MAKALAH FITOFARMASI

Parameter non spesifik standarisasi obat herbal : kadar
residu air, kadar abu, kadar abu larut asam, aspek
mikrobiologi, kapang kamir

Di susun oleh :
Hamdan Nababa (10114071)
Hidayat Hariadi (10114147)
Istifadatul Zulfa
Khusnul Khotimah (10114092)
Muftirza R
Rita Purna (10114086)
Timoty Ardianto
Shara Ayu Agustie (10114061)
Yumamik Indar (10114044)

INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
TAHUN 2016/2017

obat tolak angin cair. mineral-mineral. penetapan kadar abu (ashfalue). Sedangkan definisi pengobatan herbal adalah pengobatan tradisional atau pengobatan ramuan yang di dasarkan pada pemakaian tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuhan. penetapan logam berat ( geafimetal). herboyogi. Herbalisme juga dikenal sebagai pengobatan dengan penggunaan tumbuhan untuk pengobatan. tidak seperti obat-obatan sintetis yang dapat memberikan efek samping baik secara langsung maupun setelah waktu yang lama ( Fauzan. pil atau cairan yang dalam prosesnya tidak menggunakan zat kimia. 2009). maupun negara-negara maju. Salah satu standart standarisasi yaitu uji penetapan parameter non spesifik yang meliputi penetapan kadar air (moisture konten). 2007). Seperti yang kita ketahui obat herbal dapat menyembuhkan penyakit dengan efek samping yang minim karena di buat dari bahan-bahan yang alami. Misalnya jamu. Kadang-kadang lingkup dari obat bahan tumbuhan yang dipergunakan diperluas termasuk produk-produk jamur dan lebah. Indonesia merupakan negara besar yang terkenal karena keanekaragamannya. salah satunya adalah keanekaragaman tumbuhan. BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Obat herbal adalah obat yang berasal dari tumbuhan yang di proses atau diekstrak sedemikian rupa sehingga menjadi serbuk. obat herbal. medis secara herbal. Selain itu indonesia juga memiliki keanekaragaman etnis yang memiliki berbagai macam pengetahuan tentang obat tradisional yang menggunakan bahan-nahan dari tumbuhan. Pemakaian herbal sebagai obat-obatan tradisional telah di terima luas di negara-negara maju maupun berkembang sejak dahulu kala. 2009). penetapan residu peptisida (pestioide residues). dan sebagainya. Banyak dari jenis tumbuhan digunakan oleh nenek moyang bangsa indonesia dan dokter sebagai bahan obat atau tradisional untuk . dan identifikasi aflatoksin ( Fauzan. atau bagian binatang tertentu ( Fauzan. World gealth organization (WHO) atau badan kesehatan dunia menyebutkan bahwa hingga 65% dari penduduk negara maju menggunakan pengobatan tradisional dan obat-obatan dari bahan alami (Kemenkes RI. baik di negara yang sedang berkembang. cemaran mikroorganisme (mikrobial kontaminan). 2009). bahkan dalam 20 terakhir perhatian dunia terhadap obat-obatan tradisional meningkat.

Dari jumlah tersebut sekitar 30. berbagai macam penyakit dan memberikan hasil yang baik bagi pemeliharaan kesehatan serta pengobatan. kadar abu larut asam.000 spesies hidup di kepulauan indonesia dan sekurang-kurangnya 9600 spesies di ketahui berkhasiat obat. 2007). Di bumi ini di perkirakan terdapat 40. kadar abu. kadar abu. 3 Tujuan Makalah Adapun tujuannya yaitu: Mengetahui parameter non spesifik standarisasi obat herbal meliputi kadar residu air dan etanol. aspek mikrobiologi serta kapang khamir dari tanaman .000 spesies tumbuhan. aspek mikrobiologi serta kapang khamir dari tanaman . tetapi baru 300 spesies yang telah di manfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan industri obat tradisional (Kemenkes RI. kadar abu larut asam. 2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalahnya yaitu: Bagaimana parameter non spesifik standarisasi obat herbal meliputi kadar residu air dan etanol.

mutu dalam arti memenuhi syarat standar (kimia. termasuk jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian umumnya. penetapan kadar Abu (ash value). BAB II PEMBAHASAN 2. A. dan identifikasi aflatoksin. Variasi senyawa kandungan dalam produk hasil panen tumbuhan obat (invivo) disebabkan beberapa aspek diantaranya aspek genetik (bibit). dan farmasi).1 Standardisasi Standardisasi adalah serangkaian parameter. iklim. penetapan residu pestisida (pesticide residues). Parameter spesifik Beberapa parameter spesifik standarisasi yaitu meliputi parameter identitas ekstrak. Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan tumbuhan liar (wild crop). lingkungan (tempat tumbuh dan iklim). tempat tumbuh. penetapan kadar air (moisture content). Pengertian standardisasi juga berarti proses menjamin bahwa produk akhir obat (obat. serta panen (waktu dan paska panen). biologi. .2 Parameter-parameter Standar Ekstrak Parameter-parameter standar ekstrak terbagi menjadi 2. penetapan logam berat (heavy metal). rekayasa agronomi (fertilizer dan perlakuan selama masa tumbuh). yaitu parameter non spesifik dan parameter spesifik. organoleptis. Parameter non-spesifik Beberapa aspek parameter non spesifik Yaitu. Persyaratan mutu ekstrak terdiri dari berbagai parameter standard umum dan parameter standar spesifik. serta proses pasca panen dan preparasi akhir. 2. prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma mutu kefarmasian. B. senyawa terlarut dalam pelarut tertentu dan juga uji kandungan kimia. kondisi (umur dan cara) panen. ekstrak atau produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan (dirancang dalam formula) terlebih dahulu. kandungan kimianya tidak dijamin selalu konstan karena adanya variabel bibit. cemaran mikroorganisme (microbial contaminant).

dan arsen. 1988) . 2005) 4. Kadar Abu tidak larut asam menandakan kehadiran silikat yang terdapat didalam pasir atau tanah. tembaga. dan destilasi. Logam berat yang berbahaya dan Ada di sediaan OT adalah merkuri. 1. dengan cara Abu total dilarutkan dalam asam klorida dan di bakar. Kehadiran logam berat diukur dengan membandingkan menggunakan standar. kami lebih membahas tentang parameter non-spesifik standarisasi sediaan obat herbal . (AOAC. (AOAC. Nilai kadar air yang tidak sesuai dengan standar Akan dapat mempengaruhi kualitas herbal Yaitu Sebagai media tumbuh mikroorganisme yang Baik. Umumnya kadar air ditetapkan dengan cara destilasi apabila terdapat minyak astir di dalamnya. Kadar Abu total menunjukkan jumlah senyawa anorganik. Sisa Abu pembakaran merupakan nilai Abu tidak larut asam. penetapan logam berat Kontaminasi logam berat dapat terjadi secara tidak sengaja ataupun sengaja untuk ditambahkan. kadmium. mineral internal dan eksternal. Selain itu kadar air yang tinggi dapat menyebabkan masih berlangsungnya reaksi enzimatis yang dapat merubah metabolit sekunder di dalam tanaman tersebut. Penetapan kadar air (moisture content) Salah satu jaminan kemurnian dan kontaminasi adalah penetapan kadar air. 3. (WHO. 2. penetapan kadar abu larut asam Dari Abu total yang dihasilkan kita dapat menentukan kadar Abu tidak larut asam.Pada makalah ini. Perubahan metabolit sekunder Akan sangat mempengaruhi kualitas herbal itu sendiri dalam hal aktivitas farmakologinya. 2005) Cara penentuan logam berat yang sederhana dapat ditemukan dalam pharmacopoeias dan didasarkan pada reaksi warna menggunakan reagen spesifik Yaitu thiocetamide atau diethyldithiocarbamate. Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan 3 metode tergantung pada senyawa kimia didalamnya. Kadar Abu harus sesuai berdasarkan standar yang sudah ditetapkan di masing-masing ekstrak bahan tanaman.yakni titrasi. gravimetri. Penetapan kadar Abu Dalam menentukan kadar Abu. timbal. bahan tanaman di bakar dan residu Abu yang dihasilkan diukur Sebagai kadar Abu total. Pertumbuhan jamur ataupun bakteri dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolit sekunder.

(Watson.. Banyak pestisida mengandung klorin atau fosfat. 1999) 5. Pengukuran residu pestisida dapat dilakukan dengan menetapkan total organik klorin dan/ total organik fosfat apabila tercemar pestisida lebih dari satu (Kunle. .. 2012). 2011). et al. 6. (BPOM.Penetapan logam berat dapat menggunakan instrument seperti Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). et al. Persyaratan parameter non spesifik ekstrak secara umumditunjukkan pada Tabel 1 yang merupakan persyaratan parameter non spesifik ekstrak secara umum (Saifudin et al. 2012) Penentuan pestisida tunggal dapat dilakukan dengan metode kromatografi gas (Kunle. dan penggunaan pestisida gas Selama penyimpanan. penetapan residu pestisida OT dapat mengandung residu pestisida. Inductively coupled plasma (ICP). 2004). yang terakumulasi melalui proses agricultural seperti penyemprotan. Tetapi apabila senyawa pestisida atau senyawa lain juga terdeteksi dalam kromatogram suatu residu pestisida maka perlu dilakukan suatu perlakuan kimiawi atau Fisika lain untuk menghilangkan atau mengurangi intervensi senyawa senyawa tersebut sebelum dilakukan kuantitasi residu pestisida yang ingin ditentukan. Tujuan dari parameter ini adalah untuk memberikan jaminan bahwa ekstrak mengandung mikroba patogen dan tidak mengandung mikroba nonpatogen melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan berbahaya (toksik) bagi kesehatan. treatment pada tanah Selama proses penanaman. dan Neutron Activation Analysis (NAA). Parameter Cemaran Mikroba Parameter cemaran mikroba digunakan untuk menentukan (identifikasi)adanya mikroba yang patogen secara analisis.

Cara penentuan logam berat yang sederhana dapat ditemukan dalam pharmacopoeias dan didasarkan pada reaksi warna menggunakan reagen spesifik Yaitu thiocetamide atau diethyldithiocarbamate. dan arsen. Pertumbuhan jamur ataupun bakteri dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolit sekunder.1. BAB III PENUTUP 3. f) ekstrak mengandung mikroba patogen dan tidak mengandung mikroba nonpatogen melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan berbahaya (toksik) bagi kesehatan DAFTAR PUSTAKA . kadmium. b) Kadar Abu total menunjukkan jumlah senyawa anorganik. e) OT dapat mengandung residu pestisida. c) Kadar Abu tidak larut asam menandakan kehadiran silikat yang terdapat didalam pasir atau tanah d) Logam berat yang berbahaya dan Ada di sediaan OT adalah merkuri. Perubahan metabolit sekunder Akan sangat mempengaruhi kualitas herbal itu sendiri dalam hal aktivitas farmakologinya. dan penggunaan pestisida gas Selama penyimpanan. tembaga. treatment pada tanah Selama proses penanaman. Kesimpulan a) Nilai kadar air yang tidak sesuai dengan standar Akan dapat mempengaruhi kualitas herbal. mineral internal dan eksternal. timbal. yang terakumulasi melalui proses agricultural seperti penyemprotan.

2009. 18th Ed. Geithersburg... 2005.. 4(3): 101-112 Watson. 1988. 3rd Ed. Int. Excipients. MD BPOM. Biodiversity. Edinburgh WHO. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Bandung : Gramedia Kemenkes RI. Pharmaceutical Analysis. World Health Organization. 1999. The International Pharmacopeia. Bisnis Obat-Obat Herbal dan Definisi Obat Herbal. Churchill Livingstone. and Dosage Forms. et al. Geneva . Official Methods of Analysis of AOAC International. Standardization of Herbal medicine – A review. Quality Spesification for Pharmaceutical Substances. Conserv. 2012. J. p.G. D. 2004. 121-146 Kunle. Obat-Obat Herbal. AOAC International. Jakarta AOAC. 2007. Jakarta.Fauzan A.