You are on page 1of 30

LAPORAN KASUS

FRAKTUR FEMUR

DISUSUN OLEH
Mario M.Y. Indrakusumah

NIM 030.11.177

PEMBIMBING

Dr. T. Nurrobi, Sp.OT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

RUMAH SAKIT TNI AL Dr. MINTOHARDJO

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan kasus mengenai Fraktur Femur di Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah, Rumah
Sakit TNI AL Dr. Mintohardjo periode 7 Maret 2016 14 Mei 2016 telah disetujui oleh
pembimbing untuk dipresentasikan dalam rangka memenuhi salah satu tugas Kepaniteraan
Klnik Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Trisakti.

Jakarta, 28 Januari 2016


Pembimbing,

Dr. T. Nurrobi, SpOT

DAFTAR ISI

2
LEMBAR PENGESAHAN...............................................................................................2
DAFTAR ISI.....................................................................................................................3
BAB I LAPORAN KASUS..............................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................32

BAB I

3
LAPORAN KASUS

IDENTITAS
Nama : Ny. E
No. Reg : 123761
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat Lahir : Kandangan
Tanggal Lahir : 12 Agustus 1953
Usia : 62 tahun
Alamat : Jl. Kebun Pala III no. 38 RT 005/013, Jakarta TImur
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Status Marital : Menikah
Pekerjaan : Swasta
Tanggal Masuk RS : 15 Maret 2016

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Nyeri pada daerah pinggul kiri akibat terjatuh 3 hari SMRS
Anamnesis :
Pasien datang ke Poli Bedah RSAL Dr. Mintohardjo dengan keluhan nyeri pada daerah
pinggul kiri sejak 3 hari SMRS. Pasien sebelumnya memiliki riwayat jatuh terpeleset.
Nyeri dirasakan sangat hebat pada bagian paha saat ditekan dan digerakkan sehingga
pasien sulit berdiri dan sulit untuk berjalan. Pasien hanya bisa sedikit menggerakkan kaki
kiri nya. Selain itu pasien mengeluh nyeri pada daerah perut. Keluhan mual tanpa disertai
muntah diakui pasien.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol sejak 5 tahun yang lalu. Riwayat
fraktur paha kiri dua kali. Riwayat operasi paha kiri dua kali. Riwayat DM disangkal.
Riwayat penyakit jantung disangkal.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita dengan keluhan seperti ini.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Penderita tampak sakit sedang

4
Kesadaran : Compos mentis
Berat/Tinggi badan : 80 kg/160 cm (BMI :31.25, obesitas tipe 1)
Tanda vital :
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,10C
Status Generalis
Kepala :
Mata : CA (-/-), SI (-/-), pupil isokor, refleks pupil +/+
Hidung : discharge (-/-) deviasi septum (-/-)
Telinga: bentuk normal, otorea (-/-)
Leher : Pembesaran KGB (-) JVP tidak meningkat
Thorax :
Inspeksi : simetris dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : fremitus taktil dan vokal simetris kanan dan kiri
Perkusi : sonor pada kedua hemithorax
Auskultasi :
Pulmo : VBS kanan = kiri normal, rhonki -/-, wheezing -/-
Cor : Bunyi jantung I/II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : datar dan lembut
Palpasi : NT (-), NL (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani di keempat kuadran
Auskultasi : bising usus (+) normal

Ekstremitas atas : akral hangat, edema -/-, sianosis -/-


Ekstremitas bawah : akral hangat, edema -/-, sianosis -/-

Status Lokalis:
Femoralis sinistra
Look : Edema (-), memar (-), luka (-), deformitas (+), krepitasi (+)
Feel : Suhu lebih hyperthermia, nyeri tekan (+), sensibilitas baik, pulsasi arteri
baik.

5
Movement : Gerak aktif, pasif, dan ROM terbatas. Nyeri gerak (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

LABORATORIUM

Lab darah lengkap


Hemoglobin : 11,2 g/dL
Hematokrit : 33 %
Leukosit : 9.800 /mm3
Trombosit : 319.000 /mm3
Eritrosit : 3.91 juta/ mm3
Masa pendarahan : 300 menit
Masa pembekuan : 1200 menit
Glukosa darah sewaktu : 107 md/dl

RADIOLOGI

6
DIAGNOSA KERJA
Metal failure femur sinistra
Non union fraktur subtrochanter

PENATALAKSANAAN
Aff plate
Re-ORIF interlocking femur sinistra
Medikamentosa:
- IVFD Ringer Laktat 20 tpm
- Ceftriaxone 1 x 2 gr i.v.
- Amlodipin 1x10 mg p.o.
- Valsartan 1x80 mg p.o.

LAPORAN OPERASI
Operator : Dr. Nurrobi SpOT
Ahli Anastesi : Dr. Liempy, Sp.An

7
Diagnosa pra bedah : Metal failure femur sinistra + non union fraktur femur sinistra
Diagnosa pasca bedah : Metal failure femur sinistra + non union fraktur femur sinistra
Indikasi operasi : Mengembalikan struktur anatomi
Jenis Operasi : Aff plate + Re-ORIF interlocking femur sinistra
Desinfeksi kulit dengan : Povidon Iodine + Alkohol

Laporan Operasi Lengkap


DO: Ditemukan Metal failure femur sinistra + non union fraktur femur sinistra
TO:
1. Dilakukan tindakan anestesi SAB
2. Dilakukan tindakan a dan antiseptic
3. Dilakukan insisi luka garis lama
4. Ditemukan DO
5. Dilakukan osteotomy refreshening ujung fraktur + 1 cm proksmal dan distal
6. Dilakukan reposisi
7. Dilakukan fiksasi dengan interlocking fem
8. Luka operasi ditutup lapis demi lapis dengan meninggalkan 1 buah vacuum drain

Instruksi pasca bedah:


1. IVFD RL 20 tpm
2. Bed rest 24 jam
3. Inj ceftriaxon 2 x1 gr IV
4. Inj ketorolac 3 x 1 amp
5. Ro ulang femur sinistra

Rontgen femur post op

8
- kedudukan fragmen tualng baik

- tampak garis fraktur (+)

PROGNOSIS

Ad Vitam : Ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia
Ad Fungsionam : Ad Bonam

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI FEMUR
Femur merupakan tulang terkuat, terpanjang, dan terberat di tubuh dan amat
penting untuk pergerakan normal. Seperti tulang panjang lainnya, femur terdiri atas
corpus (body) dan dua ekstremitas, yaitu ekstremitas atas (proksimal) dan ekstremitas
bawah (distal). Esktremitas proksimal femur teridri atas caput, collum, serta trokhanter
mayor dan minor. Sedangkan ekstremitas distal femur terdiri atas dua penonjolan yang
disebut condilus.
Caput femur merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan
acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan
kecil yang disebut fovea capitis, yang merupakan tempat perlekatan ligamen dari caput.
Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan
memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang
femur, berjalan kebawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 0 (pada
wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu
diingat karena dapat dirubah oleh penyakit.

Anatomi femur (gambaran dari anterior dan posterior)


Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan
batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan
dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat
tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke
depan. Bagian ini lebih licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian
posteriornya terdapat linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.
Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju
tuberculum adductorum pada condylus medialis. Tepian lateral menyatu ke bawah dengan
crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah
trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea
aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar
pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea.

Anatomi femur (1) trochanter mayor, (2) linea intertrochanterica (3) foramen
nutricium (4) corpus femoris [diaphysisi] (5) epicondilus lateralis (6) facies patellaris
(7) caput femoris (8) fovea cavities femoris (9) collum femoris (10) trochanter minor
(11) epicondilus medialis (12) linea pectinea (13) linea aspera (14) facies poplitea
(15) condilus lateralis (16) condilus medialis (17) crista intertrochanterica (18)
trochanter tertius (19) labium medial lineaaspera (20) labium lateral linea aspera (21)
fossa intercondilaris

Ujung bawah femur atau ekstremitas distal memiliki condylus medialis dan
lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan
anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut
membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis.
Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis.

FRAKTUR

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,
baik yang bersifat total maupun parsial. Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma berat;
kadang-kadang trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena
penyakit tertentu. Juga trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan fraktur.

Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya telah
mengalami proses paotologik, misalnya tumor tulang primer atau sekunder, mieloma
multipel, kista tulang, osteomielitis, dan sebagainya. Trauma ringan saja sudah dapat
menimbulakan fraktur.

Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetapi terus menerus, misalnya fraktur
fibula pada pelari jarak jauh, frkatur tibia pada penari balet, dan sebagainya.

ETIOLOGI

Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harus
mengetahui kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah.
Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir
(shearing).

Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan membengkok,


memutar dan tarikan. Trauma dapat bersifat :

Trauma langsung

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi


fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif
dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
Trauma tidak langsung

Disebut trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang


lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan extensi dapat
menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan
lunak tetap utuh.

Tekanan pada tulang dapat berupa :

Tekanan berputar yang dapat menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik
Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi, atau fraktur dislokasi
Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah
misalnya pada bahan vertebra.
Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan
menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z
Fraktur oleh karena remuk
Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang.

PATOFISIOLOGI
Fraktur traumatik yaitu yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba.

Fraktur patologis dapat terjadi hanya tekanan yang relatif kecil apabila tulang
telah melemah akibat osteoporosis atau penyakit lainnya.

Fraktur stres yang terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu
tempat tertentu.

PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR

1 Pembentukan hematoma pada fraktur


Banyak pembuluh darah yang rusak (tissue damage) karena fraktur

Banyak sel-sel tulang yang mati atau cellular debris

Swelling dan inflamasi

Blood clot pada daerah yang fraktur
(terbentuk 6-8 jam setelah injury)

fagosit dan osteoklas berperan dalam memindahkan sel-sel tulang yang mati atau rusak di
sekitar daerah yang fraktur (waktunya beberapa minggu)
2. Pembentukan kalus fibrokartilago
Infiltrasi dari kapiler-kapiler darah yang baru ke dalam fracture hematoma

Membantu mengaktifkan pertumbuhan jaringan ikat Procallus

Invasi pada procallus oleh fibroblast (menghasilkan collagen fiber menyambung tulang yang
patah) dan osteogenic cell (berkembang dalam chondroblast dalam daerah avascular pada
jaringan tulang yang sehat, asal terbentuknya fibrocartilage)

Procallus dirubah menjadi fibrocartilaginous callus pada daerah yang fracture (waktu 3
minggu)

3. Pembentukan kalus tulang


Vascularisasi yang rusak sudah tertutup dengan baik pada jaringan tulang sehat

Osteogenic cell berkembang menjadi osteoblast

Terbentuk spongy bone trabeculae

Bony callus (3-4 bulan)

4. Remodeling
Bagian-bagian atau jaringan yang mati dari fragment-fragment tulang secara berangsur-
angsur diresorpsi oleh osteoclast

Spongy bone dirubah menjadi compact bone pada daerah yang fracture

Replace secondary bone
KLASIFIKASI FRAKTUR.

Klasifikasi etiologis

Fraktur traumatik
Yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba
Fraktur patologis
Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di dalam
tulang
Fraktur stres
Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.

Klasifikasi klinis

Fraktur tertutup (simple fracture)


Adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.
Fraktur terbuka (compound fracture)
Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui lika pada kulit
dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari
luar)
Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)
Adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya malunion, delayed union,
nonunion, infeksi tulang.

Klasifikasi radiologis

Klasifikasi ini berdasarkan atas :

1. Lokalisasi
Diafisial
Metafisial
Intra-artikuler
Fraktur dengan dislokasi
klasifikasi fraktur menurut lokalisasi
a. Fraktur diafisis c. Dislokasi dan fraktur
b. Fraktur metafisis d. Fraktur intra-artikule
2. Konfigurasi
Fraktur transversal
Faktur oblik
Fraktur spiral
Fraktur Z
Fraktur segmental
Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen
Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo misalnya fraktur
epikondilus humeri, fraktur patela
Fraktur depresi, karena trauma langsung misalnya pada tulang tengkorak
Fraktur impaksi
Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah pada fraktur
vertebra, patela, talus, kalkaneus
Fraktur epifisis

klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi.


a. Transversal
b. Oblik
c. Spiral
d. Kupu-kupu
e. Komunitif
f. Segmental
g. Depresi
3. Menurut ekstensi
Fraktur total
Fraktur tidak total (fraktur crack)
Fraktur buckle atau torus
Fraktur garis rambut
Fraktur green stick

Beberapa gambaran radiologik konfigurasi fraktur

a. Transversal
b. Oblik
c. Segmental
d. Spiral dan segmental
e. Komunitif
f. Segmental
g. Depresi
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
Tidak bergeser (undisplaced)
Bergeser (displaced)
Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :
a) Bersampingan
b) Angulasi
c) Rotasi
d) Distraksi
e) Over-riding
f) Impaksi

Gambar 2.4

KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR


FRAKTUR PROXIMAL FEMUR.
Intracapsular fraktur termasuk femoral head dan collum femur
Capital : uncommon
Subcapital : common
Transcervical : uncommon
Basicervical : uncommon

Ekstracapsular fraktur termasuk trochanters


Intertrochanteric
Subtrochanteric
Fraktur subtrokhanter femur adalah fraktur yang terjadi pada 1/3 proksimal femur

dari bawah trokhanter ke tengah dari isthmus femur. Fraktur tersebut terjadi antara bawah

trokhanter dan 5 cm ke distal, atau tampak sebagai perluasan dari fraktur

intertrokhanterika.

KLASIFIKASI
Beberapa klasifikasi fraktur subtrokhanter diantaranya adalah klasifikasi menurut

Seinsheimer (1978) yang mengelompokkan faktur ini kedalam 5 tipe berikut berdasarkan

hilangnya stabilitas kortikal:


1. Tipe 1, yaitu jika displacement (pergeseran) < 2 mm.
2. Tipe 2, yaitu terjadi displacement hingga terbentuk 2 fragmen (2 bagian) dengan garis

patahan transversal, ataupun spiral (baik dominan ke arah trokhanter proksimal

ataupun kea rah distal).


3. Tipe 3, yaitu terjadi displacement hingga terbentuk 3 fragmen (3 bagian).
4. Tipe 4, yaitu terjadi displacement hingga terbentuk 4 fragmen (4 bagian) atau

kominutif.
5. Tipe 5, yaitu jika terjadi patahan yang lebih luas hingga ke trokhanter.

Klasifikasi fraktur subtrokhanter menurut seinsheimer (1978)

Berdasarkan Orthopedic Trauma Association klasifikasi trauma subtrokhanter

dikelompokkan menjadi 9 subtipe berdasarkan garis dan bentuk patahan, seperti yang

diilustrasikan pada gambar berikut ini:


Klasifikasi fraktur subtrokhanter menurut orthopedic trauma association

Klasifikasi lain fraktur subtrokhanter juga dikenalkan oleh Russell-Taylor.

Klasifikasi ini membagi fraktur subtrokhanter menjadi dua tipe utama, yaitu tipe 1 dan

tipe 2. Fraktur tipe 1 tidak melibatkan fossa piriformis dan dibagi kedalam subtype A,

untuk fraktur di bawah trokanter minor, dan tipe B yang melibatkan trokanter minor.

Sedangkan fraktur tipe 2 melibatkan fossa piriformis. Tipe 2A memiliki buttress medial

stabil dan tipe 2B tidak memiliki stabilitas korteks medial femoral


Sistem klasifikasi Russell-Taylor ini berguna untuk membantu menentukan

metode pengobatan yang tepat. Fraktur tipe 1 dapat diobati dengan generasi pertama atau

kedua intramedullarydevices sementara fraktur tipe 2 memerlukan reduksi terbuka dan

fiksasi internal (ORIF) dengan screw plate devices atau fixed angle implants.

Klasifikasi fraktur subtrokhanter menurut Russell-Taylor


Untuk kepentingan penelitian, menurut Karunakar et al. (2009) klasifikasi lain

yang juga digunakan pada fraktur subtrokhanter adalah klasifikasi berdasarkan

Association for the Study of Internal Fixation (AO-ASIF) yang mengelompokkan fraktur

ini menjadi 3 tipe (tipe A, B, dan C) Klasifikasi ini dimaksudkan untuk mempelajari

teknik pemasangan implant (fiksasi internal) berdasarkan biomekanika fraktur

subtrokhanter

Klasifikasi menurut Association for the Study of Internal Fixation (AO-ASIF)

ETIOLOGI
Etiologi fraktur subtrokhanter dikelompokkan berdasarkan kelompok usia tua dan

usia muda. Kelompok pasien tua biasanya disebabkan oleh trauma energi ringan (jatuh

minor). Pada kondisi ini, fraktur subtrokhanter terjadi karena kelemahan tulang, dan

mungkin juga terjadi kominutif karena adanya osteoporosis. Kelompok usia ini juga

rentan terhadap penyakit metastasis yang dapat menyebabkan fraktur patologis.

Kelompok yang kedua adalah kelompok pasien muda yang biasanya karena trauma energi

tinggi, dan kominutif terjadi karena adanya energi tinggi tersebut, baik dari trauma lateral

yang langsung (misalnya, kecelakaan kendaraan bermotor [Motor Vehicle Accident]) atau

dari beban aksial (misalnya, jatuh dari ketinggian). Fraktur pada kelompok ini dapat

berupa fraktur terbuka dan berhubungan dengan trauma sistem yang multipel. Sedangkan

luka tembak menyebabkan sekitar 10% dari fraktur subtrochanteric karena energi tinggi.

PATOFISIOLOGI
Daerah subtrokhanter merupakan daerah yang dibatasi oleh bagian bawah

trokhanter dan 5 cm di distalnya, yang predominan merupakan tulang kortikal.

Penyembuhan pada daerah ini berjalan lambat karena konsolidasi yang lambat pada

kortikal primer, serta karena daerah ini selalu mengalami stress yang tinggi selama

aktifitas sehari-hari.
Beban aksial melalui sendi pinggul membuat daerah regang yang cukup besar,

karena adanya tarikan ke lateral dan beban tekan medial. Selain kekuatan regang yang

cukup besar, kekuatan otot di bagian pinggul juga membuat efek torsional yang sekaligus

mengakibatkan rotasi. Selama kegiatan normal sehari-hari, hingga 6 kali berat badan

ditransmisikan di seluruh daerah subtrokhanter femur.

Gangguan gerak (fleksi, rotasi, abduksi dan adduksi) akibat fraktur subtrokhanter

Menunjukkan tipe deformitas muskular akibat fraktur subtrokhanter, yaitu fleksi

iliopsoas, rotasi eksterna muskulus rotator breves, dan abduksi muskulus abduktor, serta

batang femur menjadi lebih pendek dan terjadi adduksi oleh adductor dan kuadriseps.

DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Adanya riwayat trauma merupakan petunjuk tentang adanya fraktur. Pada

kelompok usia muda, penyebab utama fraktur subtrokhanter adalah trauma energi

tinggi misalnya karena jatuh dari ketinggian, atau terbanyak karena kecelakaan lalu

lintas. Sedangkan pada kelompok usia tua, riwayat trauma biasanya ringan seperti

terpeleset hingga terjadi fraktur. Pada kelompok usia ini, perlu digali informasi

mengenai adanya penyakit lain seperti keganasan, atau pengeroposan tulang


(osteoporosis). Pasca trauma, pasien mengeluhkan adanya nyeri, keterbatasan gerak

pada kaki yang mengalami fraktur, kaki menjadi lebih pendek.


2. Pemeriksaan fisik
Kaki berada pada rotasi luar, bentuknya pendek, dan paha jelas membengkak.

Gerakan akan terasa sangat nyeri. Pada Inspeksi, tampak pembengkakan pada daerah

fraktur (paha), dengan kaki yang tampak mengalami rotasi internal maupun eksternal,

serta terdapat nyeri tekan pada paha proksimal. Pada kondisi ini, pasien tidak dapat

melakukan gerakan fleksi atau abduksi kaki ke panggul.


Perdarahan harus dievaluasi dengan monitoring kemungkinan syok sistemik,

dan evaluasi kemungkinan terjadinya kompartemen sindrom di region femur (dengan

pemeriksaan arteri dorsalis pedis). Pada fraktur akibat energi tinggi, harus dilakukan

pemeriksaan fisik lengkap, yaitu terkait dengan Waddell triad (trauma cranium,

thorak, dan abdomen). Pelvis, tulang belakang, dan tulang panjang lainnya harus

diperiksa, terutama di bagian ipsilateral, agar dapat dilakukan penanangan segera jika

terbukti terdapat trauma.


3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan sinar X akan menunjukkan lokasi fraktur yang berada pada atau

dibawah trokanter minor. Fraktur ini mungkin tampak dengan garis patahan

melintang, oblik, atau spiral, dan tersering adalah kominutif. Fragmen bagian atas

berfleksi dan tampak seakan-akan pendek, batang berabduksi dan bergeser-geser ke

bagian proksimal.
Fraktur kominutif subtrokhanter
Biplanar plain radiography (foto polos biplanar) merupakan pemeriksaan

radiologis dasar dan esensial untuk mendiagnosis fraktur subtrokhanter femur.

Pencitraan Full-length anteroposterior (AP) femur dari panggul ke lutut harus

tergambarkan. Pencitraan juga harus mencakup dari lateral panggul untuk

mengevaluasi kolum femur dan menyingkirkan adanya perluasan fraktur.

Pemeriksaan AP pada pelvis serta lutut ipsilateral juga harus dilakukan untuk

menyingkirkan adanya kecurigaan trauma


Jika dicurigai adanya fraktur patologi, maka dapat dilakukan pemeriksaan

radiologis skrining yaitu technetium bone scanning atau dengan MRI untuk

mengevaluasi keterlibatan skeletal. Pemeriksaan lain seperti foto thorak juga dapat

dilakukan untuk mencari adanya kemungkinan metastasis suatu keganasan ke pulmo.

TATALAKSANA
Tindakan non operatif hanya dilakukan jika pasien dalam keadaan yang sangat

lemah (karena usia tua) atau diperkirakan akan meninggal dengan tindakan operatif .

Secara umum, fiksasi internal untuk fraktur subtrokhanter meliputi nailing (paku) dan

plating. Fiksasi internal bertujuan untuk stabilisasi region femur (terutama subtrokhanter

dengan menggunakan implant intramedular). Sedangkan fiksasi eksternal digunakan


sebagai tindakan segera, atau stabilisasi sementara pada politrauma, namun secara umum

tidak direkomendasikan sebagai terapi definitif.


1. Nailing
Keuntungan mekanik dan biologis dengan teknik intramedular terhadap

stabilisasi fraktur subtrokhanter masih diperdebatkan. Teknik nailing merupakan

mayoritas teknik yang dipilih untuk stabilisasi fraktur subtrokhanter. Dalam

penggunaan teknik nailing, harus dipertimbangkan 1) titik awal pemasangan harus

dari fossa piriformis atau pada ujung trokhanter mayor (dengan menggunakan teknik

tersebut dapat memberikan hasil yang baik), 2) mengunci bagian proksimal dengan

standar greater to lesser (dari trokhanter mayor ke trokhanter minor) dengan kunci

tunggal (single screw) ke dalam caput dan collum femoris yang disebut sebagai

rekonstruksi atau cepalomedulari nailing. Penggunaan single screw pada trokhanter

mayor dan minor harus berdasarkan intergritas dari fragmen proksimal dan kualitas

tulang.

Fiksasi internal intramedular atau cephalomedularry rekonstruksi

2. Plating
Teknik plating dapat digunakan pada fraktur subtrokhanter, khususnya pada

fraktur dengan fragmen proksimal yang sangat pendek yang sangat sulit jika

menggunakan teknik nailing dan sulit untuk dilakukan reduksi. Beberapa kategori

plate yang dapat digunakan diantaranya DCS (dynamic condilar screw) atau
traditional sliding hip screw. Jika menggunakan teknik plating, maka harus dievaluasi

dengan hati-hati kemiringan (obliquity) dari fraktur.

Plating

KOMPLIKASI
Komplikasi tersering pada fraktur subtrokhanter adalah nonunion, malunion,

kegagalan fiksasi, dan infeksi. Nonunion biasanya terjadi setelah 4 hingga 6 bulan akibat

tidak mampunya tulang yang fraktur menahan beban tubuh. Jika pada pemeriksaan foto

polos tidak tampak, maka dapat menggunakan CT-Scan, atau bone scanning. Pada

kondisi dimana fiksasi masih dapat stabil maka dapat pula dilakukan autogenous bone

grafting pada fraktur union, atau pada pasien dengan paku intramedular (intramedullary

nails), dapat dilakukan penggantian paku yang lebih lebar (over-reaming).


Malunion biasanya tampak sebagai pemendekan kaki (pincang) atau deformitas

dengan keterbatasan rotasi pinggul. Seringkali, deformitas rotasi (gross rotational

deformity) dapat dideteksi saat pemasangan paku intramedulla dan dapat dikoreksi saat

itu juga atau dengan tindakan derotasional osteotomi pada tulang yang cedera. Jika terjadi

pemendekan sekunder yang membentuk varus di kolum femur maka dapat dilakukan

osteotomi valgus.
a b c
Komplikasi fraktur subtrokhanter, a) malunion, b) nonunion, c) gagal fiksasi

Komplikasi berupa adanya kegagalan fiksasi (implant) dapat diatasi dengan

mengulangi pemasangan plat screw dan bone graft, atau dengan nailing generasi kedua.

Sedangkan komplikasi deep sepsis mungkin merupakan manifestasi akibat nonunion

fraktur, sehingga perlu evaluasi infeksi memalui pemeriksaan darah rutin, yaitu leukosit,

sedimentasi eritrosit, dan CRP (C-reaktif protein). Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan

adalah dengan aspirasi daerah yang dicurigai mengalami infeksi, kemudian melakukan

kultur kuman.

PROGNOSIS
Relatif sedikit data yang ada mengenai outcome pada pasien dengan fraktur

subtrochanteric femur. Pada pasien muda, cedera ini umumnya karena luka traumatis, dan

prognosisnya cenderung buruk. Patah tulang melibatkan cedera jaringan lunak pada lutut

dan akan mempersulit upaya rehabilitasi. Pada pasien yang lebih tua, patah tulang

subtrochanteric dapat dikelompokkan dengan patah tulang femur proksimal lainnya

dengan morbiditas dan mortalitas yang relatif tinggi


Perlu dilakuakan follow-up untuk memantau penyembuhan. Luka operasi

diperiksa 7-14 hari pasca operasi. Harus dilakukan evaluasi radiologis dan klinis setiap

bulan untuk memantau penyembuhan. Rehabilitasi quadriceps harus dimulai dalam waktu

2 minggu pasca operasi. Kebanyakan pasien memiliki cacat yang signifikan selama
minimal 4-6 bulan. Jika terjadi nonunion yang nyata maka perlu dipertimbangkan bone

graft.

FRAKTUR PADA GERIATRI


Respon geriatri terhadap cedera
Pada pasien geriatri, tingkat mortalitas dan morbiditas setelah fraktur meningkat

karena dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental pada pasien tersebut. Selain fungsi

tubuh yang sudah berdegenerasi, masalah psikologis juga mempengaruhi seperti merasa

sendirian, tidak lagi dibutuhkan, kebingungan, ketakutan serta keputus asaan dapat

dirasakan oleh pasien geriatri yang tidak terbiasa di lingkungan rumah sakit. Oleh karena

itu pasien geriatri yang mengalami fraktur memiliki sasaran berbeda dalam

penatalaksanaannya.
Tujuan tatalaksana pada pasien geriatri
Untuk mengurangi nyeri, untuk memperoleh atau mempertahankan kepuasan atau

kenyamanan dari posisi fragmen fraktur, dan untuk mengembalikan fungsi secara

optimal.
KOMPLIKASI PENYEMBUHAN FRAKTUR
Awal
o Lokal
Kulit
Abrasi
Vaskular
Arteri (spasme, kompresi, trombosis, sindroma

kompartemen)
Vena (trombosis, emboli paru)
Neurologis
Sendi (artritis septik)
Tulang (osteomyelitis)
o Sistemik
Sindrom emboli lemak
Emboli paru
Pneumonia
Tetanus
Delirium tremens
Akhir
o Lokal
Sendi (kaku sendi)
Tulang
Penyembuhan tulang abnormal(malunion, delayed union,

non-union)
Infeksi tulang persisten
Osteoporosis post-trauma
Metal failure
Otot
Traumatic myositis ossificans
Late ruptur of tendons
Neurologis (Tardy nerve palsy)
o Sistemik
Renal calculi
Accident neurosis

DAFTAR PUSTAKA

1 Apley GA, Solomon L. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem Apley. Edisi ke-7.
Jakarta, 1995. Widya Medika;
2 Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G., Chen, John W.
Musculoskeletal Imaging in Primer of Diagnostic Imaging, 4th Edition. Mosby
Elsevier. United States. 2007. Page 408-410
3 Holmes, Erskin J., Misra, Rakesh R. A-Z of Emergency Radiology. Cambridge
University, 2004. Page 140-143
4 Sjamsuhidat. R., De Jong. Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah.. Edisi 2. Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta. 2003. Hal. 880.
5 Fitzgerald, Robert H., kaufer, Herbert., malkani, Arthur L. 2002. Orthopaedics.
Philadelpia. Elseviers
6 Karunakar, M., McLaurin, TM., Morgan, SJ., Egol, KA. 2009. Improving outcomes
after pertrochanteric hip fractures. Instr Course Lect. 58:91-104
7 Kulkarni GS. 2006. Textbook of Orthopedics and Trauma. New delhi. Jaypee brothers
medical publisher.
8 Nieves JW, Bilezikian JP, Lane JM, Einhorn TA, Wang Y, Steinbuch M, et al. Fragility
fractures of the hip and femur: incidence and patient characteristics. Osteoporos Int.
May 30 2009.
9 Rockwood, Charles A., Bucholz, Robert W., M, Charles., Court-Brown., D, James.,
Heckman., Tornetta, Paul., Williams, Lippincott., Wilkins. 2010. Rockwood and
Green's Fractures in Adults, Volume 1. London: Amazon Media EU
10 Sanders S, Egol KA. 2009. Adult periarticular locking plates for the treatment of
pediatric and adolescent subtrochanteric hip fractures. Bull NYU Hosp Jt Dis.
67(4):370-3.
11 Talley, Nicholas J., Oconnor, Simmon. 2005. Clinical Examination: A Systematic
guide to physical diagnosis. Elsevier. Philadelpia. 191pp.
12 Vaidya SV, Dholakia DB, Chatterjee A. 2003. The use of a dynamic condylar screw
13 Yokochi. 2006. Atlas anatomi manusia. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC