STATUS ILMU KESEHATAN ANAK

SMF KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN

Nama Mahasiswa : Angelica TandaTangan :
NIM : 112015333
Dokter Pembimbing : dr. Edi Pasaribu, Sp. A, M. Kes

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. M.A Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tanggal lahir : 23 April 2012 Suku Bangsa : Betawi
Umur : 4 Tahun 4 Bulan Agama : Islam
Pendidikan :-
Alamat : Mangga Besar 4P no. 5 RT 6 RW 4

IDENTITAS ORANG TUA

Nama Ayah : Tn S.P Nama Ibu : Ny.S.L
Umur : 39 tahun Umur : 27 tahun
Pendidikan Terakhir : SMA Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan : Karyawan Pekerjaan : Ibu RumahTangga
Alamat : Mangga Besar 4P no. 5 RT 6 RW 4

Tanggal Masuk RS : 26 Agustus 2016 Jam 22.00 WIB
Tanggal Pemeriksaan : 28 Agustus 2016 Jam 13.00 WIB
Dilakukan di : Bangsal Melati 5304

ANAMNESIS
Diambil dari : Alloanamnesis dengan orang tua (Ibu) pasien
Tanggal : 28 Agustus 2016 Jam 13.00 WIB

Keluhan Utama
Bercak kemerahan

Keluhan Tambahan
Demam, batuk, pilek

pasien selama beberapa hari belakangan. dan sering. Napsu makan pasien tetap berkurang. Pada 3 hari SMRS. Bercak kemerahan awalnya timbul pada wajah. menyebar dan meluas ke seluruh wajah. tangan. berair. Pasien mual. Bercak kemerahan awalnya timbul pada wajah. Setelah timbul bercak merah. namun terdapat kotoran mata banyak dan lengket. berair. mata pasien yang merah. Pasien masih batuk. Batuk masih tidak berdahak namun frekuensi agak lebih sering dibanding hari sebelumnya. Bercak merah semakin nyata dan jelas terlihat. . Batuk mulai berdahak. dan pasien malas untuk minum. Pasien tidak mengalami kejang demam kali ini. berkisar 4 hari SMRS mempunyai batuk pilek disertai demam yang tidak tinggi—suhu 37.8 oC. dan demam yang tidak tinggi—37. Bercak kemerahan timbul disertai panas yang makin tinggi yang tidak kunjung mereda pada pasien meskipun sudah diberi ibu obat penurun panas. dan gatal. tapi tidak muntah. dahak banyak namun tidak bisa dikeluarkan.5 oC. bercak merah tersebut sudah menyebar ke leher. lalu tidak beberapa lama makin banyak. dan tidak sering. sudah tidak mau makan dan hanya ingin minum sedikit-sedikit. dan gatal mulai berkurang. persis letaknya di wajah dekat telinga. dan kakinya. Pada 2 hari SMRS. hanya mau makan sedikit. Lalu ibu pasien mengantar pasien ke puskesmas karena matanya dan diberi obat tetes mata. Batuk tidak disertai dahak. dan tidak muntah. ibu pasien mengatakan mata pasien merah. menyebar dan meluas ke seluruh wajah. Pasien pilek mengeluarkan ingus encer berwarna bening. pilek masih sama seperti sebelumnya. muncul beberapa. badan. persis letaknya di wajah dekat telinga.3oC yang tidak kunjung mereda pada pasien meskipun sudah diberi ibu obat penurun panas. muncul beberapa. Pada 1 hari SMRS. Pada saat ini ibu hanya memberi pasien obat penurun panas dan demam mereda. Napsu makan pasien berkurang. Pasien jadi ingin menggaruk-garuk matanya.Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUD Tarakan diantar oleh kedua orang tuanya dengan keluhan timbul bercak kemerahan pada seluruh badan sejak 2 hari SMRS. lalu tidak beberapa lama makin banyak. Ibu pasien mengatakan. Pasien masih mual. Bercak kemerahan mulai timbul disertai panas tinggi—39. pasien sempat berobat ke puskesmas dan pada akhirnya dirujuk ke RSUD Tarakan dengan penyakit campak.

tangan. Riwayat tumbuh kembang pasien sesuai usia. tetapi setelah itu pasien tidak sadar setelah mengalami kejang yang terakhir. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah dirawat di RS karena mengalami kejang demam saat pasien berumur 1 tahun 2 bulan sebanyak 3 kali. Pada 1 hari SMRS. Saat pasien berumur 2 tahun. kaki lurus kaku. Pasien masih mual dan tidak muntah. Tetangga pasien ada yang menderita hal serupa juga. Pasien masih mual dan tidak muntah. pilek masih sama seperti sebelumnya. Sebelum kejang. dan kakinya. Silsilah Keluarga . kondisi mata pasien masih sama seperti sebelumnya. Ibu pasien tidak member obat penurun panas. Kejang terjadi 1 kali di rumah. hanya mengompres saja. pasien sempat pergi ke puskesmas dan pada akhirnya dirujuk ke RSUD Tarakan dengan penyakit campak. Bercak merah semakin nyata dan jelas terlihat. Setelah timbul bercak merah. Bercak merah sudah menyebar ke leher. Saat kejang mata pasien melihat keatas. dan 1 kali di IGD. Kejang terjadi kurang lebih selama 15 menit. dan pasien belum pernah menderita penyakit campak sebelumnya. pasien mengalami demam tinggi sampai 40oC dikarenakan batuk dan pilek. tangan mengepal dan kaku. Kejang terjadi 1 kali di rumah. Kejang demam yang dialami pasien sama seperti sebelumnya. Demam mencapai suhu 39oC saat diukur di puskesmas. Napsu makan pasien tetap sama seperti sebelumnya. Pasien belum mendapat imunisasi campak. Napsu makan pasien tetap sama seperti sebelumnya. Batuk berdahak semakin sering. pasien kembali dirawat di RS karena mengalami kejang demam sebanyak 4 kali. 2 kali di IGD dan 1 kali saat pasien di rawat inap. 2 kali di puskesmas. Riwayat imunisasi pasien tidak lengkap. Demam masih tinggi sekitar 39oC. pasien sadar diantara kejang. badan.Pilek masih sama seperti sebelumnya.

sesuai masa kehamilan (NCB-SMK) RIWAYAT IMUNISASI . Kelahiran  Tempat kelahiran : Puskesmas  Penolong persalinan : Dokter  Cara persalinan : Spontan  Masa gestasi : 38-39 minggu  Keadaan bayi o Berat badan lahir : 3200 gram o Panjang badan lahir : 52 cm o Lingkar kepala : Ibu lupa o Langsung menangis : Langsung menangis kuat o Pucat/Biru/Kuning/Kejang : Ibu lupa o Nilai APGAR : Tidak diketahui o Kelainan bawaan : Tidak ada Kesan : Neonatus cukup bulan.Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit Ya Tidak Hubungan Alergi + Asma + Tuberkulosis + Hipertensi + Diabetes + Kejang Demam + Epilepsy + RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN 1. trimester II 1x. Kehamilan  Perawatan antenatal : Trimester I 1x. trimester III 2x  Tempat perawatan : Puskesmas  Penyakit kehamilan : Tidak ada 2.

3 kali sesuai umur (-) Campak Kesan: Imunisasi dasar pasien lengkap. tidak kurus. 3 kali sesuai umur (+) Polio. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan Umum Tanggal : 28 Agustus 2016 jam 13. B.  Wajah : Penampilan baik.00 Keadaan umum : Tampak sakit berat Kesadaran : Apatis Tekanan darah : 90/60 mmHg Nadi : 156 kali/menit. 4 kali sesuai umur (+) Hep. campak belum diberikan. teratur. 1 kali sesuai umur (+) DPT. kuat Suhu : 39.28 Status Gizi :  BB/ U : 0 – (-2) SD Normal  TB/U : < -3 SD Pendek untuk anak seusianya  BB/TB : 1 SD Gizi cukup Kesan: status gizi baik PEMERIKSAAN SISTEMATIS Kepala  Bentuk dan ukuran : Tidak ada kelainan.(+) BCG. ruam makulopapular + . reguler. reguler Antropometri Panjang badan : 90 cm Berat badan : 14 kg Lingkar kepala : 49 cm Lingkar dada : 54 cm Lingkar lengan atas : 16 cm IMT : 17.2 °C Pernapasan (frekuensi dan tipe) : 44 kali/menit.

pernafasan abdominotorakal. wheezing -/- 2. ruam makulopapular (+) Thoraks 1. ruam makulopapular (+) di belakang telinga  Hidung : Normosepta. Paru Inspeksi :Bentuk dada normal. koplik spot (-). retraksi sela iga minimal (-). sianosis (-). faring hiperemis (-). Batas kanan jantung di ICS IV. kelenjar tiroid tidak teraba membesar. retraksi suprasternal (-). rhonki +/+. Jantung Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat Palpasi : Iktus cordis tidak teraba Perkusi : Batas atas jantung di ICS II linea parasternal kiri. retraksi epigastrium (-). ruam makulopapular (+) Palpasi : Fremitus baik simetris. tidak ada nyeri tekan Perkusi : Sonor di seluruh lapangan paru Auskultasi : Suara napas vesikuler. sekret +/+. liang telinga lapang. murmur (-). Batas kiri jantung di ICS IV. turgor kulit baik. deviasi septum tidak ada.  Telinga : Normotia.  Rambut & kulit kepala: Warna hitam kecoklatan. linea midclavicula kiri. NCH (+)  Mulut : Bibir kering (-). sklera tidak ikterik. linea sternal kanan. nyeri tekan (-). Tonsil T1-T1. konjungtiva anemis +/+. kering dan kusam  Mata : Bentuk normal. hepar dan lien tidak teraba Perkusi : Timpani di seluruh lapang perut Auskultasi : Bising usus (+) Extremitas . Auskultasi : BJ I/II murni reguler. gallop (-) Abdomen Inspeksi : Buncit. kelopak mata tidak cekung. oral trush (-). simetris dalam keadaan statis maupun dinamis.  Leher : Trakea lurus ditengah. tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening. Ruam makulopapular (+) Palpasi : Distensi (-).

berair. kesadaran apatis. Edema -/. ruam makulopapular (+) Ekstremitas Inferior : Akral hangat. tangan.7 g/dL Hematokrit : 27. abdomen. tangan dan kaki.2 mEq/L Clorida (Cl) : 110 mEq/L Gula Darah Gula Darah Sewaktu : 85 mg/dL RINGKASAN Pasien datang ke IGD RSUD Tarakan diantar oleh kedua orang tuanya dengan keluhan timbul bercak kemerahan pada seluruh badan sejak 2 hari SMRS. Bercak kemerahan timbul pada daerah wajah dibelakang telinga.. Edema -/. punggung.100/mm3 Elektrolit Natrium (Na) : 133 mEq/L Kalium (K) : 4. badan. Terdapat .5% Eritrosit : 4. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit berat.Ekstremitas superior : Akral hangat. CRT < 2 detik. deformitas (-). Pada pemeriksaan sistematis ditemukan ruam makulopapular (+) pada bagian wajah. dada. pasien matanya merah.038/mm3 Trombosit : 229. CRT < 2 detik. belakang telinga. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan takikardi dan takipneu. Kemerahan timbul disertai panas yang makin meninggi. leher.33 WIB Darah rutin Hemoglobin : 7.5 oC. dan kakinya.. Pada 4 hari SMRS pasien batuk pilek disertai demam yang tidak tinggi—suhu 37. ruam makulopapular (+) Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium: tanggal 26 Agustus 2016 jam 21. menyebar ke leher. dan gatal.87 juta /uL Leukosit : 5. deformitas (-). Pada 3 hari SMRS.

Ad Fungsionam : dubia ad bonam 3. Anemia defisiensi besi PENATALAKSANAAN  RL : D5 2:1 1200 cc/24jam  Vitamin A 200.30 WIB hari sakit ke 6 S: Orang tua pasien mengeluh pasien masih demam. Pasien masih susah untuk makan. batuk berdahak terus menerus. Mual +. Ad Sanationam : dubia ad bonam FOLLOW UP Tanggal 27 Agustus 2016 jam 07. Morbilli 2. Rubella 2. Pada pemeriksaan laboratorium didapati kadar hemoglobin rendah. BAK seperti biasa. isi air dan makanan sedikit. Anemia 3. darah -. NCH (+). lendir -. Perawakan Pendek DIAGNOSIS BANDING 1.000 IU  Paracetamol sirup 3 x 1½ cth  Ambroxol 3 x ½ cth  Diet bubur PROGNOSIS 1. suara nafas ronkhi +/+. O: KU: tampak sakit berat Kesadaran: Apatis HR: 120x/menit RR: 42x/menit Suhu: 37. minum hanya mau 1-2 sedot dan hanya mau tidur terus menerus. BAB mencret 2 kali seperti bubur. Ad Vitam : dubia ad bonam 2. pilek +. muntah + 2 kali.konjungtiva anemis +/+. kuning. DIAGNOSIS KERJA 1.6oC TD: 90/60mmHg  Wajah : Ruam makulopapular + . kira-kira sebanyak ¼ gelas aqua. hanya mau 1-2 suap. bercak kemerahan gatal +. Mata kanan dan kiri masih belekan. ¼ gelas aqua.

30 WIB hari sakit ke 7 S: Orang tua pasien mengeluh pasien masih batuk berdahak terus-menerus.2oC TD: 90/60mmHg  Wajah : Ruam makulopapular + mulai mengering . ruam makulopapular (+)  Dada : Retraksi sela iga (-). O: KU: tampak sakit berat Kesadaran: Apatis HR: 102x/menit RR: 46x/menit Suhu: 39. tidak mau makan—minum susu 3 sendok dan makan 2 suap. CRT <2. bercak kemerahan pada muka mulai mengering. perih. ruam makulopapular (+)  Paru : Rhonki +/+  Jantung : Bunyi jantung I-II murni reguler  Abdomen : Supel.  Kepala : Normosefal  Mata : Kelopak mata tidak cekung. konjungtiva anemis +/+  Telinga : Normotia  Hidung : Sekret bening +. BAB -. NCH (-)  Mulut : Bibir kering (-)  Leher : Retraksi suprasternal (-). sudah tidak muntah. Kemarin sore masih demam +. BAK masih seperti biasanya. Mual +. ruam makulopapular (+)  Ekstremitas : Akral hangat. mata kanan dan kiri belekan putih kuning. Bising usus +. Pilek +. gatal masih ada tetapi berkurang. ruam makulopapular (+) A:  Morbilli P:  IVFD RL : D5 2:1 1200 cc/hari  Ambroxol 3 x ½ cth  Paracetamol 3 x 1½ cth  Diet bubur Tanggal 28 Agustus 2016 jam 07. sesak +.

ruam makulopapular (+)  Dada : Retraksi sela iga (-). konjungtiva anemis +/+  Telinga : Normotia  Hidung : Sekret bening +. ruam makulopapular (+)  Ekstremitas : Akral hangat. muntah -. nafsu makan dan minum membaik. O: KU: tampak sakit sedang Kesadaran: Compos mentis HR: 116x/menit RR:34x/menit Suhu: 36. mencret-.000 IU Tanggal 29 Agustus 2016 jam 07. Bising usus +. batuk berdahak masih ada namun berkurang.30 WIB hari sakit ke 8 S: Orang tua pasien mengeluh pasien demam terakhir semalam. ruam makulopapular (+) A:  Morbilli (perbaikan) P:  O2 2 lpm via nasal canule  IVFD lanjut  Oral lanjut  Vitamin A 200. pilek -. Sesak masih ada tapi membaik. Mata kanan dan kiri sudah tidak belekan. BAB + seperti biasanya. Bercak merah pada leher mulai kering. Gatal pada bercak merah sudah tidak ada. BAK + seperti biasanya. Mual -.  Kepala : Normosefal  Mata : Kelopak mata tidak cekung. NCH (+)  Mulut : Bibir kering (-)  Leher : Retraksi suprasternal (-).7oC TD: 90/60 mmHg . CRT <2. ruam makulopapular (+)  Paru : Rhonki +/+  Jantung : Bunyi jantung I-II murni reguler  Abdomen : Supel.

ruam makulopapular mengering  Dada : Retraksi sela iga (-). Napsu makan makin baik. hiperpigmentasi (+) A:  Morbilli (perbaikan) P:  Terapi lanjut  O2 aff Tanggal 30 Agustus 2016 jam 07. Bercak kemerahan mulai mengering dan hiperpigmentasi pada bagian badan dan tangan. ruam makulopapular (+)  Ekstremitas : Akral hangat. Sesak sudah tidak ada. ruam makulopapular (+)  Paru : Rhonki -/-  Jantung : Bunyi jantung I-II murni reguler  Abdomen : Supel. Pasien sudah tidak demam. Bising usus +. Pilek -. CRT <2. BAB & BAK seperti biasa O: KU: tampak sakit sedang Kesadaran: Compos mentis HR: 114x/menit RR:32x/menit Suhu: 36.  Wajah : Ruam makulopapular (+) hiperpigmentasi  Kepala : Normosefal  Mata : Kelopak mata tidak cekung.7oC TD: 90/60 mmHg  Wajah : Ruam hiperpigmentasi  Kepala : Normosefal  Mata : Kelopak mata tidak cekung. konjungtiva anemis +/+  Telinga : Normotia  Hidung : Sekret bening (-). Mata tidak ada belekan. NCH (-)  Mulut : Bibir kering (-)  Leher : Retraksi suprasternal-.30 WIB hari sakit ke 9 S: Orang tua pasien mengeluh pasien batuk sedikit-sedikit. konjungtiva anemis +/+ .

ronki basah halus). peningkatan frekuensi nafas. stadium konvalesens dimana ruam akan menjadi kehitaman dan mengelupas. NCH (-)  Mulut : Bibir kering (-)  Leher : Retraksi suprasternal-. ruam makulopapular (+)  Ekstremitas : Akral hangat. asupan oral sulit. yaitu stadium prodromal berlangsung 2-4 hari terdapat demam. dan konjungtivitis. otitis media. leher. stadium erupsi dimana pada kulit terdapat ruam makulopapular yang timbul dari belakang telinga lalu menyebar ke wajah. pilek. Pasien dirawat diruang isolasi bila hiperpireksia (>39oC). batuk. Respon imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada saluran nafas diikuti manifestasi klinis berupa demam tinggi. Campak memiliki gejala klinis yang khas yang terdiri dari 3 stadium. Bising usus +. dan lain-lain. CRT <2. Infeksi virus ini membetuk fokus infeksi dan masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring dan konjungtiva. dan ekstremitas diikuti oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula. kejang. anak tampak sakit berat.  Telinga : Normotia  Hidung : Sekret bening (-). ruam hiperpigmentasi  Dada : Retraksi sela iga (-). dehidrasi. disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak. hiperpigmentasi (+) A:  morbilli (fase konvalesens) P:  BPL  Cefixime 2 x ½ cth ANALISA KASUS Morbili/campak adalah penyakit akut yang sangat menular. ruam hiperpigmentasi  Paru : Rhonki -/-  Jantung : Bunyi jantung I-II murni reguler  Abdomen : Supel. . Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia (batuk.

merintih. suhu pasien naik mencapai 39. gejala pneumonia akan menghilang. penurunan suara paru. Ketika ruam timbul. takipneu.3oC. kejang. kepala terangguk-angguk. Pada pemeriksaan fisik. letargis dan malnutrisi). yaitu kotrimoksasol (4 mg TMP/kgBB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari atau amoksisilin (25 mg/kgBB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari. Pasien dengan campak diterapi secara suportif (pemberian cairan cukup. terjadi pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) yang nyeri tekan pada rubella terutama pada daerah sub oksipital. batuk. dan pilek. dan servikal. sianosis. dan pneumonia sangat berat (tidak dapat makan/minum. meningkatnya frekuensi nafas. dan diterapi dengan cairan IVFD 1200cc/24 jam. Dengan adanya uraian tersebut maka pasien ini sesuai dengan gejala klinis campak. Pneumonia anak umur 2 bulan – 5 tahun dibagi menjadi pneumonia ringan (napas cepat). Pada kasus ini. Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial. kecuali batuk yang masih dapat berlanjut selama beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran nafas masih . dan antibiotik jika terjadi infeksi sekunder) Pada pasien ini didapati ruam makulopapular yang timbul pada bagian wajah dibelakang telinga yang kemudian menyebar ke seluruh wajah. dan berair. stadium prodromal dan erupsi lebih singkat dan gejala lebih ringan. mendapatkan vitamin A 200. rubella diambil sebagai diagnosis banding karena mempunyai ruam makulopapular dan penyebaran yang sama dengan morbili tetapi kemudian disingkirkan karena pada rubella. Kemudian pada pasien ini 4 hari SMRS mengalami demam.dan adanya komplikasi. gatal. dan rhonki). dan ektremitas. Pasien dengan pneumonia dapat diberi antibiotik. batuk (pada awalnya batuk kering kemudian menjadi produktif dan purulen) dengan napas cepat.000 IU. Pada saat suhu turun. ronki pada auskultasi. Pada pasien ini lalu dirawat diruang isolasi. pneumonia berat (dengan retraksi). leher. Pemeriksaan foto dada direkomendasikan pada penderita pneumonia yang dirawat inap atau bila tanda klinis yang ditemukan membingungkan. dan pada 3 hari SMRS mata pasien menjadi merah. Pada penyakit campak. bronkopneumonia didapati apabila terdapat batuk. demam yang terjadi jarang sampai diatas 38oC. Gejala pneumonia ditandai dengan demam. pernapasan cuping hidung. dan terdapat gejala distress pernapasan seperti takipneu. Lalu pada pasien ini terdapat penyulit yaitu bronkopneumonia (batuk. vitamin A. dan adanya ronki basah halus. apabila disebabkan oleh virus. retraksi subkostal.

mudah lelah. batuk yang semula kering menjadi berdahak. obesitas. stomatitis angularis dan disfagia. tetapi bronkopneumonia yang masih disebabkan oleh virus. mudah infeksi. maka dari itu tidak diperlukan terapi antibiotik. Pada pasien ini selama perawatan tidak mendapatkan antibiotik. Gambaran infiltrat pada foto thoraks dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. dan kehilangan berlebihan akibat perdarahan (divertikulum Meckel / poliposis dsb). terdapat sesak namun tidak terdapat retraksi. dan pasien dapat minum obat per oral. dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus. antara lain lemas. Berdasarkan temuan klinis tersebut dapat dikatakan bahwa pasien ini mempunyai komplikasi berupa bronkopneumonia. Pada pasien ini terdapat demam yang tinggi diatas 39oC. virus ataupun parasit). menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi dan gangguan perilaku. tetapi sewaktu pasien pulang. Anemia defisiensi besi terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh. Penyebab defisiensi besi pada anak umur 2 bulan – 5 tahun yaitu Asupan besi kurang karena jenis makanan kurang mengandung Fe jenis heme atau minum susu berlebihan. Penanganan anemia defisiensi besi adalah dengan memberikan preparat besi yang dapat diberikan secara oral berupa besi elemental dengan dosis 3 mg/kgBB sebelum makan atau 5 mg/kgBB setelah makan dibagi dalam 2 dosis. maka sesuai dengan uraian diatas. diberikan sampai 2-3 bulan sejak hb kembali normal. Gejala yang paling sering ditemukan adalah pucat yang berlangsung lama (kronis) dan dapat ditemukan gejala komplikasi. napas cuping hidung.terus berlangsung. dan terdapat rhonki. atrofi papil lidah. kuning telur. Penyebab tersering anemia pada anak adalah anemia defisiensi besi. sesak berkurang. kecuali jika hari setelahnya suhu tidak turun dan sesak masih berlanjut/semakin parah. dan tidak ada peningkatan frekuensi nafas. sampai gejala sesak berkurang. pemberian asam folat 2 x 5 – 10 mg/hari untuk meningkatkan aktifitas eritropoiesis. kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis baik bakteri. susu murni. dan gejala khas berupa koilonikia. terdapat peningkatan frekuensi napas >40 kali per menit. pemberian vitamin C 2 x 50 mg/hari untuk meningkatkan absorbs besi. serat) dan obat seperti . karena pada hari setelahnya suhu turun. Hindari makanan yang menghambat absorpsi besi (teh. Jika seperti ini maka dapat diberikan antibiotic ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis.

Imunisasi dasar pasien lengkap. Pada bayi usia dibawah 1 tahun diberikan vitamin A sebanyak 100. Perempuan = (TB Ibu + (TB Ayah – 13)x 1/2 Campak dapat menurunkan cadangan vitamin A. Pasien belum mendapatkan imunisasi campak untuk usia 9 dan 24 bulan. TIBC.000 IU. Perawakan pendek atau short stature adalah tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut atau kurva NCHS. Dosis kedua diberikan hari berikutnya. Penyebab terbanyak adalah kelainan non endokrin seperti penyakit infeksi kronik. SI. umumnya tumbuh kejarnya tidak sempurna. Perawakan pendek dapat disebabkan karena berbagai kelainan endokrin maupun non endokrin.000 IU dan untuk pasien lebih tua diberikan vitamin A sebanyak 200. Laki laki = (TB ayah + (TB Ibu + 13)x 1/2. gangguan nutrisi. bila terlihat tanda kekurangan vitamin A di mata dan diulangi 1 sampai 4 minggu kemudian. transferin. Apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari. maka pada pasien ini seharusnya mendapatkan catch up untuk imunisasi campak dengan pemberian vaksin MMR sebanyak 2 dosis pada anak usia sekolah dan remaja. Dosis ini diberikan sesegera mungkin setelah diketahui terserang campak.000 IU pada hari 3 perawatan. kelainan gastrointestinal. Suplemen vitamin A menurunkan frekuensi dan keparahan pneumonia dan laringotrakeobronkitis akibat kerusakan virus campak pada epitel traktus repiratorius bersilia (membantu reepitelisasi epitel yang rusak karena virus). pasien ini sudah dapat terapi vitamin A saat hari perawatan pertama. Seharusnya. Pada pasien ini telah diberikan vitamin A sebanyak 200. Pada pasien ini terdapat konjungtiva yang anemis dan kadar hb rendah dibawah normal. dan Banyak minum untuk mencegah terjadinya konstipasi (efek samping pemberian preparat besi). Untuk meneliti dan memastikan lebih lanjut apakah anak ini menderita penyakit anemia defisiensi besi atau anemia yang lain diperlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut berupa gambaran darah tepi. interval pemberian minimum .antasida dan kloramfenikol. yang menimbulkan tingginya insiden xeroftalmia dan ulkus kornea pada anak yang kurang gizi. penyakit jantung bawaan dan lain lain. atau BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) pada keterlambatan tumbuh intra uterine. WHO menganjurkan suplemen vitamin A dosis tinggi di semua daeran dengan defisiensi vitamin A. Berat badan dan panjang badan lahir bisa normal. kecuali campak.

7 Daftar Pustaka 1. Suyitno H. Pasien dengan berat badan 14 kg. Ranuh IG. Dosis pemberian ambroxol 1. Jakarta.2- 1. Measles. Rahayu T. 2010.5 mL secara subkutan umur 9 bulan.7 Ambroksol (Ambroxol) merupakan agen sekretolitik untuk mengatasi gangguan pernafasan yang berhubungan dengan mukosa berlebih. Rudolph CD. 2011.5 mg/kgbb/kali. Vaksin campak rutin dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0. Robert M. Dengan sediaan paracetamol syrup 120mg/5ml. 2002. 2015. Rudolph MA.h. Soedarmo SSP. IDAI. Gambaran Klinis Penyakit Eksantema Akut pada Anak.who. Nelson Textbook of Pediatrics. Dosis paracetamol 10-15mg/kgbb/kali. Hadinegoro S. . Satari HI. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Buku Ajar Pediatri Rudolph. 24 bulan.4(3):104-113. Minimal interval 6 bulan antara imunisasi campak (umur 9 bulan) dan MMR. 2007. USA: Elsevier. WHO. Kartasasmita C. Diakses dari http://www. 3. Pada pasien ini mendapatkan dosis 7 mg/kali pemberian. Pasien mendapatkan ½ cth untuk setiap kali pemberian. Ismoedijanto. Soedjatmiko. 6. Hadinegoro SRS. Sari Pediatri. pasien mendapatkan 1½ cth untuk setiap kali pemberian. Edisi Kedua. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Tumbelaka AR. 5. Richard E. Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik.adalah 4 minggu. Jakarta: EGC. 740. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.int/mediacentre/factsheets/fs286/en/ 2. Bonita F. Vaksin MMR diberikan pada umur 15-18 bulan. Garna H. p.6 mg/kgbb/hari atau 0. 2014. dan 6 tahun pada saat masuk kelas 1 SD.1331-1332. 4. Hoffman JIE. 18th edition. Hal B. Pasien membutuhkan 140-210 mg/kali.