You are on page 1of 4

BAB III

No Perihal Hasil
O O
1. Waktu pemanasan 100 C - 200 C (22,38 menit)
2. Waktu kesetimbangan 10 menit
3. Waktu pembinasaan (30 menit + 15 menit) = 45 menit
4. Waktu jaminan sterilisasi 15 menit
5. Waktu pendinginan 5 menit

No Perihal Hasil
1. Warna Kekuningan
2. Bau Khas bau lanolin
HASIL PERCOBAAN
3.1 Hasil
A Sterilisasi Alat

B Organoleptis
C Homogenitas
- Sediaan kurang homogen
D Uji Daya Sebar
- 2 cm
E Pengukuran pH
- pH sediaan salep yang diuji memiliki pH sebesar 6.
3.2 Perhitungan
1 Kloramfenikol 0,02 g + 10% = 0,022 g
2 Lanolin 0,2 + 10% = 0,22 g
3 Paraffin Liq 0,2 + 10% = 0,22 g
4 Vaselin Flavum 1,58 + 10% = 1,738 g

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dibuat salah satu jenis sediaan semisolida untuk penggunaan topikal
yaitu sediaan salep mata dengan bahan aktif kloramfenikol sebesar 1%, sesuai dengan yang telah
ditetapkan dalam literatur yakni kloramfenikol digunakan sebanyak 0,5-1% dalam sediaan
(Ansel, 2008). Kloramfenikol dalam sediaan ini berkhasiat untuk mengobati infeksi superficial
pada mata yang disebabkan bakteri (McEvoy, 2002). Pada praktikum ini dibuat sediaan salep
mata kloramfenikol dengan bobot 2 gram. Karena sangat sensitif, kesterilan dari sediaan salep
mata harus benar-benar terjaga. Salep mata yang baik harus memiliki kehomogenan yang baik
atau harus bebas dari partikel kasar yang dapat mengiritasi mata serta salep mata.
Sediaan salep mata kloramfenikol merupakan sediaan steril yang tidak tahan terhadap
panas, sehingga tidak dapat dilakukan sterilisasi akhir terhadap sediaan ini. Dengan demikian
untuk menjamin sterilitas dari sediaan salep mata kloramfenikol, maka selama proses produksi
harus dilakukan secara aseptis, dimana semua alat-alat dan bahan-bahan yang akan digunakan
saat proses pembuatan salep mata harus disterilisasi terlebih dahulu kemudian dalam
pengerjaannya dijaga seminimal mungkin dari kontaminasi mikroba.
Dari formulasi tersebut dapat dihitung penimbangan masing-masing bahan.
Kloramfenikol ditimbang sebanyak 0,022 gram, adeps lanae ditimbang sebanyak 0,22 gram,
vaselin flavum ditimbang sebanyak 1,738 gram dan paraffin cair ditimbang sebanyak 0,22 gram.
Setelah dilakukan penimbangan masing-masing bahan, kemudian dilakukan peleburan basis pada
cawan porselen. Peleburan dilakukan menggunakan magnetik stirer selama kurang lebih 15
menit sampai seluruh basis melebur sempurna. Peleburan ini juga berfungsi untuk sterilisasi
bahan di mana vaselin yang mengandung kolesterol (lemak bulu domba) dapat disterilkan
menggunakan udara panas tanpa mengurangi kualitasnya (Voigt, 1994). Kemudian dilakukan
pencampuran bahan aktif dengan basis. Pencampuran dilakukan pada saat basis masih dalam
keadaan panas karena apabila dibiarkan sampai dingin maka basis akan mengeras perlahan.
Pada monografi tercantum bahwa kloramfenikol sukar larut dalam air, mudah larut dalam
propilen glikol, aseton, dan etil asetat (DepKes RI, 1995). Dalam hal ini penggunaan propilen
glikol sebagai pelarut dalam formulasi salep mata dihindari karena propilen glikol memiliki daya
osmotik yang dapat merangsang mata serta bersifat iritan bagi mata (Kibbe, 2000) sehingga
sebagai pengatasannya dilakukan penggerusan kloramfenikol terlebih dahulu di dalam mortir
hingga halus, baru ditambahkan basis sedikit demi sedikit hingga homogen (Jenkins et al., 1957).
Untuk menjamin kehomogenitasan sediaan, kloramfenikol digerus terlebih dahulu di dalam
mortir untuk memperoleh ukuran partikel kloramfenikol yang lebih kecil sehingga nantinya akan
dapat terdispersi homogen dalam basis yang digunakan kemudian basis ditambahkan sedikit
demi sedikit dan digerus agar bahan aktif dan basis tercampur merata dalam sediaan. Pada saat
penggerusan, kloramfenikol dapat bercampur dengan basis dan diperoleh campuran semisolid
yang homogen dan berwarna kuning. Setelah diperoleh campuran yang homogen kemudian
campuran bahan ditimbang sebanyak 2 gram untuk kemudian dimasukkan ke dalam pot salep.
Setelah semua campuran masuk ke dalam pot, sediaan diberi etiket kemudian dimasukkan ke
dalam kemasan. Sediaan salep mata ini disimpan pada suhu kamar dan diletakkan pada tempat
yang terlindung dari cahaya (Reynolds, 1982). Sediaan akhir yang diperoleh praktikan bertekstur
halus dan berwarna kuning.
Sediaan salep mata kloramfenikol yang sudah selesai kemudian dievaluasi. Adapun
evaluasi yang dilakukan antara lain uji daya sebar, uji homogenitas, organoleptis serta
pengukuran pH. Pertama yang dilakukan adalah uji daya sebar. Untuk melakukan uji daya sebar
maka dilakukan dengan cara mengoleskan salep mata pada bagian tengah kaca uji, kemudian
bagian atasnya ditutup dengan kaca uji yang lainnya dan diukur diameternya. Dari uji sebar
diperoleh diameter sebesar 2 cm. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
untuk uji daya sebar mempunyai diameter antara 3,5 sampai 4,5 cm (Voight, 1994). Dari uji
evalusi daya sebar ini, dapat diketahui bahwa salep mata kloramfenikol memiliki daya sebar
yang kurang baik dimana salep tidak dapat tersebar merata pada permukaan kaca dan
membentuk lingkaran yang kurang utuh serta adanya udara di dalam lingkaran tersebut (Voight,
1994).
Evaluasi yang selanjutnya dilakukan adalah uji homogenitas. Uji ini dilakukan dengan
cara mengoleskan sediaan salep mata kloramfenikol pada kaca objek. Dari pengujian ini
diketahui bahwa salep mata kloramfenikol memiliki homogenitas yang kurang bagus. Hal
tersebut ditunjukkan dengan terdapatnya butiran butiran kasar pada sediaan yang menandakan
zat aktif kloramfenikol belum terdispersi secara homogen. Menurut British Pharmacopea, batas
ukuran partikel untuk salep mata yaitu setiap 10 mikrogram zat aktif tidak boleh memiliki
partikel lebih besar dari 90 nm, tidak boleh lebih dari 2 partikel lebih besar dari 50 nm dan tidak
boleh lebih dari 20,25 nm (Lukas, 2006). Jadi bisa dikatakan sediaan yang dibuat belum baik
karena masih terdapatnya butiran butiran kasar.
Evaluasi terakhir yaitu pengukuran pH pada sediaan salep mata. Hasil yang diperoleh
yaitu pH 6. Hal ini sudah sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pH zat aktif
kloramfenikol berkisar antara 4,5 sampai 7,5 (Depkes RI, 1995).
BAB V
PENUTUP
1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kali ini yaitu:
1 Untuk membuat sediaan salep mata kloramfenikol dengan bobot 2 gram dapat
menggunakan formula berikut ini :
R/ Kloramfenikol 0,02 g
Adeps lanae 0,2 g
Vaselin flavum 1,58 g
Parafin cair 0,2 g
2 Permasalahan yang muncul dalam pembuatan sediaan ini adalah sifat kloramfenikol yang
tidak larut air sehingga untuk menghasilkan sediaan yang homogen maka kloramfenikol
terlebih dahulu digerus dalam mortir dan dilarutkan dalam basis berlemak. Selain itu
karena sediaan ini ditujukan untuk penggunaan pada konjungtiva mata maka sediaan
harus lembut dan tidak mengiritasi mata sehingga diperlukan penggantian vaselin flavum
sebanyak 10 % parafin cair yang bersifat sebagai emolient (pelembut).
3 Sediaan salep mata kloramfenikol merupakan sediaan steril yang tidak tahan terhadap
panas, sehingga tidak dapat dilakukan sterilisasi akhir terhadap sediaan ini. Dengan
demikian untuk menjamin sterilitas dari sediaan salep mata kloramfenikol, maka selama
proses produksi harus dilakukan secara aseptis.