You are on page 1of 46

CASE REPORT

MIOMA UTERI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas SMF Ilmu Obgyn

Program Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran

Universitas YARSI

Disusun oleh :

IQBAL HAKKIKI

1102012132

Preseptor :

Dr. H. Rizki Safaat Nurahim, Sp.OG, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN OBSTETRI - GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
RUMAH SAKIT UMUM DR. SLAMET GARUT
2017

BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu masalah kesehatn yang sering dijumpai pada wanita adalah
munculnya mioma uteri. Biasanya penyakit ini ditemukan secara tidak sengaja
pada pemeriksaan rutin atau saat sedang melakukan medical check up tahunan
(Hediyani, 2012). World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa di dunia
setiap tahunnya ada 6,25 juta penderita tumor dalam 20 tahun terakhir ini ada 9 juta
manusia meninggal karena tumor. Perlu dicatat bahwa 2/3 kejadian ini terjadi di
negara yang sedang berkembang (Bustan, 2007). Penelitian di Amerika Serikat
yang dilakukan Schwortz, angka kejadian mioma uteri 2-12,8 orang per 1000
wanita setiap tahunnya. Schwortz, menunjukkan angka kejadian mioma uteri 2-3
lebih tinggi pada wanita kulit hitam dibandingkan kulit putih (Victory, 2006).
Mioma uteri merupakan tumor paling umum pada trakturs genetalis. Mioma terjadi
pada kira-kira 5% pada wanita selama masa reproduksi. Tumor ini tumbuh dengan
lambat dan mungkin baru dideteksi secara klinis pada kehidupan dekade ke 4. Ada
decade ke 4 ini insiden mencapai kira-kira 20%. Mioma lebih sering terjadi pada
wanita nulipara atau wanita yang hanya satu anak (Derek, 2002). Mioma uteri
dikenal juga dengan istilah leiomoma uteri, fibromioma uteri fibroid, ditemukan
sekurang-kurangnya pada 20-25% wanita diatas usia 30 tahun. Dimana prvalensi
mioma uteri meningkat lebih dari 70% dengan pemeriksaan patologi anatomi
uterus yang membuktikan banyak wanita yang menderita mioma uteri
asimpomatik. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20%-30% dari seluruh
wanita (Baziad, 2003). Di Indonesia, mioma uteri ditemukan 2,39% - 11,7% pada
semua penderita ginekologi yang dirawat (Prawirohardjo). Faktor-faktor yang
berpengaruh adalah ketidakseimbangan emosi misalnya sering stress, daya tahan
tubuh rendah, gaya hidup yang tidak seimbang, semua itu menyebabkan gangguan
pada hormon dan kemungkinan timbul mioma uteri.

KASUS

1.1. KETERANGAN UMUM

Nama : Ny.Yulianingsih Nama Suami : Tn Arim Pendi

Usia : 52 Tahun Usia : 52 Tahun

Alamat : Garut Kota Alamat : Garut Kota

Pendidikan : S1 Pendidikan : D3

Agama : Islam Agama : Islam

Status : Menikah Status : Menikah

Pekerjaan : Kader Pekerjaan : PNS

Masuk RS : 03-01-2017

Keluar RS : 08-01-2017
1.2. ANAMNESIS

Keluhan Utama: Perdarahan dari jalan lahir

Anamnesa Khusus: P3 A0 ibu tidak merasa hamil pasien merasakan adanya

perdarahan dari jalan lahir sejak 2 hari SMRS. Darah yang keluar berwarna merah

berupa plek-plek kecil. Perdarahan disertai dengan adanya rasa sakit perut bagian

depan dan terasa adanya benjolan. Perdarahan terjadi diluar siklus haid. 1 tahun

SMRS pasien juga mengeluh keluhan yang sama akan tetapi dengan jumlah

perdarahan yang lebih banyak hingga mengganti pempers 3x sehari disertai dengan

nyeri yang hebat dibagian perut bawah. Kemudian pasien diperiksa ke dokter

SpOG dan di USG, kemudian didiagnosis mioma uteri, dokter menyarankan untuk

dilakukan operasi tetapi pasien menolak karena benjolan yang dirasakannya kecil,

1th kemudian pasien kembali ke dokter yang sama dan di USG, terlihat benjolan

bertambah besar sebesar jeruk bali dan penurunan berat badan.

Riwayat pengobatan : Pasien pernah ke dokter SpOG sebelumnya.

Riwayat Obstetri:

Tempat Penolong Umur Cara BB Jenis Usia Keadaan:
kehamilan persalinan lahir kelamin hidup/mati
1 RS Bidan Aterm Spontan 2500gr L 27 thn Hidup
II Rumah Bidan Aterm Spontan 3900gr L 24 thn Hidup
III Rumah Bidan Aterm Spontan 4100gr L 13 thn Hidup

KETERANGAN TAMBAHAN

Menikah I : ♀, 24 tahun, S1, Kader

♂, 24 tahun, D3, PNS

Haid

HPHT: 22-12-2016. Siklus teratur, dengan frekuensi sekitar 10 hari, dan

jumlah darah yang keluar banyak tidak disertai nyeri haid. Partama kali menstruasi

pada usia 12 tahun

KB

Pasien pernah menggunakan KB IUD sejak tahun 2004 s/d 2010

Riwayat penyakit terduhulu : (-)

1.3. PEMERIKSAAN FISIK

Status Praesens:

Keadaan umum : compos mentis

TD : 140/90 mmHg R : 22 kali/menit

N : 92 kali/menit S : 36.Varises -/- Status Ginekologi Pemeriksaan Luar: Inspeksi : tampak adanya benjolan Palpasi Fundus uteri : 2 jari dibawah pusat Massa tumor : teraba Permukaan : Licin rata Ukuran : ± 12x10x10 cm permukaan halus Mobilitas : mobile . teraba benjolan. mobile.  Ekstrimitas :Edema -/. reguler.5oC Status Generalis:  Kepala konjungtiva : anemis (-/-) Sklera : ikterik (-/-)  Leher KGB : TAK Tiroid : TAK  Thorak Paru-paru : VBS kiri = kanan . murmur (-) gallop (-)  Abdomen : Datar lembut. ronki (-). wheezing (-) Jantung : S1 S2 murni reguler.

000 Eritrosit : 4.350 Trombosit : 577. tidak teraba masa dan tidak ada nyeri tekan 1.5 g/dl HT : 33 % Lekosit : 8. Laboratorium (04-01-2017) Hematologi : HB : 9.Posisi : sentral Konsistensi : Mixed Perkusi/auskultasi : TAK Inspekulo : fluxus (+) flour ( .4. Pemeriksaan Penunjang 1.) Pemeriksaan dalam Vulva : tidak ada kelainan Vagina : tidak ada kelainan Portio : tebal lunak OUE : Tertutup Corpus Uteri : tidak ada kelainan Parametrium: TAK Cavum Douglas : tidak menonjol.52 1.1 Kimia klinik AST (SGOT) : 18 U/L ALT (SGPT) : 13 U/L Ureum : 23 mg/dL .

000 Eritrosit : 4. Rencana Operasi . Observasi KU. Rencana Pengelolaan .88 1. Diagnosa Awal Myoma Uteri 1. Infus RL 500cc 20 gtt/ menit .670 Trombosit : 394. TTV .0 mg/dL Glukosa darah puasa : 90 mg/dL 2.2 g/dl HT : 36 % Lekosit : 10. Kreatinin : 1. Laboratorium (05-01-2017) Hematologi : HB : 10. Konsultasi Anastesi .5. Cross Match : sedia darah .6. Cek hematologi rutin . Puasakan . Informed Consent . Pemeriksaan PA .

tampak uterus membesar sesuai gravida 14- 16 minggu permukaan rata .Dilakukan tindakan a dan antiseptic di daerah abdomen dan sekitarnya.Dilakukan insisi mediana inferior sepanjang ± 10 cm.OG Ahli Anestesi : Asisten Anestesi : Jenis Anestesi : NU dr.An resta & Ramdan Obat Anestesi : O2. insisi pada kulit dan dinding abdomen diperluas kearah umbilicus . .30 Ruang : kalimaya Umur : 52 tahun Lama Operasi : 60 menit Akut / Terencana : terencana Tanggal : 5 januari 2016 Operator : Asisten I : Teh Elis Perawat Instrumen: Teh Mite Dr.30 No.LAPORAN OPERASI Nama : Ny.Kesan mioma uteri.N2O. Jam Operasi Mulai : 10. fera Sp. Asisten II : Sirkulasi: Dhanny. Bowo/ dr.Setelah peritoneum dibuka. CM :7600xx Yuningsih Jam Operasi Selesai :11.isoflurane Diagnosa Pra-Bedah : Indikasi Operasi : Mioma uteri Mioma uteri Diagnosa Pasca bedah : Jenis Operasi : Post histerektomi total a.Eksplorasi kedua tuba dan ovarium baik . . Sp.i mioma Histerektomi totalis uteri Kategori Operasi : Besar Disinfeksi dengan : Povidone Jaringan yang di eksisi : dikirim PA Iodine Laporan Operas Lengkap : .

dijait double ligase . Diputuskan dilakukan histerektomi totalis . otot dijahit . digunting dan dijahit double ligase demikian juga yang kanan . Nadi. ligamentum ovarioproprium dan mesosalping kiri di klem. Dilakukan juga pada ligamentum rotundum kanan . Ligamentum rotundum kiri diklem. diperluas kekiri dan kanan dan dibebaskan dari jaringan dibawahnya secara tumpul .Kavum abdomen dibersihkan dari sisa bekuan darah .Demikian juga pada ligamentum latum kanan .0 . perdarahan Puasa : + Infus : Antibiotik : ceftriaxone 2x1 gr IV.Operasi selesai .Peritoneum dijahit secara jelujur. diklem. Respi.Dilakukan reperitonealisasi . transfusi bila Hb <8 g/dL DIAGNOSIS AKHIR Post histerektomi totalis a.Identifikasi arteri uterine kiri. Tuba.Fascia dijahit .Ligament cardinal kiri dan ligament sakrouterina diklem digunting dan dijahit double ligase .i mioma uteri .Vesika urinaria disisihkan kebawah dan dilindungi dengan haak abdomen .300 cc .Identifikasi puncak vagina. metronidazole 3x500 mg Lain-lain : kaltrofen 2x1 supp Lain-lain : Cek Hb post-op. digunting dan di jahit double ligase . plika digunting kecil.100 cc INTRUKSI PASCA BEDAH : Observasi : KU.Diuresis selama operasi +. diklem dengan dimasukan povidone iodine ke vagina selanjutnya puncak vagina dijahit 2 lapis secara simpul angka 8 dan jelujur dengan kromik 2. suhu.Perdarahan selama operasi +.Kulit dijahot secara subkutikuler . .Perdarahan di rawat .Identifikasi plika vesikouterina. Dibuat jendela pada ligament rotundum kanan .Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis . tensi.

Pro USG A/ Mioma uteri BAB/BAK: -/+ . Transfusi sampai S: 36.Follow Up Tanggal Catatan Instruksi 04-01-17 S/ .i Mioma Uteri .6 O/ Abd: datar. Metronodazole g/dl KU: CM NT + 3x500mg POD 1 TD: 140/90 mmHg TFU : Tidak Teraba . DM – . Cek hematologi TD: 100/80 mmHg Abd: cembung . Pro HT (Adenomiosis) 05-01-17 S/ .5 O/ +/+ . lembut.50C Tertutup verban BAB/BAK: -/+ A/ Post HT a. Si -/. Inf RL 500 cc 20 TD: 120/80 mmHg TFU : 2 jari di gtt N: 80x/menit regular bawah pusat . NT-. Mata : Ca -/-. lembut. Kaltrofen N: 84x/menit Lokhia : . -/. Hb : 10.Observasi KU. Hb : 9. Rencana HT R: 24x/ menit Lokhia : - S: 36. Conjungtiva: anemis . DM – gtt R: 22x/ menit TFU : 2 jari dibawah . Aff DC S: 36.50C pusat Hb >10g/dL Lokhia : + . Inf RL 500cc 20 N: 91x/menit regular lembut. . Pendarahan g/dL KU: CM -/. . Cefotaxime 2x1 gr Hb : 11.70C BAB/BAK: -/+ A/ Mioma uteri (Adenomiosis) 06-01-17 S/ Lemas Mata : Ca -/-.2 O/ Abd: datar. Sclera : Ikterik TTV. TTV g/dl KU: CM NT-. . . 2x100mg supp R: 20x/ menit Luka Operasi : . Observasi KU.

Lokhia : .Asam mefenamat S: 36. DM – 3x500mg 3x500mg Nadi: 88x/menit 4) Ganti verban TD: 130/90 mmHg TFU : tidak teraba . Definisi .1 Bagaimanakah Penegakkan Diagnosis Pada Kasus? A.08-01-17 S/ . 3x500gr TFU: tidak R: 20x/ teraba menit LO : tertutup verban .Cefadroxil 2x100 As.Metronidazole 3) Metronidazol RR: KU: 18x/menit CM NT-.siregular -/.i(+) / (+) Mioma Uteri A/ post histerektomi totalis a.6 °C N: 80x/menit Mata: ca -/.mefenamat POD II O/ 110/70 mmhg TD: Abd: datar.3x500mg . PT / POD III O/ KU: baik 1) Cefadroxil 2X500mg 07-01-17 S/ KS : CM Mata : Ca -/-.i mioma uteri BAB II ANALISIS KASUS 2. terawat Perdarahan: - BAB/BAK: A/ Post HT a. lembut S: 36. Si-/- 2) . Mioma Uteri 1.Aff infus Abdomen: datar.50C BAB/BAK: -/+ LO : kering. lembut.

Mioma uteri merupakan tumor pelvis yang terbanyak pada organ reproduksi wanita. Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma. Mioma dapat bersifat tunggal atau multipel. tetapi terdapat korelasi antara pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri. 2. dan berkonsistensi lunak jika otot rahimnya yang dominan. Mioma uteri berbatas tegas kapsul. Etiologi Etiologi pasti belum diketahui. diduga merupakan penyakit multifaktorial.39-11. leiomiofibroma. pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.7% pada semua penderita ginekologik yang dirawat kebanyakan pada usia 35-45 tahun. fibroma dan fibroid. Biasanya mengecil saat menopouse namun patut dicurigai ke arah malignansi (sarcoma) bila bertambah besar pada masa postmenopouse. Beberapa istilah untuk mioma uteri antara lain fibromioma. puncaknya adalah pada usia 40 tahun. miofibroma. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke. Mioma uteri semakin meningkat dengan bertambahnya usia. sedangkan setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. serta adanya faktor predisposisi yang bersifat herediter dan faktor hormon pertumbuhan dan Human Placental Lactogen. Epidemiologi Merupakan neoplasma jinak yang merupakan penyebab utama dilakukannya histerektomi di Ameriksa Serikat. dan berasal dari otot polos jaringan fibrous sehingga mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan. fibroleiomioma. Kejadian mioma uteri sebesar 20 – 40% pada wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dan sering menimbulkan gelaja klinis berupa menorrhagia dan dismenoria. Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2. 3. Selain itu dilaporkan juga ditemukan pada kurang lebih 20-25% wanita usia reproduksi dan meningkat 40% pada usia lebih dari 35 tahun. jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Berdasarkan otopsi. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal yang . Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari sel-sel jaringan otot polos. Hal yang mendasari tentang penyebab mioma uteri belum diketahui secara pasti.

adalah beberapa hormon seperti estrogen. menyebabkan terjadinya proliferasi di uterus . Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa. tetapi ekskresi reseptor tersebut tertekan selama kehamilan. jumlah reseptor estrogen di miometrium normal berkurang. Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Estrogen Mioma uteri dijumpai setelah menarche. Sel-sel mioma mempunyai abnormalitas kromosom. Pengaruh-pengaruh hormon dalam pertumbuhan dan perkembangan mioma: a. progesteron. Selama fase sekretorik. b. Hormon Pertumbuhan Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan. Progesteron Reseptor progesteron terdapat di miometrium dan mioma sepanjang siklus menstruasi dan kehamilan. Progesteron menghambat pertumbuhan mioma dengan dua cara yaitu: Mengaktifkan 17-Beta hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada mioma.berada di antara otot polos miometrium. Dengan adanya stimulasi estrogen. Pada mioma reseptor estrogen dapat ditemukan sepanjang siklus menstruasi. sehingga menyebabkan perkembangan yang berlebihan dari garis endometrium. . Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. disamping faktor predisposisi genetik. terlihat pada periode ini memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari mioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara hormon pertumbuhan dan esterogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. dan human growth hormon. sehingga terjadilah pertumbuhan mioma. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mioma. c. siklus menstruasi dan kehamilan.

Lokalisasi . b.3%-7. Pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10%. Hasilnya terjadi peningkatan jumlah estrogen tubuh. Hal ini mungkin berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi estrogen oleh enzim aromatase di jaringan lemak. Riwayat Keluarga Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2. dimana hal ini dapat menerangkan hubungannya dengan peningkatan prevalensi dan pertumbuhan mioma uteri. Kehamilan Angka kejadian mioma uteri bervariasi dari hasil penelitian yang pernah dilakukan ditemukan sebesar 0. Faktor Predisposisi a. Umur Frekuensi kejadian mioma uteri paling tinggi antara usia 35-50 tahun yaitu mendekati angka 40%. Kehamilan dapat juga mengurangi resiko mioma karena pada kehamilan hormon progesteron lebih dominan. Obesitas Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Paritas Wanita yang sering melahirkan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadinya perkembangan mioma ini dibandingkan wanita yang tidak pernah hamil atau satu kali hamil.2% selama kehamilan. dan meningkat pada usia reproduksi. sangat jarang ditemukan pada usia dibawah 20 tahun. Pada usia sebelum menarche kadar estrogen rendah. d.4.5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil satu kali. c. Kedua keadaan ini ada kemungkinan dapat mempercepat pembesaran mioma uteri. Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. 5. e. serta akan turun pada usia menopause. Sedangkan pada usia menopause hampir tidak pernah ditemukan.

Terjadinya mioma uteri bergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada Cell nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen. Klasifikasi dan Gambaran Klinis Sarang mioma di uterus dapat berasal dari servik uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari korpus uteri. Mioma Submukosa Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. 7. Menurut tempatnya di lapisan uterus dan menurut arah pertumbuhannya. Jenis ini dijumpai 5% dari seluruh kasus mioma. tetapi menurun setelah menopause. Patogenesis Stimulasi estrogen diduga sangat berperan untuk terjadinya mioma uteri.6%) umumnya bias muncul sampai vagina dan menyebabkan infeksi b. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan.1%) asimtomatik 6. Pada kehamilan pertumbuhan tumor ini makin besar. Patogenesis mioma uteri dengan teori Cell nest atau genitoblas. Perbedaan ini berkaitan dengan jumlah reseptor estrogen dan reseptor progesteron.2%) paling sering menyebabkan rasa nyeri dan gangguan mikturisi c. Perempuan nulipara mempunyai resiko yang tinggi untuk terjadinya mioma uteri. maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain: a. sedangkan perempuan multipara mempunyai resiko relatif menurun untuk terjadinya mioma uteri. a. Jaringan mioma uteri lebih banyak mengandung reseptor estrogen jika dibandingkan dengan miometrium normal. corporal (9. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan . Cervical (2. Adanya mioma uteri yang banyak ditemukan pada usia reproduksi dan kejadiannya rendah pada usia menopause. isthmica (7. Hormon ovarium dipercaya menstimulasi pertumbuhan mioma karena adanya peningkatan insidennya setelah menarke. Pertumbuhan mioma uteri bervariasi pada setiap individu.

Tumor jenis ini sering mengalami infeksi. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus. ulserasi. c. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. dikenal sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai tumor. sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi. jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. perdarahan. d. dan infark. tetapi mioma submukosa. b. Kadang vena pada permukaannya pecah dan menyebabkan perdarahan intraabdominal. Karena pertumbuhan tumor. dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih ke atas. Mioma Intramural Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Mioma Intraligamenter Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain. misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut mondering/parasitic fibroid. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter yang dapat menekan ureter dan Arteri iliaka. terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Pada beberapa kasus penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas. . Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina.Mioma subperitoneal yang bertangkai dapat mengalami torsi. Kemungkinan terjadinya sarcoma juga lebih besar. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dengan tindakan kuretase. walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Bila di dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma. Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Mioma Subserosa atau Subperitoneal Letaknya di bawah tunica serosa. yang mudah mengalami infeksi. maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. dengan adanya benjolan waktu kuret. dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan.

30% mengalami menorrhagia. Gejala Utama 50% perempuan dengan mioma asimtomatik. dan 20% mengalami gejala akibat supresi. Perdarahan Abnormal Diperkirakan 30% wanita dengan mioma uteri mengalami kelainan menstruasi. Teori yang menjelaskan perdarahan yang disebabkan mioma uteri menyatakan terjadi perubahan struktur vena pada endometrium dan miometrium yang menyebabkan terjadinya venule ectasia. Miometrium merupakan wadah bagi faktor endokrin dan parakrin dalam mengatur fungsi endometrium.8. b. menoragia atau menstruasi yang lebih sering. a. Tidak ditemukan bukti yang menyatakan perdarahan ini berhubungan dengan peningkatan luas permukaan endometrium atau kerana meningkatnya insidens disfungsi ovulasi. Mioma dapat menyebabkan infertilitas dan keguguran akibat massa yang mengganggu ruang uterus. Mioma submukosal dapat menyebabkan gangguan menstruasi seperti menorrhagi dan perdarahan intermenstrual. Growth factor yang merangsang . Massa di Perut Bawah Penderita mengeluhkan merasakan adanya massa atau benjolan di perut bagian bawah. Aposisi kedua jaringan ini dan aliran darah langsung dari miometrium ke endometrium memfasilitasi interaksi ini.

Tekanan pada rectum tidak begitu besar. d. Hal ini timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang disertai dengan nekrosis setempat dan peradangan. Dapat juga rasa nyeri disebabkan karena torsi mioma uteri yang bertangkai. disertai dengan rasa enek dan muntah-muntah. Pada pengeluaran mioma submukosa yang akan dilahirkan. Pengaruh mioma uteri pada kehamilan : i. Kemungkinan abortus lebih besar ii. Pada mioma yang sangat besar. Penekanan pada kandung kencing. Nyeri Perut Gejala nyeri tidak khas untuk mioma. rasa nyeri dapat disebabkan karena tekanan pada urat syaraf yaitu pleksus uterovaginalis. Sebagai pilihan. Penurunan Kesuburan dan Abortus Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab penurunan kesuburan masih belum jelas. pada pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan dismenorrhoe. walaupun sering terjadi. Plasenta previa dan akreta . Dalam hal ini sifatnya akut. Bila berlarut-larut dapat menyebabkan hydroureteronephrosis. e. Pressure Effects (Akibat Tekenan) Pembesaran mioma dapat menyebabkan adanya efek tekanan pada organ-organ di sekitar uterus. stimulasi angiogenesis atau relaksasi tonus vaskuler dan yang memiliki reseptor pada mioma uteri dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal dan menjadi target terapi potensial. pollakisuria dan dysuria. kadang-kadang menyebabkan konstipasi atau nyeri saat defekasi. menjalar ke pinggang dan tungkai bawah. Bila uretra tertekan bisa menimbulkan retensio urinae. Gejala ini merupakan gejala yang tak biasa dan sulit untuk dihubungkan langsung dengan mioma. c. Dilaporkan sebesar 27-40%wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas. berkurangn ya angiogenik inhibitory factor atau vasoconstricting factor dan reseptornya pada mioma uteri dapat juga menyebabkan perdarahan uterus yang abnormal. Kelainan letak iii.

sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya seolah- olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya. c. e. Sesak nafas e. Degenerasi Merah (Necrose) Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. iv. Jaringan fibrous berubah menjadi hialin dan serabut otot menhilang. Anemia b. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen . Inersia uteri v. Menghalangi jalan lahir vi. Dengan konsistensi yang lunak tumor ini sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan. Lemah c. Atrof Tanda-tanda dan gejala berkurang dan menghilang karena ukuran mioma uteri berkurang saat menopause atau setelah kehamilan. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen. Patogenesis: Diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskulerisasi. Degenerasi Membatu (Calsireus Degeneration / Kalsifkasi) Terutama terjadi pada wanita usia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Gejala Sekunder a. Pusing d. dimana sebagian dari mioma menjadi cair. d. Degenerasi Kistik Dapat meliputi daerah kecil maupun luas. Degenerasi Hialin Perubahan ini sering terutama pada penderita usia lanjut disebabkan karena kurangnya suplai darah. Erythrocytosis 10. Mioma kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. b. Perubahan Sekunder a. Perdarahan postpartum 9.

Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari uterus. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis. faktor risiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi. Di permukaan irisannya berwarna kuning homogen dan serabut ototnya berisi titik lemak dan dapat ditunjukkan dengn pengecatan khusus untuk lemak. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoietin ginjal. hemosiderin dan hemofusin. sedikit demam. Temuan Laboratorium Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Degenerasi Lemak Jarang terjadi. Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang licin. merupakan kelanjutan degenerasi hialin. Anamnesis Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya. ii. tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. 11. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Imaging 1) Pemeriksaan dengan USG (Ultrasonografi) transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Penampilan klinik ini seperti pada putaran yangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai. Pada mioma yang sudah lama dapat terbentuk degenerasi lemak. f. kesakitan. c. Pemeriksaan penunjang i. Pemeriksaan Fisik Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemriksaan bimanual rutin uterus. Degenerasi sacromateus Jarang terjadi h. . haus. Gambaran mioma biasanya simetrikal. Diagnosis a. b. Infeksi dan Suppurasi Banyak terjadi pada jenis submukosa akibat ulserasi. g.

2) Histeroskopi digunakan untuk melihat adanya mioma uteri submukosa. Infeksi d. berbatas tegas. mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium normal. Komplikasi a. Jika torsi terjadi perlahan-lahan. jika mioma kecil serta bertangkai. Torsi (putaran tangkai) Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami. serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. dan lokasi mioma tetapi jarang diperlukan. Degenerasi ganas Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0. gangguan akut tidak terjadi. Terdiri dari sel-sel otot spindel dan tersusun sebagai whorl appearance (konde) dengan ukuran sel-sel sama besar. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut. b. d. termasuk mioma. Infertil B. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.32- 0. Pada MRI. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause. 12. 3) MRI (Magnetic Resonance Imaging) sangat akurat dalam menggambarkan jumlah. c. Sondase Cavum uteri besar dan tidak rata. hipoekoik dan degenerasi kistik biasanya menunjukkan anekoik. ukuran.6% dari seluruh mioma. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas. Penegakan Diagnosis dalam Kasus Penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat berdasarkan pada : . Mioma tersebut sekaligus dapat diangkat.

pada pemeriksaan PA ditemukan massa myom warna putih dengan diameter 10 cm dengan sebagian daerah mengalami hyalinisasi Mioma Uteri Degenerasi hyaline 2. Teraba massa tumor berukuran 15x16x8 cm permukaan rata dan mobile di bagian sentral dengan konsistensi mixed (sebgaian padat. benjolan awalnya kecil dan semakin lama semakin membesar. Tatalaksana Mioma Uteri 1.1. sebagian kistik) dan tdak ada nyeri tekan. Bila mioma bertambah besar pada masa postmenepouuse maka perlu dicurigai kemungkinan keganasan (sarcoma). perlu diambil tindakan operasi. Hasil usg menunjukan adanya massa hipoekhoik intrauterine berbatas tegas. HPHT 13 oktober 2016 G0P0A0 2. Pada anamnesis didapatkan bahwa ibu tidak sedang hamil dan belum pernah hamil. Pada anamnesis pasien datang mengeluh ada benjolan di perut bagian bawah. Pada laporan operasi ditemukan masa pada uterus dengan kesan mioma uteri. terjadi torsi pada tangkai. pasien baru konsul ke poli karena benjolan baru terasa mengganjal.2 Apakah Penatalaksanaan Pada Kasus Sudah Tepat? A. Jika mioma lebih besar dari kehamilan 12-14 munggu. dari pemeriksaan ginekologi terlihat adanya benjolan.  Mioma Uteri 3. benjolan teraba 2 jari diatas umbilikus. tumor yang berkembang cepat. tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Preparat yang selalu . Konservatif Penderita dengan mioma kecil dan tanpa gejala tidak memerlukan pengobatan. Terapi yang dapat memperkecil volume atau menghentikan pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Pasien mengaku benjolan terasa mengganjal  Gejala penekanan dari massa  Mioma Uteri 4. Benjolan dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. Pasien mengaku menstruasi lancar tiap bulan. Terapi medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara dari operatif.

digunakan untuk terapi medikamentosa adalah analog GnRHa (Gonadotropin realising Hormon Agonis). a. Segaloff tahun 1949. antiprostaglandin. Setiap mioma uteri memberikan hasil yang berbeda-beda terhadap pemberian analog GnRH ini. Pengobatan ini tidak mempengaruhi ukuran mioma uteri. b. Progesteron Goodman melaporkan terpai injeksi progesteron 10 mg dalam 3 kali seminggu atau 10 mg sehari selama 2 – 6 minggu. tamoksifen. terjadi regresi dari mioma uteri. Analog GnRH Efek maksimal dari analog GnRH baru terlihat setelah 3 bulan dimana cara kerjanya menekan produksi estrogen dengan sangat kuat. mengevaluasi 6 pasien dengan perawatan 30 sampai 189 hari. setelah pemberian terapi. gestrinon. c. sehingga kadarnya dalam darah menyerupai kadar estrogen wanita usia menopause. goserelin. danazol. dimana 3 pasien diberi 20 mg progesteron intramuskuler tiap hari dan 3 pasien lagi diberi 200 mg tablet. progesteron. agen-agen lain seperti gossypol dan amantadine.Selective progesterone modulator (SPRMs) .

Goserelin Goserelin merupakan GnRHagonis. Tamoksifen Tamoksifen merupakan turunan trifeniletilen mempunyai khasiat estrogenik maupun antisektrogenik dan dikenal sebagai “selective estrogen receptor modulator” ( SERM ) dan banyak digunakan untuk pengobatan kanker payudara stadium lanjut. Kerja tamoksifen pada mioma uteri. Beberapa peneliti melaporkan. Hal ini terjadi karena peningkatan kadar progesteron bila diberikan secara berkelanjutan. Karena khasiat sebagai estrogenik maupun antiestrogenik. dimana ikatan reseptornya terhadap jaringan sangat kuat. sehingga kadarnya dalam darah . dimana konsentrasi reseptor estradiol total secara signifikan lebih rendah.d. pemberian tamoksifen 20 mg tablet per hari untuk 6 wanita premenopause dengan menopause dengan mioma uteri selama 3 bulan dimana volume mioma tidak berubah. e.

1. bukan jenis submukosa. Radioterapi dilakukan pada pasien dengan ukuran uterus kurang dari usia kehamilan 3 bulan. Tidak dilakukan pada wanita muda karena dapat menyebabkan menopouse. Radioterapi dilakukan untuk menghentikan perdarahan yang terjadi pada beberapa kasus. f. Pemberian goserelin 400 mikrogram 3 kali sehari semprot hidung sama efektifnya dengan pemberian 500 mikrogram sehari sekali dengan cara injeksi subkutan. Pada saat menjelang menopause dengan mioma uteri. berada cukup lama. Hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).Antiprostaglandin Penghambat pembentukan prostaglandin dapat mengurangi perdarahan yang berlebihan pada wanita dengan menoragia dan hal ini beralasan untuk diterima atau mungkin efektif untuk menoragia yang diinduksi oleh mioma uteri 2. Dan pada pemberian goserelin dapat mengurangi setengah ukuran mioma uteri dan dapat menghilangkan gejala menorargia dan nyeri pelvis. histerektomi dan embolisasi arteri uterus. Operatif Pengobatan operatif meliputi miomektomi. 3. Radioterapi Radiasi dengan radioterapi. Sebelumnya dilakukan kuretase terlebih dahulu untuk menghilangkan kemungkinan . tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum. Miomektomi Merupakan pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. pengobatan jangka panjang dapat menjadi alternatif tindakan histerektomi terutama pada saat menjelang menopause. Miomektomi dilakukan bila masih diinginkan keturunan.

Pada wanita muda sebaiknya ditinggalkan 1 atau kedua ovarium untuk menjaga agar tidak terjadi menopouse sebelum waktunya. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma serviks uteri. Embolisasi arteri uterus (Uterin Artery Embolization / UAE). menyebabkan perlekatan. Histerektomi dapat total ataupun supravaginalis. 3. Histerektomi Merupakan pengangkatan uterus.keganasan. adalah injeksi arteri uterina dengan butiran polyvinyl alkohol melalui kateter yang nantinya akan menghambat aliran darah ke mioma dan menyebabkan nekrosis. 2. Dilakukan pada mioma yang besar dan multipel. Nyeri setelah UAE lebih ringan daripada setelah pembedahan mioma dan pada UAE tidak dilakukan insisi serta waktu penyembuhannya yang cepat. . yang umumnya tindakan terpilih. ataupun residif. Untuk menjaga kemungkinan keganasan pada serviks sebaiknya dilakukan Pap smear. Kerugiannya adalah melemahkan dinding uterus sampai ruptura uteri pada waktu hamil.

B.3 Bagaimanakah Prognosis Pasien Pada Kasus? A. Quo ad functionam 1. Tatalaksana ini juga paling efektif untuk mencegah terjadinya perubahan ke arah keganasan. 2. Reproduksi . Dari pemeriksaan PA tidak ditemukan tanda-tanda keganasan. Selain itu dari usia pasien yang sudah tidak dianjurkan untuk kehamilan.B. Tatalaksana Pada Kasus Pada pasien dilakukan Histerektomi total (Histerektomi Total ) Tatalaksana pada pasien sudah tepat karena mioma pada pasien besar. Karena pada pasien ini setelah dilakukan Histerektomi total keadaan pasien berangsur membaik dan luka operasi kering terawat. Quo ad vitam Ad bonam.

fibroma dan fibroid. Beberapa istilah untuk mioma uteri antara lain fibromioma. jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Menstruasi Ad malam karena pasien telah dilakukan histerektomi total sehingga pasien tidak bias lagi menstruasi. BAB II ANALISIS KASUS 2. Kejadian mioma uteri sebesar 20 – 40% pada wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dan sering menimbulkan gelaja klinis berupa . 3. 2. Seksual Ad bonam karena pada pasien hanya dilakukan histerektomi total saja tidak beserta dengan ovarium.1 Bagaimanakah Penegakkan Diagnosis Pada Kasus? B. Mioma uteri merupakan tumor pelvis yang terbanyak pada organ reproduksi wanita. Ad malam karena pada pasien telah dilakukan prosedur Histerektomi total sehingga pasien tidak dapat hamil lagi. leiomiofibroma. Mioma Uteri 13. Definisi Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari sel-sel jaringan otot polos. miofibroma. fibroleiomioma.

progesteron. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal yang berada di antara otot polos miometrium. dan berkonsistensi lunak jika otot rahimnya yang dominan. pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak. diduga merupakan penyakit multifaktorial. Biasanya mengecil saat menopouse namun patut dicurigai ke arah malignansi (sarcoma) bila bertambah besar pada masa postmenopouse. Mioma dapat bersifat tunggal atau multipel. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mioma. Epidemiologi Merupakan neoplasma jinak yang merupakan penyebab utama dilakukannya histerektomi di Ameriksa Serikat. Selain itu dilaporkan juga ditemukan pada kurang lebih 20-25% wanita usia reproduksi dan meningkat 40% pada usia lebih dari 35 tahun. sedangkan setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh.menorrhagia dan dismenoria. Mioma uteri berbatas tegas kapsul. 14. Etiologi Etiologi pasti belum diketahui. puncaknya adalah pada usia 40 tahun. menyebabkan terjadinya proliferasi di uterus . adalah beberapa hormon seperti estrogen. Mioma uteri semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Dengan adanya stimulasi estrogen. serta adanya faktor predisposisi yang bersifat herediter dan faktor hormon pertumbuhan dan Human Placental Lactogen. dan berasal dari otot polos jaringan fibrous sehingga mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan. Berdasarkan otopsi. dan human growth hormon.7% pada semua penderita ginekologik yang dirawat kebanyakan pada usia 35-45 tahun. Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma. disamping faktor predisposisi genetik. Hal yang mendasari tentang penyebab mioma uteri belum diketahui secara pasti. tetapi terdapat korelasi antara pertumbuhan tumor dengan peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri. Sel-sel mioma mempunyai abnormalitas kromosom. 15. Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke.39-11. sehingga menyebabkan perkembangan yang .

16. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium.berlebihan dari garis endometrium. Pengaruh-pengaruh hormon dalam pertumbuhan dan perkembangan mioma: a. Estrogen Mioma uteri dijumpai setelah menarche. tetapi ekskresi reseptor tersebut tertekan selama kehamilan. Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Hormon Pertumbuhan Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan. jumlah reseptor estrogen di miometrium normal berkurang. Progesteron menghambat pertumbuhan mioma dengan dua cara yaitu: Mengaktifkan 17-Beta hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada mioma. terlihat pada periode ini memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari mioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara hormon pertumbuhan dan esterogen. c. Sedangkan pada usia menopause hampir tidak pernah ditemukan. sehingga terjadilah pertumbuhan mioma. tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa. Umur Frekuensi kejadian mioma uteri paling tinggi antara usia 35-50 tahun yaitu mendekati angka 40%. Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. sangat jarang ditemukan pada usia dibawah 20 tahun. b. Selama fase sekretorik. Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Progesteron Reseptor progesteron terdapat di miometrium dan mioma sepanjang siklus menstruasi dan kehamilan. Pada mioma reseptor estrogen dapat ditemukan sepanjang siklus menstruasi. siklus menstruasi dan kehamilan. Faktor Predisposisi f. Pada usia sebelum menarche kadar .

Hasilnya terjadi peningkatan jumlah estrogen tubuh. Obesitas Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Cervical (2. dimana hal ini dapat menerangkan hubungannya dengan peningkatan prevalensi dan pertumbuhan mioma uteri. serta akan turun pada usia menopause. 17.5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. Hal ini mungkin berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi estrogen oleh enzim aromatase di jaringan lemak.2%) paling sering menyebabkan rasa nyeri dan gangguan mikturisi e. isthmica (7. Kehamilan Angka kejadian mioma uteri bervariasi dari hasil penelitian yang pernah dilakukan ditemukan sebesar 0. Kehamilan dapat juga mengurangi resiko mioma karena pada kehamilan hormon progesteron lebih dominan. Paritas Wanita yang sering melahirkan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadinya perkembangan mioma ini dibandingkan wanita yang tidak pernah hamil atau satu kali hamil. dan meningkat pada usia reproduksi.3%-7.6%) umumnya bias muncul sampai vagina dan menyebabkan infeksi d. Riwayat Keluarga Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2. Kedua keadaan ini ada kemungkinan dapat mempercepat pembesaran mioma uteri.2% selama kehamilan. g. h. Lokalisasi a. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya hamil satu kali. corporal (9. i.1%) . Pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10%. Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. estrogen rendah. j.

Patogenesis mioma uteri dengan teori Cell nest atau genitoblas. Terjadinya mioma uteri bergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada Cell nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen. tetapi mioma submukosa. dengan adanya benjolan waktu kuret. Menurut tempatnya di lapisan uterus dan menurut arah pertumbuhannya. dikenal sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai . tetapi menurun setelah menopause. Klasifikasi dan Gambaran Klinis Sarang mioma di uterus dapat berasal dari servik uteri (1-3%) dan selebihnya adalah dari korpus uteri. maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain: e. Pada kehamilan pertumbuhan tumor ini makin besar. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dengan tindakan kuretase. 19. asimtomatik 18. Pertumbuhan mioma uteri bervariasi pada setiap individu. Perbedaan ini berkaitan dengan jumlah reseptor estrogen dan reseptor progesteron. Perempuan nulipara mempunyai resiko yang tinggi untuk terjadinya mioma uteri. Adanya mioma uteri yang banyak ditemukan pada usia reproduksi dan kejadiannya rendah pada usia menopause. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan. Jenis ini dijumpai 5% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Patogenesis Stimulasi estrogen diduga sangat berperan untuk terjadinya mioma uteri. sedangkan perempuan multipara mempunyai resiko relatif menurun untuk terjadinya mioma uteri. Jaringan mioma uteri lebih banyak mengandung reseptor estrogen jika dibandingkan dengan miometrium normal. Hormon ovarium dipercaya menstimulasi pertumbuhan mioma karena adanya peningkatan insidennya setelah menarke. walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma Submukosa Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus.

dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih ke atas. Pada beberapa kasus penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas. maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma Intramural Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. f. dan infark. dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan. Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. ulserasi. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma Intraligamenter Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina.Mioma subperitoneal yang bertangkai dapat mengalami torsi. Karena pertumbuhan tumor. Bila di dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi. terutama pada mioma submukosa pedinkulata. h. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Kemungkinan terjadinya sarcoma juga lebih besar. sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi. . Kadang vena pada permukaannya pecah dan menyebabkan perdarahan intraabdominal. yang mudah mengalami infeksi. g. misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut mondering/parasitic fibroid. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus. jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. tumor. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter yang dapat menekan ureter dan Arteri iliaka. Mioma Subserosa atau Subperitoneal Letaknya di bawah tunica serosa.

menoragia atau menstruasi yang lebih sering. Teori yang menjelaskan perdarahan yang disebabkan mioma uteri menyatakan terjadi perubahan struktur vena pada endometrium dan miometrium yang menyebabkan terjadinya venule ectasia. Gejala Utama 50% perempuan dengan mioma asimtomatik. Mioma submukosal dapat menyebabkan gangguan menstruasi seperti menorrhagi dan perdarahan intermenstrual. Growth factor yang merangsang .20. Massa di Perut Bawah Penderita mengeluhkan merasakan adanya massa atau benjolan di perut bagian bawah. Mioma dapat menyebabkan infertilitas dan keguguran akibat massa yang mengganggu ruang uterus. dan 20% mengalami gejala akibat supresi. Tidak ditemukan bukti yang menyatakan perdarahan ini berhubungan dengan peningkatan luas permukaan endometrium atau kerana meningkatnya insidens disfungsi ovulasi. Aposisi kedua jaringan ini dan aliran darah langsung dari miometrium ke endometrium memfasilitasi interaksi ini. 30% mengalami menorrhagia. g. Miometrium merupakan wadah bagi faktor endokrin dan parakrin dalam mengatur fungsi endometrium. Perdarahan Abnormal Diperkirakan 30% wanita dengan mioma uteri mengalami kelainan menstruasi. f.

Bila uretra tertekan bisa menimbulkan retensio urinae. j. pollakisuria dan dysuria. Nyeri Perut Gejala nyeri tidak khas untuk mioma. Penekanan pada kandung kencing. Bila berlarut-larut dapat menyebabkan hydroureteronephrosis. h. Gejala ini merupakan gejala yang tak biasa dan sulit untuk dihubungkan langsung dengan mioma. walaupun sering terjadi. stimulasi angiogenesis atau relaksasi tonus vaskuler dan yang memiliki reseptor pada mioma uteri dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal dan menjadi target terapi potensial. pada pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan dismenorrhoe. Pressure Effects (Akibat Tekenan) Pembesaran mioma dapat menyebabkan adanya efek tekanan pada organ-organ di sekitar uterus. Hal ini timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang disertai dengan nekrosis setempat dan peradangan. Pengaruh mioma uteri pada kehamilan : vii. Dilaporkan sebesar 27-40%wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas. Dapat juga rasa nyeri disebabkan karena torsi mioma uteri yang bertangkai. Pada mioma yang sangat besar. Pada pengeluaran mioma submukosa yang akan dilahirkan. menjalar ke pinggang dan tungkai bawah. Dalam hal ini sifatnya akut. Kelainan letak ix. Sebagai pilihan. Plasenta previa dan akreta . Kemungkinan abortus lebih besar viii. berkurangn ya angiogenik inhibitory factor atau vasoconstricting factor dan reseptornya pada mioma uteri dapat juga menyebabkan perdarahan uterus yang abnormal. i. kadang-kadang menyebabkan konstipasi atau nyeri saat defekasi. disertai dengan rasa enek dan muntah-muntah. rasa nyeri dapat disebabkan karena tekanan pada urat syaraf yaitu pleksus uterovaginalis. Tekanan pada rectum tidak begitu besar. Penurunan Kesuburan dan Abortus Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab penurunan kesuburan masih belum jelas.

Inersia uteri xi. l. Sesak nafas e. Menghalangi jalan lahir xii. j. Pusing d. dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Erythrocytosis 22. Degenerasi Hialin Perubahan ini sering terutama pada penderita usia lanjut disebabkan karena kurangnya suplai darah. Anemia b. Atrof Tanda-tanda dan gejala berkurang dan menghilang karena ukuran mioma uteri berkurang saat menopause atau setelah kehamilan. Patogenesis: Diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskulerisasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya seolah- olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya. Perubahan Sekunder i. dimana sebagian dari mioma menjadi cair. x. Degenerasi Merah (Necrose) Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Lemah c. Degenerasi Membatu (Calsireus Degeneration / Kalsifkasi) Terutama terjadi pada wanita usia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. m. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen . Gejala Sekunder a. Dengan konsistensi yang lunak tumor ini sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan. Degenerasi Kistik Dapat meliputi daerah kecil maupun luas. Mioma kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar. k. Jaringan fibrous berubah menjadi hialin dan serabut otot menhilang. Perdarahan postpartum 21.

Diagnosis e. Temuan Laboratorium Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Imaging 4) Pemeriksaan dengan USG (Ultrasonografi) transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang licin. Infeksi dan Suppurasi Banyak terjadi pada jenis submukosa akibat ulserasi. kesakitan. o. Pada mioma yang sudah lama dapat terbentuk degenerasi lemak. Degenerasi sacromateus Jarang terjadi p. merupakan kelanjutan degenerasi hialin. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoietin ginjal. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis. tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. faktor risiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Di permukaan irisannya berwarna kuning homogen dan serabut ototnya berisi titik lemak dan dapat ditunjukkan dengn pengecatan khusus untuk lemak. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Pemeriksaan Fisik Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemriksaan bimanual rutin uterus. 23. g. hemosiderin dan hemofusin. iv. Penampilan klinik ini seperti pada putaran yangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai. Gambaran mioma biasanya simetrikal. . n. f. Degenerasi Lemak Jarang terjadi. haus. tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari uterus. Pemeriksaan penunjang iii. Anamnesis Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya. sedikit demam.

Degenerasi ganas Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0. Komplikasi e. jika mioma kecil serta bertangkai. 5) Histeroskopi digunakan untuk melihat adanya mioma uteri submukosa. Sondase Cavum uteri besar dan tidak rata. Mioma tersebut sekaligus dapat diangkat. dan lokasi mioma tetapi jarang diperlukan. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause. serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. g. h. Infertil B. 6) MRI (Magnetic Resonance Imaging) sangat akurat dalam menggambarkan jumlah. hipoekoik dan degenerasi kistik biasanya menunjukkan anekoik. Torsi (putaran tangkai) Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami. Jika torsi terjadi perlahan-lahan. ukuran.32- 0. Pada MRI. Terdiri dari sel-sel otot spindel dan tersusun sebagai whorl appearance (konde) dengan ukuran sel-sel sama besar. timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis.6% dari seluruh mioma. berbatas tegas. termasuk mioma. Penegakan Diagnosis dalam Kasus Penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat berdasarkan pada : . Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut. 24. mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium normal. f. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Infeksi h. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas. gangguan akut tidak terjadi.

Jika mioma lebih besar dari kehamilan 12-14 munggu. dari pemeriksaan ginekologi terlihat adanya benjolan. HPHT 13 oktober 2016 G0P0A0 6. Pada anamnesis pasien datang mengeluh ada benjolan di perut bagian bawah. Pasien mengaku menstruasi lancar tiap bulan. Preparat yang selalu .2 Apakah Penatalaksanaan Pada Kasus Sudah Tepat? A. Terapi medikamentosa masih merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara dari operatif. Pada anamnesis didapatkan bahwa ibu tidak sedang hamil dan belum pernah hamil. pada pemeriksaan PA ditemukan massa myom warna putih dengan diameter 10 cm dengan sebagian daerah mengalami hyalinisasi Mioma Uteri Degenerasi hyaline 2.5. terjadi torsi pada tangkai. Benjolan dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. tumor yang berkembang cepat. Bila mioma bertambah besar pada masa postmenepouuse maka perlu dicurigai kemungkinan keganasan (sarcoma). sebagian kistik) dan tdak ada nyeri tekan. benjolan awalnya kecil dan semakin lama semakin membesar. Konservatif Penderita dengan mioma kecil dan tanpa gejala tidak memerlukan pengobatan. perlu diambil tindakan operasi. tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. pasien baru konsul ke poli karena benjolan baru terasa mengganjal. Hasil usg menunjukan adanya massa hipoekhoik intrauterine berbatas tegas. Terapi yang dapat memperkecil volume atau menghentikan pertumbuhan mioma uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Pasien mengaku benjolan terasa mengganjal  Gejala penekanan dari massa  Mioma Uteri 8. Teraba massa tumor berukuran 15x16x8 cm permukaan rata dan mobile di bagian sentral dengan konsistensi mixed (sebgaian padat.  Mioma Uteri 7. benjolan teraba 2 jari diatas umbilikus. Pada laporan operasi ditemukan masa pada uterus dengan kesan mioma uteri. Tatalaksana Mioma Uteri 4.

c. Progesteron Goodman melaporkan terpai injeksi progesteron 10 mg dalam 3 kali seminggu atau 10 mg sehari selama 2 – 6 minggu. agen-agen lain seperti gossypol dan amantadine. dimana 3 pasien diberi 20 mg progesteron intramuskuler tiap hari dan 3 pasien lagi diberi 200 mg tablet. terjadi regresi dari mioma uteri. danazol. tamoksifen. antiprostaglandin. Pengobatan ini tidak mempengaruhi ukuran mioma uteri. Segaloff tahun 1949. mengevaluasi 6 pasien dengan perawatan 30 sampai 189 hari. b. Setiap mioma uteri memberikan hasil yang berbeda-beda terhadap pemberian analog GnRH ini. gestrinon. sehingga kadarnya dalam darah menyerupai kadar estrogen wanita usia menopause. goserelin. progesteron. setelah pemberian terapi. Analog GnRH Efek maksimal dari analog GnRH baru terlihat setelah 3 bulan dimana cara kerjanya menekan produksi estrogen dengan sangat kuat.digunakan untuk terapi medikamentosa adalah analog GnRHa (Gonadotropin realising Hormon Agonis).Selective progesterone modulator (SPRMs) . a.

sehingga kadarnya dalam darah . Tamoksifen Tamoksifen merupakan turunan trifeniletilen mempunyai khasiat estrogenik maupun antisektrogenik dan dikenal sebagai “selective estrogen receptor modulator” ( SERM ) dan banyak digunakan untuk pengobatan kanker payudara stadium lanjut. dimana ikatan reseptornya terhadap jaringan sangat kuat. Karena khasiat sebagai estrogenik maupun antiestrogenik.d. Beberapa peneliti melaporkan. e. Hal ini terjadi karena peningkatan kadar progesteron bila diberikan secara berkelanjutan. dimana konsentrasi reseptor estradiol total secara signifikan lebih rendah. pemberian tamoksifen 20 mg tablet per hari untuk 6 wanita premenopause dengan menopause dengan mioma uteri selama 3 bulan dimana volume mioma tidak berubah. Kerja tamoksifen pada mioma uteri. Goserelin Goserelin merupakan GnRHagonis.

Miomektomi dilakukan bila masih diinginkan keturunan. Pemberian goserelin 400 mikrogram 3 kali sehari semprot hidung sama efektifnya dengan pemberian 500 mikrogram sehari sekali dengan cara injeksi subkutan. Radioterapi dilakukan untuk menghentikan perdarahan yang terjadi pada beberapa kasus. Operatif Pengobatan operatif meliputi miomektomi. Miomektomi Merupakan pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Sebelumnya dilakukan kuretase terlebih dahulu untuk menghilangkan kemungkinan . histerektomi dan embolisasi arteri uterus. Radioterapi dilakukan pada pasien dengan ukuran uterus kurang dari usia kehamilan 3 bulan. Tidak dilakukan pada wanita muda karena dapat menyebabkan menopouse. 6. tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum. Pada saat menjelang menopause dengan mioma uteri. Dan pada pemberian goserelin dapat mengurangi setengah ukuran mioma uteri dan dapat menghilangkan gejala menorargia dan nyeri pelvis. bukan jenis submukosa. 4. berada cukup lama.Antiprostaglandin Penghambat pembentukan prostaglandin dapat mengurangi perdarahan yang berlebihan pada wanita dengan menoragia dan hal ini beralasan untuk diterima atau mungkin efektif untuk menoragia yang diinduksi oleh mioma uteri 5. f. Hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient). pengobatan jangka panjang dapat menjadi alternatif tindakan histerektomi terutama pada saat menjelang menopause. Radioterapi Radiasi dengan radioterapi.

Histerektomi Merupakan pengangkatan uterus. Nyeri setelah UAE lebih ringan daripada setelah pembedahan mioma dan pada UAE tidak dilakukan insisi serta waktu penyembuhannya yang cepat. Embolisasi arteri uterus (Uterin Artery Embolization / UAE).keganasan. Pada wanita muda sebaiknya ditinggalkan 1 atau kedua ovarium untuk menjaga agar tidak terjadi menopouse sebelum waktunya. Untuk menjaga kemungkinan keganasan pada serviks sebaiknya dilakukan Pap smear. menyebabkan perlekatan. Kerugiannya adalah melemahkan dinding uterus sampai ruptura uteri pada waktu hamil. adalah injeksi arteri uterina dengan butiran polyvinyl alkohol melalui kateter yang nantinya akan menghambat aliran darah ke mioma dan menyebabkan nekrosis. 5. ataupun residif. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma serviks uteri. . Histerektomi dapat total ataupun supravaginalis. Dilakukan pada mioma yang besar dan multipel. yang umumnya tindakan terpilih. 6.

Karena pada pasien ini setelah dilakukan Histerektomi total keadaan pasien berangsur membaik dan luka operasi kering terawat. 2.B. Tatalaksana ini juga paling efektif untuk mencegah terjadinya perubahan ke arah keganasan. Quo ad vitam Ad bonam. Quo ad functionam 4. Reproduksi . B. Selain itu dari usia pasien yang sudah tidak dianjurkan untuk kehamilan. Dari pemeriksaan PA tidak ditemukan tanda-tanda keganasan. Tatalaksana Pada Kasus Pada pasien dilakukan Histerektomi total (Histerektomi Total ) Tatalaksana pada pasien sudah tepat karena mioma pada pasien besar.3 Bagaimanakah Prognosis Pasien Pada Kasus? A.

Ad malam karena pada pasien telah dilakukan prosedur Histerektomi total sehingga pasien tidak dapat hamil lagi.G. "Leiomyoma. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD. 3. 2. pp: 309-312. 5. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi Edisi Kedua. and Sindha Thomas. Jakarta: EGC. 4. DAFTAR PUSTAKA 1. Elstar Offset. Menstruasi Ad malam karena pasien telah dilakukan histerektomi total sehingga pasien tidak bias lagi menstruasi. VR Sreeja. Seksual Ad bonam karena pada pasien hanya dilakukan histerektomi total saja tidak beserta dengan ovarium. ." Journal of Evolution of Medical and Dental sciences 2. "When myoma causes infertility. 1981. Siregar. Manuaba B. Bandung. 6. Muhammad Fidel Ganis." Journal of Natural Sciences Research 3 (2013): 95-105. a major cause of abnormal uterine bleeding. Ginekologi Edisi 2. 2003. Rani.16 (2013): 2626-2631.

"Association between menarche age and menstrual disorder with the incidence of uterine fibroid in medan.5.2015.. Stewart Elizabeth A. Lauren A. et al. Obstetrics and Gynecology 4.) 16. Mass. "Influence of body size and body fat distribution on risk of uterine leiomyomata in US black women. A George.3 (2005): 346.4 (2015): 1025-1028.” SOGC Clinical Practice Guideline” No. The Management Of Uterine Leiomyomas. 8. 318. Allaire C. Muhammad Fidel Ganis. . Uterine Fibroid. Contraception. Siregar. “ New England Journal Of Medicine”." International Journal of Reproduction. Indonesia: based on hospital data.. 6. 7. februari 2015. Wise." Epidemiology (Cambridge. et al.