You are on page 1of 8

ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

TINGKAT KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN PADA STATUS BALITA
PEMILIH MAKAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU
SEMARANG

Hapsari Sulistya Kusuma, Sufiati Bintanah, Erma Handarsari
Program Studi Gizi FIKKES Universitas Muhammadiyah Semarang
hapsa31@yahoo.co.id

ABSTRACT

Picky eater is the eating disorder which is characterized with several symptoms, there are; trouble
eating, refusing to feed, and spewing the food. Picky eater which is continuously occurred on
children effects on children nutritional status being a poor. The research aim is to identify the
relation between picky eater and the sufficient level of energy and protein on children. The
research design is cross sectional with analytic research. The sampling are 68 children which
stratification random method. It is found 41 children as picky eater and 27 children as non picky
eater. The questioners are consisted of picky eater status and food recall 3 times. Statistical
analysis, Mann Whitney test is used to examine the correlation between independent and dependent
variable. The average of sufficient level of energy is 84, 85%±18, 49 of Energy Sufficient Level
(AKE) and the protein is 115, 63% ±41, 63% Protein Sufficient Level (AKP). There is the
difference between picky eater status and the sufficient level of energy p 0,000 < 0, 05, and there is
the difference between picky eater status and the sufficient level of protein p 0,005 < 0, 05.

Key Word: Picky Eater Status, Sufficient Level of Energy, Sufficient Level of Protein

1. PENDAHULUAN organoleptik dan faktor psikologik (Zaviera,
Usia balita merupakan periode penting 2008). Menurut Caruth, et.al, (1998), perilaku
dalam proses tumbuh kembang anak. Rentang pilih- pilih makan pada balita terjadi karena
usia terse but merupakan masa terjadinya selera makan anak yang mulai berkembang dan
pertumbuhan dengan gejala kuantitatif berupa kecenderungan mulai menyukai makanan atau
perubahan ukuran dan jumlah se l. Pertumbuhan rasa tertentu, rasa bosan pada hidangan yang
yang baik digambarkan dengan bertambahnya kurang bervarias i dan kebiasaan makan
berat badan dan tinggi badan se iring dengan keluarga yang suka pilih- pilih makanan.
bertambahnya usia (Soetjiningsih, 1995). Masalah kesulitan makan di beberapa
Proses tumbuh kembang pada balita erat negara pada setiap tahunnya termasuk dalam
kaitannya dengan asupan zat gizi yang prevalensi yang cukup tinggi. Penelitian
dikonsumsi setiap hari dari makanan. Tidak ada Ellizabet (2008) di Shouth Dakota mengata kan
makanan yang mengandung se luruh zat gizi 28% anak mempunyai kebiasaan pemilih
yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, oleh makan, dan 2-4% dari 45 % populas i anak yang
sebab itu untuk memenuhi kebutuhannya akan selektif dalam makan memerlukan penanganan
zat gizi yang beragam, manusia perlu yang profes ional (Ollendick & Scroeder, 2003).
mengkonsumsi berbagai jenis makanan dalam Perilaku pemilih makan terse but juga dialami
jumlah yang cukup (Almatsier, 2008). oleh 80% dari 144 anak yang menyandang
Masalah kesulitan makan/ perilaku pemilih retardasi mental dalam studi kas us di Iran
makan seringkali ditemukan pada balita, (Rezaei & Rashedi, 2011).
penyebab dari perilaku pemilih makan ini Penelitian Desi (2007), menunjukkan
bersifat multifaktoral diantara lain faktor prevalensi gizi buruk di Puskesmas
organik ( kelainan organ-organ yang Kedungmundu Semarang sebesar 1,2 %,
berhubungan dengan proses makan), faktor dicurigai sa lah satu penyebab terjadinya gizi

557

1) (52.1) (77. Populas i pada pertanyaan apa sa ja yang dijawab oleh dalam penelitian adalah balita usia 12.0) dan data asupan energi protein.0) (100.1 Status Pemilih Makan Balita balita.rata hitung standart devias i 8. Tampak tidak 32 36 68 Analisis data dilakukan dengan menikmati (47.0) Kuesioner III untuk merekam data has il recall pengganti makanan 3x 24 jam sehingga dapat diketahui makanan tingkat kecukupan as upan energi dan protein 7. Memuntahkan 16 52 68 status pemilih makan. kues ioner I. Selalu menolak 29 39 68 wawancara langsung dengan responden.0) makanan yang 558 .9) (100. yang dimulut digunakan untuk menggali data dan 3.9) (100.6) (57. pemilih makan dapat dilihat pada Tabel 4. Cepat bosan 34 34 68 Whitney untuk mengetahui perbedaan variable terhadap (50. Berdasarkan jawaban analitik dengan pendekata n cross sectional responden. Tidak makan 31 37 68 pertanyaan yang disarankan oleh Nur jannah makanan secara (45.1) (52. makanan tertentu (47. Zuckerman (2010) dan Judarwanto sukarela (2010 ) untuk mengukur status pemilih makan.0) Analisis biariat menggunakan uji Mann 9.0) (50. Kuesioner II 4.9) (100. Penelitian dilakukan di wilayah sebanyak 27 balita ( 39.0) menggunakan analisa univariat disa jikan dalam makanan saat makan bentuk nilai rata. Data primer meliputi 2. skor 0. Membuka mulut 32 36 68 karakteristik sa mpel penelitian meliputi kode dengan paksaan (47.5) (76. No. data makanan atau (42.6) (100. data primer diambil dengan cara 1. 10 5. dijawab oleh res ponden. Kesulitan dalam 15 53 68 untuk mengetahui status pemilih makan menelan (22. usia. menyemburkan Instrumen yang digunakan dalam makanan yang sudah masuk penelitian ini adalah. kues ioner dapat menunjukkan as pek terlemah pada bulan Januari.7 % ). HASIL DAN PEMBAHASAN makanan. Hasil jawaban kues ioner status di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu.4) (100. 6.4) (100. Ha l inilah yang mendasari peneliti Karakteristik Balita untuk meneliti hubungan status pemilih makan Status Pemilih Makan Balita dengan tingkat kecukupan energi dan protein Status pemilih makan balita dinilai balita di wilayah kerja Puskes mas berdasarkan hasil jawaban kues ioner yang telah Kedungmundu Semarang.9) (100. Hanya memakan 32 36 68 dan tabel frequensi se mua variable penelitian.Maret 2015.0) sekunder dikutip dari data Puskes mas minuman yang diberikan Kedungmundu Semarang.1) (55. nama.6) (54. Apabila responden 2.ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016 buruk adalah perilaku pemilih makan independent (status pemilih makan) dan dibuktikan dengan observasi awal 70% balita variable dependent (tingkat kecukupan energi yang ada di wilayah kerja Puskes mas dan protein). Kedungmundu mempunyai ciri sebagai pemilih 3.9) (100. Hasil jawaban kerja Puskesmas Kedungmundu Semara ng.0) sampel penelitian. Pertanyaan YA TIDAK Total Data yang diambil terdiri dari data primer (% ) (%) (% ) dan se kunder. Pemberian 30 38 68 suplemen (44.60 bulan responden.0) (2012). umur.1 Penentuan sampel menggunakan teknik Stratification Random Sampling dan mendapatkan jumlah sampel sebanyak 68 Tabel 4.0) makanan responden terdiri dari 10 pertanyaan.1) (52. jenis kelamin atau (23.3 % ) dan kecukupan energi dan protein) diukur pada saat balita bukan pemilih makan dengan total skor 0 yang sama. nama. METODE PENELITIAN menjawab 1 kali “YA” diberi skor 5 dan a pabila Penelitian ini termasuk jenis deskriptif menjawab tidak. 68 balita terbagi menjadi dua dimana variable independent ( status pemilih kategori yaitu balita pemilih makan dengan makan) dan variable dependent (tingkat total skor ≥5 sebanyak 41 balita ( 60.

Apabila balita dialami oleh se mua balita. < 70. menunjukkan bahwa jenis kelamin tanah. Distribusi Balita Menurut 90. konsumsi yang tidak merata antar balita. dan protein yang lebih Perempuan 32 47.rata usia 39 bulan±11.47 banyak pada pertanyaan cepat bosa n terhadap Kkal dan maximum 1960. Distribusi Tingkat Kecukupan Energi Balita dapat dilihat pada Tabel 4.4 % ).85 % analisis data menunjukkan balita yang AKG±18. Distribusi Balita Menurut Jenis Zaviera. Tingkat makanan yang disa jikan ( 50.5 %) tidak mempunyai kebiasaan makan makanan Tingkat Kecukupan Energi Balita yang aneh ( makan tanah. kapur dsb.0 %). AKG ) sesuai umur yang dikalikan 100% dan dikoreksi dengan berat badan. usia balita berkisar antara 37. kerikil dsb. Asupan Energi balita rata. se makin baik asupannya Perilaku pemilih makan dapat terjadi pada maka tingkat kec ukupannya juga akan se makin balita laki.0) aneh (mis.laki dan perempuan memiliki peluang ) yang sama menjadi pemilih makan atau bukan Berdasarkan jawaban kues ioner status pemilih makan. mengalami kekurangan atau defisiensi ( Tabel 3.rata 1082.9 kecukupan energi balita sebagian besar dalam Total 68 100.rata 84.9 konsumsi energi.1 559 . menunjukkan jumlah balita yang Energi merupakan prosentase perbandingan terdistribusi sa ma bila dilihat dari kelompok antara asupan makanan individu/ balita dalam usia.92 adalah 7 balita ( 10. 2013 ). terkait baik ( Rizema.9 Kelompok Usia > 119 % 1 1. Ha l ini didukung oleh pendapat Kelamin Dubois et.rata hal itu menunjukkan balita yang mempunyai tingkat pemilih asupan maupun tingkat kec ukupan energi balita terbanyak adalah 1 balita ( 1. Makan Tabel 3.89 % 31 45. menunjukkan jawaban “YA” paling Kkal±340. Kebiasaan makan 1 (1. pemilih makan.4 Distribusi Tingkat Kecukupan Rata. 9 % ). lemak.76 dengan asupan minimum 531. ).29 % AKG dan maksimum 127. laki. Hasil Kecukupan Energi balita rata.5) 67 68 makanan yang (98.ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016 disajikan Total 68 100 10.Laki 36 52.4 Usia Balita Tabel 4. % AKG.23 Kkal.3 % ) dengan total skor 5.36 Bulan 30 44.1 Tabel 4.laki maupun perempuan. al ( 2007 ) yang menyata kan bahwa Jenis Kelamin n % balita picky eater cenderung memiliki angka Laki. kapur.6 Tabel 2.5) (100.60 Bulan 38 55.60 bulan ( sehari dengan Angka Kecukupan Energi (% 29. Tingkat Jenis Kelamin Balita kecukupan energi balita dipengaruhi oleh asupan dalam se hari. Secara rata.49.5 %) dengan total berada pada tingkat defisiensi dan tingkat skor 45.0 kategori normal ( 52. hampir semua balita ( 98. 2008 ).57 Tabel 1. Tingkat Kecukupan Tabel 2.4 menunjukkan distribusi tingkat 37. tingkat kecukupan Energi mempunyai tingkat pemilih paling sedikit minimum 50. Tingkat n % Distribusi balita menurut usia dapat dilihat pada Kecukupan Energi Tabel 2. Distribusi balita mempunyai perilaku pemilih makan yang sa lah/ menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel kurang maka asupan makannya juga akan 3.119 % 36 52. Asupan Energi yang adanya proses tumbuh kembang dan proses baik pada balita tidak terlepas dari perilaku perubahan psikologik yang tentunya akan pemilih makan balita.71 dengan nilai Energi minimum 14 bulan dan maksimum 59 bulan.5 Kelompok Usia n % Total 68 100 12.

rata hal itu menunjukkan asupan maupun tingkat kecukupan Protein balita berada pada tingkat normal namun tidak merata antar balita. 2013 ).4 % ).1 berdasarkan perbandingan antara asupan balita dalam se hari dengan % Angka Kecukupan Energi ( AKE ) sesuai umur.308 dengan p- Tingkat Kecukupan Protein merupakan value 0.22 ± 6.03 gram dan maximum 62.5 Distribusi Tingkat Kecukupan Gambar 4.38 % AKG. mengemut akan semakin baik ( Rizema.68 dengan asupan minimum 12. Secara rata.35 % AKG yang balita.000 < α ( 0. dengan berat badan. dengan Tingkat Kecukupan Energi Perilaku pemilih makan yang sa lah akan Balita menyebabkan kurangnya asupan pada balita.05 ) .6 % > 119 % 19 27. Perbedaan status pemilih makan dengan tingkat Asupan pada balita dapat dikategorikan menjadi kecukupan Energi dapat dilihat pada Gambar beberapa tingkat. dikalikan dengan 100% dan dikoreksi dengan berat badan sehingga dise but dengan tingkat kecukupan 560 . protein juga secara langsung dipengaruhi oleh digambarkan dengan berbagai gejala sulit asupan balita sehari. Sama halnya dengan Perilaku pemilih makan merupakan suatu tingkat kecukupan energi. Distribusi Tingkat Kecukupan Protein Balita dapat dilihat pada Tabel 4.7 besar bila dibandingkan dengan balita bukan 90.1 menunjukkan proporsi balita Kecukupan Protein pemilih makan yang mengalami defisiensi lebih < 70.5 menunjukkan distribusi Tingkat rata. melepeh makanan.5 Tabel 4. makanan.4 pemilih makan. tingkat kecukupan keadaan yang sering dialami balita.rata tingkat kecukupan energi Total 68 100 balita pemilih makan 76.49 % AKG yang termasuk dalam kategori defisiensi dan Tabel 4.hari.49 % AKG dan maksimum 295.ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016 rendah bila dibandingkan dengan balita non picky eater. menolak memasukkan makanan Perbedaan Status Pemilih Makan kedalam mulut hingga memuntahkan makanan.63.50 gram.00 %.119 % 39 57. Rata.52 gram±10.05 ± 18. tingkat kecukupan Protein minimum 50. Hasil analisa Protein balita dalam kategori normal ( 57.89 % 10 14.1 Perbedaan Status Pemilih Makan Protein dengan Tingkat Kecukupan Energi Tingkat n % Gambar 4.9 dan 0. Tingkat kecukupan Protein balita rata.rata 115.rata 32. Sebagian besar Tingkat Kecukupan termasuk dalam kategori normal. dengan perbandingan 75.63 % AKG±41.rata tingkat kecukupan energi balita bukan Kecukupan Protein yang tidak merata pada pemilih makan 98. data menunjukkan nilai Z -5. semakin baik makan mulai dari makan makanan secara asupannya maka tingkat kecukupannya juga berlebihan. Tingkat Kecukupan Protein Balita Asupan Protein balita rata. pengkategorian ini diperoleh 4. maka dapat prose ntase perbandingan antara asupan disimpulkan adanya perbedaan tingkat makanan individu/ balita dalam sehari dengan kecukupan energi pada balita pemilih makan Angka Kecukupan Protein (% AKG) sesuai dengan balita bukan pemilih makan di wilayah umur yang dikalikan 100% dan dikoreksi kerja Puskes mas Kedungmundu Semarang.

05 ) . Hasil analisa tingkat kecukupan protein pada balita dapat data menunjukkan nilai Z -2. Tingkat kecukupan energi balita yang tidak merata terlihat saat dilakukan penelitian. Normal apabila asupan disbanding AKE 90- 119 % dan 3. hasil kuesioner recall menunjukkan se bagian besar balita pemilih makan mengkomsumsi susu 561 .2 menunjukkan proporsi balita kalori.rata tingkat kecukupan protein balita daging. maka dapat disimpulkan adanya perbedaan tingkat kecukupan protein pada balita pemilih makan dengan balita bukan pemilih makan di wilayah kerja Puskes mas Kedungmundu Semarang. et. Tingkat kecukupan energi pada balita terbagi menjadi 3 yaitu : 1. sayuran dan Rata.2 value 0. pemilih makan yang mempunyai tingkat Selain itu penlitian Carruth ( 2004 ) kecukupan protein diatas kec ukupan lebih besar menyebutkan balita picky eater cenderung bila dibandingkan dengan balita bukan pemilih kekurangan intake makanan sumber kalori.95 % AKG yang Perbedaan Status Pemilih Makan termasuk dalam kate gori diatas kecukupan dan dengan Tingkat Kecukupan Protein rata.pilih makan akan dengan Tingkat Kecukupan Protein kekurangan asupan gizi seperti kekurangan Gambar 4. makan dengan perbandingan 43.ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016 energi.al.rata tingkat kecukupan energi balita bukan Pada Balita pemilih makan 101..54 ± 10. Defisiensi. Diatas kecukupan apabila asupan dibanding AKE > 119 %.buahan. pada recall pertama as upan balita dalam kategori cukup namun pada recall hari berikutnya bisa saja dalam kategori defisiensi ata u sebaliknya. 2. Secara langsung tingkat kecukupan energi berhubungan dengan asupan harian balita dan sa lah satu faktor yang mempengaruhi asupan balita adalah perilaku pemilih makan ( Chatoor. elektrolit dan anemia. Tingkat kecukupan protein balita berkorelas i langsung terhadap pera n orang tua.814 dengan p- dilihat pada Gambar 4. hal ini dicurigai disebabkan oleh peran orang tua yang memberikan makanan dengan protein tinggi pada anaknya yang pemilih makan. 2004 ). Ha l ini didukung oleh pendapat Judarwanto ( 2010 ). apabila asupan dibanding dengan AKE < 89 % . Setelah dilakukan analisis data rata.34 ± 47.50 % AKG yang Perbedaan Status pemilih makan dengan termasuk dalam kategori normal.7 %.2 Perbedaan Status Pemilih Makan mempunyai kebiasaan pilih. buah. bahwa balita yang Gambar 4. protein. mikronutrient. pemilih makan 130.rata asupan balita yang tidak merata masuk dalam kategori defisiensi.9 % dan 3. Sebagian besar balita pemilih makan ce nderung makan makanan dalam jumlah yang tidak merata. mineral.005 < α ( 0. penelitian menunjukkan sebagian besar balita pemilih makan yang ada di wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Semarang dalam kategori diatas kecukupan.

Peranan Gizi Dalam Siklus susu. juga akan semakin baik ( Rizema. perilaku ibu dalam normal. Kesimpulan Chatoor. dsb. Abdoerrahman.. Jakarta. asupan balita cenderung bera da pada Kehidupan. Kencana. A. Jakarta. J.rata Tingkat Kecukupan Energi Susan. M. 7. Ziegler. Report on Recommended Daily Intake ).. gizi bagi ibu balita khususnya dalam mencegah Perilaku pemilih makan pada balita tidak se lalu dan menanggulangi perilaku pemilih makan berkorelas i dengan asupan yang rendah. makan. memberikan makan. Dana.com.. Hampir se luruh ( 98.. Hal ini didukung oleh pendapat AKG±41. Kerzner. K. Jakarta. Ke biasaan makan yang terpola bahan makanan yang disukai balita agar seperti itu menyebabkan tingkat kecukupan balita pemilih makan tidak menjadi gizi balita menjadi terpenuhi dan cukup. se makin kecukupan protein pada balita di wilayah kerja baik as upannya maka tingkat kecukupannya Puskesmas Kedungmundu Semarang. Ganiban. Ada perbedaan antara status pemilih mengasuh anak. Prinsip Dasar Ilmu asupan balita picky eater berada dalam kategori Gizi. Wirajatmadi. Bambang. R.... yang sa ngat disukai dan akan terus.85 % AKG±18. dengan jenis kelamin yang terdistribusi sama antara pemilih makan dan bukan pemilih Carruth. Kecukupan Protein balita 115.. Ikhsan.rata usia 39 bulan±11.P. Saran Asupan protein yang baik pada balita tidak Puskesmas perlu meningkatkan pendidikan terlepas dari perilaku pemilih makan balita. 2004. namun kurang/buruk. B. Bujang. terkadang pendidikan gizi kepada ibu balita untuk dilain waktu balita pemilih makan juga cepat menggunakan secara optimal jenis. asupan Maria. Sunita. seperti produk hewani terutama daging dan 2012. balita pada balita sehingga dapat dengan lebih cepat pemilih makan cenderung mempunyai makanan menurunkan proporsi balita pemilih makan. Rata. 4. tidak mempunyai kebiasaan makan Failure to Thrive and Cognitive makanan yang aneh (makan tanah. L. dkk. kategori diatas kecukupan dalam % RDI ( Artikel Kesehatan Anak.F.rata Tingkat hewani tinggi protein se perti fried chick en.... Rata. Pediatrics Vol. J. Paula. Buku Kuliah Ilmu balita picky eater dan non picky eater Kesehatan Anak I. Anne Gordon. Rata. cukup pada jenis makanan sayuran. I.M. KESIMPULAN DAN SARAN 2013.ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016 formula dan makan makanan dari produk dalam kategori defisiensi. M. Beker. Gramedia pustaka utama.71 Anorexia.. Prevalence of Picky balita 84. kapur. J. 2013 ). 2013. 113 No. makanan.. Hal ini juga didukung oleh pendapat Swain et A.Ginting. terdistribusi tidak merata. www. Surles.menerus Bagi ibu yang sulit memperbaiki perilaku memakan jenis makanan tersebut dengan porsi pemilih makan balitanya. Ada perbedaan Tingkat kecukupan protein pada balita antara status pemilih makan dengan tingkat dipengaruhi oleh as upan dalam sehari. D.5 % ) pemilih McWade Paez. Sebagian besar Almatsier. BR. 2008.63 yang termasuk dalam kategori Sediaoetama (2001). 5. Infomedia. Kedungmundu Semarang. al ( 2005 ) yang menyata kan bahwa. 1998. sedangkan pada kelompok makanan dengan kalori tinggi Andriyani. perlu adanya banyak dalam kurun wa ktu tertentu.63 % sosis. Development in Toddlers With Infantile kerikil dsb. L. April.H. Merryana.jenis bosa n dengan makanan yang kemarin sa ngat disukainya. Dahlan. merawat makan dengan tingkat kecukupan energi pada dan memberikan kasih sayang turut balita di wilayah kerja Puskesmas mempengaruhi status gizi anak.49 yang termasuk Eaters among Infants andToddlers and 562 .artikelkesehatananak. I Barr. DAFTAR PUSTAKA lama karena akan menyebabkan tingkat kecukupan balita menjadi diatas kecukupan... (2004 ). akan menjadi masalah apabila balita pemilih makan menyukai dan mengkonsumsi makanan berkalori tinggi dalam kurun waktu yang cukup 5..

com. Mengunyah dan Menelan Pada Anak Sulit Makan Report. 61..php 111-112. Proporsi dan Status IKAPI). Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu eBook. Assessment and 855. P : 1363. Sitiatava P. 1995. Peterson k... Widodo. Elizabeth. Aplikasi Eater (Sulit Makan ) Pada Anak Balita di Antropometri Sebagai Alat Ukur Status TK Negri Pembina Kecamatan Simpang Gizi.ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016 Their Caregivers’ Decisions about https://mypick yeaters. Solution : Work with Your Child’s Desi. Rashedi. Farmer AP.com/2012/08/men Children. Girard M. Reed.. Bogor. Kasus di Kelurahan Tandang dan Jakarta. Report on and Picky Eating Behaviors of Preschool http://www. dan Hernandez TA. Hidayat.... Offering a New Food. Gizi Pada Anak Prasekolah dengan Sediaoetama. Fair Winds Press.wordpress. Agustus. Gangguan Proses Carruth. 1990. 2013.Jakarta. Cheri. Berhubungan dengan Terjadinya Picky Djumadias. Faktor Determinan Unique Eating Type to Beat Mealtime Kejadian Gizi Buruk Pada Anak Balita di Struggles Forever. Tiga kabupaten Pidie. 2013. Juhee. Ann Mathai. 2011. Houck K. Prevalence of Feeding Problems in Mark. 1998.wordpress.. Mealtime https://mypick yeaters. J Am Diet April. Abunain.id/jurnal/index. Moran. /record/view/51122. Da Capo. and Child’s Pilnas Ristek. 2003. 846- Piazza CC. Encyclopedia on Early Childhood .Coletta. JE.com. BR.Faktor yang P: 1-2. 563 . 2012. Nur Jannah. 2012. Thomas H. Association P : S78. p: 245. The Picky Eating 24 months of age. Anwar.2008.go.American Dietetic Association. Tumbuh Kembang Judarwanto. Dubois L. Ollendick. 2009. 2007. 2013. Laura. JD. Gangguan Anak. The Kid. Rezaei. Loraine. Shim. Skinner. Puslitbang Gizi. Soetjiningsih. Food Chaining. Gizi dan Diet. 2011. Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Journal of Clinical Nutrition. Resources Parental Stress.. 2012. 2007. Pengantar Ilmu Mealtimes. Menghitung Besar Associations of Infant Feeding Practices Sampel Penelitian. Fishbein.. Preschool Children’s Eating S. Walbert. Wardani. Kim. E-book.. Ilmu Gizi Untuk Kesulitan Makan Di Semarang ( Studi Mahasiswa dan Profesi.Rose. Fraker. Sibyl. J makan Pada Anak Report.ristek. --------------------------.S85. Faktor. Deborah. P:1.html. 2004. F... 24. 2010. Vahid.statistikian. Maternal Help.Tested Solution For Stress Rizema. Seeking Predicted by Knowledge of p: 1-7. South Dakota p: http://pilnas. Amber E. 2013. 2001. Children with Intellectual Disability. communication patternsof infants from 2- Kennedy. Dian Rakyat. D-Medika (anggota Harinda. Carolyn (2007 ). ghitung-besar-sampel penelitian. Treatment of Pediatric Feeding Disorder. 2009. Mohammad. Sendangguwo ). III.EGC. Cox. European selectivity”. Report on Feeding Difficulties. J Nutr Educ p: 8-16. Jogjakarta. A. dan Schroeder. Enclyclopedia of Clinical Child Behaviors are Related to Dietary and Pediatric Psychology “food Adequacy and Body Weight.1364..

2009. Caronna. Rob. Dietary Zuckerman.. Kesulitan Makan Pada Anak. Salt Williams. KATAHATI. Wilk ins. Snack Food Intake. Loblay. 2010. barry... Memahami Tumbuh Kembang Anak. Ferdinand. Jakarta..ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016 Sunarjo. Jogjakarta. Master Of Nutrition developmental and behavioral pediatrics for primary care p: 299-300. Anne.. Velencia. 2005. Supariasa. 2008. University Of Sidney Jurnal Kesehatan Anak. 2001. Gizi dalam Masyarakat. Zaviera. Swain. B.. L. Children’s Health. Soutter. 564 . Elizabeth. and Dietetics. Jakarta.. PT. Preferences. Mengenali dan Elex Media. FKUI. handbook of Intake and Obesity. Reseacrh Project.