serius (ILRI. 2004)...

3 penyakit flu burung.7 kecamatan. Namun sebaliknya Tidak sekolah (%) 0.2 faktor yang berasal dari individu peternak ayam (tahun) maupun faktor eksternal. (3) lama pengalaman beternak serta (4) intensitas Tingkat partisipasi terhadap vaksinasi keterlibatan KK pada kegiatan peternakan ayam (Tabel 2).0 burung relatif lebih rendah.2 Tingkat partisipasi peternak di Bali dalam melakukan vaksinasi jenis ND dan Gumboro Pendidikan rata-rata 11. Sumber: Data primer diolah faktor yang berpotensi mempengaruhi peluang petani melakukan vaksinasi flu burung. tingkat partisipasi vaksinasi flu Perguruan tinggi (%) 29.7 14. Umur (tahun) 43. Vaksinasi adalah salah satu tindakan untuk mengendalikan wabah flu burung. 2009 melakukan vaksinasi.8 10.4 26.7 terhadap probabilitas tidak melakukan Vaksinasi Gumboro (%) 65. Dibandingkan SLTA (%) 36. baik di peternakan sendiri maupun dalam lingkup desa maupun Paruh waktu 24.0 tinggi di Jawa Barat.1 60. HASIL DAN PEMBAHASAN (2) pendidikan kepala rumahtangga (KK). 781 .8 98. sedangkan sebagai Sumber: Data primer diolah peubah dependent adalah peubah dummy (0: melakukan vaksinasi flu burung dan 1: tidak melakukan vaksinasi flu burung) yang Karakteristik peternak merupakan respon dan persepsi peternak terhadap pertanyaan ”apakah melakukan Karakteristik rumahtangga yang diduga vaksinasi flu burung”.6 73. Hampir Tabel 2.1 10. Vaksinasi flu burung 73.0 Peubah X1 sampai dengan X11 merupakan (HPAI) (%) peubah independent. Faktor-faktor tersebut Keterlibatan KK di antara lain karakteristik peternak.0 80.7 dengan dua vaksinasi lain.3 vaksinasi. baik Pengalaman beternak 9. Karakteristik peternak ayam petelur di seluruh peternak yang disurvei mengaku Provinsi Jawa Barat dan Bali.3 tingkat partisipasi vaksinasi flu burung lebih SD (%) 24. yakni rasio antara Melakukan vaksinasi (%) 100 100 1-p probabilitas melakukan vaksinasi Vaksinasi ND (%) 96.0 8. vaksinasi Jawa Barat Bali Gumboro dan vaksinasi HPAI (flu burung). 2009 raya (m) Provinsi X11: Jarak terdekat dengan peternakan lain (m) Uraian βj : koefisien parameter yang akan diestimasi Jawa Barat Bali p = Odds ratio. serta pengalaman terkena serangan Sepenuhnya 75. yaitu ND dan Gumboro.0 melakukan vaksinasi flu burung.5 (tahun) secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan peternak di Jawa Barat. Tingkat partisipasi vaksinasi oleh km (unit) peternakan ayam petelur di Jawa Barat dan X10: Jarak peternakan terdekat dengan jalan Bali. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 X9 : Jumlah peternakan lainnya dalam radius 1 Tabel 1. Pekerjaan utama 85. Tidak semua peternak SLTP (%) 9. mempengaruhi keputusan peternak melakukan vaksinasi flu burung adalah: (1) umur kepala keluarga sebagai pengelola utama peternakan.6 26.0 Berbagai faktor diduga mempengaruhi sebagai peternak (%) keputusan petani melakukan vaksinasi. Jenis-jenis vaksinasi yang dilakukan peternak sesuai dengan informasi Provinsi Uraian yang diberikan adalah vaksinasi ND.7 43. karakteristik peternakan (%): peternakan.4 30. Berikut adalah deskripsi faktor.3 25.1 96.

Seringkali tidak semua peternak fokus terhadap apa yang dialami di peternakan pada usaha peternakan saja melainkan mereka sendiri. Karakteristik peternakan flu burung pada kondisi yang ada. untuk melakukan vaksinasi semakin besar 9. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 Umur diduga mempengaruhi vaksinasi flu memiliki usaha lain sehingga keterlibatan pada burung terkait dengan kematangan peternak usaha ternak dapat bersifat penuh atau hanya dalam mengambil keputusan. SLTA dan dan kapasitas peternakan. memutuskan kegiatan vaksinasi flu burung. luas peternakan. SD dan SLTP.2 Bali terhadap faktor risiko jalan raya dan tahun sementara peternak Jawa Barat 9. Peternakan yang dekat tingkat SLTA dan 25% Perguruan Tinggi dan dengan faktor risiko (misalnya jalan raya.5 – 30 tahun. meskipun peternakan baik dengan belajar sendiri apabila dilihat jumlah peternakan yang dikelola (learning by doing) ataupun belajar dari oleh setiap peternak di Bali lebih banyak pengalaman peternak lain maupun melalui dibandingkan di Jawa.3 adalah kepala keluarga. Rata-rata lama lebih besar. masih ada peternak yang tidak pernah perumahan. peternakan. Rata-rata umur kepala keluarga peternak berkisar 40 sampai 44 tahun. kemudian investasi besar akibat serangan penyakit. Umur tertua Karakteristik peternakan adalah 65 tahun dan termuda 19 tahun. Pendidikan merupakan faktor penting Karakteristik peternakan yang diduga dalam mempengaruhi peternak melakukan berpengaruh terhadap peluang melakukan vaksinasi flu burung. Sedangkan Sementara lokasi peternakan juga diduga untuk peternak di Bali.0% tingkat SD. Dirinci menurut jenjang pendidikan. masing-masing sebesar mempengaruhi keputusan petani melakukan 30. Ukuran dan kapasitas pendidikan peternak di Jawa Barat 11. pengalaman banyak dibandingkan di Jawa.6 usaha ternak oleh rumahtangga pada umumnya persen peternak contoh di Jawa dan 73. diduga peluang Perguruan Tinggi masing-masing sebesar 24. Demikian pula jarak peternakan di pengalaman berternak bagi peternak Bali 14. atau peternakan lain) akan bersekolah sebanyak 8. Rata-rata lama terhadap faktor risiko.4.7% kegiatan vaksinasi. yang didengar atau diketahui 782 . Semakin besar ukuran berpendidikan tingkat SD.1 tahun peternakan meliputi total jumlah peternakan dan di Bali 10. 10% tingkat SLTP.3%.8. Perguruan Tinggi. Semakin tinggi vaksinasi flu burung karena terkait dengan pendidikan. Pelaku utama paruh waktu. 26. Bali pada kisaran 3 sampai 44 tahun dan di Jawa pada kisaran 0. yang peternak ayam petelur di Bali lebih lama kesemuanya merupakan faktor risiko yang dibanding peternak di Jawa. Lama ayam petelur seperti pada Tabel 3. diduga semakin tinggi pemahaman faktor risiko terkena serangan penyakit adalah akan pentingnya biosecurity vaksinasi untuk ukuran dan kapasitas serta lokasi peternakan mencegah penyakit flu burung. Sebaran lama pengalaman berternak di potensi terkena penyakit juga semakin besar. Dengan demikian sebagian karena peternak tidak ingin kehilangan besar peternak berpendidikan SLTA. Secara rata-rata. SLTP. pengalaman berternak membuka peluang bagi Secara umum kapasitas peternakan di Jawa peternak untuk belajar cara mengelola Barat lebih besar dibandingkan Bali. Jumlah peternak ayam kursus-kursus formal yang dilakukan oleh komersial dalam radius 1 km di Bali jauh lebih instansi terkait.3%.6 dan 29. Secara rataan sebanyak 75.5 tahun atau setara dengan tingkat yang dikelola.7 peternakan lain juga lebih dekat sehingga tahun. Dengan demikian kepala persen di Bali terlibat secara penuh pada usaha keluarga memegang peran penting dalam peternakan mereka (Tabel 2). total dan rata-rata distribusi peternak di Jawa Barat yang kapasitas peternakan. jumlah kandang di tiap SLTA. 36. memiliki peluang semakin besar terkena Semakin berpengalaman berternak diduga penyebaran penyakit dan hal ini merupakan akan semakin memiliki keputusan yang faktor yang mempengaruhi keputusan peternak dipandang tepat perlunya melakukan vaksinasi melakukan vaksinasi. Pengalaman pada penyakit flu burung Intensitas keterlibatan KK di peternakan juga berpengaruh terhadap keputusan peternak Informasi mengenai pengalaman flu burung melakukan kegiatan vaksinasi pada peternakan diperoleh dengan menjaring persepsi peternak mereka.

Jawa Barat Bali Jumlah peternakan 1.15 1.5 Tidak semua faktor yang berpotensi peternakan (m2) mempengaruhi peluang peternak melakukan Total kapasitas 40. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 Tabel 3.08 Dalam kecamatan 34.13 26. Hasil analisis menggunakan Rata-rata kapasitas 2.1 21.3 1.982.9 (farm) Faktor-faktor yang mempengaruhi peluang melakukan vaksinasi flu burung Jumlah kandang 17. Peternak yang mengalami terkena kapasitas peternakan (berpengaruh positif).07 Sumber: Data primer diolah 783 .9 11. atau di tingkat wilayah peternakan (berpengaruh negatif) dan total kecamatan. yang mengalami wabah flu burung 2009 Wilayah wabah Jawa Barat Bali Flu Burung Mengalami (%) Frekuensi wabah Mengalami (%) Frekuensi wabah Di peternakan 17. hanya tiga peubah secara statistik Jarak peternakan ke 90.5 101.9 berpengaruh nyata. Sedangkan untuk provinsi Bali.09 50.778.8 Model Logistik menunjukkan bahwa peluang kandang (ekor) peternak ayam petelur melakukan vaksinasi flu Jumlah peternakan 3. peubah yang Jarak ke peternakan 291. di tingkat desa Provinsi maupun di tingkat kecamatan rata-rata terjadi Uraian hanya sekali.606. kecamatan.5 terdekat (m) kandang (berpengaruh positif) (Tabel 5).6 Luas keseluruhan 19.00 1. Frekuensi serangan flu burung di petelur di Provinsi Jawa Barat dan Bali. Jawa Barat dan Bali yang dialami peternak 2009 baik di peternakan sendiri. dan jumlah Jarak ke jalan raya 206 79.06 Dalam desa 29. Jumlah peternakan ayam petelur di Provinsi Jawa Barat dan Bali.1 2. Uji serangan flu burung di peternakan sendiri kebaikan model menunjukkan peubah penjelas diduga akan memiliki respon yang lebih tinggi cukup mampu menjelaskan peluang untuk dalam melakukan vaksinasi dibandingkan melakukan vaksinasi flu burung yang dapat dengan peternak yang hanya mengetahui dilihat dari nilai Pr > Chi-Square yang serangan flu burung pada tingkat desa atau signifikan dengan P < 0. total luas areal terjadi di lingkup desa.00 1. yaitu lama pengalaman rumah terdekat (m) beternak (berpengaruh positif).4 burung di Jawa Barat menunjukkan bahwa dari ayam komersial beberapa peubah yang dimasukkan dalam dalam radius 1 km model. 05.402.67 1.925.0 9. total luas areal peternakan (pengaruh negatif).599.13 45.07 1.3 vaksinasi flu burung memiliki pengaruh nyata peternakan (ekor) secara statistik.7 secara statistik memiliki pengaruh nyata dalam lain terdekat (m) mempengaruhi peluang peternak melakukan Sumber: Data primer diolah vaksinasi adalah peubah pendidikan (berpengaruh positif).27 1. Demikian pula pengalaman flu semakin banyak jumlah kandang akan semakin burung yang hanya di dengar atau diketahui besar peluang peternak melakukan vaksinasi terjadi di tingkat desa maupun wilayah Tabel 4.2 68. Persentase peternak di Bali yang Interpretasi tanda peubah yang berpengaruh mengalami flu burung di peternakan sendiri nyata tersebut memberikan makna bahwa lebih tinggi dibandingkan dengan di Jawa semakin lama pengalaman beternak dan Barat (Tabel 4).4 1. Karakteristik usaha peternakan ayam kecamatan.

00115 0.00171 0.3143 Jarak terdekat dengan peternakan lain (m) -0. Hasil dalam rangka pencegahan terhadap serangan kajian YUSDJA et al. Semakin melakukan vaksinasi flu burung lebih banyak banyak jumlah kandang dan kapasitas terjadi di kalangan peternak dengan tingkat peternakan. Artinya bahwa setiap peningkatan vaksinasi flu burung adalah sebagai berikut.000 0. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 Tabel 5. Hal ini kemungkinan Pendidikan memiliki pengaruh nyata positif terkait dengan keterbatasan pengelolaan untuk terhadap peluang peternak melakukan melakukan vaksinasi khususnya bagi vaksinasi flu burung untuk kasus Provinsi Bali peternakan yang lokasinya relatif tersebar atau (Tabel 6).1432 1.002 0.188 0. 1: tidak) 0. Odds ratio pada peubah pendidikan adalah Interpretasi tanda dan besaran parameter sebesar 1.13.160 0.2044 1.00012 1.134 lebih besar dibandingkan dengan peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap nilai Odds ratio pada peubah total kapasitas peluang peternak ayam petelur melakukan peternakan. Hal ini vaksinasi flu burung akan semakin besar. 2009 Koefisien Odds ratio Pr > Chi square Peubah parameter Karakteristik peternak: Umur (tahun) -0.0519** Jumlah peternakan (unit) -2.00192 1.0991* Mengalami flu burung (0: ya. 784 .000 0.5786 Jumlah peternakan radius 1 km (unit) 0.1342 1. satu satuan tingkat pendidikan maka peluang Sebagai contoh untuk peubah lama melakukan vaksinasi terhadap tidak melakukan pengalaman beternak.3919 Jarak terdekat dengan jalan raya (m) 0.154 0.1172 Jumlah kandang (unit) 0.1482 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan peternak ayam petelur melakukan vaksinasi flu burung di Provinsi Jawa Barat.999 0.819E-6 1. Sebaliknya semakin luas areal beternak meningkat satu satuan dan peubah peternakan yang dikelola (yang mengumpul di lain tetap.0888* Total kapasitas (ekor) 9. Bahkan apabila diperhatikan pada maka semakin berat dampak penyakit flu model. meningkat. jika lama pengalaman vaksinasi akan meningkat sebesar 0.1726 1.1987 Pengalaman berternak (tahun) 0. maka peluang peternak ayam petelur satu tempat yang sama atau bisa pula tersebar untuk melakukan vaksinasi akan meningkat di beberapa tempat yang berbeda) akan sebesar eksponensial dari nilai parameter menurunkan peluang peternak untuk peubah tersebut. untuk kasus peternak Jawa Barat. melakukan vaksinasi.070 0. nilai burung yang ditimbulkan.144 0.9673 Pendidikan (tahun) 0. (2009) menyebutkan penyakit juga akan semakin baik sehingga terdapat indikasi semakin padat populasi ayam peluang melakukan vaksinasi juga akan dan peternak dalam sebuah desa atau wilayah.3944 * Nyata pada tingkat 90 persen.227 0. Hal mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan ini terkait dengan pertimbangan dampak yang cukup tinggi memungkinkan pemahaman kerugian terhadap investasi yang telah pentingnya melakukan vaksinasi oleh peternak dikeluarkan pada usaha ternak tersebut.998 0.6572 0. ** Nyata pada tingkat 95 persen Sumber: Data primer diolah flu burung. Ini menunjukkan bahwa keputusan tidak mengumpul di satu areal. maka peluang peternak melakukan pendidikan yang lebih tinggi.6950 Karakteristik peternakan: Luas area peternakan (m2) -0.

000 0.0900* Jumlah peternakan radius 1 km (unit) 0.986 0.00055 0.8254 Jarak terdekat dengan jalan raya (m) 0. penelitian Cost-effective Biosecurity for Non- Namun faktor-faktor yang secara statistik nyata berpengaruh adalah tingkat pendidikan industrial Commercial Poultry Operations in peternak. khususnya untuk peternak unggas kecil. 1: tidak) 0. lama pengalaman beternak. Livestock and Poverty.4049 Karakteristik peternakan: Luas area peternakan (m2) -0. dan Tim Bali (Dr.041 0.0400 1. 656 p.4049 Mengalami flu burung (0: ya. ** Nyata pada tingkat 95 persen Sumber: Data primer diolah KESIMPULAN karakteristik peternakan. pengendalian dan dengan upaya pengendalian flu burung harus pemberantasan penyakit Avian Influenza. 2009.965 0.0563** Pengalaman berternak (tahun) 0. maka disimpulkan bahwa berbagai faktor diduga UCAPAN TERIMA KASIH berpengaruh terhadap peluang peternak ayam petelur melakukan vaksinasi flu burung. DITJEN BINA PRODUKSI PETERNAKAN. Ucapan terimakasih ditujukan kandang.503 0.00453 1. program pelatihan dan pendidikan terkait Pedoman pencegahan.5607 Pendidikan (tahun) 0.1956 Jarak terdekat dengan peternakan lain (m) -0. Oleh karena itu penyebaran informasi termasuk program. Ria Yusuf. Climate.0447** Jumlah peternakan (unit) -0.1432 Jumlah kandang (unit) 0.134 0. program vaksinasi harus disesuaikan dengan Challenges at the Inteface. dirancang untuk tujuan biosecurity maupun ILRI. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan peternak ayam petelur melakukan vaksinasi flu burung di Provinsi Bali. jumlah kandang dan kapasitas AH/2006/169.0400 0.1255 1. IGAA Ambarawati. baik yang terkait dengan karakteristik individu Data dan informasi yang digunakan dalam penulisan makalah ini merupakan bagian dari peternak maupun karakteristik peternakan.2643 * Nyata pada tingkat 90. mempertimbangkan tingkat pendidikan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. penyakit flu burung dipengaruhi oleh tingkat pendidikan peternak dan karakteristik peternakan dan praktek-praktek biosecurity DAFTAR PUSTAKA yang telah diterapkan selama ini.007 0. Program-program yang Chapman & Hall/CRC. Dari hasil analisis di atas. 2009 Koefisien Odds ratio Pr > Chi square Peubah Parameter karakteristik peternak: Umur (tahun) -0.00689 1.00168 0.998 0. Corporate Report 785 . Vaksinasi hanyalah salah satu cara kepada Dr. MS) atas kerjasamanya dalam Kegiatan vaksinasi untuk mengendalikan penelitian ini. total luas Indonesia melalui ACIAR Project peternakan.005 0.011 0.8803 Total kapasitas (m2) 0. J. Logistic Regression Models. peternak dan tindakan biosecurity yang sudah HELBE. dipraktekkan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 Tabel 6. Ian Patrick selaku Project Leader untuk mengendalikan penyakit flu burung. dan Ir. 2009. 2004.0143 0.999 0.00084 1.6864 0.0111 1.

atau H5N9? 2. Pengendalian wabah AI pada peternakan ayam skala kecil di Indonesia. 2009. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2011 2008-9. 2009. BASUNO dan NY. skala usaha dan luas kandang. E. ACIAR Project AH/2006/169. Cost-Effective Biosecurity For PSEKP dengan International Development for Non-Industrial Commercial Poultry Research Center. Institute. Tidak. Faktor apa yang paling dominan sehingga peternak memutuskan untuk memvaksinasi hewannya? 3. DISKUSI Pertanyaan: 1. atau H5N2. Apakah unsur kebijakan pemerintah juga dimasukkan dalam parameter penelitian ini? Jawaban: 1. Jenis vaksin AI apa yang dipakai pada penelitian ini. Pengalaman peternak. International Livestock Research YUSDJA. 3. Penulis tidak menanyakan ke peternak/responden jenis vaksin yang dipakai. 786 . Kerjasama Penelitian PATRICK. ILHAM. 2. Y. tingkat pendidikan.. Operations In Indonesia. apakah H5N1. I.