You are on page 1of 27

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT yangmana telah memberikan rahmat dan
kesehatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan sebuah paper sederhana yang
berjudul.TINDAKAN IMF TERHADAP KRISIS EKONOMI YANG MELANDA
PEREKONMOIAN INDONESIA PADA TAHUN 1997.
Adapun maksud penulis ini adalah sebagai salah satu tugas untuk melengkapi tugas mata kuliah
ekonomi pembangunan lanjutan. Selama penulisan ini saya memperoleh bimbingan dari bapak
Ariusni, SE,M.Si serta dari teman-teman dan keluarga yangmana telah memberikan saya motivasi
dan dorongan, sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terkait, yang
membantu penyelesaian paper. Semoga paper ini dapat dapat bermanfaat bagi par pembaca.

Penulis menyadari bahwa paper ini terdapat kesalahan, penulis mengharapkan kritikan dan saran
yang membangun dari semua pihak dan semoga paper ini dapat membawa manfaat untuk kita semua.

Padang, 15 desember 2010

Romadani Rajab

DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan
1. A. Latar belakang
2. B. Rumusan masalah
3. C. Tujuan
BAB II KAJIAN TEORI
1. A. Keterlibatan IMF
2. B. Momerandum Perjanjian Indonesia-IMF

BAB III PEMBAHASAN


1. A. Peranan imf terhadap krisis moneter
2. B. Langkah langkah penting yang digunakan

BAB IV PENUTUP
1. A. Kesimpulan
2. B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak kemerdekan tahun 1945 hingga krisis rupiah yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 dan
kemudian disusul dengan krisis moneter dan akhir tahun 1997 berubah menjadi krisis ekonomi,
Indonesia sebenarnya telah mengalami beberapa gejolak ekonomi, baik yang bersumber dari dalam
maupun dari faktor-faktor eksternal. Tepai memang perlu diakui bahwa dalam beberapa aspek, krisis
ekonomi kali ini berbeda sekali dengan krisis yang terjadi pada tahun 1960 terutama pada masa
transisi dari Orde lama ke Orde Baru. Krisis ekonomi kali memaksa Soeharto harus mundur dari
jabatannya sebagai presidehn, tetapi juga menciptakan krisis kepercayaan dan krisis sosial serta
politik yang sejak Black May 1998 lalu telah memakan banyak korban.

B. Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari masalah di atas, dapat dibuat rumusan masalah yang dihadapi pemerintah dalam
menangani krisis, terutama masalah krisis ekonomi yaitu : bagaimana cara pemerintah untuk
mengatasi masalah krisis tersebut

C. Tujuan
Berdasarkan dari Masalah yang dihadapi oleh pemerintah tersebut, maka dapat ditarik tujuan dari
penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui langkah-langkah pemerintah dalam memulihkan
perekonomian Indonesia yang semakin lama semakin terpuruk
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Keterlibatan IMF
Setelah menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak dapat dibendung lagi
dengan kekuatan sendiri, lebih lagi karena cadangan dolar AS di BI sudah mulai menipis, pada bulan
Oktober 1997 Indonesia akhirnya terpaksa berpaling kepada dana moneter Internasional (IMF) untuk
mendapatkan bantuan dana. Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa negara lainnya di Asia yang
juga dilanda krisis seperti Thailand dan Korea Selatan.

Paket program pemulihan ekonomi yang disyaratkan IMF pertama kali diluncurkan pada bulan
November 1997 bersama pinjaman angsuran pertama senilai 3 miliar dolar AS. Pada mulanya
diharapkan bahwa dengan disetujuinya paket tersebut oleh pemerintah Indonesia, nilai tukar rupiah
akan menguat dan stabil kembali. Tetapi, kenyataan menunjukkan nilai rupiah terus melemah sampai
pernah mencapai Rp 15.000 per dolar AS.Kepercayaan masyarakat didalam dan luar negeri terhadap
ekonomi Indonesia yang pada waktu itu terus merosot membuat kesepakatan itu harus ditegaskan
dalam nota kesepakatan (letter of intent) yang ditandatangani bersama antara pemerintah Indonesia
dan IMF pada bulan Januari 1998.Nota kesepakatan itu terdiri atas 50 butir kebijaksanaan-
kebijaksanaan mencakup ekonomi makro (fiskal dan moneter), restrukturisasi sektor keuangan dan
reformasi struktural.
Butir-butir dalam kebijaksanaan fiskal mencakup, selain penegasan tetap menggunakan prinsip
anggaran berimbang (pengeluaran pemerintah sama dengan pendapatannya), juga meliputi usaha-
usaha pengurangan pemerintah seperti menghilangkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan
listrik, dan membatalkan sejumlah proyek infrastruktur besar, dan peningkatan pendapatan
pemerintah. Usaha-usaha terakhir ini akan dilakukan dengan berbagai cara, termasuk manaikkan
cukai terhadap sejumlah barang tertentu, mencabut semua fasilitas kemudahan pajak, diantaranya
penangguhan pajak pertambahan nilai (PPN) dan fasilitas pajak dan tarif bea masuk yang selama ini
diberikan antara lain kepada industri mobil nasional (Timor), mengenakan pajak tambahan terhadap
bensin, memperbaiki audit PPN, dan memperbanyak objek pajak.

B. Momerandum Perjanjian Indonesia-IMF


1. Fiskal
Adapun point-point kerjasama Pemerintah dengan IMF tentang fiskal adalah;
1) Menghilangkan pengecualian terhadap PPN.

2) Meningkatkan jual kena pajak atas PBB menjadi 40 persen di sektor perkebunan dan
kehutanan.

3) Meningkatkan pendapatan pajak nonmigas melalui peningkatan cakupan audit tahunan,


penyempurnaan program audit PPN, dan peningkatan penerimaan dari tunggakan pajak.

4) Meningkatan penerimaan APBN dari laba BUMN.

5) Menaikkan harga dan meghapuskan subsidi gula, tepung, terigu, jangkul, bungkil kedelai dari
tepung ikan.

6) Menjamin bahwa penggunaan dana reboisasi hanya untuk membiayai Program Reboisasi.

7) Pemerintah Pusat menanggung biaya subsidi kredit untuk pengusaha kecil yang disalurkan
Bank Pemerintah.

8) Menghentikan segala macam fasilitas pajak, tarif bea masuk, maupun keistimewaan kredit
program Mobil Nasional (Timor); menghentikan dukungan nonbujeter dan keistimewaan kredit
untuk proyek-proyek Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)

2. Moneter dan Perbankan


Adapun point-point kerjasama pemerintah dengan imf tentang moneter dan perbankan adalah :

1) Memberikan otonomi pada BI dalam merumuskan kebijaksanaan moneter dan suku bunga.

2) Menerbitkan data pokok moneter secara mingguan .

3) Memberikan otonomi pada Bank Pemerintah untuk menyesuaikan tingkat suku bunga kredit
dan deposito sesuai dengan ketentuan umum yang berlaku bagi semua bank.

4) Membatasi dan secara bertahap menghentikan kredit BI kepada Badan dan Perusahaan
Pemerintah.

5) Membatasi dan menghentikan kredit BI kepada badan dan perusahaan pemerintah.

6) Memperkuat pengawasan Perbankan di BI dan meningkatkan upaya penegakan peraturan


perbankan.

7) Mengadakan program untuk melepas hak kepemilikan BI di bank-bank swasta.

8) Mencabut ketentuan pembatasan untuk membuka cabang bagi bank asing.

9) Menyampaikan RUU kepada DPR tentang penghapusan larangan investasi bank asing pada
perbankan yang sudah go public.
3. Perdagangan Luar Negeri
Adapun point-point kerjasama Pemerintah dengan IMF tentang Perdagangan Luar Negeri adalah :

1) Mengurangi tarif 5 persen (persentage points) untuk semua produk yang saat ini dikenai
tarif 15 sampai 20 persen.
2) Memotong tarif untuk semua jenis produk makanan sampai maksimum 5 persen.

3) mengurari tarif 5 persen (persentage point) dan secara bertahap menjadi setinggi-tingginya
10 persen tarif bagi produk pertanian bukan makanan.
4) Mengurangi tarif 5 persen (persentage point) bagi produk kimia dan produk baja dan
logam.
5) Mencabut semua batasan impor kapal bekas maupun baru.

6) Mengurangi pajak ekspor untuk kayu gelondongan, kayu gergajian, rotan, dan barang
mineral secara bertahap hingga mencapai 10 persen dari harga jualsecara bertahap menerapkan pajak
sumber daya alam atas kayu gelondongan dan gergajian dan barang tambah, dan juga untuk
menggantikan pajak dan pungutan ekspor lainnya yang sesuai.

4. Investasi dan Deregulasi


Adapun point-point kerjasama pemerintah dengan IMF tentang investasi dan Deregulasi adalah :

1) Mencabut peraturan yang membatasi kepemilikan investor asing sampai 40 persen dari
perusahaan yang telah go public.
2) Menerbitkan daftar negatif investasi yang direvisi dengan pengurangan jumlah bidang
usaha yang tertutup bagi investor asing.

3) Mencabut pembatasan investasi asing dalam perkebunan sawit dan dalam bidang eceran
dan perdagangan besar.

4) Mengapus BPPC.

5) Mencabut kuota yang membatasi penjualan ternak.

6) menegakkan ketentuan pelarangan terhadap pengenaan pajak ekspor oleh Pemerintah Dati I
dan II.

7) Melakukan tindakan yang efektif untuk memungkinkan terjadinya persaingan bebas dalam :
(a) impor gandum, tepung terigu dan bawang putih, (b) penjualan dan distribusi reung terigu, dan (c)
impor dan pemasaran gula.

5. Restrukturisasi Perbankan
Adapun point-point kerjasama Pemerintah dengan IMF tentang restrukturisasi perbankan adalah :

1) Melikuidasi 16 bank bermasalah yang tidak sehat, mengganti manajemen 16 bank tersebut
dengan tim likuidasi, dan mengembalikan dana penabung kecil dari 16 bank tersebut.

2) Menjamin kewajiban terhadap semua deposan dan kreditor dari bank-bank yang berbadan
hukum Indonesia.

3) Membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

4) Menetapkan kriteria yang seragam dan transparan megenai penyerahan bank yang tidak
sehat kepada BPPN.

5) Mengalihkan bantuan likuiditas terhadap dari BI kepada BPPN.

6) Mengalihkan kepada BPPN manajemen 7 bank yang telah menyerap bantuan likuiditas BI
lebih dari 70 persen dan 7 bank yang telah meminjam lebih dari 500 persen modalnya.

7) Setiap tindakan itu akan diikuti dengan langkah-langkah untuk melindungi penabung dan
kreditor sesuai dengan jaminan yang diberikan oleh pemerintah.

8) Melakukan penilaian portopolio, sistem dan keuangan untuk semua bank oleh perusahaan
audit yang diakui secara internasional.
9) Mempersiapkan rencana restrukturisasi bank yang berada di bawah BPPN melalui
penggabungan, pengalihan aktiva dan pasiva, atau rekapitulasi, sebelum dilakukan privatisasi.

10) Menetapkan aturan-aturan bagi lembaga kliring jakarta untuk mengalihkan risiko
penyelesaian transaksi (settlement risk) dari BI kepada lembaga tersebut.
11) Mengubah Undang-undang perbankan untuk menghapus batas kepemilikan swasta.

12) Mengadakan asuransi deposito (deposito insurance scheme)


BAB III
PEMBAHASAN

A. Peranan IMF Terhadap Krisis Moneter


usaha, baik usaha dalam negeri maupun luar negeri (termasuk bank-bank di negara mitra dagang
indonesia yang tidak lagi menerima letter of credit (L/C) dari bank-bank Nasional dan investor
dunia) tidak lagi percaya akan kemampuan Indonesia untuk menanggulangi sendiri kasusnya; bahkan
mereka juga tidak lagi percaya pada niat baik atau keseriusan pemerintah dalam menangani krisis
ekonomi di dalam negeri. Oleh karena itu, satu-satunya yang masih menjamin atau memulihkan
kembali kepercayaan masyarakat di / atau terhadap Indonesia adalah melakukan sepenuhnya
kemitraan usaha antara pemerintah indonesia dengan IMF. Dengan perkataan lain kalau Indonesia
ingin mendapatkan bantuan dari luar negeri, baik dalam bentuk pinjaman atau hibah atau jaminan
terhadap L/C, dan ingin agar arus penanaman modal asing (PMA) meningkat atau terus mengalir,
maka pemerintah terpaksa harus bekerjasama dengan IMF.

Kedua, Indonesia sangat membutuhkan dolar AS. Pada awal tahun 1998 kebutuhan itu diperkirakan
sebesar 22,4 miliar dolar AS. Sementara, posisi cadangan devisa bersih yang miliki BI hingga awal
Juni 1998 hanya 14.621,4 juta dolar AS. Kebutuhan itu digunakan untuk membayar utang luar negeri
jangka pendek yang diperkirakan pada pertengahan tahun 1988 sebesar 20 miliar dolar AS,
membayar bunga atas pinjaman jangka panjang 0,9 miliar dolar AS, dan sisanya sebanyak 1,5 miliar
dolar AS untuk kegiatan ekonomi di dalam negeri yang juga sangat diperlukan untuk memacu laju
pertumbuhan ekonomi. Pada awal November 1998, diperkirakan jumlah cicilan dan bunga ULN
terhadap cadangan devisa pada tahun tersebut sekitar 180 persen, dan tahun 1999 naik menjadi
kurang lebih 202 sampai 205 persen dari jumlah cadangan devisa pada tahun yang sama ( Tabel 1)

Tabel 1
Perkiraan Rasio ULN terhadap PDB, Rasio Cicilan Bunga Utang terhadap Ekspor dan
Terhadap Cadangan Devisa, 1998 dan 1999
(dalam persentase)
Rasio 1998 1999
Rasio ULN-PDB 175 101

Rasio Cicilan dan Bunga-Ekspor 50 51

Rasio Cicilan dan Bunga Cadangan 180 202

Kebutuhan dolar AS sebanyak itu terutama karena pemerintah Indonesia untuk sementara waktu,
terutama pada saat krisis ini, tidak dapat mengandalkan pemasukan devisa dari hasil ekspor dan tidak
dapat mengandalkan dana rupiah dari hasil pajak, khususnya pajak pendapatan dan penjualan yang
pasti akan merosot pada saat resesi. Perkiraan kebutuhan dolar AS di atas, didasarkan asumsi
kesepakatan Indonesia dengan IMF yakni laju pertumbuhan ekonomi tahun 1998 waktu itu
diperkirakan minus 5 persen (kenyataannya, sudah minus 13 % lebih) tahun fiskal 1998/1999 dengan
tingkat inflasi 40 persen pada tahun 1998 (kenyataan sudah diatas 60 persen).

Setelah gagal dalam pelaksanaan kesepakatan pertama itu, dilakukkan lagi perundingan-perundingan
baru antara pemerintah Indonesia dengan IMF pada bulan Maret 1998 dan dicapai lagi suatu
kesepakatan baru pada bulan April 1998. Hasil-hasil perundingan dan kesepakatan itu dituangkan
secara lengkap dengan satu dokumen bernama Momerandum tambahan Tentang Kebijaksanaan
Ekonomi Keuangan (MTKEK).Momerandum tambahan ini sekaligus juga lanjutan, pelengkap dan
modifikasi dari 50 butir letter of intent pada bulan januari 1997. Secara keseluruhan ada lima
momerandum tambahan dalam kesepakatan yang baru ini yakni :
1) Program stabilisasi

2) Restrukturisasi Perbankan

3) Reformasi struktural. Disepakati agenda baru yang mencakup upaya-upaya dan sasaran yang
telah disepakati dalam kesepakatan pertama (15 Januari 1998)

4) Penyelesaian utang luar negeri (ULN) swasta disepakati perlunya dikembangkan kerangka
penyelesaian ULN swasta dengan keterlibatan pemerintah yang lebih besar, namun tetap dibatsi agar
proses penyelesaiannya tetap berlangsung lebih cepat

5) Bantuan untuk rakyat kecil (kelompok ekonomi lemah)

B. Beberapa Langkah Penting


1. Kebijaksanaan Moneter
Pemerintah menerpakan kebijaksanaan moneter yang ketat untuk mendorong nilai tukar rupiah
ketingkat yang lebih wajar dan untuk menurunkan inflasi. Tingkat suku bunga SBI ditingkatkan
untuk 1 bulan naik dari 22 persen menjadi 45 persen dan tingkat suku bunga SBI untuk satu malam
menjadi 40 persen. Kurva bunga yang positif dalam rentang tersebut diperlukan untuk
memperpanjang waktu jatuh tempo SBI yang beredar. Di samping itu, fasilitas bantuan likuiditas dari
BI diluncurkan dengan tingkat suku bunga dirancang untuk mengurangi keinginan atau sebagai
disintensif untuk mendapatkan fasilitas bantuan likuiditas dari BI, tetapi tidak terlalu tinggi sehingga
membuat bank-bank yang mengalami likuiditas sementara menjadi insolvent.
2. Kebijaksanaan Perbankan
Langkah-langkah penting dalam restrukturisasi sektor perbankan yang telah dilakukan pemerintah
hingga saat ini adalah pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang pada
tanggal 14 Februari 1998 mulai menangani 54 Bank yang memperoleh pinjaman darurat dari BI
melebihi 200 persen modalnya, atau yang pada bulan Desember 1997 memiliki modal kurang dari 5
persendari nilai aktivanya. Tanggal 31 Maret 1998, pemerintah lewat BPPN mengambil alih 6 bank
swasta (BDNI, Bank Modern, BUN, Bank Danamon, Bank PDFCI dan Bank Tiara) termasuk Bank
BCA.Agustus 1998, dibentuk Asset Management Unit (AMU), dengan tugas utama menampung
semua kredit bermasalah.Oktober 1998, dibentuk Bank Mandiri, gabungan antara Bank Exim, BBD,
BDN, dan Bapindo.Selain itu, pada tanggal 24 agustus lalu pemerintah telah mengajukan konsep
RUU perubahan UU perbankan (No 7/92) dalam rapat Paripurna DPR. Isinya antara lain memberi
hak kepada investor asing untuk menguasai saham di perbankan nasional sampai dengan 100 persen.
3. Program Kesempatan Kerja
Pemerintah memperluas program social Safety Net, atau program padat karya di sektor pekerjaan
umum dan penyediaan kesempatan kerja sementara khusus bagi penduduk termiskin yang
menganggur (akibat PHK), dengan bantuan pembiayaan dari Bank Pembangunan Asia (ADB), Bank
Dunia dan bantuan bilateral. Disamping itu, untuk mempertahankan kesempatan kerja, ketersediaan
berbagai skema kredit dengan subsidi dari pemerintah untuk membantu Usaha Kecil dan Menengah
(UKM) telah diperbanyak.
4. Reformasi danPrivatisasi BUMN
Pemerintah mengupayakan untuk mempercepat reformasi BUMN guna memperkuat tingkat
keuntungan dan meningkatkan sumbangannya kepada penerimaan anggaran pada tahun anggaran
1998/1999 dan tahun-tahun sebelumnya. Upaya itu diharapkan dpat menutup penurunan penerimaan
negara pada tahun 1998 dan pada tahun 1999 sebagai akibat dari berkurangnya penerimaan pajak,
peningkatan subsidi yang lebih besar daripada yang dianggarkan semuladan biaya restrukturisasi
perbankan. Untuk itu diangkatlah seorang Menteri Negara Pendayagunaan BUMN dengan tugas
mendayagunakan perusahaan-perusahaan di sektor publik yang berjumlah 164, termasuk lembaga
keuangan. Dalam tahun 1998/99, pemerintah merencanakan menjual saham-saham enam BUMN,
seperti PT Telkom, PT Indosat, PT Semen Gresik dan PT Krakatau Steel.

5. Restruktrurisasi Utang Luar Negeri (ULN) Swasta


Sejak Februari 1998 telah dilakukan beberapa kali pertemuan antara Steering Committee(SC) para
kreditor bank asing Contact Group (CG) dari para debitor, serta tim Penanggulangan ULN swasta.
Dengan bantuan penasihat dari luar negeri dan dengan berkonsultasi dengan CG, SC, staff IMF,
ADB, Bank Dunia dan negara-negara sahabat yang berminat, Tim Penanggulangan ULN swasta telah
menyiapkan kerangka kerja untuk terustrukturisasi ULN swasta. Bulan Agustus 1998 di Frankfrut,
telah menghasilkan program Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).Dalam Program ini
perusahaan yang bermasalah yang sudah mempunyai kesepakatan dengan kreditornya dapat menukar
rupiahnya dengan dolar AS dengan kurs rata-rata selama 20 hari terakhir.
Pada pertengahan tahun 1998 mulai dirasakan bahwa masalah ULN swasta, khususnya perbankan
semakin berat, sementara hingga saat itu belum ada perusahaan yang bermasalah terlalu banyak,
sehingga penanganannya secara konvensional semata tidak cukup lagi. Mengajukan kasus ini ke
pengadilan kepailitan juga tidak menyelesaikan persoalan.Melihat kenyataan itulah pemerintah
membentuk Prakarsa Jakarta yang dikoordinasi oleh Ketua Tim Penanggulangan ULN
swasta.Pinjaman bermasalah diatasi dengan segala fasilitas kemudahan dari pemerintah.

6. Dampak Kebijaksanaan Pemilihan


Suatu kebijaksanaan pemulihan akan berdampak negatif, terutama jangka pendek, apabila sifat
kebijaksanaan itu kontraktif. Bahkan kalau pelaksanaan kebijaksanaan itu terlalu dipaksakan atau
terburu-buru, tidak bertahap, bisa lebih memperburuk perekonomian indonesia. Secara teori,
pengeluaran pemerintah dalam jangka pendek (selama satu tahun) akan berdampak negatif terhadap
kegiatan-kegiatan ekonomi atau laju pertumbuhan output(PDB). Kalau pengurangan pengeluaran
pemerintah dalam bentuk pengurangan belanja pegawai atau barang, maka efeknya lewat sisi
permintaan agrerat, yang selanjutnya mengakibatkan permintaan di dalam ekonomi berkurang.
(Gambar 3.1a)
Demikian juga, kebijaksanaan moneter yang bersifat kontraksi seperti tingkat suku bunga SBI yang
sangat tinggi memberi dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia.Dampak ini tidak hanya
dalam jangka pendek tetapi dapat juga jangka panjang yang memperbesar resesi ekonomi di
Indonesia apabila kebijaksanaan uang ketat itu terlalu lama dipertahankan. Kalau selama ini sektor-
sektor tersebut sangat produktif yang memiliki pangsa PDB yang tinggi dan juga memiliki
keterkaitan produksi ke depan dan ke dampak negatif dari tingginya suku bunga itu terhadap
perekonomian nasional. Sedangkan dari sisi permintaan, suku bunga pinjaman dan tabungan yang
tinggi, masing-masing akan mengurangi daya beli dan kemauan beli masyarakat. (Gambar 3.1b)

Butir-butir dalam kebijaksanaan restrukturisasi sektor keuangan/perbankan penekanannya adalah


pada usaha-usaha penyehatan perbankan, termasuk swastanisasi bank-bank
pemerintah.Kebijaksanaan perbankan ini bersama-sama dengan kebijaksanaan struktural diharapkan
dapat menghilangkan segala distorsi-distorsi pasar dan ekonomi biaya tinggi. Sebagai dampaknya,
mekanisme pasar akan sempurna, permintaan dan penawaran akan naik dan akhirnya, laju
pertumbuhan ekonomi akan baik kembali (Gambar 3.1c)

Keterangan gambar :

Gambar 3.1

Suku bunga Suku bunga

LM LM

R 0 IS R0
IS
0
Out Put 0 Output
(a) (b)
Suku Bunga

LM

R0
IS

(c)

Mampukah Indonesia Pulih Kembali ?


Setelah setahun krisis berlangsung, ternyata biaya krisis yang harus dibayar masyarakat Indonesia
jauh lebih besar dibandingkan di negara lain. Mampu tidaknya krisis ekonomi di dalam negeri
dengan biaya seminimum mungkin dan dalam waktu sesingkat mungkin sangat bergantung pada
banyak faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal.

Faktor internal menyangkut hal-hal berikut ini :


1) Kesanggupan pemerintah bersama-saman dengan masyarakat dalam menjalankan
reformasi ekonomi sesuai dengan kesepakatan IMF dengan pemerintah Indonesia.

2) Strategi yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia dalam menanggulangi krisis.

3) Ketegasan pemerintah dalam usaha mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan


luar negeri terhadap kepastian hukum di Indonesia.

4) Kesadaran dan kerjasama yang baik dari masyarakat.

Faktor-faktor eksternal antara lain :


1) Kondisi perdagangandan perekkonomian regional atau global yang mendukung pemulihan di
Indonesia
2) Kesediaan para kreditor asing untuk menunda atau menjadwalkan kembali pembayaran atau
menghilangkan sebagian dari ULN swasta Indonesia.

3) Bantuan dari negara-negara donor

4) Investor asing

Faktor-faktor diatas dapat dikatakan masa depan reformasi, dalam arti perekonomian Indonesia bisa
baik kembali dalam waktu yang tidak lama lagi dan tanpa harus menambah pengorbanan atau biaya
yang lebih besar lagi. Indonesia yang kaya akan SDA dan SDM, akhirnya tunduk pada IMF dan
harus melakukan perubahan secara besar-besaran bagaimanapun besarnya biaya reformasi yang harus
dibayar, terutama dalam periode jangka pendek.

BAB 1V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikembangkan pada bagian terdahulu, maka penulis dapat menarik
kesimpulan bahwa salah satu langkah yang baik dalam pemulihan ekonomi negara adalah dengan
meneliti terlebih dahulu point-point di dalam momerandum perjanjian dengan IMF dan jalankan
sesuai dengan prosedur yang ada dan membayar utang Luar Negeri yang telah jatuh tempo.

Untuk itu penulis mengharapkan pemerintah Indonesia harus mampu keluar dari krisis ini dan
kembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia yang telah dimakan sendiri oleh penguasa sehingga
rakyat bisa menikmati Sumber Daya Alam.
B. Saran
Indonesia yang kaya akan SDA dan SDM, harus melakukan perubahan secara besar-besaran
bagaimanapun besarnya biaya reformasi yang harus dibayar, terutama dalam periode jangka pendek.

MODUL EKONOMI PUBLIK BAGIAN IV: TEORI BARANG PUBLIK Dosen Ferry Prasetya,
SE., M.App Ec FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2012 I. Pendahuluan II. Pengertian Barang Publik a. Barang Publik Murni b. Barang
Publik Tidak Murni dan Hambatan c. Karakteristik Barang d. Tipe Barang e. Aspek
Barang Publik III. Teori Barang Publik a. Teori Pigou b. Teori Bowen c. Teori Erick
Lindahl d. Teori Samuelson e. Teori Anggaran IV. Barang Konsumsi Bersama a.
Argumen tentang Produksi Sektor Publik b. Argumen tentang Pruduksi Sektor
Swasta c. Hambatan dalam Barang Konsumsi Bersama d. Keluaran Optimal dari
Barang Konsumsi Bersama e. Barang Konsumsi Bersama Murni dan Tidak Murni f.
Kebijakan Publik terhadap Barang Konsumsi Bersama g. Non-Ekslusif dan Barang
Konsumsi Bersama VI. Pengadaan Swasta atas Barang Publik a. Keseimbangan b.
Peningkatan Pareto c. Jumlah Pengadaan d. Jumlah Rumah Tangga e. Akibat dari
Perbedaan VII. Soal-Soal VIII. Studi Kasus I. PENDAHULUAN Dalam hal barang
swasta, barang-barang tersebut dapat dihasilkan oleh perusahaan swasta, tetapi
dapat juga dihasilkan perusahaan negara, misalnya jasa kereta api dan jasa
penerbangan. Barang publik juga dapat dihasilkan oleh perusahaan swasta dan
perusahaan negara. Jadi yang dimaksud dengan barang publik adalah baarang yang
disediakan oleh pemerintah merupakan barang milik pemerintah yang dibiayai
anggaran belanjanegara tanpa melihat siapa yang melaksanakan pekerjaannya.
Banyak ekonom (mulai dari P. Samuelson) telah mencoba untuk membuat definisi
yang lebih spesifik dan teknis pada istilah barang publik. Tujuan definisi tersebut
adalah untuk membedakan antara barang yang secara alami merupakan barang
publik dengan barang yang cocok untuk pasar komersial. Definisi barang publik
yang paling umum menekankan pada dua atribut yang kelihatannya menjadi
karakteristik dari banyak barang yang diproduksi pemerintah : non eksklusif dan
non rivalitas. II. Definisi Barang Publik i. Barang Publik Murni Dalam ilmu ekonomi,
barang publik adalah barang yang memiliki sifat non-rival dan non-eksklusif. Barang
publik merupakan barang-barang yang tidak dapat dibatasi siapa penggunanya dan
sebisa mungkin bahkan seseorang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk
mendapatkannya. Barang publik adalah barang yang apabial dikonsumsi oleh
individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut.
Barang publik memiliki sifat non-rival dan non-eksklusif. Barang publik hampir sama
dengan barang kolektif. Bedanya, barang publik adalah untuk masyarakat secara
umum (keseluruhan), sementara barang kolektif dimiliki oleh satu bagian dari
masyarakat (satu komunitas yang lebih kecil) dan hanya berhak digunakan secara
umum oleh komunitas tersebut.Contoh: jalan raya merupakan barang publik,
kebanyaknya pengguna jalan tidak akan mengurangi manfaat dari jalan tersebut,
semua orang dapat menikmati dan manfaat dari jalan raya (noneksklusif); dan jalan
raya dapat digunakan pada waktu bersamaan. Istilah barang publik sering
digunakan pada barang yang non-eksklusif dan barang non-rival. Hal ini berarti
bahwa tidak mungkin bisa mencegah seseorang untuk tidak mengonsumsi barang
publik. Dan udara juga dapat dimasukkan sebagai contoh barang publik karena
secara umum tidak mungkin mencegah seseorang untuk tidak menghirup udara.
Barang-barang yang demikian itu sering disebut sebagai barang publik murni. ii.
Barang Publik Murni dan Penghambat Ada beberapa barang yang tidak bersifat
konsumsi bersama. Dua orang tidak dapat mengkonsumsi roti secara bersama-
sama. Manfaat dan kepuasan memakan roti tidak tersediabagi kedua orang
tersebut. Ketika mengkonsumsi barang yang tidak dapat dikomsumsi oleh orang
lain, komsumsi dua orang tersebut dapat disebut sebagai rival. Non-eksklusifitas
terjadi ketika anda tidak membayar penjual roti, maka anda tidak dapat
mengkonsumsi roti tersebut. Timbul masalah-masalah yang mengelilinginya : a.
pemanfaatan barang publik cenderung berlebihan b. barang publik tidak memiliki
harga. Hal ini disebabkan antara lain sulitnya menentukan standar harga maupun
karena barang publik yang tidak diperdagangkan. c. Tidak adanya keuntungan
membuat orang-orang tidak mau (kalaupun ada sangat sedikit jumlahnya) untuk
menyediakannya ataupun melestarikannya Disinilah pemerintah berperan dengan
cara menarik pajak dari masyarakat dan dana pengumpulan pajak tersebut
digunakan untuk menyediakan barang publik. d. Utilitas yang diperoleh setiap
rumah tangga dari barang publik murni adalah fungsi peningkatan tingkat
persediaan dan fungsi penurunan penggunaannya. iii. Karakteristik Barang
Perbedaan barang publik denagn barang yang lain: 1. Noneksklusivitas. Salah satu
sifat yang membedakan barang publik dengan barang lain adalah apakah orang
dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut atau tidak. Bagi kebanyakan
barang pribadi, pengecualian tentu saja sangat dimungkinkan. Pertahanan nasional
merupakan contoh standar. Sekali suatu angkatan bersenjata dibentuk, setiap orang
di suatu negara tersebut diuntungkan, apakah dia membayar atau tidak. Barang
noneksklusif ini dapat dilawan dengan barang konsumsi pribadi yang eksklusif,
seperti mobil atau film dimana pengecualian-pengecualian merupakan suatu
masalah sederhana. Mereka yang tidak membayar barang pribadi tersebut tidak
menerima jasa yang dijanjikan oleh barang tersebut. 2. Nonrivalitas. Sifat kedua
yang menjadi karakter dari barang-barang publik adalah nonrivalitas. Barang-
barang nonrivalitas adalah barang dimana manfaatnya dapat diberikan bagi
pengguna tambahan dengan biaya marjinal nol. Pada sebagian besar barang,
tambahan jumlah konsumsi membutuhkan sejumlah biaya produksi marjinal.
Misalkan tambahan pemirsa pada satu saluran televisi tidak akan menambah biaya
meskipun tindakan ini menyebabkan terjadinya tambahan konsumsi. Konsumsi oleh
tambahan pengguna dari barang semacam itu adalah nonrivalitas/nonpersaingan
sehingga tambahan konsumsi tersebut membutuhkan biaya marjinal sosial dari
produksi sebesar nol, konsumsi tersebut tidak mengurangi kemampuan orang lain
untuk mengkonsumsi. iv. Tipe Barang 1. Barang pribadi adalah barang-barang yang
ekskludabel dan rival. Contoh: Es Cendol. Es cendol jelas bersifat ekskludabel
karena kita bisa mencegah orang lain dari mengkonsumsinya. Es cendol juga
bersifat rival karena, jika hanya ada satu es cendol, dan ada seseorang yang
mengkonsumsinya maka orang lain tidak bisa mengkonsumsinya. 2. Barang publik
adalah barang-barang yang tidak ekskludabel dan juga tidak rival. Artinya siapa
saja tidak bisa mencegah untuk memanfaatkan barang ini, dan konsumsi seseorang
atas barang ini tidak mengurangi peluang orang lain melakukan hal yang sama.
Contoh: pertahanan suatu negara aman karena mampu melawan setiap serangan
dari negara lain, maka siapa saja di negara itu tidak bisa dicegah untuk menikmati
rasa aman, peluang bagi orang lain untuk turut menikmati keamanan sama sekali
tidak berkurang. 3. Sumber daya milik bersama (common resources) adalah
barangbarang yang tidak ekskludabel, namun rival. Contoh: ikan laut. Tidak ada
seseorang yang melarang menangkap ikan laut, atau meminta bayaran kepada
nelayan atas ikan-ikan yang mereka tangkap. Namun ada saat seseorang
melakukannya, maka jumlah ikan di laut berkurang, sehingga kesempatan orang
lain melakukan hal yang sama menjadi berkurang. 4. Adapula barang yang
ekskludabel, namun tidak memiliki rival. Barang seperti ini muncul dalam situasi
monopoli ilmiah, yaitu produksi yang dikuasai oleh satu perusahaan. Contoh: Jasa
pemadam kebakaran suatu kota kecil. Sangatlah mudah mencegah seseorang
menikmati jasa ini. Petugas kebakaran dapat membiarkan sebuah rumah terbakar
begitu saja. Namun jasa perlindungan kebakaran ini tidaklah bersifat rival, karena
kebakaran rumah tidak terjadi setiap saat, dan setiap rumah memperoleh
perlindungan yang sama. Petugas pemadam kebakaran lebih sering menunggu
daripada beraksi memadamkan kebakaran, sehingga melindungi sebuah rumah
tambahan tidak akan mengurangi kualitas perlindungan mereka pada rumah-rumah
lain. Dengan kata lain, begitu pemerintah kota membuat anggaran untuk jasa
pemadam kebakaran, maka tambahan untuk melindungi tambahan satu rumah
baru sangatlah kecil. v. Aspek barang Sifat-sifat barang privat tersebut adalah : 1)
Rivalrous consumption, dimana konsumsi oleh satu konsumen akan mengurangi
atau menghilangkan kesempatan pihak lain untuk melakukan hal serupa. Terjadi
rivalitas antar calon konsumen dalam mengkonsumsi barang ini. 2) Excludable
consumption, dimana konsumsi suatu barang dapat dibatasi hanya pada mereka
yang memenuhi persyaratan tertentu (biasanya harga), dan mereka yang tidak
membayar atau tidak memenuhi syarat dapat dikecualikan dari akses untuk
mendapatkan barang tersebut (excludable). Contohnya, pakaian di toko hanya
dapat dinikmati oleh mereka yang membeli atau membayar, sementara mereka
yang tidak membayar tidak dapat menikmati pakaian tersebut. 3) Scarcity, yaitu
kelangkaan atau keterbatasan dalam jumlah. Kelangkaan dan ketersediaan inilah
yang menimbulkan kedua sifat sebelumnya. Barang privat biasanya memang
diadakan untuk mencari profit atau laba. Karena sifat-sifatnya tadi, barang privat
dapat menjaga efisiensi pasar dalam pengadaannya. Efisiensi inilah yang menarik
minat sektor swasta dan menimbulkan pemahaman bahwa barang privat adalah
barang yang diproduksi oleh sektor swasta. Meskipun begitu, pemerintah pun
sebenarnya dapat berlaku sebagai sektor swasta dan menjadi bagian dari pasar
dalam penyediaan barang privat untuk tujuan-tujuan tertentu. Macam-macam
Barang Publik Barang publik memiliki dua sifat atau dua aspek yang terkait dengan
penggunaannya, yaitu : 1) Non-rivalry. Berarti bahwa penggunaan satu konsumen
terhadap suatu barang tidak akan mengurangi kesempatan konsumen lain untuk
juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat mengambil manfaat dari
barang tersebut tanpa mempengaruhi menfaat yang diperoleh orang lain. Contoh,
dalam kondisi normal, apabila kita menikmati udara bersih dan sinar matahari,
orang-orang di sekitar kita pun tetap dapat mengambil manfaat yang sama. 2)Non-
excludable. Berarti bahwa apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang
dapat menghalangi siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut.
Dalam konteks pasar, maka baik mereka yang membayar maupun tidak membayar
dapat menikmati barang tersebut. Contoh, masyarakat membayar pajak kemudian
diantaranya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan jasa kepolisian, dapat
menggunakan jasa kepolisian tersebut tidak hanya terbatas pada yang membayar
pajak saja. Mereka yang tidak membayar pun dapat mengambil menfaat atas jasa
tersebut. Singkatnya, tidak ada yang dapat dikecualikan (excludable) dalam
mengambil manfaat atas barang publik. III. TEORI BARANG PUBLIK i. Toeri Pigou
Pigou berpendapat bahwa barang publik harus disediakan sampai suatu tingkat
dimana kepuasan marginal akan barang publik sama dengan ketidakpuasan
marginal akan pajak yang dipungut untuk membiayai program
pemerintah(menyediakan barang publik) Sumber: Ekonomi Publik, Dr Guritmo
Mangkoesoebroto Diagram 1 Penyediaan dan pembiayaan barang publik yang
optimal Pada Diagram kurva kepuasan akan barang publik ditunjukan oleh kurva
UU. Kurva UU tersebut mempunyai bentuk menurun yang menunjukan bahwa
semakin banyak barang publik yang dihasilkan maka akan semakin rendah
kepuasan marginalnya yang dirasakan masyarakat. Di lain pihak, semakin banyak
pajak yang dipungut, semakin besar rasa ketidakpuasan marginal masyarakat. Oleh
karena itu kurva ketidakpuasan marginal akan pembayaran pajak mempunyai
bentuk yang meninggi. Ketidakpuasan marginal ditunjukan dengan sumbu tegak
dari titik O kebawah dan kurva ketidakpuasan marginal ditunjukan oleh kurva PP.
Titik E adalah keadaan optimum dimana bagi masyarakat kepuasan marginal bagi
barang publik sama dengan ketidakpuasan marginal dalam hal pembayaran pajak.
Kelemahan analisa dari Pigou didasarkan pada ketidakpuasan marginal masyarakat
dalam membayar pajakdan rasa kepuasan marginal akan barang publik, sedangkan
kepuasan dan ketidakpuasan adalah sesuatu yang tidak dapat diukur secara
kuantitatif karena siaftnya ordinal. ii. Teori Bowen G H D H F Budget Pemerintah U A
B C Kepuasan Batas Akan Barang Pemerintah P Bowen mengemukakan teori yang
didasarkan pada teori harga sama halnya pada penentuan harga pada barang
swasta. Sumber : Ekonomi Publik, Dr Guritmo Mangkoesoebroto Diagram 2
Penentuan Jumlah dan Harga Barang Swasta Kurva penawaran sepatu ditunjukan
oleh kurva SS. Kurva DA dan DB menunjukan kurva permintaan akan sepatu oleh A
dan B sedang kurva D(A+B) merupakan kurva permintaan pasar yang diperoleh
dengan menjumlahkan kurva DA+DB secara mendatar(horisontal). Harga pasar
yang terjadi adalah OP, yaitu dimana D(A+B)=S, harga OP adalah harga sepasang
sepatu bagi A dan B. Bowen mendefinisikan barang publik sebagai barang dimana
pengecualian tidak dapat ditentukan. Jadi sekali suatu barang publik sudah tersedia
maka tidak ada seorang pun yang dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut.
H XA + B Jumlah P o S S D D X X D(A + Sumber : Ekonomi Publik, Dr Guritmo
Mangkoesoebroto Diagram 3 Harga Dan Jmulah Barang Publik DA dan DB
menunjukan kurva permintaan individu A dan B akan barang publik DA dan DB.
Jumlah barang yang disediakan pemerintah sebesar OY, yaitu pada titik
perpotongan kurva penawaran dengan kurva permintaan D(A+B) Kelemahan teori
ini adalah karena Bowen menggunakan permintaan permintaan dan penawaran.
Yang menjadi masalah adalah karena pada barang publik tidak ada prinsip
pengecualian sehingga masyarakat tidak mau mengemukakan kesenangan mereka
akan barang tersebut sehingga permintaan kurva permintaan menjadi tidak ada. iii.
Teori Erick Lindahl Harga P A+B P A PB O Y DB DA S D A+B Jumlah Barang
Pemerintah Teori Lindahl mirip dengan yang dikemukakan oleh Bowen, hanya saja
pembayaran masing-masing konsumen tidak dalam bentuk harga absolut akan tetpi
berupa presentase dari total biaya penyediaan barang publik. Analisa Lindahl
didasarkan pada analisa kurva indifferen dengan anggaran tetap yang terabatas
(fixed budget costrains). Diagram 4 Kurva Indifferen Kelemahan teori Lindahl adalah
karena teori ini hanya membahas mengenai barang publik tanpa membahas
mengenai penyediaan barang swasta yang dihasilkan oleh sektor swasta. Selain itu
kelemahan utamanya adalah penggunaan kurva indifferen. Sifat barang publik tidak
dapat dikecualikan menyebabkan tidak ada seorang individu juga yang bersedia
menunjukan prefrensinya terhadap barang publik.kritikan lainya ialah teori ini hanya
melihat penyediaan barang publik saja tanpa memperhitungkan jumlah barang
swasta yang seharusnya diproduksi agar masyarakat mencapai kesejahteraan
optimal. iv. Teori Samuelson A H1 H2 H3 A1 A3 A2 Proporsi biaya G G0 B B1 B3 B2 Q
Q0 (1-h2) (1-h1) (1-h0) Samuelson menyatakan bahwa adanya barang yang
mempunyai dua karakteristik, yaitu; non perekonomian tidak dapat mencapai
kesejahteraan masyarakat yang optimal. Sumber Gambar:
http://tidakdijual.com/content/teori Diagram diatas menjelaskan konsumsi antara
barang swasta dan barang publik antara 2 individu. publik berbanding barang
swasta. R sebagai patokan kesejahteraan. sebanyak L1, maka barang swasta yang t
indiferen LR1 dapat diketahui jika R akan mengkonsumsi barang swasta sebanyak
T2. Sehingga sisa barang yang ada yakni T1 Dengan asumsi yang sama jika barang
publik yang tersedia adala maka R akan mengkonsumsi barang swasta sebanyak T5
dan S akan mengkonsumsi sebanyak T4 - T5 = T6. Samuelson menyatakan bahwa
adanya barang yang mempunyai dua karakteristik, yaitu; non-exclusionary dan non-
rivarly, tidaklah berarti bahwa perekonomian tidak dapat mencapai kondisi Pareto
Optimal atau tingkat kesejahteraan masyarakat yang optimal. Sumber Gambar:
http://tidakdijual.com/content/teori-samuelson Diagram 5 Teori Samuelson Diagram
diatas menjelaskan konsumsi antara barang swasta dan barang vidu. TP adalah
kurva yang menunjukan ketersediaan barang publik berbanding barang swasta.
Kurva indiferens R dan S, dimana kita mengambil R sebagai patokan kesejahteraan.
Asumsi jika barang publik yang tersedia hanya sebanyak L1, maka barang swasta
yang tersedia adalah sebanyak T1. indiferen LR1 dapat diketahui jika R akan
mengkonsumsi barang swasta sebanyak T2. Sehingga sisa barang yang ada yakni
T1 - T2 = T3 akan dikonsumsi oleh S. Dengan asumsi yang sama jika barang publik
yang tersedia adalah sebanyak L2 maka R akan mengkonsumsi barang swasta
sebanyak T5 dan S akan mengkonsumsi T5 = T6. Titik pertemuan antara indiferent
R dengan kurva barang Samuelson menyatakan bahwa adanya barang yang
mempunyai dua rivarly, tidaklah berarti bahwa kondisi Pareto Optimal atau tingkat
samuelson Diagram diatas menjelaskan konsumsi antara barang swasta dan barang
TP adalah kurva yang menunjukan ketersediaan barang Kurva indiferens R dan S,
dimana kita mengambil Asumsi jika barang publik yang tersedia hanya ersedia
adalah sebanyak T1. Dari kurva indiferen LR1 dapat diketahui jika R akan
mengkonsumsi barang swasta sebanyak T2 = T3 akan dikonsumsi oleh S. h
sebanyak L2 maka R akan mengkonsumsi barang swasta sebanyak T5 dan S akan
mengkonsumsi Titik pertemuan antara indiferent R dengan kurva barang publik
membuat S tidak menikmati barang swasta. konsumsi barang swasta S disatukan
akan membentuk kurva DGD dimana kurva ini bersinggungan dengan indiferen S di
titik G. Dengan proses yang sama terciptalah konsumsi barang swasta yang baru.
terciptalah konsumsi barang swasta S ya Sumber Gambar:
http://tidakdijual.com/content/teori Diagram 6 Fungsi Kemungkinan Kepuasan
Diagram diatas adalah perbandingan kesejahteraan antara R dan S. adalah kurva
kesejahteraan. mempunyai kesejahteraan sebesar B1. sehingga kesejahteraan R
berkurang dan kesejahteraan S bertambah. Kelemahan 1. Hasil analisis sangat
tergantung pada tingkat kesejahteraan individu mana yang dipilih, dan tingkat kesej
2. Samuelson menunjukkan tercapainya kondisi Pareto optimal akan tetapi kita tidak
tahu apakah perpindahan dari D ke W pada diagram diatas menunjukkan perbaikan
atau penurunan kesejahteraan seluruh masyarakat. 3. Kelemahan yang terbesar
adalah pada anggapan bahwa konsumen secara terus terang mengemukakan
kesukaan mereka terhadap barang publik dan publik membuat S tidak menikmati
barang swasta. Titik-titik yang merupakan ng swasta S disatukan akan membentuk
kurva DGD dimana kurva ini bersinggungan dengan indiferen S di titik G. Asumsi
merubah indiferen R dan S. Dengan proses yang sama terciptalah konsumsi barang
swasta yang baru. terciptalah konsumsi barang swasta S yang baru. Sumber
Gambar: http://tidakdijual.com/content/teori-samuelson Diagram 6 Fungsi
Kemungkinan Kepuasan Diagram diatas adalah perbandingan kesejahteraan antara
R dan S. adalah kurva kesejahteraan. Saat R mempunyai kesejahteraan sebesar M1
maka mempunyai kesejahteraan sebesar B1. Kesejahteraan bergeser dari D ke W,
sehingga kesejahteraan R berkurang dan kesejahteraan S bertambah. Hasil analisis
sangat tergantung pada tingkat kesejahteraan individu mana yang dipilih, dan
tingkat kesejahteraan mana yang mula-mula dipilih. Samuelson menunjukkan
tercapainya kondisi Pareto optimal akan tetapi kita tidak tahu apakah perpindahan
dari D ke W pada diagram diatas menunjukkan perbaikan atau penurunan
kesejahteraan seluruh masyarakat. ang terbesar adalah pada anggapan bahwa
konsumen secara terus terang mengemukakan kesukaan mereka terhadap barang
publik dan titik yang merupakan ng swasta S disatukan akan membentuk kurva
DGD dimana kurva ini Asumsi merubah indiferen R dan S. Dengan proses yang
sama terciptalah konsumsi barang swasta yang baru. Dan samuelson Diagram
diatas adalah perbandingan kesejahteraan antara R dan S. BM Saat R mempunyai
kesejahteraan sebesar M1 maka S Kesejahteraan bergeser dari D ke W, Hasil
analisis sangat tergantung pada tingkat kesejahteraan individu mana mula dipilih.
Samuelson menunjukkan tercapainya kondisi Pareto optimal akan tetapi kita tidak
tahu apakah perpindahan dari D ke W pada diagram diatas menunjukkan perbaikan
atau penurunan kesejahteraan seluruh masyarakat. ang terbesar adalah pada
anggapan bahwa konsumen secara terus terang mengemukakan kesukaan mereka
terhadap barang publik dan kesukaan mereka inilah yang menjadi dasar pengenaan
biaya untuk menghasilkan barang publik. Yang menjadi persoalan dalam penentuan
jumlah barang publik yang akan disediakan oleh pemerintah adalah bagaimana
pemerintah memungut pembayaran dari konsumen barang publik. 4. Barang publik
yang dibahas adalah barang yang mempunyai sifat kebersamaan, yaitu barang
publik yang dipakai oleh konsumen dalam jumlah yang sama. v. Teori Anggaran
Teori ini didasarkan pada suatu analisa di mana setiap orang membayar atas
penggunaan barang -barang publik dengan jumlah yang sama, yaitu sesuai dengan
sistem harga untuk barang-barang swasta. Teori alokasi barang publik melalui
anggaran merupakan suatu teori analisa penyediaan barang publik yang lebih
sesuai dengan kenyataan karena bertitik tolak pada distribusi pendapatan awal di
antara individuindividu dalam masyarakat dan dapat digunakan untuk menentukan
beban pajak di antara para konsumen untuk membiayai pengeluaran pemerintah.
Sumber Gambar: http://tidakdi Diagram 7 Teori Alokasi Barang Publik Melalui
Anggaran Garis tegak adalah penghasilan, sedangkan garis datar adal publik (G).
CG adalah kurva kemungkinan produksi. Garis anggaran adalah A dan B.
Persinggungan anggaran A dengan kurva indifrent berada di titik F. Sehingga A akan
mengkonsumsi barang publik sebesar G0 dengan penghasilan OM0. Dan A akan
mengkonsu sehingga B akan mengkonsumsi barang swasta sebanyak CC0 Apabila A
merubah garis anggarannya. Maka A akn mengkonsumsi barang publik sebesar G1.
Sehingga A akan mengkonsumsi barang swasta sebesar MM1 dan B akan men NJ
adalah barang swasta yang tersedia untuk individu B. Dan B akan mencapai nilai
optimum mengkonsumsi barang publik dan swasta dititik Q. MV adalah barang
swasta yang tersedia untuk A. Sehingga A berapa pad tingkat keseimbangan
konsumen di titik F,dan total produksi berada di titik E. Sumber Gambar:
http://tidakdijual.com/content/teori-anggaran Diagram 7 Teori Alokasi Barang Publik
Melalui Anggaran Garis tegak adalah penghasilan, sedangkan garis datar adal
publik (G). CG adalah kurva kemungkinan produksi. Garis anggaran adalah A dan B.
Persinggungan anggaran A dengan kurva indifrent berada di titik F. Sehingga A akan
mengkonsumsi barang publik sebesar G0 dengan penghasilan OM0. Dan A akan
mengkonsumsi barang swasta sebesar MM0, sehingga B akan mengkonsumsi
barang swasta sebanyak CC0 - MM0 = NN0. Apabila A merubah garis anggarannya.
Maka A akn mengkonsumsi barang publik sebesar G1. Sehingga A akan
mengkonsumsi barang swasta sebesar MM1 dan B akan mengkonsumsi barang
swasta sebesar CC1 - MM1 = NN1. NJ adalah barang swasta yang tersedia untuk
individu B. Dan B akan mencapai nilai optimum mengkonsumsi barang publik dan
swasta dititik Q. MV adalah barang swasta yang tersedia untuk A. Sehingga A
berapa pad tingkat keseimbangan konsumen di titik F,dan total produksi berada di
titik anggaran Diagram 7 Teori Alokasi Barang Publik Melalui Anggaran Garis tegak
adalah penghasilan, sedangkan garis datar adalah barang publik (G). CG adalah
kurva kemungkinan produksi. Garis anggaran adalah A dan B. Persinggungan
anggaran A dengan kurva indifrent berada di titik F. Sehingga A akan mengkonsumsi
barang publik sebesar G0 dengan msi barang swasta sebesar MM0, MM0 = NN0.
Apabila A merubah garis anggarannya. Maka A akn mengkonsumsi barang publik
sebesar G1. Sehingga A akan mengkonsumsi barang swasta sebesar MM1 = NN1. NJ
adalah barang swasta yang tersedia untuk individu B. Dan B akan mencapai nilai
optimum mengkonsumsi barang publik dan swasta dititik Q. MV adalah barang
swasta yang tersedia untuk A. Sehingga A berapa pada tingkat keseimbangan
konsumen di titik F,dan total produksi berada di titik Kelemahan dari teori ini, yaitu
digunakannya kurva indiferens sebagai alat analisis yang baik dari segi teori akan
tetapi kurang bermanfaat untuk aplikasi penggunaannya dalam kenyataan sehari-
hari. IV. Collective Consumption Goods i. The Argument for Public Sector Production
Konsumsi kolektif yang baik adalah baik untuk yang di konsumsi oleh satu
konsumen tidak akan mengurangi konsumsi setiap konsumen lainnya. Definisi ini
tidak berlaku untuk sebagian besar barang. Untuk melihat mengapa sektor produksi
publik konsumsi kolektif yang baik mungkin lebih disukai, berasumsi bahwa baik
diproduksi di sektor swasta dan bahwa sebuah perusahaan swasta biaya masing-
masing konsumen untuk kebaikan. Pendapat untuk membiayai baik melalui uang
pajak dan mendistribusikan kepada siapa saja yang menginginkannya tanpa biaya.
Jika baik memiliki harga sama sekali, itu akan mengecualikan beberapa konsumen
yang menempatkan nilai di atasnya, sehingga nilai sosial yang baik tidak akan
maksimal. Beberapa aspek dari pertimbangan jasa argumen lebih lanjut untuk
melihat mengapa sektor publik produksi dianggap diinginkan. Konsumsi kolektif
yang baik dapat diperpanjang untuk tambahan konsumen tanpa biaya tambahan
setelah diproduksi, tetapi baik konsumsi kolektif mahal untuk memproduksi di
tempat pertama, dan lebih dari itu yang diproduksi, semakin mahal itu. Hal ini tidak
efisien untuk mengecualikan beberapa konsumen dari pasar, tetapi pasar tidak
memiliki baik cara mengalokasikan baik untuk setiap konsumen yang menempatkan
nilai di atasnya. Dalam pengertian ini, pasar tidak efisien dalam mengalokasikan
sumber daya untuk barang barang konsumsi kolektif dan tidak efisien dalam
mendistribusikan barang ke konsumen potensial. Pasar kadang-kadang tidak
membuat upaya untuk mengenakan harga lebih tinggi untuk permintan tinggi atau,
melihat secara berbeda, untuk memungkinkan permintan rendah untuk
mengkonsumsi dengan harga yang lebih rendah. Namun demikian, beberapa
konsumen bersedia untuk membayar baik masih akan dikecualikan karena bahkan
harga murah lebih dari mereka bersedia membayar. Inefisiensi tersebut mungkin
berkurang jika Pemerintah menghasilkan konsumsi kolektif yang baik dan
memungkinkan orang untuk mengkonsumsi itu tanpa biaya. ii. The Argument For
private Sector Production Sebagai diinginkan karena produksi sektor publik terlihat
dari argumen hanya diberikan, ada menarik argumen terhadap produksi sektor
publik juga. Bioskop mungkin memiliki karakteristik konsumsi kolektif yang baik jika
tidak sesak, tapi, seperti mengisi, itu mengambil lebih dari karakteristik dari
konsumsi pribadi yang baik. Hal yang sama dapat dikatakan untuk barang-barang
seperti kolam renang dan jalan raya. Jika mereka tidak ramai, sebuah, tambahan
konsumen dapat mengkonsumsi tanpa mengganggu dengan konsumsi orang lain,
namun, karena mereka mendapatkan lebih ramai, mereka kehilangan karakteristik
kolektif mereka konsumsi. Dalam setiap kasus ada biaya marjinal yang
berhubungan dengan konsumen tambahan. iii. Congestion of collective
consumption goods Perlu mencari tahu apakah menambahkan konsumen tambahan
akan memaksakan biaya pada konsumen yang ada. Untuk melihat bagaimana hal
ini mungkin dilakukan, pertimbangkan contoh yang berbeda dan mencoba untuk
menentukan apakah baik adalah konsumsi kolektif yang baik. Adalah kolam renang
konsumsi kolektif yang baik? Jika itu adalah kolam besar dan ada beberapa orang
berenang di dalamnya, maka pengguna tambahan tidak akan memaksakan biaya
pada pengguna yang ada. Itu biaya marjinal pengguna tambahan adalah nol,
sehingga kolam renang adalah konsumsi kolektif baik. Contoh lain ialah; Sebuah
bioskop adalah konsumsi kolektif yang baik jika ada banyak kursi kosong, namun,
jika teater penuh, itu adalah konsumsi swasta yang baik. Titik kunci yang perlu
diingat adalah bahwa apakah baik memenuhi definisi ditentukan oleh biaya
ekonomi dari penggunaan dan bukan oleh karakteristik fisik yang baik. iv. The
Optimal Output Of a collective consumption goods Untuk barang swasta, tingkat
produksi yang optimal terjadi pada titik di mana manfaat marjinal dari produksi
tambahan sama dengan biaya marjinal. Prinsip umum yang sama berlaku untuk
barang konsumsi kolektif, meskipun beberapa perbedaan spesifik hasil dari
perbedaan dalam dua jenis barang. Untuk konsumsi kolektif yang baik, permintaan
pasar yang ditemukan oleh vertikal menjumlahkan semua kurva permintaan
individu. Dengan barang-barang konsumsi swasta, setiap unit yang diproduksi
memberikan utilitas hanya untuk individu orang yang mengkonsumsi itu, sehingga
nilai sosial total, mengatakan, minuman ringan adalah sama dengan nilai pribadi
minum kepada orang yang mengkonsumsi itu. Untuk barang konsumsi kolektif,
setiap unit yang diproduksi dapat dikonsumsi oleh, dan dihargai oleh seluruh
konsumen. v. Pure and impure collective consumption goods Kondisi untuk tingkat
optimal output baik konsumsi kolektif, GD = MC, yang dikembangkan untuk kasus
ekstrim dari konsumsi kolektif murni yang baik di mana biaya marjinal
menambahkan pengguna tambahan adalah nol. Dalam dunia nyata, banyak barang
bisa mengakomodasi tambahan pengguna dengan biaya rendah tetapi belum tentu
dengan biaya nol. Jalan raya padat berfungsi sebagai ilustrasi konsumsi kolektif
murni yang baik. Bioskop berfungsi sebagai lain contoh bahwa transisi dari
konsumsi kolektif murni baik ketika mengandung beberapa orang, melalui konsumsi
kolektif murni baik karena mengisi, untuk yang baik swasta murni ketika diisi.
Meskipun kondisi optimalitas yang diturunkan sebelumnya dijelaskan dalam konteks
murni Konsumsi kolektif yang baik, mereka umumnya dapat diterapkan setiap saat
ketika jumlah baik yang tersedia untuk satu konsumen adalah fungsi dari jumlah
total yang dihasilkan, apakah baik adalah baik konsumsi murni kolektif. Kondisi
optimal bahkan berlaku dalam kasus jumlah yang baik, asalkan individu tidak dapat
secara individual kuantitas menyesuaikan, dan murni swasta tersedia bagi setiap
konsumen adalah fungsi dari jumlah yang diproduksi untuk semua orang. Untuk
melihat ini, mempertimbangkan contoh ekstrim baik swasta murni. vi. Public policy
toward collective consumption goods Barang konsumsi kolektif didefinisikan sebagai
barang yang merupakan konsumen tambahan bisa mengkonsumsi baik tanpa
mengurangi konsumsi setiap konsumen lainnya. Barang-barang tersebut tidak
diproduksi benar-benar efisien oleh sektor swasta karena pemasok sektor swasta
harus biaya untuk output mereka, dan biaya apapun untuk konsumsi konsumsi
kolektif yang baik akan mengecualikan beberapa konsumen yang menempatkan
nilai positif pada kebaikan. Kelemahan ada jika pemerintah menyediakan baik dan
memungkinkan setiap orang untuk mengkonsumsi yang baik tanpa biaya. Karena
produsen tidak menerima sinyal yang jelas tentang nilai output, barang berharga
yang dapat underproduced dan beberapa barang mungkin berlebihan diproduksi.
Semua orang dapat memberitahu tentang konsumsi barang yang tersedia secara
gratis adalah bahwa mereka lebih berharga dari nol kepada konsumen. Barang
konsumsi kolektif diidentifikasi oleh karakteristik ekonomi yang biaya marjinal dari
seorang konsumen tambahan adalah nol bukan karena karakteristik teknologi yang
baik. Banyak barang konsumsi kolektif dapat kehilangan konsumsi kolektif mereka
karakteristik dengan menjadi sesak. Dengan demikian, jalan raya uncongested
mungkin muncul menjadi Konsumsi kolektif yang baik karena dibangun dengan
jumlah yang berlebihan dari jalur. vii. Nonexcludability and collective consumption
on public goods Konsep barang publik mewujudkan dua jenis masalah ekonomi
untuk berbagai derajat, yaitu nonexcludability dan konsumsi kolektif. Beberapa
barang, seperti film, merupakan barang kolektif dan termasuk konsumsi barang
yang dikecualikan. Setelah film diproduksi, tanpa biaya (atau hampir jadi) untuk
memungkinkan tambahan konsumen untuk melihatnya, tetapi juga relatif mudah
untuk mengecualikan individu yang tidak membayar untuk melihat. Barang-barang
lainnya, seperti air dalam saluran irigasi, merupakan barang konsumsi swasta
namun relatif dan tidak bisa dipisahkan. Jika sejumlah petani bersama-sama
menciptakan sistem irigasi, mereka harus menemukan cara untuk jatah air yang
langka di saluran irigasi antara pengguna, karena air yang digunakan oleh seorang
petani akan tersedia bagi orang lain. Tapi dengan saluran irigasi dialirkan ke setiap
ladang petani, akan sulit untuk melakukan pengecualian petani yang mengambil
pembagian lebih. Dan terdapat contoh barang lain, seperti pertahanan nasional,
memiliki kedua karakteristik dari nonexcludability dan konsumsi kolektif. Kedua
karakteristik adalah masalah derajat karena barang mungkin mahal tetapi tidak
mungkin untuk mengecualikan pengguna, dan barang mungkin tidak murni barang
konsumsi kolektif. Dengan demikian, dalam kerangka umum, barang publik dapat
dianggap sebagai barang yang memiliki salah satu dari kedua karakteristik dalam
berbagai derajat. V. PENYEDIAAN OPTIMAL i. Barang public murni Barang publik
murni adalah subjek penting dalam analisis barang publik, barang publik murni
merupakan abstraksi yang di adopsi untuk menyediakan kasus patokan terhadap
yang hasil lainnya dapat dinilai. Untuk memberikan derivasi cukup sederhana
dengan efisiensi akan diasumsikan bahwa ada tersedia publik tunggal yang baik
dan, pada awalnya, pembuangan yang tidak mungkin. Asumsi terakhir
mengimplikasikan bahwa semua rumah tangga harus mengkonsumsi kuantitas
yang sama baik publik untuk pasokan. Perpanjangan kepada masyarakat banyak
barang sepenuhnya langsung. Ekonomi rumah tangga terdiri dari H, diindeks h =
1, ..., H. setiap rumah tangga memiliki fungsi utilitas Uh = Uh xh,G di mana xh
adalah konsumsi rumah tangga h dari vektor barang pribadi dan G adalah
penyediaan barang publik. Fakta bahwa total pasokan, G, muncul dalam semua
fungsi utilitas rumah tangga menunjukkan bahwa barang publik murni. Hal ini
diasumsikan bahwa kombinasi dari xh, h = 1, ..., H, dan G yang ekonomi dapat
menghasilkan dibatasi oleh kemungkinan produksi. Implisit representasi dari
himpunan produksi ditulis F (X,G) 0, Dimana X= 6 Untuk mencirikan set
pertama terbaik, atau Pareto efisien, alokasi pemerintah memilih xh, h = 1, ..., H,
dan G untuk memaksimalkan tingkat utilitas dari pertama rumah tangga, dibatasi
oleh persyaratan bahwa rumah tangga 2 sampai H memperoleh diberikan tingkat
utilitas dan dengan kemungkinan produksi. Memvariasikan utilitas yang diberikan
tingkat rumah tangga 2 sampai H jejak keluar set alokasi Pareto efisien. The
Lagrangian untuk masalah maksimisasi dapat ditulis L = U1 x1,G h+Uh xh,G
U hi F (X,G) , ( 9.4 ) dimana adalah tingkat utilitas yang harus dicapai oleh h,
= 2 ..., H. Dengan asumsi bahwa tingkat utilitas yang ditetapkan dapat dicapai
secara bersamaan, yang diperlukan Kondisi menggambarkan pilihan dari komponen
dari - - h - -= - -== 0, h= 1, ...,H, ( 9.5 ) dengan h 1 untuk h = 1. Pada
op mum (9,5) berlaku untuk semua i, = 1 ..., n. untuk pilihan tingkat kebaikan
publik, membentuk Lagrangian dan mengoptimalkan dengan menghormati G
memberikan - - h - - - -= 0 ( 9.6 ) ii. Kepemilikan bebas Jika Kepemilikan
bebas dari kepentingan publik mungkin tidak lagi diperlukan bahwa setiap rumah
tangga perlu mengkonsumsi jumlah total yang disediakan. Jika diasumsikan bahwa
semua rumah tangga ingin mengkonsumsi beberapa kepentingan publik, tingkat
utilitas rumah tangga h dapat ditulis = ( 6 , ) dimana adalah konsumsi publik yang
baik oleh h, dan kendala G, L= U ( x . g ) + h [ ( ) ] - F (X,G) + [ G- ]
( 9.11 ) iii. Dengan kemacetan Untuk kemacetan dalam penyediaan barang publik
adalah fenomena yang sangat nyata. Tentu, kemacetan mengurangi manfaat yang
diterima oleh rumah tangga dari semua penggunaan publik baik dan karenanya
memodifikasi aturan untuk penyediaan efisien. Di hadapan kemacetan,
kesejahteraan rumah tangga biasanya ditulis tergantung pada pasokan total
kepentingan publik dan penggunaan dari publik yang baik oleh semua rumah
tangga. Salah satu pendekatan untuk ini (Oakland (1972)) menulis = (6 , ,......., ,
G ) ( 9.13 ) = ( 6 , G,H) ( 9.14 ) Sebuah spesialisasi (9.14), Spesifikasi alternatif
yang menggunakan pendekatan produksi rumah tangga telah diusulkan oleh
Sandmo (1973) dan Muzondo (1978), yang menganggap proses produksi
menggunakan barang swasta dan publik, dan Ebrill dan Slutsky (1982) yang fokus
pada kombinasi barang publik dengan waktu yang langka . Jika (9.13) yang
digunakan dan Lagrangian yang terbentuk seperti pada (9.11), kondisi yang
diperlukan untuk memaksimalkan hasil tersebut dapat dikombinasikan iv. Input
publik Karakterisasi kondisi efisiensi untuk ekonomi dengan publik input murni
dimulai dengan Kaizuka (1965). Literatur berikutnya, yang juga telah dianalisis
masukan publik congestible, dibahas dalam Feehan (1989). Untuk memperoleh
kondisi efisiensi untuk penyediaan input publik murni, menganggap perekonomian
dengan perusahaan m masing-masing tenaga kerja dan menggunakan kebaikan
publik untuk menghasilkan bentuk tunggal output. Yang menunjukkan penggunaan
tenaga kerja perusahaan j oleh `j, fungsi produksi perusahaan diberikan oleh = ( ,G)
xh = yj = j( , G ) Dan `h = `j + (G) VI. PENYEDIAAN SWASTA
TERHADAP BARANG PUBLIK i. Keseimbangan Keseimbangan penyediaan swasta
diperkenalkan oleh Erick Lindahl sehingga disebut dengan keseimbangan lindahl.
Dibandingkan menggunakan harga dari barang publik pada sumbu vertikal, kita
mengasumsikan bahwa bagian biaya barang publik yang harus dibayar oleh Smith
harus bervariasi dari 0 persen s/d 100 persen. Slop negatif SS menunjukkan bahwa
pada harga pajak barang publik yang lebih tinggi,Smith akan meminta barang
publiktersebut dalam jumlah yang lebih sedikit. Permintaan Jones akan barang
publik diturunkan dengan cara yang hampir sama. Sekarang, kita mencatat proporsi
yang dibayar oleh Jonespada sumbu vertikal disebelah kanan pada grafik 2 dan
membalik skala sehingga pergerakan ke arah atas sumbu akan menghasilkan harga
pajak lebih rendah. Dengan konvensi ini, permintaan Jones untuk barang publik (JJ)
mempunyai slope positif. Kedua kurva permintaan pada Gambar 2 berpotongan di
titik C, dengan tingkat output 0E untuk barang publik. Pada tingkat output ini Smitt
mau membayar, katakan 60 persen dari biaya barang sedangkan Jones membayar
40 persen. Sehingga titik C adalah titik ekuilibrium yang disarankan oleh argumen
berikut ini. Untuk tingkat output kurang dari 0E, kombinasi kedua orang tersebut
masih bersedia membayar lebih daripada 100 persen dari biaya barang publik.
Mereka akan memilih untuk menaikkan tingkat produksi (tetapi lihat peringatan
atas kalimat ini pada sesi berikutnya). Untuk tingkat keseimbangan output lebih dari
0E, kedua orang tersebut tersebut tidak akan bersedia Lindahl membayar biaya
total dari barang publik yang diproduksi dan dapat memilih keseimbangan antara
permintaan masyarakat untuk mengurangi jumlah barang publik yang disediakan.
Hanya pada tingkat untuk barang-barang output 0E terjadi keseimbangan Lindahl
(Lindahl equilibrium) di mana publik dan bagian pajak secara tepat akan membayar
tingkat produksi barang publik yang dilakukan oleh pemerintah. Alokasi kewajiban
pajak ini tidak hanya menghasilkan keseimbangan dalam permintaan individu akan
barang publik, tetapi hal itu juga dimungkinkan untuk menunjukkan bahwa
keseimbangan ini efisien. Pembagian pajak yang dikenalkan oleh solusi Lindahl bagi
masalah barang publik memainkan peran harga bayangan yang meniru
berfungsinya sistem harga pada pasar persaingan sempurna untuk mencapai
efisiensi. ii. Peningkatan Pareto Pareto improvement terjadi melalui efisiensi pareto.
Dapat terjadi keseimbangan apabila adanya peningkatan kontribusi sehingga
meningkatkan kesejahteraan semua rumah tangga. Situasi di mana tidak ada cara
untuk meningkatkan kegunaan seorang tanpa mengurangi kegunaan orang lain
mencerminkan efisiensi. Kondisi tersebut dianggap efisien karena pada situasi
selainnya, dimana masih terdapat peluang untuk meningkatkan kegunaan
seseorang tanpa mengurangi kegunaan orang lain, itulah yang disebut dengan
Pareto improvement. Perekonomian belum mampu mendistribusikan outputnya
secara optimal sehingga seluruh konsumen mendapatkan kegunaan maksimal yang
mungkin diperolehnya. iii. Kuantitas dari penyediaan Keseimbangan alokasi
penyediaan swasta yang didominasi dengan tingkat yang lebih tinggi dari barang
publik, sering ditafsirkan sebagai penyediaan swasta yang mengarah relative di
bawah tingkat sosial optimal. Namun, kesejahteraan sosial yang optimal dari
sebuah fungsi dapat berada di mana saja di pusat keberadaan alokasi pareto yang
efisien dan tidak selalu berada pada bagian dari lokus yang mendominasi
keseimbangan pareto. Buchanan dan Kafoglis (1963) menunjukkan bahwa adalah
kemungkinan di mana jumlah yang barang public menurun bergerak menuju tingkat
optimal dari keseimbangan penyediaan swasta. Keseimbangan penyediaan swasta
terjadi pada titik dan himpunan alokasi pareto efisiensi diberikan oleh lokus
tangencies dari kurva indiferensi. Garis cc mewakili tingkat agregat pasokan barang
public sama dengan keseimbangan penyediaan swasta. Untuk optimalisasi barang
publik hanya memerlukan lokus pareto optimal untuk memotong garis cc dan untuk
memaksimalkan kesejahteraan sosial di beberapa titik di bawah CC. Jika titik
optimal adalah P pengurangan dari pasokan total barang public yang diperlukan
bergerak pada keseimbangan penyediaan swasta yang optimal. Juga harus dicatat
bahwa jika lokus melewati garis CC, fungsi kesejahteraan sosial selalu dapat
ditemukan pada kondisi optimal di bawah CC. Seperti yang ditunjukkan oleh
Diamond dan Alexander Mirrlees (1973), anomali tersebut dapat dikesampingkan
dengan menempatkan pembatasan pada kedua derivatif dari fungsi utilitas rumah
tangga. Tidak ada alasan mendasar mengapa pembatasan berdasarkan kedua
derivatif harus berada pada tingkat kepuasan dan karenanya anomali kasus dapat
juga terjadi bahkan dalam model dua rumah tangga. Oleh karena itu, walaupun
hasil lokal dapat didirikan tanpa terlalu banyak kesulitan, hal ini tidak mudah untuk
memberikan perbandingan global. iv. Jumlah rumah tangga Telah dibuktikan bahwa
keseimbangan penyediaan swasta bukan merupakan efisiensi pareto. Masalah
lainnya adalah bagaimana penyimpangan dari efisiensi tergantung pada jumlah
rumah tangga yang dapat berpotensi memberikan kontribusi. Dapat diharapkan
bahwa peningkatan jumlah rumah tangga akan mengakibatkan perbedaan yang
lebih besar seperti yang diharapkan semua orang lain untuk berkontribusi. Namun,
seperti kasus yang sering terjadi, hasil aktual berbeda sedikit dari harapan ini.
Selain itu, sifat-sifat yang membatasi keseimbangan, sebagai jumlah rumah tangga
yang meningkat tanpa batas, akan dianalisa mengikuti pendekatan Andreoni. Untuk
mempertimbangkan konsekuensi dari variasi rumah tangga, diasumsikan bahwa
semua rumah tangga identik dalam hal kedua preferensi dan hibah. Dengan asumsi
kedua barang yang normal, keunikan hasilnya kemudian membenarkan studi
keseimbangan simetris. H rumah tangga mengikuti keseimbangan yang simetris: g
= G H-1 dimana g adalah kontribusi rumah tangga bersama. Dalam hal (g,G)
sebagai alokasi yang memuaskan seharusnya terletak di gradien H-1 dan untuk
setiap tingkat h, keseimbangan diberikan pada persimpangan sesuai dengan fungsi
reaksi. Optimalisasi kesejahteraan, jika semua rumah tangga diperlakukan sama,
adalah lokus tangen antara ray dan kurva indiferen. Pada H rumah tangga yang
identik dengan preferensi dan distribusi endowment, sehingga H meningkat tak
terhingga: (i) Proporsi penduduk yang memberikan kontribusi menurun hingga nol.
(ii) Hanya rumah tangga dengan endowmen yang memberikan kontribusi tertinggi.
(iii) Kontribusi total nilai meningkat menjadi terbatas. (iv) Rata-rata kontribusi
menurun hingga nol. v. Hasil invariansi Perubahan dalam distribusi endowmen yang
memenuhi kondisi tertentu tidak akan mempengaruhi tingkat total dari penyediaan.
Peningkatan pasokan barang publik, contohnya melalui pemerintah menyediakan
beberapa barang publik yang selain itu untuk sektor swasta, tidak akan
mempengaruhi batas total pasokan. Penyediaan barang publik untuk itu keluar
banyak oleh penyediaan swasta pada sebuah dasar satu per satu. Hasil ini
menunjukkan kondis saat ini. Dalam kebanyakan situasi ekonomi perubahan dalam
distribusi endowment, atau pendapatan, akan mempengaruhi keseimbangan kecuali
ketika rumah tangga yang memiliki transformasi kurva Engel yang identik. Untuk
keseimbangan penyediaan swasta, Warr (1982) membuktikan hasil aktual lebih
banyak dari yang disediakan kontribusi semua rumah tangga, tingkat total barang
publik adalah independen dari distribusi endowment. Hasil ini diperpanjang oleh
Bergstrom, Blume dan Varian (1986) untuk memungkinkan untuk bebas
berkontribusi. Penyediaan total barang publik tidak mempengaruhi semua
redistribusi pendapatan. Sebagai konsekuensi mencatat bahwa perubahan total
pasokan cenderung menuju nol sehingga H cenderung tanpa batas. Untuk populasi
besar, peningkatan penawaran umum baik persis bertemu dengan pengurangan
penyediaan swasta. Ditunjukkan dengan cara berlainan, ketentuan pemerintah akan
mendesak jumlah persis sama barang publik. VII. KATA KUNCI Barang swasta:
barang yang bersifat rivalry dan eksklusif Barang Rivalry : suatu barang tidak
dapat dinikmati secara bersama tanpa saling meniadakan manfaat, sehingga
dibutuhkan pengorbanan dan persaingan untuk mendapatkannya Barang Eksklusif
: barang yang dimana untuk menikmati barang tersebut diperlukan syarat, misalnya
harus membayar. Barang public : barang yang bersifat non rivalry dan non
eksklusif Barang Non rivalry : barang yang dapat dikonsumsi bersamaan pada
waktu yang sama tanpa saling meniadakan manfaat Barang Non eksklusif : barang
dimana semua orang berhak menikmati manfaat dari barang tersebut Pure public
good : konsep ekonomi suatu barang atau jasa yang memberikan manfaat yang
tidak dapat dipisahkan dan non rival untuk semua. Free disposal : Kepemilikan
bebas dari kepentingan publik With congestion : kemacetan penyediaan barang
public Efisiensi Pareto : situasi ketika suatu perangkat barang dan jasa tertentu
dibagi diantara konsumen dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak seorangpun
dapat dibuat lebih baik tanpa menyebabkan ada yang menjadi lebih buruk. Harga
bayangan : harga yang menggambarkan nilai sosial atau nilai ekonomis yang
sesungguhnya (the true social of economic value) daripada unsur-unsur biaya
maupun hasil/manfaat Distribusi endowment : pendistribusian/pemabagian
sumbangan kontribusi dan barang public Barang konsumsi kolektif : barang yang
dikonsumsi secara bersama tanpa mengurangi manfaat Kebijakan Pemerintah :
Kebijakan untuk mengatasi permasalahan dalam barang konsumsi kolektif SOAL-
SOAL TANYA JAWAB BARANG PUBLIK 1. Adanya persaingan untuk medapatkan
barang tersebut adalah sifat barang..... a. Ekslusif b. Rivalry c. Common Goods d.
Local Goods 2. Barang Non-Rivalry adalah.... a. Barang dimana manfaatnya dapat
diberikan bagi pengguna tambahan dengan biaya marjinal nol b. Barang yang untuk
menikmati barang tersebut diperlukan syarat c. Barang yang tidak dapat dinikmati
secara bersama tanpa saling meniadakan manfaat d. Barang dimana semua orang
berhak menikmati manfaat dari barang tersebut 3. Tidak dimungkinkannya
menjatah barang-barang publik bagi setiap individu adalah konsep elemen barang
publik menurut.... a. Stiglitz b. King c. Samuelson d. Bowen 4. Barang publik harus
disediakan sampai marjinal utility barang publik sama dengan marjinal disutility
pajak yang dipungut adalah teori yang dikemukakan..... a. Samuelson b. Pigou c.
Bowen d. Lindahl 5. Teori erick Lindahl didasarkan pada analisis.... a. Anggaran
publik (public budgetting) b. Pajak (tax) c. Anggaran tetap terbatas (fix budget
constrains) d. Belanja Pemerintah 6. Pareto Improvement dapat terjadi
keseimbangan apabila..... a. Adanya peningkatan kontribusi sehingga meningkatkan
kesejahteraan semua rumah tangga b. Adanya penurunan kontribusi sehingga
meningkatkan kesejahteraan semua rumah tangga c. Adanya peningkatan jumlah
pajak yang dikeluarkan rumah tangga d. Adanya penurunan jumlah pajak yang
dipungut pemerintah 7. Untuk mencari keseimbangan kontribusi rumah tangga
dalam penyediaan swasta terhadap terhadap barang publik yaitu...... a. Y1=f1 (l1
,G) b. g=G H-1 c. P=PA=PB d. P=PA+PB 8. Harga Lindahl untuk barang publik
adalah..... a. Harga masing-masing individu membayar harga marjinal sama dengan
manfaat marjinal individu menerima dari mengkonsumsi suatu barang b. Harga
yang harus dibayar pemerintah untuk membiayai barang publik yang tidak mampu
dihasilkan swasta c. Harga masing-masing individu untuk membayar barang publik
dalam artian membayar pajak d. Harga yang dibayar oleh pihak swasta untuk
mendanai barang publik yang tidak mampu dihasilkan oleh pemerintah 9.
Keuntungan utama dari harga Lindahl adalah..... a. Setiap individu memilih tingkat
output barang yang sama, dan bahwa tingkat output adalah tingkat efisien b. Rasa
kepuasan marjinal masyarakat untuk membayar pajak meningkat c. Setiap individu
mengalami marjinal utility terhadapa barang publik yang tinggi d. a,b dan c salah
10. Kondisi untuk tingkat optimal output konsumsi kolektif yang baik adalah...... a.
GP=T b. MR=MC c. GD=MC d. P=PA=PB Jawaban Multiple Choice 1. B 2. A 3. A 4. B
5. C 6. A 7. B 8. A 9. A 10. C ESSAY 1. Apa yang kamu ketahui tentang definisi
barang publik, dan jelaskan mengenai karakteristik barang publik dan berikan
contohnya?! 2. Jelaskan teori barang publik yang dikemukakan Samuelson! 3.
Jelaskan dua sifat barang publik menurut King! 4. Jelaskan pengertian barang publik
murni! 5. Apa yang dimaksud dengan peningkatan pareto? TRUE/FALSE 1. Jalan raya
adalah termasuk kedalam kelompok barang non-excludable. 2. Teori Bowen
menyatakan bahwa penyediaan barang publik berdasarkan pada teori harga. 3.
Analisis Kurva Indiferens dengan anggaran tetap yang terbatas adalah dasar dari
dikemukakannya teori barang publik menurut Erick Lindahl. 4. Pareto Optimal
adalah suatu kondisi perekonomian dimana perubahan yang terjadi menyebabkan
paling tidak salah satu orang akan menderita kerugian yang berarti pareto optimal
adalah tingkat optimal tidak ada yang dirugikan. 5. Kelemahan dari teori Anggaran
dalam teori barang publik adalah anggapan bahwa konsumen secara terus terang
mengemukakan kesukaan mereka terhadap barang publik Jawaban True/False 1.
False 2. True 3. True 4. True 5. False
DAFTAR PUSTAKA

Arief, Sritua., kebijakan IMF dakam Krissi Ekonomi ,Media Indonesia, 15 Februari 2007.Badan
Analisa Fiskal, Indikator Makro Ekonomi, Beberapa Terbitan.
Heriyanto, Tedi., Kebijakan Moneter, UGM, Yogyakarta, 1999.