You are on page 1of 2

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat tiga sebagai negara
penghasil pala (Myristica fragrans Houtt) terbanyak di dunia (Rusmana, 2015).
Produksi pala cukup berkembang di Indonesia dan telah menujukkan perannya
dalam memberikan lapangan kerja di bidang pertanian, perdagangan dan industri
serta peningkatan pendapatan petani (Sunanto, 1993). Sejak abad ke-16 silam, pala
sudah menjadi incaran utama para penjajah hadir ke Indonesia. Namun, daya tarik
pala di dunia masih berhasil hingga saat kini. Buktinya, pada 2015, rempah ini
masih sangat diminati masyarakat Eropa seperti Italia, Inggris, Belgia dan Belanda
yang ditandai dari permintaan yang terus meningkat.
Produksi pala Indonesia tidak hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan
dalam negeri saja, tapi juga untuk ekspor dengan memasok hampir 70% kebutuhan
pala dunia, terutama minyak pala (Musrizal, 2012). Produk olahan pala umumnya
digunakan sebagai bahan rempah makanan maupun bahan industri dapat berupa
minyak, biji dan fuli (selaput biji). Bahkan minyak pala Indonesia dikenal memiliki
kualitas terbaik di dunia, karena kadar terpentinnya lebih rendah dari produk negara
lain.
Pala memiliki peran strategis dan dapat mendukung kehidupan masyarakat
untuk lebih baik, seperti masyarakat Aceh contohnya. Sebagai bagaian dari wilayah
Indonesia, Aceh memiliki potensi yang besar dalam pengembangan perkebunan
pala. Bahkan bebarapa wilayah di Aceh Seperti Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya
dikenal dengan pengahasil pala terbaik dan menjadi primadona bagi masyarakat
Internasional (Idawanni, 2015).
Pada Tahun 1990-an kebun pala mengalami masalah serangan hama dan
penyakit. Cabang dan pucuknya kering dan beberapa hari kemudian langsung mati.
Hama penggerek batang dan bubuk cabang serta jamur menyerang tanaman pala.
Hingga saat ini belum ada obat manjur yang mampu menahan laju kematian
tanaman ini, setiap tahun produksi pala di Aceh semakin menurun. Sejalan dengan
hal itu pendapatan masyarakat pala juga ikut anjlok. Masyarakat kehilangan sumber
pendapatan, banyak yang banting stir meninggalkan kampung halaman untuk
mencari pekerjaan baru, mencari pekerjaan tanpa keahlian khusus tentu merupakan
suatu masalah.
Pemerintah dan berbagai lembaga terus berupaya melakukan identifikasi
masalah kematian pala dan mencari solusi pemecahannya. Pengendalian hama dan
penyakit dilakukan walau upaya tersebut belum dapat dikatakan sangat efektif.
Upaya dan langkah konkrit lainnya terhadap pengendalian hama dan penyakit mesti
terus dilakukan dengan berbagai riset sehingga ditemukan formulasi efektif untuk
pengendalian hama dan penyakit pala secara tuntas.
Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan baik dari media online
maupun media cetak, hingga saat ini belum ada data yang menginformasikan
mengenai tanaman pala transgenik yang tahan terhadap hama dan penyakit. Oleh
sebab itu, perlu dilakukan penelitian untuk menemukan tanaman pala transgenik

1.yang tahan terhadap berbagai hama penyakit sehingga mampu menciptakan daerah Aceh sebagai penghasil pala terbaik dunia.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari penelitian tersebut adalah : 1. tujuan dari gagasan ini adalah Menciptakan tanaman pala (Myristica fragrans) transgenik yang tahan terhadap hama dan penyakit sebagai solusi dalam pengetasan masalah hama pala di Provinsi Aceh.4 Manfaat Penulisan Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt) transgenik merupakan salah satu terobosan bioteknologi hasil rekayasa genetika yang mempunyai sifat-sifat unggul sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian pala Aceh dan dapat meningkatkan perekonomi petani pala Aceh kususnya dan petani Indonesia umumnya. Belum adanya solusi yang tepat dalam pemberantasan hama dan penyakit pada pala 1. Tingginya penyakit dan hama yang menyerang pala yang menyebabkan kematian pala 2. 1.3 Tujuan Penulisan Dari latar belakang diatas. .