BAB I

PEDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan anatominya juga sangat rumit). Indera pendengaran
berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada
kemampuan mendengar.

Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara
adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi
karena kompresi pemampatan molekul-molekul udara yang berselang seling dengan
daerah-daerah bertekanan rendah karena penjarangan molekul tersebut. (Sherwood,
2001).
Saat ini, banyak gangguan yang dapat menyebabkan kesulitan dalam mendengar,
salah satunya adalah otitis maupun otosklerosis. Dalam penelitian, kelainan ini
terdapat pada masyarakat dalam jumlah yang signifikan. Otitis media sebenarnya
adalah diagnosa yang paling sering dijumpai pada anak – anak di bawah usia 15
tahun. Ada tiga jenis otitis media yang paling umum ditemukan di klinik, yaitu :
Otitis Media Akut, Otitis Media Serosa (Otitis media dengan efusi), Otitis Media
Kronik. Sedangkan Otosklerosis merupakan salah satu penyebab umum tuli konduktif
pada orang dewasa. Kelainan disebabkan karena gangguan autosomal dominan yang
terjadi pada wanita maupun pria.
Otosklerosis cukup lazim terjadi yaitu pada hampir dari 10% populasi. Namun
hanya presentase kecil yang kemudian bermanifestasi secara klinis sebagai gangguan
pendengaran.
Pengetahuan akan genetik dalam ketulian memberi harapan bagi berkembangnya
pengobatan baru, ada anggapan bahwa sebagian kasus tuli pada anak disebabkan oleh

1

mutasi gen tunggal, sedangkan sisanya oleh lingkungannya. (Brunner & Suddart,
2001)

2 Rumusan Masalah

1 Apa definisi dari Otitis dan Otosklerosis?
2 Apa saja klasifikasi dari Otitis?
3 Bagaimana manifestasi klinis Otitis dan Otosklerosis?
4 Bagaimana etiologi dari Otitis dan Otosklerosis?
5 Bagaimana patofisiologi Otitis dan Otosklerosis?
6 Bagaimana cara pemeriksaan diagnostik Otitis dan Otosklerosis?
7 Apa saja komplikasi dari Otitis dan Otosklerosis?
8 Bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan gangguan Otitis dan
Otosklerosis?
9 Bagaimana prognosis dari Otitis dan Otosklerosis?
10 Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan gangguan pendengaran (Otitis
dan Otosklerosis)?

3 Tujuan

1 Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan dapat memahami dan dapat memberi asuhan
keperawatan pada pasien Otitis dan Otosklerosis
2 Tujuan Khusus
a Mengetahui dan memahami definisi dari Otitis dan Otosklerosis
b Mengetahui dan memahami klasifikasi dari Otitis
c Mengetahui dan memahami manifestasi klinis Otitis dan Otosklerosis
d Mengetahui dan memahami etiologi Otitis dan Otosklerosis
e Mengetahui dan memahami patofisiologi dari Otitis dan Otosklerosis
f Mengetahui dan memahami cara pemeriksaan diagnostik Otitis dan
Otosklerosis
g Mengetahui dan memahami komplikasi dari Otitis dan Otosklerosis
h Mengetahui dan memahami penatalaksanaan pada klien dengan
gangguan Otitis dan Otosklerosis
i Mengetahui dan memahami prognosis dari Otitis dan Otosklerosis
j Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan pendengaran (Otitis dan Otosklerosis)

2

4 Manfaat
Setelah pembelajaran materi ini, mahasiswa keperawatan dapat memberikan
Asuhan Keperawatan yang baik dan benar bagi klien dengan gangguan pendengaran
yaitu Otitis dan Otosklerosis.

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Otitis

2.1.1 Definisi

Otitis berarti peradangan dari telinga. Otitis dibagi menjadi 2 jenis yaitu
otits eksterna dan otitis media. Otitis eksterna adalah proses inflamasi dari
saluran pendengaran eksternal (Robert Sander, 2001). Peradangan biasanya
disebabkan oleh infeksi. Otitis eksterna berarti peradangan hanya terbatas
pada bagian eksternal dari saluran telinga dan gendang telinga. Sedangkan
otitis media adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah.
Saat bakteri melalui saluran eustachius, bakteri bisa menyebabkan infeksi
saluran tersebut. Sehingga terjadilah pembengkakan di sekitar saluran,
mengakibatkan tersumbatnya saluran (Mansjoer, 2001: 76).

2.1.2 Klasifikasi

Ada 3 otitis eksterna, yaitu :

1. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel atau bisul)

2. Otitis Eksterna Difus

3. Otitis Ekterna Nekrotikans

Sedangkan otitis media ada 3 yang paling umum yaitu :

1. Otitis media akut

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh
periosteum telinga tengah.

4

2. Otitis media serosa

Otitis media serosa / efusi adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam
telinga tengah tanpa adanya tanda dan gejala infeksi aktif. Secara teori,
cairan ini sebagai akibat tekanan negative dalam telinga tengah yang
disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii.

3. Otitis media kronik

Otitis Media Kronik adalah peradangan kronik yang mengenai mukosa
dan struktur tulang di dalam kavum timpani.Otitis Media Kronik sendiri
adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan
biasanya disebabkan oleh episode berulang Otitis Media Akut yang tak
tertangani.

2.1.3 Etiologi

2.1.3.1 Otitis Eksterna
Otitis eksterna ini paling sering disebabkan oleh infeksi
(biasanya bakteri, meskipun kadang kadang jamur), tetapi juga dapat
dikaitkan dengan berbagai proses dermatologi sistemik atau lokal
menular (Robert Sander, 2001). Salah satu faktor predisposisi yang
paling umum adalah berenang, terutama di air tawar. Faktor-faktor lain
termasuk kondisi kulit seperti eksim dan seborrhea, trauma dari
penghapusan cerumen, penggunaan perangkat eksternal seperti alat
bantu dengar, dan cerumen ((Paul Schaefer & Reginald F. Baugh,
2012).
Penyebab Otitis Externa menurut (Suzanne Smeltzer, 2002)
adalah:
1. Infeksi bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus
aureus
2. Masuknya zat pada telinga

5

Hal ini dapat merusak kulit di saluran telinga dan menyebabkan peradangan. 3. Dermatosis seperti psoriasis. 2. Kulit yang meradang dapat dengan cepat menjadi terinfeksi. hipertrofi adenoid). Hal ini juga dapat menyebabkan gatal-gatal.2 Otitis Media A Penyebab utama 1 Bakteri Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya steril. Masuknya zat pada telinga dapat berupa air. Sinusitis. atau reaksi alergi (mis. Plaing sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas. atau dermatitis sebore Masalah kulit dapat mempengaruhi saluran telinga dan membuat kulit meradang 5.1. eczema. Sehingga bakteri dapat berkembang dalam kondisi ini dan infeksi dapat terjadi dengan mudah. sampo. Jamur seperti Aspergillus dan Candida 4. hairspray atau produk lainnya yang masuk ke dalam telinga memiliki efek yang sama dan mungkin lebih buruk.3. Rhinitis alergika). inflamasi jaringan disekitarnya (mis. hairspray atau produk lainnya. Bakteri yang umum 6 . karena bahan kimia dapat mengiritasi kulit sensitif kanal. Kotoran telinga yang berlebihan Hal ini dapat menyebabkan terjebaknya air dan puing-puing di liang telinga. Kemudian dapat menggores atau menyodok telinga. Masuknya air di telinga dapat menyebabkan kelembaban bagi kuman untuk tumbuh. Sedangkan sampo.

status imunologi. meningkatkan adhesi bakteri. kontak dengan anak lain. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada perforasi membrane timpani. Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus. ada beberapa faktor resiko yang dapat menjadikan seseorang terkena otitis media yaitu umur. yaitu respiratory syncytial virus (RSV). influenza virus. menganggu fungsi imun lokal. Cara masuk bakteri kebnayakan melalui tuba eustachii akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring. menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya (Kerschner. ditemukan sadalah Streptococcus pneumoniae. ras. jenis kelamin. infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas. abnormalitas kraniofasialis kongenital. faktor genetik. lingkungan merokok. inmatur tuba Eustachius dan lain- lain. B Faktor Resiko Selain penyebab utama. rhinovirus atau enterovirus. atau adenovirus (sebanyak 30-40%). dan Moraxella catarrhalis. Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius. 7 . asupan air susu ibu (ASI) atau susu formula. Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. 2002). 2007). Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Eksudat purulent biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan pendengaran konduktif (Suzanne Smeltzer. status sosioekonomi serta lingkungan. 2 Virus Virus juga merupakan penyebab OMA. Hemophylus influenza. disfungsi tuba Eustachius.

sistem pertahanan tubuh atau status imunologi anak juga masih rendah. anak-anak yang kurangnya asupan ASI banyak menderita OMA. Peningkatan insidens OMA pada bayi dan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak matang atau imatur tuba Eustachius.1. akan dibersihkan dan dikeluarkan dari gendang telinga melalui liang telinga. ASI dapat membantu dalam pertahanan tubuh. Selain itu. seperti kemiskinan. Faktor genetik juga berpengaruh. sehingga mendorong terjadinya OMA pada anak-anak. Dengan adanya riwayat kontak yang sering dengan anak-anak lain seperti di pusat penitipan anak-anak. 2. Masalah ini juga diperberat oleh adanya susunan anatomis berupa lekukan pada liang telinga. Lingkungan merokok menyebabkan anak- anak mengalami OMA yang lebih signifikan dibanding dengan anak-anak lain. Anak-anak pada ras Native American.4. termasuk serumen. Anak dengan adanya abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah terkena OMA karena fungsi tuba Eustachius turut terganggu.4 Patofisiologi 2. dan Indigenous Australian menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dibanding dengan ras lain. Oleh karena itu. insidens OMA juga meningkat. Cotton bud (pembersih kapas telinga) dapat mengganggu mekanisme pembersihan tersebut sehingga sel-sel kulit mati dan serumen akan menumpuk di sekitar gendang telinga. Insidens terjadinya otitis media pada anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan. sel-sel kulit yang mati. Status sosioekonomi juga berpengaruh.1 Otitis Eksterna Secara alami. dan pelayanan pengobatan terbatas. (Kerschner. 8 . anak mudah menderita penyakit telinga tengah. fasilitas higiene yang terbatas. Inuit. 2007). status nutrisi rendah. kepadatan penduduk.1.

Adanya faktor predisposisi otitis eksterna dapat menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang menimbulkan edema epitel skuamosa. 2012). terjadi inflamasi dan cairan eksudat. proses infeksi akan mengeluarkan cairan / nanah yang bisa menumpuk dalam liang telinga (meatus akustikus eksterna) sehingga hantaran suara akan terhalang dan terjadilah penurunan pendengaran (Amaliaturrahmah.4. akan mengaktivasi proses inflamasi kompleks dan terjadi efusi cairan ke 9 .2 Otitis Media Pathogenesis OMA pada sebagian besar anak-anak dimulai oleh infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau alergi. berikutnya infeksi lalu terjadi pembengkakan dan akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Bila keadaan demikian berlangsung lama akan menyebabkan refluks dan aspirasi virus atau bakteri dari nasofaring ke dalam telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kulit yang basah. Rasa gatal memicu terjadinya iritasi. Keadaan diatas dapat menimbulkan timbunan air yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau berenang. Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu lalu menimbulkan perubahan rasa nyaman dalam telinga.1. Jika terjadi gangguan akibat obstruksi tuba. sehingga terjadi sumbatan tekanan negatif pada telinga tengah. Tuba Eustachius menjadi sempit. sehingga terjadi kongesti dan edema pada mukosa saluran napas atas. Mukosa telinga tengah bergantung pada tuba Eustachius untuk mengatur proses ventilasi yang berkelanjutan dari nasofaring. lembab. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang memudahkan bakteri masuk melalui kulit. Selain itu. dan gelap pada liang telinga merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan jamur. termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. hangat. 2.

perndengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang. mengalami infeksi serta terjadi akumulasi sekret ditelinga tengah kemudian terjadi proliferasi mikroba patogen pada sekret. lalu timbul edema pada mukosa tuba serta akumulasi sekret di telinga tengah. sehingga mekanisme pembukaan tuba terganggu. 10 .tulang pendengaran tidak dapat bergerak bebas terhadap getaran.dalam telinga tengah. dan hipertrofi adenoid (Kerschner. Ini merupakan faktor pencetus terjadinya OMA dan otitis media dengan efusi. Selain itu. dimana proses inflamasi terjadi. Obstruksi tuba Eustachius dapat terjadi secara intraluminal dan ekstraluminal. 2007). sehingga menganggu pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. sitokin dan mediator-mediator inflamasi yang dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. Jika sekret dan pus bertambah banyak dari proses inflamasi lokal. Faktor intraluminal adalah seperti akibat ISPA. sebagian besar pasien dengan otitis media dihubungkan dengan riwayat fungsi abnormal dari tuba Eustachius. Akibat dari infeksi virus saluran pernapasan atas. Virus respiratori juga dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri. Bila tuba Eustachius tersumbat. drainase telinga tengah terganggu. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat merobek membran timpani akibat tekanannya yang meninggi (Kerschner. Faktor ekstraluminal seperti tumor. 2007).

2.5 WOC a Otitis Eksterna 11 .1.

b Otitis Media 12 .

7 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : a. Anoreksia. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. tidak bergerak pada otoskopi pneumatic (pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ). b. Otorrhea. dapat mengalami perforasi. Audiogram : tuli konduktif j. Tes laboratorium. Scan Galium-67 e. pemeriksaan kultur dan sensitifitas antibiotik. Keluhan nyeri telinga (otalgia). Limfadenopati servikal anterior. Kultur dan uji sensitifitas . dilakukan bila dilakukan timpanosentesis (Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani). i. sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat. 2. ketika cairan didalam telinga tengah. demam. bila terjadi rupture membrane tymphani. Membrane tymphani merah. Scan Tekhnetium-99 f. Tes audiometrik. CT-Scan tulang tengkorak d.6 Manifestasi Klinis Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat.1. Timpanogram : mengukur gerakan gendang telinga. gerakan gendang telinga akan terbatas 13 . memperlihatkan dan mendokumentasikan jumlah kehilangan pendengaran dan gangguan pada telinga luar. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani h. Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar g.1.2. c.

Memberikan asam asetat 2- 5% dalam alkohol 2%. Memberikan salep antibiotik misalnya polymixin B dan bacitracin. 14 . Otitis Eksterna Difus Membersihkan liang telinga dengan penghisap atau kapas dengan hati- hati. Kombinasi antibiotik dan kortikosteroid. Bahan anti jamur jika diindikasikan.8 Penatalaksanaan a. k. l. c. terutama menilai dari sisi gangguan dengar atau tuli konduktif yang mungkin berasosiasi dengan OME. Pasien dapat mencegah infeksi dengan menggunakan preparat antiseptik telinga sehabis berenang. Meski teknik ini time consuming dan membutuhkan peralatan yang mahal. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel atau bisul) Melakukan aspirasi steril untuk mengeluarkan nanah. Memberikan analgetik dan penenang. Pasien dilarang untuk berenang.Wool kambing atau kapas dapat diolesi jel yang tak larut air dan letakkan di telinga untuk mencegah kontaminasi air. dimana tuli konduktif berkisar antara derajat ringan hingga sedang. b.1. tetap digunakan sebagai skrining. Melakukan pada furunkel (bisul) yang berdinding tebal. Pure tone Audiometry: juga banyak digunakan. Pasang drain untuk mengalirkan nanah. Impedance audiometry (tympanometry): digunakan untuk mengukur perubahan impedans akustik sistem Membran timpani telinga tengah melalui perubahan tekanan udara di telinga luar. Pasang sumbu untuk menjaga kanalis tetap terbuka sehingga cairan obat dapat dimasukan bila edema. 2. Klien diingatkan untuk tidak membersihkan kanalis auditorius eksternus sendiri dengan lidi kapas. Otitis eksterna Pemberian analgetik selama 48-92 jam pertama.

biasanya perlu diresepkan preparat otik antibiotika. Asetat- nonakues 2%. f. Otitis Ekterna Nekrotikans Awalnya. Tetapi sejak ditemukannya aminoglikosida. otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. maka bisa dilakukan miringotomi dan dipasang tabung untuk menjaga telinga tengah 15 . neomisin. Ada tiga aspek dalam pengobatan otitis eksterna nekrotikans.Penilaian terhadap sekret. hidrokortison).) d. Otitis Media Serosa Otitis media serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis media akut). Otitis Media Akut Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung pada efektifitas efektivitas terapi (mis. Yang paling penting adalah mengontrol gula darah pada pasien diabetes mellitus. dan status fisik pasien. generasi ketiga Cephalosporin dan quinolon. beberapa ahli otologi mulai menggunakan teknik radikal sebagai pilihan terapi. hidrokortison). coli Mysin (kolistin. hidrokortison). neomisin. Bila terjadi pengeluaran cairan. dan membrana timpani dalam menggunakan alat dalam mengoleskan obat. penisilin sintetik. edema dinding kanalis. maka penggunaan antibiotik merupakan pilihan utama pengobatan. pembedahan merupakan pilihan utama untuk penanganan pasien dengan otitis eksterna nekrotikans. Bila kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan efusi telinga tengah menimbulkan masalah bagi pasien. pyocidin (polimiksin B. Pemilihan pengobatan lokal yang sering digunakan adalah Cortisporin (polimiksinB. hidrokortison). dan chloromycetin (kloramfenikol). Sejak teknik pembedahan pada dasar tulang tengkorak berkembang. virulensi bakteri. Dengan terapi antibiotika spectrum luas yang tepat dan awal. Dosis antibiotika oral yang diresepkan dan durasi terapi). vasol HC (as. e.

Peradangan otak kejang e Otitis Media Kronis 16 . Peradangan telinga tengah (otitis media) yang tidak diberi terapi secarabenar dan adekuat dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengahtermasuk ke otak. 2. maka mutlak harus dilakukan operasi. namun ini jarang terjadi setelah adanya pemberianantibiotik. Kerusakan pada syaraf VI dan VII. abses otak. tetap terventilasi. Otitis Media Kronis Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. terjadi infeksi pada insisi. tromboflebitis. Keseimbangan tubuh terganggu 5. menyebar ke labirin. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. meningitis. perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi.1. g. 2. Kortikosteroid dosis rendah kadang dapat mengurangi edema tuba eustachii pada kasus barotrauma. fasial nerve paralysis. d Otitis Media Akut 1. sinus lateralis. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Bila didiagnosis kolesteatom.9 Komplikasi c Otitis eksterna Akibat dari infeksi pada telinga bagian luar dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran. Kehilangan pendengaran permanen bila OMA tetap tidak ditangani 4. Mastoiditis 3.

OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. Menurut Nursiah. 17 . Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. OMK Benigna a.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). maka mutlak harus dilakukan operasi. 1. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. perubahan- perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor- faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. Bila didiagnosis kolesteatom. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. • Toilet telinga secara basah ( syringing). b. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi.

Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. Terramycin. polimiksin dan hidrokortison. Neomisin 3. Polimiksin B atau polimiksin E 2. Pemberian antibiotik sistemik 18 . Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. adalah tidak efektif. Kloramfenikol 3. Asidum borikum 2. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. Pemberian antibiotik topikal Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) 2. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. c. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b.

Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. 2. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Bila terjadi kegagalan pengobatan . Bila terdapat abses subperiosteal. baik tipe benigna atau maligna. 2001): • Mastoidektomi sederhana • Mastoidektomi radikal • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) • Miringoplasti • Timpanoplasti • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a Komplikasi Intratemporal . antara lain (Soepardi. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. 19 . Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. Perforasi membrane timpani.

4. . Anamnesa Data yang perlu dikumpulkan dari klien meliputi : 1 Identitas klien Merupakan biodata klien yang meliputi : nama. status 20 . Abses otak. . pendidikan. Petrositis. bahasa yang dipakai. pekerjaan. jenis kelamin. . c Komplikasi Intrakranial. . Labirinitis.1 Pengkajian a. Tromboflebitis. umur. b Komplikasi Ekstratemporal. Abses subperiosteal. . Empiema subdural/ ekstradural 2. Parese nervus fasialis. agama. . . .2 Asuhan Keperawatan Otitis 2. Hidrocephalus otikus. .suku bangsa/ ras. Mastoiditis akut.

bau. bagaimana kebiasaan membersihkan telinga.perkusi dan di daerah telinga. Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher · Dada / thorak · Jantung · Perut / abdomen 21 . 2) Riwayat kesehatan  Riwayat kesehatan dahulu Apakah ada kebiasaan berenang. b. keadaan lingkungan tenan. Seperti penjabaran dari riwayat adanya kelainan nyeri yang dirasakan. dan jumlah. Pemeriksaan Fisik  Keadaan umum klien · Kepala Lakukan Inspeksi.dengan menggunakan senter ataupun alat-alat lain nya apakah ada cairan yang keluar dari telinga. daerah polusi). dan diagnose medis.  Riwayat kesehatan sekarang Kaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa.apakah ada tanda-tanda radang. Alamat. berapa lama.bagaimana warna. daerah industri. apakah pernah menderita gangguan pendengaran (kapan. apakah riwayat pada anggota keluarga.  Riwayat kesehatan keluarga Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang sama. tanggal masuk rumah sakit. · Kaji adanya nyeri pada telinga · Leher.palpasi. Ada atau tidaknya riwayat infeksi saluran nafas atas yang berulang dan riwayat alergi pada keluarga. tanggal pengkajian. pengobatan apa yang dilakukan.

dan defekasi klien  Aktivitas sehari-hari dan perawatan diri Biasanya klien dengan gangguan otitis media ini. Pemeriksaan Diagnostik a) Tes Audiometri : AC menurun b) X ray : terhadap kondisi patologi c) Tes berbisik d) Tes garpu tala 2.4.apakah ada perbedaan konsumsi diit nya.  Eliminasi Kaji miksi.agak susah untk berkomunikasi dengan orang lain karena ada gangguan pada telinga nya sehingga ia kurang mendengar/kurang nyambung tentang apa yang di bicarakan orang lain c. · Genitourinaria · Ekstremitas · Sistem integumen · Sistem neurologi · Data pola kebiasaan sehari-hari  Nutrisi Bagaimana pola makan dan minum klien pada saat sehat dan sakit.2 Diagnosa Keperawatan 22 .

5. Berada di sisi klien dengan nyaman untuk meningkatkan berhubungan Status kenyamanan rasa aman dan dengan sumber sosiokultural: mengurangi daya tidak katakutan 1. neoplasma) 2.Pertahankan sikap dari keluarga yang tenang dan 2. Infeksi (00004). kecemasan 5. dapat hati-hati berinteraksi 3. Kenyamanan fisik(00132). Domain 12.4.. Nyeri akut b. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sumber daya tidak adekuat 3. dapat berekspresi spiritual klien optimisme dengan baik 23 .3 Intervensi keperawatan N Diagnosa NOC NIC o keperawatan 1 Domain 12. Kenyamanan fisik(0214).d agens cedera biologis (.Kurangi stimuli sosial dengan yang menciptakan orang lain perasaan takut 3. kelas 1. 1. infeksi. Gunakan komunikasi dengan teman. fisik tidak meyakinkan Kenyamanan terganggu 2. Pahami situasi krisis fisik(0214). Resiko infeksi 2.dapat posisi 3. Kenyamanan kelas 1. 4. Domain 12: kenyamanan. 3. Status kenyamanan: 1. kesejahteraan mengevaluasi psikologi kesejahteraan 3. mendapat adekuat dukunagn sosial 2. 2 dapat control yang terjadi dari Gangguan rasa terhadap gejala perspektif klien nyaman 1. Kenyamana/perlindungan. Gunakan alat untuk menghilang memantau dan 2. terapeutik dalam temanya membangun Status kenyamanan hubungan saling psikospiritual: percaya dan caring 1. Kelas 1. Gunakan pendekatan Kenyamanan 1 kesejahteraan yang tenang dan kelas 1. dapat maupun cemas berhubungan 4. Domain 11. iskemia.

dan 3. Bersihkan Keamanan/Perlindu informasi tentang lingkungan dengan ngan. Dapat Mencari 1. Tidak lagi pemberian obat mendesah 2. Tentukan kemampuan pasien untuk mengobati diri sendiri dengan cara yang tepat 3.2 Domain 12: Tingkat kecemasan: 1. 1. 2. takut kualitas. tegang sesuai dengan Kenyamanan 2. Tidak ada rasa karakteristik. Dapat Mengenali dengan protokol perubahan status institusi kesehatan 3. iskemia.. Pilih analgesik atau kombinasi analgesik yang sesuai ketika lebih dari satu diberikan 4. ketidaknyamanan: benar dalam neoplasma) 1.d agens 3. Ganti peralatan faktor resiko perawatan per individu pasien sesuai 4. Tentukan obat apa yang diperlukan dan kelola menurut resep dan/atau protokol 5. 1. Tidak ada keparahan nyeri ketegangan sebelum mengobati wajah pasien 3. Dapat Mengenali digunakan untuk Resiko infeksi faktor resiko setiap pasien 3. Ikuti prosedur lima infeksi. Kaji ulang riwayat 24 . Domain 11. Dapat mengambil keakuratan dan fisik(00132). 2. Pertahankan aturan kenyamanan. dingin obatan Tingkat 2. Tentukan lokasi. Kelas 1. Wajah tidak dan prosedur yang kelas 1. risko kesehatan baik setelah Infeksi (00004). Berkeringat pemberian obat- cedera biologis (. Dapat Memonitor 2. Nyeri keputusan keamanan akut b.

4 Implementasi No Diagnosa NIC Implementasi Keperawatan 1 Domain 12. Pahami situasi 2. 2. Mempertahankan yang tenang dan sikap yang tenang 25 . lingkungan dan perilaku serta hubungan timbal balik 2. Identifikasi resiko biologis. Memahami situasi Gangguan rasa krisis yang terjadi krisis yang terjadi nyaman dari perspektif dari perspektif klien klien berhubungan 3.4. Berada di sisi klien dengan sumber untuk untuk daya tidak meningkatkan rasa meningkatkan adekuat aman dan rasa aman dan mengurangi mengurangi katakutan katakutan 4. tenang dan tenang dan Kenyamanan meyakinkan meyakinkan fisik(0214). Gunakan 1. Pertahankan sikap 4. 1. diagnosa keperawatan serta perawatannya 4. Identifikasi adanya sumber-sumber agensi untuk membantu menurunkan faktor resiko 5. Berada di sisi klien 3. Menggunakan Kenyamanan pendekatan yang pendekatan yang kelas 1. kesehatan masa lalu dan dokumentasikan bukti yang menunjukan adanya penyakit medis.

aturan dan aturan dan kelas 1. dan mengobati pasien keparahan nyeri 4. Mengurangi yang menciptakan stimuli yang perasaan takut menciptakan maupun cemas perasaan takut 6. Kurangi stimuli 5. Pertahankan 1. Ikuti prosedur lima 2. iskemia. pemberian obat. Gunakan alat percaya dan untuk memantau caring dan mengevaluasi 7. Gunakan maupun cemas komunikasi 6. Mempertahankan kenyamanan. Nyeri keakuratan dan keakuratan dan akut b. Menggunakan terapeutik dalam komunikasi membangun terapeutik dalam hubungan saling membangun percaya dan caring hubungan saling 7. Pilih analgesik atau sebelum kombinasi mengobati pasien analgesik yang 4. Tentukan lokasi. sebelum kualitas. pemberian obat karakteristik.. Memilih analgesik sesuai ketika lebih atau kombinasi dari satu diberikan analgesik yang 5. Tentukan obat apa sesuai ketika lebih 26 . 2. Menggunakan alat kesejahteraan untuk memantau spiritual klien dan mengevaluasi dengan baik kesejahteraan spiritual klien dengan baik 2 Domain 12: 1. Mengikuti neoplasma) benar dalam prosedur lima pemberian obat benar dalam 3. prosedur yang prosedur yang Kenyamanan sesuai dengan sesuai dengan fisik(00132). 3.d agens keamanan keamanan cedera biologis (. hati-hati dan hati-hati 5. Menentukan kualitas. keparahan nyeri karakteristik. pemberian obat- obatan obatan infeksi. dan lokasi.

1. Mengidentifikasi perilaku serta resiko biologis. Bersihkan 1. 27 . Identifikasi adanya keperawatan serta sumber-sumber perawatannya agensi untuk 4. Kelas 1. Kaji ulang riwayat dengan protokol kesehatan masa institusi lalu dan 3. Menentukan obat resep dan/atau apa yang protokol diperlukan dan 6. Mengidentifikasi membantu adanya sumber- menurunkan faktor sumber agensi resiko untuk membantu 5. diagnosa 4. Domain 11. Tentukan kelola menurut kemampuan resep dan/atau pasien untuk protokol mengobati diri 6. digunakan untuk setelah digunakan Resiko infeksi setiap pasien untuk setiap 2. Menentukan sendiri dengan kemampuan cara yang tepat pasien untuk mengobati diri sendiri dengan cara yang tepat 3. faktor resiko lingkungan dan 5. diagnosa menunjukan keperawatan serta adanya penyakit perawatannya medis. Mengkaji ulang dokumentasikan riwayat kesehatan bukti yang masa lalu dan menunjukan dokumentasikan adanya penyakit bukti yang medis. yang diperlukan dari satu diberikan dan kelola menurut 5. Identifikasi resiko menurunkan biologis. Ganti peralatan pasien perawatan per 2. Mengganti pasien sesuai peralatan dengan protokol perawatan per institusi pasien sesuai 3. Membersihkan Keamanan/Perlindu lingkungan dengan lingkungan ngan. baik setelah dengan baik Infeksi (00004).

2001) Otosklerosis merupakan penyakit pada kapsul tulang labirin yang mengalami spongiosis (pertumbuhan tulang stapes berlebih yang berbentuk spon)di daerah kaki stapes.3.3 Otosklerosis 2. akibatnya tulang stapes tidak dapat menghantarkan suara sebagaimana mestinya.4. (Mediastore. Tak ada infeksi lokal atau CNS 2.5 Evaluasi 1.1 Definisi Otosklerosis adalah suatu penyakit pada tulang pada bagian telinga tengah khususnya pada stapes yang disebabkan pembentukan baru tulang spongiosus dan sekitar jendela ovalis sehingga dapat mengakibakan fiksasi pada stapes. (Elisty & Nurbaiti. Dapat mendengar dengan jelas tanpa atau menggunakan alat bantu pendengaran 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang 3. hubungan timbal lingkungan dan balik perilaku serta hubungan timbal balik 2. (Brunner & Sudart. 2001) Otosklerosis adalah suatu penyakit dimana tulang-tulang di sekitar telinga tengah dan telinga dalam tumbuh secara berlebihan sehingga menghalangi pergerakan tulang stapes (tulang telinga tengah yang menempel pada telinga dalam). sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke labirin dengan baik. 2004) 28 .

1 Genetika Pola herediter diakui sejauh ini adalah autosomal dominan. Beberapa hipotesis. virus. 2013). Otosklerosis dapat memburuk secara perlahan. sehingga menimbulkan hipotesis bahwa hormon seks 29 . menyebutkan bahwa faktor genetik. Otosklerosis dapat menyebabkan berbagai jenis gangguan pendengaran. penyakit kompleks dengan dua faktor dominan yaitu genetik dan lingkungan (Ylva Dahlin. 4 Hormonal dan faktor metabolik Otosklerosis klinis adalah dua kali lebih lazim pada wanita seperti dalam laki-laki.2 Etiologi Etiologi otosklerosis masih belum diketahui. 3 Reaksi autoimun dan peradangan Faktor etiologi lain yang mungkin adalah reaksi autoimun terhadap kolagen tipe II dalam kapsul otik (Ylva Dahlin. Arnold et al. Sekitar 50% dari individu dengan otosklerosis memiliki anggota keluarga yang terkena dampak otosklerosis (Ylva Dahlin. autoimun dan hormonal. 2. 2013). Dalam studi lain. yang terletak pada pintu masuk telinga dalam. 2 Virus Salah satu faktor lingkungan yang dihipotesiskan pada otosklerosis adalah persisten infeksi virus campak Paramyxovirus. tulang sanggurdi.3. rubella dan gondok (John Goudakos. Otokslerosis biasanya mengenai tulang terakhir dalam jalur pendengaran. 2009). berhubungan dengan otosklerosis. tergantung pada struktur telinga mana yang terkena. Kondisi ini tidak memerlukan perawatan sampai seseorang mengalami gangguan pendengaran yang berat. etiologi virus otosklerosis sebagai reaksi vaskular inflamasi diawali atau disebabkan oleh virus campak. 2013). Otosklerosis.

70 5. tulang normal kapsul otic secara bertahap diganti dengan tulang spons yang sangat vaskular. 2. 2016). RANKL) yang mengontrol perbaikan yang dihipotesiskan menjadi patogenesis molekuler lesi otosklerotik dimulai dengan perubahan dalam matriks ekstraselular diikuti oleh osteoklas dimediasi resorpsi tulang endochondral 2. Letak dari fokus otosklerotik adalah footplate stapes anterior (fissula ante fenestram. 30 . fokus aktif dan tidak aktif dari otosklerosis 3. Karena getaran tekanan suara tidak ditransmisikan ke cairan dari telinga bagian dalam. Dalam setiap tulang temporal diberikan. Fokus otosklerotik yang mengganggu pada endosteum koklea dapat menginduksi 7. 2016). Otosklerosis diduga mengakibatkan patologi akhir yang umum yang mempengaruhi lapisan endokhondral dari tulang temporal: 1. dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit (Ylva Dahlin. 90%) diikuti oleh putaran jendela niche (30%) dan kera koklea 6. Tulang spons ini melumpuhkan footplate dari stapes (tulang snggurdi) sehingga mengganggu konduksi getaran dari membran timpani dengan rumah siput. hialinisasi ligamen spiral yang berhubungan dengan gangguan pendengaran sensorineural (Theodore & Derald.3 Patofisiologi Pada otosklerosis. hasilnya adalah gangguan pendengaran konduktif. 2013). OPG. Perubahan dalam keseimbangan sitokin (misalnya. Jika telinga bagian dalam menjadi terlibat. mungkin ada 4. RANK.3. kehilangan pendengaran sensorineural dapat berkembang (Theodore & Derald.

31 .

hantaran bengkak/memb ko glombang ran timpani Infe bunyi Resiko Nyeri cidera akut Gendang Tinnitus Dema telinga m pecah/ro Intoleransi tinggi bek Tuli aktivitas kondukt if Hiperterm perforasi i Mual muntah Gg Citra Cairan Ketidakseimbangan 32 dari nutrisi: kurang meninggalk an rongga .3. 2.lapisan Efesiensi Dilakukan Ganguan mukosa di dlm transmisi pembedaha koklea tlinga n vestibularis Suara Stapesdekto Dizziness Penumpukan vestibular terhambat mi cairan karena dirongga stapes tdk Nye Vertilago bergetar ri Gendang telinga Resi akut Gg.4 WOC infeksi Keturunan/h Kelainan erediter kongenital Masuk ke Gen rongga autosom Pembentukan telinga dominan tulang monohibrid spospongiosium Terjadi OMA abnormal Terbentuknya tulang rawan Di jendela Tuba abnormal ovalis eustachius (spon) tersumbat Pendengaran terganggu Fiksasi pada stapes Per.

operasi dengan stapedektomi maupun stapedotomi dan alat bantudengar. Tinitus.3. Audiometri 2.6 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Gambaran membrane timpani yang kemerahan oleh karena terdapat pelebaran pembuluh darah promontium ( Schwarte’s sign). bunyi abnormal yang didengar penderita yang berasal dari dalam kepala.3. 2001) 2. 3. Hilangnya pendengaran secara progresif lambat 2. biasanya disebut juga telinga berdengung. Perforasi membran timpani 2. (Elisty & Nurbaiti.5 Manifestasi Klinis Tanda dan gejala otosklerosis : 1.3. Vertigo 4.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan otosklerosis secara medikamentosa dengan sodium floride dosis 30-60mg/hari salama 2 tahun. Sulit mendengar suara yang lembut dan nada rendah (tuli 30-40 db) 5. Fistula perilimf 33 . Pasien merasa pendengaran terdengar lebih baik dalam ruangan bising ( Paracusis Willisii ).3. 2.8 Komplikasi 1. Paralisis nervus fasialis 3.2. Radiologi 2. Hematotimpanum 4.

Beberapa berpendapat bahwa infeksi kronik measles di tulang merupakan predisposisi pasien untuk terkena otosklerosis. 1993) 2. Tuli sensorineural 6. Labirinitis 7. sensorineural atau campuran bilateral atau unilateral. Materi virus dapat ditemukan di osteoblas pada lesi sklerotik. Riwayat kesehatan sekarang Klien dengan atosklerosis menunjukkan tuli konduktif. 5. 4. Riwayat kesehatan Keluarga Otosklerosis biasanya dideskripsikan sebagai penyakit yang diturunkan secara autosomal dominant dengan penetrasi yang tidak lengkap (hanya berkisar 40%). Otitis media akut 2. 5. Derajat 34 .R.4 Asuhan Keperawatan Otitis 2. Riwayat kesehatan dahulu Klien pernah terpapar virus measles.4. Anamnesa.( Cody.  Biodata Klien Otosklerosis lebih sering pada wanita dari pada laki-laki dan sering mulainya tuli menyertai kehamilan atau tampak kehamilan mempercepat pemburukanya. 3. Keluhan Utama Klien mengeluh pendegarannya mulai berkurang secara bertahap dan terdapat sensasi tekanan atau rasa penuh ditelinga yang terkena.1 Pengkajian 1.

Pola Eliminasi . e. . 6. Muntah-muntah. . Adanya riwayat trauma sebelumya. c. g.Toleransi terhadap aktivitas rendah.Pengetahuan akan penyakitnya.Perubahan pola napas saat melakukan aktivitas. Penurunan berat badan. Pengkajian Bio-Psiko-Sos-Spiritual a.Sering berkeringat adanya adanya kesulitan dalam berkemih . . . Pola Persepsi Kesehatan . Pola Aktivitas dan Latihan .Pemenuhan sehari-hari terganggu.Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat.dari penetrasi berhubungan dengan distribusi dari lesi otosklerotik lesi pada kapsul tulang labirin. .Kesulitan tidur pada malam hari karena stres. b.Perasaan tidak percaya diri atau minder akibat penurunan 35 . f. d. Pola Tidur dan Istirahat . Pola Nutrisi Metabolik .Mimpi buruk. Pola Persepsi dan Konsep Diri . Pola Persepsi Kognitif .Tanyakan pola berkemih dan bowel.

Perasaan terisolasi. takut akan penyakitnya . Pola Sistem Kepercayaan . kelas 3 citra tubuh(00118) gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi kognitif 2.Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan. Domain 6: persepsi diri. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress . pendengaran.3 Intervensi keperawatan N Diagnosa NOC NIC o Keperawatan 36 . Pola Hubungan dengan Sesama . Termoregulasi(00006) hipertermia berhubungan dengan trauma 2. Pola Reproduksi Seksualitas . .Agama yang dianut 2.Frekuensi interaksi berkurang i. Domain 11: keamanan perlindungan.Hidup sendiri atau berkeluarga . gelisah k.Ansietas.2 Diagnosa Keperawatan 1.4. j. kelas 1.Perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah . Infeksi (00004) resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive 3.4. Domain 11: keamanan/perlindungan. kelas 6.Disorientasi..Emosi tidak stabil . h.

Kemerahan gunakan untuk infeksi menghilang setiap pasien berhubungan 4. Gunakan sabun anti microba 37 . Infeksi 2. Monitor asupan terganggu dan pengeluaran 2 Domain 11: 1. Cairan/ luka yang 1. Denyut nadi perubahan apical tidak cairan terganggu 4. Bersihkan keamanan berbau busuk lingkunahan perlindungan. Tentukan faktor 3. Ganti peralatan alergi perawatan per dengan prosedur 5. Peningkatan suhu badan kulit tidak 5. Tidak merasa jenis Termoregulasi(000 merinding saat intake/asupan 06) hipertermia dingin cairan serta berhubungan 2. Anjurkan psien mengenai tekhnik mencuci tangan dengan tepat 5. Kestabilan suhu setelah di (00004) resiko 3. Domain 11: Status kenyamanan 1. tidak ada dengan baik kelas 1. Monitor berat 2. Interakasi pasien sesuai invasive pengobatan protocol institusii 3. Tingkat resiko yang pernapasan tidak mungkin terganggu menyebabkan 4.1. Tentukan apakah terganggu klien mengalami Tanda tanda vital kehausan/gejala 1. Tentukan keamanan/perlindu fisik: jumalah dan ngan. Tidak kebiasaan dengan trauma berkeringat saat eliminasi panas 2. 1. kelas 6. Ajarkan cara cuci tangan bagi tenaga kesehatan 4. Sakit otot tidak 3. Tidak ada reaksi 2. Sakit kepala ketidakseimbang tidak terganggu an cairan 5.

Berikan objek terhadap yang menunjukan perubahan tubuh perasaan aman akibat 4. Identifikasi pada akibat cedera saat terjadi operubahan tingkat kecemasan 6. pembedahan puji/kuatrkan 5. Penyesuaian 3. Domain 11: 1. Tentukan 1.4. kelas 3 citra fungsi tubuh pendekatan yang tubuh(00118) 2. Guanakan diri. Pakai sarung tangan steril dengan tepat 3. Penyesuaian tenang dan gangguan citra terhadap meyakinkan tubuh tampilan fisik 2. jenis intake/asupan Termoregulasi(0000 intake/asupan cairan serta cairan serta kebiasaan 38 . Berikan aktivitas pengganti yang bertujuan untuk mengurangi tekanan 2. Penyesuaian jelas harapan dengan perubahan terhadap fngsi terhadap prilaku tubuh klien fungsi kognitif 4. untuk cuci tangan yang sesuai 6. Kepuasan dengan 1.4 Implementasi N Diagnosa NIC Implementasi o Keperawatan 1. Domain 6: persepsi 1. Penyesuain prilaku yang baik terhadap secra tepat perubahan tubuh 5. kelas 6. Menentukan keamanan/perlindun jumalah dan jumalah dan jenis gan. Dengarkan klien. Nyatakan dengan berhubungan 3.

Anjurkan psien kesehatan mengenai 4. kelas dengan baik dengan baik 1. Tentukan apakah apakah klien klien mengalami mengalami kehausan/gejala kehausan/gejala perubahan perubahan cairan cairan 4. Menentukan dengan trauma 2. Bersihkan 1. Monitor berat badan badan 5. Membersihkan keamanan lingkunahan lingkunahan perlindungan. Mengganti perawatan per peralatan invasive pasien sesuai perawatan per protocol institusii pasien sesuai 3. Memakai sarung dengan tepat tangan steril 39 . Monitor asupan asupan dan dan pengeluaran pengeluaran 2 Domain 11: 1. Infeksi (00004) setelah di setelah di resiko infeksi gunakan untuk gunakan untuk berhubungan setiap pasien setiap pasien dengan prosedur 2. 6) hipertermia kebiasaan eliminasi berhubungan eliminasi 2. Memonitor berat 4. Tentukan faktor faktor resiko yang resiko yang mungkin mungkin menyebabkan menyebabkan ketidakseimbang ketidakseimbang an cairan an cairan 3. Ganti peralatan 2. Pakai sarung sesuai tangan steril 6. Menganjurkan tekhnik mencuci psien mengenai tangan dengan tekhnik mencuci tepat tangan dengan 5. Menentukan 3. Mengajarkan tenaga cara cuci tangan kesehatan bagi tenaga 4. Ajarkan cara cuci protocol institusii tangan bagi 3. Gunakan sabun tepat anti microba 5. Memonitor 5. Menggunakan untuk cuci sabun anti tangan yang microba untuk sesuai cuci tangan yang 6.

Pasien dapat mendengar dengan baik 2.5 Evaluasi 1. Guanakan 1. perasaan aman puji/kuatrkan 4. Mengidentifikasi tingkat pada saat terjadi kecemasan operubahan 6. secra tepat puji/kuatrkan 5. Memberikan mengurangi aktivitas tekanan pengganti yang bertujuan untuk mengurangi tekanan 2. Memberikan menunjukan objek yang perasaan aman menunjukan 4. Berikan aktivitas tingkat pengganti yang kecemasan bertujuan untuk 6. Mendengarkan prilaku yang baik klien.4. Domain 6: persepsi 1. Menyatakan dengan perubahan jelas harapan dengan jelas fungsi kognitif terhadap prilaku harapan klien terhadap prilaku 3. Berikan objek klien yang 3. Menunjukkan tak ada tanda-tanda infeksi. kelas 3 citra pendekatan yang pendekatan yang tubuh(00118) tenang dan tenang dan gangguan citra meyakinkan meyakinkan tubuh berhubungan 2. Nyatakan dengan 2. Mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi 3. Identifikasi pada prilaku yang baik saat terjadi secra tepat operubahan 5. Dengarkan klien. 40 . Mengguanakan diri. dengan tepat 3.

41 .

HR: 110x / menit. 3. RR: 20x/menit . Orangtua pasien mengatakan anaknya memiliki riwayat batuk dan pilek yang sering berulang dan dua hari terakhir tiba-tiba keluar cairan bening dari telinga kiri dengan konsistensi kenyal dan tidak bau. terdapat edema dan serumen kental pada MAE serta terdapat perforasi pada membrane timpani telinga kanan. karena klien kadang tidak nyambung bila diajak berbicara dengan suara yang rendah. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KASUS 3.2 Pengkajian A Anamnesa 1 Identitas pasien Nama : An. A Usia : 10 tahun Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Status perkawinan : belum menikah MRS : 23-11-2016 Tanggal pengkajian : 24-11-1016 Diagnosa masuk : otitis media akut 2 Keluhan utama 42 . A berusia 10 tahun masuk di ruang perawatan THT tanggal 23 oktober 2016. dengan keluhan keluar cairan putih dari telinga kanan yang disertai dengan demam dan nyeri telinga. Keluarga pasien mengatakan harus bebicara dengan nada tinggi pada klien. tes rinne (-). Wajah klien tampak kemerahan. didapatkan nyeri pada pergerakan aurikula. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik. nyeri yang dirasakan klien skala 7 (1-10). tes weber: lateralisasi kekanan dan pada tes bisik pasien tidak dapat mendengarkan suara berfrekuensi rendah. Klien mengatakan tidak percaya diri dengan tubuhnya saat ini. S: 39ºC. TTV: TD=120/80mmHg. Diagnosa medis otitis media akut.1 Kasus An.

Wajah klien tampak kemerahan 4 Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan memiliki riwayat batuk dan pilek yang sering berulang 5 Riwayat Penyakit Keluarga Tidak dijelaskan dalam kasus B Pemeriksaan fisik 1 TTV: TD=120/80 mmHg. Klien mengatakan tidak percaya diri dengan tubuhnya saat ini. Klien mengeluh demam dan nyeri telinga 3 Riwayat Kesehatan Sekarang Keluhan keluar cairan putih dari telinga kanan yang disertai dengan demam dan nyeri telinga. nadi 110x/menit (takikardi) 4 B3 (Brain) : Klien kadang tidak nyambung bila diajak berbicara dengan suara yang rendah. T=39oC 2 B1 (Breathing) : RR 20x/menit (Normal) 3 B2 (Blood) : Tekanan darah 120/80 mmHg (normal). RR=20x/menit. HR=110x/menit. 5 B4 (Bladder) : Normal 6 B5 (Bowel) : Normal 7 B6 (Bone) : Nyeri pada pergerakan aurikula C Pemeriksaan Penunjang 1 Tes Rinne= (-) 2 Tes Weber= lateralisasi kekanan dan pada tes bisik pasien tidak dapat mendengarkan suara berfrekuensi rendah 43 . Orangtua pasien mengatakan anaknya memiliki riwayat batuk dan pilek yang sering berulang dan dua hari terakhir tiba- tiba keluar cairan bening dari telinga kiri dengan konsistensi kenyal dan tidak bau.

DS: Akumulasi cairan Gangguan Citra Tubuh Klien mengeluh keluar cairan putih 44 . tes weber: lateralisasi kekanan dan pada tes Nyeri akut bisik pasien tidak dapat mendengarkan suara berfrekuensi rendah 3. DS: Invasi bakteri Hipertermia Klien mengeluh demam DO: Merangsang terjadinya proses endogen Wajah klien tampak kemerahan TTV: TD=120/80mmHg. RR: 20x/menit .3 Analisa data No Data Etiologi Masalah keperawatan 1. tes rinne (-). HR: 110x/ menit. S: 39ºC Dihantarkan ke hipotalamus bagian termoregulator Hipertermia 2. DS: Invasi bakteri Nyeri Akut Klien mengeluh nyeri pada telinga kanan Infeksi telinga tengah DO: Poses peradangan Didapatkan nyeri pada pergerakan aurikula. 3.

Kenyamanan Fisik. 2 Tidak ada suhu 45 .4 Diagnosa keperawatan: 1 Domain 11: Keamanan/Perlindungan.5 Intervensi keperawtan No Diagnosa NOC NIC . Kenyamanan. tes rinne (-). Kelas 6. Termoregulasi. Kelas 3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit (00118) 3. tes weber: Gangguan citra tubuh lateralisasi kekanan dan pada tes bisik pasien tidak dapat mendengarkan suara berfrekuensi rendah 3. Citra Tubuh. Kelas 6. 1 Tidak ada 1 Pantau suhu dan ttv Hipertermia -peningkatan suhu lainnya berhubungan dengan kulit 2 Monitor warna kulit dan penyakit (00007). Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera biologis (00132) 3 Domain 6: Persepsi Diri. Hipertermia berhubungan dengan penyakit (00007) 2 Domain 12. Domain 11: a Termoregulasi a Perawatan demam Keamanan/Perlindungan (0800) (3740) . dari telinga kanan Ruptur membrane timpani karena Klien mengatakan tidak percaya diri desakan dengan tubuhnya saat ini DO: Keluarnya cairan putih Terdapat edema dan serumen kental dari telinga pada MAE serta terdapat perforasi pada membrane timpani telinga kanan. Termoregulasi. keperawatan 1. kelas 1.

5oC) kebutuhan 2 Denyut jantung 2 Monitor tekanan darah. sesuai 3 Denyut nadi radial kebutuhan c Keparahan infeksi 3 Sesuaikan suhu (0703) lingkungan untuk 1 Tidak ada kebutuhan pasien kemerahan 4 Berikan medikasi yang 2 Tidak ada cairan tepat untuk mencegah atau (luka) yang berbau mengontrol menggigil busuk c Kontrol infeksi (6540) 3 Tidak ada demam 1 Dorong untuk beristirahat 4 Tidak ada nyeri 2 Anjurkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada penyedia perawatan kesehatan 3 Ajarkan pasien dan keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi 2. 3 Mengenali apa yang intensitas atau beratnya Batasan karakteristik: terkait dengan nyeri dan faktor pencetus gejala nyeri 2 Gunakan strategi 1 Keluhan tentang 4 Melaporkan nyeri komunikasi terapeutik intensitas yang terkontrol untuk mengetahui menggunakan b Tingkat nyeri pengalaman nyeri dan standar skla nyeri (2102) sampaikan penerimaan 2 Perubahan 46 . sadari perubahan 1 Takikardi tidak terganggu kehilangan cairan yang 2 Kulit kemerahan 4 Denyut jantung tidak dirasakan apical tidak 4 Dorong konsumsi cairan terganggu b Pengaturan suhu (3900) b TTV (0802) 1 Monitor suhu paling tidak 1 Suhu tubuh normal setiap 2 jam. kualitas. Nyeri akut nyeri terjadi meliputi lokasi. Domain 12. (1605) 1 Lakukan pengkajian nyeri Kenyamanan Fisik 1 Mengenali kapan komprehensif yang (00132). sesuai (36-37. berhubungan dengan 2 Menggambarkan karakteristik. Batasan karakteristik: hipertermia 3 Monitor asupan dan 3 Denyut nadi radial keluaran. faktor penyebab frekuensi. kelas 1. onset/durasi. agens cidera biologis. apical normal nadi dan respirasi. a Kontrol nyeri a Manajemen nyeri (1400) Kenyamanan.

1 Deskripsi bagian tubuh Gangguan citra tubuh tubuh yang terkena 1 Bantu pasien untuk berhubungan dengan (dampak) konsisten mendiskusikan penyakit (00118). Citra Tubuh. suhu. 3 Monitor keberadaan dan kualitas nadi. a Citra tubuh (1200) a Peningkatan citra Kelas 3. positif perubahan-perubahan 2 Kepuasan dengan (bagian tubuh) Batasan karakteristik: fungsi tubuh disebabkan adanya konsistensi positif penyakit atau 1 Gangguan fungsi 3 Kepuasan dengan pembedahan. 4 Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan tanda-tanda vital. dan status pernapasan dengan tepat. parameter 1 Tidak ada nyeri pasien terhadap nyeri fisiologis yang dilaporkan 3 Ajarkan penggunaan 2 tidak ada teknik non farmakologi panjangnya episode 4 Ajarkan metode nyeri farmakologi untuk 3 Denyut nadi radial menurunkan nyeri normal b Pengurangan kecemasan c Tanda-tanda vital (5820) (0802) 1 Berada di sisi klien untuk 1 Suhu tubuh (5) meningkatkan rasa aman 2 Tekanan nadi (5) dan mengurangi ketakutan 2 Berikan aktivitas pengganti yang bertujuan untuk mengurangi tekanan 3 Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi 4 Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan c Monitor TTV (6680) 1 Monitor tekanan darah. nadi. 2 Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipotermia dan hipertermia. Domain 6: Persepsi Diri. 3. dengan tubuh fungsi tubuh cara yang tepat 2 Gangguan konsistensi positif 2 Bantu pasien untuk struktur tubuh 47 .

negative tentang 5 Penyesuaian cedera. 1 Pantau suhu dan ttv 1 Memantau suhu dan ttv 48 .6 Implenemtasi No Diagnosa NIC Implementasi . Kelas 6. 3 Menolak 4 Penyesuaian mendiskusikan stressor menerima terhadap perubahan yang mempengaruhi perubahan tampilan fisik citra diri terkait dengan 4 Perasaaan konsistensi positif kondisi kongenital. atau tubuh terhadap perubahan pembedahan fungsi tubuh 3 Identifikasi strategi- konsistensi positif strategi penggunaan b Tingkat rasa takut koping oleh orangtua (1210) dalam berespon terhadap 1 Tidak ada distress perubahan anak 2 Tidak ada b Pengurangan kekurangan kecemasan kepercayaan diri 1 Berada di sisi klien 3 Tidak ada untuk meningkatkan verbalisasi rasa rasa aman dan takut mengurangi ketakutan 4 Tidak menarik diri 2 Berikan aktivitas 5 Tidak ada ketakutan pengganti yang bertujuan untuk mengurangi tekanan 3 Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi 4 Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan 3. keperawatan 1. penyakit. Termoregulasi. Domain 11: a Perawatan demam a Perawatan demam Keamanan/Perlindungan (3740) (3740) .

nadi dan respirasi. a Manajemen nyeri a Manajemen nyeri 49 . Hipertermia lainnya lainnya berhubungan dengan 2 Monitor warna kulit 2 Memantau warna kulit penyakit (00007). tidak setiap 2 jam. sesuai kebutuhan kebutuhan 3 Sesuaikan suhu 3 Menyesuaikan suhu lingkungan untuk lingkungan untuk kebutuhan pasien kebutuhan pasien 4 Berikan medikasi 4 Memberikan medikasi yang tepat untuk yang tepat untuk mencegah atau mencegah atau mengontrol mengontrol menggigil menggigil c Kontrol infeksi (6540) c Kontrol infeksi 1 Mendorong untuk (6540) beristirahat 1 Dorong untuk 2 Menganjurkan pasien beristirahat dan keluarga mengenai 2 Anjurkan pasien dan tanda dan gejala infeksi keluarga mengenai dan kapan harus tanda dan gejala melaporkannya kepada infeksi dan kapan penyedia perawatan harus kesehatan melaporkannya 3 Mengajarkan pasien dan kepada penyedia keluarga mengenai perawatan kesehatan bagaimana menghindari 3 Ajarkan pasien dan infeksi keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi 2. sesuai kebutuhan sesuai kebutuhan 2 Monitor tekanan 2 Memonitor tekanan darah. sesuai respirasi. nadi dan darah. Domain 12. sadari keluaran. dan suhu dan suhu 3 Monitor asupan dan 3 Memantau asupan dan Batasan karakteristik: keluaran. sadari perubahan perubahan kehilangan 3 Takikardi kehilangan cairan cairan yang tidak 4 Kulit kemerahan yang tidak dirasakan dirasakan 4 Dorong konsumsi 4 Mendorong konsumsi cairan cairan b Pengaturan suhu b Pengaturan suhu (3900) (3900) 1 Monitor suhu paling 1 Memonitor suhu paling tidak setiap 2 jam.

intensitas atau intensitas atau beratnya nyeri dan 3 Keluhan tentang beratnya nyeri dan faktor pencetus intensitas faktor pencetus 2 Menggunakan strategi menggunakan 2 Gunakan strategi komunikasi terapeutik standar skla nyeri komunikasi untuk mengetahui 4 Perubahan terapeutik untuk pengalaman nyeri dan parameter mengetahui sampaikan penerimaan fisiologis pengalaman nyeri pasien terhadap nyeri dan sampaikan 3 Mengajarkan penerimaan pasien penggunaan teknik non terhadap nyeri farmakologi 3 Ajarkan penggunaan 4 Mengajarkan metode teknik non farmakologi untuk farmakologi menurunkan nyeri 4 Ajarkan metode b Pengurangan farmakologi untuk kecemasan (5820) menurunkan nyeri 1 Berada di sisi klien b Pengurangan untuk meningkatkan kecemasan (5820) rasa aman dan 1 Berada di sisi klien mengurangi ketakutan untuk meningkatkan 2 Memberikan aktivitas rasa aman dan pengganti yang mengurangi bertujuan untuk ketakutan mengurangi tekanan 2 Berikan aktivitas 3 Mengajarkan klien pengganti yang untuk menggunakan bertujuan untuk teknik relaksasi mengurangi tekanan 4 Mengkaji tanda verbal 3 Instruksikan klien dan nonverbal untuk menggunakan kecemasan teknik relaksasi c Monitor TTV (6680) 4 Kaji tanda verbal 1 Memonitor tekanan dan nonverbal darah. karakteristik. Batasan karakteristik: frekuensi. agens cidera biologis. suhu. nadi. karakteristik. kelas 1. lokasi. kualitas. onset/durasi. Nyeri akut nyeri komprehensif nyeri komprehensif berhubungan dengan yang meliputi yang meliputi lokasi. (1400) (1400) Kenyamanan Fisik 1 Lakukan pengkajian 1 Melakukan pengkajian (00132). onset/durasi. (6680) 2 Memonitor dan laporkan 1 Monitor tekanan tanda dan gejala 50 .Kenyamanan. kualitas. dan kecemasan status pernapasan c Monitor TTV dengan tepat. frekuensi.

penggunaan koping oleh strategi penggunaan orangtua dalam koping oleh berespon terhadap orangtua dalam perubahan anak berespon terhadap b Pengurangan perubahan anak kecemasan b Pengurangan 1 Berada di sisi klien kecemasan untuk meningkatkan 1 Berada di sisi klien rasa aman dan untuk meningkatkan mengurangi ketakutan rasa aman dan 2 Memberikan aktivitas 51 . 3 Mengidentifikasi atau pembedahan strategi-strategi 3 Identifikasi strategi. perubahan. dan kualitas nadi. 3 Monitor keberadaan dan kualitas nadi. darah. 2 Monitor dan 4 Mengidentifikasi laporkan tanda dan kemungkinan penyebab gejala hipotermia perubahan tanda-tanda dan hipertermia. 4 Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan tanda-tanda vital. penyakit. nadi. pembedahan tubuh cedera. 3. 8 Perasaaan diri terkait dengan cedera. perubahan-perubahan perubahan (bagian (bagian tubuh) Batasan karakteristik: tubuh) disebabkan disebabkan adanya adanya penyakit penyakit atau 5 Gangguan fungsi atau pembedahan. Citra Tubuh. tubuh tubuh Gangguan citra tubuh 1 Bantu pasien untuk 1 Membantu pasien untuk berhubungan dengan mendiskusikan mendiskusikan penyakit (00118). penyakit. suhu. pernapasan dengan 3 Memonitor keberadaan tepat. atau negative tentang kondisi kongenital. hipotermia dan dan status hipertermia. Domain 6: Persepsi Diri. dengan tubuh dengan cara yang cara yang tepat 6 Gangguan tepat 2 Membantu pasien untuk struktur tubuh 2 Bantu pasien untuk mendiskusikan stressor 7 Menolak mendiskusikan yang mempengaruhi menerima stressor yang citra diri terkait dengan perubahan mempengaruhi citra kondisi kongenital. vital. pembedahan. a Peningkatan citra a Peningkatan citra Kelas 3.

wajah tamapak kemerahan A: masalah teratasi P: hentikan intervensi 2 Mk: Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera biologis S: klien mengeluh nyeri telinga O: nyeri skala 7 (1-10) A: masalah teratasi P: hentikan intervensi 3 MK: Gangguan citra diri S: Klien mengatakan tidak percaya diri dengan tubuhnya saat ini O: Terdapat edema dan serumen kental pada MAE serta terdapat perforasi pada membrane timpani telinga kanan A: masalah teratasi P: hentikan intervensi 52 .7 Evaluasi: 1 MK: Hipertermia berhubungan dengan penyakit S: Klien mengeluh demam O: Suhu 39oC. mengurangi pengganti yang ketakutan bertujuan untuk 2 Berikan aktivitas mengurangi tekanan pengganti yang 3 Menginstruksikan klien bertujuan untuk untuk menggunakan mengurangi tekanan teknik relaksasi 3 Instruksikan klien 4 Mengkaji tanda verbal untuk menggunakan dan nonverbal teknik relaksasi kecemasan 4 Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan 3.

timpanogram. CT-Scan. Sedangkan komplikasi dari otosklerosis salah satunya adalah otits media akut. pemeriksaan fisik. 53 . implementasi. Sehingga terjadilah pembengkakan di sekitar saluran. Saat bakteri melalui saluran eustachius. otoscope. intervensi. Otosklerosis adalah suatu penyakit pada tulang pada bagian telinga tengah khususnya pada stapes yang disebabkan pembentukan baru tulang spongiosus dan sekitar jendela ovalis sehingga dapat mengakibakan fiksasi pada stapes. Pasang sumbu untuk menjaga kanalis tetap terbuka sehingga cairan obat dapat dimasukan bila edema dan kombinasi antibiotik dan kortikosteroid.1 Kesimpulan Otitis media adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah. operasi dengan stapedektomi maupun stapedotomi dan alat bantudengar. pemeriksaan fisik. Sedangkan penatalaksanaan otosklerosis secara medikamentosa dengan sodium floride dosis 30-60mg/hari salama 2 tahun. Adapun komplikasi dari otitis salah satunya adalah syok kerusakan pada syaraf VI dan VII. dan evaluasi.dan pemeriksaan penunjang. kemudian diagnosa. (Brunner & Sudart. tes audiometrik. mengakibatkan tersumbatnya saluran (Mansjoer. bakteri bisa menyebabkan infeksi saluran tersebut. BAB IV PENUTUP 4. 2001) Pemeriksaan diagnostik otitis dan otosklerosis meliputi anamnesa. Penatalaksanaan dari Otitis salah satunya adalah pemberian analgetik selama 48-92 jam pertama. 2001: 76). audiogram. pemeriksaan laboratorium. Asuhan keperawatan otitis dan otosklerosis secara umum meliputi pengkajian seperti anamnesis.

2 Saran Diharapkan kepada perawat lebih paham pada penyakit pendengaran yaitu pada otitis dan otosklerosis. Perawat juga mampu lebih fokus dalam menjalankan intervensi keperawatan pada pasien otitis dan otosklerosis.4. beserta cara pencegahan dan pengobatannya. 54 . sehingga dapat menjalankan asuhan keperawatan untuk kesembuhan pasien.