You are on page 1of 29

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi

0

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi

BAB I INTRODUKSI
Semacam Latar Belakang Bila berbicara mengenai koperasi tidak sedikit dari

masyarakat kita yang masih salah paham. Baik itu secara definisi koperasi, prinsif sampai dengan implementasinya. Harus diakui bahwa perkoperasian di Indonesia memang belum lah begitu besar seperti koperasi-koperasi di negara lain. Mayoritas masyarakat selalu mengasumsikan koperasi hanyalah sebagai unit usaha kecil bagi orang kecil dan selamanya akan terus kecil. Koperasi dilihat hanya sebagai kegiatan mikro organisasi saja atau sebagai bentuk perusahaan biasa seperti halnya persero kapitalis atau bisnis milik negara. Sungguh disayangkan kesalah-pahaman ini begitu terus mengakar dalam benak masyarakat sehingga menyebabkan keogahan masyarakat untuk mengenal lebih dekat dengan koperasi. Padahal bila koperasi dipahami secara mendalam ternyata memiliki dimensi yang lebih kompehenrensif, baik itu makro-ideologi, mikro organisasi, sebagai gerakan perubahan sosial (social change movement) maupun ruang individualita. Penyebab ketidak-tahuan masyarakat akan koperasi secara detail memang perlu diakui karena faktor kurangnya sosialisasi pendidikan koperasi yang sejati bagi masyarakat dan ini pun tak luput dari keberhasilan pemerintahan orde baru yang mengkerdilkan makna dan nilai-nilai koperasi yang terus terbawa sampai sekarang.

1

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Hasil poling yang pernah dilakukan oleh KOPKUN (Koperasi Kampus Unsoed) pada Bulan Desember 2009 sampai Januari 2010 dengan pertanyaan yang mendasar “Apa itu Koperasi ?”

memperlihatkan bahwa 60,9% dari 156 orang dari mahasiswa dan umum menjawab koperasi sebagai kumpulan modal (capital based association) sedangkan sisanya, 39,1% menjawab secara benar koperasi sebagai kumpulan orang . Hal ini cukup memperlihatkan dengan tegas kalau kesalah-pahaman masyarakat sudah menjalar kemana-mana bahkan mahasiswa yang dimana selalu dianggap sebagai generasi intelektual juga malah ikut kesalah pahamanan tersebut. Ironis. Seperti yang telah diketahui bahwa pembangunan nasional kini menghadapi situasi yang sulit di sektor perekonomian. Tantangan ini diperparah oleh krisis ekonomi yang pernah dialami bangsa kita yang semakin memperburuk keadaan perekonomian masyarakat, khusunya masyarakat kecil. Sejatinya bangsa kita telah memiliki solusi yang merupakan warisan founding father rakyat yang mempunyai sifat self help and reliance organization. Indikator kemajuan sebuah negara demokrasi diantaranya yaitu tingginya tingkat partisapasi masyarakat dalam setiap bidang termasuk didalamnya yaitu partisapasi dalam bidang ekonomi. Tingkat partisipasi masyarakat akan sangat ditentukan oleh kemampuan dan kesempatan yang dimiliki oleh mereka secara
1 1

terjerumus dalam

yaitu

berupa membangun perusahaan koperasi sebagai lembaga ekonomi

KOPKUN : 2010 hal 15

2

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
merata. Relevansi partisipasi masyarakat tentu akan bergantung dengan pemahaman masyarakat terhadap apa yang akan

digelutinya. Maka dari itu menjadi sebuah PR besar bagi kita semua, bila pemahaman koperasi juga masih banyak yang salah kaprah bagaimana bisa partisipasi masyarakat yang akan menggeluti dunia perkoperasian meningkat ?. Globalisasi merupakan hal yang tak bisa terbantahkan untuk konteks kekinian. Fenomena globalisasi tak sekedar menjadi wacana yang diperdebatkan dalam diskursus publik, melainkan sudah menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh sebagian besar Negara2. Sekarang seluruh umat manusia tidak lagi tersekat dan dibatasi oleh hanya garis teritorial. Walau di lain tempat satu sama lain bisa saling berjejaring dan berhubungan. Bahkan karena adanya arus globalisasi yang begitu kuat tentu sesuatu yang terjadi disatu tempat bisa berdampak juga secara global. Contohnya beberapa waktu lalu saat krisis global yang awalnya mengerogoti Amerika Serikat juga berdampak belahan dunia lain termasuk negeri kita tercinta, Indonesia. Bahkan dampaknya telah sampai ke pelosokpelosok desa dan begitu menghancurkan patron ekonomi desa.

Seperti harga TBS (tandan buah segar) dan CPO merosot tajam sampai nilai Rp.150/kg yang sebelumnya rata-rata diatas Rp.2000an/kg. dilain pihak harga downstream product-nya seperti

2

Nasution : 2008

3

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
minyak goreng, margarine dan produk turunan lainnya yang dikuasai pemodal besar relatif stabil dan bahkan cenderung naik3. Globalisasi memang multidimensi namun tampaknya

globalisasi ekonomi lah yang selalu menghegemoni di belahan dunia manapun. Dampaknya begitu terlihat nyata dan sangat terasa. Koperasi merupakan salah satu bagian dari penyelenggara

perekonomian yang kini dihadapkan pada tantangan jangka panjang dunia yang semakin liberal dan kapitalsitik. Yang harus dihadapi oleh koperasi tiada lain adalah raksasa-raksasa kapitalisme semacam Mutinational dan Transnational Corporation (TNC’s /MNC’s) serta lembaga-lembaga keuangan dan perdagangan dunia seperti

International Monetery Fund (IMF), World Bank, World Trade Organization (WTO). Globalisasi memang tak akan jauh dari dari arus kapitalisme dan liberalisasi. Adanya globalisasi memperlihatkan pada dunia tentang kontradiksi dan ketimpangan yang begitu mencolok yaitu yang kaya semakin kaya yang miskin terus menerus menjadi miskin dan semakin miskin. Globalisasi memang menjadikan mayoritas masyarakat tak berpunya didominasi oleh minoritas masyarakat berpunya. Pasar bebas (free market) sebagai topangan hidup kepentingan dari kapitalisme mendikte segala bentuk kehidupan masyarakat, dan termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Koperasi yang sejatinya terlahir pertama kali di dunia

3

Burhamzah, Insanial. 2009. “Modal sosial” Bangsa Untuk Menjawab Tantangan Sektor Riil & UKM dalam http://www.dekopin.coop/.

4

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
juga didorong oleh faktor kesengsaraan masyarakat karena keganasan kapitalisme tentu seharusnya bisa menjadi solusi guna mengalahkan kapitalisme, apalagi untuk negara kita yang sejatinya mayoritas penduduknya adalah pembenci penindasan.

5

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi

BAB II KOPERASI, TAK KENAL MAKA KENALILAH
Konsep Koperasi (Sejati) Koperasi merupakan kumpulan orang-orang yang bersatu secara sukarela dan otonom dalam rangka mencukupi kebutuhan dan aspirasi sosial, ekonomi dan budaya secara bersama melalui usaha yang dimiliki bersama dan dikelola secara demokratis. Titik tekan dari definisi itu adalah koperasi sebagai kumpulan orang atau people based association.
4

Definisi di atas memang masih definisi yang minimal. Bukan definsi yang tuntas dan rigid. Namun definisi di atas setidaknya menekankan pada empat hal, sebagai berikut: 1. Koperasi adalah otonom, artinya sejauh mungkin dalam koperasi bebas dari intervensi pemerintah ataupun swasta dalam menyelenggarakan aktivitasnya. 2. Koperasi adalah kumpulan orang, hal ini berarti bahwa koperasi memiliki kebebasan untuk mendefinisikan dirinya sebagai jenis koperasi tertentu yang sesuai dengan kebutuhan anggota-anggotanya yang berkumpul dan berserikat itu.

4

KOPKUN ; 2010 hal 15.

6

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
3. Sukarela, bahwa keanggotaan koperasi didasari atas keinginan individu bukan paksaan orang atau lembaga tertentu. Juga bukan sebuah keanggotaan yang bersifat otomatis. 4. Anggota berkumpul dalam rangka mencukupi kebutuhan sosial, ekonomi dan budaya berarti bahwa koperasi bukan semata mengelola usaha, melainkan juga memedulikan aspek sosial-budaya. Inilah yang membedakan koperasi dengan badan usaha lainnya.
5

Dari penekanan definisi di atas memperlihatkan betapa mulianya koperasi. Namun sayangnya masih banyak yang tidak mengetahuinya secara mendalam adapun justru yang ada adalah mereka orang-orang yang menyelewengkan makna dari koperasi. Meluruskan Kembali Kesalah-Pahaman Kehadiran koperasi di Indonesia tercermin dalam UndangUndang Dasar 1945 pasal 33 ayat (1) dengan penjelasannya, bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai itu adalah koperasi. Bunyi seperti ini mungkin saja pernah kita dengar saat kita masih duduk dibangku sekolah dasar atau saat sekolah menengah pertama. Namun terkait seluk beluknya tidak banyak dari

masyarakat yang mengetahui dan memahaminya.

5

Ibid

7

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Dari latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat kita yang terjebak dalam kesalah pemahaman mengenai perkoperasian. Hal mendasar berupa titik tekan dari definisi koperasi pun masih didominasi oleh masyarakat yang menyatakan bahwa koperasi itu adalah sekedar kumpulan modal (capital based association). Bahkan lebih tragis beberapa teman penulis sempat mengeluarkan statement bahwa koperasi itu bagian dari kapitalisme. Koperasi tidak hanya sekedar badan usaha namun juga

didalamnya terdapat kekuatan ideologis yang kuat. Tujuannya pun begitu mulia yaitu mempebaiki dan memperkuat kondisi usaha pemodal atau memenuhi kepentingan ekonomi pemodal (anggota). Seperti awal mula lahirnya koperasi di Inggris yang dimana saat itu dua puluh delapan buruh tenun pada sebuah pabrik tekstil di Rochdale mendirikan koperasi untuk memperbaiki kualitas hidup mereka yang memprihatinkan karena adanya revolusi industri yang memunculkan kesenjangan antara kelas borjuis (para majikan dan pemilik pabrik) dan proletar (para buruh). Berberda dengan tujuan korporasi yang hanya ingin sekedar memperolah keuntungann sebesar-besarnya bagi pemilik modal saja. Begitu juga dalam kepemilikan, koporasi hanya dimiliki oleh segelintiran pemilik saham saja yang menetukan hak suaranya dalam korporasi (one share one vote) dan saham pun diperjual belikan berbeda dengan koperasi yang dimana tanggung jawab semua anggota sama, saham tidak menetukan besarnya hak suara (one man one vote) dan saham pun tidak diperjual belikan.

8

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Untuk memperjelas perbedaan diantara kedauanya

(koperasi dan korporasi) penulis mencantumkan bagan perbedaan mendasar koperasi dengan badan usaha lainnya, misal perusahaan swasta atau perseroan terbatas, sebagai berikut: Tabel : Perbedaan dari Corporation dan Cooperative No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Dimensi Basis organisasi Pemilik Orientasi Kebijakan tertinggi Hak suara Keuntungan Peran modal Arah kebijakan Pengelolaan Ruang gerak Swasta (Corporation) Berbasis modal Perseorangan Profit bagi pemodal Pemegang terbanyak saham Koperasi (Cooperative) Berbasis orang Seluruh anggota Manfaat anggota Rapat Tahunan bagi Anggota

One share one vote Ke pemodal Penentu (master) Atas ke bawah (topdown) Sentralistik Semata ekonomi

One man one vote Ke seluruh anggota Pembantu (servant) Bawah ke (bottom-up) Demokratis Sosial, ekonomi & budaya atas

9

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Dari sini semakin memperjelas substansi dari dimensidimensi yang dimiliki oleh koperasi yang membedakannya dengan korporasi. Koperasi mendasarkan diri pada asosiasi sukarela individu (people based association). Modal dalam koperasi hanya bersifat sebagai pembantu, bukan penentu. Hal ini ia buktikan bahwa proses pengambilan keputusan di koperasi menganut prinsip one man one vote, berbeda dengan itu perusahaan kapitalis menganut one share one vote. Dalam konteks lain, koperasi memberikan redistribusi ekonomi dalam bentuk economic patrone refund yang teknisnya disebut Sisa Hasil Usaha (SHU). Sedangkan perusahaan kapitalis jelas berorientasi profit dimana keuntungan tidak

dikembalikan kepada konsumen melainkan kembali pada para pemilik modal (investor). Disini diharapkan tidak ada lagi statement ceroboh yang mengatakan bahwasanya koperasi itu sebagian dari kapitalisme. Urgensi Pelaksanaan Prinsip-prinsip Koperasi Universal Prinsip-prinsip koperasi merupakan pedoman dalam

mengacu perkumpulan koperasi sesuai dengan nilai-nilai dasar koperasi. Hal ini menjadi penting guna sebagai dasar bagi perundang undangan koperasi. Prinsip koperasi layaknya jantung didalam tubuh manusia, tanpa adanya prinsip koperasi maka koperasi pun akan mati. Prinsip inilah juga yang lagi-lagi membedakan koperasi dengan badan usaha lainnya. Prinsip-prinsip koperasi beradaptasi mengikuti perkembangan zaman jadi

senantiasa dikaji terus menerus secara dinamis dan jika diperlukan

10

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
dikoreksi. Sampai akhirnya pada 1995 pada forum International Cooperative Alliance (ICA) di Inggris, ditetapkanlah tujuh prinsip koperasi yang sejati, sebagai berikut : 1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka Koperasi merupakan perkumpulan sukarela dan terbuka bagi semua orang yang mampu menggunakan jasa-jasanya dan bersedia menerima tanggungjawab keanggotaan tanpa diskriminasi berdasar jenis kelamin, status sosial-ekonomi, afiliasi politik, pandangan ideologi, ras, agama
6

dan

berbagai

perbedaan-

perbedaan lainnya. Dalam konteks praktek perkoperasian di Indonesia muncul ketidak konsistenan. Bisa dilihat di sekitar kita masih banyak koperasi-koperasi yang bersifat ekslusif. Mayoritas koperasi-kopersi yang muncul masih sangat terbatas bagi kelompok-kelompok tertentu. Dari sistem keanggotaannyapun juga terjadi secara tidak sukarela atau atas dasar kehendaknya secara bebas. Biasanya pada koperasi yang demikian sistem keanggotaannya terjadi secara otomatis. Oleh karena itu guna melaksanakan koperasi yang terbuka perlu adanya proses defungsionalisasi koperasi yang telah menjalar dalam tubuh perkoperasian di Indonesia.

6

Nasution : 2008

11

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
2. Kontrol oleh anggota secara demokratis Kata “demokrasi” sejatinya memiliki makna yang cukup kompleks. Demokrasi dalam koperasi merupakan suatu tugas yang panjang, sulit dan bernilai tinggi. Demokrasi juga sangat

berpengaruh dalam hidup dan matinya koperasi. Koperasi adalah perkumpulan demokratis yang dikendalikan oleh anggotanya melalui partisipasi dalam menetapkan kebijakankebijakan koperasi. Dalam koperasi
7

primer

anggota-anggota

mempunyai hak suara sama (satu anggota satu suara) dan koperasi pada tingkat lain diatur secara demokratis . 3. Partisipasi ekonomi anggota Anggota-anggota menyumbang secara adil dalam

penyertaan modal mereka. Dalam konteks itu, biasanya anggota menerima kompensasi yang terbatas terhadap modal. Sedangkan pembagian keuntungan berupa Sisa Hasil Usaha atau SHU didasarkan pada prinsip keadilan yakni sesuai dengan tingkat partisipasi (transaksi) yang bersangkutan8. Partsipasi anggota juga sangat tergantung dengan loyalitas anggota dalam memakmurkan koperasinya. Maka dari itu anggota koperasi dituntut untuk terus setia dalam beraktifitas dengan koperasinya. Koperasi membagi keuntungan usaha dengan perimbangan: untuk pengembangan

7 8

Ibid Ibid

12

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
koperasi, untuk dana cadangan, untuk pendidikan dan sisa yang dibagikan kepada anggota. 4. Otonomi dan Kebebasan Koperasi bersifat otonom yang merupakan perkumpulan dalam rangka menolong diri sendri dan dikendalikan oleh

anggotanya. Bila mengadakan kesepakatan-kesepakatan dengan pihak lain, maka harus diketahui dan dikendalikan oleh anggota serta tetap mempertahakan keotonomiannya. Koperasi di semua negeri akan sangat terpengaruh oleh kebijakan negara. Pemerintah menentukan kerangka hukum dimana koperasi dapat berfungsi di dalamnya. Dalam kebijakan perpajakan, ekonomi dan sosial, pemerintah dapat sangat membantu atau merusak, tergantung bagaimana tingkat intervensi mereka terhadap koperasi. Karena alasan tersebut setiap koperasi harus waspada dalam mengembangkan hubungan-hubungan terbuka dan jelas dengan pemerintah. Namun akan menjadi koperasi yang sangat ideal apabila koperasi benar-benar dilaksanakan dalam artian otonomi yang sebenar-benarnya, tanpa pengaruh intervensi manapun dari pihak luar termasuk didalamnya terkait dengan modal koperasi. Koperasi akan berdiri secara elegan apabila modal yang didapat berupa modal kolektif dari para anggota.

13

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
5. Pendidikan, Pelatihan dan Informasi Koperasi menyenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi anggota-anggotanya, para wakil yang dipilih, manajer dan karyawan sehingga mereka dapat memberikan informasi kepada masyarakat umum, khususnya orang-orang muda dan para pembentuk opini (opinion leader) mengenai sifat dan kemanfaat kerjasama.

Prinsip inilah yang masih jarang dilaksankan secara sungguh-sungguh oleh koperasi-koperasi kita di Indonesia.

Sehingga memunculkan para anggota yang pasif dan justru tidak mengerti sama sekali tentang koperasi yang sejati. Oleh karena itu demi memperoleh predikat koperasi asli nan sejati para pengurus koperasi jangan sampai mengabaikan sektor pendidikan bagi para anggotanya. 6. Kerjasama Diantara Koperasi Dengan adanya prinsip ini koperasi akan lebih mampu memberikan pelayanan yang paling efektif kepada para anggota dan memperkuat gerakan koperasi. Adapun jalan yang digunakan dengan cara bekerjasama melalui struktur-struktur lokal, nasional, regional dan internasional. Kerjasama antarkoperasi ini bisa berbentuk federasi atau langsung antarkoperasi dalam menyelenggarakan aktivitas tertentu, misalnya proses pembelian barang bersama (join buying) yang akan mengefisienkan biaya operasional. Hal ini biasanya terjadi di koperasi konsumsi yang dimana pembelian dalam jumlah besar

14

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
akan lebih menguntungkan daripada membeli barang secara terbatas dan sendiri-sendiri. Dalam tantangan globalisasi koperasi dipacu tidak untuk bisa bekerja sama dalam struktur internasional. Hal ini bukan suatu hal yang mustahil. Melihat perkembangan-perkembangan koperasi di dunia saat ini prinsif ke enam ini sangat memungkinkan untuk dilakukan. Namun untuk konteks Indonesia, kita memang masih belum mampu, jangankan internasional dalam tingkatan nasional saja bentuk kerja sama belum begitu terjalin. Tapi sekali lagi ini sama sekali bukan suatu hal yang tidak mungkin. 7. Kepedulian terhadap komunitas Dalam prinsip ini mewajibkan koperasi yang sejati

senantiasa mempunyai tanggungjawab khusus untuk menjamin bahwa pembangunan komunitasnya dalam konteks sosial, ekonomi dan budaya yang berkesinambungan. Koperasi mempunyai

tanggungjawab untuk bekerja secara meyakinkan bagi perlindungan lingkungan bagi komunitasnya. Bentuk tanggungjawab tersebut termasuk didalamnya

adalah peduli terhadap lingkungan hayati (ekologi). Koperasi yang berdiri di lingkungan tertentu tidak mengganggu bahkan merusak lingkungannya. Selain itu juga peduli terhadap budaya komunitasnya dimana koperasi berperan untuk menyuntikan gaya hidup yang baik dan berkelanjutan demi masa depan manusia dan peradaban di dunia ini.

15

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Ketujuh prinsip di atas sekali lagi bukanlah ayat suci yang tak dapat direvisi. Dengan tingkat kemajuan dan perubahan sosial, sangat memungkinkan untuk menambah prinsip tersebut agar koperasi dapat hidup di tengah-tengah masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai khasnya. Dalam prakteknya, beberapa kali terjadi revisi (pengurangan-penambahan) terhadap prinsip tersebut. Sampai akhirnya pada tahun 1995 pada forum ICA itu, tujuh prinsip seperti di atas adalah yang sampai saat ini dianggap mencukupi dan dapat diberlakukan di berbagai negara. Dari ketujuh prinsif di atas sedikit banyak telah merefleksikan koperasi ideal yang patut disosialisaikan kepada masyarakat umum agar tidak ada lagi kesalah pahaman masyarakat mengenai substansi koperasi yang sejati. Untuk memperjelas perbedaan dari koperasi semu (koperasi yang tidak menjalankan prinsip-prinsip koperasi) dengan koperasi sejati di bawah ini penulis mencantumkan tabel perbedaannya. Tabel : Perbedaan Antara Koperasi Semu dan Koperasi Sejati No 1 Koperasi Semu Keanggotaan bersifat terbatas dan otomatis (adanya pemaksaan) Kontrol oleh pengurus, anggota pasif. Partipasi ekonomi anggota tidak loyal. Koperasi diintervensi dan sangat tergantung dengan pihak luar (pemodal atau Koperasi Sejati Keaggotaan bersifat sukarela dan terbuka Kontrol oleh anggota secara demokratis Partisipasi ekonomi anggota loyal. Koperasi bebas dan otonom

2 3 4

16

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
pemerintah). Pendidikan dan pelatihan koperasi tidak berjalan Kerjasama diantara koperasi tidak terjalin

5 6

7

Koperasi tidak peduli dengan komunitas lingkungannya.

Pendidikan dan pelatihan koperasi dilaksanakan Kerjasama diantara koperasi melalui struktur-struktur lokal, nasional, regional dan internasional. Koperasi sejati mempunyai tanggungjawab terhadap komunitas lingkungannya

Data diolah oleh penulis.

Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Koperasi di Indonesia Penulis melakukan analisis SWOT terhadap eksistensi koperasi di Indonesia. SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weackness serta lingkungan eksternal opportunities dan threats. Sehingga, analisis SWOT pada dasarnya merupakan perbandingan antara faktor internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weackness) dengan faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Sebenarnya penulis mengakui bahwa melakukan analisis SWOT terhadap keseluruhan koperasi akan cukup beresiko. Resiko tersebut berupa kekhawatiran analisis akan terjebak dalam generalisasi. Generelisasi menjadi cukup beresiko karena melihat secara jumlah dan bentuk koperasi yang begitu luas dan berbedabeda. Jenis pelayanannya atau sampai spectrum cakupan geografis pelayanan koperasi yang lebar, dari satu desa ke semua wilayah Negara.

17

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Akan tetapi hemat penulis tak ada salahnya bila

menganalsis koperasi secara keseluruhan. Bisa diambil manfaatnya sebagai indikasi tentang masalah yang dihadapi oleh koperasi yang bersangkutan. Berikut adalah hasil analisis yang berasal dari analisis penulis yang masih bersifat subjektif, jadi hasil ini masih sangat terbuka untuk dikritisi. Kekuatan (strength) yang pertama adalah jumlah koperasi itu sendiri yang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Dengan jumlah yang sedemikian banyaknya tentu akan berpotensi dalam menggalangakan kekuatan-kekuatan koperasi di Indonesia. Kedua, begitu banyaknya lahan peluang usaha yang bisa di garap berdasarkan prinsif koperasi. Ketiga, perlu diakui pelayanan koperasi masih sangat dibutuhkan terutama koperasi simpan pinjam dan koperasi pertanian. Keempat yaitu masih banyaknya para pegiat dan aktivis koperasi yang memiliki kualitas, loyalitas dan semangat yang tinggi. Bila berbicara kelemahan (weakness) harus diakui secara terbuka untuk konteks di Indonesia masih relatif kompleks. Pertama, yakni tingkat pemahaman anggota, pengurus dan pengawas maupun manajemen yang masih kurang baik tentang jati diri koperasi yang menyangkut definisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diakui (kesalah pahaman koperasi). Pemahaman yang kurang ini menjadikan banyak praktek koperasi yang keluar dari koridor koperasi. Kedua, yaitu keterjebakan koperasi kita dalam kultur “topdown”. Dimana penentuan dari berbagai keputusan di kopersi itu

18

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
masih tidak otonom dan banyak pihak luar yang turut

mengintervensinya. Ketiga yaitu cendrung kurang memadainya pelayanan koperasi yang diberikan kepada anggota dan masyarakat. Keempat, tidak begitu concern terhadap penelitian, pengembangan, pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan organisasi dan penciptaaan inovasi-inovasi baru dalam pelayanan. Kelima, masih lemahnya jaringan kerjasama antara koperasi dan intansi

pemerintah serta lembaga swasta dan badan usaha lainnya. Keenam yaitu kurangnya sosialisasi dan promosi koperasi. Keadaan yang bisa menjadi ancaman (threats) yaitu terbelenggunya kondisi negara kita oleh krisis ekonomi. Kemudian adanya permasalahan struktural yang tercipta dari implementasi sistem dan kebijakan makro yang tidak demokratis. Sistem ekonomi dan politik yang tidak demokratis dan tidak berkeadilan. Intervensi kekuasaan yang biasanya demikian kepentingan status quo, serta intervensi lain yang biasanya dilakukan demi kegiatan politik praktis para pencari kekuasaan (power seeker). Masalah ini juga didampingi dengan kurangnya kemauan dan ketidak pedulian pemerintah terhadap masalah yang dihadapi oleh koperasi. Kemudian keadaan lain yang bisa menjadi ancaman adalah gejala global yang membesar-besarkan konsep persaingan dan semakin mengetalnya sifat individualisme dan hedonisme menjadikan koperasi turut pula mengalami keterpurukan. Masih berlakunya peraturan-peraturan warisan orde baru yang menghambat koperasi juga cukup bisa menjadi ancaman yang harus dihadapi.

19

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Adanya globalisasi yang mempunyai dampak buruk ternyata bisa dijadikan sebagai suatu peluang (opportunities). Setidaknya dengan adanya globalisasi dapat menjadi stimulant kerja sama regional bahkan internasional yang dapat dilakukan oleh koperasi. Dampak positif globalisasi lain yakni begitu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ini tentu bisa dijadikan peluang guna meningkatkan kinerjanya baik itu dalam hal manajemen, pelayanan, pemasaran, kerja sama dan yang lainnya. Selanjutnya hal yang dianggap peluang yaitu masih dirasa pentingnya peran koperasi dalam pengembangan ekonomi kerakyatan.

20

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi

BAB III OUTRO
Strategi Pemberdayaan Koperasi di Era Globalisasi Penulis melakukan analisis SWOT terhadap eksistensi koperasi di Indonesia. SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weakness serta lingkungan eksternal opportunities dan threats. Sehingga, analisis SWOT pada dasarnya merupakan perbandingan antara faktor internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dengan faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Dari lubuk hati yang paling dalam penulis mengakui bahwa melakukan analisis SWOT terhadap keseluruhan koperasi akan cukup beresiko. Resiko tersebut berupa kekhawatiran analisis akan terjebak dalam generalisasi. Generelisasi menjadi cukup beresiko karena melihat secara jumlah dan bentuk koperasi yang begitu luas dan berbeda-beda. Jenis pelayanannya atau sampai spectrum cakupan geografis pelayanan koperasi yang lebar, dari satu desa ke semua wilayah negara. Akan tetapi hemat penulis tak ada salahnya juga bila harus menganalsis koperasi secara keseluruhan. Hal ini bisa diambil manfaatnya sebagai indikasi tentang masalah yang dihadapi oleh

21

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
koperasi yang bersangkutan. Berikut adalah hasil analisis yang berasal dari analisis penulis yang masih bersifat subjektif, jadi hasil ini masih sangat terbuka untuk dikritisi. Kekuatan (strength) yang pertama adalah jumlah koperasi itu sendiri yang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Dengan jumlah yang sedemikian banyaknya tentu akan berpotensi dalam menggalangakan kekuatan-kekuatan koperasi di Indonesia. Kedua, begitu banyaknya lahan peluang usaha yang bisa di garap berdasarkan prinsif koperasi. Ketiga, perlu diakui pelayanan koperasi masih sangat dibutuhkan terutama koperasi simpan pinjam dan koperasi pertanian. Keempat yaitu masih banyaknya para pegiat dan aktivis koperasi yang memiliki kualitas, loyalitas dan semangat yang tinggi. Bila berbicara kelemahan (weakness) harus diakui secara terbuka untuk konteks di Indonesia masih relatif kompleks. Pertama, yakni tingkat pemahaman anggota, pengurus dan pengawas maupun manajemen yang masih kurang baik tentang jati diri koperasi yang menyangkut definisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diakui (kesalah pahaman koperasi). Pemahaman yang kurang ini menjadikan banyak praktek koperasi yang keluar dari koridor koperasi. Kedua, yaitu keterjebakan koperasi kita dalam kultur “topdown”. Dimana penentuan dari berbagai keputusan di kopersi itu masih tidak otonom dan banyak pihak luar yang turut mengintervensinya. Ketiga yaitu cendrung kurang memadainya pelayanan koperasi yang diberikan kepada anggota dan masyarakat.

22

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Keempat, tidak begitu concern terhadap penelitian, pengembangan, pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan organisasi dan penciptaaan inovasi-inovasi baru dalam pelayanan. Kelima, masih lemahnya jaringan kerjasama antara koperasi dan intansi

pemerintah serta lembaga swasta dan badan usaha lainnya. Keenam yaitu kurangnya sosialisasi dan promosi koperasi. Keadaan yang bisa menjadi ancaman (threats) yaitu terbelenggunya kondisi negara kita oleh krisis ekonomi. Kemudian adanya permasalahan struktural yang tercipta dari implementasi sistem dan kebijakan makro yang tidak demokratis. Sistem ekonomi dan politik yang tidak demokratis dan tidak berkeadilan. Intervensi kekuasaan yang biasanya demikian kepentingan status quo, serta intervensi lain yang biasanya dilakukan demi kegiatan politik praktis para pencari kekuasaan (power seeker). Masalah ini juga didampingi dengan kurangnya kemauan dan ketidak pedulian pemerintah terhadap masalah yang dihadapi oleh koperasi. Kemudian keadaan lain yang bisa menjadi ancaman adalah gejala global yang membesar-besarkan konsep persaingan dan semakin mengetalnya sifat individualisme dan hedonisme menjadikan koperasi turut pula mengalami keterpurukan. Masih berlakunya peraturan-peraturan warisan orde baru yang menghambat koperasi juga cukup bisa menjadi ancaman yang harus dihadapi. Adanya globalisasi yang mempunyai dampak buruk ternyata bisa dijadikan sebagai suatu peluang (opportunities). Setidaknya dengan adanya globalisasi dapat menjadi stimulant kerja sama

23

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
regional bahkan internasional yang dapat dilakukan oleh koperasi. Dampak positif globalisasi lain yakni begitu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ini tentu bisa dijadikan peluang guna meningkatkan kinerjanya baik itu dalam hal manajemen, pelayanan, pemasaran, kerja sama dan yang lainnya. Selanjutnya hal yang dianggap peluang yaitu masih dirasa pentingnya peran koperasi dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Strategi Pemberdayaan Koperasi di Era Globalisasi Sampai detik ini kita harus mengakui dengan lapang dada bahwa kita akan merasa sangat kesulitan untuk menemukan contohcontoh koperasi yang ideal di Indonesia. Dapat dimaklumi koperasi saat ini belum banyak mengangkat keunggulannya sebagai sebuah bangun perusahaan yang berkualitas di bandingkan dengan perusahaan atau badan usaha lainnya. Kebanyakan dari koperasi kita menjalankan praktek-praktek yang tak ada bedanya dengan perusahaan berbasiskan modal yang kapitalsitik. Peran pengurus koperasi seakan tak jauh berbeda seperti owner di dalam perusahaan-perusahaan berbasis modal Anggota pasif dan tak lebih hanya sebagai konsumen dan obyek saja. Maka dari itu perlu ada perombakan-perombakan total dan perubahan yang berarti yang dibalut dengan strategi-strategi khusus dalam permasalahan ini apalagi dihadapkan dengan desakan-desan globalisasi yang terus menerus mencengkram. Berbicara terkait dengan strategi pembedayaan memang akan cukup kompreherensif apalagi bila konteksnya adalah

24

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
menghadapai globalisasi. Maka dari itu penulis hanya akan memaparkan strategi yang sejatinya lebih bersifat mendasar namun urgensitasnya tinggi. Pertama yaitu implementasikan otonomi koperasi. Sejauh mungkin dari intervensi pemerintah harus

dihindarkan. Kita dapat belajar dari sejarah seperti saat di masa Orde Baru. Peranan pemerintah saat itu dalam pengembangan koperasi begitu cukup besar ,baik dalam penciptaan iklim maupun dalam penyediaan fasilitas, dan ini telah menciptakan sikap ketergantungan koperasi kepada pemerintah, sehingga koperasi tidak jauh bekrembang hanya sebagai alat pemerintah dan kehilangan sifat otonominya. Selama ini pembangunan koperasi seringkali dilakukan dengan pendekatan dari atas (topdown), hal ini perlu diubah secara signifikan menjadi pendekatan yang bersumber dari bawah (bottom up), sebagai organisasi ekonomi rakyat yang tumbuh dan berakar dalam masyarakat, dikelola oleh masyarakat sendiri, bagi kesejahteraan bersama. Strategi kedua adalah berkelanjutan dari strategi

sebelumnya. Patutnya peran pemerintah hanya dititik-beratkan sebagai katalisator. Disini peran pemerintah hanya mencakup sebagai regulator semata tanpa harus memberikan intervensi berlebih dengan membuat instansi-instansi yang sesungguhnya tidak efektif. Misalkan peran pemerintah dalam fungsi regulasi hanya dibatasi pada pendaftaran, pemberian, dan pencabutan hak badan hukum, pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan peraturan perundang-undangan yang lain. Yang ketiga adalah harus terus berusaha dalam peningkatan partisipasi masyarakat dan

25

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
anggota. Strategi ini bisa dibantu oleh pemerintah dengan bentuk sosialisasi dan promosi semenarik mungkin sehingga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif didalam koperasi. Adapun partisipasi yang diwujudkan adalah partisipasi yang tak sekedar formalitas, namun dibutuhkan pula partisipasi berupa komitmen yang tinggi dan penyediaan program pendidikan koperasi yang konsisten. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah terkait dengan keuangan koperasi. Maka dari itu strategi keempat adalah dengan mendirikan lembaga keuangan atau bank yang benar-benar khusus untuk melayani koperasi dan usaha menengah, kecil dan mikro lainnya. Ini menjadi hal yang sangat penting melihat realitas saat ini dimana koperasi merasa kesulitan dalam mengakses kredit

perbankan, hal ini dikarena kan adanya syarat dan ketentuan Bank Indonesia yang cukup menyulitkan koperasi untuk berkembang. Strategi-strategi diatas mungkin bisa kategorikan sebagai strategi yang lebih bersifat makro. Untuk yang selanjutnya adalah strategi yang lebih bersifat mikro. Strategi kelima yaitu dengan menjalankan ke tujuh prinsip koperasi universal secara menyeluruh dengan konsisten. Salah satu yang cukup signifikan dan sangat penting adalah prinsip pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan ini penting dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi anggota maupun untuk meningkatkan keterampilan dalam kegiatan usahanya. Tujuan akhir dari pendidikan dan pelatihan koperasi tiada lain adalah untuk menjadikan koperasi

26

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
sebagai lembaga ekonomi yang demokratis, mandiri dan sehat, baik organisasi/ manajemen maupun usahanya. Kemudian guna menyikapi dinamika yang terjadi karena adanya desakan globalisasi, maka untuk mendapatkan

pengembangan iklim usaha yang kondusif mutlak adanya kebijakan yang kondusif bagi koperasi. Maka dari itu strategi keenam adalah dengan membentuk aliansi strategis antara koperasi Indonesia dengan koperasi negara lain, seperti adanya kerjasama

transnasional atau koperasi transnasional yang berakar pada prinsip universal koperasi, yaitu kerjasama dengan koperasi-koperasi. Bila koperasi-koperasi memang sudah besar dan sehat maka strategi ini tentu bisa dilaksanakan. Contoh yang menerapkan strategi ini diantaranya adalah koperasi pertanian di Uni Eropa atau konsep transnasional generasi baru di Amerika Serikat dan Kanada. Demikian keenam strategi yang diberikan guna

menghadapai dinamika globalisasi yang kian terus mencengkram perekonomian dunia. Tak ada yang mustahil di dunia ini termasuk melawan kapitalisme yang telah begitu memakan banyak korban. Maka dari itu koperasi yang sejak awal kelahirannya sudah anti terhadap penindasan serta pemerasan dan sangat ingin

menegakkan keadilan dalam segala bentuknya musti berada di garis paling depan. Dalam kesadaran kolektif koperasi menganut arti kebersamaan untuk bertindak sesuai dengan naluri. Oleh karena itu dari hati yang paling dalam “Lawan !” hanya satu kata untuk kapitalisme,

27

Koperasi : Lembaga Sakti di Era Globalisasi
Referensi Kopkun. 2010. Modul Pendidikan Dasar Perkoperasian. Purwokerto. Nasution, Muslimin.2008. Koperasi Menjawab Kondisi Ekonomi Nasional. PIP & LPEK. Jakarta. Internet dan dokumen lain Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 Burhamzah, Insanial. 2009. “Modal sosial” Bangsa Untuk Menjawab Tantangan Sektor Riil & UKM dalam http://www.dekopin.coop/ diakses tanggal 1 Mei 2010 Jurnal-jurnal tentang koperasi karya Suroto idea.blogspot.com/ diaskes tanggal 1 Mei 2010 http://ica.coop diakses tanggal 2 Mei 2010 dalam http://suroto-

28