19 . Semua ternak diberi pakan perlakuan glirisidia.81 sampai 116.92 mg/100 ml dan 85. Gliricidia. This research was carried out at the Department of Animal Nutrition and Feed Science.29. pH.54 . Konsentrasi NH3 dan VFA tertinggi dicapai pada 3 dan 4 jam setelah pemberian pakan.81 . Glirisidia. NH3 and VFA) in buffalo fed gliricidia. Penelitian menggunakan 6 ekor kerbau yang difistula bagian rumennya berumur 2. NH3 dan volatile fatty acids (VFA). with cross over design. Variables covered were pH. Benefit from this research was the obtained data based espicialy of fermentability of forage.77 .103. VFA.id) ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui parameter fermentasi rumen pada kerbau yang diberi pakan tunggal glirisidia.73 .77 sampai 29. Keywords : single feed. caliandra 244 Parameter Fermentasi Rumen Kerbau yang Diberi Pakan Tunggal Glirisidia. Jerami Jagung. NH3 volatile fatty acids (VFA) and microbial protein synthesis.46 mg/100 ml and 77. All were give with glyricidia (G). Jerami Jagung dan Kaliandra . ABSTRACT An experiment was conducted to determine the rumen fermentation parameters (pH.46 mg/100 ml dan 77. 20 Mei 2009 PARAMETER FERMENTASI RUMEN PADA KERBAU YANG DIBERI PAKAN TUNGGAL GLIRISIDIA.73-12. Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.14 rumen fluid is higher than caliandra (11. The result.74 mmol/l) and corn straw (5. NH3.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang. Corn straw. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dasar khususnya fermentabilitas hijauan pakan.9.05-9.5 sampai 3 tahun dengan bobot badan 250 – 300 kg. Consentration of NH3 and VFA higest consist at 3 and 4 hours after feeding. corn straw (CS) and calyandra (C) as single feed.32 mmol/liter).co.116. JERAMI JAGUNG DAN KALIANDRA (Rumen Fermentation Parameters in Buffalo Fed Gliricidea.05 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerbau yang diberi pakan tunggal glirisidia memberikan konsentrasi NH3 dan VFA yang paling tinggi yaitu antara 24.5 years old of age with the body weight of 250 – 300 kg.54-95.19-103. Faculty of Animal Science Gadjah Mada University.40 mg/100 ml dan 91.74 mmol/liter) dan terakhir adalah kerbau yang diberi pakan jerami jagung (5. Six female rumen fistulated buffalo of 2. jerami jagung dan kaliandra. Kaliandra. Corn Straw and Caliandra as Basal Feed) Limbang Kustiawan Nuswantara Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang (Email : omliem_lkn@yahoo. corn staw and caliandra as basal feed. NH3. jerami jagung dan kaliandra sebagai pakan tunggal.95. showed that the NH3 and VFA consentration for buffalo with glirisidia as single feed that is 24. pH. Kata kunci : pakan tunggal.12. Variabel yang diamati meliputi pH. VFA.0 – 2.40 mg/100 ml and 91.14 mmol/liter cairan rumen kemudian disusul pakan kaliandra (11. dengan menggunakan rancangan cross over design. Collected data were analized statistically with analysis of variances and further test with Duncan’s Multiple Range Test.92 mg/100 ml and 85.32 mmol/liter). Data yang diperoleh dianalisis variansi dan jika terdapat perbedaan pengaruh perlakuan dilanjutkan Duncan’s Multiple Range Test.

Tingginya Mudgal (1999).50 10. Jerami jagung merupakan limbah yang berupa pakan berserat yaitu glirisidia. aktivitas selulolitik dan populasi glirisidia dan kaliandra sebagai pakan menjadi mikrobia yang cukup tinggi dan intake bahan menarik untuk diteliti khususnya pada Pemberdayaan Peternakan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan 245 .97 96.10 ADF 21. dari tanaman jagung yang sudah dipanen dan jerami jagung dan kaliandra. Glirisidia Kerbau adalah ruminansia besar yang dan kaliandra yang merupakan jenis banyak dipelihara oleh masyarakat. hasil akhir dari sehingga cukup potensial dimanfaatkan fermentasi pakan (pH. karena selain belum banyak diteliti khususnya pada harganya cukup murah juga mudah parameter fermentasi rumen dan sintesis didapatkan.20 Hemiselulosa 13.29 NDF 35.02 54. Hasil analisis komposisi kimia pakan (%BK)* Jenis Pakan Komposisi Kimia Pakan Glirisidia Jerami Jagung Kaliandra Bahan Kering 41. kemampuan ternak kerbau konsentrasi NH3 dan VFA dalam rumen akan dalam memanfaatkan pakan dengan kualitas menyebabkan sintesis protein mikrobia juga yang rendah karena didukung oleh beberapa semakin tinggi.13 Protein Kasar 23. memberikan parameter fermentasi rumen 1974) dan mempunyai kemampuan mencerna (NH3 dan VFA) yang lebih tinggi dibanding bahan organik yang lebih tinggi dibanding jerami jagung dengan kandungan protein sapi (Ranjhan dan Pathak. tanin pada kaliandra dan kumarin pada apabila ternak tersebut diberi pakan tunggal glirisidia.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang. Namun dengan adanya anti faktor antara lain adalah volume rumen yang nutrisi kumarin pada glirisidia dan tanin pada cukup besar.78 22. laju pakan meninggalkan rumen untuk mengkonsumsi kedua jenis pakan yang lebih lambat. 20 Mei 2009 PENDAHULUAN kering per unit bobot badan metabolik yang cukup rendah.59 31.80 42. protein mikrobia yang dihasilkan. merupakan salah satu limbah pertanian yang Penggunaan pakan glirisidia. rata-rata sekresi saliva yang kaliandra merupakan pembatas bagi ternak cukup tinggi.84 96. Menurut kasar yang lebih rendah.90 * Hasil analisis Laboratorium Makanan Ternak. motilitas rumen yang tersebut.60 29. tapi terdapat anti nutrisi yaitu dihasilkan menjadi menarik untuk diketahui.78 Bahan Organik 90. selain itu kerbau memiliki Tanaman glirisidia dan kaliandra kapasitas mendigesti protein kasar dan serat merupakan jenis tanaman leguminosa yang kasar yang lebih tinggi dibanding pada sapi. kerbau leguminosa pohon dengan kandungan protein memiliki kemampuan mencerna bahan kering kasar yang tinggi diharapkan akan dapat dan serat kasar yang lebih efisien (Chalmers. NH3 dan VFA) yang sebagai pakan. sangat potensial dimanfaatkan sebagai pakan jagung dan kaliandra sebagai pakan tunggal pada saat musim kemarau. Fakultas Peternakan UGM. Oleh karena itu penggunaan lambat. 1979).00 68.10 18.53 5.20 26. kandungan protein kasarnya cukup tinggi. jerami Tabel 1. Dengan kondisi tersebut.

00 sebelum ternak diberi pakan.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang.8 7 . Untuk pakan glirisidia (G).6 0 1 2 3 4 6 W A K T U S E T E L A H P E M B E R IA N P A K A N (J A M ) G L IR IC ID IA J . masing-masing Peternakan UGM.00 WIB. digunakan Komposisi kimia pakan yang diberikan untuk pengukuran parameter fermentasi disajikan pada Tabel 1. 20 Mei 2009 parameter fermentasi rumen dan sintesis (K). Penelitian ini menggunakan 6 pada setiap tahap sebelum dan sesudah ekor kerbau yang difistula pada bagian periode koleksi.4 7 . Setiap pengambilan cairan rumen untuk analisis kadar NH3 diambil sebanyak 5 Jalan penelitian ml ditambahkan pengawet NaCl 20% sebanyak 5 ml. VFA diberi pakan jerami jagung (JJ) dan pada dan NH3 dilakukan pengambilan cairan rumen tahap ketiga ternak diberi pakan kaliandra setelah pemberian pakan yaitu (jam 08.6 7 . 250 kg dan berumur 2 – 2. dan pakan diberikan dua dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan kali dalam sehari yaitu pukul 08.00. Jerami Jagung dan Kaliandra . Pakan dan air minum Penelitian dilakukan di jurusan Nutrisi diberikan ad libitum. rumen.00 dan pukul Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta 16. Pada tahap pertama ternak diberikan pengawet HgCl2H3PO4 sebanyak 1 ml. Setiap tahap terdiri dari periode adaptasi protein mikrobia yang dihasilkan.2 P H 7 6 . pada tahap kedua ternak mendapatkan kinetik dan rata-rata pH.J A G U N G K A L IA N D R A Ilustrasi 1. Sebelum periode adaptasi dimulai ternak diberi obat MATERI DAN METODE cacing Rintal Boli dengan dosis 1 tablet per 100 kg bobot badan. dan VFA). Analisis VFA cairan rumen ternak sebanyak 300 ml untuk memperoleh dilakukan di Laboratorium Pangan dan Gizi. NH3 Pusat Antar Universitas (PAU) UGM. Penimbangan dilakukan pada rumennya dengan bobot badan antara 200 – pukul 07. sedangkan analisis NH3 dan derivat purin dilakukan di Cairan rumen diambil dari 3 ekor sapi Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas PO dan Kerbau yang difistula. 7 . dan untuk analisis VFA Penelitian ini berlangsung dalam tiga diambil sebanyak 10 ml dan ditambahkan tahap. Analisis komposisi kimia pakan. data parameter fermentasi rumen (pH.5 tahun. sisa pakan dan feces dilakukan di Laboratorium Parameter fermentasi rumen Teknologi Makanan Ternak. Penimbangan ternak dilakukan selama 1 bulan. Kinetik pH Cairan Rumen Kerbau 246 Parameter Fermentasi Rumen Kerbau yang Diberi Pakan Tunggal Glirisidia. 2 minggu dan koleksi data 24 jam.8 6 .

24.00. Kinetik pH Cairan Rumen Kerbau konsentrasi NH3 dan VFA.J A G U N G K A L IA N D R A Ilustrasi 2. walaupun keduannya tidak menunjukkan adanya Yij = µ + αl + Єij perbedaan. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter Kinetik pH cairan rumen dan rerata (Merk WTW pH 320).00. 20. konsentrasi VFA selama 24 jam pada kerbau yang diberi pakan diukur dengan menggunakan Gas tunggal Glirisidia (G).00. sehingga dengan kadar VFA (DMRT) (Astuti. Seluruh data yang tinggi akan mengakibatkan terjadinya dianalisis dengan menggunakan Pesonal penurunan pH bila produksi VFA tersebut tidak segera dapat diabsorbsi atau dikeluarkan 35 30 25 20 NH3 15 10 5 0 0 1 2 3 4 6 W A K T U S E T E L A H P E M B E R IA N P A K A N ( J A M ) G L IR IC ID IA J .Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang.00. Computer Stastistical Analysis System (PC 18. Rendahnya nilai pH rumen pada kerbau yang diberi pakan G tersebut Apabila perlakuan menunjukkan kemungkinan disebabkan oleh tingginya total perbedaan yang nyata. 11. 12. pada 0 jam setelah pemberian pakan pH cairan rumen pada kerbau yang diberi pakan Analisis data K lebih tinggi dibanding pakan G dan JJ. 22. menunjukkan bahwa pH cairan rumen kerbau NH3.00.00. Kinetik NH3 Cairan Rumen Kerbau Pemberdayaan Peternakan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan 247 .00.00) (kinetik fermentasi rumen yang digaris bawahi). 04. Pada 4 jam setelah pemberian pakan Data fermentasi rumen (Kinetik pH.00. SAS) 06. 1981). 20 Mei 2009 09. 02. Variabel Pengamatan HASIL DAN PEMBAHASAN Varibel yang diukur adalah pH.00. 14. 10.00. VFA) dan sintesis proteinmikrobia yang diberi pakan G menunjukkan angka pH dianalisis variansi dengan menggunakan yang paling rendah bila dibanding dengan persamaan linier sebagai berikut : yang dibei pakan JJ maupun K.00. diukur dengan metode Spektrometer (Chancy Hasil penelitian menunjukkan bahwa dan Marbach. 16. maka dilanjutkan VFA yang diproduksi pada 4 jam setelah dengan Duncan’s Multiple Range Test pemberian pakan. Jerami Jagung (JJ) dan Chromatographi sedang konsentrasi NH3 Kaliandra (K) disajikan pada Ilustrasi 1.00. 1962).

disamping juga karena dalam rumen karena VFA merupakan senyawa jumlah protozoa dalam rumen kerbau yang yang bersifat asam. JJ dan K disajikan pada Ilustrasi 2. karena di dalam pada ternak yang diberi pakan G saliva terdapat bicarbonat dan phospat yang menunjukkan konsentrasi yang paling tinggi berfungsi sebagai bufer serta terjadi sistem kemudian pakan K dan yang paling rendah absorbsi VFA melalui dinding rumen (Van adalah pada pakan JJ. fermentasi di dalam rumen. Tingginya pH diberi pakan JJ dan G kenaikannya tampak pada ternak yang diberi pakan K ini diduga pada 10 jam setelah pemberianpakan. Grafik kinetik pH cairan rumen menggambarkan bahwa pola amplitude kemudian mengalami kenaikan pada 8 jam (perbedaan antara titik tertinggi dan terendah setelah pemberian pakan pada ternak yang pada grafik) pH pada pakan K lebih tinggi diberi pakan K. 2. Hal ini sesuai dengan pendapat 6 jam setelah pemberian pakan pada ternak Faria dan Huber (1984) bahwa perubahan pH yang diberi pakan G dan JJ. di dalam rumen produk cairan rumen tersebut diatas amplutudenya fermentasi akan meningkat. Sedang pada yang terjadi di dalam rumen dipengaruhi oleh ternak yang diberi pakan K. dimana hal ini berhubungan dengan berlangsung dan mencapai titik terendah pada produksi amonia dari protein dalam rumen 248 Parameter Fermentasi Rumen Kerbau yang Diberi Pakan Tunggal Glirisidia. Jerami Jagung dan Kaliandra . dengan adanya saliva yang disekresikan akan 1. sedangkan pada ternak yang dibanding pakan G dan JJ. menunjukkan bahwa pada 4 jam setelah Kinetik pH cairan rumen untuk ketiga pemberian pakan konsentrasi NH3 pada pakan jenis pakan setelah pemberian pakan G lebih tinggi dari pakan JJ maupun K.05. 20 Mei 2009 dari rumen. pH terendah jenis pakan yang diberikan. NH3 merupakan senyawa yang bersifat selam 24 jam pada kerbau yang diberi pakan basa sehingga dengan meningkatnya tunggal G. (1987) dengan meningkatnya pakan tunggal dan diberikan secara ad libitum produksi VFA dalam rumen akan sehingga ternak selalu mendapat kesempatan menyebabkan penurunan pH cairan rumen. karena di dalam rumen kerbau degradasi Hasil fermentasi di dalam rumen yang berupa pakan dan protein endogenus yang VFA akan mengakibatkan penurunan pH di berlangsung cepat. dan 4 jam setelah pemberian pakan dapat menjaga turunnya pH. 1994). Menurut Owen dan Zinn Kinetik NH3 cairan rumen dan rerata (1988). sehingga selain protein yang mengalami degradasi di dalam rumen dan Kinetik NH3 Cairan Rumen Kerbau menghasilkan NH3. untuk makan dan waktu ruminasi lebih Kinetik pH cairan rumen tersebut banyak. karena kandungan protein kasar pada K yang Peningkatan nilai pH tersebut di duga karena cukup tinggi dan bentuk atau tekstur dari terjadinya absorbsi dari hasil fermentasi di pakan K yang kasar dan masih cukup segar dalam rumen yang berupa NH3 dan VFA. konsentrasi NH3 akan mengakibatkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan pH cairan rumen dan konsentrasi NH3 cairan rumen kerbau pada 0. saat diberikan. Fluktuasi nilai pH karbohidrat.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang. Hasil penelitian Soest. yang mana Tingginya konsentrasi NH3 pada pakan protein pakan akan didegradasi menjadi G selain disebabkan oleh kandungan protein peptida. juga adanya sekresi saliva yang cukup banyak. asam amino dan NH3. cenderung mengalami penurunan secara namun demikian antara pakan G dan JJ tidak bertahap hal ini disebabkan oleh terjadinya menunjukkan perbedaan yang nyata. Penurunan pH ini terus tinggi. Ternak yang dicapai pada 6 jam setelah pemberian pakan mengkonsumsi pakan banyak mengandung dengan nilai pH 7. 3. Dijelaskan oleh relatif kecil disebabkan ketiganya merupakan Kerley et al. Sedangkan kasarnya yang relatif tinggi dibanding pada serat kasar akan dedegrasai oleh bakteri kedua pakan lainnya juga kemungkinan selulolitik dalam rumen dengan hasil VFA.

Namun demikian rendah hal ini disebabkan kandungan protein apabila dibandingkan dengan konsentrasi NH3 pada pakan JJ yang relatif rendah. Hal ini kemungkinan cairan rumen relatif rendah bila dibanding karena recycle urea kedalam rumen kerbau dengan pakan G. Hal ini adalah solubilitas dan laju degradasi protein sesuai dengan pendapat MC Donald et al. amonia rumen akan rendah dan pertumbuhan 1983). Lebih lanjut dapat terbypass masuk dalam duodenum dan Widyobroto et al. 20 Mei 2009 (Abdullah et al. Selain itu konsentrasi amonia juga (1988). akibat degradasi Konsentrasi NH3 pada pakan JJ relatif karbohidrat akan terhambat.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang. Dengan adanya tanin dalam pakan K. dibanding dengan konsentrasi amonia pada tanin tersebut akan bereaksi dengan saliva pakan JJ dan K. pada sapi PO dengan pakan yang sama. (1995). NH3 yang diperoleh juga lebih tinggi. mikrobia rumen lambat. pakan. sehingga konsentrasi adanya anti nutrisi yaitu tanin pada pakan K. Sedangkan pada pakan K yang kandungan konsentrasi NH3 pada cairan rumen kerbau ini 120 110 V F A (M M O L ) 100 90 80 70 0 1 2 3 4 6 W A K T U S E T E L A H P E M B E R IA N P A K A N ( J A M ) G L IR IC ID IA J . Kinetik Total VFA Cairan Rumen Kerbau proteinnya relatif tinggi konsentrasi NH3 relatif lebih tinggi. apabila pakan rendah kandungan dipengaruhi oleh waktu pengosongan rumen.. Hal ini disebabkan oleh berjalan lebih optimal. menyatakan bahwa sebagai protein pakan yang lolos dari konsentrasi amonia di dalam rumen juga degradasi dan dimanfaatkan untuk pemenuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kebutuhan protein tubuh ternaknya. sehingga protein kandungan protein kasar pada pakan G yang yang dapat di degradasi dalam rumen cukup tinggi tersebut maka konsentrasi NH3 merupakan protein yang tidak terikat oleh yang dihasilkan juga cukup tinggi bila tanin. Hal ini Tanin akan mengakibatkan protein pakan sulit sesuai dengan pendapat Kennedy (1992) Pemberdayaan Peternakan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan 249 .. sumber endogen termasuk degradasi dan namun demikian protein pakan tersebut akan recycle urea ke dalam rumen. protein atau protein tahan terhadap degradasi laju penggunaan nitrogen oleh biomasa oleh mikrobia rumen maka konsentrasi mikrobia dan absorbsi amonia (Djajanegara. Oleh karena didegradasi di dalam rumen. bahwa konsentrasi amonia dalam terproteksi dan tidak dapat didegradasi dalam rumen tergantung dari protein pakan dan rumen menjadi senyawa yang lebih sederhana. 1991). Hal ini sesuai dengan yang waktu pakan masih berada dalam mulut dinyatakan oleh Kennedy dan Miligan sehingga mengakibatkan protein pakan (1980).J A G U N G K A L IA N D R A Ilustrasi 3.

Van Soest (1994). pakan G maupun K lebih tinggi dibanding bahwa pakan sangat mempengaruhi produksi pada pakan JJ.46 dan konsentrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedangkan pada pakan JJ dicapai pada 6 jam konsentrasi total VFA pada G dan K lebih setelah pemberianpakan dengan konsentrasi tinggi dibanding pada pakan JJ.86 mg/100 ml. Jerami Jagung dan Kaliandra . n-valerat. dengan konsentrasi sebesar 28. Lebih disebabkan karena kandungan protein pada lanjut dijelaskan oleh Hvelplund (1991). JJ dan K disajikan pada dicapai pada 2 jam setelah pemberian pakan Ilustrasi 3. n- G maupun pakan K. JJ dan K masing-masing Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh sebesar 27. disebabkan oleh tingginya kandungan Rata-rata konsentrasi NH3 selama 24 karbohidrat dalam kedua jenis pakan tersebut. mg/100 ml. rasio hijauan jenis pakan sebesar 4. Tingginya konsentrasi total VFA pakan dengan kandungan protein yang cukup pada pakan G dan K kemungkinan selain tinggi.73 dan 15.17 mg/100 ml. Pada penelitian ini VFA dalam rumen.95 mg/100 ml. untuk perkembangan mikrobia rumen.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang. pemberian pakan dan kemudian cenderung bahwa perkembangan mikrobia rumen menurun. serta 3 – 5 jam yang mendapat pakan K.90 sampai 29.92 mg/100 ml serta pada pakan K dicapai antara pakan G dan K tidak menunjukkan pada 8 jam setelah pemberian pakan dengan perbedaan. Namun 9. frekuensi pemberian pakan. Perbedaan ini lebih butirat. puncak konsentrasi NH3 pada pakan yang namun demikian konsentrasi total VFA mengandung urea terjadi pada 1 – 2 jam tertinggi terjadi pada cairan rumen kerbau setelah pemberianpakan. selama 24 jam pada ketiga jenis pakan tidak Menurut Owens dan Zinn (1988). Hal ini yang mendasari perbedaan ekskresi Kinetik total VFA cairan rumen dan allantoin antara kedua spesies ini.13. amonia 3 – 8 mg N/100 ml. Sedangkan pemberian pakan. bila dibanding dengan konsentrasi NH3 pakan asam propionat.3 – 13. iso-butirat dan iso-valerat. Pada pakan JJ dan K konsentrasi maksimum diperlukan konsentrasi NH3 total VFA tertinggi pada 4 jam setelah sekitar 2. sintesis pada ketiga jenis pakan menunjukkan bahwa protein bakteri dalam rumen dapat pada 0 jam setelah pemberian pakan total VFA berlangsung optimum pada konsentrasi cenderung tinggi dan kemudian menurun. 20 Mei 2009 bahwa laju recycle urea ke dalam rumen pada Kinetik Total VFA Cairan Rumen Kerbau kerbau lebih tinggi dibanding pada sapi. Namun demikian total VFA menurut Satter dan Slyter (1979). oleh produksi VFA dari fermentasi karbohidrat pakan. bahwa menunjukkan adanya perbedaan yang nyata.3 mg/100 ml. disamping itu juga konsentrasi NH3 cairan rumen pada ketiga dipengaruhi oleh level konsumsi. 8. Hal ini Total VFA pada G memperlihatkan sesuai dengan yang dinyatakan oleh Blanchart konsentrasi tertinggi pada 6 jam setelah (1984) yang disitasi oleh Widyobroto (1995).05) dengan komponen utama adalah asam asetat. rerata selama 24 jam pada sapi PO yang diberi Konsentrasi NH3 optimal pada pakan G pakan tunggal G. bahwa produk utama dari sedangkan pada pakan JJ menunjukkan fermentasi karbohidrat adalah berupa VFA konsentrasi NH3 yang lebih rendah (P<0. asam butirat. Sedangkan terjadinya 250 Parameter Fermentasi Rumen Kerbau yang Diberi Pakan Tunggal Glirisidia. sedangkan walaupun demikian terjadi kenaikan lagi pada beberapa peneliti melaporkan bahwa tidak 3 jam setelah pemberian pakan dan kemudian terjadi peningkatan produksi mikrobia dengan menurun kembali. jam pada pakan G. Peningkatan konsentrasi adanya peningkatan konsentrasi amonia lebih total VFA pada ketiga jenis pakan disebabkan dari 50 mg /liter dalam rumen (Ørskov. 1992). Rerata konsentrasi total VFA konsentrasi NH3 sebesar 12. masih dalam kisaran normal suplementasiminyak dan bentuk fisik pakan. kemudian JJ dan setelah pemberian pakan bila ternak diberi terakhir G.

Bandung.I. M. 58: 452 – 458.05 sampai 9.74 mmol/liter dan terakhir urea supplements in animal fed tropical adalah kerbau yang diberi pakan jerami grasses. and J.77 Kennedy. Ranjhan. Dairy Abdullah N.) Rumen Microbial Berdasarkan penelitian yang telah Metabolism and Ruminant Digestion. Effects of treating wheat straw with pH regulated DAFTAR PUSTAKA solution alkaline hydrogen peroxideon nutrient digestion by sheep. 119 : 255 – 263 4th Ed. Konsentrasi NH3 dan VFA tertinggi dicapai pada 3 dan 4 Kerley.32 mmol/liter. Astuti. Fahey. Protein Nutrition in Health of the Domestic Buffalo. In: L. Pp.. 70 : 2078 – 2084 Jalaludin. Sci. 1991.R. 1991. Boniface.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang. Pemanfaatan Limbah Pertanian untuk Prentice Hall.81 sampai Muller and R.P. Effect of Management and Feeding of Buffaloes. 119: 243 jagung yaitu 5.54 sampai 95. and N.C.V. Protein Djajanegara.L.D. Englewood Cliffs. A.P. dilakukan dapat disimpulkan bahwa kerbau INRA. pp. Cockril (ed.) Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan Smallholder Dairying in the Tropics. 167 – 194.46 mg/100 ml dan 77. Church (Ed). Tinjauan ulang metabolism of ruminant animals.19 sampai 103. Jouany (Ed. Murray.40 mg/100 ml dan cattle.M. Institute of Land & Food Resources. In: W. New Makanan Ternak. Sci. R. Agric.D. Pemberdayaan Peternakan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan 251 . and N.92 mg/100 ml dan – 254. V. Milking buffalo. Lembaga Kimia Jersey. Faria. and R. Owens. G. Pathak. Merchen. 1987.R. P. 101 – 116. Volatile fatty acids and KESIMPULAN protein production in the ruminants In : J. Universitas Gadjah Mada. Italy. 1992. Z. M. Zinn. 1999. 1979. Academic Press.S. Yogyakarta. 1981. London. Animal Nutrition.A.K.J. Digestive Phisiology and Nutrition. 1988. J.N. Huber. 1984. London.T. protein mikrobia rumen. Intake 116. J.14 mmol/liter kemudian disusul pakan and digestion in swamp buffaloes and kaliandra 11. Kenya. Nolan. Longman.M. Nutrition.R. T. sampai 29. Sci. Nasional dan LIPI. J.73 sampai 12. Edwards and S. P. D. The Ruminant Kumpulan Makalah Seminar. The comparative response to 91.) The Husbandry and Ørskov. Camb. E. J. FAO Ruminant. Berger jam setelah pemberian pakan. straw with or without molasses.R. 1992. In: mengenai suplemen pada jerami padi. Bagian Falvey and C.S.. 1988. J. M. S. 1974. C.N. Analisis Statistik Bagian II. 20 Mei 2009 penurunan konsentrasi total VFA karena dietary protein and energy level on terjadinya absorbsi VFA serta pemanfaatan rumen fermentation in holstein steers. 165 – 178 yang diberi pakan glirisidia menghasilkan NH3 dan total VFA tertinggi yaitu antara 24.F. First edition. Rancangan Percobaan dan Mudgal.. J. UN Rome. Chalmers. Hvelplund. Camb. Pp: 227 – 249.. VFA sebagai kerangka karbon untuk sintesis Anim. 85. 1983. Greenhalgh. Liang. Anim Sci. Digestion and nitrogen conservation in cattle and buffalo given Mc Donald. D. L. Mahyudin and S. M. V. F. Chantalakhana (Eds.S. Paris. pp.

Jerami Jagung dan Kaliandra . ruminansia.. limbah of ammonia concentration on rumen pertanian dan konsentrat) untuk ternak mikrobial production in vitroi. Widyobroto. Nutr. Pendugaan kualitas Satter. B. J. Comstock Publishing Associates a Division of Cornell University Press.P. Nutritional Ecology of The Ruminant. UGM. P. 32 : 199 Fakultas Peternakan.J. and L. 20 Mei 2009 Vikas Publishing House PUT LTD. L. Padmowijoto dan R. Utomo. 2nd Edition.L. Slytre. Effect protein bahan pakan (hijauan. (1979). 252 Parameter Fermentasi Rumen Kerbau yang Diberi Pakan Tunggal Glirisidia. Van Soest. 1995.Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan – Semarang. S.D. Yogyakarta. Ithaca and London. Laporan Penelitian. 1994. New Delhi. Br.