You are on page 1of 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakainya di
dalam masyarakat. Ini berarti bahwa sosiolinguistik memandang bahasa pertama-tama sebagai
system social dan sitem komunikasi, serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan
tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan pemakaian bahasa (language use) adalah bentuk interaksi
social yang terjadi dalam situasi kongkret.

Di dalam sosiolinguistik terdapat bilingualisme dan diglosia yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah diglosia. Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian
fungsional atas varian-varian bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat.

Diglosia dapat juga ditunjukkan dalam konteks komunikasi bagi masyarakat di negara
yang memiliki ragam bahasa. Dan selain itu terdapat pula kaitan bilingualisme dengan diglosia
yang akan dibahas dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pengertian Diglosia ?

2. Apa saja topik-topik Diglosia ?

3. Apa Hubungan Bilingualisme dengan Diglosia?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah di atas dapat diambil tujuan masalah sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui pengertian dari diglosia.
2.Untuk mengetahui topik-topik Diglosia
3.Untuk mengetahui hubungan dari bilingualisme dan diglosia.
1.4 Manfaat
1. Mengetahui bagaimana pengertian dari diglosia
2.Mengetahui bagaimana topik-topik diglosia
3. Mengetahui bagaimana hubungan bingualisme dan diglosia

1

Pada tahun 1930. 2 . Chaer dan Agustina (1995: 148) menerangkan bahwa Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu.2008:50) Menurut henscyber. varian lain mempunyai status “rendah” dan dipergunakan untuk komunikasi tak resmi dan strukturnya disesuaikan dengan saluran komunikasi lisan. istilah ini digunakan juga oleh ahli bahasa Arab. Satu varian diberi status “tinggi” dan dipakai untuk penggunaan resmi atau pengggunaan publik dan mempunyai ciri-ciri yang lebih kompleks dan konservatif. dan dipertahankan dengan tetap ada dua ragam dalam masyarakat dan dilestarikan lewat pemerolehan dan belajar bahasa. Yang dimaksud bahwa terdapat perbedaan antara ragam formal atau resmi dangan tidak resmi atau non-formal. Diglosia adalah situasi kebahasaan dengan pembagian fungsional atas variasi bahasa atau bahasa yang ada dalam masyarakat (misal ragam atau bahasa A untuk suasana resmi di kantor dan ragam atau bahasa B untuk suasana tidak resmi di rumah). William Marcais.1 Pengertian Diglosia Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional atas varian- varian bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Diglosia (diglossia) adalah situasi bahasa dengan pembagian fungsional atas varian- varian bahasa yang ada. digunakan dalam ragam sastra dan tidak. Contohnya di Indonesia terdapat perbedaan antara bahasa tulis dan bahsa lisan.( Kridalaksana. tetapi masing-masing bahasa mempunyai fungsi atau peranan yang berbeda dalam konteks sosial. Ada pembagian peranan bahasa dalam masyarakat dwibahasawan terlihat dengan adanya ragam tinggi dan rendah. BAB II PEMBAHASAN 2. Bila disimak. diglosia adalah penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat. Istilah diglosia ini pertama kali digunakan dalam bahasa Perancis diglossie yang diserap dari bahas Yunani oleh bahasawan Yunani Loanni Psycharis.

a. 2.definisi Ferguson memberikan pengertian: (1) diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil. Sudah sangat terkodifikasi b. Menurut Ferguson. Ferguson membahas diglosia ini dengan mengemukakan sembilan topik. Tidak dugunakan (oleh lapisan masyarakat manapun) untuk percakapan sehari-hari. (2) Dialek-dialek utama itu diantaranya bisa berupa sebuah dialek standar atau sebuah standar regional. Fungsi Fungsi merupakan kriteria diglosia yang sangat penting. stabilitas. standarisasi. (3) Ragam lain (yang bukan dialek-dialek utama) itu memiliki ciri : a. Gramatikalnya lebih kompleks c. dan fonologi. Dipelajari melalui pendidikan formal e. yaitu fungsi. warisan sastra. gramatika.2 Topik-topik Diglosia Ferguson mengunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing punya peranan tertentu. terdapat juga sebuah ragam lain. leksikon. dimana selain terdapat sejumlah dialek-dialek utama ( lebih tepat ragam-ragam utama) dari suatu bahasa. Merupakan wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan dihormati d. prestise. dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa: variasi pertama disebut dialek tinggi 3 . Digunakan terutama dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal f. pemerolehan.

Sedangkan dialek R dianggap inperior. dialek T-nya bahasa Jawa halus atau kromo Engge) sedangkan ragam R-nya adalah bahasa Jawa kasar. lebih terpandang dan merupakan bahasa yang logis. atau tertawaan orang lain. Oleh karena itu dibantu oleh menggunakan dialek R. Sedangkan jika dalam situasi menulis surat pribadi menggunakan ragam T. Menurut Ferguson. karena terdapat pada situasi resmi atau formal. Penggunaan dialek T yang tidak cocok dengan situasinya menyebabkan si penutur bisa disoroti. sedangkan fungsi R hanya pada situasi informal dan santai. lebih superior. Dapat pula ditemukan dua varian dari bahasa Palembang. Prestise Dalam masyarakat diglosis. b. Dalam bahasa Jawa tersebut. hanya dialek R yang digunakan. sedangkan ragam R digunakan dalam situasi nonformal seperti dalam pembicaraan dengan teman karir dan sebagainya. Dalam pendidikan formal dialek T harus digunakan sebagai bahasa pengantar. Namun seringkali sarana kebahasaan dialek T tidak mencukupi. seperti dalam pendidikan. kita mengenal adanya bahasa Jawa. dialek T-nya bahasa Palembang Halus dan dialek R-nya bahasa Palembang Kasar. Di Indonesia juga ada pembedaan ragam T dan ragan R bahasa Indonesia. malah ada yang menolak keberadaannya. Itu anjuran golongan terpelajar Arab dan 4 .(disingkat dengan dialek T atau ragam T). cemoohan. Dalam bahasa Indonesia. Sastra dan puisi rakyat memang menggunakan dialek R tetapi banyak anggota masyarakat yang beranggapan bahwa hanya sastra atau puisi dalam dialek T – lah yang sebenarnya karya sastra suatu bangsa. banyak orang Arab dan haiti terpelajar menganjurkan agar dialek R tidak perlu dipergunakan meskipun dalam percakapan sehari-hari mereka menggunakan dialek R. Contohnya pada situasi di perkuliahan universitas menggunakan ragam R. Begitu pun pada bahasa Palembang. karena terdapat pada situasi informal dan santai. mungkin menimbulkan ejekan. dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat R atau ragam R). para penutur menganggap dialek T lebih bergengsi. Fungsi T hanya pada situasi resmi atau formal. Ragam T digunakan dalam situasi formal. Distribusi fungsional dialek T dan R dari masing-masing bahasa mempunyai arti bahwa terdapat situasi dimana hanya dialek T yang sesuai untuk digunakan dan dalam situasi lain.

d. mereka yang tidak pernah memasuki dunia pendidikan formal tidak akan mengenal ragam T sama sekali. Di Indonesia pun banyak orang merasa sukar untuk mengunakan bahasa Indonesia ragam baku. Warisan Kesusastraan Pada tiga dari empat bahasa yang digunakan Ferguson sebagai contoh. kita harus belajar secara formal. Dalam masyarakat Indonesia pun ragam bahasa Indonesia baku dianggap lebih bergengsi daripada bahasa Indonesia non-baku.haiti. Mereka yang mempelajari ragam T hampir tidak pernah menguasainya dengan lancar. selancar penguasaannya terhadap ragam R. beberapa puluh tahun yang lalu. yakni bahwa karya sastra harus dalam ragam T. terdapat kesusastraan dimana ragam T yang digunakan dan dihormati oleh masyarakat bahasa tersebut. maka dirasakan sebagai kelanjutan dari tradisi itu. Ini menunjukkan bahwa menggunakan bahasa ragam T memang tidak semudah menggunakan ragam R. baik lisan maupun tulis. Oleh karena itu. c. Betapa banyak kritik dilontarkan orang mengenai kesalahan untuk berbahasa Indonesia “yang baik dan benar”. Itu tentu saja merupakan kekeliruan sebab dialek T dan dialek R mempunyai fungsi masing-masing yang tidak dapat dipertukarkan. bahasa Yunani di Yunani. Kalau ada juga karya sastra kontemporer dengan menggunakan ragam T. Dimana yang pertama menjadi bahasa sekolah dan yang kedua menjadi bahasa pasar. Untuk menguasai ragam T. Begitu juga mereka yang keluar dari pendidikan Formal kelas-kelas awal. dan bahasa Jerman di Swiss yang berbahasa Jerman. sedangkan ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman sepergaulan. Dalam masyarakat Melayu/Indonesia. kemungkinan tidak perlu. bahasa Perancis di Haiti. Namun. Pemerolehan Ragam T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal. 5 . Tradisi kesusastraan yang selalu dalam ragam T ini (setidaknya dalam empat contoh di atas) menyebabkan kesusastraan itu menjadi asing dari masyarakat umum. tetapi untuk menguasai ragam R. baik di negara-negara berbahasa Arab. juga ada pembedaan bahasa Melayu T dan R. kesusastraan itu tetap berakar.

sebab baru digunakan kalau sangat terpaksa. Dalam ragam T adanya kalimat-kalimat kompleks dengan sejumlah konstruksi subordinasi adalah hal yang biasa. Sebaliknya ragam R tidak pernah diurus dan diperhatikan. Peminjaman unsur leksikal ragam T kedalam ragam R bersifat biasa. dan dua tenses sederhana. dan buku-buku kaidah untuk penggunaan yang benar ditulis untuk ragam T. Namun. Umpamanya. Gramatika Ferguson berpandangan bahwa ragam T dan R dalam diglosis merupakan bentuk- bentuk dan bahasa yang sama. Standardisasi Menanggapi ragam T yang dipandang sebagai ragam bergengsi. Sebagai ragam yang dipilih. Leksikon 6 . sedangkan nomina Kreol Haiti tidak memiliki hal itu. tetapi penggunaan unsur leksikal ragam R dalam ragam T kurang begitu biasa.e. maka ragam T jelas akan menjadi ragam yang lebih bergengsi dan dihormati. Stabilitas Kestabilan dalam masyarakat diglosis biasanya telah berlangsung lama dimana ada sebuah variasi bahasa yang dipertahankan eksistensinya dalam masyarakat itu. yang distandardisasikan. f. Jarang ada kajian yang menyingung adanya ragam R. tetapi dalam ragam R dianggap artifisial. biasanya dilakukan oleh peneliti dari masyarakat bahasa lain. g. di dalam gramatika ternyata terdapat perbedaan. maka tidak mengherankan kalau standarisasi dilakukan terhadap ragam T tersebut melalui kodifikasi formal. dan ditulis dalam bahasa lain. dalam bahasa Jerman standar kita dapati empat kasus nomina dan dua tenses indikatif sederhana. atau kajian khusus mengenai ragam R tersebut. sedangkan dalam bahasa Jerman Swiss hanya terdapat tiga kasus nomina. h. Nomina bahasa Prancis menunjukan agreement dalam jumlah dan jenis (gender) . Kalaupun ada. Kamus. Pertentangan atau perbedaan antara ragam T dan R dalam masyarakat diglosis selalu ditonjolkan karena adanya perkembangan dalam bentuk-bentuk campuran yang memiliki ciri-ciri ragam T dan R. petunjuk lafal. tata bahasa.

Fonologi R lebih jauh dari bentuk-bentuk yang mendasar. Sebagian besar kosa kata pada ragam T dan R adalah sama. Ferguson mengatakan bahwa suatu masyarakat diaglosis bisa bertahan/stabil waktu yang cukup lama meskipun terdapat “tekanan–tekanan” yang dapat melunturkannya. bahwa didalam masyarakat diglosia ada perbedaan ragam bahasa T dan R dengan fungsinya masing-masing dimodifikasi dan diperluas oleh Fishman (1972:92). Namun. T merupakan sistem dasar sedangkan fonologi R yang beragam- ragam. Kalau Feguson melihat diglosia hanya sebagai adanya perbedaan fungsi ragam T dan R dalam sebuah bahasa. ada kosa kata pada ragam T yang tidak ada pasanganya pada ragam R atau sebaliknya. (1) meningkatnya kemampuan keaksaraan dan meluasnya komunikasi verbal pada suatu Negara. ada kosa kata pada ragam R yang tidak ada pasanganya pada ragam T. (3) perkembangan nasionalisme dengan keinginan adanya sebuah bahasa nasional sebagai lambang kenasionalan suatu bangsa. Ciri yang paling menonjol pada diglosia adalah adanya kosa kata yang berpasangan. Konsep Ferguson mengenai diglosia. Perbedaan tersebut bisa dekat bisa juga jauh. buruk dan jelek i. Fonologi Dalam bidang fonologi ada perbedaan struktur antara ragam T dan R. (2) meningkatnya penggunaan bahasa tulis. namun fonologi. atau pada dua bahasa yang berlainan. Antara lain. Menurut Fishman diglosia tidak hanya berlaku pada adanya pembedaan ragam T dan ragam R pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun . satu untuk ragam T dan satu untuk ragam R. Tekanan- tekanan itu antara lain. uang dan duit. Jadi. Ferguson sistem bunyi ragam R dan T sebenarnya merupakan sistem tunggal. mulai 7 . Fonologi T lebih dekat dengan bentuk umum yang mendasari dalam bahasa secara keseluruhan. yang biasanya untuk konsep-konsep yang sangat umum. merupakan subsistem atau parasistem. maka fishman melihat diglosia sebagai adanya perbedaan fungsi. yang menjadi tekanan bagi Fishman adalah adanya perbedaan fungsi kedua bahasa atau variasi bahasa yang bersangkutan. Umpamanya dalam bahasa Indonesia kita dapat mendaftarkan sejumlah kosa kata yang berpasangan sebagai baku dan tidak baku.

Kedua ragam atau bahasa itu akan digunakan menurut fungsinya masing-masing.dari perbedaan stilistik dari sebuah bahasa sampai adanya perbedaan fungsi dari dua bahasa yang berbeda. 8 . tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Sedangkan kelompok kedua yang biasanya lebih besar. Jadi.1972) 2. atau variasi bahasa fungsional (Fishman . didalamnya termasuk perbedaan yang terdapat antara dialek . register. merupakan kelompok ruling group yang hanya bicara dalam bahasa T. Kelompok pertama yang biasanya lebih kecil.Diglosia tanpa bilingualisme Di dalam masyarakat yang diglosia tapi tanpa bilingualisme terdapat dua kelompok penutur. c. Situasi diglosia tanpa bilingualisme banyak kita jumpai di Eropa sebelum perang dunia pertama. hanya berbicara dalam bahasa R. maka Fishman menggambarkan hubungan diglosia sebagai berikut: a. yang tidak dapat dipertukarkan. hampir setiap orang mengetahui ragam atau bahasa T dan ragam atau bahasa R. mereka dapat menggunakan bahasa yang manapun untuk situasi dan tujuan apapun. namun mereka tidak membatasi penggunaan bahasa untuk satu situasi dan bahasa yang lain untuk situasi yang lain pula.Bilingualisme dan diglosia Di dalam masyarakat yang dikarekterisasikan sebagai masyarakat yang bilingualisme dan diglosia.Bilingualisme tanpa diglosia Dalam masyarakat yang bilingualis tetapi tidak diglosis terdapat sejumlah individu yang bilingual. b.3 Hubungan Bilingualisme dengan Diglosia Ketika diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa dan bilingualisme sebagai adanya penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam masyarakat. Jadi.

Keadaan ini hanya mungkin ada dalam masyarakat primitive atau terpencil. Masyarakat yang tidak diglosia dan bilingual ini akan mencair apabila telah bersentuhan dengan masyarakat lain BAB III PENUTUP KESIMPULAN Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional atas varian- varian bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat.Tidak bilingualisme dan tidak diglosia Masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual tentunya hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala tujuan. yang dewasa ini tentunya sukar ditemukan.d. Yang dimaksud bahwa terdapat 9 .

yaitu fungsi. stabilitas. bilingualisme tanpa diglosia. Ferguson membahas diglosia ini dengan mengemukakan sembilan topik. Diglosia adalah situasi kebahasaan dengan pembagian fungsional atas variasi bahasa atau bahasa yang ada dalam masyarakat (misal ragam atau bahasa A untuk suasana resmi di kantor dan ragam atau bahasa B untuk suasana tidak resmi di rumah). warisan sastra. prestise. Hubungan bilingualisme dengan diglosia ada 4 yaitu: bilingualisme dan diglosia. diglosia tanpa bilingualisme.perbedaan antara ragam formal atau resmi dangan tidak resmi atau non-formal. standarisasi. Contohnya di Indonesia terdapat perbedaan antara bahasa tulis dan bahsa lisan. 10 . pemerolehan. gramatika. leksikon. dan tidak bilingualisme dan tidak diglosia. dan fonologi. Ferguson mengunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing punya peranan tertentu.

2007. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa Chaer. Yogyakarta: Sabda 11 . 2004. Sosiolinguistik. Sosiolinguistik. 1990. Abdul dan Leonie Agustina. Jakarta: Rineka Cipta Sumarsono. Chaedar. A.DAFTAR PUSTAKA Alwasilah.