You are on page 1of 14

BAB I

PENDAHULUAN

Demam tifoid merupakan suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh

Salmonella typhi yang masih di jumpai secara luas di berbagai negara

berkembang yang terutama terletak didaerah tropis dan subtropis. Di Indonesia

demam tifoid lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah penyakit tifus.

Penyakit ini juga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang

penting karena tifoid biasanya berkaitan erat dengan sanitasi yang buruk,

kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, dan sosial ekonomi rendah.1,2,3

Demam tifoid terjadi di seluruh dunia, terutama di negara-negara

berkembang dengan kondisi sanitasi yang buruk. Demam tifoid endemik di Asia,

Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan Oceania, tetapi 80% kasus berasal dari

Bangladesh, China, India, Indonesia, Laos, Nepal, Pakistan, atau Vietnam.

Demam tifoid menginfeksi sekitar 21,6 juta orang dan membunuh sekitar 200.000

orang setiap tahunnya. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia mengungkapkan

bahwa angka kejadian demam tifoid sekitar 21 juta kasus dan 600.000 yang

meninggal setiap tahunnya. Di Indonesia, insiden demam tifoid diperkirakan

sekitar 300-810 kasus per 100.000 penduduk pertahun. Hal ini berhubungan

dengan tingkat higienis individu, sanitasi lingkungan dan penyebaran kuman dari

karier atau penderita tifoid.4,5,6

1

2 dan pada tahun 1994 terjadi peningkatan frekuensi menjadi 15. Di daerah rural (Jawa Barat) 157 kasus per 100. Dari survei berbagai Rumah Sakit di Indonesia dari tahun 1981 sampai dengan 1986 memperlihatkan peningkatan jumlah penderitaa sekitar 35.8 Insiden demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya berkaitan dengan sanitasi lingkungan.000 penduduk.2 Epidemiologi Surveilans Departemen Kesehatan RI.596 menjadi 26.000 penduduk.000 2 .3. Penyakit ini terutama berkaitan dengan status sosial ekonomi rendah dan kebersihan yang buruk.606 kasus. sedangkan didaerah urban ditemukan 760-810 kasus 100.1 1.4 per 10. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.8% dari 19. frekuensi kejadian demam tifoid di Indonesia pada tahun 1990 sebesar 9. khususunya sore hingga malam hari yang disebabkan oleh salmonella typhi dan salmonella paratyphi.1 Definisi Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman salmonella typhi dan salmonella paratyphi yang masuk kedalam tubuh manusia.7 Demam tifoid (enteric fever ) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari.

Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung. Perbedaan insiden di perkotaan berhubungan erat dengan penyediaan air bersih yang belum memadai serta sanitasi lingkungan dengan pembuangan sampah yang kurang memenuhi syarat kesehatan lingkungan. Di lamina propia kuman berkembang biak dan di fagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. tidak membentuk spora. antigen flagel (H). Bila respon imunitas humoral (IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel (terutama sel M) dan selanjutnya ke lamina propia. bergerak dengan flagel peritrik.8 1. sebagian lolos masuk kedalam usus dan selanjutnya berkembang biak. bersifat intraseluler fakultatif. Salmonella typhi merupakan kuman patogen penyebab demam tifoid. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke piak Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah 3 . adanya bakterimia disertai inflamasi yang dapat merusak usus dan organ-organ hati.1.penduduk.3 Etiologi Adapun penyebab dari demam tifoid adalah kuman Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi. dengan 2 fase dan antigen kapsul.6 1. yaitu suatu penyakit sistemik dengan gambaran demam yang berlangsung lama. Salmonella merupakan kuman gram negatif. memiliki antigen somatik (O).4 Patogenesis Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi masuk kedalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi dengan kuman.

obstipasi atau diare. nyeri kepala. pusing.6 Diagnosa Diagnosa demam tifoid ditegakkan berdasarkan anamnesa.8 1. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk kedalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakterimia kedua.8 Di dalam hati. tepi dan ujung merah serta tremor).8 1. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. mual. Selanjutnya melalui ductus toracikus kuman yang terdapat didalam makrofag ini masuk kedalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. dan lidah yang berselaput (kotor di tengah. muntah. 4 . dan epistaksis. anoreksia. nyeri otot. batuk.5 Manifestasi Klinis Gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai berat.bening mesentrika.6. Ditandai dengan demam. Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah menembus usus. dari asimtomatic hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian. perasaan tidak enak di perut. berkembang biak dan bersama cairan empedu di ekskresikan secara intermitten kedalam lumen usus. kuman masuk kedalam kandung empedu.

mual.Typhi O9 pada serum pasien.8 b. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan terinfeksi kuman tersebut. muntah. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosa demam tifoid. kesadaran berkabut. yang terdiri dari : a. nyeri otot.6. Uji ini mendeteksi antibodi anti S. Uji Widal dilakukan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita demam tifoid yaitu: Aglutinin O (dari tubuh kuman). nyeri abdomen. dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukositosis.typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin. dengan cara menghambat ikatan antara igM anti 5 . Aglutinin H (flagela kuman). Uji Widal Uji widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap Salmonella typhi. lidah kotor. Darah Rutin Pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering ditemukan leukopenia. Pada Uji Widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. Demam terutama sore atau malam hari. Laju endap darah pada demam tifoid dapat meningkat. sakit kepala. Uji TUBEX Uji Tubex merupakan uji semi kuantitatif kolometrik yang cepat dan mudah untuk dikerjakan. obstipasi atau diare. Anamnesa : demam naik secara bertangga pada minggu pertama lalu demam menetap atau remitten pada minggu kedua.7 Dapat juga dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan tujuan untuk menegakkan diagnosa demam tifoid secara pasti. hepatomegali. Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. splenomegali. bradikardi relatif. dan Aglutinin Vi(simpai kuman). anoreksia. Dapat ditemukan juga anemia ringan dan trombositopenia.  Pemeriksaan Fisik : febris.8 c.

indikasi kuat infeksi tifoid. Uji ini terbukti mudah dilakukan. Uji IgM Dipstick Uji serologis dengan pemeriksaan dipstik dikembangkan di Belanda dimana dapat mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen LPS S.typhi yang terkojugasi pada partikel magnetik latex. Pemeriksaan ini menggunakan komponen yang sudah distabilkan.  >6 : positif. infeksi oleh S.9 Interprestasi hasil Uji Tubex:  <2 : negatif  3 : ragu-ragu.typhi. typhi dengan menggunakan membran nitroselulosa yang mengandung antigen S. menunjukkan infeksi demam tifoid.paratyphi akan memberikan hasil negatif. typhi sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM anti-human immobilized sebagai reagen kontrol.  4-5 : positif. hasilnya cepat dan dapat diandalkan dan mungkin lebih besar manfaatnya pada penderita yang menunjukkan gambaran klinis tifoid dengan hasil kultur negatif atau di tempat dimana penggunaan antibiotika tinggi dan tidak tersedia perangkat pemeriksaan kultur secara luas. Hasil positif uji tubex ini menunjukkan terdapat infeksi salmonella serogroup D walau tidak secara spesifik menunjuk pada S.9 d.sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang. tidak memerlukan alat yang spesifik dan dapat digunakan di tempat yang tidak mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap.8. 6 . O9 yang terkonjugasi pada partikel latex yang berwarna dengan lipopolisakarida S.8.

8 Penatalaksnaan Penatalaksanaan demam tifoid terdiri dari : a. 7 .K (Infeksi Saluran kencing).7 Diagnosa Banding  Dengue Fever  Influenza  Malaria  Bronchitis  Broncho Pneumonia  Tuberculosa – Lymphoma  Gastroenteritis (infeksi Saluran Cerna: muntah atau diare)  Appendicitis  Sepsis  I.S.1. Istirahat dan perawatan: tirah baring dan perawatan profesional bertujuan untuk mencegah komplikasi.9 1.

kemudian ditingkatkan menjadi bubur kasar dan akhirnya diberikan nasi. b. c. terdiri : Norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari Siprofloksasin 2 x 500mg/hari selama 6 hari Ofloksasin 2 x 400 mg/hari selama hari Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari.9 1.9 Komplikasi Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada demam tifoid : a. dimana perubahan diet tersebut disesuaikan dengan tingkat kesembuhan pasien.7. Komplikasi Intestinal :  perdarahan intestinal: pada plak Peyeri usus yang terinfeksi dapat terbentuk tukak/luka berbentuk lonjong dan memanjang terhadap sumbu usus.pemberian bubur saring bertujuan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus.8. Bila luka menembus lumen usus dan mengenai 8 . Alterntif lain  Tiamfenikol 4 x 500 mg (kompliksi hematologi lebih rendah dari pada kloramfenikol)  Kotrimoksaol 2 x 480 mg selama 2 minggu  Ampisilin dan amoxisisilin 50-150 mg/kgBB selama 2 minggu  Sefalosporin generasi III yang terbukti efektif adalah ceftriaxone 3- 1/2 4 gram dalam dextrose 100 cc selama jam perinfus sekali sehari selama 3-5 hari  Golongan Fluorokuinolon . Diet dan terapi penunjang: pasien dapat diberikan diet bubur saring. Pemberian antimikroba :  Pilihan utama : kloramfenikol 4 x 500 mg sampai dengan 7 hari bebas demam.

 Miokarditis: kelainan ini disebabkan kerusakan miokardium oleh kuman S.10 Prognosis Prognosis demam tifoid tergantung dari umur. cacing. jumlah dan virulensi salmonella. bakteri.  Pankreatitis Tifosa: dapat disebabkan oleh mediator pro inflamasi.7%. keadaan umum.8 1.  Hepatitis Tifosa: pada demam tifoid kenaikan enzim transaminase tidak relevan dengan kenaikan serum bilirubin.6%. tekanan darah turun.10 9 . dan bahkan dapat syok. dan pada orang dewasa 7. Bila tukak menembus dinding usus maka akan terjadi perforasi.typhi dan miokarditis sering sebagai penyebab kematian. Hepatitis serosa dapat terjadi pada pasien dengan malnutrisi dan sistem imun yang kurang. virus.8 b. pembuluh darah maka terjadi perdarahan. serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka kematian pada anak-anak 2. rata-rata 5. derajat kekebalan tubuh.7. Komplikasi Ekstra-Intestinal :  komplikasi hematologi: trombositopenia dapat terjadi karena menurunnya produksi trombosit disumsum tulang selama proses infeksi atau meningkatnya destruksi trombosit di sistem retikuloendotelia.  Perforasi usus: tanda-tanda perforasi adalah nadi cepat. maupun zat farmakologik.4%.

D. ANAMNESA TAMBAHAN  Riwayat penyakit dahulu : HT (+). Bengkak disertai rasa sakit seperti ditusuk-tusuk.00 Tgl keluar : No. RM : 023832 B. DM (-)  Riwayat penyakit keluarga : DM (+). dan 1 macam sirup.  Riwayat penggunaan obat : 3 macam pil. IDENTITAS PASIEN Nama : Kasmidar Umur : 42 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Bebesen Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Status : Menikah Agama : Islam Suku : Gayo Tgl masuk : 23 Februari 2017 Jam masuk : 13.  Kebiasaan sosial : perokok (-). Hipertensi (-). BAB III LAPORAN KASUS A. Pasien post pemasangan cimino 8 bulan yang lalu dan pasien merupakan penderita CKD on HD. ANAMNESA KHUSUS Pasien datang dengan bengkak pada tangan sebelah kiri sejak dua hari yang lalu. ANAMNESA Bengkak pada tangan kiri C. E. STATUS PRESENT  Keadaan umum: pasien tampak sakit sedang 10 . konsumsi kopi (-).

58 (10^3/uL) menurun. Batas kanan ICS 5 linia parasternal dextra. PEMERIKSAAN LAB SEDERHANA Hasil pemeriksaan tanggal 23 Februari 2017  Darah Rutin : Wbc :1. pecah-pecah). Plt : 162 (10^3/uL) normal 11 . asites (+) Palpasi : NTE (-) Perkusi : redup (+) Auskultasi : peristaltik (normal)  Hepar : sulit dinilai  Lien : sulit dinilai  Ekstremitas : Superior : Look : bengkak (+). sekret (-/-)  Mata : pucat (+/+).V5. ikterik (-/-). RH (-/-). nyeri tekan (-) Move : keterbatasan gerak (-) G. epistaksis (-/-)  Mulut : bibir (kering.  Status gizi: BB: 52 kg TB: 158 cm  Kesadaran: E4.  Telinga: berdengung (-/-).  Abdomen : inspeksi : simetris. kelopak mata bengkak (+)  Hidung : hiperemis (-/-). kiri bawah ICS 5 linea axilaris anterior. WH (-/-)  Cor : batas kiri atas ICS 3 linea midclavicula sinistra. PEMERIKSAAN FISIK  Kepala : rambut rontok. fremitus sama kiri kanan Perkusi : sonor Auskultasi : vesikuler (+/+).  Tenggorokan : hiperemis (-)  Leher : terjadi peningkatan TVJ  Thoraks Depan : inspeksi : simetris kiri dan kanan Palpasi : nyeri tekan (-). muka (tampak pucat). distensi (-).M6  Tanda Vital: Tekanan Darah : 193/135 mmHg Pernafasan : 22 x/menit Nadi : 84 x/menit Suhu : 37 Celcius F. merah (-) Feel : keras (+).

pegal-pegal. umur 33 tahun. Farmakologis o IVFD RL 20 gtt/i o Inj. Dari pemeriksaan Vital sign didapat suhu 37. RESUME Seorang perempuan bernama rosnaini. dan tanpa muntah. BAB tidak ada sudah 3 hari. Non Farmakologis Tirah baring Diet MII B. sakit tulang dan sendi. meningkat sore dan malam hari. lidah kotor. Dari pemeriksaan fisik didapatkan bibir pecah-pecah. dan nyeri tekan di seluruh lapangan perut. Ceftriaxone 1gr/12 jam o Inj ranitidin 50 mg/12 jam o Tab paracetamol 3 x 500mg o Tab vastigo 2 x 1 tab 12 . datang dengan keluhan demam sejak 3 hari yang lalu.  Tubex TF : >6 positif kuat H. Pasien juga mengeluhkan sakit kepala seperti ditekan menjalar ke leher. Dari pemeriksaan darah rutin didapat : leukopenia dan tubex >6 :positif kuat I. PENATALAKSANAAN A. nyeri diseluruh lapangan perut. demam bersifat naik turun. Disertai menggigil. DIAGNOSA BANDING  Demam tifoid  Dengue hemoragic fever  Malaria  Chikungunya  Yellow fever  Influenza J. berkeringat dingin. mual. DIAGNOSA Demam tifoid K.7 o C.

2003:169. DAFTAR PUSTAKA 1. 2008. International Journal of Infectious Diseases. 2. Adisyari Puri. 13 . 2015: 96-102. 2016. Thypoid Fever. 5. Demam Tifoid. Feb 16. 2013. Thypoid Fever. Mike E. Maskalyk James. 3. Wasihun. Medscape. Diagnosis and Treatment of Thypoid Fever and Associated Prevailing Drug Resistance in Northern Ethiopia. 4.Tropical Medicine and International Health. Thypoid Fever in Children in Africa. Araya G et all. Vol 13: 532-540. Brusch John L et all. Mweu E. Canadian Medical Assocition or its licensors. Handini. Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

Jilid III. Treatment and Prevention of Thypoid Fever.1. Kapita Selekta Kedokteran. No. 7. Mansjoer. 9. 2003. Vol 6. 10. 2010. Cita Yatnita Parama. Demam Tifoid. 2011. 11. Jakarta : 2009.6. Jakarta. Demam Tifoid dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Interna Publishing. Jakarta:2008. 8. Widodo Djoko. Bakteri Salmonella Typhi dan Demam Tifoid. Demam Tifoid. WHO. Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia. A. 14 . Ed V. Background Document: The Diagnosis.